Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH

AKAD MUDHARABAH
Disusun untuk memenuhi mata kuliah Akuntansi Syariah
Dosen pengampu M.Djazari, M.Pd / Mahendra Adhi N, M.Sc

1. Arif Nugroho - 08412141015


2. Galih Dwi Kurniawan 08412141033

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011
BAB I
1

PENDAHULUAN
Konsep akuntansi konvensional yang telah diterapkan di Indonesia maupun sebagai
standar internasional selama ini merupakan adopsi pada barat dan budaya kapitalis yang
hanya mengandalkan materi dan duniawi. Dengan semakin berkembangnya pola pikir
manusia yang tidak hanya mengedepankan kepentingan duniawi, maka dirasa perlu untuk
menyeimbangkannya dengan kepentingan ukhrawi. Sehingga akhir-akhir ini terjadi suatu
peningkatan terhadap kajian bidang akuntansi menuju akuntansi dalam perspektif Islami atau
akuntansi syariah
Salah satu aspek yang mendorong akuntansi dengan perspektif Islam atau akuntansi
syariah di Indonesia adalah dengan munculnya perbankan syariah. Bank syariah dalam
usahanya memberikan pembiayaan dan jasa lainnya selalu berlandaskan pada prinsip syariah.
Kegiatan operasional pada bank syariah terdiri dari kegiatan penghimpunan dana dan
penyaluran dana. Selain itu juga ada jasa-jasa perbankan lain yang disediakan oleh bank
syariah. Dalam melaksanakan kegiatan penghimpunan dana, bank syariah menerima
simpanan dari masyarakat. Sedangkan dalam rangka penyaluran dana, bank syariah
memberikan jasa dalam bentuk pembiayaan.
Terdapat beberapa pembiayaan yang ditawarkan oleh bank syariah. Salah satu produk
yang ditawarkan oleh bank syariah adalah pembiayaan mudharabah. Pembiayaan ini
menggunakan sistem bagi hasil antara nasabah dengan bank dalam pembagian
keuntungannya sesuai dengan nisbah yang disepakati pada saat akad. Pembiayaan
mudharabah berbeda dengan produk pembiayaan yang ditawarkan oleh bank konvensional.
Pada pembiayaan mudharabah diterapkan keadilan, kejujuran dan transparansi dari kedua
belah pihak. Hubungan antara bank dan nasabah tidak hanya sebagai debitor dengan kreditor
saja, tetapi hubungan keduanya diakui sebagai mitra kerja yang lebih dekat dan lebih
humanis.
Pembiayaan mudharabah sendiri membutuhkan kerangka akuntansi yang menyeluruh
yang dapat menghasilkan pengukuran akuntansi yang tepat dan sesuai sehingga dapat
mengkomunikasikan informasi akuntansi secara tepat waktu dengan kualitas yang dapat
diandalkan serta mengurangi adanya perbedaan perlakuan akuntansi antara bank syariah yang
satu dengan yang lain. Perbedaan perlakuan tersebut akan mengakibatkan dampak terhadap
hal keadilan dalam menentukan laba bagi pemegang saham dan depositor.

Dengan terbitnya PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang disusun
oleh Ikatan Akuntan Indonesia, telah membawa era baru bagi industri keuangan di tanah air
yang berprinsip syariah. PSAK No. 59 telah menjadi peraturan dan standar yang baku bagi
operasional perbankan syariah di Indonesia sehingga dapat dijadikan pedoman bagi lembaga
keuangan dan perbankan syariah. PSAK No. 59 diterbitkan pada tanggal 1 Mei 2002 dan
mulai diberlakukan secara efektif di Indonesia tanggal 1 Januari 2003. Adapun keberadaan
bank syariah di Indonesia dimulai sejak tahun 1992 yaitu dipelopori oleh Bank Muamalat
Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AKAD MUDHARABAH
Akad

Mudharabah

adalah

perjanjian

antara

dua

pihak

yang

berbisnis/berinvestasi, dimana satu pihak sebagai pemilik modal (shahibul


maal) dan pihak lainnya sebagai pengelola bisnis (mudharib). Dalam akad
Mudharabah secara baku sudah ditetapkan hak dan kewajiban masingmasing pihak. Akad harus disepakati di muka sebelum kerjasama
bisnis/investasi dimulai.
B. LANDASAN SYARIAH
Secara umum landasan dasar syariah akad Mudharabah lebih
mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dari ayat
al Quran dan hadits berikut ini :
1. Dalil Al Quran
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:
...dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian
karunia
allah SWT... (QS. Al-Muzzammil: 20)
apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi
dan
carilah karunia Allah SWT... (QS. Al-Jumuah:10)
2.

