Anda di halaman 1dari 34

FERTILISASI

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur Perkembangan Hewan II


yang Dibimbing oleh Dr. Umie Lestari, M.Si

Disusun oleh :
Offering G
Kelompok 2
Ipraditya Langgeng P

(130342615328)

Nafisatuzzamrudah

(130342615327)

Nining Nurnaningsih

(130342603497)

Siti Fatkatin

(130342603486)

Suhartini

(130342615331)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 BIOLOGI
AGUSTUS 2014

Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia-Nyalah
sehingga penyusunan makalah

ini telah dapat diselesaikan. Makalah ini

merupakan salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah Struktur Perkembangan
Hewan II.
Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
yang terhormat:
1. Ibu Umi Lestariyang telah mendukung dan memberi ide dan memberi saran dan
motivasi terhadap penulis karna dukungan beliau makalah ini telah selesai dan
sesuai dengan apa yang di inginkan oleh penulis.
2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan moril dan materil.
3. Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan dari jurusan Biologi khususnya
offering G yang berbahagia. Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas
kebaikan yang telah diberikan kepada penulis
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu,
kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang berkompeten.
Amin.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap

makhluk

hidup

tentunya

menginginkan

untuk

meneruskan

keturunannya, demikian jugadengan manusia. Reproduksi atau berkembang biak


merupakan kemampuan suatu kemampuan organisme untuk menghasilkan
keturunan atau organisme baru agar kelestariannya dapatterjaga. Caranya yaitu
dengan proses kehamilan, kehamilan terjadi ketika melakukanhubungan seksual,
ketika wanita dalam masa ovulasi atau masa subur,dan ketika sperma membuahi
sel telur. Sebelum terjadinya kehamilan ada beberapa tahap yang berlangsung.
Dan disini penulis akan membahas tahap-tahap tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan fertilisasi?
2. Apa saja syarat-syarat untuk fertilisasi?
3. Bagaimana mekanisme fertilisasi?
4. Apa yang dimaksud dengan parthenogenesis?
5. Bagaimana terjadinya kembar?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian fertilisasi
2. Mengetahui syarat-syarat utuk fertilisasi
3. Mengetahui mekanisme fertilisasi
4. Mengetahui tentang phartenogenesis
5. Mengetahui terjadinya kembar

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Fertilisasi

Gambar 2.1.1 Tempat terjadinya fertilisasi pada ampula tuba fallopi


Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, yang terjadi di
daerah ampulla tuba fallopii. Pembuahan mencapai dua tujuan berbeda yaitu: sex
(kombinasi dari gen yang berasal dari dua orang tua) dan reproduksi (penciptaan
organisme baru). Dengan demikian, fungsi pertama pembuahan adalah untuk
mengirimkan gen dari orang tua kepada keturunannya, dan yang kedua adalah
untuk memulai dalam sitoplasma telur reaksi-reaksi yang memungkinkan untuk
melanjutkan perkembangbiakan.
Meskipun rincian dari proses fertilisasi bervariasi dari spesies ke spesies,
konsep umumnya terdiri dari empat peristiwa besar yaitu :
1. Kontak antara sperma dan sel telur. Dalam banyak kasus, hal ini dapat
terjadi jikas sperma dan telur dari spesies yang sama.
2. Hanya satu sperma yang akhirnya bisa membuahi sel telur.Dalam artian
hanya satu sperma yang bisa masuk pada sel telur dan menghambat setiap
sperma yang lain untuk masuk.
3.

Peleburan bahan genetik sperma dan sel telur.

4. Aktivasi metabolisme telur untuk mulai berkembang


2.1.1 Fase fertilisasi mencakup 3 fase:
1. Penembusan korona radiata. Spermatozoa-spermatozoa yang mengalami
kapasitasi tidak akan sulit untuk menembusnya .

2. Penembusan zona pelusida.

Zona pelusida adalah sebuah perisai

glikoprotein yang mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi


reaksi kromosom. Hanya

1 spermatozoa

diantara 200-300 juta

spermatozoa yang ada di saluran kelamin yang berhasil menembus zona


pelusida. Saat spermatozoa masuk ke dalam membrane oosit, spermatozoa
lain tidak akan bisa masuk lagi karena aktifasi dari enzim oosit sendiri .
3. Fusi oosit dan membran plasma. Spermatozoa bergerak masuk ke
membrane oosit dan mencapai inti oosit. Perlu diketahui bahwa
spermatozoa dan oosit masing-masing memiliki 23 kromosom (haploid),
selama masa penyatuan masing- masing pronukleus melakukan sintesis
DNA. Segera setelah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong
untuk melakukan pembelahan secara mitosis yang normal. Dua puluh tiga
kromosom dari ibu dan dua puluh tiga kromosom dari ayah membelah
sepanjang sentromer, dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut
saling bergerak ke kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot
yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom yang normal .

2.1.2

Jenis-jenis fertilisasi
Fertilisasi mempunyai beberapa cara yang umum didapati pada

makhluk hidup, yaitu :


1. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gamet-gametnya
dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi.
2. Fertilisasi

internal (khas

untuk adaptasi dengan

kehidupan

di

darat): sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang


kemudian
membentuk

disusul dengan

fertilisasi.

membran

fertilisasi

Setelah

pembuahan,telur itu

untuk

merintangi

pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan


hanya untuk mengaktivasi telur (Anonymous, 2008).

