Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum Berbasis Kompetensi, dapat dikatakan sebagai salah
satu bentuk inovasi kurikulum. Kemunculannya seiring dengan munculnya
semangat reformasi pendidikan, diawali dengan munculnya kebijakan
pemerintah dalam pemerintahan daerah atau dikenal otonomi daerah
Undang-Undang Nomor 22 tahun l999. Kelahiran kebijakan pemerintah
ini didorong oleh perubahan dan tuntutan kebutuhan masyarakat dalam
dimensi globalisasi yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi begitu pesat sehingga kehidupan penuh persaingan dalam segi
apapun tidak bisa dihindari dan harus siap untuk kemajuan suatu bangsa.
Dapat dipastikan bahwa hanya individu yang mampu bersaing yang akan
dapat berbicara dalam era globalisasi ini. Untuk itu, setiap individu harus
memiliki kompetensi yang handal dalam berbagai bidang sesuai dengan
minat , bakat, dan kemampuan nyata (Sanjaya, 2005:8).
Untuk itu upaya peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan
secara menyeluruh yang mencakup pengembangan dimensi manusia
Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlaq, budi pekerti,
pengetahuan, keterampilan, seni, olah raga, dan perilaku. Pengembangan
aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan
kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui pencapaian
kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan
berhasil di masa datang. dengan demikian peserta didik memiliki
ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang dikembangkan melalui
pembelajaran dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan.
Kurikulum

berbasis

kompetensi

dikembangkan

untuk

memberikan keahlian dan keterampilan sesuai dengan standar kompetensi


yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan daya jual untuk
1

menciptakan kehidupan yang berharkat dan bermartabat di tengah-tengah


perubahan, persaingan, dan kerumitan kehidupan sosial, ekonomi, politik
dan budaya. Adanya kurikulum berbasis kompetensi memungkinkan hasil
lulusan menjadi lebih terampil dan kompeten dalam segala tuntutan
masyarakat sekitarnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi
2. Bagaimanakah karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi ?
3. Apakah

yang

menjadi

prinsip-prinsip

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi?
4. Apa saja Tingkatan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi?
5. Bagaimanakah Pendekatan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kompetensi

merupakan

perpaduan

dari

pengetahuan,

keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan


berfikir dan bertindak. Menurut Crunkilton (1979 : 222) dalam
Mulyasa, (2004 : 77) mengemukakan bahwa kompetensi ialah sebagai
penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi
yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap
dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat
melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan
tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas
yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang
diperlukan oleh kerja.
Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dinyatakan
sedemikian rupa agar dapat dinilai. Sebagai wujud hasil belajar peserta
didik yang mengacu pada kreativitas belajarnya. Peserta didik perlu
mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan
digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan
berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan memiliki kontribusi
terhadap kompetensi yang sedang dipelajari.
Menurut Gordon, (1998 : 109) dalam Mulyasa, (2004 : 7778) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam
konsep kompetensi sebagai berikut :

Pengetahuan (knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,

misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi


kebutuhan belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap
peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.

Pemahaman (understanding) yaitu kedalaman kognitif, dan afektif

yang dimiliki oleh individu.

Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu

untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Sikap (attitude) yaitu (senang atau tidak senang, suka tidak suka)

atau reaksi terhadap suatu rangsangan terhadap yang datang dari luar.

Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan

sesuatu perbuatan.
Berdasarkan pengertian kompetensi tersebut, maka kurikulum
berbasis kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep
kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan
melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi
tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa
penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Dengan
demikian penerapan kurikulum dapat menumbuhkan tanggung jawab,
dan partisipasi peserta didik untuk belajar menilai dan mempengaruhi
kebijakan umum, serta memberanikan diri berperan dalam berbagai
kegiatan di sekolah maupun masyarakat (Mulyasa, 2002 : 39).
KBK

diarahkan

untuk

mengembangkan

pengetahuan,

pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik agar


dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan
keberhasilan dengan penuh tanggung jawab. KBK memfokuskan
pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh
karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, dan
seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa.
Sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau
keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menuntut guru yang
berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam
rangkaian meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam hubungannya
4

dengan pembelajaran memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses


belajar.

