Anda di halaman 1dari 634

PEMBAHASAN TO 4

OPTIMAPREP
BATCH IV EXIT EXAM 2014
Office Address:

Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan


(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694
Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2

www.optimaprep.com

dr. Widya, dr. Eno, dr. Yolina


dr. Cemara, dr. Ayu
dr. Hendra

Ilmu Penyakit Dalam

1. PPOK
Sesak napas
Poor exercise
tolerance
Batuk kronik
dengan atau tanpa
sputum
Wheezing atau
rhales
Gagal napas / cor
pulmonale.

Sumber: Qaseem A, et al. Diagnosis and Management of Stable Chronic Obstructive Pulmonary
Disease. Annals of Internal Medicine 2011:155(3). (American College of Physician Guidelines)

2. Ulkus Gaster

3. Hipertensi pada CHF, DM dan CKD


(ACE inhibitor)

Sumber: Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure, 2003.

4. Intoksikasi Asam Jengkolat


(pemberian Natrium Bikarbonat)
Toksisitas asam jengkolat disebabkan oleh solubilitasnya yang rendah dalam
kondisi asam setelah mengkonsumsi jengkol. Asam amino mengendap dalam
bentuk kristal yang menyebabkan iritasi ke tubulus renal dan saluran kemih.
Kristal asam jengkolat juga memiliki efek toksik langsung ke sel-sel tubulus renal.
Hal ini menyebabkan gejala berupa rasa tidak nyaman di abdomen, nyeri
pinggang, kolik, mual, muntah, disuria, hematoria, dan oligouria, terjadi 2-6 jam
setelah konsumsi.
Dalam urinalisis dapat ditemukan eritrosit, sel epitel, protein dan kristal asam
jengkolat berbentuk jarum.
Tatalaksana:
Mild rawat jalan, banyak minum air putih, berikan NaHCO3 (4 tab)
Severe rawat inap, IVFD D 5% + Bicnat, dose 2 - 5 mEq, in 4 - 8 hours, antibiotik (bila
ditemukan infeksi sekunder), diuretik
Sumber: Felix D. Toxic Amino Acids. In: Toxic Substances in Crop Plants. Woodhead Publishing. 1991.
pp. 2148. Barsoum RS and Sitprija V. Tropical Nephrology. In: Diseases of the Kidney and Urinary
Tract: Clinicopathologic Foundations of Medicine. 2007. p.2037.

5. Penegakan Diagnosis Hipertensi

Nilai tekanan darah yang sudah didapatkan harus


dikonfirmasi. Konfirmasi dilakukan pada 1 kunjungan
berikutnya dengan minimal 2x pengukuran tekanan darah
per kunjungan.
Sumber: Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure, 2003.

6. Gagal Ginjal Akut Prerenal

6. Gagal Ginjal Akut Prerenal

Sumber: Anderson RJ, Schrier RW: Acute renal failure. In Diseases of the Kidney. Edited by Schrier
RW, Gottschalk CW. 1997:10691113.

7. Diagnosis DM dan TGT

8. Ketoasidosis Metabolik
Table 323-5 Manifestasion of Diabetic Ketoacidosis

Symptoms
Nausea/vomiting
Thirst/polyuria
Abdominal pain
Shortness of breath
Precipitating events
Inadequate insulin
administration
Infection (penumonia/
UTI/sepsis)
Infarction (cerebral,
coronary, mesentric,
peripheral)
Drugs (cocaine)
Pregnancy

Physical findings
Tachycardia
Dry mucous
membranes/reduced skin
turgor
Dehydration/hypotension
Tachypnea/Kussmaul
respirations/respiratory
distress
Abdominal tenderness
(may resemble acute
pancreatitis or surgical
abdomen)
Lethargy/obtundation/cer
ebral edema/possibly
coma

Table 323-4 Laboratory values in Diabetic Ketoacidosis


(DKA) and Hyperglycemic Hyperosmolar State
(HHS)
DKA
HHS
Glucose
250-600
600-1200
Sodium
125-135
135-145
Potassium
Normal to
Normal
Magnesium
Normal
Normal
Chloride
Normal
Normal
Phosphate

Normal
Creatinine
Slightly
Moderately
Osmolality
300-320
330-380
Plasma ketones
++++
+/Serum
<15 meq/L
Normal to slightly
bicarbonate

Arterial pH
6,8-7,3
>7,3
Arterial PCO2
20-30
Normal
Anion gap

Normal to slightly

8. Ketoasidosis
Diabetik

8. Ketoasidosis Diabetik
Hiperglikemia menyebabkan glukosuria, deplesi volume, dan
takikardia. Pernapasan Kussmaul dan fruity odor dari napas pasien
(akibat asidosis metabolik dan peningkatan aseton) merupakan tanda
klasik KAD.
Pada soal, hasil laboratorium yang didapat adalah serum aseton (+).
Pemeriksaan serum keton pada dasarnya hanya menilai keberadaan
acetoacetate dan acetone (menggunakan reaksi nitropruside), bukan
beta-hydrocybutyrate (badan keton) merupakan penanda penting
dalam KAD dan diproduksi 3x lebih banyak dibandingkan
acetoacetate.
Sumber: Diabetes Mellitus. Harrisons Principle of Internal Medicine 16th Edition. 2005. p2158-2160.

9. Koma Ketoasidosis
Mekanisme yang mendasari DKA dan HHS tidak jauh berbeda yaitu
berkurangnya konsentrasi efektif dari insulin disertai peningkatan
level hormon counterregulatory.
Perbedaan KAD dan HHS:
HHS memiliki karakteristik defisiensi insulin relatif untuk mempertahankan
normoglikemia, namun masih terdapat cukup insulin untuk mencegah lipolisis
dan ketogenesis.
Pasien HHS memiliki konsentrasi insulin lebih tinggi (dengan menilai level Cpeptide) dan konsentrasi asam lemak bebas dan hormon counterregulatory
yang lebih rendah dibandingkan DKA.
Pada HHS tidak ditemukan asidosis metabolik, ketosis, pernapasn Kussmaul,
fruity odor yang merupakan ciri khas pada KAD.
Sumber: Umpierrez GE, et al. Diabetic ketoacidosis and hyperglycemic hyperosmolar state. Diabetes
Spectrum. 2002;15(1):28-35.

10. Arthritis Gout


Faktor Resiko
Pria usia tua, wanita menopause, riwayat keluarga dengan artritis
gout, gangguan ginjal, menerima terapi diuretik
Patofisiologi
Gout disebabkan hiperuricemia dan kelainan ekskresi dari asam urat.
Kelebihan asam urat tersebut mengakibatkan deposit pada rongga
synovial, sehingga mengakibatkan penarikan sel-sel PMN serta reaksi
inflamasi yang menyebabkan sinovitis.

Manifestasi klinis
Fase akut: Nyeri sendi disertai kemerahan, bengkak dan panas pada sendi
MTP 1 (podagra)
Sendi yang terlibat: sendi besar, seperti ankle, pergelangan tangan, lutut,
siku, namun bisa menyerang jari tangan.
Fase kronis. Gout poliartikular: nyeri, kaku sendi serta deformitas sendi.
Bisa terdapat tofi, yaitu penimbunan kristal pada jaringan lunak. Bisa
terdapat gejala batu ginjal.
Keterlibatan mata: tofus pada kelopak mata dan penurunan penglihatan

Pemeriksaan Penunjang
Artrosentesis dan analisa cairan sendi: menunjukkan adanya kristal
urat seperti tusuk gigi. Cairan synovial didominasi PMN, dengan
hitung sel antara 2000-50000.
Serum asam urat
Radiologi:
Foto polos menunjukkan adanya erosi synovial serta destruksi tulang

Fase akut:
NSAIDs: Indometacin 3x25-50 mg, Ibuprofen 3x800mg, Diclofenac
3x50 mg.
Colchisine: 0,6 mg tiap jam hingga gejala mereda.
Kortikosteroid: prednisolon 30-50 mg/hari.
Fase kronis:
Obat hipouricemic: allopurinol 300mg-800mg 1x1 setiap hari.

11. Pengobatan Malaria

Gambaran schizont dan gambaran berbentuk


headphone khas pada malaria P.falciparum

11. Pengobatan Malaria

Sumber: Harijanto PN. Malaria rreatment by using artemisinin in Indonesia. Acta Med IndonesIndones J Intern Med. 2010;42(1):51-56.
Pedoman Pengobatan Malaria. Departemen Kesehatan 2007.

12.
Treatmen
t Failure
pada
Malaria

13. Pengobatan TB pada HIV


Kondisi
TB paru, CD4 < 50 sel/mm3, atau TB
ekstrapulmonal
TB paru, CD4 50-200 sel/mm3 atau
hitung limfosit total < 1200 sel/mm3

TB paru, CD4 > 200 sel/mm3 atau


hitung limfosit total > 1200/mm3

Sumber:

Rekomendasi
Mulai terapi OAT, segera mulai terapi
ARV jika toleransi terhadap OAT telah
tercapai
Mulai terapi OAT. Terapi ARV dimulai
setelah 2 bulan

Mulai terapi OAT. Jika memungkinkan


monitor hitung CD4. Mulai ARV sesuai
indikasi* setelah terapi TB selesai

Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. PDPI 2002.

14. Acute kidney injury

LEPTOSPIROSIS
Gejala dan tanda
Fase 1

Flu-like syndrome
The first phase resolves, and the patient is
briefly asymptomatic until the second
phase begins

Fase 2

This is characterized by meningitis, liver


damage (causing jaundice), and renal
failure
high fever, severe headache, chills, muscle
aches, and vomiting, and may include
jaundice, red eyes, abdominal pain,
diarrhea, and rash

Komplikasi
Complications include meningitis,
extreme fatigue, hearing loss,
respiratory distress, azotemia, and renal
interstitial tubular necrosis, which
results in renal failure and often liver
failure (Weil's disease)

15. Abdominal pain

GERD
The most-common symptoms of
GERD are:
Heartburn
Regurgitation
Trouble swallowing (dysphagia)

Less-common symptoms include:

Pain with swallowing odynophagia


Increased salivation (also known as
water brash)
Nausea
Chest pain

Prevention

Sleep on the left side, or with your


upper body raised
Eat smaller meals
Lose weight
Avoid acidic and rich foods

Disease

Signs and Symptoms

Dispepsia

Primary: Single chancre (a firm, painless, non-itchy skin


ulceration), Secondary: A diffuse rash and Tertiary syphilis
with gummas, neurological, or cardiac symptoms

kolesistitis

Fever (slowly progressive), abdominal pain, diarrhea or


constipation, intestinal perforation (after 2-3 weeks of
infection)

pankreatitis

Fever, headache, malaise, and sometimes nausea and


vomiting. Rash at the site of the tick bite.

appendisitis

Mentioned above

16. Pengaruh rifampicin pada pil KB


A review of medical literature suggests that rifampicin decrease the
concentration of the hormones by inducing certain liver enzymes
called cytochrome P-450 enzymes (P-glycoprotein inducer).
The therapeutic blood levels of drugs, such as oral contraceptives,
that are metabolized by these enzymes will be altered if taken with
rifampin thus decreasing the effectiveness to prevent pregnancy

17. Rontgent Paru

Rontgent paru patologis


Honey comb apperance
(bronchiectasis)

Kavitas paru
(TB/Pneumonia)

Boot-shaped
heart (TOF)

PPOK

18. Obat inhalasi


Kelebihan obat asma inhalasi dibandingkan obat yang diminum:
Memberikan efek lebih cepat untuk mengatasi serangan asma, karena setelah
dihisap obat akan langsung menuju paru-paru untuk melonggarkan saluran
pernafasan yang menyempit
Memerlukan dosis yang lebih rendah untuk mendapatkan efek yang sama
Efek samping lebih ringan
Harga untuk setiap dosis lebih murah

19. Abses paru


Lung abscess is defined as
necrosis of the pulmonary
tissue and formation of
cavities containing
necrotic debris or fluid
caused by microbial
infection.
The formation of multiple
small (< 2 cm) abscesses is
occasionally referred to as
necrotizing pneumonia or
lung gangrene

Fungus ball

Left lower lobe


bronchogenic
carcinoma

Koch
Pulmonum

20. Mitral valve prolaps


Mitral valve prolapse

when the left ventricle


contracts, one or both flaps
of the mitral valve flop or
bulge back (prolapse) into
the left atrium.
This can prevent the valve
from forming a tight seal.

Mitral stenosis

21. Pulsus paradoxus


Pulsus paradoxus is an exaggerated decline in blood pressure during
inspiration. Normally, systolic pressure falls less than 10 mm Hg
during inspiration. In pulsus paradoxus, it falls more than 10 mm Hg
Pulsus paradoxus is thought to result from an exaggerated
inspirational increase in negative intrathoracic pressure.
Normally, systolic pressure drops during inspiration because of blood
pooling in the pulmonary system. This, in turn, reduces left
ventricular filling and stroke volume and transmits negative
intrathoracic pressure to the aorta.
Conditions associated with large intrapleural pressure swings, such
as asthma,
or those that reduce left-sided heart filling, such as pericardial
tamponade, produce pulsus paradoxus.

22. EKG

Mekanisme pembentukan EKG

EKG pada serangan jantung

23. Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah dilatasi abnormal dan permanen dari bronkus.
Hal ini terjadi karena destruksi dan peradangan pada dinding dari
bronkus. Jaringan kartilago, otot, dan elastik digantikan oleh jaringan
fibrosa.
Etiologi:
Infeksi (Pseudomonas aeruginosa dan Haemophilus Influenzae) produksi
toksin yang merusak epitel dan merusak pembersihan siliar.
Noninfeksi Inhalasi materi toksik seperti amonia atau aspirasi asam
lambung

Manifestasi klinis
Pasien biasanya mengeluh batuk
produktif
Hemoptisis (50-70% pasien, akibat
perdarahan dari mukosa yang
rapuh)
Gejala pneumonia, khususnya jika
bronkiektasis disebabkan oleh
agen infeksi
Pada pemeriksaan fisik dijumpai
rhonki, wheezing yang
menunjukkan kerusakan bronkus
yang mengandung sekret.
Pasien dengan hypoxemia kronik
juga akan memperlihatkan gejala
seperti clubbing finger.

Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan rontgen akan dijumpai berbagai variasi foto
rontgen, seperti penebalan dinding saluran pernafasan, sekresi yang
banyak juga dapat menyebabkan gambaran opaq pada tubular.
Pada bronkiektasis sakular akan memeprlihatkan ruangan cystic
dengan atau tanpa air fluid level.

Tata laksana
Antibiotik memegang peranan penting dalam penanganan dari
bronkiektasis. Pada serangan akut, antibiotik baisanya digunakan.
Pemberian antibiotik harus disesuaikandengan pewarnaan gram dan
kultus. Pengobatan empiris umumnya diberikan dengan pilihan
antibiotik: ampicillin, amoxicilin dan trimethoprim-sulfamethoxazole
Mukolitik
Bronkodilator (memperbaiki obstruksi dan pembersihan sekret)
Reseksi surgikal pada kasus hemoptisis masif yang tidak membaik
dengan pengobatan konservatif)

24. Leukimia
Berdasarkan asal selnya
Tipe limfoid dan myeloid.

Berdasarkan perjalanan penyakit


Leukemia akut: berlangsung cepat. Pasien dapat mengeluh
mengalami pendarahan, anemia, infeksi, atau kondisi yang
disebabkan infiltrasi sel ganas ke organ-organ.
Leukemia kronik: Umumnya pasien tidak menunjukan
gejala. Terkadang kecurigaan yang mengarah ke leukemia
kronik berasal dari pemeriksaan kesehatan rutin yang
menunjukan kelainan pada pemeriksaan darah tepi.

Usia

AML

CML

ALL

CLL

>65 tahun

50 th (median)

Bimodal: <10
tahun & lansia

65 (median)

Fase kronik: blast


<10%
Fase akselerasi:
blast 10-20%

Limfoblast
>20%

Sumsum:
normohiperseluler, sel
B
Perifer:
limfositosis
>5000/mm3

Granul (-)
Kromosom
Philadelphia

Smudge cells

Sumsum Blast >20%


tulang

karakter
istik

Lain-lain

Granul (+), Auer rods Kromosom


(+),
Philadelphia
myeloperoksidase
fusi Bcr-Abl
(+)

Limfadenopati
(80%),
hepatosplenom
egali (50%

Manifestasi Klinis
Akibat peningkatan produksi sel darah putih, maka dapat terjadi penekanan
produksi sel darah yang lain, yang dapat berakibat sebagai gejala anemia,
pendarahan, infeksi
Infiltarsi organ: massa abdomen, perut begah, kejang, nyeri tulang, dll
Asimtomatik, terutama jenis kronis
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai hepatosplenomegali, anemia pucat,
manifestasi perdarahan.

Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer: pansitopenia atau bisitopenia dengan atau tanpa
leukositosis
Apusan darah tepi: sel abnormal tergantung jenis leukemia
Biopsi sumsum tulang
Sitokimia Jenis leukemia
Sitogenetika prognosis

25. Irritable Bowel Syndrome


Diagnosis ini merupakan diagnosis perekslusionam
Berbeda dengan IBD yang merupakan kelainan dengan dasar
patologis tertentu, pada IBS umumnya tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan penunjang.
Kriteria diagnosis:
Nyeri abdomen atau perasaan tidak nyaman dengan frekuensi 3 kali per bulan
dalam waktu tiga bulan terakhir, beserta dua atau lebih gejala berikut:
Nyeri membaik dengan defekasi
Perubahan frekuensi feses
Perubahan bentuk feses

IBD vs IBS

26. Pneumonia Pada Imunocompromised


host
Pada individu dengan gangguan imunitas maka gejala pneumonia bisa
menjadi tidak khas.
Selain itu, organisme penyebab pneumonia juga dapat bersifat
atypikal.
Infiltrat paru dengan atau tanpa gejala infeksi merupakan komplikasi
yang paling serius dan umum pada pasien dengan sistem imun yang
tertekan karena:
Penyakit
Terapi imunosupresif untuk transplan organ
Kemoterapi untuk tumor
radiasi

Etiologi Infeksi

Infeksi CMV
Ditemukan badan Inklusi
intranuclear basophilic
yang dikelilingi oleh halo
jernih
Pada paru infeksi CMV
dapat menyerang sel
alveolar, makrofag dan
epitel.
Sel yang terkena biasanya
membesar dan
menunjukkan
pleomorphism nuklear

Infeksi Pneumocystis Jirovecii


Pasien dapat mengeluh gejala infeksi
paru seperti sesak nafas, demam
dan batuk nonproduktif
Pada pemeriksaan foto thoraks
ditemukan infiltrat difus pada regio
perihilar
Diagnosis definitif dibuat
berdasarkan pewarnaan
histopatologis methenamine silver
yang dapat mewarnai dinding dari
kista pneumocystis

BEDAH TO4

27. Osteopororsis
Penyakit tulang skeletal sistemik yang
dikarakteristikkan dengan penurunan
massa tulang dan deteriorasi
mikroarsitektur dari tulang yang dapat
menyebabkan tulang menjadi fragil dan
mudah fraktur

optimized by optima

optimized by optima

Osteoporosis Tipe 1
(POSTMENOPAUSAL)
affects primarily trabecular bone
5 years after menopause
weight-bearing bones fractures vertebrae, ankle, and distal radiu

optimized by optima

after age 70 but may begin as early as age


significant loss of both trabecular and cortical bone.
hip and multiple wedge vertebral fractures are the most common types
of fractures

Osteoporosis type III (Secondary)

Muncul pada segala usia, pada berbagai jenis kelamin


Terdapat kehilangan tulang trabekular dan kortikal yang signifikan
Spine and hip fractures
Etiology:
Immobilization
Medications
anticoagulant heparin
glucocorticoids (eg, prednisone)
synthetic thyroid hormoneincrease osteoclasts, lower serum calcitonin, and promote bone
resorption
Anticonvulsantsincrease metabolism of vitamin D
cyclosporine

Etiology
disease
hyperthyroid elevated serum levels thyroid hormone and
increased urinary calcium excretion
hyperparathyroid increased blood parathyroid hormone
concentrations
Cushings syndrome glucocorticoid levels are high
gastrointestinal disorders (e.g., obstructive jaundice) calcium
malabsorption and deficiency and promote osteoporosis

genetic predisposition
Lifestyle
Smokingincreasing the metabolism of sex hormones
excessive use of alcoholnutritional deficiencies in calcium and
vitamin D
Caffeine
aluminum-containing antacids
urinary calcium excretion
lack of physical activity

Diagnosis of Osteoporosis
Physical examination
Measurement of bone mineral content

Dual X-ray absorptiometry (DXA)


Ultrasonic measurement of bone
CT scan
Radiography

optimized by optima

Physical examination
Osteoporosis
Height loss
Body weight
Kyphosis
Humped back
Tooth loss
Skinfold thickness
Grip strength

Vertebral fracture
Arm span-height
difference
Wall-occiput
distance
Rib-pelvis distance

optimized by optima

Physical examination

Amanda D. Green. JAMA 2001 vol.292(23)


optimized by optima

Dual X-ray absorptiometry


WHO criteria - Hip BMD

optimized by optima

28. Ankle Sprain


Injury to the Talofibular
ligament/ calcaneofibular
ligament

Riwayat trauma
Bengkak/discoloration
Pain/tenderness
Inversion restriction
Anterior drawer test for ankle
X-ray


The anterior drawer
Menilai integritas dari ligamen talofibular
anterior.
Cara pemeriksaan:
Posisi kaki sedikit plantar fleksi
Pegang kaki dengan tang kiri
Tarik tumit kearah antrior dengan
tangan kanan
Positive test Laxity and poor
endpoint on forward translation

The inversion stress test


Menilai integrotas ligamen
calcaneofibular
Cara pemeriksaan:

Pegang tumit dengan tangan


kiri
Inversi kaki dengan tangan
kanan
Compare to opposite side

Grading
Grade I: anterior talofibular
ligament (ATF)

Grade II: ATF plus


calcaneofibular ligament (CF)

Grade III: ATF plus CF plus


posterior talofibular ligament

Injury

Clinical Findings

Imaging

Ankle sprain

Positive drawer/inversion
test

X-Ray

Achilles Rupture

Thompson test, tendon


gap, unable to plantaflex
foot

USG

Metatarsal fracture

Bone tenderness over the


navicular bone or base of
the fifth metatarsal

X-Ray

Tarsal Tunnel Syndrome

Tinnel test (+), paresthesias MRI


along tibial nerve

Plantar fasciitis

Severe plantar pain, foot


cord tightness

Not needed

29. Colles Fracture


Fraktur tersering pada tulang yang
mengalami osteoporosis
Extra-Articular : 1 inch of distal Radius
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi dorsofleksi
Typical deformity : Dinner Fork
Deformity is : Impaction, dorsal
displacement and angulation, radial
displacement and angulation and avulsion of
ulnar styloid process
http://www.learningradiology.com

Colles Fracture

optimized by optima

http://www.learningradiology.com

30. Renal Puncture (Antegrade


Pyelography) (AP)
Indikasi:
IVP tidak adekuat
Non visualized pelviocalyceal system
Level obstruksi tidak terlihat atau tidak jelas

Retrograde Pyelography tidak dapat dilakukan atau tidak berhasil

Kontraindikasi:
Bleeding diathesis
The possibility of a renal hydatid cyst.

Foto Polos
Indikasi:

Scout film, primary survey


Untuk follow-up batu yang telah
terdeteksi
Cek penempatan
kateter/stents/drains/benda asing

False +:

vascular calcifications
bowel opacities
Phleboliths
Appendicoliths

False - :

stone over sacrum/ilium


Batu radiolusen (uric acid)

If scout before ESWL shows no


stone, may need to reassess

Contrast Films
Dengan cepat
dikonsentrasikan oleh ginjal
dan menyebabkan gambaran
opak dari traktus urinarius
Low osmolar nonionic contrast
material (LOCM)- 50% less
osmolar load- fewer
complications than high
osmolar
Reactions: dose related or
idiosyncratic
Allergic, CV changes, renal
toxicity, shock
Tx- antihistamines, beta agonist,
epinephrine
Renal toxicity risk (average
patient)- 1%

Direct toxicity to renal tubules,


ischemia, altered circulation,
precipitation of uric acid
Prevention- well hydrated, LOCM,
small load

Plain FilmFoto Calculus


Polos
Left Distal Ureteral

IV Urography
r
Untuk mengevaluasi urothelial
abnormality, hematuria, urolithiasis
Contrastbolus or drip
Fase Nephrographic immediate to
first minutemelihat parenchyma
Fase Pyelographic phase5
minutes melihat collecting system

Retrograde
Urethrogram
(RUG)
Evaluasi striktur uretra
anterior dan posterior,
trauma
8-16 F foley in fossa
navicularis, fill balloon
with 1-2 mL and inject
30-50% contrast while
filming obliquely
Some resistance at
membranous urethra
and sphincter

Retrograde Pyelography
Evaluasi renal collecting system and ureters
Indikasi:

Hematuria
contrast sensitivity
suboptimal IVU
needs cystography

Pre-op get sterile urine culture


IV sedation
Scout, injection catheter placed in UO, inject 50% contrast under real time fluoro,
drainage film at 5-10 minutes
Backflow- contrast extravasation into surrounding tissues due to high injection
pressure

31. Femur Fracture


Postoperative mobilization
Type A1 proximal femoral fractures
Mobilisasi dilakukan saat telah stabil setelah fiksasi internal dan full weight
bearing diperbolehkan

Shaft fracture
Mobilisasi dilakukan setelah post operasi
bearing)

hari-I (Partial weight

Distal fracture
Gentle range of motion in a hinged-knee brace is begun early and continued
for 6 weeks

32. Superficial Dermoid Cyst


Presents in infancy

No displacement of globe
overgrowth of normal, non-cancerous tissue
in an abnormal location.
The ones in and around the eye are usually
comprised of skin structures and fat

Most commonly superotemporal


Freely mobile under skin
http://www.aapos.org

Occasionally superonasal
Posterior margins are easily palpable

Deep dermoid cyst


Presents in adolescence or adult life

Non-axial proptosis

May be extension into temporalis


fossa or intracranially
Associated bony defects

CT shows a heterogenous, wellcircumscribed lesion

May leak and cause granulomatous


inflammation and fibrosis

Diagnosis

Histologic

Lipoma

Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst

Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes


blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum
(comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst

Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded


by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin.
Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the
cyst wall

Epidermal Cyst

A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by


keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin

Lipoma

http://emedicine.medscape.com/article/120034

33. Thyroid Enlargement (goiter)


Abnormal enlargement of the thyroid gland and can
occur for a number of different reasons

http://emedicine.medscape.com/article/120034

Toxic goiter
associated with hyperthyroidism
Examples:

Classification

diffuse toxic goiter (Graves disease)


toxic multinodular goiter
toxic adenoma

Nontoxic goiter
Without hyperthyroidism or hypothyroidism
It may be diffuse or multinodular
Examples:
goiter identified in early Graves disease
endemic goiter
chronic lymphocytic thyroiditis (Hashimoto disease)

Underactive (hypothyroid goiter)

Disease

Clinical Feature

Tiroiditis

the inflammation of the thyroid gland,acute or


subacute, fatigue, malaise, and myalgia, Fever, pain
hyperthyroidismhypothyroidism

Adenoma folikuler

most common, asymptomatic thyroid mass/nodule,


firm and nontender nodule,obstruction sign, no thyroid
disease symptoms
Lab: TSH N, fT4 N, T3 N

Toksik goiter

Thyrotoxic symptoms.
Lab: TSH , fT4/N, T3

Struma Noduler non toksik

not associated with abnormal thyroid function.


Lab: TSH /, Ft4 N, T3 N

http://emedicine.medscape.com/article

34. Thyroid Cancer

Symptoms
The most common presentation of a thyroid
nodule, benign or malignant, is a painless mass in
the region of the thyroid gland (Goldman, 1996).
Symptoms consistent with malignancy

Pain
dysphagia
Stridor
hemoptysis
rapid enlargement
hoarseness

optimized by optima

Faktor Risiko
Paparan radiasi pada tiroid

Age and Sex


Nodul jinakpaling sering pada wanita 20-40 years (Campbell,
1989)
5%-10% of these are malignant (Campbell, 1989)
Laki-laki memiliki risiko lebih tinggi memiliki nodul yang ganas
Family History
History of family member with medullary thyroid carcinoma
History of family member with other endocrine abnormalities
(parathyroid, adrenals)
History of familial polyposis (Gardners syndrome)

optimized by optima

Evaluation of the thyroid Nodule


(Physical Exam)
Examination of the thyroid nodule:
consistency - hard vs. soft
size - < 4.0 cm
Multinodular vs. solitary nodule
multi nodular - 3% chance of
malignancy (Goldman, 1996)
solitary nodule - 5%-12%
chance of malignancy
(Goldman, 1996)
Mobility with swallowing
Mobility with respect to
surrounding tissues
Well circumscribed vs. ill defined
borders

Examine for ectopic thyroid


tissue
Indirect or fiberoptic
laryngoscopy
vocal cord mobility
evaluate airway
Systematic palpation of the
neck
Metastatic adenopathy
commonly found:
in the central compartment
(level VI)
along middle and lower
portion of the jugular vein
(regions III and IV) and

optimized by optima

Evaluation of the Thyroid Nodule


Blood Tests

Radioactive iodine

Thyroid function tests

is trapped and organified


can determine functionality of a thyroid
nodule
17% of cold nodules, 13% of warm or
cool nodules, and 4% of hot nodules to
be malignant
FNAB : Currently considered to be the best
first-line diagnostic procedure in the
evaluation of the thyroid nodule

thyroxine (T4)
triiodothyronin (T3)
thyroid stimulating hormone (TSH)

Serum Calcium
Thyroglobulin (TG)
Calcitonin

USG :

90% accuracy in categorizing nodules as


solid, cystic, or mixed (Rojeski, 1985)
Best method of determining the volume
of a nodule (Rojeski, 1985)
Can detect the presence of lymph node
enlargement and calcifications

optimized by optima

Classification of Malignant Thyroid


Neoplasms
Papillary carcinoma

Follicular variant
Tall cell
Diffuse sclerosing
Encapsulated

Medullary Carcinoma
Miscellaneous

Sarcoma
Lymphoma
Squamous cell carcinoma
Mucoepidermoid
carcinoma
Clear cell tumors
Pasma cell tumors
Metastatic

Follicular carcinoma
Overtly invasive
Minimally invasive

Hurthle cell carcinoma


Anaplastic carcinoma

Giant cell
Small cell
optimized by optima

Direct extention
Kidney
Colon
Melanoma

Well-Differentiated Thyroid Carcinomas


(WDTC) - Papillary, Follicular, and Hurthle
cell
Pathogenesis - unknown
Papillary has been associated with the RET proto-oncogene but no
definitive link has been proven (Geopfert, 1998)
Certain clinical factors increase the likelihood of developing thyroid
cancer
Irradiation - papillary carcinoma
Prolonged elevation of TSH (iodine deficiency) - follicular carcinoma (Goldman, 1996)
relationship not seen with papillary carcinoma
mechanism is not known

optimized by optima

WDTC - Papillary Carcinoma


60%-80% of all thyroid cancers (Geopfert,
1998, Merino, 1991)
Histologic subtypes
Follicular variant
Tall cell
Columnar cell
Diffuse sclerosing
Encapsulated

Lymph node involvement is common


Major route of metastasis is lymphatic
Clinically undetectable lymph node
involvement does not worsen prognosis
(Harwood, 1978)

Prognosis is 80% survival at 10 years


(Goldman, 1996)
Females > Males
Mean age of 35 years (Mazzaferri, 1994)
optimized by optima

WDTC - Follicular Carcinoma

20% of all thyroid malignancies


Women > Men (2:1 - 4:1) (Davis, 1992, De Souza, 1993)
Mean age of 39 years (Mazzaferri, 1994)
Prognosis - 60% survive to 10 years (Geopfert, 1994)
Metastasis
angioinvasion and hematogenous spread
15% present with distant metastases to bone and lung
Lymphatic involvement is seen in 13% (Goldman, 1996)

optimized by optima

Medullary Thyroid Carcinoma


10% of all thyroid malignancies
1000 new cases in the U.S. each year
Arises from the parafollicular cell or C-cells of the
thyroid gland
derivatives of neural crest cells of the branchial arches
secrete calcitonin which plays a role in calcium metabolism

optimized by optima

Medullary Thyroid Carcinoma


Diagnosis
Labs: 1) basal and pentagastrin stimulated serum
calcitonin levels (>300
pg/ml)
2) serum calcium
3) 24 hour urinary catecholamines
(metanephrines, VMA, normetanephrines)
4) carcinoembryonic antigen (CEA)
Fine-needle aspiration
Genetic testing of all first degree relatives

optimized by optima

Anaplastic Carcinoma of the Thyroid


Highly lethal form of thyroid cancer
Median survival <8 months (Jereb, 1975, Junor, 1992)
1%-10% of all thyroid cancers (Leeper, 1985, LiVolsi, 1987)
Affects the elderly (30% of thyroid cancers in patients >70 years) (Sou,
1996)

Mean age of 60 years (Junor, 1992)


53% have previous benign thyroid disease (Demeter, 1991)
47% have previous history of WDTC (Demeter, 1991)

optimized by optima

Management
Surgery is the definitive management of thyroid cancer, excluding most
cases of ATC and lymphoma
Types of operations:
lobectomy with isthmusectomy
minimal operation required for a potentially malignant thyroid
nodule
total thyroidectomy
removal of all thyroid tissue
preservation of the contralateral parathyroid glands
subtotal thyroidectomy
anything less than a total thyroidectomy

optimized by optima

35. Tennis Elbow


Lateral epicondylitis
Terjadi karena
penggunaan siku yang
berlebihan

Gejala dan tanda:


Nyeri atau terasa terbakar pada
sisi lateral siku
Weak grip strength

Often worsened with forearm


activity
holding a racquet
turning a wrench
shaking hands.

