Anda di halaman 1dari 116

NOTA PEMBELAAN

(PLEDOI)
Drs. H. H E N D R I, MM.

Pembunuhan Karakter Secara Sistematis dan Konstitusional


Dengan Metode Imajiner Oleh JPU

Atas
Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum
Kejaksaan Negeri Simpang Empat Pasaman Barat
Dalam Perkara Pidana Nomor : 01/Pid.Sus-TPK/201D.PN.Pdg

Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Padang


Pada Pengadilan Negeri Kelas IA Padang
12 Mai 2015

Assalamualaikum Wr. Wr.


Yang Mulia Ketua dan Anggota Majelis Hakim,
Yang Terhormat Jaksa Penuntut Umum,
Yang Terhormat Penasihat Hukum,
Para hadirin-hadirat dan para wartawan yang saya hormati.
Hari ini adalah saat bersejarah bagi saya karena akan membacakan Nota Pembelaan (Pledoi)
pribadi selaku Terdakwa dipersidangan ini, setelah saya ditahan selama 190 hari. Karena itulah
saya mengucapkan terima kasih kepada Ketua Majelis Hakim yang berkenan memberikan
kesempatan kepada saya untuk menyampaikan Nota Pembelaan pada persidangan yang
terhormat ini. Terima kasih juga saya sampaikan atas jalannya persidangan yang baik, sungguhsungguh, terbuka, bebas dan berhasil membuka fakta-fakta penting terkait dengan kasus yang
didakwakan kepada saya. Tidak keliru kalau saya menyebut persidangan ini sebagai persidangan
yang berkualitas.
Persidangan yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kepemimpinan sidang yang berkualitas
pula. Kualitas persidangan sangat ditentukan oleh kesungguhan dan kecakapan Ketua Majelis
dan dibantu oleh para Anggota Majelis di dalam memandu dan memimpin jalannya persidangan.
Sebagaimana yang juga pernah disampaikan dalam persidangan pada tanggal 10 April 2015, oleh
Ketua Majelis, Ibu Asmar, SH. Kami semua bisa menilai dan merasakannya, demikian pula publik
yang mengikuti persidangan ini, baik yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti lewat
pemberitaan media massa.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada Jaksa Penuntut Umum yang telah menjalankan
tugasnya secara amat meyakinkan. Saya juga menghormati kerja keras Jaksa Penuntut Umum
yang tentunya berangkat dari kepentingan obyektif, meskipun dijalankan dengan metode yang
subyektif dan pada akhirnya tidak menghormati obyektifitas yang terbentang jelas di dalam
persidangan ini.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Penasihat Hukum yang sabar, telaten dan gigih
mendampingi saya di dalam proses persidangan. Saya menghargai toleransi dan pengertian
Penasihat Hukum kepada saya yang berusaha belajar maksimal di dalam ikhtiar, agar terbentang
terang fakta-fakta yang sesungguhnya terkait dengan kasus yang didakwakan kepada saya.
Terima kasih tidak lupa saya sampaikan kepada para sahabat, baik yang hadir maupun tidak
hadir di persidangan, yang tulus memberikan doa dan simpati serta merindukan berlakunya
keadilan. Ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang sahabatnya yang sangat banyak, beliau
menjawab akan menghitung jumlah sahabatnya pada saat terkena musibah.
Terima kasih juga layak disampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang selalu mengikuti
persidangan ini, baik yang berani memberitakan secara obyektif dan berimbang, maupun yang
sudah dibekali dengan framing negatif. Tentu saja obyektifitas sangat dimuliakan dalam
kehidupan pers yang sehat dan bertanggung jawab.

Yang Mulia Majelis Hakim,


Yang Terhormat Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum,
Hadirin yang saya hormati.

PENDAHULUAN
Sebelum kami menyampaikan nota pembelaan dalam perkara ini, perkenankanlah kami terlebih
dahulu untuk memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan kekuatan dan Hidayah-Nya dalam usaha kita menggali dan menemukan hakekat
kebenaran dan keadilan di dalam perkara ini.

Menghadirkan Fakta Yang Benar


Jaksa Penuntut Umum selalu memulai pertanyaan kepada saksi dengan pertanyaan apakah
pernah diperiksa penyidik dan apakah menandatangani BAP, serta apakah keterangan yang
di dalam BAP itu benar. Kita semua paham bahwa keterangan yang bernilai secara hukum
adalah keterangan yang diberikan di bawah sumpah di dalam persidangan. Karena itulah
klarifikasi atas fitnah dan kebohongan di dalam BAP adalah penting di dalam persidangan ini.
Sementara itu klarifikasi untuk semakin mendalami keterangan saksi agar didapatkan
keterangan yang otentik dan sesungguhnya adalah metode yang sahih di dalam pencarian
kebenaran materiil di dalam persidangan. Mendalami dan mengklarifikasi keterangan saksi atas
materi yang sama dan sudah ditanyakan Jaksa Penuntut Umum adalah bukan untuk mengulangngulang dan bertele-tele. Justru hal tersebut dilakukan untuk kontestasi yang adil dan berimbang
di dalam mendalami keterangan saksi, sehingga dapat terungkap keterangan yang lengkap dan
benar yang pada akhirnya diserahkan kepada Majelis Hakim untuk menilainya.
Justru kalau jawaban-jawaban saksi atas pertanyaan Jaksa Penuntut Umum yang sudah terarah
berdasarkan BAP dan dipilih khusus untuk menjustifikasi dakwaan tidak di dalami lebih lanjut,
maka malah berpotensi penyesatan fakta. Di dalam persidangan yang terhormat inilah
selayaknya terjadi kontestasi yang adil dan terbuka, sehingga kebenaran fakta-fakta yang otentik
dapat terungkap secara terang benderang. Keengganan untuk melakukan kontestasi dalam
bertanya kepada para saksi dari berbagai sudut klarifikasi dan penjelasan justru mengundang
pertanyaan tersendiri. Di dalam keawaman saya di bidang hukum, saya memahami persidangan
adalah arena yang adil dan terbuka untuk kontestasi fakta-fakta secara lengkap dan gamblang
sebagai jalan menemukan kebenaran materiil.

Korban Opini
Adalah rangkaian fakta yang tidak terbantahkan bahwa sejak tahun 2011, Terdakwa menjadi
korban opini yang tujuannya adalah membangun persepsi tentang kejahatan korupsi yang
dilakukan oleh Terdakwa pada kegiatan pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat.
Persepsi ini dibangun secara sistematis, dalam waktu yang panjang, dilakukan secara bertalutalu dan bergelombang. Bahwa seolah-olah benar Terdakwa merugikan negara ratusan juta atas
kegiatan pengadaan tersebut.
Inilah yang kemudian menjadi dasar penetapan sebagai tersangka, kemudian dikembangkan ke
segala arah pada saat penyidikan dan kemudian akhirnya dibawa ke persidangan. Dalam proses
persidangan itulah yang juga dipaksakan ke dalam dakwaan dan ujungnya ada di dalam Surat
Tuntutan sesuatu yang bukan melanggar aturan dan kewenangan dan bukan juga merugikan
negara, dipaksakan sebagai melanggar aturan dan kewenangan yang menyebabkan adanya
kerugian negara, dan dimulai dengan cara membangun opini secara sistematis.
Dalam menegakkan hukum sebagai tujuan bersama, tentulah kita sama-sama bersandar kepada
kebenaran (materiel warheid) yang terungkap dalam persidangan perkara ini, bukan hanya
2

sekedar mencari alat bukti belaka dibawah prinsip Terdakwa tidak boleh lolos dari jerat
hukum.
Kualitas Keterangan Saksi Sudirman?
Adalah kewenangan dan hak Jaksa Penuntut Umum untuk percaya kepada kesaksian Sudirman
Samin atau percaya terpaksa karena menjadi satu-satunya cara untuk berusaha membuktikan
dakwaan kepada Terdakwa. Adalah hak Sudirman Samin untuk membuat keteranganketerangan yang berisi fitnah, fiksi dan serangan-serangan tidak berdasar. Adalah hak Sudirman
Samin untuk memberikan keterangan di BAP dan di persidangan yang dilakukan dibawah
sumpah, yang tidak mengandung nilai kebenaran. Juga adalah hak Sudirman Samin untuk
membuat skenario dan mengarahkan, untuk memberikan keterangan bohong tentang Terdakwa.
Adalah hak Sudirman Samin untuk membuat skenario dan menjalankan persekongkolan jahat
untuk membuat Terdakwa dipaksa bersalah secara hukum. Tidak ada yang perlu dipersoalkan.
Yang menjadi masalah adalah ketika keterangan dan kesaksian Sudirman Samin otomatis
dianggap sebagai kebenaran dan dianggap berkualitas karena dia adalah mantan anggota DPRD.
Memandang seluruh kesaksian Sudirman Samin sebagai kebenaran adalah tindakan yang tidak
bisa dibenarkan.
Dalam perkara yang didakwakan kepada saya (Terdakwa) jelas sejak awal Sudirman Samin
berniat dan secara sadar menyusun serta menjalankan skenario agar saya masuk dalam pusaran
kasus hukum. Niat jahat yang kemudian dijalankan inilah yang seharusnya dipertimbangkan di
dalam menilai keterangan dan kesaksian Sudirman Samin, baik yang dituangkan di dalam BAP
maupun yang disampaikan di depan persidangan.
Apakah keterangan saksi yang sejak awal punya rencana untuk mencelakakan secara hukum dan
kemudian rela untuk menjadi Pinokio demi memenuhi kemarahan dan dendamnya, atau demi
melayani kepentingan tertentu, dapat dijadikan setara dengan sabda Nabi, atau keterangan
saksi-saksi yang jujur dan tanpa agenda tersembunyi? Akal sehat kita dan nalar keadilan hukum
mestinya menolak. Setidaknya bisa bersikap kritis dan sangat selektif dengan keteranganketerangannya. Menelan mentah-mentah keterangan darinya hanya bisa dilakukan oleh pihak
yang kepentingannya sama atau pihak yang tidak peduli dengan pentingnya kebenaran dan
keadilan di dalam proses hukum.
Ketentuan di dalam KUHP menyatakan bahwa dalam menilai kebenaran keterangan saksi harus
sungguh-sungguh mempertimbangkan persesuaian dengan saksi-saksi lain, persesuaian dengan
bukti lain, alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang
tertentu dan cara hidup serta kesusilaan saksi, serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu untuk dipercaya.
Di dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan tidak boleh menjadi saksi laki-laki
dan perempuan yang khianat. Juga tidak boleh menjadi saksi orang yang menaruh dendam
terhadap saudaranya.
Di dalam tradisi Fikih Islam, bahkan untuk menjadi saksi pernikahan pun, bukan urusan pidana,
harus memenuhi syarat baligh, berakal, merdeka, Islam dan adil. Kemampuan untuk adil atau
setidaknya dinilai adil adalah syarat yang penting.
Sedangkan pada Tambo Alam Minangkabau disebutkan bahwa syarat menjadi saksi adalah
bersifat arif, baligh-berakal, melihat, mendengar, berkata, terang hati dan adil, serta mempunyai
alasan untuk menjadi saksi.

Atas dasar itu semua kiranya bisa memperjelas bahwa menjadikan keterangan Sudirman Samin
sebagai dasar atau bahkan dasar utama untuk pembuktian dalam perkara saya (Terdakwa),
adalah kesalahan serius dalam perspektif obyektifitas, kebenaran dan keadilan. Lain halnya jika
perspektifnya untuk mencari dasar justifikasi untuk sekedar menghukum.
Adalah berlebihan, tidak berdasarkan data yang bisa dipertanggungjawabkan dan bahkan terlalu
mewah untuk mengatakan, bahwa apa yang diucapkannya itu nanti, akan
dipertanggungjawabkannya di Padang Mahsyar.
Karena itulah keterangan Sudirman Samin yang diarahkan untuk membuat keterangan tidak
benar tidaklah mempunyai nilai pembuktian yang layak. Justru jika keterangannya dijadikan
dasar atau bahkan dasar utama dalam pembuktian perkara ini, peradilan bisa tersesat dan
membelakangi spirit penegakan hukum dan keadilan. Keterangan sesat Sudirman Samin biarlah
menjadi sesat sendiri. Jangan sampai membuat kita semua tersesatkan.
Selama persidangan telah dihadirkan 26 orang saksi, yang terdiri dari saksi memberatkan, saksi
meringankan, saksi ahli yang dihadirkan JPU dan saksi ahli yang dihadirkan oleh Terdakwa dan
Penasihat Hukum. Secara rinci adalah sebagai berikut : 22 saksi memberatkan yang dihadirkan
JPU, 1 saksi ahli yang dihadirkan JPU, 2 saksi meringankan yang dihadirkan Terdakwa dan
Penasihat Hukum, serta 2 saksi ahli yang dihadirkan Terdakwa dan Penasihat Hukum.
Adalah wajar semata jika sebagian saksi yang dihadirkan JPU malah membantah dakwaan. Bukan
karena saksinya dan bukan karena JPU, melainkan karena dakwaan disusun berdasarkan terutama- BAP yang tidak mengandung nilai kebenaran. Keterangan para saksi di depan
persidangan yang membantah dakwaan karena apa yang diketahui, didengar, dirasakan dan
dilakukan para saksi berbeda dan bertentangan dengan dakwaan yang berasal dari imajinasi dan
cerita fiksi Sudirman Samin. Sehebat-hebatnya cerita fiksi dan secanggih-canggihnya imajinasi
akan kalah dengan realitas yang senyatanya.

Yang Mulia Majelis Hakim,


Yang Terhormat Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum,
Hadirin yang saya hormati.

Saya mohon maaf kepada Majelis Hakim, kalau saya terpaksa menyampaikan, bahwa mungkin
bagi Majelis Hakim, ini adalah persidangan perdana bagi majelis yang menyidangkan perkara
yang imajiner. Kenapa saya katakan imajiner ?
Yang pertama, karena sejak dari awal persidangan, kita digiring oleh JPU dengan perbuatan
yang menyalahi peraturan imajiner, perbuatan yang tidak termasuk kedalam ranah yang diatur
oleh Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Serta
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Yang kedua, kita juga digiring dengan imajinasi saksi mantan anggota DPRD, yang juga
merupakan saksi pelapor dalam kasus ini, yang menginginkan mobil Bupatinya adalah sama
dengan mobilnya sendiri, yaitu Toyota Fortuner. Sementara seluruh dokumen yang ditampilkan,
mulai dari notulen rapat Banggar dan TAPD, Laporan Banggar DPRD Kab. Pasaman Barat, RKA P
Bagian Umum TA 2010, DPPA Bagian Umum TA 2010, sampai kepada Laporan Keterangan
Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 yang disampaikan dalam
4

Paripurna DPRD pada bulan April 2011, tidak ada satupun yang mencantumkan dan
menyebutkan mengenai mobil Toyota Fortuner ini. Bahkan ketika ceritanya ini diadu dengan
aturan main mekanisme penyusunan APBD seperti yang diatur didalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,
kebohongannya ini menjadi semakin terkuak, modusnya untuk menjadi makelar dan mencari
keuntungan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD Pasaman Barat terbuka secara jelas. Dan
ini memang fenomena yang sangat kental terjadi di Pasaman Barat sampai pada tahun 2010,
dimana anggota DPRD memiliki power yang sangat kuat dalam menentukan anggaran pada
SKPD, bargaining-bargaining dalam kamar kecil dilakukan. Dan ini dimanfaatkan mereka untuk
mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak terpuji. Pemerasan terhadap SKPD. Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
mengatur bahwa, kewenangan DPRD dalam penyusunan RAPBD, hanyalah sampai kepada
rincian JENIS BELANJA. Dan jenis belanja itu hanya mengatur 3 (tiga) hal, yaitu : Belanja
Pegawai, Belanja Barang dan Jasa serta Belanja Modal. Penjelasan ini, juga telah disampaikan
oleh Ahli Dr. Sumule dari Direktorat Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI,
dalam persidangan pada hari Jumat tanggal 17 April 2015. Dan Permendagri ini dibuat oleh
Kemendagri, memang untuk mengantisipasi kenakalan-kenakalan anggota DPRD sehingga tidak
bisa masuk kedalam domainnya Eksekutif, yang menciptakan peluang-peluang KKN. Sementara
dalam belanja kegiatan pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat, itu hanyalah
perubahan volume, yang merupakan bagian yang lebih kecil lagi dari perubahan rincian ojek
belanja. Sehingga jangankan harus melalui perubahan Perda tentang APBD yang harus melalui
persetujuan DPRD, persetujuan PPKAD saja pun tidak dibutuhkan. Karena itu sudah berada
didalam kewenangan operasional Pengguna Anggaran, yang nantinya akan dipertanggung
jawabkan menjadi SILPA yang disampaikan dalam Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban
(LKPJ) Bupati Pasaman Barat. Nah, Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, memang hanya mengatur sampai kepada perubahan rincian
objek belanja dalam objek belanja berkenaan, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 160 ayat
(2), sementara untuk perubahan realisasi volume, itu merupakan rincian yang lebih detail dari
perubahan rincian objek belanja dalam objek belanja berkenaan, yang tidak termasuk diatur di
dalam Pasal 160 ayat (2) tersebut.
Satu-satunya data yang bisa kita telusuri dari imajinasinya tersebut adalah mengenai harga
mobil Toyota Fortuner pada tahun 2010 tersebut. Tetapi ini malah membuka kedok rencana
mark up dan makelar anggota DPRD tersebut, karena harga mobil yang mereka usulkan
dimasukkan kedalam anggaran Bagian Umum tersebut, dua kali lipat dari harga price list yang
dikeluarkan oleh Toyota sendiri. Ini dibungkusnya dengan alasan, pajak dan keuntungan
perusahaan. Padahal untuk pengadaan kendaraan bermotor yang telah memiliki price list dari
ATPM, memang harga yang tercantum di dalam price list tersebutlah yang menjadi harga
kontrak. Karena di dalam harga price list, itu sudah memasukkan komponen biaya pajak dan
keuntungan perusahaan. Hal ini mengingatkan kita kepada permasalahan pengadaan UPS di DKI
Jakarta yang juga melibatkan anggota DPRD nya. Apakah karena tidak jadi mendapatkan proyek
dan keuntungan ini sebagai salah satu yang menyebabkan mereka meradang ? Wallahualam....
Karena secara politik, Saksi tersebut memang berlawanan secara frontal dengan Bupati Pasaman
Barat, yang berujung dengan pemecatannya sebagai anggota DPRD Kabupaten Pasaman Barat
dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 2014, yang secara kebetulan juga diketuai
oleh Bupati Pasaman Barat. Hal ini hanyalah perulangan dari pemecatan serupa yang
diterimanya pada waktu menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasaman dari Fraksi Golkar pada
tahun 2005. Tapi biarkanlah karakter saksi yang seperti itu. Saksi yang sesat itu biarkanlah sesat,

asalkan jangan sampai kita pula yang disesatkannya dan dibuat sesat dengan kesaksiankesaksian palsunya tersebut.
Yang ketiga, kita juga digiring dengan upaya dari Jaksa Penuntut Umum untuk menghadirkan
bukti utamanya dalam hal kerugian negara, dengan menghadirkan saksi ahli dari BPKP
Perwakilan Provinsi Sumatera Barat. Setelah saksi membahas bermacam undang-undang yang
mengatur tentang keuangan negara, mulai dari UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tipikor, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, PP, Kepres, Permendagri, dan Kepmendagri, serta aturan-aturan iternal
BPKP itu sendiri, kemudian dengan santainya saksi ahli Sdr. Afrizal dari BPKP Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat, menyampaikan didepan persidangan dibawah sumpah, menjawab
pertanyaan Majelis Hakim, bahwa dasar hukum ahli menghitung kerugian negaranya sehingga
didapat angka Rp. 276.887.273,- tidak ada sama sekali. Ini hanya menurut perhitungan
saya. Inilah menurut saya angka yang realistis. Kalau berapa angka pastinya kerugian
negara, silahkan Majelis Hakim yang menghitungnya. Entah kemana lagi segerobak
peraturan yang dibacanya sebelumnya diletakkannya ketika orang yang disebut ahli ini
melakukan penghitungan uang. Due Process of Law. Saya cukup terharu pada waktu Majelis
Hakim, Hakim Anggota 1, Bapak Fahmiron, mencecar saksi tersebut dengan pertanyaanpertanyaan sampai membuat ahli tersebut manggaretek menggigil.
Yang keempat, kita juga disuruh Jaksa Penuntut Umum untuk berimajinasi, dengan
menghadirkan saksi fakta dari Importir Umum dan showroom kendaraan Toyota Prado ini.
Tidak tanggung-tanggung, saksi ini dihadirkan dari Jakarta, setelah sebelumnya Jaksa Penyidik
mendatangi mereka kesana, katanya. Di dalam persidangan dibawah sumpah, ternyata saksi
yang dihadirkan ini adalah orang yang sama sekali tidak mengetahui mengenai kendaraan yang
sedang diperiksa perkaranya. Berkali-kali mereka menyatakan, bahwa kalau mengenai
kendaraan, apalagi spesifikasinya, saya tidak tahu pak. Kami adalah accounting perusahaan.
Ruang kerja kami terpisah tersendiri. Terhadap keterangan mereka yang sudah seperti itu, Jaksa
Penuntut Umum tetap mencecar mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seputar masalah
spesifikasi kendaraan. Tentu saja akhirnya jawaban saksi adalah mengacu kepada dokumen yang
ada pada mereka, yang sudah merupakan dokumen bawaan semenjak kendaraan tersebut di
import dari Jepang. Apakah menghadirkan saksi yang tidak mengerti sama sekali dengan dunia
otomotif selain dunia accounting mereka, juga disengaja oleh JPU ? Kenapa tidak dipastikan
dihadiri dan diperiksa dari orang yang mengerti tentang dunia otomotif CBU ? Bukankah Jaksa
penyidik sudah langsung pergi ke showroom mereka ? Akan kabur dakwaan mereka jika yang
hadir adalah orang teknik ?
Yang kelima, semenjak awal persidangan, kita juga digiring oleh Jaksa Penuntut Umum dengan
imajinasi JPU tentang rantai perdagangan kendaraan ini. Padahal sama halnya dengan apa yang
kita lakukan sebagai seorang pribadi di rumah kita apabila kita membeli sebuah barang di toko,
katakanlah telivisi atau bahkan mobil sekalipun. Kita hanya akan berhubungan dengan orang
atau toko tempat kita membeli barang tersebut. Jangan pernah kita mencoba menanyakan
kepada pemilik toko atau pedagang tersebut, berapa sih sebenarnya televisi ini harganya bapak
beli ? Dimana atau darimana televisi ini bapak beli sebelum bapak jual kepada saya ? Sampai
kemudian akhirnya kita sampai kepada Importir Umum yang memasukkan barang tersebut dari
Luar Negeri ke Indonesia. Tidak akan pernah bisa kita mendapatkannya Yang Mulia, apalagi
sampai ke faktur-faktur pembelian atau penjualannya. Nah, demikian jugalah dengan Pengadaan
Barang dan Jasa untuk pemerintah yang diatur pedoman pengadaannya dalam Kepres No. 80
Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Panitia Pengadaan, PPTK,
KPA, PA bahkan Bupati sendiripun tidak akan bisa untuk meminta kepada rekanan, berapa seh
6

sebenarnya modal pembelian saudara ? Coba berikan faktur pembeliannya kepada saya. Tidak
akan bisa Yang Mulia, minimal itu jawaban yang akan kita terima, kalaupun kita tidak akan kena
usir oleh mereka. Bahkan itu TIDAK BOLEH. Disamping itu tidak boleh, yang namanya suratsurat kendaraan, itu kita terima adalah beberapa bulan setelah kita selesai Proses Pengadaan
Barang dan Jasa tersebut. Beberapa bulan setelah mobil itu datang. Dan itu memang berbunyi
didalam kontrak pengadaan kita. Karena memang proses untuk penerbitan surat-surat
kendaraan tersebut membutuhkan waktu dan diproses oleh banyak instansi pemerintah lainnya.
Jadi adalah tidak akan mungkin dan sangat imajinatif, kalau kepada kami insan pengadaan
barang dan jasa pemerintah pada waktu itu dan sampai saat ini, dituntut untuk melakukan
konfirmasi harga sampai ke tingkat importir umum, sementara kita belum mengetahui apa nama
perusahaan importir umum kendaraan tersebut pada waktu proses pengadaan tersebut
dilaksanakan. Nama Importir Umum kendaraan tersebut, baru ada tertulis beserta alamatnya,
adalah pada buku BPKB kendaraan yang kita terima beberapa bulan setelah kendaraan tersebut
diperiksa dan diterima oleh Pemda Pasaman Barat.
Untuk memperkuat dan menjustifikasi dakwaan JPU bahwa rantai perdagangan kendaraan ini
terlalu panjang, dan mestinya bisa dihemat dengan membeli langsung kepada importir umum,
maka di kejarlah Importir Umum dan rekanan dengan pertanyaan-pertanyaan, PT ini membeli
dari PT mana, PT ini membeli seharga berapa. Kemudian menjualnya ke PT mana dan dengan
harga berapa. Suatu pertanyaan yang tidak beralasan dan hanya bisa dipertanyakan oleh orangorang yang sangat bodoh yang memang tidak pernah sama sekali membeli sebuah barang dalam
sebuah Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah untuk kantornya, karena selama ini hanya
terbuai dengan meminta kepada Pemerintah Daerah dan tahu ada saja. Dan memang pada
kenyataannya, tidak seorangpun dari Penyidik dan JPU yang terlibat dalam kasus pengadaan
barang dan jasa pemerintah ini yang mempunyai pengalaman, apalagi keahlian dan memiliki
sertifikasi sebagai Ahli Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang dikeluarkan oleh Lembaga
Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah RI, walaupun telah beberapa kali mengikuti
ujian ini untuk kantor Kejaksaan Negeri Simpang Empat. Tetapi selalu gagal. Tidak lulus. Hal ini
sangat mudah sekali kita lacak dari database Ahli Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang
memiliki sertifikat pada website LKPP RI. Kalau Majelis Hakim Yang Mulia berkenan untuk
masuk
ke
website
tersebut,
http://logbook.lkpp.go.id/logbook2/index.php?hlmn=detailprop059 insyaallah Yang Mulia
akan menemukan nama saya dan nama saudara atau putra atau putri yang Mulia yang memiliki
sertifikat tersebut.
Yang ke Enam. Tiba-tiba muncul nama Sakirman di halaman 57 Surat Tuntutan Jaksa, sebagai
seorang saksi di bawah sumpah di persidangan dan memberikan keterangan-keterangan. Saya
sampai harus lama membayangkan bagaimana sosok Sakirman berdiri membaca sumpah yang
dipandu oleh salah seorang Majelis Hakim. Dan saya juga berulang-ulang membuka catatan
persidangan saya, termasuk memutar rekaman persidangan, untuk mencari nama Sakirman.
Ternyata tidak ada. Dan memang Sakirman tidak pernah hadir di acara persidangan sama halnya
dengan saksi Yulisman. Sakirman yang dibuat JPU pada halaman 57 Surat Tuntutannya adalah
sosok Imajiner yang tidak pernah kita nampak kehadirannya di ruang persidangan ini. JPU, selera
humor imajiner anda memang cukup tinggi.
Tapi apapun itu nama dan bentuk imajinasi Jaksa Penuntut Umum. Biarlah dia menjadi imajinasi
JPU saja. Jangan sampai persidangan kita yang terhormat dan mulia ini, juga menjadi imajiner
sehingga keputusan Majelis Hakim nantinya juga akan menjadi imajiner. Tinggallah saya sendiri
yang berada pada dunia nyata di dalam penjara yang tidak bisa diimajinerkan juga. Sehebat-

hebatnya cerita fiksi dan secanggih-canggihnya imajinasi akan kalah dengan realitas yang
senyatanya.
I.

TERHADAP DAKWAAN DAN TUNTUTAN DARI JPU


Primair :
Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1)
huruf b, ayat (2), ayat (3) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah di ubah dan
ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Subsidair :
Perbuatan Terdakwa Drs. Hendri, MM. sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal 3 jo pasal 18
ayat (1) huruf b, ayat (2), ayat (3) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah di
ubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
Dari dakwaan yang dituduhkan kepada Terdakwa, Terdakwa menyangkal secara keseluruhan dan itu
akan Terdakwa rangkum sebagai berikut :
1. Pada Hal 2 alinea ke-2 baris ke-12 s/d 15
Pada tanggal 16 oktober 2010 direktur CV. Makna Motor Sdr. Arifin Argosurio melalui surat
menawarkan kepada Terdakwa selaku KPA berupa kendaraan mobil dinas Toyota Prado 2.7 TX
seharga Rp. 875.000.000,- (delapan ratus tujuh puluh lima juta rupiah) dan Toyota Prado 2.7 TX-L
seharga Rp. 923.000.000,- (sembilan ratus dua puluh tiga juta rupiah)
Disini Jaksa menghilangkan data dan fakta bahwa surat penawaran yang masuk kepada Pemda
Pasaman Barat bukan hanya 1 (satu) dari CV. Makna Motor saja tetapi juga dari PT. Intercom
Mobilindo Padang, Auto 2000 Padang berupa price list harga kendaraan Toyota pada kondisi
bulan September 2010 untuk wilayah Sumatera Barat, Terminal Motor Jakarta, Suci Motor Jakarta
dan Anton Cars Jakarta. Semua surat penawaran ini sudah ada dan diketahui oleh Jaksa
sebagaimana seluruh dokumen-dokumen administrasi telah kami serahkan kepada jaksa pada
saat permintaan keterangan di tingkat penyelidikan, sama halnya dengan seluruh dokumen yang
kami serahkan kepada Auditor dari BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat. Hal ini sengaja
dilakukan oleh JPU untuk menjustifikasi dakwaannya seolah-olah pengadaan kendaraan dinas ini
direkayasa dari awal untuk Sdr. Arifin Argosurio Direktur CV. Makna Motor.
Berikut kami lampirkan surat-surat penawaran dimaksud yaitu dari CV. Makna Motor Padang, PT.
Intercom Mobilindo Padang, Auto 200 Padang, Terminal Motor Jakarta, Suci Motor Jakarta dan
Anton Cars Jakarta
2. Pada Hal 2 alinena ke-3 Baris 1-2
Setelah selesai melaksanakan survey, Terdakwa membuat dan menandatangani sendiri surat
telaahan staf tertanggal 18 Oktober 2010
Ini adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi di dalam suatu Organisasi Birokrasi
Pemerintahan, seorang Kepala Bagian yang berada pada eselon III.a membuat suratnya sendiri.
Tetapi pasti dibuat secara hierarkis oleh stafnya. Hal ini contohnya sama saja dengan Surat
Perintah Penahanan atas nama saya sendiri yang ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan selaku
Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat yang eseloneringnya sama-sama III.a dengan saya
8

selaku Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat. Apakah ini artinya juga
bahwa yang membuat dan menandatangani Surat Perintah Penahanan tersebut adalah Yudi Indra
Gunawan sendiri? Tentu tidak..karena surat-surat dinas selalu dibuat dan diproses oleh bawahan
kecuali kalau yang dimaksudkan oleh JPU ini adalah seperti yang saudara lakukan pada surat
tuntutan yang dibacakan pada persidangan kemaren yang tentulah dibuat oleh saudara JPU
Akhiruddin sendiri dan langsung ditandatangani oleh saudara Akhiruddin.
3. Pada hal 4 alinea ke-2 baris ke-3 s/d 5
Lalu Terdakwa membuat telaahan staf kepada Bupati Pasaman Barat tertanggal 10 November
2010 yang ditandatangani oleh Asisten III pada Sekda Pasaman Barat (Ir. Zalmi N)
Hal ini sangat kontradiksi dengan apa yang dituliskan oleh JPU dalam tuntutannya. Dimana dalam
hal ini, Asisten III yang menandatangani tapi tetap saya yang disebut membuat telaahan staf
tersebut. Ini sama saja dengan JPU memakai prinsip yang dalam bahasa minang disebut
mambalah batuang yang artinya menginjak yang dibawah dan mengangkat yang diatas untuk
menjustifikasi anatomi kasus yang dibangunnya.
4. Pada Hal 5 alinea ke-1 baris ke-4 s/d 6
meskipun Terdakwa telah mengetahui bahwa prosedur perubahan jumlah output unit pengadaan
kendaraan tidak bisa serta merta dilakukan tanpa melalui mekanisme perubahan APBD yang
dibahas bersama DPRD
Apa yang dituduhkankan oleh JPU ini adalah tidak benar, karena justru sebaliknya saya
mengetahui bahwa prosedur perubahan volume dimaksud tidak melalui mekanisme perubahan
APBD yang dibahas bersama DPRD sebagaimana yang dimaksudkan oleh saudara JPU. Bahkan
juga tidak membutuhkan persetujuan PPKAD sebagaimana yang dimaksudkan dalam
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pegelolaan Keuangan Daerah Pasal 160 ayat
(2). Hal ini karena perubahan volume tidak termasuk dalam objek belanja dan juga tidak
termasuk rincian objek belanja yang apabila terjadi perubahan memerlukan persetujuan DPRD
atau PPKD. Perubahan volume hanyalah merupakan realisasi dari pelaksanaan kegiatan yang
harus dicantumkan di dalam Laporan Realisasi Keuangan, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) Tahun 2010 dan LKPJ Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 sebagaimana yang
sudah dilaksanakan pada bulan April tahun 2011, yaitu pada Bab IV halaman 224-225. Dapat saya
contohkan misalnya dalam pengadaan ATK di kantor yang telah direncanakan dan dianggarkan
untuk Kertas sejumlah 100 Rim dengan total harga Rp. 3.200.000, namun pada saat pelakanaan
pembelian kertas tersebut, terjadi perubahan harga sehingga dengan uang sejumlah Rp.
3.200.000 tersebut hanya dapat membeli untuk 80 Rim saja. Nah perubahan seperti ini tidak
harus melalui mekanisme persetujuan DPRD atau bahkan ke PPKD. Contoh lain misalnya dalam
Pembangunan Jalan yang direncanakan dan dianggarkan untuk 1 Km dengan pagu Rp.
1.000.000.000, namun realiasinya hanya 900 m karena pada saat pelaksanaan terjadi perubahan
harga satuan. Hal ini juga tidak memerlukan persetujuan DPRD dan PPKD. Sengaja sebagai
ilustrasi yang kami tampilkan adalah angka yang kecil semata hanya untuk memudahkan kita
semua untuk melakukan perhitungan singkat dipikiran kita masing-masing karena pada
hakekatnya, di dalam keuangan negara tidak ada perbedaan angka antara 100 rupiah dan 1 milyar
rupiah, pertanggungjawabannya selalu sama, jelas dan tegas.
5. Pada Hal 5 Alinea ke-3 baris ke-1-3
Selanjutnya Terdakwa mengirim surat nomor : 027/217/KPA/ Umum-2010 tertanggal 23
9

Nopember 2010 yang isinya meminta ULP untuk melaksanakan Penunjukan Langsung terhadap
paket pekerjaan tersebut.
Lagi-lagi dalam hal ini JPU juga tidak menyimak bahkan menghilangkan fakta persidangan hari
Jumat tanggal 13 Februari 2015. Pada persidangan tersebut, Sdr. Bendri dibawah sumpah telah
secara jelas dan nyata menyatakan bahwa bukan Terdakwa yang mengirimkan surat tersebut,
tetapi adalah Ketua Panitia 1 ULP Kab. Pasaman Barat yaitu Sdr. Bendri sendiri yang telah
membuatnya dan membawa surat tersebut kepada Terdakwa untuk ditandatangani oleh
Terdakwa dengan alasan untuk membantu mempercepat waktu pelaksanaan pelelangan
tersebut. Hal ini sebagaimana yang tertuang juga di dalam Surat Tuntutan JPU dalam perkara ini
Hal. 22 alinea terakhir dan Hal 23 alinea pertama. Kemudian juga dapat dibuktikan melalui
rekaman persidangan.
6. Pada Hal 5 Alinea ke-4 baris ke-1 s/d 2
Bahwa setelah seluruh kelengkapan adminsitrasi untuk mengikuti proses penunjukan langsung
telah dilengkapi, Vitarman menyerahkannya kepada ULP melalui perantaraan Terdakwa
Dalam kalimat ini, kembali JPU mengingkari fakta persidangan, dimana dalam persidangan
Vitarman, pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2015. Dibawah sumpah persidangan, Vitarman
menyatakan menyerahkan dokumen kelangkapan administrasi pelelangan kepada ULP adalah
langsung kepada panitia 1 ULP tetapi tempatnya memang berada pada ruangan Kabag. Umum,
yaitu ruangan Terdakwa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sdr. Vitarman dalam rekaman
persidangan pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2015.
7. Pada Hal 5 Alinea ke-5 baris 1 s/d 4 dan baris
Selanjutnya Terdakwa mengeluarkan Surat nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tangal 3
Desember 2014 yang ditujukan kepada ULP yang menetapkan PT. Baladewa Indonesia memenuhi
syarat dan lulus evaluasi sebagai rekanan kegiatan pengadaan 1 ( satu ) unit kendaran Dinas
Bupati dan Wakil Bupati. Kemudian diterbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang dan Jasa
(Gunning) Nomor 027/176/SP/2010 tanggal 13 Desember 2010 yang dibuat dan ditandatangani
oleh Terdakwa.
Kembali redaksinya yang dibuat dan ditandatangani oleh Terdakwa, pada hal di dalam fakta
persidangan telah diakui oleh Sdr. Bendri selaku Ketua 1 ULP Pasaman Barat Tahun 2010 bahwa
seluruh administrasi dokumen pengadaan kendaraan dinas ini dibuat dan disiapkan oleh Sdr.
Bendri sendiri. Sebagaimana tugas dan fungsi panitia pengadaan barang di dalam SK Bupati
Nomor. 188.45/98/BUP-PASBAR/2010 tanggal 26 Januari 2010 tentang Penunjukan Panitia
Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah pada ULP Kabupaten Pasaman Barat. Kemudian untuk surat
Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3 Desember 2010, itu tidak serta merta
ditandatangani langsung oleh Terdakwa karena sebelumnya terlebih dahulu ada surat Usulan
Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari Ketua Panitia 1 ULP Kab. Pasaman
Barat kepada KPA Nomor : 14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010 tanggal 03 Desember
2010. Dan surat Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3 Desember 2010 bukanlah surat
penetapan PT. Baladewa Indonesia yang memenuhi syarat dan lulus evaluasi sebagai rekanan
sebagaimana yang ditulis oleh JPU pada hal 5 alinea ke-5 baris ke-2 dan 3. Jika surat yang
dimaksud adalah surat Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3 Desember 2010, perihal
yang benar adalah Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi yang
sebelumnya terlebih dahulu ada surat usulan calon penyedia barang lulus pascakualifikasi dari
10

Ketua ULP 1 kepada KPA dengan Nomor : 14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010 tanggal 3


Desember 2010 beserta lampiran Berita Acara Hasil Evaluasi Pascakualifikasi yang
ditandatangani oleh 5 orang panitia 1 ULP dengan Nomor 14PL.3/ULP.B1/BAHEP/1/PASBAR2010 tanggal 3 Desember 2010.
Setelah surat tertanggal 3 Desember 2010 tersebut, masih banyak surat-surat dan dokumen lain
yang dikeluarkan oleh Ketua Panitia 1 ULP Kab. Pasaman Barat yaitu :
- Surat undangan Aanwijzing kepada PT. Baladewa Indonesia
- Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing)
- Berita Acara Pembukaan Penawaran
- Koreksi Aritmatik
- Berita Acara Hasil Evaluasi
- Berita Acara Negosiasi Teknis dan Harga, dan
- Surat Usulan Penetapan Pemenang PL kepada KPA
Inilah yang dikatakan tadi bahwa JPU hanya mengambil dan menyampaikan surat-surat dan
dokumen yang dibutuhkannya untuk menjustifikasi dakwaannya dan menghilangkan barangbarang bukti yang lain yang semestinya merupakan satu kesatuan dalam proses pengadaan
kendaraan dinas ini. Sehingga dengan demikian, kesimpulan yang disimpulkan oleh JPU tidak
sesuai dengan fakta yang ada, apalagi ditambah dengan JPU maupun aparat penyidik di
Kejaksaan Negeri Simpang Empat memang tidak satupun yang memiliki sertifikasi keahlian
pengadaan barang/ jasa meskipun telah beberapa kali pernah mengikuti pelatihan dan ujian
sertifikasi tersebut, namun tidak satupun yang lulus dan memiliki sertifikasi sebagai Ahli
Pengadaan.
8. Pada Hal 5 Alinea ke-5 baris ke-12 dan 13
Baladewa Indonesia menyerahkan 1 ( satu ) unit mobil Toyota Land Cruiser Prado 2.7 4 WD A/T
dengan logo TX Limited padahal faktanya mobil tersebut bukan tipe TX Limited melainkan tipe
TX standar edition
Di dalam fakta persidangan memang dibuktikan bahwa secara administrasi surat kendaraan,
mobil tersebut adalah Type TX Standart Edition tetapi sekaligus di dalam fakta persidangan juga
terungkap bahwa seluruh mobil CBU yang masuk ke Indonesia memang dalam kondisi standar
edition. Proses upgrade menjadi Limited itu dilaksanakan di Indonesia, kenapa hal itu terjadi?
Ini adalah karena trik dari importir umum kendaraan bermotor untuk menghindari pajak yang
tinggi sehingga akibatnya tidak terjangkau oleh konsumen di Indonesia. Dan dari fakta
persidangan juga terungkap bahwa saksi yang dihadirkan JPU dari Jakarta yaitu Suparman dari
PT Multisentra Adikarya dan Jono Hans dari DK Jaya Motor itu adalah orang yang tidak tepat
untuk didengarkan kesaksiannya karena berkali-kali saksi tersebut menyatakan bahwa dia tidak
mengerti dengan spek kendaraan, karena dia adalah sebagai accounting di perusahaan tersebut.
Jadi yang dia mengerti hanyalah sepanjang dokumen administrasi keuangan tentang kendaraan
tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari rekaman persidangan hari Jumat tanggal 6 Maret 2015.
Padahal semestinya jika JPU berkeinginan dan bersungguh-sungguh untuk mengetahui dan
mengungkapkan kebenaran dari standar mobil tersebut, yang dihadirkannya adalah tenaga
teknisi atau paling tidak, sales marketing dari perusahaan tersebut. Padahal JPU menyatakan
bahwa jaksa penyidikpun telah pergi ke showroom kendaraan tersebut, tetapi kenyataannya
yang dibawanya untuk menjadi saksi adalah orang yang sama sekali tidak mengerti tentang spek
kendaraan karena keduanya adalah orang accounting. Upaya jaksa yang seperti ini yang hanya
untuk menjustifikasi dakwaaannya saja dengan menghalalkan segala cara termasuk
11

menghadirkan saksi yang tidak memenuhi persyaratan formil dan materil. Inilah yang kemudian
dituangkan JPU di dalam surat tuntutannya. Sementara bagi persidangan Pidana, dalam mencari
kebenaran materiil peristiwanya harus terbukti beyond reasionable doubt tanpa diragukan.
Kontradiksi keadaan seperti ini dimana JPU sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang dunia
otomotif tetapi kemudian malah menghadirkan saksi yang juga tidak mengetahui dunia otomotif,
disisi lain keterangan-keterangan dari saksi yang lain bahwa kendaraan itu adalah Type TX
Limited, itu dikesampingkan begitu saja oleh JPU. Padahal saksi tersebut memiliki kapasitas dan
kapabilitas untuk menyatakan kendaraan tersebut, sesuai dengan spesifikasi Type TX Limited
dan menuangkannya ke dalam Berita Acara Pemeriksaan Barang. Saksi yang dimaksud dalam hal
ini adalah Saksi Amrianto, Saksi Bobby P. Riza, Saksi Setia Bakti dan Saksi Roni HEP yang
merupakan Tim Panitia Pemeriksa Barang yang diangkat berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat
Nomor : 188.45/248/BUP-PASBAR/2010 tanggal 14 April 2010.
Demikian juga dengan keterangan saksi Arifin, Frans Wijaya dan Tjen Imanuel dan Oyong Narli
yang sehari-hari dalam kehidupannya memang selalu bergelut dibidang jual beli kendaraan
bermotor yang mengerti dan paham tentang spesifikasi kendaraan bermotor.
Keadaan seperti ini adalah ibarat cerita bagaimana 3 orang buta menceritakan gambaran dari
seekor gajah, yang kemudian menceritakan bagaimana bentuk gajah tersebut tergantung dari
bagian mana yang dipegangnya. Karena sama-sama tidak sepakat akhirnya mereka bertanya
kepada orang yang lewat, yang ternyata orang itu juga buta (Suparman dan Jono Hans).