2.2 Syarat-syarat Terjadinya Fertilisasi

2.2.1 Ada Sel Sperma (Spermatozoa)


Dalam 135 tahun terakhir peran sperma dalam fertilisasi telah
dikenal. Leeuwenhoek (1685) menulis bahwa sperma adalah biji (baik
sperma dan air mani berarti "benih"), dan bahwa

betina hanya

menyediakan tempat di mana benih ditanam.


2.2.1.1 Struktur dan fungsi dari sperma dan proses terbentuknya
sperma

Gambar 2.2.1.1.1 Modifikasi sel sperma


Sperma terdiri dari nukleus yang haploid , sebuah sistem dorongan untuk
memindahkan nukleus, dan sebuah kantong enzim yang memungkinkan
nukleus untuk masuk ke dalam sel telur. Sebagian besar sitoplasma dari
sperma terbatas selama pematangan. Hanya meninggalkan beberapa
organel dan termodifikasi menjadi sel sperma.
Selama perjalanan pematangan sperma, nukleus haploid menjadi sangat
ramping. Dan DNA menjadi tertekan lebih rapat. Di depan nukleus

haploid yang memipih terdapat vesicle akrosomal, atau akrosom yang


berasal dari apparatus golgi dan enzim yang mencerna protein dan gula
kompleks. Karena utu dikatakan sebagai vesikel sekretori yang
bermodifikasi. Penyimpanan enzim ini digunakan untuk melisis lapisan
luar dari telur. Pada banyak spesies molekul aktin globular terletak
diantara nukleus dan vesikel akrosomal. Protein-protein ini digunakan
untuk memanjangkan tonjolan akrosomal yang seperti jari dari sperma
selama tahap-tahap awal fertilisasi.
Flagella adalah struktur yang kompleks, bagian yang utama dari
flagellum disebut aksonema. Aksonema terbentuk dari mikrotubulus yang
keluar dari sentriol yang terletak di dasar inti sperma. Rangka dari
aksonema tersusun oleh dua mikrotubulus sental dan dikelilingi oleh
Sembilan baris doblet mikrotubul. Sebenarnya hanya satu mikrotubulus
dari setiap doblet yang tersusun lengkap, memiliki 13 protofilamen.
Mikrotubulus-mikrotubulus lainnya berbentuk seperti huruf C dan hanya
memiliki 11 protofilamen .
1.2.1.2 Struktur dan fungsi sperma
Setiap kali persediaannya dikosongkan, maka sekitar 20 hingga
100 juta sel sperma akan diproduksi kembali. Perkembangan sel sperma
hingga menjadi matang butuh waktu sekitar 3-4 hari. Bentuk sperma
mirip kecebong, terdiri atas kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng,
leher yang menghubungkan kepala dengan bagian tengah, dan ekor.
Masing-masing bagian memiliki fungsinya sendiri. Bagian kepala
berfungsi menembus dinding sel telur. Leher untuk menyimpan energi
yang diperlukan oleh sperma dalam perjalanannya menuju sel telur.
Sementara ekor panjangnya kira-kira 10 kali bagian kepala berfungsi
mendorong sperma meluncur mendekati sel telur. Dengan getaran
ekornya, sperma dapat bergerak cepat.
Sel-sel sperma yang matang disimpan di epididimis (saluran kecil
yang terletak di belakang testis) dan akan bertahan selama 4 minggu. Jika

tak digunakan, sel-sel sperma akan diserap kembali oleh tubuh atau si
pria akan mengalami mimpi basah. Namun bila terjadi ejakulasi, sel-sel
sperma akan keluar melalui vas deferens (saluran yang menghubungan
epididimis dengan kelenjar prostat) dan bercampur dengan air mani.
Dalam waktu 12 jam, epididimis dapat dikosongkan dengan 3-4 kali
ejakulasi. Tiga hari kemudian, epididimis akan terisi kembali.Siklus
tersebut akan berlangsung sampai masa andropause, yaitu masa
menurunnya dorongan seksual dan kesuburan pria. Umumnya terjadi
ketika pria memasuki usia setengah baya.

Gambar 2.2.1.2.1 Struktur Sel Sperma


a) Bagian Kepala (caput), terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit
sitoplasma, mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan
genetiknya. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma
terdapat selubung tebal yang disebut akrosom.

Akrosom

Meliputi setengah bagian depan nukleus


Berasal dari Badan Golgi
Selama pembuahan, sekering membran luar dengan plasma membran
melepaskan isi akrosom
Mengandung banyak enzim khas lisosom acrosin
Proacrosin aktif dikonversi ke bentuk aktif oleh reaksi akrosom
hyaluronidase
Memecah matriks telur sekitarnya
Fungsi : Karena akrosom mengandung enzim hialuronidase dan
proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum.

Nukleus

DNA Sangat kental <5% volume somatik, non-nucleosomal


Transkripsi tidak aktif
Histone terutama digantikan oleh protamines
Protein dasar sperma khusus
Kaya arginin dan sistein
Dikelilingi oleh teka perinuklear
Fungsi yang tidak diketahui

Bagian Ekor

panjang pada manusia 55 mikrometer


Mikrotubulus diatur dalam 9 + 2 struktur khas axonemes
Mengandung --tubulin , kinesin, dan dynein
Jika bagian ekor itu diiris secara melintang maka akan terlihat bagianbagian lain pada ekor sperma meliputi :

