Anda di halaman 1dari 45

Kota Agung, 15 November 2010

Hal : Nota Pembelaan (Pledoi)


No Perkara: 168/PID.B/2010/PN.KTA
a.n. Terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M.
Kepada Yth.
Majelis Hakim Perkara No: 168/PID.B/2010/PN.KTA
Di Pengadilan Negeri Kota Agung.

Bismillahi Ar-rahman Ar-rahim


Assalamu alaikum wr. wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Majelis hakim yang mulia.
Rekan JPU yang kami hormati.
Setelah menyimak dan membaca Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap
terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M., sekarang tibalah saatnya kami, sebagai Tim Penasehat Hukum
Terdakwa, untuk menyampaikan pledoi ini. Tentunya, pledoi ini bukanlah suatu pendapat dan
atau pembelaan yang serta-merta agar terdakwa dapat bebas diluar pertimbangan-pertimbangan
hukum yang berlaku, tetapi pledoi ini lebih merupakan ikhtiar kami untuk merangkai kembali
fakta-fakta sebenarnya yang telah berlangsung di muka persidangan selama ini, sehingga
sebelum yang terhormat Majelis Hakim memberi putusan, telah mendapatkan keterangan,
gambaran dan atau bukti-bukti yang terang dan jelas atas perbuatan pidana yang dituduhkan
kepada Terdakwa.
I. RINGKASAN SURAT DAKWAAN SEBAGAI DASAR PERSIDANGAN
DAN TUNTUTAN JAKSA PENUNTUT UMUM
Majelis hakim yang terhormat.
Persidangan yang kami muliakan.

Saudara Penuntut Umum dalam Surat Dakwaannya, telah mencoba menggambarkan suatu
peristiwa pidana yang dilakukan oleh Terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M.; Jalinan peristiwa pidana
tersebut, sebagaimana yang terurai dalam Surat Dakwaan, dilakukan pada saat Terdakwa
menjabat sebagai Kepala Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip Kab. Tanggamus (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) pada waktu yang tak dapat diingat lagi dengan pasti antara bulan Mei
2008 sampai bulan Desember 2008; bertempat di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip
(sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus atau setidaknya di suatu tempat yang
masih di dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Kota Agung.
Bahwa Terdakwa sebagai Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan
menyalahgunakan kekuasaannya: memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau
menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya
sendiri (Dakwaan Pertama);- atau Yang dengan tujuan menguntungkan diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalah-gunakan kewenangan, kesempatan
atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara (Dakwaan Kedua).Perbuatan tersebut, seperti yang terekam dalam Surat Dakwaan, dilakukan Terdakwa dengan
cara-cara antara lain sebagai berikut:
- Bahwa Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab.
Tanggamus pada tahun anggaran 2008 berdasar Perda No:02 tanggal 29 Januari 2008
terdapat program kegiatan-kegiatan yang dibiayai APBD Kab. Tanggamus diantaranya
sebagai berikut:
1. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur sejumlah Rp. 255.000.000,- (dua
ratus lima puluh lima juta rupiah), dengan rincian kegiatan: (a) Bantuan sarana dan
prasarana perpustakaan pekon sejumlah Rp. 90.000.000,- (sembilan puluh juta
rupiah), (b) Peningkatan jumlah koleksi buku sejumlah Rp. 90.000.000,- (sembilan
puluh juta rupiah), dan (c) Bimbingan kearsipan sejumlah Rp. 75.000.000,- (tujuh
puluh lima juta rupiah);
2. Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan sejumlah Rp.
154.000.000,- (seratus lima puluh empat juta rupiah), dengan rincian
kegiatan: (a) Penyediaan perpustakaan pekon di Kec. Semaka sejumlah Rp.
114.000.000,- (seratus empat belas juta rupiah), dan (b) Meningkatkan pengolahan
dan pemeliharaan bahan pustaka sejumlah Rp. 40.000.000,- (empat puluh juta
rupiah).
- Bahwa selaku Kepala Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor
PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, Terdakwa diangkat berdasarkan SK Bupati
Tanggamus No: 821.34/045/11/2008 tertanggal 14 Mei 2008; dan sebagai Pengguna
Anggaran dan Pengguna Barang, Terdakwa diangkat berdasarkan SK Bupati Tanggamus
No: B-193/35/12/2008 tertanggal 26 Juni 2008.

- Bahwa untuk melaksanakan program kegiatan-kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan


dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, Terdakwa telah
membentuk perangkat pelaksana kegiatan, yaitu: PPK, PPTK, Pembantu PPTK,
Pembantu Bendahara Pengeluaran, Panitia Pengadaan Barang, Panitia dengan
menerbitkan SK Kepala Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor
PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, yaitu SK No: 050/62.d/14/2008 tanggal 06 Juni
2008 tentang PPK, PPTK, Pembantu PPTK, Pembantu Bendahara Pengeluaran; SK No:
070/60.a/24/2008 tanggal 04 Juni 2008 tentang permohonan personil Panitia Pengadaan
Barang/Jasa, dan SK No: 027/62.e/24/2008 tanggal 06 Juni 2008 tentang Panitia
Pemeriksa Barang.
- Bahwa sebelum menerbitkan SK-SK tersebut, Terdakwa sekitar bulan AprilMei 2008 mengadakan pertemuan dengan para Kasi (kepala Seksi) yaitu saksi Dahyan
Effendi, saksi Rudiana, Saksi Helpin Rianda, serta saksiMahmud Ali (Kasubbag TU),
saksi Anas Kamalajaya, dan saksi Syafria(Bendahara Pengeluaran); pada pertemuan ini
Terdakwa memberitahukan perihal pemotongan + 30% untuk setiap anggaran kegiatan
terkecuali honor dengan dalih untuk setoran ke atas; selanjutnya
Terdakwa memerintahkankepada saksi Syafria untuk melakukan pemotongan terhadap
pelaksanaan pembayaran untuk program kegiatan-kegiatan di Kantor Litbang,
Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus yang
dibiayai APBD TA 2008 yaitu: (a) kegiatan Bantuan sarana dan prasarana perpustakaan
pekon, (b) kegiatan Penyediaan perpustakaan pekon di Kec. Semaka, dan (c) kegiatan
Bimbingan kearsipan.
- Selanjutnya
saksi Syafria melakukan
pencairan dan pembayaran
dengan
potongan + 30% untuk setiap mata anggaran sebagaimana tersebut di atas dengan cara:
1. untuk pecairan dana kegiatan seharusnya atas permintaan dari PPTK,
tetapi seringkali terjadi untuk pencairan dana-dana kegiatan tersebut adalah adanya
permintaan dari Terdakwa; setelah dana dari kegiatan cair kemudian
saksi syafria memeriksa mata anggaran/kode rekening mana yang bisa dilakukan
pemotongan + 30%;
2. bahwa ketika kuasa dari rekanan (JPU tidak menyebutkan siapa kuasa dari rekanan dan
siapa saja rekanan kegiatan) melakukan pencairan ke bank; dari kuasa rekanan yang
mencairkan tersebut kemudian menyerahkandana kegiatan yang telah dicairkan
kepada saksi syafria, kemudian saksisyafria atas perintah Terdakwa melakukan
pemotongan sebesar + 30% dari dana tersebut, setelah itu hasil potongan diserahkan
kepada terdakwa sedangkan yang 70% diserahkan kepada rekanan melalui
kuasanya.
3. khusus untuk pencairan dana ke rekanan CV. Pusaka Semaka langsung dilakukan oleh
rekanan tanpa kuasa, yaitu saksi Iwan Setiawan (selama proses pemeriksaan saksi
di persidangan, tidak ada satu pun saksi yang bernama Iwan Setiawan), uang hasil
pencairan ini tidak diserahkan kepada saksi syafria melainkan dari pihak rekanan
yang langsung menghadap ke Terdakwa atas perintah Terdakwa, kemudian terdakwa

melakukan pemotongan sebesar 25% (Rp. 12.500.000,-); uang hasil potongan ini
diterima langsung oleh Terdakwa di Rumah Makan ayam bakar Kota Agung.
4. bahwa uang perjalanan dinas kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam DPA di
Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab.
Tanggamus TA 2008 juga dipotong oleh saksisyafria atas perintah Terdakwa.
- Bahwa uang-uang hasil pemotongan + 30% untuk setiap mata anggaran (kecuali honor)
oleh saksi syafria diberika kepada Terdakwa sesuai dengan barang bukti yang terdiri
dari:
1. berdasar kwitansi tertanggal 05 November 2008, Terdakwa menerima sejumlah Rp.
6.960.000,- yang merupakan dana potongan pada kegiatan (admisistrasi) penyediaan
perpustakaan di Kec. Semaka;
2. berdasar kwitansi tertanggal 16 September 2008, Terdakwa menerima potongan dana
kegiatan sebesar + 30% yang seharusnya dibayar kepada pihak ketiga sebesar Rp.
35.982.000,- dari mata anggaran: (a) belanja modal pengadaan buku sebesar Rp.
49.000.000,- x 30% = Rp. 14.700.000,-, (b) belanja modal pengadaan meubelair
sebesar Rp. 36.000.000,- x 30% = Rp. 10.800.000,-, dan (c) belanja modal pengadaan
meubelair Rp. 34.000.000,- x 30% = Rp. 10.482.000,-;
3. berdasar lembar rincian penggunaan dan TU Bimbingan Kearsipan, Terdakwa
menerima dana potongan 30% sebesar Rp. 9.197.710,-;
4. untuk
kegiatan
yang
dilakukan
CV,.
Pusaka
Semaka,
Terdakwa
melakukanpemotongan dan menerima secara langsung sebesar 25% dari saksi
Iwan Darmawan sebesar Rp. 12.500.000,-.
- Bahwa perbuatan Terdakwa bertentangan dengan:
1. Pasal 3 ayat (3) UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
2. Pasal 17 ayat (1) UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Pasal 122 ayat (9) Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah;
4. Pasal 10 Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah;
5. Terdakwa pada intinya mengingkari ketentuan dalam SK Bupati Kab. Tanggamus
No: B-193/35/12/2008.
Bahwa perbuatan Terdakwa selaku Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor
PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus yang telah menerima dana dari pemotongan + 30%

sebesar + Rp. 64.639.710,- (enam puluh empat juta enam ratus tiga puluh sembilan ribu tujuh
ratus sepuluh rupiah) dari anggaran kegiatan sebagaimana diurai diatas, menurut Dakwaan Jaksa
Penuntut Umum, adalah Perbuatan Pidana sebagaimana yang diatur dan diancam pidana dalam:
Pasal 12 huruf e Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas
Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (dakwaan pertama)
Atau
Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU No.
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(dakwaan kedua)

Selanjutnya, berdasar dakwaan di atas serta analisa fakta persidangan yang dilakukan oleh JPU;
maka dalam risalah tuntutannya pada tanggal 11 Nopember 2010, JPU menuntut terdakwa
berdasarkan Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU
No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (dakwaan kedua), yang amar
tuntutannyasebagai berikut:

1. Menyatakan terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M. terbukti bersalalah secara


sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi DENGAN
TUJUAN MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN
ATAU
KORPORASI,
MENYALAHGUNAKAN
KEWENANGAN,
KESEMPATAN ATAU SARANA YANG ADA PADANYA KARENA
JABATAN ATAU KEDUDUKAN YANG DAPAT MERUGIKAN
KEUANGAN
NEGARA
ATAU
PEREKONOMIAN
NEGARA
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Jo. Pasal 18
UU No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU No. 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (dakwaan
kedua);
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M. berupa
pidana penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dengan
dikurangi selama terdakwa dalam tahanan, dan pidana denda
sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan
apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan kurungan
selama 3 (tiga) bulan, dan memerintahkan terdakwa tetap berada
dalam tahanan Rutan;
3. Menetapkan agar terdakwa membayar uang pengganti kepada negara
sebesar Rp. 15.639.710 (lima belas juta enam ratus tiga puluh
sembilan ribu tujuh ratus sepuluh rupiah) setelah diperhitungkan
dengan uang titipan sebesar Rp. 49.000.000,- (empat puluh sembilan

juta rupiah) yang telah diserahkan/ditipkan oleh terdakwa, dengan


ketentuan apabila terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut
dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan setelah putusan pengadilan
telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat
disita oleh penuntut umum dan dilelang untuk menutupi uang pengganti
tersebut, dalam terdakwa tidak mempunyai harta benda yang
mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut maka terdakwa
menjalani pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan;
4. Barang bukti berupa: poin (1) dikembalikan kepada terdakwa Drs. Abadi
Indo,
M.M.,
poin
(2)
dst

dikembalikan
ke kantor Pustardokda Kab. Tanggamus, dan poin (518) dstterlampir dalam berkas perkara;
5. Menetapkan agar Terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp.
5000,- (lima ribu rupiah).
II. RESUME KETERANGAN SAKSI-SAKSI DAN TERDAKWA
SEBAGAI FAKTA DI PERSIDANGAN
Majelis hakim yang kami hormati.
Rekan JPU yang semoga selalu berbahagia.
Sebelum kami, Tim Penasihat Hukum Terdakwa, menyampaikan pokok-pokok dari Nota
Pembelaan; ada baiknya kami sampaikan resume keterangan saksi-saksi selama proses
persidangan berlangsung. Hal ini menjadi urgen, karena terdapat perbedaan yang signifikan
antara keterangan saksi di muka persidangan dengan yang diungkap oleh JPU dalam risalah
tuntutannya. Selain itu, keterangan saksi di muka persidangan merupakan alat bukti yang sah;
dan keterangan saksi yang mempunyai nilai pembuktian ialah keterangan yang sesuai dengan apa
yang dijelaskan pada Pasal 1 angka 27 KUHAP, yaitu: (a). yang saksi lihat sendiri, (b).saksi
dengar sendiri dan (c). saksi alami sendiri serta (d). menyebut alasan dari pengetahuannya.
Pada proses pemeriksaan saksi dan terdakwa dalam persidangan yang terhormat ini, Rekan JPU
telah menghadirkan sebanyak 19 orang saksi, yang diantaranya adalah seorang saksi ahli.
Adapun pokok-pokok keterangan dari para saksi tersebut adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan Saksi ke-1 (Kamis, 19 Agustus 2010), Persidangan menghadirkan 6 (enam) orang
saksi, yakni:
Mahmud Ali (Kasubbag TU periode 2005 -2008 di Kantor Pustardokda Kab. Tanggamus),
bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya menyatakan dan menjelaskan;