Kay

(1977)

dalam

Mulyasa,

mengemukakan

bahwa

pendidikan berbasis kompetensi selalu dilandasi oleh rasionalitas


yang dilakukan dengan penuh kesadaran mengapa dan bagaimana
jadi perbuatan tersebut dilakukan (Mulyasa, 2002 : 23).
Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa kurikulum
berbasis kompetensi berorientasi pada kreativitas individu untuk
melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran dan efek (dampak) yang
diharapkan yang muncul dari peserta didik melalui serangkaian
pengalaman belajar yang bermakna, dan keberagaman yang dapat
dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan kompeten
dalam kurikulum berbasis kompetensi ini merupakan pernyataan apa
yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam
setiap tingkatan kelas dan Madrasah, sekaligus menggambarkan
kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk
menjadi kompeten. KBK merupakan suatu konsep kurikulum yang
menekankan

pada

pengembangan

kemampuan

melakukan

(kompetensi) tugas-tugas oleh peserta didik berupa penguasaan


terhadap seperangkat pengetahuan, kemampuan, sikap dan minat
peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran
dengan penuh tanggung jawab.
Hall (1986) dalam Mulyasa menyatakan bahwa setiap peserta
didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, jika
diberikan waktu yang cukup (Mulyasa, 2002 : 41). Pendapat tersebut
menunjukkan bahwa perhatian harus dicurahkan kepada waktu yang
diperlukan untuk kegiatan belajar. Perbedaan antara peserta didik yang
pandai dengan yang kurang (bodoh) hanya terletak pada masalah
waktu, peserta didik yang bodoh memerlukan waktu yang cukup lama
untuk mempelajari sesuatu atau memecahkan suatu masalah, sementara
yang pandai bisa cepat melakukannya. Kemampuan yang dimiliki
5

peserta didik untuk berkreasi dan berimajinasi jika diberikan


kesempatan dan peran aktif guru terhadap siswa yang secara tidak
langsung akan memberikan dampak terhadap penguasaan apa yang
telah diajarkan guru.
Kurikulum berbasis kompetensi menuntut guru yang berkualitas
dan

profesional

untuk

melakukan

kerjasama

dalam

rangka

meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian, konsep ini


tentu saja tidak dapat digunakan sebagai resep untuk memecahkan
semua masalah pendidikan, namun dapat memberi sumbangan yang
cukup signifikan, terhadap perbaikan pendidikan (Mulyasa, 2002 : 40).

B. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi


Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi antara lain
mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikatorindikator

evaluasi

untuk

menentukan

kesuksesan

pencapaian

kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran (Mulyasa, 2006 :


42). Disamping itu KBK memiliki sejumlah kompetensi yang harus
dikuasai peserta didik. Penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus
sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta
didik, pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan individual
personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan, peserta
didik dapat dinilai kompetensinya.
Depdiknas (2002) dalam Mulyasa mengemukakan bahwa
kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik
secara individual maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan
keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan
dan metode yang bervariasi.
6

4. Sumber belajar bukan guru, tetapi juga sumber belajar lainnya


yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam
upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Dari beberapa rumusan tentang karakteristik kurikulum berbasis
kompetensi di atas jelaslah bahwa pada pencapaian kompetensi itu dilihat
dari cara penyampaian materi oleh guru dan metode yang digunakan dalam
pembelajaran. Lebih lanjut dikatakan bahwa penilaian Kurikulum Berbasis
Kompetensi adalah dilihat dalam kompetensi guru dalam persiapan
mengajar, artinya ada upaya guru untuk menguasai materi yang memenuhi
syarat atau unsur edukatif. Karena yang diinginkan dalam kompetensi ini
adalah menekankan pada kualitas siswa, dan hasil belajar yang dicapai.
Lebih lanjut dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasikan
enam karakteristik kurikulum berbasis kompetensi, yaitu :
a. Sistem Belajar Dengan Modul
Kurikulum berbasis kompetensi menggunakan modul sebagai sistem
pembelajaran. Dalam hal ini modul merupakan paket belajar mandiri yang
meliputi serangkaian pengalaman belajar mandiri yang meliputi serangkaian
pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk
membantu peserta didik, untuk mencapai tujuan belajar. Modul adalah suatu
proses pembelajaran mengenai satuan bahasan tertentu yang disusun secara
sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai
dengan pedoman penggunaannya untuk para guru (Mulyasa, 2002 : 43).
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Setiap modul harus memberikan informasi dan memberikan
petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan
seorang peserta didik, bagaimana melakukannya dan sumber
belajar apa yang digunakan.