Meskipun tubulin adalah dasar untuk membangun flagellum, proteinprotein lain juga penting untuk menjalankan fungsi flagellum. Tenaga untuk
mendorong sperma dihasilkan oleh dinein,sebuah protein yang menempel pada
mikrotubulus. Dinein dapat menghidrolisis molekul ATP dan dapat merubah
energi kimia yang dikeluarkan menjadi energi mekanis yang dapat mendiring
sperma. Energi ini memungkinkan pergeseran aktif dari doublet mikrotubulus

luar. Yang menyebabkan flagellum dapat membengkok. Pentingnya dinein dapat


dilihat melalui penyakit genetis bernama Kartagener triad. Individu yang tidak
memiliki dinein pada sel-sel mereka yang bersilia dan berflagella , akan
menyebabkan sel-sel tersebut tidak dapat bergerak. Laki-laki dengan penyakit ini
akan mandul, memiliki kemungkinan terjangkit infeksi bronkus, dan memiliki
jantung yang berada di sisi kanan tubuh.
susunan mikrotubul 9+2 yang dilengkapi dengan tangan-tangan dinein sudah
umum ditemukan di dalam aksonema kingdom eukariotik. Susunan ini sangat
cocok untuk menghantarkan energi yang dibutuhkan untuk bergerak. ATP
dibutuhkan untuk menghasilkan gerakan cambuk pada flagellum dan untuk
mendorong maju sperma berasal dari cincin-cincin mitokondria yang ada dibagian
leher sperma
Proses

terjadinya

kehamilan

harus

diawali

dengan

bertemunya

spermatozoa (sel sperma yang matang) dan sel telur yang matang (ovum).
Caranya yaitu :
1. Bisa dengan penetrasi suami pada istri dalam bercinta
Dalam hal ini spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke rahim
dan selanjutnya masuk kedalam saluran telur.Pergerakan naik ini disebabkan
oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Sebelum spermatozoa dapat membuahi
oosit, mereka harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom .
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi
wanita, yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu ini,
suatu selubung dari glikoprotein dari protein-protein plasma segmen dibuang
dari selaput plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya
sperma yang menjalani kapasitasi

yang dapat melewati sel korona dan

mengalami reaksi akrosom .


Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pelusida dan
diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan

enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain


akrosin dan zat-zat serupa tripsin .
2. Spermatozoa dimasukkan dengan bantuan alat (inseminasi buatan)
Inseminasi adalah teknik dalam dunia medis untuk membantu proses
reproduksi dengan cara memasukan sperma yang telah disiapkan ke dalam
rahim menggunakan kateter.
Hal ini bertujuan membantu sperma menuju telur yang telah matang
(ovulasi) sehingga terjadi pembuahan. "Inseminasi itu pembuahan alami, jadi
sperma kita ambil dari suami kemudian dibersihkan (preparasi) lalu
dimasukan ke rahim istri dan sperma berjalan sendiri menuju indung telur
sehingga pembuahan terjadi alami.

3. Seperti pada proses bayi tabung: spermatozoa dan sel telur


dipertemukan di cawan metri di laboratorium.
Pengambilan sperma pada suami dapat dilakukan dengan cara
bermasturbasi, namun bila ditemukan kendala akan dilakukan pengambilan
sperma melalui buah zakar.
Pembuahan atau fertilisasi bayi tabung dilakukan di dalam media
kultur di laboratorium, sehingga menghasilkan embrio. Setelah itu dilakukan
proses transfer embrio ke dalam rahim agar terjadi kehamilan.
Proses bayi tabung memasuki fase luteal (merupakan masa saat ovulasi
terjadi hingga hari pertama mens) untuk mempertahankan dinding rahim
dengan memberikan hormon progesteron, biasanya diberikan selama 15 hari
pertama.
Biasanya dalam proses bayi tabung, pembuahannya berlangsung 2-3 hari baru
kemudian dimasukan ke rahim si ibu

B. Ada Sel Telur (Ovum)

Bila spermatozoa berhasil melewati vagina, ia akan masuk ke leher rahim


dan bergerak terus hingga mencapai saluran telur (tuba falopi). Di sinilah sel telur
akan dibuahi oleh spermatozoa (proses konsepsi/pembuahan).
Ovum (sel telur) diproduksi oleh indung telur (ovarium). Indung telur terletak
dalam rongga panggul, menggantung di kiri dan kanan pada jaringan ikat rongga
perut. Ukuran ovarium kurang lebih sebesar ibu jari dengan panjang kira-kira 4
cm, lebar dan tebal kira-kira 0,5 cm.
Keberadaan sel telur ditandai dengan adanya siklus haid. Sejak masa
pubertas, perempuan akan mendapatkan haid atau menstruasi, yakni perdarahan
yang berulang secara periodikal akibat meluruhnya bagian permukaan selaput
lendir rahim. Siklus haid berlangsung sekitar 30 tahun ke depan sejak pertama kali
dia mengalaminya. Ketika melewati masa puncak keaktifannya dan mendekati
masa 30 tahun, siklus haid perlahan mulai tidak teratur dan akhirnya berhenti
(disebut menopause). Setelah menopause, indung telur sudah tidak menghasilkan
sel telur lagi.

Pada masa subur, tumbuh satu folikel matang di dalam indung telur, yang
lalu pecah dan mengeluarkan sel telur matang (ovulasi). Sel telur ini akan
ditangkap oleh umbai-umbai (fimbriae) di ujung saluran telur, sehingga masuk ke
dalam bagian saluran telur yang lebar (ampula). Di sinilah bisa terjadi pembuahan
jika sel sperma bertemu dengan sel telur.