American Academy of Orthopaedic Surgeons

36. Prostatic malignancy

PSAProstate Cancer
PSA >4.0 ng/mL mandatory
biopsy
50% of all the cancers detected
because of an elevated PSA level
are localized
these patients are candidates for
potentially curative therapy

Biopsi Prostat
Skrinning PSA untuk Ca
Prostat, tidak dapat
meningkatkan survival
rate
USG Prostat
Hanya dapat melihat
pembesaran prostat
Tidak menunjukkan
derajat obstruksinya

37. Tibia-fibula Shaft Fracture/ Cruris


Fracture

Kruristungkai bawah yang terdiri


dari dua tulang panjang yaitu
tulang tibia dan fibula
Tscherne Classification
0-3
Based on degree of displacement
and comminution

C0simple fracture configuration with


little or no soft tissue injury
C1superficial abrasion, mild to
moderately severe fracture
configuration
C2deep contamination with local skin
or muscle contusion, moderately severe
fracture configuration
C3extensive contusion or crushing of
skin or destruction of muscle, severe
fracture

Clinical Features of Fracture


History of trauma
Symptoms & signs:

Pain & tenderness


Swelling
Deformity
Crepitus
Loss of function
Abnormal move
N.V. injuries

Compartment Syndrome
Diagnosis
Nyeri yang amat
Pain and the aggravation of
sangat(Pain out of
pain by passive stretching of the
proportion)
muscles in the compartment in
Kompartemen teraba
question are the most sensitive
tegang
(and generally the only) clinical
finding before the onset of
Nyeri bila diregangkan
ischemic dysfunction in the
Paresthesia/hypoesthesi
nerves
and
muscles.
a
Paralysis
Pulselessness/pallor

Clinical Evaluation
Pain most important. Especially pain out of
proportion to the injury (child becoming more and
more restless /needing more analgesia)
Most reliable signs are pain on passive stretching
and pain on palpation of the involved compartment
Other features like pallor, pulselessness, paralysis,
paraesthesia etc. appear very late and we should
not wait for these things.

Willis &Rorabeck OCNA 1990

Compartment Syndrome
Etiology
Compartment Size
tight dressing; Bandage/Cast
localised external pressure; lying on limb
Closure of fascial defects

Compartment Content
Bleeding; Fx, vas inj, bleeding disorders
Capillary Permeability;
Ischemia / Trauma / Burns / Exercise / Snake Bite / Drug
Injection / IVF

Compartment Syndrome
Etiology
Fractures-closed and open
Blunt trauma
Temp vascular occlusion
Cast/dressing
Closure of fascial defects
Burns/electrical

Exertional states
IV/A-lines
Intraosseous IV(infant)
Snake bite
Arterial injury

optimized by optima

Surgical Treatment

Fasciotomy

Casts and tight


bandages
remove or
loosen any
constricting
bandages

All compartments !!!

38. Fluid Resuscitation


Crystalloids

Non-protein colloids

Are as effective as albumin in post-operative


patients

Should be used as second-line agents in


patients who do not respond to crystalloid

Are the initial resuscitation fluid of choice


for:
Hemorrhagic shock / traumatic injury
Septic shock
Hepatic resection
Thermal injury
Cardiac surgery
Dialysis induced hypotension

May be used in the presence of capillary leak


with pulmonary or peripheral edema
Are favored over albumin due to their lower
cost

Resuscitation
Crystalloid solution rapidly equilibrates between the intravascular and
interstitial compartments
Adequate restoration of hemostatic stability may require large
volumes of ringer's lactate.
It has been empirically observed that approximately 300 cc of
crystalloid is required to compensate for each 100 cc of blood loss.
(3:1 rule)

Fluid resuscitation
target:
Euvolemia
Improve perfusion
Improve oxygen
delivery

British Consensus Guidelines on


Intravenous Fluid Therapy for Adult
Surgical Patients 2011

39. Male Breast Cancer


Massa payudara pada laki-laki jarang terjadicuriga ganas sampai
dibuktikan tidak

Mayoritas Ca mamae pada pria (50% to 97%) memiliki gejala klinis adanya
massa pada payudara biasanya timbul di dekat puting sebagai massa yang
keras dan tidak nyeri, lebih sering melibatkan KGB
Karakteristik massa dapat seperti pada kanker payudara pada wanita

Biasanya timbul setelah usia 65 thn


Faktor risiko:

Ginekomastia
Kanker prostat
Terekspos radiasi
Memiliki penyakit yang berkaitan dengan kadar estrogen yang tinggi seperti
sirosis atau sindrome klinefelter
Memiliki riwayat penyakit keluarga kanker payudara, terutama bila memiliki
gen BRCA2

Bila terdapat keragu-raguanbiopsi jarum atau operasi


Sindrom Klinefelter meningkatkan kecenderungan untuk ganas
Pemeriksaan penunjang dan tatalaksanasama sepert pada wanita

Gynicomastia
Hipertrofi jaringan payudara normal pada priaJaringan
payudara dan duktus-duktusnya
pubertal hypertrophy (ages 1317), senescent hypertrophy (age
>50)
Dikaitkan dengan obat terapetik atau rekreasional:digoxin,
thiazides, estrogens, phenothiazines, theophylline marijuana
Dapat berkaitan dengan penyakit genetiksindrome klinefelter

Gejala dan tanda:


Pembesaran payudara unilateral atau bilateral
Palpasi: jaringan payudara yang homogen

http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/malebr
east/Patient/page1/AllPages

40. Urethral Stone


Batu uretra harus selalu
dipikirkan pada pasien anak yang
mengalami retensi urin akut
Simple procedures like
meatotomy, supra-pubic bladder
decompression and
urethrolithotomy to evacuate
stone can relieve these children

J Coll Physicians Surg Pak. 2012 Aug;22(8):510-3. doi: 08.2012/JCPSP.510513.

http://emedicine.medscape.com/article/1015227

41.
Hipospadia
Hypospadia
OUE berada pada ventral penis
Three anatomical
characteristics
An ectopic urethral
meatus
An incomplete prepuce
Chordee ventral
shortening and curvature

EpispadiaOUE berada di dorsum penis


Penis lebar, pendek dan melengkung
keatas (dorsal chordee)
Penis menempel pada tulang pelvis
Tulang pelvis terpisah lebar
Classification:
the glans (glanular)
along the shaft of the penis (penile)
near the pubic bone (penopubic)

http://www.genitalsurgerybelgrade.com/urogenital_surgery
_detail.php?Epispadias-4

Phimosis
Phimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kearah proksimal
Fisiologis pada neonatus
Komplikasiinfeksi
Balanitis
Postitis
Balanopostitis

Treatment

Dexamethasone 0.1% (6
weeks) for spontaneous
retraction
Dorsum incisionbila
telah ada komplikasi

Paraphimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kembali dan
terjepit di sulkus
koronarius
Gawat darurat bila
Obstruksi vena
superfisial edema
dan nyeri Nekrosis
glans penis

Treatment

Manual reposition
Dorsum incision

Hydrocele

http://www.cirp.org/library/disease/balanitis/escala1/

Systemic symptoms such as fever and


nauseamay uncommon
Symptoms usually begin to appear
after 3 days

More likely to affect boys under four years


of age
Approximately 1 in every 25 boys and 1 in
30 uncircumcised males (at some time in
their life

42. GANGLION Cyst


Kista ganglion merupakan
tumor yang sangat sering
muncul pada tangan dan
pergelangan tangan
Timbul pada daerah yang
berdekatan dengan sendi atau
tendon.

Lokasi tersering: pergelangan


tangan (top of the wrist)

Diagnosis
Berdasarkan lokasi dari tumor dan penampakannya

Karakteristik

Bulat atau oval


Lunak atau kenyal(oft or firm)
Nyeri saat terkena tekanan, contohny pada saat menggenggam.
Transillumination +

American Society for Surgery of the Hand


www.handcare.org

43.Tarsal Tunnel Syndrome


Penekanan dan peradangan
pada N. Tibialis posterior
dalam tarsal tunnel

History
Tarsal tunnel syndrome
Symptoms
Nyeri, baal, parestesia di
sepanjang plantar dan medial
dari kaki
intractable heel pain.
Dapat menyerupai plantar
fasciitis

Onset
Acute or chronic

Palpation
Point tenderness
proximal, over, and
distal to the flexor
retinaculum
Tinels sign
Hipestesi pada distribusi saraf

Common Peroneal
Nerve Injury
Sensory
Sensation is lost between the
first and second toes.
Dorsum of the foot and toes.
Medial side of the big toe.
Lateral side of the leg.

Superficial
peroneal

44.Nerve root (radicular) pain


Nyri kaki Unilateral yang lebih
nyeri dari pada low back pain
Menyebar ke kaki atau pedis
Baal dan parasthesia di daerah
yang sama
SLR(straight leg raise test)
menyebabkan nyeri
Localised neurological signs (eg
loss ankle jerk)

Table of Joint Types


Functional across

Synarthroses
(immovable joints)

Amphiarthroses
(some movement)

Diarthroses
(freely movable)

Syndesmoses
-ligaments only
between bones; here,
short so some but not
a lot of movement
(example: tib-fib
ligament)

Syndesmoses
-ligament longer
(example: radioulnar
interosseous
membrane)

Structural down

Bony Fusion

Synostosis
(frontal=metopic
suture; epiphyseal
lines)

Fibrous

Suture (skull only)


-fibrous tissue is
continuous with
periosteum

Gomphoses (teeth)
-ligament is
periodontal ligament
Cartilagenous
(bone united by
cartilage only)

Synovial

Synchondroses
-hyaline cartilage
(examples:
manubrium-C1,
epiphyseal plates)

Sympheses
-fibrocartilage
(examples: between
discs, pubic
symphesis
Are all diarthrotic

Sympheses
Literally growing together
Fibrocartilage unites the bones
Slightly movable (amphiarthroses)
Resilient shock absorber
Provide strength and flexibility

Hyaline cartilage on articular surfaces of bones to reduce friction


Examples
Intervertebral discs
Pubic symphysis of the pelvis

Synchondroses and sympheses

Also pubic symphsis

HYALINE CARTILAGE
FUNCTION
Support tissue and organs
Model for bone
development

MATRIX
Type II collagen (thin fibrils)
Chondroitin sulfate, keratin
sulfate, hyaluronic acid
Water

LOCATION
Cincin trakhea, septum
nasal, laring, permukaan
sendi tulang rangka

ELASTIC CARTILAGE
FUNCTION
Support with flexibility

MATRIX
Normal components of hyaline
matrix plus ELASTIC fibers

LOCATION
Telinga luar, meatus akustikus
ekstrena, epiglotis

STAINS
Elastic fibers stain BLACK with
Weigert stain

perichondrium

FIBROCARTILAGE
FUNCTION
Support with great
tensile strength

MATRIX
Type I collagen Oriented parallel to
stress plane

LOCATION
Diskus intervertebralis,
simfisis pubis

45
.

leg weakness (69%),


gibbus (46%),
pain (21%),
palpable mass (10%)

Turgut M. Spinal tuberculosis (Pott's disease): its clinical presentation, surgical management, and
outcome. A survey study on 694 patients Neurosurg Rev. 2001 Mar;24(1):8-13.

Potts disease=spondylitis TB

46. Histologic feature


Hashimotos thyroiditis
Tersering pada usia 45 65
tahun
More common in women
than in man, with a female
predominance of 10:1 to
20:1.
Autoimmune thyroiditis &
struma lymphomatosa
Symptoms and signs
euthyroidism or
hypothyroidism

Gross Findings
Symmetric enlargement with tan
yellow cut surface
Intact capsule
Micro Findings
Oxyphilic change of follicular
epithelium: small & atrophic
thyroid follicles with oxyphilic
metaplasia of follicular cells
ranging from pale pink staining
cells with abundant cytoplasm to
oxyphilic cells with pink granular
cytoplasm.
Lymphoplasmcytic infiltration
with prominent germinal centers
in the stroma.
Scanty connective tissue with
slightly thickening of inter-lobular
septi.

Subacute thyroiditis
Granulomatous thyroiditis
or DeQuervain thyroiditis
Sering pada wanita 30-50
thn
Caused by a viral infection
or a postviral
inflammatory process.
Sudden onset of painful
enlargement of thyroid
with 3 phases of course.
(hyperthyroid, hypothryoid
& recovery).

Gross Findings

Asymmetrical or uneven
involvement of the gland.
Firm & irregular white-tan lesion or
several small poorly demarcated
nodules (from several mm to a few
cm) on cut surface.

Micro Findings

Vary with the phase.


Initially, desquamation or
degeneration of follicular
epithelium with colloid depletion,
then acute inflammatory response
with PMNs & microabscesses.
Then follicular epithelium disappear
& replaced by a rim of histiocytes &
giant cells (foreign body giant cells
form around remnants of colloid
after follicle degenerate
completely).
Interstitial fibrosis & infiltration of
lymphocytes, plasma cells, &
histiocytes.

Nodular goiter
Recurrent episodes of
hyperplasia and involution
combine to produce irregular
enlargemen of the thyroid.
Hyperplasia of the thyroid
gland may result from
hyperstimulation by:

TSH
Ab to TSH receptor
iodine deficiency
goitrogens in food
drugs

Nontoxic, thyrotoxicosis
Sporadic and endemic forms,
female/male:1/1.

Gross Findings
Multilobulated,
asymmetrically enlarged
glands.
Cut section: irregular nodules
with variable amounts of
brown and gelatinous colloid.

Micro Findings
Colloid rich follicles lined by
flatten, inactive epithelium
and areas of follicular
epithelial hypertrophy and
hyperplasia.
Degenerative changes:
hemorrhage, fibrosis,
calcification, and cystic.

Papillary carcinoma
Most common form of
thyroid cancer.
Twenties to forties,
associated with previous
exposure to ionizing
radiation.

Gross Findings
Solid, firm, grayish white
lobulated lesion with
sclerotic center.

Micro Findings
Based on characteristic
architecture & cytological
feature.
Papillae formed by a central
fibrovascular stalk & covered by
neoplastic epithelial cells.
Psammoma bodies in the
papillary stalk, fibrous stroma or
between tumor cells.
Nuclear features:
Round to slight oval shape.
Pale, clear, empty or ground glass
appearance (Orphan Annie):
empty of nucleus with irregular
thickened inner aspect of nuclear
membrane.
Pseudo-inclusion: deep
cytoplasmic invagination and
result in nuclear acidophilic,
inclusion-like round structures,
sharply outlined and eccentric,
with a crescent-shaped rim of
compressed chromatin on the
side.
Grooves: coffee-bean like.

47.Salivary Enlargement
Unilateral Salivary enlargement
Salivary Gland Tumor
Bacterial Sialadenitis
Chronic Sialadenitis
Sialolithiasis

Parotid Tumor
Painless, asymptomatic
mass posterior cheek
region.
Pain indicates perineural
invasion

Bilateral Salivary enlargement with


hypofunction
facial nerve weakness or paralysis
Viral Sialadenitis
Sjogren's Syndrome
Human Immunodeficiency Virus
(HIV Infection or AIDS)
Chronic granulomatous disease
Sarcoidosis
Tuberculosis
Leprosy

Classification of parotid tumours:


1. Adenoma
A) Pleomorphic

Any age(>60years), no gender predilection 75% of all parotid tumours

B) Warthin's tumour

Over 60 years Male to female ratio is 4:1

2. Carcinomas
Acinic cell Carcinoma: Low grade malignancy

Overall 5-year survival is 82%, and 10-year survival is 68%

Adenoid Cystic carcinoma

may remain quiescent for a long time fatal due to perineural spread,
pulmonary metastasis
Overall 5-year survival is 35%, and 10-year survival is approximately 20%

Malignant mixed tumors


Overall 5-year survival is 56%, and 10-year survival is 31%
Adenocarcinoma and Squamous Cell Carcinoma
Both have poor prognosis5 year survival is 25%

Mucoepidermoid carcinoma

most common malignant tumor Low grade and high grade

48. Nipple Discharge


1. Galactorrhea
2. Intraductal
papilloma
3. Duct ectasia
4. Carcinoma

The Breast
Tumors

Onset

Feature

Breast cancer

30-menopause

Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),


Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass

Fibroadenoma
mammae

< 30 years

They are solid, round, rubbery lumps that move freely in


the breast when pushed upon and are usually painless.

Fibrocystic
mammae

20 to 40 years

lumps in both breasts that increase in size and


tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge

Mastitis

18-50 years

Localized breast erythema, warmth, and pain. May be


lactating and may have recently missed feedings.fever.

Philloides
Tumors

30-55 years

intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,


smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.

Duct Papilloma

45-50 years

occurs mainly in large ducts, present with a serous or


bloody nipple discharge

49. Posterior Hip


Dislocation
Gejala
Nyeri lutut
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com

soundnet.cs.princeton.edu

soundnet.cs.princeton.edu

Anterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri pada sendi
panggul
Tidak dapat berjalan
atau melakukan
adduksi dari kaki.
The leg is externally
rotated, abducted,
and extended at the
hip

netterimages.com

50. Urolithiasis
Urinary tract stone disease
Signs:

Flank pain
Irritative voiding symptom
Nausea
microscopic hematuria

Urinary crystals of calcium


oxalate, uric acid, or cystine
may occasionally be found
upon urinalysis
Diagnosis: IVP
Indication
Passing stone
hematuria
optimized by optima

http://www.aafp.org/afp/2008/0801/p379.html

51. Appendectomy

52. Fraktur Impresi


Indications for surgery in
depressed fracture
compound depressed fracture
Tanda neurologis fokal
Kebocoran CSF (Cerebrospinal
fluid)
depression more than the inner
table of non-depressed bone
Berkaitan dengan lesi lain seperti
EDH (Extradural hematoma)
cosmetic purpose e.g. over the
forehead.

Timing
Operasi secepatnya direkomendasikan untuk mengurangi insidens infeksi

Methods
Elevasi dan debridement
Primary bone fragment replacement is a surgical option in the absence of
wound infection
should include prohylaxis antibiotics

Craniotomy: portion of skull and overlying scalp is removed to


allow access to brain

Craniotomy:
A surgical opening into the cranial
cavity
Beberapa lubang dibuat
Tulang diantara lubang kemudian
dipotong oleh gergaji khusus
craniotome

Craniectomy:
Eksisi bagian dari tengkorak dan flap tulang diambil seluruhnya.
Tulang yang diambil tidak diganti, dan apabila defek besar, maka mungkin
kranioplasti dibutuhkan

Cranioplasty:
Plastic repair to the skull in which synthetic material is inserted to replace the
cranial bone that was removed.
may be performed after a large craniectomy

Ilmu Kesehatan Mata

Pterigium

53. PTERIGIUM
Pertumbuhan fibrovaskuler

Pertumbuhan
fibrovaskuler
konjungtiva,
konjungtiva,
bersifat
degeneratif
bersifat degeneratif dan invasif
dan invasif
Terletak pada celah kelopak bagian nasal
temporal
konjungtiva
yang meluas
ataupun
Terletak
pada
celah kelopak
bagian
ke daerah kornea
nasal ataupun temporal konjungtiva
Mudah meradang
yang meluas ke daerah kornea
Etiologi: iritasi kronis karena debu, cahaya
udara
panas
matahari,
Mudah
meradang
Keluhan : asimtomatik, mata iritatif, merah,
mungkin
Etiologi:
iritasi
kronis
karena
terjadi
astigmat
(akibat
kornea debu,
tertarik
oleh matahari,
pertumbuhanudara
pterigium),
tajam
cahaya
panas
penglihatan
menurun
TesKeluhan
sonde (+)
ujung sonde
tidak
kelihatan
: mata
iritatif,
merah,
pterigium
mungkin terjadi astigmat
Pengobatan : konservatif; Pada pterigium
1-2 yang mengalami
inflamasi,operasi
pasien
derajat
Pengobatan
: konservatif;
dapat diberikan obat tetes mata kombinasi
bila terjadi
gangguan
penglihatan
antibiotik
dan steroid
3 kali sehari
selama 5-7
hari. Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan
tindakan bedah

DERAJAT PTERIGIUM
Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak
lebih dari 2 mm melewati kornea
Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm)
Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan

PTERIGIUM
DIAGNOSIS
59. Kelainan
Konjungtiva
BANDING
Pterigium

a benign growth of the conjunctiva

commonly grows from the nasal side


of the sclera, wedge shaped area of
fibrosis that appears to grow into the
cornea. Symptoms: foreign body
sensation, tearing, redness

Pinguecula

a common type of conjunctival degeneration in the


eye

a yellow-white deposit on the


conjunctiva adjacent to the limbus
(the junction between the cornea
and sclera). Usually no symptoms

Episkleritis

a benign, self-limiting inflammatory disease affecting


part of the eye called the episclera (is a thin layer of
tissue that lies between the conjunctiva and the
connective tissue layer that forms the white of the
eye)

characterized by the abrupt onset of


eye pain and redness

Pseudopterigium

Adhesion of the conjunctiva to the peripheral cornea.


may result from a peripheral corneal ulcer and ocular
surface inflammation such as cicatrizing
conjunctivitis, chemical burns, or may also occur
secondary to chronic mechanical irritation from
contact lens movement

May occur on any quadrant of the


cornea, Lacks firm adhesion
throughout the underlying
structures, and occasionally has a
broad leading edge on the corneal
surface.

Konjungtivitis

inflammation of the conjunctiva (the outermost layer


of the eye and the inner surface of the eyelids)

Red eye, epiphora, chemosis, normal


visual acuity

54. Komplikasi Pascaoperasi Katarak


EARLY COMPLICATION
Corneal edema (10%)
Elevated IOP (28%)
Increased anterior inflammation
(26%).
Wound leak (1%)
Iris prolapse (0.7%)
Endophthalmitis (0.1%)

LATE COMPLICATION
Posterior capsule opacification
(1050% by 2 years)
Cystoid macular edema (112%)
Retinal detachment (0.7%)
Corneal decompensation
Chronic endophthalmitis

Acute postoperative endophthalmitis


Komplikasi yg mengancam
penglihatan yg harus segera diobati.
Onset biasanya 17 hari setelah op.
Etiologi tersering Staphylococcus
epidermidis, Staphylococcus aureus, &
Streptococcus species.
Gejala:
a painful red eye;
reduced visual acuity, usually within a
few days of surgery
a collection of white cells in the anterior
chamber (hypopyon).
posterior segment inflammation
lid swelling.

Faktor risiko
Pasien dengan blepharitis, konjungtivitis,
penyakit nasolakrimal, komorbid(diabetes),
dan complicated surgery (PC rupture with
vitreous loss, ACIOL, prolonged surgery).
Diagnosis
pemeriksaan mikrobiologi dari Anterior
chamber tap dan biopsi vitreous (dgn
antibiotik intravitreus scr simultan utk
pengobatan)

Acute postoperative endophthalmitis


TATALAKSANA

Pertimbangkan:

Antibiotic intravitreus: vancomycin 1 mg dlm


0.1 mL (gram positive coverage)
dikombinasikan dengan amikacin 0.4 mg dlm
0.1 mL atau ceftazidime 2 mg dlm 0.1 mL
(gram-negative coverage).

Moxifloxacin atau gatifloxacin oral (broad


spectrum dan penetrasi intraokular baik)

Ceftazidime bisa menimbulkan presipitasi


dengan vankomisin shg spuit harus dipisah

Vitrectomy: jika tajam penglihatan hanya


berupa light perception atau lebih buruk

Antibiotik topikal (per jam): (moxifloxacin or


gatifloxacin) atau vancomycin DS (50 mg/mL),
amikacin (20 mg/mL), atau ceftazidime (100
mg/mL)
Corticosteroids topikal (cth dexamethasone
0.1%/ jam), intravitreal (dexamethasone 0.4
mg in 0.1 mL), atau sistemic (prednisone PO 1
minggu) untuk mengurangi inflamasi.

Oxford American Handbook of Ophthalmology

Sign and Symptoms


Disorder

Decreased visual
acuity

Red eye

Others

Uveitis

Yes

Yes

Photophobia, miopisation, eye


pain,excessive tearing, decreased vision,
limbic injection, miosis, might be followed by
glaucoma

Endophtalmitis

Yes

Yes

History of eye trauma or operation, deep


ocular pain, corneal edema, anterior
chamber & cells, keratic precipitates

Keratitis = Inflammation of the


part of the eye called the choroid
(layer behind the retina).

Yes

Yes

Disturbed vision in one eye, Visual


disturbance, Gradual blindness in one eye,
One eye affected, Impaired vision, Gradual
vision loss, Blurred vision, Light sensitivity,
Sore eye, Red eye

Panuveitis = Inflammation of the


whole uvea, involves retina and
vitreous humor

Yes

Yes

Visual disturbance, Eye pain, Blurred vision,


Sensitivity to light, Seeing spots, Red eyes,
Reduced vision

Panendoftalmitis = peradangan
seluruh bola mata termasuk sklera
dan kapsul tenon sehingga bola
mata merupakan rongga abses.

Yes

Yes

Kemunduran tajam penglihatan, sakit, mata


menonjol, edema kelopak, konjungtiva
kemotik, kornea keruh, bilik mata dengan
hipopion, dan refleks putih di dalam fundus
dan okuli

55. GLAUKOMA SEKUNDER


Glaucoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang
menimbulkannya. Hal tersebut disebabkan oleh proses patologis intraokular yang
menghambat aliran cairan mata (cedera, radang, tumor)
Glaukoma terjadi bersama-sama dengan kelainan lensa seperti :
Luksasi lensa anterior, dimana terjadi gangguan pengaliran cairan mata ke sudut bilik mata.
Katarak imatur, dimana akibat mencembungnya lensa akan menyebabkan penutupan sudut bilik
mata.
Katarak hipermatur, dimana bahan lensa keluar dari lensa sehingga menutupi jalan keluar cairan
mata.

Glaukoma yang terjadi akibat penutupan sudut bilik mata oleh bagian lensa yang
lisis ini disebut glaukoma fakolitik, pasien dengan galukoma fakolitik akan
mengeluh sakit kepala berat, mata sakit, tajam pengelihatan hanya tinggal
proyeksi sinar.
Pada pemeriksaan objektif terlihat edema kornea dengan injeksi silier, fler berat
dengan tanda-tanda uveitis lainnya, bilik mata yang dalam disertai dengan
katarak hipermatur. Tekanan bola mata sangat tinggi

Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

56. Trauma Mekanik Bola Mata


Cedera langsung berupa ruda
paksa yang mengenai jaringan
mata.
Beratnya kerusakan jaringan
bergantung dari jenis trauma
serta jaringan yang terkena
Gejala : penurunan tajam
penglihatan; tanda-tanda
trauma pada bola mata
Komplikasi :
Endoftalmitis
Uveitis
Perdarahan vitreous
Hifema
Retinal detachment
Glaukoma
Oftalmia simpatetik

Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012

Pemeriksaan Rutin :

Visus : dgn kartu Snellen/chart


projector + pinhole
TIO : dgn tonometer
aplanasi/schiotz/palpasi
Slit lamp : utk melihat segmen
anterior
USG : utk melihat segmen
posterior (jika memungkinkan)
Ro orbita : jika curiga fraktur
dinding orbita/benda asing

Tatalaksana :

Bergantung pada berat trauma,


mulai dari hanya pemberian
antibiotik sistemik dan atau
topikal, perban tekan, hingga
operasi repair

http://www.patient.co.uk/doctor/Eye-Trauma.htm

http://www.patient.co.uk/doctor/Eye-Trauma.htm

http://www.patient.co.uk/doctor/Eye-Trauma.htm

HIFEMA
Definisi:
Perdarahan pada bilik
mata depan
Tampak seperti warna
merah atau genangan
darah pada dasar iris
atau pada kornea

Halangan pandang
parsial / komplet
Etiologi: pembedahan
intraokular, trauma
tumpul, trauma laserasi

Tujuan terapi:
Mencegah rebleeding
(biasanya dalam 5 hari
pertama)
Mencegah noda darah
pada kornea
Mencegah atrofi saraf
optik

Komplikasi:

Perdarahan ulang
Sinekiae anterior perifer
Atrofi saraf optik
Glaukoma

Tatalaksana:

Kenali kasus hifema dengan risiko tinggi


bed rest & Elevasi kepala malam hari
Eye patch & eye shield
Mengendalikan peningkatan TIO
Pembedahan bila tak ada perbaikan / terdapat peningkatan TIO
Hindari Aspirin, antiplatelet, NSAID, warfarin
Steroid topikal (dexamethasone 0.1% atau prednisolone acetate 1% 4x/hari)
Pertimbangkan siklopegia (atropine 1% 2x/hari, tetapi masih kontroversial).

57. Episkleritis
Episkleritis adalah peradangan sclera superficial.
Pada episkleritis, pasien akan mengeluh fotofobia, lakrimasi, kelopak
mata yang bengkak, kemosis konjungtiva, diikuti injeksi episklera.
Perjalan penyakit episkleritis kambuh-kambuhan.
Cenderung mengenai orang muda, biasanya pada dekade ketigakeempat kehidupan
Lebih banyak pada wanita, 2/3 unilateral
Keratitis dan uveitis jarang dijumpai

Simple episcleritis
Common, benign, self-limiting but frequently recurrent

Typically affects young adults


Seldom associated with a systemic disorder

Simple sectorial episcleritis

Simple diffuse episcleritis

Skleritis
Skleritis merupakan peradangan sclera profunda yang disertai dengan
gejala fotofobia, lakrimasi, nyeri bola mata.
Nyeri bersifat konstan dan tumpul, bola mata juga terasa nyeri
Tanda utama skleritis adanya adanya bagian mata yang berwarna
ungu gelap akibat dilatasi pleksus vascular profunda di sclera dan
episklera.
Skleritis terjadi bilateral pada 1/3 kasus, lebih banyak pada wanita;
timbul pada dekade ke-5 sampai ke-6
Sering dijumpai keratitis atau uveitis.

Causes and Systemic Associations of Scleritis


1. Rheumatoid arthritis
2. Connective tissue disorders
Wegener granulomatosis
Polyteritis nodosa
Systemic lupus erythematosus

3. Miscellaneous
Relapsing polychondritis
Herpes zoster ophthalmicus
Surgically induced

Necrotizing scleritis with inflammation


Painful and most severe type
Complications - uveitis, keratitis, cataract and glaucoma
Progression

Avascular patches

Scleral necrosis and


visibility of uvea

Spread and coalescence


of necrosis

Treatment

Oral steroids
Immunosuppressive agents (cyclophosphamide, azathioprine, cyclosporin)
Combined intravenous steroids and cyclophosphamide if unresponsive

Applied anatomy of vascular coats


Normal

Radial superficial episcleral


vessels
Deep vascular plexus
adjacent to sclera

Episcleritis

Maximal congestion
of episcleral vessels

Scleritis

Maximal congestion of
deep vascular plexus
Slight congestion of
episcleral vessels

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

58. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah suatu
keadaan terpisahnya sel
kerucut dan batang retina
(retina sensorik) dari sel
epitel pigmen retina
Mengakibatkan gangguan
nutrisi retina pembuluh
darah yang bila berlangsung
lama akan mengakibatkan
gangguan fungsi penglihatan

Jenis:
Rhegmatogenosa (paling sering)
lubang / robekan pada lapisan neuronal
menyebabkan cairan vitreus masuk ke
antara retina sensorik dengan epitel
pigmen retina
Traksi adhesi antara vitreus /
proliferasi jaringan fibrovaskular dengan
retina
Serosa / hemoragik eksudasi ke dalam
ruang subretina dari pembuluh darah
retina

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Etiologi Ablasio Retina


Rhegmatogenosa:

Serosa / hemoragik:

Miopia
Trauma okular
Afakia
Degenerasi lattice

Traksi:
Retinopati DM
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology
17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Hipertensi
Oklusi vena retina sentral
Vaskulitis
Papilledema
Tumor intraokular

Ablasio
Rhegmatogenosa

Ablasio Retina
Anamnesis:

Riwayat trauma
Riwayat operasi mata
Riwayat kondisi mata sebelumnya
(cth: uveitis, perdarahan vitreus,
miopia berat)
Durasi gejala visual & penurunan
penglihatan

Gejala & Tanda:

Fotopsia (kilatan cahaya) gejala


awal yang sering
Defek lapang pandang bertambah
seiring waktu
Floaters

Funduskopi : adanya robekan


retina, retina yang terangkat
berwarna keabu-abuan, biasanya
ada fibrosis vitreous atau fibrosis
preretinal bila ada traksi. Bila tidak
ditemukan robekan kemungkinan
suatu ablasio nonregmatogen

Tatalaksana
Ablasio retina kegawatdaruratan
mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan operasi
Hindari tekanan pada bola mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis retina
konservatif (untuk nonregmatogen),
pneumatic retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

59.
Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)
Pathology

Etiology

Feature

Bacterial

staphylococci
streptococci,
gonocci
Corynebacter
ium strains

Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics


burning sensation, usually bilateral Artificial tears
eyelids difficult to open on waking,
diffuse conjungtival injection,
mucopurulent discharge, Papillae
(+)

Viral

Adenovirus
herpes
simplex virus
or varicellazoster virus

Unilateral watery eye, redness,


discomfort, photophobia, eyelid
edema & pre-auricular
lymphadenopathy, follicular
conjungtivitis, pseudomembrane
(+/-)

http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html

Treatment

Days 3-5 of worst, clear


up in 714 days without
treatment
Artificial tears relieve
dryness and inflammation
(swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster
virus

Pathology

Etiology

Feature

Treatment

Fungal

Candida spp. can


cause
conjunctivitis
Blastomyces
dermatitidis
Sporothrix
schenckii

Not common, mostly occur in


immunocompromised patient,
after topical corticosteroid and
antibacterial therapy to an
inflamed eye

Topical antifungal

Vernal

Allergy

Chronic conjungtival bilateral


inflammation, associated atopic
family history, itching,
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Hornertrantas dots

Removal allergen
Topical antihistamine
Vasoconstrictors

Inclusion

Chlamydia
trachomatis

several weeks/months of red,


irritable eye with mucopurulent
sticky discharge, acute or
subacute onset, ocular irritation,
foreign body sensation, watering,
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles

Doxycycline 100 mg PO
bid for 21 days OR
Erythromycin 250 mg
PO qid for 21 days
Topical antibiotics

60. Retinitis Pigmentosa


Kelompok penyakit degenerasi
retina herediter yang ditandai
dengan disfungsi progresif
fotoreseptor khususnya sel
batang (rod cell).
Etiologi :

Autosomal dominant 43%


Autosomal recessive 20%
Sex linked recessive 8%
Sporadic tanpa riwayat keluarga
20%

Histopatologik:
Degenerasi sel batang dan kerucut
Proliferasi sel glia
Migrasi pigmen ke dalam jaringan
retina
Obliterasi sklerotik dari pembuluh
darah retina
Atrofi N II, sedangkan koroid
normal

Saat ini belum ada pengobatan


yang berhasil

Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya

Gejala Klinis
Subyektif :
buta senja (hemeralopia/nictalopia).
Lapang pandang perifer menurun secara progresif dan perlahan tubular sign.
Adaptasi gelap yang memanjang

Obyektif :
Pembuluh darah ciut tampak seperti tali
Penimbunan pigmen berupa gambaran spikula tulang/Retinal Bone specule like
pigmentation mula-mula di daerah ekuator kemudian menyebar ke perifer dan
makula
Karena geseran pigmen, gambaran pembuluh darah koroin menjadi lebih nyata
Waxy Disc Pallor (papil pucat dan berwarna kuning tembaga) pada stadium lanjut
Makula tampak seperti moth eaten appearance
Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya

Pemeriksaan Penunjang
Tes lapang pandang (goldman perimetry, Humphrey Analyzer)
Funduskopi
Electroretinography/ERG (Respon subnormal atau negatif)
Dark Adaptometry (memanjang)
Electrooculography/EOG (peningkatan sinar yang tidak lazim)
fundus Fluorescein angiography/ FFA

61. Ulkus Kornea

Keratitis

Inflammation of the cornea

Ulkus Kornea

A corneal ulcer, or ulcerative keratitis, or


eyesore is an inflammatory or more seriously,
infective condition of the cornea involving
disruption of its epithelial layer with
involvement of the corneal stroma.