2. Modul

merupakan

pembelajaran

individual,

sehingga

mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik


peserta didik.
3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu
peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis sehingga
peserta didik dapat mengetahui, kapan mengakhiri suatu modul.
5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian
tujuan belajar peserta didik (Mulyasa, 2002 : 43-44).
Dari beberapa penjelasan di atas bahwa proses pembelajaran
dengan menggunakan sistem modul akan mempercepat proses belajar mengajar
sekaligus mengarahkan peserta didik pada pencapaian pembelajaran. Sistem
modul ini juga memiliki mekanisme yang jelas dan disajikan secara logis dan
sistematis, sehingga peserta didik dapat mengetahui apa yang dia pelajari,
karena prosesnya dilaksanakan secara individual.
b. Menggunakan Keseluruhan Sumber Belajar
Dalam KBK guru tidak lagi menjadi peran utama dalam proses pembelajaran
karena pembelajaran dapat menggunakan aneka ragam sumber belajar seperti :
manusia, bahan belajar (buku) dan lingkungan.
c. Pengalaman Lapangan
KBK lebih menekankan pada pengalaman lapangan untuk mengakrabkan
hubungan antara guru dengan peserta didik yang yang akan meningkatkan
pengetahuan, pemahaman yang lebih leluasa bagi guru dan peserta didik.
d. Strategi Belajar Individual Personal
Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik
sedangkan

belajar

personal

adalah

interaksi

edukatif

dalam

rangka

mengembangkan strategi individual personal.


e. Kemudahan Belajar
Kemudahan dalam KBK diberikan melalui kombinasi antara pembelajaran
individual personal dengan pengalaman dan pembelajaran secara tim.
f. Belajar Tuntas

Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan dalam


kelas dengan asumsi, bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta dengan
baik dan memperoleh hasil belajar maksimal.
Dari uaraian di atas, bahwa sistem pembelajaran dalam KBK jika dilihat
karakteristik khusus dalam KBK bahwa sistem pembelajaran dalam KBK
sangatlah praktis untuk pengembangan peserta didik, dalam arti dengan sistem
ini sifatnya universal yang telah mencakup secara keseluruhan kgiatan
pembelajaran yang menjadi kebutuhan pokok peserta didik. Secara jelas,
peranan guru dalam sistem penyajian modul hanya merupakan sumber
tambahan dan pembimbing yang membimbing peserta didik. Namun tidak
menutup kemungkinan peserta didik membutuhkan arahan dan pembinaan guru
secara intensif, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan profesional.
C. Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi
Sesuai

dengan

prinsip

diversifikasi

dan

desentralisasi

pendidikan maka pengembangan kurikulum ini digunakan prinsip


dasar

kesatuan

dalam

kebijakan

dan

keberagaman

dalam

pelaksanaan prinsip kesatuan dalam kebijakan yaitu dalam mencapai


tujuan pendidikan perlu ditetapkan standar kompetensi yang harus
dicapai secara nasional, pada setiap jenjang pendidikan. Sedangkan
prinsip

keberagaman

dalam

pelaksanaan

yaitu

dalam

menyelenggarakan pendidikan yang meliputi perencanaan dan


pelaksanaan kegiatan pembelajaran penilaian dan pengelolaannya
mengakomodasikan perbedaan yang berkaitan dengan kesiapan dan
potensi akademik, minat lingkungan, budaya, dan sumber daya sekolah
sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan masing-masing.
Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kompleks,
dan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait (Mulyasa, 2002 :
61).
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi menfokuskan
pada kompetensi tertentu berupa pedoman pengetahuan, keterampilan,
9

dan sikap yang didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud


pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya. Penerapan kurikulum
berbasis kompetensi memungkinkan para guru menilai hasil belajar
yang mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang
dipelajarinya.
Secara rinci pengembangan KBK mempertimbangkan hal-hal berikut :

Keimanan, nilai-nilai dan budi pekerti luhur yang perlu digali,

dipahami dan diamalkan siswa.

Penguatan integritas nasional yang dicapai melalui pendidikan


Keseimbangan berbagai bentuk pengalaman belajar siswa yang

meliputi etika, logika, estetika dan kinestetika

Penyediaan tempat yang memberdayakan semua siswa untuk

memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan


seluruh siswa dari berbagai kelompok

Kemampuan berfikir dan belajar dengan mengakses, memilih, dan

menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan


penuh

ketidakpastian

merupakan

kompetensi

penting

dalam

menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan

komperehensif (Sujatmiko, 2003 : 7).