9. Pada Hal 5 Alinea ke-5 baris ke-14 dan 15


Terdakwa sengaja menunjuk anggota tim yang tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam
melakukan pemeriksaan sehingga pada saat itu tim langsung berkesimpulan bahwa kendaraan
yang datang tersebut telah sesuai dengan spesifikasi pada kontrak.
Bahwa apa yang dinyatakan oleh JPU ini adalah merupakan sebuah bukti yang nyata bagi kita
bersama bahwa untuk membuktikan dakwaannya, JPU bahkan tidak bisa lagi membaca SK Tim
Pemeriksa Barang yang ada, dimana SK tersebut adalah bertanggal 14 April 2010 yang
ditandatangani oleh H. Syahiran sebagai Bupati Pasaman Barat, sedangkan Terdakwa sendiri
baru mulai bertugas di Pasaman Barat pada tanggal 29 September 2010. Artinya ini
membuktikan bahwa tuduhan JPU yang mengatakan Terdakwa sengaja menunjuk anggota tim
yang tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam melakukan pemeriksaan adalah sama
sekali tidak berdasar, mengada-ada dan bertentangan dengan fakta dokumen yang ada, yang
bahkan SK Tim Pemeriksa Barang tersebut dijadikan juga sebagai Barang Bukti No. 41 oleh JPU
sendiri sebagaimana yang tertera pada Surat Tuntutan perkara ini pada hal 79. Dan sampai
dengan pemeriksaan barang dilakukan, Terdakwapun secara pribadi belum kenal dengan para
pemeriksa. Juga berdasarkan tugas-tugas KPA di dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Pasal 9, tidak ada yang memerintahkan agar
KPA memilih, mengusulkan apalagi menetapkan panitia pemeriksa barang. Hal ini adalah
berkaitan dengan Indepensi dari masing-masing yang terlibat dalam proses pengadaan barang
dan jasa. Hal yang sama juga berlaku untuk panitia pengadaan barang dan jasa di ULP. Kab.
Pasaman Barat. Apalagi dasar hukum pembentukan PPTK, KPA, PA, ULP, Panitia Pengadaan
Barang dan Jasa dan Panitia Pemeriksa Barang, adalah sama-sama SK Bupati, dengan SK yang
terpisah satu sama lainnya
10. Pada Hal 6 Aliniea 1 baris ke-1
Terdakwa juga tidak melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap 1 (satu) unit kendaraan
12

dinas Bupati dan Wakil Bupati yang diserahkan PT. Baladewa Indonesia tersebut.
Lagi-lagi JPU menyampaikan hal yang tidak benar dan tidak berdasar yang dituduhkan kepada
Terdakwa. Disini dikatakan bahwa Terdakwa tidak melakukan pemeriksaan dan penilaian
terhadap 1 (satu) unit Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati yang diserahkan PT. Baladewa
Indonesia. Padahal dari fakta persidangan yang disampaikan oleh para panitia pemeriksa barang
bahwa pada waktu pemeriksaan kendaraan tersebut juga diikuti dan dihadiri oleh Terdakwa
sendiri. Kemudian juga di dalam persidangan hari Jumat tanggal 10 April 2015 dibawah sumpah
persidangan, Terdakwa sendiri juga telah menyampaikan bahwa bersamaan dengan
pemeriksaan tersebut juga diikuti dan dihadiri oleh petugas Badan Pemeriksa Keuangan RI yang
pada saat itu sedang melakukan pemeriksaan di Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat.
Sehingga itulah makanya BPK RI telah menyatakan bahwa pengadaan kendaraan dinas tersebut
tidak ada masalah yang tertuang dalam LHP BKP RI Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20
Januari 2011 dan bahkan Majelis Hakim sendiri menyampaikan pada waktu itu agar LHP BKP
tersebut dilampirkan pada saat penyampaian pembelaan, sebagai bukti dapat didengar pada
rekaman persidangan ini.
11. Pada Hal 6 Alinea ke-4
Bahwa tindakan Terdakwa melaksanakan kegiatan pengadaan Mobil Dinas Bupati dan Wakil
Bupati Pasaman Barat Tahun Anggaran 2010 yang hanya dilaksanakan sebanyak 1 (satu) unit
padahal didalam DPPA SKPD TA 2010 adalah untuk 1 (satu) paket yaitu sebanyak 2 (dua) unit,
adalah tidak sesuai dengan Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 160 ayat (1) : Pergeseran Anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan,
dan antar jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf b serta pergeseran
antar objek belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam
DPPA-SKPD. Bahwa perubahan dari 2 unit menjadi 1 unit mobil tersebut seharusnya diawali
dengan adanya persetujuan dari DPRD Kabupaten Pasaman Barat dan perubahan terhadap Perda
No. 04 tahun 2010 tentang perubahan APBD tahun anggaran 2010 yang menjadi dasar DPPASKPD.
Bahwa apa yang dituduhkan oleh JPU tentang tindakan Terdakwa yang melaksanakan kegiatan
pengadaan mobil Dinas Bupati yang hanya dilaksanakan sebanyak 1(satu) unit dikatakan
bertentangan dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 160 ayat (1) adalah tidak benar. Dalam hal ini JPU sendiri telah salah menafsirkan
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 160 ayat
(1) tersebut. Jika kita akan melakukan perubahan APBD, tentu merubah apa yang telah
dicantumkan dalam APBD tersebut dengan mengganti seluruh atau sebagiannya. Dalam hal ini
bahwa angka 2 (dua) unit mobil tersebut tidak tercantum sama sekali di dalam DPPA Sekretariat
Daerah Kabupaten Pasaman Barat Tahu 2010, jadi apa yang harus dirubah? Apa yang harus
melalui mekanisme perubahan APBD dan mendapatkan persetujuan dari DPRD? Jawabannya
tidak ada yang harus dirubah apalagi meminta persetujuan DPRD. Perubahan unit kendaraan ini
tidak terkait sama sekali dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 160 ayat (1), karena ini hanya merupakan perubahan volume realisasi
dari kegiatan yang telah dianggarkan, bukan perubahan objek ataupun rincian objek seperti yang
dimaksud dalam Pasal 160 ayat (1) tersebut.
Dalam DPPA Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat Tahun 2010 pada Bagian Umum, Kegiatan
Pengadaan Kendaraan Dinas/ Operasional tertulis Pekerjaannya adalah Pengadaan Kendaraan
Dinas dengan pagu dana Rp. 1.400.000.000 (satu milyar empat ratus juta rupiah) dan volume 1
13

(satu) paket. Dalam Pelaksanaanya, pekerjaan tersebut direalisasikan dalam bentuk Pengadaan
Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dengan volume 1 (satu) Paket dan
diumumkan pelelangannya melalui media Koran Tempo. Dan berhubung dengan telah
dilaksanakannya pelelangan namun gagal karena anggaran tersebut tidak mencukupi untuk
Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati, maka yang dilaksanakan adalah Kendaraan Bupati
saja, usulan perubahan volume inipun disampaikan oleh Wakil Bupati Pasaman Barat dan
kemudian disetujui oleh Bupati Pasaman Barat selaku Kepala Daerah melalui disposisinya pada
TS tertanggal 10 Nopember 2011. Jadi bukan merupakan usulan dari Terdakwa selaku KPA.
Hal ini juga telah dijelaskan oleh Saksi Celly Decilia Putri, SE, MM. A.kt dibawah sumpah di
persidangan pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015 dan juga penjelasan dari Ahli Dr. Sumule
Tumbo dari Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI dibawah sumpah pada
persidangan hari Jumat tanggal 17 April 2015. Dimana kedua orang saksi tersebut Celly Decilia
Putri, SE, MM. A.Kt adalah praktisi yang sehari-hari tugas dan pekerjaannya adalah mengelola
keuangan daerah Pasaman Barat yang jumlahnya mencapai hampir 1 triliun rupiah, sudah
barang tentu sangat menguasai dan ahli di dalam pelaksanaan aturan Permendagri No. 13 Tahun
2006 sebagai kitab suci pelaksanaan tugasnya. Dan Dr. Sumule Timbo disamping dalam
kapasitasnya sebagai Kasi Wilayah I Pada Subdit Bagian Kebijakan dan Bantuan Keterangan Ahli
pada Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, dimana dalam tugasnya sehari-hari
adalah untuk memberikan penjelasan dan penafsiran terhadap peraturan-peraturan keuangan
kepada seluruh stakeholder, bukan cuma dari Pemerintah Darah Kabupaten dan Propinsi seIndonesia saja, tetapi juga termasuk dari instansi Kejaksaan, Kepolisian, KPK dan LSM-LSM yang
membutuhkan informasi dan penjelasan mengenai substansi dari sebuah peraturan. Apalagi
seperti yang dinyatakan oleh beliau di dalam persidangan, beliau bukan hanya mengerti dan
paham tentang Permendagri No. 13 Tahun 2006 tersebut dan Permendagri-permendagri
lainnya, tetapi bahkan beliau sangat mengerti dengan filosofi dan semangat serta suasana
kebatinan yang mewarnai pada proses penyusunan peraturan tersebut karena beliau adalah
orang yang terlibat langsung di dalam penyusunan peraturan tersebut. Beliau bukanlah
hanya sekedar akademisi atau pemerhati hukum administrasi negara belaka.
Didalam persidangan tanggal 17 April 2015, Ahli Sumule Timbo dibawah sumpah persidangan
memberikan keterangan, berikut saya kutip percakapan antara Jaksa dan Ahli Sumule Timbo :
Jaksa

: Baik majelis. Supaya tidak mengambang kita masuk ke main kasusnya saja.
Perubahan 7 micro bus tadi dibahas bersama DPRD Kab Pasaman Barat, disetujui oleh
DPRD Kab Pasbar atas dasar usulan Pemda, Sekretariat daerah, merubah 7 micro bus
tadi menjadi dua unit kendaraan bupati dan wabup. Dua unit kendaraan bupati dan
Wabup, dibahas waktu itu adalah fortuner dua-duanya. Kemudian juga diadakan
lelang 2 spek kendaraaan berbeda, dua kendaraan yang berbeda, kembali saya
katakan, sudah saya perlihatkan bersama, Ketika merubah 7 menjadi 2 unit tersebut
itu disetujui dan ditandatangani oleh PPKD. Kemudian ketika diadakan dua kendaraan
ini, speknya dua. Ternyata tidak jadi dua diadakan, dirubah berdasarkan surat atau
petunjuk telaahan staf menjadi 1 unit saja tanpa sepengetahuan PPKD, bagaimana itu
pandangan saudara ahli?

Sumule : Ya. Makasih. Sebenarnya tidak masalah, karena begini rupanya perubahan tadi itu
masuk mekanisme pada perubahan. Tidak ada yang salah dengan itu, sehingga sudah
menjadi satu paket, dan ini sekarang direalisasikan. Tidak ada perubahan disini yang
dimaksud itu tadi pak, bukan perubahan, tetapi realisasinya kurang.. Realisasinya
kurang jadi tidak perlu lagi persetujuan PPKD yang dimaksud pasal 160 itu. Rupanya
perubahan itu clear di perda perubahan itu, kuat ini, ga ada masalah ini. Begitu mau
14

direalisasikan oleh SKPD terkait, dari dua itu terealisasi 1, ya kan. Pertanyaannya
nanti, kenapa direncanakan dua kok hasilnya satu. Apa penjelasannya, nah ini, jadi
bukan di perobahan yang saya maksud pasal 160 lagi. Bukan. Giliran itu,
perubahannya barang ini oleh Dewan di Perda Perubahan, ditetapkan
Dari kutipan tersebut, dengan jelas dan terang dapat kita lihat bahwa dalam perubahan 2 (dua)
unit kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat menjadi 1 (satu) unit kendaraan
Bupati Pasaman Barat tidak perlu melalui persetujuan DPRD dan merubah Perda No. 04 Tahun
2010 tentang Perubahan APBD Kab. Pasaman Barat Tahun 2010 yang menjadi dasar DPPA SKPD.
Ini hanyalah pengurangan volume, bukan pergeseran antar objek belanja dalam jenis belanja dan
antar rincian objek belanja sebagaimana yang dimaksud dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006
Pasal 160 ayat (1). Jadi dalam hal ini tidak ada pelanggaran yang dilakukan Terdakwa terhadap
Permendagri No. 13 Tahun 2006 Pasal 160 ayat (1).
Adalah sangat beruntung sekali kita semua yang hadir pada persidangan hari itu mendapatkan
rahmat dengan kedatangan dan kehadiran beliau untuk memberikan penjelasan kepada kita
bersama, apalagi terhadap JPU yang betul-betul tidak mengerti dengan Permendagri No. 13
Tahun 2006 tersebut karena memang di dalam pelaksanaan tugasnya tidak pernah bersentuhan
dan menggunakan Permendagri No 13. Tahun 2006, konon lagi untuk bisa mengetahui dan
menguasainya. Dan kenyataannya apa yang telah disampaikan oleh saksi Celly Decilia Putri, SE,
MM, A.kt dan Ahli Sumule Tumbo tersebut tidak sedikitpun diperhatikan, dilaksanakan, apalagi
dimasukkan di dalam fakta persidangan yang dibuat dalam surat tuntutan JPU. Hal ini hanya
memberikan penegasan kepada kita bahwa kemauan dan kemampuan JPU untuk mencari
kebenaran materiil di dalam persidangan sangat tidak berpihak kepada kebenaran.
12. Pada Hal 6 Alinea ke-5 baris ke-4 s/d 10
proses pengadaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati yang dilaksanakan dengan cara
penunjukan langsung kepada PT. Baladewa telah bertentangan dengan Keppres Nomor 80 tahun
2003, karena PT. Baladewa tidak pernah ikut dalam proses pelelangan sebelumnya. Didalam pasal
28 ayat 8 yang menyatakan Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang / jasa yang
memasukan penawaran hanya 1 (satu) maka dilakukan negosiasi seperti pada proses penunjukan
barang. Apalagi pada saat pelelangan ulang tidak ada satupun perusahaan yang memasukan
penawaran.
Bahwa tuduhan JPU terhadap Terdakwa yang mengatakan cara penunjukan langsung kepada PT.
Baladewa adalah bertentangan dengan Keppres Nomor 80 tahun 2003 Pasal 28 ayat (8) adalah
tidak benar. Karena yang dimaksud dan yang diatur di dalam Pasal 28 ayat (8) tersebut adalah
kondisi pada saat pelaksanaan lelang ulang, bukan setelah lelang ulang gagal. Sementara pada
kasus kegiatan pengadaan kendaraan dinas Bupati ini, berada diluar aturan Pasal 28 ayat (8).
Karena Proses Pengadaan Kendaraan dinas ini telah melalui dua kali pelelangan dan keduanya
gagal karena tidak ada yang mendaftar. Hal ini menandakan ketidak pahaman JPU terhadap
Peraturan Pengadaan Barang dan Jasa yang karena memang Jaksa-Jaksa Penuntut Umum ini
tidak mengerti tentang pelelangan karena belum pernah mengikuti pelatihan pengadaan barang
dan jasa, konon lagi memahami aturan-aturan lainnya. Keadaan yang tidak ada diatur inilah yang
menjadi alasan bagi panitia-panitia ULP se-Indonesia untuk melaksanakan Proses PL apabila
telah melewati dua kali pelelangan gagal. Dan menyikapi fenomena yang dilaksanakan oleh insan
pengadaan barang dan jasa tersebut, maka LKPP pada revisi Keppres No. 80 Tahun 2003
tersebut akhirnya melegalkan mekanisme PL yang telah dua kali gagal dalam Perpres No. 54
15

Tahun 2010. Sehingga tidak lagi menjadi perdebatan yang tidak ada dasar hukumnya. Namun
apabila JPU berpendapat lain, menganggap PL yang dilakukan setelah dua kali lelang gagal ini
adalah suatu kejahatan, maka silahkan para jaksa-jaksa yang terhormat untuk menangkap
seluruh PA atau KPA yang melaksanakan PL setelah dua kali lelang gagal yang dilaksanakannya,
seperti halnya yang telah saudara JPU lakukan terhadap saya. Dan saya yakin, banyak kasus yang
serupa dengan kasus saya yang bisa saudara naikkan untuk mendongkrak popularitas dan
pencapaian target kasus saudara, yang sekaligus akan meningkatkan pundi-pundi dan poin-poin
untuk mendongkrak karir bagi saudara.
13. Hal 6 Alinea ke-6
Bahwa proses penunjukan langsung yang dilakukan atas kegiatan pengadaan Mobil Dinas Bupati
dan Wakil Bupati Pasaman Barat tahun 2010 adalah bertentangan dan tidak memenuhi kriteria
sebagaimana yang diatur dalam Lampiran I Keppres Nomor 80 tahun 2003 Bab I huruf C angka 1
Apa yang disampaikan oleh Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya, khususnya mengenai
Keppres No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah,
menggambarkan kepada kita akan keawaman dan ketidak mengertian Penuntut Umum terhadap
pemahaman Kepres tersebut. Bahwa apa yang disebutkan di dalam Lampiran 1 Keppres No. 80
Tahun 2003 Bab 1 huruf C angka 1, adalah Mekanisme Pemilihan Penyedia Barang dengan
langsung melakukan Penunjukan Langsung, tanpa terlebih dahulu dilakukan Pelelangan Ulang.
Sementara dalam kegiatan pengadaan kendaraan dinas bupati Pasaman Barat ini, mekanisme
Penunjukan Langsungnya dilakukan setelah melalui dua kali pelelangan umum dan gagal.
Kondisi setelah mengalami dua kali pelelangan umum dan gagal kemudian baru dilaksanakan
Penunjukan Langsung, itu berbeda dengan apa yang disebutkan di dalam Lampiran 1 Keppres
No. 80 Tahun 2003 Bab 1 huruf C angka 1 seperti yang dimaksudkan oleh Penuntut Umum
tersebut.
Penjelasan mengenai pelelangan umum setelah dua kali pelelangan gagal itu tidak termasuk
kedalam aturan yang ada didalam Kepres No. 80 Tahun 2003 tersebut juga sudah dijelaskan oleh
Ahli dari LKPP RI di depan persidangan ini. Tetapi karena memang Penuntut Umum mempunyai
target bahwa Terdakwa tidak boleh terlepas dari jerat hukum, menyebabkan Penuntut Umum
tidak memperdulikan apa yang disampaikan oleh Ahli dari LKPP RI tersebut. Padahal kehadiran
Saksi Ahli dari LKPP RI Jakarta di suatu sidang pengadilan, itu adalah sesuatu yang sangat jarang
sekali bisa terjadi, bahkan dalam 5 tahun ini baru hanya satu kasus ini LKPP RI yang mau turun
gunung untuk datang ke persidangan dalam rangka memberikan kesaksian ahli. Kecuali kalau
yang meminta kehadiran LKPP tersebut adalah Lembaga Pengadilan atau Kejaksaan. Tidak untuk
memenuhi permintaan dari pribadi seperti yang Terdakwa ajukan kepada LKPP.
Hal ini adalah karena dari hasil bedah kasus yang dilakukan di LKPP RI Jakarta, bahkan
jangankan untuk merugikan negara, justru sebaliknya negara beruntung dengan mekanisme
Pengadaan Langsung yang dilaksanakan oleh KPA melalui Panitia Pengadaannya. Karena dengan
sistem pengadaan yang dilakukan, negara bisa membeli kendaraan dinas, dengan harga yang
lebih murah. Seandainya kalau pengadaan ini tetap dilakukan dengan sistem pelelangan umum,
maka satu-satunya jalan untuk menarik minat penyedia barang, adalah dengan menambah
margin keuntungan di dalam HPS saat ini yang hanya berkisar 3,6%. Suatu angka yang sangat
tidak menarik bagi pengusaha.
14. Pada Hal 7 Alinea ke-1
Bahwa perbuatan Terdakwa Drs. HENDRI, MM. yang tidak melakukan pemeriksaan dan penilaian
16

terhadap 1 (satu) unit mobil dinas Bupati yang diserahkan PT. Baladewa Indonesia merupakan
perbuatan melawan hukum, yang bertentangan dengan Pasal 36 ayat (2) dan (3) Keppres Nomor
80 Tahun 2003
Lagi-lagi JPU menyampaikan hal yang tidak benar dan tidak berdasar yang dituduhkan kepada
Terdakwa. Karena pada kenyataanya, Terdakwa ada melakukan pemeriksaan terhadap
Kendaraan Dinas Bupati dimaksud yang juga bersamaan dengan pemeriksaan yang dilakukan
oleh Tim Pemeriksa Barang. Dimana, sebagai dasar hukum pembentukannya, Tim Pemeriksa
Barang ini diatur di dalam Permendagari No. 17 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik
Daerah
Hal ini sesuai dengan fakta di persidangan yang disampaikan oleh para panitia pemeriksa barang
yaitu Sdr. Bobby P, Riza, Setia Bakti, Roni HEP dan Amrianto sendiri selaku ketua Tim Pemeriksa
Barang, bahwa pada waktu pemeriksaan kendaraan tersebut juga diikuti dan dihadiri oleh
Terdakwa sendiri, sebagai bukti dapat didengar pada rekaman persidangan. Kemudian juga di
dalam persidangan hari Jumat tanggal 10 April 2015, dibawah sumpah persidangan, Terdakwa
sendiri juga telah menyampaikan bahwa bersamaan dengan pemeriksaan tersebut juga diikuti
dan dihadiri oleh petugas auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan RI yang pada saat itu sedang
melakukan pemeriksaan di Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat. Sehingga itulah makanya
BPK RI telah menyatakan bahwa pengadaan kendaraan dinas tersebut tidak ada masalah yang
tertuang dalam LHP BKP RI Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20 Januari 2011 dan
bahkan Majelis Hakim sendiri menyampaikan pada waktu itu agar LHP BKP tersebut
dilampirkan pada saat penyampaian pembelaan. Dan hasil dari pemeriksaan tersebut
dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan No. 027/267/BAPB/Setda-2010 tanggal 20
Desember 2010 dan bahkan langsung dilakukan serah terima antara PT. Baladewa Indonesia
dengan KPA, sesuai dengan Berita Acara Serah Terima No. 027/268/BASB/Setda-2010 tanggal
20 Desember 2010.
Hal ini merupakan sebuah keanehan, karena JPU Nazif Firdaus sendiri pada persidangan
menyatakan dengan lantang pada persidangan, untuk apa lagi dibentuk KPA kalau semua
tanggung jawab itu dilimpahkan kepada PA, berarti percuma dibentuk adanya KPA. Pertanyaan
yang sama semestinya juga dipakai oleh JPU, untuk apa dibentuk panitia pemeriksa yang dasar
pembentukannya adalah Permendagri No. 17 Tahun 2007 yang juga menerima honor dari
negara. kalau semua pekerjaannya tetap menjadi tanggung jawab KPA ?

15. Pada Hal 7 Alinea ke-2


Berdasarkan Laporan Hasil Audit Perhitungan Kerugian Negara oleh BPKP Perwakilan Provinsi
Sumatera Barat Nomor : SR-1422/PW03/V/2013 tanggal 3 Juni dengan kesimpulan bahwa akibat
pengadaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati yang tidak sesuai dengan aturan yang
berlaku, mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273,-
Keuntungan rekanan/(kerugian keuangan negara) : Rp 276.887.273,00
Bahwa kerugian negara yang dihitung oleh Sdr. Afrizal selaku auditor BPKP Perwakilan Propinsi
Sumatera Barat terbukti tidak memiliki dasar hukum sama sekali. Setelah saksi membahas
bermacam undang-undang yang mengatur tentang keuangan negara, mulai dari UU No. 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tipikor, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No.
1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, PP, Kepres, Permendagri, dan Kepmendagri,
serta aturan-aturan iternal BPKP itu sendiri, kemudian dengan santainya Ahli Afrizal dari BPKP
Perwakilan Prop. Sumatera Barat menyampaikan didepan persidangan dibawah sumpah,
menjawab pertanyaan Majelis Hakim, dan pertanyaan dari Terdakwa sendiri, bahwa dasar
17

hukum ahli menghitung kerugian negaranya sehingga didapat angka Rp. 276.887.273,- tidak
ada sama sekali. Ini hanya menurut perhitungan saya. Inilah menurut saya angka yang
realistis. Kalau berapa angka pastinya kerugian negara, silahkan Majelis Hakim yang
menghitungnya. Entah kemana lagi segerobak peraturan yang dibacanya sebelumnya
diletakkannya ketika orang yang disebut ahli ini melakukan penghitungan uang. Due Process of
Law. Saya cukup terharu pada waktu Majelis Hakim, Hakim Anggota 1, Bapak Fahmiron,
mencerca saksi tersebut sampai membuat saksi tersebut manggaretek menggigil.
Untuk menjustifikasi dakwaannya, bahwa telah terjadi suatu tindak pidana korupsi dengan
memberikan keuntungan kepada orang lain atau korporasi maka dengan semena-mena, JPU
merubah dokumen Laporan Hasil Audit BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat dalam rangka
penghitungan kerugian keuangan negara atas dugaan tindak pidana korupsi pengadaan
kendaraan dinas bupati dan wakil bupati Pasmaan Barat, No. SR-1422/PW03/5/2013 tanggal 3
Juni 2013. Dengan menambahkan kalimat keuntungan rekanan pada poin ke-6 rincian
perhitungan, dan hal ini di dalam persidangan, Sdr Ahli Afrizal, membantah apa yang
ditambahkan oleh JPU tersebut, saya tidak ada membuatnya seperti itu, katanya. Sebagai
bukti dapat didengar pada rekaman persidangan pada hari selasa tanggal 31 Maret 2015.

Itulah tadi beberapa bantahan Terdakwa terhadap dakwaan yang dituduhkan JPU yang padahal
sebenarnya sudah disangkal dan dibantah pada saat proses sidang berlangsung, namun JPU tidak
menyimak dan memperhatikan berjalannya persidangan, tetap membuat surat tuntutannya
berdasarkan kepada BAP yang dibuat pada saat pemeriksaan di tingkat penyidikan. Lantas
bagaimana dengan keterangan saksi yang dibawah sumpah persidangan, apakah JPU juga tetap
tidak menyimak dan tidak memperhatikan keterangan saksi pada saat persidangan? Berikut saya
ulas satu-persatu.

18

II.

TERHADAP POIN A. KETERANGAN SAKSI


Bahwa terhadap keterangan saksi yang telah disampaikan dibawah sumpah dipersidangan,
saya berkeyakinan bahwa apa yang diungkapkan dalam persidangan tersebut sudah dicatat oleh
Panitera Pengganti sebagaimana mestinya. Dan kamipun telah mencatat dan membuat resume serta
rekaman audio persidangan untuk menjadi pegangan saya nantinya apabila terjadi perbedaan atau
ketidaksamaan keterangan saksi yang disampaikan oleh JPU. Untuk beberapa rekaman persidangan
bahkan telah saya transkrip dan menjadikannya 1 (satu) dokumen Resume Persidangan. Izinkan saya
untuk memberikan resume ini terlebih dahulu kepada Ibu Hakim. Khusus untuk rekaman
persidangan dan transkripnyapun sudah saya upload ke dropbox dengan daftar link sebagaimana
saya sampaikan di dalam resume persidangan tersebut, sehingga siapa saja di atas dunia ini dapat
mengaksesnya melalui jaringan internet, tidak kecuali JPU sendiripun dapat mengaksesnya. Dengan
mendengarkan rekaman persidangan ini akan dapat menyegarkan ingatan kita kembali terhadap apa
yang telah disampaikan oleh Saksi-saksi dipersidangan sebelumnya, yang sebagian besarnya lupa
dikutip oleh JPU. Persis sama dengan sebagian besar saksi yang dibawa oleh JPU dari Simpang empat.
Sampai disini semuanya menderita amnesia akut, lupa dan tidak tahu saja jawabnya lagi.
Bahwa, di dalam persidangan kasus perkara ini, dari 23 (dua puluh tiga) saksi yang dimintai
keterangannya oleh jaksa penyidik, tidak seluruhnya bisa dihadirkan oleh JPU dalam persidangan.
Yang dihadirkan adalah 21 orang dan terdapat 2 orang saksi yang sudah diberkas yang tidak
dihadirkan oleh JPU dalam persidangan yakni Yulisman dan Sakirman. Namun di dalam Surat
Tuntutannya, JPU menyampaikan 22 orang yang dihadirkannya dalam persidangan. Sdr. Sakirman
yang jelas-jelas tidak hadir didalam persidangan, tetap dibuatkan keterangannya di surat
tuntutan sebagai saksi yang hadir dibawah sumpah persidangan. Ini membuktikan bahwa JPU
sendiripun sampai lupa dengan siapa-siapa saksi yang sudah dihadirkannya. Konon lagi dengan apa
yang disampaikan oleh saksi dan ahli di persidangan, sudah barang tentu banyak yang lupa bahkan
dilupa-lupakannya.
Keterangan saksi yang disampaikan oleh JPU di dalam surat tuntutannya Hampir seluruhnya
tidak berdasarkan fakta persidangan melainkan hanya menyalin dari BAP saja. Padahal di dalam
persidangan berkembang keterangan dan informasi baru yang disampaikan oleh saksi-saksi dan ini
tidak digubris sama sekali oleh JPU, hanya dianggap angin lalu saja, buktinya apa yang disampaikan
saksi di persidangan tidak dimasukkan kedalam fakta persidangan yang ada di dalam surat
tuntannya.
Apa yang terdakwa maksudkan dalam hal ini bukanlah mengada-ngada saja dan bukanlah
tidak berdasar melain apa yang terjadi di dalam persidangan demi persidangan, terdakwa memiliki
rekamannya. Sehingga keterangan-keterangan, ucapan-ucapan, pertanyaan maupun jawaban dari
majelis hakim, saksi, terdakwa, penasehat hukum bahkan ucapan dari JPU sendiri ada di dalam
rekaman ini. Dengan demikian kita sama-sama bisa membuktikan apa sebenarnya fakta yang
terungkap dipersidangan.
Bahkan rekaman inipun dapat didengar oleh siapa saja di dunia ini yang memeiliki keinginan
dan kepedulian terhadap keadilan dan kebaran dengan mengakses melalui link yang telah kami
sediakan.
Bahwa dalam persidangan perkara a quo, Terdakwa telah pula menghadirkan saksi yang
meringankan yaitu Helmi Heryanto dan Norli (Oyong) dan telah memberikan keterangan dibawah
sumpah persidangan.
Dari saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU di dalam persidangan ini yang sebagian besar
adalah aparatur pemda Pasaman Barat, baik itu panitia pengadaan, panitia pemeriksa, maupun
19

pejabat-pejabat terkait lainnya. Kita melihat sebuah fenomena yang sangat menarik, karena di dalam
persidangan, sebagian besar dari mereka menjawab dengan tidak tahu, tidak ingat, dan lupa.
Fenomena seperti ini sebenarnya bisa dijelaskan secara sederhana :
1. Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat ini, dilaksanakan pada akhir tahun
2010, lebih dari 4 tahun yang lalu, adalah sesuatu yang manusiawi jika suatu pekerjaan
kantor yang rutin dan biasa tidak begitu menyedot perhatian dan kenangan khusus bagi
pelaksana-pelaksananya. Pengadaan kendaraan dinas bupati ini hanyalah merupakan
satu dari ribuan pekerjaan rutin kami sebagai Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Daerah
Kabupaten Pasaman Barat. Pengadaan inipun berjalan dengan apa adanya menurut
proses, ketentuan dan prosedural yang semestinya.
Dalam pengadaan sebuah barang di kantor, tidak ada bedanya, antara membeli satu unit
laptop dengan membeli satu unit mobil apalagi pengadaanya bukanlah untuk pribadi kita.
Menghadapi suatu proses hukum, tidak ada seorangpun yang ingin terlibat apalagi sampai
terseret dalam pusaran proses hukum, seperti yang saat ini sedang terdakwa hadapi. Pasti
ada perasaan untuk melindungi dan menyelamatkan diri masing-masing. Apalagi yang
dihadapi adalah aparatur Kejaksaan Negeri Simpang Empat, yang memang dengan nyatanyata menyatakan, bahwa siapapun yang tidak mau bekerjasama dengan kami, tidak mau
tahu dengan kami, sepersekian persenpun kesalahan pekerjaan kalian, akan kami usut
dan angkat persoalan tersebut. Siapakah manusia dalam pekerjaannya yang tidak ada
kesalahan ? Mana ada gading yang tidak retak. Sedangkan Penuntut Umum yang sudah
orang hukum saja masih membuat kesalahan seperti dalam surat tuntutannya dengan
membuat keterangan saksi yang tidak hadir dipersidangan. Sedangkan penyidik saja
membuat BAP Suparman dan Djono Hans menyebutkan pembuatan BAP didalam BAPnya
adalah bertempat di Kejaksaan Negeri Jakarta. Tapi mereka berkuasa. Mereka bisa
berbuat apa saja. Dan ini menimbulkan ketakutan bagi saksi-saksi yang dihadirkan.
Sehingga cara yang paling sederhana untuk menyelamatkan diri, adalah dengan
mengatakan tidak tahu, tidak ingat dan lupa tersebut. Padahal didalam pelaksanaan
kegiatan pengadaan ini, semuanya bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing.
Pada saat itu hanya kegembiraan dan kebahagiaan Tim karena perjuangan untuk
melengkapi salah satu symbol-symbol negara, symbol-symbol daerah Pasaman Barat,
sudah terwujud. Siapakah yang tidak akan bangga ketika dia ikut dan ada andilnya dalam
proses tersebut?
3. Demikian juga ketika yang diperiksa adalah Pejabat-pejabat yang saat ini masih
berjabatan, eselon 2 lagi. Tentu mereka ingin melindungi diri dan jabatannya dari incaran
aparat Kejaksaan Simpang Empat. Salah satunya adalah dengan cara berempati kepada
Kejaksaan dengan tidak ada komentar untuk membantu orang yang saat ini sedang
berperkara dengan Kejaksaan.

