Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pemeriksaan laboraturium untuk menunjang diagnosis suatu penyakit bisa dilakuakn


dengan berbagai macam uji biokimia. Pemeriksaan laboraturium bisa dilakukan dengan
menggunakan cairan tubuh maupun jaringan tubuh untuk mendiagnosis penyakit. Uji
biokimia dapat dilakukan untuk menguatkan diagnosis terhadap penyakit pada hati, ginjal,
dan bagiaan tubuh lainnya. Contoh uji biokimia untuk penyakit hati salah satunya bisa
dilakukan pemeriksaan SPGT atau SGOT.
Ada dua enzim yang dapat digunakan sebagai parameter kerusakan sel hati. Dan
enzim tersebut adalah adalah aspartat aminotransferase (AST/SGOT) dan alanin
aminotransferase (ALT/SGPT). SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic
Transaminase dan SGOT merupakan singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic
Transaminase. Kedua enzim tersebut secara normal terdapat di hati. Dan peningkatan kadar
enzim-enzim dalam plasma darah mengambarkan adanya kerusakan sel hati.

1.2

Tujuan Praktikum :
Memperlihatkan dan memahami konsep aktivitas spesifik enzim Glutamat Piruvat

Transaminase (GPT) dan Glutamate Oksaloasetat Transaminase (GOT).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian
2.1.1

Hati
2.1.1.1

Anatomi Hati
Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1, 2 1, 8 kg

atau kurang lebih 25 % berat badan orang dewasa yang menempati sebagian
besar kuadran kanan atas abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh
dengan fungsi yang sangat kompleks. Batas atas hati berada sejajar dengan
ruang interkostal V kanan dan batas bawah meyerong ke atas iga IX kanan ke
iga VIII kiri. Permukaan posterior hati berbentuk cekungan dan terdapat celah
transversal sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Omentum miror terdapat
mulai dari sistem porta yang mengandung arteri hepatik, vena porta dan
duktus koledokus. Sistem porta terletak di depan vena kava dan di balik
kandung empedu.
Permukaan anterior yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya
perlekatan ligamentum falsiform yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang
berukuran kira-kira 2 kali lobus kiri. Pada daerah antara ligamentum falsiform
dengan kandungan empedu di lobus kanan kadang-kadang dapat ditemukan
lobus kuadran dan sebuah daerah yang disebut sebagai lobus kuadratus yang
biasanya tertutup oleh vena kava inferior dan ligamentum venosum pada
permukaan posterior. Hati terbagi dalam 8 segmen dengan fungsi yang
berbeda. Pada dasarnya, garis Cantlie yang terdapat mulai dari vena kava
sampai kandungan empedu telah membagi hati menjadi 2 lobus fungsional dan
dengan adanya daerah dengan vaskularisasi relatif sedikit, kadang-kadang
dijadikan batas reseksi. Pembagian lebih lanjut menjadi 8 segmen didasarkan
pada aliran cabang pembuluh darah dan saluran empedu yang dimiliki oleh
masing-masing segmen.

Secara mikroskopis di dalam hati manusia terdapat 50.000 - 100.000


lobuli. Setiap lobulus terbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk
kubus yang tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Di antara lembaran sel
hati terdapat kapiler yang disebut sinusoid yang merupakan cabang vena porta
dan arteri hepatika. Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel kupffer) yang
merupakan sistem retikuloendotelial dan berfungsi menghancurkan bakteri
dan benda asing lain di dalam tubuh. Jadi hati merupakan salah satu organ
utama pertahanan tubuh terhadap serangan bakteri dan organ toksik.
Hepatosit meliputi kurang lebih 60% sel hati, sedangkan sisanya terdiri
dari sel-sel epithelial system empedu dalam jumlah yang bermakna dan sel-sel
parenkimal yang termasuk di dalamnya endotelium, sel kuffper dan sel stellata
yang berbentuk seperti bintang. Sel-sel lain yang terdapat dalam dinding
sinusoid adalah sel fagositik. Sel Kupffer yang merupakan bagian penting
sistem retikuloendothellial dan sel stellata disebut sel itu, limfosit atau perisit.
Yang memiliki aktifitas miofibroblastik yang dapat membantu pengaturan
aliran darah. Sel kupffer lebih permeabel yang artinya mudah dilalui oleh selsel makro dibandingkan kapiler-kapiler yang lain Sinusoidal disamping
sebagai faktor penting dalam perbaikan kerusakan hati. Peningkatan aktifitas
sel-sel stellata tampaknya merupakan faktor kunci dalam pembentukan
jaringan fibrotik di dalam hati.
Selain cabang - cabang vena porta dan arteri hepatika yang
mengelilingi bagian perifer lobulus hati, juga terdapat saluran empedu yang
membentuk kapiler empedu yang dinamakan kanalikuli empedu yang berjalan
diantara lembar sel hati (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Indonesia, 2006).

2.1.1.2 Fisiologi Hati


Hati mempunyai fungsi yang sangat beraneka ragam. Sirkulasi vena
porta yang menyuplai 75% dari suplai asinus memegang peran penting dalam
fisiologi hati, terutama dalam hal metabolisme karbohidrat, protein dan asam
lemak. Telah dibuktikan bahwa pada zona-zona hepatosit yang memperoleh
oksigen yang lebih baik (zona 1) mempunyai kemampuan glukoneogenesis
dan sintesis glotation yang lebih baik dibandingkan dengan zona 3. Fungsi
utama hati adalah pembentukan dan ekskresi empedu. Hati mengekskresikan
ampedu sebanyak satu liter per hari ke dalam usus halus. Unsur utama empedu
adalah air ( 97%), elektrolit, garam empedu. Walaupun bilirubin (pigmen
empedu) merupakan hasil akhir metabolisme dan secara fisiologis tidak
memiliki peran aktif, tapi penting sebagai indikator penyakit hati dan saluran
empedu, karena bilirubin dapat memeberi warna pada jaringan dan cairan
yang berhubungan dengannya.
Hati juga berperan dalam metabolism bilirubin, 75% dari total
Bilirubin di dalam tubuh diproduksi oleh sel darah yang hancur, sisanya oleh
dihasilkan dari katabolisme protein heme, dan juga oleh inaktivasi
eritropoeisis sumsum tulang. Bilirubin yang tidak terkonjugasi bersama
dengan albumin ditranspor ke sirkulasi sebagai suatu kompleks dengan
albumin, walaupun sejumlah kecil dialirkan ke dalam sirkulasi secara terpisah.
Bilirubin diubah dari larut lemak menjadi larut air di hati. Kemudian masuk ke
sistem pencernaan dalam bentuk empedu ke duodenum dan dieksresikan

menjadi sterekobilin. Melalui sirkulasi menuju ke ginjal dan dieksresikan


dalam bentuk urobilin.
Hasil metabolisme monosakarida dari usus halus diubah menjadi
glikogen dan disimpan di hati (glikogenesis). Dari depot glikogen ini disuplai
glukosa secara konstan ke darah (glikogenesis) untuk memenuhi kebutuhan
tubuh. Sebagian glukosa dimetabolisme dalam jaringan untuk menghasilkan
tenaga dan sisanya diubah menjadi glikogen (yang disimpan pada otot) atau
lemak (yang disimpan dalam jaringan subkutan).
Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah menghasilkan protein
plasma berupa albumin (yang diperlukan untuk mempertahankan tekanan
osmotik koloid), protombin, fibrinogen dan faktor bekuan lainnya. Fungsi hati
dalam metabolisme lemak adalah menghasilkan lipoprotein, kolesterol,
fosfolipid dan asam asetoasetat. Hati juga merupakan organ dimana terjadi
glukoneogenesis dan pembentukan karbohidrat dari prekursor seperti alanine,
gliserol, dan oksaloasetat, glikogenolisis dan glikogenesis. Hati menerima
lipid dari sirkulasi sistemik dan memetabolisme kilomikron. Fungsi hati selain
itu adalah sebagai endokrin yang mensintesis 25 hidroksilase vitamin D.
Sedangkan fungsi immunologinya adalah untuk perkembangan limfosit B
fetus, pembuangan kompleks imun sirkulasi, pembuangan limfosit T CD 8
teraktifasi, fagositosis dan presentasi antigen, produksi lipopolysaccaride
binding protein, pelepasan sitokin (TNF dan interferon), transport
immunoglobnulin A. Fungsi lain yaitu kemampuan untuk regenerasi sel sel
hati dan pengaturan angiogenesis (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit
Dalam Indonesia, 2006).
Hati mempunyai kemampuan untuk memetabolisme, detoksifikasi, dan
menginaktivasi substansi eksogen, seperti obat, metabolism obat, insektisida,
dan substansi endogen seperti steroid, dan mengubah ammonia menjadi urea
untuk diekskresi dari tubuh.
Enzim yang dihasilkan oleh hepatosit yaitu Alanine Aminotransferase
(ALT) atau Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), dan Aspartate
Aminotransferase (AST) atau Serum Glutamic Oksaloasetat Transaminase
(SGOT).SGPT terdapat pada sel darah merah, otot jantung, otot skelet, ginjal
5

dan otak. Sedangkan SGOT ditemukan pada hati. Enzim tersebut akan keluar
dari hepatosit jika terdapat peradangan atau kerusakan pada sel tersebut.
Kedua enzim ini dapat meningkat karena adanya gangguan fungsi hati, dan
penanda kerusakan sel lainnya, yang salah satu penyebabnya adalah proses
infeksi yang disebabkan oleh virus.
Sintesis protein berlangsung di reticulum endoplasma yang kasar,
sedangkan sekresi protein berlangsung di reticulum endoplasma yang kasar
dan yang halus. Retikulum endoplasmic juga ikut berperan dalam konjugasi
protein dengan lemak.
2.1.2

SGOT dan SGPT


SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase,
SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim
yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis
destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot
jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai uji SGPT/ALT lebih
tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan
pada proses kronis didapat sebaliknya.
SGOT

adalah

singkatan

dari

Serum

Glutamic

Oxaloacetic

Transaminase, Sebuah enzim yang biasanya hadir dalam dan jantung sel-sel
hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati atau jantung rusak. Tingkat
darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati (misalnya,dari
hepatitis virus ) atau dengan kegagalan terhadap jantung (misalnya, dari
serangan jantung). Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT.
SGOT juga disebut aspartateaminotransferase (AST).
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan SGOT-SGPT.
Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik
yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi
intra muskular (suntik lewat jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami
sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar enzim transaminase ini.
Dibandingkan

dengan

SGOT,

SGPT

lebih

spesifik

menunjukkan

ketidakberesan sel hati, karena SGPT hanya sedikit saja diproduksi oleh sel
6

nonliver. Biasanya, faktor nonliver tidak menaikkan SGOT-SGPT secara


drastis.

2.2

Etiologi
2.2.1

SGPT dan SGOT


Enzim Transaminase atau disebut juga enzim aminotransferase adalah
enzim yang mengkatalisis reaksi transaminasi. Terdapat dua jenis enzim serum
transaminase yaitu serum glutamat oksaloasetat transaminase dan serum
glutamat piruvat transaminase (SGPT). Pemeriksaan SGPT adalah indikator
yang lebih sensitif terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. Hal ini
dikarenakan enzim GPT sumber utamanya di hati, sedangkan enzim GOT
banyak terdapat pada jaringan terutama jantung, otot rangka, ginjal dan otak
(Cahyono 2009).
Enzim aspartat aminotransferase (AST) disebut juga serum glutamat
oksaloasetat transaminase (SGOT) merupakan enzim mitokondria yang
berfungsi mengkatalisis pemindahan bolak-balik gugus amino dari asam
aspartat ke asam -oksaloasetat membentuk asam glutamat dan oksaloasetat
(Price & Wilson,1995).
Enzim GOT dan GPT mencerminkan keutuhan atau intergrasi sel-sel
hati. Adanya peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan tingkat
kerusakan sel-sel hati. Makin tinggi peningkatan kadar enzim GPT dan GOT,
semakin tinggi tingkat kerusakan sel-sel hati (Cahyono 2009).
Kerusakan membran sel menyebabkan enzim Glutamat Oksaloasetat
Transaminase (GOT) keluar dari sitoplasma sel yang rusak, dan jumlahnya
meningkat di dalam darah. Sehingga dapat dijadikan indikator kerusakan hati
(Ronald et al. 2004).
Kadar enzim AST (GOT) akan meningkat apabila terjadi kerusakan sel
yang akut seperti nekrosis hepatoseluler seperti gangguan fungsi hati dan
saluran empedu, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta gangguan fungsi
7

ginjal dan pankreas (Price & Wilson,1995). GOT banyak terdapat pada
mitokondria dan sitoplasma sel hati, otot jantung, otot lurik dan ginjal (Sagita
A 2006).

2.3

Manifestasi Klinis
Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah
enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya.Kondisi yang
meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :

Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut,

nekrosis hati (toksisitasobat atau kimia)


Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis
aktif, sumbatanempedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark

miokard (SGOT>SGPT)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis
Laennec, sirosisbiliaris

Masalah klinis SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase):

Penurunan kadar : kehamilan, diabetik ketoasidosis, beri-beri.


Peningkatan kadar : Infark miokard akut (IMA), ensefalitis, nekrosis
hepar, penyakit dan trauma muskuloskeletal, pankreatitis akut,
ekslampsia, gagal jantung kongestif (GJK). Obat-obat yang dapat
meningkatkan nilai AST : Antibiotik, narkotik, vitamin (asam folat,
piridoksin,
guanetidin),

vitamin
teofilin,

A),

antihipertensi

golongan

(metildopa

digitalis,

kortison,

[Aldoment],
flurazepam

(Dalmane), indometasin (Indocin), isoniazid (INH), rifampisin,


kontrasepsi oral, salisilat, injeksi intramuskular (IM) (Joyce, 1997).
Masalah klinis SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase):

Peningkatan Kadar :
Peningkatan paling tinggi : Hepatitis (virus) akut, hepatoksisitas yang
menyebabkan nekrosis hepar (toksisitas obat atau kimia); agak atau
meningkat sedang : sirosis, kanker hepar, gagal jantung kongesif,
8

intoksisitas alkohol akut; peningkatan marginal : infrak miokard akut


(IMA). Antibiotik, narkotik, metildopa (Aldomet), guanetidin, sediaan
digitalis, indometasin (Indocin), salisilat, rifampisin, flurazepam
(Dalamane),

propanolol

(Inderal),

kontrasepsi

oral,

timah,

heparin(Joyce, 1997)
2.4

Uji Fungsi Hati


Pemeriksaan kadar serum glutamik piruvit transaminase atau Alanin
aminotransferase (SGPT atau ALAT) dan kadar serum glutamik oksaloasetik
transaminase atau aspartat aminotransferase (SGOT atau ASAT) adalah salah satu dari
banyaknya tes fungsi hati lain. Kedua tes ini mengukur kadar enzim yang terdapat
dalam hati, jantung dan otot (Hasan, 2008).
Kadar ALT/SGPT seringkali dibandingkan dengan AST/SGOT untuk tujuan
diagnostik. ALT meningkat lebih khas daripada AST pada kasus nekrosis hati dan
hepatitis akut, sedangkan AST meningkat lebih khas pada nekrosis miokardium
(infark miokardium akut), sirosis, kanker hati, hepatitis kronis dan kongesti hati
(Akatsuki, 20009).
SGOT banyak terdapat dalam mitokondria dan dalam sitoplasma, sedangkan
SGPT hanya terdapat dalam sitoplasma. Oleh karena itu, untuk proses lebih lanjut,
terjadi kerusakan membran mitokondria yang akan lebih banyak mengeluarkan SGOT
atau AST, sedangkan untuk proses akut SGPR atau ALT lebih dominan dibanding
SGOT atau AST (Panil, 2007).
Komposisi Reagen dalam pengukuran SGPT:
R1 : Tris buffer (132,5 mmol/L), L-alanine (687,5 mmol/L), LDH ( 2.300 u/L)
Sodium azide (0,095 %).
R2 : Tris Buffer, NADH, Ketoglutarat, Sodium azide
Komposisi Reagen dalam pengukuran SGOT:
R1 : Triss Buffer (105 mmol/L), L-Aspartate (330 mmol/L), MHD ( 825 u/L
Sodium azide (0,095%), LDH.
R2 : Triss buffer (20 mmol/L), NADH (1.320 u/L), -ketoglutarat (66
mmol/L), Sodium azide (0,095%).
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat
menurunkan kadar
9

Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena

dapatmeningkatkan kadar
Hemolisis sampel
Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin,
karbenisilin,eritromisin,
spektinomisin,

gentamisin,

tetrasiklin),

linkomisin,

mitramisin,

narkotika(meperidin/demerol,

morfin,

kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparatdigitalis,


indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane),
propanolol(Inderal),

kontrasepsi

oral

(progestin-estrogen),

lead,

heparin. Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar


2.5

Nilai Rujukan Data Klinis


1. SGOT

Dewasa : 5-40 U/mL(Frankel), 4-36 IU/L, 16-60 U/mL pada 30o C(Karmen), 833 U/L pada 37oC (unit SI), pada wanita nilainya agak sedikit lebih rendah dari
pria. olahraga mempengaruhi peningkatan kadar serum. Anak : Bayi baru lahir :
Empat kali dari nilai normal.

Lansia : Sedikit lebih tinggi dari orang dewasa (Joyce, 1997)

2. SGPT

Dewasa
pada

suhu

S1). Anak

: 5-35 U/mL (Frankel), 5-25 mU/mL (Wrobleweski). 8-50 U/mL


30 0C

(Karmen),

4-35

U/L

pada

suhu

37 0S

(unit

: bayi : dapat dua kali tinggi orang dewasa; Anak: sama dengan

dewasa.
Lansia
: agak lebih tinggi dari dewasa (Joyce, 1997)
3. INTERPRETASI DATA KLINIS

Nilai normal SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)untuk

orang dewasa adalah laki-laki : 0 37 U/L dan perempuan : 0 31 U/L.


Nilai normal SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase) untuk orang
dewasa adalah untuk laki-laki : 0 42 U/L, perempuan : 0 32 U/L

10

11

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Tanggal Pelaksanaan Praktikum


Tanggal

: 14 November 2014

Pukul

: 11.00-13.00

Tempat: Laboratorium Biokimia Klinis FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


3.2

Alat dan Bahan


Alat:

Spektrofotometer dan cuvet


Tabung vacutest
Jarum suntik
Alcohol pads
Mikropipet

Bahan:

Plasma darah
Reagen 1 :
- Tris Buffer pH 7,5 100 mmol/L
- L-Alanin 500 mmol/L
- LDH 1200 U/L

3.3

Reagen 2 :

- 2-oxoketoglutarat 15 mmol/L
- NADH 0,18 mmol/L

Prosedur Kerja

12

h diambil sebanyak 3 ml (hindari hemolysis), masukan dalam tabung vacutest, lalu disentrifugasi untuk men

reagen dan cuvet dihangatkan pada temperature yang diinginkan (37C) dan konstan

bung, ditambahkan reagen 1 sebanyak 1000L, dicampurkan lalu diinkubasi 5 menit pada temperature yang

Reagen dan sampel dicampurkan

bsorbansinya pada panjang gelombang 365 nm setelah 1 menit dan pada saat yang sama mulai dihitung wa

Dibaca kembali absorbansi dengan pasti setelah 1 menit, 2 menit , dan 3 menit

dilanjutkan perhitungan :
A menit x 1765

Hal ini dilakukan dua kali pada pengujian untuk SGPT dan SGOT

13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
1
Uji SGPT (Serum Glutamat Piruvat Transaminase) atau ALT (Alanin
Transaminase)

Waktu (menit)

Absorbansi

0
1
2
3

1,014
1,057
1,044
1,045

A 1765 0,019 1765 = 33,535 U/L

Kesimpulan : kadar SGPT sampel menunjukkan bahwa kadar tersebut melebihi batas
kadar SGPT normal pada wanita

0
0,043
0,013
0,001
2
Rata = 0,019

Perhitungan :
Rata2

17 U/L

Uji SGOT (Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase) atau AST (Aspartate


Transaminase)
Waktu (menit)

Absorbansi

0
1
2
3

1,107
1,109
1,109
1,109

A
0
0,002
0
0
Rata2 = 6,67 10-4

Perhitungan :
Rata2 A 1765 6,67 10-4 1765 = 1,177 U/L

Kesimpulan : kadar SGOT sampel menunjukkan bahwa kadar tersebut masih


berada pada kadar SGOT normal pada wanita 15 U/L

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan uji pemeriksaan SGPT/SGOT. Hal ini dilakukan untuk

memperlihatkan dan memahami konsep aktivitas enzim Serum Glutamic Piruvic


Transaminase) (SGPT) dan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT). Kedua
14

enzim tersebut merupakan enzim yang mengkatalisis pemindahan reversible satu gugus
amino antara suatu asam amino dan suatu asam alfa-keto yang disebut aminotransferase atau
transaminase. Enzim SGPT atau Alanin Aminotransferase (ALT) adalah enzim yang
ditemukan dalam konsentrasi tinggi di hepatosit (sel hati), sedangkan ginjal, jantung, dan otot
rangka mengandung kadar sedang. ALT dalam jumlah yang lebih sedikit dijumpai di
pancreas, paru, limpa dan eritrosit. Sementara enzim SGOT atau Aspartat Aminotransferase
(AST) terdapat di hati, miokardium, dan otot rangka; eritrosit juga memiliki AST dalam
jumlah sedang.
Dalam percobaan ini pertama-tama diambil sampel darah dari probandus dengan
menggunakan jarum suntik sebanyak 3 ml dan dimasukkan kedalam vaccutest. Sampel darah
harus dihindari dari hemolisis karena akan mempengaruhi pengukuran. Kemudian sampel
tersebut di sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm untuk mendapatkan serum darah. Dalam
serum darah ini terdapat enzim SGOT dan SGPT karena SGOT dan SGPT yang dihasilkan
dari sel hati akan disalurkan juga ke darah, dimana darah ini menjadi media penyaluran
enzim transaminase untuk membantu metabolisme kimiawi di jaringan lain.
Kemudian dilanjutkan dengan memasukan 100 U/L serum darah ke dalam masingmasing tabung dan dimasukan GOT reagen 1 ke dalam 6 tabung masing-masing sebanyak
500 U/L. Dalam GOT reagen 1 terkandung tris buffer pH 7,5 yang berfungsi menstabilkan
dan mempertahankan pH yang diinginkan selama reaksi, sehingga aktivitas enzim GOT tetap
berfungsi dengan baik karena kinerja enzim sangat sensitif terhadap perubahan pH. Selain itu
pada reagen 1 terkandung L-aspartat, LDH dan MDH. Laspartat berfungsi sebagai substrat
asam amino yang akan direaksikan oleh enzim GOT menjadi L-glutamat dan oksaloasetat
dan LDH dan MDH akan ikut membantu dalam mereduksi oksaloasetat menjadi malat.
Inkubasi ini bertujuan agar reaksi yang terjadi antara reagen dan plasma dapat berjalan
sempurna.
Setelah proses inkubasi kemudian ditambahkan GOT reagen 2. Reagen 2 ini
mengandung 2-oxoketoglutarat yang akan bereaksi dengan L-aspartat menghasilkan Lglutamat dan oksaloasetat dan NADH pengukur perubahan aksaloasetat menjadi malat.
Dilanjutkan dengan proses inkubasi selama 1 menit lalu ukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer UV pada panjang gelombang 365 nm, karena pada panjang gelombang
tersebut, sampel akan memberikan serapan maksimum.

15

Pengukuran sampel menggunakan spektrofotometer UV/Vis juga dikarenakan


mempunyai sensitivitas yang relatif tinggi dan pengerjaanya mudah sehingga pengukuran
yang dilakukan cepat serta mempunyai spesifisitas yang baik. selanjutnya absorbansi juga
diukur pada menit ke 0, 1, 2 ,3 dan menit ke 4.
Prinsip kerja yang terjadi dari pendeteksian GOT adalah aminotransferase (AST)
mengkatalis transaminasi dari L aspartate dan a - kataglutarate membentuk L glutamate dan
oxaloacetate. Oxaloacetate direduksi menjadi malate oleh enzym malate dehydrogenase
(MDH) dan niconamideadenine dinucleotide (NADH) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya
NADH yang teroksidasi, berbanding langsung dengan aktivitas AST dan diukur secara
fotometrik menggunakan spektrofotometer UV. Hal yang sama dilakukan untuk memeriksa
kadar SGPT. Masukan 100 U/L serum darah ke dalam masing-masing tabung dan dimasukan
GPT reagen 1 ke dalam 6 tabung masing-masing sebanyak 500 U/L. Dalam GPT reagen 1
terkandung tris buffer pH 7,5 yang berfungsi menstabilkan pH selama reaksi sehingga
aktivitas enzim GPT tetap berfungsi dengan baik karena kinerja enzim sangat sensitif
terhadap perubahan pH. Selain itu pada reagen 1 terkandung L-alanin dan LDH. Lalanin
berfungsi sebagai substrat asam amino yang akan direaksikan oleh enzim GPT menjadi Lglutamat dan piruvat sementara LDH berperan dalam dan membantu dalam mereduksi
piruvat menjadi laktat. Setelah itu diinkubasi selama 5 menit di suhu ruangan.
Setelah proses inkubasi kemudian ditambahkan GPT reagen 2, reagen 2 ini
mengandung 2-oxoketoglutarat yang akan bereaksi dengan L-alanin menghasilkan Lglutamat dan piruvat. Sedangkan NADH berfungsi menjadi pengukur perubahan piruvat
menjadi laktat. Dilanjutkan dengan proses inkubasi selama 1 menit lalu diukur menggunakan
spektrofotometer UV pada panjang gelombang 365 nm, lalu ukur pada menit ke 0,1,2 dan
menit ke 4.
Prinsip dalam pengukuran SGPT ini adalah Alanine aminotransferase (ALT)
mengkatalis transiminasi dari L alanine dan a - kataglutarate membentuk l glutamate dan
pyruvate yang terbentuk di reduksi menjadi laktat oleh enzym laktat dehidrogenase (LDH)
dan nicotinamide adenine dinucleotide (NADH) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya
NADH yang teroksidasi hasil penurunan serapan (absobance) berbanding langsung dengan
aktivitas ALT dan diukur secara fotometrik.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar SGPT/SGOT pada probandus yang dilakukan
dilaboratorium pada suhu ruangan 25oC, diketahui bahwa probandus memiliki kadar SGPT:
16

33,535 U/L dan SGOT: 1,177 U/L. Hasil ini dapat dibandingkan dengan hasil

pemeriksaan SGPT/SGOT dari literatur. Adapun Nilai rujukan Kadar SGPT dan SGOT yang
normal pada suhu 25 sebagai berikut :
LAKI-LAKI
SGPT (UI/L)
<22
SGOT (UI/L)
<18

PEREMPUAN
<17
<15

Dan dapat disimpulkan bahwa kadar SGPT melebihi batas normal yakni < 17 U/L
sedangkan kadar SGOT masih berada pada range normalnya yaitu <15. Sehingga,
kemungkinan saja pasien terindikasi memiliki penyakit hepatitis akut. Akan tetapi, dalam
pemeriksaan fungsi hati, pada dasarnya tidak ada tes tunggal untuk menegakkan diagnosis.
Terkadang beberapa kali tes berselang diperlukan untuk menentukan penyebab kerusakan
hati. Ketika penyakit hati sudah dideteksi, tes fungsi hati biasanya tetap berlanjut secara berkala untuk memantau tingkat keberhasilan terapi atau perjalanan penyakit. Ada beberapa tes
tambahan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi seperti GGT, LDH dan PT.
Faktor yang dapat mempengaruhi hasil uji SGPT/SGOT di laboratorium :

Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan

kadar.
Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak kena sekali tusuk atau

pengulangan pengambilan sampel di tempat yang sama, dapat meningkatkan kadar.


Hemolisis sampel.
Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin,
eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika
(meperidin/demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparat
digitalis, indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol

(Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.


Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar.
BAB V
SIMPULAN

17

SGPT dan SGOT merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif
untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Dari hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa
kadar SGPT melebihi batas normal yakni < 17 U/L sedangkan kadar SGOT masih berada
pada range normalnya yaitu <15. Sehingga, kemungkinan saja pasien terindikasi memiliki
penyakit hepatitis akut.

18

DAFTAR PUSTAKA

Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno dkk., Tinjauan Klinis Atas Hasil
Pemeriksaan Laboratorium, edisi 9, cetakan ke-1, EGC, Jakarta, 1992.
Joyce LeFever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, EGC, Jakarta, 2007.
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Cabang Jakarta, SI Units : Tabel Konversi
Sisten Satuan SI Konvensional dan Nilai Rujukan Dewasa Anak Parameter
Laboratorium Klinik, Jakarta, 2004.
Ronald A. Sacher & Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U. Pendit dan Dewi
Wulandari, editor : Huriawati Hartanto, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium, Edisi 11, EGC, Jakarta, 2004.
Suryadi dan Marzuki. 1983. Pemeriksaan Faal Hati. Cermin Kedokteran. No. 30. Vol. 1. 14
19.
The Royal College of Pathologists of Australasia, Manual of Use and Interpretation of
Pathology Test, Griffin Press Ltd., Netley, Australia, 1990.

19

Lampiran
Gambar uji SGOT
Ket: Reagen 1 dan reagen 2 GOT

Ket :
a
b

Darah yang telah disentrifugasi dan didapatkan


filtrat jernih berupa plasma
Sampel diambil bagian filtrat jernihnya
sebanyak 100 l

(a)

(b)
Ket : filtrat jernih (plasma)byang telah ditambahkan
reagen 1 dan reagen 2 masing-masingnya 1.000 l dan
250 l

20

Ket:
a
b
c
d

Absorbansi pada menit ke- 0


Absorbansi pada menit ke- 1
Absorbansi pada menit ke- 2
Absorbansi pada menit ke- 3

(a)

(b)

(c)

(d)

21