Keratokonjungtivitis

Inflammation of the cornea and conjunctiva

Blefaritis

Inflammation of the eyelids

Konjungtivitis

Inflammation of the conjunctiva

ULKUS KORNEA
Gejala Subjektif

Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian


permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea

ditandai dengan adanya infiltrat supuratif


disertai defek kornea bergaung, dan
diskontinuitas jaringan kornea yang dapat
terjadi dari epitel sampai stroma.
Etiologi: Infeksi, bahan kimia, trauma,
pajanan, radiasi, sindrom sjorgen, defisiensi
vit.A, obat-obatan, reaksi hipersensitivitas,
neurotropik

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva


Sekret mukopurulen
Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi
ulkus
Silau
Nyeri
nfiltat yang steril dapat menimbulkan
sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada
perifer kornea dan tidak disertai dengan
robekan lapisan epitel kornea.

Gejala Objektif
Injeksi siliar
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan
adanya infiltrat
Hipopion

ULKUS KORNEA
Peripheral Ulcerative Keratitis (PUK)

Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 :


1. Ulkus kornea sentral
Ulkus kornea bakterialis
Ulkus kornea fungi
Ulkus kornea virus
Ulkus kornea acanthamoeba
2.Ulkus kornea perifer
Ulkus marginal
Ulkus mooren (ulkus serpinginosa
kronik/ulkus roden)
Ulkus cincin (ring ulcer)

Ulcer progressing slowly and easily,


circumferentially, and deeper toward the
center of the cornea
Etiology connectivetissuedisease
Rheumatoid arthritis (RA)
Sjogren syndrome
Mooren ulcer
systemic vasculitic disorder (eg, SLE,
Wegener granulomatosis, polyarteritis
nodosa).
Mooren ulcer
rapidly progressive, painful, ulcerative keratitis
initially affects the peripheral cornea, spread
circumferentially and then centrally
can only be diagnosed in the absence of an
infectious or systemic cause.
Kausa tidak jelas, mungkin karena infeksi virus,
alergi terhadap protein tuberkulosa/toksin
ankilostoma, atau autoimun

Ulkus Kornea
Penatalaksanaan :

harus segera ditangani oleh spesialis


mata
Pengobatan tergantung penyebabnya,
diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, anti virus,
anti jamur,
sikloplegik
Mengurangi reaksi peradangan
dengan steroid.
Berikan analgetik jika nyeri
Jangan menggosok-gosok mata yang
meradang
Mencegah penyebaran infeksi dengan
mencuci tangan

Penatalaksanaan bedah pada ulkus


roden:
Keratotomi
keratoplasti

An inflammatory or more seriously, infective condition of the cornea


involving disruption of its epithelial layer with involvement of the
corneal stroma
Causative Agent

Feature

Treatment

Fungal

Fusarium & candida species, conjungtival


injection, satellite lesion, stromal infiltration,
hypopion, anterior chamber reaction

Protozoa infection
(Acanthamoeba)

associated with contact lens users swimming in


pools

Viral

HSV is the most common cause, Dendritic


lesion, decrease visual accuity

Acyclovir

Staphylococcus
(marginal ulcer)

Tobramycin/cefazol
in eye drops,
quinolones
(moxifloxacin)

Streptococcus

Rapid corneal destruction; 24-48 hour, stromal


abscess formation, corneal edema, anterior
segment inflammation. Centered corneal ulcers.
Traumatic events, contact lens, structural
malposition

connective tissue
disease

RA, Sjgren syndrome, Mooren ulcer, or a


systemic vasculitic disorder (SLE)

Pseudomonas

Natamycin,
amphotericin B,
Azole derivatives,
Flucytosine 1%

62-63. Kalazion

Kalazion
Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul berminggu-minggu.
Dapat diawali oleh hordeolum, dibedakan dari hordeolum oleh ketiadaan
tanda-tanda inflamasi akut.
Pada pemeriksaan histologik ditemukan proliferasi endotel asinus dan
peradangan granullomatosa kelenjar Meibom
Tanda dan gejala:
Benjolan tidak nyeri pada bagian dalam kelopak mata. Kebanyakan kalazion
menonjol ke arah permukaan konjungtiva, bisa sedikit merah. Jika sangat besar,
dapat menekan bola mata, menyebabkan astigmatisma.

Tatalaksana: steroid intralesi (untuk lesi kecil), eksisi


Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia:
McGraw-Hill, 2007.

64. KELAINAN REFRAKSI -MIOPIA


Miopia secara klinis :
Simpleks: kelainan fundus ringan, < -6D
Patologis: Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif,
adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan oftalmoskopik, > -6D

Miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa :


Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
Berat : lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.

Miopia berdasarkan umur :


Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.
Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 thn.

Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).

Myopia

Titik dekat (Punctum Proximum/PP):jarak terdekat yang


masih dapat dilihat jelas oleh mata dengan berakomodasi
maksimum. Untuk mata normal (emetrop), nilai titik dekat
mata/ PP = 25 cm.
Titik jauh (Punctum Remotum/PR): jarak terjauh yang dapat
dilihat jelas oleh mata tanpa berakomodasi. Untuk mata
normal (emetrop), nilai titik jauh mata/PR = (tak
terhingga).
Agar dapat melihat benda-benda jauh s = , penderita miopi
harus menggunakan lensa kacamata cekung untuk
menghasilkan bayangan maya di depan lensa pada jarak
yang sama dengan titik jauh mata (s' = -PR). Sehingga
berlaku s = , s' = -PR.
Berdasarkan persamaan umum lensa tipis:

Pada soal, didapatkan P=-1,25, maka :

f = 0,8 meter
Bila diketahui titik jauh sekarang lebih
dekat 25%, maka :
f = 0,8 (25% x 0,8) = 0,6 meter
Maka : P = -1,67
Sehingga saat ini pasien dapat
digolongkan miopia simpleks (< -6D)

f = jarak fokus lensa dan PR = jarak titik terjauh yang dapat


dilihat penderita

http://fisikadantikonline.blogspot.com/2011/11/alat-alat-optik.html

65. GLAUKOMA KONGENITAL


0,01% diantara 250.000
penderita glaukoma
2/3 kasus pada Laki-laki
dan 2/3 kasus terjadi
bilateral
50% manifestasi sejak
lahir; 70% terdiagnosis dlm
6 bln pertama; 80%
terdiagnosis dalam 1
tahun pertama
Klasifikasi menurut Schele:

Klasifikasi lainnya:

Glaukoma kongenital primer anomali


perkembangan yang mempengaruhi
trabecular meshwork.
Glaukoma kongenital sekunder:
kelainan kongenital mata dan sistemik
lainnya, kelainan sekunder akibat
trauma, inflamasi, dan tumor.

Glaukoma infantum:
tampak waktu lahir/ pd usia
1-3 thn
Glaukoma juvenilis: terjadi
pada anak yang lebih besar

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury

Patogenesis
Abnormalitas anatomi trabeluar meshwork penumpukan
cairan aqueous humor peninggian tekanan intraokuler
bisa terkompensasi krn jaringan mata anak masih lembek
sehingga seluruh mata membesar (panjang bisa 32 mm,
kornea bisa 16 mm buftalmos & megalokornea) kornea
menipis sehingga kurvatura kornea berkurang
Ketika mata tidak dapat lagi meregang bisa terjadi
penggaungan dan atrofi papil saraf optik

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury

Gejala & Diagnosis


Tanda dini: fotofobia, epifora,
dan blefarospasme
Terjadi pengeruhan kornea
Penambahan diameter kornea
(megalokornea; diameter 13
mm)
Penambahan diameter bola
mata (buphtalmos/ ox eye)
Peningkatan tekanan intraokuler

Diagnosis glaukoma kongenital


tahap lanjut dengan mendapati:
Megalokornea
Robekan membran descement
Pengeruhan difus kornea

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury

Megalocornea

Glaukoma kongenital, perhatikan


adanya pengeruhan kornea dan
buftalmos
http://www.pediatricsconsultant360.com/content/buphthalmos

http://emedicine.medscape.com/article/1196299-overview

Tatalaksana
Medikamentosa hingga TIO
normal
Acetazolamide
pilokarpin

Operasi:
Goniotomi (memotong jaringan yg
menutup trabekula atau
memotong iris yg berinsersi pada
trabekula
Goniopuncture: membuat fistula
antara bilik depan dan jaringan
subkonjungtiva (dilakukan bila
goniotomi tidak berhasil)

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

66. Glaukoma
Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang berhubungan
dengan peningkatan tekanan bola mata (TIO Normal :
10-24mmHg)
Ditandai : meningkatnya tekanan intraokuler yang
disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan
lapangan pandang
TIO tidak harus selalu tinggi, Tetapi TIO relatif tinggi
untuk individu tersebut.

Normal Tension Glaukoma


Normal Tension Glaukoma yang terdapat pada satu
ujung spektrum glaukoma sudut terbuka kronis
merupakan bentuk yang tersering menyebabkan
pengecilan lapangan pandang bilateral progressif
asimptomatik yang muncul perlahan dan sering tidak
terdeteksi sampai terjadi pengecilan lapangan pandang
yang ekstensif.
Tipe glaukoma dimana nervus optic rusak dan kehilangan
kemampuan melihat dan lapangan pandang, muncul
pada glaukoma sudut terbuka namun tekanan intra
okuler yang normal (<22 mmHg)

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

Jenis Glaukoma :

Primer yaitu timbul pada mata yang mempunyai bakat bawaan, biasanya bilateral dan
diturunkan.
Sekunder yang merupakan penyulit penyakit mata lainnya (ada penyebabnya) biasanya
Unilateral

Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat kelainan sitem


drainase sudut kamera anterior (sudut terbuka) atau gangguan akses humor
akueus ke sistem drainase (sudut tertutup)
Pemeriksaan :
Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO)
Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus dan pemucatan diskus
Lapang pandang/ perimetri
Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior sudut terbuka atau sudut tertutup

Pengobatan : menurunkan TIO obat-obatan, terapi bedah atau laser

Retinometer

Salah satu alat untuk memeriksa tajam penglihatan potensial


pada pasien dengan kekeruhan media refraksi

Octopus perimetry

Salah satu cara tes lapang pandang

Streak retinoscopy

Retinoscope - an instrument that used to illuminate the inside


of the eye, to measure the optical power of the eye.
Streak retinoscope is a retinoscope which projects into the
patients eye an oblong streak which can be adjusted in width
and rotated in various meridians.

Refractometry

Alat untuk mengukur indeks refraksi suatu media

NEUROLOGI
Try out 4

67. Paralisis Nervus Ulnaris


Disebut juga claw hand atau spinsters claw yang disebabkan oleh masalah pada nervus
ulnaris.
Pada pemeriksaan sering didapatkan hipereekstensi dari sendi metacarpophalangeal dan
fleksi dari persendian interfalangeal distal dan proksimal pada digiti IV dan V. Akibat dari
adanya proses ini seseorang tidak dapat melakukan fleksi digiti IV dan V dari posisi
ekstensi dan digiti I, II, dan III akan berada dalam posisi setengah fleksi sehingga
memberikan gambaran claw hand. Hal ini terjadi akibat inervasi otot thenar (abductor
pollicis brevis, flekor pollicis brevis, dan opponens pollicis) diinervasi oleh nervus
medianus.
Pasien juga sering tidak dapat menahan tahanan dalam gerakan aduksi atau abduksi jari
oleh karena kelemahan otot interossei palmar dan dorsal yang diinervasi oleh nervus
ulnaris.
Faktor risiko: atlet sepeda, sepeda motor, aktivitas yang dilakukan dengan elbow leaning
Terapi: fisioterapi, rehabilitasi, dan bedah

68. Glasgow Coma Scale

69. Perdarahan Subaraknoid

70. Vertigo
Vertigo perifer: suatu vertigo yang disertai dengan mual, muntah, dan
tinnitus. Nistagmus dapat juga timbul pada vertigo tersebut. Pasien
merasakan sensasi berputar kontralateral dari lesi sehingga mengalami
kesulitan berjalan dan jatuh ke arah sisi lesi pada saat situasi gelap atau
mata tertutup. Tempat patologis biasanya terjadi pada telinga dalam atau
sistem vestibular sehingga sering disebut otologi vertigo
Vertigo sentral: suatu vertigo yang disebabkan kelainan pada batang otak
atau sistem saraf pusat dan berasosiasi dengan adanya gejala batang otak
atau sistem serebelar seperti disartria, diplopia, disfagia, sendawa, kelainan
sistem saraf kranial, ataksia. Nistagmus yang terjadi dapat bersifat
multidireksional, bersifat kronik, dan tidak disertai oleh gejala
pendengaran.

Tatalaksana Vertigo
Tujuan tatalaksana vertigo adalah mengurangi gejala vertigo,
mengurangi morbiditas.
Obat yang digunakan adalah betahistin mesylate,meclizine,
dimenhydrinate, derivat fenotiazin, dan derivat benzodiazepin

71. Stroke
Gaze paresis: Lesi di tingkar hemisfer cerebrum,
mata akan terfiksasi ke sisi lesi.
Lesi di tingkat pons, mata akan terfiksasi menjauhi
lesi.

72. Gejala Fokal Tumor Otak


Supratentorial

LESI LOBUS FRONTALIS:

- Kelemahan tangan, kaki, atau wajah kontralateral


- Afasia motorik (hemisfer dominan)
- Perubahan kepribadian:
Tingkah laku anti sosial
Ketidak mampuan mengontrol diri
Kehilangan kemauan
Penurunan intellegensia
Demensia bila korpus kallosum terlibat

- Sindroma Foster-Kennedy (lesi di frontal bag basal)


Anosmia ipsilat
Atrofi papil ipsilat
Edema papil kontralat
Perubahan kepribadian

LESI LOBUS OKSIPITALIS


- Gangguan lap pandang ; hemianopsia homonim
LESI KORPUS KALLOSUM
- Apraksia
- Buta kata
LESI LOBUS PARIETALIS
- Gangguan sensibilitas:
Topognosis
Dua titik
Gerak pasif
Asterognosis
Ketajaman perabaan
- Gangguan lapangan pandang (quadrianopsia homonim inferior)
- Disorientasi kiri-kanan, finger agnosia, akalkulia, agrafia (gertsman
syndrome lobus dominan di girus Supramarginalis)
- Apraksia dan agnosia hemisfer non dominan girus Angularis

LOBUS TEMPORALIS
- Afasia sensorik Wirnicke
- Gangguan lap pandang quadrianopsia homonim
superior
LESI HIPOTHALAMUS:
Gangguan fungsi endokrin
Regulasi temperatur
Keseimbangan cairan dan elektrolit
dll
Gejala di SINUS KAVERNOSUS melibatkan N
III,IV,VI.

Gejala Fokal
Infratentorial
a.
Gejala lesi batang otak:
Lesi N Kranialis (III-XII)
Gangguan jaras motorik dan sensorik alternans
Penurunan kesadaran
Tremor
Gangguan gerak bola mata
Pupil tidak normal
Hiccup
b.
-

Gejala lesi serebelum:


Gait ataksia
Intension tremor
Dismetria
Disartria
Nistagmus

73. Epilepsi

Tatalaksana Epilepsi
Tujuan tatalaksana pasien epilepsi adalah mencapai keadaan bebas
kejang dengan efek samping pengobatan seminimal mungkin.
Monoterapi lebih dianjurkan karena mengurangi risiko adanya efek
samping dan menghindari interaksi obat.
Agen antikonvulsan memiliki mekanisme multipel seperti lamotrigine,
topiramate, asam valproat, zonisamide
Asam valproat, topiramate, dan lamotrigin digunakan pada epilepsi
generalized tonic clonic dan epilepsi mioklonik
Asam valproat dan ethosuximide digunakan untuk epilepsi tipe
absans

74. Demensia
Demensia adalah kelainan kognitif dan perilaku yang mengakibatkan
gangguan fungsi sosial dan okupasional.
Demensia bersifat progresif dan tidak dapat disembuhkan.
Pada penyakit Alzheimer, didapatkan plak pada hipokampus, struktur di
dalam otak yang mengkode memori dan area otak yang mengatur pusat
berpikir dan membuat keputusan.
Gejala klinis meliputi: lupa, kebingungan mengenai lokasi rumah,
memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas sehari-hari,
sering lupa menghitung uang, kehilangan spontanitas dan inisiatif,
perubahan mood, tidak dapatmengingat hal baru, kesulitan membaca,
menulis, menghitung, kehilangan perhatian, kehilangan kendali untuk
buang air kecil maupun besar, berat badan berkurang, hingga kesulitan
menelan.

Diagnosis Demensia

Pemeriksaan kognitif meliputi atensi, konsentrasi, ingatan, bahasa, praksis, fungsi luhur, dan fungsi visuospasial

Diagnosis Demensia

The development of multiple cognitive deficits manifested by both of the following:


Memory impairment (impaired ability to learn new information or to recall previously learned information)
One or more other cognitive disturbances: aphasia (language disturbance), apraxia (impaired ability to carry out motor activities despite intact motor function), agnosia
(failure to recognize or identify objects despite intact sensory function), disturbance of executive functioning
B. The cognitive deficits must each cause significant impairment in social or occupational function and represent a significant decline from a previous level of functioning.

C. The course of disease is characterized by gradual onset and continuing decline.


D. The cognitive deficits are not due to any of the following:

Other central nervous system conditions that cause progressive deficits in memory and cognition
Systemic conditions that are known to cause dementia
Substance-induced conditions
E. The deficits do not occur exclusively during the course of a delirium.
F. The disturbance is not better accounted for by another DSM-IV Axis I disorder (ie, a clinical disorder).

75. Paralisis nervus radialis (Saturday


Night Palsy)
Adalah suatu mononeuropati pada nervus radialis.
Banyak didapatkan pada orang yang tidur dengan lengan setelah mengonsumsi
alkohol sehingga sering disebut sebagai Saturday Night Palsy
Dapat disebabkan luka penetrasi atau fraktur kompresi maupun komplikasi operasi
pada daerah lengan
Manifestasi klinis yang khas adanya wrist drop atau drop hand dengan paralisis
otot ekstensor palmar dan parestesi regio yang diinervasi nervus radialis
Diagnosis banding: Posterior cord lesion (didapatkan kelemahan otot deltoid),
isolated finger drop C7 radiculopathy
Terapi: Immobilisasi dengan splint, dapat sembuh spontan bila tidak ada trauma
Sumber: Harrison, 18th Edition.

76. Stroke iskemik


Gangguan neurologis yang disebabkan oleh adanya iskemia pembuluh
darah otak oleh karena adanya oklusi yang disebabkan trombotik
maupun emboli.
Manifestasi klinis yang sering didapatkan adalah defisit neurologis
akut dengan perubahan kesadaran. Manifestasi lain adalah defisit
fungsi hemosensoris, defisit lapangan pandang, diplopia, disartria,
ataksia, vertigo, nistagmus, kelainan otot fasialis, dan afasia.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan CT angiografi dan MRI.
Tatalaksana awal: stabilisasi ABC, kontrol tekanan darah, identifikasi
kemungkinan terapi reperfusi (fibrinolisis, antiplatelet, maupun
trombektomi mekanis)

Faktor risiko stroke


Tidak dapat dimodifikasi: umur, ras, jenis kelamin, adanya riwayat
stroke pada keluarga, dan displasia fibromuskuler.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi: hipertensi, diabetes mellitus,
penyakit jantung, hiperkolestereolemia, stenosis arteri karotis, adanya
riwayat TIA, hiperhomosisteinemia, obesitas, pengonsumsian alkohol,
rokok, obat-obat terlarang, dan sedentary lifestyle

77. Subacute Combined Degeneration


Sinonim: posterolateral degeneration
Batasan: gangguan mula - mula pada kolumna posterior,kemudian
menyerang traktus kortikospinalis lateralis
Etiologi disebabkan oleh defisiensi vit B 12:
- gangguan absorbsi faktor intrinsik
setelah total atau parsial gastrectomy
- sindroma malabsorpsi
- defisiensi diet

Patofisiologi
Terjadi demielinisasi spinal cord yang nampak spongy di bawah
mikroskop:
- kolumna posterior, terutama di bagian
atas mielum
- kolumna lateralis (tr. Kortikospinalis &
spinoserebelaris
- saraf perifer juga terserang

Gambaran klinik
Awitan subakut
Gringgingan (parestesia) di tangan & tungkai di susul rasa tebal &
kelemahan otot bagian distal
Gangguan sensibilitas dalam
Paraparesis spastik dgn reflek patologis (+)
Kelainan vegetatif:pd pria impoten & pd wanita gangguan kandung
kemih
Kadang-kadang didapatkan gangguan mental dan N II

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium:
-Darah :
Anemia makrositer, pe MCV,
MCHC (N), lekopenia/thrombositopenia
ringan.

-Likuor serebrospinalis : Normal


Pengobatan dengan Injeksi B12 1 mg tiap hari selama 1 mgg, kemudian
3X/mgg sampai hapusan darah tepi normal. Setelah itu 1 mg /bulan.
Prognosis: baik

78. Myasthenia Gravis


MG merupakan kelainan transmisi neuromuskuler dengan
karakteristik kelemahan dan fatigue otot skeletal.
Kelainan yang mendasari MG adalah berkurangnya jumlah reseptor
asetilkolin (AChR) pada membran otot postsinaptik akibat reaksi
autoimun didapat yang menghasilkan antibodi anti-AChR.
90% pasien MG mengalami manifestasi oftalmik. Ptosis sendiri
merupakan tanda yang prominen dari MG.
Fatigue merupakan karakteristik kelopak mata myasthenik, dan
biasanya disertai variasi diurnal atau variasi aktivitas, dan bertambah
berat setelah menatap (terutama ke atas) dalam jangka waktu yang
lama.

Penyebab ptosis secara patofisiologis antara lain:

Aponeurotic or mechanical ptosis


Floppy eye syndome biasanya disertai keratitis atau konjungtivitis, sensasi benda
asing, injeksi konjungtiva, dan ada kotoran mata. Biasanya berhubungan dengan OSA
(obstructive sleep apneu).
Neurogenic ptosis biasanya disertai defisit neurologis lainnya
Myopathic ptosis
Disorder of neuromuscular junction myasthenis gravis. Ptosis merupakan tanda
yang prominen dari myasthenia gravis.
Disorder of the muscle chromic progressive external ophthalmoplegia, biasanya
disertai gerakan ektraokuler yang lambat dan terbatas, kedua mata biasanya simetris
Traumatic ptosis
Pseudoptosis
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/1171206

79. Parkinson
Penyakit Parkinson: kelainan degeneratif pada sistem saraf pusat.
Patofisiologi yang terjadi akibat kematian sel di substansia nigra yang
menghasilkan dopamin.
Terdapat akumulasi alfa sinuklein protein yang memberikan gambaran
Lewys bodies
Manifestasi klinis: tremor, rigiditas, bradikinesia, demensia, gangguan
tidur, depresi, dan lain-lain.

Terapi stadium awal: fisioterapi dan medikasi (levodopa, preparat


agonis dopamin)
Terapi stadium lanjut: dilakukan pada pasien dengan pemberian
levodopa lebih dari 5 tahun. Medikasi dengan MAO-B dan COMT
inhibitor.
MAO-B: Monoamin oksidase
COMT: Catechol-O Methyltransferase

80. Cauda Equina Syndrome


Cauda equina syndrome (CES) is a rare syndrome that has been described as a complex of symptoms and
signslow back pain, unilateral or bilateral sciatica, motor weakness of lower extremities, sensory
disturbance in saddle area, and loss of visceral functionresulting from compression of the cauda equina.
CES occurs in approximately 2% of cases of herniated lumbar discs and is one of the few spinal surgical
emergencies.
Etiology : tumors, trauma, spinal stenosis, inflammatory conditions
Signs : include weakness of the muscles of the lower extremeties innervated by the compressed lumbar
roots (often paraplegia), detrusor weaknesses causing urinary retention and post-void residual incontinence,
decreased anal tone and consequent fecal incontinence; sexual dysfunction; saddle anesthesia; bilateral (or
unilateral) sciatic leg pain and weakness; and absence of ankle reflex. Pain may, however, be wholly absent;
the patient may complain only of lack of bladder control and of saddle-anaesthesia, and may walk into the
consultingroom.
Red Flag Symptoms:(requiring urgent hospitalisation) include sciatic leg pain and/or severe back pain, with
altered sensation over saddle area (genitals, uretha, anus, inner thighs), urine retention or incontinence
Diagnosis : CT or MRI
Treatment : Surgical decompression

Gejala

Sindroma Konus Medularis

Sindroma Kauda Ekuina

Onset

Akut dan bilateral

Progresif dan unilateral

Refleks

KPR normal
APR tidak normal

KPR dan APR tidak normal

Nyeri radikular

Kurang dominan

Lebih dominan

Nyeri punggung

Lebih dominan

Kurang dominan

Fungsi sensoris

Rasa tebal lebih terlokalisasi pada daerah Rasa tebal lebih terlokalisasi pada area
perianal; simetris dan bilateral; terjadi saddle; asimetris dan dapat bersifat
disosiasi fungsi sensoris
unilateral; tidak ada disosiasi fungsi
sensoris; Dapat terjadi hipestesi pada
dermatom spesifik ekstremitas inferior
dengan rasa tebal dan parestesi; dapat
terjadi rasa tebal pada pubis termasuk
glans penis dan klitoris

Fungsi motorik

Kelemahan simetris; hiperrefleks pada Asimetris arefleksia paraplegia lebih


tungkai bawah distal dapat kurang jelas; dominan; jarang didapatkan fasikulasi;
dapat terjadi fasikulasi
sering didapatkan atrofi

Disfungsi ereksi

Sering didapatkan

Disfungsi
sphincter

Retensi urin dan Retensi alvi dapat Retensi urin; sering didapatkan pada akhir
menyebabkan overflow inkontinensia urin penyakit
dan alvi; cenderung timbul pada awal gejala

Jarang didapatkan;

Psikiatri TO4

81. Psikiatri anak


Autis: gangguan interaksi sosial, komunikasi, perilaku yang terbatas
& berulang.

Sind Rett: kehilangan ketrampilan tangan & bicara disertai


perlambatan pertumbuhan kepala.
Sind Asperger: gangguan interaksi sosial, pola perilaku berulang,
tanpa keterlambatan kognitif/bahasa.
Ansietas perpisahan: enggan berpisah, takut ditinggal seorang diri,
gejala fisik (sakit kepala, perut, mual, muntah), rasa susah.
Gangguan lain: enuresis, enkopresis, pika, stuttering.
PPDGJ
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Psikiatri anak: Gangguan Autistik


A. a total of six (or more) items from (1), (2), & (3):
(1) At least 2 qualitative impairment in social interaction:

marked impairment in the use of multiple nonverbal behaviors such as


eye-to-eye gaze, facial expression, body postures, and gestures
failure to develop peer relationships
a lack of spontaneous seeking to share enjoyment, interests, or
achievements with other people
lack of social or emotional reciprocity

(2) At least 1 qualitative impairments in communication:

delay in, or total lack of, the development of spoken language


in individuals with adequate speech, marked impairment in the ability
to initiate or sustain a conversation
stereotyped & repetitive use of language or idiosyncratic language
lack of varied, spontaneous make-believe play or social imitative play
appropriate
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Psikiatri anak: Gangguan Autistik


(3) At least 1 restricted repetitive & stereotyped patterns of behavior, interests,
& activities:
encompassing preoccupation with one or more stereotyped and restricted patterns of
interest that is abnormal either in intensity or focus
apparently inflexible adherence to specific, nonfunctional routines or rituals
stereotyped and repetitive motor mannerisms (e.g., hand or finger flapping or twisting,
or complex whole-body movements)
persistent preoccupation with parts of objects

B. Delays or abnormal functioning in at least one of the following areas,


with onset prior to age 3 years: (1) social interaction, (2) language as
used in social communication, or (3) symbolic or imaginative play.
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

82. Gangguan Makan


Diagnosis
Bulimia nervosa

Karakteristik
Kriteria diagnosis harus memenuhi ketiga hal ini:
1. Preokupasi menetap untuk makan
2. Pasien melawan efek kegemukan (merangsang muntah,
pencahar, puasa, obat-obatan penekan nafsu makan)
3. Rasa takut yang berlebihan akan kegemukan & mengatur
beratnya di bawah berat badan yang sehat.

Anoreksia nervosa Kriteria diagnosis harus memenuhi semua hal ini:


1. Berat badan dipertahankan < 15% di bawah normal
2. Ada usaha mengurangi berat (muntah, pencahar, olahraga,
obat penekan nafsu makan)
3. Terdapat distorsi body image
4. Adanya gangguan endokrin yang meluas (amenorea,
peningkatan GH, kortisol.
5. Jika terjadi pada masa prepubertas, maka pubertas dapat
tertunda.

PPDGJ

83. Gangguan Somatoform


Diagnosis

Karakteristik

Gangguan somatisasi

Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1


seksual, 1 pseudoneurologis).

Hipokondriasis

Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik
somatoform

Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


tremor, flushing.

Nyeri somatoform

Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik
Tubuh

Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan
PPDGJ

84. Gangguan Disosiatif


Diagnosis

Karakteristik

Amnesia

Hilang daya ingat mengenai kejadian stressful atau traumatik yang


baru terjadi (selektif)

Fugue

Melakukan perjalanan tertentu ke tempat di luar kebiasaan, tapi


tidak mengingat perjalanan tersebut.

Stupor

Sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan volunter & respons


normal terhadap rangsangan luar (cahay, suara, raba)

Trans

Kehilangan sementara penghayatan akan identitias diri &


kesadaran, berperilaku seakan-akan dikuasai kepribadian lain.

Motorik

Tidak mampu menggerakkan seluruh/sebagian anggota gerak.

Konvulsi

Sangat mirip kejang epileptik, tapi tidak dijumpai kehilangan


kesadaran, mengompol, atau jatuh.

Anestesi &
kehilangan
sensorik

Anestesi pada kulit yang tidak sesuai dermatom.


Penurunan tajam penglihatan atau tunnel vision (area lapang
pandang sama, tidak tergantung jarak). Contoh: buta konversi dan
tuli konversi
PPDGJ

Diagnosis

Karakteristik

Depersonalisasi

Perasaan dan/atau pengalamannya lepas dari dirinya, jauh, bukan


dari dirinya, hilang.

Derealisasi

Objek, orang, dan/atau lingkungan menjadi seperti tidak


sesungguhnya, jauh, semu, tidak hidup.

Kepribadian
ganda

Adanya dua identitas berbeda yang mengontrol perilaku individu


secara berulang, disertai sulit mengingat informasi pribadi yang
penting.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.

85. Depresi
Gejala utama:
1. afek depresif,
2. hilang minat &
kegembiraan,
3. mudah lelah &
menurunnya
aktivitas.

Gejala lainnya:
1. konsentrasi menurun,
2. harga diri & kepercayaan diri
berkurang,
3. rasa bersalah & tidak berguna
yang tidak beralasan,
4. merasa masa depan suram &
pesimistis,
5. gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh
diri,
6. tidur terganggu,
7. perubahan nafsu makan (naik
atau turun).
PPDGJ

Depresi
Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala lain > 2 minggu
Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala lain, >2 minggu.

Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain > 2 minggu. Jika
gejala amat berat & awitannya cepat, diagnosis boleh ditegakkan meski
kurang dari 2 minggu.
Episode depresif berat dengan gejala psikotik: episode depresif berat +
waham, halusinasi, atau stupor depresif.
PPDGJ

Suicide Ideation
Whether to hospitalize patients with suicidal ideation is the most
important clinical decision to be made.
Indications for hospitalization:
the absence of a strong social support system,
a history of impulsive behavior, and
a suicidal plan of action

To decide whether outpatient treatment is feasible, clinicians should use a


straightforward clinical approach: Ask patients who are considered suicidal
to agree to call when they become uncertain about their ability to control
their suicidal impulses.

86. Ansietas Fobik


Agorafobia
Kecemasan timbul ketika berada di tempat atau situasi di mana meyelamatkan diri
sulit dilakukan (atau memalukan) atau tidak tersedia pertolongan pada saat terjadi
serangan panik. Situasi tersebut mencakup berada di luar rumah seorang diri, di
keramaian, atau bepergian dengan bus, kereta, atau mobil.

Fobia Sosial
Rasa takut yang berlebihan akan dipermalukan atau melakukan hal yang
memalukan pada berbagai situasi sosial, seperti bicara di depan umum, berkemih
di toilet umum, atau makan di tempat umum.

Fobia Khas
Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau situasi, antara lain:
hewan, bencana, ketinggian, penyakit, cedera, dan kematian.

87. Gangguan Proses Pikir


Loosening of
associations or
derailment
Flight of ideas
Racing thoughts
Tangentiality
Circumstantiality

Word salad or
incoherence
Neologisms
Clang associations
Punning
Thought blocking
Vague thought

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Symptoms

Description

Loosening of associations a disorder in the logical progression of thoughts, manifested as a


failure to communicate verbally adequately; unrelated and
unconnected ideas shift from one subject to another
Co: Saya yang menjalankan mobil kita harus membikin tenaga
nuklir dan harus minum es krim.
Incoherence/word salad

Communication that is disconnected, disorganized, or


incomprehensible.
Co: Saya minta dijanji, tidur, lahir, dengan pakaian lengkap untuk
anak saya satu atau lebih menurut pengadilan Allah dengan suami
jodohnya yang menyinggung segala percobaan.

