Anda di halaman 1dari 38

SIMULASI ESTIMASI POPULASI

I. PENDAHUALUAN

A. Latar Belakang
Ekologi adalah ilmu yang membicarakan tentang hubungan timbal balik antara organisme
dan lingkungannya serta antara organisme itu sendiri. Dalam proses hubungan timbal balik
atau interaksi ini, organisme saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan dengan
lingkungan sekitar, begitu pula lingkungan mempengaruhi kegiatan hidup organisme. Semua
individu yang hidup dalam suatu daerah membentuk suatu populasi. Dan beberapa populasi
spesies yang cenderung untuk hidup bersama di suatu daerah geografis tertentu membentuk
suatu komunitas ekologi dimana suatu komunitas tersebut beserta lingkungan fisik dan kimia
disekelilingnya secara bersama-sama membentuk suatu ekositem yang dipelajari dalam
ekologi
Di dalam lingkungan terjadi interaksi kisaran yang luas dan kompleks. Ekologi merupakan
cabang ilmu biologi yang menggabungkan pendekatan hipotesis deduktif, yang menggunakan
pengamatan dan eksperimen untuk menguji penjelasan hipotesis dari fenomena-fenomena
ekologis.
Pada praktikum ini, kita mencoba untuk mensmulasi sebuah populasi. Dengan menggunakan
kancing , kita akan mencoba menghitung jumlah pupulasi dengan menggunakan metoda
eschmeyer dan Schumacher.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Menduga sebuah populasi dengan metode eschmeyer dan Schumacher.
2. Mengaplikasikan metode CMRR pada pengestimasian popolasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Populasi didefinisikan sebagai kelompok kolektif organisme. Organisme dan spesies yang
sama ( kelompok-kelompok lain di mana individu-individu dapat bertukar informasi genetika
) menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki berbagai ciri atau sifat yang merupakan
sifat milik individu di dalam kelompok itu. Populasi mempunyai sejarah hidup dalam arti
mereka tumbuh, mengadakan pembedaan-pembedaan dan memelihara diri seperti yang
dilakukan oleh organisme. Sifat-sifat kelompok seperti laju kelahiran, laju kematian,
perbandingan umur, dan kecocokan genetik hanya dapat diterapkan pada populasi
(Resosoedarmo, 1990).
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu.
Contoh populasi dari komunitas sungai dapat berupa populasi rumput, populasi ikan, populasi
kepiting, popuasi kerang, populasi sumpil, dan lain-lain. Contoh populasi dari komunitas
sawah dapat berupa populasi padi, populasi tikus, populasi ular, dan lain-lain. Antara populasi
yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut (Heddy,
1986):
1. Alelopati
Merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat
menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang
ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada
mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp.
dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

2.

Kompetisi

Merupakan interaksi antarpopulasi, bila antar populasi terdapat kepentingan yang sama
sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan
antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu
akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu
dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak
kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan
ada yang kurang erat.
Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut (Tarumingkeng, 1994):
a.

Netral

Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat
tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya :
antara capung dan sapi.
b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat
sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai
pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan
burung hantu dengan tikus.
c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme
hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat
merugikan inangnya.
d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam
bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan
dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling
menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar
kacang-kacangan.
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap
kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya

dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasimerupakan wilayah


generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan
estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya (Resosoedarmo, 1990).
Metode Capture-Recapture seringkali sulit digunakan untuk menduga ukuran populasi alami.
Hal ini disebabkan karena asumsi-asumsi dalam metode Capture-Recapture sulit
dilaksanakan di lapangan. Untuk itu dilakukan metode Removal Sampling yang tidak
melepaskan kembali hewan yang telah disampling. Contoh metode Removal Sampling adalah
Metode Zippin yang dilakukan dengan cara penangkapan pertama tidak dilepaskan kembali,
kemudian dalam jangka waktu tertentu dilakukan kembali penangkapan kedua dan juga
hewan tidak dilepaskan kembali. Sehingga dengan menggunakan persamaan Zippin dapat
diduga populasi hewan dalam suatu areal (Umar, 2009).

III. METODOLOGI KERJA

A. Waktu dan Tempat


Praktikum dlaksanakan pada tanggal 7 november 2013. Bertempat di laboratorium ekologi.
Jurusan Biologi. Fakultas metematika dan ilmu pengetahuan alam. Universitas lampung.
B. Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah :
Toples plastic, kancing dalam 2 warna.kertas estimasi, dan kalkulator.
C. Cara kerja
1. memasukkan sejumlah kancing berwarna biru pada sebuah toples.
2. mengambil secara acak kancing-kancing tersebut, lalu menghitung berapa kancing yang
terambil.
3. mengganti sejumlah kancing biru yang terambil tersebut dengan kancing warna coklat,
sebagai individu yang di tandai.
4. melakukan kembali hal yang sama seperti kegiatan 2 & 3.
5.bila kancing coklat terambil kembali, maka tidak perlu di ganti dengan kancing lain.
6. melakukan pencatatan terhadap pengambilan sebanyak 10 kali.