Gambar 2.2 penampang pada ovarium

Gambar 2.3 Tahapan pematangan sel telur pada saat sperma masuk di
berbagai spesies hewan. Perhatikan bahwa di sebagian besar spesies , sebelum
sperma masuk terjadi inti telur telah menyelesaikan meiosis. Vesikel germinal
adalah nama yang diberikan kepada inti diploid besar badan polar oocyte adalah
sel non fungsional yang dihasilkan oleh meiosis.

Gambar 2.4 a). Telur Mamalia Sebelum fertilisasi. Ovum, terbungkus


dalam zona pelusida, dikelilingi oleh sel-sel cumulus. Seta sebuah badan polar
yang dihasilkan saat tahap meiosis , b). sebuah oosit tikus dikelilingi oleh sel-sel
cumulus Partikel karbon koloid (India tinta, terlihat di sini sebagai latar belakang
hitam) yang dikeluarkan oleh matriks hyaluronidate.
(CourtesyofR.Yanagimachi.) .
c. Anatomi Dan Hormonal Normal
Agar bisa menghadirkan dan menjalankan kehamilan, suami-istri harus
memiliki struktur anatomi yang normal dan sistem hormonal yang berfungsi baik.
Untuk istri, alat genitalnya--vagina, leher rahim, rahim (uterus), tuba falopi
(saluran telur), hingga ovarium (indung telur)--harus dalam kondisi baik. Sedikit
saja ada kelainan maka kehamilan bisa sulit terjadi. Kasus yang paling sering
terjadi pada perempuan adalah adanya sumbatan di saluran telur (tuba falopi).
Gangguan tersering lainnya adalah endometriosis (gangguan pada rahim) dan
tumbuhnya kista.
Pada suami, secara garis besar ada 3 jenis gangguan yang menghambat
terjadinya kehamilan, yakni produksi sperma, kuantitas/jumlah sperma, dan
transportasi sperma. Salah satu gangguan produksi sperma adalah varikokel, yaitu
pembesaran vena di testis yang membuat aliran darah jadi tersumbat. Dalam hal
jumlah sperma, meski yang dibutuhkan untuk membuahi sel telur hanya satu
sperma, tapi tetap diperlukan sperma yang banyak, minimal 20 juta. Hal ini

berkaitan dengan masalah probabilitas kesempatan membuahi sel telur. Semakin


banyak sel sperma yang diluncurkan, semakin banyak kesempatan untuk
terjadinya kehamilan. Sedangkan salah satu masalah terhambatnya transportasi
sperma berkaitan dengan disfungsi seksual suami, semisal impotensi. Bila secara
anatomi dan sistem hormonal suami-istri tak ada masalah, maka yang harus
dipenuhi adalah berintim-intim menjelang atau di masa subur, yakni saat indung
telur melakukan ovulasi atau mengeluarkan sel telur ke saluran telur.

e. Nidasi Dan Plasenta


Setelah dibuahi, ovum akan mengalami proses nidasi atau penyarangan
(implantasi). Biasanya, nidasi terjadi di dinding depan atau belakang rahim.
Waktu antara pembuahan hingga nidasi sekitar 6-7 hari. Awalnya, hasil
pembuahan menetap di saluran telur selama 2-3 hari, kemudian sel telur yang
sudah dibuahi ini berjalan menuju rahim. Di perjalanan, hasil pembuahan itu
melakukan pembelahan secara bertahap. Setelah 6-7 hari dan sampai di rongga
rahim, terjadilah nidasi atau implantasi, yaitu bersarangnya sel telur yang telah
dibuahi oleh sel sperma di dinding rahim. Setelah itu, berlangsung proses
pembentukan embrio atau mudigah diiringi dengan pembentukan plasenta dan tali
plasenta agar embrio atau mudigah yang bersarang di rahim mendapat suplai
darah dan zat-zat makanan dari ibu. Setelah masa embrio/mudigah selesai, bakal
manusia ini tumbuh dan berkembang menjadi janin.

2.3 Mekanisme Fertilisasi


a. Proses Terjadinya Fertilisasi
Pembuahan
Sperma yang masuk melalui vagina harus melakukan perjalanan panjang.
Dari vagina berlanjut ke saluran mulut rahim terus ke rongga rahim, lalu ke
saluran telur, dan berakhir di ujung saluran telur yang lebar (ampula) untuk

bertemu dengan sel telur. Dari berpuluh-puluh hingga seratus juta sel sperma
yang meluncur melalui vagina, hanya beberapa ratus ribu yang dapat mencapai
saluran telur, dan hanya satu sel sperma yang bisa menembus sel telur.

Gambar 2.5 Ringkasan acara ringkas untuk Fusi pada telur dan membran
sel sperma (A) landak laut dan (6) tikus (A) landak laut pembuahan eksternal. (1)
sperma ini kemotaksis tertarik dan Activ untuk sebuah sel telur. (2,3) Kontak
dengan cairan telur memicu reaksi krosome, memungkinkan akrosom melakukan
proses untuk membentuk dan melepaskan enzim proteolitik. (4) Sperma melekat
pada amplop vitelline dan melisiskan init lubang. (5) sperma mematuhi membran
sel telur dan melisis dengan itu. Inti sperma sekarang dapat memasuki sitoplasma
sel telur. (B) mamalia Pemupukan Apakah intern. Saluran reproduksi Perempuan
memberi hak, menarik, dan mengaktifkan sperma. (2)

A akrosom-di

kebijaksanaan sperma mengikat zona pelusida, yang lebih tebal dari amplop
vitelline dari bulu babi. (3) Reaksi akrosom terjadi pada zona pelusida. (4)
mencerna sperma di lubang zona pelusida. (5) sperma mematuhi telur, dan
membran sel mereka melebur

