Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kista merupakan kelainan rongga mulut yang sering terjadi. Karena sifat kista
yang membesar secara perlahan-lahan, akan menyebabkan desakan pada tulang
sehingga menyebabkan asimetri muka jika kista telah membesar. Kista adalah
rongga patologis yang berisi cairan atau semicairan, tidak disebabkan oleh
akumulasi pus. Kista ini dikelilingi oleh jaringan ikat atau kapsul dan biasanya
berdinding epitel, namun dapat terjadi tanpa dinding epitel. Dapat menyebabkan
pembesaran intra oral atau ekstra oral yang secraa klinis dapat menyerupai tumor
jinak
Kista dentigerous adalah kista yang terbentuk disekitar mahkota gigi yang belum
erupsi. Kista ini mulai terbentuk bila cairan menumpuk di dalam lapisan-lapisan
epitel email yang tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum
erupsi.
Jumlah kasus kista dentigerous cukup banyak sehingga menjadi kista
odontogenik kedua yang paling banyak terjadi setelah kista radikular. Gigi yang
menjadi asal-muasal kista absen secara klinis sebab melibatkan gigi yang biasanya
impaksi atau telat erupsi. Sebagian besar berhubungan dengan gigi

molar tiga

mandibula, lalu juga dengan kaninus maksila, molar tiga maksila, dan
premolar

dua

mandibula. Meskipun demikian kista ini tetap bisa terjadi pada

semua gigi yang tidak erupsi, dimana pada mahkota gigi tersebut terdapat lumen
kista. Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi permanen meskipun pada
beberapa kasus ditemukan adanya keterlibatan gigi sulung. Beberapa kasus
lainnya berhubungan dengan gigi supernumerary atau dengan odontoma.

BAB 2
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn Abd

Alamat

: Langensari

Pekerjaan

: Wiraswasta

Umur

: 38 tahun

Jenis kelamin

: Laki - Laki

Tanggal periksa

: 14 Januari 2015

KELUHAN SUBYEKTIF
Autoanamnesis di Bangsal Raflesia RSUD Banjar pukul 08.00 WIB
Keluhan utama :
Pasien mengeluh adanya benjolan di gusi semenjak kurang lebih 3 bulan yang lalu
Riwayat penyakit sekarang :
+ 3 bulan yang lalu, os mengeluh terdapat benjolan sebesar jagung di gusi atas
depan, warna biru, benjolan semakin lama semakin membesar diikuti pembesaran
pipi sebelah kanan. Nyeri (+) saat makan, tidak ada demam. Pasien juga
mengeluhkan pusing, os mengaku pada malam hari hidung menjadi mampet dan
agak sulit bernafas, tidak ada keluhan di telinga, tenggorokan, tidak ada penurunan
berat badan, dan tidak ada batuk pilek.
Riwayat Penyakit Dahulu

Ia tidak pernah mengalami hal yang sama

Belum pernah berobat

HT (-), DM (-), asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengaku tidak ada yang menderita keluhan yang sama

Hipertensi (-), DM (-), asma (-).

Riwayat Alergi :
Bersin-bersin ketika terkena debu dan perubahan cuaca Alergi Makanan(-),
Alergi Obat (-)
Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah berobat sebelumnya
Riwayat Kebiasaan

Pasien suka bepergian dengan motor tanpa menggunakan masker

Merokok disangkal

A. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda-tanda Vital

: Tampak tenang
: Compos mentis
:

Tekanan Darah

: 120/80mmHg

Nadi

: 88 x/menit, kuat, reguler

Suhu

: 36.5 C

Frekuensi Napas

: 20 x/menit

1. Status Generalis
Kepala

: Normochepal

Mata

: Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-

Telinga

: ( Status lokalis THT)

Hidung

: ( Status lokalis THT)

Mulut

: Bibir kering (-), sianosis (-), pucat (-)

Tenggorokan

: ( Status lokalis THT )