Sedangkan prinsip dasar kegiatan belajar mengajar yang
dikembangkan dalam KBK adalah mengembangkan kemampuan
berfikir logis, kritis, kreatif, bersikap dan bertanggung jawab pada
kebiasaan dan perilaku sehari-hari melalui pembelajaran secara aktif
yaitu :
1. Berpusat pada siswa
2. Mengembangkan keingintahuan dan imajinasi
3. Memiliki semangat mandiri kerjasama dan berkompetensi perlu
dilatih untuk terbiasa bekerja mandiri, kerjasama dan berkompetensi
10

4. Menciptakan kondisi yang menyenangkan


5. Mengembangkan kemampuan dan pengalaman belajar
6. Karakteristik mata pelajaran (Depdiknas,2003:10)
Pengembangan KBK harus berkaitan dengan tuntutan
standar kompetensi, organisasi pengalaman belajar, dan aktivitas untuk
mengembangkan dan menguasai kompetensi seefektif mungkin. Proses
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi juga menggunakan
asumsi bahwa siswa yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan
keterampilan awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi
tertentu.

Oleh

karenanya

pengembangan

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:


a) Berorientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya (outcome
oriented)
b) Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
c) Bertolak dari Kompetensi Tamatan/ Lulusan
d) Memperhatikan prinsip pengembangan kurikulum

yang

berdifferensiasi
e) Mengembangkan aspek belajar secara utuh dan menyeluruh
(holistik), serta
f) Menerapkan prinsip ketuntasan belajar (mastery learning)
D. Tingkatan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pengembangan KBK seperti pengembangan kurikulum pada
umumnya terdiri dari beberapa tingkat, yaitu tingkat nasional, tingkat
lembaga, tingkat bidang studi dan tingkat satuan bahasan (modul)1[7].
1. Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional
Pada tingkat ini pengembangan kurikulum dibahas dalam lingkup
nasional, meliputi jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah dalam
rangka

merealisasikan

tujuan

pendidikan

nasional.

Jalur

pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan


1[7] Ibid, hlm 17
11

di sekolah melalui kegiatan pembelajaran secara berjenjang dan


berkesinambungan. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah
merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah
melalui kegiatan pembelajaran yang tidak harus berjenjang dan
berkesinambungan,

termasuk

pendidikan

keluarga.

Dalam

kaitannya dengan KBK,


2. Pengembangan Kurikulum Tingkat Lembaga
Pada tingkat ini dibahas pengembangan kurikulum untuk setiap
jenis lembaga pendidikan pada berbagai satuan dan jenjang
pendidikan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain ;
a. Mengembangkan kompetensi lulusan, dan merumuskan tujuan-tujuan
pendidikan pada berbagai jenis lembaga pendidikan.
b. Mengembangkan bidang studi-bidang studi yang akan diberikan untuk
merealisasikan tujuan tersebut.
c. Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan
(guru dan non-guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan.
d. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk member
kemudahan belajar.
3. Pengembangan Kurikulum Tingkat Bidang Studi (Penyusunan
Silabus)
Pada tingkat ini dilakukan pengembangan silabus untuk bidang studi
berbagai jenis lembaga pendidikan. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah:
a. Mengidentifikasi dan menentukan jenis-jenis kompetensi dan tujuan setiap
bidang studi
b. Mengembangkan
mengelompokannya

kompetensi
sesuai

dan

dengan

pokok-pokok
ranah

bahasan,

pengetahuan,

serta

pemahaman,

kemempuan (keterampilan), nilai, dan sikap


c. Mendiskripsikan kompetensi serta mengelompokannya sesuai dengan skope
dan sekuensi
d. Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi serta kriteria pencapaian

12

Penyusunan silabus mengacu pada KBK dan perangkat komponenkomponennya yang disusun oleh pusat kurikulum, badan penelitian dan
pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional. Sekolah yang mempunyai
kemampuan mandiri dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi dan
kebutuhannya setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan` setempat
(provinsi, kabupaten/kota).
Penyusunan silabus dapat dilakukan dengan melibatkan para ahli atau
instansi yang relefan di daerah setempat seperti tokoh masyarakat, instansi
pemerintah, instansi swasta termasuk perusahaan dan industry, atau perguruan
tinggi. Bantuan dan bimbingan teknis untuk penyusunan silabus sepanjang
diperlukan dapat diberikan oleh pusat kurikulum.
4. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Bahasan (modul)
Berdasarkan kompetensi-kompetensi yang telah diidentifikasi dan
diurutkan sesuai dengan tingkat pencapaiannya pada setiap bidang
studi, selanjutnya dikembangkan program-program pembelajaran.
Dalam KBK program pembelajaran yang dikembangkan adalah
modul, sehingga kegiatan pengembangan kurikulum pada tingkat
ini adalah menyusun dan mengembangkan paket-paket modul.