Clang associations

Ideas that are related only by similar or rhyming sounds rather than
actual meaning

Idea of reference

Misinterpretation of incidents and events in the outside world as


having direct personal reference to oneself. If present with sufficient
frequency or intensity or if organized and systematized, they constitute
delusions of reference.

Circumstantiality

Disturbance in the associative thought and speech processes in which a


patient digresses into unnecessary details and inappropriate thoughts
before communicating the central idea.

Flight of
Ideas/lompat
gagasan

pikiran yang sangat cepat, verbalisasi berlanjut atau permainan kata


yang menghasilkan perpindahan yang konstan dari satu ide ke ide
lainnya; ide biasanya berhubungan, pendengar mungkin dapat mengikuti
jalan pikirnya
Co: Waktu saya datang ke rumah sakit kakak saya baru mendapat
rebewes, lalu untung saya pakai kemeja biru, hingga pak dokter
menanyakan bila sudah makan

Tangensial

ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara langsung dan seringkali


pada akhirnya tidak mencapai point atau tujuan yang diharapkan

Bloking

jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat.


Pasien tidak dapat menerangkan kenapa ia berhenti

Neologisms

membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum,


Misalnya Saya radiltu semua partimun

88. Psychotherapy-Counseling
Psychoterapy
Suatu usaha untuk meringankan
penderitaan dan disabilitas
psikologis dengan menginduksi
perubahan perilaku dan dan sikap
pasien

Psychotherapy Indications
Sebagian besar diagnosis axis I dan II, baik sebagai terapi
sendiri atau kombinasi dengan yang lain
Alone or in combination with medications
Depression, anxiety disorders, eating disorders, sexual
disorders, dissociative disorders, paraphilias, addictions,
personality disorders

In combination with medications


Schizophrenia, bipolar disorder

Contraindications:
delirium, dementia, psychopathy

Types of Psychotherapy
Psychodynamic
Cognitive Behavioural therapy
Supportive

Psychodynamic Psychotherapy
Balance between here and now
relationships and early
relationships
Once per week
Face to face
6 months to several years
Anxiety and depression,
personality disorders,
somatoform disorders, sexual
dysfunction

3 areas addressed
Ego psychology: Drive
gratification (desire and
aggression)
Freud

Object relations: How we


perceive our relationships
Klein, Fairburn, Winnicott
Attachment theory: Basic
need for affirmation,
safety, reassurance and
self esteem
Bowlby, Mahler, Fonagy

CBT : Behavioural Methods


Break patterns of avoidance or helplessness behavioural activation
Gradually face feared situations systematic desensitization
Build coping skills graded task assignments
Reduce painful emotions and physiological arousal breathing and
relaxation training
Indikasi: Fobia

Supportive Psychotherapy
Reduction in anxiety through empathy, concern and understanding
Strengthen healthy or effective mechanisms of coping
Helpful for most psychiatric disorders
Often used in conjunction with other treatments

Counseling
Counseling is the mutual
exploration and exchange
of ideas, attitudes, and
feelings between a
counselor and a client
specifically including

a clients misperceptions
about the disorder
a clients misperceptions
that create emotional
overlays affecting selfconcept, and
a disparity between a
clients thoughts & feelings
Cooper (1983)

Memiliki berbagai teknik,


diantaranya adalah
person-centered
counseling dan CEA

Mowrer (1982) made clear


distinction between:

Guidance: to provide information


Counseling: to help solve problems &
adjustment issues and
Psychotherapy: to change personality

Person-centered Counseling (Rogers


1964)
1.

Two people in psychological


contact

2.

Client is in a state of
incongruence

3.

Therapist is congruent and


involved in relationship

4.

Therapist has unconditional


positive regard for client

4.

Therapist has
empathetic
understanding of the
clients frame of
reference

5.

Communication of
empathetic and positive
regard is achieved.

6.

Pada person-centered,
yang ditekankan dan
menjadi fokus adalah
rasa empati pada
pasien dan
kemampuan
mendengar aktif

Catharsis Education and Action (CEA)


a counseling technique that
takes many features of Carl
Roger's person-centered
psychotherapy
consists of three phases:
catharsis,
education
Action

Catharsis dapat dilakukan


terhadap individu maupun
keluarga
Bila masalah/penyakit pasien
mempengaruhi fungsi
keluarga
Co: pada penyakit keganasan

Catharsis
clarify or define the problem
hidden emotions surface and ventilated
Adress emotionally critical
misperceptions (ECMs)

Education
Identifikasi jika ada misinterpretasi
pasien
misperceptions are corrected using
scientific evidence or the latest
information

Action
Implementation of the needed
behavioral changes

Psikoterapi
Group
psychoterapy

Individu yang sakit bertemu dalam kelompok & saling membantu


untuk berubah dipandu oleh terapis.

Family therapy

Psikoterapi yang berfokus pada perubahan interaksi antar anggota


keluarga & memperbaiki fungsi keluarga serta fungsi masing-masing
anggota keluarga.

Behavior
therapy

Mengubah perilaku pasien untuk mengurangi disfungsi &


meningkatkan kualitas hidup.

Cognitive
therapy

Terapi terstruktur, jangka pendek menggunakan kolaborasi antara


pasien & terapis untuk mencapai tujuan terapeutik yang diarahkan
pada masalah saat ini.

Interpersonal
therapy

Terapi yang bertujuan untuk mengurangi gejala psikiatrik dengan


memperbaiki kualitas hubungan interpersonal pasien & fungsi
sosialnya.

Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

89. Sexual Disorder


Diagnosis

Karakteristik

Fetishism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the


use of nonliving objects (e.g., female undergarments).

Frotteurism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving


touching and rubbing against a nonconsenting person.

Masochism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the


act (real, not simulated) of being humiliated, beaten, bound, or
otherwise made to suffer.

Sadism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving acts


(real, not simulated) in which the psychological or physical suffering
(including humiliation) of the victim is sexually exciting to the person.

Voyeurism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the


act of observing an unsuspecting person who is naked, in the process
of disrobing, or engaging in sexual activity.

Necrophilia

Necrophilia is an obsession with obtaining sexual gratification from


cadavers.

90. Sleep Disorder


DSM-IV-TR divides primary sleep
Parasomnias: abnormal behaviors
disorders into:
during sleep or the transition
between sleep and wakefulness.
Dyssomnias: disorders of quantity or
Nightmare
timing of sleep
Insomnia

primary insomnias: insomnia is


independent of any known physical or
mental condition.

Hypersomnia

sleeping too much, as well as being drowsy at


times when client should be alert
Excessive sleepiness

Narcolepsy

Sleeping at the wrong time


Sleep intrudes into wakefulness, causing clients
to fall asleep almost instantly
Sleep is brief but refreshing
May also have sleep paralysis, sudden loss of
strength, and hallucinations as fall asleep or
awaken.

Circadian rhythm sleep disturbances

Repeated awakenings from bad dreams


When awakened client becomes oriented
and alert

Night terror

Abrupt awakening from sleep, usually


beginning with a panicky scream or cry.
Intense fear and signs of autonomic arousal
Unresponsive to efforts from other to calm
client
No detailed dream recalled
Amnesia for episode

Sleep walking/somnabulisme

Rising from bed during sleep and


walking about.
Usually occurs early in the night.
On awakening, the person has amnesia
for episode

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

91&92. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:
Harus ada minimal 1 gejala berikut:

Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya


Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
Halusinasi auditorik

Atau minimal 2 gejala berikut:

Halusinasi dari panca-indera apa saja


Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal


1 bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,


pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang


memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek


tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ

93. Psychomotor Disturbance


Diagnosis

Karakteristik

Coprolalia

Involuntary use of vulgar or obscene language. Observed in some


cases of schizophrenia and in Tourette's syndrome.

Echolalia

Psychopathological repeating of words or phrases of one person by


another; tends to be repetitive and persistent. Seen in certain kinds
of schizophrenia, particularly the catatonic types.

Echopraxia

Imitation of another person behavior. Seen sometimes in


schizophrenia & Tourette syndrome.

Echomimia

Automatic repetition by a patient of words or movements of others.


Also called echopathy, comprise of echolalia & echopraxia.

Palilalia

Increasingly rapid repetition of the same word or phrase, usually at


the end of sentence.

Cataplexy

sudden and transient episode of muscle weakness accompanied by


full conscious awareness, typically triggered by emotions such as
laughing, crying, terror, etc. Cardinal symptoms of narcolepsy

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

94. Gangguan Afektif


Gangguan Afektif Bipolar:
episode berulang minimal 2 kali,
pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek & penambahan energi
dan aktivitas,
pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi &
aktivitas.
Biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Tipe:

Afektif bipolar, episode kini hipomanik


Afektif bipolar episode kini manik tanpa/dengan gejala psikotik
Afektif bipolar episode kini depresif ringan atau sedang
Afektif bipolar episode kini depresif berat tanpa/dengan gejala psikotik
Afektif bipolar episode kini campuran
Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Gangguan Afektif
Pada gangguan afektif dengan ciri psikotik, waham
bersifat mood-congruent (konsisten dengan
depresi/manik)
Depresi: waham tentang dosa, kemiskinan,
malapetaka, & pasien merasa bertanggung jawab.
Manik: waham tentang kekuasaan, uang, utusan
Tuhan.
Diagnosis

Gejala Psikotik

Gangguan Afektif

Skizofrenia

Ada

Durasi singkat

Skizoafektif

Ada, dengan atau tanpa


gangguan afektif

Hanya ada bila gejala


psikotik (+)

Gangguan afektif dengan


ciri psikotik

Hanya ada selama


gangguan afektif (+)

Ada, walau tanpa gejala


psikotik

Kulit dan Kelamin Batch 4


Nov 2014
Eno

95. Inguinal Lymph Node Drainage

http://www.aafp.org/afp/2002/1201/p2103.html

Schematic drawing of
lymphatic drainage of inguinal
nodes. There is a cross with its
middle point in the saphena
hiatus. The penile and scrotum
lymphatic drainage is
performed, by the upper
internal quarter (arrows).

http://www.hindawi.com/journals/au/2011/952532/fig1/

96. Miliaria
Kelainan kulit akibat retensi keringat
Miliaria kristalina:
Vesikel berukuran 1-2 mm pada bedan setelah banyak berkeringat, tanpa tanda
radang, pada bagian yang tertutup pakaian, keluhan tidak ada. Tx/ menghindari
panas, pakaian tipis & menyerap keringat

Miliaria rubra:
Papul merah yang gatal, pada badan dan tempat-tempat tekanan/gesekan pakaian.
Tx/ menghindari panas, pakaian tipis & menyerap keringat, bedak salisil 2% +
menthol 0,25-2%, losio calamin

Miliaria profunda
Timbul setelah miliaria rubra, papul putih, keras di badan dan ekstremitas, tidak
gatal, tidak eritema. Tx/ menghindari panas, pakaian tipis & menyerap keringat, losio
calamin, resorsin 3%

97. Proteus mirabilis


gram negative, facultative anaerobe rod
causes infections in human urinary tract (pyelonephritis, kidney stones) followed
by septicaemia
Proteus sp. possess urease, which raises the pH and cause
precipitation of phosphate crystals leading to stone formations
motile bacterium with peritrichous flagella
Morphology change in swarming process
Catheter associated UTI caused by proteus spurinary tract stone

E. coli
Present in GIT
Endogennous infection after breaking of immune barieres,
Bakterial sepsis( from focuses in urinary tract or
git)most common cause of G negatif sepsis,
Urinary tract infectionmostly in out patients,
transmitted from GIT ascendently, specific serotypes
adhering to urinary
Forms complex of numerous o-somatic, H- flagellar and K
- capsular antigens

98. Herpes Simpleks


Infeksi akut yang disebabkan oleh HSV yang ditandai dengan adalnya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa di
daerah dekat mukokutan
Predileksi HSV tipe I di daerah pinggang ke atas, predileksi HSV tipe II di
daerah pinggang ke bawah terutama genital
Gejala klinis:

Infeksi primer: vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa,
berisi cairan jernih yang kemudian seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang
mengalami ulserasi dangkal, tidak terdapat indurasi, sering disertai gejala sistemik
Fase laten: tidak ditemukan gejala klinis, HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak
aktif di ganglion dorsalis
Infeksi rekuren: gejala lebih ringan dari infeksi primer, akibat HSV yang sebelumnya
tidak aktif mencpai kulit dan menimbulkan gejala klinis

Pemeriksaan: ditemukan pada sel dan dibiak, antibodi, percobaan Tzanck


(ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear)
Pengobatan: idoksuridin topikal (pada lesi dini), asiklovir
Komplikasi: meningkatkan morbiditas/mortalitas pada janin dengan ibu
herpes genitalis

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Indication

Acyclovir

First episode

400 mg tid OR
200 mg 5
times/d (for 710 d)

1000 mg bid
(for 7-10 d)

250 mg tid (for


7-10 d)

Recurrent

400 mg tid (for


3-5 d) OR 800
mg PO tid (for
2 d)

500 mg bid (for


3 d)

1000 mg bid
(for 1 d)

400 mg bid

500 mg qd
or
1000 mg qd
(if >9
recurrences/y)

Daily
suppression

Valacyclovir

Famciclovir

Tzank Smear
250 mg bid

http://emedicine.medscape
.com/article/274874overview#aw2aab6b7

HSV-1; orofacial disease


HSV-2; genital disease
Herpetic vesicles appear on the external genitalia, labia majora, labia minora, vaginal
vestibule, and introitus.
In moist areas, the vesicles rupture, leaving exquisitely tender ulcers.
medical treatment of herpes simplex virus (HSV) infection is centered around specific
antiviral treatment.
HSV-1 Cold sore

HSV-2 Genital Herpes

99. SKROFULODERMA

Penjalaran perkontinuitatum dari organ dibawah kulit


yang diserang penyakit TB (kelenjar getah bening, sendi,
tulang)
Lokasi
leher : dari tonsil atau paru
ketiak : dari apeks pleura
lipat paha : dari ekstremitas bawah KGB Inguinal lateral

Perjalanan penyakit:

Awal : limfadenitis TB

KGB membesar tanpa tanda radang akut

Periadenitis

perlekatan kelenjar dengan jaringan sekitar sekitar

Perlunakan tidak serentak cold abses Pecah


Fistelmemanjang, tidak teratur, sekitarnya livide menggaung
tertutup pus seropurulen
Sikatrik skin bridge

DD/ : limfosarkoma, limfoma malignum, hidradenitis


supurativa LGV

Histopatologi

Cuboid cell
lining

100. Tinea Kruris


Penyebab:
Trichophyton sp., E.floccosum
Klinis:
Predileksi pada lingkungan lembab (celana ketat,
pendek)
Lesi berbatas tegas
Tepi lebih aktif, polimorfik
Bila menahun hiperpigmentasi
dengan sedikit
skuama

101. Keganasan pada kulit


Karsinoma sel basal

Berasal dari sel epidermal


pluripoten. Faktor
predisposisi: lingkungan
(radiasi, arsen, paparan sinar
matahari, trauma, ulkus
sikatriks), genetik
Usia di atas 40 tahun
Biasanya di daerah berambut,
invasif, jarang metastasis
Bentuk paling sering adalah
nodulus: menyerupai kutil,
tidak berambut, berwarna
coklat/hitam, berkilat (pearly),
bila melebar pinggirannya
meninggi di tengah menjadi
ulkus (ulcus rodent) kadang
disertai talangiektasis, teraba
keras

Karsinoma sel skuamosa

Berasal dari sel epidermis. Etiologi: sinar


matahari, genetik, herediter, arsen,
radiasi, hidrokarbon, ulkus sikatrik
Usia tersering 40-50 tahun
Dapat bentuk intraepidermal
Dapat bentuk invasif: mula-mula
berbentuk nodus keras, licin, kemudian
berkembang menjadi verukosa/papiloma.
Fase lanjut tumor menjadi keras,
bertambah besar, invasif, dapat terjadi
ulserasi. Metastasis biasanya melalui
KGB.

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

SCC

Melanoma maligna
Etiologi belum pasti. Mungkin faktor
herediter atau iritasi berulang pada
tahi lalat
Usia 30-60 tahun
Bentuk:
Superfisial: Bercak dengan warna
bervariasi, tidak teratur, berbatas
tegas, sedikit penonjolan
Nodular: nodus berwarna biru
kehitaman dengan batas tegas
Lentigo melanoma maligna: plakat
berbatas tegas, coklat kehitaman,
meliputi muka

Prognosis buruk

BCC

MM

102. Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)


Redness or tenderness of the face, trunk,
intertriginous zones
Short lived flaccid bullae and a slough of
superficial epidermis
Crusted areas develop around the mouth
Distinguishing features: young age group
(infants), more superficial, no oral lesions,
shorter course
Associated with Staph exfoliative toxin
Lesions are sterile vs bullous impetigo
Conjuctivitis, rhinorrhea, Otitis media,
pharyngitis

103. Dermatitis Kontak

Dermatitis Kontak Iritan


Reaksi peradangan kulit nonimunologik (tanpa didahului proses
desensitisasi)
Dapat diderita semua orang
Penyebab: bahan iritan
Gejala: beragam tergantung sifat iritan
Akut: kulit terasa pedih, panas, terbakar, eritema edema, bula
Kronik: kulit kering, eritema, skuama, hiperkeratosis, likenifikasi

Jenis:

Kategori mayor: DKI akut, DKI kumulatif (kronis)


Kategori lain: DKI lambat akut, reaksi iritasi, DKI traumatik, DKI eritematosa, DKI
subyektif

Pengobatan: menghindari pajanan, KS


Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Dermatitis kontak alergi


Reaksi peradangan kulit imunologik, diperantarai cell-mediated immune response
(hipersensitivitas tipe IV)
Mengenai orang yang kulitnya hipersensitif
Penyebab: hapten (alergen yang belum diproses, lipofilik, sangat reaktif, mampu
menembus stratum korneum)
Fase: sensitisasi & elitisasi
Gejala:
Akut: gatal, eritema, edema, papulovesikel, vesikel, bula
Kronik: kulit kering, skuama, papul, likenifikasi, fisur

DD: DKI
Pemeriksaan: uji tempel
Pengobatan: menghindari pajanan, KS
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Uji tempel digunakan untuk membedakan DKA dengan DKI


Antigen dibiarkan menempel selama 48 jam
Pembacaan dilakukan 2 kali: pertama dilakukan 15-30 menit setelah
dilepas; kedua dilakukan 72-96 jam setelah dilepas
Bila reaksi bertambah (crescendo) di antara kedua pembacaan,
cenderung ke respons alergi. Disesuaikan juga dengan keadaan klinis.
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

104. Schistosomiasis
Schitosoma japonicum inhabits in the portal venous
system
Skin contact with water contaminated by cercaria
The basic pathologic lesion is the egg granuloma in
the liver and colon
Acute schitosomiasis:fever,enlargement and
tenderness of the liver,eosinophilia,and dysentery
Chronic schitosomiasis : fibro-obstructive lesion
around the portal vessels
Late stage: giant spleen, ascites, hypertension of
portal venous system

Etiology
Mature worms: Dioecious
Female :long and thin.
Male:short and thick
Eggs: miracidia in it

2530

Schistosoma egg
JK

Sch.mansoni egg

Sch. Haematobium
egg

Sch. japonicum egg

105. Alopecia Areata


Sudden loss of hair in round or irregular patches; may
occur on scalp or anywhere else on body. Its highly
unpredictable; affects almost 5 million people in the U.S.
Immune system attacks hair follicles
Exclamation mark sign
Begins with one or more small, bald patches
Can progress to the total scalp hair loss (alopecia totalis) or
complete body hair loss (alopecia universalis)

Occurs in males and females of all ages and races


Can begin in childhood

Scalp shows no sign of inflammation


No obvious signs of skin disorder or disease

Alopecia Medical Therapy


Minoxidil
Antihypertensive
Side effect: hypertrichosis
Topical 2%, 5%
Stop progression
and reverse
changes
Delayed onset
Prolonged use

Finasteride
Specifically inhibits 5alpha reductase, type
2
Lowers dihydrotestosterone levels
1mg/day
Side effect: decreased
libido
Not used in women

Surgical Therapy
Scalp reduction
Scalp flaps
Hair grafting

106. Lesi kulit di ketiak


Hydradenitis supurativa
disorder of the terminal follicular
epithelium in the apocrine gland
bearing skin.
key elements are required to
diagnose hidradenitis suppurativa:
typical lesions,
characteristic distribution,
and recurrence

characterized by painful comedolike


follicular occlusion, chronic relapsing
inflammation, mucopurulent
discharge, and progressive scarring
areas most frequently affected by
hidradenitis suppurativa: the axillae
and the groin

Scrofuloderma
Scrofula is the term used for
tuberculosis of the neck, or,
more precisely, a cervical
tuberculous lymphadenopathy
The most usual signs and
symptoms are the appearance
of a chronic, painless mass in
the neck, which is persistent
and usually grows with time
skin becomes adhered to the
mass and may rupture, forming
a sinus and an open wound

Hidradenitis supuratif

Scrofuloderma

Terapi Hidradenitis Supurativa


Topical

Systemic

Clindamycin : B Rec
15% Resorcinol peels : C Rec
Intralesional TAC: C Rec for
single lesions

Clindamycin & Rifampicin: (both


300 mg BID X 3 months) B Rec
TCN: 500 mg BID x 3 months: B Rec
Immunosupressants:

Surgical

Steroids: B Rec, but get rebound


flares when stopped
Cyclosporine: B Rec
TNF-a inhibitors: B Rec, Etanercept,
adalimumab, & Infliximab
Methotrexate: D Rec

Surgical
The principal treatment for chronic, relapsing & severe
HS : B Rec
The wider the excision, the better: C Rec
Healing by 2ndary intention is better: C Rec
HS is a generalized disease at onset, so will get
recurrences at sites & in regions not surgerized.

B. Wayne Blount, MD, MPH. American Academy of Family Physicians

107. Rosasea
Etiologi:
Penyakit kulit akibat kelainan kelenjar sebasea. Gejala
utama adalah adanya pelebaran pembuluh darah di dagu,
dahi dan bagian bawah hidung menjadi membesar.

Gejala
Mata kering, tekstur dan nyeri kulit, wajah memerah
setelah kepanasan, makanan pedas dan alkohol adalah
gejala lain dari rosacea.

Jenis Rosacea:

Erythematotelangiectatic rosacea
Phymatous rosacea
Papulopustular rosacea
Ocular rosacea

Terapi Rosasea
Perubahan gaya hidup
Hindari sinar matahari
Kosmetik dan sabun cuci muka yang tidak abrasif
antibiotik topikal dan tetrasiklin oral untuk meringankan peradangan
Minocycline, doxycycline dan tetrasiklin adalah beberapa antibiotik tetrasiklin
oral umum yang dapat digunakan

Skinoren dan Finacea adalah beberapa asam (azelat topikal) yang


dapat secara efektif menurunkan radang, papul dan benjolan.

108. Neurodermatitis
Nama lain Liken Simplek kronikus sebuah peradangan kulit kronis,
gatal, sirkusrip. Ditandai dengan kulit tabal dan likenifikasi.
Etiologi: pruritus yang diakibatkan oleh gagal ginjal kronis,
obstruksisaluran empedu, limfoma hodgkin, dermatitis atau aspek
psikologi
Gejala klinis: pruritus, plak eritematosa, likenifikasi dan ekskoriasi.

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin


FKUI edisi kelima

Tata laksana neurodermatitis:

Edukasi bahwa garukan akan memperburuk lesi


Antipruritus: antihistamin dengan efek sedatif
Kortikosteroid topikal atau intalesi
Ter yang mempunyai efek antiinflamasi

Ilmu Kesehatan Anak

Cariogenic bacteria reside in


dental plaque colonize on
tooth surfaces and produce
polysaccharides enhance
adherence of the plaque to
enamel increasing numbers of
cariogenic bacteria.

109Karies Gigi

FORMATION OF A CARIOUS
LESION:
cariogenic bacteria in dental
plaque metabolize a substrate
from the diet (e.g., sugars and
other fermentable
carbohydrates) the acid
produced as a metabolic byproduct demineralizes the
adjacent enamel crystal surface
(loss of calcium, phosphate, and
carbonate) dental caries

http://parkell.cdeworld.com/courses/4599Dental_Plaque_as_a_Biofilm:The_Significance_of_pH_in_Health_and_Caries

Fluoride works to control early dental


caries in several ways:
Fluor terkonsentrasi pada plak dan saliva
menghambat demineralisasi enamel yang sehat dan
merangsang remineralisasi dari enamel yang rusak
Ktk bakteri kariogenik memetabolisme karbohidrat fluor
dibebaskan dari dental plaque akibat penurunan pH
Fluor yg terlepas dr plak dan fluor dari saliva kemudian
diambil, bersama dengan kalsium dan fosfat membentuk
lapisan enamel baru.
Lapisan enamel yang baru lebih tahan asam dan lebih
banyak mengandung fluor dan lebih sedikit mengandung
karbonat

Fluoride works to control early dental


caries in several ways:
Fluor juga menghambat karies dentis dengan
mempengaruhi aktivitas bakteri kariogenik
Ketika fluoride terkonsentrasi pada dental plaque, fluor
menghambat metabolisme karbohidrat oleh bakteri
kariogenik dan mempengaruhi produksi adhesive
polysaccharides.

Fluoride
Saliva merupakan sumber utama
fluor topikal, tetapi kadar fluor
pada duktus saliva yang
disekresikan sebenarnya rendah
dan tidak menghambat aktivitas
bakteri kariogenik
Akan tetapi, dgn minum air yg
terfluorisasi, mentikat gigi dgn
pasta mengandung fluor, dapat
meningkatkan konsentrasi fluor
di saliva hingga 100 s.d 100 kali
lipat
Konsentrasi Fluor tersebut
kembali normal dalam 1-2 jam,
tetapi selama jangka waktu ini,
saliva menjadi sumber fluor
untuk dental plaque dan
remineralisasi

Fluoride's predominant effect is


posteruptive and topical and
that the effect depends on
fluoride being in the right
amount in the right place at the
right time.
Fluoride works primarily after
teeth have erupted, especially
when small amounts are
maintained constantly in the
mouth, specifically in dental
plaque and saliva.

http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5014a1.htm

Fluorosis Gigi
Penggunaan fluor dalam waktu yang lama selama pembentukan
enamel mengakibatkan perubahan-perubahan klinik yang dimana
dari timbulnya garis putih yang kecil pada enamel sampai dengan
yang parah yaitu enamel menjadi putih seperti kapur dan opak dan
mungkin sebagian patah, segera sesudah gigi erupsi.
Risiko pada anak <6 tahun.

Fluorosis Gigi
The proper amount of fluoride helps prevent and control dental
caries.
Severe forms of this condition can occur only when young children
ingest excess fluoride, from any source, during critical periods of
tooth development.
The severity of the condition depends on the dose, duration, and
timing of fluoride intake.

110. Ikterus Neonatorum


Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
Ikterus fisiologis:

Awitan terjadi setelah 24 jam


Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-15
mg/dl pada NCB

Ikterus non fisiologis:

Awitan terjadi sebelum usia 24 jam


Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB

Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain

Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk.


Ditandai bilirubin direk > 1 mg/dl jika bil tot <5 mg/dl atau bil direk
>20% dr total bilirubin. Penyebab: kolestasis, atresia bilier, kista
duktus koledokus.
Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.

Kolestatis
Bilirubin
indirek

Bilirubin Direk

Larut air: dibuang lewat ginjal

OBSTRUKSI

Urin warna
teh

Tidak ada bilirubin direk yg menuju usus

Feses warna
Dempul

Kolestasis (Cholestatic Liver Disease)


Definisi : Keadaan bilirubin direk > 1 mg/dl bila bilirubin total < 5
mg/dl, atau bilirubin direk >20% dari bilirubin total bila kadar bil.total
>5 mg/dl
Kolestasis : Hepatoselular (Sindrom hepatitis neonatal) vs Obstruktif
(Kolestasis ekstrahepatik)
Sign and Symptom : Jaundice, dark urine and pale stools, nonspecific
poor feeding and sleep disturbances, bleeding and bruising, seizures

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang

Atresia Bilier
Merupakan penyebab kolestasis tersering dan serius pada bayi yang terjadi
pada 1 per 10.000 kelahiran
Ditandai dengan adanya obstruksi total aliran empedu karena destruksi
atau hilangnya sebagian atau seluruh duktus biliaris. Merupakan proses
yang bertahap dengan inflamasi progresif dan obliterasi fibrotik saluran
bilier
Etiologi masih belum diketahui
Tipe embrional 20% dari seluruh kasus atresia bilier,
sering muncul bersama anomali kongenital lain seperti polisplenia, vena porta
preduodenum, situs inversus dan juga malrotasi usus.
Ikterus dan feses akolik sudah timbul pada 3 minggu pertama kehidupan

tipe perinatal yang dijumpai pada 80% dari seluruh kasus atresia bilier,
ikterus dan feses akolik baru muncul pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4
kehidupan.

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007

Atresia Bilier
Gambaran klinis: biasanya terjadi pada bayi perempuan, lahir
normal, bertumbuh dengan baik pada awalnya, bayi tidak
tampak sakit kecuali sedikit ikterik. Tinja dempul/akolil terus
menerus. Ikterik umumnya terjadi pada usia 3-6 minggu
Laboratorium : Peningkatan SGOT/SGPT ringan-sedang.
Peningkatan GGT (gamma glutamyl transpeptidase) dan
fosfatase alkali progresif.
Diagnostik: USG dan Biopsi Hati
Terapi: Prosedur Kasai (Portoenterostomi)
Komplikasi: Progressive liver disease, portal hypertension,
sepsis
Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007

111-112. Distres Pernapasan pada


Neonatus
Kelainan

Gejala

Sindrom aspirasi
mekonium

Biasanya pada bayi matur, pertumbuhan janin terhambat,


terdapat staining mekonium di cairan amnion dan kulit, kuku,
atau tali pusar. Pada radiologi tampak air trapping dan
hiperinflasi paru, patchy opacity, terkadang atelektasis.

Respiratory distress
syndrome (penyakit
membran hyalin)

Pada bayi prematur, pada bayi dengan ibu DM atau kelahiran


SC, gejala muncul progresif segera setelah lahir. Pada radiologi
tampak gambaran diffuse ground-glass or finely granular
appearance, air bronkogram, ekspansi paru jelek.

Transient tachypnea of
newboorn

Biasanya pada bayi matur dengan riwayat SC. Gejala muncul


setelah lahir, kemudian membaik dalam 72 jam pasca lahir.
Pada radiologi tampak peningkatan corakan perihilar,
hiperinflasi, lapangan paru perifer bersih.

Pneumonia neonatal

Terdapat risiko pneumonia (KPD, demam pada ibu, cairan


amnion berbau, dsb). Gejala meliputi gejala distress dan gejala
sepsis. Gambaran radiologis : Diffuse, relatively homogeneous
infiltrates

Asfiksia perinatal (hypoxic Asidemia pada arteri umbilikal, Apgar score sangat rendah,
ischemic encephalopathy) terdapat kelainan neurologis, keterlibatan multiorgan

2. Leukemia

113. Leukemia
CLL

CML

ALL

AML

The bone marrow makes abnormal leukocyte dont die when they
should crowd out normal leukocytes, erythrocytes, & platelets.
This makes it hard for normal blood cells to do their work.
Prevalence

Over 55 y.o.

Mainly adults

Symptoms &
Signs

Grow slowly may


asymptomatic, the disease is
found during a routine test.

Common in
children
Grow quickly
their doctor.

Adults &
children
feel sick & go to

Fever, swollen lymph nodes, frequent infection, weak,


bleeding/bruising easily, hepatomegaly/splenomegaly, weight loss,
bone pain.
Lab

Mature
lymphocyte

Mature
granulocyte

Therapy

Can be delayed if asymptomatic


CDC.gov

Lymphoblast
>20%

Myeloblast
>20%

Treated right away

Leukemia
Jenis leukemia yang paling sering terjadi pada anak-anak adalah Acute
Lymphoblastic Leukemia (ALL) dan Acute Myelogenous Leukemia
(AML)
ALL merupakan keganasan yg paling sering ditemui pada anak-anak
(1/4 total kasus keganasan pediatrik)
Puncak insidens ALL usia 2-5 tahun

Clinical Manifestation
More common in AML
Leukostasis (when blas count >50.000/uL): occluded microcirculationheadache,
blurred vision, TIA, CVA, dyspnea, hypoxia
DIC (promyelocitic subtype)
Leukemic infiltration of skin, gingiva (monocytic subtype)
Chloroma: extramedullary tumor, virtually any location.

More common in ALL


Bone pain, lymphadenopathy, hepatosplenomegaly (also seen in
monocytic AML)
CNS involvement: cranial neuropathies, nausea, vomiting, headache, anterior
mediastinal mass (T-cell ALL)
Tumor lysis syndrome

Leukemia Limfoblastik Akut


Merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada masa anak,
meliputi 25-30% dari seluruh keganasan pada anak.
Lebih sering pada laki-laki, usia 3-4 tahun
Manifestasi klinis
Penekanan sistem hemopoetik normal, anemia (pucat), neutropenia (sering demam),
trombositopenia (perdarahan)
Infiltrasi jaringan ekstramedular, berupa pembesaran KGB, nyeri tulang, dan
pembesaran hati serta limpa
Penurunan BB, anoreksia, kelemahan umum

Pemeriksaan Penunjang: Gambaran darah tepi dan pungsi sumsum tulang


untuk memastikan diagnosis
Tatalaksana : Kemoterapi dan Pengobatan suportif

ALL

AML

epidemiologi ALL merupakan keganasan yg paling


sering ditemui pada anak-anak (1/4
total kasus keganasan pediatrik)
Puncak insidens usia 2-5 tahun

15% dari leukemia pada pediatri, juga


ditemukan pada dewasa

etiologi

Penyebab tidak diketahui

Cause unknown. Risk factors: benzene


exposure, radiation exposure, prior
treatment with alkylating agents

Gejala dan
tanda

Gejala dan tanda sesuai dengan


infiltrasi sumsum tulang dan/atau
gejala ekstrameduler: konjungtiva
pucat, petekie dan memar akibat
trombositopenia; limfadenopati,
hepatosplenomegali.Terkadang ada
keterlibatan SSP (papil edem, canial
nerve palsy); unilateral painless
testicular enlargement.