20

DAFTAR LINK DROPBOX REKAMAN SIDANG

KASUS PENGADAAN KENDARAAN DINAS BUPATI PASAMAN BARAT TAHUN 2010


Tersangka
: Drs. HENDRI, MM
Penasehat Hukum : RISMAN SIRANGGI, SH

No Hari/ Tanggal

Agenda

1 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
06 Februari'15Sudirman Samin

JPU

Hakim

Rekaman Sidang

Mp3
Durasi Kapasitas
Nazif Firdaus, SH Asmar, SH
https://www.dropbox 58.29 menit 53,54 MB
Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/6lbr3c1uoxf5
Zalekha, SH
pph/Rek%20Sidang%
2006%20-%2002%20%202015.MP3?dl=0

2 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
13 Februari'15Bendri, Indera Yani,
Winardi Lubis, Tona

Nazif Firdaus, SH Asmar, SH


https://www.dropbox 2.34.15 jam 141,22MB
Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/4ojkv507hcnp
Zalekha, SH
2ef/Rek%20Sidang%
2013%20-%2002%20%202015.MP3?dl=0

3 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
20 Februari'15Zalmi, Erizal dan
Hendri Fiterson

Nazif Firdaus, SH Asmar, SH


https://www.dropbox 51.37 menit 118,15MB
Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/gsj9kr4l76h9v
Zalekha, SH
ag/Rek%20Sidang%2
020%20-%2002%20%202015.MP3?dl=0

4 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
Nazif Firdaus, SH Asmar, SH
https://www.dropbox 2.14.36 jam 123,23MB
27 Februari'15Aliman Afni dan Celly Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/0bhxgspn76j9
Decilia Putri
Zalekha, SH
rle/Rek%20Sidang%2
027%20-%2002%20%202015.MP3?dl=0
5 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
06 Maret 15 Suparman dan Jono
Hans (Importir

6 Jum'at/
13 Maret15

Pemeriksaan Saksi
Nazif Firdaus, SH Asmar, SH
https://www.dropbox 1.38.12 jam 89,91MB
Amrianto, Setia Bhakti Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/gjun6pzuu0m
dan Roni HEP
Zalekha, SH
vpjo/Rek%20Sidang
%2013%20%2003%20%202015.MP3?dl=0

7,1 Jum'at/
Pemeriksaan Saksi
20 Maret 15 Bobby P Riza,
Vitarman, Arifin dan

7,2

Nazif Firdaus, SH Asmar, SH


https://www.dropbox 1.44.48 jam 95,95MB.
Akhiruddin, SH Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/pkbhovzdljib0
Zalekha, SH
1q/Rek%20Sidang%2
006%20-%2003%20%202015.MP3?dl=0

Wendri, SH
Akhiruddin, SH

Asmar, SH
https://www.dropbox 1.39.24 jam 136,52MB
Fahmiron, SH,M.Hum.com/s/i5ad5smui6r9
Zalekha, SH
xix/Rek%20Sidang%
2020%20-%2003%20%202015_1.MP3?dl=0
https://www.dropbox 1.29.24 jam 122,77MB
.com/s/lagmid7qe4bg
c9r/Rek%20Sidang%
2020%20-%2003%20%202015_2.MP3?dl=0

21

22

III.

TERHADAP POIN B. KETERANGAN AHLI


Dalam perkara ini, untuk membuktikan ada atau tidaknya unsur-unsur tindak pidana korupsi yang
dilakukan oleh Terdakwa maka didengarkan keterangan dari 3 (tiga) orang ahli sebagai berikut :
1. AFRIZAL, ahli dalam menghitung kerugian negara dengan jabatan auditor di BPKP Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat
2. MUDJISANTOSA, SE, MM, ahli dalam Pengadaan Barang dan Jasa dengan jabatan Kepala Sub Dit
Advokasi LKPP (setara Es IIIa) pada LKPP RI (Anggota Tim Penyusun Peraturan-Peraturan
tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah)
3. DR. SUMULE TIMBO, ahli keuangan daerah dengan jabatan Kasi Wil I pada Subdit Bagian
Kebijakan dan Bantuan Keterangan Ahli Pada Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam
Negeri (Anggota Tim Penyusun Peraturan-Peratuan tentang Pengelolaan Keuangan Daerah)
Dari ketiga ahli tersebut, satu orang yaitu Sdr. Afrizal merupakan ahli yang dihadirkan oleh JPU dari
Padang pada waktu persidangan pada hari dan dua orang ahli lainnya, yaitu Mudjisantosa, SE, MM
dan DR Sumule Timbo, ahli yang dihadirkan oleh Terdakwa dari Jakarta
Dari surat tuntutan yang dibacakan JPU pada persidangan sebelumnya, bahwa :
a.

Kita dapat sama-sama melihat dan menilai bahwa JPU berbuat sungguh sangat tidak adil karena
keterangan ahli afrizal dimuat dalam 4,5 halaman walaupun isinya hanyalah mengenai biografi
dan peraturan-peraturan undang-undang saja, sedangkan keterangan ahli Mudjisantosa, SE,
MM dan DR. Sumule Timbo hanya dibuat sepertiga-sepertiga halaman saja. Sementara durasi
persidangan masing-masing ahli tersebut kurang lebih sama-sama 1 jam 30 menit dengan
rekaman persidangan yang saya lampirkan bersamaan dengan pledoi ini yang merupakan satu
kesatuan.

b.

Keterangan ahli yang dituangkannya di dalam surat tuntuan hanyalah keterangan yang ada di
dalam BAP tanpa ada lagi tambahan keterangan lainnya yang terungkap di dalam persidangan,
alias jaksa cuma menyalin BAP saja ke dalam surat tuntutannya. Ini menandakan bahwa
JPU tidak menyimak apa yang berlangsung di dalam persidangan. Berdasarkan KUHAP Pasal
186 menyatakan keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan.
Dalam hal ini, JPU tidak menyampaikan keterangan ahli Afrizal sebagaimana yang ia terangkan
disidang pengadilan. Artinya JPU telah menghilangkan sebagian barang bukti yaitu keterangan
ahli Afrizal.

c.

Hal yang sama dilakukan oleh JPU terhadap keterangan Ahli Mudjisantosa dan Ahli Sumule
Timbo, selain tidak menyampaikan fakta persidangan yang sebenarnya, JPU juga memutar
balikkan fakta terhadap keterangan ahli tersebut. Sehingga akhirnya JPU sendiri salah dalam
mengambil kesimpulan yang berakibat kepada salahnya tuntutan yang dibuatnya.

d.

Dengan cara-cara JPU dalam menuangkan keterangan ahli yang disampaikan dalam
persidangan kedalam surat tuntutannya, secara langsung telah memberikan gambaran kepada
kita bahwa hal ini sengaja dilakukan oleh JPU dengan maksud untuk mempengaruhi Majelis
Hakim dalam pengambilan keputusannya walaupun dilakukan dengan cara-cara yang tidak
objektif dan tidak terhormat.

Untuk memperjelas dan menyegarkan ingatan kita kembali, berikut saya kutip beberapa keterangan
ahli-ahli tersebut :
1.

Ahli Afrizal, dibawah sumpah persidangan pada hari Selasa tanggal 31 Maret 2015,
23

memberikan keterangan sebagai berikut :


Hakim

Afrizal

Hakim

Afrizal
Hakim
Afrizal
Hakim
Afrizal

Hakim
Afrizal
Hakim

Afrizal

: Saya mengenai ini saya sepakat. Tapi kalau mengenai kerugian ini, seharusnya
saudara realistis dong, disini yang saya maksud kan, sampai di akhir 860 juta.
Sampai di Baladewa yang dibeli oleh Frans Wijaya. Seharusnya tidak ada
Kerugian Negara, tapi penyimpangan saya sepakat. Tapi kalau mengenai
kerugian Negara ini, seharusnya saudara realistis. Jangan asal uang
Negara, ini yang saya minta di ahli ini realistis kita ya, jangan dipaksakan
aturan main seperti ini, harganya di importir. Dari importir ke Deka 675
itu, saya tidak sepakat itu. Saya rasa tidak ada kerugian Negara,
penyimpangan sepakat. Seperti itu. Ini ahli jangan main-main, kasihan
orang ini, orang ini ga menikmati kok, kok harus dia yang menikmati,
harus dia yang bertanggung jawab? Tapi kalau penyimpangan oke. Tapi
kalau masalah kerugian, ini jangan ambil patokan 675. Kenapa sampainya ke
sekretariat Pemda Pasbar 860 ada kuintansi loh. Gimana itu? Besok itu gimana
di BPKP? Ini yang saya bilang realitanya
: Kan kita gini pak, seperti yang kita laporkan, kita ekspose internal
namanya, ekpose, sepakatlah langkahnya kayak gitu, kemudian kita
lanjut ke penyidik. Sepakat juga langkahnya kayak begitu.
: Tadi saudara bilang tadi, anda membuat patokan 675, karena ada
penyimpangan tadi terhadap pasal 28 ayat 8 dan pasal 17 ayat 5, karena
penyimpangan tadi patokan anda 675. Dasarnya apa anda ngomong seperti
itu?? Kenapa ?? Karena laporan kwitansi yang ada 860. Kita harus
objektif dong dalam penilaian ini. Saya tidak kemana-mana lho, saya
objektif saja. Tidak ada keberpihakan disini. Jadi apa dasarnya anda
berpatokan realnya lo 860, dia tidak menikmati sama sekali.
: Begini pak
: Iyaaa, realnya kan dia tidak menikmati. Saksi mengatakan, ini faktanya loh,
sampainya 860, kenapa patokan saudara 675?? Dasarnya apa??
: Itu angka yang realistis, yang... yang... 675 itu kita pakai...
: Kenapa anda pakai 675? Karena melanggar aturan itu?
: Disitu kan Prakteknya kan berantai-rantai pak. Tidak langsung. Sampai lah ke
860 itu, dari importir ke Deka, dari Deka ke Kencana. Jadi seakan-akan
keuangan negara ini seakan-akan gampang-gampang saja dipermainkan,
seharusnya sampainya cuma 675 itu, bukan 860, sebab pembeli sudah berantai
dari atas ke bawah, banyak keuntungan makanya 860
: Ya boleh, itu karena keuntungan-keuntungan, akhirnya 860
: Ya
: Kalau terjadi hal seperti ini, sementara KPA mengambil Baladewa, tidak
sanggup melakukan ini tapi dia sudah berantai-rantai sampai pada 860. Dia
tidak menikmati. Kalau terjadi hal seperti ini tanggung jawab siapa??
Maksudnya kan kita bukan ahli, kita mau pendapat dia. Apakah ada ketentuan
yang misalnya, hasil penjualannya 860 juta, saya ga ada kepentingan loh disini,
saya hanya mencari kebenaran materilnya, apakah nanti dalam kerugian
Negara, ternyata harga real nya memang 860. Itu yang saya tanyakan
: Kita kan menghitung cuma. Berdasarkan keahlian kita menghitung
menetapkan 675, kalau kebenarannya silakan Majelis Hakim yang
menetapkannya.
24

Hakim

: Kami berpatokan kepada ahli, tapi kami bisa mematahkan apa yang ahli
katakan ini. Saudara sebagai ahli lo disini
Afrizal
: Ya
Hakim
: Itu yang kami pertanyakan, supaya tidak ada orang yang dikorbankan,
itu yang saya maksud. Kita hanya berdasarkan fakta yang ada, itu yang
kita simpulkan nanti. Kesimpulan terakhir tetap ditangan majelis.
Afrizal
: Ya
Hakim
: Perhitungan anda 675 ini, sementara anda juga melihat bukti kwintansi
nya 860, dia tidak menikmati. Kalau terjadi hal seperti ini, yang
bertanggung jawab siapa?? Apa masih juga dibebankan kepada orang
yang tidak menikmati? Itu yang saya tanyakan. Menurut saudara sebagai
ahli
Afrizal
: Kalau dia sebagai KPA, bertanggung jawab. Iya. Kalau pun dia tidak menikmati,
karena dari awal dia telah melakukan penyimpangan terhadap aturan
pengadaan
Hakim
: Itu saya paham itu. Mengenai kerugian negara ini, kita lihat nanti saya tidak
memojokkan ahli
Afrizal
: Ya
Hakim
: Saya pengen tahu saja, Karena saudara ahli, kalau tidak ahli tidak saya
tanyakan ini. Kepada saksi tidak tanyakan ini, termasuk Kepres 80. Saya hanya
meluruskan, mencari kebenaran materil, nanti uang pengganti ini, dibebankan
kemana. Kerugian seperti ini, uang pengganti dibebankan kemana. Kirakira bagaimana, bisa tidak uang pengganti ini, kita bebankan kepada
orang yang tidak menikmati ini harus dikorbankan?
Jaksa
: Ini menarik sedikit, sepertinya apabila ada aturan yang dilanggar, dari awal
pengadaan, muncullah aturan harga pangkalnya, kemudian dari harga realistis
Nazif
patokan saudara kerugian Negara, berbeda dengan harga yang dibeli Baladewa
860. Apakah memang begitu prosedur yang ditetapkan oleh BPKP, yang
menyatakan kalau kerugian keuangan Negara itu yang muncul, atau
saudara saja sebagai ahli?
Afrizal
: BPKP
Jaksa
: Berarti prosedur BPKP, karena memang perkara ini, dibunyikan juga
kerugian dari semua kontrak konsultan pengawas yang bekerja, karena
Nazif
lelangnya gagal, sama seperti ini. Jadi prosedur BPKP, bukan prosedur
saudara?
Afrizal
: Bukan
Terdakwa : Kalau begitu, apa dasar hukum dari perhitungan kerugian keuangan Negara
yang saudara lakukan tersebut yaitu dengan cara menghitung nilai kontrak
bersih setelah dikurangi pajak dan leges dan dikurangi dari nilai jual dari
importir umum. Apa dasar hukumnya?
Afrizal
: Dasar hukumnya tidak ada
Terdakwa : Baik. dan merugikan keuangan Negara dan dari perhitungan yang saudara ahli
lakukan bahwa keuntungan rekanan adalah 276.887.273. Apakah rekanan
yang saudara maksud kan ini PT Baladewa?
Hakim
: Bukan keuntungan, tapi kerugian
Terdakwa : Karena didalam BAP ini di point nomor 5, keuntungan rekanan / (kerugian
keuangan Negara).
Hakim
: Kan ada keuntungan rekanan, dilaporan kita kerugian
25

Hakim
Hakim
Terdakwa
Afrizal
Hakim
Terdakwa
Hakim

:
:
:
:
:
:
:

Terdakwa :
Hakim
:
Hakim
:

Hakim
Terdakwa
Hakim
Terdakwa

:
:
:
:

Hakim

Terdakwa :

Hakim
Terdakwa
Terdakwa
Hakim
Terdakwa
Hakim
Terdakwa

:
:
:
:
:
:
:

Hakim
Terdakwa
Hakim
Terdakwa

:
:
:
:

Nomor 5 yang mana ini?


Ini yang ada rincian
Rincian nomor 5 yang dicetak tebal, keuntungan rekanan
Kalau di laporan kita kerugian keuangan Negara.
Kerugian keuangan Negara dari hasilnya.
Ini dakwaan sama BAP juga
Kalo hasil dia ini, kerugian keuangan negara. Bukan keuntungan rekanan, ini
BAP
Berarti jaksa yang salah ya
Saudara yang menilai yang salah. Didalam laporan hasil audit
Tapi kan didalamnya ada kerugian keuangan Negara bu, garis miring dalam
kurung kerugian Negara. Dalam point 5 itu, keuntungan rekanan / (kerugian
keuangan Negara). Majelis yang menilai nanti
Ya, majelis yang nilai nanti.
Siap bapak
Siapa yang diuntungkan siapa yang dirugikan
Baik. Selanjutnya saudara ahli, objek yang saudara audit adalah pengadaan
barang dan jasa pemerintah, berupa kendaraan dinas. Apakah saudara ada
mempedomani aturan lain dalam menilai ada tidaknya kerugian keuangan
Negara? Selain tentang peraturan keuangan Negara dan pengelolaan keuangan
Negara?
Sudah disebutkan oleh saudara ahli tadi, saya yang bertanya tadi, banyak poinpoin nya itu. Ketentuan yang mengaturnya
Baik ibu. Karena saya bertanya demikian, karena tata niaga kendaraan
bermotor itu diatur dalam Surat Edaran Dirjen Pajak, dan itu tidak dimasukkan
menjadi bahan penilaian oleh saksi ahli?
Pengadaan barang
Betul ibu
Pengadaan barangnya adalah kendaraan dinas ibu
Buat saja di pembelaan saudara
Siap ibu
Apa ketentuan saudara itu, bacakanlah
Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 21 Tahun 2000 tentang PPn dan PPnBM,
bahwa dalam tataniaga kendaraan berMotor, mata rantai distribusi kendaraan
bermotor pada umumnya melewati lini lini sebagai berikut : lini 1 nya
importir umum ibu, itu PT Multicentra, lini duanya adalah distributor, lini 3
nya dealer, lini 4 nya ada subdealer atau showroom, disetiap lini atau tingkatan
tersebut dikenakan PPn atau PPnBM sebagai pemasukan bagi Negara. Ini harus
di by pass menurut saksi ahli, sehingga tentu mengurangi pendapatan
terhadap Negara.
Nanti saudara masukkan dalam pembelaan
Siap. Jadi saudara tidak merujuk kesana ya. Baik untuk selanjutnya
Dilampirkan nanti itu ya
Siap bapak, lengkap dengan hitungannya.

Dari fakta persidangan yang Terdakwa tampilkan kembali di atas kita dapat melihat bahwa apa
yang dilakukan oleh ahli dari BPKP tersebut adalah sesuatu yang inskonstitusional, kalaupun kita
tidak boleh menyebutnya mengangkangi aturan-aturan yang ada. Bermunculan istilah yang baru
seperti angka realistis, dan aturan harga pangkal. Dimana letak azaz legalitas dalam hukum
26

dimana untuk menegakkan hukum, dilakukan dengan cara-cara melanggar hukum dan anehnya
setelah di dalam persidangannya terungkap seperti itu, JPU tetap memakai kesimpulan yang
diambil OLEH AHLI SESAT tersebut. Entah dimana diletakkannya kehormatan persidangan ini
oleh JPU dalam rangka mempertahankan dan menjustifikasi tuntutannya. Apakah kesesatan
seorang Afrizal walaupun dia atas nama sebuah Institusi negara BPKP akan juga menyesatkan
kita semua.
Karakter-karakter auditor BPKP seperti inilah yang semakin merusak dan menghancurkan
hukum negara kita sehingga tidak salah kalau auditor resmi negara yang diakui oleh UndangUndang sebagai pemeriksa keuangan negara yaitu Badan Pemeriksa Keuangan RI mengatakan
kalau BPKP itu adalah singkatan dari Badan Pemeriksa Keuangan Palsu, kenapa Palsu? Karena
oknum-oknum ahli seperti inilah yang bisa di stel hasil temuan menurut keinginan dari orang
yang memesannya.
Hal ini dulu juga pernah disampaikan oleh Ahli Afrizal bahwa Kajari Simpang Empat mengatakan
kepada saya (Afrizal) dan menyampaikan dugaannya bahwa ada sesuatu yang tidak beres
dengan pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh BPKP atas permintaan Kejaksaan Negeri
Simpang Empat. Bahwa ahli Afrizal mengatakan bahwa Kajari secara langsung dan tegas telah
meminta kepada ahli afrizal agar dalam penghitungan angka kerugian negara supaya membuat
temuan kerugian negara ini harus diatas angka Rp. 100.000.000. Sdr Afrizal mencium ada
sesuatu yang tidak harmonis dalam hubungan antara Kajari dengan Bupati Pasaman Barat, dan
adanya aktor intelektual yang mempunyai ambisi politik dan memiliki dana yang besar
dibelakang semua ini

2. Ahli Mudjisantosa, SE, MM,


Dari surat tuntutan yang dibacakan oleh JPU pada persidangan kemaren, kita dapat melihat
bahwa sebenarnya telah cukup jelas dan terang, dijelaskan oleh ahli Mudjisantosa, SE, MM dari
LKPP RI, bahwa pelaksanaan PL yang dilaksanakan oleh Panitia 1 ULP Pasaman Barat pada
kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat, tidak ada melanggar ketentuan
yang ada pada Keppres No. 80 Tahun 2003.
Pelaksanaan PL Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat ini adalah berada diluar aturan seperti
yang dimaksudkan dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 Pasal 28, karena PL dilaksanakan setelah
dua kali lelang gagal, bukan pada kondisi pelelangan ulang seperti yang dimaksudkan pada Pasal
28 ayat (7) dan (8). Tetapi karena pemahaman Penuntut Umum yang benar-benar tidak mengerti
dengan Keppres No. 80 Tahun 2003, apalagi juga tidak pernah melakukan kegiatan Pengadaan
Barang dan Jasa, semangat dan jiwa filosofi dari Keppres No. 80 Tahun 2003 tersebut, tidak dapat
dipahami oleh Penuntut Umum. Satu-satunya yang dipahami oleh JPU adalah, apapun caranya,
apapun bahasanya, Terdakwa harus terjerat oleh Hukum.
3.

Ahli Dr. Sumule Timbo, dibawah sumpah persidangan pada hari Jumat tanggal 17 April 2015,
memberikan keterangan sebagai berikut :
Sumule

Ya. Surat Perintah Membayar adalah suatu dokumen yang akan


ditandatangani oleh Pengguna Anggaran maupun atau KPA di dalam
memerintahkan untuk mencairkan anggaran dari kas daerah ke pihak ketiga.
Kemudian pemahaman SPM itu sendiri adalah bahwa siapa yang
menandatangani SPM baik PA atau KPA apabila didelegasikan
27

Penasehat
Hukum
Sumule

PH
Sumule

:
:

Hakim

Sumule
Hakim
Sumule

:
:
:

Hakim
Sumule

:
:

Hakim
Sumule

:
:

Hakim
Sumule

:
:

Hakim
Sumule
Hakim
Sumule
Hakim
Sumule

:
:
:
:
:
:

kewenangannya ke pejabat internal SKPD selaku KPA, maka ia harus yakin


kebenaran dari setiap dokumen bahagian dari SPM itu ketika si PA atau KPA
itu sudah menandatangani SPM, .ya. Saya lanjutkan bahwa konsekuensi dari
itu adalah tanggung jawab, sehingga penandatangan SPM bertanggung
jawab penuh atas kebenaran dokumen-dokumen yang menjadi lampiran
dari SPM. Ya
Baik terima kasih. Saudara sudah menerangkan dg lengkap. Apa bentuk
kewenangan penandatangan SPM itu berkaitan dengan tanggung jawab ?
Berkaitan dengan tanggung jawab, saya ingin mengutip, Pasal 184 ayat 2
Permendagri No. 13 Tahun 2006
Tentang apa??
Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada pasal 184 ayat 2
menyatakan bahwa pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan
dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan
dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap
kebenaran materil dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti
dimaksud.
Intinya aja, ya. Tadi kan ditanya, siapa yang bertanggung jawab di dalam SPM
yang dikeluarkan, apakah, disini kan saudara bilang ada PA dan KPA, siapa
yang bertanda tangan, apakah PA atau KPA yang bertandatangan, itulah
yang bertanggung jawab. Kalau PA yang bertanda tangan, PA lah yang
bertanggung jawab. Begitukan.
Oke bu. Makasih
Ya begitu lah
Ya, kalau PA yang menandatangani, PA yang bertanggung jawab, kalau
KPA yang menandatangani dia yang bertanggung jawab
Aa... itu intinya
Ya, 1 paket, 1 miliar 400 juta, kemudian yang dibeli itu hanya satu.
Pertanyaan tidak ada perobahan disitu, dia malah ada SILPA
Apa itu SILPA??
Sisa lebih hasil perhitungan anggaran sebelumnya, yang artinya saya
bertanya 1 miliar 400 itu kan rencananya 2, yang terealisasi 1, ya. Nah
kemudian yang satu itu habis, atau masih ada sisa.
Yang digunakan 1 miliar 72 juta.
Oke. Kan masih ada silpanya. Artinya kan, pengurangan volume, bukan
perubahan rincian objek atau objek atau jenis lagi. Jadi makanya saya
jelaskan seperti itu, biar kita sama-sama paham
Jadi pergeseran dengan perubahan itu berbeda ya. Kan gitu
Ya siap
Jadi ini hanya pemakaian 1 unit, ada silpa.
Ya
Itu apakah diperbolehkan??
Ooo iya, kalau dia tidak artinya sesuai dengan realisasinya, kan tidak boleh,
mengada-ada namanya.
Berapa yang dia realisasikan itu dia
pertanggungjwabkan, dia laporkan realisasinya. Sisanya harus ke silpa,
terlaporkan di dalam Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Daerah,
berapa itu, sehingga nanti ketika dibahas dengan DPRD ya kan, ini dengan
antar rencana, kemudian realisasi ya kan, apa penyebabnya barang ini tidak
28

Hakim

Jaksa

Sumule

Sumule

Jaksa

Sumule

Jaksa
Sumule

:
:

ter realisasi semua, ini harus dijelaskan. Pemda harus menjelaskan. SKPD
terkait harus menjelaskan itu. Kenapa tidak bisa ter realisasi semua sesuai
rencana. Tentu ya ada alasan-alasan. Silahkan alasan tersebut yang bisa
dipertanggungjawabkan dan itu nantik akan masuk sebenarnya kepada
domain DPRD dalam pembahasan LKPJ itu untuk memberikan rekomendasi
dan saran perbaikan kedepan.
Silakan saudara Penuntut Umum, saya hanya meluruskan pertanyaan
saudara Penuntut Umum, supaya tidak salah paham.
Baik majelis. Supaya tidak mengambang kita masuk ke main kasusnya saja.
Perubahan 7 micro bus tadi dibahas bersama DPRD Kab Pasaman Barat,
disetujui oleh DPRD Kab Pasbar atas dasar usulan Pemda, Sekretariat daerah,
merubah 7 micro bus tadi menjadi dua unit kendaraan bupati dan wabup.
Dua unit kendaraan bupati dan Wabup, dibahas waktu itu adalah fortuner
dua-duanya. Kemudian juga diadakan lelang 2 spek kendaraaan berbeda, dua
kendaraan yang berbeda, kembali saya katakan, sudah saya perlihatkan
bersama, Ketika merubah 7 menjadi 2 unit tersebut itu disetujui dan
ditandatangani oleh PPKD. Kemudian ketika diadakan dua kendaraan ini,
speknya dua. Ternyata tidak jadi dua diadakan, dirubah berdasarkan surat
atau petunjuk telaahan staf menjadi 1 unit saja tanpa sepengetahuan PPKD,
bagaimana itu pandangan saudara ahli?
Ya. Makasih. Sebenarnya tidak masalah, karena begini rupanya perubahan
tadi itu masuk mekanisme pada perubahan. Tidak ada yang salah dengan itu,
sehingga sudah menjadi satu paket, dan ini sekarang direalisasikan. Tidak
ada perubahan disini yang dimaksud itu tadi pak, bukan perubahan, tetapi
realisasinya kurang.
Realisasinya kurang jadi tidak perlu lagi persetujuan PPKD yang
dimaksud pasal 160 itu. Rupanya perubahan itu clear di perda perubahan
itu, kuat ini, ga ada masalah ini. Begitu mau direalisasikan oleh SKPD terkait,
dari dua itu terealisasi 1, ya kan. Pertanyaannya nanti, kenapa direncanakan
dua kok hasilnya satu. Apa penjelasannya, nah ini, jadi bukan di perobahan
yang saya maksud pasal 160 lagi. Bukan. Giliran itu, perubahannya barang
ini oleh Dewan di Perda Perubahan, ditetapkan
Pertama saya tegaskan, Bahwa DPRD tidak bisa masuk, tidak boleh
masuk ke pembahasan rincian objek. Nggak. Jadi DPRD itu membahas
APBD yang dimulai dari KUA PPAS, rancangan APBD, kemudian Perda
APBD. Si Perda APBD ini muatannya sampai jenis belanja. Jenis belanja itu
tadi kan belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal
Jadi ketika, didalam rencana perubahan DPPA, ada dua unit kendaraan
dibeli satu, itu kewenangan siapa untuk itu ?
Oh itu kewenangan pengguna Anggaran. Nah begini, sebentar mungkin
bisa, bahwa itu penggunaan anggaran kewenangan siapa. Pengguna
anggaran
Apa dasarnya??
Kita izin, kitab sucinya Permendagri 13 Tahun 2006 di dalam Pasal 10.
Bahwa kepala SKPD selaku pejabat Pengguna Anggaran / Pengguna barang,
mempunyai tugas, langsung saja, Melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran atas beban anggaran belanja, melaksanakan anggaran SKPD
yang dipimpinnya.
29

Dari kutipan persidangan di atas jelas nampak bahwa JPU memutarbalikkan fakta persidangan
pada surat tuntutannya tersebut. Yang sudah jelas-jelas Bahwa Ahli Sumule mengatakan,
perubahan 2 unit kendaraan menjadi 1 unit tidak termasuk dalam dalam wilayah Permendagri
No. 13 Tahun 2006 Pasal 160, tidak perlu persetujuan PPKD. Dan mengenai tanggung jawab
penandatanganan SPM, siapa yang menandatangani maka dia yang bertanggung jawab, sesuai
dengan Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada pasal 184 ayat 2 menyatakan bahwa
pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat
bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan APBD
bertanggung jawab terhadap kebenaran materil dan akibat yang timbul dari penggunaan surat
bukti dimaksud. Kalau yang menandatangani SPM itu KPA, maka KPA yang bertanggung jawab,
kalau yang menandatangani PA maka PA lah yang bertanggung jawab, bukan seperti apa yang
disampaikan JPU dalam tuntutannya. Untuk kasus ini, yang menandatangani SPM adalah PA
yaitu sekda maka seharusnyalah Sekda yang bertanggung jawab, bukan Terdakwa.
Ahli Dr. Sumule Timbo ini, disamping dalam kapasitasnya sebagai Kasi Wilayah I Pada Subdit
Bagian Kebijakan dan Bantuan Keterangan Ahli pada Dirjen Keuangan Daerah Kementerian
Dalam Negeri RI, dimana dalam tugasnya sehari-hari adalah untuk memberikan penjelasan dan
penafsiran terhadap peraturan-peraturan keuangan kepada seluruh stakeholder, bukan cuma
dari Pemerintah Darah Kabupaten dan Propinsi se-Indonesia saja, tetapi juga termasuk dari
instansi Kejaksaan, Kepolisian, KPK dan LSM-LSM yang membutuhkan informasi dan penjelasan
mengenai substansi dari sebuah peraturan. Apalagi seperti yang dinyatakan oleh beliau di dalam
persidangan, beliau bukan hanya mengerti dan paham tentang Permendagri No. 13 Tahun 2006
tersebut dan Permendagri-permendagri lainnya, tetapi bahkan beliau sangat mengerti dengan
filosofi dan semangat serta suasana kebatinan yang mewarnai pada proses penyusunan
peraturan tersebut karena beliau adalah orang yang terlibat langsung di dalam penyusunan
peraturan tersebut. Beliau bukanlah hanya sekedar akademisi atau pemerhati hukum
administrasi negara belaka. Permendagri adalah istri pertamanya.

IV.

TERHADAP POIN C. LAPORAN HASIL AUDIT DARI BPKP PERWAKILAN Prop. SUMATERA BARAT
Audit yang dilakukan oleh Sdr. Afrizal selaku Auditor BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera
Barat dalam rangka Penghitungan Kerugian Keuangan Negara atas dugaan Tindak Pidana Korupsi
Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pasaman Barat Tahun Anggaran
2010, Nomor : SR-1422/PW03/V/2013 tanggal 3 Juni 2013 yang ditandatangani oleh Kepala
Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Perwakilan Provinsi Sumatra Barat,
jelas dan nyata terungkap menjadi fakta di persidangan, tidak memilki landasan yuridis sama
sekali.
Setelah saksi membahas bermacam undang-undang yang mengatur tentang keuangan negara,
mulai dari UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor, UU No. 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, PP, Kepres, Permendagri,
dan Kepmendagri, serta aturan-aturan iternal BPKP itu sendiri, kemudian dengan santainya saksi ahli
Sdr. Afrizal dari BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat, menyampaikan didepan persidangan
dibawah sumpah, menjawab pertanyaan Majelis Hakim, bahwa dasar hukum ahli menghitung
kerugian negaranya sehingga didapat angka Rp. 276.887.273,- tidak ada sama sekali. Ini hanya
menurut perhitungan saya. Inilah menurut saya angka yang realistis. Kalau berapa angka
pastinya kerugian negara, silahkan Majelis Hakim yang menghitungnya. Entah kemana lagi
segerobak peraturan yang dibacanya sebelumnya diletakkannya ketika orang yang disebut ahli ini
30

melakukan penghitungan uang. Due Process of Law. Saya cukup terharu pada waktu Majelis Hakim,
Hakim Anggota 1, Bapak Fahmiron, mencecar saksi tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan sampai
membuat ahli tersebut manggaretek menggigil.
BPKP Perwakilan Prop. Sumatera Barat dalam hal ini menghitung kerugian negara
berdasarkan : netto uang yang masuk kepada rekanan dikurangi dengan harga kendaraan Mobil
Toyota Land Chruiser Prado yang pernah dijual oleh PT. Multi Sentra Adikarya kepada PT. DK Jaya
Motor seharga Rp. 675.000.000,- (belum termasuk PPn), yang mana PT. DK Jaya Motor dalam hal ini
tidak termasuk dalam rantai pengadaan kendaraan dinas Bupati Pasaman Barat. Jika PT. Multi Sentra
Adikarya menjual dengan harga Rp. 875.000.000,- kepada perusahaan lain, sehingga selisih dengan
netto kepada rekanan adalah Rp. 76.887.273,- yang manakah yang akan dijadikan dasar kerugian
negara? Rp. 276.887.273,- kah? Atau Rp. 76.887.273,-?? Apakah perhitungan kerugian negara dalam
hal ini berdasarkan harga yang pernah dijual kepada orang lain?? Dimana letak kerugian negara yang
NYATA DAN PASTI sesuai dengan pengertian kerugian negara dalam Pasal 1 butir 22, UndangUndang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang berbunyi : Kerugian Negara/Daerah
adalah kekurangan uang, surat berharga dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Dan juga dikemanakan aturan dalam Pasal
13 ayat (1) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa, yang mengatur
bahwa untuk pengadaan barang/jasa harus menetapkan mengenai HPS.

V.