E. Pendekatan

Dalam

Pengembangan

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolok atau sudut
pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan
merujuk kepada pandangan tentang terjadinya sesuatu proses yang
sifatnya

masih

sangat

umum.
13

Dengan

demikian,

pendekatan

pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolok atau sudut


pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.
Pendekatan dalam pengembangan kurikulum merefleksikan
pandangan seseorang terhadap sekolah dan masyarakat. Para pendidik
pada umumnya tidak berpegang pada salah satu pendekatan secara
murni, tetapi menganut beberapa pendekatan yang sesuai. Pendekatan
dalam pengembangan kurikulum mempunyai arti yang sangat luas. Hal
tersebut bisa berarti penyusunan kurikulum baru (curriculum
construction), bisa juga penyempurnaan terhadap kurikulum yang
sedang berlaku (curriculum improvement).2[8] Jadi, pendekatan dalam
kurikulum adalah asumsi atau pandangan mengenai hal ihwal
pembelajaran.

Meliputi

perencanaan

pembelajaran,

pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi pembelajaran, seperangkat mata pelajaran, atau


yang

lebih

meluasnya

lagi

seluruh

kegiatan

dalam

sebuah

pembelajaran baik formal maupun non formal.


Dalam hal ini, Syaodih mengemukakan pendekatan
pengembangan kurikulum berdasarkan sistem pengelolaan dan
berdasarkan fokus sasaran.
1. Pendekatan

Pengembangan

Kurikulum

Berdasarkan

Sistem

Pengelolaan
Dilihat dari pengelolaanya pengembangan kurikulum
dibedakan antara system pengelolaan yang terpusat (sentralisasi) dan
tersebar (desentralisasi). Dengan adanya kebijakan otonomi daerah
maka pengelolaan kurikulum tidak lagi sentralisasi tetapi desentralisasi
sehingga pengembangan kurikulum lebih berbasis daerah atau.
kewilayahan. Model kurikulumnya akan beragam sesuai dengan
tujuan, fungsi, dan isi program pendidikan.
2. Pendekatan

Pengembangan

Sasaran
2[8] Neliwati, S.Ag. M.Pd, hlm 19
14

Kurikulum

Berdasarkan

Fokus

Berdasarkan fokus sasaran, pengembangan kurikulum


dibedakan antara pendekatan yang mengutamakan penguasaan ilmu
pengetahuan yang menekankan pada isi atau materi, penguasaan
kemampuan

standar

yang

menekankan

pada

penguasaan

kemampuan potensial yang dimiliki peserta didik sesuai dengan


tahap-tahap perkembangannya, penguasaan kompetensi yang
menekankan pada pemahaman dan kompetensi tertentu disekolah,
pembentukan pribadi yang menekankan pada pengembangan atau
pembentukan

aspek-aspek

kepribadian

pengetahuan,

keterampilan,

maupun

penguasaan

kemampuan

memecahkan

kemasyarakatan
kemampuan

yang

nilai

menekankan

memecahkan

secara
dan

utuh,

baik

sikap,

dan

masalah

pada

masalah-masalah

sosial

pengembangan
yang

ada

dimasyarakat.
3. Pendekatan Kompetensi
Pendekatan
kompetensi

merupakan

pendekatan

pengembangan kurikulum yang menfokuskan pada penguasaan


kompetensi tertentu berdasarkan tahap-tahap perkembangan peserta
didik. Peserta didik berada dalam proses perkembangan yang
berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran
terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar
yang

ada

dan

diberikan

oleh

lingkungan.