Pucat, mudah lelah, memar, peteki,


epistaksis, demam, hiperplasia gingiva,
chloroma, hepatosplenomegali

Lab

Anemia, Trombositopenia,
Leukopeni/Hiperleukositosis/normal,
Dominasi Limfosit, Sel Blas (+)

Trombositopenia,
leukopenia/leukositosis, primitif
granulocyte/monocyte, auer rods (hin,
needle-shaped, eosinophilic cytoplasmic
inclusions)

Terapi

kemoterapi

kemoterapi

FAB (French-American-British) classification of acute


lymphoblastic leukemia
ALL-L1: Small cells with homogeneous nuclear chromatin, a regular nuclear
shape, small or no nucleoli, scanty cytoplasm, and mild to moderate basophilia

ALL-L2: Large, heterogeneous cells with variable nuclear chromatin, an irregular


nuclear shape, 1 or more nucleoli, a variable amount of cytoplasm, and variable
basophilia
ALL-L3: Large, homogeneous cells with fine, stippled chromatin; regular nuclei;
prominent nucleoli; and abundant, deeply basophilic cytoplasm. The most

distinguishing feature is prominent cytoplasmic vacuolation

114. Pankreatitis Akut: Etiologi


Aktivasi enzim pankreas bisa dipicu oleh kerusakan sel asinar dari
pankreas atau melalui aktivasi prematur dari proenzim dalam saluran
pankreas

Trauma (paling sering pada anak-anak)


Iskemia
Paparan toksin: alkohol, obat-obatan
Infeksi
Obstruksi
ERCP
Kelainan metabolik: hiperlipidemia, hiperkalsemia

Manifestasi Klinis
Nyeri abdomen disertai mual dan muntah merupakan gejala utama
Nyeri tajam dan mendadak di epigastrium (bisa juga di tengah/bawah
abdomen, terkadang menjalar ke punggung), bertambah parah dengan
makan dan berkurang jika lutut ditekuk ke dada.

Takikardia
Demam
Nyeri difus abdominen
Bising usus (-)
(Grey Turner's sign) atau (Cullen's sign) menandakan hemorrhagic
pancreatitis.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium

Leukositosis infeksi
15% pankreatitis pada anak
mengalami hypocalcemia
25% mengalami hiperglikemia
selama serangan
Amilase meningkat (normal 088 U/L)
Lipase meningkat

Radiologi
Foto polos abdomen

sentinel loops, obscured psoas margins


and a dilated duodenum; the colon cutoff sign, in which a normal gas pattern
is present only up to the mid-transverse
colon

20% terdapat efusi pleura pada foto


thoraks
USG direkomendasikan untuk
konfirmasi diagnosis sekaligus
menyingkirkan kemungkinan obstruksi
An enlarged, edematous-appearing
pancreas suggests pancreatitis.
A dilated main pancreatic duct indicates
obstruction (kalsifikasi sering ditemukan
pada pankreatitis berulang

Computed tomographic imaging is


helpful in complicated cases, especially
when surgery is being considered.
ERCP tidak saat akut

Tatalaksana
Resusitasi cairan: Target urin output normal
Manajemen nyeri: Meperidine (Demerol) is preferred to morphine
Kebutuhan nutrisi:
A low-fat elemental diet that is started early may decrease the need for total
parenteral nutrition without aggravating the pancreatitis.
In prolonged cases, peripheral or central intravenous nutrition may be
necessary because of the high metabolic rate that accompanies pancreatitis.

Antibiotics are generally unnecessary


Nasogastric suction is useful only when persistent vomiting or ileus is
present.

115. Trauma Jalan Lahir


Komplikasi yang sering terjadi akibat trauma jalan lahir:

Kaput suksedanum
Sefalohematoma
Paralisis lengan
Paralisis wajah
Fraktur humerus
Fraktur klavikula
Fraktur femur

Trauma Lahir Ekstrakranial


Kaput Suksedaneum

Perdarahan Subgaleal

Paling sering ditemui


Tekanan serviks pada kulit
kepala
Akumulasi darah/serum
subkutan, ekstraperiosteal
TIDAK diperlukan terapi,
menghilang dalam beberapa
hari.

Darah di bawah galea


aponeurosis
Pembengkakan kulit kepala,
ekimoses
Mungkin meluas ke daerah
periorbital dan leher
Seringkali berkaitan dengan
trauma kepala (40%).

Trauma Lahir Ekstrakranial


Sefalhematoma
Perdarahan sub periosteal akibat ruptur pembuluh
darah antara tengkorak dan periosteum

Etiologi: partus lama/obstruksi, persalinan dengan


ekstraksi vakum, Benturan kepala janin dengan
pelvis
Paling umum terlihat di parietal tetapi kadangkadang terjadi pada tulang oksipital
Tanda dan gejala: massa yang teraba agak keras
dan berfluktuasi; pada palpasi ditemukan kesan
suatu kawah dangkal didalam tulang di bawah
massa; pembengkakan tidak meluas melewati
batas sutura yang terlibat

Ukurannya bertambah sejalan dengan


bertambahnya waktu
5-18% berhubungan dengan fraktur
tengkorak g foto kepala
Umumnya menghilang dalam waktu 2
8 minggu
Komplikasi: ikterus, anemia
Kalsifikasi mungkin bertahan selama >
1 tahun.
Catatan: Jangan mengaspirasi
sefalohematoma meskipun teraba
berfluktuasi

3. BAYI M

Observasi ketat untuk mendeteksi perkembangan


Memantau hematokrit
Memantau hiperbilirubinemia
Mungkin diperlukan pemeriksaan koagulopati
Tabel 7 : Diagnosis banding trauma lahir ekstrakranial
L es i

Pem ben gkakan


eksternal

s etelah
lahir

M elin tas i
garis sutura

kehilan gan
darah akut

Kaput

suksedaneum

lunak, lekukan

tidak

ya

tidak

Sefal hematoma

padat, tegang

ya

tidak

tidak

Hematoma
subgaleal

padat, berair

ya

ya

ya

Trauma Intrakranial
Perdarahan Subdural
Paling sering: 73% dari semua perdarahan intrakranial.

116. Pengobatan Jangka Panjang Kejang


Demam
Fenobarbital 3-6 mg/kg/hari atau asam valproat 15-40 mg/kg/hari
fenobarbital biasanya tidak digunakan krn terkait ES autisme
Dianjurkan pengobatan rumatan:
Kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang (paresis Tods, CP,
hidrosefalus)
Kejang lama > 15 menit
Kejang fokal

Dipertimbangkan pengobatan rumatan :


Kejang berulang dalam 24 jam
Bayi usia < 12 bulan
Kejang demam kompleks berulang > 4 kali

Lama pengobatan rumatan 1 tahun bebas kejang, dihentikan


bertahap dalam 1-2 bulan

117.
GIGANTISME

http://physrev.physiology.org/content/physrev/92/1/1/F1.large.jpg

http://www.elsevierimages.com/images/vpv/000/000/028/282600550x0475.jpg

Gigantisme
Pertumbuhan linear yang abnormal karena kerja insulinlike growth
factor I (IGF-I) yang berlebihan ketika masa kanak-kanak dimana
epiphyseal growth plates masih terbuka
Acromegaly merupakan kelainan yang sama tetapi terjadi setelah
lempeng epifise tertutup.
Gigantisme biasa muncul saat kanak-kanak atau remaja muda.

Normal Growth Hormone


Physiology
Disekresikan oleh hipofisis anterior secara
pulsatil.
Oleh karena itu memeriksa kadar GH secara
random tidak berguna
GH turun secara drastis setelah gula masuk
ke dalam tubuh (hal ini tidak terjadi pada
akromegali/gigantisme yang tidak
mengalami penurunan GH setelah diberi
tes toleransi glukosa)

GH mempunyai efek langsung pada tubuh,


tetapi juga berefek pada sel kelenjar untuk
melepaskan hormon lainnya:
GH bekerja pada sel khusus di hepar
melepaskan hormon yang disebutInsulinlike Growth Factor (IGF-1) (atau disebut
juga Somatomedin-C)
Karena IGF-1 dilepaskan dengan kadar yg
relatif spontan, maka lebih bagus
digunakan untuk memeriksa akromegali/
gigantisme

Normal Control of Growth


Hormone Production

Hipotalamus mengontrol
jumlah GH yang
dikeluarkan oleh
hipofisis dengan
mengeluarkan
neuropeptida growth
hormone releasing
hormone (GHRH).
Neuropeptida utama
yang menghambat
pelepasan GH disebut
somatostatin

Etiologi
Causes of excess IGF-I action
can be divided into the
following 3 categories:
Release of primary GH excess
from the pituitary
Increased GHRH secretion or
hypothalamic dysregulation
Hypothetically, the excessive
production of IGF-binding
protein, which prolongs the
half-life of circulating IGF-I

Gigantism is a form of familial


pituitary adenomas, and may
run in some families due to a
genetic mutation.
Gigantism can also be associated
with other conditions, including:
Carney complex
McCune-Albright syndrome (MAS)
Multiple endocrine neoplasia type
1 (MEN-1)
Neurofibromatosis

Gejala dan Tanda Gigantisme


Tall stature
Mild to moderate obesity (common)
Macrocephaly (may precede linear
growth)
Headaches
Visual changes
Hypopituitarism
Soft tissue hypertrophy
Exaggerated growth of the hands and
feet, with thick fingers and toes
Coarse facial features

Frontal bossing
Prognathism
Hyperhidrosis
Osteoarthritis (a late feature of IGF-I
excess)
Peripheral neuropathies (eg, carpel
tunnel syndrome)
Cardiovascular disease
Benign tumors
Endocrinopathies

http://emedicine.medscape.com/article/925446-treatment#a1156

Pemeriksaan

Tatalaksana

Laboratorium

Pengobatan

Growth Hormon
IGF-I pemeriksaan lab paling baik
karena pengeluaran oleh tubuh tidak
bersifat pulsatil

Imaging

Radiografi
CT Scan
MRI

Histologi

Untuk menemukan adenoma/


karsinoma/ hiperplasia

Analog somatostatin
Agonis reseptor dopamin
Antagonis reseptor GH
Radiasi

Operasi transphenoidal

118. Terbentuknya Methemoglobinemia


Kompleks heme dalam Hb memiliki ion besi dalam bentuk tereduksi yaitu ferro
(Fe2+).
Ion besi dalam Fe2+ inilah yang bisa mengikat oksigen menjadi oksihemoglobin.
Oksihemoglobin kemudian melepas oksigen di jaringan dan kembali ke dalam
bentuk Fe2+.
Ketika hemoglobin kehilangan salah satu elektronnya dan teroksidasi, Fe2+
berubah menjadi Fe3+ atau bentuk ferri inilah yang disebut methemoglobin
Methemoglobin kekurangan satu electron untuk bisa mengikat oksigen
Kadar normal methemoglobin dibawah 1%
Terdapat mekanisme tubuh untuk mengembalikan Hb yang teroksidasi tersebut
melalui reduksi oleh glutathione, Cytochrome b5 reductase, dan glucose-6phosphate dehydrogenase (G6PD)

Etiology
Designation
Hereditary

Drug/chemical induced

Diet induced

Examples
NADH-cytochrome b5 reductase
deficiency, cytochrome b5 deficiency,
M Hb, unstable Hb
Acetaminophen, amyl nitrite,
benzocaine, dapsone, nitroglycerin,
nitroprusside, phenazopyridine
(pyridium), sulfanilamide, aniline dyes,
chlorates, nitrofurans, sulfones
Nitrites, nitratesa

Adapted from Mansouri and Lurie (1993). M HB is an abnormal type of Hb.


a When followed up, cases have generally been linked to high nitrite levels (e.g.,
Keating et al. 1973).
Lorna Fewtrell, Drinking-Water Nitrate, Methemoglobinemia, and Global Burden of
Disease: A Discussion. Environ Health Perspect. Oct 2004; 112(14): 13711374.

Methemoglobinemia
Acquired methemoglobinemia lebih sering terjadi
dibandingkan congenital methemoglobinemia .
Methemoglobin yang terbentuk akibat paparan suatu
substansi melebihi kapasitas enzim pereduksi yang dimiliki
oleh eritrosit.
Acquired methemoglobinemia lebih sering terjadi pada
bayi premature dan bayi < 4 bulan, karena:
Hb Fetal (HbF) teroksidasi lebih mudah dibanding Hb Adult (HbA)
Level NADH reductase (enzim pereduksi) rendah saat lahir dan
meningkat sesuai usia (usia 4 bulan kadarnya baru sama dgn
dewasa)
pH gaster yang lebih tinggi memfasilitasi proliferasi bakteri
sehingga meningkatkan konversi nitrat dalam asupan makanan
menjadi nitrit.

Methemoglobinemia
Nitrit organik dan inorganik merupakan penyebab
methemoglobinemia yang umum.
Air minum yang terkontaminasi oleh nitrat.
Makanan yang dikemas mungkin memiliki nitrit yang tinggi
Sayuran yang tidak dimasak dan terkontaminasi bakteri
Bayi rentan terhadap methemoglobinemia karena asam lambung yg
dihasilkan tidak cukup untuk menjaga jumlah bakteri penghasil nitrat
di usus tetap rendah

Manifestasi Klinis
Darah yang mengandung
methemoglobin berwarna
merah gelap kecokelatan. Inilah
yang menimbulkan gambaran
sianosis.
Perubahan warna kulit muncul
ketika kadar methemoglobin
sekitar 10%
sianosis adalah tanda pertama
yang ditemukan pada
methemoglobinemia

In tubes 1 and 2, methemoglobin fraction is 70%; in


tube 3, 20%; and in tube 4, normal.

MetHb
concentration (%)
1020
2045

4555
> 60

Clinical findings
Central cyanosis of limbs/trunk
Central nervous system depression
(headache, dizziness, fatigue, lethargy),
dyspnea
Coma, arrhythmias, shock, convulsions
High risk of mortality

Adapted from Kross et al. (1992).


Lorna Fewtrell, Drinking-Water Nitrate, Methemoglobinemia, and Global Burden of
Disease: A Discussion. Environ Health Perspect. Oct 2004; 112(14): 13711374.

119. Dehidrasi pada anak

Penanganan
Rehidrasi: dapat diberikan oral/parenteral tergantung
status dehidrasinya
Tanpa dehidrasi TERAPI A
5 cc/kg ORS setiap habis muntah
10cc/kg ORS setiap habis mencret

Dehidrasi ringan sedang TERAPI B


75 cc/kg ORS dalam 3 jam
Bila per oral tidak memungkinkan, dapat diberikan parenteral
tergantung kebutuhan maintenance cairan + defisit cairan

Dehidrasi berat (parenteral) TERAPI C


Golongan Umur

Pemberian Pertama
30 ml/kgbb selama :

Pemberian Berikut
70 ml/kgbb selama :

Bayi ( < umur 12 bulan )

1 jam

5 jam

Anak ( 12 bln 5 tahun )

30 menit

2.5 jam

Pilar penanganan diare (contd)


Terapi nutrisi

Pemberian ASI harus dilanjutkan


Beri makan segera setelah anak mampu makan
Jangan memuasakan anak
Kadang-kadang makanan tertentu diperlukan selama diare
Makan lebih banyak untuk mencegah malnutrisi

Terapi medikamentosa

Antibiotik, bila terdapat indikasi (eg. kolera, shigellosis, amebiasis, giardiasis)


Probiotik
Zinc

Diberikan dalam dosis 20 mg untuk anak di atas 6 bulan, dan 10 mg untuk bayi berusia kurang dari 6
bulan selama 10 hari

Obat-obatan anti diare terbukti tidak bermanfaat

Edukasi pada orang tua

Tanda-tanda dehidrasi, cara membuat ORS, kapan dibawa ke RS, dsb.

120. Tatalaksana kejang akut


Apapun jenis dan etiologi kejang harus melakukan langkah
penanganan sebagai berikut :
Manajemen jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi yang adekuat
Terminasi kejang dan pencegahan kembalinya kejang

121. KELAINAN PEMBEKUAN DARAH


BLEEDING TIME : It indicates how well platelets interact with blood vessel
walls to form blood clots.
Bleeding time is the interval between the moment when bleeding starts
and the moment when bleeding stops.
Bleeding time is used most often to detect qualitative defects of platelets.
Normal bleeding time (Dukes method) is ito 4 minutes.
Bleeding time is prolonged in purpuras, but normal in coagulation
disorders like haemophilia.
Purpuras can be due to
Platelet defects - Thrombocytopenic purpura (ITP & TTP)
Vascular defects - Senile purpura, Henoch Schonlein purpura
http://www.indianmedicinalplants.info/articles/BLEEDING-TIME.html

KELAINAN PEMBEKUAN DARAH


CLOTTING TIME: is the interval between the moment
when bleeding starts and the moment when the fibrin
thread is first seen.
Normal value is 3 to 10 minutes.
Bleeding time and clotting time are not the same.
Bleeding time depends on the integrity of platelets
and vessel walls, whereas clotting time depends on
the availability of coagulation factors.
In coagulation disorders like haemophilia, clotting
time is prolonged but bleeding time remains normal.

http://www.indianmedicinalplants.info/articles/BLEEDING-TIME.html

PT & APTT
activated partial thromboplastin time (aPTT) untuk mengevaluasi
jalur intrinsik kaskade koagulasi
prothrombin time (PT) untuk mengevaluasi jalur ekstrinsik
kaskade koagulasi

http://practical-haemostasis.com/Screening%20Tests/aptt.html

Bleeding

Severe

Mild

intervention

stopped
continues
prolonged
Platelet disorder

delayed
Coagulation disorder
Kuliah Hemostasis FKUI.

Spontaneous bleeding
(without injury)

deep, solitary

superficial, multiple
petechiae,
purpura,
ecchymoses

platelet disorder

hematoma,
hemarthrosis

coagulation disorder
Kuliah Hemostasis FKUI.

Kelainan Pembekuan Darah

http://periobasics.com/wp-content/uploads/2013/01/Evaluation-of-bleeding-disorders.jpg

Hemofilia
Hemophilia is the most common inherited
bleeding disorder.
There are:
Hemophilia A : deficiency of factor VIII
Hemophilia B : deficiency of factor IX
Both hemophilia A and B are inherited as Xlinked recessive disorders
Symptoms could occur since the patient begin to
crawl

Epidemiology
Incidence:
hemophilia A ( 85%) 1 : 5,000 10,000 males
(or 1 : 10,000 of male life birth)
hemophilia B ( 15%) 1 : 23,000 30,000 males
(or 1 : 50,000 of male life birth)
Approximately 70% had family history of bleeding
problems
Clinical manifestasion: mild, Moderate, severe
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Genetic
Inherited as sex (X)-linked recessive
Genes of factor VIII/IX are located on the
distal part of the long arm (q) of X
chromosome
Female (women) are carriers

Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

http://www.cdc.gov/ncbddd/hemophilia/inheritance-pattern.html

Clinical manifestation

Bleeding:
usually deep (hematoma, hemarthrosis)
spontaneous or following mild trauma
Type:
hemarthrosis
hematoma
intracranial hemorrhage
hematuria
epistaxis
bleeding of the frenulum (baby)

Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Diagnosis
history of abnormal bleeding in a boy
n normal platelet count
n bleeding time usually normal
n clotting time: prolonged
n prothrombin time usually normal
n partial thromboplastin time prolonged
n decreased antihemophilic factor
n

Antenatal diagnosis

antihemophilic factor level


F-VIII/F-IX gene identification (DNA analysis)
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Blood component replacement therapy


factor-VIII
fresh-frozen plasma
cryoprecipitate
factor-VIII concentrate
factor-IX concentrate

factor-IX

(unit/ml)
~ 0,5
~ 0,6
~ 4,0
25 - 100
25 - 35

source of F-VIII: - monoclonal antibody purified;


- intermediate- and high-purity;
- recombinant
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

(ml)
200
20
10
20

122. Interpretasi kurva pertumbuhan


WHO (IDAI)

Obesitas Menurut Kurva NCHS

123. Meningitis & ensefalitis


Meningitis
Meningitis bakterial: E. coli, Streptococcus grup B (bulan pertama kehidupan);
Streptococcus pneumoniae, H. influenzae, N. meningitidis (anak lebih besar)
Meningitis viral: paling sering pada anak usia < 1 tahun. Penyebab tersering:
enterovirus
Meningitis fungal: pada imunokompromais
Gejala klasik: demam, sakit kepala hebat, tanda rangsang meningeal (+). Gejala
tambahan: iritabel, letargi, muntah, fotofobia, gejala neurologis fokal, kejang

Ensefalitis: inflamasi pada parenkim otak


Penyebab tersering: ensefalitis viral
Gejala: demam, sakit kepala, defisit neurologis (penurunan kesadaran, gejala fokal,
kejang)
Hom J. Pediatric meningitis and encephalitis.
http://emedicine.medscape.com/article/802760-overview

Meningitis bakterial: Patofisiologi

Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap dan kultur darah
Gula darah dan elektrolit jika terdapat indikasi
Pungsi lumbal untuk menegakkan diagnosis dan menentukan
etiologi

Pada kasus berat sebaiknya ditunda


Kontraindikasi mutlak : Terdapat gejala peningkatan tekanan
intrakranial
Diindikasikan pada suspek meningitis, SAH, dan penyakit SSP yang lain
(eg. GBS)
Protokol pertama pada kasus kejang pada anak usia < 1 tahun
sangat dianjurkan; 12-18 bln dianjurkan; > 18 bln tidak rutin
dilakukan

CT Scan dengan kontras atau MRI pada kasus berat, atau


dicurigai adanya abses otal, hidrosefalus, atau empiema
subdural
EEG jika ditemukan perlambatan umum

CSF interpretation

Normal CSF Values in Children


White cell count

Biochemistry

Neutrophils Lymphocyt
(x 106 /L)
es
(x 106/L)

Protein
(g/L)

Glucose
(CSF:blood ratio)

Normal
(>1 month of
age)

< 0.4

0.6 (or 2.5


mmol/L)

Normal
neonate
(<1 month of
age)

< 20

<1.0

0.6 (or 2.5


mmol/L)

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/CSF_Interpretation/

Diagnosis diferensial infeksi SSP


Klinis/Lab.

Ensefalitis

Meningitis
bakterial

Akut

Akut

Kronik

Akut

Akut/kronik

Demam

< 7 hari

< 7 hari

> 7 hari

< 7 hari

</> 7 hari/(-)

Kejang

Umum/fo
kal

Umum

Umum

Umum

Umum

Penurunan
kesadaran

Somnolen
- sopor

Apatis

Variasi, apatis
- sopor

CM - Apatis

Apatis Somnolen

+/-

+/-

++/-

Lambat

Cepat

Lambat

Cepat

Cepat/Lambat

Etiologi

Tidak dpt
diidentifik
asi

++/-

TBC/riw.
kontak

Ekstra SSP

Terapi

Simpt/ant
iviral

Antibiotik

Tuberkulostatik

Simpt.

Atasi penyakit
primer

Onset

Paresis
Perbaikan
kesadaran

Mening.TBC

Mening.viru
s

Ensefalopati

Cairan serebrospinal pada infeksi SSP


Bact.men

Viral men

Tekanan

Normal/

Makros.

Keruh

Lekosit

Encephali
tis

Encephal
opathy

Jernih

Xantokrom

Jernih

Jernih

> 1000

10-1000

500-1000

10-500

< 10

+++

MN (%)

+++

+++

++

Protein

Normal/

Normal

Normal

Glukosa

Normal

Normal

Normal

Positif

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

PMN (%)

Gram
/Rapid T.

TBC men

124. Vaksin Varicella


Vaksin virus hidup varisela-zoster yang dilemahkan terdapat dalam
bentuk bubuk-kering (lyophilised).
Bentuk ini kurang stabil sehingga memerlukan suhu penyimpanan
tertentu yaitu pada suhu 2oC-8oC.
Serokonversi didapat pada 97% individu yang divaksinasi dan sekitar
70% terlindungi apabila terpapar infeksi oleh anggota keluarga.
Vaksin dapat diberikan bersama dengan vaksin MMR.

Vaksin Varicella
Mengingat kejadian varisela di Indonesia terbanyak terjadi
pada awal sekolah dan penularan varisela (kepada
adik/anggota keluarga) terbanyak terjadi pada saat usia
sekolah, maka:
Vaksin varisela diberikan mulai umur masuk sekolah 5 tahun,
dosis 0,5 ml secara subkutan, dosis tunggal.
Atas pertimbangan tertentu vaksinasi varisela dapat diberikan
setelah umur >1 tahun.
Pada anak 13 tahun vaksin dianjurkan untuk diberikan dua
kali selang 1 bulan.
Pada keadaan kontak dgn kasus varisela, untuk pencegahan
vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan
(syarat: kontak dipisah/tidak berhubungan).

Vaksin Varicella
Kejadian ikutan pasca imunisasi
Reaksi KIPI dapat bersifat lokal (1%), demam (1%), dan ruam papula-vesikel
ringan.
Indikasi kontra
keadaan demam tinggi,
hitung limfosit kurang dari 1200/l
adanya bukti defisiensi imun selular seperti selama pengobatan induksi penyakit
keganasan atau fase radioterapi
pasien yang mendapat pengobatan dosis tinggi kortikosteroid (2 mg/kgBB per
hari atau lebih).
pasien yang alergi pada neomisin.

125. WHO Recommendations for Neonatal


Seizure
Recommendation
Phenobarbital should be used as the first-line
agent for treatment of neonatal seizures

Commonly used first-line AEDs for treatment of NS are


phenobarbital and phenytoin.
Phenobarbital is also cheaper and more easily available than
phenytoin.
Only about 55% of newborns respond to either of the two
medications.
Phenobarbital is easier to administer with a one daily dose being
sufficient following attainment of therapeutic levels.
Phenytoin has more severe adverse effects than phenobarbital
including cardiac side effects and extravasation (although these have
been mitigated by the introduction of fosphenytoin).
The therapeutic range of phenytoin is very narrow

126. Diare Persisten


Intoleransi laktosa
Alergi protein susu sapi
Malabsorpsi nutrien

Bakteri tumbuhlampau
Infeksi persisten
Antibiotic-Associated
Diarrhea

Diare osmotik

Diare sekretorik

126. Food Allergy


Hipersensitivitas terhadap protein di dalam makanan (cth kasein & whey dari
produk sapi)

Mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik saluran cerna belum sempurna,


antigen masuk lewat saluran cerna hipersensitivitas
Hipersensitivitas bisa diperantarai IgE atau Tidak diperantarai IgE
The prevalence of food allergies has been estimated to be 5-6% in infants and
children younger than 3 years and 3.7 % in adults

Gejala:

Anafilaktik
Kulit: dermatitis atopik, urtikaria, angioedema
Saluran nafas: asma, rinitis alergi
Saluran cerna: oral allergy syndrome, esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik, gastroenteritis
eosinofilik, konstipasi kronik, dll.

Pemeriksaan: skin test, IgE serum, eliminasi diet, food challenge


Tata laksana:
Eliminasi makanan yang diduga mengandung alergen
Breastfeeding, ibu ikut eliminasi produk susu sapi dalam dietnya
Nocerino A. Protein intolerance. http://emedicine.medscape.com/article/931548-overview
Susu terhidrolisat sempurna bila susah untuk breastfeeding

PPM IDAI

Common Food Allergens

PPM IDAI

127. BELUM PERNAH VAKSIN


Belum pernah mendapatkn imunisasi tidak punya
antibodi yg cukup.
Apabila usia anak sudah diluar usia yg tertera pada
jadwal imunisasi & blm prnh imunisasi maka
imunisasi harus diberikan kapan saja, pada umur berapa
saja, sebelum anak terkena penyakit tersebut.
Catch up immunization: merupakan upaya imunisasi
pada anak atau remaja yang belum pernah diimunisasi
atau terlambat > dari 1 bulan dari jadwal yang
seharusnya.

128. Patogenesis
KAD

Diagnostic Criteria and Typical Total Body Deficits of


Water and Electrolytes in Diabetic Ketoacidosis
Diagnostic criteria*

Blood glucose: > 250 mg per dL (13.9 mmol


per L)
pH: <7.3
Serum bicarbonate: < 15 mEq/L
Urinary ketone: 3+
Serum ketone: positive at 1:2 dilutions
Serum osmolality: variable

Typical deficits

Water: 6 L, or 100 mL per kg body weight


Sodium: 7 to 10 mEq per kg body weight
Potassium: 3 to 5 mEq per kg body weight
Phosphate: ~1.0 mmol per kg body weight

*Not all patients will meet all diagnostic criteria, depending on


hydration status, previous administration of diabetes treatment
and other factors.
Adapted with permission from Ennis ED, Stahl EJ, Kreisberg RA. Diabetic ketoacidosis. In: Porte D
Jr, Sherwin RS, eds. Ellenberg and Rifkin's Diabetes mellitus. 5th ed. Stamford, Conn.: Appleton &
Lange, 1997;82744.

CLASSIC TRIAD OF DKA

Goals of Treatment KAD


Restore perfusion, which will increase glucose uptake in the
periphery, increase glomerular filtration, and reverse the progressive
acidosis.
Arrest ketogenesis with insulin administration, which reverses
proteolysis and lipolysis while stimulating glucose uptake and
processing, thereby normalizing blood glucose concentration.
Replace electrolyte losses.
Intervene rapidly when complications,
especially CE, occur.

IV Fluid Key Points


Start IV fluids: 10-20 ml/kg of 0.9%NS over the first hour
In a severely dehydrated patient, this may need to be repeated
Fluids should not exceed 50 ml/kg over first 4 hours of therapy
Clinical assessment of dehydration to determine fluid volume
Children with DKA have a fluid deficit in the range of 5-10%
Mild DKA 3-4% dehydration
Moderate DKA 5-7% dehydration
Severe DKA 10% dehydration

Shock is rare in pediatric DKA


Replace fluid deficit evenly over 48 hours

ALL PATIENTS WITH DKA REQUIRE SUPPLEMENTAL FLUIDS


50

until SQ insulin
initiated

the ph >7.30 and/or the HCO3 >15 mEq/L and the


serum ketones have cleared

Insulin Administration

Adapted from:
Kitabchi AE, Umpierrez GE, Murphy MB, et al; American Diabetes Association. Hyperglycemic crises in
diabetes.treatment
Diabetes Care. 2004;27(Suppl.
1):S94-S102
Insulin
is begun
after the initial fluid resuscitation

INSULIN

IV insulin infusion
regular insulin
0.1 units/kg/hr

Continue until acidosis


clears
(pH >7.30, HC03 >15 mEq/L)

51

Insulin therapy
Turns off the production of ketones
Decreases blood glucose

Low-dose insulin infusion


Decreases risk of hypoglycemia or
hypokalemia
Goal is to decrease blood glucose by
100mg/dL/hour

Insulin Key Points

Do not reduce or discontinue the insulin infusion


based solely upon the blood glucose

Prior to insulin administration, reassess vital signs, blood glucose level

Decrease to
Thestatus
insulin infusion should be continued until
and neurological
0.05 units/kg/hr
the ph >7.30 and/or the HCO3 >15 mEq/L and the
until SQ insulin
serum ketones have cleared
initiated

Insulin is administered as a continuous intravenous infusion of


regular insulin at a rate of 0.1 units/kg per hour (prepared
by
51
pharmacy)

Adapted from:
Kitabchi AE, Umpierrez GE, Murphy MB, et al; American Diabetes Association. Hyperglycemic crises in
diabetes. Diabetes Care. 2004;27(Suppl. 1):S94-S102

Do not give insulin as a bolus

Insulin Key Points


The dose of insulin should remain at 0.1 units/kg/hour until the
acidosis resolves (pH 7.3 and/or bicarbonate >15 mEq/L)
Do not decrease rate or stop the insulin administration based solely
on glucose values
Once blood glucose reaches 250 mg/dL, maintain insulin and begin
dextrose infusion

Potassium Administration
initial serum potassium is <2.5 mmol/L (hypokalemia)
Administer 0.5-1 mEq/kg of potassium chloride in IV
Start potassium replacement early, even before starting insulin therapy

Initial serum potassium is 2.5 - 3.5 mmol/L


Administer potassium 40 mEq/L in
IV solution until serum potassium > 3.5 mmol/L
Monitor serum potassium hourly
Administer potassium 30 40 mEq/L in IV solution to maintain serum potassium
at 3.5 5.0 mmol/L

initial serum potassium is 3.5 - 5.0 mmol/L


Administer potassium 30 40 mEq/L in IV solution to maintain serum potassium
at 3.5 5.0 mmol/L
Monitor serum potassium hourly

Dextrose Administration
Dextrose

Add to IV fluids when the blood glucose


concentration reaches 250 mg/dL

Change to 5% dextrose with 0.45 NaCl at a


rate to complete rehydration in 48 hr

Check glucose hourly and electrolytes every


2-4 hr until stable

After resolution of DKA, initiate SQ insulin


0.5 1.0 units/kg/day (or according to insulin
dosing guidelines per institution or physician
policy)

Maintain glucose between


150 to 250 mg/dL to
prevent hypoglycemia
Check glucose hourly until
stable
Check electrolytes every 24 hrs until stable

Adapted from:
Kitabchi AE, Umpierrez GE, Murphy MB, et al; American
Diabetes Association. Hyperglycemic crises in diabetes.
Diabetes Care. 2004;27(Suppl. 1):S94-S102

61

Bicarbonate
Bicarbonate therapy is generally contraindicated in Pediatric DKA due
to increased risk of cerebral edema.
Bicarbonate therapy should only be considered in cases of:
Severe acidemia
Life-threatening hyperkalemia

Pediatric Hyperglycemia and Diabetic Ketoacidosis (DKA). EMSC Illinois

Komplikasi KAD pada Anak


Cerebral oedema
This is unpredictable, occurs more frequently in younger children and newly
diagnosed diabetes and has a mortality of around 25%. The causes are not
known.