1. Pada waktu tindak pidana terjadi, saksi ditunjuk oleh Kepala Kantor
(terdakwa) sebagai Ketua Pemeriksa Barang untuk kegiatan yang ada
di Kantor Pustardokda periode anggaran tahun 2008.
2. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan pemeriksaan terhadap setiap
barang dari kegiatan pengadaan barang yang ada.
3. Bahwa sebagai Panitia Pemeriksa Barang, saksi menerima honorarium.
4. Saksi hanya menanda-tangani saja dokumen pemeriksaan barang serta
laporan hasil pemeriksaan barang yang telah disiapkan oleh sdr. Anas
Kamalajaya.
5. Tentang adanya pertemuan atau briefing yang membahas perihal
pemotongan sebesar 30% terhadap dana kegiatan kecuali honorarium
di Kantor Pustardokda sekira bulan april - mei 2008, saksi menyatakan
mengikuti pertemuan tersebut dan mendengar Terdakwa mengatakan
adanya potongan sebesar 30% terhadap dana kegiatan untuk
digunakan sebagai dana savingkantor, kecuali honorarium tidak ada
potongan.
6. Bahwa saksi mengikuti pertemuan tersebut diajak
dikumpulkan oleh sdr. Rudiana dan sdr. Dahyan Effendi.

dan

atau

7. Bahwa saksi tidak mengetahui apakah terdapat pemotongan sebesar


30% terhadap setiap dana kegiatan di Kantor Pustardok pada periode
anggaran tahun 2008.
(atas keterangan tersebut, Terdakwa menyatakan pertemuan pada poin 4 (empat) terjadi pada
tanggal 26 Mei 2008 yang pada intinya untuk membicarakan perihal Lomba Pekon; sedangkan
tentang pembicaraan mengenai pemotongan terhadap dana kegiatan, Terdakwa hanya merespon
dari usul dan saran dari para bawahannya yang hadir pada pertemuan itu).
Sri Hapsari (Staf Kantor Pustardokda), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya
menjelaskan dan menyatakan:

1. Saksi bertugas sebagai Anggota Panitia Pemeriksa Barang untuk


kegiatan yang ada di Kantor Pustardokda periode anggaran tahun
2008.
2. Bahwa saksi menerima honorarium atas tugasnya tersebut.

3. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan apapun yang terkait dengan


tugasnya selaku anggota Panitia Pemeriksa Barang, kecuali hanya
menandatangani dokumen hasil pemeriksaan barang yang disodori oleh
sdr. Anas Kamalajaya.
4. Bahwa saksi menyatakan kegiatan tersebut tidak bermasalah, karena
tidak ada complain dari Inspektorat Pemkab Tanggamus.
5. Saksi juga bertugas sebagai Bendahara Pengeluaran Kegiatan; namun
saksi tidak mengelola dana kegiatan tersebut, karena dikelola oleh
Pemegang Kas, yaitu sdr. Syafria.
(atas keterangan saksi, terdakwa tidak menanggapi).
M. Suprayogi (Staf Litbang di Bagian Umum Pemkab Tanggamus), bersaksi dibawah sumpah
yang pada prinsipnya menyatakan dan menjelaskan:

1. Pada kegiatan tahun anggaran 2008, saksi sebagai Ketua Panitia


Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Pustardokda.
2. Bahwa saksi diangkat sebagai Panitia Pengadaan Barang oleh SK
Sekda Pemkab Tanggamus atas permintaan Kantor Pustardokda.
3. Bahwa saksi menerima honorarium atas tugasnya tersebut.
4. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan tugas dan wewenangnya selaku
Panitia Pengadaan Barang/Jasa.
5. Bahwa sekira bulan agustus 2008, sdr. Anas Kamalajaya mendatangi
saksi dengan membawa berkas-berkas proses pengadaan barang/jasa
tahun anggaran 2008 di kantor Pustardokda untuk ditanda-tangani, dan
saksi menandatangi berkas tersebut.
6. Bahwa saksi tidak tahu ataupun tidak mengenal rekanan atau pihak
ketiga yang mengerjakan kegiatan dimaksud.
7. Bahwa saksi tidak mengetahui apakah ada potongan 30% dari kegiatan
tersebut.
(atas keterangan saksi, terdakwa tidak menanggapi)
Ahmad Syunawar (Staf Litbang di Bagian Umum Pemkab Tanggamus), bersaksi dibawah
sumpah yang pada prinsipnya menyatakan dan menjelaskan:

1. Pada kegiatan tahun anggaran 2008, saksi sebagai Anggota Panitia


Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Pustardokda.
2. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan tugas dan wewenangnya selaku
Panitia Pengadaan Barang/Jasa; saksi hanya menandatangi semua
berkas terkait proses pengadaan barang.
3. Bahwa saksi menandatangi berkas tersebut karena disuruh oleh Ketua
Panitia Pengadaan Barang/Jasa, yaitu sdr. Suprayogi.
4. Bahwa saksi tidak tahu tentang adanya potongan 30% terhadap
kegiatan tersebut.
Maisaroh (Staf di Bagian Umum Pemkab Tanggamus), bersaksi dibawah sumpah yang pada
intinya menjelaskan:

1. Pada kegiatan tahun anggaran 2008, saksi sebagai Sekretaris Panitia


Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Pustardokda.
2. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan tugas dan wewenangnya selaku
Panitia Pengadaan Barang/Jasa; saksi hanya menandatangi semua
berkas terkait proses pengadaan barang yang disiapkan oleh sdr. Anas
Kamalajaya.
3. Sebagai Kepala Kantor, Terdakwa dikenal murah hati terhadap stafnya, Terdakwa sering mentraktir makan para staf atau bawahannya.
4. Bahwa saksi tidak tahu tentang adanya potongan 30% terhadap
kegiatan tersebut.
Rina Ambarwati (Staf di Kantor Pustardokda), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya
menyatakan:

1. Saksi bertugas sebagai Anggota Panitia Pemeriksa Barang untuk


kegiatan yang ada di Kantor Pustardokda periode anggaran tahun
2008.
2. Bahwa sebagai Panitia Pemeriksa Barang, saksi diangkat oleh Kepala
Kantor Pustardokda, yang pada waktu itu dijabat oleh Terdakwa.
3. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan apapun yang terkait dengan
tugasnya selaku anggota Panitia Pemeriksa Barang, kecuali hanya

menandatangani dokumen hasil pemeriksaan barang yang disiapkan


oleh sdr. Anas Kamalajaya.
4. Bahwa saksi tidak mengetahui adanya potongan 30% terhadap
kegiatan pengadaan barang tersebut.
Pemeriksaan Saksi ke-2 (Kamis, 26 Agustus 2010), Persidangan memeriksa 3 (tiga) orang
saksi, yaitu:
Hesti Bertilia (Staf Kantor Pustardokda), bersaksi dibawah sumpah yang pada prinsipnya
menjelaskan:

1. Pada waktu peristiwa pidana yang dituduhkan terjadi, saksi ditunjuk


sebagai bendahara barang dengan SK Bupati dan SK Sekda Kab.
Tanggamus.
2. Bahwa pada intinya tugas bendahara barang adalah menginventarisir
barang, mengeloka dan merawat barang inventaris miliki negara dan
daerah.
3. Bahwa saksi menerima honorarium terkait dengan tugas tersebut.
4. Bahwa faktanya, saksi tidak melakukan tugas dengan sebagaimana
mestinya; saksi menyatakan bahwa tugasnya hanya formalitas saja,
karena saksi tidak pernah melakukan inventarisir atau melihat secara
langsung buku-buku atau infrastruktur penunjang lainnya sehubungan
dengan kegiatan pengadaan barang/jasa di kantor Pustardokda
Kab. Tanggamus tahun anggaran 2008.
5. Bahwa saksi hanya menanda-tangani berita acara serah terima barang
dari rekanan yang disodorkan oleh sdr. Anas Kamalajaya.
6. Bahwa saksi tidak tahu ada atau tidak adanya potongan 30% dari dana
kegiatan di Kantor Pustardokda pada tahun anggaran 2008.
Syamsul Akhyar (Wiraswasta), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya menyatakan:

1. Pada waktu peristiwa pidana terjadi, saksi menjabat selaku Kepala


Pekon Sukaraja Kec. Semaka.
2. Bahwa sekitar akhir tahun 2008, Perputakaan di Pekon Sukaraja
mendapat bantuan buku sekitar 2 (dua) kardus besar dan mebeulair

sebagai penunjang infrastruktur perpustakaan dari Kantor Pustardokda


Kab. Tanggamus.
3. Bahwa selaku Kepala Pekon, saksi tidak pernah mengusulkan bantuan
untuk perpustakaan tersebut.
4. Bahwa proses masuknya bantuan untuk perpustakaan di Pekon
Sukaraja; saksi ditelpon oleh sdr. Sukri saat truk yang mengangkut
barang bantuan tersebut telah menuju ke Pekon Sukaraja; saksi sendiri
sebelumnya memang telah mengenal sdr. Sukri sebagai aktivis LSM
KoAK.
5. Bahwa barang bantuan tersebut diantar oleh orang berpakaian seragam
Pemkab Tanggamus, dan proses serah terima barang terjadi begitu
cepat.
6. Bahwa saksi hanya menyaksikan serah terima barang barang dan tidak
menanda-tangani berita acara serah terima barang.
7. Bahwa yang menerima barang bantuan tersebut adalah istri dari Muji
Prayitno, pengurus perputakaan di Pekon Sukaraja.
8. Bahwa saksi tidak tahu secara mendetail jumlah buku dan mebelair
untuk bantuan perpustakaan di Pekon Sukaraja.
Muji Prayitno (Wiraswasta, pengelola perpustakaan di Pekon Sukaraja, Kec.Semaka), bersaksi
dibawah sumpah yang pada intinya menyatakan:

1. Bahwa pada waktu barang bantuan untuk perpustakaan tiba di Pekon


Sukaraja, saksi sedang tidak ada di tempat.
2. Bahwa saksi tidak menanda-tangani berita acara serah terima barang.
3. Bahwa jumlah barang bantuan untuk perpustakaan di Pekon Sukaraja
dari Kantor Pustardokda Pemkab Tanggamus adalah:
a. Buku-buku sekitar 2 (dua) kardus bekas mesin printer, sejumlah
176 buah buku.
b. 1 (satu) buah meja kerja biro diplitur.
c. 1 (satu) buah meja baca dari kayu diplitur.

d. 5 (lima) buah kursi baca dari kayu diplitur.


e. 1 (satu) buah rak buku kayu diplitur.
f. 1 (satu) buah almari catalog dari kayu diplitur.
g. 1 (satu) buah kerangka meja.
(atas keterangan saksi, Terdakwa menyatakan bahwa jumlah barang bantuan tersebut tidak sesuai
dengan DPA).
Pemeriksaan Saksi ke-3 (Kamis, 02 September 2010), Persidangan menghadirkan 3 (tiga)
orang saksi, yaitu:
Rudiana (PNS pada Pemkab Tanggamus), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya
menjelaskan:

1. Pada waktu peristiwa pidana terjadi, saksi menjabat sebagai Kasi Arsip
di Kantor Pustardokda; selain itu saksi juga sebagai Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan (PPTK) pada kegiatan Bimbingan Teknis Kearsipan
Pekon Kab. Tanggamus.
2. Bahwa sebagai PPTK, saksi ditunjuk oleh Kepala Kantor dengan
sebuah Surat Keputusan; (Jaksa menunjukkan sebuah salinan SK yang
berlaku surut).
3. Bahwa dana kegiatan tersebut terdapat pemotongan sebesar 30% yang
dilakukan oleh sdr. Syafria.
4. Besaran potongan tersebut + sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta
rupiah) untuk saving Kantor Pustardokda.
5. Bahwa kegiatan tersebut berjalan dengan baik; bahkan Kab.
Tanggamus diundang ke Jakarta terkait dengan kegiatan kearsipan
pekon tersebut.
6. Bahwa saksi tidak tahu dan tidak hadir dalam briefing yang membahas
tentang adanya potongan sebesar 30% terhadap dana kegiatan di
Kantor Pustardokda tahun anggaran 2008 karena tidak berada di
kantor.
7. Bahwa tentang adanya potongan tersebut, saksi mengetahui dari
sdr. Syafriadan sdr. Dahyan Effendi.