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data pengamatan
Table.1 data estimasi populasi
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

C
12
14
21
23
15
17
26
25
22
18

M
12
25
46
64
76
92
116
135
150
Jumlah

T
13
21
18
12
16
24
19
15
13

R
1
0
5
3
1
2
6
7
5

M2
0
144
625
2116
4096
5776
8464
13456
18225
22500
75.40
2

C.M2
0
2016
13125
48668
61440
98192
220064
336400
400950
405000
1.585.85
5

M.R
0
12
0
230
192
76
184
696
945
750
3085

R2
0
1
0
25
9
1
4
36
49
25
150

R2/C
0
0,0714
0
1,0869
0,6
0,0588
0,1538
1,44
2,.2272
1,3888
7,0269

B. Pembahasan
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk
jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan
penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas,
tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak
begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung
dengan membandingkan kepadatan suatu jenis

dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya
dinyatakan dalam bentuk persentase.
Perhitungan populasi baik untuk hewan maupun tumbuhan dapat dilaksanakan dengan dua
cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung yaitu dengan perkiraan
besarnya populasi sedemikian rupa sesuai dengan sifat hewan atau tumbuhan yang akan
dihitung. Misalnya untuk menghitung sampling populasi rumput di padang rumput dapat
digunakan metode kuadarat rumput, untuk hewan-hewan besar dapat dilakukan dengan
metode track count atau fecal count, sedangkan untuk hewan yang relatif mudah ditangkap
misalnya tikus, belalang atau burung dapat diperkirakan populasinya dengan metode capture
mark release recapture (CMRR). Metode CMRR dapat di terapkan dengan asumsi- asumsi
bahwa :
a. Hewan yang ditandai tidak terpengaruh oleh tanda dan tanda tidak mudah hilang.
b. Hewan yang ditandai harus tercampur secara homogen dalam populasi.
c. Populasi harus dalam sistem tertutup (tidak ada migrasi atau migrasi dapat dihitung).
d. Tidak ada kelahiran atau kematian selama periode sampling.
e. Hewan yang ditangkap sekali atau lebih, tidak mempengaruhi hasil sampling selanjutnya.
f. Populasi sampling secara random dengan asumsi semua kelompok umur dan jenis kelamin
dapat ditangkap serta semua individu mempunyai kemampuan yang sama untuk ditangkap.
g. Sampling dilakukan dengan interval waktu yang tetap.
Penandaan yang dilakukan pada individu dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti
dengan menggunakan cat yang sukar luntur, dengan memotong bagian sirip atau bulu di
sayap, dengan menggunakan cincin penanda, atau untuk teknologi yang modern dapat
dilakukan dengan menggunakan chip yang dapat memberikan sinyal. Selagi tanda resebut
tidak menggangu aktifitas hidup dari organisme yang di tandai.
Bila kita ingin langsung mengestimasi populasi, biasanya data akan menjadi bias, hal ini
dikarenakan sulit menemukan nilai pasti suatu kelompok makhluk hidup pada daerah terbuka,
kecuali individu tersebut terisolasi. Sulitnya mendapatkan nilai pasti dari suatu populasi

dikarenkan gangguan-gangguan yang datang dari lingkungan tempat populasi tersebut


tinggal, bisa saja suatu populasi yang diamati mengalami kematian akibat suatu penyakit atau
kegiatan predasi oleh organisme yang dalam rantai makan merupakan pemakan individu yang
sedang diamati tersebut.
Pada praktikum, kancing berwarna biru dianggap sebagai individu yang belum di tandai,
sedangkan kancing biru yang terambil akan di gantikan oleh kancing coklat yang dianggap
sebagai indivudu yang tertangkap dan di tandai. Saat terambil misalkan 10 buah berwarna
biru, maka akan di ganti dengan sejumlah yang diambil dengan kancing warna coklat dan
dikembalikan kembali ke toples untuk mengaplikasikan release pada metode CMRR.
Pada saat praktikum terdapat beberapa jenis simbol antara lain:
S : menandai banyak kali pengambilan
C : untuk menyatakan jumlah kancing yang terambil pada pengambilan ke n
M : untuk menyatakan jumlah individu baru yang di tandai pada pengambilan ke na + nb
T : untuk menyatakan jumlah individu tertangkap yang belum tertandai
R : untuk menyatakan individu yang tertangkap lagi pda pengambilan ke n, namun sudah
bertanda.
Pada hasil perhitungan (terlampir) di dapati bahwa dengan menggunakn perhitungan rumus
schaumacher dan eschmeyer, nilai a adalah 514, 0534 sedangkan nilai variancenya di dapat b
= 0,1139. Dengan diketahuinya nilai a dan b nya maka dapat dihitung nilai standar erornya
yaitu sebesar 70, 818.
Besarnya nilai dari standar eror ini diakibatkan karena jumlah pengambilan sampel yang
tidak konsistan, terkadang terambil sedikit, kadang pula terambil banyak. Dengan tingginya
nilai standar eror ini maka dapat dinyatakan bahwa simulasi estimasi yang dilakukan datanya
tidak baik atau tidak valid.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum ini adalah :


1. Data hasil estimasi dinyatakan tidak baik
2. Ketidakbaikan data di karenakan nilai standar erornya besar
3. Besarnya nilai SE karena pengmbilan individu tidak konsisten jumlahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. CV Rajawali. Jakarta.


Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.
Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya.
Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif.Pustaka Sinar
Harapan. Jakarta.
Umar, M. Ruslan. 2004. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
METODE SAMPLING BIOTIK UNTUK MENDUGA
POPULASI HEWAN BERGERAK

NAMA

: KHAERUNNISA

NIM

: H41113342

KELOMPOK

: VIII (DELAPAN) B

HARI/TANGGAL

: SELASA/ 18 MARET 2014

ASISTEN

: RISPAH HAMZAH

SAKINAH JULIANTI

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Suatu populasi adalah suatu kelompok individu terlokalisir digolongkan sebagai
spesies yang sama. Sampai saat ini, kita akan mendefinisikan spesies sebagai suatu kelompok
populasi yang tiap individunya mempunyai potensi untuk saling mengawini dan
menghasilkan keturunan yang subur di alam bebas. Masing-masing spesies memiliki suatu
wilayah geografis tempat individu tersebar secara tidak merata, tetapi pada umumnya terpusat
pada beberapa terlokalisir(Campbell, dkk., 2003).
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam
bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau
persatuan penangkapan.Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung
produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya
parameter ini tidak begitu tepat.Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif.Kepadatan relatif
dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis
yang terdapat dalam unit tersebut.Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk
persentase (Suin, 1989).

Dalam percobaan ini akan dilakukan pendugaan populasi dari suatu areal dengan
menggunakan metode Lincoln-peterson dan metode Zippin, serta untuk melatih dalam
menerapkan teknis-teknis sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis
populasi.

I.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menduga atau mengetahui populasi dari suatu areal dengan menggunakan metode
Lincoln-Peterson dan metode Zippin.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan
rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan mengenai metode sampling untuk menduga populasi hewan bergerak
dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Maret 2014, pukul 14.00-17.00 WITA, bertempat di
Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengambilan sampel dilakukan pada hari Senin
dan Selasa, 24-25 Maret 2014, pukul 05.30-08.00 WITA, bertempat di Danau Universitas
Hasanuddin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam
bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau
persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung
produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya
parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan
relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua
jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk
persentase (Suin, 1989).
Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau
kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu
ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik
digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu
dalam kelompok itu (Soetjipta,1992).
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola.
Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan ukuran populasi, yang
relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang
pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu.
Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara

kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam
(Naughhton, 1973).
Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sebagai suatu kelompok yang sama. Suatu
populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan
mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme,
atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif
terkecil

populasi

hewan

atau

tumbuhan.

Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat
diterapkan pada individu anggota populasi.Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi
atau kerapatan (Naughhton, 1973).
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan
ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per
satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari
kerapatan ekologik (kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa
persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa
persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan
mutklak suatu populasi.Dalam pada itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui kerapan
nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara (Soetjipta, 1992) :
1.

Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah
makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut

semuanya.
2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi seperti metode LincolnPeterson
Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang
akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam
beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan (Penangkapan Ke 2

terhadap sejumlah individu dari populasi yang sama). Dari penangkapan kedua inilah
diidentifikasi individu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu
yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan
untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Paterson. Metode ini membutuhkan asumsi
yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi
harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini
penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap
periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali
(Tarumingkeng, 1994).
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan
menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang
umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan
wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan
dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam
sistem

daftar

( Naughhton,1973).
Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Karakteristik dasar
populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan
cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah
makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya
dan

metode

cuplikan

yaitu

dengan

menghitung

proporsi

kecil

populasi

pada

rumus Paterson. Untuk metode sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode

capture-recapture merupakan metode yang sederhana untuk menduga ukuran populasi dari
suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode
CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap
sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang danggap
sebagai populasi yang tersebar di alam. Hasil memperlihatkan banyaknya populasi yang
ditandai dengan kancing berawarna putih dan akan ditandai dengan kancing hitam
( Naughhton,1973).
Metode CMR dapat digambarkan dengan menangkap hewan, menandainya,
melepaskan, dan kemudian ditangkap kembali. Dalam melakukan metode CMR untuk
menghitung kepadatan populasi suatu kelompok hewan ada beberapa hal yang hendaknya
diperhatikan, (Yoan, 2012), antara lain:
a. Tanda yang diberikan pada hewan tersebut tidak memnuat hewan merasaterganggu.
b. Hewan yang bertanda harus menyebar secara merata dengan hewan yang tidak bertanda
dalam populasi tersebut.
c. Tidak boleh ada perpindahan penduduk populasi tersebut baik masuk ataupun keluar.
d. Tidak ada kelahiran ataupun kematian.
e. Sampling yang dilakukan harus secara random.
Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin menghemat biaya
dan waktu, kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita
sebetulnya tidak tertarik pada statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dart
statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel
harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu
dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya
sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur
populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang
menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi
disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil

yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus. Statistik dapat membantu
kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias (Ariwulan,
2010).
Sampel tak biasa adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability
sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan
tertentu untuk dipilih. Dalam sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka
sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random.Bila kita mengambil sampel
tertentu

berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tertentu,

kita

memperoleh sampel

pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Untuk kedua


jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel
sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design) (Ariwulan,
2010).
Penarikan sampel secara random sistematis (Systematic Random Sampling) teknik ini
merupakan pengembangan teknik sebelumnya hanya bedanya teknik ini menggunakan
urutan-urutan yang alami. Caranya ialah pilih secara random dimulai dari antara angka 1 dan
integer yang terdekat terhadap ratio sampling (N/n) kemudian pilih item-item dengan interval
dari integer yang terdekat terhadap ratio sampling. Keuntungan menggunakan sampel ini
ialah peneliti menyederhanakan proses penarikan sampel dan mudah dicek, dan menekan
keanekaragaman sampel. Kerugian ialah apabila interval berhubungan dengan pengurutan
periodik suatu populasi, maka akan terjadi keanekaragaman sampel (Proyono, 2008).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol sampel dan sweeping net.
III.2 Bahan
Bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah serangga yang terdapat pada areal
yang akan diamati dan tinta cina.
III.3 Cara Kerja

Cara kerja dalam percobaan ini sebagai berikut:


III.3.1 Cara pengambilan sampel :
A. Metode Lincoln-Peterson
1. Ditentukan areal yang akan diamati, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi
2.
3.

tersebut (Penangkapan periode I).


Ditangkap hewan dengan menggunakan sweeping net.
Dilakukan tiga kali sampling, setiap sampling terdiri dari 10 langkah maju dan 10 langkah

4.

mundur.
Dikumpul hasil penangkapan dan diberi tanda pada bagian tertentu ditubuhnya, selanjutnya

5.

dilepaskan kembali dihabitatnya, dicatat jumlahnya (M).


Dilakukan Penangkapan periode II keesokan harinya, dilakukan cara kerja no. 1 sampai

6.

dengan no. 3.
Dicatat jumlah semua hewan yang tertangkap (n) dan diperiksa/dihitung jumlah hewan

bertanda yang tertangkap (R) dalam penangkapan kedua.


7. Dilakukan perhitungan pendugaan populasi dengan menggunakan metode Lincoln-peterson.
B. Metode Zippin
1. Ditentukan areal yang akan diamati, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi
2.
3.

tersebut (Penangkapan I)
Ditangkap hewan dengan menggunakan sweeping net.
Dilakukan tiga kali sampling, setiap sampling terdiri dari 10 langkah maju dan 10 langkah

4.

mundur.
Dikumpul hasil penangkapan I dan dihitung jumlahnya, hewan tidak ditandai dan tidak

5.
6.

dilepas kembali kehabitatnya.


Dilakukan penangkapan II keesokan harinya, dilakukan cara kerja no. 1 sampai dengan no. 4
Dari hasil penangkapan I dan II, dilakukan perhitungan pendugaan populasi dengan
menggunakan metode Zippin.
III.3.2 Cara kerja di laboratorium

A. Metode Lincoln-Peterson
1. Serangga yang diperoleh kemudian dihitung dengan ketentuan M adalah jumlah individu
yang ditangkap pada penangkapan pertama dan ditandai, n adalah jumlah individu tertangkap
pada penangkapan kedua baik yang bertanda maupun tidak, dan R adalah individu yang
2.

bertanda yang tertangkap pada penangkapan kedua.


Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Lincoln-Peterson.

B. Metode Zippin
1. Serangga yang terdapat di dalam botol sampel 1 dan 2 kemudian dihitung sebagai nilai untuk
2.

n1 dan n2.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Zippin.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil
IV. 1. 1 Tabel
a. Pengamatan Metode Capture-Recapture
Tabel 1. Pengamatan Metode Capture-Recapture

No.

Parameter

Jumlah (N)

1.

2.

3.

Keterangan:
M: jumlah individu tertangkap pada penangkapan pertama dan ditandai
n: jumlah individu tertangkap pada penangkapan kedua (bertanda atau tidak)
R: jumlah individu ber4tanda yang tertangkap pada penangkapan kedua
N: jumlah total individu populasi
b. Pengamatan Metode Zippin
Tabel 2. Pengamatan Metode Zippin
No.

Parameter

Jumlah

1.

N1

2.

N2

IV. 1. 2 Analisis Data


a. Metode Capture-Recapture
1. Pendugaan Populasi
N=
N=
N=2. Kesalahan Baku
SE =
SE =
SE = 3. Selang Kepercayaan
N (t) (SE)
t
= (dk )
= ((6-2)(0,01))
= ((4)(0,01))
= 0,04
Dimana ; dk = Derajat kebebasan
= Tingkat singnifikan (0,01)
Jadi, selang kepercayaannya adalah = (0,04)()

b. Metode Zippin
1. Pendugaan Populasi
N=

N=

N = -18

2. Kesalahaan Baku
SE
=

=
= 44,89
3. Selang Kepercayaan
N (t) (SE)
t
= (dk )
= ((n-2)(0,01))
= ((-18-(2))(0,01))
= - 0,2
Dimana ; dk = Derajat kebebasan
= Tingkat singnifikan (0,01)
Jadi, selang kepercayaannya adalah = -18 (-0,2) (44,89)