Peristiwa fertilisasi terjadi di saat sel spermatozoa dilepaskan dan dapat


membuahi ovum di ampula tuba fallopii. Sebanyak 300 juta spermatozoa
diejakulasikan ke dalam saluran genital wanita. Sekitar 1 juta yang dapat berenang
melalui serviks, ratusan yang dapat mencapai tuba fallopi dan hanya 1 yang dapat
membuahi sel telur. Sel spermatozoa mempunyai rentang hidup sekitar 48 jam
(Cambridge, 1998).
Sebelum membuahi sel telur, spermatozoa harus melewati tahap kapasitasi
dan reksi akrosom terlebih dahulu. Kapasitasi merupakan suatu masa penyesuaian
di dalam saluran reproduksi wanita, berlangsung sekitar 7 jam. Selama itu suatu
selubung glikoprotein dari plasma semen dibuang dari selaput plasma yang
membungkus daerah akrosom spermatozoa. Sedangkan reaksi akrosom terjadi
setelah penempelan spermatozoa ke zona pelusida. Reaksi tersebut membuat
pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida yang
terdapat pada akrosom (Sadler, 1996)
Oosit (ovum) akan mencapai tuba satu jam lebih setelah diovulasikan.
Ovum ini dikelilingi oleh korona dari sel-sel kecil dan zona pelusida yang
nantinya akan menyaring sel spermatozoa yang ada sehingga hanya satu sel yang
dapat menembus ovum. Setelah spermatozoa menembus ovum, ia akan
menggabungkan material intinya dan menyimpan komplemen kromosom ganda
yang lazim. Kromosomm ini mengandung semua informasi genetic yang nantinya
akan diturunkan kepada keturunannya (Canbridge, 1998).
Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot yang terus membelah
secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat
32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel
yang berisi cairan yang dikeluarkan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian
disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding
blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni
atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio
(embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus
untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus) (Anonymous,
2008).

Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga
uterus, hormon progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal,
lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air
susu (uterin milk) sebagai makanan embrio.
Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus
(melakukan implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon
ini melindungi kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen
dan progesteron sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian
menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas
daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari
fertilisasi.
Plasenta atau ari-ari pada janin berbentuk seperti cakram dengn garis
tengah 20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir
tetapi pada waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm.
Plasenta berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan
fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan
darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang (barier)
berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin(Anonymous, 2008).

Fertilisasi terjadi jika sel telur dilepaskan dari folikel di dalam ovarium,
maka sel telur akan menuju ke tuba fallopi (saluran oviduk ) dan pada keadaan
tersebut terjadi hubungan seksual, maka spermatozoa akan dapat membuahi ovum
dalam saluran tuba fallopi tersebut. Spermatozoa akan bergerak dengan bantuan
bagian ekornya. Pergerakan tersebut dapat mencapai 12 cm per jam di sepanjang
tuba fallopi (saluran oviduk). Pergerakan spermatozoa dibantu juga oleh
pergerakan dinding rahim dan dinding tuba falopi.
Mulut rahim juga mengeluarkan cairan atau lendir encer agar spermatozoa
dapat berenang dengan lancar dalam rahim menuju saluran telur untuk menemui
dan membuahi sel telur.
Untuk dapat membuahi sel telur, jumlah spermatozoa tidak boleh kurang
dari 20 juta. Dari jumlah tersebut hanya satu yang akan membuahi sel telur, dan

yang lain akan mati dan terserap oleh tubuh.. Sesaat sebelum terjadinya fertilisasi,
sperma melepaskan enzim pencerna yang bernama hialuronidase yang bertujuan
untuk melubangi protein penyelubung telur. Setelah dinding sel telur berlubang,
maka sel sperma masuk ke dalam sel telur. Bagian yang masuk adalah kepala dan
bagian tengah, sedangkan ekor dari sel sperma terputus dan tertinggal. Akhirnya,
terjadilah pembuahan itu.

Gambar 2.6 Keterangan gambar 2 : sperma yang berenang menuju sel telur
dan berusaha menembus dinding sel telur tetapi dari semua sperma tersebut hanya
satu yang berhasil menembus dinding sel telur.
Dari pembuahan tersebut akan dihasilkan zigot yang bersifat diploid dan
memiliki kromosom sebanyak 23 pasang atau 46 kromosom di antaranya 44
kromosom tubuh dan 2 kromosom kelamin ( 44A XX or 44 AXY).
Di dalam 46 kromosom ini terdapat semua rumus untuk membentuk
seorang manusia. zigot hasil pembuahan tersebut akan mengalami pembelahan
secara mitosis.
Sel akan langsung mengalami pembelahan ganda dari yang semula satu sel
menjadi dua, lalu menjadi empat, delapan dan seterusnya. Seperti gambar dibawah
ini :