Susilo (Kepala Pekon Karang Rejo, Kec. Semaka), bersaksi dibawah sumpah yang pada
prinsipnya menjelaskan:

1. Bahwa sekitar akhir tahun 2008, Pekon Karang Rejo mendapatkan


Bantuan untuk Perpustakaan dari kantor Pustardokda; jumlah bantuan
yang berupa buku, berdasar catatan saksi adalah sejumlah 535
eksemplar.
2. Bahwa sebelumnya, Pekon Karang Rejo tidak pernah mengusulkan
atau memohon bantuan tersebut kepada Pemkab Tanggamus.
3. Tentang adanya informasi bantuan tersebut, saksi menyatakan
mendapat informasi setelah ditelpon oleh Kepala Kantor Pustardokda
(Terdakwa).
4. Bahwa yang mengantar barang bantuan dimaksud adalah sdr. Iwan
Darmawan dan sdr. Anas Kamalajaya.
5. Bahwa sekitar seminggu sebelum bantuan datang, saksi didatangi oleh
sdr. Iwan Darmawan dan sdr. Anas Kamalajaya untuk menandatangani kwitansi sebesar Rp. 17.200.000,- (Tujuh belas juta dua ratus
ribu rupiah) untuk kegunaan sewa bangunan Perpustakaan Pekon
Karang Rejo, namun yang diterima oleh saksi hanya sebesar Rp.
4.000.000,- (empat juta rupiah); saksi sempat menolak untuk menandatangani, namun karena dibujuk dan dikatakan tidak akan ada masalah,
maka saksi akhirnya menanda-tangani kwitansi tersebut.
6. Saksi menyatakan
perpustakaan.

tidak

menikmati

dana

untuk

sewa

gedung

7. Dana sewa bangunan tersebut kemudian saksi serahkan kepada yang


memilik bangunan untuk lokasi perpustakaan.
(atas keterangan saksi, Terdakwa menyatakan tidak pernah menelpon saksi terkait adanya
bantuan untuk perpustakaan di Pekon Karang Rejo, karena terdakwa tidak mengenal saksi apatah
lagi mengetahui nomor HP saksi; terhadap hal ini, saksi sempat memberikan keterangan berbelitbelit, dan akhirnya menyatakan lupa).
Dahyan Effendi (PNS di Pemkab Tanggamus), bersaksi dibawah sumpah yang pada pokoknya
menyatakan dan menjelaskan:

1. Waktu peristiwa pidana terjadi, saksi menjabat sebagai Kasi


Perpustakaan Kantor Pustardokda; selain itu, saksi juga ditunjuk

sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) pada kegiatan


Penyediaan perpustakaan pekon di kec. Semaka dan Bantuan sarana
dan prasarana Perpustakaan di Kec. Sumberejo, Pekon Argomulyo.
2. Sebagai PPTK, saksi diangkat berdasarkan SK Kepala Kantor
(Terdakwa) sekitar bulan Juni 2008 (Ketika ditunjukkan SK lain dari
Kepala Kantor sebelumnya yang mengangkat saksi sebagai Ketua
PPTK, saksi menyatakan tidak tahu)
3. Dalam proses penunjukan pihak ketiga (rekanan) yang akan
melaksanakan kegiatan; saksi menyatakan bahwa ada 3 (tiga) rekanan
yang datang ke kantor Pustardokda mengajukan diri untuk
melaksanakan kegiatan dimaksud, yaitu: CV. Gading Semesta, CV.
Pusaka Semaka dan CV. Padu Elang Semesta.
4. Bahwa sebagai PPTK, saksi bertanggung jawab dalam melaksanakan
kegiatan dengan baik secara fisik maupun administrasi keuangan untuk
mencapai sasaran yang ditetapkan.
5. Bahwa faktanya, yang mengerjakan semua kegiatan tersebut dan
mengelola dananya adalah sdr. Anas Kamalajaya.
6. Bahwa saksi tidak pernah memesan barang untuk kegiatan tersebut.
7. Bahwa yang membuat Surat kontrak dengan pihak ketiga (rekanan)
adalah sdr. Anas Kamalajaya.
8. Bahwa sebelum Terdakwa menjabat sebagai Kepala Kantor, kegiatankegiatan di Kantor Pustardokda memang sudah berjalan.
9. Perihal adanya briefing yang membahas tentang adanya potongan 30%
terhadap dana kegiatan. Saksi menyatakan pertemuan tersebut dihadiri
oleh Kasubbag TU (Mahmud Ali), Kasi (saksi dan Rudiana) Bendahara,
yakni sdr.Syafria dan sdr. Anas Kamalajaya.
10.
Bahwa pertemuan tersebut dikondisikan oleh sdr. Mahmud
Ali (Kasubbag TU).
11.Bahwa pertemuan tersebut khusus untuk membahas potongan 30%
terhadap dana kegiatan di Kantor Pustardokda periode tahun anggaran
2008.

12.
Bahwa dalam pertemuan tersebut, kepala kantor (Terdakwa)
menyatakan adanya potongan sebesar 30% terhadap dana kegiatan;
dalam pertemuan ini saksi hanya diam saja dan tidak berkomentar
apapun.
13.
Bahwa yang melakukan pemotongan sebesar 30% terhadap dana
kegiatan adalah sdr. Syafria (Bendahara).
14.
Bahwa kegiatan dikantor Pustardokda telah diperiksa oleh
inspektorat dan tidak ditemukan adanya masalah.
(atas keterangan saksi, Terdakwa menyatakan keberatan; karena ide untuk melakukan
pemotongan justru muncul dari bawahannya; termasuk saksi. Terdakwa berkata kepada saksi
Dahyan Effendi untuk berbicara jujur dan apa adanya).
Pemeriksaan saksi ke-4 (Senin, 20 September 2010), Persidangan menghadirkan seorang
saksi, yaitu:
Achmad Maulana (Pengelola Perpus Pekon Argomulyo Kec. Sumberrejo), bersaksi dibawah
sumpah yang pada intinya memberikan keterangan:

1. Bahwa pada tahun 2007 Pekon Argomulyo telah berdiri Perpustakaan


dan pada tahun tersebut mendapatkan buku sejumlah + 100 eks. buku
dari Kantor Litbang dan Arsip (sekarang Kantor Pustardokda). Bantuan
buku tersebut diserahkan oleh Sdr. Dahyan Effendi;
2. Bahwa sekitar Bulan April 2008, saksi diinformasikan oleh Sdr. Dahyan
Effendi tentang akan adanya bantuan buku dan meubelair kepada
Perpustakaan di Pekon Argomulyo dari Kantor Pustardokda;
3. Bahwa sekitar tanggal 11 Oktober 2008, Perpustakaan Pekon
Argomulyo menerima bantuan buku dan meubelair dari Kantor
Pustardokda berupa; 177 buah buku dari CV. PES dan 1 buah almari
catalog, 1 buah meja kerja, 1 buah meja baca, 5 buah kusi baca dan 1
rak untuk koleksi buku dari CV. Gading Kencana;
4. Adapun yang mengantar bantuan tersebut adalah seorang supir beserta
kernet; mereka menyerahkan berita acara untuk saya tanda-tangani;
berita acara tersebut ber-Kop CV. PES dan CV. Gading Kencana;
setelah saya tanda-tangani berita acara tersebut, supir dan kernet
langsung pergi.

5. Bahwa setelah mendapat bantuan tersebut, saksi beberapa kali


dikejar-kejar oleh LSM, lalu saksi menelpon sdr. Dahyan; dan saudara
Dahyan menyatakan agar orang LSM tersebut langsung saja temui
dirinya.
Pemeriksaan Saksi ke 5 (Kamis, 30 September 2010), Pemeriksaan di persidangan
menghadirkan 3 (tiga) orang saksi, yaitu:
Iwan Darmawan (Rekanan, CV. Pusaka Semaka), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya
menyatakan:

1. Mengelola kegiatan
kec. Semaka.

pengadaan

buku

di

Pekon

Karang

Rejo,

2. Sebelum mendapatkan kegiatan, sempat mengunjungi tersangka


bersama sdr. Sukri untuk bersilaturahmi dan menawarkan kepada
tersangka untuk berlangganan Majalah Ombusdmen; pada pertemuan
ini, saksi ditawarkan oleh tersangka untuk mengelola kegiatan buku di
Kec. Semaka dengan Pagu Rp. 50 juta; kegiatan ini ditawarkan kepada
saksi, karena saksi merupakan warga Kec. Semaka; atas tawaran ini,
saksi menerima kegiatan dimaksud.
3. selanjutnya saksi menemui sdr. Anas Kamalajaya, kemudian sdr. Anas
memberikan daftar buku sejumlah 757 eks. yang akan dibeli kepada
saksi.
4. selanjutnya saksi memesan buku tersebut ke bandarlampung, dan
memberikan uang muka sebesar Rp. 5 juta kepada penjual.
5. beberapa hari setelah memesan buku, saksi bertemu dengan
tersangka; kemudian tersangka mengatakan: yang 30% langsung
berikan kepada saya ya, saksi sempat bingung dan menolak, namun
selanjutnya terdakwa berkata kalau kamu tidak mau, si Roni mau
mengerjakan kegiatan ini.
6. kemudian,
beberapa
hari
berikutnya,
saksi
bersama
sdr. Sukri mengunjungi rumah tersangka untuk melobby agar kegiatan
tersebut tidak di potong 30%. Setelah bertemu, terdakwa menyatakan
ya sudah, 25% saja, jangan ditawar lagi.
7. untuk kegiatan tersebut, saksi tidak pernah menanda-tangani kontrak
termasuk menanda-tangani faktur pajak, karena saksi meminjam
perusahan milik sahabatnya. Berkas-berkas perusahaan tersebut

diserahkan saksi kepada sdr. Anas, selanjutnya saksi tidak tahu proses
berikutnya.
8. setelah kegiatan, saksi menerima langsung pembayaran yang ditransfer
melalui rekeningnya di Bank Lampung.
9. tak lama setelah pencairan, saksi ditelpon oleh terdakwa untuk
menyerahkan uang sejumlah Rp. 12,5 Juta di sebuah rumah makan;
kemudian saksi menemui terdakwa dan memberikan uang tersebut.
10.
buku-buku yang dibeli saksi sejumlah 757 eks. langsung
diserahkan kepada sdr, Anas di kantor Pustardokda; selanjutnya, sdr.
Anas meminta kepada saksi agar menemaninya untuk menyerahkan
buku tersebut ke Perpus Pekon Karang Rejo.
11.Bahwa yang mengerjakan seluruh dokumen kegiatan adalah sdr. Anas;
untuk hal ini, saksi memberi uang kepada sdr. Anas sebesar Rp. 500
ribu sebagai uang jasa.
12.
Menurut saksi, jangka waktu kegiatan dari proses pertemuan
dengan terdakwa hingga pencairan- memakan waktu sekitar satu bulan.
13.
perihal pemberian uang sewa untuk gedung perpustakaan, saksi
tidak tahu; saksi hanya menemani sdr. Anas untuk bertemu dengan sdr.
Susilo (kepala Pekon Karang rejo).
(tanggapan terdakwa: menyatakan sebagian besar keterangan saksi adalah bohong, karena; (a)
terdakwa tidak pernah menawarkan kegiatan kepada saksi, (b) tidak pernah membicarakan
potongan sebesar 30% - 25%, (c) pada pertemuan dengan saksi dan sdr. Sukri, saksi tidak
menawarkan majalah; saksi pada pertemuan tersebut justru mengeluh karena sebagai Tim
Pemenangan Pasangan Bambang-Sujadi, sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan/proyek)
Sukri Rais (Wiraswasta), bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya menerangkan:

1. Bahwa benar, saksi bersama sdr. Iwan Darmawan datang menemui


Terdakwa dikantornya untuk bersilaturahmi.
2. Bahwa dalam pertemuan tersebut tidak ada perbincangan perihal
penawaran majalah oleh sdr. Iwan.
3. Bahwa pada pertemuan tersebut, terdakwa meminta tolong kepada
saksi dan sdr. Iwan darmawan untuk membelikan sejumlah buku.