TERHADAP POIN D. PETUNJUK


Di dalam surat tuntutan JPU halaman 69, JPU menyatakan bahwa :
Berdasarkan keterangan saksi-saksi, surat, keterangan Terdakwa sendiri yang karena persesuaian
antara satu dengan yang lainnya menandakan telah terjadi suatu tindak pidana yang berdasarkan
pasal 184 ayat (1) huruf d jo. Pasal 188 ayat (1) dan (2) KUHAP yang dimaksud petunjuk adalah
perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang
lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana
dan siapa pelakunya. Petunjuk sebagaimana dimaksud ayat (1) hanya dapat diperoleh dari
keterangan saksi, Surat dan keterangan Terdakwa. Dan fakta-fakta Yang terungkap dalam
persidangan menurut hemat kami telah diperoleh bukti-bukti petunjuk bahwa pada waktu dan
tempat sebagaimana disebutkan diatas telah terjadi tindak pidana Korupsi dan pelakunya yakni
Terdakwa Drs.HENDRI, MM yang untuk selengkapnya akan kami uraikan dalam pembuktian unsurunsur pasal yang kami dakwakan
Pernyataaan JPU tersebut di atas, yang mengatakan bahwa telah terjadi tindak pidana Korupsi
dan pelakunya yakni Terdakwa Drs.HENDRI, MM sangatlah bertentangan dengan apa yang
terungkap di persidangan dan juga bertolak belakang dengan pernyataan JPU sendiri dalam
surat tuntutannya yang mana di dalam surat tuntutan tersebut JPU menyatakan bahwa Terdakwa
telah terbukti melakukan kerjasama kecurangan yang dilakukan oleh Terdakwa bersama ARIFIN
AGROSURIO dan VITARMAN dalam upaya menjadikan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN atas
perintah Bupati Pasaman Barat yakni Drs BAHARUDDIN, MM yang meminta agar mobil dinas yang
akan diadakan untuknya adalah Toyota Prado TX Limited dan meminta kepada Terdakwa agar
kegiatan pengadaan tersebut agar dapat dilaksanakan oleh Sdr. ARIFIN AGROSURIO.
Pernyataan tersebut diatas disebutkan oleh JPU sebanyak 3 (tiga) di dalam surat tuntutannya berikut
kutipan dari pernyataan JPU tersebut.
1. Pada Surat Tuntutan halaman 93
Berdasarkan fakta yang terungkap dari pemeriksaan persidangan dari keterangan saksi-saksi,
31

keterangan Terdakwa, alat bukti surat dan adanya barang bukti didapatkan kesimpulan bahwa
antara Terdakwa Drs. HENDRI, MM dari awal telah terjalin hubungan dan suatu kerjasama
dengan sedemikian rupa dengan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN dalam hal persiapan dan
pelaksanan proyek pengadaaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dengan
maksud agar pekerjaan pengadaan tersebut dapat dilaksanakan oleh ARIFIN AGROSURIO dan
ARIFIN AGROSURIO memperoleh keuntungan yang besar dari pengadaan tersebut dengan jalan
kendaraan yang didatangkan tidak sesuai/kurang dari spesifikasi yang tertuang dalam kontrak
dan hal tersebut sudah dikondisikan bersama dengan Terdakwa selaku Kuasa Pengguna
Anggaran/Barang. Tindakan Terdakwa tersebut bersama dengan ARIFIN AGROSURIO dan
VITARMAN adalah serangkaian perbuatan/tindakan melawan hukum sebagaimana telah
tertuang dalam pembuktian unsur "secara melawan hukum" dari dakwaan Primair, sehingga
perbuatan Terdakwa dapat dikualifikasikan sebagai "yang melakukan perbuatan/turut serta
melakukan perbuatan.
2. Pada Surat Tuntutan Halaman 88
Bahwa perbuatan Terdakwa merupakan perbuatan melawan hukum tidak saja dalam arti formil
yaitu Terdakwa sejak awal telah mengarahkan calon rekanan tertentu sebagai pelaksana kegiatan
namun juga secara materil yakni merusak rasa keadilan dan kejujuran dalam masyarakat dalam
hal kerjasama kecurangan yang dilakukan oleh Terdakwa bersama ARIFIN AGROSURIO dan
VITARMAN dalam upaya menjadikan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN sebagai pelaksana
kegiatan pengadaan kendaraan dinas tersebut
3. Pada Surat Tuntutan Halaman 70
Bahwa memang Terdakwa pernah dipanggil oleh Bupati Pasaman Barat yakni Drs
BAHARUDDIN, MM yang meminta agar mobil dinas yang akan diadakan untuknya adalah Toyota
Prado TX Limited dan ia juga meminta kepada Terdakwa agar kegiatan pengadaan tersebut agar
dapat dilaksanakan oleh Sdr. ARIFIN AGROSURIO, karena ARIFIN AGROSURID sudah meminta
proyek tersebut kepadanya dan menjadi tugas Terdakwa untuk mewujudkannya, dan Terdakwa
memastikan pelaksanaan setiap perintah tersebut karena menurut Terdakwa perintah tidak
untuk didiskusikan namun untuk dilaksanakan
Berdasarkan pernyataan JPU tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa JPU sendiri tidak menguasai
inti persidangan perkara ini bahkan dalam membuat surat tuntutan, halaman satu dengan
halaman yang lain saling bertentangan dan tidak sinkron, konon lagi kebenaran dari fakta yang
disampaikan dalam surat tuntutan tersebut yang hanya mengarang-ngarang cerita saja.
Bahwa dari apa yang disebutkan oleh JPU dalam surat tuntutannya ini, yang telah menyimpulkan
Terdakwa bersama-sama dengan Sdr. Arifin dan Vitarman telah melakukan persekongkolan/
kerja sama dalam mendapatkan proyek sehingga ada yang diuntungkan dan negara dirugikan
atas permintaan Bupati Baharuddin, maka jika JPU sudah berkeseimpulan demikian dan meyakini
hal tersebut benar, semestinya karena ada persesuaian antara yang satu dengan yang lain, maka
tentunya berdasarkan UU Tipikor Pasal 2, JPU harus juga mejadikan Sdr. Arifin, Sdr Vitarman dan
Bupati Baharuddin sebagai pelaku tindak pidana korupsi dalam perkara ini dan memproses
perkara ini dalam satu berkas, tetapi kenyataannya, JPU menyimpulkan telah terjadi tindak
pidana Korupsi dan pelakunya hanya tunggal satu orang yakni Terdakwa Drs.HENDRI, MM.
Disini kita dapat melihat bahwa JPU sebenarnya tidak meyakini telah terjadinya tindak pidana
korupsi, namun karena konspirasi politik yang telah dibangun yang melibatkan sumber dana dan
sumber daya yang sangat besar dari orang-orang yang ingin menjatuhkan nama baik Terdakwa
dan Bupati Pasaman Barat maka mau tidak mau, suka tidak suka Kajari Simpang Empat yang baru
harus menaikkan dan menuntaskan perkara ini sampai ke tingkat pengadilan karena pesan
32

sponsor dan pesan moral di dalam kasus ini adalah walaupun hanya satu minggu ataupun satu
bulan saja, Sdr. Hendri bisa dimasukkan kedalam penjara, itu sudah cukup bagi mereka karena
selanjutnya proses pusaran hukumlah yang akan menyeret Sdr. Terdakwa yang dibuktikan
sampai hari ini saja sudah 190 hari kalender dengan kasus yang menurut ketua Majelis Hakim
sendiri adalah bukan sebuah kasus kalau saja tidak ada yang melaporkan. Untuk itu Terdakwa
dikorbankan sebagai tumbalnya mengalihkan cerita dengan mengatakan bahwa antara Terdakwa
dan Sdr. Arifin serta Sdr. Vitarman dilakukan pemberkasan yang terpisah dan juga sudah
ditetapkan sebagai tersangka.
Hal ini sangatlah aneh sekali, seseorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus
yang sama dengan Terdakwa hanya dijadikan saksi pada persidangan. Kenapa tidak dijadikan
satu berkas saja padahal kasusnya sama-sama pada Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasmaan
Barat Tahu 2010?
Namun Kenyataannya bahwa suatu perkara yang sudah jelas keterkaitannya menurut JPU
tersebut, tidak diproses oleh JPU di dalam satu berkas perkara. Hal ini menimbulkan tanda tanya
bagi kita, apakah karena adaya target jumlah kasus yang harus dinaikkan pada setiap Kejaksaan
Negeri dalam satu tahun dan adanya reward dari negara terhadap suatu perkara yang besarnya
mencapai 200 juta rupiah? Ini menjadi peluang bisnis tersendiri bagi Jaksa untuk memisahmisahkan suatu perkara yang sebenarnya meruapakan suatu kesatuan.
Kalau pada filosofinya, pengusutan suatu perkara korupsi adalah dalam rangka penyelamatan
uang negara yang mestinya bisa dipakai untuk meningkatan perekonomin dan pembangunan,
maka dengan apa yang dilakukan oleh JPU ini adalah berlawanan dan bertentangan dengan
semangat dan jiwa pemberantasan itu sendiri. Yang ada hanyalah menjadi pengalihan dari yang
menikmati hasil korupsi dari Terdakwa kepada Jaksa. Sementara negara tetap rugi,
perbedaannya hanya, kalau Terdakwa melakukannya secara melawan hukum maka jaksa
melakukannnya melalui LEGAL KONSTITUSIONAL, tapi intinya uang negara tetap keluar bukan
untuk pembangunan.
Konkritnya, hanya untuk membuktikan dugaan kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273 maka
negara dipaksa harus mengeluarkan uang sebesar 2 x 200 juta rupiah melalui JPU untuk
pemberkasan 2 perkara, belum lagi biaya persidangan yang dikeluarkan oleh negara melalui PN
Tipikor seperti persidangan-persidangan yang telah berlangsung sejak bulan januari yang lalu.
Dan dugaan kerugian negara sebesar Rp. 276.887.273 tersebut juga belum diyakini
kebenarannya, malah di dalam fakta dipersidangan terungkap bahwa ahli yang menghitung
kerugian negara tersebut yakni Sdr. Afrizal selaku Auditor BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera
Barat tidak memilki dasar hukum untuk perhitungannya, hanya berdasarkan angka yang realistis
menurut dia, sungguh seorang auditor yang tidak berkualitas dan tidak bermoral yang dijadikan
JPU sebagai ahli dalam perhitungan kerugian negara ini, sama halnya dengan dengan ketika JPU
menghadirkan saksi-saksi dari Jakarta dari Importir Umum Kendaraan walaupun untuk
menghadirkan dua kali 2 orang saksi tersebut dari Jakarta, JPU tidak pernah mengeluarkan biaya
kedatangan mereka meskipun dana untuk itu disediakan oleh negara. Dan untuk pembuktian ini
akan Terdakwa bahas dalam poin selanjutnya.
Jadi sebenarnya, siapa yang mempunyai niat jahat untuk menggerogoti uang negera?
Terdakwakah atau JPU?
Jadi siapa sebenarnya yang tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan
korupsi? Terdakwakah atau JPU?

33

VI.

TERHADAP POIN E. KETERANGAN TERDAKWA

Di dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan Terdakwa pada hari Jumat tanggal 10
April 2015, sangat banyak sekali keterangan yang telah Terdakwa berikan tetapi di dalam catatan dan
yang dimasukkan oleh JPU kedalam surat tuntutannya hanyalah poin-poin pada BAP tersangka saja
yang tidak mengungkap secara jelas apa yang telah diperiksa dan telah terungkap didepan
persidangan. Hal ini jelas apa yang dilakukan oleh JPU ini adalah sangat tidak menghormati
persidangan, mereka hanya memaksakan untuk menghalalkan dan menjustifikasikan dakwaan dan
tuntutan mereka, walaupun itu dengan cara-cara menghilangkan barang bukti, menghilangkan fakta
persidangan, membuat cerita bohong dan palsu dan bahka memfitnah seperti dibawah ini :

1. Dalam surat tuntutan pada halaman 70 alinea ke-2


Bahwa memang Terdakwa pernah dipanggil oleh Bupati Pasaman Barat yakni Drs BAHARUDDIN,
MM yang meminta agar mobil dinas yang akan diadakan untuknya adalah Toyota Prado TX
Limited dan ia juga meminta kepada Terdakwa agar kegiatan pengadaan tersebut agar dapat
dilaksanakan oleh Sdr. ARIFIN AGROSURIO, karena ARIFIN AGROSURIO sudah meminta proyek
tersebut kepadanya dan menjadi tugas Terdakwa untuk mewujudkannya, dan Terdakwa
memastikan pelaksanaan setiap perintah tersebut karena menurut Terdakwa perintah tidak untuk
didiskusikan namun untuk dilaksanakan.
- Bahwa apa yang disampaikan oleh JPU tersebut, adalah sebuah kebohongan dan rekayasa
dari imajinasi JPU saja karena Terdakwa tidak pernah dipanggil oleh Bupati Baruddin utuk
meminta Terdakwa agar kegiatan pengadaan kendaraan dinas bupati tersebut dapat
dilaksanakan oleh Sdr. ARIFIN AGROSURIO hal ini juga telah disampaikan oleh Terdakwa pada
persidangannya.
- Bahwa fakta dipersidangan terungkap, Sdr. Arifin Agrosurio tidak pernah meminta proyek
kepada Bupati dan tidak pernah ada Bupati memberikan proyek tersebut kepada Arifin,
sehingga dengan demikian tidak ada pula seperti apa yang disebut oleh JPU tadi, tugas yang
harus diwujudkan oleh Terdakwa hanyalah untuk memastikan bahwa kendaraan dinas
Bupati Pasaman Barat yang merupakan bagian dari simbol-simbol daerah dapat terlaksana.
- Sedangkan kalimat menurut Terdakwa, perintah tidak untuk didiskuskan namun untuk
dilaksanakan itu adalah dalam konteks pelaksanaan tugas sebagai doktrin yang diterima
dan dianut oleh Terdakwa sebagai seorang Kader Pemerintahan Dalam Negeri. Tidak ada
yang salah dengan doktrin tersebut karena doktrin tersebut secara umum ditegaskan
didalam peraturan kepegawaian menjadi kalimat loyalitas, sama halnya dengan loyalitas
yang JPU lakukan terhadap perintah dari Kajari untuk tetap menuntut kasus ini walaupun
secara pribadi, saudara Penuntut Umum telah menyatakan bersungguh-sungguh kepada
Terdakwa bahwa sebenarnya tidak ada korupsi dalam pengadaan ini. Tapi karena perintah
yang harus saudara laksanakan, bahkan secara membabi buta, saudara mampu untuk
membuat fitnah dan kebohongan di depan majelis yang mulia.

2. Dalam surat tuntutan Halaman 71


Dimana pada catatan kaki surat tersebut mencantumkan ULP Pasaman Barat Tahun 2010";
kemudian Terdakwa menerangkan bahwa benar yang membuat format surat tersebut adalah Sdr.
Bendri yang juga merupakan Panitia pengadaan dan alasan kenapa bendri telah menyiapkan
34

blangko surat tersebut karena Terdakwa yang memerintahkan.


- Apa yang disampaikan JPU tersebut yang mengatakan bahwa Terdakwa yang
memerintahkan Sdr. Bendri untuk menyiapkan blanko surat tersebut adalah kebohongan
dan fitnah dan tidak sesuai dengan keterangan dari saksi dipersidangan, karena Terdakwa
tidak pernah memerintahkan Sdr. Bendri
- Bahwa fakta dipersidangan, Sdr Bendri dibawah sumpah persidangan menyatakan memang
seluruh surat-surat dan dokumen pengadaan yaitu Sdr. Bendri sendiri yang telah
membuatnya dan membawa surat tersebut kepada Terdakwa untuk ditandatangani oleh
Terdakwa dengan alasan untuk membantu mempercepat waktu pelaksanaan pelelangan
tersebut. Hal ini sebagaimana yang tertuang juga di dalam Surat Tuntutan JPU dalam perkara
ini Hal. 22 alinea terakhir dan Hal 23 alinea pertama. Kemudian juga dapat dibuktikan
melalui rekaman persidangan.
- Ini hanya membuktikan lagi bahwa JPU tidak menguasai dan menyimak jalannya
persidangan dan tidak memperhatikan bukti serta keterangan saksi dan akibatnya surat
tuntutan yang dibuat oleh JPU hanyalah berdasarkan skenario kasus yang telah
diciptakannya sejak awal.

3. Dalam surat tuntutan Halaman 75


Bahwa sesuai Keppres No.80 tahun 2003, beban serah terima barang tetap berada ditangan
Terdakwa dan Terdakwa mengetahui bahwa Tim Pemeriksa Barang yang ada pada saat itu tidak
memiliki keahlian atau keilmuan di bidang kendaraan yang mampu untuk memeriksa kelengkapan
spesifikasi kendaraan yang datang sesuai dengan kontrak atau tidak dan Terdakwa tidak pernah
mengusulkan perubahan SK Tim Pemeriksa Barang tersebut dengan mengganti anggota Tim
Pemeriksa Barang tersebut dengan orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut.
- Bahwa apa yang dinyatakan oleh JPU ini adalah merupakan sebuah bukti yang nyata bagi
kita bersama bahwa untuk membuktikan dakwaannya, JPU bahkan tidak bisa lagi membaca
SK Tim Pemeriksa Barang yang ada, dimana SK tersebut adalah bertanggal 14 April 2010
yang ditandatangani oleh H. Syahiran sebagai Bupati Pasaman Barat, sedangkan Terdakwa
sendiri baru mulai bertugas di Pasaman Barat pada tanggal 29 September 2010.
- Juga berdasarkan tugas-tugas KPA di dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Pasal 9, tidak ada yang memerintahkan agar KPA
memilih, mengusulkan apalagi menetapkan penitia pemeriksa barang. Hal ini adalah
berkaitan dengan Indepensi dari masing-masing yang terlibat dalam proses pengadaan
barang dan jasa. Hal yang sama juga berlaku untuk panitia pengadaan barang dan jasa di
ULP. Kab. Pasaman Barat. Apalagi dasar hukum pembentukan PPTK, KPA, PA, ULP, Panitia
Pengadaan Barang dan Jasa dan Panitia Pemeriksa Barang, adalah sama-sama SK Bupati
dengan SK yang terpisah satu sama lainnya. Dimana fungsi dan kedudukan masing-masing
itu di atur menurut perudangan-undangan masing-masing didalam pasal yang berebeda.
Dan justru apa yang dimintakan oleh JPU agar Terdakwa mengusulkan Tim Pemeriksa
Barang, pilihan dari KPA itu akan membuka peluang-peluang KKN yang lainnya.
- Bahwa apabila JPU berkesimpulan Tim Panitia Pemeriksa Barang tersebut tidak memiliki
keahlian atau keilmuan di bidang kendaraan yang mampu untuk memeriksa kelengkapan
spesifikasi kendaraan, maka yang harus disalahkan dalam hal ini adalah yang
mengangkatnya menjadi Tim Pemeriksa Barang dan itu adalah Bupati Pasaman Barat yang
telah memilih Tim Panitia Pemeriksa Barang yang tidak kompeten, bukan malah
35

melimpahkan kesalahan ini kepada Terdakwa.


Ini hanyalah beberapa dari sejumlah kebohongan dan fitnah yang diungkapkan oleh JPU dalam
surat tuntutannya, masih banyak kebohongan-kebohongan lain, dan masih banyak fakta-fakta
lain yang terungkap dipersidangan yang tidak diungkapkan oleh JPU dalam surat tuntutannya.
Inilah yang dikatakan Sdr JPU menghilangkan sebagian fakta hanya untuk menjustifikasi
dakwaannya.
Apa yang Terdakwa sampaikan saat ini bukanlah karangan atau kebohongan, karena semua fakta
persidangan dapat didengar dalam rekaman persidangan dan dapat dibaca pada traskrip
perisidangan yang merupakan lampiran yang tak terpisahkan dari Pledoi ini.

VII.

TERHADAP POIN F. BARANG BUKTI


Berdasarkan KUHAP Pasal 183, Pasal 184 ayat (1) huruf c yang menyatakan surat termasuk
alat bukti yang sah. Sebagaimana yang termuat di dalam surat tuntutannya pada halaman 76 s/d 81,
JPU menyampaikan surat-surat sebanyak 70 rangkap sebagai barang bukti yang sah dalam perkara
ini yang telah diperlihatkan kepada Majelis Hakim namun tidak seluruhnya yang diperlihatkan
kepada saksi-saksi dan terdawa di dalam persidangan.
a.

Dari 70 barang bukti yang ada pada surat tuntutan JPU ini terdapat tiga barang bukti yang tidak
relefan dalam perkara ini yaitu:
1. 1(satu) rangkap foto copy Dokumen Peraturan Bupati Pasaman Bart No: 56 Tahun 2011
tentang Penjabaran Tugas Pokok Dan Fungsi Serta Uraian Tugas Sekretariat Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kab Pasaman Barat Tahun 2012
2. 1 (satu) rangkap foto copy Dokumen Peraturan Bupati Pasaman Barat No: 65 Tahun 2011
Tentang Penjabaran Tugas Pokok Dan Fungsi serta Uraian Tugas Dinas Pengelolaan
Keuangan Dan Asset Daerah Kab. Pasaman Barat 2011
3. 1 (satu) rangkap foto copy Dokumen Surat Perjanjian untuk Melaksanakan Paket Pekerjaan
Pengadaan Kendaraan Bermotor Mini Bus No: 027/52/KontrakPeng/Umum/2011.
JPU menggunakan peraturan yang ditetapkan setelah terjadinya perkara, hal ini tentu tidak dapat
dijadikan acuan dalam menjalan upaya pembuktian terhadap dakwaannya. Ini membuktikan
kualitas JPU yang tidak mengerti dan paham akan azas-azas hukum yang berlaku di Indonesia
ini. Hanya karena nasib dan takdirnya saja yang lulus jadi Jaksa atau karena ada faktor X lainnya.

b.

Kemudian, di dalam surat tuntutannya hal 89 dan 92 JPU mengatakan bahwa kendaraan yang
datang adalah type standar, bukan limited. Hal ini hanya berdasarkan pemeriksaan administrasi
dan kesaksian dari saksi yang tidak berkompeten dibidangnya. Kalau JPU mengatakan kendaraan
yang datang adalah type standar, maka harus dibuktikan oleh orang yang ahli dibidang otomotif
dan mengerti dengan spek kendaraan serta menjadikan kendaraan tersebut sebagai barang bukti
di dalam perkara ini bukan didalam pekara/ permberkasan yang lain. Namun pada kenyataan,
kendaraan tersebut malah tidak dijadikan sebagai barang bukti oleh JPU sebagaimana yang tidak
tercantum dalam daftar barang bukti pada surat tuntuannya. Sehingga dengan demikian tuduhan
bahwa JPU mengatakan kendaraan yang datang adalah type standar, bukan limited adalah
tuduhan yang tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

c.

Audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) pada Tahun 2010 dan 2011
secara tegas menyatakan bahwa kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati/Wakil Bupati
Pasaman Barat pada Tahun Anggaran 2010 tidak ada menjadi temuan, yang dibuktikan dari
36

Laporan Pemeriksaan BPK RI sebagai berikut :


1. 1 (satu) rangkap foto copy LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Belanja
Daerah Pemerintah Kab. Pasaman Barat Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Simpang Empat
Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20 Januari 2011
2. 1 (satu) rangkap foto copy LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Kab. Pasaman Barat Tahun 2011 Nomor :
01.B/LHP/XVII.pdg/03/2012 tanggal 29 Maret 2012 (Laporan Hasil Pemeriksaan Atas
Sistem Pengendalian Intern)
3. 1 (satu) rangkap foto copy LHP BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Kab. Pasaman Barat Tahun 2011 Nomor :
01.C/LHP/XVII.pdg/03/2012 tanggal 29 Maret 2012 (Laporan Hasil Pemeriksaan Atas
Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan)
4. 1 (satu) rangkap foto copy Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas Belanja
Daerah TA. 2009 dan 2010 Per 27 Agustus 2013 Periode Pemeriksaan Semester II TA 2010
oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat.
5. 1 (satu) rangkap foto copy Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas
Pemeriksaan LKPD TA. 2010 Per 27 Agustus 2013 Periode Pemeriksaan Semester II TA 2011
oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat.
6. 1 (satu) rangkap foto copy Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Atas
Pemeriksaan LKPD TA. 2011 Per 27 Agustus 2013 Periode Pemeriksaan Semester I TA 2012
oleh Kepala Sub Auditorat Sumbar II BPK RI Perwakilan Propinsi Sumatera Barat.
d.

JPU menyampaikan bukti-bukti surat mulai dari awal rencana kegiatan pengadaan kendaraan
dinas ini sampai akhirnya dilakukan proses penunjukan langsung tapi tidak menyampaikan bukti
tentang proses pengadaan yang dilakukan Panitia I ULP pada saat proses PL dilaksanakan,
padahal disanalah inti dari PL ini. PL yang dilakukan tetap dengan prosedur yang sesuai dengan
Keppres No. 80 Tahun 2003, mulai dari undangan pemasukan dokumen, evaluasi dokumen
penawaran oleh panitia sampai penetapan penyedia barang. Dalam hal ini dikatakan pada proses
inilah penentunya, karena apabila Panitia menyatakan PT. Baladewa tidak lulus evaluasi maka
tidak akan jadi terlaksana PL kepada PT. Baladewa Indonesia. Namun Panitia telah mengevaluasi
dokumen penawarannya dan akhirnya Panitia memutuskan untuk mengusulkan PT. Baladewa
Indonesia untuk menjadi rekanan. Untuk itu berikut Terdakwa lampirkan surat-surat dimaksud:
1. 1 (satu) rangkap foto copy Salinan Surat Keputusan Operation Manager Sumatera Astra
International Astra 2000 No. SK/023/TSO.OPR/IX/2010 tanggal 1 September 2010
2. 1 (satu) rangkap foto copy Pengumuman Pelelangan Umum Ulang Pada Portal Nas LKPP
Koran Tempo Nomor : 19/PL/ULP-PASBAR/2010 tanggal 11 November 2010
3. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Kabag Umum kepada Ketua Panitia I PPBJ No. 027/
/KPA/Umum/2010 Perihal Proses Lanjutan Pengadaan Rannas tanggal 24 Nopember 2010
yang ditandatangani oleh Drs. Hendri, MM
4. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Undangan Mengikuti Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ
kepada PT. Baladewa Indonesia tanggal 1 Desember 2010 yang ditanda tangani oleh Ketua
Panitia I ULP Bendri, S.Kom
5. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penetapan Pelelangan Ulang Gagal dari KPA kepada Ketua
PPBJ Nomor 027/216/KPA-Umum/2010 tanggal 23 November 2010 oleh KPA, Drs. Hendri,
37

MM
6. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Undangan Mengikuti Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ
kepada PT. Baladewa Indonesia Nomor 14PL.2/ULP.B1/Und/1/PASBAR-2010 tanggal 01
Desember 2010 yang ditanda tangani oleh Ketua Panitia I ULP Bendri, S.Kom
7. 1 (satu) rangkap foto copy Pendaftaran dan pengambilan dokumen pascakualifikasi PBJ
Metode PL pada tanggal 2 Desember 2010 hanya dihadiri oleh satu pendaftar yaitu PT.
Baladewa Indonesia
8. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi
dari Ketua PPBJ kepada KPA Nomor 14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010 tanggal 03
Desember 2010 yang ditanda tangani oleh Ketua Panitia I ULP Bendri, S.Kom
9. 1 (satu) rangkap foto copy Berita Acara Hasil Evaluasi Pascakualifikasi ditandatangani oleh
5 orang PPBJ Nomor 14PL.3/ULP.B1/BAHEP/1/PASBAR-2010 tanggal 03 Desember 2010
10. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi
dari KPA kepada Ketua PPBJ Nomor 027/218/KPA-Umum/2010 tanggal 03 Desember 2010
yang ditandatangani oleh KPA Drs. Hendri, MM
11. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Undangan Aanwijzing dari Ketua PPBJ kepada PT. Baladewa
Indonesia Nomor 14PL.5/ULP.B1/UA/1/PASBAR-2010 tanggal 03 Desember 2010 yang
ditanda tangani oleh Ketua Panitia I ULP Bendri, S.Kom
12. 1 (satu) rangkap foto copy Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) Nomor
14PL.6/ULP.B1/BAPPA/1/PASBAR-2010 tanggal 06 Desember 2010, Ditandatangani oleh
KPA, PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa Indonesia
13. 1 (satu) rangkap foto copy Berita Acara Pembukaan Penawaran, Ditandatangani oleh KPA,
PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa Indonesia Nomor 14PL.7/ULP.B1/BAPP/1/PASBAR2010 tanggal 08 Desember 2010
14. 1 (satu) rangkap foto copy Koreksi Aritmatik
15. 1 (satu) rangkap foto copy Berita Acara Hasil Evaluasi, Ditandatangani oleh 5 orang PPBJ
Nomor 14PL.8/ULP.B1/BAHE/1/PASBAR-2010 tanggal 09 Desember 2010
16. 1 (satu) rangkap foto copy Berita Acara Negosiasi Teknis dan Harga Ditandatangani oleh
KPA, PPTK, 5 orang PPBJ dan PT. Baladewa Indonesia, Harga Negosiasi adalah Rp. Rp.
1.072.000.000,00 Nomor 14PL.9/ULP.B1/BANTH/1/PASBAR-2010 tanggal 10 Desember
2010
17. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Usulan Penetapan Pemenang PL dari Ketua PPBJ kepada
KPA Nomor 14PL.10/ULP.B1/UPPPL/1/PASBAR-2010 tanggal 10 Desember 2010 yang
ditanda tangani oleh Ketua Panitia I ULP Bendri, S.Kom
18. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penetapan Pemenang Penunjukan Langsung dari KPA
kepada Ketua PPBJ Nomor 027/219/KPA-Umum/2010 tanggal 10 Desember 2010 yang
ditandatangani oleh KPA Drs. Hendri, MM
19. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari KPA Kepada PT. Baladewa
Indonesia Nomor 027/170/SPMK/KPA-Umum/2010 tanggal 13 Desember 2010 yang
ditandatangani oleh KPA Drs. Hendri, MM
20. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penunjukan (Gunning) dari KPA Kepada PT. Baladewa
Indonesia Nomor 027/176/SP/2010 tanggal 13 Desember 2010, yang ditandatangani oleh
38

KPA Drs. Hendri, MM


21. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Permohonan Pembayaran Biaya kontrak dari PT. Baladewa
Indonesai kepada KPA 20/BLD-Termyn/XII-2010 tanggal 20 Desember 2010
22. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Permintaan Pembayaran LS dari PPTK kepada Pengguna
Anggaran yang ditandatangani oleh PPTK Erizal M, A.Md dan Bendahara Pengeluaran,
Harisantoni Nomor 0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010 tanggal 17 Desember 2010 yang
ditandatangani oleh Erizal, A,Md
23. 1 (satu) rangkap foto copy Penelitian Kelengkapan Dokumen SPP oleh peneliti Zefrineldi dan
dinyatakan lengkap Nomor 0102/SPP-LS-PENG/UMUM/2010 tanggal 17 Desember 2010
24. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Penyedian Dana dari PPKD selaku BUD yang ditandatanani
oleh Hj. Evita Murni dan dinyatakan dana masih tersedia Nomor 1200301/08/SPD/2010
tanggal 4 November 2010
25. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Pernyataan Pengajuan SPP LS oleh KPA Nomor 0102/SPPLS-PENG/UMUM/2010 tanggal, Desember 2010
26. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Pertanggungjawaban Pengajuan SPP LS oleh KPA Nomor
0102/SPP-LS-/SETDA/2010 tanggal, Desember 2010
27. 1 (satu) rangkap foto copy Surat Perintah Membayar (SPM) yang ditandatangani oleh
Hermanto yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kab. Pasaman Barat Nomor 0102/SPPLS-PENG/UMUM/2010 tanggal 17 Desember 2010
28. 1 (satu) rangkap foto copy Kwitansi Pembayaran oleh Vitraman, BE selaku Direktur PT.
Baladewa Indonesia, KPA Drs. Hendri, MM, PPTK H. Erizal M, A.Md dan Bendara Pembantu
Fima Al Amin. Pada tanggal 20 Desember 2010
e.

Didalam Terdakwa melakukan survey harga pasar, Terdakwa memperoleh beberapa referensi
dalam menentukan anggaran untuk pengadaan kendaraan dinas Bupati ini, baik tawaran
langsung dari showroom-showroom maupun yang di dapat dari internet yang juga Terdakwa
jadikan sebagai barang bukti dalam pembelaan ini, adalah sebagai berikut :
1. 1 (satu) rangkap fotocopy Surat penawaran dari Terminal Motor
2. 1 (satu) rangkap fotocopy Surat Surat penawaran dari Suci Motor
3.

1 (satu) rangkap fotocopy Surat Surat penawaran dari Anton Car

4. 1 (satu) rangkap fotocopy Surat Surat penawaran dari PT. Intercom


5. 1 (satu) rangkap fotocopy Surat Pricelist harga dari Auto 2000
6. http://www.otopedia.com/mobil-baru/7818-Toyota-Prado.html
7. http://www.otopedia.com/mobil-baru/8072-Toyota-Prado.html
8. http://mobil.kapanlagi.com/harga/toyota/land_cruiser/2010/prado_tx/
9. http://mobil.kapanlagi.com/toyota_land_cruiser_prado_tx_in-56947.html
10. http://www.olx.co.id/q/prado/c-378

f.

Bahwa di dalam surat tuntutannya, JPU tidak memasukkan seluruh Bukti yang ada untuk
dijadikan barang bukti padahal bukti-bukti tersebut telah disampaikan kepada JPU sebelumnya
pada waktu jaksa memeriksa terdawa pada tingkat pengumpulan keterangan. Hal ini sengaja
39

tidak dijadikan oleh JPU sebagai barang bukti karena JPU hanya menampilkan bukti yang untuk
menjustifikasikan dakwaannya tanpa melihat bukti kebenaran yang ada. Bahkan sebuah
dokumen yang sangat penting dan vital sekali di dalam kasus pengadaan kendaraan ini yang kami
serahkan kepada Jaksa Penyelidik pada waktu itu yaitu 1 (satu ) fotocopy BPKB dan faktur
kendaraan atas nama SEKRETARIAT DAERAH PEMKAB. PASAMAN BARAT dengan Merk LAND
CRUISER PRADO 2 7 A/T dengan No. Pol BA 1504 S warna hitam dan tahun pembuatan 2010.
Inipun tidak dimasukkan oleh Jaksa sebagai barang bukti. Padahal pada waktu penyerahan
dokumen tersebut, langkah kejaksaan dalam menyidik perkara ini, itu sudah stagnan dan
berhenti selama hampir satu tahun karena tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya untuk
memenuhi surat perwakilan BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat kepada Kajari Simpang
Empat S-0134/PW03/V/2013 tanggal 10 Januari 2013 perihal permintaan tambahan data
terkait pengadaan mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat Tahun 2010.
Menindaklanjuti surat permintaan BPKP tersebut, Kajari Simpang Empat kemudian membuat
surat ke PT. Intercom No. B-134/N.3.23/OPS-2/01/2013 tanggal 18 Januari 2013 perihal
permintaan faktur penjualan kendaraan toyota Land cruiser Prado 2,7AT Tahun 2010 kendaraan
dinas Bupati Pasaman Barat, permintaan tersebut tidak digubris oleh PT. Intercom, kemudian
jaksa penyidik memohon bantuak kepada Terdakwa untuk mencarikan dokumen yang
dimaksudkan oleh BPKP.
Berdasarkan data BPKB dan faktur kendaraan yang Terdakwa berikan tersebutlah baru
kemudian jaksa penyelidik bisa mengetahui perusahaan Importir umum kendaraan ini yaitu PT.
Multisentra, kemudian, pada tanggal 2 September 2013, dipanggillah PT. Multisentra Adikarya
dan DK Jaya Motor untuk diperiksa di Kejaksaan Negeri Simpang Empat yaitu pada tanggal 2
September 2013.
Seandainya pada waktu itu Terdakwa tidak memberikan dokumen yang dibutuhkan oleh jaksa
penyidik tersebut maka penyidik akan kehilangan mata rantai penyidikannya. Tetapi sekaligus
ini juga membuktikan bahwa jaksa penyidik tidak mengerti dengan aturan mengenai pengadaan
barang dan jasa, dimana tidak ada kaitannya antara mobil yang kita beli pada rekanan dengan
importir umum yang memasukkan kendaraan ini dari luar negeri, tetapi karena ambisi yang
sangat besar ditambah dengan dukungan dana yang tidak terbatas dari orang yang
menginginkan naiknya kasus ini, maka mereka tetap pergi jalan-jalan ke Jakarta, kenapa
Terdakwa sebut pergi jalan-jalan? Karena akhirnya yang mereka bawa kesini adalah orang
accounting perusahaan, bukan orang teknis. Tapi masih untung juga bukan dari bagian cleaning
service.
Pemberian seluruh data, informasi dan keterangan yang meliputi seluruh kegiatan kendaraan ini
yang kami berikan kepada pihak kejaksaan negeri simpang empat hanyalah menunjukkan dan
menampakkan niat baik kami untuk meluruskan dan menyelesaikan permasalahan pengadaan
kendaraan dinas ini, seandainya kami tidak menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan,
belum tentu pihak kejaksaan negeri simpang empat akan mampu bergerak sejauh ini. Tetapi
ternyata, niat baik dan tulus Terdakwa tersebut, bukan saja tidak dipandang oleh pihak
kejaksaan negeri simpang empat tetapi bahkan beberapa dokumen yang menjelaskan dan
membuat terang perkara ini dibuat hilang oleh pihak kejaksaan dan tidak dimunculkan di depan
persidangan. Jangan pernah tanyakan pula kepada Terdakwa, mana tanda terima penyerahan
yang diberikan dulu karena kami menyerahkannya atas dasar kepercayaan dan yang
menerimapun tidak pula membuat tanda terimanya sebagai tanda terima kasihnya.

40

VIII.

TERHADAP ANALISA YURIDIS UNSUR SETIAP ORANG ;


Jaksa Penuntut Umum dalam surat tuntutannya telah menguraikan unsur setiap orang pada
sidang sebelumnya. Sebagaimana terkandung dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang RI No. 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dan ditambah dengan
Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ditujukan terhadap orang perorangan secara pribadi yang
disebut personal atau ditujukan kepada korporasi selaku subjek hukum.
Terdakwa yang dihadapkan di persidangan, ternyata adalah orang yang dalam kapasitasnya
melaksanakan tugas dan jabatan dan kedudukan, serta kewenangannya sebagai Kuasa Pengguna
Anggaran berdasarkan Pasal 11 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dan didalam proses Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah, adalah berdasarkan Pasal 9 ayat (3) Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Berdasarkan ketentuan itu, unsur setiap orang yang
terkandung dalam Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor tidak tepat diterapkan dan tidak terpenuhi oleh
Terdakwa. Didalam seluruh Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan yang dibuat oleh Jaksa
Penuntut Umum sendiri pun, penyebutan nama Terdakwa, Drs. Hendri, MM. Selalu dilekatkan
dengan kapasitasnya selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau selaku Kabag Umum.
Sehingga selalu dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum, Drs. Hendri, MM. selaku Kuasa Pengguna
Anggaran atau Drs. Hendri, MM. selaku Kabag Umum. Tidak pernah yang berdiri sendiri
sebagai seorang personal orang perorangan, Drs. Hendri, MM.
Bahwa selanjutnya berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, maka sudah
menjadi suatu keharusan dalam perkara a quo untuk memilah-milah mana perbuatan yang dilakukan
oleh Terdakwa serta mana perbuatan yang dilakukan Panitia Pengadaan Barang/ Jasa, mana
perbuatan yang dilakukan oleh Panitia Pemeriksa Barang, mana perbuatan yang dilakukan oleh
PPTK, oleh Pengguna Anggaran yang menerbitkan SPM, Kuasa BUD yang menerbitkan SP2D dan
mana yang dilakukan oleh rekanan, yang mana masing-masingnya disertai dengan tugas, fungsi dan
tanggung jawab. Artinya setiap jabatan yang melekat tentulah disertai dengan kewajiban untuk
tanggung jawab sesuai dengan kedudukan dan jabatan masing-masing. Bila tidak demikian maka
proses penegakan hukum atas suatu peristiwa pidana menjadi tidak adil dan tidak berkepastian.
Kewajiban dan tanggung jawab seseorang pemangku jabatan tidak bisa dibebankan kepada orang
lain begitu saja. Dalam hal ini apakah itu tanggung jawab PPTK, apakah itu tanggung jawab PA sebagai
atasannya, apakah itu tanggung jawab Asisten III sebagai atasan langsungnya, apakah itu tanggung
jawab Panitia Pengadaan dan Panitia Pemeriksa sebagai unit yang terpisah dari struktur
organisasinya, bahkan perintah yang diusulkan oleh Wakil Bupati dan disetujui oleh Bupati dianggap
menjadi beban tanggung jawab KPA. Tentu saja dalam hal ini tugas dan tanggung jawab Kejaksaan
Negeri Simpang Empat sebagai pembina hukum di Kabupaten Pasaman Barat otomatis juga menjadi
tanggung jawab KPA. Cara-cara seperti tersebut sungguhlah tidak mencerminkan proses penegakan
hukum yang berkeadilan dan berkepastian.
Atas dasar itu maka unsur setiap orang adalah tidak terpenuhi dan karenanya tidak
terbukti secara sah dan meyakinkan, karena unsur setiap orang pada Terdakwa adalah dalam
arti sebagai pemangku jabatan, bukan orang perseorangan.

41

IX.

TERHADAP ANALISA YURIDIS UNSUR SECARA MELAWAN HUKUM ;


Bahwa pada bagian umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, secara tegas
dinyatakan bahwa yang dimaksud secara melawan hukum adalah melawan hukum dalam
pengertian formil dan materil sehingga pengertian melawan hukum dalam tindak pidana korupsi
dapat pula mencakup perbuatan-perbuatan tercela yang menurut perasaan keadilan masyarakat
harus dituntut dan dipenjara. Namun berdasarkan putusan Makamah Konstitusi Nomor:003/PUUIV/2006 tanggal 24 Juli 2006, maka rumusan perbuatan melawan hukum dalam arti materil tidak
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sehingga yang harus dibuktikan adalah perbuatan
melawan hukum dalam arti formil.
Bahwa dalam surat tuntutannya, JPU telah mengatakan bahwa unsur melawan hukum telah
terbukti secara sah dan meyakinkan, namun hanya di dasarkan pada penguraian kembali uraian
dalam surat dakwaan sebagai uraian pembuktian dan tidak didasarkan pada fakta-fakta yang
terungkap dalam persidangan. Oleh sebab itu, cukuplah alasan hukum bagi Terdakwa untuk
memohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk membebaskan
Terdakwa dari segala dakwaan JPU.
Sungguhpun demikian, terkait dengan unsur melawan hukum dari dakwaan primer dalam
perkara a quo, maka pertanyaan pokoknya adalah perbuatan manakah yang dipandang sebagai
perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Terdakwa??
Bahwa mencermati uraian pembuktian JPU dalam Surat Tuntutannya, terhadap unsur
melawan hukum dan mempertemukannya dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan,
maka kesimpulan JPU unsur melawan hukum sebagai telah terbukti adalah kesimpulan yang keliru
dan bertentangan dan tidak bersesuaian dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Hal
ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bahwa JPU dalam surat tuntutannya dalam halaman 82 menyebutkan Bahwa kemudian Sekitar
bulan Agustus 2010 dilakukan pembahasan perubahan APBD tahun 2010 dan berkaitan dengan
pengadaan belanja kendaraan roda empat Microbus sebanyak 7 (tu)uh) Unit berdasarkan
permohonan perubahan APBD dari Ketua TAPD (Sekda Kab. Pasbar) dirubah menjadi pengadaan
1 (satu) paket kendaraan untuk mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati masing-masing Toyota
Fortuner type V 4x4 Matic untuk Bupati dengan anggaran Rp 800.000.000,- (delapan ratus juta
rupiah) dan Toyota Fortuner type G 4x2 Manual untuk Wakil Bupati dengan anggaran Rp
600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) dengan harga total RP. 1.400.000.000; (satu milyar empat
ratus juta rupiah). Setelah dilakukan pembahasan antara DPRD Pasaman Barat dan Pemerintah
Kabupaten Pasaman Barat, akhirnya perubahan tersebut disetujui oleh DPRD Kabupaten
Pasaman Barat dan diformulasikan dalam DPPA SKPD dan kemudian dituangkan dalam
Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Barat Nomor 04 Tahun 2010 tentang Perubahan APBD
Tahun Anggaran 2010.
Bahwa uraian Penuntut Umum tersebut di atas jelas karangan dan imajinasi dari saksi
Sudirman Samin seorang, karena tidak ada satupun barang bukti yanng membuktikan
kebenaran dari pernyataan Sudirman Samin tersebut, malah yang ada hanya kita digiring
dengan imajinasi saksi mantan anggota DPRD terebut yang juga merupakan saksi pelapor
dalam kasus ini, yang menginginkan mobil Bupatinya adalah sama dengan mobilnya sendiri,
yaitu Toyota Fortuner. Sementara seluruh dokumen yang ditampilkan, mulai dari notulen rapat
Banggar dan TAPD, Laporan Banggar DPRD Kab. Pasaman Barat, RKA P Bagian Umum TA 2010,
DPPA Bagian Umum TA 2010, sampai kepada Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ)
Bupati Pasaman Barat Tahun 2010 yang disampaikan dalam Paripurna DPRD pada bulan April
2011, tidak ada satupun yang mencantumkan dan menyebutkan mengenai mobil Toyota
42

Fortuner ini. Bahkan ketika ceritanya ini diadu dengan aturan main mekanisme penyusunan
APBD seperti yang diatur didalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, kebohongannya ini menjadi semakin terkuak,
modusnya untuk menjadi makelar dan mencari keuntungan dari kegiatan yang dilaksanakan
oleh SKPD Pasaman Barat terbuka secara jelas. Dan ini memang fenomena yang sangat kental
terjadi di Pasaman Barat sampai pada tahun 2010, dimana anggota DPRD memiliki power yang
sangat kuat dalam menentukan anggaran pada SKPD, bargaining-bargaining dalam kamar kecil
dilakukan. Dan ini dimanfaatkan mereka untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang
tidak terpuji. Pemerasan terhadap SKPD. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah mengatur bahwa, kewenangan DPRD dalam
penyusunan RAPBD, hanyalah sampai kepada rincian JENIS BELANJA. Dan jenis belanja itu
hanya mengatur 3 (tiga) hal, yaitu : Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa serta Belanja Modal.
Penjelasan ini telah disampaikan oleh Ahli Dr. Sumule Timbo dari Direjen Keuangan Daerah
Kementerian Dalam Neegeri, RI dalam sumpah dipersidangan pada haru Jum;at tanggal 17 AprIl
2015. Dan Permendagri ini dibuat oleh Kemendagri, memang untuk mengantisipasi kenakalankenakalan anggota DPRD sehingga tidak bisa masuk kedalam domainnya Eksekutif, yang
menciptakan peluang-peluang KKN. Sementara dalam belanja kegiatan pengadaan kendaraan
dinas Bupati Pasaman Barat, itu berada didalam perubahan volume, yang merupakan bagian
yang lebih kecil lagi dari perubahan rincian ojek belanja. Sehingga jangankan harus melalui
perubahan Perda tentang APBD yang harus melalui persetujuan DPRD, persetujuan PPKAD saja
pun tidak dibutuhkan. Karena itu sudah berada didalam kewenangan operasional Pengguna
Anggaran, yang nantinya akan dipertanggung jawabkan menjadi SILPA yang disampaikan dalam
Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati Pasaman Barat. Nah, Permendagri No.
13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, memang hanya mengatur
sampai kepada perubahan rincian objek belanja dalam objek belanja berkenaan, sebagaimana
yang dimaksud dalam Pasal 160 ayat (2), sementara untuk perubahan realisasi volume, itu
merupakan rincian yang lebih detail dari perubahan rincian objek belanja dalam objek belanja
berkenaan, yang tidak termasuk diatur di dalam Pasal 160 ayat (2) tersebut.
Satu-satunya data yang bisa kita telusuri dari imajinasinya tersebut adalah mengenai harga
mobil Toyota Fortuner pada tahun 2010 tersebut. Tetapi ini malah membuka kedok rencana
mark up dan makelar anggota DPRD tersebut, karena harga mobil yang mereka usulkan
dimasukkan kedalam anggaran Bagian Umum tersebut, dua kali lipat dari harga price list yang
dikeluarkan oleh Toyota sendiri. Ini dibungkusnya dengan alasan, pajak dan keuntungan
perusahaan. Padahal untuk pengadaan kendaraan bermotor yang telah memiliki price list dari
ATPM, memang harga yang tercantum di dalam price list tersebutlah yang menjadi harga
kontrak. Karena di dalam harga price list, itu sudah memasukkan komponen biaya pajak dan
keuntungan perusahaan. Hal ini mengingatkan kita kepada permasalahan pengadaan UPS di DKI
Jakarta yang juga melibatkan anggota DPRD nya. Apakah karena tidak jadi mendapatkan proyek
dan keuntungan ini sebagai salah satu yang menyebabkan mereka meradang ? Wallahualam....
Karena secara politik, Saksi tersebut memang berlawanan secara frontal dengan Bupati Pasaman
Barat, yang berujung dengan pemecatannya sebagai anggota DPRD Kabupaten Pasaman Barat
dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 2014, yang secara kebetulan juga diketuai
oleh Bupati Pasaman Barat. Hal ini hanyalah perulangan dari pemecatan serupa yang
diterimanya pada waktu menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasaman dari Fraksi Golkar pada
tahun 2005. Tapi biarkanlah karakter saksi yang seperti itu. Saksi yang sesat itu biarkanlah sesat,
asalkan jangan sampai kita pula yang disesatkannya dan dibuat sesat dengan kesaksiankesaksian palsunya tersebut.

43

2. Bahwa adalah tidak benar dan karangan JPU saja yang dinyatakannya dalam Surat Tuntutannya
pada hal 83 Bahwa sebelumnya Direktur CV. Makna Motor yaitu saksi ARIFIN AGROSURIO
pernah bertemu dengan Bupati Pasaman Barat Sdr BAHARUDDIN dan pada saat itu saksi ARIFIN
meminta proyek kepada Sdr BAHARUDDIN dan Sdr BAHARUDDIN mengatakan bahwa akan ada
proyek pengadaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati dan untuk itu Sdr BAHARUDDIN
menyuruh saksi ARIFIN agar datang ke Kantor Bupati Pasaman Barat dan menemui Kabag Umum
yaitu Terdakwa, selanjutnya saksi ARIFIN menyuruh karyawannya yaitu saksi OKTAVERI untuk
datang ke Pasaman Barat menemui Terdakwa.
Pernyataan JPU tersebut sungguhlah tidak berdasar sama sekali karena di dalam fakta
persidangan, Sdr. Arifin tidak pernah meminta proyek pada Sdr. Baharuddin dan juga
tidak pernah ada saksi lain yang mengatakan hal tersebut dan tidak ada satu bukti apapun
yang membuktikan kebenaran pernyataan JPU tersebut. Ini jelas telah memutar balikkan
fakta dan tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Bahkan
ketika di dalam persidangan Majelis Hakim meminta kepada PJU agar menghadirkan
Baharuddin sebagai saksi, agar pengusutan kasus ini dapat terang dan jelas sampai
tuntas, tidak separo-separo dan tidak Bencong, JPU tidak dapat menjawab permintaan
Majelis Hakim tersebut dan hanya menjawab dengan senyum seringai. Tetapi sekarang di
dalam surat tuntutan, JPU malah membuat dan menambah-nambahkan karangannya sendiri.
Disini nampak jelas bahwa tidak ada niat dan keinginan baik dari JPU untuk membuat kasus ini
menjadi terang dan jelas.

3. Bahwa JPU dalam uraian surat tuntutannya telah memutar balikkan fakta dan tidak sesuai
dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan bahkan juga mengarang cerita
untuk menjustifiksi tuntuannya dengan menyatakan Bahwa kemudian saksi OKTAVERI
datang sendirian menemui Terdakwa di kantor Kabag Umum Setda Pasaman Barat dengan
membawa dokumen-dokumen seperti profil perusahaan, dan brosur penawaran kendaraan jenis
Toyota Prado 2.7 TX seharga Rp. 875.000.000, (delapan ratus tujuh puluh lima juta rupiah) dan
Toyota Prado 2.7 TX-L seharga Rp.925.000.000,- (sembilan ratus dua puluh lima juta rupiah)dan
setelah Terdakwa melihat dokumen yang dibawa oleh saksi OKTAVERI Terdakwa mengatakan
kepada saksi OKTAVERI bahwa perusahaan CV Makna Motor tergolong perusahaan kecil karena
itu tidak mungkin ditunjuk sebagai rekanan pelaksana pengadaan tersebut dan agar saksi ARIFIN
tetap bisa melaksanakan pengadaan kendaraan dinas tersebut sebagaimana yang diperintahkan
oleh Bupati Pasaman Barat kepada Terdakwa maka Terdakwa menyampaikan kepada saksi
OKTAVERI agar saksi ARIFIN mencari perusahaan lain yang memenuhi syarat dan mau dipakai
namanya guna kelengkapan administrasi pengadaan kendaraan dinas tersebut
Bahwa berdasarkan pernyataan JPU tersebut diatas, jelas terlihat bahwa JPU tidak
mengerti dan tidak memahami serta tidak mencermati jalannya persidangan karena JPU
menyimpulkan kejadian Sdr. Oktaveri yang datang ke Simpang Empat tersebut terjadi
dalam satu dimensi waktu yang sama. Pada hal di dalam fakta dipersidangan terungkap
bahwa Sdr. Oktaveri datang ke Simpang Empat, dalam beberapa kali dengan waktu yang
berbeda dan kepentingan yang berbeda. Disini dapat Terdakwa ulas kembali bahwa
kedatangan Oktaveri yang pertama kali adalah pada bulan Oktober 2010 hanyalah untuk
mengantarkan surat penawaran CV. Makna Motor. Dan surat pewaran CV. Makna Motor ini
Terdakwa jadikan sebagai salah satu referensi untuk menghitung HPS bersama dengan surat
penawaran dari perusahaan yang lain yaitu PT. Intercom, Terminal Motor, Suci Motor dan Antons
Car.

44

Kedatangan Sdr. Oktaveri berikutnya adalah pada akhir Bulan November setelah proses lelang
umum gagal sebanyak dua kali. Pada saat itu Sdr. Oktaveri ke Simpang Empat mengantarkan
dokumen-dokumen perusahaan CV. Makna Motor, dan begitu dokumen tersebut diserahkan
kepada Terdakwa, Sdr. Oktaveri langsung kembali ke Padang, Kemudian berkas dokumendokumen tersebut diserahkan oleh Terdakwa kepada Panita I ULP untuk dievaluasi, dan hasil
evaluasi Panitia I ULP lah yang menyatakan bahwa CV. Makna Motor tergolong perusahaan kecil
dan tidak bisa mengikuti proses pengadaan kendaraan dinas bupati ini. Hal tersebut disampaikan
oleh Panitia I ULP kepada Terdakwa dan Terdakwa meneruskan apa yang disampaikan oleh
Pantia I ULP tersebut kepada Sdr. Oktaveri. Komunikasi Terdakwa dengan Sdr. Oktaveri hanya
sampai disini.
Jadi..tuduhan JPU atas Terdakwa mengatakan kepada saksi OKTAVERI bahwa perusahaan CV
Makna Motor tergolong perusahaan kecil karena itu tidak mungkin ditunjuk sebagai rekanan
pelaksana pengadaan tersebut dan agar saksi ARIFIN tetap bisa melaksanakan pengadaan
kendaraan dinas tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Bupati Pasaman Barat kepada
Terdakwa maka Terdakwa menyampaikan kepada saksi OKTAVERI agar saksi ARIFIN mencari
perusahaan lain yang memenuhi syarat dan mau dipakai namanya guna kelengkapan
administrasi pengadaan kendaraan dinas tersebutAdalah bohong dan karangan dari Imajinasi
JPU belaka untuk menjustifikasi dakwaanya. Terdakwa tidak pernah menyuruh Oktaveri agar
Saksi Arifin mencari perusahaan lain yang memenuhi syarat dan mau di pakai namanya. Seperti
kutipan persidangan pada hari Jumat tanggal 20 Maret keterangan saksi Oktaveri dibawah
sumpah persidangan :
Oktaveri

: Waktu saya pulang ke Padang, kemudian saya ditelpon Pak Hendri

Jaksa

: Berita dari Pak Hendri, kalau perusahaan saudara tidak bisa ikut

Oktaveri

: Ya penawaran

Jaksa

: Lalu apa solusi Pak Hendri waktu itu?

Oktaveri

: Tidak ada pak

Jaksa

: Anda pulang saja

Oktaveri

: Ya

4. Bahwa JPU dalam membuat surat tuntutannya tidak bedasarkan fakta di persidangan
sebagaimana yang dimuatnya pada surat tuntutannya di halaman 83, yang menyatakan Bahwa
setelah selesai melaksanakan survey, Terdakwa membuat dan menandatangani sendiri surat
telaahan staf tertanggal 18 Oktober 2010
Di dalam fakta persidangan, Terdakwa telah menerangkan bahwa yang membuat telaahan staf
tersebut bukanlah Terdakwa sendiri karena ini adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi
di dalam suatu Organisasi Birokrasi Pemerintahan, seorang Kepala Bagian yang berada pada
eselon III.a membuat suratnya sendiri. Tetapi pasti dibuat secara hierarkis oleh stafnya. Hal ini
contohnya sama saja dengan Surat Perintah Penahan atas nama Terdakwa sendiri yang
ditandatangani oleh Yudi Indra Gunawan selaku Kepala Kejaksaan Negeri Simpang Empat
yang eseloneringnya sama-sama III.a dengan Terdakwa selaku Kepala Bagian Umum
Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat. Apakah ini artinya juga bahwa yang membuat
dan menandatangani Surat Perintah Penahanan tersebut adalah Yudi Indra Gunawan
sendiri? Tentu tidak..karena surat-surat dinas selalu dibuat dan diproses oleh bawahan kecuali
kalau yang dimaksudkan oleh JPU ini adalah seperti yang saudara lakukan pada surat tuntutan
45

yang dibacakan pada persidangan kemaren yang tentulah dibuat oleh saudara JPU
Akhiruddin sendiri dan langsung ditandatangani oleh saudara Akhiruddin.

5. Bahwa tidak benar uraian tuduhan JPU yang pada halaman 86 yang mengatakan Bahwa
perbuatan Terdakwa merubah rincian obyek belanja dari 2 unit kendaraan dinas Bupati dan
Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan dinas Bupati saja merupakan perbuatan melawan hukum
melanggar Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Pasal 160 ayat (1): "Pergeseron anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis
belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf b serta pergeseran antar obyek
belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam DPPA-SKPD".
Bahwa kenyataannya perubahan rincian obyek belanja dari 2 (dua) unit menjadi 1 (satu) tidak
dituangkan dalam DPPA-SKPO.
Pasal 160 ayat (2): "Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan
dapat dilakukan atas persetujuan PPKD".Seharusnya perubahan rincian obyek belanja tersebut
tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan Kepala DPKAD selaku PPKD namun nyatanya tetap
dilakukan oleh Terdakwa.
a. Bahwa JPU sendiri tidak mengerti dengan apa yang dibuatnya dalam surat tuntutan
tersebut, JPU tidak mengerti dan memahami pengertian dan apa yang dimaksud
dengan rincian objek yang tertuang di dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. JPU menafsirkan 2 unit sebagai
rincian objek . Dalam hal ini JPU sendiri telah salah menafsirkan Permendagri No. 13
Tahun 2006 Pasal 160 ayat (1) dan ayat (2) tersebut.
Jika kita akan melakukan perubahan APBD, tentu merubah apa yang telah dicantumkan
dalam APBD tersebut dengan mengganti seluruh atau sebagian dari objek atau rincian
objek belanja berkenaan. Dalam DPPA Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat Tahun 2010
pada Bagian Umum, Kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas/ Operasional tertulis
Pekerjaannya adalah Pengadaan Kendaraan Dinas dengan pagu dana Rp. 1.400.000.000
(satu milyar empat ratus juta rupiah) dan volume 1 (satu) paket. Dalam hal ini bahwa
angka 2 (dua) unit mobil tersebut jelas tidak tercantum sama sekali di dalam DPPA
Sekretariat Daerah Kabupaten Pasaman Barat Tahu 2010 karena itu hanya uraian dari
pekerjaan, jadi apa yang harus dirubah? Apa yang harus dituangkan kedalam DPPA-SKPD?
Jawabannya tidak ada yang harus dirubah apalagi meminta persetujuan DPRD. Perubahan
unit kendaraan ini tidak terkait sama sekali dengan Permendagri No. 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 160 ayat (1), karena ini
hanya merupakan perubahan volume yang terjadi pada realisasi kegiatan yang
telah dianggarkan, bukan merupakan perubahan objek ataupun rincian objek
seperti yang dimaksud dalam Pasal 160 ayat (1) tersebut, begitu juga dengan Pasal
160 ayat (2), karena tidak adanya perubahan rincian objek maka juga tidak ada
memerlukan persetujuan kepala DPKAD selaku PPKD.
Hal ini juga telah dijelaskan oleh Saksi Celly Decilia Putri, SE, MM. A.kt dibawah sumpah di
persidangan pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015 dan juga penjelasan dari Ahli Dr.
Sumule Tumbo dari Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI dibawah
sumpah pada persidangan hari Jumat tanggal 17 April 2015. Dimana kedua orang saksi
tersebut Celly Decilia Putri, SE, MM. A.Kt adalah praktisi yang sehari-hari tugas dan
46

pekerjaannya adalah mengelola keuangan daerah Pasaman Barat yang jumlahnya


mencapai hampir 1 triliun rupiah, sudah barang tentu sangat menguasai dan ahli di dalam
pelaksanaan aturan Permendagri No. 13 Tahun 2006 sebagai kitab suci pelaksanaan
tugasnya. Dan Dr. Sumule Timbo disamping dalam kapasitasnya sebagai Kasi Wilayah I
Pada Subdit Bagian Kebijakan dan Bantuan Keterangan Ahli pada Dirjen Keuangan Daerah
Kementerian Dalam Negeri RI, dimana dalam tugasnya sehari-hari adalah untuk
memberikan penjelasan dan penafsiran terhadap peraturan-peraturan keuangan kepada
seluruh stakeholder, bukan cuma dari Pemerintah Darah Kabupaten dan Propinsi seIndonesia saja, tetapi juga termasuk dari instansi Kejaksaan, Kepolisian, KPK dan LSM-LSM
yang membutuhkan informasi dan penjelasan mengenai substansi dari sebuah peraturan.
Apalagi seperti yang dinyatakan oleh beliau di dalam persidangan, beliau bukan hanya
mengerti dan paham tentang Permendagri No. 13 Tahun 2006 tersebut dan Permendagripermendagri lainnya, tetapi bahkan beliau sangat mengerti dengan filosofi dan semangat
serta suasana kebatinan yang mewarnai pada proses penyusunan peraturan tersebut
karena beliau adalah orang yang terlibat langsung di dalam penyusunan peraturan
tersebut. Beliau bukanlah hanya sekedar akademisi atau pemerhati hukum administrasi
negara belaka. Didalam persidangan tanggal 17 April 2015, Ahli Sumule Timbo dibawah
sumpah persidangan memberikan keterangan bahwa dalam perubahan 2 (dua) unit
kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat menjadi 1 (satu) unit kendaraan
Bupati Pasaman Barat tidak perlu melalui persetujuan DPRD dan merubah Perda No. 04
Tahun 2010 tentang Perubahan APBD Kab. Pasaman Barat Tahun 2010 yang menjadi dasar
DPPA SKPD. Ini hanyalah pengurangan volume, bukan pergeseran antar objek belanja
dalam jenis belanja dan antar rincian objek belanja sebagaimana yang dimaksud dalam
Permendagri No. 13 Tahun 2006 Pasal 160 ayat (1). Jadi dalam hal ini tidak ada
pelanggaran yang dilakukan Terdakwa terhadap Permendagri No. 13 Tahun 2006
Pasal 160 ayat (1) dan (2)
b. Bahwa tuduhan JPU yang menyatakan perbuatan Terdakwa merubah rincian obyek
belanja dari 2 unit kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan
dinas Bupati saja merupakan perbuatan melawan hukum melanggar Permendagri Nomor
13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 160 ayat (1) dan (2)
adalah hal yang tidak berdasarkan dari fakta persidangan. JPU tidak menyimak dan
memperhatikan jalannya persidangan dan juga tidak memperhatikan bukti-bukti
yang ada, yang padahal juga menjadi barang bukti oleh JPU sendiri dalam perkara
ini. Kemudian JPU dalam membuat surat tuntutannya antara satu sama lain saling
bertentangan, disatu sisi JPU membenarkan dan disatu sisi menyalahkan. Hal ini terjadi
terhadap Telaahan Staf Tanggal 10 November 2010 dari Asisten III kepada Bupati Pasaman
Barat. Di dalam surat tuntutannya, JPU menuliskan tentang Telaahan Staf Tanggal 10
November 2010 ini sebanyak 5 kali yaitu pada dakwaan primernya di halaman 4, pada
dakwaan subsidairnya di halaman 10-11, pada keterangan saksi Ir. Zalmi di halaman 63,
pada keterangan Terdakwa di halaman 74 dan pada tuntutan di halaman 86.

Berikut kutipan yang ditulis JPU tentang Telaahan Staf tersebut :


Telaahan staf Kepada Bupati Pasaman Barat tertanggal 10 Nopember 2010 yang
ditandatangani oleh Asisten III pada Sekda Pasaman Barat ( Ir. Zalmi N) perihal Tindak
Lanjut Pengadaan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Tahun Anggaran 2010 yang pada
pokoknya menjelaskan bahwa penyebab tidak adanya rekanan yang mendaftar
dikarenakan harga kendaraan operasional Kepala Daerah dimaksud ( Toyota Prado TX
47

Limited dan Toyota Fortuner Type V Matic 4x4 Bensin ) tidak mencukupi dengan pagu
dana yang tersedia. Oleh karena itu, demi kelancaran proses tender berkaitan dengan pagu
dana maka Tim Panitia 1 ( Satu ) ULP Kab. Pasaman Barat akan mengeluarkan
pengumuman tender kendaraan operasional kepala daerah untuk kedua kalinya dengan
perubahan spesifikasi : Untuk 1 ( satu ) Unit Toyota Land Cruiser Prado Type TX Limited
dirubah menjadi 1 ( satu ) Unit Toyota Land Cruiser Prado Type TX dan 1 ( satu ) Unit
Toyota Fortuner Type V Matic 4 x 4 Bensin dirubah menjadi 1 ( satu ) Unit Toyota Fortuner
Type G Luxury 4 x 2 Bensin. Kemudian telaahan staf tersebut didisposisi oleh Sekda kepada
Bupati Pasaman Barat tanggal 10 Nopember 2010 yang isinya mohon persetujuan Bapak
sesuai saran. Kemudian telaahan staf beserta disposisi dari Sekda tersebut didisposisi
oleh Wakil Bupati tanggal 10 Nopember 2010 kepada Bupati yaitu "berhubung dana kita
belum cukup dan medan kita wilayah bergunung perlu kendaraan 4x4, cukup
kendaraan Bupati saja dulu, Wabup tahun 2011 kita anggarkan lagi". Setelah itu
telaahan staf beserta disposisi dari Sekda dan Wabup tersebut masuk ke Bupati kemudian
didisposisi oleh Bupati Pasaman Barat Tanggal 10 Nopember 2010 kepada Sekda yang
isinya Setuju Saran Wabup. Namun keesokan harinya yaitu pada tanggal 11 November
2010 Bupati membuat disposisi tambahan yang isinya adalah limited yang maksudnya
adalah 1 ( satu ) Unit Toyota Land Cruiser Prado Type TX Limited
Bahwa dari kutipan di atas dan di dalam fakta persidangan telah sama-sama melihat
Telaahan staf tersebut dan mendengarkan keterangan saksi yaitu saksi Ir. Zalmi N dan
keterangan Terdakwa sendiri, Terdakwa tidak pernah sama sekali melakukan perbuatan
merubah 2 unit kendaraan wakil bupati dan bupati menjadi 1 unit kendaraan Bupati. Dari
sini jelas dan terang bahwa apa yang dituduhkan JPU adalah tidak benar terhadap
Terdakwa yang merubah rincian obyek belanja dari 2 unit kendaraan dinas Bupati dan
Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan dinas Bupati. Karena disini jelas terbukti bahwa
bukan Terdakwa yang merubah 2 unit kendaraan menjadi 1 unit kendaraan Bupati
Pasama Barat melainkan usulan Wakil Bupati melalui disposisinya pada TS
tertanggal 10 November 2010 dan disetujui oleh Bupati Pasaman Barat melalui
Telaahan staf yang sama tertanggal 10 November 2010.
Bahwa, JPU menuduhkan tindakan yang merubah dari 2 unit kendaraan dinas Bupati dan
Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan dinas Bupati saja merupakan perbuatan melawan
hukum, melanggar Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 160 ayat (1) dan (2) maka yang seharusnya menjadi Terdakwa
dalam perkara ini adalah Wakil Bupati Pasaman Barat dan Bupati Pasaman Barat
sendiri. Namun dalam hal ini, JPU sungguh tidak berlaku adil dan tidak bernyali,
jangankan untuk menjadikan sebagai Terdakwa, untuk dijadikan sebagai saksipun tidak
berani sama sekali, padahal untuk membuktikan kebenaran dari Disposisinya pada
Telaahan Staf tertanggal 10 November 2010 perlu didengar kesaksian dari Wakil Bupati
dan Bupati tersebut dan hal ini juga senada yang disampaikan oleh Majelis Hakim pada
waktu persidangan yang meminta JPU untuk menghadirkan Bupati Pasaman Barat tapi
tidak digubris sama sekali.
Disini JPU telah jelas salah sasaran dan salah menangkap orang yang dijadikannya
Terdakwa, yang akhirnya mengorbankan Terdakwa demi terpenuhinya target kasus dari
JPU sendiri. Dengan demikian, dakwaan dan tuntutan JPU karena tindakan Terdakwa
melawan hukum Permendagri No. 13 Tahun 2006, batal demi hukum.

48

6. Bahwa perbuatan Terdakwa merubah rincian obyek belanja dari 2 unit kendaraan dinas Bupati
dan Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan dinas Bupati saja juga merupakan perbuatan
melawan hukum melanggar Keppres No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, Bagian ketiga, Prinsip Dasar Pasal 3 :

Pengadaan Barang/Jasa Wajib menerapkan Prinsip-prinsip :


a. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana
yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;
b. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah
ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan
sasaran yang telah ditetapkan;
c. ...
d. ...
e. ...
f. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi
kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan sesuai dengan
prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

Hal tersebut dikarenakan peran Terdakwa selaku KPA tidak dapat melaksanakan pengadaan
2 (dua) unit kendaraan dinas untuk Bupati dan Wakil Bupati tersebut meskipun sudah
tersedia anggaran yang cukup untuk itu yakni sejumlah total Rp.1.400.000.000,- (satu milyar
empat ratus juta rupiah), melainkan hanya mampu mengadakan 1 (satu) unit kendaraan
untuk Bupati saja (toyota prado) yang notabene memiliki harga yang sangat tinggi dan
merupakan pemborosan anggaran serta tidak layak dan tidak tepat untuk digunakan Kepala
Daerah Tingkat II yang belum lama terbentuk sehingga sisa anggaran tidak mencukupi
pembelian kendaraan untuk Wakil Bupati. Bahwa kegiatan pengadaan yang dilakukan oleh
Terdakwa tersebut tidak menerapkan prinsip Efislen, Efektit, Akuntabel.

Majelis Hakim yang mulia. Sebagai seorang yang awam dengan hukum, sekaligus baru pertama
kalinya menginjakkan kakinya di Pengadilan, dan bahkan langsung duduk di bangku pesakitan
sebagai Terdakwa, saya betul-betul dan sungguh-sungguh terkejut dengan pemandangan dan
penyampaian oleh Penuntut Umum. Bagi saya selaku orang Pemerintahan, yang hanya belajar
ilmu hukum sebatas dasar-dasarnya saja. Tidak mengenal dengan istilah menghalalkan segala
cara untuk mencapai tujuan. Apalagi cara yang ditampilkan tersebut adalah cara-cara yang tidak
benar dan terbalik-balik karena ketidak tahuan dan ketidak mengertian Penuntut Umum
terhadap peraturan yang dituduhkannya dilanggar. Apakah karena posisi dan kapasitas sebagai
seorang Aparat Penegak Hukum, maka kemudian APH tersebut dapat saja mengartikan dan
memakai suatu peraturan dengan sesukanya saja ? bisa mengartikannya terbalik, bisa
mencomot-comot seenaknya, dan kemudian dilemparkan kepada Terdakwa menjadi kesalahan
seorang Terdakwa ? apakah memang begini dunia hukum Indonesia ? atau hanya kebetulan saja
saya bertemu dengan APH yang seperti ini ? apakah ini yang disebutkan sebagai menghormati
peradilan dan menghormati proses hukum ?
Darimana dasarnya maka bisa dikatakan Terdakwa merubah rincian obyek belanja dari 2 unit
kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati menjadi 1 unit kendaraan dinas Bupati saja. Yang
dirubah dari 2 itu mana ? apa Penuntut Umum tidak melihat kepada Barang Bukti Penuntut
Umum sendiri? Bukankah di persidangan dan di dalam Surat Tuntutan ini sendiri, berulang kali
49

Penuntut Umum menyampaikan bahwa yang mengusulkan agar pengadaan kendaraan dinas
tahun ini cukup untuk bupati saja dulu, dan untuk kendaraan wabup tahun depan kita anggarkan
lagi adalah Wabup? Dan bukankah Bupati yang menyetujui usulan Wabup tersebut ? Sementara
Terdakwa sendiri malah tetap menyarankan agar kendaraan ini dibeli dua buah, tetapi speknya
yang diturunkan agar harganya terjangkau oleh penyedia barang. Kenapa bukan Wabup atau
Bupati saja yang Penuntut Umum tuntut ? Apakah karena wabup atau bupati tersebut, maka
Penuntut Umum takut ? Takut tidak dapat lagi proyek-proyek untuk kejaksaan negeri simpang
empat ? seperti yang selama ini setiap tahun selalu dapat ? Minta pengadaan tanah untuk
pembangunan Kacabjari Air Bangis TA 2013, minta biaya untuk pematangan lahannya TA 2014.
Minta memasukkan listrik untuk kantor TA 2010, mushala dan perumahan kajari, minta mobil
Toyota Innova Luxury untuk kajari TA 2010. Minta ini minta itu. Tahun ini apa jadi pengaspalan
seluruh area halaman kantor kajari? Apa bukan itu yang merupakan pemborosan terhadap
anggaran pemerintah daerah, karena dana APBD yang mestinya untuk kesejahteraan dan
pembangunan rakyat Pasaman Barat disedot untuk kepentingan instansi vertikal yang dananya
juga disediakan oleh Pemerintah Pusat ?
Apa dasar hukum saudara Penuntut Umum untuk mengatakan bahwa pengadaan 1 (satu) unit
kendaraan untuk Bupati yaitu toyota prado yang notabene memiliki harga yang sangat tinggi
merupakan pemborosan terhadap anggaran dan malah tidak layak dan tidak tepat untuk
digunakan Kepala Daerah Tingkat II yang belum lama terbentuk sehingga sisa anggaran tidak
mencukupi pembelian kendaraan untuk Wakil Bupati ? Padahal mengenai kendaraan dinas
pejabat negara, itu sudah ada peraturan yang mengaturnya. Dan tidak ada pula dibedakan daerah
ini menjadi daerah yang sudah lama terbentuk dengan daerah yang baru terbentuk. Dan untuk
saat ini, yang mana itu yang Penuntut Umum sebut Daerah Tingkat II ? Tidak ada lagi saat ini
daerah di Indonesia bertingkat-tingkat Penuntut Umum. Banyak-banyaklah membaca dan
belajar. Apa yang Penuntut Umum sebut saat ini, hanya mengingatkan Terdakwa akan istilah
yang disebutkan oleh Kajari Simpang Empat yang lama, bahwa mengenai mobil prado ini
disebutkannya bahwa bupati Pasaman Barat, ibarat anak SD yang memakai baju SMA. Begitu
dalamnya kebencian Kajari Simpang Empat yang sebelum ini kepada Bupati Pasaman Barat.
Itulah yang menyebabkan begitu ngototnya Kajari untuk memaksakan naiknya kasus pengadaan
kendaraan dinas bupati, dengan harapan bupati akan terseret karena itu. Dan ini sekarang tetap
dilanjutkan dengan imajinasi-imajinasi Penuntut Umum untuk mendudukkan Terdakwa dalam
kasus ini. Kesimpulan dari situasi tersebut adalah :
HUBUNGAN YANG TIDAK HARMONIS ANTARA BUPATI PASAMAN BARAT DENGAN KAJARI
SIMPANG EMPAT MENYEBABKAN KAJARI SIMPANG EMPAT MEMPUNYAI AMBISI UNTUK
MENJATUHKAN KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN BUPATI PASAMAN BARAT MELALUI
CARA-CARA MENGORBANKAN APARAT-APARAT PEMERINTAH DAERAH PASAMAN BARAT

7. Bahwa JPU dalam uraian tuntutannya telah memutar balikkan fakta dan tidak sesuai dengan
fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan terkait proses pengadaan kendaraan dinas Bupati
Pasaman Barat Tahun 2010 oleh Panitia I ULP. Sebagai orang yang awam dibidang hukum, saya
betul-betul kaget dan tidak mengerti kenapa sampai ada seorang manusia yang diangkat dengan
bersumpah atas nama Allah, mau dan mampu di dalam melaksanakan tugasnya untuk berkata
BERBOHONG dan MEMFITNAH. Apa lagi fitnah yang dilakukannya dengan terang-terangan
akan menzalimi orang yang difitnahnya tersebut. Begitu berharganya mereka memandang
sebuah jabatan sampai lupa kepada dosa dan azab dari Allah, SWT.
Dari apa yang disampaikan oleh JPU dalam surat tuntutannya ini, adalah sesuatu yang bohong
50

dan bukan saja bertentangan dengan fakta persidangan, sebagian besar juga tidak ada disebutsebut di dalam persidangan, ALIAS JPU MENGARANG SENDIRI. Seperti dengan pernyataan JPU
pada halaman 87 sampai 88 berikut ini :

JPU mengatakan bahwa saksi OKTAVERI menyampaikan petunjuk yang diberikan oleh
Terdakwa kepada saksi ARIFIN, selanjutnya saksi ARIFIN mencari perusahaan yang
memenuhi kriteria yang disebutkan oleh Terdakwa dan akhirnya saksi ARIFIN menghubungi
saksi VITARMAN. Sementara kenyataanya di dalam persidangan Sdr. Oktoveri menyampaikan
bahwa tidak ada petunjuk atau solusi dari Terdakwa.

JPU mengatakan bahwa Terdakwa mengatakan kepada saksi VITARMAN bahwa PT. Baladewa
akan ditunjuk sebagai rekanan pelaksana melalui metode penunjukan langsung. Sementara
dari fakta persidangan, komunikasi melalui handphone yang dilakukan oleh Sdr. Vitarman
melalui HP Otaveri kepada Terdakwa itu Cuma sebatas perkenalan diri dan menanyakan
apakah betul pelelangan telah gagal dua kali? Dan apa ada berita acaranya. Jadi tidak ada
pembicaraan bahwa PT. Baladewa akan ditunjuk sebagai rekanan pelaksana melalui metode
PL.

JPU mengatakan bahwa PT. Intercom tidak memiliki Kemampuan untuk menyediakan mobil
jenis Prado karena PT. Intercom selaku distributor resmi Toyota hanya menjual mobil yang
telah ditetapkan oleh ATPM sementara mobil jenis Toyota Prado adalah mobil yang tidak ada
dalam daftar ATPM dan hanya dijual oleh importir umum oleh karena Itu surat dukungan yang
dibuat tersebut bukanlah surat resmi yang diterbitkan oleh PT. Intercom. Dalam hal ini, Surat
Dukungan yang dimaksud adalah salah satu persyaratan kualifikasi calon penyedia barang
yang disampaikan oleh calon penyedia bersama dengan dokumen penawarannya yang
kemudian dievaluasi oleh Pantia Pengadaan Barang tentang ada atau tidaknya dan tentang
kebenaran dari Surat Dukungan tersebut. Hasil evaluasi panitia ini lah yang menentukan
apakah PT. Baladewa lulus evaluasi dan layak/ tidak untuk menjadi calon penyedia barang.
Apabila Panitia telah melakukan evaluasi dan menyatakan PT. Baladewa lulus evaluasi untuk
menjadi calon penyedia, artinya seluruh dokumen penawaran termasuk surat dukungan
sudah memenuhi dan sesuai dengan aturan. Apabila dikemudian hari didapati keterangan
bahwa Surat Dukungan dari PT. Intercom tersebut tidak resmi, maka itu diluar kewenangan
KPA.

JPU mengatakan Bahwa Terdakwa meminta saksi BENDRI untuk melakukan penunjukan
langsung terhadap kegiatan pengadaan tersebut dan seluruh kelengkapan administrasi untuk
mengikuti proses penunjukan langsung dilengkapi dan ditandatangani oleh saksi Vitarman di
ruangan Terdakwa. Pada saat itu Terdakwa juga menandatangani Surat Nomor :
027/217/KPA/Umum/2010 tertanggal 23 Nopember 2010 yang isinya meminta ULP untuk
melaksanakan Penunjukan Langsung terhadap paket Pekerjaan tersebut. Pernyataan
Penuntut Umum ini adalah tidak berdasarkan kepada fakta persidangan karena antara
penandatanganan surat Nomor: 027/217/KPA/Umum/2010 tertanggal 23 Nopember 2010
dilaksanakan pada tanggal 23 November 2010, sementara kedatangan Sdr. Vitarman dan Sdr.
Oktoveri membawa dokumen penawaran adalah pada awal Desember 2010. Pernyataan
Penuntut Umum ini hanyalah untuk menjustifikasi dakwaannya bahwa pengadaan ini
direkayasa untuk PT. Baladewa Indonesia.

8. Bahwa poin-poin yang dikemukakan oleh JPU dalam surat tuntutannya halaman 88,
menggambarkan ketidak mengertian Penuntut Umum terhadap proses pengadaan barang/ jasa
dan malah JPU hanya mengambil dan menyampaikan surat-surat dan dokumen yang
dibutuhkannya untuk menjustifikasi dakwaannya dan menghilangkan barang-barang bukti yang
51

lain yang semestinya merupakan satu kesatuan dalam proses pengadaan kendaraan dinas ini.
Sehingga dengan demikian, kesimpulan yang disimpulkan oleh JPU tidak sesuai dengan fakta
yang ada, apalagi ditambah dengan JPU maupun aparat penyidik di Kejaksaan Negeri Simpang
Empat tidak satupun yang memiliki sertifikasi keahlian pengadaan barang/ jasa meskipun telah
beberapa kali pernah mengikuti pelatihan dan ujian sertifikasi tersebut, namun tidak satupun
yang lulus dan memiliki sertifikasi sebagai Ahli Pengadaan.
Pada halaman 88 tersebut, JPU menyampaikan bahwa selanjutnya Terdakwa mengeluarkan
surat Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3 Desember 2010, padahal surat itu tidak serta
merta ditandatangani langsung oleh Terdakwa karena sebelumnya terlebih dahulu ada surat
Usulan Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari Ketua Panitia 1 ULP Kab.
Pasaman Barat kepada KPA Nomor : 14PL.4/ULP.B1/UPCPLP/1/PASBAR-2010 tanggal 03
Desember 2010 beserta lampiran Berita Acara Hasil Evaluasi Pascakualifikasi yang
ditandatangani oleh 5 orang panitia 1 ULP dengan Nomor 14PL.3/ULP.B1/BAHEP/1/PASBAR2010 tanggal 3 Desember 2010. Dan surat Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3
Desember 2010 bukanlah surat penetapan PT. Baladewa Indonesia yang memenuhi syarat dan
lulus evaluasi sebagai rekanan sebagaimana yang ditulis oleh JPU pada hal 88 tersebut. Jika surat
yang dimaksud adalah surat Nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal 3 Desember 2010,
perihal yang benar adalah Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi.
Bahwa JPU menyampaikan setelah sdr. Vitarman mengajukan penawaran sebesar
Rp.1.072.500.000,- (satu milyar tujuh puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) dan selanjutnya
setelah negosiasi, disepakati nilai sebesar Rp.1.072.000.000,-. (satu milyar tujuh puluh dua juta
rupiah). Selanjutnya Terdakwa mengeluarkan Surat nomor 027/218/KPA/Umum-2010 tanggal
3 Desember 2014 yang ditujukan kepada ULP yang menetapkan PT. Baladewa Indonesia
memenuhi syarat dan lulus evaluasi sebagai rekanan kegiatan pengadaan 1 (satu) unit
kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati. Kemudian diterbitkan Surat Penunjukan Penyedia
Barang/Jasa (Gunning) Nomor 027/176/SP/2010 tanggal 13 Desember 2010.
Dalam hal ini JPU tidak menyimak dan memperhatikan fakta dipersidangan terhadap keterangan
saksi Bendri dan juga keterangan Terdakwa perihal proses pengadaan barang/ jasa karena JPU
tidak menyampaikan fakta yang sebenarnya terjadi di persidangan.
Fakta dipersidangan bahwa setelah surat tertanggal 3 Desember 2010 tersebut, masih banyak
surat-surat dan dokumen lain yang dikeluarkan oleh Ketua Panitia 1 ULP Kab. Pasaman Barat
yaitu :
- Surat undangan Aanwijzing kepada PT. Baladewa Indonesia
- Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing)
- Berita Acara Pembukaan Penawaran
- Koreksi Aritmatik
- Berita Acara Hasil Evaluasi
- Berita Acara Negosiasi Teknis dan Harga, dan
- Surat Usulan Penetapan Pemenang PL kepada KPA
Inilah yang dikatakan, JPU sengaja tidak menampilkan proses yang dilaksanakan oleh panitia I
ULP untuk menjusifikasi dakwaannya, bahwa Terdakwalah yang menentukan segalanya.
Padahal, bisa atau tidaknya seorang rekanan menjadi penyedia barang adalah tergantung
kepada hasil evaluasi Pantia Pengandaan Barang/ Jasa, dan jika JPU paham dan mengerti tentang
52

proses yang berlangsung untuk penetapan sebuah perusahaan menjadi rekanan maka JPU tidak
akan salah mengambil kesimpulan seperti yang diutarakannya ini.
Proses penetapan sebuah perusahaan menjadi pemenang dalam pengadaan kendaraan Dinas
Bupati Pasaman Barat ini, melewati tahap-tahap sebagai berikut :
1. Surat Undangan Mengikuti Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ kepada PT. Baladewa
2. Pendaftaran dan pengambilan dokumen pascakualifikasi PBJ Metode PL
3. Pemasukan dokumen prakualifikasi
4. Penilaian kualifikasi
5. Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari Ketua PPBJ
6. Surat Penetapan Calon Penyedia Barang Lulus Pascakualifikasi dari KPA
7. Surat Undangan Aanwijzing dari Ketua PPBJ kepada PT. Baladewa Indonesia
8. Anwijzing/ penjelasan, dan pembuatan berita acara
9. Pemasukan penawaran
10. Koreksi Aritmatik
11. Evaluasi penawaran;
12. Negosiasi baik teknis maupun biaya;
13. Surat Usulan Penetapan Pemenang PL
14. Penetapan/penunjukan penyedia barang/jasa;
15. Penandatanganan kontrak.
Tahapan-tahapan seperti ini tentu akan berbeda lagi jika metode pengadaan yang digunakan
berbeda, apakah itu Metode Pelelangan Umum Prakualifikasi, Metode Pelelangan Umum
Pascakualifikasi, Pemilihan Langsung Prakualifikasi, Pemilihan Langsung Pascakualifikasi
maupun Pelelangan Terbatas Pascakualifikasi. Dengan banyaknya langkah-langkah dan tahap
yang dilewati oleh calon penyedia barang/ jasa, maka metode PL bukanlah merupakan sebuah
metode seperti yang dibayangkan oleh JPU atau sebagian besar orang yang tidak mengerti
tentang proses ini bahwa pemilihan metode PL seperti identik dengan kegiatan untuk mencuri
uang negara.
Dengan metode Pascakualifikasi yang sama untuk pelelangan umum maka tahap-tahap yang
dilewatinya juga sama, bedanya hanya pada tahap evaluasi, kalau Penunjukan Langsung, hanya
satu yang di evaluasi, sementara pada pelelangan umum, mengevaluasi lebih dari satu
penawaran.
Hal ini sengaja kami sampaikan, meskipun ini barangkali tidak diperlukan pada saat ini karena
jangankan ketika telah berada pada frame negatif dalam sebuah kasus seperti saat ini, sedangkan
pada saat sedang mengikuti pelatihan barang dan jasapun tidak akan semua orang bisa paham
dan mengerti sehingga banyak yang tidak lulus ketika mengikuti ujian sertifikasi, termasuk JPU
sendiri. Tapi minimal, karena ini berada pada sebuah kasus mudah-mudahan JPU bisa lebih arif
untuk kasus pengadaan barang dan jasa berikutnya sehingga tidak sembarang orang yang
menjadi korban akibat ketidak mengertian JPU.

53

9. Bahwa kegagalan lelang sebanyak dua kali tersebut dengan kondisi terjadi berbagai perubahan
diantaranya perubahan rincian obyek belanja dari 2 (dua) unit kendaraan untuk Bupati dan
Wakil Bupati menjadi 1 (satu) unit saja merupakan serangkaian perbuatan yang dilakukan oleh
Terdakwa dalam rangka memuluskan jalan agar saksi ARIFIN dapat ditetapkan sebagai rekanan
dalam pengadaan kendaraan tersebut seperti yang sejak awal diinginkan oleh saksi ARIFIN dan
diinstruksikan oleh Bupati Pasaman Barat kepada Terdakwa.
Bahwa apa yang disebutkan oleh Penuntut Umum dalam surat tuntutannya adalah tidak
berdasar sama sekali dan hanyalah imajinasi Penuntut Umum saja. Karena tidak mungkin
pelelangan yang dilakukan secara nasional di koran tempo, bisa dikondisikan oleh Terdakwa
agar terjadi kegagalan. Termasuk juga perubahan dari rencana pengadaan 2 unit menjadi 1 unit,
itu adalah karena usulan dari wabup dan disetujui oleh Bupati. Dan usulan waup tersebut, sangat
berbeda dengan usulan yang disampaikan oleh KPA, yang hanya menyarankan agar diturunkan
speknya agar kendaraan ini tetap dapat dibeli sebanyak 2 unit. Fakta persidangan telah
membentangkan hal tersebut, tetapi didalam surat tuntutannya Penuntut Umum membuat
seenaknya saja. Sungguh sangat meremehkan kehormatan persidangan.
10. Bahwa perbuatan Terdakwa merupakan perbuatan melawan hukum melanggar Kepres No. 80
tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bagian ketiga, Prinsip Dasar
Pasal 3 :

Pengadaan Barang/Jasa Wajib menerapkan Prinsip-prinsip :


e. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan kepada pihak
tertentu dan ataupun alasan apapun.

Adalah sangat aneh sekali, bahwa hanya karena kewenangan undang-undang yang melekat
padanya, seorang Aparat Penegak Hukum, bisa menafsirkan undang-undang menurut
kebutuhannya dan menurut seleranya sendiri-sendiri. Apalagi kalau penafsiran yang adil/tidak
diskrimatif dalam pengadaan kendaraan dinas bupati Pasaman Barat, itu sudah teruji dengan
dilaksanakannya pelelangan umum sebanyak dua kali. Siapa saja yang berminat dan memiliki
kemauan dan kemampuan untuk ikut, dipersilahkan dan dibuka lebar-lebar pintu untuk itu.
Diundang untuk datang. Justru karena tidak ada satupun perusahaan yang berminat itulah
makanya akhirnya dilaksanakan dengan metode pengadaan langsung dengan mengundang satu
perusahaan saja yang mau dan berminat. Sungguh Penuntut Umum tidak mengerti dengan
Kepres No. 80 Tahun 2003 dan malah menggunakan kekuasaan undang-undangnya untuk
mencelakakan orang atas ketidak tahuannya tersebut.
11. Bahwa perbuatan Terdakwa merupakan perbuatan melawan hukum tidak saja dalam arti formil
yaitu Terdakwa sejak awal telah mengarahkan calon rekanan tertentu sebagai pelaksana
kegiatan namun juga secara materil yakni merusak rasa keadilan dan kejujuran dalam
masyarakat dalam hal kerjasama kecurangan yang dilakukan oleh Terdakwa bersama ARIFIN
AGROSURIO dan VITARMAN dalam upaya menjadikan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN
sebagai pelaksana kegiatan pengadaan kendaraan dinas tersebut.
Bahwa apa yang Penuntut Umum sebutkan bahwa Terdakwa sejak awal telah mengarahkan
calon rekanan tertentu adalah sangat tidak berdasar sekali dan tidak ada satupun fakta
persidangan yang memunculkan bukti-bukti seperti itu. Semua pengusaha dan perusahaan
yang mempunyai kemampuan untuk ikut pengadaan kendaraan dinas diundang oleh
Panitia Pengadaan. Justru apa yang Penuntut Umum sampaikan ini lah yang merusak rasa
keadilan dan kejujuran didalam masyarakat, dimana rupanya kelakuan aparat hukum bisa
54

dengan seenaknya saja berbuat fitnah yang akan mencelakakan warga negara. Bukannya
kebenaran yang dicari Penuntut Umum melalui persidangan, tetapi adalah menghalalkan
segala cara untuk menjustifikasi anatomi kasus yang sudah dibangunnya. Tidak peduli,
apakah itu bertolak belakang dengan fakta persidangan yang terungkap.
12. Bahwa kegiatan pengadaan Mobil Dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat Tahun
Anggaran 2010 berpedoman kepada Keppres nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007, Bahwa perbuatan Terdakwa
memerintahkan penunjukan langsung terhadap PT Baladewa merupakan perbuatan melawan
hukum melanggar ketentuan dalam Lampiran I Keppres Nomor. 80 Tahun 2003 Bab I Huruf C
angka 1 yang berbunyi : "Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria
sebagai berikut :
a)

penanganan darurat untuk pertahanan negara, keamanan dan keselamatan masyarakat yang
pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera; dan/ atau

b)

penyedia jasa tunggal; dan/atau

c)

pekerjaan yang perlu dirahasiakan Yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang
ditetapkan oleh Presiden; dan/atau

d)

pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan : untuk keperluan sendiri, mempunyai resiko
kecil, menggunakan teknologi sederhana, dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang
perseorangan dan badan usaha kecil, dan/atau bernilai sampai dengan Rp 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah); dan/atu

e)

pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah
mendapat ijin."

Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 :


Yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan
melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materil, yakni meskipun perbuatan
tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan
tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma
kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Dalam
ketentuan ini, kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan atau perekonomian negara
menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak
pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan
bukan dengan timbulnya akibat.
Suatu perbuatan masuk dalam ruang lingkup hukum pidana, perdata atau administrasi negara
ditentukan oleh sumber pengaturan dan sanksinya. Jika diatur dalam hukum pidana dan
disertai ancaman pidana, maka perbuatan tersebut masuk dalam ruang lingkup hukum pidana,
dan itulah tindak pidana. Jika perbuatan itu ditentukan dalam hukum administrasi beserta
sanksi administrasi, maka perbuatan itu masuk ruang lingkup hukum administrasi. Jika sumber
pengaturannya dan sanksinya bersifat perdata, maka perbuatan itu masuk ruang lingkup
hukum perdata.
Dalam hubungannya dengan hukum pidana korupsi, khususnya Pasal 2 UUPTK, pelanggaran
administrasi dapat merupakan tempat/ letak atau penyebab timbulnya sifat melawan hukum
55

perbuatan, apabila terdapat unsur sengaja (kehendak dan keinsyafan) untuk menguntungkan
diri dengan menyalahgunakan kekuasaan jabatan, yang karena itu merugikan keuangan atau
perekonomian negara. Perbuatan administrasi yang memenuhi syarat-syarat yang demikian itu
membentuk pertanggungjawaban pidana. Apabila unsur-unsur tersebut tidak ada, terutama
unsur merugikan keuangan/ perekonomian negara, maka yang terjadi adalah kesalahan
prosedur/ administrasi, dan tidak ada sifat melawan hukum korupsi dalam hal semata-mata
salah prosedur. Perbuatan itu sekedar membentuk pertanggungjawaban hukum administrasi
saja.
Dari rumusan Pasal 1365 KUH Perdata bisa dirumuskan unsur-unsur dari Perbuatan Melawan
Hukum adalah sebagai berikut :
1.

Adanya suatu perbuatan;

2.

Perbuatan tersebut melawan hukum;

3.

Adanya kesalahan dari pihak pelaku;

4.

Adanya kerugian bagi korban;

Bentuk pertanggungjawaban tindak pidana, administrasi atau perdata ditentukan oleh sifat
pelanggaran (melawan hukumnya perbuatan) dan akibat hukumnya. Bentuk
pertanggungjawaban pidana selalu bersanksi pidana. Pertanggungjawaban administrasi selalu
bersanksi administrasi, dan pertanggungjawaban perdata ditujukan pada pengembalian
kerugian keperdataaan, akibat dari wanprestasi atau onrechtsmatige daad. Pada dasarnya
setiap bentuk pelanggaran selalu mengandung sifat melawan hukum dalam perbuatan itu.
Dalam hal sifat melawan hukum tindak pidana, selalu membentuk pertanggungjawaban pidana
sesuai tindak pidana tertentu yang dilanggarnya. Sementara sifat melawan hukum administrasi
dan perdata, sekedar membentuk pertanggungjawaban administrasi dan perdata saja sesuai
dengan perbuatan yang dilakukan.
Pada dasarnya kesalahan administrasi tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana.
Namun apabila kesalahan administrasi tersebut disengaja dan disadari merugikan keuangan
negara, dan dilakukan dengan memperkaya diri atau dengan menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana jabatan, maka kesalahan administrasi seperti itu merupakan tempat
melekatnya/ letak atau penyebab sifat melawan hukumnya korupsi, dan karenanya
membentuk pertanggungjawaban pidana dan dapat dipidana berdasarkan Pasal 2. Pelanggaran
administrasi bukan merupakan letak/ tempat tindak pidana korupsinya, melainkan tempat/
letak sifat melawan hukumnya korupsi. Karena tidak mungkin terjadi korupsi pada perbuatan
yang sifatnya semata-mata pelanggaran administrasi maupun semata-mata bersifat
pelanggaran hubungan keperdataan saja.
Pelanggaran hukum perdata, seperti wanprestasi dari suatu kontrak/ perjanjian atau
perbuatan melawan hukum meskipun akibatnya negara dirugikan, tidak bisa serta merta
membentuk pertanggungjawaban pidana. Dalam hal negara dirugikan oleh wanprestasi atau
perbuatan melawan hukum, pemulihan kerugian dilakukan dengan mengajukan gugatan
perdata, bukan melalui penuntutan pidana di peradilan pidana.
Dalam hal badan publik melakukan perbuatan perdata, maka prosedur, syarat-syarat yang
ditentukan dalam hukum perdata harus diikuti. Badan publik tersebut harus tunduk pada
hukum perdata. Namun apabila terdapat aturan lain ( accessoir ) bersifat administrasi dalam
hal prosedur untuk keabsyahan perbuatan hukum perdata tersebut, mengingat untuk
kepentingan publik, maka apabila pengaturan administrasi tersebut dilanggar, dapat
merupakan letak sifat melawan hukum korupsi, apabila memenuhi unsur kesengajaan yang
56

disadari merugikan keuangan/ perekonomian negara yang dilakukan dengan perbuatan


memperkaya atau dilakukan dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
jabatan.
Dalam hal melakukan perbuatan-perbuatan seseorang yang mewakili badan publik, misalnya
suatu Pemerintah Daerah dalam hal melakukan perbuatan perdata/ kontrak dengan pihak
swasta dengan melalui prosedur administrasi negara. Sepanjang prosedur administrasinya
diikuti, maka tidak ada sifat melawan hukum korupsi didalamnya. Andaikata ada segi-segi
prosedur administrasi yang tidak diikuti dalam melakukan perbuatan perdata dari suatu badan
publik (misalnya kontrak dengan pihak swasta), asalkan tidak dilakukan dengan memperkaya
diri atau menyalahgunakan kewenangan, sarana atau kesempatan jabatan dan tidak
menimbulkan kerugian keuangan negara, maka pelanggaran administrasi tersebut merupakan
letak dan sifat melawan hukumnya perbuatan korupsi, pelanggaran administrasi
dipertanggungjawabkan secara administrasi saja. Sifat melawan hukum korupsi hanya bisa
terjadi pada pelanggaran prosedur administrasi yang disengaja dengan kesadaran merugikan
negara yang dilakukan dengan perbuatan memperkaya diri atau dengan menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan atau sarana jabatan. Tiga unsur, ialah pelanggaran prosedur yang
disengaja, merugikan keuangan negara dan dilakukan dengan menyalahgunakan kewenangan,
sarana atau kesempatan jabatan, sifatnya kumulatif, sebagai syarat terbentuknya
pertanggungjawaban pidana korupsi.
Untuk menentukan kerugian negara dalam perkara korupsi, bisa meminta bantuan audit
invistigasi, namun bukan keharusan. Menentukan kerugian negara dalam perkara korupsi, hasil
audit BPKP tidak mengikat hakim. Hakim bebas menentukan perhitungannya sendiri
berdasarkan alat-alat bukti di dalam sidang dengan menggunakan akal dan logika hukum serta
kepatutan.

X.

TERHADAP ANALISA YURIDIS UNSUR MELAKUKAN PERBUATAN MEMPERKAYA DIRI


SENDIRI ATAU ORANG LAIN ATAU SUATU KORPORASI ;

Perbuatan memperkaya diri dalam Pasal 2 UUTPK bentuknya abstrak, yang terdiri dari
banyak wujud-wujud konkret. Wujud konkret itulah yang harus dibuktikan. Untuk membuktikan
wujud memperkaya selain membuktikan bentuknya, misalnya wujud mencantumkan kegiatan
fiktif perlu juga membuktikan ciri- cirinya, yaitu : Pertama, dari perbuatan itu yang
bersangkutan memperoleh suatu kekayaan. Kedua, jika dihubungkan dengan sumber
pendapatannya, kekayaannya tidak seimbang dengan sumber yang menghasilkan kekayaan
tersebut. Ketiga, jika dihubungkan dengan wujudnya, perbuatan tersebut bersifat melawan
hukum. Keempat jika dihubungkan dengan akibat, ada pihak lain yang dirugikan dalam hal ini
merugikan keuangan negara.
Kalau orang korupsi atau menerima uang, jelas dapat dihukum, bagaimana kalau tidak
menerima apapun tetapi melakukan kesalahan prosedural aturan. Berarti dia hanya melanggar
hukum administrasi negara. Dalam Pasal 3 UU Tipikor ada kata yang menarik yaitu dengan
tujuan. Jadi dengan tujuan memperkaya diri, yang niat dengan tujuan memperkaya diri dalam
kewenangan penggunaan dana negara dapat dihukum. Perlu pembuktian adanya yang dengan
tujuan yaitu telah menerima. Dibanyak negara melanggar prosedural aturan adalah dikenakan
hukum administrasi. Pendapat ini, berbeda dengan pendapat disebagian praktisi hukum di
Indonesia yang menganggap melanggar aturan adalah Pidana bila ada kerugian negara, baik
disengaja maupun tidak. Dalam hal bukan kesengajaan atau bukan dengan tujuan memperkaya
57

diri, maka kesalahan administrasi yang ada kerugian negara pun perlu ditinjau kembali bahwa
hal tersebut bukan tindakan korupsi. Kalau ada ketidak patutan harga akibat proses yang bukan
dengan tujuan, diminta setor saja ke kas negara/ kas daerah.
Bahwa JPU di dalam surat tuntutannya juga telah menyampaikan yang dimaksud dengan
"memperkaya" adalah perbuatan yang dilakukan untuk menjadi lebih kaya (lagi) dan perbuatan
ini sudah tentu dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara menjual/membeli,menanda
tangani kontrak,memindahbukukan dalam bank, dengan syarat tentunya dilakukan secara
melawan hukum. Unsur "memperkaya" seperti tersebut diatas adalah pertimbangan hukum dari
putusan Pengadilan Tinggi Tangerang tanggal 13 Men 1992 Nornor : : 18/Pid/B/1992/PN.TNG
yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengar. "memperkaya" adalah menjadikan orang yang
belum kaya menjadi kaya atau orang yang sudah kaya bertambah kaya.
Bahwa , di dalam tuduhannya kepada Terdakwa, JPU telah salah mengambil dasar hukum
dari justifikasinya yang berdasarkan kepada pertimbangan hukum dari putusan Pengadilan
Tinggi Tangerang yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan "memperkaya" adalah
menjadikan orang yang belum kaya menjadi kaya atau orang yang sudah kaya bertambah kaya.
JPU menuduh Terdakwa telah melakukan unsur tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri
sendiri dan orang lain dengan tidak berdasarkan pada fakta yang terjadi di persidangan.
Bahwa di dalam persidangan terbukti Terdakwa tidak menerima apapun dari bentuk
memperkaya diri akibat dari kegiatan pengadaan kendaraan dinas ini. Namun dilain pihak JPU
menuduhkan kepada Terdakwa telah memperkaya orang lain dengan kapasitasnya selaku KPA
yang menandatangani kontrak berdasarkan pemahaman JPU terhadap dasar hukumnya dalam
menjustifikasikan tuduhannya terhadap Terdakwa yang dasar hukumnya tersebut seperti yang
disampaikan sebelumnya yaitu hanya berdasarkan kepada pertimbangan hukum dari putusan
Pengadilan Tinggi Tangerang tanggal 13 Mei 1992 Nomor : 18/Pid/B/1992/PN.TNG. Hal ini
tentu tidak memiliki kekuatan hukum yang jelas.
Bahwa JPU tidak menyampaikan kebenaran yang terjadi dalam fakta persidangan di
dalam surat tuntutannya karena JPU hanya menyampaikan sebagian kecil fakta persidangan
yang gunanya hanya untuk menjustifikasi dakwaannya sehingga demikian menciptkan opini
yang jelek bahwa benar Terdakwa telah melakukan perbuatan memperkaya orang lain. Di dalam
surat tuntutannya pada halaman 90 s/d 91 JPU hanya menyampaikan 2 fakta persidangan
dan penyampaianya pun secara terpotong, tidak satu kesatuan yaitu :
-

Bahwa pada tanggal 27 Desember 2010 Vitarman menerima pembayaran untuk


pengadaan 1 (satu) unit kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati tersebut sesuai dengan
Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) No: 6064/SP2D/LS/2010 tanggal 27 Desember
2010 setelah dipotong pajak yaitu sebesar Rp. 959.927.273, (sembilan ratus lima puluh
sembilan juta sembilan ratus dua puluh tujuh juta ribu dua ratus tuluh puluh tiga rupiah)
melalui Rekening PT. Baladewa di Bank. Nagari Cabang Utama Padang
No.2100.0103.01295.8.

Bahwa setelah uang masuk ke rekening PT Baladewa, Vitarman menyerahkan 4 (empat)


lembar cek kepada Arifin Argosurio untuk mencairkan uang tersebut dan Vitarman
mendapatkan uang sejumlah Rp-10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dari Arifin Argosurio
sebagai imbalan karena telah meminjamkan perusahaannya kepada Arifin Argosurio.

Bahwa terdapat fakta persidangan lainnya yang tidak diungkapkan JPU di dalam surat
tuntutannya adalah sebagai berikut :
58

Bahwa pada persidangan pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015 dibawah sumpah
persidangan, saksi Celly Decilia Putri, SE, MM, A.kt memberikan keterangan bahwa yang
menerbitkan dan menandatangani dengan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) No:
6064/SP2D/LS/2010 tanggal 27 Desember 2010 adalah saudara saksi Celly Decilia Putri,
SE, MM, A.kt . SP2D tersebut bernilai Rp. 959.927.273, (sembilan ratus lima puluh
sembilan juta sembilan ratus dua puluh tujuh juta ribu dua ratus tuluh puluh tiga rupiah)
yang ditransfer melalui Rekening PT. Baladewa di Bank. Nagari Cabang Utama Padang
No.2100.0103.01295.8.

Kemudian di persidangan pada hari Jumat tanggal 17 April 2015 secara bersama di
depan Majelis Hakim, antara JPU, Terdakwa, Penasehat Hukum dan saksi Ahli Sumule
Timbo, dari Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, telah dilihat sebuah
dokumen SPM yaitu Surat Perintah Membayar yang ditandatangani oleh Pengguna
Anggaran yaitu Hermanto.

Dari fakta persidangan ini jelaslah bahwa yang mengakibatkan terjadinya pembayaran
pada PT. Baladewa Indonesia adalah adanya Surat Permintaan Pencairan Dana dari PPTK
yaitu Sdr. Erizal, A.Md kemudian Surat Perintah Membayar oleh Pengguna Anggaran
yaitu Sdr. Hermanto dan Surat Perintah Pencairan Dana dari Kuasa BUD Sdr. Celly Decilia
Putri.

Kemudian di dalam persidangan tersebut juga terungkap fakta kebenaran bahwa


Pengguna Anggaran telah mengkuasakan semua kegiatan yang ada di Bagian Umum
Sekretariat Daerah Kab. Pasaman Barat kepada Terdakwa sehingga Terdakwa menjadi
Kuasa Pengguna Anggaran sebagaimana Surat Keputusan Bupati Pasaman Barat yang
artinya apabila telah dikuasakan maka KPA lah melaksanakan tugas PA sepenuhnya.
Namun pada saat akan dilakukan pembayaran, Pengguna Anggaran mengambil alih kuasa
yang telah dia berikan kepada KPA dengan menandatangani Surat Perintah Membayar
terhadap kegiatan Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati Pasaman Barat Tahun 2010.
Artinya, dalam pembayaran, yang bertanggung jawab adalah Pengguna Anggaran.
Berdasarkan pada Permendagri No. 13 tahun 2006 Pasal 184 ayat (2) menyatakan bahwa
pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan
surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan
APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran materiil dan akibat yang timbul dari
penggunaan surat bukti dimaksud.

Dari fakta persidangan tersebut diatas maka :


-

Dimana letak unsur Terdakwa yang menguntungkan orang lain seperti yang dituduhkan
oleh JPU kepada Terdakwa??? Meskipun yang menandatangani kontrak pengadaan
adalah Terdakwa selaku KPA namun yang menandatangani Surat Perintah Membayar
adalah Pengguna Anggaran yang mana konsekuensi dari yang menandatangani SPM
adalah bertanggung jawab atas kebenaran dari dokumen SPM dan dokumen persyaratan
lainnya karena dalam menandatangani SPM tersebut sudah diyakini kebenarannya oleh
si penandatanganan SPM, maka dia tanda tangan, apabila tidak diyakini kebenaran
dokumen yang dipersyaratkan, PA dapat mengembalikan dan berhak untuk tidak
menerbitkan Surat Perintah Membayar namun dalam hal ini Pengguna Anggaran yaitu
Sdr. Hermanto, menandatangani SPM tersebut, artinya, ia meyakini kebenarannya dan
kemudian diserahkan ke BUD untuk diterbitkan SP2D. Dan Kuasa BUD pun berkewajiban
untuk memeriksa/ meneliti kebenaran kelengkapan persyaratan untuk pencairan dana
59

apakah sudah benar atau masih ada yang salah dan berhak mengembalikan berkas dan
tidak menerbitkan SP2D apabila tidak sesuai dengan aturan. Namun dalam hal ini, Kuasa
BUD, Sdr. Celly Decilia Putri menandatangani SP2D yang artinya dia meyakini kebenaran
dari dokumen yang diajukan dalam rangka memenuhi persyaratan pencairan dana yang
artinya dia meyakini kebenaran dari persyaratan dimaksud.
-

Bahwa dapat dilihat dengan jelas bahwa KPA tidak pernah memerintahkan untuk
dilakukan pembayaran terhadap PT. Baladewa Indonesia. Apakah Terdakwa harus
bertanggung jawab terhadap apa yang tidak dilakukannya? Yang harus menanggung
beban tanggung jawab sebenarnya adalah mulai dari PPTK, Pengguna Anggaran dan
Kuasa BUD ? sungguh ini tidak adil yang mulia.

Namun apabila yang mulia hakim berpendapat sama dengan JPU, maka berikut mari kita
teliti dan telaah, apa bentuk dari keuntungan yang menguntungkan orang lain tersebut.

Bahwa di dalam surat tuntutan JPU hal 91 JPU mengatakan :


-

Berdasarkan uraian fakta di atas perbuatan Terdakwa adalah jelas memperkaya orang
lain yakni saksi Arifin Argosurio sejumlah nilai kontrak yang dicairkan dan dikurangi
potongan pajak yakni sebesar Rp. 959.927.273,- (sembilan ratus lima puluh sembilan juta
sembilan ratus dua puluh tujuh juta ribu dua ratus tujuh puluh tiga rupiah) atau
setidaknya selisih keuntungan pembelian 1 (satu) unit Toyota Prado TXL tersebut dengan
uang yang diterima oieh Anfin Argosurio melalui Rekening PT. Baladewa.

Sekali lagi dakwaan JPU tersebut tidaklah memilki dasar hukum yang jelas. Malah dalam satu
pernyataan terdapat perkataan yang bertentangan. Dimana pernyataan pertama JPU
mengatakan Terdakwa adalah jelas memperkaya orang lain yakni saksi Arifin Argosurio
sejumlah nilai kontrak yang dicairkan dan dikurangi potongan pajak yakni sebesar Rp.
959.927.273,- namun setelah itu dinyatakan atau setidaknya selisih keuntungan pembelian 1
(satu) unit Toyota Prado TXL tersebut dengan uang yang diterima oieh Anfin Argosurio melalui
Rekening PT. Baladewa, Untuk itu :
-

Bahwa antara pernyataan pertama dan kedua sangatlah bertentangan dan nilainyapun
berbeda. Pada pernyataan pertama disebutkan bahwa nilai keuntungan tersebut adalah
Rp. 959.927.273,- namun pada pernyataan kedua tidak menyebutkan nilai, namun
meskipun demikan kita dapat mencari angkanya dari pernyataan tersebut yaitu selisih
keuntungan pembelian 1 (satu) unit Toyota Prado TXL tersebut dengan uang yang
diterima oieh Anfin Argosurio melalui Rekening PT. Baladewa.

Berdasarkan fakta dipersidangan terungkap pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2015
dibawah sumpah persidangan, saksi Arifin mengatakan Bahwa keuntungan saksi yang
diterimanya pada pembelian 1 (satu) unit Toyota Prado TXL tersebut dengan uang yang
diterima oleh Arifin Argosurio melalui Rekening PT. Baladewa Indonesia adalah sekira
Rp.99.000.000,-dan jika dikurangi dengan uang yang telah saksi serahkan kepada Sdr.
VITARMAN sebanyak RP. 10.000.000,-, Sdr. HENDRI TANJUNG melalui OKTAVERY
sebanyak Rp.7,000.000-, (uang ini tidak jadi diberikan OKTAVERY kepada HENDRI
TANJUNG), biaya transportasi sebanyak Rp.5.000.000,-, jadi keuntungan bersih saksi
sekitar Rp. 75.000.000,-.

Bahwa dengan demikian pernyataan JPU yang mengatakan Terdakwa jelas memperkaya
60

orang lain yakni saksi Arifin Argosurio sejumlah nilai kontrak yang dicairkan dan
dikurangi potongan pajak yakni sebesar Rp. 959.927.273,- atau setidaknya selisih
keuntungan pembelian 1 (satu) unit toyota Prado TXL tersebut dengan uang yang
diterima oieh Anfin Argosurio melalui Rekening PT. Baladewa yakni sebesar Rp.
99.000.000
-

Sesuai dengan tuduhan JPU yang mengatakan Terdakwa memperkaya orang lain yaitu
sdr. Arifin Argosurio sejumlah Rp. 959.927.273,- adalah tidak benar dan telah dibuktikan
di dalam persidangan bahwa uang yang diterima oleh Sdr. Arifin tersebut dipergunakan
untuk pengadaan kendaran dinas Type Toyota Prado TXL senilai Rp. 860.000.000
sebagaimana tertera dalam kuwitansi pembelian yang dikeluarkan oleh PT.Interkom.
Dengan demikian tuduhan inipun gugur demi hukum. Kemudian tuduhan terhadap
menguntungkan Sdr. Arifin setidaknya selisih keuntungan pembelian 1 (satu) unit toyota
Prado TXL tersebut dengan uang yang diterima oieh Arifin Argosurio melalui Rekening
PT. Baladewa yakni sebesar Rp. 99.000.000 juga tidak memilki dasar hukum yang jelas.
Dalam hal ini JPU menuduh Terdakwa telah menguntungkan Sdr. Arifin sejumlah Rp.
99.000.000

Kembali kepada pengertian memperkaya orang lain sebagaimana yang disebutkan oleh
JPU pada surat tuntutannya yaitu menjadikan orang lain menjadi kaya atau orang kaya
bertambah kaya. Pertanyaannya disini, apakah dengan angka Rp. 99.000.000 Sdr. Arifin
menjadi kaya atau menjadi lebih kaya?

Bahwa angka keuntungan Rp. 99.000.000 tersebut hanyalah 9,24 % dari nilai kontrak
pengadaan Rp. 1.072.000.000. Lalu bagaimana kalau dalam pemeriksaan, Arifin mengaku
membeli mobil tersebut seharga 890.000.000,- atau 925.000.000,- ?

Bahwa di dalam fakta persidangan telah terungkap, sebelum melakukan pelelangan dilakukan
penyusunan HPS, dan HPS dijadikan dasar dalam mengevaluasi penawaran harga di dalam
Keppres No. 80 Tahun 2003 pada Lampiran 1 Bab I poin E, HPS telah memperhitungkan (a).
Pajak Pertambahan Nilai (PPN); (b). biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang
wajar bagi penyedia barang/jasa. Artinya, pemerintah sendiri telah mengatur bahwa di dalam
menganggarkan suatu anggaran kegiatan sudah memperhitungkan pajak, biaya umum dan
keuntungan bagi penyedia barang/ jasa.
Bahwa keuntungan yang diterima oleh Sdr. Arifin Agusurio dengan sebesar 9,24 % dinilai
sesuatu yang menguntung orang lain oleh Terdakwa. Artinya juga dengan kegiatan pengadaan
kendaraan dinas bupati ini, Terdakwa selaku KPA dituduh oleh JPU telah menguntungkan orang
lain yaitu Sdr. Arifin Agusurio. Jika Majelis Hakim berpendapat sama dengan JPU maka seluruh
KPA, PA dan seluruh yang menandatangani kontrak di Indonesia ini silahkan diperiksa dan dapat
dipastikan bahwa penyedia pasti mendapatkan keuntungan karena tidak akan ada penyedia
barang yang ikut kegiatan pengadaan barang dan jasa apabila tidak ada keuntungannya. Apalagi
ada yang Cuma mau rugi saja. Untuk itu silahkan bapak-bapak JPU untuk memeriksa dan
menjobloskan ke penjara seperti halnya yang JPU lakukan terhadap saya, Terdakwa.
Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan dan berdasarkan peraturanperaturan perundang-undangan yang berlaku yang telah disampaikan tersebut sebelumnya,
maka Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan telah memperkaya orang lain.
Oleh sebab itu, unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan dan karena itu sudah seharusnya Terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan
Penuntut Umum.

61

XI.

TERHADAP ANALISA YURIDIS UNSUR "YANG DAPAT MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA


ATAU PEREKONOMIAN NEGARA".