Gambar 2.7 perkembangan sel telur yang tlah dibuahi dari zigot menjadi morula.
Pembelahan sel diatas berlangsung di sepanjang saluran tuba fallopi,
sambil berjalan menuju uterus. Di sepanjang tuba fallopi terdapat rambut-rambut
getar yang selalu bergerak melambai ke arah rahim (uterus) yang berfungsi untuk
memudahkan pergerakan zigot menuju rahim (uterus). Selama berjalan menuju
rahim, zigot aktif membelah. Pada saat itu dibutuhkan makanan untuk menjamin
kehidupannya. Sumber makanannya adalah kuning telur, yang menyediakan
makanan selama perjalanan zigot sampai dapat tertanam di dalam rahim.
Apabila perjalanan yang dilakukan zigot normal, dalam waktu 6 hari zigot
sudah tertanam di dalam dinding rahim. Tetapi pada kasus yang tidak normal,
dapat terjadi pergerakan zigot di sepanjang tuba falopi terlalu lambat dan bahkan
zigot terhambat, akhirnya akan tertanam di dinding tuba falopi. Keadaan ini sering
disebut dengan istilah hamil di luar kandungan.
Jika ini terjadi maka zigot tidak akan dapat tumbuh dengan normal, dan
jika terjadi pertumbuhan pada zigot maka keadaan ini akan membahayakan

ibunya karena janin tersebut akan dapat memecahkan saluran tuba falopi. Semakin
cepat kelainan ini diketahui semakin baik hasil penanggulangannya.
2.4 Phartenogenesis
Phartenogenesis adalah proses perkembangan telur tanpa harus dibuahi.
Misalnya

yang

terjadi

pada

hewan

dewasa

yang

dihasilkan

melalui

phartenogenesis sering kali haploid dan sel-selnya tidak mengalami meiosis dalam
pembentukan telur-telur baru. phartenogenesis mempunyai peranan dalam
organisasi sosial spesies tertentu dari lebah, tawon dan semut. Lebah madu jantan
atau dinamakan drone dihasilkan secara phartenogenesis, sementara lebah madu
betina baik pekerja yang steril maupun betina yang reproduktif atau ratu,
berkembang dari telur yang dibuahi. Diantara vertebrata beberapa genera ikan,
amfibia dan kadal bereproduksi secara eksklusif melalui suatu bentuk kompleks
phartenogenesis yang melibatkan penggandaan kromosom setelah meiosis untuk
menciptakan zigot diploid. Sebagai contoh terdapat sekitar 15 spesies pada
whiptail (genus cnemi do phorus) yang bereproduksi secara eksklusif melalui
phartenogenesis. Tidak ada jantan pada spesies ini, tetapi kadal itu meniru
kenyataannya. Ovulasi lebih mungkin terjadi jika suatu individu dilampaui
individu yang lain selama masa kritis siklus hormon tersebut, kadal yang terisolasi
menghasilkan telur yang lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kadal yang
melakukan gerakan seks tersebut. Sebenarnya, kadal phartenogenetik ini yang
berkembang dari spesies yang mempenyau dua jenis kelamin, masih memerlukan
stimilis seks tertentu untuk keberhasilan reproduksi maksimum.

2.5 Terjadinya Kembar


Kembar atau anak kembar adalah dua atau lebih individu yang membagi
uterus yang sama dan biasanya, tapi tidak selalu, dilahirkan dalam hari yang sama.
Pada manusia, ibu dengan kandungan yang membawa bayi kembar dengan
demikian akan mengalami persalinan berganda dan biasanya masa mengandung
yang lebih singkat (34 sampai 36 minggu) daripada kehamilan bayi tunggal.

Karena kelahiran prematur biasanya memiliki konsekuensi kesehatan


kepada bayi, kelahiran kembar seringkali ditangani secara khusus yang agak
berbeda daripada kelahiran biasa. Dilihat dari asal usul zigot , dikenal dua jenis
persalinan kembar: fraternal (dizigotik) dan identik (monozigotik). Kembar
dizigotik adalah hal yang umum terjadi pada vertebrata , sementara kembar
monozigotik merupakan hal yang jarang dijumpai. Manusia memiliki kemampuan
ini. Armadillo bergaris-sembilan ( Dacypus novemcinctus ) jika melahirkan selalu
memiliki kembar empat monozigotik.
Kembar monozigotik terjadi ketika sel telur tunggal terbuahi dan
membentuk satu zigot (monozigotik). Dalam perkembangannya, zigot tersebut
membelah menjadi embrio yang berbeda. Kedua embrio berkembang menjadi
janin yang berbagi rahim yang sama. Tergantung dari tahapan pemisahan zigot,
kembar identik dapat berbagi amnion yang sama (dikenal sebagai monoamniotik )
atau berbeda amnion. Lebih jauh lagi, kembar identik bukan monoamniotik dapat
berbagi plasenta yang sama (dikenal dengan monokorionik, monochorionic ) atau
tidak. Semua kembar monoamniotik pasti monokorionik. Berbagi amnion yang
sama (atau amnion dan plasenta yang sama) dapat menyebabkan komplikasi
dalam kehamilan. Contohnya, tali pusar dari kembar monoamniotik dapat terbelit
sehingga mengurangi atau mengganggu penyaluran darah ke janin yang
berkembang. Kembar MZ selalu berkelamin sama dan secara genetik adalah sama
(klon) kecuali bila terjadi mutasi pada perkembangan salah satu individu. Tingkat
kemiripan kembar ini sangat tinggi, dengan perbedaan kadang- kadang terjadi
berupa keserupaan cerminan. Perbedaan terjadi pada hal detail, seperti sidik jari.
Bila individu beranjak dewasa, tingkat kemiripan biasanya berkurang karena
pengalaman pribadi atau gaya hidup yang berbeda. Penelitian dari Fraga et al.
(2005) mengungkap adanya pengaruh epigenetik dalam proses yang membedakan
individu-individu yang kembar MZ, akibat berbedanya gen- gen yang diaktifkan.
Meskipun

ada

pengaruh

kebiasaanatau

pengalaman

yang

memengaruhi

perbedaan-perbedaan itu, ilmuwan beranggapan proses acak lebih banyak


berperan dalam perbedaan-perbedaan yang terjadi. Penelitian dengan tikus bahkan
menunjukkan adanya perbedaan aktivitas pada histon (terkait dengan epigenetik)
dari empat sel pertama yang terbentuk. Hingga sekarang ilmuwan belum

bersepakat mengenai adanya pengaruh genetik untuk kejadian kembar MZ. Tetapi
diketahui terdapat beberapa tempat di dunia yang memiliki frekuensi kembar MZ
yang lebih tinggi daripada tempat lainnya.