4. Bahwa perihal potongan 30%, saksi mengetahui dari keterangan sdr.


Iwan Darmawan.
5. Bahwa sekitar 1 atau 2 bulan setelah pertemuan tersebut, saksi
bersama sdr. Iwan Darmawan datang ke rumah Terdakwa; tetapi
terdakwa tidak tahu perihal perbincangan yang dilakukan oleh sdr. Iwan
Darmawan dengan Terdakwa.
(Tanggapan Terdakwa; bahwa tidak benar Terdakwa meminta tolong kepada saksi untuk
membeli sejumlah buku; pada pertemuan tersebut justru saksi sempat mengeluh bahwa sampai
saat ini belum mandapatkan pekerjaan/proyek)
Anas Kamalajaya (PNS di Kantor Pustardokda Kab. Tanggamus), bersaksi dibawah sumapah
yang pada intinya memberikan keterangan:

1. Pada saat peristiwa pidana terjadi, Saksi berposisi sebagai Pembantu


PPTK kegiatan Bantuan Sarana dan prasarana perpustakaan pekon
dan sebagai Pembantu Bendahara kegiatan Penyediaan perpustakaan
pekon.
2. Bahwa benar saksi yang membuat daftar sejumlah 757 eks. Buku yang
akan dibeli untuk kegiatan pengadaan buku di Pekon Karang Rejo.
3. Bahwa benar sdr. Iwan menemui saksi untuk menanyakan perihal
kegiatan pengadaan buku; selanjutnya saksi dipanggil oleh terdakwa
yang menanyakan perihal ada atau tidak kegiatan untuk sdr. Iwan
Darwaman; kemudian saksi menyatakan kegiatan di Pekon Karang
Rejo Kec. Semaka belum ada rekanan, selanjutnya kegiatan tersebut
diberikan kepada sdr. Iwan Darmawan.
4. Bahwa saksi tidak mengikuti perihal pertemuan yang membahas
potongan +30% terhadap dana kegiatan.
5. Bahwa benar saksi yang membuat seluruh dokumen kegiatan atas
perintah Ketua PPTK (Dahyan Effendi) dan Terdakwa.
6. Bahwa benar saksi yang menerima dan memeriksa sejumlah 757 eks.
Buku dari sdr. Iwan Darmawan.
7. Bahwa yang mengantar buku tersebut ke Perpustakaan di Pekon
Karang Rejo adalah sdr. Iwan Sendiri.

8. perihal dana Rp. 4 juta untuk sewa gedung perpustakaan (anggaran


sebenarnya + Rp. 17 Juta), saksi diberi oleh sdr. Syafria untuk
diserahkan kepada sdr. Susilo (kepala pekon karang rejo).
9. Bahwa sdr. Susilo sempat menolak uang sewa tersebut karena tidak
sesuai dengan kwitansi yang akan ditanda-tanganinya; selanjutnya sdr.
Susilo minta tambah Rp. 1 Juta; setelah menelpon Terdakwa, kemudian
saksi memberi tambahan Rp. 1 Juta kepada sdr. Susilo.
10.
Bahwa sisa dari angaran uang sewa tersebut diserahkan saksi
kepada Terdakwa dan Ketua PPTK (Dahyan Efendi); saksi sendiri
mendapat bagian +Rp. 1 Juta.
11.Bahwa benar yang menunjuk CV. Padu Elang Semesta sebagai
rekanan kegiatan adalah Kepala Kantor sebelumnya (sdr. Hamdan).
12.
Untuk CV. Gading Kencana; saksi tidak tahu siapa yang
menunjuk rekanan tersebut.
13.
Bahwa benar, pada era Kepala Kantor sebelumnya sempat ada
pencairan dana kegiatan; tetapi saksi tidak mengetahui untuk kegiatan
apa.
14.
Bahwa saksi mendapat kuasa dari rekanan (CV. PES dan CV.
Gading Kencana) untuk mencairkan dana kegiatan, selanjutnya dari
pencairan tersebut diambil oleh sdr. Syafria sebesar 30%.
15.
Saksi
melakukan
dikejar deadline pencairan.

pencairan

dana

kegiatan;

karena

(Terdakwa membantah sebagian besar keterangan saksi. Terdakwa menyatakan; (a) tidak pernah
memanggil saksi terkait pekerjaan yang diberikan kepada sdr. Iwan Darmawan; justru saksi yang
menghadap kepada Terdakwa perihal kegiatan yang dapat dikerjakan oleh sdr. Iwan Darmawan,
(b) tidak pernah memerintahkan saksi untuk membuat semua dokumen terkait kegiatan di Kantor
Pustardokda, dan (c) Terdakwa tidak pernah ditelpon saksi terkait tambahan uang sewa gedung
di Pekon Karang Rejo yang akan diberikan kepada sdr. Susilo).
Pemeriksaan saksi ke 6 (Kamis, 07 Oktober 2010), Persidangan memeriksa 2 (dua) orang
saksi, yaitu:
Syafria (PNS di Kantor Pustardokda Kab. Tanggamus), bersaksi dibawah sumpah yang pada
pokoknya memberikan keterangan sebagai berikut:

1. Pada saat peristiwa pidana terjadi, Saksi berposisi sebagai Bendahara


Pengeluaran di Kantor Pustardokda Kab. Tanggamus.
2. Tugas saksi sebagai Bendahara Pengeluaran salah satunya adalah
melakukan pencatatan (pembukuan) terhadap setiap uang masuk dan
uang keluar yang dikelola oleh Kantor Pustardokda.
3. Bahwa saksi memang melakukan pemotongan sebesar 30% untuk
kegiatan administrasi dan belanja modal di Kantor Pustardokda.
4. Untuk dana kegiatan belanja modal; setelah pencairan, saksi
melakukan pemotongan 30% setelah dipotong pajak; selanjutnya
setelah diporong, dana kegiatan tersebut diserahkan kepada rekanan
(CV. PES dan CV. Gading Kencana).
5. Bahwa yang melakukan pencairan dana kegiatan adalah sdr. Anas,
saksi hanya menemani sdr. Anas dalam melakukan pencairan.
6. Bahwa sdr. Anas yang menyerahkan dana kegiatan kepada rekanan
(CV. PES dan CV. Gading Kencana).
7. Bahwa potongan yang dilakukan oleh saksi adalah bersumber dari: (a)
dana administrasi kegiatan + Rp. 6,5 Juta (kwitansi terlampir), (b) dana
kegiatan Bimtek + Rp. 10 Juta, dan (c) dana kegiatan pengadaan buku
(CV. PES) dan pengadaan meubelair (CV. Gading Kencana) + Rp. 35
Juta (kwitansi terlampir).
8. Bahwa semua dana hasil potongan tersebut diserahkan kepada
Terdakwa.
9. Bahwa dasar saksi melakukan pemotongan adalah karena sebelum
kegiatan berlangsung, sempat ada pertemuan yang dikondisikan oleh
Kasubbag TU (sdr. Mahmud); pertemuan tersebut dihadiri oleh para
Kasi; yang membuka acara pertemuan tersebut adalah sdr. Mahmud;
pada pertemuan tersebut saksi mendengar dari Terdakwa bahwa akan
dilakukan potongan sebesar 30%terhadap dana administrasi dan dana
belanja modal kecuali untuk honorer; dana tersebut digunakan untuk
setoran ke atas.
10.
Bahwa dana hasil potongan kegiatan belanja modal
sebesar + Rp. 35 Juta (kwitansi terlampir), bersumber dari; (a)
Pengadaan buku (CV. PES) dengan pagu + Rp. 49 Juta, dan (b) 2 (dua)

kegiatan pengadaan meubelair (CV. Gading Kencana) dengan Pagu


masing-masing + Rp. 36 Juta dan + Rp. 34 Juta.
11.Bahwa untuk kegiatan di kantor pustardokda periode tahun 2008,
sebelum terdakwa menjabat sebagai kepala kantor, memang ada
kegiatan yang sudah berlangsung; bahkan saksi mengetahui adanya
pencairan dana kegiatan + Rp. 17 Juta untuk pembelian meubelair, tapi
saksi tidak tahu secara persis pencairan tersebut untuk kegiatan yang
mana.
12.
Bahwa seluruh kegiatan sudah diaudit oleh inspektorat Kab.
Tanggamus dan tidak ada masalah.
(Tanggapan Terdakwa; (a) Terkait dengan kwitansi sebesar + 35 Juta, Terdakwa menyatakan
bahwa disodori saksi kwitansi kosong untuk ditanda-tangani, selain itu Terdakwa juga
menanyakan kepada saksi apakan dana untuk BPKP, Inspektorat dan Uang kolang-kaling
(THR lebaran) sudah disisihkan, dan (b) menanggapi adanya pertemuan yang membahas
untuk pemotongan sebesar 30% terhadap dana kegiatan; Terdakwa mengharap saksi agar
berkata jujur, karena yang membuka wacana potongan 30% adalah dari para bawahannya).
Diman (Rekanan, Wakil Direktur CV. Gading Kencana), bersaksi dibawah sumpah yang
pada intinya menyatakan:

1. Bahwa benar CV. Gading Kencana melaksanakan kegiatan pengadaan


meubelair dari kantor litbang (sekarang kantor Pustardokda).
2. Bahwa kegiatan tersebut ditawarkan oleh sdr. Dahyan Effendi kepada
saksi; pada waktu menawarkan kegiatan, sdr. Dahyan Effendi ditemani
oleh sdr. Anas Kamalajaya.
3. Pada saat menawarkan, sdr. Dahyan Effendi menunjukan daftar
meubelair yang akan dibuat dengan Pagu total + Rp. 70 Juta rupiah.
4. Bahwa sdr. Dahyan Effendi datang menawarkan kegiatan kepada saksi
pada tanggal 22 April 2008; setelah mempelajari daftar pengadaan
meubelair, saksi menyanggupi untuk mengerjakannya dalam tempo 2-3
bulan; dan pada saat itu juga sdr. Dahyan Effendi memberikan uang
muka sebesar Rp. 9,5 Juta.
5. Bahwa untuk kegiatan pengadaan meubelair tersebut, saksi menandatangani 2 (dua) buah kontrak yang berbeda;

6. Bahwa sebagai pendidik, saksi menyatakan menerima kegiatan


tersebut tidak semata-mata mengharap keuntungan, tetapi lebih
sebagai media pembelajaran untuk anak didiknya.
7. Bahwa semua proses pengerjaan meubelair dilakukan di SMK 1 Gading
Rejo.
8. Bahwa setelah pengerjaan selesai; saksi tidak langsung dapat bayaran,
karena menurut sdr. Dahyan belum bisa melakukan pencairan dan
saksi disuruh untuk menyiapkan dokumen perusahaan.
9. Bahwa saksi hanya menerima pembayaran sebesar + Rp. 48 Juta;
saksi sempat protes, namun menurut sdr. Anas dana kegiatan tersebut
memang sudah dipotong dari atas.
10.
Bahwa dari hasil pengerjaan meubelair tersebut, saksi masih
memperoleh keuntungan + Rp. 3 Juta.
(Tanggapan terdakwa: Terdakwa sama sekali tidak tahu proses pemesanan sampai pencairan
untuk kegiatan yang dilaksanakan oleh CV. Gading Kencana).
Pemeriksaan saksi ahli (Kamis, 14 Oktober 2010)
Persidangan memeriksa seorang saksi ahli dari Kantor Inspektorat Kab. Tanggamus, yaitu
sdr. Muhammad Noer, S E., bersaksi dibawah sumpah yang pada intinya menyatakan:

1. Bahwa setiap kegiatan di Satuan Kerja harus sesuai dengan DPA


(Dokumen Pelaksana Anggaran).
2. Bahwa wewenang Kepala Kantor dalam suatu kegiatan, antara
lain Menunjuk PPTK dan mengajukan anggaran melalui Bendahara
pengeluaran.
3. Bahwa anggaran Satker tidak boleh untuk membiayai kegiatan yang
tidak tercantum dalam DPA, karena hal ini melanggar Pasal 122 ayat (9)
Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
4. Bahwa potongan terhadap anggaran kegiatan tidak dibenarkan.
5. Bahwa saksi telah memeriksa pelaksanaan kegiatan Kantor
Pustardokda pada tahun 2008 dengan hasil baik.

6. Bahwa lembaga Inspektorat tidak berwenang untuk menentukan


kerugian negara.
Pemeriksaan Terdakwa (Rabu, 27 Oktober 2010)
Pada pemeriksaan ini, Terdakwa Drs. Abadi Indo, M.M., pada prinsipnya memeberikan
keterangan sebagai berikut:

