Anda di halaman 1dari 7

MASS CONCRETE

Mass Concrete (Beton Massal) didefinisikan sebagai volume beton


dengan dimensi besar sehingga membutuhkan tindakan-tindakan tertentu
untuk mengatasi pertumbuhan panas secara berlebihan yang dapat
memicu terjadinya keretakan (American Concrete Institute Committee
207, 1996). Selain tu, mass concrete juga didefinisikan sebagai beton
yang dituangkan dalam volume besar, yaitu perbandingan antara volume
dan luas permukaan besar (Tjokrodimulyo, 2007). Reaksi hidrasi dari
semen portland merupakan reaksi yang bersifat eksotermal, sehingga
dapat menghasilkan panas. Oleh karena itu, peningkatan suhu internal
beton merupakan hal yang tidak dapat dihindari pada proses pengerasan
beton. Pengecoran struktur beton yang bersifat massal pada dasarnya
akan menghasilkan suhu beton yang lebih tinggi di bagian dalam (interior)
dibandingkan dengan suhu di bagian permukaan. Suhu yang terjadi pada
bagian interior beton dapat mencapai 95C atau lebih, sedangkan suhu
pada permukaan beton yang terpapar dengan lingkungan luar pada
umumnya memiliki suhu yang jauh lebih rendah. Hal ini disebabkan
karena massa beton pada bagian permukaan mampu melepas suhu panas
ke lingkungan secara langsung. Kondisi tersebut dapat menimbulkan
perbedaan suhu yang sangat signifikan antara bagian interior beton dan
bagian permukaan.
Pada struktur beton massal, kekangan internal dapat terbentuk akibat
kondisi suhu panas yang tidak dapat terdisipasi secara cepat dari inti
beton. Hal ini disebabkan oleh sifat difusivitas beton terhadap panas yang
relatif rendah. Akibatnya, perbedaan suhu akan terbentuk antara bagian
inti dengan bagian permukaan beton dengan terakumulasinya panas yang
dihasilkan oleh reaksi hidrasi semen. Kondisi pemuaian akibat suhu yang
berbeda-beda diantara berbagai bagian elemen struktur beton dapat
menimbulkan tegangan, tekan di salah satu sisi dan tarik di sisi lainnya.
Keretakan permukaan akan terjadi bilamana tegangan tarik yang timbul di
bagian permukaan elemen akibat pemuaian inti beton melebihi kuat tarik
beton di saat bagian permukaan mendingin dengan terlalu cepat.
Keretakan ini dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan beton dan pada
akhirnya akan menurunkan tingkat durabilitas struktur beton.

Peningkatan suhu beton massal pada dasarnya bergantung pada suhu


beton awal dan rasio volume terhadap luas permukaan. Selain itu,
peningkatan suhu secara dominan juga dipengaruhi oleh komposisi
kimiawi semen dengan C3A (Tricalcium Aluminate) dan C3S (Tricalcium
Silicate) sebagai senyawa yang paling besar memberikan kontribusi
terhadap peningkatan suhu yang terjadi. Secara umum, setiap 100 kg
semen Portland yang berada pada campuran beton akan menghasilkan
peningkatan suhu sebesar 12C (Kosmatka et al, 2003). Bila digunakan
bahan-bahan mineral seperti fly ash (abu terbang), peningkatan suhu
untuk setiap 100 kg abu terbang adalah sebesar 6C. Persamaan berikut
dapat digunakan untuk mengestimasi suhu maksimum yang terjadi pada
beton akibat reaksi hidrasi bahan semen dan bahan pengganti semen
parsial (Kosmatka, et al, 2003), yaitu:

T max=T i +12

W
( 100
)+6( W100 ) (1)
c

scm

DImana Ti adalah suhu awal beton, Wc adalah berat semen dalam setiap
m3 beton, dan Wscm adalah berat bahan pengganti semen dalam setiap m 3
beton. Nilai Ti sangat dipengaruhi oleh suhu awal bahan-bahan campuran
beton dan ambient lingkungan.
Metoda

yang

umum

diterapkan

untuk

mencegah

keretakan

pada

pengecoran beton massal adalah dengan menjaga perbedaan suhu antara


bagian inti dan bagian permukaan sehingga perbedaan suhu tersebut
tidak mencapai lebih dari 20C (Texas Department of Transportation,
2004 ; Neville, 1981). Hal ini dapat dilakukan salah satunya melalui
pengendalian peningkatan suhu internal beton selama berlangsungnya
reaksi hidrasi. Pengendalian peningkatan suhu internal beton dapat
dicapai melalui:
1. Reduksi kandungan semen pada campuran beton.
2. Penggunaan agregat dengan ukuran maksimum yang besar dan
dengan gradasi yang baik untuk mendapatkan campuran yang
efisien dengan kandungan semen yang rendah.
3. Pendinginan air pencampur melalui penggantian sebagian air
pencampur dengan pecahan es batu untuk memperoleh suhu awal
beton yang rendah.
4. Penggunaan bahan Pozzolans sebagai pengganti semen secara