Dalil dari Hadits


Dari Shalih bin Suhaib R.A. Bahwa Rasulullah Saw bersabda : Tiga
hal yang di dalamnya terdapat keberkatan : Jual-Beli secara tangguh,
Muqaradhah ( Mudharabah ), dan mencampur gandum dengan tepung
untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual. (HR Ibnu Majah no. 2280,
Kitab at Tijarah)

3. Dalil dari Ijma


Imam Zailai, dalam kitabnya Nasbu ar Rayah (4/13), telah
menyatakan bahwa para sahabat telah sepakat terhadap pengolahan
harta anak yatim secara Mudharabah. Kesepakatan para sahabat ini

sejalan dengan spirit hadits yang di kutip Abu Ubaid dalam kitab al
Amwal.
C. RUKUN AKAD MUDHARABAH
Al Mudharabah seperti usaha pengelolaan usaha lainnya memiliki tiga
rukun:
1. Adanya dua atau lebih pelaku yaitu investor (pemilik modal) dan
pengelola (mudharib).
2. Objek transaksi kerja sama yaitu modal, usaha dan keuntungan.
3. Pelafalan perjanjian.
Rukun pertama: adanya dua atau lebih pelaku.
Kedua pelaku kerja sama ini adalah pemilik modal dan pengelola
modal.

Disyaratkan

pada

rukun

pertama

ini

keduanya

memiliki

kompetensi beraktifitas (Jaiz Al Tasharruf) dalam pengertian mereka


berdua baligh, berakal, Rasyid dan tidak dilarang beraktivitas pada
hartanya. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa keduanya harus muslim
atau pengelola harus muslim, sebab seorang muslim tidak ditakutkan
melakukan perbuatan riba atau perkara haram. Namun sebagian lainnya
tidak mensyaratkan hal tersebut, sehingga diperbolehkan bekerja sama
dengan orang kafir yang dapat dipercaya dengan syarat harus terbukti
adanya pemantauan terhadap aktivitas pengelolaan modal dari pihak
muslim sehingga terlepas dari praktek riba dan haram.
Rukun kedua: objek Transaksi.
Objek transaksi dalam Mudharabah mencakup modal, jenis usaha dan
keuntungan.
1. Modal
Dalam sistem Mudharabah ada empat syarat modal yang harus dipenuhi:
a. Modal harus berupa alat tukar/satuan mata uang (Al Naqd) dasarnya
adalah ijma atau barang yang ditetapkan nilainya ketika akad
menurut pendapat yang rojih.
b. Modal yang diserahkan harus jelas diketahui
c. Modal yang diserahkan harus tertentu.

d. Modal diserahkan kepada pihak pengelola modal dan pengelola


menerimanya langsung dan dapat beraktivitas dengannya.
Jadi dalam Mudharabah disyaratkan modal yang diserahkan harus
diketahui dan penyerahan jumlah modal kepada Mudharib (pengelola
modal) harus berupa alat tukar seperti emas, perak dan satuan mata
uang secara umum. Tidak diperbolehkan berupa barang kecuali bila
ditentukan nilai barang tersebut dengan nilai mata uang ketika akad
transaksi,

sehingga

Mudharabah.

nilai

Kejelasan

barang

jumlah

tersebut

modal

ini

yang

menjadi

modal

menjadi

syarat

karena

menentukan pembagian keuntungan. Apabila modal tersebut berupa


barang dan tidak diketahui nilainya ketika akad, bisa jadi barang tersebut
berubah harga dan nilainya seiring berjalannya waktu, sehingga memiliki
konsekuensi ketidakjelasan dalam pembagian keuntungan.
2. Jenis Usaha
Jenis usaha di sini disyaratkan beberapa syarat:
a. Jenis usaha tersebut di bidang perniagaan
b. Tidak menyusahkan pengelola modal dengan pembatasan yang
menyulitkannya,

seperti

ditentukan

jenis

yang

sukar

sekali

didapatkan, contohnya harus berdagang permata merah delima


atau mutiara yang sangat jarang sekali adanya.
c. Asal dari usaha dalam Mudharabah adalah di bidang perniagaan dan
bidang

yang

terkait

dengannya

yang tidak

dilarang

syariat.

Pengelola modal dilarang mengadakan transaksi perdagangan


barang-barang haram seperti daging babi, minuman keras dan
sebagainya.
3. Keuntungan
Setiap usaha dilakukan untuk mendapatkan keuntungan, demikian
juga

Mudharabah.

Namun

dalam

Mudharabah

disyaratkan

pada

keuntungan tersebut empat syarat:


a. Keuntungan khusus untuk kedua pihak yang bekerja sama yaitu
pemilik

modal

(investor)

dan

pengelola

modal.

Seandainya

disyaratkan sebagian keuntungan untuk pihak ketiga, misalnya

dengan

menyatakan:

Mudharabah

dengan

pembagian

1/3

keuntungan untukmu, 1/3 untukku dan 1/3 lagi untuk istriku atau
orang lain, maka tidak sah kecuali disyaratkan pihak ketiga ikut
mengelola modal tersebut, sehingga menjadi qiraadh bersama dua
orang. Seandainya dikatakan: separuh keuntungan untukku dan
separuhnya untukmu, namun separuh dari bagianku untuk istriku,
maka ini sah karena ini akad janji hadiyah kepada istri.
b. Pembagian keuntungan untuk berdua tidak boleh hanya untuk satu
pihak saja. Seandainya dikatakan: Saya bekerja sama Mudharabah
denganmu dengan keuntungan sepenuhnya untukmu maka ini
dalam madzhab Syafii tidak sah.
c. Keuntungan harus diketahui secara jelas.
d. Dalam transaksi tersebut ditegaskan prosentase tertentu bagi
pemilik modal (investor) dan pengelola. Sehingga keuntungannya
dibagi

dengan

persentase

bersifat

merata

seperti

setengah,

sepertiga atau seperempat. Apabila ditentuan nilainya, contohnya


dikatakan kita bekerja sama Mudharabah dengan pembagian
keuntungan untukmu satu juta dan sisanya untukku maka akadnya
tidak sah. Demikian juga bila tidak jelas persentase-nya seperti
sebagian untukmu dan sebagian lainnya untukku.
Dalam pembagian keuntungan perlu sekali melihat hal-hal berikut:
a. Keuntungan berdasarkan kesepakatan dua belah pihak, namun
kerugian hanya ditanggung pemilik modal.
b.

Pengelola

modal

hendaknya

menentukan

bagiannya

dari

keuntungan. Apabila keduanya tidak menentukan hal tersebut maka


pengelola mendapatkan gaji yang umum dan seluruh keuntungan
milik pemilik modal (investor).
c. Pengelola modal tidak berhak menerima keuntungan sebelum
menyerahkan

kembali

modal

secara

sempurna.

Berarti

tidak

seorangpun berhak mengambil bagian keuntungan sampai modal


doserahkan kepada pemilik modal.
d. Keuntungan tidak dibagikan selama akad masih berjalan kecuali
apabila kedua pihak saling ridha dan sepakat.
7

Rukun ketiga: Pelafalan Perjanjian (Shighoh Transaksi).


Shighah adalah ungkapan yang berasal dari kedua belah pihak
pelaku transaksi yang menunjukkan keinginan melakukannya. Shighah ini
terdiri dari ijab qabul. Transaksi Mudharabah atau Syarikat dianggap sah
dengan perkataan dan perbuatan yang menunjukkan maksudnya.
D. JENIS-JENIS AKAD MUDHARABAH
a. Mudharabah Muthlaqah
Yang dimaksud dengan transaksi Mudharabah Muthlaqah adalah
bentuk

kerjasama

antara

shahibul

Maal

dan

Mudharib

yang

cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha,
waktu, dan daerah bisnis. Jenis ini memberikan kebebasan kepada
Mudhorib (pengelola modal) melakukan apa saja yang dipandang
dapat mewujudkan kemaslahatan.
b. Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah Muqayyadah atau disebut jega dengan istilah
restricted mudharabah / specified Mudharabah adalah kebalilan dari
Mudharabah Muthlaqah. Si Mudharib (Pelaksana) dibatasi dengan
batasan jenis usaha, waktu atau tempat usaha. Adanya pembatasan
ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul maal
dalam memasuki jenis dunia usaha.
c. Mudharabah Musytarakah

Mudharabah Musytarakah adalah salah satu bentuk akad mudharabah

dengan pengelola dana (mudharib) turut menyertakan modal atau dananya


dalam

kerja

sama

investasi,

diperlukan

karena

mengandung

unsur

kemudahan dalam pengelolaannya serta dapat memberikan manfaat yang


lebih besar bagi para pihak.