1. Bahwa tidak ada pertemuan khusus yang membicarakan perihal


pemotongan untuk dana saving kantor; Pertemuan tersebut
senyatanya diagendakan untuk membicarakan kegiatan Lomba
Pekon, termasuk mencari peluang dana untuk kegiatan tersebut;
karena kegiatan Lomba Pekon tidak ada anggarannya; setelah selesai
pertemuan, saksi Dahyan Effendi menyatakan adanya kebiasaan di
kantor Pustardokda untuk memotong dana kegiatan sebesar 35% yang
dialokasikan sebagai dana saving kantor;
2. Bahwa kegiatan yang disangkakan adanya pemotongan dari Terdakwa,
pada kenyataannya sudah berlangsung sebelum Terdakwa menjabat
sebagai kepala kantor;
3. Bahwa Terdakwa tidak pernah menunjuk rekanan untuk melaksanakan
kegiatan;
4. Bahwa Terdakwa menandatangani kontrak dengan rekanan; namun
tidak pernah bertemu dengan rekanan; semua dokumen telah disiapkan
oleh saksi Anas Kamalajaya;
5. Bahwa sewaktu Terdakwa menjabat sebagai Kepala Kantor, faktanya
proses pengadaan sudah berlangsung;
6. Bahwa mulanya perkara ini muncul, sepengetahuan Terdakwa karena
adanya laporan dari LSM LIRA yang mengatakan terdapat kegiatan
fiktif; namun entah mengapa setelah proses hukum berjalan, berubah
menjadi dugaan pemotongan;
7. Bahwa terdakwa hanya menerima laporan dari saksi Syafria selaku
Bendahara Pengeluaran perihal penggunaan dana saving kantor;
8. Bahwa Terdakwa tidak pernah menawarkan kegiatan kepada Saksi
Iwan Darmawan, karena faktanya Saksi Iwan Darmawan dan Saksi
Sukri datang kepada Terdakwa dan mereka mengeluh: sebagai Tim
Sukses Bambang-Sujadi belum mendapatkan pekerjaan; lalu Terdakwa

menyarankan mereka untuk menghubungi saksi Anas Kamalajaya


perihal ada tidaknya kegiatan di Kantor Pustardokda; proses berikutnya
Terdakwa tidak mengetahui;
9. Bahwa setelah kegiatan selesai, terdakwa di telpon sdr. Iwan
Darmawan; selanjutnya terdakwa bertemu dengan saksi Iwan
Darmawan; pada pertemuan ini Iwan Darmawan menyerahkan amplop
kepada terdakwa; terdakwa lupa jumlah uang dalam amplop tersebut;
10.
Bahwa Terdakwa tidak pernah memerintahkan saksi Syafria untuk
melakukan pemotongan terhadap dana kegiatan.
11.Bahwa benar inspektorat telah memeriksa seluruh kegiatan di kantor
Pustardokda dan hasilnya tidak bermasalah.
III. RELEVANSI KETERANGAN SAKSI-SAKSI DENGAN PERISTIWA DAN
PERBUATAN PIDANA YANG DITUDUHKAN KEPADA TERDAKWA
Majelis hakim yang kami banggakan.
Dari Surat Dakwaan JPU serta keterangan saksi-saksi dimuka persidangan, menurut kami banyak
sekali terdapat kontradiksi yang berujung pada tidak adanya relevansi antara dakwaan,
keterangan saksi-saksi, serta perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan kepada Terdakwa.
Adapun beberapa kontradiksi yang ada dalam Surat Dakwaan dan juga yang terungkap di muka
persidangan adalah sebagai berikut:
1. Tentang pertemuan untuk melakukan potongan + 30% terhadap dana
Kegiatan Di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus.
Bahwa dalam uraiannya di Surat Dakwaan, Rekan JPU tampak sekali mengulang-ulang perihal
adanya pertemuan di ruangan Terdakwa; dimana dalam pertemuan tersebut -menurut JPUTerdakwa memberitahukan perihal pemotongan + 30% untuk setiap anggaran kegiatan terkecuali
honor terhadap Program kegiatan-kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, hal ini disampaikan Terdakwa kepada beberapa
orang bawahannya. Pertemuan ini, menurut analisis JPU dalam dakwaannya, merupakan
pengingkaran Terdakwa terhadap tugas-tugasnya sebagai Kepala Kantor Litbang, Perpustakaan
dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, sebagaimana yang tercantum
dalam ketentuan SK Bupati Kab. Tanggamus No: B-193/35/12/2008 yang mengatur tentang
tugas Terdakwa sebagai Pengguna Anggaran, yaitu:
- menyusun RKA SKPD;

- menyusun DPA SKPD;


- melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;
- melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
- melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
- melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
- mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang
telah ditetapkan;
- menanda-tangani SPM;
- mengelola hutang dan piutang yang menjadi tanggung-jawab SKPD yang dipimpinnya;
- mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang
dipimpinnya;
- menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;
- mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
- melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/ pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa
yang limpahkan oleh kepala daerah;
- bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris
daerah.
(Tugas-tugas dalam SK Bupati tersebut merupakan salinan dan pengembangan dariPasal 10
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah).
Secara logika, baik yang bersifat induksi maupun deduksi; analisis JPU sebagaimana tersebut
diatas memiliki kontradiksi yang terkait dengan hubungan antara pertemuan yang membahas
pemotongan + 30% untuk setiap anggaran kegiatan dengan pengingkaran Terdakwa terhadap
tugas-tugasnya. Secara sederhana, kontradiksi tersebut muncul dikarenakan:

1. JPU tidak menjelaskan perihal adanya hubungan kausalitas antara


pertemuan tersebut dengan kealpaan Terdakwa dalam menjalankan
tugasnya;
2. JPU tidak menggambarkan secara utuh tentang tugas-tugas apa saja
yang diingkari oleh Terdakwa sebagai akibat dari adanya pertemuan
dimaksud;

3. Apakah pertemuan dimaksud memiliki korelasi yang secara langsung


berhubungan dengan peristiwa pidana yang didakwakan kepada
Terdakwa?, terutama kaitannya dengan Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU No. 31
Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dari analisis JPU tersebut, tampak sekali bahwa JPU telah bertindak menurut caranya sendiri
dalam menilai suatu peristiwa; JPU secara gegabah telah menilai bahwa pertemuan tersebut
merupakan sebentuk tindakan sadar yang dilakukan oleh Terdakwa dalam rangka
mengingkari tugas-tugasnya; dan pertemuan tersebut, secara sepihak oleh JPU dianggap
sebagai stimulan utama yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa pidana. Sepertinya JPU
terlalu memaksakan kehendaknya yang secara jelas menganggap bahwa Pertemuan yang
membahas pemotongan + 30% tersebut adalah sebentuk Perbuatan Melawan Hukum yang
hanya dilakukan oleh Terdakwa. Dengan mengabaikan keterlibatan dari setiap orang lain
yang hadir dalam pertemuan dimaksud, seolah-olah JPU menerapkan pepatah tak ada rotan,
Abadi Indo pun jadi.
Menurut JPU dalam dakwaannya, pertemuan tersebut dihadiri oleh para Kasi (kepala Seksi)
yaitu saksi Dahyan Effendi, saksi Rudiana, Saksi Helpin Rianda, serta saksi Mahmud
Ali (Kasubbag TU), saksi Anas Kamalajaya, dan saksiSyafria (Bendahara Pengeluaran);
namun berdasar keterangan saksi yang terungkap dipersidangan tidak semua yang disebutkan
oleh JPU di atas hadir dalam pertemuan dimaksud, bahkan saksi Rudiana menyangkal
kehadirannya, saksi Anas Kamalajaya mengaku tidak ikut dalam pertemuan tersebut, dan
saksi Helpin Rianda tidak ada dalam daftar saksi yang diajukan oleh JPU dalam persidangan.
Dan perihal perintah terdakwa untuk melakukan pemotongan terhadap dana kegiatan
sebesar + 30%, masih menjadi hal yang meragukan. Untuk lebih mudah, kami akan
perbandingkan keterangan para saksi dan keterangan terdakwa perihal pertemuan tersebut dalam
bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel perbandingan keterangan para saksi dan terdakwa perihal pertemuan dan
perintah terdakwa untuk melakukan potongan dana kegiatan di kantor pustardokda
Saksi

Saksi

Mahmud Ali

Rudiana

Saksi
Dahyan
Effendi

Saksi

Terdakwa

Syafria

Abadi Indo

saksi menyatakan
mengikuti
pertemuan tersebut
dan mendengar
Terdakwa
mengatakan
adanya potongan
sebesar
30%terhadap dana
kegiatan untuk
digunakan sebagai
danasaving kantor,
kecuali honorarium
tidak ada potongan;
saksi mengikuti
pertemuan tersebut
diajak oleh
sdr.Rudiana dan
sdr. Dahyan
Effendi.

saksi tidak tahu dan


tidak hadir
dalam briefingyang
membahas tentang
adanya potongan
sebesar 30% terhadap
dana kegiatan di
Kantor Pustardokda
tahun anggaran 2008
karena tidak berada di
kantor;
tentang adanya
potongan tersebut,
saksi mengetahui dari
sdr.Syafria dansdr. Da
hyan Effendi.

pertemuan
tersebut
dikondisik
an oleh
sdr.Mahmu
d Ali;
dalam
pertemuan
tersebut,
kepala
kantor
(Terdakwa)
menyatakan
adanya
potongan
sebesar
30%
terhadap
dana
kegiatan;
dalam
pertemuan
ini saksi
hanya diam
saja dan
tidak
berkomenta
r apapun;
yang
melakukan
pemotongan
sebesar
30%
terhadap
dana
kegiatan
adalah
sdr. Syafria
.

pertemuan
dikondisikan oleh
Kasubbag TU (sdr.
Mahmud); pertemuan
tersebut dihadiri oleh
para Kasi; yang
membuka acara
pertemuan tersebut
adalah sdr. Mahmud
Ali; pada pertemuan
tersebut saksi
mendengar dari
Terdakwa bahwa
akan dilakukan
potongan sebesar
30%terhadap dana
administrasi dan dana
belanja modal
kecuali untuk
honorer; dana
tersebut digunakan
untuk setoran ke
atas.

Pertemuan
tersebut
senyatanya
diagendakan
untuk
membicarakan
kegiatan
Lomba
Pekon,
termasuk
mencari peluang
dana untuk
kegiatan
tersebut; karena
kegiatan Lomba
Pekon tidak ada
anggarannya;
setelah selesai
pertemuan,
saksiDahyan
Effendimenyata
kan adanya
kebiasaan di
kantor
Pustardokda
untuk
memotong dana
kegiatan sebesar
35% yang
dialokasikan
sebagai
danasaving kant
or.

Dari tabel di atas; tampak sekali banyak kontradiksi dari keterangan para saksi. Kontradiksi
tersebut antara lain:

1. Tidak jelasnya siapa inisiator dari pertemuan tersebut; walaupun dari


keterangan yang ada, patut diduga inisiator pertemuan tersebut adalah
saksiMahmud Ali.

2. Tidak satu saksi pun yang memastikan bahwa ada perintah yang jelas
dari terdakwa untuk melakukan potongan terhadap dana kegiatan,
bahkan menurut terdakwa; ide melakukan pemotongan tersebut berasal
dari saksi Dahyan Efendi.
000
2. Tentang orang yang melakukan (pleger) pemotongan + 30%
Terhadap dana kegiatan Di Kantor Litbang, Perpustakaan
dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus.
Dalam suatu peristiwa pidana yang didalamnya terdapat beberapa orang yang memiliki peranan
sehingga suatu peristiwa pidana tersebut dapat terjadi; pertanyaan yang mendasar untuk
menentukan suatu pertanggung-jawaban pidana dari orang-orang tersebut adalah: berapa besar
bagian seseorang untuk melakukan suatu tindak pidana?, atau sejak kapan dan sejauh mana
pengertian yang terkandung dalam istilah mengambil bagian itu?. Pertanyaan ini menjadi
penting, sebagaimana yang diungkap oleh E. Kanter dan S.R. Sianturi dalam bukunya Asasasas Hukum Pidana, penerbit Storia Grafika, halaman 339: karena istilah petindak/pelaku
(dader) selalu dikaitkan dengan unsur dari suatu tindak pidana. Selanjutnya, petindak/pelaku
(dader) tersebut dalam suatu peristiwa pidana terejawantah menjadi:

1. Orang yang melakukan (plegen, pleger);


2. Yang menyuruh melakukan (uitlokker, doen plegen);
3. Yang turut serta melakukan;
4. Yang mengerakkan (orang lain) untuk melakukan; dan
5. Yang membantu melakukan (mede plichtige).
Dalam peristiwa pidana yang didakwakan kepada terdakwa; JPU sangat jelas telah bertindak
menurut keinginannya sendiri, sehingga abai dalam menentukan kualitas pertanggung-jawaban
seseorang dalam suatu peristiwa pidana. Anggapan tersebut muncul dikarenakan dari sudut
pandang tindak pidana, peristiwa pidana yang diuraikan JPU dalam dakwaannya, termasuk yang
terungkap di persidangan, jelas sekali menunjukkan adanya orang lain yang seharusnya lebih
memiliki kualitas pertanggung-jawaban pidana dalam perkara ini. Fakta yang terungkap dalam
persidangan, terutama dari keterangan saksi, perihal siapa yang melakukan pemotongan + 30%
dana kegiatan dimaksud, untuk mudahnya dapat dilihat padatabel di bawah ini:
Tabel perbandingan keterangan para saksi dan terdakwa perihal
Yang melakukan (pleger) pemotongan Dana Kegiatan:

Saksi

Saksi

Rudiana

Susilo

dana
kegiatanBimtek terdapa
t pemotongan sebesar
30% yang dilakukan
oleh sdr.Syafria;
Besaran potongan
tersebut +sebesar Rp.
10.000.000,- (sepuluh
juta rupiah)
untuksaving Kantor
Pustardokda.

saksi didatangi
oleh sdr. Iwan
Darmawan dansdr
. Anas
Kamalajayauntuk
menanda-tangani
kwitansi sebesar
Rp. 17.200.000,untuk kegunaan
sewa bangunan
Perpustakaan
Pekon Karang
Rejo, namun yang
diterima oleh saksi
hanya sebesar Rp.
4.000.000,- .

Saksi Dahyan Efendi

yang melakukan
pemotongan sebesar
30% terhadap dana
kegiatan adalah
sdr. Syafria(Bendahara)
.

Saksi Anas

Saksi

Kamalajaya

Syafria

dana Rp. 4 juta


untuk sewa
gedung
perpustakaan
(anggaran
sebenarnya +Rp.
17 Juta), saksi
diberi oleh
sdr. Syafriauntu
k diserahkan
kepada sdr.
Susilo (kepala
pekon karang
rejo).

saksi
memang
melakukan
pemotongan
sebesar 30%
untuk
kegiatan
administrasi
dan belanja
modal di
Kantor
Pustardokda
.