b. Penyebab Kelahiran Kembar


Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor
genetik, obat penyubur yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang
secara sempurna, juga diduga ikut memicu terjadinya bayi kembar. Alasannya,
jika indung telur bisa memproduksi sel telur dan diberi obat penyubur, maka sel
telur yang matang pada saat bersamaan bisa banyak, bahkan sampai lima dan
enam. selain itu juga penyebab lahirnya bayi kembar siam adalah karena adanya
proses pembelahan sel telur yang tidak sempurna.

c. Proses
Secara garis besar, kembar dibagi menjadi dua. Monozigot, kembar yang
berasal dari satu telur dan dizigot kembar yang berasal dari dua telur. Dari seluruh
jumlah kelahiran kembar, sepertiganya adalah monozigot. Kembar dizigot berarti
dua telur matang dalam waktu bersamaan, lalu dibuahi oleh sperma. Akibatnya,
kedua sel telur itu mengalami pembuahan dalam waktu bersamaan. Sedangkan
kembar monozigot berarti satu telur yang dibuahi sperma, lalu membelah dua.
Masa pembelahan inilah yang akan berpengaruh pada kondisi bayi kelak. Masa
pembelahan sel telur terbagi dalam empat waktu, yaitu 0 - 72 jam, 4 - 8 hari, 9-12
dan 13 hari atau lebih.Pada pembelahan pertama, akan terjadi diamniotik
yaiturahim punya dua selaput ketuban, dan dikorionik atau rahim punya dua
plasenta . Sedangkan pada pembelahan kedua, selaput ketuban tetap dua, tapi
rahim hanya punya satu plasenta. Pada kondisi ini, bisa saja terjadi salah satu bayi
mendapat

banyak

makanan,

sementara

bayi

satunya

tidak. Akibatnya,

perkembangan bayi bisa terhambat. Lalu, pada pembelahan ketiga, selaput


ketuban dan plasenta masing-masing hanya sebuah, tapi bayi masih membelah
dengan baik. Pada pembelahan keempat, rahim hanya punya satu plasenta dan
satu selaput ketuban, sehingga kemungkinan terjadinya kembar siam cukup besar.

Pasalnya waktu pembelahannya kelamaan, sehingga sel telur keburu berdempet.


Jadi kembar siam biasanya terjadi padam monozigot yang pembelahannya lebih
dari 13 hari. Dari keempat pembelahan tersebut, tentu saja yang terbaik adalah
pembelahan pertama, karena bayi bisa membelah dengan sempurna. Namun,
keempat pembelahan ini tidak bisa diatur waktunya. Faktor yang memengaruhi
waktupembelahan, dan kenapa bisa membelah tidak sempurna sehingga
mengakibatkan dempet, biasanya dikaitkan dengan infeksi, kurang gizi, dan
masalah lingkungan.

d. Persentase hidup
Sejumlah kesimpulan medis menyebutkan, terjadi satu kasus kembar siam
untuk setiap 200 ribu kelahiran. Jadi, jika Indonesia berpenduduk 200 juta, ada
peluang 1.000 kasus kembar siam!. Dari semua kelahiran kembar siam, diyakni
tak lebih dari 12 pasangan kembar siam yang hidup di dunia. Saat dilahirkan
kebanyakan kembar siam sudah dalam keadaan meninggal, yang lahir hidup
hanya sekitar 40 persen. Dari mereka yang lahir hidup, 75 persen meninggal pada
hari-hari pertama dan hanya 25 persen yang bertahan hidup. Itu pun sering kali
disertai dengan kelainan bawaan dalam tubuhnya ( incomplete conjoined twins ).
Apakah itu organ pada bagian ekstoderm, yakni kulit, hidung dan telinga, atau
mesoderm yang mencakup otot, tulang dan saraf, atau bias juga indoderm, yakni
bagian organ dalam seperti hati, jantung, paru dan otak.
a. Kembar Siam
Kembar siam adalah keadaan anak kembar yang tubuh keduanya bersatu.
Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara
sempurna. Kemunculan kasus kembar siam diperkirakan adalah satu dalam
200.000 kelahiran. Yang bisa bertahan hidup berkisar antara 5% dan 25%, dan
kebanyakan (75%) berjenis kelamin perempuan . Istilah kembar siam berawal dari
pasangan kembar siam terkenal Chang dan Eng Bunker ( 1811 - 1874 ) yang lahir
di Siam (sekarang Thailand ). Kasus kembar siam tertua yang tercatat adalah
Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang lahir pada tahun 1100-an.

e. Pembagian jenis kembar siam


Kembar siam itu sendiri yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan,
terbagi dalam beberapa jenis kasus, yang didasari posisi pelekatan keduanya. Dari
seluruh kembar dempet, kebanyakan dempet terjadi pada empat anggota tubuh,
yaitu dada sebanyak 40 persen, perut 35 persen, kepala 12 persen dan panggul
antara enam hingga sepuluh persen. Ada beberapa jenis kembar siam:

Thoracopagus: kedua tubuh bersatu di bagian dada( thorax). Jantung selalu


terlibat dalam kasus ini. Ketika jantung hanya satu, harapan hidup baik
dengan atau tanpa operasi adalah rendah. (35-40% dari seluruh kasus)

Gambar 2.8 Penderita Thoracopagus

Omphalopagus: kedua tubuh bersatu di bagian bawah dada. Umumnya


masing-masing tubuh memiliki jantung masing-masing, tetapi biasanya
kembar siam jenis ini hanya memiliki satu hati , sistem pencernaan,
diafragma dan organ-organ lain. (34% dari seluruh kasus).