Hypokalaemia
This is preventable with careful monitoring and management

Aspiration pneumonia
Use a naso-gastric tube in semi-conscious or unconscious children.

http://dtc.ucsf.edu/types-of-diabetes/type2/treatment-of-type-2diabetes/medications-and-therapies/type-2-insulin-rx/types-of-insulin/

Examples

Onset of
Duration of
action (mins) action (hours)

Rapid

Aspart, lispro

10-20

Rapidintermediate
Short

Regular*

Shortintermediate

Regularisophane

Novomix,
10-20
Humalog
Actrapid, Humulin S, 15-60
Insuman Rapid
Mixtard,
15-60

Category

Generic type

2-5
8-16+
4-8
8-16+

Humulin M2/3/5,
(NPH) mixture

Insuman Comb
Intermediate

Long

Very long

'Biphasic'
Isophane (NPH) Insulatard,
Humulin I,
Insuman Basal
Crystalline zinc Ultratard,
suspensions
Humulin Zn
'Lente'
Glargine

60-120

8-16+

120-240

16-30

60-120

24+

http://www.medscape.com/viewarticle/462554_4

129. Alur
Penatalaksana
an Serangan
Asma

Derajat Penyakit Asma


Parameter klinis,
kebutuhan obat,
dan faal paru

Asma episodik jarang Asma episodik sering

Asma persisten

Frekuensi serangan

< 1x /bulan

> 1x /bulan

Sering

Lama serangan

< 1 minggu

1 minggu

Hampir sepanjang tahun


tidak ada remisi

Diantara serangan

Tanpa gejala

Sering ada gejala

Gejala siang dan malam

Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu


Pemeriksaan fisis
di luar serangan

Normal

Obat pengendali

Tidak perlu

Mungkin terganggu Tidak pernah normal

Perlu, steroid

Perlu, steroid

Uji Faal paru


PEF/FEV1 <60%
PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan)
Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
(bila ada serangan)

>15%

< 30%

< 50%

130. Vaksin BCG (Bacille CalmetteGuerin)


Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai
imunogenitas.
Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi mengurangi
risiko terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis
milier.
Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada
suhu 2-8 C, tidak boleh beku.
Vaksin yang telah diencerkan harus dipergunakan dalam waktu 8 jam.

Vaksin BCG
Vaksin BCG diberikan pada umur <3 bulan, sebaiknya pada
anak dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.
Efek proteksi timbul 812 minggu setelah penyuntikan.
Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk
anak, 0,05 ml untuk bayi baru lahir.
VaksinBCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan
kanan atas pada insersio M.deltoideus sesuai anjuran
WHO, tidak di tempat lain (bokong, paha).
Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif pada
umur lebih dari 3 bulan.
Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan
bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH
profilaksis dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi
dapat diberi BCG.

KIPI BCG
Penyuntikan BCG secara
intradermal akan menimbulkan
ulkus lokal yang superfisial 3 (2-6)
minggu setelah penyuntikan.
Ulkus tertutup krusta, akan
sembuh dalam 2-3 bulan, dan
meninggalkan parut bulat dengan
diameter 4-8 mm.
Apabila dosis terlalu tinggi maka
ulkus yang timbul lebih besar,
namun apabila penyuntikan terlalu
dalam maka parut yang terjadi
tertarik ke dalam (retracted).

Limfadenitis

Limfadenitis supuratif di aksila atau di


leher kadang-kadang dijumpai setelah
penyuntikan BCG.
Limfadenitis akan sembuh sendiri,
jadi tidak perlu diobati.
Apabila limfadenitis melekat pada
kulit atau timbul fistula maka lakukan
drainase dan diberikan OAT

BCG-itis diseminasi (Disseminated


BCG Disease)

berhubungan dengan imunodefisiensi


berat.
diobati dengan kombinasi obat anti
tuberkulosis.

Kontraindikasi BCG
Reaksi uji tuberkulin >5 mm,
Menderita infeksi HIV atau dengan risiko tinggi infeksi HIV,
imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat imuno-supresif,
mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum
tulang atau sistem limfe,
Menderita gizi buruk,
Menderita demam tinggi,
Menderita infeksi kulit yang luas,
Pernah sakit tuberkulosis,
Kehamilan.

131. Dosis Obat


PARACETAMOL (<12 tahun)

IBUPROFEN (6 bulan-12 tahun)

10-15 mg/kgBB/kali
Diberikan 3-4 kali sehari
Tidak melebihi 2,6 gram/hari

5-10 mg/kgBB/kali
3-4 kali dalam sehari
Tidak melebihi 40 mg/kg/hari

132. Tatalaksana IDA


Atasi penyakit yang mendasari
Nutrisi yang cukup
Besi elemental

3-6 mg/kg/hari dibagi 2 dosis, sebelum makan. Dilanjutkan hingga 2 bulan setelah
anemia terkoreksi dan penyakit etiologi teratasi.

Transfusi PRC dibutuhkan bila Hb <6 g/dl; atau Hb 6 g/dl dengan penyerta
(dehidrasi, persiapan operasi, infeksi berat, gagal jantung, distress
pernafasan)
Pencegahan
Primer

Diet: makanan yang kaya besi dan vitamin C


ASI eksklusif. Suplemen besi dimulai pada 4-6 bulan (non prematur) atau 2 bulan (prematur)

Sekunder: skrining

Harper JL. Iron deficiency anemia. http://emedicine.medscape.com/article/202333-overview

Tatalaksana
Fe oral
Aman, murah, dan efektif
Enteric coated iron tablets tidak dianjurkan karena penyerapan di
duodenum dan jejunum
Beberapa makanan dan obat menghambat penyerapan
Jangan bersamaan dengan makanan, beberapa antibiotik, teh, kopi, suplemen kalsium,
susu. (besi diminum 1 jam sebelum atau 2 jam setelahnya)
Konsumsi suplemen besi 2 jam sebelum atau 4 jam setelah antasida
Tablet besi paling baik diserap di kondisi asam konsumsi bersama 250 mg tablet vit C
atau jus jeruk meningkatkan penyerapan

Tatalaksana
Absorbsi besi yang terbaik adalah pada saat lambung kosong,
Jika terjadi efek samping GI, pemberian besi dapat dilakukan pada saat makan
atau segera setelah makan meskipun akan mengurangi absorbsi obat sekitar
40%-50% diminum bersamaan dengan Vitamin C
Efek samping:
Mual, muntah, konstipasi, nyeri lambung
Warna feses menjadi hitam, gigi menghitam (reversibel)

133. Difteri
Penyebab : toksin Corynebacterium diphteriae
Organisme:
Basil batang gram positif
Pembesaran ireguler pada salah satu ujung (club shaped)
Setelah pembelahan sel, membentuk formasi seperti huruf cina
atau palisade

Gejala:
Gejala awal nyeri tenggorok
Bull-neck (bengkak pada leher)
Pseudomembran purulen berwarna putih keabuan di faring, tonsil,
uvula, palatum. Pseudomembran sulit dilepaskan. Jaringan
sekitarnya edema.
Edema dapat menyebabkan stridor dan penyumbatan sal.napas
Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html
Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview

http://4.bp.blogspot.com/

Pemeriksaan : Gram, Kultur


Obat:
Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV, skin test
Anbiotik: Penisillin prokain 50.000 Unit/kgBB IM per hari
selama 7 hari atau eritromisin 25-50 kgBB dibagi 3 dosis
selama 14 hari
Hindari oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran repirasi
(Pemberian oksigen dengan nasal prongs dapat memebuat
anak tidak nyaman dan mencetuskan obstruksi)
Indikasi trakeostomi/intubasi : Terdapat tanda tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat

Komplikasi : Miokarditis dan Paralisis otot 2-7 minggu


setelah awitan penyakit
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.

Tindakan Kesehatan Masayarakat


Rawat anak di ruangan isolasi
Lakukan imunisasi pada anak serumah sesuai dengan riwayat
imunisasi
Berikan eritromisin pada kontak serumah sebagai tindakan
pencegahan (12.5 mg/kgBB, 4xsehari, selama 3 hari)
Lakukan biakan usap tenggorok pada keluarga serumah

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.

134. Oral Thrush


Etiology: Candida Albicans
Clinical Manifestation
White curdish like lesions on the
buccal mucosa, tongue, palate,
and gingiva. The lesions are
difficult to scrape off and this
differentiates it from milk. After
scraping, there is an erythematous
base and some bleeding.
Oral candidiasis may be associated
with diaper candidiasis (diaper
rash)

TREATMENT NYSTATIN
Infants
200,000 units PO q6hr (100,000 units in each
side of mouth)
Children

Oral suspension: 400,000-600,000 units PO


q6hr
Intestinal Candidiasis
Oral Tablets: 500,000 units - 1 million units
q8hr

Obstetri dan Ginekologi


Try-out 4

135. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim


Mekanisme: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim dimasukkan ke dalam uterus. Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke
tuba falopii, memengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri,
mencegah sperma dan ovum bertemu, mencegah implantasi telur dalam uterus.
Efektivitas: Pada umumnya risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam
1 tahun. Dapat bertahan hingga 12 tahun.
Efek samping: perubahan pola haid terutama dalam 3-6 bulan pertama (haid
memanjang dan banyak, haid tidak teratur, dan nyeri haid), dapat menyebabkan
anemia.
Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih
Cost-effective, tidak memengaruhi menyusui, dapat langsung dipasang pasca
persalinan
Sumber: Buku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan

136. Persalinan Normal


Kala 1 pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
Fase laten
Dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm
Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik
Tidak terlalu mulas
Fase aktif
Kontraksi diatas 3x dalam 10 menit
Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas lebih hebat
Pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm)
Terdapat penurunan bagian terbawah janin

Kala 2 lahirnya bayi (kala pengeluaran)


Kala 3 lahirnya plasenta (kala uri)
Kala 4 masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan

137. Preeklampsia
Preeclampsia adalah suatu keadaan di mana terjadi malfungsi endotel
vaskular dan vasospasme yang terjadi pada usia kehamilan di atas 20
minggu dan dapat terjadi hingga 4-6 minggu postpartum. Secara klinis
terdapat dua gejala utama yaitu hipertensi dan proteinuria dengan
atau tanpa disertai edema.
Terdiri dari preeklampsia ringan, preeklampsia berat, superimposed
preeklampsia pada hipertensi kronik, dan eklampsia

Preeklampsia berat
Didapatkan tekanan darah > 160/110 mmHg pada usia kehamilan >
20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria +3 atau pemeriksaan
protein kuantitatif menunjukkan hasil > 5 gram dalam 24 jam
Adanya keterlibatan organ lain:

Trombositopenia (< 100.000 sel/L), hemolisis mikroangiopati


Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala, skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan atau gagal jantung kongestif
Oligouria (< 500 mL/24 jam), kreatinin > 1,2 mg/dL)

138. Kehamilan Ektopik


Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
Nyeri goyang serviks ditemukan pada wanita dengan kehamilan
tuba yang ruptur.
Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per vaginam yang
dapatmenimbulkan penonjolan cavum Douglas, kesadaran menurun,
pucat, hipotensi, hipovolemia, nyeri abdomen, dan serviks tertutup.
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan ektopik, operasi
di daerah tuba, penggunaan AKDR, merokok, infertilitis, riwaya
abortus, dan riwayat persalinan sectio caesarea

139. Inversio Uteri


Inversio uteri merupakan salah satu penyebab perdarahan pasca salin
Inversio uteri harus dipikirkan bila:
Nyeri perut bawah
Fundus uteri tidak didapatkan pada palpasi abdomen
Terdapat massa pada vagina

Tatalaksana: Reposisi uterus, Laparotomi, Histerektomi

140. Antihipertensi pada PreeklampsiaEklampsia


Ibu dengan hipertensi berat perlu mendapat terapi antihipertensi
Ibu dengan terapi antihipertensi di masa antenatal dianjurkan untuk
melanjutkan terapi antihipertensi hingga persalinan.
Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pasca persalinan
berat
Antihipertensi yang diberikan nifedipin, nikardipin, dan metildopa.
Jangan berikan ARB inhibitor, ACE inhibitor dan klortiazid pada ibu
hamil.

141. Kondiloma Akuminata


Ialah vegetasi oleh human papilloma virus, bertangkai, dan permukaannya
berjonjot
Merupakan penyakit akibat hubungan seksual
Tempat predileksi
Pria: di perineum, sekitar anus, glans penis, muara uretra eksterna, korpus, pangkal
penis.
Wanita: di vulva,introitus vagina

Vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan (lesi baru) dan


kehitaman bila telah lama. Permukaannya berjonjot
Manifestasi klinis: adanya benjolan yang tidak nyeri, perdarahan pada saat
berhubungan badan.

Tatalaksana Kondiloma Akuminata


Kemoterapi :
Podofilin 25%
Asam triklorasetat
Podofilox

Elektrokauterisasi (bedah listrik)


Bedah beku
Bedah skalpel
Laser karbondioksida
Interferon
Imunoterapi

142. Retensio Plasenta


Plasenta atau bagian-bagiannya dapat tetap berada dalam uterus
setelah bayi lahir.
Sebab: plasenta belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah
lepas tetapi belum dilahirkan
Plasenta belum lepas: kontraksi kurang kuat atau plasenta adhesiva
(akreta, inkreta, perkreta)

Tatalaksana Retensio Plasenta


Jika plasenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu mengedan. Jika Anda dapat
merasakan plasenta dalam vagina keluarkan plasenta tersebut.
Pastikan kandung kemih sudah kosong. Jika diperlukan lakukan kateterisasi
kandung kemih.
Jika plasenta belum keluar berikan oksitosin 10 unit IM dan 20-40 unit oksitosin
dalam 1000 mL RL 60 tetes per menit. Lanjutkan dengan pemberian oksitosin 20
unit dalam 1000mL RL 40 tetes per menit hingga perdarahan berhenti.
Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus
terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali.
Jika traksi tarikan tali pusat terkendali belum berhasil, cobalah untuk
mengeluarkan plasenta secara manual.
Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal (ampisilin 2 gram IV dan metronidazol
500 mg IV)

143. Masalah Proses Persalinan

144. Tuberkulosis Pada Kehamilan

145. Pemeriksaan tinggi fundus uteri


Berdasarkan Usia Kehamilan

Sumber:
http://www.gynob.com/fh.htm

146. Kontrasepsi Darurat


Kontrasepsi darurat adalah kontrasepsi yang digunakan untuk mencegah
kehamilan setelah senggama tanpa pelindung atau tanpa pemakaian
kontrasepsi yang tepat dan konsisten sebelumnya.
Indikasi penggunaan kontrasepsi darurat:

Perkosaan
Sanggama tanpa menggunakan kontrasepsi
Pemakaian kontrasepsi tidak benar atau tidak konsisten
Kondom bocor, lepas, atau salah digunakan
Diafragma pecah, robek, diangkat terlalu cepat
Sanggama terputus gagal dilakukan sehingga ejakulasi terjadi di vagina atau genitalia eksterna
Salah hitung masa subur
AKDR terlepas
Lupa minum pil KB lebih dari 2 tablet
Terlambat suntik progestin lebih dari 2 minggu atau terlambat suntik kombinasi lebih dari 7
hari.

Kontrasepsi darurat dapat bermanfaat bila digunakan dalam 5 hari


pertama, namun lebih efektif bila dikonsumsi sesegera mungkin.
Kontrasepsi darurat sangat efektif dengan tingkat kehamilan kurang
dari 3%
Efek samping: mual, muntah (bila terjadi dalam 2 jam pertama
sesudah minum pil pertama atau kedua, berikan dosis ulangan),
perdarahan atau bercak
Kontraindikasi: hamil atau tersangka hamil

Metode

Komposisi

Dosis

Waktu pemberian

AKDR

Satu kali pemasangan

Dalam waktu 5 hari pasca


sanggama

Pil kombinasi dosis tinggi

0,05 mg etinil-estradiol + 2 x 2 tablet


0,25 mg levonorgestrel

Dalam waktu 3 hari


pascasanggama,
dosis
kedua 12 jam kemudian

dosis 0,03 mg etinil-estradiol + 2 x 4 tablet


0,15 mg levonorgestrel

Dalam waktu 3 hari


pascasanggama,
dosis
kedua 12 jam kemudian

Pil
kombinasi
rendah
Progestin

1,5 mg levonorgestrel

2 x 1 tablet

Dalam waktu 3 hari


pascasanggama,
dosis
kedua 12 jam kemudian

147. Mola Hidatidosa


Kehamilan abnormal dimana hampir seluruh villi chorialis degenerasi
hidropik; kelainan dalam proses fertilisasi.
Terdiri atas 2 tipe :
Komplit : Terdapat perubahan hydropik pada villi,avaskuler,disertai proliferasi
pada kedua lapisan jaringan trofoblas dan tidak terdapat janin.
Partial : Terdapat perubahan hydropik pada sebagian villi, masih ada
gambaran vaskuler, proliferasi hanya terjadi pada lapisan sinsisio trofoblas
dan kadang kadang bisa terdapat janin atau jaringan janin yang normal

Gejala klinis: amenorrhea, perdarahan (dapat menyebabkan anemia),


ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan, hiperemesis, dapat
disertai preeklampsia, dan tidak terdapat tanda kehidupan janin

Diagnosis Mola Hidatidosa


Meningkatnya kadar -hCG di dalam darah dan urin
Sonde dapat masuk ke cavum uteri tanpa tahanan
Diagnosis pasti adalah dengan ditemukannya gelembung mola.
Gelembung mola tersebut terdiri dari edema stroma villi, villi
avaskular, kumpulan sinsitiotrofoblas atau sitotrofoblas yang
berproliferasi.
USG: didapatkan gambar badai salju atau snowstorm pada mola
komplit dan gambaran swiss cheese pada mola partial

Tatalaksana Mola Hidatidosa


Perhatikan keadaan umum ibu
Evakuasi jaringan mola dengan vakum kuret dengan diberikan
oksitosin sebelumnya. Proses kuret dilakukan hingga bersih.
Dapat dianjurkan histerektomi
Lakukan
evaluasi
berkala
untuk
kemungkinan
menjadi
choriocarcinoma

148. Anemia pada Kehamilan


Anemia adalah suatu kondisi di mana terdapat kekurangan sel darah
merah atau hemoglobin.
Diagnosis ditegakkan dengan kadar Hb < 11 gram/dL (trimester I dan
III) atau < 10,5 gram/dL (pada trimester II)
Faktor predisposisi

Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat


Kelainan gastrointestinal
Penyakit kronis
Adanya riwayat keluarga

Tatalaksana Anemia
Tatalaksana umum anemia

Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel darah merah.
Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan 250 g asam
folat, 3 kali sehari evaluasi 90 hari.

Tatalaksana khusus anemia

Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan sesuai hasil
apusan darah tepi.
Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi elemental per hari
Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg, dan vitamin B12 1
x 250-1000g
Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb > 7 g/dL dengan
gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang atau takikardia

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan


Rujukan

149. Abortus
DIAGNOSIS

PERDARAHAN

SERVIKS

BESAR UTERUS

GEJALA LAIN

Abortus imminens

Sedikit-sedang

Tertutup lunak

Sesuai usia kehamilan

Tes kehamilan +
Nyeri perut
Uterus lunak

Abortus insipiens

Sedang-banyak

Terbuka lunak

Sesuai atau lebih kecil

Nyeri perut hebat


Uterus lunak

Abortus inkomplit

Sedikit-banyak

Terbuka lunak

Lebih kecil dari usia Nyeri perut kuat


kehamilan
Jaringan +
Uterus lunak

Abortus komplit

Sedikit-tidak ada

Tertutup atau terbuka Lebih kecil dari usia Sedikit atau tanpa
lunak
kehamilan
nyeri perut
Jaringan keluar
Uterus kenyal

Abortus septik

Perdarahan berbau

Lunak

Membesar, nyeri tekan Demam


leukositosis

Missed abortion

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari usia Tidak terdapat gejala


kehamilan
nyeri perut
Tidak disertai ekspulsi
jaringan konsepsi

150. Ketuban Pecah Dini


Robeknya selaput korioamnion dalam kehamilan (sebelum onset persalinan
berlangsung)
PPROM (Preterm Premature Rupture of Membranes) : ketuban pecah saat usia
kehamilan < 37 minggu
PROM (Premature Rupture of Membranes) : usia kehamilan > 37 minggu
Kriteria diagnosis :

Usia kehamilan > 20 minggu


Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : terlihat cairan keluar dari ostium uteri eksternum
Kertas nitrazin merah biru
Mikroskopis : terlihat lanugo dan verniks kaseosa

Pemeriksaan penunjang : USG (menilai jumlah cairan ketuban, menetukan usia


kehamilan, berat janin, letak janin, kesejahteraan janin dan letak plasenta)

Tatalaksana Ketuban Pecah Prematur


Konservatif : dilakukan bila tidak ada penyulit, pada usia kehamilan 2836minggu, dirawat selama 2 hari
Selama perawatan dilakukan:

Observasi adanya amnionitis/tanda infeksi (demam, takikardia,lekositosis,nyeri pada


rahim,sekret vagina purulen, takikardi janin)
Pengawasan timbulnya tanda persalinan
Pemberian antibiotika
USG menilai kesejahteraan janin
Bila ada indikasi melahirkan janin pematangan paru

Aktif :

Dengan umur kehamilan 20-28mg dan > 37mg


Ada tanda-tanda infeksi
Timbulnya tanda persalinan
Gawat janin

151. Perkiraan Persalinan dengan


Rumus Naegel

152. Solusio Plasenta


Sumber
http://emedicine.medscape.co
m/article/252810-overview

Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta terlepas dari
uterus sebelum terjadinya persalinan
Merupakan salah satu penyebab perdarahan antepartum.
Gejala klinis yang sering didapatkan adalah perdarahan antepartum,
kontraksi uterus, dan gawat janin.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya perdarahan antepartum, kontraksi
uterus, nyeri perut, tanda syok yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang
keluar akibat adanya perdarahan tersembunyi, kenaikan tinggi fundus uteri
oleh karena adanya perdarahan intrauterin, dan tanda gawat janin.
Tatalaksana: resusitasi cairan, segera terminasi kehamilan

Faktor predisposisi solusio plasenta adalah hipertensi, versi luar, trauma


abdomen, hidramnion, gemelli, dan defisiensi besi.
Tatalaksana solusio plasenta
Solusio plasenta tidak boleh ditatalaksana di fasilitas kesehatan dasar, harus dirujuk ke
fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Jika terjadi perdarahan hebat baik nyata atau terembunyi dengan tanda awal syok pada
ibu lakukan persalinan segera. Bila pembukaan telah lengkap dapat dilakukan per
vaginam sedangkan bila pembukaan belum lengkap dapat dilakukan seksio sesarea
Waspada kemungkinan perdarahan pasca persalinan
Jika perdarahan ringan atau sedang dan belum terdapat tanda syok, tindakan dilakukan
berdasar DJJ
DJJ normal lakukan seksio sesarea
DJJ tidak terdengar namun nadi dan tekanan darah ibu normal pertimbangkan persalinan per
vaginam
DJJ tidak terdengar dan keadaan ibu tidak stabil pecahkan ketuban
Apabila kontraksi jelek lakukan drip oksitosin
Apabila serviks tebal, kenyal, dan tertutup lakukan seksio sesarea

DJJ tidak normal: terminasi kehamilan segera dengan per vaginam atau seksio sesarea

Sumber: buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan

153. Meigs Syndrome


Meigs Syndrome didefiniskan sebagai adanya trias dari tumor jinak
ovarium, efusi pleura, dan asites yang akan mereda setelah tumor
diangkat.
Penyebab paling sering adalah fibroma ovarium
Gejala klinis yang sering didapatkan adalah kelelahan, sesak napas,
adanya massa abdomen-pelvis, perubahan berat badan, batuk tidak
produktif, kembung, amenore pada usia premenopause, dan
menstruasi tidak teratur.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya massa pelvis disertai tanda efusi
pleura dan asites

Pemeriksaan Penunjang Meigs


Syndrome
Laboratorium: darah lengkap, serum elektrolit, fungsi ginjal, fungsi
hati, fungsi koagulasi, Ca125.
Imejing: CT-scan abdomen dan thorax, foto rontgen thorax,
parasentensis cairan asites
Terapi: Bedah, suportif
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/255450

154. Bakterial Vaginosis


Bakterial vaginosis atau nonspesifik vaginitis adalah suatu istilah yang
menjelaskan adanya infeksi bakteri sebagai penyebab inflamasi pada
vagina.
Bakteri yang sering didapatkan adalah Gardnerella vaginalis, Mobiluncus,
Bacteroides, Peptostreptococcus, Mycoplasma hominis, Ureaplasma
urealyticum , Eubacterium, Fusobacterium, Veilonella, Streptococcus
viridans, dan Atopobium vaginae
Gejala klinis yang sering dijumpai adalah keputihan, vagina berbau, iritasi
vulva, disuria, dan dispareuni
Faktor risiko yang meningkatkan BV adalah penggunaan antibiotik,
penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim, promiskuitas, douching,
penurunan estrogen.

Pemeriksaan Bakterial Vaginosis

Didapatkan keputihan yang homogen


Labia, introitas, serviks dapat normal maupun didapatkan tanda servisitis.
Keputihan biasanya terdapat banyak di fornix posterior
Dapat ditemukan gelembung pada keputihan
Pemeriksaan mikroskopis cairan keputihan harus memenuhi 3 dari 4
kriteria Amsel untuk menegakkan diagnosis bakterial vaginosis

Didapatkan clue cell.


pH > 4,5
Keputihan bersifat thin, gray, and homogenous
Whiff test + (pemeriksaan KOH 10% didapatkan fishy odor sebagai akibat dari
pelepasan amina yang merupakan produk metabolisme bakteri)

Tatalaksana Bakterial Vaginosis


Pada infeksi asimtomatik tidak perlu diberikan terapi
Pada infeksi simtomatik antibiotik merupakan pilihan utama.
Pilihan obat: metronidazole 2 x 500 mg selama 7 hari atau 4 x 500 mg
dosis tunggal. Pada perempuan hamil 2 x 500 mg selama 7 hari atau 3
x 250 mg selama 7 hari.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/254342

155. Versi Luar


VERSI adalah prosedur untuk melakukan perubahan presentasi janin
melalui manipulasi fisik dari satu kutub ke kutub lain yang lebih
menguntungkan bagi berlangsungnya proses persalinan pervaginam
dengan baik.
Klasifikasi:
Berdasarkan arah pemutaran
Versi Sepalik : merubah bagian terendah janin menjadi presentasi kepala
Versi Podalik : merubah bagian terendah janin menjadi presentasi bokong

Berdasarkan cara pemutaran


Versi luar (external version)
Versi internal ( internal version)
Versi Bipolar ( Braxton Hicks version)

Syarat Versi Luar


Janin dapat lahir pervaginam atau diperkenankan untuk lahir pervaginam ( tak
ada kontraindikasi )
Bagian terendah janin masih dapat dikeluarkan dari pintu atas panggul (belum
engage)
Dinding perut ibu cukup tipis dan lentur sehingga bagian-bagian tubuh janin
dapat dikenali (terutama kepala) dan dapat dirasakan dari luar dengan baik
Selaput ketuban utuh.
Pada parturien yang sudah inpartu : dilatasi servik kurang dari 4 cm dengan
selaput ketuban yang masih utuh.
Pada ibu yang belum inpartu :
Pada primigravida : usia kehamilan 34 36 minggu.
Pada multigravida : usia kehamilan lebih dari 38 minggu.

Indikasi dan Kontraindikasi Versi Luar


Indikasi :

Letak bokong.
Letak lintang.
Letak kepala dengan talipusat atau tangan terkemuka.
Penempatan dahi.

Kontra indikasi :

Perdarahan antepartum.
Pada plasenta praevia atau plasenta letak rendah, usaha memutar janin dikhawatirkan akan menyebabkan plasenta lepas dari
insersionya sehingga akan menambah perdarahan.

Hipertensi.

Pada penderita hipertensi pada umumnya sudah terjadi perubahan pembuluh arteriole plasenta sehingga manipulasi eksternal
dapat semakin merusak pembuluh darah tersebut sehingga terjadi solusio plasenta.

Cacat uterus.

Jaringan parut akibat sectio caesar atau miomektomi pada mioma intramural merupakan locus minoris resistancea yang
mudah mengalami ruptura uteri.

Kehamilan kembar.
Primitua, nilai sosial anak yang tinggi atau riwayat infertilitas
Insufisiensi plasenta atau gawat janin.

Faktor yang menentukan keberhasilan tindakan versi luar :


Paritas.
Presentasi janin.
Jumlah air ketuban.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kegagalan tindakan versi luar:

Bagian terendah janin sudah engage .


Bagian janin sulit diidentifikasi (terutama kepala).
Kontraksi uterus yang sangat sering terjadi.
Hidramnion.
Talipusat pendek.
Kaki janin dalam keadaan ekstensi (frank breech)

Kriteria Versi Luar dianggap gagal:


Ibu mengeluh nyeri saat dilakukan pemutaran.
Terjadi gawat janin atau hasil NST memperlihatkan adanya gangguan
terhadap kondisi janin.
Bagian janin tidak dapat diidentifikasi dengan baik oleh karena sering terjadi
kontraksi uterus saat dilakukan palpasi.
Terasa hambatan yang kuat saat melakukan rotasi.

Masalah kontroversial dalam tindakan versi luar :


Penggunaan tokolitik
Penggunaan analgesia epidural

Komplikasi Versi Luar :

Solusio plasenta
Ruptura uteri
Emboli air ketuban
Hemorrhagia fetomaternal
Isoimunisasi
Persalinan Preterm
Gawat janin dan IUFD

Sumber: American College of Obstetricians and Gynecologists :


External Cephalic version. Practice Bulletin No 13, February 2000

156. HIV pada Kehamilan


Primary HIV infection
Asymptomatic
Acute retroviral syndrome

Clinical stage 1
Asymptomatic
Persistent generalized lymphadenopathy (PGL)
Clinical stage 2
Moderate unexplained weight loss (<10% of presumed or measured body weight)
Recurrent respiratory tract infections (RTIs, sinusitis, bronchitis, otitis media, pharyngitis)
Herpes zoster
Angular cheilitis
Recurrent oral ulcerations
Papular pruritic eruptions
Seborrhoeic dermatitis
Fungal nail infections of fingers

Clinical stage 3
Conditions where a presumptive diagnosis can be made on the basis of clinical
signs or simple investigations
Severe weight loss (>10% of presumed or measured body weight)
Unexplained chronic diarrhoea for longer than one month
Unexplained persistent fever (intermittent or constant for longer than one month)
Oral candidiasis
Oral hairy leukoplakia
Pulmonary tuberculosis (TB) diagnosed in last two years
Severe presumed bacterial infections (e.g. pneumonia, empyema, pyomyositis, bone or
joint infection, meningitis, bacteraemia)
Acute necrotizing ulcerative stomatitis, gingivitis or periodontitis
Conditions where confirmatory diagnostic testing is necessary
Unexplained anaemia (<8 g/dl), and or neutropenia (<500/mm3) and or
thrombocytopenia (<50 000/ mm3) for more than one month

Clinical stage 4
Conditions where a presumptive diagnosis can be made on the basis of clinical
signs or simple investigations
HIV wasting syndrome
Pneumocystis pneumonia
Recurrent severe or radiological bacterial pneumonia
Chronic herpes simplex infection (orolabial, genital or anorectal of more than one months
duration)
Oesophageal candidiasis
Extrapulmonary TB
Kaposis sarcoma
Central nervous system (CNS) toxoplasmosis
HIV encephalopathy
Conditions where confirmatory diagnostic testing is necessary:
Extrapulmonary cryptococcosis including meningitis
Disseminated non-tuberculous mycobacteria infection
Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)
Candida of trachea, bronchi or lungs
Cryptosporidiosis
Isosporiasis
Visceral herpes simplex infection
Cytomegalovirus (CMV) infection (retinitis or of an organ other than liver, spleen or lymph nodes)
Any disseminated mycosis (e.g. histoplasmosis, coccidiomycosis, penicilliosis)
Recurrent non-typhoidal salmonella septicaemia
Lymphoma (cerebral or B cell non-Hodgkin)
Invasive cervical carcinoma
Visceral leishmaniasis

Panduan Tatalaksana HIV


Situasi Klinis

Rekomendasi Pengobatan

ODHA sedang terapi ARV kemudian hamil

Lanjutkan paduan (ganti dengan NVP atau golongan protease inhibitor jika sedang
menggunakan EFV pada trimester I)
Lanjutkan dengan paduan ARV yang sama selama dan sesudah persalinan

ODHA hamil dengan jumlah dalam stadium klinis 1 atau jumlah CD4 > 350/mm3
dan belum

Mulai ARV pada minggu ke-14 kehamilan.


Panduan sebagai berikut:
AZT + 3TC + NVP (AZT 2 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, NVP 2 x 200 mg) atau
TDF + 3TC (FTC) + NVP (TDF 1 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, NVP 2 x 200 mg)
AZT + 3TC + EFV (AZT 2 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, EFV 1 x 600 mg)
TDF + 3TC (FTC) + EFV (TDF 1 x 300 mg, 3TC 1 x 300 mg, EFV 1 x 600 mg)

ODHA hamil dengan jumlah CD4 < 350/mm3 atau stadium klinis 2,3,4.

Segera mulai terapi ARV seperti panduan di atas

ODHA hamil dengan tuberkulosis aktif

OAT tetap diberikan


Paduan untuk ibu, bila pengobatan mulai trimester II dan III: AZT (TDF) + 3TC +
EFV

Ibu hamil dalam masa persalinan dan status HIV ibu tidak diketahui

Tawarkan tes HIV dalam masa persalinan atau tes setelah persalinan. Jika hasil
tes reaktif dapat diberikan paduan sesuai ketentuan di atas.

ODHA datang dalam masa persalinan dan belum mendapat terapi ARV

Berikan paduan terapi sesuai dengan ketentuan di atas

Keterangan:
NVP = Nevirapin, AZT = zidovudin, 3TC = lamivudin, FTC = emtricitabine, EFV = efavirenz, TDF = Tenofovir disiproxil
Nevirapin bila diberikan pada CD4 250 mm3 atau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif berat. Efavirenz bersifat teratogenik pada kehamilan trimester I.
Sumber: Buku kesehatan ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan

157. Varisela pada Kehamilan


Faktor predisposisi infeksi variela: kontak dengan penderita cacar, belum
mendapatkan vaksinasi cacar sebelumnya, dan kurangnya status nutrisi
Diagnosis varisela: lesi kulit berupa vesikel kemerahan dan gatal di seluruh tubuh
yang sering disertai demam.
Tatalaksana umum: pencegahan infeksi sebelum hamil dengan vaksinasi,
pencegahan infeksi selama kehamilan dengan menghindari kontak, dan
pencegahan infeksi pasca salin dengan memberikan vaksinasi
Tatalaksana khusus: ibu dengan varicella + pneumonitis diberikan asiklovir 800
mg per oral 5 kali per hari selama 7 hari, pada komplikasi yang lebih berat
asiklovir IV diberikan pada dosis 10-15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5-10 hari
dimulai dari 24-72 jam setelah muncul luar
Asiklovir efektif diberikan 24 jam setelah muncul ruam. Aman digunakan pada
kehamilan di atas 20 minggu, sebelum itu harus diberikan dengan hati-hati.