Dari keterangan para saksi tersebut, dapat di analisis bahwa orang yang
melakukanpemotongan + 30% terhadap dana kegiatan Di Kantor Litbang, Perpustakaan dan
Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus, terutama untuk kegiatan
administrasi dan belanja modal, adalah saksi syafria, yang pada peristiwa pidana berlangsung
menjabat sebagai Bendahara Pengeluaran di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus; sebagai Bendahara Pengeluaran, saksi diangkat
oleh Sekretaris Daerah Kab. Tanggamus. Kemungkinan pelaku (pleger) pemotongan yang lain,
sebagaimana keterangan saksi susilo, adalah saksi Iwan Darmawan dan saksi Anas
Kamalajaya.
Selanjutnya, tentang isu pemotongan yang dilakukan oleh Terdakwa terhadap dana
kegiatan yang dikelola oleh Pihak Ketiga, yaitu CV. Pusaka Semaka, yang dalam hal ini
dilaksanakan oleh saksi Iwan Darmawan; dapat kita bandingkan dalam tabel keterangan saksi
dan terdakwa di bawah ini:

Saksi Iwan Darmawan

Saksi Sukri Rais

Terdakwa Abadi Indo

saksi datang menemui terdakwa untuk


silaturahmi dan menawarkan majalah;
berikutnya, saksi ditawarkan oleh
tersangka untuk mengelola kegiatan buku
di Kec. Semaka dengan Pagu Rp. 50 juta;
kegiatan ini ditawarkan kepada saksi,
karena saksi merupakan warga Kec.
Semaka; selanjutnya saksi menemui
sdr.Anas Kamalajaya, kemudian sdr.
Anas memberikan daftar buku
sejumlah 757 eks; selanjutnya, saksi
bertemu kembali dengan tersangka;
kemudian tersangka mengatakan: yang
30% langsung berikan kepada saya
ya, saksi sempat bingung dan
menolak, namun selanjutnya terdakwa
berkata kalau kamu tidak mau, si Roni
mau mengerjakan kegiatan ini;
beberapa hari berikutnya, saksi bersama
sdr. Sukrimengunjungi rumah tersangka
untuk melobby agar kegiatan tersebut
tidak di potong 30%. Setelah bertemu,
terdakwa menyatakan ya sudah, 25%
saja, jangan ditawar lagi; setelah
pencairan, saksi ditelpon oleh terdakwa
untuk menyerahkan uang sejumlah Rp.
12,5 Juta di sebuah rumah makan;
kemudian saksi menemui terdakwa dan
memberikan uang tersebut; jangka waktu
kegiatan dari proses pertemuan
dengan terdakwa hingga pencairanmemakan waktu sekitar satu bulan.

saksi bersama sdr. Iwan


Darmawan datang
menemui Terdakwa
dikantornya untuk
bersilaturahmi;
dalam pertemuan tersebut
tidak ada perbincangan
perihal penawaran
majalah oleh sdr. Iwan
Darmawan;
pada pertemuan tersebut,
terdakwa meminta tolong
kepada saksi dan sdr.
Iwan darmawan untuk
membelikan sejumlah
buku;
perihal potongan 30%,
saksi mengetahui dari
keterangan sdr. Iwan
Darmawan;
sekitar 1 atau 2 bulan
setelah pertemuan
tersebut, saksi bersama
sdr. Iwan Darmawan
datang ke rumah
Terdakwa; tetapi
terdakwa tidak tahu
perihal perbincangan
yang dilakukan oleh sdr.
Iwan Darmawan dengan
Terdakwa.

terdakwa menyatakan sebagian


besar keterangan saksi Iwan
Darmawan adalah bohong,
karena; (a) terdakwa tidak
pernah menawarkan kegiatan
kepada saksi, (b) tidak pernah
membicarakan potongan
sebesar 30% - 25%, (c) pada
pertemuan dengan saksi Iwan
dan sdr. Sukri, mereka justru
mengeluh karena sebagai Tim
Pemenangan Pasangan
Bambang-Sujadi, sampai saat
ini belum mendapatkan
pekerjaan/proyek;
setelah kegiatan selesai,
terdakwa di telpon sdr. Iwan
Darmawan; selanjutnya
terdakwa bertemu dengan saksi
Iwan Darmawan; pada
pertemuan ini Iwan Darmawan
menyerahkan amplop kepada
terdakwa; terdakwa lupa jumlah
uang dalam amplop tersebut.

Dari keterangan para saksi dan terdakwa dari tabel di atas, ada beberapa kontradiksi apabila kita
analisa lebih mendalam. Beberapa kontradiksi tersebut antara lain:

1. Motif dari saksi Iwan Darmawan menemui terdakwa seolah-olah hanya


untuk bersilaturahmi dan menawarkan majalah, faktanya: saksi justru
mengeluh karena sebagai Tim Sukses pasangan Bambang-Sujadi,
mereka belum mendapat pekerjaan/proyek; dan perihal menawarkan
majalah, keterangan saksi adalah bohong, hal ini dikuatkan dengan
keterangan saksi Sukri Rais;

2. Perihal pengadaan buku yang dilakukan oleh saksi Iwan Darmawan,


sebagaimana yang terungkap dipersidangan justru bermasalah; dalam
DPA jumlah yang seharusnya diadakan adalah sebanyak 1000 (seribu)
eksemplar, tetapi saksi Iwan Darmawan hanya mengadakan buku
sebanyak 757 (tujuh ratus lima puluh tujuh) eksemplar, dan yang
sampai ke lokasi pengadaan buku, sebagaimana keterangan
saksi Susilo, jumlah buku yang diterima oleh perpustakaan pekon
Sukaraja, Kec. Semaka adalah sebanyak 535 (lima ratus tiga puluh
lima) eksemplar;
3. Bahwa berdasar keterangan saksi Iwan Darmawan, durasi waktu dari
proses pertemuan dengan terdakwa sampai pencairan dana kegiatan
hanya memakan waktu selama 1 (satu) bulan, hal ini bertentangan
dengan keterangan saksi Sukri Rais yang menyatakan untuk proses
waktu bernegosiasi dengan terdakwa saja rentang waktu yang
dibutuhkan berkisar antara 1 (satu) sampai 2 (dua) bulan;
4. Tentang dana yang diberikan kepada terdakwa oleh saksi Iwan
Darmawansetelah kegiatan selesai, masih meragukan perihal jumlah
dan motif pemberiannya.
000
3. Tentang asumsi jumlah kerugian negara
Berdasar hitungan JPU.
Dalam Surat Dakwaannya, JPU secara subyektif menghitung sendiri dan menilai bahwa akibat
dari perbuatan terdakwa, negara dirugikan sebesar Rp. 64.639.710,- (enam puluh empat juta
enam ratus tiga puluh sembilan ribu tujuh ratus sepuluh rupiah) yang berasal dari:
1. berdasar kwitansi tertanggal 05 November 2008, Terdakwa menerima sejumlahRp.
6.960.000,- yang merupakan dana potongan pada kegiatan (admisistrasi) penyediaan
perpustakaan di Kec. Semaka;
2. berdasar kwitansi tertanggal 16 September 2008, Terdakwa menerima potongan dana kegiatan
sebesar + 30% yang seharusnya dibayar kepada pihak ketiga sebesar Rp. 35.982.000,3. berdasar lembar rincian penggunaan dan TU Bimbingan Kearsipan, Terdakwa menerima dana
potongan 30% sebesar Rp. 9.197.710,-;
4. untuk kegiatan yang dilakukan CV. Pusaka Semaka, Terdakwa melakukan pemotongan dan
menerima secara langsung sebesar 25% dari saksi Iwan Darmawan sebesar Rp.
12.500.000,-.

Dari hal di atas, yang perlu diketahui adalah: bahwa Dakwaan Jaksa Penuntut
Umum adalah dakwaan yang mengandung delik materil, di mana kerugian
negara haruslah dicantumkan secara konkrit dengan menyertakan hasil audit
oleh Lembaga yang sah menurut Undang-undang yaitu Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) tentang kerugian negara yang
dialami. Sedangkan hasil penghitungan sendiri yang dilakukan oleh
Kejaksaan Negeri Kota Agung cq. Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini,
menurut pendapat kami bukanlah lembaga yang berwenang untuk menilai
kerugian negara dalam kasus korupsi dan penilaian tersebut adalah tidak
berkekuatan hukum atau batal demi hukum.

Selain itu, dari keterangan para saksi, termasuk saksi ahli, tidak satu pun yang menyatakan
adanya kerugian negara terkait dengan program dan kegiatan pada Kantor Litbang, Perpustakaan
dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus pada tahun anggaran 2008
berdasar Perda No:02 tanggal 29 Januari 2008 terdapat program kegiatan-kegiatan yang dibiayai
APBD Kab. Tanggamus. Hal ini dapat kita lihat pada tabel keterangan saksi di bawah ini:
Saksi

Saksi Dahyan

Saksi

Saksi Ahli

Terdakwa

Rudiana

Efendi

Syafria

M. Noer, S.E.

Abadi Indo

kegiatan Bimtektersebu
t berjalan dengan baik;
bahkan Kab.
Tanggamus diundang
ke Jakarta terkait
dengan kegiatan
kearsipan pekon
tersebut.

kegiatan dikantor
Pustardokda telah
diperiksa oleh
inspektorat dan
tidak ditemukan
adanya masalah.

seluruh kegiatan
sudah diaudit
oleh inspektorat
Kab. Tanggamus
dan tidak ada
masalah.

saksi telah
memeriksa
pelaksanaan
kegiatan Kantor
Pustardokda pada
tahun 2008
dengan hasil
baik.

Bahwa benar
inspektorat telah
memeriksa
seluruh kegiatan
di kantor
Pustardokda dan
hasilnya tidak
bermasalah.

0004. Tentang argumentasi terdakwa yang hanya melanjutkan


Kebijakan Kepala Kantor Sebelumnya.
Pada dasarnya, ketika terdakwa menjabat sebagai Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip
(sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus pada tahun anggaran 2008, tepatnya
efektif bekerja pada bulan Juni 2008, kegiatan-kegiatan pada Tahun Anggaran tersebut sudah
berjalan; hal ini dibuktikan dengan adanya Surat Keputusan Kepala Kantor Litbang,

Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus sebelumnya,


yaitu sdr. Hamdan, S.H.. Surat Keputusan tersebut adalah:
1. SK Nomor: 910/25.b/14/2008 Tentang Penunjukan Pejabat Penatausahaan
Keuangan Tahun Anggaran 2008 tertanggal 06 Maret 2008;
2. SK Nomor: 910/25.c/14/2008 Tentang Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan dan
Pembantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Tahun Anggaran 2008 tertanggal
06 Maret 2008;
3. SK Nomor: 910/25.d/14/2008 Tentang Penunjukan Pembantu Bendahara Tahun
Anggaran 2008 tertanggal 06 Maret 2008; dan
4. SK Nomor: 910/25.a/14/2008 Tentang Panitia Pengadaan Barang dan Panitia
Pemeriksa Barang /Jasa Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip Kabupaten
Tanggamus Tahun Anggaran 2008.
(catatan: Keempat SK tersebut telah dihadirkan oleh terdakwa dalam persidangan).
Selain itu, yang menunjuk rekanan (CV. Padu Elang Semesta dan CV. Gading Kencana) adalah
Kepala Kantor sebelumnya. Bahkan, berdasar keterangan saksiSyafria, telah ada dana kegiatan
yang dicairkan sebesar + Rp. 17.000.000,- untuk kegiatan pengadaan meubelair (yang dalam hal
ini dikerjakan oleh CV. Gading Kencana). Namun tampaknya JPU mengabaikan fakta ini,
bahkan JPU bersikeras bahwa Kepanitiaan untuk kegiatan Kantor Litbang, Perpustakaan dan
Arsip Kabupaten Tanggamus Tahun Anggaran 2008 yang dilaksanakan oleh CV. Padu Elang
Semesta, CV. Gading Kencana dan CV. Pusaka Semaka berdasarkan Surat Keputusan (SK)
terdakwa, dan ketika SK tersebut hadir di persidangan, kejanggalan yang paling tampak dari SK
tersebut adalah berlaku surut. Dari fakta ini, jelas sekali adanya kemungkinan untuk
memojokan terdakwa, seolah-olah terdakwa adalah satu-satunya orang yang harus bertanggungjawab atas peristiwa pidana yang dituduhkan dalam dakwaan.
Untuk jelasnya, mari kita simak perbandingan dari keterangan para saksi dan terdakwa yang
terungkap di persidangan dalam tabel keterangan para saksi dan terdakwa di bawah ini:
Saksi Anas

Saksi

Saksi

Terdakwa

Kamalajaya

Syafria

Diman

Abadi Indo

Bahwa benar
yang menunjuk
CV. Padu Elang
Semesta sebagai
rekanan kegiatan
adalah Kepala
Kantor
sebelumnya
(sdr. Hamdan).

sebelum terdakwa
menjabat sebagai
kepala kantor,
memang ada
kegiatan yang
sudah berlangsung;
bahkan saksi
mengetahui adanya
pencairan dana
kegiatan +Rp. 17
Juta untuk
pembelian
meubelair.

sdr. Dahyan
Effendidatang
menawarkan kegiatan
pengadaan meubelair
kepada saksi pada
tanggal 22 April
2008; pada saat itu juga
sdr. Dahyan Effendi
memberikan uang muka
sebesar Rp. 9,5 Juta;

kegiatan yang disangkakan


adanya pemotongan dari
Terdakwa, pada kenyataannya
sudah berlangsung sebelum
Terdakwa menjabat sebagai
kepala kantor;

untuk kegiatan pengadaan


meubelair tersebut, saksi
menanda-tangani 2 (dua)
buah kontrak yang
berbeda;