Setiap

tahap

perkembangan memiliki sejumlah potensi bawaan yang dapat


dikembangkan, tetapi pemekarannya sangat tergantung pada
kesempatan yang ada dan kondisi lingkungannya. Pendidikan
merupakan lingkungan utama yang memberikan kesempatan dan
dukungan bagi perkembangan potensi-potensi peserta didik.
Setiap peserta didik memiliki potensi bawaan sendirisendiri, meskipun aspek-aspek perkembangannya sama tetapi
tingkatannya berbeda-beda. Seorang peserta didik memiliki
kemampuan berpikir matematis yang tinggi, tetapi peserta didik
15

lain berpikir ekonomi, politik, keruangan, keterampilan sosial, atau


komunikasi yang tinggi. Guru-guru diharapkan dapat mengenali
dan memahami potensi-potensi, terutama potensi-potensi tinggi
yang dimiliki peserta didiknya. Dengan bekal pemahaman tersebut,
mereka diharapkan dapat membantu mengembangkan potensipotensi peserta didik sehingga dapat berkembang secara optimal.
4. Keterkaitan KBK dengan Pendekatan Lain
Keterkaitan

kurikulum

berbasis

kompetensi

dengan

pendekatan kemampuan standar, adalah bahwa keduanya samasama menekankan pada kemampuan, hanya berbeda jenis
kemampuannya. Dalam pendekatan kompetensi, kemampuan yang
dikembangkan adalah kemampuan yang dikembangkan adalah
kemampuan yang mengarah pada pekerjaan, sedangkan dalam
pendekatan

kemampuan

standar

pada

kemampuan

umum.

Pendekatan kemampuan standar dapat dipandang sebagai bagian


dari

pendekatan

kompetensi,

atau

sebaliknya

pendekatan

kemampuan standar mencakup kompetensi umum dan kompetensi


pekerjaan.
Kurikulum berbasi kompetensi terkait dengan pendekatan
pengembangan

pribadi,

karena

standar

kompetensi

yang

dikembangkan berkenaan dengan pribadi peserta didik, seperti


kompetensi intelektual, sosial dan komunikasi, penguasaan nilainilai, dan keterampilan-keterampilan. Bedanya, dalam kurikulum
berbasis kompetensi lebih difokuskan pada kompetensi potensial
yang ensesial, sedang pengembangan pribadi lebih menekankan
keutuhan perkembangan kemampuan-kemampuan tersebut.
Kurikulum berbasis kompetensi terkait dengan pendekatan
ilmu pengetahuan, karena kompetensi yang dikembangkan, seperti
kompetensi intelektual, dan sosial berkaitan dengan bidang-bidang
ilmu pengetahuan, seperti IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Olahraga,
keterampilan, dan kesenian. Perbedaannya, kurikulum berbasis
16

kompetensi lebih menekankan pada kemampuan melakukan


sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Di sisi lain,
pendekatan ilmu pengetahuan lebih menekankan pada hasil belajar,
namun tidak mengabaikan kompetensi dari pengetahuan tersebut.
Kurikulum

berbasis

kompetensi

diarahkan

untuk

mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai,


sikap, dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam
bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh
tanggung jawab.
Kurikulum berbasis kompetensi memfokuskan pemerolehan
kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu
kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat
tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa. Sehingga
pencapaiannya

dapat

diamati

dalam

bentuk

prilaku

atau

keterampilan peserta didik sebagai sesuatu kriteria keberhasilan.


Kurikulum berbasis kompetensi juga menuntut guru yang
berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam
rangkaian meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam hubungannya
dengan pembelajaran memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses
belajar. Kay (1977) dalam Mulyasa, mengemukakan bahwa
pendidikan berbasis kompetensi selalu dilandasi oleh rasionalitas
yang

dilakukan

dengan penuh kesadaran

mengapa

dan

bagaimana jadi perbuatan tersebut dilakukan.3[9]


Depdiknas (2002) dalam Mulyasa mengemukakan bahwa
kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi pesertadidik baik
secara individual maupun klasikal
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan
keberagaman
3[9] Mulyasa, 2004, Kurikulum Bebasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik dan
Implementasi, Bandung:PT. Remaja Rosdakarya, hlm 23
17

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan


dan metode yang bervariasi
4. Sumber belajar bukan guru, tetapi juga sumber belajar lainnya
yang memenuhi unsur edukatif
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam
upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi
Kurikulum berbasis kompetisi (KBK) dapat diartikan
sebagai suatu kurikulum yang menekankan pada pengembangan
kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar
performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta
didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.
KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan pemahaman,
kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat
melakukan

sesuatu

dalam

bentuk

kemahiran,

ketepatan,

dan

keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.