Gambar 2.9 Penderita Omphalopagus

Xiphopagous: kedua tubuh bersatu di bagian xiphoid cartilage.

Gambar 2.10 Penderita Xiphopagus

Pygopagus (iliopagus): bersatu di bagian belakang. (19% dari seluruh kasus)

Gambar 2.11 Penderita Pygopagus

Cephalopagus: bersatu di kepala dengan tubuh yang terpisah. Kembar siam


jenis ini umumnya tidak bisa bertahan hidup karena kelainan serius di otak .
Dikenal juga dengan istilah janiceps (untuk dewa Janus yang bermuka dua)
atau syncephalus.

Gambar 2.12 Penderita Cephalopagus

Cephalothoracopagus: Tubuh bersatu di kepala dan thorax. Jenis kembar


siam ini umumnya tidak bisa bertahan hidup. (juga dikenal dengan
epholothoracopagus

atau

craniothoracopagus)

Craniopagus: tulang tengkorak bersatu dengan tubuh yang terpisah. (2%)

Craniopagus parasiticus - bagian kepala yang kedua yang tidak memiliki


tubuh.

Gambar 2.13 Penderita Cephalothoracopagus

Dicephalus: dua kepala, satu tubuh dengan dua kaki dan dua atau tiga atau
empat lengan (dibrachius, tribrachius atau tetrabrachius) Abigail dan Brittany
Hensel, adalah contoh kembar siam dari Amerika Serikat jenis dicephalus
tribrachius.

Gambar 2.13 Penderita Dichepalus

Ischiopagus: kembar siam anterior yang bersatu di bagian bawah tubuh. (6%
dari seluruh kasus)

Gambar 2.14 Penderita Ischiopagus

Ischio-omphalopagus: Kembar siam yang bersatu dengan tulang belakang


membentuk huruf-Y. Mereka memiliki empat lengan dan biasanya dua atau
tiga kaki. Jenis ini biasanya memiliki satu sistem reproduksi dan sistem
pembuangan.

Gambar 2.15 Penderita Ischio-omphalopagus

Parapagus: Kembar siam yang bersatu pada bagian bawah tubuh dengan
jantung yang seringkali dibagi. (5% dari seluruh kasus)

Gambar 2.16 Penderita Parapagus

Diprosopus: Satu kepala dengan dua wajah pada arah berlawanan.

Gambar 2.17 Penderita Diprosopus

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, yang terjadi di
daerah ampulla tuba fallopii.Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke
rahim dan selanjutnya masuk kedalam saluran telur.Pergerakan naik ini
disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Sebelum spermatozoa dapat
membuahi oosit, mereka harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom .
Proses

terjadinya

kehamilan

harus

diawali

dengan

bertemunya

spermatozoa (sel sperma yang matang) dan sel telur yang matang (ovum). Agar
bisa menghadirkan dan menjalankan kehamilan, suami-istri harus memiliki
struktur anatomi yang normal dan sistem hormonal yang berfungsi baik.Dari
berpuluh-puluh hingga seratus juta sel sperma yang meluncur melalui vagina,
hanya beberapa ratus ribu yang dapat mencapai saluran telur, dan hanya satu sel
sperma yang bisa menembus sel telur.
Phartenogenesis adalah proses perkembangan telur tanpa harus dibuahi.
phartenogenesis mempunyai peranan dalam organisasi sosial spesies tertentu dari
lebah, tawon dan semut
Kembar adalah dua atau lebih individu yang membagi uterus yang sama
dan biasanya, tapi tidak selalu, dilahirkan dalam hari yang sama.Dilihat dari asal
usul zigot , dikenal dua jenis persalinan kembar: fraternal (dizigotik) dan identik
(monozigotik).
Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor genetik,
obat penyubur yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang secara
sempurna, juga diduga ikut memicu terjadinya bayi kembar.
Ada beberapa jenis kembar siam:
Thoracopagus,

Omphalopagus,

Xiphopagous

Cephalopagus,

Cephalothoracopagus,

omphalopagus, Parapagus, Diprosopus.

Dicephalus,

Pygopagus

(iliopagus),

Ischiopagus,

Ischio-

Daftar pustaka
Anonymous, 2008. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuahan.
tanggal 27 mei 2008.

pada

Anonymous, 2008. Diakses dari http://Harunyahya.merenungi penciptaan.html.

pada

tanggal 27 mei 2008.


Anonymous, 2008. Diakses dari http://Biologi kehamilan dan persalinan.html.

pada

tanggal 27 mei 2008.


Sadler, T.W, 1996. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta :EGC
Junqueira, Carlos R dkk. 1992. Histologi dasar. Alih bahasa : Jan Tambayang.
Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
Cambridde, 1998. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan Sistem Reproduksi. Jakarta :
EGC
Chambell, Neil A. 2004. Biologi . Jakarta . Erlangga