Terdakwa menandatangani
kontrak dengan rekanan, namun
tidak pernah bertemu dengan
rekanan, semua dokumen telah
disiapkan oleh saksi Anas
Kamalajaya;

Terdakwa tidak pernah menunjuk


rekanan untuk melaksanakan
kegiatan;

sewaktu Terdakwa menjabat


sebagai Kepala Kantor, faktanya
proses pengadaan sudah
berlangsung;

Dari keterangan para saksi dan terdakwa dipersidangan sebagaimana yang terekam dalam tabel
di atas; dapat dipahami bahwa memang kegiatan yang dituduhkan dananya dipotong atas
perintah terdakwa pada dasarnya telah berjalan sebelum terdakwa menjabat. Secara sederhana,
keterangan dalam tabel tersebut dapat menjadi bukti petunjuk yang menjelaskan:

1. Bahwa Proses Penunjukan Langsung (PL) terhadap rekanan terhadap


kegiatan di KantorLitbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor
PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus tahun Anggaran 2008, selain CV.
Pusaka Semaka, telah dilakukan oleh Kepala Kantor Litbang,
Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab.
Tanggamus periode sebelum terdakwa menjabat, yaitu sdr. Hamdan,
S.H.;
2. Bahwa pencairan + Rp. 17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah)
sebagaimana yang diketahui oleh saksi Syafria, untuk kegiatan
pengadaan meubelair yang dilaksanakan oleh CV. Gading Kencana,
telah terjadi sebelum tanggal 22 April 2008, hal ini berdasar keterangan
saksi Diman yang telah menerima uang muka untuk pengadaan meubelair pada tanggal
tersebut di atas; dan pada tanggal tersebut terdakwa belum menjabat sebagai Kepala

Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor


PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus;

3. Bahwa saksi Diman pada tanggal 22 April 2008 menerima uang muka
untuk kegiatan pengadaan meubelair dari saksi Dahyan
Efendi sebesar Rp. 9.500.000,- (sembilan juta lima ratus ribu rupiah),
padahal dana yang cair untuk kegiatan dimaksud adalah + Rp.
17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah); dari fakta ini, patut diduga bahwa
saksi Dahyan Efendi secara sepihak telah melakukan manipulasi
terhadap dana tersebut;
4. Bahwa seluruh keterangan saksi Dahyan Efendi dalam persidangan ini
patut dikesampingkan, karena banyak sekali keterangannya yang
diduga palsudan bertentangan dengan keterangan saksi lain, antara
lain: dalam keterangannya saksi Dahyan Efendi menyatakan tidak
pernah memesan atau menawarkan pekerjaan kepada rekanan, namun
faktanya saksi Dahyan Efendi justru menawarkan pekerjaan kepada
saksi Diman, dan hal ini terjadi sebelum terdakwa menjabat sebagai
Kepala Kantor.
IV. ANALISA YURIDIS ATAS UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA
YANG DITUDUHKAN KEPADA TERDAKWA
Majelis Hakim yang mulya.
Rekan JPU yang kami hormati.
Serta para hadirin pengunjung sidang yang berbahagia.
Setelah mengurai sedemikian banyak fakta yang terungkap dipersidangan, maka tibalah saatnya
kami menanggapi risalah tuntutan yang disampaikan oleh rekan JPU. Dalam risalah tuntutannya,
kami melihat banyak sekali hal-hal atau fakta-fakta yang terungkap dipersidangan diabaikan oleh
JPU; keterangan-keterangan saksi yang terdapat dalam risalah tuntutan JPU tampaknya seragam
dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh penyidik kejaksaan, padahal
keterangan saksi yang memiliki kualitas pembuktian adalah keterangannya yang disampaikan
saat persidangan.
Dalam risalah tuntutannya, JPU sangat berkeyakinan bahwa terdakwa telah terbukti melanggar
dakwaan kedua sebagimana yang didakwakan kepada terdakwa, yaitu Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU
No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999, dengan
unsur-unsur:

1. Setiap orang;

2. dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi;
3. menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan;
4. yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Untuk lebih sistematis dalam menguraikan apakah benar terdakwa memang terbukti melakukan
perbuatan pidana dan telah memenuhi unsur-unsur sebagai mana tersebut diatas, maka kami
secara runut akan menjabarkan keterkaitan unsur-unsur tersebut dengan fakta-fakta yang
terungkap dipersidangan:
Ad. 1. unsur Setiap Orang;
Dalam sejarah pembentukan UU No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan UU No.
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tentang Perubahan atas UU No.
31 Tahun 1999, hal yang mendasar menjadi kajian adalah mengenai subjek hukum tindak pidana
korupsi. Pergantian atau perubahan UU Pemberantasan Korupsi sejak tahun 1960 sampai dengan
UU Nomor 20 tahun 2001 selalu memuat ketentuan yang menetapkan seorang pegawai negeri
atau mereka yang menduduki jabatan publik tertentu sebagai subjek hukum tindak pidana
korupsi (Prof. Romli Atmakusumah, dalam artikelnya di Hukumonline.com).
Dari rumusan di atas, secara eksplisit memang terdakwa memenuhi unsur setiap orang dalam
undang-undang dimaksud. Namun, untuk menentukan kualitas pertanggung-jawaban seseorang
secara pidana, tentunya perlu dikaitkan dengan peristiwa pidana serta perbuatan pidana yang
dilakukan oleh setiap orang dimaksud. Untuk menentukan hal ini, dalam konteks perkara yang
sedang dihadapi oleh terdakwa, maka perlu penjabaran lebih mendalam perihal sejauh mana
kualitas pertanggung-jawaban terdakwa atas perbuatan pidana yang dituduhkan kepadanya.
Unsur setiap orang dalam undang-undang tersebut sejajar dengan
istilah dader(petindak/pelaku pidana) dalam pengertian hukum pidana. Merujuk pada istilah
tersebut, bila dikaitkan dengan peristiwa pidana sebagaimana yang diuraikan JPU dalam
dakwaannya, maka akan muncul persoalan mengenai kualitas pertanggung-jawaban pidana dari
diri terdakwa. Hal ini terjadi karena terdakwa menjadi pelaku tunggal dari peristiwa pidana
yang melibatkan sedemikian banyak orang. Dari peristiwa pidana tersebut, sebagaimana telah
kami uraikan pada bagian II dan bagian III dalam pledoi ini, menjadi tidak jelas posisi dari diri
terdakwa dalam Surat Dakwaan sebagai apa, karena posisi sebagai apa dalam suatu
peristiwa pidana adalah hal yang menentukan pertanggung-jawaban pidana seseorang dihadapan
hukum.
Dalam dakwaan disebutkan bahwa terdakwa memerintah (menyuruh) saksisyafria untuk
melakukan pemotongan dana kegiatan sehingga menurut JPU- menimbulkan kerugian negara.
Pertanyaannya, apakah terdakwa (sebagai penyuruh doen plegen) dapat dipandang sebagai
petindak/pelaku (dader) jika terdakwa menyuruh seseorang yang justru memiliki kualitas
pertanggung-jawaban pidana dalam perkara ini. Argumentasi ini didasari atas posisi

saksi Syafria sebagai Bendahara Pengeluaran yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan
Sekretariat Daerah (Sekda) Kab. Tanggamus, bukan diangkat oleh terdakwa. Hal yang hampir
sama terkait dengan posisi pertanggung-jawaban saksi Dahyan Efendi, dalam keterangannya
menyatakan: sebagai PPTK, saksi bertanggung-jawab dalam melaksanakan kegiatan dengan baik
secara fisik maupun administrasi keuangan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan.
Dalam uraian fakta persidangan di atas, jelas sekali terdapat kekaburan posisi terdakwa sebagai
subyek hukum dalam peristiwa pidana yang didakwakan oleh JPU, apakah terdakwa
sebagai pleger, doen plegen, atau dader dalam kualifikasi lainnya. Selain itu, unsur setiap
orang memang hanya merupakan element delict dan bukanlah bestandeel delict (delik inti) yang
harus dibuktikan. Namun menurut hemat kami, unsur setiap orang harus tetap dihubungkan
dengan kualitas perbuatannya dalam suatu rangkaian peristiwa pidana.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kami berpendapat bahwa unsur setiap orang, Tidak
Terpenuhi.
Ad. 2. unsur dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi;

Memperhatikan rumusan mengenai menguntungkan diri sendiri atau orang


lain atau suatu korporasi yang merupakan kata kerja, maka dapat
dipastikan bahwa yang dimaksud itu adalah perbuatan aktif. Tujuan
menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi ialah suatu
kehendak yang ada dalam pikiran si pembuat yang ditujukan untuk
memperoleh suatu keuntungan (menguntungkan) bagi dirinya sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi. Sedangkan menurut Prof. Sudarto dalam
buku Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1977), halaman 142,
jika melihat unsur Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu badan yang sama terdapat pada UU Nomor 3 Tahun 1971 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengemukakan : Ini
merupakan unsur batin yang menentukan arah dari perbuatan
penyalahgunaan kewenangan dan sebagiannya. Adanaya unsur ini harus
pula ditentukan secara objektif dengan memperhatikan segala keadaan
lahir yang menyertai perbuatan tersangka.
Dari yang terperi di atas, maka ukuran yang paling logis untuk menilai apakah
suatu perbuatan memang memiliki tujuan menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi adalah memperhatikan keadaan lahir yang
menyertai pebuatan terdakwa. Keadaan lahir tersebut terhubung dengan halhal antara lain:
1. Apakah ada upaya yang aktif dari diri terdakwa untuk secara sadar
mengabaikan tugas dan wewenang yang melekat pada jabatannya;

2. Apakah perbuatan terdakwa mempengaruhi kinerja instansi yang


dipimpinnya sehingga berakibat buruk terhadap kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh instansi dimaksud;
3. Apakah ada penambahan yang cukup signifikan terhadap harta benda
dari diri terdakwa atas perbuatan yang dituduhkan kepadanya; dst.
Pada halaman 104 dalam risalah tuntutannya terkait dengan unsur ini, JPU
menguraikan bahwa terdakwa dalam keterangannya menyatakan menerima
uang sebesar Rp. 35.982.000,- (tiga puluh lima juta sembilan ratus delapan
puluh dua ribu rupiah) dari saksi syafria, kemudian uang tersebut terdakwa
serahkan lagi kepada saksi Syafria karena pada waktu itu ada lomba P3KSS,
dimana semua satker se Kabupaten Tanggamus dibebani untuk merehab
rumah. Dst.
sebelum kita uji uraian jaksa tersebut dengan keadaan lahir dari diri
terdakwa saat peristiwa tersebut terjadi, maka perlu kami sampaikan bahwa
dalam keterangan di persidangan, terdakwa tidak pernah menyatakan secara
jelas perihal jumlah uangyang katanya diserahkan oleh saksi Syafria.
Selain itu, dari peristiwa yang terekam oleh JPU dalam risalah tuntutan
tersebut, terdakwa tidaklah dapat dikategorikan sebagai orang yang memiliki
tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
karena:
1. Uang dari saksi Syafria tersebut tidak diambil oleh terdakwa;
2. Peruntukkan uang tersebut dialokasikan untuk merehab rumah
masyarakat yang kurang mampu;
3. Kebijakan alokasi dana untuk lomba P3KSS tersebut, secara khusus
bukanlah kebijakan dari terdakwa, melainkan kebijakan umum dari
Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus.
Bertolak dari hal tersebut, maka kami menilai bahwa unsur dengan tujuan menguntungkan diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi; Tidak Terpenuhi.

Ad. 3. unsur menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada


padanya karena jabatan atau kedudukan;
Untuk membuktikan terpenuhinya unsur ini, JPU dalam risalah tuntutannya secara khusus
bertitik-tolak pada SK Bupati Kab. Tanggamus No: B-193/35/12/2008 yang mengatur tentang
tugas Terdakwa sebagai Pengguna Anggaran, yaitu:

- menyusun RKA SKPD;


- menyusun DPA SKPD;
- melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;
- melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
- melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
- melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
- mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang
telah ditetapkan;
- menanda-tangani SPM;
- mengelola hutang dan piutang yang menjadi tanggung-jawab SKPD yang dipimpinnya;
- mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang
dipimpinnya;
- menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;
- mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
- melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/ pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa
yang limpahkan oleh kepala daerah;
- bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris
daerah.
(Tugas-tugas dalam SK Bupati tersebut merupakan salinan dan pengembangan dariPasal 10
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah).
Selanjutnya, JPU mengaitkan peristiwa dalam surat dakwaan dengan SK tersebut, yang pada
intinya menyatakan bahwa perbuatan terdakwa:

1. Melakukan pertemuan yang membahas potongan + 30% terhadap


dana-dana kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip
(sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus pada tahun
anggaran 2008;
2. Menerima uang dari saksi Syafria yang menurutnya uang tersebut hasil
dari potongan + 30% dana kegiatan;

3. Menerima uang dari saksi Iwan darmawan yang menurutnya uang


tersebut adalah keuntungan dari hasil kegiatan yang dikelola oleh
rekanan;
adalah sebentuk perbuatan yang menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan.
Analisis JPU di atas menurut kami sangatlah subyektif dan abai terhadap fakta-fakta yang
muncul di persidangan sebagaimana yang telah kami urai pada bagian IIIdalam pledoi ini, yaitu:

1. Bahwa pertemuan yang membahas potongan + 30% terhadap danadana kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus pada tahun anggaran 2008
secara implisit, berdasarkan keterangan saksi Dahyan Efendi,
saksi Rudiana, dan saksi Syafria, merupakan inisiatif dari
saksi Mahmud Ali;
2. Bahwa ide untuk melakukan pemotongan tersebut berasal dari
saksi Dahyan Efendi;
3. Bahwa orang yang melakukan pemotongan tersebut adalah
saksi Syafria. Selain itu, berdasarkan keterangan saksi Diman dan
saksi Susilo mereka menerima uang yang tidak utuh jumlahnya dari
saksi Anas Kamalajaya.
4. Bahwa penyerahan uang dari saksi Iwan Darmawan kepada terdakwa
tidak terkait dengan kegiatan-kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan
dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus pada
tahun anggaran 2008. Hal ini dikarenakan saat proses pemberian uang,
seluruh kegiatan di Kantor Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang
Kantor PUSTARDOKDA) Kab. Tanggamus telah selesai, baik kegiatan
fisik maupun kegiatan administrasi keuangan.
5. Bahwa pada faktanya, seluruh kegiatan di Kantor Litbang,
Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab.
Tanggamus tahun anggaran 2008, sudah berjalan sebelum terdakwa
menjabat sebagai Kepala Kantor; hal ini sesuai dengan keterangan
saksi Anas Kamalajaya, saksi Diman, saksiSyafria dan keterangan
terdakwa sendiri yang di sampaikan di persidangan.
Berdasar fakta-fakta yang terekam di atas, maka menurut kami unsur menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, Tidak
Terpenuhi.