Thorax

: Bentuk dan gerak simetris

Paru-paru

Inspeksi : Pergerakan dada simetris


Palpasi

: Vocal fremitus kanan dengan kiri sama

Perkusi

: Sonor kedua lapang paru

Auskultasi : Vesikuler +/+ , rhonchi -/- , wheezing -/Jantung

Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat


Palpasi

: ictus cordis teraba

Perkusi : batas jantung dalam batas normal


Auskultasi : BJ I & II murni , reguler , murmur (-) , gallop (-)
Abdomen

Inspeksi

: tampak datar

Auskultasi

: Bising usus normal

Palpasi

: supel, tidak nyeri. Tidak ada massa

Perkusi

: timpani di 4 kuadran

Ekstremitas

Atas

: Hangat (+/+), edema (-/-), RCT < 2 dtk ,sianosis

(-/-)
Bawah

: Hangat (+/+), edema (-/-), RCT < 2 dtk ,sianosis

(-/-)
2.

Status Lokalis THT


a. Telinga
Telinga Kanan
Heliks sign (-)

Aurikula

Telinga Kiri
Heliks sign (-)

Tragus sign (-)


Mukosa tenang

MAE

Tragus sign (-)


Mukosa tenang

Serumen (-)

Serumen (-)

Sekret (-)
Intak (+)

Sekret (-)
Intak (+)

Membran tympani

Reflex cahaya (+)

Reflex cahaya (+)

Hipremis (-)

Hiperemis (-)

Perforasi (-)
Edema (-)

Perforasi (-)
Edema (-)

RA

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)

Radang (-)

Radang (-)

Tumor (-)

Tumor (-)

Sikatriks (-)
Tes Garpu Tala:

Sikatriks (-)

Rinne

: tidak dilakukan

Weber

: tidak dilakukan

Schwabach : tidak dilakukan


b. Hidung
Hidung kanan
Bentuk

Hidung kiri
Hidung luar

Bentuk dbn

Inflamasi (-)

Inflamasi (-)

Deformitas (+)

Deformitas (-)

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)

Rinoskopi anterior
Mukosa tenang (+)

Kavum nasi

Mukosa tenang (+)

Hiperemis (+)

Hieperemis (-)

Sekret (-)

Sekret (-)

Massa (-)

Massa (-)

Nyeri (-)

Nyeri (-)

Ulkus (-)

Vestibulum nasi

Ulkus (-)

Edema (-)

Konka nasi

Edema (-)

Hipertrofi (-)

Hipertrofi (-)

Hieperemis (-)

Hiperemis (-)

Menyempit
Lurus

Septum nasi

Deviasi (-)

Lurus
Deviasi (-)

(+) (melemah)

Passase udara

(+)

Sinus paranasal

Inspeksi : Pembengkakan pada wajah (-/-)

Palpasi :

Nyeri tekan pada pipi (-/-)

Nyeri tekan bagian bawah orbita (-/-)

Transiluminasi : tidak dilakukan

c. Tenggorok

Nasofaring

: dbn

Orofaring

Mukosa

: Hiperemis (-),granul (-), massa (-)

Tonsil

: TI / TI , hiperemis (-/-) , detritus (-/-),


perlengketan (-/-)

Laringofaring : dbn

d. Maksilofasial
NI

: Normosmia (+/+)

N II

: Pupil bulat , isokor (+/+)

NIII

: gerak bola mata normal

NIV

: gerak bola mata normal

NV

: Rahang simetris , refleks menggigit baik

NVI

: gerak bola mata normal

NVII
+)

: Wajah simetris , senyum simetris , angkat alis (+/

NVIII

: pendengaran normal

NIX

: Deviasi uvula ()

NX

: Refleks muntah (+)

NXI

: Angkat bahu +/+ simetris

NXII

: Deviasi lidah (-)

e. Leher
Pembesaran KGB
- Pre aurikuler

(-/-)

- Post aurikuler

(-/-)

Submental

(-/-)

Submandibula

(-/-)

Jugularis superior, media,inferior

Supraklavikula (-/-)

Suprasternal

Pembesaran kel.tiroid (-)

(-/-)

(-/-)

Pemeriksaan ekstra oral :


Wajah
Inspeksi : asimetri wajah (+), tampak benjolan diregio maksilozygomaticus dextra,
warna sama dengan daerah sekitarnya