Prognosis Varisela pada Kehamilan


Pada kehamilan kurang dari 28 minggu: risiko sindrom varisela fetal yang
ditandai dengan adanya mikroftalmia, korioretinitis, katarak, gangguan
saraf, hipoplasia ekstremitas, mikrosefali, atrofi korteks serebri, dan
gangguan tumbuh kembang janin
Pada kehamilan lebih dari 28 minggu terdapat risiko kelahiran preterm dan
ketuban pecah dini
Evaluasi USG untuk mendeteksi kelainan janin
Jika ibu terinfeksi 5 hari sebelum atau 2 hari sesudah persalinan berikan
Varicella Zoster Immunoglobulin (VZIG) pada bayi
Sumber: buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan.

158. Metritis
Metritis adalah infeksi uterus pasca persalinan. Keterlambatan terapi
metritis dapat menyebabkan abses, peritonitis, syok, trombosis vena,
emboli paru, infeksi panggul kronik, sumbatan tuba, dan infertilitas.
Faktor predisposisi adalah kurangnya higiene pasien, nutrisi, dan
tindakan aseptik saat melakukan tindakan.
Manifestasi klinis yang didapatkan adalah demam di atas 380C dapat
disertai menggigil, nyeri perut bawah, lokia berbau dan purulen, nyeri
tekan uterus, subinvolusi uterus, dan dapat disertai perdarahan per
vaginam hingga syok

Pemeriksaan Penunjang Metritis


Pemeriksaan darah perifer lengkap
Golongan darah AB0 dan jenis rhesus
Glukosa darah sewaktu
Analisis urin
Kultur (cairan vagina, urin, dan darah)
USG (untuk menyingkirkan kemungkinan sisa plasenta)

Tatalaksana Metritis
Berikan antibiotika sampai 48 jam bebas demam dengan Ampisilin 2 gram
IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5 mg/kgB IV tiap 24 jam dan
metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam. Bila demam tidak menurun dalam 72
jam, lakukan kaji ulang tatalaksana dan diagnosis.
Cegah dehidrasi
Pertimbangkan imunisasi TT bila dicurigai terpapar tetanus
Periksa apakah ada kemungkinan sisa plasenta
Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis lakukan laparotomi dan
drainase abdomen bila terdapat pus
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan.

159. Manajemen Kala III


Setelah bayi dilahirkan, berikan suntikan oksitosin 10 unit IM di
bagian paha atas bagian distal lateral agar kontraksi uterus baik
Jika tidak ada oksitosin, dapat dilakukan:
Merangsang puting payudara ibu atau minta ibu untuk menyusui agar
menghasilkan oksitosin alamiah.
Terapi farmakologi yang dapat diberikan adalah injeksi ergometrin 0,2 mg IM
namun tidak boleh dilakukan pada pasien dengan preeklampsia, eklampsia,
dan hipertensi karena dapat memicu penyakit serebrovaskular.

Lakukan peregangan tali pusat terkendali


Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar
dan rujukan

160. Sindroma Asherman


Umumnya terjadi didahului dengan adanya riwayat dilatasi dan
kuretase
Gejala klinis umumnya amenore sekunder karena proses dilatasi dan
kuretase menyebabkan adesi intrauterin, atresia uterus atau serviks,
atrofi uterus, sklerosis endometrium, dan sinekia intrauterin yang
dinamakan Sindrom Asherman.
Diagnosis: Histeroskopi
Terapi: Bedah
Prognosis: Baik, namun dapat terjadi rekurensi.

Bioetika, ikk, dan forensik

161. Justice (Keadilan)


Sosial: kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan
kesejahteraan bersama
Utilitarian: memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi
menekankan efisiensi sosial dan memaksimalkan nikmat/ keuntungan bagi
pasien
Libertarian: menekankan hak kemerdekaan sosial-ekonomi (mementingkan
prosedur adil > hasil substansif atau materiil)
Komunitarian: mementingkan tradisi komunitas tertentu
Egalitarian: kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap
bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan kriteria material
kebutuhan bersama)
Hukum (umum)
Tukar-menukar: kebajikan memberkan atau mengembalikan hak-hak
kepada yang berhak
Pembagian sesuai denan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup
bersama) mencapai kesejahteraan umum

justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak member beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb

162. Kaidah Moral


Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter
harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai
konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam
bahasa fiqh ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan
berdasarkan asas prima facie.
Prinsip prima facie praktis diharapkan akan menjadi model berpikir
kritis yang dapat diterapkan pada analisis etik pelbagai kasus konkrit
lainnya, baik sebagai subyek penelitian, pasien berdilema etik dalam
perawatan yang memerlukan pemecahan etis ataupun penelusuran
pelanggaran etik profesi yang mungkin dilakukan oleh tenaga medik
atau tenaga kesehatan.

Kaidah Dasar Moral


Kaidah dasar moral terdiri atas:
Autonomy: pasien dapat mengambil keputusan sendiri & dijamin
kerahasiaan medisnya dasar informed consent & kerahasiaan medis
2. Nonmaleficence (Do No Harm): tidak dengan sengaja melakukan tindakan
yang malah merugikan/invasif tanpa ada hasilnya dasar agar tidak terjadi
kelalaian medis
3. Beneficence: mengambil langkah yang bermanfaat, untuk mencegah atau
menghilangkan sakit
4. Justice: perlakuan yang sama untuk kasus yang sama
1.

163. Professionalism
Professionalism is the basis of medicine's contract with
society.
It demands placing the interests of patients above
those of the physician, setting and maintaining
standards of competence and integrity, and providing
expert advice to society on matters of health.
Essential to this contract is public trust in physicians,
which depends on the integrity of both individual
physicians and the whole profession

Elements of Professionalism
Altruism is the essence of professionalism. The best
interest of the patients, not self-interest, is the rule.
Accountability is required at many levels - to
individual patients, society and the profession
Excellence entails a conscientious effort to exceed
normal expectations and make a commitment to lifelong learning

Elements of Professionalism
Duty is the free acceptance of a commitment to
service.
Honour and integrity are the consistent regard for
the highest standards of behaviour and refusal to
violate ones personal and professional codes.
Respect for others (patients and their families, other
physicians and professional colleagues such as
nurses, medical students, residents, subspecialty
fellows, and self) is the essence of humanism"

PROFESSIONALISM
True professionalism means the pursuit of
excellence, not just competence
Professionalism is predominantly an attitude, not a
set of competencies
A real professional is a technician who cares
Professional is not a label you give yourself. Its a
description you hope others will apply to you

Maister DH: True Professionalism, The Free Press, 1997

164. BADAN KELENGKAPAN IDI


MKEK: Sebagai Lembaga Penegak Etik Kedokteran.
melaksanakan tugas bimbingan, pengawasan dan penilaian
pelaksanaan etik kedokteran, sehingga pengabdian profesi
dan peran aktifnya tetap sesuai, searah dan sejalan dengan
cita-cita luhur profesi kedokteran
Divisi Pembinaan
Divisi Kemahkamahan:
Majelis Pemeriksa MKEK

MKDKI: sebagai Lembaga Penegak Disiplin Kedokteran


BHP2A: Biro Hukum,Pembelaan dan Pembinaan Anggota
Badan kelengkapan IDI yang bertugas melakukan pembinaan
dalam hukum kesehatan,membela anggota dalam melakukan
profesinya baik yang menyangkut masalah etik, hukum
administrasi atau organisasi, baik diminta atau tidak diminta
519

WEWENANG DIVISI PEMBINAAN ETIKA PROFESI


MKEK:
Memantau perencanaan, proses dan evaluasi pelaksanaan etika kedokteran yang dilakukan oleh
setiap dokter
Melakukan penilaian singkat, penyaringan, pengelompokan dan pemilahan kasus sengketa medik,
kasus dugaan pelanggaran etika kedokteran untuk ditindak lanjuti atau tidak ditindak lanjuti divisi
kemahkamahan
Membantu divisi kemahkamahan dalam menelaah kasus sengketamedik atau etikolegal
menyelesaikan kasus ringan mendahului penyidangan perkara oleh divisi kemahkamahan
Mengeksekusi sanksi etik, pembinaan etika, merekomendasikan pemulihan hak-hak profesi
dokter yang telah menjalani sanksi etik atau tidak terbukti melakukan pelanggaran etik

520

WEWENANG DIVISI KEMAHKAMAHAN MKEK:


Menilai keabsahan dan meneliti pengaduan, menetapkan persidangan, menilai
bukti, memanggil dan memeriksa saksi, menyidangkan, membuat keputusan dan
menjatuhkan sanksi etika
Menyidangkan kasus yang dikirim dari MKDKI atau lembaga disiplin tenaga
kesehatan lainnya
Merujuk kasus sengketa medik ke MKDKI
Memulihkan hak-hak profesi dokter
Melakukan pemeriksaan, penyidangan bersama majelis etik dari organisasi
profesi lainnya yang terkait

521

PUTUSAN MAJELIS MKEK:


Putusan adalah ketentuan akhir berupa ketetapan bersalah atau tidak
bersalah, dengan dinyatakan melanggar atau tidak melanggar Kodeki
Putusan bersalah diikuti dengan sanksi, sekaligus cara, ciri dan lama
pembinaan
Kecuali dinyatakan lain, putusa MKEK bersifat rahasia
Putusan yang sudah bersifat final dikirimkan ke Divisi Pembinaan Etika
Profesi untuk ditentukan pelaksanaan sanksinya

522

Apabila kasusnya juga menyangkut pelanggaran disiplin atau hukum yang sedang
dalam proses penanganan, maka persidangan dan pembuatan putusan MKEK
ditunda
Kepada pihak pasien pengadu, putusan dapat disampaikan secara lisan, bukti
tertulisnya disimpan di MKEK
Putusan MKEK dapat dikirim ke MKDKI propinsi, atau ke lembaga resmi yang
bertanggung jawab atas akreditasi, lisensi dan registrasi dokter
Salinan putusan MKEK tidak boleh diberikan kepada penyidik atas alasan apapun

523

165. Calgary Cambridge


Dalam tahap Penjelasan dan Perencanaan Calgary
Cambridge, ada 3 hal penting yang harus disampaikan
dokter kepada pasien, yaitu:
Memberikan informasi dalam jumlah serta jenis yang tepat
Mencapai pemahaman bersama antara dokter dan pasien,
terutama dalam hal kerangka penyakit pasien
Perencanaan: membuat keputusan bersama antara dokter
dan pasien

Calgary Cambridge

Calgary Cambridge

166. Kewajiban pasal 17 KODEKI


(pertolongan darurat)
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
wujud tugas perikemanusiaan, kecuali bila dia yakin ada orang lain
bersedia dan mampu memberikannya.
Penjelasan pada pasal 17
Jika terdapat kasus yang membutuhkan gawat darurat, maka dokter dapat
menghentikan layanannya pada pasien lain yang non-gawat darurat atau
gawat darurat dengan kondisi saat itu memiliki prioritas secara pertimbangan
medik lebih rendah dari saat ini.

Non-maleficence
(Tidak Merugikan)
Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien: tidak
boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien;
minimalisasi akibat buruk
Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal:
Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya
sesuatu yang penting
Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko
minimal)
Norma tunggal, isinya larangan

167. RISIKO MEDIS

INHEREN PADA SETIAP TINDAKAN MEDIS


SEBAGIAN DIANGGAP ACCEPTABLE:
1. TINGKAT PROBABILITAS DAN KEPARAHANNYA MINIMAL
(UMUMNYA BERSIFAT FORESEEABLE BUT UNAVOIDABLE,
CALCULATED, CONTROLLABLE)
2. RISIKO BERMAKNA TETAPI HARUS DIAMBIL KARENA THE
ONLY WAY (UNAVOIDABLE)
3. RISIKO YG UNFORESEEABLE = UNTOWARD RESULTS

1 DAN 2 PERLU INFORMED CONSENT, SEHINGGA BILA TERJADI, DOKTER TIDAK


BERTANGGUNGJAWAB SECARA HUKUM

RISIKO MEDIS
DOKTER / RUMKIT BERTANGGUNG-JAWAB
SECARA HUKUM PADA CEDERA YG DIAKIBATKAN
OLEH:
RISIKO YG ACCEPTABLE TAPI TIDAK DIINFORMASIKAN
DAN DISETUJUI PASIEN TERLEBIH DAHULU
RISIKO YANG TIDAK ACCEPTABLE , YAITU YG
FORESEEABLE DAN PREVENTABLE / AVOIDABLE

E.B.M. MENJADI ACUAN DALAM MENENTUKAN FORESEEABILITY,


PREVENTABILITY / AVOIDABILITY, THE ONLY WAY, DLL

KEGAGALAN MEDIK
dapat sebagai akibat dari :
LEBIH DISEBABKAN OLEH PERJALANAN PENYAKIT,
TERMASUK KOMPLIKASI
LEBIH DISEBABKAN OLEH RISIKO MANAJEMEN
MEDIS (Adverse events)
RISIKO YG AKSEPTABEL
TELAH DI-INFORMASIKAN DAN DISETUJUI
TINGKAT PROBABILITAS DAN KEPARAHAN RENDAH
THE ONLY WAY
RISIKO YG UNFORESEEABLE

CULPA : KELALAIAN MEDIK


foreseeable and avoidable risks

DOLUS : KESENGAJAAN

ADVERSE EVENTS
SETIAP CEDERA YANG LEBIH DISEBABKAN
OLEH MANAJEMEN MEDIS DARIPADA
AKIBAT PENYAKITNYA
SEBAGIAN DIANTARANYA PREVENTABLE,
DISEBABKAN ERROR
SEBAGIAN DIANTARANYA AKIBAT KELALAIAN
MEDIS (BILA MEMENUHI KRITERIA HUKUM)

Preventable adverse events

Errors
TIDAK SEMUA ERRORS
MENGAKIBATKAN ADVERSE
EVENTS

Adverse
events
TIDAK SEMUA ADVERSE
EVENTS DISEBABKAN ERRORS

MEDICAL ERRORS
PENYEBAB PREVENTABLE ADVERSE EVENTS

KEGAGALAN MELAKSANAKAN SUATU RENCANA


TINDAKAN (error of execution; lapses dan slips)
PENGGUNAAN RENCANA TINDAKAN YG SALAH
UNTUK MENCAPAI TUJUAN TERTENTU (error of
planning; mistakes).

Di dalam kedokteran, semua error dianggap


serius karena dapat membahayakan pasien

MEDICAL ERRORS
DILIHAT DARI KONTRIBUSINYA
LATENT ERRORS
CENDERUNG BERADA DI LUAR KENDALI OPERATOR GARIS DEPAN; SEPERTI
DESAIN BURUK, INSTALASI TAK TEPAT, PEMELIHARAAN BURUK, KESALAHAN
KEPUTUSAN MANAJEMEN, STRUKTUR ORGANISASI YG BURUK

ACTIVE ERROR
KESALAHAN PADA TINGKAT OPERATOR GARIS DEPAN

TIDAK SEMUA ERRORS MENGAKIBATKAN ADVERSE EVENTS

Human Error (James Reason, 1990)


Defenses
Unsafe Acts

ACCIDENT

Preconditions
Line
Management

Decision
makers

Active & Latent


Failures
Active failures

Latent failures
Latent failures
Latent failures

CONTOH
LATENT ERROR 1
PEMBOLEHAN DOKTER (DSp) BEKERJA DI BANYAK
RUMKIT

LATENT ERROR 2
TIDAK ADANYA SISTEM JAGA DSp YANG TEGAS DI
RUMKIT

PRECONDITIONS
TERDAPAT KEGAWATDARURATAN, DOKTER TAK BISA
HADIR ATAU SANGAT TERLAMBAT

KETIGA KEADAAN TERSEBUT (UNSAFE CONDITIONS) MENDORONG


TERJADINYA ACTIVE ERROR (UNSAFE ACTS)

168. Abortus

169. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi

Variabel Kategorik vs Numerik


Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal (kategori
sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal (kategori
bertingkat, cth baik-sedang-buruk)
Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai nol
alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki nilai nol
alami, cth suhu)

Hipotesis Komparatif vs Korelatif


Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah
terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan jenis
pengobatam?)
Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar
trigliserida dan kadar gula darah?

Skala Pengukuran
Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila kedua variabel
kategorik. Skala numerik jika salah satu variabel numerik
Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah satu
variabel kategorik. Skala numerik jika kedua variabel
numerik

Berpasangan vs Tidak Berpasangan


Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data berasal dari
subyek yang sama atau yang berbeda tapi telah dilakukan
matching
Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok subyek
yang berbeda, tanpa matching

170. Prinsip pelayanan dokter


Holistik : Mempertimbangkan segala aspek yg ada pada
pasien, keluarga dan komunitasnya, bukan hanya fokus
pada penyakit yg diderita saja. Memperhatikan aspek biopsiko-sosial
Komprehensif : tidak hanya terbatas pada pelayanan
pengobatan atau kuratif saja, tetapi meliputi aspek lainnya
mulai dari promotif-preventif hingga rehabilitatif.
Berkesinambungan : pelayanan kesehatan dilakukan terus
menerus kepada pasien maupun keluarganya guna
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
Kontinyu : terutama untuk kasus-kasus kronik yang perlu
monitoring rutin dan pelayanan komplikasi yang mungkin
muncul.

171. Uji Hipotesis


Nilai (kesalahan tipe 1 atau positif semu) dalam uji hipotesis
diperoleh hubungan atau perbedaan (yakni hipotesis nol ditolak),
sedangkan sebenarnya di dalam populasi asosisasi atau perbedaan
tersebut tidak ada
Nilai (kesalahan tipe 2 atau negatif semu) asosiasi atau
perbedaan tidak ditemukan dalam data pada sampel, sedangkan
dalam populasi asosiasi atau perbedaan tersebut ada
Nilai p batas kemaknaan uji hipotesis; makna penting namun tidak
mutlak, harus dibandingkan dengan data klinis yang dievaluasi
Nilai p < 0,05 dikatakan bermakna secara statistik

Korelasi

Metode untuk mencari hubungan antara 2 variabel


numerik
Tidak mengenal variabel bebas dan tergantung
menunjukan hubungan antara 2 variabel numerik
Langkah:
Menggambar scatter plot atau diagram baur
Bila terdapat hubungan linear, hitung koefisien korelasi
Hasil perhitungan: koefisien korelasi pearson (r) korelasi
mutlak: nilai r=1 (nyaris tidak pernah ada dalam fenomena
biologis)
Tafsiran nilai r

Baik : r > 0,8


Sedang : r = 0,6 0,79
Lemah : r = 0,4 0,59
Sangat lemah : r < 0,4

Sudigdo. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 2011

172. Epidemiologi
Epidemi : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan yang ditemukan
pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat berada dalam
frekuensi yang meningkat.
Pandemi : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan frekuensinya
dalam waktu yang singkat memperlihatkan peningkatan yang amat tinggi
serta penyebarannya telah mencakup suatu wilayah yang amat luas.
Endemi : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan frekuensinya
pada suatu wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama.
Sporadik : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan yang ada di
suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut perubahan
waktu
Deskriptif: Studi yang menggambarkan suatu kejadian penyakit/ masalah
kesehatan berdasarkan karakteristik orang (person), tempat (place) dan
waktu (time). Menjawab pertanyaan Who, What, When, where
Outbreak: peningkatan insidensi kasus yang melebihi ekspektasi normal
secara mendadak pada suatu komunitas, di suatu tempat terbatas, misalnya
desa, kecamatan, kota, atau institusi yang tertutup (misalnya sekolah,
tempat kerja, atau pesantren) pada suatu periode waktu tertentu

173. Analisis masalah


Penyakit hipertensi diketahui merupakan masalah utama. Analisis
berikutnya adalah analisis PENYEBAB masalah.
Analisis SWOT untuk solusi masalah
PICO pada evidence-based medicine, untuk menjawab pertanyaan
dari kasus klinis
Diagram tulang ikan: untuk mencari penyebab masalah
Diagram pareto: untuk memilih solusi efektif
Diagram pohon: analisis prioritas masalah

174. Program Imunisasi


Terdapat beberapa jenis imunisasi berdasarkan pelaksanannya, yaitu
imunisasi rutin dan imunisasi tambahan. Imunisasi rutin merupakan
kegiatan imunisasi yang secara rutin dan terus menerus harus
dilakukan pada periode waktu yang telah ditentukan. Imunisasi rutin
ini, berdasarkan kelompok usia sasaran, dibagi menjadi imunisasi
rutin pada bayi, pada wanita usia subur, dan pada anak sekolah
Sedangkan imunisasi tambahan, merupakan kegiatan imunisasi yang
dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan
atau evaluasi. Kegiatan ini sifatnya tidak rutin, membutuhkan biaya
khusus dan kegiatannya dilaksanakan pada suatu periode tertentu.

Program imunisasi tambahan


Backlog fighting, merupakan upaya aktif melengkapi imunisasi dasar
pada anak yang berumur 1 3 tahun. Sasaran prioritas adalah
desa/kelurahan yang selama dua tahun berturut turut tidak mencapai
standard Universal Child Immunization (UCI)
Crash program, merupakan imunisasi tambahan yang ditujukan untuk
wilayah yang memerlukan intervensi secara cepat untuk mencegah
terjadinya KLB. Sedangkan kriteria pemilihan lokasi imunisasi jenis ini
antara lain : 1. Angka kematian bayi dan angka PD3I tinggi 2.
Kekurangan tenaga, sarana, dana 3. Desa yang selama 3 tahun
berturut-turut tidak mencapai target UCI

Kegiatan Crash program ini ditujukan untuk wilayah yang memerlukan


intervensi secara cepat karena masalah khusus seperti :
Angka kematian bayi tinggi, angka Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I) tinggi.
Infrastruktur (tenaga, sarana, dana) kurang.
Untuk memberikan kekebalan pada kelompok sasaran yang belum
mendapatkan pada saat imunisasi rutin.

Program Imunisasi
Imunisasi dalam penanganan KLB (Outbreak Response Imunization
atau ORI)
Kegiatan imunisasi khusus, meliputi Pekan Imunisasi Nasional (PIN),
Sub Pekan Imunisasi Nasional, dan Cacth-up campaign campak

PIN (Pekan Imunisasi Nasional. Merupakan suatu upaya


untuk mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus
polio importasi dengan cara memberikan vaksin polio
kepada setiap balita termasuk bayi baru lahir tanpa
mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya,
pemberian imunisasi dilakukan 2 (dua) kali masing-masing
2 (dua) tetes dengan selang waktu 1 (satu) bulan.
Pemberian imunisasi polio pada waktu PIN di samping
untuk memutus rantai penularan, juga berguna sebagai
booster atau imunisasi ulangan polio.
Sub PIN. Merupakan suatu upaya untuk memutuskan
rantai penularan polio bila ditemukan satu kasus polio
dalam wilayah terbatas (kabupaten) dengan pemberian
dua kali imunisasi polio dalam interval satu bulan secara
serentak pada seluruh sasaran berumur kurang dari satu
tahun.

Catch Up Campaign Campak. Merupakan suatu upaya untuk


pemutusan transmisi penularan virus campak pada anak sekolah dan
balita. Kegiatan ini dilakukan dengan pemberian imunisasi campak
secara serentak pada anak sekolah dasar dari kelas satu hingga kelas
enam, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya.
Pemberian imunisasi campak pada waktu catch up campaign campak
di samping untuk memutus rantai penularan, juga berguna sebagai
booster atau imunisasi ulangan (dosis kedua).

175. Bias dalam Penelitian

Pengaruh faktor perancu bisa memperbesar atau


memperkecil hubungan sebenarnya. Jadi, suatu variabel
mungkin sebenarnya bisa faktor protektif terhadap suatu
kondisi kesehatan atau penyakit, tetapi hasil penelitian
menunjukkan variabel tersebut bisa menjadi faktor resiko
terhadap suatu kondisi kesehatan atau penyakit atau
hubungan.
Ada dua teknik untuk menganalisa faktor perancu,
pertama: memenuhi tiga kondisi untuk menetapkan
apakah suatu variabel termasuk faktor perancu: 1) Ada
asosiasi antara variabel independen dan variabel perancu,
2) ada asosiasi antara variabel dependen dan variabel
perancu, 3) variabel perancu bukan merupakan faktor
intermediet (intermediate faktor) diantara variabel
eksposur dan outcome (confounding factor is not an
intermediate in association); kedua dengan melakukan
perbandingan rasio kasar dan rasio setelah dikontrol oleh
faktor perancu (crude and adjusted ratio), dengan
perhitungan rasio Mantel-Haenszel.

176. Sasaran Promosi Kesehatan


Sasaran Primer : individu atau kelompok yang diharapkan berubah
perilakunya
Sasaran Sekunder : individu atau kelompok dan organisasi yang
mempengaruhi perubahan perilaku sasaran primer. (Cth. tokoh
masyarakat, tokoh agama, petugas kesehatan, petugas lembaga
pemasyarakatan)
Sasaran Tersier : individu atau kelompok dan organisasi yang memiliki
kewenangan untuk membuat kebijakan dan keputusan (Cth. para
pejabat eksekutif, legislatif, penyandang dana, pimpinan dan media
massa)

177. Ukuran Epidemiologi


Rasio: nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai
kuantitif yang pembilangnya bukan bagian dari penyebut
Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di
suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamin pria. Maka
rasio pria terhadap wanita
adalah R=10/20=1/2
Proporsi: perbandingan dua nilai kuantitatif yang
pembilangnya merupakan bagian dari penyebut. Penyebaran
proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi
proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data
yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari
kelompok itu.
Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap perempuan adalah
P= 10/30=1/3
Rate: Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk
khusus perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau
kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah
penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu

178. Rumah Hunian Sehat


4 fungsi pokok rumah (American Public Health Association/ APHA)

Tempat memenuhi kebutuhan jasmani (fisik)


Tempat memenuhi kebutuhan rohani (psikis)
Tempat perlindungan terhadap penularan penyakit
Tempat perlindungan terhadap gangguan kecelakaan

Hunian sehat (2)


Persyaratan kesehatan rumah tinggal
(Permenkes No. 829/1999)
Bahan bangunan

Debu total tidak lebih dari 150 ug/m3


Asbes bebas tidak lebih 0,5 fiber/m3/4jam
Timah hitam (Pb) tidak lebih dari 300mg/kg
Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi
tumbuh dan kembang mikroorganisme
patogen

Komponen tata ruang


Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
Dinding di ruang tidur dan keluarga
dilengkapi sarana ventilasi untuk sirkulasi; di
kamar madi dan tempat cuci harus kedap air
dan mudah dibersihkan
Langit-langit diberishkan dan tidak rawan

kecelakaan
Bubungan rumah yang lebih dari 10 meter
harus dilengkapi dengan penangkal petir
Ruang ditata agar berfungsi
Dapur dilengkapi sarana pembuangan asap

Pencahayaan
Minimal intensitas 60 lux dan tidak silau

Udara
Suhu 18-30 oC
Kelembaban 40-70%
Konsentrasi gas S02 tidak lebih dari 0,10
ppm/24 jam
Konsentrasi gas CO tidak lebih dari 100
ppm/8jam
Konsentrasi gas formaldehid tidak lebih 120
mg/m2

Hunian sehat (3)


Syarat rumah sehat
Ventilasi
Luas minimal 10% dari luas lantai

Binatang penular penyakit


Tidak ada tikus

Air
Minimal 60 liter/hari/orang
Air minum harus memenuhi syarat air
bersih dan/atau air minum

Sarana penyimpanan makanan yang


aman

Limbah
Limbah rumah: tidak mencemari
sumber air, tidak menimbulkan bau
dan tidak mencemari permukaan
tanak
Limbah padat dikelol.a dengan baik

Kepadatan hunian ruang tidur


Luas ruang tidur minimal 8 m2 dan
tidak dianjurkan untuk lebih dari 2
orang kecuali anak dibawah 5 tahun

179. Tanda Pasti Kematian


Lebam mayat (livo mortis)

Eritrosit menempati tempat terbawah akibat gravitasi

Kaku mayat (rigor mortis)

ATP untuk menggerakkan otot habis

Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

Panas tubuh berpindah ke benda yang lebih dingin

Pembusukan (dekomposisi)

Kerja digestif enzim pascamati (autolisis) & bakteri masuk ke jaringan

Lilin mayat (adiposera)

Hidrolisis lemak & hidrogenisasi asam lemak jenuh pascamati


bercampur dengan sisa-sisa otot & jaringan ikat.

Mumifikasi

Pengeringan jaringan akibat dehidrasi/penguapan air yang cepat

180. Luka akibat petir


Petir adalah loncatan arus listrik
tegangan tinggi antar awan
dengan tanah. Tegangan dapat
mencapai 10 mega Volt, dengan
kuat arus mencapai 100.000 A.
Kematian dapat terjadi karena
efek arus listrik, panas dan
ledakan gas panas yang timbul.
Pada korban akan ditemukan
aboresent mark (kemerahan kulit
seperti percabangan pohon),
metalisasi (pemindahan partikel
metal dari benda yang dipakai ke
dalam kulit), magnetisasi (benda
metal yang dipakai berubah
menjadi magnet).

181. Asfiksia Mekanik


Asfiksia mekanik : Mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan
terhalang oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik)
Meliputi : Pembekapan, penyumbatan, pencekikan, penjeratan,
gantung diri, serta penekanan pada dada

Tanda Kematian akibat Asfiksia


Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku
Lebam mayat yang gelap dan luas
Perbendungan pada bola mata
Busa halus pada lubang hidung, mulut, dan saluran pernapasan,
perbendungan pada alat-alat dalam
Bintik perdarahan (Tardieus spot) pada mukosa usu halus,
epikardium, subpleura visceralis
Perbendungan sistemik maupu pulmoner dan dilatasi jantung kanan
(lorgan lebih berat, gelap, pada pengirisan banyak mengeluarkan
darah)

Kasus Gantung (Hanging)


Bila jerat kecil dan keras : Hambatan total arteri, muka tampak pucat, tidak
terdapat peteki
Bila jerat lebar dan lunak : Hambatan terjadi pada saluran pernapasan dan
pada aliran vena, sehingga tampak perbendungan pada daerah sebelah
atas ikatan
Jejas Jerat :
Relatif lebih tinggi pada leher, lebih meninggi di bagian simpul, kulit mencekung ke
dalam sesuai dengan bahan penjerat
Pada tepi jejas, terdapat perdarahan (resapan darah), pada jaringan bawah kulit dan
otot terdapat memar jaringan (Tanda Intravital)

Distribusi lebam mayat mengarah ke bawah yaitu pada kaki, tangan, dan
genitalia eksterna.

Bunuh diri vs Pembunuhan


Keterangan

Bunuh diri

Pembunuhan

TKP

Keadaan TKP tenang, rapih,


dan dijumpai surat
peninggalan kepada orang
tertentu
Tempat yang dipilih
tersembunyi, pintu
terkunci dari dalam, korban
berpakaian rapih

Keadaan TKP tidak


beraturan, tanda
perkelahian
Tidak terdapat tempat
tertentu, surat bernada
ancaman, alat biasanya
dipersiapkan dan tidak
ditemukan di TKP

Pemeriksaan mayat (kasus


dengan senjata tajam)

Lokasi: leher, dada, perut


bagian atas, pergelangan
tangan
Sering terdapat luka
percobaan yang berjalan
sejajar.
Sering terdapat cadaveric
spasm dengan senjata
tergenggam

Lokasi:tidak khusus, luka


lebih dari 1, luka dari
belakang, terdapat luka
tangkis di tangan

Penjeratan (strangulation)
Penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, kawat, dsb
melingkari/mengikat leher yang makin lama makin kuat
Kasus penjeratan biasanya pembunuhan.
Mekanisme kematian adalah akibat asfiksia atau refleks vasovagal
Arteri vertebralis biasanya tetap paten
Jejas jerat pada leher mendatar, melingkari leher dan terdapat lebih
rendah daripada jejas jerat pada kasus gantung. Biasanya terletak
setinggi atau di bawah rawan gondok.

Kasus Pencekikan
Penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan dinding saluran
napas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas
sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat
Mekanisme:
Asfiksia
Refleks vagal: akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus pada corpus
caroticus di percabangan arteri karotis interna dan eksterna

Pencekikan
Ditemukan pembendungan pada muka dan kepala karena turut
tertekan pembuluh darah vena dan arteri superfisial, arteri vertebralis
tidak terganggu
Tanda kekerasan pada leher: luka lecet kecil, dangkal, berbentuk
bulan sabit akibat penekanan kuku jari, luka memar
Fraktur tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior rawan gondok
unilateral. Patah tulang lidah terkadang merupakan satu-satunya
bukti adanya kekerasan bila mayat sudah alma dikubur sebelum
diperiksa.