E. BERAKHIRNYA AKAD MUDHARABAH


Lamanya kerjasama dalam mudharabah tidak tentu dan tidak
terbatas, tetapi semua pihak berhak untuk menentukan jangka waktu
kontrak kerja sama dengan menberitahukan pihak lainnya. Namun,
akad mudharabah dapat berakhir karena hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam

hal

mudharabah

tersebut

dibatasi

waktunya,

mudharabah berakhir pada waktu yang telah ditentukan.


8

maka

2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri


3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal
4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola
usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad.
Sebagai pihak yang mengemban amanah ia harus beritikad baik
dan hati-hati.
5. Modal sudah tidak ada
F. PRINSIP PEMBAGIAN HASIL USAHA (PSAK 105 PAR 11)
Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat
digunakan karena yang dibagi hanya keuntungannya saja (profit) tidak
termasuk kerugiannya (loss). Sehingga untuk pembahasan selanjutnya,
akan digunakan istilah prinsip bagi hasil seperti yang digunakan dalam
Undang-undang No.10 tahun 1998, karena apabila usaha tersebut
gagal kerugian tidak dibagi di antara pemilik dana dan penglelola dana,
tetapi harus ditanggung sendiri oleh pemilik dana.
Pembagian

hasil

usaha

mudharabah

dapat

dilakukan

berdasarkan pengakuan penghasilan usaha mudharabah dalam praktik


dapat

diketahui

berdasarkan

laporan

bagi

hasil

atas

realisasi

penghasilan hasil usaha dari pengelola dana. Tidak diperkenankan


mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha.
Untuk

menghindari

perselisihan

dalam

hal

biaya

yang

dikeluarkan oleh pengelola dana, dalam akad harus disepakati biayabiaya apa saja yang dapat dikurangkan dari pendapatan.
Contoh perhitungan bagi hasil (bank sebagai pemilik dana) :
Penjualan

Rp. 1.000.000

HPP

(Rp

650.000)

Laba kotor

Rp.

350.000

Biaya-biaya

(Rp

250.000)

Laba (rugi) bersih

Rp.

100.000

a) Metode Profit sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola = 30 :


70
9

Bank syariah

30%

Rp. 100.000 = Rp.

30.000
Pengelola

70% x Rp. 100.000 = Rp. 70.000

b) Metode revenue sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola =


10 : 90
Bank syariah

10%

Rp. 350.000 = Rp.

35.000
Pengelola
Jika

akad

:
mudharabah

90% x Rp. 350.000 = Rp. 315.000


melebihi

satu

periode

pelaopran,

penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil sesui
nisbah yang disepakati (PSAK 105 Par 20)
G.PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 105)
Akuntansi Untuk Pemilik Dana
1. Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai
investasi mudharabah pada saat pembayaran kas atau penyerahan
aset nonkas kepada pengelola dana
2. Pengukuran investasi mudharabah
a. investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah
yang dibayarkan;
b. investasi mudharabah dlam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai
wajar aset nonkas pada saat penyerahan.
Nilai dari investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas harus
disetujui oleh pemilik dana dan pengelola dana pada saat kontrak.
Ada 2 alasan tidak digunakannya dasar historical cost untuk mengukur
aset nonkas
a. Penggunaan nilai yang disetujui oleh pihak yang melakukan kontrak
untuk mencapai satu tujuan akuntansi keuangan.
b. Penggunaan nilai yang disetujui (agreed value) oleh pihak bank
yang melakukan kontrak untuk nilai aset nonkas menuju aplikasi
konsep representational faithfulnes dalam pelaporan.