Palpasi : fluktuasi (+), nyeri takan (-), konsistensi keras, batas tegas
Leher
Inspeksi : Simetris
Palpasi : pembesaran nnll -/Pemeriksaan Intra oral
Mukosa pipi

: tidak ditemukan kelainan

Mukosa palatum durum

: tidak ditemukan kelainan

Mukosa palatum mole

: tidak ditemukan kelainan

Mukosa dasar mulut

: tidak ditemukan kelainan

Mukosa faring

: tidak ditemukan kelainan

Kelainan periodontal

: mesiodens incisivus

Ginggiva

: tampak benjolan regio maksilozygomaticus dekstra

Karang gigi

: (-)

gigi

: luktuasi pada caninus superior dextra

Ginggiva :
I

: tampak benjolan, warna kebiruan, batas tegas.

Pal : benjolan dengan diameter + 2 cm permukaan licin, fluktuasi (+), konsistensi


lunak, batas tidak tegas, permukaan licin, nyeri tekan (+)

DIAGNOSA KERJA :
kista dentigerous a/r Gingiva superior Dextra

DIAGNOSA BANDING :
kista radikuler - Ameloblastoma
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium darah

: Darah Perifer Lengkap

Pemeriksaan radiologis

Penatalaksanaan
Asam Mefenamat 500mg 3 dd 1
Ranitidin 150mg 2 dd 1
Pro Biopsi Eksisi

: foto panoramik

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Kista dentigerous merupakan kantung tertutup berbatas epitel atau kantung
jaringan ikat yang berbatas epitel squamosa

berlapis yang terbentuk di sekitar

mahkota gigi yang tidak erupsi atau dentikel dan terdapat cairan 1. Kista ini
melekat pada cemento-enamel junction hingga jaringan folikular yang menutupi
mahkota gigi yang tidak erupsi. Kista dentigerous yang terjadi pada saat erupsi
dinamakan dengan kista erupsi, biasanya menghalangi erupsi. Separuh bagian dari
kista ini biasanya sudah tidak dibatasi oleh tulang. Kista dentigerous juga disebut
sebagai

kista folikular sebab merupakan hasil pembesaran folikel, berasal dari

akumulasi cairan antara epitel email tereduksi dan email gigi1.

2.2. Etiologi dan Patologi


Etiologi kista dentigerous biasanya berhubungan dengan:
a. Gigi impaksi,
b. Gigi yang erupsinya tertunda,
c. Perkembangan gigi, dan
d. Odontoma.
Ada dua teori mengenai pembentukan kista dentigerous :
Teori pertama menyatakan bahwa kista disebabkan oleh akumulasi cairan
antara epitel email tereduksi dan mahkota gigi. Tekanan
proliferasi epitel email tereduksi ke dalam

cairan mendorong

kista yang melekat pada cemento-

enamel junction dan mahkota gigi1.


Teori kedua menyatakan bahwa kista diawali dengan rusaknya stellate
reticulum sehingga membentuk cairan antara epitel email bagian dalam dan bagian
luar. Tekanan cairan tersebut mendorong proliferasi epitel email luar yang
menyisakan perlekatan pada gigi di bagian cemento-enamel junction; lalu epitel
email dalam tertekan ke atas permukaan mahkota1.

Kista terbentuk mengelilingi mahkota dan melekat pada

cemento-enamel

junction dari gigi. Saat telah terbentuk sempurna, mahkota akan berprotrusi ke
dalam lumen, dan akar-akarnya memanjang ke sisi luar kista1.
Pada setiap teori, cairan menyebabkan proliferasi kistik karena kandungan
hiperosmolar

yang dihasilkan oleh cellular breakdown dan produk-produk sel

sehingga menyebabkan gradien osmotik untuk memompa cairan ke dalam lumen


kista1.

Perlekatan dinding kista terhadap leher gigi

Ilustrasi kista dentigerous. Perhatikan perlekatannya pada cemento-enamel juntion


2.3. Klasifikasi
Klasifikasi kista dentigerous ada tiga tipe, yaitu tipe sentral, lateral, dan
sirkumferensial, sesuai dengan posisi berkembangnya kista pada mahkota gigi.
a. Kista Dentigerous Sentral
Kista mengelilingi mahkota secara asimetris, menggerakkan gigi ke arah yang
berlawanan dengan erupsi normal2.