KBK memfokuskan pada perolehan kompetensi-kompetensi


tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu kurikulum ini mencakup
sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang
dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapainnya dapat dinikmati
dalam bentuk perilaku atau ketrampilan peserta didik sebagai suatu
kriteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk
membentuk peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkat
kompetensi minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang
telah

ditetapkan.

Sesuai

dengan

konsep

belajar

tuntas

dan

pengembangan bakat, setiap peserta didik harus diberi kesempatan


untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan kemampuan dan kecepatan
belajar masing-masing.
KBK menurut guru yang berkualitas dan profesional untuk
melakukan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
18

Meskipun demikian konsep ini tentu saja tidak dapat digunakan


sebagai resep untuk memecahkan semua masalah pendidikan, namun
dapat memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap perbaikan
pendidikan.
Kurikulum adalah subsistem dalam dunia pendidikan yang
tidak dapat dipisahkan dari proses dinamika yang terjadi dalam
masyarakat. Sedangkan kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan
dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak. Jadi, Kurikulum Berbasis Kompentensi adalah kurikulum
yang secara dominan menekankan pada kompetensi yang harus
dikuasai oleh siswa dalam setiap mata pelajaran pada setiap jenjang
sekolah. Sebagai implikasinya akan terjadi pergeseran dari dominasi
penguasaan kongnitif menuju penguasaan kompetensi tertentu.
Kompetensi yang dituntut terbagi atas tiga jenis, yaitu:
1. Kompetensi tamatan yaitu, kompetensi minimal yang harus
dicapai oleh siswa setelah menamatkan sesuatu jenjang
paendidikan tertentu.
2. Kompetensi mata pelajaran, yaitu kompetensi minimal yang
harus dicapai pada saat siswa menyelesaikan mata pelajaran
tertentu.
3. Kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal yang harus
dicapai oleh siswa dalam setiap bahasan atau materi tertentu
dalam satu bidang tertentu.
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kerangka inti
yang memiliki empat komponen sebagai framework, yaitu:
1. Kurikulum

dan

hasil

belajar.

Memuat

perencanaan

pembangunan kompetensi peserta didik yang perlu dicapai


secara keseluruhan sejak lahir sampai 18 tahun dan juga
memuat hasil belajar, indikator, dan materi.
2. Penilaian berbasis kelas. Memuat prinsip sasaran dan
pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan
19

konsistensebagai akuntabilitas public melalui identifikasi


kompetensi

dari

indikator

belajar

yang

telah

dicapai,

pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah


dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
3. Kegiatan belajar mengajar. Memuat gagasan pokok tentang
pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang
ditetapkan serta gagasan pedagogis dan adragogis yang
mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik.

4. Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Memuat berbagai


pola pemberdayaan tenaga pendidikan dan sumber daya lain
untuk meningkatkan mutu hasil belajar, pola ini dilengkapi
dengan gagasan pembentukan kurrikulum (curriculum council),
pengambangan perangkat kurikulum.4[10]

4[10] Drs. Choirul Anam, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam,


Sidoarjo: Qisthos Digital Press, 2009. Hal 58
20

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai
suatu

konsep kurikulum

kemampuan

melakukan

yang

menekankan

(kompetensi)

pada

tugas-tugas

pengembangan
dengan

standar

performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik


berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi yang meliputi:
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta
didik.
Kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai
berikut :
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik
secara individual maupun klasikal
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan
keberagaman
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan
metode yang bervariasi
d. Sumber belajar bukan guru, tetapi juga sumber belajar lainnya
yang memenuhi unsur edukatif

21

e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya


penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Upaya pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi perlu
memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
a. Berorientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya (outcome
oriented)
b. Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
c. Bertolak dari Kompetensi Tamatan/ Lulusan
d. Memperhatikan prinsip pengembangan kurikulum

yang

berdifferensiasi
e. Mengembangkan aspek belajar secara utuh dan menyeluruh
(holistic)
f. Menerapkan prinsip ketuntasan belajar (mastery learning)
g. penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
B. Saran
Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah
ilmu pengetahuan kepada pembaca. Oleh karena itu, harapan penulis
kepada pembaca semua agar sudi kiranya memberikan kritik dan saran
yang bersifat membangun.

22