10

Investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang


dibayarkan.
Jurnal pada saat penyerahan kas :
Dr. Investasi mudharabah

xxx

Cr. Kas

xxx

Investasi mudharabah dlam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar
aset nonkas pada saat penyerahan, kemungkinan ada 2 :
1) Jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya, maka
selisihnya diakui sebagai keuntungan tangguhan dan diaortisasi
sesuai jangka waktu akad mudharabah
a. Jurnal pada saat penyerahan aset nonkas :
Dr. Investasi mudharabah

xxx

Cr. Keuntungan Tangguhan

xxx

Cr. Aset Nonkas

xxx

b. Jurnal Amortisasi keuntungan tangguhan :


Dr. keuntungan tangguhan

xxx

Cr. Keuntungan

xxx

2) Jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya, maka


selisihnya diakui sebagai kerugian pada saat penyerahan aset
nonkas
Jurnal :
Dr. Investasi mudharabah

xxx

Cr. Keuntungan Tangguhan

xxx

Cr. Aset Nonkas Mudharabah

xxx

3. Penurunan nilai jika investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas


a. Penurunan nilai sebelum usaha dimulai
Jika

nilai

investasi

mudharabah

turun

sebelum

usaha

dimulai

disebabkan rusak, hilang atau faktor lain yang bukan kelalain atau
kesalahan pihak pengelola dana, maka penurunan nilai tersebut diakui
sebagai kerugian dan mengurangi saldo investasi mudharabah.
Jurnal :

11

Dr. Kerugian Investasi mudharabah

xxx

Cr. Investasi mudharabah

xxx

b. Penurunan nilai setelah usaha dimulai


Jika sebagian Investasi mudharabah hilang setelah dimulainya usaha
tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana, maka kerugian
tersebut diperhitungkan pada saat pembagian bagi hasil
Jurnal :
Dr. Kas

xxx

Dr. Penyisihan Investasi mudharabah

xxx

Cr. Pendapatan bagi hasil mudharabah

xxx

c. Penurunan nilai pada saat atau setelah barang dipergunakan


secara efektif dalam kegiatan usaha mudharabah.
Investasi mudharabah yang diberikan dalam aset (nonkas) dan aset
nonkas tersebut mengalami penurunan nilai pada saat atau setelah
barang

dipergunakan

secara

efektif

dalam

kegiatan

usaha

mudharabah, maka kerugian tersebut tidak langsung mengurangi


jumlah investasi, namun diperhitungkan pada saat pembagian bagi
hasil.
Jurnal :
Dr. Kas

xxx

Dr. Kerugian Investasi mudharabah xxx


Cr. Pendapatan bagi hasil mudharabah

xxx

4. Kerugian
Kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum akad mudharabah
berakhir.
Pencatatan kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum
akad mudharabah berakhir diakui sebagai kerugian dana dibentuk
penyisihan kerugian investasi
Jurnal :
Dr. Kerugian Investasi mudharabah xxx
Cr. Penyisihan Kerugian Investasi mudharabah

12

xxx

Catatan :
Tujuan dicatat sebagai penyisihan agar jelas nilai awal mudharabah
5. Hasil usaha
Bagian hasil usaha yang belum dibayar oleh pengelola dana diakui
sebagai piutang
Jurnal :
Dr. Piutang pendapatan bagi hasil

xxx

Cr. Pendapatan bagi hasil mudharabah

xxx

Pada saat pengelola dana membayar bagi hasil


Jurnal :
Dr. Kas

xxx

Cr. Piutang pendapatan bagi hasil

xxx

6. Akad mudharabah berakhir


Pada

saat

akad

mudharabah

berakhir,

selisih

antara

investasi

mudharabah setelah dikurangi penyisihan kerugian investasi dan


pengembalian investasi mudharabah: diakui sebagai keuntungan atau
kerugian.
Jurnal :
Dr. Kas/Piutang/Aset Nonkas

xxx

Dr. Penyisihan kerugian investasi

xxx

Cr. Investasi mudharabah

xxx

Cr. Keuntungan

xxx
ATAU

Dr. Kas/Piutang/Aset Nonkas

xxx

Dr. Penyisihan kerugian investasi

xxx

Dr. Kerugian

xxx

Cr. Investasi mudharabah

xxx

7. Penyajian
Pemilik

dana

menyajikan

investasi

keuangan sebesar nilai tercatat


8. Pengungkapan
13

mudharabah

dalam

laporan

Pemilik dana mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi


mudharabah, tetapi tidak terbatas pada :
a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi dana,
pembagian hasil usaha mudharabah, dan lain-lain.
b. Rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya;
c. Penyajian