Kista dentigerous tipe sentral menunjukkan mahkota terproyeksi ke dalam rongga


kista
b. Kista Dentigerous Lateral
Pada tipe lateral, kista berkembang pada sisi mesial dan distal dari gigi dan
meluas jauh dari gigi, hanya menutupi sebagian mahkota

gigi, menyebabkan

miringnya gigi ke arah yang tidak diliputi kista2.

Kista dentigerous tipe lateral menunjukkan kista yang besar disepanjang akar
mesial gigi inpaksi
c. Kista Dentigerous Sirkumferensial
Pada tipe sirkumferensial, seluruh organ email disekitar leher
kistik, sering menyebabkan gigi bererupsi menembus

gigi menjadi
kista sehingga

menghasilkan gambaran seperti kista radikular2.

Kista dentigerous tipe sirkumferensial menunjukkan kista meluas sepanjang akar


mesial dan distal gigi yang tidak erupsi

2.4. Gambaran Klinis


Jumlah kasus kista dentigerous cukup banyak sehingga menjadi kista
odontogenik kedua yang paling banyak terjadi setelah kista radikular. Gigi yang
menjadi asal-muasal kista absen secara klinis sebab melibatkan gigi yang biasanya
impaksi atau telat erupsi. Sebagian besar berhubungan dengan gigi

molar tiga

mandibula, lalu juga dengan kaninus maksila, molar tiga maksila, dan
premolar

dua

mandibula. Meskipun demikian kista ini tetap bisa terjadi pada

semua gigi yang tidak erupsi, dimana pada mahkota gigi tersebut terdapat lumen
kista. Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi permanen meskipun pada
beberapa kasus ditemukan adanya keterlibatan gigi sulung. Beberapa kasus
lainnya berhubungan dengan gigi supernumerary atau dengan odontoma1.
Karena

berhubungan

dengan

gigi

impaksi

maka

kemungkinan

terjadinya kista ini akan bertambah seiring bertambahnya usia. Sebagai contoh
seseorang berusia 50 tahun dengan gigi impaksi, kemungkinannya memiliki kista
dentigerous

lebih besar

dibandingkan dengan pasien 21 tahun dengan gigi

impaksi pula. Namun karena sebagian besar masyarakat telah membuang gigi
impaksinya saat masih muda, maka kelompok usia muda
ke-3)

mendominasi

statistik

yang

ada. Penelitian

(dekade

ke-2

dan

terakhir menunjukkan

terjadi pemerataan jumlah kasus dari berbagai usia dalam lima dekade terakhir
ini. Kista dentigerous terjadi dua kali lipat lebih banyak pada pria dibandingkan
wanita1.
Kista dentigerous biasanya asimtomatik kecuali bila ukurannya menjadi
sangat besar (10-15cm) atau bila terjadi infeksi sekunder sehingga akan
sakit.

Infeksi

sekunder

ini

sering

terjadi.

Dapat

terasa

pula menyebabkan

ekspansi rahang. Ada kemungkinan terjadi fraktur patologis. Fraktur

patologis

dan infeksi ini dapat mempengaruhi sensasi nervus alveolar inferior dan
pleksus

nervus

alveolar

superior

sehingga menyebabkan parastesia. Kista

dapat terdeteksi melalui pemeriksaan radiografik rutin, atau dalam proses encari
penyebab retained deciduous tooth , atau pada pemeriksaan ekspansi klinis1.
Kista dapat terjadi pada pasien dengan cleidocranial dysostosis dan kadang
juga terjadi pada kelainan hipoplastik amelogenesis imperfekta dan menyebabkan

beberapa atau bahkan banyak gigi menjadi nonvital1.