IV.2 Pembahasan
Pada percobaan ini digunakan dua metode sampling, yang pertama metode Capture
Recapture melalui Metode Linclon Peterson dan yang kedua metode removal sampling

melalui metode Zippin. Pada Metode Lincoln Peterson dilakukan dengan cara menangkap
serangga kemudian serangga yang ditangkap pada penangkapan pertama kemudian ditandai.
Serangga yang diperoleh pada penangkapan pertama sebanyak 7 yang kemudian ditandai dan
setelah itu serangga tersebut dilepaskan kembali, dalam selang satu hari, kemudian dilakukan
penangkapan ulang pada areal tempat penangkapan serangga yang pertama, hasilnya
diperoleh serangga sebanyak 6 ekor namun diantara serangga ini tidak ada satupun serangga
yang bertanda pada penangkapan pertama yang kembali ditangkap pada penangkapan yang
kedua. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan Metode Lincoln
Peterson, hasil yang diperoleh dimana nilainya sama dengan tak terhingga karena R=0,
pembagi nol menyebabkan hasil yang diperoleh tidak berhingga.
Dapat disimpulkan bahwa lingkungan tempat pengambilan sampel tersebut terjadi
migrasi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu adanya dorongan mencari makanan,
menghindari predator, atau mungkin karena terbawa angin atau air karena pada saat
penangkapan hari kedua tidak ada serangga yang ditandai (penangkapan pertama). Peristiwa
ini terjadi karena kemungkinan besar serangga tersebut dimakan oleh predator, dan terjadi
migrasi akibat adanya beberapa faktor di atas. Hal lainnya dikarenakan serangga yang
ditangkap sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga kemungkinan tertangkapnya
kembali sangat sulit, dan areal tersebut kemungkinan bukan merupakan habitat dari serangga
itu sehingga pad penangkapan yang kedua tidak diperoleh kembali serangga yang bertanda.
Metode Capture recapture seringkali sulit digunakan untuk menduga populasi alami.
Hal ini disebabkan karena asumsi-asumsi dalam metode Capture recapture pada
kenyataannya sulit dilaksanakan di lapangan seperti halnya yang terjadi didalam percobaan
dimana nilai yang diperoleh tidak mampu untuk menduga secara valid populasi hewan di
areal tersebut.

Metode lainnya yang digunakan dalam percobaan ini adalah melalui metode Zippin
dimana melaui metode ini dilakukan penangkapan pada serangga yang tidak dilepaskan
kembali (n1), kemudian dalam jangka waktu tertentu dilakukan kembali penangkapan kedua
dan juga tidak dilepaskan kembali (n2). Dari hasil yang diperoleh kemudian dianalisis dengan
meggunakan metode Zippin dimana diperoleh jumlah individu sebanyak 18 dengan standart
error sebesar 44,89 dan selang kepercayaan antara-18 (-0,2) (44,89).
Hal-hal yang mungkin menyebabkan terjadinya perbedaan kesalahan pada percobaan
adalah cara penangkapan serangga, luas area, kondisi lingkungan dan suhu sekitar
lingkungan.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil pengambilan sampel dan pengujian dengan menggunakan Metode Lincoln
Peterson dan Metode Zippin, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Berdasarkan Metode Lincoln Peterson diperoleh jumlah populasi yang tidak terbatas
sedangkan dengan menggunakan Metode Zippin diperoleh jumlah populasi sebesar 18. Halhal yang mungkin menyebabkan terjadinya perbedaan kesalahan pada percobaan adalah cara
penangkapan serangga, luas area, kondisi lingkungan dan suhu sekitar lingkungan.
2. Teknik-teknik sampling organism diantaranya termasuk metode Lincoln Peterson dan metode
Zippin yang mana data yang diperoleh nantinya akan dimasukkan kedalam rumus-rumus
sederhana untuk menganalisis populasinya.
V.2 Saran
Saran mengenai percobaan ini sebaiknya tinta yang digunakan merupakan tinta yang
tidak mudah luntur ketika terkena air.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., Jackson,
R. B., 2003, Biologi, Erlangga, Jakarta.
Naughhton, 1973, Ekologi Umum Edisi Ke 2, UGM Press,Yogyakarta.
Proyono, 2008, Ekologi Kuantitatif, http://www.scribd.com, diakses pada hari Minggu tanggal 24
Maret 2014, pukul 20.21 WITA.
Soetjipta.1992, Dasar-dasar Ekologi Hewan, Dept DikBud DIKTI, Jakarta.
Suin, N. M., 1989, Ekologi Hewan Tanah, Bumi Aksara, Jakarta.
Tarumingkeng, R. C., 1994, Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta.

IDENTIFIKASI ESTIMASI POPULASI IKAN di KEBUN WISATA


PENDIDIKAN UNNES
A. Tujuan
1. Untuk memperkirakan besarnya populasi hewan (ikan) dengan menerapkan metode LincolnPetersen.
2. Untuk memperkirakan besarnya populasi hewan (ikan) dengan menerapkan metode
Schnabel.
B.

Tinjauan Pustaka
Populasi didefinisikan sebagai kelompok organisme dari jenis yang sama, menduduki
ruang atau tempat tertentu, memiliki berbagai ciri atau sifat yang merupakan sifat dari
individu di dalam kelompok itu. Populasi memiliki beberapa sifat antara lain kelahiran, laju
kematian, perbandingan umur, kerapatan, kepadatan dan kecocokan genetik yang hanya dapat
dijumpai pada suatu populasi tersebut. Karakteristik dasar dalam populasi adalah besar
populasi atau kerapatan.
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan
ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per
satuan luas per satuan isi. Metode yang paling akurat untuk mengetahui kerapatan populasi
adalah dengan cara menghitung seluruh individu yang dimaksud atau dengan kata lain
sensus. Namun kondisi dan situasi alam atau lokasi penelitian sering tidak memungkinkan
pelaksanaan

hal

tersebut,

terutama

pada

perhitungan

hewanyang

bergerak.

Perhitungan populasi dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara langsung dan
tidak langsung. Secara tidak langsung yaitu dengan perkiraan besarnya populasi sedemikian
rupa sesuai dengan sifat hewan atau tumbuhan yang akan dihitung. Misalnya untuk sampling
populasi rumput di padang rumput dapat digunakan metode kuadrat rumput, untuk hewanhewan besar dapat dilakukan dengan metode track count ataufecal count, sedangkan untuk
hewan yang relatif mudah ditangkap misalnya tikus, belalang atau burung dapat diperkirakan
populasinya dengan metode Capture Mark Release Recapture (CMMR).
Metode CMMR secara sederhana adalah menangkap hewan, menandai, melepaskan
dan menangkap kembali. Kadang-kadang ada beberapa hewan yang bersifat suka ditangkap
(trap happy) atau susah ditangkap (trap shy). Ada beberapa asumsi dalam penerapan metode
CMMR, antara lain:

Hewan yang ditandai tidak terpengaruh oleh tanda dan tanda tidak mudah hilang

Hewan yang ditandai harus tercampur secara homogen dalam populasi

Populasi harus dalam sistem tertutup (tidak ada migrasi atau migrasi dapat dihitung)

Tidak ada kelahiran atau kematian selama periode sampling

Hewan yang ditangkap sekali atau lebih, tidak mempengaruhi hasil sampling
selanjutnya

Populasi disampling secara random dengan asumsi semua kelompok umur dan jenis

kelamin dapat ditangkap serta semua individu mempunyai kesempatan yang sama

untuk

ditangkap

Sampling dilakukan dengan interval waktu yang tetap.

Dalam menaksir jumlah populasi dapat digunakan 2 metode yaitu :


1. Metode Lincoln-Peterson
Indeks Lincoln-Peterson juga disebut metode Mark and Recapture (juga dikenal
sebagai Capture-Recapture) yaitu metode penandaan dan penangkapan kembali. Metode ini
umumnya digunakan untuk penaksiran ukuran populasi, digunakan untuk menandai dalam
satu kesempatan dan mencatat populasi individu yang tertandai dalam penangkapan atau
pangambilan sampel pada ksempatan kedua (Anonim,2009). Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam menerapkan metode Lincoln-Peterson :
Aspek reproduksinya.
Apakah kegiatan penangkapan tidak mengganggu tingkah laku dan aktivitas reproduksinya?
Pola mortalitasnya
Apakah ada pengaruh penandaan terhadap tingkah laku dan fungsi faal hewan?

Pola pergerakan musiman


Teknik penangkapan
2. Metode Schnabel
Untuk memperbaiki keakuratan metode Peterson (karena sampel yang diambil relatif
kecil), dapat digunakan metode Scnhnabel. Metode Schanabel selain membutuhkan asumsi
yang sama dengan metode Petersen, juga ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi
harus konstan pada periode sampling yang berikutnya. Pada metode ini, penangkapan,
penandaan dan pelepasan kembali hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode
sampling, semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali.
C. Metode Penelitian
a.

Waktu dan Tempat


Praktikum ini akan dilakukan di Kebun Wisata Pendidikan UNNES pada tanggal 8
November 2011.

b. Alat dan Bahan


Jaring ikan
Kolam ikan
Ikan merah dan ikan hitam
Data Sheet
c.

Metode Pengambilan Data

1. Metode Lincoln-Peterson
a.

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan

b. Menangkap ikan secara acak dengan cara menggarakkan jarring ikan dari ujung kolam satu
ke ujung kolam lain.
c.

Menghitung jumlah ikan yang tertangkap dan memasukkan datanya kedalam data sheet.

d.

Mengganti ikan yang tertangkap dengan ikan yang berwarna lain (ikan merah) dengan
jumlah yang sama

e.

Melepaskan ikan merah tersebut kedalam kolam dan membiarkannya sampai ikan-ikan
merah tersebut membaur dengan ikan lain

f.

Menangkap ikan kembali secara acak dengan cara yang sama seperti pada penangkapan
pertama

g. Menghitung jumlah seluruh ikan yang tertangkap serta jumlah ikan (merah) yang tertangkap
kembali
h. Memasukkan data kedalam data sheet

2. Metode Schnabel
a.

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan

b. Menangkap ikan secara acak dengan cara menggarakkan jarring ikan dari ujung kolam satu
ke ujung kolam lain.
c.

Menghitung jumlah ikan yang tertangkap dan memasukkan datanya kedalam data sheet.

d.