kerugian

investasi

mudharabah

selama

periode

berjalan;
d. Pengungkapan

yang

diperlukan

sesuai

psak

101

tentang

penyajian laporan keuangan syariah


Akuntansi Untuk Pengelola Dana
1. Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui
sebagai dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset
nonkas yang diterima. Pada akhir periode akuntansi, dana syirkah
temporer dikukur sebesar nilai tercatat.
2. Pengukuran Dana syirkah temporer
Dana Syirkah temporer diukur sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset
nonkas yang diterima.
Jurnal :
Dr. Kas/ Aset Nonkas

xxx

Cr. Dana Syirkah Temporer

xxx

3. Penyaluran kembali dana syirkah temporer


Jika pengelola dana menyalurkan kembali dana syirkah temporer yang
diterima maka pengelola dana mengakui sebagai aset. Sama seperti
akuntansi untuk pemilik dana. Dan ia akan mengakui pendapatan
secara bruto sebelum dikurangi dengan bagian hak pemilik dana.
Jurnal pencatatan ketika menerima pendapatan bagi hasil dari
penyaluran kembali dana syirkah temporer :
Dr. Kas/ Piutang

xxx

Cr. Pendapatan yang belum dibagikan

xxx

Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah
diperhitungkan tetapi belum dibagikan kepada pemilik dana diakui

14

sebagai kewajiban sebesar bagi hasil yang menjadi porsi hak pemilik
dana.
Jurnal :
Dr. Beban bagi hasil mudharabah

xxx

Cr. Utang bagi hasil mudharabah

xxx

Jurnal pada saat pengelola dana membagay bagi hasil :


Dr. Utang bagi hasil mudharabah

xxx

Cr. Kas
4. Sedangkan

xxx
apabila

pengelola

dana

mengelola

sendiri

dana

mudharabah berarti ada pendapatan dan beban yang diakui dan


pencatatannya sama dengan akuntansi konvensional. Jurnal penutup
yang dibuat di akhir periode (apabila diperoleh keuntungan).
Jurnal :
Dr. Pendapatan

xxx

Cr. Beban

xxx

Cr. Pendapatan yang belum dibagikan

xxx

Jurnal ketika dibagihasilkan kepada pemilik dana :


Dr. Beban bagi hasil mudharabah

xxx

Cr. Utang bagi hasil mudharabah

xxx

Jurnal pada saat pengelola dana membayar bagi hasil :


Dr. Utang bagi hasil mudharabah

xxx

Cr. Kas

xxx

Jurnal penutup yang dibuat apabila terjadi kerugian


Dr. Pendapatan

xxx

Dr. Penyisihan kerugian

xxx

Cr. Beban

xxx

5. Kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan atau kelalaian pengelola


dana diakui sebagai beban pengelola dana.
Jurnal :
Dr. Beban

xxx

Cr. Utang lain-lain / Kas

xxx
15

6. Diakhir akad
Jurnal :
Dr. Dana Syirkah Temporer

xxx

Cr. Kas/Aset Nonkas

xxx

Jika ada penyisihan kerugian sebelumnya


Jurnal :
Dr. Dana Syirkah Temporer

xxx

Cr. Kas/Aset Nonkas

xxx

Cr. Penyisihan kerugian

xxx

7. Penyajian
Pengelola dana menyajikan transaksi mudharabah dalam laporan
keuangan :
a. Dana syirkah temporer dari pemilik dana disajikan sebesar nilai
tercatatnya untuk setiap jenis mudharabah
b. Bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah diperhitungkan
tetapi belum diserahkan kepada pemilik dana disajikan sebagai
pos bagi hasil yang belum dibagikan sebagai kewajiban.
8. Pengungkapan
Pengelola dana merupaka transaksi mudharabah dalam laporan
keuangan :
a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi dana,
pembagian hasil usaha, aktivitas usaha mudharabah, dan lain-lain;
b. Rincian dana syirkah temporer yang diterima berdasarkan jenisnya.
c. Penyaluran dana yang berasal dari mudharabah muqayadah.
Pengungkapan

yang

diperlukan

sesuai

PSAK

No.101

tentang

Penyajian Laporan Keuangan Syariah.


Asumsi pencatatan untuk pengelola dana yang telah dibahas di
atas menggunakan akad mudharabah muthalaqah, apabila akadnya
Mudharabah Muqayyadah, di mana dana dari pemilik dasa langsung
disalurkan kepada pengelola dana lain (kedua) dan pengelola dana
pertama hanya bertindak sebagai perantara yang mempertemukan
antara pemilik dana dengan pengelola dana lain (kedua), maka dana
untuk jenis seperti ini akan dilaporkan off balance sheet. Atas kegiatan
16

tersebut pengelola dana pertama akan menerima komisi atas jasa


mempertemukan kedua pihak. Sedangkan antara pemilik dana dan
pengelola dana lain (kedua) berlaku nisbah bagi hasil.
H.ILUSTRASI PENCATATAN AKUNTANSI AKAD MUDHARABAH

Contoh Soal Pencatatan Akuntansi Mudharabah dengan Penyerahan Dana Investasi


dalam Bentuk Kas
1. Bank Jayen Syariah (BJS) melakukan kerjasama bisnis dengan Ibu Yolanda,
seorang pedagang buku di Pasar Buku Shoping Yogyakarta menggunakan akad
mudharabah (BJS sebagai pemilik dana dan Yolanda sebagai pengelola dana). BJS
memberikan modal kepada Yolanda sebesar Rp 10.000.000 sebagai modal usaha
pada Tanggal 1 Januari 2009 dan berakhir 31 Pebruari 2009 dengan nisbah bagi
hasil : Yolanda : BJS = 75%: 25%. Buat jurnal setelah penyerahan dana
a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Investasi Mudharabah

10.000.000

Kas

10.000.000

b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah


Kas Mudharabah

10.000.000

Dana Syirkah temporer

10.000.000

2. Pada Tanggal 31 Januarii 2009, hasil usaha perdagangan buku Ibu yolanda adalah:
Pendapatan

: Rp 1.000.000

Biaya-biaya

: Rp

800.000

Jurnal sebelum bagi laba sesuai nisbah


a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Tidak ada
b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah
Pendapatan yang didapat dari penjualan dicatat seperti biasa, menggunakan prinsif cash
basis (karena untuk perhitungan bagi hasil)
Kas

xxx
Pendapatan

xxx

Diakhir bulan atau akhir periode ketika akan dilakukan perhitungan bagi hasil, maka akun
pendapatan harus ditutup dengan melakukan jurnal:
Pendapatan

1.000.000

Biaya

800.000
17

Pendapatan yang belum dibagikan

200.000

perhitungan bagi laba sesuai nisbah


Yolanda = 75% x (1.000.000-800.000) = 150.000
BJS

= 25% x (1.000.000-800.000) = 50.000

Jurnal untuk mencatat Pembayaran hasil perhitungan bagi hasil dari Yolanda kepada
pemilik dana (BJS)
a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Kas

50.000
Pendapatan Bagi hasil

50.000

Jika pembayaran bagi hasil tidak dibagikan langsung kepada BJS, tetapi diakumulasikan
pembayarannya diakhir tahun, maka jurnalnya:
Piutang Mudharabah

50.000

Pendapatan bagi hasil

50.000

Diakhir tahun ketika uang pembayaran tersebut diterima oleh BJS


Kas

50.000
Piutang Mudharabah

50.000

b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah


Cost bagi hasil

50.000

Kas-Mudharabah

50.000

Jika pembayaran bagi hasil tidak dibagikan langsung kepada BJS, tetapi diakumulasikan
pembayarannya diakhir tahun, maka jurnalnya:
Cost bagi hasil

50.000

Utang Bagi Hasil mudharabah

50.000

Diakhir tahun ketika uang pembayaran tersebut diterima oleh BJS, dengan kata lain,
dibayarkan oleh Yolanda
Utang bagi hasil mudharabah

50.000

Kas Mudharabah

50.000

Jurnal untuk mencatat hasil perhitungan bagi hasil hak Pengelola dana (Ibu Yolanda)
a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Tidak ada
b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah
Biaya bagi hasil

150.000

Kas Mudharabah

150.000
18

Jurnal untuk pembukuan pengelola dana untuk kepentingan sendi:


Kas

150.000
Pendapatan Bagi hasil

3.

150.000

Seperti pada No. 2 diatas. Buatlah ayar jurnal penutup untuk bagi hasi tersebut pada
31 Januari 2009.
a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Tidak ada
b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah
Pendapatan yang belum dibagikan

200.000

Cost Bagi Hasil


4.

200.000

Sajikan laporan keuangan neraca dari data diatas kecuali untuk rekening kas
abaikan dulu. Dengan situasi bagi hasil langsung dibagikan diakhir bulan itu juga.
a. Neraca untuk pemilik dana
Aset
Piutang Bagi Hasil Mudharabah
Investasi Mudharabah
Penyisihan Kerugian

0
10.000.000

0)

10.000.000

b. Neraca untuk Pengelola Dana


Utang
Utang Bagi Hasil Mudharabah
Dana SyirkahTemporer

10.000.000

Penyisihan Kerugian
5.

0
0

10.000.000

Selama bulan Pebruari 2009, hasil pengelolaan dana adalah


Pendapatan

Rp

800.000

Biaya-biaya

Rp 1.000.000

Buatlah Jurnal untuk mencatat kerugian tersebut


a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Kerugian Mudharabah

200.000

Penyisihan Kerugian Mudharabah

200.000

b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah


Pendapatan
Penyisihan Kerugian mudharabah

800.000
200.000

Biaya-biaya
6.

1.000.000

Buatlah laporan keuangan neraca untuk bulan Pebruari 2009


a. Neraca untuk pemilik dana
Aset
19

Piutang Bagi Hasil Mudharabah


Investasi Mudharabah
Penyisihan Kerugian

0
10.000.000

200.000)

9.800.000

b. Neraca untuk Pengelola Dana


Utang
Utang Bagi Hasil Mudharabah
Dana SyirkahTemporer

10.000.000

Penyisihan Kerugian
7.

0
(200.000)

9.800.000

Buatlah Jurnal Untuk menutup pengembalian Investasi mudharabah pada akhir


akad.
a. Jurnal Pemilik Dana (BJS) dalam Rupiah
Kas

9.800.000

Penyisihan kerugian mudharabah

200.000

Investasi mudharabah

10.000.000

b. Jurnal Pengelola Dana (Ibu Yolanda, seorang Pedagang) dalam Rupiah


Dana Syirkah Temporer

10.000.000

Kas

9.800.000

Penyisihan kerugian

200.000

BAB III
KESIMPULAN
Setelah membaca uraian yang telah disampakan di atas kita dapat
mengambil simpulan beberapa point penting yaitu :

20

1. Akad Mudharabah adalah perjanjian antara dua pihak pemilik modal


(shahibul maal) dan pengelola bisnis (mudharib) untuk
berbisnis/berinvestasi, Akad harus disepakati di muka sebelum
kerjasama bisnis/investasi dimulai.
2. landasan dasar syariah akad Mudharabah lebih mencerminkan anjuran
untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dari ayat al Quran dan hadits
berikut ini :
a. Dalil Al Quran
b. Dalil dari Hadits
c. Dalil dari Ijma
3. Al Mudharabah seperti usaha pengelolaan usaha lainnya memiliki tiga
rukun:
Adanya dua atau lebih pelaku yaitu investor (pemilik modal) dan
pengelola
a. (mudharib).
b. Objek transaksi kerja sama yaitu modal, usaha dan keuntungan.
c. Pelafalan perjanjian.
4. Jenis-jenis akad mudharabah
a. Mudharabah Muthlaqah
b. Mudharabah Muqayyadah
c. Mudharabah Musytarakah
5. Berakhirnya akad mudharabah
menberitahukan pihak lainnya. Namun, akad mudharabah dapat
berakhir karena hal-hal sebagai berikut :
Dalam hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya, maka mudharabah
berakhir pada
a. waktu yang telah ditentukan.
b. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal
c. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri
d. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola

usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad.


Sebagai pihak yang mengemban amanah ia harus beritikad baik
dan hati-hati.
21

e. Modal sudah tidak ada


6. Prinsip pembagian hasil usaha (psak 105 par 11)
Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan
pengakuan penghasilan usaha mudharabah dalam praktik dapat
diketahui berdasarkan laporan bagi

mengakui pendapatan dari

proyeksi hasil usaha. hasil atas realisasi penghasilan hasil usaha dari
pengelola dana. Tidak diperkenankan

22

DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2008. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat

http://bangzam.blogspot.com/2009/06/syariah-akad-mudharabah.html
http://ekonomisyariat.com/fikih-ekonomi-syariat/mengenal-konsepmudharabah.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Mudharabah
http://alislamu.com/muamalah/11-jual-beli/269-bab-mudharabah.html

23