2.5. Gambaran Radiografi
Ukuran

normal ruang

folikular

kurang

dari 2,5

mm

pada

radiografi intraoral dan 3 mm pada radiograf panoramik; spasi yang lebih besar
dianggap temuan diagnostik yang penting yakni kista dentigerous sebagai kista.
melekat pada

cemento-enamel junction . Beberapa kista dentigerous terlihat

eksentrik, berkembang dari aspek lateral folikel sehingga kista malah


menempati area di sebelah mahkota, bukan di atas

mahkota. Kista yang

berhubungan dengan molar tiga maksila seringkali tumbuh ke dalam


maxillary antrum
akhirnya

dan biasanya

ditemukan.

Kista

yang

ukurannya
melekat

sudah cukup besar sebelum


pada

mahkota

molar

tiga

mandibula dapat memanjang sampai ke ramus1,3.

Kista yang melibatkan ramus mandibula

Kista dentigerous menyebabkan pergeseran gigi kaninus kedalam ruang maxilary


antrum serta menggeser insisif lateral dan premolar satu

(coronal CT image) Menggunakan algoritma tulang memperlihatkan gigi molar


tiga maksila yang bergeser ke dalam ruang maxillary antrum
Kista dentigerous biasanya memiliki korteks yang berbatas jelas dengan
outline berbentuk kurva atau sirkuler. Jika terjadi infeksi, korteksnya
Lesi berbentuk unilokular,
ridge

dinding tulang.

hilang.

namun efek multilokular dapat dihasilkan dari

Kista dentigerous biasanya soliter, bila terlihat multipel

mungkin disertai dengan sindrom nevoid basal sel karsinoma. Secara radiografik,
aspek internal kista terlihat radiolusen kecuali untuk
terlibat. Kista

terlihat

translusen

mahkota

gigi

yang

dan compressible ketika ekspansi kista

menyebabkan resorpsi tulang kortikal1.


Kista

dentigerous

memiliki

kecenderungan

untuk

menggeser

dan

meresorpsi gigi tetangga. Dilaporkan ada 50% kasus kista dentigerous yang
menyebabkan resorpsi akar gigi tetangga. Kista biasanya akan menggeser
gigi yang terlibat ke arah apikal. Tingkat pergeserannya dapat bervariasi. Sebagai
contoh, gigi molar tiga maksila atau kaninus dapat terdorong ke dasar orbita,
dan gigi molar tiga mandibula dapat tergeser ke regio kondil atau koronoid
atau bahkan sampai ke korteks inferior mandibula. Dasar dari maxillary
antrum

dapat

bergeser

jika

kista menginvaginasi

antrum.

Kista

juga

dapat menggeser kanalis nervus alveolar inferior ke arah inferior. Kista


yang pertumbuhannya lambat tersebut juga seringkali mampu memperluas batas
kortikal luar dari rahang yang terlibat1,3.

Resopsi akar distal gigi molar dua


2.6. Gambaran Histopatologi
Dinding

kista

dibentuk

oleh

folikel

gigi

ketika

dinding

kista

melekat pada cervico-enamel junction . Gambarannya bervariasi, umumnya


terdiri atas lapisan dinding jaringan ikat tipis, dilapisi epitel gepeng yang
bersatu dengan epitel email tereduksi, meliputi mahkota gigi. Kapsul biasanya
tersusun oleh jaringan kolagen yang agak padat dan kadang terlihat sel datia.
Kadang terjadi inflamasi pada dinding kista di sekitar
cervico-enamel

junction .

Sering

perlekatan

gigi

pada

terjadi infeksi sekunder sehingga terjadi

akantosis dari rete ridge dengan infiltrasi sel radang. Pada kista dentigerous yang
tidak terinflamasi, batas epitelnya kira-kira

berketebalan

4-6

lapisan

sel.

Batas jaringan epitel konektif biasanya datar meskipun pada beberapa kasus
terjadi inflamasi kronis atau infeksi

sekunder

sehingga terjadi

hiperplasia

epitel. Batas epitel tidak berkeratin1,3.