Mengganti ikan yang tertangkap dengan ikan yang berwarna lain (ikan merah) dengan
jumlah yang sama

e.

Melepaskan ikan merah tersebut kedalam kolam dan membiarkannya sampai ikan-ikan
merah tersebut membaur dengan ikan lain

f.

Menangkap ikan kembali secara acak dengan cara yang sama seperti pada penangkapan
pertama

g. Menghitung jumlah seluruh ikan yang tertangkap serta jumlah ikan (merah) yang tertangkap
kembali
h. Memasukkan data kedalam data sheet
i.

Mengganti ikan (hitam) yang tertangkap dengan ikan (merah) dengan jumlah yang sama

j.

Melepaskan ikan yang sudah ditandai (diganti) kedalam kolam dan membarkannya sampai
ikan-ikan merah tersebut membaur dengan ikan lain

k. Melakukan langkah f-j sampai lima kali


l.

Memasukkan data yang diperoleh kedalam data sheet

d. Metode Analisis Data


1. Metode Lincoln-Peterson
a) Menentukan Besar Populasi Total

Untuk menentukan besarnya populasi total ikan dalam kolam, digunakan rumus :

Dengan :
N = Besar populasi total
M = Jumlah individu yang tertangkap pada penangkapan pertama
n = Jumlah individu pada penangkapan kedua, terdiri dari individu tidak bertanda dan individu
bertanda pada penangkapan pertama

R = Individu yang bertanda dari penangkapan pertama yang tertangkap kembali pada
penangkapan kedua
b) Perhitungan Standar Error (SE)

Perhitungan standar error digunakan untuk menghitung kesalahan baku pada waktu penarikan
sampel, untuk menghitung nilai SE digunakan rumus :

Dengan :
SE = Standar error
M = Jumlah individu yang tertangkap pada penangkapan pertama
n = Jumlah individu pada penangkapan kedua, terdiri dari individu tidak bertanda dan individu
bertanda pada penangkapan pertama
R

= Individu yang bertanda dari penangkapan pertama yang tertangkap kembali pada
penangkapan kedua
c) Menentukan selang kepercayaan
Selang kepercayaan didapat dari rumus :

N t (SE)

Dengan :
N = Besar populasi total
t = (df,) dengan nilai df (derajat bebas) ~ dan (tingkat signifikan) sebesar 0,05
SE = Standar error
2. Metode Schnabel
a) Menentukan Besar Populasi Total
Untuk menentukan besarnya populasi total ikan dalam kolam, digunakan rumus :

Dengan :
N = Besar populasi total
Mi = Jumlah individu yang tertangkap pada periode ke-i ditambah periode sebelumnya
Ni = Jumlah individu pada periode ke-i
Ri = Jumlah hewan yang tertangkap kembali pada periode ke-i
b) Perhitungan Standar Error (SE)
Perhitungan standar error digunakan untuk menghitung kesalahan baku pada waktu penarikan
sampel, untuk menghitung nilai SE digunakan rumus :

Dengan :
SE = Standar error
N

= Besar populasi total

Mi = Jumlah individu yang tertangkap pada periode ke-i ditambah periode sebelumnya
Ni = Jumlah individu pada periode ke-i
k

= Jumlah periode sampling

c) Menentukan selang kepercayaan

N t (SE)
Selang kepercayaan didapat dari rumus :

Dengan :

N = Besar populasi total


t

= (df,) dengan df (derajat bebas) ~ dan (tingkat signifikan) sebesar 0,05

SE = Standar error

D. Hasil PengamatandanAnalisis Data


1. Metode Linclon-Peterson
Periode

Jumlah individu

1
2

tertangkap
9 (M)
19 (n)

Jumlah hewan yang Jumlah hewan yang


tertangkap kembali
8 (R)

diberi tanda
9
11

N = 21,375 = 21
Keterangan :
Besarnya populasi total

Jumlah individu yang tertangkap pada penangkapan pertama dan diberi tanda

Jumlah individu yang tertangkap pada penangkapan kedua, terdiri dari individu yang tidak

bertanda dan individu bertanda pada penangkapan pertama


:
Individu yang bertanda dari penangkapan pertama yang tertangkap kembali pada
penangkapan kedua

Rentang :
a. Jumlah maksimal
N t (SE)
21 1,645 (1,92)
21 + 1,645 (1,92)

= 21 + 3,16
= 24,16
= 24
b. Jumlah minimal
N t (SE)
21 1,645 (1,92)
21 - 1,645 (1,92)
= 21 3,16
= 17,84
= 18
2. Metode Schnabel
Period
e
1
2
3
4

Jumlah
hewan
sampel (ni)
19
9
12
10

Jumlah hewan
yang tertangkap
kembali (Ri)
1
1
4

ni = 50

Ri = 6

Analisis Data :

Keterangan :
N : Besarnya populasi total

Jumlah
hewan yang
diberi tanda
19
8
11
6

Jumlah akumulasi
total hewan
bertanda (Mi)
19
27
38
Mi = 38

(ni.Mi)
171
324
380
(ni.Mi) =
875

Rentang :
a. Jumlah minimal
N t (SE)
146 1,645 (E)
146 + 1,645 (E)
b. Jumlah maksimal
N t (SE)
146 1,645 (E)
146 - 1,645 (E)

E. Pembahasan
Kegiatan simulasi sampling biotik yang dilakukan ini bertujuan untuk melihat
estimasi populasi ikan pada suatu kolam yang dibuat dengan ukuran 200x100x30 cm. Dalam
pengambilan data yang dilakukan digunakan metode Capture, Mark, Release and Recapture
(CMRR). Metode CMRR dilakukan dengan menangkap ikan atau objek amatan, kemudian
menandai objek amatan yang tertangkap, kemudian melepas objek amatan yang telah ditandai
dan yang terakhir yaitu menangkap kembali objek amatan tersebut. Alasan menggunakan
metode tersebut karena hewan yang menjadi objek amatan memiliki tingkat mobilitas yang
tinggi. Pada penggunaan metode CMRR dilakukan dengan dua cara yaitu Metode LincolnPeterson dan metode Schnabel. Perbedaan kedua metode tersebut terletak pada banyaknya
periode pengambilan sampel. Metode Lincoln-Peterson menggunakan dua kali pengambilan
sampel, sedangkan pada metode Schnabel pengambilan sampel dilakukan dalam beberapa
periode. Dalam penerapan metode Lincoln-Peterson harus diperhatikan beberapa syarat
seperti misalnya ikan yang digunakan harus memiliki kesempatan yang sama untuk
tertangkap, tidak terdapat perbedaan rasio antar masing-masing jenis ikan dan yang
terpenting yaitu penyebaran ikan pada saat dilakukan penangkapan harus merata.
Berdasarkan hasil analisis dari data pengamatan diketahui bahwa jumlah populasi
total ikan dalam kolam tersebut memiliki rentang antara 18-24 berdasarkan metode LincolnPeterson. Rentang tersebut didapatkan dari hasil penjumlahan dan pengurangan jumlah
populasi total yaitu 21 dengan standar error yaitu 1,92 yang dikalikan dengan t tabel
distribusi sebesar 1,645 dengan tingkat kepercayaan 0,05 dan df tak terhingga. Standar Eror
merupakan parameter yang menunjukan berapa besar kesalahan yang dilakukan selama
penangkapan ikan. Standar eror yang dihasilkan tersebut tergolong kecil, sehingga dapat
dikatakan bahwa hasil pengamatan tersebut representatif.
Sedangkan pada penggunaan metode Schnabel diperoleh rentang 146 - 1,645 (E)
sampai dengan 146 + 1,645 (E). Rentang tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan dan
pengurangan jumlah populasi total yaitu 146 dengan standar eror yaitu E yang dikalikan
dengan t tabel distribusi sebesar 1,645 dengan tingkat kepercayaan 0,05 dan df tak terhingga.
Standar eror yang dihasilkan tersebut tergolong kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil
pengamatan tersebut representatif.
Hasil pada kedua metode tersebut sangat berbeda jauh yaitu pada metode LincolnPeterson memiliki rentang 18<N<24 sedangkan pada metode Schnabel memiliki rentang 146
- 1,645 (E)<N<146 + 1,645 (E). Hal tersebut dapat dikarenakan rata-rata jumlah ikan yang
tertangkap pada kedua metode tersebut berbeda. Pada metode pertama secara berturut-urut

ikan yang tertangkap adalah 9 dan 19 sehinga rata-rata ikan yang tertangkap adalah 14 ekor.
Sedangkan pada metode kedua berturut-urut ikan yang tertangkap adalah 19, 9, 12 dan 10
jika dihitung rata-ratanya adalah 12,5. Dengan adanya perbedaan ini akan memberikan
perbedaan pada perikiraan total ikan yang berada di kolam.
Selain itu perbedaan nilai ahir kedua metode tersebut dikarenakan perbedaan jumlah
ikan yang terangkap kembali. Pada metode Lincoln ikan yang tertangkap kembali sebanyak 8
ekor, sedangkan metode schnabel ikan yang tertangkap kembali berjumlah 6 ekor. Akar
tersebut sangat tidak seimbang jika dihubungkan dengan banyak pengambilan ikan.
F. Kesimpulan
1.

Perhitungan simulasi estimasi populasi ikan dalam kolam dengan menggunakan metode
CMRR Lincoln-Peterson didapatkan jumlah populasi 21dengan SE 1,92 dan rentang jumlah

populasi ikan 18-24 ekor.


2. Perhitungan simulasi estimasi populasi dengan menggunakan metode Schnabel didapat
jumlah populasi 146 dengan SE adalah E dan rentang jumlah populasi ikan {146 - 1,645 (E)}
sampai dengan {146 + 1,645 (E)}.
G. Daftar Pustaka
Fachrul, Melati Ferinto. 2006. Metode Sampling Bioteknologi. Jakarta : Bumi Aksara
Ngabekti, Sri. 2006. Paparan Kuliah Ekologi. Semarang : Jurusan Biologi FMIPA UNNES
Pipia. 2010. Penghitungan Populasi. Online at Blog Blog Archive Penghitungan Populasi.htm
(diakses tanggal 4 Mei 2012)
Soegianto, Agoes. 1994. EkologiKuantitatif :MetodeAnalisisPopulasidanKomunitas. Surabaya :
Usaha Nasional