parsial. Panas hidrasi bahan pozzonlan pada dasarnya hanya sekitar


50% panas hidrasi semen (Persamaan (1)).
5. Penggunaan bahan semen campuran (blended cement).
6. Penggunaan bahan campuran beton, seperti agregat kasar, agregat
halus, semen, dan air yang dapat menghasilkan suhu awal beton
yang rendah.
7. Penempatan campuran beton yang baru diaduk secepat mungkin
untuk menghindari penyerapan suhu ambient oleh campuran beton
yang masih segar.
8. Penggunaan umur beton yang lebih panjang (diatas 28 hari) dalam
penentuan nilai kuat tekan beton yang disyaratkan.
9. Pemberian bahan insulasi di permukaan beton yang terpapar
dengan lingkungan untuk meminimalkan perbedaan suhu antara
bagian dalam dan bagian permukaan beton.
Reduksi kandungan semen dapat diperoleh secara tidak langsung melalui
penggunaan bahan superplastisizer yang bersifat sebagai water reducer.
Dengan penggunaan bahan ini, kandungan air dalam campuran dapat
disesuaikan (dikurangi) tanpa mengurangi nilai slump yang dihasilkan. Bila
rasio air semen dijaga tetap, maka jumlah kandungan semen secara
teoritis juga dapat dikurangi. Dengan cara ini, peningkatan suhu selama
reaksi hidrasi dapat dikurangi (Persamaan (1)).
Penggunaan agregat kasar dan halus yang bergradasi baik untuk beton
massal

juga

kandungan

dapat

air

pada

meningkatkan
dasarnya

workabilitas

dapat

dikurangi

campuran,
tanpa

sehingga

mengurangi

workabilitas rencana campuran. Jumlah kandungan semen pun pada


akhirnya dapat dikurangi, sehingga panas hidrasi yang timbul menjadi
berkurang.
Penggunaan batu es sebagai pengganti sebagian air pencampur pada
dasarnya bertujuan untuk mengurangi suhu awal campuran.
Penggantian sebagian berat semen dalam campuran dengan bahan-bahan
mineral

pelengkap

(supplementary

cementing

matertials

(SCM))

merupakan metode yang cukup efektif dalam menurunkan panas hidrasi


setengah dari panas hidrasi yang dihasilkan semen Portland (Persamaan
1). Bahan-bahan mineral pelengkap ini pada umumnya dapat diperoleh
dari bahan-bahan buangan industri. Secara umum, Portland Cement

Association mengelompokkan bahan-bahan mineral pelengkap (SCM) ke


dalam beberapa kelompok, yaitu (Mamlouk dan Zaniewski, 1999):
1.
2.
3.

Material Cementititous
Material Pozzolanic
Materiial Pozzolanic dan Cementitious

Penggunaan bahan-bahan buangan industri, seperti abu terbang, sebagai


bahan pensubstitusi semen sudah semakin umum dilakukan di bidang
konstruksi

sipil.

Selain

dapat

menurunkan

panas

hidrasi

beton,

penggunaan bahan tersebut juga dapat menghasilkan beton yang lebih


ramah lingkungan.Hal ini terkait dengan pengurangan penggunaan bahan
semen yang produksinya dikenal menghasilkan emisi CO 2 yang besar
(Malhotra, 2006). Di dunia industri konstruksi nasional, beberapa bahan
buangan industri tersebut juga mulai banyak digunakan sebagai bahan
tambahan

mineral

untuk

menghasilkan

semen

campuran

(blended

cement).
Selain aspek material, untuk mengontrol perbedaan suhu internal beton,
permukaan beton yang terpapar dengan lingkungan harus diberi insulasi
untuk menjaganya tetap panas. Dengan pemberian bahan insulasi, bahan
beton

yang

sedang

dalam

proses

pengerasan

dikondisikan

dalam

lingkungan yang adiabatik. Untuk permukaan atas dan samping, bahan


insulasi yang biasa digunakan adalah styrofoam. Untuk permukaan bawah,
dgunakan lapisan beton tumbuk (lean concrete) setebal minimal 10 cm
sebagai insulator.
Tahapan Pengerjaan Mass Concrete
1.

Persiapan

pekerjaan

mass

concrete.

Persiapan

pekerjaan

tersebut meliputi:
Perhitungan jumlah kebutuhan mixer truck dan lamanya
pengecoran
Untuk mengetahui
dibutuhkan

jumlah

beberapa

data,

kebutuhan
seperti

mixer

truck,

concrete

pump

capacity, mixer truck capacity, dan volume beton ready

mix yang dibutuhkan.