Kista dentigerous terinflamasi menunjukkan dinding epitel yang lebih tipis dengan
hiperplastic rete ridge

Kista dentigerous non-inflamasi menunjukkan lapisan tipis dinding epitel tak


berkeratin
Pada 25%

kasus kista dentigerous

mandibula dan 50% kasus kista

dentigerous maksila dapat ditemukan area fokal sel-sel mukus. Kadang juga
terlihat sel bersilia. Elemen sel sebasea juga kadang terlihat dalam struktur
dindingnya. Kadang terdapat area keratinisasi (metaplasia berkeratin) dan
hasil

aspirasi

kista

dengan keratosis.

ini

kadang

membingungkan

untuk membedakannya

Elemen berkeratin yang menandakan adanya

proses

metaplastik, harus bisa dibedakan dari dinding keratosis odontogenik sebab


perbedaan tersebut menyerupai multipotensialitas dinding epitel odontogenik
dari kista dentigerous. Dapat juga terjadi proliferasi cell rests of Serres
pada dinding kista. Meskipun gambaran diagnostik ini penting namun juga dapat
membingungkan sebab biasanya proliferasinya luas sehingga menyerupai tumor
odontogenik1,3.

Scattered mucous cell dapat terlihat pada dinding epitel kista dentigerous

2.7. Potensial Neoplastik


Dinding epitel kista dentigerous dapat bertransformasi sehingga dapat terjadi

komplikasi, yakni
ameloblastoma

transformasi
Suatu

neoplastik dari epitel

penelitian

menunjukkan

kistik menjadi

bahwa

17%

kasus

ameloblastoma diawali dengan adanya riwayat kista dentigerous. Transformasi


malignansi lebih sedikit terjadi dibandingkan dengan tranformasi ameloblastik.
Kemungkinan tranformasi malignansi tersebut dapat
ameloblastik

namun

jarang

terjadi.

berupa

karsinoma

Malignansi yang paling sering

dihubungkan dengan kista dentigerous yakni karsinoma sel skuamosa dan


karsinoma mukoepidermoid. Selain
rekurensi

adanya

kemungkinan

terjadinya

setelah pembedahan yang tidak sempurna, beberapa komplikasi

lainnya juga dapat terjadi2, seperti :


a. Perkembangan Ameloblastoma.
- Berkembang pada dinding kista dentigerous dari lapisan atau sisa-sisa
epitel.
- Hasil penelitian dari 641 kasus ameloblastoma, 17% kasus berkaitan dengan
gigi impaksi/folikular/kista dentigerous. Disposisi

dari

proliferasi epitel

neoplastik dalam bentuk ameloblastoma ini lebih sering ditemui pada


kista dentigerous dibandingkan kista odontogenik lainnya. 2
- Manifestasi formasi tumor ini sebagai penebalan nodular pada dinding
kista tetapi gambaran klinis yang jelas sulit ditentukan sehingga

perlu

pemeriksaan mikroskopis dari jaringan kista dentigerous tersebut. 2


b. Perkembangan Karsinoma Epidermoid.
- Perkembangannya berasal dari lapisan epitel.
- Faktor predisposisi dan mekanisme perkembangan belum diketahui, tetapi
kejadiannya menampakkan unequivocal. 2
c. Perkembangan Karsinoma Mukoepidermoid.
- Merupakan bentuk tumor kelenjar saliva malignan dari lapisan epitel
kista dentigerous yang mengandung sel sekresi mukus.
- Lebih jarang terjadi dibandingkan karsinoma epidermoid.
- Sering terjadi pada kista dengan impaksi molar tiga mandibula. 2
2.8. Diagnosis, Perawatan dan Prognosis

Awalnya dilakukan aspirasi pada lesi. Kista dentigerous menghasilkan


straw-colored fluid . Jika aspirasi tidak menghasilkan cairan apapun, implikasinya
lesi ini merupakan lesi yang solid sehingga pada kasus tersebut sebaiknya
dilakukan biopsi. Jika lesi menghasilkan darah, pertimbangan
tersebut mungkin terjadi karena

pertama

hal

angiogram , masuknya jarum menyebabkan

perdarahan. Jika pada aspirasi kedua yang dilakukan beberapa hari kemudian
juga

menghasilkan darah dan darah menyembur dari jarum dengan syringe

barrel disconnected atau Doppler sounding yang positif untuk suara vaskular
maka dibutuhkan

angiogram . Computed

Tomography

(CT)