1. Bahwa JPU dalam uraian pembuktian dalam surat tuntutannya pada halaman 91 telah
memutarbalikkan fakta dan tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dalam
persidangan.
a. Didalam surat tuntuannya ini JPU menyatakan Bahwa pada tanggal 20 Desember 2010
saksi ARIFIN dan saksi VITARMAN atas nama PT Baladewa Indonesia menyerahkan 1
(satu) unit mobil Toyota Land Cruiser Prado 2.7 4 WD A/T dengan logo "TX Limited"
padahal faktanya mobil tersebut bukan tipe "TX Limited" melainkan tipe "TX standard
edition". Perbedaan tipe tersebut tidak diketahui oleh Tim Pemeriksa Barang
Apa yang disampaikan JPU ini tidaklah merupakan fakta yang terjadi dipersidangan
bahkan malah sebaliknya. Di dalam fakta persidangan terungkap bahwa Panitia
Pemeriksa Barang telah melaksanakan tugasnya dengan baik dengan hasil bahwa
kendaraan telah diperiksa dan sesuai dengan spesifikasi yang ada di dalam Kontrak
sehingga dengan demikian Panitia Pemeriksa Barang menuangkan hasil pemeriksaan
tersebut
dalam
bentuk
Berita
Acara
Pemeriksaan
Barang
Nomor
027/267/BAPB/SETDA/2010 tanggal 20 Desember2010 yang ditandatangani oleh
seluruh Tim Panita Pemeriksa Barang. Artinya dalam hal ini Panitia Pemeriksa Barang
meyakini bahwa kendaraan yang diperiksa pada waktu itu telah sesuai dengan
spesifikasi yang ada di dalam kontrak. Apabila dikemudian hari dituduh JPU bahwa
kendaraan tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan spesifkasi, maka
pertanggungjawabannya harus diminta kepada Pantia Pemeriksa Barang yang
sebelumnya telah menyatakan bahwa kendaraan tersebut telah sesuai dengan
spesifikasi.

b. Didalam surat tuntutannya itu tersebut bahwa JPU menuduh Terdakwa sengaja
menunjuk anggota tim yang tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam
melakukan pemeriksaan.
Bahwa apa yang dinyatakan oleh JPU ini adalah merupakan sebuah bukti yang nyata bagi
kita bersama bahwa untuk membuktikan dakwaannya, JPU bahkan tidak bisa lagi
membaca SK Tim Pemeriksa Barang yang ada, dimana SK tersebut adalah bertanggal 14
April 2010 yang ditandatangani oleh H. Syahiran sebagai Bupati Pasaman Barat,
sedangkan Terdakwa sendiri baru mulai bertugas di Pasaman Barat pada tanggal 29
September 2010. Artinya ini membuktikan bahwa tuduhan JPU yang mengatakan
Terdakwa sengaja menunjuk anggota tim yang tidak memiliki kompetensi yang memadai
dalam melakukan pemeriksaan adalah sama sekali tidak berdasar, mengada-ada dan
bertentangan dengan fakta dokumen yang ada, yang bahkan fakta yang terungkap di
persidangan, SK Tim Pemeriksa Barang tersebut dijadikan sebagai Barang Bukti No. 41
oleh JPU sendiri sebagaimana yang tertera pada Surat Tuntutan perkara ini pada hal 79.
Dan sampai dengan pemeriksaan barang dilakukan, Terdakwapun secara pribadi belum
kenal dengan para pemeriksa. Juga berdasarkan tugas-tugas KPA di dalam Keppres No.
80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Pasal 9, tidak
ada yang memerintahkan agar KPA memilih, mengusulkan apalagi menetapkan penitia
pemeriksa barang. Hal ini adalah berkaitan dengan Indepensi dari masing-masing tim
yang terlibat dalam proses pengadaan barang dan jasa. Hal yang sama juga berlaku untuk
62

panitia pengadaan barang dan jasa di ULP. Kab. Pasaman Barat. Apalagi dasar hukum
pembentukan PPTK, KPA, PA, ULP, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa dan Panitia
Pemeriksa Barang, adalah sama-sama SK Bupati dengan SK yang terpisah satu sama
lainnya. Kedudukan dan kekuatannya sama tinggi dan sama besar.
c. Didalam surat tuntutannya halaman 91 tersebut bahwa JPU juga menyatakan Bahwa
perbedaan spesifikasi kendaraan Toyota Prado yang didatangkan tersebut dengan
spesifikasi kendaraan yang tertuang dalam kontrak diantaranya adalah pada kontrak
terdapat spesifikasi "automatic seat" sedangkan pada kendaraan yang datang tersebut
tidak terdapat spesifikasi tersebut. Hal ini didukung oleh keterangan dari saksi
SUPARMAN yang merupakan karyawan dan PT. MULTI SENTRA yakni importir umum
yang mendatangkan 1 (satu) unit kendaraan Toyota Prado tersebut pertama kali di
Indonesia dengan kondisi "Toyota Prado TX Standar" bukan "Toyota Prado TX Limited"
dan tidak terdapat spesifikasi "automatic seat"seperti yang tercantum pada kontrak. Hal
ini kembali dlkuatkan dengan keterangan dari saksi JONO HANS yakni karyawan dari
PT.DK JAYA MOTOR yang merupakan dealer/showroom pertama yang membeli 1 (satu)
unit kendaraan Toyota Prado tersebut dari PT. MULTI SENTRA seharga Rp.675.000.000,(enam ratus tujuh puluh lima juta rupiah), saksi JONO menambahkan bahwa
perusahaannya kembali menjual 1 (satu) unit kendaraan "Toyota Prado TX Standar"
tersebut kepada Kencana Motor seharga Rp.680.000.000,-(enam ratus delapan puluh
juta rupiah) kemudian setelah beberapa waktu PT.DK JAYA MOTOR yang merupakan
dealer/showroom pertama yang membeli kendaraan tersebut dari Impotir umum
menerima permintaan penerbitan faktur pembelian dan surat-surat lainnya untuk
kepemilikan atas nama Pemerintah Daerah Kab. Pasaman Barat. Saksi JONO juga
menjelaskan bahwa kendaraan tersebut adalah "Toyota Prado TX Standar' bukan
"Toyota Prado TX Limited" dan tidak terdapat spesifikasi "automatic seat", ia juga
mengatakan bahwa spesifikasi "automatic seat" tersebut pernah ia lihat pada "Toyota
Prado TX Limited" yang ada showroom PT.DK JAYA MOTOR, spesifikasi tersebut adalah
pada bangku baris ketiga kendaraan tersebut dapat melipat dengan sendirinya dengan
hanya menekan tombol yang ada dan spesifikasi tersebut tidak terdapat pada "Toyota
Prado TX Standar" yang diadakan untuk Pemda Kab. Pasaman Barat
Bahwa jelas dan terang sekali JPU memutarbalikkan fakta yang terjadi di persidangan,
menyampaikan apa yang tidak terjadi dipersidangan dan bahkan menambah-nambah
dan mengarang cerita. JPU mengatakan bahwa keterangan dari saksi SUPARMAN yang
merupakan karyawan dan PT. MULTI SENTRA yakni importir umum yang mendatangkan
1 (satu) unit kendaraan Toyota Prado tersebut pertama kali di Indonesia dengan kondisi
"Toyota Prado TX Standar" bukan "Toyota Prado TX Limited" dan tidak terdapat
spesifikasi "automatic seat"seperti yang tercantum pada kontrak. Bahwa JPU mengadangada soal kesaksian Suparman ini karena jelas fakta di persidangan, Sdr. Suparman
tidak pernah mengeluarkan kata-kata automatic seat apalagi mengatakan hal seperti
yang JPU sebutkan di dalam surat tuntutannya tersebut. Hal ini bisa kita dengarkan
bersama rekaman persidangan pada hari jumat tanggal 6 Maret 2015, disana akan jelas
dan terbukti JPU berbohong atas kesaksian Sdr. Suparman ini. Sama halnya dengan
keterangan Jono Hans, didalam fakta persidangan, Jono Hans hanya mengatakan
perbedaan antara TX dengan TXL sepengetahuan dia saja sebagaimana kutipan
persidangan berikut:
Hakim

: Saudara bisa jelaskan beda TX dengan TXL?

Jono Hans

: Sepengetahuan saya, kursi ketiganya itu automatic


63

Di dalam fakta persidangan bahwa secara administrasi surat kendaraan, mobil tersebut
adalah Type TX Standart Edition tetapi sekaligus di dalam fakta persidangan juga
terungkap bahwa seluruh mobil CBU yang masuk ke Indonesia memang dalam kondisi
standar edition. Proses upgrade menjadi Limited itu dilaksanakan di Indonesia, kenapa
hal itu terjadi? Ini adalah karena trik dari importir umum kendaraan bermotor untuk
menghindari pajak yang tinggi sehingga akibatnya tidak terjangkau oleh konsumen di
Indonesia.
Dan dari fakta persidangan juga terungkap bahwa saksi yang dihadirkan JPU dari Jakarta
yaitu Suparman dari PT Multisentra Adikarya dan Jono Hans dari DK Jaya Motor itu
adalah orang yang tidak layak untuk didengarkan kesaksiannya karena berkali-kali
saksi tersebut menyatakan bahwa dia tidak mengerti dengan spek kendaraan, karena dia
adalah sebagai accounting di perusahaan tersebut. Jadi yang dia mengerti hanyalah
sepanjang dokumen administrasi keuangan tentang kendaraan dan perusahaan tersebut.
Hal ini dapat dibuktikan dari rekaman persidangan hari Jumat tanggal 6 Maret 2015 .
JPU

: Itu pertanyaannya. Kalau bapak tahu tidak beda TX dengan TXL kalau secara
spek

Suparman : Kalau secara spek, jujur kami tidak tahu, kalau secara detail kami tidak tahu
Jaksa

: Kalau setahu bapak memang begini tarikannya??

Suparman : Iya, karena saya tugasnya akuntan sih. Teknis tidak tahu. Kami tidak tahu
buk. Kami diruangan sendiri terus. Naiknyapun belum pernah saya buk.
Jaksa

: Perlu bapak ketahui juga ini tidak ada. Bapak bukan orang mesin ya. Bukan
orang teknis.

Suparman : Iya.
Jaksa

: Bapak bukan teknisi ya??

Suparman : Iya, saya accountingnya


Padahal semestinya jika JPU berkeinginan dan bersungguh-sungguh untuk mengetahui
dan mengungkapkan kebenaran dari standar mobil tersebut, yang dihadirkannya adalah
tenaga teknisi atau paling tidak, sales marketing dari perusahaan tersebut. Padahal JPU
menyatakan bahwa jaksa penyidikpun telah pergi ke showroom kendaraan tersebut,
tetapi kenyataannya yang dibawanya untuk menjadi saksi adalah orang yang sama sekali
tidak mengerti tentang spek kendaraan karena keduanya adalah orang accounting.
Upaya jaksa yang seperti ini yang hanya untuk menjustifikasi dakwaaannya saja dengan
menghalalkan segala cara termasuk menghadirkan saksi yang tidak memenuhi
persyaratan formil dan materil. Inilah yang kemudian dituangkan JPU di dalam surat
tuntutannya. Sementara bagi persidangan Pidana, dalam mencari kebenaran materiil
peristiwanya harus terbukti beyond reasionable doubt tanpa diragukan. Kontradiksi
keadaan seperti ini dimana JPU sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang dunia
otomotif tetapi kemudian malah menghadirkan saksi yang juga tidak mengetahui dunia
otomotif, disisi lain keterangan-keterangan dari saksi yang lain bahwa kendaraan itu
adalah Type TX Limited, itu dikesampingkan begitu saja oleh JPU. Padahal saksi tersebut
memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menyatakan kendaraan tersebut, sesuai dengan
spesifikasi Type TX Limited dan menuangkannya ke dalam Berita Acara Pemeriksaan
Barang. Saksi yang dimaksud dalam hal ini adalah Saksi Amrianto, Saksi Bobby P. Riza,
64

Saksi Setia Bakti dan Saksi Roni HEP yang merupakan Tim Panitia Pemeriksa Barang
yang diangkat berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat Nomor : 188.45/248/BUPPASBAR/2010 tanggal 14 April 2010.
Demikian juga dengan keterangan saksi Arifin, Frans Wijaya dan Tjen Imanuel dan Oyong
Narli yang sehari-hari dalam kehidupannya memang selalu bergelut dibidang jual beli
kendaraan bermotor yang mengerti dan paham tentang spesifikasi kendaraan bermotor.
Keadaan seperti ini adalah ibarat cerita bagaimana 3 orang buta menceritakan gambaran
dari seekor gajah, yang kemudian menceritakan bagaimana bentuk gajah tersebut
tergantung dari bagian mana yang dipegangnya. Karena sama-sama tidak sepakat
akhirnya mereka bertanya kepada orang yang lewat yang ternyata orang itu juga buta
(Suparman dan Jono Hans).
Dari sini jelaslah bahwasanya tuduhan JPU tidak dapat terbukti secara nyata dan
sah dipersidangan.
2. Bahwa JPU dalam uraian pembuktian dalam surat tuntutannya mendasarkan hasil
perhitungan kerugian negara kepada penilai Ahli dari BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera
Barat. Akan tetapi yang dirujuk JPU adalah keterangan Ahli tersebut di dalam BAP dan tidak
mendasarkan pada apa yang terungkap dipersidangan. Bahwa di dalam fakta persidangan
terungkap bahwa sdr. Ahli Afrizal, melakukan perhitungan kerugian negara tersebut tidak
memiliki dasar hukum.
Bahwa tidaklah benar dan tidak ada dasar hukumnya pernyataan JPU pada surat
tuntutannya yang mengatakan telah terjadi kerugian negara berdasarkan Laporan Hasil
Audit Penghitungan Kerugian Negara oleh BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat
Nomor : SR-1422/PW03/V/2013 tanggal 3 Juni 2013 dengan kesimpulan bahwa akibat
pengadaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati yang tidak sesuai dengan aturan yang
berlaku, mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp.276.887.273,00 (dua ratus
tujuh puluh enam juta delapan ratus delapan puluh tujuh juta dua ratus tujuh puluh tiga
rupiah) dengan rincian sebagai berikut :

Nilai Kontrak/SP2D

Potongan

: Rp

1.072.000.000,00

PPN

: Rp

97.454.545,00

PPh Pasal 2

: Rp

14.618 182,00

Leges Daerah (0,75 %)

: Rp

8.040.000,00

Jumlah Potongan

: Rp

120.112.727,00

Jumlah Penerimaan Bersih

: Rp

951.887.273,00

Harga Pembelian Toyota Prado

: Rp

675.000.000,00

Keuntungan rekanan/

: Rp

276.887.273,00

(kerugian keuangan negara)


Bahwa kerugian negara yang dihitung oleh Sdr. Afrizal selaku auditor BPKP Perwakilan
Propinsi Sumatera Barat terbukti tidak memiliki dasar hukum sama sekali. Setelah saksi
membahas bermacam undang-undang yang mengatur tentang keuangan negara, mulai dari
UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor, UU No. 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, PP, Kepres,
65

Permendagri, dan Kepmendagri, serta aturan-aturan iternal BPKP itu sendiri, kemudian
dengan santainya Ahli Afrizal dari BPKP Perwakilan Prop. Sumatera Barat menyampaikan
didepan persidangan dibawah sumpah, menjawab pertanyaan Majelis Hakim, dan
pertanyaan dari Terdakwa sendiri, bahwa dasar hukum ahli menghitung kerugian negaranya
sehingga didapat angka Rp. 276.887.273,- tidak ada sama sekali. Ini hanya menurut
perhitungan saya. Inilah menurut saya angka yang realistis. Kalau berapa angka
pastinya kerugian negara, silahkan Majelis Hakim yang menghitungnya. Entah kemana
lagi segerobak peraturan yang dibacanya sebelumnya diletakkannya ketika orang yang
disebut ahli ini melakukan penghitungan uang. Due Process of Law. Saya cukup terharu pada
waktu Majelis Hakim, Hakim Anggota 1, Bapak Fahmiron, mencerca saksi tersebut sampai
membuat saksi tersebut manggaretek menggigil.
Untuk menjustifikasi dakwaannya, bahwa telah terjadi suatu tindak pidana korupsi dengan
memberikan keuntungan kepada orang lain atau korporasi maka dengan semena-mena, JPU
merubah dokumen Laporan Hasil Audit BPKP Perwakilan Propinsi Sumatera Barat dalam
rangka penghitungan kerugian keuangan negara atas dugaan tindak pidana korupsi
pengadaan kendaraan dinas bupati dan wakil bupati Pasmaan Barat, No. SR1422/PW03/5/2013 tanggal 3 Juni 2013. dengan menambahkan kalimat keuntungan
rekanan pada poin ke-6 rincian perhitungan, dan hal ini di dalam persidangan, Sdr Ahli
Afrizal, membantah apa yang ditambahkan oleh JPU tersebut, saya tidak ada membuatnya
seperti itu, katanya.
Karena negara kita adalah negara hukum, maka suatu tindakan dinyatakan benar atau salah
haruslah disandarkan kepada hukum yang berlaku. Kata seharusnya harus bisa merujuk kepada
pasal (ayat) aturan yang berlaku. Demikian juga penerapan pasalnya, harus relevan. Berikut ini
beberapa pendapat yang menyatakan tentang kerugian negara :
1. Defenisi kerugian negara disandarkan kepada UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara Pasal 1 angka 22 jelas mendefenisikan kerugian negara adalah kekurangan uang, surat
berharga dan barang yang NYATA dan PASTI jumlahnya sebagai akibat PERBUATAN
MELAWAN HUKUM baik SENGAJA maupun lalai.
2. Dengan demikian, suatu perbuatan yang tidak melanggar hukum tidak bisa dianggap kerugian
negara.
3. Pernyataan 1 dan 2 menimbulkan suatu simpulan, kerugian negara adalah akibat dari
perbuatan melawan hukum, bukan kondisi atau bukan temuan dalam istilah audit.
4. HPS sudah disusun dengan benar, perpres dan perka tidak menyebut secara khusus tentang
diskon tapi harga pasar. Disini tidak bisa digeneralisir harus atau tidak harus hitung diskon.
Contohnya Ramayana yang jelas tiap hari diskon...misal 20 %. Berapa harga pasar sebenarnya
? (pasar bukan satu titik waktu tapi kontinum kesinambungan waktu dilokasi tertentu). Sudah
jelas 80 % karena strategi pasarnya seperti itu. (alat kesehatan konon seperti Ramayana....tapi
gelap % nya...afgan or sadis kadang-kadang). Yang kedua, Matahari Dept store ulang tahun
dan kasih diskon spesial 20 % selama 4 hari, setelah itu normal. Berapa harga pasar? Untuk
pengadaan langsung yang 1 hari bisa kelar, HPS ya 80 %. Tapi bila lelang...jelas 100 % (hari ke
5 harga sudah normal). Bagaimana bila discount terkait volume ?... ini perlu dijawab dengan
rumus or gambar demand supply di ekonomi, maka supply yang menunjukan market adalah
sesudah diskon volume.
5. Kerugian negara tidak dapat dihitung dengan perbedaan antara nilai kontrak dengan harga
survey dan harga-harga yang disampaikan melalui internet karena harga tersebut belum
termasuk PPN, PPh, biaya lainnya dan overhead sebagaimana diamanatkan dalam Keppres
66

No. 80 Tahun 2003 dan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
6. Masalah berapa keuntungan penyedia maksimal ? Silahkan cari di UU, Perpres, Perka,
Peraturan Menteri, hingga RT. Saya yakin tidak ada yang mengatur, lantas yang 15 % ? itu di
Perpres PBJ dan itu jelas untuk HPS, bukan mengatur penjual berapa dia boleh dapat untung.

Penyedia bisa memperoleh harga Rp. 860 juta banyak sebab, antara lain :
1. Telah langganan dengan pemasoknya
2. Menggunakan harga yang lama
3. Pemasok ingin stoknya habis
4. Pemasok ingin barangnya menguasai pasar
5. Memelihara jaringan distribusi
6. kepandaian penyedia menemukan harga pasokan yang murah

XII.

TERHADAP ANALISA YURIDIS UNSUR "YANG MELAKUKAN ATAU TURUT SERTA


MELAKUKAN PERBUATAN".
Bahwa terhadap apa yang dituduhkan JPU terhadap Terdakwa di dalam surat
tuntutannya pada halaman 93 :
Berdasarkan fakta yang terungkap dari pemeriksaan persidangan dari keterangan saksisaksi, keterangan Terdakwa, alat bukti surat dan adanya barang bukti didapatkan kesimpulan
bahwa antara Terdakwa Drs. HENDRI, MM dari awal telah terjalin hubungan dan suatu kerjasama
dengan sedemikian rupa dengan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN dalam hal persiapan dan
pelaksanan proyek pengadaaan kendaraan dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat dengan
maksud agar pekerjaan pengadaan tersebut dapat dilaksanakan oleh ARIFIN AGROSURIO dan
ARIFIN AGROSURIO memperoleh keuntungan yang besar dari pengadaan tersebut dengan jalan
kendaraan yang didatangkan tidak sesuai/kurang dari spesifikasi yang tertuang dalam kontrak
dan hal tersebut sudah dikondisikan bersama dengan Terdakwa selaku Kuasa Pengguna
Anggaran/Barang.
Sebagaimana yang Terdakwa sampaikan sebelumnya di dalam pembelaan ini bahwa, JPU
memaksakan untuk menghalalkan dan menjustifikasikan dakwaan tuntutan mereka, walaupun
itu dengan cara-cara menghilangkan barang bukti, menghilangkan fakta persidangan, membuat
cerita bohong dan palsu dan bahkan memfitnah. JPU menyampaikan dakwaannya selalu
mengatas namakan fakta yang terungkap dari pemeriksaan persidangan dari keterangan saksisaksi, keterangan Terdakwa, alat bukti surat dan adanya barang bukti didapatkan, padahal yang
disampakannya bukanlah fakta persidangan, bukanlah keterangan saksi atau keterangan
Terdakwa dan alat bukti surat namun hanya merupakan karangan, imajinasi dan kesimpulan
yang tidak berdasar sama sekali.
Bahwa, tuduhan JPU mengatakan Terdakwa dari awal telah terjalin hubungan dan suatu
kerjasama dengan sedemikian rupa dengan ARIFIN AGROSURIO dan VITARMAN adalah tidak
sesuai dengan fakta persidangan, karena dipersidangan dibuktikan berdasarkan keterangan Sdr.
Arifin Agrosurio, Keterangan Sdr. Vitarman dan Keterangan Terdakwa sendiri yaitu :
67

a. Sejak dari awal, proses pengadaan kendaraan dinas ini, adalah dengan melalui mekanisme
pelelangan umum yang diumumkan melalui media koran nasional Tempo dan portal
pengadaan resmi pengadaan LKPP. Pengumuman ini dilakukan sebanyak dua kali. Tidak
mungkin sebuah pengadaan yang diumumkan secara resmi di koran nasional, ditujukan
untuk merekayasa si penyedia barang. Karena siapapun dari seluruh Indonesia, dapat
membaca dan mengikutinya.
b. Dalam waktu yang sudah mepet karena akan berakhirnya Tahun Anggaran, CV. Makna
Motor yang baru sampai pada tahap mengikuti proses pascakualifikasi, malah di depak
oleh Panitia 1 ULP dengan alasan tidak memenuhi persyaratan kualifikasi perusahaannya.
Seandainya pengadaan ini adalah rekayasa semata, hal kecil dan tidak diketahui oleh
umum tersebut, akan diloloskan begitu saja oleh Panitia. Tetapi kenyataannya, Panitia 1
ULP tetap konsisten dengan aturan-aturan yang ditetapkan melaui Kepres No. 80 Tahun
2003.
c. Bahwa Terdakwa dengan Arifin tidak pernah bertemu langsung, mulai sejak pengadaan
kendaraan dinas bupati pada tahun 2010 sampai selesainya pengadaan kendaraan
tersebut, bahkan baru bertemu pada tahun 2013 itupun karena pengadaan kendaraan
dinas ini dipermasalahkan. Jadi antara Terdakwa dengan Sdr. Arifin tidak pernah terjalin
hubungan apapun dari awal pengadaan kendaraan dinas ini.
d. Bahwa Terdakwa sebelum pengadaan kendaraan dinas bupati Pasaman Barat ini, tidak
pernah kenal dengan Sdr. Vitarman, dan baru kenal ketika PT. Baladewa akan ditunjuk
sebagai calon penyedia barang oleh panitia I ULP. Tidaklah mungkin dan masuk akal jika
dari awal Terdakwa telah menjalin hubungan kerja sama seperti yang JPU maksudkan di
dalam tuduhannya pada surat tuntutan JPU tersebut.
Bahwa, suatu yang tidak mungkin dan masuk akal jika tuduhan kepada Terdakwa telah
dari awal bekerja sama agar pengadaan kendaraan dinas ini dilaksanakan oleh Sdr. Arifin
Agrosurio, hal ini dapat Terdakwa buktikan sebagai berikut :
a. Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati dan Wakil Bupati Pasaman Barat ini telah di
umumkan pelelangannya yang dimuat pada koran nasional Tempo tanggal 1 November
2010 yang merupakan satu-satunya koran nasional tempat diumumkannya pelelangan
kualifikasi Non Kecil yang beredar diseluruh wilayah Indonesia. Artinya pengadaan
kendaraan dinas ini telah diumumkan secara luas dan terbuka, siapa saja dan darimana
saja bebas untuk mengikuti pelelangan tersebut dan ini sesuai dengan prinsip prinsip
dasar pengadaan barang/ jasa pada Keppres No. 80 Tahun 2003 Pasal 3 :
-

terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia
barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang
sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria
tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;

transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan


barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil
evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta
penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;

adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak
tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun;

68

b. Pada pelelangan tersebut ternyata tidak ada satupun penawaran yang masuk dan ini
diluar kuasa kita semua karena hal ini tidak bisa diduga sebelumnya, namun sesuai
dengan ketentuan Keppres No. 80 Tahun 2003, pengadaan kendaraan dinas ini dilelang
ulang dan diumumkan kembali pada koran Tempo pada tanggal 11 November, namun
sampai batas akhir pemasukan dokumen penawaran, tidak satupun dokumen penawaran
yang masuk sehingga pelelanganpun dinyatakan gagal.
c. Setelah melewati dua kali pelelangan dan gagal inilah baru dilaksanakan penunjukan
langsung yang pada awalnya kepada CV. Makna Motor, namun karena CV. Makna Motor
tidak memenuhi persyaratan, maka dicari perusahaan lain dan akhirnya ditemukan dan
ditunjuklah PT. Baladewa Indonesia.
d. Dari fakta tersebut diatas, tidaklah benar tuduhan jaksa tersebut yang mengatakan
Terdakwa sudah merencanakan dari awal agar pengadaan kendaraan dinas Bupati ini
dilaksanakan oleh Sdr. Arifin. Kalau begitu untuk apa pengumuman pelelangan
diumumkan di Koran Tempo?? Bahkan dilakukan dua kali? Ini baru bisa dikatan, bahwa
sangat tidak realistis JPU mengatakan seperti itu.
Dari fakta-fakta yang terungkap dipersidangan maka unsur ini tidak dapat dibuktikan
secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

PENUTUP
Berpaling dari Kebenaran

Majelis Hakim Yang Mulia,


Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Yang saya hormati Penasihat Hukum dan Hadirin sekalian.

Saya mendengarkan dan membaca dengan seksama Surat Tuntutan yang disampaikan oleh JPU
pada persidangan yang lalu. Sungguh Surat Tuntutan yang dengan sungguh-sungguh disiapkan
dan disusun dengan sangat lengkap. Pastilah hal tersebut adalah hasil dari kerja keras dari Tim
yang hebat dan kompak. Sebagai Terdakwa saya sangat menghargai dan menghormatinya.
Tanpa mengurangi apresiasi dan rasa hormat tersebut, izinkan saya sebagai Terdakwa untuk
menyatakan bahwa Surat Tuntutan yang lengkap tersebut tidak memasukkan unsur keadilan,
obyektifitas dan fakta-fakta persidangan yang tergelar secara terbuka sepanjang persidangan ini
berlangsung. Saya tidak tahu mengapa hal demikian bisa terjadi. Apakah karena kealpaan,
kesengajaan atau lantaran keterpaksaan.
Apapun sebab dan alasannya, apakah karena sengaja, alpa semata atau karena terpaksa,
mengabaikan fakta-fakta persidangan adalah pilihan yang tidak obyektif dan tidak menghormati
persidangan. Fakta-fakta persidangan yang terungkap di persidangan ini adalah bagian penting
dari keberhasilan kepemimpinan Ketua Majelis Hakim yang dibantu oleh para Anggota Majelis
Hakim? Jika salah satu hasil kepemimpinan Majelis Hakim, yakni fakta-fakta persidangan tidak
dihargai dan malah disepelekan, maka ini artinya JPU tidak menghormati persidangan.
Salah satu cara terbaik untuk menghormati persidangan, termasuk atas kepemimpinan Majelis
Hakim adalah dengan menghormati dan memuliakan fakta-fakta persidangan. Disitulah juga
69

bersemayam obyektifitas, fairness dan keadilan, nilai-nilai yang sangat penting dalam proses
penegakan hukum yang benar-benar diorientasikan untuk menemukan kebenaran dan keadilan
yang sejati.
Ketika JPU di dalam menyusun Surat Tuntutan memalingkan muka dari fakta-fakta persidangan,
hal itu tidak bisa dibedakan dengan berpaling dari kebenaran. Karena kebenaran yang hendak
dicari dan ditemukan di persidangan berada pada fakta-fakta persidangan dari para saksi yang
memberikan keterangan di bawah sumpah. Tentu saja saksi-saksi yang benar-benar mengetahui
dan mengalami peristiwa yang terkait dengan perkara, serta mempunyai rekam jejak pribadi
yang berkelayakan secara hukum, moral dan sosial. Bukan saksi yang untuk dikesankan punya
kesaksian berkualitas karena bergelar sebagai mantan anggota DPRD (walaupun mengalami dua
ali pemecatan sebagai anggota DPRD) dan staf BPKP, padahal kelayakannya sangat diragukan,
khususnya yang terkait dengan perkara ini.
Surat Tuntutan yang disusun dengan meremehkan fakta-fakta persidangan sulit dibedakan dari
ekspresi kemarahan dan kebencian melalui sarana penegakan hukum. Demikian halnya menjadi
dipisahkan dari pemaksaan dan kekerasan hukum kepada warga negara. Jika dalam konteks
sistem politik yang otoritarian dan absolut berpotensi untuk terjadinya kekerasan politik. Dalam
konteks sistem penegakan hukum yang hegemonik dan absolut juga mudah tergelincir pada
kecenderungan dan praktek kekerasan hukum. Sesuatu yang seharusnya dihindari oleh aparat
penegak hukum yang diberi amanah untuk menegakkan hukum dan keadilan. JPU sebagai aparat
penegak hukum yang bertugas atas nama kepentingan publik berkewajiban untuk menegakkan
keadilan dengan cara menjadikan fakta-fakta persidangan sebagai bahan untuk menyusun Surat
Tuntutan.
Jika fakta-fakta persidangan sebagai salah satu dari hasil persidangan yang dipimpin oleh Majelis
Hakim tidak digunakan sebagai dasar, disepelekan dan diabaikan, pertanyaannya adalah apakah
persidangan ini hanya seremonial belaka dan sekedar sebagai alat untuk menjustifikasi adanya
tuntutan yang berat ?
Tetapi bukan mengejutkan atau tidak mengejutkan. Yang penting untuk ditakar dan ditimbang
adalah apakah tanpa keadilan, obyektifitas dan fakta-fakta persidangan, sebuah Surat Tuntutan
bisa dianggap mewakili kepentingan publik dan nalar penegakan hukum dan keadilan yang
sehat? Akal waras dan nalar keadilan pasti akan menolak hal-hal yang demikian.
Tuntutan yang adil adalah yang obyektif dan berdasarkan kebenaran fakta-fakta persidangan.
Sebaliknya tuntutan bisa disebut dalam kategori dzalim jika tidak obyektif dan berpaling dari
fakta-fakta persidangan bisa menjadi sebab sikap dan tindakan yang tidak adil dan dzalim.
Firman Tuhan di dalam Al-Quran, Surat Al-Maidah ayat 8 menyebutkan : dan janganlah
kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah,
karena adil itu dekat dengan takwa.
Mencermati tuntutan yang diajukan JPU, sungguh itu adalah tuntutan yang sangat lengkap, berat
dan di luar akal sehat. Lengkap karena merupakan gabungan dari hukuman badan dan denda.
Berat karena tidak sejalan dengan fakta-fakta persidangan yang sudah tergelar secara terbuka di
depan publik. Di luar akal sehat karena tidak bisa dibedakan dari ekspresi kemarahan, kebencian
dan kedzaliman.
Terhadap tuntutan hukuman badan selama 5 tahun bukan saja menjadi angka yang berjalan
sendirian dan terlepas dari konteks fakta-fakta persidangan, tapi juga terasa dimotivasi oleh
sesuatu yang tersembunyi dan penuh misteri.

70

Atas dasar itu semua, dengan bertawakal kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Adil dan
Bijaksana, saya (Terdakwa) memohon perlindungan hukum dan keadilan kepada yang Mulia
Majelis Hakim. Di dalam palu Majelis Hakimlah keadilan dalam perkara ini bisa didirikan dan di
tegakkan.
Sebagai anak kampung, anak rakyat, anak orang biasa yang sedang menanam amal di lapangan
pemerintahan, sungguh di dakwa korupsi adalah pukulan yang sangat berat.
Karena itulah, atas dasar fakta-fakta persidangan, kearifan, kebenaran dan keadilan, mohon
kiranya Majelis Hakim berkenan memberikan keputusan bahwa Terdakwa tidak terbukti
bersalah, membebaskan Terdakwa dari segala tuntutan hukum dan mengembalikan harkat dan
martabat hidup Terdakwa.

Majelis Hakim Yang Saya Muliakan,


Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Penasihat Hukum dan Sidang Pengadilan yang saya hormati,

Yang Mulia Ketua dan Anggota Majelis Hakim,


Yang Terhormat Jaksa Penuntut Umum,
Yang Terhormat Penasihat Hukum,
Para hadirin-hadirat dan para wartawan yang saya hormati.
Sebelum mengakhiri Nota Pembelaan (Pledoi) ini izinkanlah saya menyampaikan hal-hal yang
semoga bisa melengkapi makna, substansi, spirit dan pesan dasar dari Pledoi ini.
1. Bahwa sejak awal perkara yang didakwakan kepada saya tidak terlepas dari dinamika dan
kepentingan politik, setidak-tidaknya di internal Pemerintahan Daerah Pasaman Barat,
tangan kekuasaan dan digiring sedemikian rupa oleh orkestra opini, karena sebagian
kekuatan opini sulit dipisahkan dari kekuatan dan kepentingan politik, yang didasarkan
kepada niat jahat sekelompok orang pressure group di Pasaman Barat. Niat mereka hanya
sederhana, kalau Hendri ditahan, maka Bupati Pasaman Barat akan jatuh. Selanjutnya biarlah
pusaran hukum menurut urutan KUHAP yang akan menenggelamkan Hendri. Hendri biarlah
dengan nasibnya sendiri. Karena paling tidak, dalam status tahanan saja sudah akan
menghabiskan hari selama lebih kurang 700 hari untuk menjalani proses dari Pasal 24 sampai
Pasal 29. Itulah makanya tuntutan JPU adalah selama 5 tahun, karena dari fakta-fakta
persidangan, yang sebenarnya sudah mematahkan semua tuntutan JPU, maka apabila Majelis
memutus kurang dari dua per tiga dari tuntutan, maka JPU akan banding. Dan apalagi kalau
Majelis memutus bebas, prosedur kejaksaan JPU akan Kasasi. Padahal secara pribadi diluar
persidangan, JPU sendiri sudah mengatakan bahwa dari fakta-fakta persidangan, Terdakwa
itu sebenarnya harus bebas. Itulah salah satu contoh dari system hukum kita yang belum
benar. Uang negara yang telah mereka terima dan pergunakan untuk mengusut kasus ini tentu
juga harus mereka pertanggung jawabkan. Walau bagaimanapun caranya. Sama juga dengan
salahnya system dari negara kita dalam pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah.
Mestinya kita bisa membeli dengan lebih murah apabila kita membeli langsung ke toko, tapi
kita harus membayar lebih mahal. Contohnya untuk membeli kertas untuk kantor kita.
Bahkan hari-hari belakangan ini orkestrasi opini untuk membangun persepsi, termasuk untuk
mempengaruhi persepsi, perspektif dan keyakinan Hakim. Namun demikian saya yakin fakta-

71

fakta hukum di persidangan lebih kuat dibandingkan dengan opini dan persepsi yang secara
sistematis dibangun oleh Penuntut Umum maupun media-media tertentu.
2. Pasal-pasal yang dituduhkan oleh JPU kepada Terdakwa yang disebutkan melawan hukum,
terbukti selama dipersidangan, adalah pasal-pasal yang tidak tepat. Perbuatan Terdakwa,
bukan melanggar pasal yang dituduhkan tersebut, karena justru, apa yang dilakukan oleh
Terdakwa, tidak termasuk kedalam aturan pasal-pasal tersebut, maupun pasal-pasal lainnya
didalam Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah,
dan didalam Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah. Memang Hukum Administrasi Negara kita, masih belum cukup mengatur sampai
kesemua detil-detil perbuatan yang dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara. Karena memang
perkembangan dan kemajuan didalam praktek pemerintahan yang begitu dinamis, tidak
selalu bisa diikuti secepatnya dengan perubahan aturan untuk mengakomodirnya. Sama
halnya dengan yang saat ini kita saksikan, UU Pilkada yang baru saja beberapa bulan
disyahkan, sudah harus menghadapi revisi lagi karena adanya perkembangan dan fenomena
yang terjadi pada kehidupan Partai Politik. Itulah makanya didalam ilmu pemerintahan, ada
azaz yang dinamakan dengan freiez ermessen. Yaitu azaz yang memberikan kemerdekaan
untuk bertindak atas inisiatif dan kebijakan sendiri dari pejabat administrasi negara dalam
rangka pelayanan publik untuk kesejahteraan rakyat.
Freies ermessen ini muncul sebagai alternatif untuk mengisi kekurangan atau kelemahan
didalam penerapan asas legalitas (wetmatidheid van bestuur). Namun demikian didalam
pelaksanaan freies ermessen juga merupakan suatu kebijakan dari pejabat administrasi
negara oleh karena itu tidak boleh dibuat secara sewenang-wenang atau sembarangan,
sehingga tidak menjadi sengketa tata usaha negara.
Bahkan Mahkamah Agung pun telah mengeluarkan Yurisprudensinya terkait dengan
kewenangan Pejabat Administrasi Negara ini dalam Putusan Mahkamah Agung tanggal 8
Januari 1966 No.42/K/66 dan Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Maret 1973 No.81/K/73
sebagai berikut :
Walaupun ada perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan kewenangan, sepanjang :
a. Negara tidak dirugikan;
b. Kepentingan umum terlayani;
c. Terdakwa tidak mendapatkan keuntungan.
maka perbuatan tersebut bukan tindak pidana korupsi.
3. Saya memang tidak akan pernah menyesali apa yang telah saya lakukan dan perbuat untuk
negara dengan kebijakan yang saya tanda tangani dalam salah satu proses pengadaan
kendaraan untuk bupati Pasaman Barat. Sebagai seorang kader pemerintahan, yang dididik
dan dibina oleh negara, yang dilantik dan disumpah oleh Kepala Negara. Yang bahkan selama
24 tahun pengabdiannya belum pernah meminta dan mengambil haknya untuk cuti. Bahkan
negara kembali memberikan penghargaan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Republik
Indonesia, Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 9 April 2013. Maka apa yang telah saya
perbuat untuk negara tersebut, belumlah seberapa dengan apa yang telah diberikan oleh
negara kepada saya. Apakah hanya karena kebodohan seseorang walaupun orang tersebut
disebut sebagai Aparat Penegak Hukum negara saja saya akan menyesali apa yang saya
lakukan ? Karena justru sebaliknya, apa yang saya lakukan tersebut adalah benar-benar dalam
rangka melaksanakan tugas saya sebagai Aparatur Sipil Negara. Dengan tidak mengharapkan
keuntungan pribadi. Dengan tidak menguntungkan orang lain diluar kepatutaan dan aturan.
Untuk melayani kepentingan umum dan kepentingan negara. Dan sangat pasti menurut
72

ketentuan dan akal sehat, tidak sedikitpun ada merugikan negara. Yang ada malah adalah
menyebabkan negara beruntung.
Menunda pelaksanaan pengadaan kendaraan ini untuk dianggarkan pada tahun berikutnya,
itu artinya hanyalah merampas hak rakyat untuk menikmati pembangunan sebanyak yang
dianggarkan untuk membeli kendaraan dinas tersebut pada tahun berikutnya itu. Apabila
APBD Pasaman Barat TA 2011 misalnya sebesar 500 Milyar, maka 500 Milyar tersebut akan
dikurangi terlebih dahulu sebesar anggaran yang dibutuhkan untuk membeli mobil bupati
tersebut. Padahal apabila mobil tersebut telah dibeli pada tahun dianggarkannya, maka tidak
ada lagi alokasi dana yang berulang untuk kebutuhan yang sama ditahun berikutnya. Itulah
makanya pada sistem keuangan daerah, dikenal dengan adanya pencapaian target kinerja,
yang akan terakumulasi didalam LAKIP daerah. Dan pancapaian target kinerja tersebut akan
mempengaruhi besaran dana bantuan dari Pemerintah Pusat pada tahun-tahun berikutnya.
4. Saya hanya ingin mengangkat sedikit mutiara nilai kearifan lokal kita, Kakok langan lah
balangan, kakok batih lah babatih. jangan sombong dan jangan mentang-mentang. Juga
bermakna pesan dan peringatan kepada siapapun yang memiliki kelebihan (kekuatan,
kedudukan, kekuasaan dan kewenangan) untuk tidak bersikap sewenang-wenang. Agar siapa
yang mempunyai kekuatan, kedudukan, kekuasaan dan kewenangan tidak terjebak pada
sikap Siapa Kamu, Siapa Aku.
Karena segala sesuatu ada batasnya ada pula masanya. Ada awalnya dan ada pula akhirnya. Hal-hal
ini amat relevan dengan ajaran, komitmen dan spirit keadilan di dalam proses penegakan hukum.
Karena diatas segalanya ada kekuasaan Tuhan dan Tuhan tidak tidur. Tuhan menuntun karma
mencari alamatnya sendiri-sendiri sesuai dengan logika alam dan ketentuan Tuhan.
Kepada Jaksa Penuntut Umum sekali lagi saya mengucapkan selamat, hormat dan terima kasih atas
proses dinamis dan bermutu dalam persidangan ini. Meskipun tuntutan JPU sangat berat dan diluar
nalar keadilan, hal itu tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya, karena boleh jadi Surat
Tuntutan itu bukanlah murni dari kristalisasi pemikiran JPU atas fakta-fakta hukum di persidangan.
Hubungan sebagai sesama manusia tidak seharusnya rusak hanya karena kontestasi keadilan di
persidangan. Esok hari adalah bagian dari misteri dalam Kuasa Allah Swt.
Kepada Majelis Hakim, saya menutup Pledoi ini dengan rasa takzim dan terima kasih yang tulus,
karena secara adil telah memimpin dan memandu persidangan, termasuk memberikan kesempatan
yang adil pula kepada Terdakwa untuk menggali fakta-fakta hukum dan kebenaran. Tentu disertai
permohonan dan harapan untuk memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya.
Kepada semua pihak, Pimpinan Kejaksaan Negeri Simpang Empat, penyidik, JPU, Majelis Hakim,
hadirin, rekan-rekan wartawan dan siapa saja yang merasa kurang berkenan atas perkataan, sikap
dan tindak tanduk saya dalam proses penyidikan dan persidangan. Semuanya saya lakukan sematamata untuk mendapatkan keadilan sebagai warga negara. Karena saya yakin kita semua tertuju
untuk tegaknya keadilan.
Akhirnya semua saya serahkan kepada Allah semata.
Ya Allah, jika aku bergantung kepada selain Engkau di dalam menghadapi kepayahan-kepayahan,
sedang aku tidak mengerti atau mengerti, maka aku bertaubat dan berserah diri dengan mengucap
: La ila ha illallah Muhammadur Rasulullah SAW.
Ya Allah, jika aku memohon pertolongan kepada selain Engkau, dalam kecelakaan dan bahaya,
sedang aku tidak mengerti atau mengerti, maka aku bertaubat dan berserah diri dengan mengucap
: La ila ha illallah Muhammadur Rasulullah SAW.

73

Ya Allah, urusan-urusanku yang telah Engkau baguskan dengan anugerah Engkau dan pandanganku
salah, sedang aku tidak mengerti atau mengerti, maka aku bertaubat dan berserah diri dengan
mengucap : La ila ha illallah Muhammadur Rasulullah SAW.
Ya Allah, jika aku tegelincir menyimpang dari jalan lurus (shirat), karena memohon kepada selain
Engkau, sedang aku tidak mengerti atau mengerti, maka aku bertaubat dan berserah diri dengan
mengucap : La ila ha illallah Muhammadur Rasulullah SAW.
Laaa ilaa ha illa anta... subhanaka inni quntum minal zalimiiin....
Lalu Kami kabulkan dan Kami selamatkan dia dari kesusahan, demikianlah Kami menyelamatkan
orang-orang beriman.
Ya Allah, ampunkan hamba Mu ini, karena dengan ujian yang sedang hamba hadapi saat ini, hamba
mungkin tidak akan dapat untuk memenuhi cita-cita anak hamba yang akan tamat SD tahun ini,
padahal cita-citanya adalah sangat mulia, yaitu ingin menjadi Santri dan Hafidz pada salah satu
pesantren di Padang Panjang. Demikian juga dengan kakaknya yang tamat SMP saat ini, yang
bercita-cita dapat masuk SMA 1 Hafidz Padang Panjang. Tunas-tunasmu dipatahkan oleh angkara
murka manusia-manusia yang tidak beriman ini ya Allah.... Aku mohonkan keadilanMu dari
kepedihan ini ya Allah...
Ya Allah, dengan hak La ila ha illallah dan kemuliaannya, hak kursi dan keluasannya, hak Arsy dan
keagungannya, hak kalam dan berjalannya, hak Lauh Mahfudh dan penjaga-penjaganya, hak
Timbangan (Mizan) dan dua matanya, hak Shirat dan kelembutannya, dengan hak Jibril dan
kejujurannya, hak Mikail dan belas kasihnya, aku pertaruhkan syahadatku, aku pertaruhkan shalatshalatku, aku pertaruhkan semua zakat-zakatku, aku pertaruhkan saumku dan aku pertaruhkan
semua kemuliaan umrah dan hajiku, untuk meminta pertolongan dari MU. Bebaskanlah hamba dari
fitnah dunia ini ya Allah. Karena segala sesuatunya itu, tetap berpulang kepada izin dan ridhaMu.
Inna lillahi wainna ilaihi rajiun... lahaula walaa quwata illa billa lil aliul adziiimmm... Amiiinnn....

Terimakasih atas segala perhatian,


Mohon maaf atas segala kekurangan,
Wassalammualaikum Wr. Wb.

Padang, 12 Mei 2015

Drs. H. Hendri, MM.

Lampiran 1 : 1 (satu) Eksemplar Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan RI


Perwakilan Propinsi Sumatera Barat Atas Belanja Daerah Pemerintah Kab. Pasaman Barat Tahun
Anggaran 2009 dan 2010 di Simpang Empat Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20 Januari
2011
Lampiran 2 : 1 (satu) Eksemplar SE Dirjend Pajak No. 21 Tahun 2000 tentang Tata Niaga Kendaraan
Bermotor
Lampiran 3 : 1 (satu) Eksemplar surat-surat penawaran dari showroom-showroom kendaraan di
Padang dan Jakarta

74

Lampiran 4 : 1 (satu) Eksemplar Dokumentasi Penyusunan HPS


Lampiran 5 : 1 (satu) Eksemplar Resume Kronologis Kasus Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati
Pasaman Barat Tahun 2010
Lampiran 6 : 1 (satu) Eksemplar Transkrip Persidangan Kasus Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati
Pasaman Barat Tahun 2010
Lampiran 7 : 1 (satu) keping CD Rekaman Persidangan Kasus Pengadaan Kendaraan Dinas Bupati
Pasaman Barat Tahun 2010

75

Lampiran 1 : Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan RI Perwakilan Propinsi Sumatera
Barat Atas Belanja Daerah Pemerintah Kab. Pasaman Barat Tahun Anggaran 2009 dan
2010 di Simpang Empat Nomor : 53/S/XVII.pdg/01/2011 tanggal 20 Januari 2011

76

77

78

79

80

81

82

83

84

Lampiran 2 : SE Dirjend Pajak No. 21 Tahun 2000 tentang Tata Niaga Kendaraan Bermotor
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
______________________________________________________________________________________________________________
21 Juli 2000

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 21/PJ.51/2000

TENTANG

PPN DAN PPn BM DALAM TATA NIAGA KENDARAAN BERMOTOR

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan adanya keragu-raguan dalam pelaksanaan ketentuan PPN di bidang tata niaga
kendaraan bermotor, dengan ini diberikan beberapa penegasan sebagai berikut :
1.

Dalam tataniaga kendaraan bermotor, mata rantai distribusi kendaraan bermotor pada umumnya
melewati lini-lini sebagai berikut :
a.

a. Lini I

Importir Umum/ATPM/Industri Perakitan.

b.

b. Lini II

Distributor

c.

c. Lini III

Dealer

d.

d. Lini IV

Sub-Dealer/Showroom

2.

Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-43/PJ.51/1989 tanggal 7 Agustus 1989
ditegaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988, setiap
lini dalam distribusi kendaraan bermotor dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) kecuali
lini IV (Sub-Dealer/Showroom) tidak dikukuhkan sebagai PKP karena statusnya sebagai Pedagang
Pengecer.

3.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 37 jo. Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1994
sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1999,
bahwa mulai tanggal 1 Januari 1995 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 tentang
Pengenaan PPN atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan oleh Pedagang Besar dan
penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) disamping Jasa yang dilakukan oleh Pemborong, dinyatakan tidak
berlaku.

4.

Memperhatikan harga kendaraan bermotor saat ini, maka dalam tata niaga kendaraan bermotor
tidak ada Pengusaha Kecil, karena jumlah peredaran usaha melebihi Rp. 240.000.000,00 dalam satu
tahun buku. Oleh karena itu setiap Pengusaha pada seluruh lini distribusi kendaraan bermotor
tersebut adalah Pengusaha Kena Pajak, termasuk Sub-dealer/Showroom.
85

5.

Sebagai Pengusaha Kena Pajak, Pengusaha kendaraan bermotor berkewajiban untuk melakukan
hak dan kewajibannya sebagai PKP, yaitu : memungut, menyetor dan melaporkan PPN dan/atau
PPn BM yang terutang atas penyerahan kendaraan bermotor yang dilakukannya.

6.

Diinstruksikan kepada seluruh Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk melakukan pengawasan
kepatuhan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam pendistribusian kendaraan bermotor yang
terdaftar di KPP masing-masing.

7.

Untuk mempermudah pemahaman mata rantai distribusi kendaraan bermotor ini, dapat
digambarkan sebagai berikut :
________________________________________________________

8.
9.

IMPORTIR UMUM/INDUSTRI PERAKITAN/ATPM


(PKP)
_________________________________________________________
|
|
|
|
|
|
|
|
_________________
DISTRIBUTOR
(PKP)
_________________
|
|
|
|
|
|
|
|
__________
_______________________________
DEALER
________________
SUB-DEALER/SHOWROOM
(PKP)
(PKP)
__________
_______________________________
|
|
|
|
|
|
______________
KONSUMEN
______________
Untuk memperjelas mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM, diberikan contoh penghitungan
pada Lampiran I Surat Edaran ini.
Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (kendaraan bermotor), tidak termasuk pajak
yang dipungut menurut UU Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
Nomor 11 Tahun 1994 dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Berdasarkan
ketentuan di atas, untuk mencegah akibat ganda pengenaan PPn BM, maka dalam menentukan
Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan Barang Kena pajak yang sama pada rantai berikutnya
(sesudah "Pabrikan"/Importir), unsur PPn BM (seperti halnya PPNnya) harus dikeluarkan dahulu

10. Dalam hal pembelian kendaraan bermotor dengan sistim on the road (langsung atas nama pembeli)
maka Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), retribusi untuk Surat Tanda Nomor
86

Kendaraan Bermotor (STNK) dan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) tidak merupakan
unsur Harga Jual yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak sepanjang BBNKB serta retribusi untuk
STNK dan BPKB tersebut tidak dicantumkan dalam Faktur Pajak. Diberikan contoh perhitungan
pada lampiran 2 dan 3Surat Edaran ini.
11.
a. PPN terutang pada saat terjadinya penyerahan kendaraan bermotor dari PKP (Importir
Umum/ATPM/Industri Perakitan/Distributor/Dealer/Sub-Dealer/Showroom). Dalam hal
pembayaran diterima sebelum penyerahan kendaraan bermotor atau pembayaran uang muka,
maka PPN
terutang pada saat diterimanya pembayaran tersebut. Jumlah PPN yang terutang
pada saat pembayaran uang muka tersebut dihitung secara proporsional dengan jumlah
pembayarannya dan diperhitungkan dengan PPN yang terutang pada saat dilakukan penyerahan.
Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 165.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp 15.000.000,(10%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 55.000.000,- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar sebesar
Rp. 110.000.000,PPN terutang dan harus dipungut :
-

Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000, sebesar 10/110 x Rp
55.000.000,- = Rp 5.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan Agustus
2000.

Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000, sebesar 10/110 x Rp


110.000.000,- = Rp 10.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan
September 2000.

b. Apabila atas penyerahan tersebut juga terutang PPn BM karena penyerahan dilakukan oleh
Pemungut PPn BM ("Pabrikan"), maka dalam pembayaran uang muka yang diterima sebelum
penyerahan kendaraan bermotor, terutang PPn BM disamping terutang PPN.
Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp 20.000.000,- (10
%) dan PPn BM sebesar Rp 30.000.000,- (15%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 25.000.000,- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar sebesar
Rp. 225.000.000,- PPN dan PPn BM terutang dan harus dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 2.000.000,- dan harus dilaporkan pada
SPT Masa PPN bulan Agustus 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 3.000.000,- dan harus dilaporkan pada
SPT Masa PPn BM bulan Agustus 2000.
- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp. 250.000.000,- - Rp 25.000.000,-) = Rp 18.000.000,- dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000.
87

2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000,- - Rp 25.000.000,-) = Rp 27.000.000,- dan


harus dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan September 2000.
12. Ketentuan dalam Surat Edaran ini berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2000.
13. Dengan berlakunya ketentuan ini, maka ketentuan yang dimaksud dalam Surat-surat Edaran
sebelumnya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Surat Edaran ini, dinyatakan masih
tetap berlaku.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd

MACHFUD SIDIK

88

Lampiran -1 Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000
Contoh mekanisme pemungutan PPN dan PPn BM
a) Untuk kendaraan impor dalam keadaan CBU :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :
- Nilai Impor (DPP) : Rp. 200.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 20.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%)
: Rp. 100.000.000,Harga Impor
: Rp. 320.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 342.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 342.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 364.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 364.000.000,-

a) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 260.000.000,: Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
: Rp. 386.000.000,-

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%)
: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)
Harga Pembelian : Rp. 386.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)

: Rp. 280.000.000,: Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)


89

- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 100.000.000,- (butir 1.a)


: Rp. 408.000.000,- (yang dibayar konsumen)

b. Untuk kendaraan impor dalam keadaan CKD atau produksi dalam negeri :
1) Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :
a) impor :
- Nilai Impor (DPP) : Rp. 150.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 15.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (-%)
: Rp.
-,Harga Impor
: Rp. 165.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,: Rp. 352.000.000,-

2) Distributor :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 220.000.000,: Rp. 22.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 352.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 374.000.000,-

3) Dealer :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Pembelian

: Rp. 240.000.000,: Rp. 24.000.000,- (Pajak Masukan)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 374.000.000,-

b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 260.000.000,: Rp. 26.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 396.000.000,-

4) Sub-Dealer/Showroom :
a) Pembelian :
- Harga beli (DPP) : Rp. 260.000.000,- PPN (10%)
: Rp. 26.000.000,- (Pajak Masukan)
- PPn BM (50%)
: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
Harga Pembelian : Rp. 396.000.000,b) penyerahan :
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (50%)
Harga Penjualan

: Rp. 280.000.000,: Rp. 28.000.000,- (Pajak Keluaran)


: Rp. 110.000.000,- (butir 1.b)
: Rp. 418.000.000,- (yang dibayar konsumen)
90

Catatan : Pemungutan PPn BM dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-17/PJ.51/1999 tanggal 2 Nopember 1999 dan
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-18/PJ.51/2000 tanggal 22 Juni 2000.

Lampiran -2 Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000
CONTOH PENGHITUNGAN PPN KENDARAAN BERMOTOR
(Harga Jual On the Road)
1. Dealer "B" menjual satu unit kendaraan bermotor dengan harga jual kepada pembeli sebesar Rp
205.000.000 (termasuk PPN, PPn BM dan tidak termasuk Bea Balik Nama) yang dibeli dari Main
Dealer "A".
2. Atas pembelian tersebut, Dealer "B" mendapat potongan harga dari Main Dealer "A".
3. PPn BM sebesar Rp 8.000.000,- sudah dipungut dan dilaporkan oleh Main Dealer "A".
4. Pengurusan balik nama kendaraan bermotor dilakukan oleh Main Dealer "A" dan pembeli membayar
Rp 18.000.000,- kepada Main Dealer "A" melalui Dealer "B".
PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :
Harga Jual Main Dealer "A" (On The Road)
: Rp 225.000.000,Potongan harga untuk Dealer "B"
: Rp 4.000.000,Harga Tebus
: Rp 221.000.000,Bea Balik Nama (BBN)
: Rp 18.000.000,Harga Beli Dealer "B"
: Rp 203.000.000,Faktur Pajak (Off the Road) :
BELI
: Rp 117.272.727,: Rp 17.727.273,: Rp
8.000.000,: Rp 203.000.000,-

Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


PPN (10%)
PPn BM (15%)
JUMLAH

JUAL
Rp 186.363.636,Rp 18.636.364,Rp
8.000.000,Rp 205.000.000,-

Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :


BELI
100/110 X (Rp 203.000.000,-

Rp 8.000.000,-) =

Rp 177.272.727,-

JUAL
100/110 x (Rp 205.000.000,- Rp 8.000.000,-) = Rp 186.363.636,Perhitungan PPN Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer :
- PAJAK KELUARAN (10% x Rp 186.363.636,-)
- PAJAK MASUKAN (10% x Rp 177.272.727,-)
PPN yang harus disetor

=
=

Rp 18.636.364,Rp 17.727.273,Rp
909.091,-

91

Lampiran -3 Surat Edaran Dirjend Pajak


Nomor : SE-21/PJ.51/2000
Tanggal : 21 Juli 2000
CONTOH PENGHITUNGAN PPN DAN PPn BM KENDARAAN BERMOTOR
YANG BERASAL DARI SASIS (DEALER SEBAGAI WAJIB PUNGUT PPn BM)
1. Dealer "B" membeli sasis kendaraan bermotor dari Main Dealer "A" seharga Rp 100.000.000,- dengan
potongan harga sebesar Rp 2.000.000,- kemudian menyuruh Karoseri "C" mengubah sasis tersebut
menjadi kendaraan bermotor angkutan orang dan kemudian menjualnya kepada pembeli dengan
harga Rp 126.500.000 (termasuk PPN dan PPn BM).
2. PPn BM sebesar Rp 15.800.000,- dipungut dan dilaporkan oleh Dealer "B", sebagai pihak yang
menyuruh melakukan pengubahan.
PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN OLEH DEALER "B" ADALAH :
Harga Jual Sasis Main Dealer "A"
Rp 100.000.000,Potongan harga untuk Dealer "B"
Rp 2.000.000,Harga Tebus/Beli Dealer "B"
Rp 98.000.000,Faktur Pajak (Off The Road) :
Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
PPN (10 %)
Dasar Pengenaan Pajak (Karoseri "C")
PPN - Karoseri (10 %)
PPn BM (15 %)
JUMLAH

BELI
Rp 89.090.090,Rp 8.909.091,Rp 10.000.000,Rp 1.000.000,Rp
-,Rp 109.000.000,-

JUAL
Rp 101.200.000,Rp 10.120.000,Rp 15.180.000,Rp 126.500.000,-

Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak :


- Beli Sasis
100/110 X Rp 98.000.000,= Rp 89.090.909,- Jual Kendaraan Bermotor
100/110 x Rp 126.500.000,= Rp 101.200.000,Perhitungan PPN Dan PPn BM Yang Harus Disetor Ke Kas Negara Oleh Dealer :
1) PPN
- PAJAK KELUARAN (10 % x Rp 101.200.000,-)
= Rp 10.120.000,- PAJAK MASUKAN (Rp 8.909.091 + Rp 1.000.000,-)
= Rp 9.909.091,PPN yang harus disetor
Rp
210.909,2) PPn BM
15 % x Rp 101.200.000,-

= Rp 15.180.000,-

Contoh :
- Harga Jual kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,- (termasuk PPN sebesar Rp 20.000.000,- (10 %)
dan PPn BM sebesar Rp 30.000.000,- (15%))
- Uang Muka diterima tanggal 10 Agustus 2000 sebesar Rp. 25.000.000,- Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 September 2000 dengan kekurangan bayar sebesar Rp.
225.000.000,PPN dan PPn BM terutang dan harus dipungut :
- Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2000 :
92

1) PPN : sebesar 10/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 2.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT Masa
PPN bulan Agustus 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x Rp 25.000.000,- = Rp 3.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT
Masa PPn BM bulan Agustus 2000.
- Pada saat penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2000 :
1) PPN : sebesar 10/125 x (Rp. 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp 18.000.000,- dan harus
dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2000.
2) PPn BM : sebesar 15/125 x (Rp 250.000.000,- Rp 25.000.000,-) = Rp 27.000.000,- dan harus
dilaporkan pada SPT Masa PPn BM bulan September 2000.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd

MACHFUD SIDIK

93

Contoh Aplikatif Dari Mekanisme Pemungutan PPN dan PPn BM Berdasarkan SE Dirjend Pajak No. SE21/PJ.51/2000 Tanggal 31 Juli 2000 Untuk kendaraan import dalam keadaan CBU Toyota Land Cruiser
Prado 2.7 A/T Dengan Harga Faktur No. 239/MSA/XII/2010 Tanggal 14 Januari 2011 sebesar : Rp.
506.000.000,- (DPP)
Lini
1

Uraian

b. Penyerahan :

- Nilai Impor (DPP)

460,000,000

- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

46,000,000 (Pajak Masukan)


184,000,000

Harga Impor
- Harga Jual (DPP)

690,000,000
506,000,000

- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

50,600,000 (Pajak Keluaran)


184,000,000 (Butir 1.a)

Harga Penjualan

740,600,000

- Harga Beli (DPP)

506,000,000

- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

50,600,000 (Pajak Masukan)


184,000,000 (Butir 1.a)

Distributor :
a. Pembelian :

Harga Pembelian
b. Penyerahan :

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)
Harga Penjualan

740,600,000
556,000,000 (556.000.000
55,600,000 55.000.000)
(Pajak Keluaran)

184,000,000 (Butir 1.a)


795,600,000

Dealer :
a. Pembelian :

- Harga Beli (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)
Harga Pembelian

b. Penyerahan :

- Harga Jual (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)
Harga Penjualan

Ket. (Pembulatan
1.000.000)

Importir Umum/Industri Perakitan/ATPM :


a. Impor :

Jumlah

556,000,000
55,600,000 (Pajak Masukan)
184,000,000 (Butir 1.a)
795,600,000
611,000,000 (611.000.000
61,100,000 61.000.000)
(Pajak Keluaran)
184,000,000 (Butir 1.a)
856,100,000

Sub Dealer / Showroom :


a. Pembelian :

- Harga Beli (DPP)


- PPN (10%)
- PPn BM (40%)

b. Penyerahan :

Harga Pembelian
- Harga Jual (DPP)
- PPN (10%)
- PPn BM (40%)
Harga Penjualan

A. Harga Konsumen
Nilai Impor
Jumlah PPN + PPn BM

611,000,000
61,100,000 (Pajak Masukan)
184,000,000 (Butir 1.a)
856,100,000
672,000,000

(672.000.000 + 67.000.000)
67,200,000 (Pajak Keluaran)
184,000,000 (Butir 1.a)
923,200,000 (Yang dibayar Konsumen)

: 923.200.000
: 460.000.000
: 463.200.000

94

B. Kontrak
PPN
PPh Ps 22
Leges Daerah
Diterima Perusahaan
Jumlah Pajak

: 1.072.000.000
:
97.454.545
:
14.618.182
:
8.040.000
: 951.887.273
: 120.112.727

Maka dari kontrak pengadaan Kendaraan Dinas Toyota Landcruiser Prado sebesar Rp. 1.072.000.000,Penerimaan Negara Dari Pajak adalah sebesar :
A+B

: 583.312.727

Sehingga harga yang mestinya dibayar oleh Konsumen, tanpa dimasukkan keuntungan perusahaan
adalah : 923.200.000,-

95

Lampiran 3 : Surat-surat penawaran dari showroom-showroom kendaraan di Padang dan Jakarta

96

97

98

99

100

101

102

103

104

105

106

107

108

109

110

Lampiran 4 : Dokumentasi Penyusunan HPS


DOKUMENTASI ANALISA HPS TOYOTA LAND CRUISER PRADO TX LIMITED

Berdasarkan Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah,
diatur tentang Mekanisme Penyusunan HPS yakni :
Pada Penjelasan Pasal 13 ayat (1) bahwasanya data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS
antara lain adalah :
a. Harga pasar setempat menjelang dilaksanakannya pengadaan;
b. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS),
asosiasi terkait dan sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
c. Daftar biaya/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh agen tunggal/ pabrikan;
d. Biaya kontrak sebelumnya yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan faktor perubahan
biaya, apabila terjadi perubahan biaya;
e. Daftar biaya standar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.
Pada Pasal 13 ayat (3) diatur bahwa HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga
penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan
pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk
menggugurkan penawaran.
Harga harus dihitung dengan membandingkan harga dalam kontrak terhadap harga pasar yang
akurat untuk barang/jasa yang sama dengan waktu dan tempat yang sama (apple to apple).
Lampiran I Bab I Huruf E angka 2 diatur bahwa HPS telah memperhitungkan :
a. PPN
b. Biaya Umum dan Keuntungan (Overheadcost and Profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa.
a. Survey Harga :
1. Survey harga pada Intercom, dengan hasil sebagai berikut :
Type Prado TX
Type Fortuner V 4x4
Keterangan
Penawaran
875.000.000
445.000.000
On The Road Padang Tidak sesuai dengan spek yang diminta karena Prado
Type TX Limited tidak ada stok, maka dilakukan
survey harga di tempat lain
2.

Survey harga pada Makna Motor, Terminal Motor dan Suchi Motor dengan hasil sebagai berikut :
Makna Motor
Terminal Motor
Suchi Motor
Keterangan
Penawaran
925.000.000
920.000.000
980.000.000 Sesuai dengan
On The Road
On The Road DKI
On The Road DKI spek
Padang

b. Perhitungan HPS :
Harga Nego
Penerimaan
Penawaran
Keuntungan

Makna Motor
1.072.000.000
951.887.273
925.000.000
26.887.273
On The Road
Padang

Terminal Motor
1.072.000.000
951.887.273
920.000.000
31.887.273
On The Road DKI

Suchi Motor
1.072.000.000
951.887.273
980.000.000
(28.112.727)
On The Road
DKI

Harga rata-rata

941.666.667
(Dibulatkan)
941.600.000

111

Harga rata-rata merupakan harga rata- rata dari ketiga tawaran tersebut di atas. Harga rata-rata
dijadikan harga pasar yang merupakan harga satuan dalam perhitungan HPS.
Harga rata-rata
Overhead cost & profit = 3,78%
PPN 10 %
Jumlah
Dibulatkan
HPS didapat

: 941.600.000,:
35.620.000,: 977.220.000,:
97.722.000,: 1.074.942.000,: 1.074.900.000,: 1.074.900.000,-

c. Penawaran PT. Baladewa Indonesia


DPP (Harga Pokok Sebelum Pajak) untuk 1 unit
PPN 10 %
Nilai Tawaran

: 975.000.000,:
97.500.000,: 1.072.500.000,-

d. Kontrak

Harga 1 unit
PPN
Jumlah
dibulatkan

HPS
977.220.000
97.722.000
1.074.942.000
1.074.900.000

Tawaran
975.000.000
97.500.000
1.072.500.000
1.072.500.000

Negosiasi
974.545.455
97.454.545
1.072.000.000
1.072.000.000

e. Perkiraan Analisa Keuntungan PT. Baladewa Indonesia :


DPP (Harga Pokok Sebelum Pajak)/ harga nego
PPN
Nilai Kontrak
PPN
Pajak Penghasilan Ps 22 : (1,5% dari DPP)

Saldo (Yang dibayarkan BUD ke rekening Penyedia Jasa)

Kontrak
974.545.455
97.454.545
1.072.000.000
1.072.000.000

: 974.545.455
:
97.454.545
: 1.072.000.000-----(a)
:
97.454.545
:
14.618.182
: 112.072.727-------(b)
: 959.927.273------(c)= (a)- (b)

Pengeluaran lain Penyedia Jasa (Leges Daerah = Nilai Kontrak x 0,75%) : 8.040.000----(d)
: 951.887.273------(e)= (c)-(d)

Penerimaan bersih oleh Penyedia Jasa


Daftar Harga Pasar 1 unit kendaraan :
Makna Motor

Penawaran

Terminal
Motor

Suchi Motor PT. Baladewa Harga ratarata

925.000.000
920.000.000 980.000.000 975.000.000 950.000.000
On The Road On The Road On The Road On The Road
Padang
DKI
DKI
Padang

Dari Penerimaan oleh Penyedia Jasa, maka kita dapat memperkirakan nilai Overhead cost & profit
Penyedia Jasa tersebut berdasarkan tujuh sudut pandang sebagai berikut :
a. Dari rata-rata harga pasar yang ada :
Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah

: 951.887.273
112

Rata2 harga pasar yang dijadikan harga satuan perhitungan HPS


Overhead cost & profit

: 941.600.000
: 10.287.273

---1,09%

b. Dari Harga pasar terendah (Penawaran Terminal Motor) :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Terminal Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 920.000.000
: 31.887.273

---3,47%

c. Dari Harga pasar tertinggi (Penawaran Suchi Motor) :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Suchi Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 980.000.000
:(28.112.727) ---2,87%

d. Dari Harga Penawaran Makna Motor :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Surat Penawaran harga CV. Suchi Motor
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 925.000.000
: 26.887.273 ---2,91%

e. Dari Bukti Kuitansi Pembelian PT. Baladewa Indonesia kepada PT. Intercom :
Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
: 951.887.273
Kuitansi pembelian dari PT. Intercom
: 860.000.000
Overhead cost & profit
: 91.887.273 ---10,68%
f. Dari Penawaran dalam kontrak pada Koreksi Aritmatik :
Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
Dari penawaran dalam kontrak
Overhead cost & profit

: 951.887.273
: 975.000.000
: (23.112.727) ---2,37%

g. Berdasarkan SE Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.51/2000 tanggal 21 Juli 2000 :


Jumlah Penerimaan dari BUD - Leges Daerah
: 951.887.273
Perhitungan PPN dan PPn BM
: 923.200.000
Overhead cost & profit
: 28.687.273 ---3,01%
Inipun masih kita abaikan dengan tidak memasukkan Jaminan Penawaran yang dibayarkan
Penyedia Jasa kepada Bank sebesar Rp. 53.600.000,- yang seharusnya juga dimasukkan sebagai
pengeluaran Penyedia Jasa. Hal ini tidak kita masukkan karena Garansi Bank bisa dicairkan
Penyedia Jasa lagi setelah proses Kontrak selesai dilaksanakan.
*) keuntungan apabila di hitung dari selisih BUD PT. Baladewa Indonesia dengan penawaran / harga
Pasar :
BUD Baladewa
Penawaran
Keuntungan
%

Makna Motor
951.887.273
925.000.000
26.887.273
2,91
On The Road
Padang

Terminal Motor
951.887.273
920.000.000
31.887.273
3,47
On The Road DKI

Suchi Motor Harga rata2/ HPS


951.887.273
951.887.273
980.000.000
941.600.000
(28.112.727)
10.287.273
(2,87)
1,09
On The Road
DKI

113

*) keuntungan apabila di hitung dari selisih tawaran / harga 1 unit dari PT. Baladewa Indonesia dengan
penawaran / harga Pasar :
Makna Motor

Terminal Motor

Harga 1 unit
dari Baladewa

975.000.000

975.000.000

975.000.000

975.000.000

Penawaran

925.000.000

920.000.000

980.000.000

941.600.000

Keuntungan

50.000.000

55.000.000

(5.000.000)

33.400.000

5,41

5,98

(0,51)

3,55

On The Road
Padang

On The Road DKI

Suchi Motor

Harga rata2/ HPS

On The Road
DKI

Harga Pasar Setempat pada waktu dilaksanakannya pengadaan, dapat kami buktikan dari brosur-brosur
yang kami peroleh dari showroom-showroom kendaraan Toyota di Padang dan Jakarta sebagaimana
terlampir. Dan hal inipun masih bisa kita buktikan dan temukan sampai saat ini pada beberapa iklan
yang ada di internet untuk harga kendaraan yang diadakan pada tahun 2010 tersebut.
Adapun beberapa situs yang sampai saat ini masih bisa kita temukan melalui searching di google
mengenai harga kendaraan Toyota Prado pada tahun 2010 tersebut antara lain :
1. http://www.otopedia.com/mobil-baru/7818-Toyota-Prado.html
2. http://www.otopedia.com/mobil-baru/8072-Toyota-Prado.html
3. http://mobil.kapanlagi.com/harga/toyota/land_cruiser/2010/prado_tx/
4. http://mobil.kapanlagi.com/toyota_land_cruiser_prado_tx_in-56947.html
5. http://www.olx.co.id/q/prado/c-378
Kuitansi pembelian kendaraan oleh Penyedia Jasa sebesar Rp.860.000.000,- tersebut, bukanlah HARGA
PASAR SETEMPAT. Tidak ada satu showroompun dan iklan melalui internet yang kami dapati selaku
KPA yang menyediakan kendaraan Toyota Prado dengan spesifikasi yang diminta, yang menawarkan
harga seperti itu. Kalaupun Penyedia Jasa kita mendapatkan harga seperti itu, itu adalah karena faktor
keahlian mereka dalam dunia dagang yang bukan merupakan keahlian kami selaku KPA. Dan yang pasti,
itu bukanlah HARGA PASAR SETEMPAT seperti yang diamanatkan oleh Keppres No. 80 Tahun 2003.
Pertanyaan sederhananya adalah, seandainya ada showroom kendaraan yang mampu menjual dengan
harga 800 juta, 700 juta, apalagi sampai dengan harga 600 juta dan 500 an juta, kenapa tidak ada satupun
dari perusahaan tersebut yang berani untuk ikut menawar dari iklan yang kami tayangkan melalui media
nasional Koran Tempo ? Bukankah keuntungan mereka bisa mencapai 400 an juta ?
Dan akan lebih konyol lagi, apabila kerugian negara dihitung dengan metode dan formula khusus BPKP
Perwakilan Propinsi Sumatera Barat yang bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Simpang Empat.
Kejaksaan Negeri dengan kewenangan Undang-undang yang ada pada mereka, tentu dapat memanggil
Importir Umum kendaraan Toyota Prado di Jakarta ke Simpang Ampek, yang memasukkan kendaraan
ini dari Jepang ke Indonesia. Nama perusahaan Importir Umum inipun didapatkan dari Faktur
Kendaraan yang dilampirkan dalam BPKB Toyota Prado. Hal yang tentu saja tidak akan bisa didapatkan
oleh siapa saja pelaku pengadaan barang dan jasa di seluruh Indonesia pada waktu proses pengadaan
kendaraan dinas tersebut dilaksanakan. Karena BPKB kendaraan selalu diserahkan kepada Pengguna
Barang beberapa bulan setelah proses Pengadaan Barang dan Jasa selesai dilaksanakan.
Dari informasi yang diberikan oleh Importir Umum, PT. Multisentra Adikarya, mereka mendapat
penjelasan bahwa setelah kendaraan ini diimport dari Jepang ke Indonesia, maka mereka pertama
114

menjual kendaraan ini kepada PT. DK Jaya Motor seharga Rp. 675.000.000,- (belum termasuk PPn).
Kemudian PT. DK Jaya Motor menjual lagi kendaraan ini kepada PT. Kencana Utama Sakti dengan harga
Rp. 680.000.000,- (Off the Road).
Dari data yang didapat oleh Kejaksaan Negeri Simpang Empat ini, dengan mentah-mentah umpan ini
ditelan oleh BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Barat melalui Ketua Tim nya, Sdr. Afrizal, membuat
kesimpulan, bahwa mestinya Pemda Pasaman Barat HARUS membeli langsung pula kendaraan ini
kepada PT. Multisentra Adikarya Jakarta, bukan melalui rantai-rantai perdagangan yang akhirnya
sampai di PT. Intercom Mobilindo Padang, dan rekanan Penyedia Barang/Jasa, PT. Baladewa Indonesia.
Maka Pemda Pasaman Barat hanya akan membeli kendaraan ini dengan harga Rp. 675.000.000,-. Maka
terdapat selisih dari nilai bersih kontrak PT. Baladewa Indonesia dikurangi nilai jual PT. Multisentra
Adikarya, Rp. 951.887.273,- - Rp. 675.000.000,- = Rp. 276.887.273,-. Inilah yang menjadi angka dari
KERUGIAN NEGARA.
Pertanyaannya :
1. Apakah Kejaksaan dan BPKP, bisa mengetahui tentang keberadaan PT. Multisentra Adikarya Jakarta
ini, tanpa adanya BPKB kendaraan yang didalamnya baru ada terdapat Faktur Kendaraan dari Importir
Umum? Sama halnya dengan Panitia, KPA, Penyedia Barang dan bahkan dealer resmi Mobil Toyota di
Sumatera Barat, tidak akan bisa mengetahui apa nama perusahaan yang mengimport kendaraan ini dari
Jepang. Karena itu baru tercantum di Faktur Kendaraan didalam BPKB. Dan ini baru keluar apabila
kendaraan ini sudah berada di tangan konsumen, itupun beberapa bulan setelah proses pembayaran
(Proses PBJ) selesai dilaksanakan.
2. Dikemanakan aturan-aturan mengenai Pengadaan Barang dan Jasa ? Yaitu Keppres No. 80 Tahun
2003, Pasal 13 ayat (1), ayat (3) dan Lampiran I Bab I huruf E angka 2 yang menyatakan bahwa
penyusunan HPS didasarkan pada data Harga Pasar Setempat, yang diperoleh berdasarkan hasil survei
MENJELANG dilaksanakannya pengadaan, dengan mempertimbangkan beberapa informasi dan HPS
disusun dengan memperhitungkan keuntungan dan biaya overhead yang wajar bagi penyedia barang
dan jasa.
Kesimpulannya, dalam pelelangan yang sesuai aturan, penyedia boleh untung berapapun, sedangkan
untuk membuat HPS bila belum ada keuntungan, dapat diberikan 10% atau 15% kalau ada overhead.
Persentase keuntungan hanya diatur pada waktu kita menyusun HPS.

115