182. Luka Tembak


(Gun Shot Wound)
Luka yang ditimbulkan oleh anak peluru pada sasaran tergantung
indikator :

Besar dan bentuk anak peluru


Balistik (Kecepatan, energi kinetik, stabilitas anak peluru)
Kerapuhan anak peluru
Kepadatan jaringan sasaran
Vulnerabilitas jaringan sasaran

Komponen luka :
Luka akibat terjangan anak peluru
Bukti partikel logam akibat geseran anak peluru dengan
laras
Butir mesiu
Panas akibat ledakan mesiu
Kerusakan jaringan akibat moncong laras yang menekan
sasaran

Komponen produk ikutan mana yang mencapai


sasaran menentukan jenis: Luka tembak jarak jauh,
jarak dekat, jarak sangat dekat dan luka tembak
tempel

Gambaran pada sasaran/luka tembak masuk (dari luar


ke dalam):
Kelim tatoo : Butir mesiu yang tidak habis terbakar dan
tertanam pada kulit
Kelim jelaga : Akibat jelaga yang keluar dari ujung laras
Kelim api : Hiperemi atau jaringan yang terbakar (jarak
sangat dekat
Kelim lecet : Bagian yang kehilangan kulit ari akibat peluru
yang menembus kulit
Kelim kesat : Zat pada anak peluru (minyak pelumas, jelaga,
mesiu) yang terusap pada tepi lubang

Luka Tembak Masuk (LTM) :

LTM Jarak jauh : Hanya komponen anak peluru


LTM Jarak dekat : Komponen anak peluru dan mesiu
LTM Jarak sangan dekat : Anak peluru, mesiu, jelaga
LTM Tempel/kontak : Seluruh komponen dan jejak laras

Luka Tembak Keluar :


Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban
Umumnya lebih besar dari LTM karena deformitas anak
peluru
Jika menembus tulang berbentuk corong yang membuka
searah gerak anak peluru
Dapat dijumpai daerah lecet jika pada tempat keluar
terdapat benda keras

183. Tenggelam
Kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan ke
dalam saluran pernapasan
Mekanisme kematian :

Asfiksia akibat spasme laring


Asfiksia akibat gangging dan choking
Refleks vagal
Fibrilasi ventrikel (air tawar) konsentrasi elektrolit air tawar lebih rendah
(hemodilusi) menyebabkan gangguan keseimbangan ion K+ dan Ca++
Edema pulmoner (air asin) konsentrasi elektrolit lebih tinggi, air tertarik
dari sirkulasi pulmonal ke jar.interstisial

Tenggelam
Perlu ditentukan pada pemeriksaan :
Identitas korban
Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam

Pemeriksaan diatom ditemukan pada getah paru


Kadar elektrolit magnesium darah
Benda asing dalam paru dan saluran pernapasan
Air dalam lambung dengan sifat sama dengan air tempat korban tenggelam

Penyebab kematian sebenarnya


Faktor yang berperan pada proses kematian (alkohol, obat-obatan)
Tempat korban pertama kali tenggelam
Pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan membantu menentukan apakah
korban tenggelam di tempat itu atau tempat lain

Perbedaan Tenggelam
Air Tawar vs Air Laut
Air Tawar

Air Laut

Paru-paru besar, relatif kering dan ringan

Paru-paru besar, relatif basah dan berat

Hemodilusi

Hemokonsentrasi

Hipervolemi

Hipovolemi

Hiperkalemi

Hipokalemi

Hiponatremia

Hipernatremia

Berat jenis darah di jantung kiri lebih


rendah

Berat jenis darah di jantung kiri lebih


tinggi

Sebab, Cara, & Mekanisme Kematian


Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung
jawab atas terjadinya kematian.
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab
kejadian:
Wajar: semata-mata karena penyakit
Tidak wajar: kematian dipercepat oleh adanya luka/cedera (kecelakaan,
bunuh diri, pembunuhan)

Mekanisme kematian:
Gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab
kematian sehingga seseorang tidak dapat terus hidup.

Sebab, Cara, & Mekanisme


Kematian

Contoh:
1. Penderita tb paru yang mengalami hemoptoe hebat &
meninggal.

Penyebab kematian: tb paru. Mekanisme kematian: shock akibat


perdarahan paru-paru. Cara kematian wajar.

2. Autopsi lebam mayat merah gelap, paru & hati merah gelap,
ada massa putih di jantung 2x3 cm.

Penyebab kematian: trombus putih di jantung. Mekanisme kematian:


asfiksia akibat sumbatan di jantung. Cara kematian: wajar.

3. Seseorang mengalami perdarahan subdural akibat terjatuh


dari sepeda motor yang mengalami slip. Selama perawatan
4 hari tidak pernah sadar, mendapat komplikasi pneumonia
ortostatik & meninggal.

Sebab kematian: trauma kapitis. Cara kematian: tidak wajar. Mekanisme


kematian: perdarahan subdural dengan penyulit radang paru-paru.

184. Pembunuhan Anak Sendiri


(Infanticide)
Pasal 341:
Ancaman hukuman bagi seorang ibu yang karena takut akan diketahui bahwa
ia melahirkan anak, dengan sengaja menghilangkan nyawa anak tersebut
ketika anak itu dilahirkan atau tidak lama sesudah dilahirkan.

Dokter harus memberikan kejelasan kepada penyidik dalam hal:


Memang benar korban (anak) itu baru dilahirkan
Usia bayi (intra dan ekstrauterin), dan tanda perawatan
Sebab kematian korban, berkaitan dengan: anak lahir hidup & adanya hal-hal
yang menyebabkan kematian (tanda kekerasan).

Pembunuhan Anak Sendiri


Patokan korban baru dilahirkan berdasarkan tidak
adanya tanda-tanda perawatan:

Masih berlumuran darah


Tali pusat belum dirawat
Adanya lemak bayi yang jelas
Belum diberi pakaian

Tanda lahir hidup:


Makroskopis: dada tampak mengembang, diafragma sudah
turun sampai sela ida 4-5. Paru berwarna warna merah
muda tidak merata dengan gambaran mozaik, konsistensi
spons, teraba derik udara, akan mengapung pada tes
apung paru.
Mikroskopis paru: adanya pengembangan kantung alveoli.

Usia Bayi Intra Uterin


Rumus De Haas (Berdasarkan panjang badan)
5 bulan pertama; Panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi
> 5 bulan: Panjang kepala-tumit = Umur gestasi(bulan) x 5

Melihat pusat penulangan (ossification center) : Klavikula (1.5),


Diafisis tulang panjang (2), Ischium (3), Kalkaneus (5-6), Manubrium
sterni (6), Sternum bawah (akhir 8), Distal femur/proksimal tibia
(akhir 9)

Usia Bayi Ekstra Uterin


Udara dalam saluran cerna : sampai lambung atau duodenum (hidup
beberapa saat), usus halus (hidup 1-2 jam), usus besar (5-6 jam),
rektum (12 jam)
Mekonium dalam kolon (24 jam setelah lahir)
Perubahan tali pusat (tempat lekat membentuk lingkaran kemerahan
dalam 36 jam)
Eritrosit berinti hilang dalam 24 jam pertama
Perubahan sirkulasi darah

185. Identifikasi Forensik


Merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik
untuk menentukan identitas seseorang/korban, terutama pada
jenazah tidak dikenal, membusuk, rusak, terbakar, kecelakaan masal,
ataupun bencana alam
Metode identifikasi yang dapat digunakan adalah: Identifikasi sidik
jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik,
metode eksklusi dan metode identifikasi DNA. Data korban premortem/antemortem didapatkan dari anamnesa sebagai
pembanding
Identitas seseorang dapat dipastikan bila paling sedikit dua metode
yang digunakan memberikan hasil positif dari 9 metode yang ada

Penentuan ras mungkin dilakukan dengan


pemeriksaan antropologik pada tengkorak, gigi geligi,
dan tulang panggul atau tulang lainnya. Arkus
zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang
berbentuk seperti sekop memberi petunjuk ke arah
ras mongoloid.

untuk menentukan jenis kelamin dari tengkorak,


diperlukan penilaian dari berbagai ciri-ciri yang
terdapat pada tengkorak tersebut. Ciri utama adalah
penonjolan di atas orbita (procc.mastoideus, palatum,
rongga mata, rahang bawah). Luas permukaan procc.
mastoideus pada pria lebih besar dibandingkan
wanita, hal ini dikaitkan dengan adanya insersi otot
leher yang lebih kuat pada pria.

Pemeriksaan tengkorak untuk menentukan umur meliputi


pemeriksaan sutura, penutupan tubula interna
mendahului eksterna. Sutura sagitalis, koronarius dan
lambdoideus mulai menutup umur 20-30 tahun. Sutura
parieto-mastoid dan aquamaeus usia 25-35 tahun
tertutup, tapi dapat tetap terbuka sebagian pada umur 60
tahun. Sutura spheno-parietal umumnya tidak akan
menutup sampai umur 70 tahun.
Pada pemeriksaan rahang bawah, bisa dibedakan rahang
bayi, dewasa dan orang tua. Rahang bayi corpusnya
dangkal dan rasmusnya sangat pendek dan membentuk
sudut 140 dengan corpus dari rahan tersebut. Pada
rahang dewasa corpus menjadi tebal dan panjang dan
susut antara rasmus dan corpus mengarah 90. Pada
orang tua batas dari prosessus alveolaris mulai hilang dan
corpus akan menjadi tumpul.

Tinggi badan
Tinggi badan merupakan persamaan linear dari
berbagai tulang panjang, yaitu humerus, femur, radius
dan tibia dengan rumusan Trotter dan Gleser,
Stevenson, Karl pearson, Dupertus dan Hadden.
Kepentingan pengukuran tinggi badan dari tulang
panjang adalah penting pada keadaan tubuh yang
sudah terpotong atau yang didapatkan rangka atau
sebagian tulang.
Perkiraan tinggi badan dengan pengukuran tulang
panjang : Tulang lengan atas 35 persen dari tinggi
badan. tulang paha 27 persen dari tinggi badan,
tulang kering 22 persen dari tinggi badan dan tulang
belakang 35 persen dari tinggi badan.

186. Metode Identifikasi


Pemeriksaan Sidik Jari
Membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante-mortem. Saat ini
merupakan pemeriksaan yang diakui tinggi ketepatannya. Dibutuhkan
penanganan dan kondisi yang baik dari jari tangan jenazah
Metode Visual
Memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan. Hanya
efektif pada jenazah yang masih dapat dikenali wajah dan bentuk tubuhnya
Pemeriksaan Dokumen
Dokumen identifikasi (KTP, SIM, Paspor, dst) yang dijumpai bersama jenazah.
Tidak bisa dipastikan kepemilikan dokumen yang ditemukan, sulit diandalkan.
Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan (Identifikasi Properti)
Dari ciri-ciri pakaian dan perhiasan yang dikenakan
Identifikasi Medik
Menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata,
kelainan/cacat khusus. Termasuk pemeriksaan radiologis (sinar X)

Pemeriksaan Gigi
Seperti sidik jari, setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Pencatatan data
gigi (odontogram) dan rahang dengan pemeriksaan manual, sinar-X, dan
pencetakan gigi. Ketepatan sama dengan pemeriksaan sidik jari, dengan syarat
terdapat data ante-mortem (dari dokter gigi). Dilakukan karena daya tahan gigi yang
baik

Pemeriksaan Serologis
Menentukan golongan darah jenazah. Tidak khas untuk masing-masing individu

Metode Eksklusi
Terutama pada kecelakaan masal

Identifikasi DNA
Diperlukan DNA pembanding. Mahal dan hanya dapat dilakukan oleh ahli forensik
molekular

Identifikasi Kerangka:
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi
badan, ciri-ciri khusus dan deformitas serta bila memungkinkan dilakukan
rekonstruksi wajah.Dicari pula tanda-tanda kekerasan pada tulang dan
memperkirakan sebab kematian.Perkiraan saat kematian dilakukan dengan
memeperhatikan kekeringan tulang.

Ilmu tht

187. Otitis Media Supuratif Kronik


Benign/mucosal type:
Tidak mengenai tulang.
Jenis perforasi: sentral.
Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5 days,
ear drops AB & steroid, systemic AB

Malignant/bony type:
Mengenai tulang atau kolesteatoma.
Jenis perforasi: marginal atau attic.
Tahap lanjut: abses atau fistel
retroaurikel, polip/jaringan granulasi,
terlihat kolesteatoma pada telinga
tengah, sekret bentuk nanah & berbau
khas
Th: mastoidektomi.
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Large central perforation

Cholesteatoma at attic
type perforation

Deskripsi OMSK
Batasan

Infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi MT dan sekret yang


keluar terus menerus atau hilang timbul (> 2 bulan)

Klasifikasi

OMSK tipe benigna/aman/mukosa


- Perforasi sentral
- Tidak dijumpai kolesteatoma
OMSK tipe maligna/bahaya/tulang
-Perforasi marginal/atik
-Kolesteatoma (+)
Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal juga OMSK aktif (sekret
keluar dari kavum timpani secara aktif), dan OMSK tenang (keadaan
kavum timpaninya terlihat basah atau kering)

Diagnosis

Anamnesis: riwayat keluar cairan dari telinga > 2 bulan


PF: perforasi MT
Penunjang: Audiometri, rontgen mastoid, kultur dan uji resistensi, CT
scan

Terapi

OMSK benigna: konservatif + medikamentosa


OMSK maligna: pembedahan (mastoidektomi)
optimized by optima

Edukasi Tatalaksana OMSK


Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas :
Konservatif
Operasi
OMSK BENIGNA FASE TENANG
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan pasien diberikan informasi dan edukasi untuk tidak mengorek
telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita
infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti,
timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.
OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah:
Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. Bila sekret keluar terus menerus diberikan H2O2 3% selama 3
5 hari.

Pemberian antibiotika : topikal antibiotik ( antimikroba) dan sistemik.


Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah
merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi
abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.3

188. Komplikasi OMSK


Complication of Otitis Media
Chronic suppurative otitis
media
Postauricular abscess
Facial nerve paresis
Labyrinthitis
Labyrinthine fistula
Mastoiditis
Temporal abscess
Petrositis
Intracranial abscess
Meningitis
Otitic hydrocephalus
Sigmoid sinus thrombosis
Encephalocele
Cerebrospinal fluid (CSF) leak

Mastioidectomy

Miringoplasty

189. Vertigo

Vertigo
Vertigo perifer

Vertigo sentral
Sumber masalah berasal dari
kelainan pada sistem saraf pusat

Sumber masalah berasal dari


kelainan sistem vestibuler perifer
yg terdiri dari sensor
proprioseptif, sensor taktil dan
visual

Anamnesis

Onset vertigo
Tingkat keparahannya
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penggunaan obat
Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Perbedaan gejala vertigo dengan lesi perifer dan sentral


Karakteristik

Perifer

Sentral

Intensitas
Kelelahan
Gejala yang berhubungan

Berat
Kelelahan, adaptasi
Mual, penurunan
pendengaran, berkeringat
Gejala akan memburuk
pada mata tertututp
Horizontal,
unilateral,
berputar
Nistagmus dapat ditahan
oleh fiksasi bola mata

Ringan
Tidak ada kelelahan
kelemahan, mati rasa,
sering jatuh
Gejala membaik pada mata
tertutup
Vertikal, bilateral
Tidak ada efek atau
nistagmus menetap

Menutup mata
Nistagmus

Fiksasi bola mata

Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Perbedaan gejala gangguan vertigo perifer


Penyakit

Durasi

BPPV
Menieres
Disease

Detik
Menit-jam
serangan
awal
Menit-jam

Vestibulopati
berulang
Vestibuler
Neuronitis
Labirinitis
Neuroma
akustik

Gangguan
pendengaran
Tidak
Uni/bilateral

Tinitus

Tidak

Tidak

Tidak

Jam-hari

unilateral

Tidak

Tidak

Hari
Kronis

unilateral
progresif

Bersiul
Tidak

Tidak
Tidak

Tidak
Ada

Telinga
penuh
Tidak
Tekanan/
rasa hangat

Gejala lain

Otitis media akut


Kelemahan saraf
kranialis VII

Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Dix Hall-Pike Manuver


Dari posisi duduk di atas tempat tidur,
penderita dibaring-kan ke belakang
dengan cepat, sehingga kepalanya menggantung 45 di bawah garis horisontal,
kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke
kanan lalu ke kiri.
Perhatikan saat timbul dan hilangnya
vertigo dan nistagmus, dengan uji ini
dapat dibedakan apakah lesinya perifer
atau sentral.
Vertigo Perifer (benign positional
vertigo): vertigo dan nistagmus timbul
setelah periode laten 2-10 detik, hilang
dalam waktu kurang dari 1 menit, akan
berkurang atau menghilang bila tes
diulang-ulang beberapa kali (fatigue).
Vertigo Sentral: tidak ada periode laten,
nistagmus dan vertigo ber-langsung
lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang
reaksi tetap seperti semula (nonfatigue).

Test

Intepretation

Romberg test

Positive in conditions causing sensory ataxia :


Conditions affecting the dorsal columns of the
spinal cord,
Conditions affecting the peripheral sensory nerves
Friedreich's Ataxia

Hallpike test

If the test is negative, benign positional vertigo a less


likely diagnosis and CNS involvement should be
considered.

190. OM Serosa/Non-Supuratif
Terdapatnya sekret non-purulen di telinga tengah,
sedangkan membran timpani utuh.
Adanya cairan di telinga tengah dengan MT utuh tanpa
tanda-tanda infeksi disebut otitis media efusi.
Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa
dan apabila efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis
media mucoid (glue ear).
Otitis media efusi adalah inflamasi pada telinga tengah
yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan efusi di
telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa
adanya tanda dan gejala inflamasi akut.
Otitis media serosa / otitis media sekretoria / otitis media
mukoid / otitis media efusi terbatas pada keadaan dimana
terdapat efusi dalam kavum timpani dengan membran
timpani utuh tanpa tanda-tanda radang. Bila efusi
tersebut berbentuk pus, disertai tanda-tanda radang
maka disebut otitis media akut (OMA).

Keluhan yang paling sering adalah penurunan


pendengaran dan kadang merasa telinga merasa
penuh sampai dengan merasa nyeri telinga. Dan pada
anak-anak penderita OME biasanya mereka juga
sering didapati dengan riwayat batuk pilek dan nyeri
tenggorokan berulang
Untuk mendiagnosis OME pada pemeriksaan fisik
perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanogram,
audiogram dan kadang tindakan miringotomi untuk
memastikan adanya cairan dalam telinga tengah.
Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk kondisi, warna,
dan translusensi membrana timpani.

OMA Supuratif
Stadium

Gejala klinis

Terapi

Oklusi tuba

Retraksi membran timpani

Antibiotik

Hiperemis/
presupurasi

MT hiperemis dan edema

Antibiotik

Supurasi

MT bulging/ bombans, supurasi telinga tengah


Anak sangat kesakitan, nadi dan suhu
menigkat, nyeri hebat di telinga

Miringotomi
Antibiotik
Analgetik

Perforasi

MT perforasi, sekret mengalir


Anak tenang , suhu badan turun, bisa tidur

Antibiotik
Analgetik
Cuci telinga

Resolusi

Sekret berkurang

Antibiotik

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

191. OMA dan Rhinitis Alergi


OMA terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan
tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media.
Pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran napas atas. Semakin
sering pasien terserang infeksi saluran napas, makin besar
kemungkinan terjadinya OMA.

Stadium OMA

Rinitis Alergi
Deskripsi
Batasan

Penyakit inflamasi karena reaksi alergi pada pasien atopi


WHO ARIA: kelainan pada hidung dengan gejala bersin, rinore, gatal
dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapan alergen yang
diperantarai Ig E

Patofisiologi Reaksi alergi fase cepat : berlangsung sejak kontak sampai 1 jam
Reaksi lergi fase lambat: berlangsung 2 4 jam dengan puncak 6 8
jam setelah pemaparan dan berlangsung 1 2 hari.
Histamin merangang reseptor H1 pada saraf vidianus sehingga timbul
rasa gatal, bersin dan hipersekresi kelenjar mukosa dan sel goblet

Klasifikasi

Berdasarkan sifat
Intermitten: gejala < 4 hari/minggu atau < 4 minggu
Persisten: gejala > 4 hari/minggu dan > 4 minggu
Berdasarkan tingkat
Ringan : tidak ditemukan gangguan aktivitas dan tidur
Berat: terdapat gangguan aktivitas
optimized by optima

Pemeriksaan penunjang
in vitro didapatkan hitung
eosinofil dalam darah tepi
meningkat. Pemeriksaan
IgE dengan RAST juga
dapat menunjukkan hasil
bermakna. Sedangkan
untuk pemeriksaan
penunjang in vivo, alergen
penyebab dapat dicari
dengan cara pemeriksaan
skin prick test, uji
intrakutan/intradermal
tunggal atau berseri.

ARIA 2007.
http://www.whiar.org/d
ocs/ARIA_PG_08_View_
WM.pdf

optimized by optima

192. Benda Asing


Benda asing sebagai penyebab sumbatan hidung hampir selalu
ditemukan pada anak-anak. Anak-anak cenderung memasukan
benda-benda kecil dalam hidung. Benda asing yang lazim ditemukan
adalah manik-manik, kancing, kacang, kelereng, dan karet
penghapus. Bila benda tersebut belum lama dimasukan, maka tidak
atau hanya sedikit mengganggu, kecuali bila benda tersebut tajam
atau sangat besar.
Gejala
Gejala yang lazim adalah obstruksi unilateral dan sekret yang berbau.
Benda asing umumnya ditemukan di anterior vestibulum atau pada
meatus inferior sepanjang dasar hidung. Tidak satupun benda asing
boleh dibiarkan dalam hidung oleh karena bahaya nekrosis dan
infeksi sekunder yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke
dalam saluran pernapasan bawah.

Pengangkatan dapat dilakukan di klinik pada anak


yang kooperatif, setelah sebelumnya dioleskan suatu
anastetik topical dan vasokonstriktor misalnya kokain.
Suatu kait buntu yang diselipkan di belakang benda
tersebut atau suatu forsep alligator yang kecil akan
sangat membantu. Kadang diperlukan anestesi umum
untuk mengeluarkan benda tersebut.

193. Tonsilitis
Acute Tonsilitis

Chronic Tonsilits

Fever, sore throat, foul breath,


dysphagia, odynophagia and
tender cervical lymph nodes.
Airway obstruction may manifest
as mouth breathing, snoring, sleep
disordered breathing, nocturnal
breathing pauses, or sleep apnea.
Symptoms usually resolve in 3-4
days but may last up to 2 weeks
despite adequate therapy.

Chronic sore throat, halitosis, tonsillitis,


and persistent tender cervical nodes

Tonsilitis Kronik
Acute tonsillitis:

Viral: similar with acute rhinits + sore


throat
Bacterial: GABHS, pneumococcus, S.
viridan, S. pyogenes.

Detritus follicular tonsillitits


Detritus coalesce lacunar tonsillitis.
Sore throat, odinophagia, fever, malaise,
otalgia.
Th: penicillin or erythromicin

Chronic tonsillitis

Persistent sore throat, anorexia, dysphagia, &


pharyngotonsillar erythema
Lymphoid tissue is replaced by scar
widened crypt, filled by detritus.
Foul breath, throat felt dry.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.

Technique for swabbing the throat:


1. Depress the patient's tongue
completely with a sterile tongue blade.

2. Using the appropriate sterile swab,


start at one side of the throat.
Vigorously swab the tonsillar fissa, go
across the back of the throat and finish
by swabbing the other tonsillar fissa.
Be sure to swab any obvious pus.
Withdraw the swab and take care to
avoid touching lips, teeth, palate,
cheeks, or tongue.

Tonsilitis Kronis
Deskripsi Tonsilitis Kronik

Batasan Radang berulang pada tonsil menyebabkan jaringan limfoid


digantikan oleh jaringan parut
Etiologi Rangsangan menahun akibat rokok, makanan, higyne mulut
yang buruk, pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat
Gejala Anamnesis: Rasa mengganjal di tenggorok, kering, nafas
berbau
PF: Tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kripta
melebar dan beberapa kripta terisi oleh deritus
Terapi Menjaga hygine mulut
Pertimbangkan tonsilektomi
Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

Tonsilitis Bakteri
Deskripsi Tonsilitis Bakteri
Batasan

Radang akut tonsil akibat infeksi Streptokokus beta hemolitikus

Klasifikasi

Tonsilitis folikularis: tonsilitis dengan detritus yang jelas


Tonsilitis lakunaris: tonsilitis dengan bercak-baercak detritus yang
membentuk alur

Diagnosis

Anamnesis: Nyeri tenggorokan, nyeri menelan, demam, malaise, otalgia


PF: Tonsil hiperemis, membesar disertai detritus berbentuk folikel,
membran semu atau lakunaris, petekie pada palatum dan faring,
pembesaran KGB mandibula
Penunjang: Apusan tonsil

Terapi

Antibiotik sistemik
Kortikosteroid
Analgetik dan antipiretik
Obat kumur antiseptik

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

Indikasi Tonsilektomi
Tonsilitis > 3 kali pertahun walau dengan terapi adekuat
Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan
gangguan pertumbuhan orofasial
Sumbatan jalan nafas berupa hipertrofi tonsil dengan
sleep apnea, ganggua menelan, berbicara, cor pulmonale
Rinitis dan sinusitis kronis, peritonsilitis, abses peritonsil
yang tidak berhasil dengan pengobatan
Halitosis yang tidak respon dengan pengobatan
Tonsilitis berulang karena Streptococcus beta hemolitikus
Curiga keganasan
OME/ Otitis media supuratif
Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

194. Rhinitis
Diagnosis

Clinical Findings

Rinitis alergi

Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa


edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis
vasomotor

Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin. Pemicu:


asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres. Tanda: mukosa
edema, konka hipertrofi merah gelap.

Rinitis hipertrofi

Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan oleh


infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor. Gejala:
hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak &
mukopurulen.

Rinitis atrofi /
ozaena

Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa


pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media &
inferior, sekret & krusta hijau.

Rinitis
medikamentosa

Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan vasokonstriktor


topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma edema,hipersekresi mukus.
Rinoskopi: edema/hipertrofi konka dengan sekret hidung yang
berlebihan.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

195. Rinitis Vasomotor


Deskripsi
Batasan

keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi,


eosinofilia, hormonal atau pajanan obat

Etiologi

belum diketahui

Diagnosis

Anamnesis: Hidung tersumbat bergantian kiri dan kanan, tergantung


posisi pasien disertai sekret yang mukoid atau serosa yang dicetuskan
oleh rangsangan non spesifik
Rinoskopi anterior: Edema mukosa hidung, konka merah gelap atau
merah tua dengan permukaan konka dapat licin atau berbenjol
(hipertrofi) disertai sedikit sekret mukoid
Penunjang: Eosinofilia ringan

Tatalaksana Menghindari stimulus


Simptomatis: dekongestan oral, kortikosteroid topikal
Operasi
Neurektomi nervus vidianus
Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

196. Tuli Konduktif Kiri


Garpu tala
512 Hz
Tes Rinne

Normal

Tuli Kondukif

Positif

Negatif

Tuli
Sensorineural
Positif

Tes Weber

Tidak ada
lateralisasi

Lateralisasi ke
telinga sakit

Lateralisasi ke
telinga sehat

Sama dengan
pemeriksa

Memanjang

Memendek

Tes Swabach

197. Audiometri
Tes Bisik

Semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu
diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, panjang minimal 6 meter. Pada
nilai normal tes berbisik : 5/6 6/6

Pemeriksaan kualitatif, Jenis pemeriksaan ini adalah tes rinne, schwabach,


dan weber.
Tes Audiometri Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari, dan
untuk menilai pemberian alat bantu dengar. Pada tes ini dipakai kata-kata
tutur
yang sudah disusun dalam silabus (suku kata). Pasien diminta untuk
mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder.
Tes Garpu Tala

Tes Audiometri Diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada
meatus akustikus eksternus. Pada lesi di koklea, ambang rangsang refleks
impedans
stapedius menurun, sedangkan pada lesi di retrokoklea, ambang itu naik.
Tes Audiometri Dilakukan dengan menggunakan audiometer, dan hasil pencatatannya
disebut audiogram. Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun
Nada Murni
yang kooperatif. Sebagai sumber suara digunakan nada murni yaitu bunyi
yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Menilai hantaran suara melalui udara
(air conduction) dengan headphone beda frekuensi, serta menilai hantaran
tulang (bone conduction) dengan bone vibrator pada prosesus mastoid.

Pemeriksaan lainnya
Function
Otoacoustic emission

a sound which is generated from within the inner ear;


related to the amplification function of the cochlea;
simple, non-invasive, test for hearing defects in newborn babies and in children who
are too young to cooperate in conventional hearing tests

Auditory brainstem
response

an auditory evoked potential extracted from ongoing electrical activity in the brain
and recorded via electrodes placed on the scalp.;
The resulting recording is a series of vertex positive waves of which I through V are
evaluated;
used for newborn hearing screening, auditory threshold estimation, intraoperative
monitoring, determining hearing loss type and degree, and auditory nerve and
brainstem lesion detection

Behavioural
observation
audiometry

presenting sounds to a baby and observing their responses;

Visual reinforcement
audiometry

The procedure relies on continued cooperation of the child, in particular their ability
to stay in the required test position;
VRA uses lighted and/or animated toys that are flashed on simultaneously with the
presentation of an auditory signal (warble tones, narrow band noise or speech)
during a conditioning period.

Pure tone audiometry

a subjective, behavioural measurement of hearing threshold, as it relies on patient


response to pure tone stimuli.
used on adults and children old enough to cooperate with the test procedure
hearing test used to identify hearing threshold levels of an individual, enabling
determination of the degree, type and configuration of a hearing loss;

198. Penyakit Meniere


Penyakit Meniere adalah suatu kelainan pada telinga
bagian dalam yang mengakibatkan gangguan pada
pendengaran dan keseimbangan. Hal ini ditandai
dengan adanya episode vertigo dan tinnitus dan
penurunan pendengaran secara progresif, bisaanya
unilateral. Hal ini disebabkan oleh dilatasi sistem
limfatik yang berakibat terjadi drainase endolimfa.

Patofisiologi

Gejala & tanda klinis

Vertigo
Tinitus

tuli
sensorineural
terutama
pada nada
rendah

Trias Meniere

Gejala & tanda klinis

Typical
Atypical

1.gejala penurunan pendengaran yang


fluktuatif
2.fluktuatif vertigo
3.fluktuatif tinnitus
4.sensani penuh pada telinga yang
fluktuatif.
Pada penyakit meniere cochlear gejalanya adalah :
1.penurunan pendengaran yang fluktuatif
2.fluktuatif tinnitus
3.sensasi rasa penuh pada telinga yang fluktuatif

Pada penyakit meniere vestibular gejalanya adalah :


1.fluktuatif vertigo
2.fluktuatif tinnitus
3.sensasi rasa penuh pada telinga yang fluktuatif.

Diagnosis
ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

1.Vertigo hilang timbul yang


makin mereda pada
serangan berikutnya
2.Fluktuasi gangguan
pendengaran berupa tuli
saraf
3.Pendengaran membaik
setelah serangan berakhir
4.Tinnitus
5.Rasa penuh di telinga
6.Menyingkirkan
kemungkinan penyebab dari
sentral

Diperlukan hanya untuk


menguatkan diagnosis
penyakit ini.
Bila dalam anamnesis
terdapat riwayat fluktuasi
pendengaran, sedangkan
pada pemeriksaan ternyata
terdapat tuli saraf, maka kita
sudah dapat mendiagnosis
penyakit Meniere, sebab
tidak ada penyakit lain yang
bisa menyebabkan adanya
perbaikan dalam tuli saraf,
kecuali pada penyakit
Meniere.
Pada sebagian kasus dapat
ditemukan nystagmus

PEMERIKSAAN PENUNJANG
audiometri
ENG
BERA
Electrocochleography
MRI kepala
tes gliserin
timpanometri

DIAGNOSIS BANDING

tumor N.VIII

sclerosis multiple

neuritis vestibuler

vertigo posisi
paroksisimal jinak
( VPPJ ) / BPPV

TATALAKSANA
Diet dan perubahan gaya hidup
diet rendah
garam
Pemakaian rokok
alkohol, coklat,
Kafein dan nikotin harus dihentikan.
Olahraga rutinOlahraga rutin

Farmakologi
vasodilator perifer, anti histamin,
antikolinergik, steroid dan diuretik :
untuk mengurangi tekanan pada
endolimfe.
Obat antiiskemia dapat pula diberikan
sebagai obat alternatif dan neurotonik
untuk menguatkan sarafnya
diazepam: pada kasus akut untuk
membantu mengontrol vertigo
Anti emetik seperti prometazin: untuk
mengurangi mual, muntah, dan
vertigonya
Diuretik seperti thiazide: menurunkan
tekanan dalam sistem endolimfe

TATALAKSANA
Latihan (rehabilitasi)
Canalit Reposition
Treatment (CRT)

Brand - Darroff

Penatalaksanaan bedah
Operasi yang
direkomendasikan bila
serangan vertigo tidak
terkontrol:
Dekompresi sakus
endolimfatikus
Labirinektomi
Neurektomi vestibuler
Labirinektomi dengan zat
kimia
Endolymphe shunt

199. Tes Penala


Normal

Rinne

Weber

Schwabach

(+)

Tidak ada
lateralisasi

Sama dengan
pemeriksa

Udara lebih baik dari tulang

Tuli Konduktif

(-)

Lateralisasi ke
telinga sakit

Memanjang

Tuli Sensorineural

(+)

Lateralisasi ke
telinga sehat

Memendek

200. OM Serosa
Otitis media serosa ialah keradangan non bakterial
mukosa kavum timpani yang ditandai dengan
terkumpulnya cairan yang tidak purulen (serous atau
mukus).
Gangguan fungsi tuba Eustakhius merupakan penyebab
utama.
Anamnesis: Telinga terasa penuh, terasa ada cairan
(grebeg-grebeg), Pendengaran menurun, Terdengar suara
dalam telinga sewaktu menelan/menguap.

Pada otoskopi membran timpani berubah warna (kekuningkuningan), refleks cahaya berubah atau menghilang, Dapat
terlihat "air-fluid level" atau "air bubles".
Pemeriksaan tambahan:
- Audiogram : tuli konduktif.
- Timpanogram : tipe B atau C.
TERAPI
Tahap I :
- Miringotomi dan pasang "ventilating tube" (Gromet).
- Obat-obatan terhadap gangguan fungsi tuba.
(Dekongestan oral atau lokal, terapi OMA)
Tahap II:
- Bila ada pembesaran tonsil dan/adenoid, dilakukan
adenotonsilektomi.
- Bila ada faktor alergi dilakukan perawatan alergi.

Timpanometri
Timpanometri dilakukan untuk mengetahui keadaan
di telinga tengah. Misalnya, apakah ada cairan,
gangguan rangkaian tulang pendengaran (ossicular
chain), kekakuan gendang telinga atau bahkan
gendang telinga terlalu lentur.
Gambaran hasil timpanometri tersebut adalah:
tipe A mengindikasikan bahwa kondisi telinga tengah
normal;
tipe B terdapat cairan di telinga tengah;
tipe C terdapat gangguan fungsi tuba eustachius;
tipe AD terdapat gangguan rangkaian tulang pendengaran;
tipe AS terdapat kekakuan pada tulang pendengaran
(otosklerosis)