Scan

atau

Magnetic Resonance Imaging1


(MRI) Scan

dapat dilakukan untuk membedakan antara kista yang berisi

cairan dan tumor solid. Namun densitas cairan kistik sangat beragam, dapat
serupa dengan konsistensi tumor solid tipe lainnya sehingga membuat
perbandingannya jadi membingungkan1.
Kista dentigerous yang berukuran kecil (kurang dari 2cm) biasanya dapat
dienukleasi dengan mudah, bersamaan dengan pencabutan gigi yang berhubungan
dengan
ortodontik

kista tersebut. Enukleasi


untuk

digunakan (seperti

kista

mempertahankan
pada gigi kaninus

yang diikuti dengan manipulasi

gigi

yang

terlibat

maksila). Jika

telah berhasil

enukleasi beresiko

buruk terhadap struktur di sekitarnya maka eksternalisasi/penestr asi dapat


dilakukan

sebagai

pendekatan alternatif untuk mengurangi ukuran kista,

selanjutnya diikuti dengan enukleasi1.


Meskipun biasanya kista hanya melibatkan satu gigi namun pada kista yang
membesar maka kista tersebut juga dapat mempengaruhi beberapa gigi
lainnya yang ada di dekatnya.

Bila kista dentigerous mencapai ukuran

yang besar, menghasilkan pergeseran ekstrim dari gigi impaksi yang berhubungan.
Pergeseran gigi yang terjadi bisa jauh dari posisinya yang normal terutama pada
regio maksila, sehingga gigi asal kista akan sulit ditentukan. Gigi tersebut
dapat bermigrasi ke arah suborbital, baik ke prosesus koronoid atau kondiloid.
Jika fraktur patologis mengancam, kadang dipilih cangkok tulang autologous
untuk rekonstruksinya sesegera mungkin1.

Marsupialisasi dilakukan pada kista dentigerous yang berukuran besar.


Hal ini kurang ideal untuk dilakukan sebab menimbulkan resiko terbentuknya
ameloblastoma in situ atau microinvasive ameloblastoma atau transformasi
neoplastik lainnya dari dinding kista yang berkembang menjadi penyakit yang
lebih invasif. Marsupialisasi juga menyebabkan proses penyembuhan bekas
luka lebih lambat, perawatan pascaoperasi lebih rumit, dan reduksi pada
regenerasi tulang akhir. Indikasi marsupialisasi, yakni:
a. jika marsupialisasi memungkinkan gigi untuk erupsi spontan atau dipandu
secara ortodontik ke posisi fungsionalnya pada lengkung rahang, atau
b. jika ahli bedah mengidentifikasi resiko terjadinya kerusakan gigi yang
berkembang atau bundel neurovaskular selama enukleasi. Prognosisnya baik
sekali

dan

tidak

ada

kemungkinan

rekurensi setelah enukleasi. Namun

kista residual dapat berkembang jika lesi tidak dienukleasi dengan sempurna.
2.9. Diagnosa Banding
Dilihat
yakni

dari

kondisi

biologisnya,

keratosis odontogenik,

ameloblastoma

dalam

ameloblastic fibroma

kista

diagnosis

ameloblastoma

banding

kista dentigerous,

in situ , atau microinvasive

dentigerous, invasive ameloblastoma , dan

pada remaja muda dan anak-anak.

Jika

kista

dentigerous terjadi pada maksila anterior, kista odontogenik adenomatoid


akan menjadi pertimbangan utama sebagai diagnosis bandingnya, khususnya
jika terjadi pada pasien muda. Diagnosis

utama

berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologis1,2

kista

dentigerous

didapat

Referensi
1. Balaji SM, Textbook of oral & maxillofacial surgery. Paperbag 19
November 2009, diunduh 16 01 2015
2. Brad W. Neville , Douglas D. Damm , Carl M. Allen, Textbook of Oral and
MaxilloFacial Pathology,3E. Hardcover 25 Juni 2008, diunduh 18 01
2015
3. Robert P. Langlais MS, Craig S. Miller , Jill S. Gehrig, Color Atlas of
Common Oral Disease. Paperback 7 April 2009, diunduh 18 01 - 2015