Pengaturan lalu lintas (cycle time)
Cycle time adalah waktu yang

digunakan

untuk

menyelesaikan 1 siklus pekerjaan dengan urutan standar

kerja yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan hasil


yang baik, cycle time harus direncanakan dengan baik,
mengingat pengecoran beton harus dilakukan secara
terus-menerus tanpa henti untuk menghindari terjadinya

sambungan dingin.
Perkiraan suhu beton Ready Mix
Suhu pada agregar maupun campuran beton segar harus
diperhatikan

untuk

menghindari

terjadinya

thermal.
Pengaturan alur pengecoran
Alur pengecoran harus direncanakan

keretakan

dengan

baik

mengingat daerah cakupan pengecoran yang cukup luas,


ditambah dengan pelaksanaan mass concrete yang harus
dilaksanakan tanpa henti, alur pengecoran merupakan hal
yang

sangat

membantu

kelancaran

pelaksanaan

pekerjaan mass concrete.


Persiapan pekerja yang terlibat
Mengingat lamanya proses pelakasanaan pekerjaan mass
concrete, dan pelaksanaannya yang dilakukan secara
terus-menerus tanpa henti, kesiapan pekerja menjadi hal

2.

penting yang harus dipersiapkan dengan matang.


Pelaksanaan pekerjaan mass concrete
Pengecekan struktur
Pengecekan struktur dilakukan oleh pihak MK maupun
pihak QC dari kontraktor itu sendiri. Pengecekan dilakukan
berdasarkan

gambar

shop

drawing

yang

telah

direncanakan sebelumnya.
Pembersihan struktur
Setelah struktur tersebut telah lolos melalui pengecekan
oleh pihak MK maupun QC, dilakukan tahap pembersihan
struktur

sebelum

pengecoran

dimulai.

Pembersihan

dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan struktur


dari

debu

maupun

sampah

yang

mungkin

akan

mengotorinya dan akan mengganggu


Kesiapan alat dan material
Alat dan material yang dibutuhkan dalam pekerjaan mass
concrete diantaranya adalah:
- Thermocouple
- Kawat ayam (Stop Cor)
- Concrete pump truck
- Instalasi pipa cor
- Pagar

- Tenda
- Termometer
- Vibrator
- Trowel
- Plastik dan Styrofoam
Pemeriksaan suhu beton segar
Pemeriksaan suhu beton segar dilakukan untuk setiap
mixer truck yang tiba di lokasi. JIka terdapat suhu beton
segar yang melebihi suhu izin, maka perlu dilakukan
perlakuan khusus untuk menurunkan suhu beton segar
tersebut.
dengan

Perlakuan

yang

menambahkan

dapat

pecahan

dilakukan
es

batu

misalnya
ke

dalam

campuran beton. Penambaha pecahan es batu tersebut


dilakukan di plant mixer truck yang bersangkutan.

Pengujian nilai slump (slump test) beton segar


Slump beton adalah besaran kekentalan (viscosity) atau
plastisitas yang kohesif dari beton segar. Atau dengan
kata lain, slump adalah penurunan ketinggian pusat
permukaan atas beton yang diukur setelah cetakan uji

slump diangkat.
Pengambilan sampel

beton

laboratorium
Pengambilan

dilakukan

sampel

segar

untuk

dengan

pengujian

memasukkan

campuran beton yang telah lolos pemeriksaan suhu dan


nilai slump, ke dalam cetakan beton silinder. Cetakancetakan sampel beton silinder tersebut kemudian dibawa
ke laboratorium pengujian untuk selanjutya dilakukan

tahap pengujian kuat tekan beton.


Pendataan dan pengawasan mixer truck
Pendataan
dan
pengawasan
ini
berguna

untuk

menghindari kesalahan pada pekerjaan mass concrete,


seperti kesalahan pengiriman beton ready mix, atau
kesalahan antara jumlah beton ready mix yang dipesan

dengan beton ready mix yang tiba di lokasi.


Penuangan beton segar
Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan

dan

dinyatakan layak untuk melaksanakan proses pekerjaan


mass

concrete,

maka

campuran

beton

siap

untuk

dituangkan. Penuangan beton segar dilakukan dengan


menggunakan instalasi pipa cor. Penuangan beton segar

tersebut mengikuti alur pengecoran yang telah ditentukan


3.

sebelumnya.
Perawatan (Curing) Mass Concrete
Pemberian floor hardener
Floor hardener adalah bahan tambahan sebagai pengeras
dan pelicin permukaan beton. Fungsi floor hardener
adalah untuk memperkuat permukaan beton terhadap
gesekan, khususnya beban berat dan sedikit terhadap

benturan.
Pelapisan permukaan beton dengan plastic dan styrofoam
Pelapisan menggunakan plastik dan syrofoam merupakan
upaya isolasi antar suhu dalam beton massa tersebut

yang diharapkan merata dengan suhu lingkungan.


Pembacaan suhu pada thermocouple
Thermocouple memiliki fungsi yang penting

dalam

pelaksanaan

untuk

pekerjaan

mass

concrete,

yaitu

mengetahui suhu pada beton yang telah dicor, serta


berfungsi dalam pengendalian suhu beton massa untuk
menghindari terjadinya retak thermal.