Ad. 4. Unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau


perekonomian negara
Hukum tidak otomatis berperanan dalam pembangunan ekonomi. Untuk
dapat mendorong pembangunan ekonomi hukum harus dapat menciptakan tiga
kwalitas : predictability, stability, dan fairness. Tidak adanya
keseragaman, adanya kerancuan dan salah pemahaman mengenai keuangan
negara dan kerugian negara telah mendatangkan ketidakpastian hukum dan
akhirnya menghambat pembangunan ekonomi (E. Rajagukguk, dalam makalah Pengertian
Keuangan dan Kerugian Negara).

Dengan dasar pemahaman tersebut, dapatlah dikemukakan sesungguhnya


menetapkan suatu perbuatan tindak pidana korupsi sebagai perbuatan yang
merugikan negara tidak hanya dapat disandarkan pada hakikat mengikuti
rumusan perbuatan formalnya, yaitu dengan melakukan perbuatan
menguntungkan diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi. Akan tetapi
yang lebih penting pada rumusan materiilnya, yaitu merugikan negara. Aspek
kerugian negara inilah yang selalu kemudian diindentikan dengan keuangan
negara.
Selanjutnya, untuk mengklarifikasi argumentasi JPU di Surat Tuntutannya
perihal kata dapat dalam rumusan unsur kerugian negara tersebut, kami
kutip pertimbangan dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dimaksud
oleh JPU.Pertimbangan Putusan MK tersebut menyatakan:Menimbang
bahwa dengan asas kepastian hukum (rechtszekerheid) dalam melindungi
seseorang, hubungankata dapat dengan merugikan keuangan negara
tergambarkan dalam dua hubungan yang ekstrim: (1) nyata-nyata merugikan
negara atau (2) kemungkinan dapat menimbulkan kerugian. Hal yang terakhir
ini lebih dekat dengan maksud mengkualifikasikan delik korupsi menjadi delik
formil. Diantara dua hubungan tersebut sebenarnya masih ada hubungan
yang belum nyata terjadi, tetapi dengan mempertimbangkan keadaan
khusus dan kongkret disekitar peristiwa yang terjadi, secara logis dapat
disimpulkan bahwa suatu akibat yaitu kerugian negara yang terjadi. Untuk
mempertimbangkan keadaan khusus dan konkret sekitar peristiwayang
terjadi, yang secara logis dapat disimpulkan kerugian negara terjadi atau tidak

terjadi, haruslah dilakukan oleh ahli dalam keuangan negara,


perekonomian negara, serta ahli dalam analisis hubungan perbuatan
seseorang dengan kerugian.
Dari pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, maka sangat
jelaslah bahwa perhitungan tentang Kerugian Negara yang dilakukan oleh
Kejaksaan Negeri Cq. Jaksa Penuntut Umum adalah sebentuk tindakan yang
subyektif dan sangat gegabah, karena untuk menyimpulkan kerugian negara
sebagai akibat dari perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa haruslah
dilakukan oleh ahli dalam keuangan negara, perekonomian negara, serta
ahli dalam analisis hubungan perbuatan seseorang dengan
kerugian. Atau dengan kata lain, perhitungan tersebut harus dilakukan oleh
pejabat yang berkompeten, yaitu Badan Periksa Keuangan Republik Indonesi
(BPK RI), hal ini sesuai dengan aturan di dalam UUD 1945 pasal 23E ayat (1)
Jo. UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara menyatakan Lembaga
yang berwenang untuk melakukan audit atau pemeriksaan terhadap
keuangan dan kekayaan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
dalam Undang-Undang tersebut dengan tegas dikatakan, hanya satu badan
yang bebas dan mandiri untuk melakukan pemeriksaan keuangan dan
kekayaan negara.
Selain itu, hal-hal yang patut dipertanyakan terhadap kesimpulan JPU yang
menyatakan adanya kerugian Negara sebesar + Rp. 64.639.710,- (enam
puluh empat juta enam ratus tiga puluh sembilan ribu tujuh ratus sepuluh
rupiah) dalam perkara ini, antara lain:
1. Metode apakah dalam sistem akuntasi yang digunakan oleh JPU dalam
menghitung jumlah kerugian negara;
2. Apakah keterangan saksi Ahli dari JPU, yaitu sdr. Muhammad Noer,
S.E.yang menyatakan telah memeriksa seluruh kegiatan di Kantor
Litbang, Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA)
Kab. Tanggamus tahun anggaran 2008, dan dari pemeriksaan
tersebut tidak ditemukan adanya masalah; dijadikan oleh JPU
sebagai rujukan untung menghitung jumlah kerugian negara dalam
perkara ini?. Bila keterangan saksi ahli tersebut tidak dijadikan rujukan,
maka apa yang mendasari JPU berkesimpulan telah ada kerugian
negara sebesar + Rp. 64.639.710,- (enam puluh empat juta enam ratus
tiga puluh sembilan ribu tujuh ratus sepuluh rupiah);
3. Apakah uang dari saksi Iwan Darmawan yang menurut dakwaan JPU
sebesar + Rp. 12.500.000,- (dua belas juta lima ratus) dapat
dikualifikasikan sebagai uang negara?, karena faktanya, menurut
keterangan saksi Iwan Darmawan, uang tersebut adalah keuntungan
perusahaan CV. Pusaka Semaka, yang jelas-jelas
merupakan perusahaan swasta.

Terkait dengan dakwaan JPU, yang perlu dipahami adalah bahwa Dakwaan
Jaksa Penuntut Umum adalah dakwaan yang mengandung delik materil, di
mana kerugian negara haruslah dicantumkan secara konkrit dengan
menyertakan hasil audit oleh Lembaga yang sah menurut Undang-undang
yaitu Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) tentang
kerugian negara yang dialami. Sedangkan hasil penghitungan dari Kejaksaan
Negeri Kota Agung Cq. Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini, menurut
pendapat kami bukanlah lembaga yang berwenang untuk menilai kerugian
negara dalam kasus korupsi dan penilaian tersebut adalah tidak berkekuatan
hukum atau batal demi hukum.
Berdasar uraian di atas, maka unsur yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara, Tidak Terpenuhi.
V. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN
Majelis hakim yang bijaksana.
Rekan JPU yang sangat kami cintai.
Para pengunjung persidangan yang berbahagia.
Dari sedemikan banyak fakta persidangan yang telah kami susun, urai, dan
paparkan dalam pledoi ini, maka kami, Tim Penasehat Hukum dari terdakwa
Drs. Abadi Indo, M.M. berkesimpulan:
1. Bahwa dari peristiwa pidana yang tercatat dalam Surat Dakwaan, bila
dihadapkan dengan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, maka
terdapat sedemikian banyak kontaradiksi perihal alat bukti dan
keterangan para saksi yang saling bertentangan, sehingga kesimpulan
JPU yang menyatakan terdapat kesesuaian antara keteranganketerangan saksi dan alat bukti merupakan simpulan yang sumir dan
sangat subyektif;
2. Bahwa sebagaimana lazimnya setiap perkara pidana haruslah
didasarkan kepada pembuktian dengan menggunakan alat bukti materil
tentang apakah ada suatu perbuatan pidana atau tidak, karena cara
demikian merupakan cara yang dianut secara universal oleh seluruh
Hukum Acara Pidana. Dari proses pemeriksaan di persidangan, JPU
tidak mampu menghadirkan alat bukti materiil berupa hasil audit yang
memperhitungkan kerugian negara dari perkara ini, sehingga sangat
jelas bahwa unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara yang merupakan bestandeel delict (delik inti)
dari Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 -yang diubah dan ditambah dengan
UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, ternyata tidak dapat dibuktikan oleh JPU, sehingga unsur
tersebut tidak terpenuhi.

3. Bahwa dalam penguraiannya tentang pembuktian terhadap dakwaan,


nyata Penuntut Umum menghindari untuk memperadukan langsung
antara fakta hukum yang diperoleh dari persidangan dengan peristiwa
pidana yang diuraikan dalam surat dakwaan, padahal lazimnya menurut
hukum pembuktian, peristiwa pidana dalam surat dakwaan harus lebih
dahulu dan diutamakan.
4. Bahwa dari kutipan dakwaan Penuntut Umum terdapat beberapa
peristiwa yang diabaikan atau disamar-samarkan antara satu peristiwa
dengan peristiwa yang lainnya karena tanpa dijelaskan atau dibuktikan
setiap unsur peristiwa maka niscaya apa yang akan dibuktikan didalam
persidangan bukanlah didasarkan kepada kebenaran yang hakiki tetapi
menjadi hal yang bersifat imajinatif dan spekulatif sehingga dirasa
sebagai suatu hal yang sangat dipaksakan demi membuktikan suatu
dakwaan. Hal ini tampak ketika Penuntut Umum abai terhadap fakta
bahwa proses seluruh kegiatan yang ada di Kantor Litbang,
Perpustakaan dan Arsip (sekarang Kantor PUSTARDOKDA) Kab.
Tanggamus tahun anggaran 2008, pada dasarnya telah berlangsung
sebelum terdakwa menjabat sebagai kepala Kantor.
Berdasar kesimpulan tersebut, maka kami memohon kepada Majelis Hakim
yang terhormat, dengan mengucap Bismillahi ar-rahman ar-rahim, Agar
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kota Agung yang berwenang memeriksa
dan mengadili perkara ini, Memutuskan:
Primer
1. Menyatakan Terdakwa DRS. ABADI INDO, M.M., TIDAK TERBUKTI secara sah
melakukan tindak pidana korupsi, seperti yang di dakwakan dalam dakwaan
kedua Pasal 3 Jo, Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana di ubah dan di tambah dengan UU No. 20
Tahun 2001;
2. Membebaskan terdakwa dari dakwaan dan tuntutan pemidanaan yang di ajukan oleh
jaksa penuntut umum.
3. Membebaskan terdakwa dari denda yang di ajukan jaksa sebesar Rp. 50.000.000 (lima
puluh juta rupiah).

4. Membebaskan terdakwa dari membayar uang pengganti sebesar Rp. 64.639.710,(enam puluh empat juta enam ratus tiga puluh sembilan ribu tujuh ratus sepuluh
rupiah); dimana uang pengganti tersebut sebagian telah dititipkan terdakwa kepada
Kejaksaan Negeri Kota Agung sebesar Rp. 49.000.000,- (empat puluh sembilan juta
rupiah);
5. Melakukan rehabilitasi terhadap nama baik dan martabat terdakwa.
6. Menyatakan barang bukti berupa:
a. 1 (satu) set Petikan Keputusan Bupati Tanggamus tentang Pengaangakatan Kepala
Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi daerah Kabupaten Tanggamus Nomor:
821.34/045/11/2008 tanggal 14 Mei 2008 (asli), dikembalikan kepada terdakwa;
b. Barang bukti sebagaimana yang tercantum dalam amar Tuntutan Penuntut Umum pada
poin (2) s/d poin (517), dikembalikan ke kantor Pustardokda Kabupaten Tanggamus;
c. Barang bukti sebagaimana yang tercantum dalam amar Tuntutan Penuntut Umum pada
poin (518) s/d poin (527), tetap terlampir dalam berkas perkara;
7. Menetapkan biaya perkara ditanggung oleh negara.
Subsider
Apabila hakim berpendapat lain, mohon keputusan seadil-adilnya.
Demikianlah pledoi ini kami sampai dengan niat baik untuk mencari keadilan yang
berketuhanan; semoga niat baik kami mendapat perhatian yang layak dari Majelis
Hakim yang terhormat. Terimakasih.
Hormat Kami
Tim Penasehat Hukum Terdakwa
Muhammad Yunus, S.H. Grace Purwo Nugroho, S.H.
Tags: