Anda di halaman 1dari 47

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Undang-undang Pokok Kesehatan No. 9 Tahun 1960 mencantumkan bahwa
yang dimaksud dengan sehat adalah yang meliputi kesehatan badan, rohani dan sosial
dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.1
Dengan batasan tersebut seorang pemikir bernama H.L. Blum ( 1974 )
mengemukakan bahwa derajat kesehatan seseorang sangat dipengaruhi oleh empat
faktor yaitu :1, 2
1. Faktor lingkungan ( environment )
2. Faktor gaya hidup atau perilaku ( behaviour )
3. Faktor keturunan ( hereditair )
4. Faktor pelayanan kesehatan ( health services )
Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan.1,2
Dimana kondisi lingkungan yang tidak memadai dapat menimbulkan masalah
kesehatan berbasis lingkungan, seperti diare, ISPA, TB paru, malaria, dan lain-lain
yang termasuk sepuluh besar penyakit di Puskesmas dan merupakan pola penyakit
utama di Indonesia.1,2
Adapun yang termasuk dalam faktor lingkungan adalah : lingkungan fisik,
lingkungan biologis dan lingkungan sosial.1 Keberadaan rumah sehat termasuk dalam
lingkungan fisik.1 Perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai
resiko tinggi terhadap pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit, terutama
penyakit infeksi karena mikroorganisme.3
Setelah kebutuhan pangan dan sandang, maka perumahan merupakan
kebutuhan pokok manusia lain yang harus terpenuhi. 1,3 Kebutuhan akan rumah
sejalan dengan bertambahnya penduduk, dengan demikian kebutuhan perumahan
yang sehat semakin meningkat pula.3

Ketersediaan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan termasuk dalam


Visi Indonesia Sehat 2010.2 Untuk mencapai hal tersebut diadakan program
perumahan sehat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas perumahan yang
memenuhi syarat kesehatan.2 Adapun sasarannya adalah tercapainya 75% lingkungan
perumahan yang memenuhi syarat kesehatan di perkotaan dan 60% di pedesaan.2

1.2. RUMUSAN MASALAH


Tabel 1.1. Data Sarana Rumah Sehat di Puskesmas Maniis Tahun 2005
NO

DESA

Jumlah

Rmh

KK

Permanen

Rmh
%

Semi-

Rmh
%

permanen
58
9.48
102
10.55
192
14.72
121
11.33

Panggung

Jml
%

Rmh

115
176
357
248

18.79
18.20
27.38
23.22

Sehat
411
635
961
651

67.16
65.67
73.70
60.96

1
2
3
4

Cijati
Citamiang
Sinargalih
Gunung

612
967
1304
1068

238
357
412
282

38.89
36.92
31.60
26.40

Karung
Tegal

1193

334

28.00

127

10.65

313

26.24

774

64.88

Datar
Pasir

881

277

31.44

132

14.98

154

17.48

563

63.90

Jambu
Cirama

864

242

28.01

108

12.50

148

17.13

498

57.64

Hilir
Sukamukti
854
264
30.91
117
13.70
162
18.97
Jumlah
7743
2406
31.07
957
12.36
1673
21.61
Dari tabel 1.1 diatas, jelaslah bahwa Desa Cirama Hilir merupakan desa

542
5035

63.47
65.03

dengan keberadaan rumah sehat yang paling rendah jika dibandingkan dengan desadesa lain yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Maniis.
Rendahnya keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir diduga dipengaruhi
oleh pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengenai masalah-masalah yang
berkaitan dengan rumah sehat. Namun hal ini masih memerlukan peenelitian lebih
lanjut.
Oleh karena itu penulis memilih penelitian dengan judul :

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU MASYARAKAT


TERHADAP RENDAHNYA KEBERADAAN RUMAH SEHAT DI DESA
CIRAMA HILIR WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANIIS.

1.3. TUJUAN PENELITIAN


1.3.1. Tujuan Umum
Maksud dari penelitian ini adalah untuk membantu pemerintah dalam
program peningkatan kualitas perumahan yang memenuhi syarat kesehatan.
1.3.2. Tujuan Khusus
Penelitian yang penulis lakukan mempunyai tujuan untuk mengetahui :
1. Bagaimana pengaruh faktor pengetahuan masyarakat terhadap rendahnya
keberadaan rumah sehat di desa Cirama Hilir.
2. Bagaimana pengaruh faktor sikap masyarakat terhadap rendahnya keberadaan
rumah sehat di desa Cirama Hilir.
3. Bagaimana pengaruh faktor perilaku masyarakat terhadap rendahnya keberadaan
rumah sehat di desa Cirama Hilir.

1.4. MANFAAT PENELITIAN


1. Memberikan informasi kepada pihak Puskesmas Maniis mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi rendahnya keberadaan rumah sehat di wilayah kerjanya.
2. Memberikan informasi kepada pihak Puskesmas Maniis mengenai kendala-kendala
yang ada dalam menjalankan program penyuluhan penyehatan perumahan di wilayah
kerjanya.
3. Memberikan informasi kepada pihak Puskesmas Maniis mengenai bahan-bahan
pertimbangan dalam memilih jalan keluar yang akan ditempuh untuk memecahkan
masalah rendahnya keberadaan rumah sehat di wilayah kerjanya.

1.5. METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian

: Survei.

Jenis Penelitian

: Analitik

Rancangan Penelitian

: Cross Sectional.

Instrumen Pokok Penelitian : Kuesioner.


Teknik Pengumpulan Data

: Observasi non partisipan dan Wawancara terpimpin.

Populasi

: Kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga yang

tercatat dalam buku induk penduduk tahun 2005 desa Cirama Hilir, Wilayah Kerja
Puskesmas Maniis.
Jumlah Populasi

: 864 orang.

Teknik Sampling

: Proportional Random Sampling.

Jumlah Sampel

: 273 orang.

Uji Statistik

: Chi-square test.

1.6. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN


1.6.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah desa Cirama Hilir, yang termasuk dalam wilayah kerja
Puskesmas Maniis, Kabupaten Purwakarta.
1.6.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung sejak bulan Desember 2005 sampai dengan Januari 2006
selama berlangsungnya PBL III ini.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. RUMAH SEHAT
Rumah adalah bangunan untuk bertempat tinggal. 4 Menurut WHO rumah
adalah tempat untuk tumbuh dan berkembang secara jasmani, rohani, dan sosial.
Karena itu rumah harus direncanakan dengan baik dan matang.

Rumah perlu sehat karena sebagian besar waktu kita habiskan di rumah,
antara lain untuk beristirahat, menyiapkan makanan, mendidik anak, menerima tamu
dan untuk lain-lainnya.5 Rumah sehat akan memberi perlindungan dan kenyamanan
bagi keluarga disamping dapat mencegah penularan penyakit.5

2.2. PERSYARATAN RUMAH SEHAT


2.2.1. SYARAT FISIK :
2.2.1.1.

Mempunyai pencahayaan yang baik yang berupa cahaya alam ( matahari )


maupun buatan ( lampu ).1

Pencahayaan dalam rumah disebut baik bila kita bisa membaca dan menulis tanpa
cahaya tambahan.
Pencahayaan yang tidak cukup menyebabkan :4

Kelelahan mata

Kecelakaan

Sukar menjaga kebersihan

Menurunkan produktifitas kerja

Cara mengatasinya antara lain :1

Memanfaatkan sinar matahari sebanyak mungkin untuk penerangan dalam


rumah pada siang hari melalui jendela, lubang angin, pintu maupun atap rumah
( genteng kaca ).1,4

Pergunakan warna-warna muda untuk lantai, dinding maupun langit-langit


rumah.1,4

Pada malam hari bagi desa yang sudah ada aliran listriknya, pergunakan lampu
listrik yang cukup terang untuk melakukan aktifitas, bila belum ada listrik
pergunakan lampu petromak untuk bekerja dan belajar.1,4

Penggunaan genteng kaca


2.2.1.2. Ventilasi udara, suhu dan kelembaban yang baik4
Pertukaran udara perlu diperhatikan karena :1
1. Untuk hidup perlu oksigen, bila tidak tersedia secara cukup akan menimbulkan
gangguan faal hati, lemas bahkan kematian.1 Oleh karena itu udara segar harus
tersedia secara cukup.1
2. Penularan penyakit saluran pernafasan lebih besar kemungkinan terjadi pada udara
yang tidak bertukar akibat jumlah kuman yang menjadi lebih besar, sehingga akan
mempermudah penularan penyakit.1
3. Udara yang tidak bertukar menimbulkan perasaan tidak nyaman atau gelisah.1
Ventilasi yang baik akan menghasilkan udara yang nyaman dan bersih ( Temperatur:
22oC, Kelembaban : 50-75% ).4
Untuk itu cara mengatasinya antara lain :1
1. Buat jendela dan lubang angin yang cukup.1
2. Luas jendela ( lubang ventilasi variabel ) kurang lebih 10-15% kali luas lantai, luas
lubang angin ( lubang ventilasi tetap ) kurang lebih 20% kali luas jendela dan benar
letaknya.1,4
3. Jendela dibuka pada siang hari.1

Ruangan-ruangan terutama kamar tidur harus mempunyai jendela, lubang


angin, dan sinar matahari pagi dapat masuk kedalam, supaya :5

Udara kotor dalam kamar, dapat bertukar dengan udara bersih dari luar rumah.5

Kamar tidak lembab, basah, dan berbau tidak sedap.5

Ruangan menjadi terang, sehingga mudah dibersihkan.5 Sinar matahari pagi


yang langsung masuk ke kamar tidur, dapat pula membunuh kuman penyakit.4

Suhu perlu diperhatikan karena :1

Suhu terlalu tinggi, tidak cocok untuk beristirahat dan lekas melelahkan bila
bekerja.1

Suhu terlalu rendah tidak menyenangkan dan terhadap orang-orang tertentu dapat
menimbulkan alergi.1
Supaya suhu stabil, maka dapat diupayakan dengan :1

Atap dengan plafon yang cukup menahan panas matahari.1

Dinding tidak lembab.1

Pertukaran udara baik.1

Tanam pohon-pohon pelindung untuk mengurangi sengatan sinar matahari.1


Kelembaban perlu diperhatikan karena :1

1. Penyakit pernafasan kronis seperti asma, bronkitis mudah kambuh.1


2. Daya tahan tubuh terhadap penyakit secara umum menurun.1

3. Perasaan tidak nyaman.1


4. Jamur atau lumut mudah tumbuh sehingga mempercepat kerusakan bangunan.1
Cara mengatasinya antara lain :1
1. Buat drainage atau saluran yang baik disekeliling rumah.1
2. Lantai kedap air seperti plester, tegel, beton, minimal dari papan. 5 Bila sementara
dari tanah, hendaknya dipadatkan.1,4,5
3. Usahakan agar dinding kamar jauh dari kamar mandi, kecuali menggunakan
sambungan pondasi dengan dinding kedap air.1,4,5
4. Atap tidak bocor.1
5. Buat lubang ventilasi yang baik ( cukup luas ) sehingga sinar matahari dan angin
dapat masuk dengan baik..1,5
Asap yang berasal dari dapur pun perlu diperhatikan karena :1
1. Asap dapat mengganggu pernafasan dan mungkin merusak alat-alat pernafasan.1
2. Ibu dan anak balita berjam-jam tiap hari ada di dapur.1
3. Asap dapur dapat membuat lingkungannya menjadi kotor ( mengotori dinding dan
langit-langit ) dan bau.1,4,5
4. Mata menjadi terasa pedih.1,4
Penghawaan di dapur harus cukup memenuhi syarat :4

Lubang ventilasi sama dengan 5% luas lantai dapur, bukan jendela biasa.4

Buatlah jalan keluar untuk asap pada bagian atas atau di atas sumber asap.1,4
-

Dengan meninggikan sebagian atap dapur.5

Dengan menggunakan cerobong asap.5

Dengan menggunakan tungku LORENA .5

Menggunakan cerobong asap


Meninggikan sebagian atap dapur

Mengunakan tungku LORENA


2.2.1.3.

Bebas dari gangguan bising, maksimal 50


dB.

2.2.1.4.

Terhindar dari bahaya..

Dapat dilakukan dengan cara, antara lain :


Rumah menggunakan bahan yang kuat.
Pemasangan instalasi listrik harus baik, sehingga terhindar dari
bahaya kebakaran ataupun sengatan listrik.
Tersedia tempat penyimpanan bahan beracun yang tersendiri,
keamanan pemakaian gas harus dijaga.
2.2.1.5. Besarnya ruangan4
Ruangan-ruangan harus mempunyai luas yang cukup dan tidak dihuni oleh
terlalu banyak orang.5 Di perkotaan dimana sarana kehidupan biasanya cukup
lengkap luas lantai dapat berkurang sampai 6 m2/orang.4 Di pedesaan dimana sarana
kehidupan belum begitu lengkap, masih diperlukan 10m2/orang.4 Luas tersebut tidak
termasuk luas kamar mandi dan jamban.5

Kepadatan jumlah penghuni rumah perlu diperhatikan karena :1


o

Semua orang memerlukan tempat yang cukup untuk melakukan aktivitasnya


dirumah.1

Kepenuh-sesakan mengurangi kenyamanan melakukan aktivitas tersebut.1

Memungkinkan cepat terjadinya penularan penyakit saluran pernafasan, seperti


penyakit influenza, tbc paru, atau penyakit yang ditularkan oleh virus dan kontak
perorangan, seperti penyakit kulit yang mudah menjalar diantara penghuni karena
kontak langsung.1,5

Menurunkan produktifitas kerja karena gangguan mental ( psikologis ).1


Cara mengatasinya antara lain :1
1. Buat kondisi yang seimbang antara jumlah penghuni dengan jumlah dan luas
kamar.1
2. Ventilasi/pertukaran udara baik.1
3. Pengaturan perabot rumah baik ( tidak terlalu penuh ).1
Setiap penghuni memerlukan cukup banyak ruangan, antara lain untuk
bekerja, istirahat, bergerak, dan bersantai. Maka pemisahan ruangan satu dengan yang
lain perlu diperhatikan. Antara ruang makan ( dapur ) dan kamar tidur harus terpisah
karena, didapur dan diruang makan, makanan diolah dan disajikan. 5 Bila ruang
tersebut dipakai juga untuk tidur maka kemungkinan besar makanan akan mudah
kotor.5 Sebaliknya, bila ruang tidur dipergunakan juga untuk dapur, maka dapat
terjadi bahaya kebakaran disamping kamar tidur akan menjadi kotor dan tidak
nyaman untuk beristirahat.5
Untuk menghemat banyaknya ruangan dapat direncanakan ruangan-ruangan
serba guna, misalnya : ruang duduk yang sekaligus jadi ruang makan, dapur yang
sekaligus jadi ruang makan.
Untuk penghuni < 6 membutuhkan kamar mandi dan jamban satu kesatuan.
Jika penghuni 6 ( maksimal 12 ) maka membutuhkan 2 kesatuan kamar mandi dan
jamban. Luas lantai untuk kamar mandi dan jamban minimal 3 m 2, untuk jamban saja

10

minimal 1 m2, untuk kamar mandi dengan bak minimal 2.5 m2, untuk kamar mandi
dengan shower minimal 1.5 m2. Tinggi atap kamar minimal 3 m.
2.2.1.6. Jika rumah tersebut mempunyai halaman maka halaman tersebut harus
terpelihara.
Melalui halaman yang tidak terpelihara dapat ditularkan penyakit-penyakit
menular secara tidak langsung seperti akibat serangga dan tikus, karena halaman yang
kotor merupakan tempat hidup yang baik bagi serangga dan tikus.1,5 Air hujan yang
tergenang dapat menimbulkan sarang nyamuk yang dapat menularkan penyakit
demam berdarah.5
Yang perlu diperhatikan tentang halaman rumah adalah :
-

Terpelihara dan dijaga kebersihannya dari sampah yang berserakan, kotoran


ternak maupun kotoran manusia, rumput dan lain-lain.1

Tidak ada genangan air ( becek ) diwaktu hujan dan tidak berdebu diwaktu
musim kering.1 Agar air hujan mengalir sehingga tidak menimbulkan becek
atau banjir maka perlu dibuat saluran air hujan.4

Pekarangan yang kotor memungkinkan terjadinya kecelakaan, dan tempat


persembunyian binatang berbisa seperti ular dan sebagainya. 1

Halaman rumah dapat dimanfaatkan sehingga menghasilkan sesuatu, seperti


tanaman obat, sayuran, buah-buahan, tanaman hias, ikan ,ternak.4

Ditanami pohon-pohonan sebagai pelindung dari sinar matahari dan polusi


udara.4

2.2.1.7. Jika rumah tersebut mempunyai kandang ternak maka harus dijaga agar tidak
mengganggu kesehatan penghuninya.4
Dari kandang ternak yang biasanya jorok dapat timbul berbagai gangguan
terhadap kesehatan seperti :1
-

Bau kotorannya sangat menggangu.1

11

Bibit penyakit tetanus senang sekali berkembang biak pada kotoran ternak seperti
kuda, lembu.1 Berbagai jenis jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia biasanya hidup dalam kotoran ayam, burung dan sejenisnya.1

Ternak yang menyusui seperti kuda, lembu dapat menderita penyakit antrax dan
dapat menular pada manusia dan menimbulkan kematian.1

Kotoran dan air limbah dari kandang ternak sangat menarik bagi lalat dan nyamuk
penular penyakit kaki gajah.1 Ternak itu sendiri sangat menarik bagi nyamuknyamuk malaria untuk menghisap darahnya dan suatu kali akan menghisap darah
manusia dan menularkan penyakit malaria.1

Kandang ternak yang terlalu dekat ( kurang dari 10 meter ) dari sumber air minum
kita misalnya sumur, akan dapat mencemari sumur kita melalui rembesan kotoran
kedalam tanah.1 Jika hal tersebut tidak memungkinkan ( misalnya karena luas
rumah tidak mencukupi, maka dapat diusahakan dengan tembok semen atau pipa
beton sedalam minimal 3 meter dibawah permukaan pada dinding sumur.
Cara memelihara kandang ternak agar dapat menghindarkan timbulnya

penyakit :
Mengatur agar air kotor dari kandang tidak mencemari sumber air.1,4
Dinding kandang tidak boleh menyatu dengan dinding rumah.4
Menghindari sarang-sarang serangga dengan membersihkan kotoran ternak setiap
hari.4
Pembuangan kotoran di buang ke lubang galian tanah kemudian ditutup untuk
pupuk atau diolah menjadi biogas.1,4
Terkena sinar matahari.4
2.2.2. BEBAS DARI PENULARAN PENYAKIT 1
2.2.2.1.

Mempunyai sumber air yang baik dan cukup.


Air bersih diperlukan di rumah untuk berbagai keperluan sehari-hari. Seperti

untuk minum, memasak, mandi, mencuci, buang air, wudhu dan sebagainya. 5 Semua

12

orang hendaknya menggunakan air bersih, dan untuk minum agar dimasak lebih
dulu.6
Adapun syarat kesehatan yang harus dipenuhi air minum yaitu jernih, tidak
berwarna, tidak berbau dan tidak mengandung bahan-bahan yang membahayakan
kesehatan.6 Air minum harus dimasak sampai mendidih dan jangan dicampur dengan
air yang belum dimasak.6 Untuk penyimpanan, air minum yang telah dimasak
disimpan pada tempat yang bersih dan selalu dalam keadaan tertutup agar tidak
terkena kotoran dan menjadi tempat berkembang biak bibit penyakit atau nyamuk
demam berdarah.6 Menggunakan air bersih dan sehat dapat mencegah penularan
penyakit seperti mencret, muntaber, sakit kulit, sakit mata dan kecacingan.6
Sedangkan tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, jamban,
tempayan, drum dan lain-lain dikuras sekurang-kurangnya seminggu sekali atau
ditaburkan bubuk abate ( abatisasi ).6
2.2.2.2.

Mempunyai jamban yang memenuhi syarat kesehatan.


Tinja atau kotoran manusia banyak sekali mengandung kuman yang dapat

menimbulkan berbagai penyakit menular seperti kolera, typhus, disentri, diare, dan
kecacingan.1,6 Sehingga penularan penyakit melalui tinja mudah terjadi bila orang
membuang kotoran tidak pada tempat yang aman yaitu di jamban.1,6
Jamban adalah bangunan untuk membuang tinja manusia, biasa juga disebut
kakus atau WC ( water closet ).5 Jamban kita perlukan untuk membuang tinja, supaya
tinja yang banyak mengandung bibit penyakit tidak menyebar dan membahayakan
kesehatan.5 Disamping itu jamban digunakan untuk melatih anak-anak sejak kecil
agar membuang tinja dengan cara yang sehat.5
Adapun syarat kesehatan untuk pembuatan jamban adalah sebagai berikut :1,6
a.

Selalu ditutup bila tidak dipakai supaya tidak berbau dan tidak dimasuki
binatang-binatang..1 Tutup lubang terutama diperlukan jika lubang jamban
tidak memakai water seal.

13

b.

Jamban cukup luas ( paling sedikit 1 m2 ), lantainya tidak licin dan mudah
dibersihkan.1

c.

Terang dan ventilasinya baik supaya tidak menjadi sarang serangga seperti
nyamuk, lalat, kecoa, dan lain-lain.1,6

d.

Pintu ruangan jamban harus bisa ditutup ( dikunci ) tanpa perlu dipegangpegang untuk menutupnya.

e.

Harus selalu ada persediaan air dan sabun untuk mencuci tangan dan
menyiram tinja.

f.

Letak dan konstruksi reservoar pun harus sedemikian rupa sehingga tidak
mengkontaminasi air permukaan ( air kali, danau, kolam ) yang dipakai oleh
penduduk untuk keperluan sehari-hari. Tidak mengkontaminasi air dalam
tanah dan air sumur. Tidak mengkontaminasi permukaan tanah.

g.

Jarak antara reservoar kakus dengan sumur dangkal terdekat harus minimal 15
meter tergantung dari jenis tanah ( pasir, tanah liat, batu karang ), keadaan
tanah, konstruksi reservoir, letak reservoir dan sumur.

Supaya manusia terhindar dari tertular bibit penyakit yang ada dalam tinja maka perlu
dilakukan langkah-langkah antara lain sebagai berikut :1
a.

Membuang tinja ke jamban.1 Dianjurkan agar tiap keluarga memiliki


sarana pembuangan kotoran tersebut sehingga mudah melaksanakan
hajat kapan saja.1,6 Sedang bagi bayi dan orang yang sudah tua atau
pikun, apabila tidak dapat pergi ke jamban, sebaiknya keluarga yang
membuangkan tinja di jamban.6

Andaikata belum ada sarana jamban, maka tinja tersebut jangan


dibiarkan terbuka, tapi harus ditimbun ( ditanam ) dengan tanah.1

Tangan yang sehabis kontak dengan tinja harus segera dicuci dengan
air dan sabun.1

Beberapa manfaat dengan penggunaan jamban :1

14

Tinja tidak berserakan disembarangan tempat sehingga tidak akan


mengotori sumber air.1

Lingkungan menjadi bersih, sehat dan bebas dari bau.1

Mudah dan aman digunakan setiap saat.1

2.2.2.3. Mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah ( SPAL )4


Air limbah adalah air yang telah dibuang setelah dipergunakan untuk kegiatan
sehari-hari.1 Air limbah rumah tangga yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga,
misalnya dari dapur, tempat cuci pakaian, kamar mandi dan jamban.1
Sarana pembuangan air limbah merupakan salah satu persyaratan dari rumah
sehat.3 Air limbah rumah tangga harus melalui proses pengolahan dan peresapan
sedemikian rupa agar air kotor tidak tergenang, tidak menjadi sarang nyamuk, tidak
menimbulkan bau, tidak mengganggu pemandangan, tidak menimbulkan kecelakaan,
dan lain-lain.1,5 Air limbah lebih berperan dalam penularan penyakit karena air ini
sudah mendapat pencemaran.1
2.2.2.4. Mempunyai Sarana Pembuangan Sampah4
Sampah adalah segala sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak
disenangi atau segala sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan
tidak terjadi dengan sendirinya ( menurut APHA, American Public Health
Association ). Jika penempatan sampah tidak diperhatikan dengan baik maka dapat
mengganggu kehidupan manusia, dipandang dari sudut kebersihan maupun
kesehatan.1
Sebagaimana diketahui akhir-akhir ini sampah merupakan masalah yang perlu
mendapat perhatian khusus, terutama di perumahan kota-kota besar.1 Sebenarnya
kalau diolah secara cermat sampah dapat didayagunakan, misalnya sebagai pupuk
hijau, menimbun tanah yang rendah atau empang yang tidak dimanfaatkan lagi, atau
dapat dibakar dan abunya untuk menyuburkan tanah, dan sebagainya.1

15

Sebaliknya, apabila kita malas dan tidak menyadari pentingnya kebersihan


lingkungan, maka sampah dapat menjadi sumber berbagai macam penyakit dan
kendala hidup lainnya.1 Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan oleh sampah
antara lain : penyakit perut seperti diare, typhus, disentri sebagai akibat makanan
yang kita makan tercemar sampah.6
Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengolah sampah rumah tangga
dengan baik, yaitu dengan membuat sarana pembuangan sampah seperti : tempat
sampah, galian tempat sampah dan lain-lain.1 Anak-anak pun perlu dilatih untuk
membuang sampah pada tempat sampah.5 Dipedesaan, lubang dihalaman biasanya
untuk membuang sampah.6

Adapun bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah yang dibuang


sembarangan antara lain :1

16

Dapat menyebabkan pencemaran udara karena bau yang busuk atau kebakaran
apabila sampah terbakar sembarangan.1

Dapat menimbulkan bahaya banjir, merusak jalan dan pembangunan apabila


dibuang di sungai, got, atau saluran air lainnya.1,6

Dapat mencemari sumber air seperti air sungai, danau, waduk yang airnya dipakai
sebagai sumber air minum.1

Dapat menyebabkan cedera, misalnya terkena pecahan kaca, seng, paku, dan lainlain.1

Dapat mengganggu keindahan, kenyamanan, dan kesehatan karena akan menjadi


sarang binatang atau serangga penular penyakit yang berkaitan erat dengan
sampah, seperti lalat, kecoa, nyamuk, tikus.1,6 Sehingga baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat menularkan penyakit yang mengganggu kesehatan
manusia.1
Adapun yang perlu diperhatikan dalam mengelola sampah rumah tangga

adalah :1

Dalam rumah tersedia tempat pengumpul sampah ( bak sampah ) yang terbuat
dari bahan kedap air, tertutup, dan mudah dikosongkan sehingga tidak
menimbulkan bau dan tidak menjadi makanan lalat, kecoa, atau tikus.1,6
Dengan sendirinya binatang penular penyakit tersebut akan mati dan tidak
berkembang biak lagi bila mereka tidak mendapat makanan.5

Sampah basah dapat segera ditanam pada lubang galian ukuran 1m1m1m
dalam jangka waktu 3-6 bulan.1 Jangan menimbun sampah lebih dari 3 hari
karena akan membusuk dan menjadi sarang lalat, kecoa, nyamuk yang dapat
menyebarkan penyakit.6

Sampah kering seperti botol, kertas bekas dan lain-lain dapat dimanfaatkan. 1
Sedangkan kaleng bekas digepengkan kemudian dibuang ke tempat sampah
atau ditanam untuk menghindari sarang nyamuk.1

17

Sampah bekas bahan beracun ( pestisida, pupuk, insektisida ) ditanam di


tempat yang aman jauh dari sumber air.1

2.2.2.5. Bebas binatang penular penyakit


Dalam rumah maupun di halaman tidak boleh terdapat sarang nyamuk, tikus
maupun kecoa sebab binatang-binatang tersebut telah dikenal sebagai binatang
penular penyakit.5
a. Nyamuk
Nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan penyakit demam
berdarah yang sangat berbahaya bagi anak-anak kita.1 Nyamuk ini bersarang pada
tempat-tempat penampungan atau tandon air seperti gentong atau tempayan, bak kamar
mandi, jamban, vas bunga, tempat minum burung, atau drum-drum berisi air.1
Pencegahan agar nyamuk tidak masuk dalam rumah dan menggigit penghuni
dapat dilakukan dengan :4

Pemasangan kawat kasa pada lubang ventilasi, jendela dan pintu.4

Penggunaan kelambu waktu tidur.4

Membuat ruangan terang, bersih, tidak lembab, pakaian tidak bergelantungan,


dan pembersihan tempat-tempat yang memungkinkan jentik-jentik nyamuk
dapat berkembang.4

Menjauhkan rumah dari kandang.4

Penggunaan bahan insektisida.4

Tutuplah pintu dan jendela pada malam hari.5

Agar rumah bebas dari jentik-jentik nyamuk, maka :5


-

Bersihkan bak air ( bak mandi ) seminggu sekali.

Tutuplah rapat-rapat gentong atau wadah penampung air.

Gantilah air vas bunga, air minum burung seminggu sekali.

Simpanlah barang-barang bekas atau kuburlah di dalam tanah agar tidak terisi
air hujan yang akhirnya dapat menjadi sarang nyamuk.

18

Alirkan air hujan atau air bekas, agar tidak menggenang.

Tutuplah lubang-lubang pada pagar bambu dengan tanah agar tidak menjadi
sarang nyamuk.

Menguras

Mengubur

19

Menutup
b. Tikus
Rumah dinyatakan bebas sarang tikus jika tidak ada suara-suara dan jejak
kotoran tikus.4
Rumah sehat harus bebas sarang tikus karena :
o

Tikus dapat menyebabkan penyakit melalui pinjalnya, seperti pAes.1

Tikus mencemari makanan dengan kotoran yang dibawanya sehingga


dapat menularkan penyakit.1,4

Tikus merusak bangunan karena selalu mengasah giginya.1

Tikus mengurangi persediaan makanan kita.1

Tikus mengganggu penghuninya karena membuat gaduh di atas langitlangit dan merusak barang-barang pemiliknya.4
Cara agar rumah bebas sarang tikus:1

Konstruksi rumah tidak boleh ada sudut-sudut yang baik untuk tempat tikus
beristirahat dan bersarang.1 Misalnya lubang bambu ditutup, dinding tidak rangkap
dan bagian langit-langit harus ditutup.4,5

Usahakan agar tanaman tidak mengenai atap rumah.1

Lubang-lubang tanah ditutup.1

Lubang-lubang selokan yang menuju dapur dan talang air hujan diberi saringan
( ruji-ruji penghalang ).1,5

20

Penempatan alat rumah tangga tidak bertumpuk sehingga ruangan mudah


dibersihkan.4

Usahakan agar semua ruangan cukup terang oleh sinar matahari.5

Simpanlah makanan dan bahan makanan ditempat-tempat yang tertutup sehingga


tidak dimakan tikus.5

Buanglah sampah dapur atau sampah sisa-sisa makanan di tempat sampah yang
bertutup.5
c. Kecoa
Penyakit yang dapat ditularkan oleh kecoa seperti diare, typhus, disentri,
kecacingan dan penyakit perut lainnya.1
Agar rumah bebas kecoa dapat dilakukan :5
-

Penyimpanan makanan pada lemari makan yang dilengkapi kawat kasa dan pintupintu yang rapat, dan jaga selalu kebersihan lemari itu.

Membuang segera sampah atau sisa-sisa makanan pada tempat sampah yang
tertutup atau kantong-kantong yang mudah ditutup.

Bila menjumpai sarang kecoa, dapat disemprot dengan racun serangga yang dapat
dibeli dipasaran. Hati-hati menggunakan racun serangga.

Bunuhlah kecoa yang tampak dengan memukulnya.

d. Lalat
Terutama pada rumah yang jorok disekitar dapur dapat memberi peluang
hidup bagi lalat yang dapat menularkan penyakit infeksi pada kulit ( seperti koreng,
gudig, petek ) penyakit mata dan penyakit saluran pencernaan ( diare, typhus, disentri
dan lain-lain ).1

2.2.3. SOSIAL DAN PSIKOLOGIS

21

Berbagai fasilitas seperti pasar, toko, supermarket, sekolah, tempat ibadah,


puskesmas, dekat dan mudah dikunjungi melalui jalur yang baik. Ada penjagaan
terhadap gangguan keamanan daerah ( daerah aman ).

2.3. BEBERAPA CARA PENYAKIT DAPAT MENULAR DI


RUMAH5
2.3.1. Melalui air minum
Air yang tidak bersih mengandung bibit penyakit. Bila air tersebut diminum
tanpa dimasak, maka bibit penyakit tersebut akan masuk ke perut dan dapat
menyebabkan sakit perut seperti diare, disentri, typhus, dan lain-lain.
2.3.2. Melalui makanan
Makanan yang disiapkan di rumah dapat dikotori oleh bibit penyakit dengan
berbagai cara. Misalnya dicuci dengan air kotor, dikotori oleh lalat, oleh kecoa, oleh
tikus, dipegang tangan kotor, dan lain-lain. Bila makanan yang kotor tersebut
dimakan, maka bibit penyakit itu akan masuk keperut dan dapat menimbulkan sakit
perut atau keracunan.
2.3.3. Melalui udara
Udara di dalam rumah dapat dikotori oleh kuman-kuman yang berterbangan.
Kuman-kuman tersebut berasal dari orang batuk-batuk yang tidak menutup mulut.
Bila udara yang kotor ini terhisap oleh orang lain, maka dia akan dapat tertular batuk.
Seperti influenza, tbc paru, bronchitis, dan lain-lain.
2.3.4. Melalui gigitan nyamuk
Jenis nyamuk tertentu dapat menularkan penyakit dari orang sakit ke orang
sehat. Seperti penyakit malaria, demam berdarah, dan kaki gajah. Nyamuk-nyamuk
tersebut suka menggigit pada siang hari, yaitu yang dapat menularkan penyakit
demam berdarah. Nyamuk-nyamuk tersebut berkembang biak digenangan-genangan
air, di dalam maupun di luar rumah, seperti di gentong, tempayan, bak mandi,
selokan, dan lain-lain yang airnya tidak mengalir.

22

2.3.5. Melalui kaki


Cacing tambang didalam usus penderita, melepas telur-telurnya. Bila kotoran
manusia dibuang sembarangan, tidak di jamban yang sehat, maka telur-telur tersebut
dapat menetas dan menjadi anak cacing tambang. Anak-anak cacing tersebut bila
diinjak akan dapat menembus kulit kaki dan masuk kedalam tubuh, yang akhirnya
orang tersebut menderita kecacingan.

BAB 3

23

KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS DAN DEFINISI


OPERASIONAL
3.1. Kerangka Pemikiran
Pengetahuan
Sikap

Rendahnya Keberadaan Rumah Sehat

Perilaku
Uji validitas instrumen penelitian dengan teknik face validity.

3.2. Hipotesis
Hipotesis nol ( Ho ) :
1. Tidak ada pengaruh pengetahuan masyarakat terhadap rendahnya keberadaan
rumah sehat di Desa Cirama Hilir.
2. Tidak ada pengaruh sikap masyarakat terhadap rendahnya keberadaan rumah sehat
di Desa Cirama Hilir.
3. Tidak ada pengaruh perilaku masyarakat terhadap rendahnya keberadaan rumah
sehat di Desa Cirama Hilir.

3.3. Definisi Operasional


1. Umur Kepala Keluarga ( pemimpin orang seisi rumah ) atau Pengganti Kepala
Keluarga.
Adalah ulang tahun terakhir Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga saat
dilaksanakannya penelitian.
Skala

: Interval

Alat Ukur

: Kuesioner

2. Pekerjaan Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga.

24

Adalah pekerjaan yang dilakukan Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga
sehari-hari.
Skala

: Nominal

Alat Ukur

: Kuesioner

3. Pendidikan Terakhir Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga.


Adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang diikuti.
Skala

: Ordinal

Alat Ukur

: Kuesioner

4. Penghasilan Perkapita.
Adalah penghasilan perkapita perbulan sekeluarga responden.
Penghasilan Kurang, yaitu < Rp. 112.000,00/kapita/bulan
Penghasilan Cukup, yaitu Rp. 112.000,00/kapita/bulan
Skala

: Ordinal

Alat Ukur

: Kuesioner

5. Pengetahuan Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga.


Adalah pengetahuan kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga
mengenai rumah sehat, yang dinilai melalui jumlah jawaban yang dapat dijawab atas
pertanyaan-pertanyaan pengetahuan dalam kuesioner.
Pertanyaan pengetahuan berjumlah 10 buah, berupa dichotomous choice.
Masing-masing pertanyaan mempunyai nilai terendah 1 dan nilai tertinggi 10. Setelah
dijumlahkan, maka responden dikelompokkan dalam 2 kategori tingkat pengetahuan
yaitu :
Pengetahuan Baik jika nilai 56-100.
Pengetahuan Kurang jika nilai 10-55.
Skala

: Ordinal

Alat Ukur

: Kuesioner

6. Sikap Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga.

25

Adalah sikap kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga mengenai halhal yang berhubungan dengan kesehatan rumah, yang dinilai melalui jumlah jawaban
yang dapat dijawab atas pertanyaan-pertanyaan sikap dalam kuesioner.
Pertanyaan sikap berjumlah 10 buah, berupa dichotomous choice. Masingmasing pertanyaan mempunyai nilai terendah 1 dan nilai tertinggi 10. Setelah
dijumlahkan, maka responden dikelompokkan dalam 2 kategori sikap yaitu :
Sikap Baik jika nilai 56-100.
Sikap Kurang jika nilai 10-55.
Skala

: Ordinal

Alat Ukur

: Kuesioner

7. Perilaku Kepala Keluarga atau Pengganti Kepala Keluarga.


Adalah perilaku kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga dalam upaya
penyehatan rumahnya, yang dinilai melalui jumlah jawaban yang dapat dijawab atas
pertanyaan-pertanyaan perilaku dalam kuesioner.
Pertanyaan perilaku berjumlah 10 buah, berupa dichotomous choice.
Masing-masing pertanyaan mempunyai nilai terendah 1 dan nilai tertinggi 10. Setelah
dijumlahkan, maka responden dikelompokkan dalam 2 kategori tingkat perilaku
yaitu:
Perilaku Baik jika nilai 56-100.
Perilaku Kurang jika nilai 10-55.
Skala

: Ordinal

Alat Ukur

: Kuesioner

8. Penyuluhan.
Didalam kuesioner terdapat pertanyaan mengenai penyuluhan rumah sehat
yang pernah diterima responden, bagaimana pelaksanaan dan hasil yang didapat dari
penyuluhan tersebut.

BAB 4

26

METODE PENELITIAN
4.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik,
artinya penelitian ini hanya mengambil sebagian populasi ( sampel ) dan dari
penelitian ini dijelaskan mengapa suatu keadaan atau situasi dapat terjadi.
Rancangan penelitian survei analitik yang digunakan disini adalah cross
sectional ( seksional silang ). Ini berarti pengumpulan variabel sebab dan variabel
akibat diukur ( dikumpulkan ) secara bersamaan.

4.2. Instrumen Penelitian


Instrumen pokok penelitian yaitu alat pengumpul data yang pokok. Adapun
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Jumlah pertanyaan dalam
kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya adalah 50 buah
pertanyaan, yang dibagi menjadi 6 kategori, yaitu :
1. Identitas responden

: 7 pertanyaan

2. Pertanyaan pancingan

: 1 pertanyaan

3. Pengetahuan, sikap, dan perilaku masing-masing : 10 pertanyaan


4. Penyuluhan

: 6 pertanyaan

4.3. Teknik Pengumpulan Data


4.3.1. Sumber Data
1. Data Primer
Dilakukan wawancara langsung secara terpimpin dengan responden melalui
kunjungan dari rumah ke rumah. Pertanyaan-pertanyaan diajukan secara lisan dengan
berpedoman pada kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Bersamaan dengan itu
dilakukan pula observasi non partisipan terhadap keadaan rumah responden.
2. Data Sekunder

27

Data kependudukan dari kantor Kelurahan desa Cirama Hilir.


Data dari Puskesmas Maniis terutama dari bagian Kesehatan Lingkungan.
4.3.2. Populasi
Kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga yang tercatat dalam buku
induk penduduk tahun 2005 desa Cirama Hilir, Wilayah Kerja Puskesmas Maniis.
Jumlah Populasi seluruhnya adalah 864 kepala keluarga.
4.3.3. Sampel
Jumlah sampel untuk penelitian ini adalah minimal sampel, dengan menggunakan
rumus : ( populasi < 10.000 )
n=

N
1+N (d)2

Dimana

: jumlah sampel minimal

: jumlah populasi

: batas kemaknaan = 0,05

Maka :
n =

N
1+N (d)2

864
1+864 (0,05)2

= 273 sampel kepala keluarga


Jumlah sampel tersebut dibagi untuk 4 RW ( rukun warga ) yang ada di Desa Cirama
Hilir berdasarkan jumlah kepala keluarga yang menghuni masing-masing RW.

Maka didapatkan jumlah sampel untuk masing-masing RW adalah :


1. Sukamanah

: 222 kepala keluarga.

28

Minimal sampel = 222 273


864
= 70 sampel kepala keluarga.
2. Pasir bondol : 220 kepala keluarga.
Minimal sampel = 220 273
864
= 70 sampel kepala keluarga.
3. Cihorje

: 180 kepala keluarga.

Minimal sampel = 180 273


864
= 57 sampel kepala keluarga.
4. Cisanti

: 242 kepala keluarga.

Minimal sampel = 242 273


864
= 76 sampel kepala keluarga.
Pemilihan kepala keluarga yang dijadikan sampel memakai tabel bilangan
acak berdasarkan catatan nama kepala keluarga atau pengganti kepala keluarga yang
tercatat dalam buku induk penduduk tahun 2005 desa Cirama Hilir.
4.3.4. Cara Pengolahan Data
Pengolahan data dan uji statistik dari data hasil kuesioner dan observasi non
partisipan akan diolah secara manual dan disusun dalam beberapa tabel sesuai dengan
tujuan penelitian.

4.4. Analisis Data


Analisis data terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat.

29

1. Analisis Univariat
Analisis ini digunakan untuk mengetahui distribusi umur, pekerjaan, pendidikan
terakhir, penghasilan perkapita perbulan responden, distribusi kategori responden atas
jawaban terhadap pertanyaan tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku.
2. Analisis Bivariat
Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh antara faktor
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap rendahnya keberadaan rumah
sehat di Desa Cirama Hilir. Analisis bivariat ini menggunakan rumus uji statistik Chisquare test.

BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

30

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Desa Cirama Hilir merupakan salah satu desa di Kecamatan Maniis yang
terletak di sebelah Selatan Kecamatan tersebut, berbatasan dengan Kabupaten
Cianjur. Tahun 2005 ini tercatat jumlah penduduk Desa Cirama Hilir 3.170 orang
dengan jumlah Kepala Keluarga 864 orang. Desa Cirama Hilir terdiri dari 4 RW dan
15 RT. Jarak ke puskesmas induk yang terletak di desa Citamiang 11 km, dapat
dilalui dengan kendaraan roda empat maupun roda 2, dengan jalan beraspal, sebagian
berbatu-batu.

5.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan


5.2.1. Analisis Univariat
Karakteristik Responden
Tabel 5.1. Distribusi Umur Responden
Umur ( tahun )
Jumlah
Persentase ( % )
23-27
21
7,69
28-32
42
15,39
33-37
39
14,29
38-42
37
13,55
43-47
32
11,72
48-52
35
12,82
53-57
22
8,06
58-62
27
9,89
63-67
18
6,59
Total
273
100
Dari distribusi responden berdasarkan umurnya, didapatkan bahwa umur terbanyak
responden adalah 28-32 tahun ( 15,39 % ), diikuti kelompok usia 33-37 tahun
( 14,29 % ), usia 38-42 tahun ( 13,55 % ), usia 48-52 tahun ( 12,82 % ), 43-47 tahun
( 11,72 % ), usia 58-62 tahun ( 9,89 % ), 53-57 tahun ( 8,06 % ), 23-27 tahun
( 7,69 % ), usia 63-67 tahun ( 6,59 % ).
Tabel 5.2. Distribusi Pekerjaan Responden

31

Pekerjaan
Jumlah
Persentase ( % )
Buruh tani
93
34,06
Petani pemilik tanah
24
8,79
Petani ikan jaring terapung
34
12,45
Wiraswasta
45
16,48
Buruh bangunan
55
20,15
Pensiunan ABRI/polisi
4
1,47
Peternak
14
5,13
PNS
4
1,47
Total
273
100
Dari distribusi responden berdasarkan pekerjaannya, didapatkan bahwa pekerjaan
terbanyak responden adalah buruh tani ( 34,06 % ), diikuti pekerja buruh bangunan
( 20,15 % ), wiraswasta ( 16,48 % ), petani ikan jaring terapung ( 12,45 % ), petani
pemilik tanah ( 8,79 % ), peternak ( 5,13 % ), PNS ( 1,47 % ), pensiunan ABRI/polisi
( 1,47 % ).
Tabel 5.3. Distribusi Pendidikan Terakhir Responden
Pendidikan
Tidak sekolah/tidak tamat

Jumlah

Persentase ( % )

SD
38
13,92
Tamat SD
111
40,66
Tamat SLTP
62
22,71
Tamat SLTA
52
19,05
Perguruan tinggi/akademi
10
3,66
Total
273
100
Dari distribusi responden berdasarkan pendidikannya, didapatkan bahwa pendidikan
terbanyak responden adalah tamatan SD ( 40,66 % ), diikuti tamatan SLTP

22,71 % ), tamatan SLTA ( 19,05 % ), tidak sekolah/tidak tamat SD ( 13,92 % ),


perguruan tinggi/akademi ( 3,66 % ).
Tabel 5.4. Distribusi Penghasilan Perkapita per Bulan Responden
Penghasilan ( Rp )
< 112.000,00
112.000,00
Total

Jumlah
153
120
273

32

Persentase ( % )
56,04
43,96
100

Dari distribusi responden berdasarkan pendidikannya, didapatkan bahwa penghasilan


< Rp 112.000 adalah 56,04%, lebih banyak dari yang berpenghasilan Rp 112.000
yaitu 43,96%.
Pengetahuan
Tabel 5.5. Hubungan antara Pengetahuan Masyarakat terhadap Rendahnya
Keberadaan Rumah Sehat di Desa Cirama Hilir.
Pengetahuan
Baik

Jumlah responden
154

%
56,41

Kurang
119
43,59
Total
273
100
Dari distribusi responden berdasarkan pengetahuannya, didapatkan bahwa 56,41 %
pengetahuan responden tentang rumah sehat dikategorikan baik, lebih tinggi
dibanding responden yang dikategorikan berpengetahuan kurang, yaitu 43,59 %.
Adapun perincian dari masing-masing jawaban atas pertanyaan pengetahuan
dari kuesioner adalah sebagai berikut :
Tabel 5.5.1. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus cukup terang ?


Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
89
72
161
32,60
Tidak
55
57
112
20,15
Jumlah
144
129
273
52,75
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
26,37
58,97
20,88
41,03
47,25
100
ya ( 58,97 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 41,03 % ).


Tabel 5.5.2. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus cukup lubang angin ?


Jawaban
Ya
Tidak
Jumlah

RS
87
37
124

TS
82
67
149

Jumlah
169
104
273

33

% RS
31,87
13,55
45,42

% TS
30,04
24,54
54,58

%
61,91
38,09
100

Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab ya ( 61,91 % ) lebih
banyak daripada yang menjawab tidak ( 38,09 % ).
Tabel 5.5.3. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus memiliki jamban sendiri ?


Dari tabel didapatkan hasil bahwa
Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
% TS
%
Ya
48
76
124
17,58
27,84
45,42
Tidak
89
60
149
32,60
21,98
54,58
Jumlah
137
136
273
50,18
49,82
100
responden yang menjawab ya ( 45,42 % ) lebih sedikit daripada yang menjawab tidak
( 54,58 % ).
Tabel 5.5.4. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus mempunyai tempat pembuangan sampah sendiri ?


Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
102
75
177
37,36
Tidak
43
53
96
15,75
Jumlah
145
128
273
53,11
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
27,48
64,84
19,41
35,16
46,89
100
ya ( 64,84 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 35,16 % ).


Tabel 5.5.5. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus tersedia air bersih ( jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak mengandung bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan ) ?
Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
55
65
120
20,15
Tidak
63
90
153
23,07
Jumlah
118
155
273
43,22
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 56,04 % ).

34

% TS
%
23,81
43,96
32,97
56,04
56,78
100
ya ( 43,96 % ) lebih

Tabel 5.5.6. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus mempunyai saluran pembuangan air kotor ( bekas cuci
piring dan baju ) ?
Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
71
90
161
26,00
Tidak
45
67
112
16,49
Jumlah
116
157
273
42,49
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
32,97
58,97
24,54
41,03
57,51
100
ya ( 58,97 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 41,03 % ).


Tabel 5.5.7. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat harus bebas sarang nyamuk, tikus, dan kecoa ?
Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
68
80
148
24,91
Tidak
46
79
125
16,85
Jumlah
114
159
273
41,76
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
29,30
54,21
28,94
45,79
58,24
100
ya ( 54,21 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 45,79 % ).


Tabel 5.5.8. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah anda pernah mendengar tentang program 3 M ( menutup, menguras,


mengubur ) ?
Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
79
80
159
28,94
Tidak
49
65
114
17,95
Jumlah
128
145
273
46,89
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
29,30
58,24
23,81
41,76
53,11
100
ya ( 58,24 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 41,76 % ).


Tabel 5.5.9. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan

Apakah rumah sehat tidak boleh terlalu penuh penghuninya ?


Jawaban
Ya
Tidak

RS
93
42

TS
70
68

Jumlah
163
110

35

% RS
34,07
15,38

% TS
25,64
24,91

%
59,71
40,29

Jumlah

135

138

273

49,45

50,55

100

Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab ya ( 59,71 % ) lebih
banyak daripada yang menjawab tidak ( 40,29 % ).
Tabel 5.5.10. Distribusi jawaban pengetahuan responden terhadap pertanyaan
Apakah rumah sehat harus mempunyai kamar tidur yang terpisah dari ruang makan?

Jawaban
RS
TS
Jumlah
% RS
Ya
68
90
158
24,91
Tidak
51
64
115
18,68
Jumlah
119
154
273
43,59
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab

% TS
%
32,97
57,88
23,44
42,12
56,41
100
ya ( 57,88 % ) lebih

banyak daripada yang menjawab tidak ( 42,12 % ).


Sikap
Tabel 5.6. Hubungan antara Sikap Masyarakat terhadap Rendahnya Keberadaan
Rumah Sehat di Desa Cirama Hilir.
Sikap
Baik

Jumlah responden
184

%
67,40

Kurang
89
32,60
Total
273
100
Dari distribusi responden berdasarkan sikapnya, didapatkan bahwa 67,40 % sikap
responden tentang rumah sehat dikategorikan baik, lebih tinggi dibanding responden
yang dikategorikan bersikap kurang, yaitu 32,60 %.
Adapun perincian dari masing-masing jawaban atas pertanyaan sikap dari kuesioner
adalah sebagai berikut :
Tabel 5.6.1. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda membuat jendela tambahan supaya cahaya dalam rumah cukup ?
Jawaban
Bersedia

RS
103

TS
83

Jumlah
186

% RS
37,73

% TS
30,40

%
68,13

Tidak
Jumlah

22
125

65
148

87
273

8,06
45,79

23,81
54,21

31,87
100

36

Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 68,13 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 31,87 % ).
Tabel 5.6.2. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda bersama-sama dengan tetangga membersihkan lingkungan sekitar rumah anda?
Jawaban
Bersedia

RS
97

TS
75

Jumlah
172

% RS
35,53

% TS
27,47

%
63,00

Tidak
31
70
101
11,36
25,64
37,00
Jumlah
128
145
273
46,89
53,11
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 63,00 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 37,00 % ).
Tabel 5.6.3. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda membuat jamban sendiri ?
Jawaban
Bersedia

RS
107

TS
81

Jumlah
188

% RS
39,19

% TS
29,67

%
68,86

Tidak
28
57
85
10,26
20,88
31,14
Jumlah
135
138
273
49,45
50,55
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 68,86 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 31,14 % ).
Tabel 5.6.4. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda melatih anak-anak anda supaya terbiasa menggunakan jamban ?
Jawaban
Bersedia

RS
102

TS
93

Jumlah
195

% RS
37,36

% TS
34,07

%
71,43

Tidak
29
49
78
10,62
17,95
28,57
Jumlah
131
142
273
47,98
52,02
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 71,43 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 28,57 % ).

37

Tabel 5.6.5. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah


anda membuat saluran air kotor untuk rumah anda ?
Jawaban
Bersedia

RS
115

TS
77

Jumlah
192

% RS
42,12

% TS
28,21

%
70,33

Tidak
20
61
81
7,33
22,34
29,67
Jumlah
135
138
273
49,45
50,55
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 70,33 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 29,67 % ).
Tabel 5.6.6. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Apa tanggapan
anda terhadap program 3 M yang dicanangkan pemerintah ?
Jawaban
Setuju

RS
97

TS
80

Jumlah
177

% RS
35,53

% TS
29,30

%
64,83

Tidak
26
70
96
9,52
25,65
35,17
Jumlah
123
150
273
45,05
54,95
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab setuju ( 64,83 % ) lebih
banyak daripada yang menjawab tidak perlu ( 35,17 % ).
Tabel 5.6.7. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Setujukah
anda memplester lantai tanah supaya lantai tidak lembab lagi ?
Jawaban
Setuju

RS
104

TS
82

Jumlah
186

% RS
38,09

% TS
30,04

%
68,13

Tidak
25
62
87
9,16
22,71
31,87
Jumlah
129
144
273
47,25
52,75
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab setuju ( 68,13 % ) lebih
banyak daripada yang menjawab tidak ( 31,87 % ).
Tabel 5.6.8. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda menanam pohon dihalaman supaya rumah lebih teduh ?
Jawaban
Bersedia

RS
93

TS
76

Jumlah
169

38

% RS
34,07

% TS
27,84

%
61,91

Tidak
32
72
104
11,72
26,37
38,09
Jumlah
125
148
273
45,79
54,21
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 61,91 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 38,09 % ).
Tabel 5.6.9. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda membuat lubang angin tambahan supaya asap dapur dapat keluar ?
Jawaban
Bersedia

RS
104

TS
91

Jumlah
195

% RS
38,10

% TS
33,33

%
71,43

Tidak
30
48
78
10,99
17,58
28,57
Jumlah
134
139
273
49,09
50,91
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 71,43 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 28,57 % ).
Tabel 5.6.10. Distribusi jawaban sikap responden terhadap pertanyaan Bersediakah
anda mengganti lampu ruangan dengan lampu yang cukup terang untuk membaca ?
Jawaban
Bersedia

RS
98

TS
82

Jumlah
180

% RS
35,89

% TS
30,04

%
65,93

Tidak
27
66
93
9,89
24,18
34,07
Jumlah
125
148
273
45,78
54,22
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab bersedia ( 65,93 % )
lebih banyak daripada yang menjawab tidak ( 34,07 % ).
Perilaku
Tabel 5.7. Hubungan antara Perilaku Masyarakat terhadap Rendahnya Keberadaan
Rumah Sehat di Desa Cirama Hilir.
Perilaku
Baik

Jumlah responden
123

%
45,05

Kurang
Total

150
273

54,95
100

39

Dari distribusi responden berdasarkan perilakunya, didapatkan bahwa 45,05 %


perilaku responden tentang rumah sehat dikategorikan baik, lebih rendah dibanding
responden yang dikategorikan berperilaku kurang, yaitu 54,95 %.
Adapun perincian dari masing-masing jawaban atas pertanyaan perilaku dari
kuesioner adalah sebagai berikut :
Tabel 5.7.1. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
jendela rumah anda dibuka setiap hari ?
Jawaban
Ya

RS
72

TS
56

Jumlah
128

% RS
26,38

% TS
20,51

%
46,89

Tidak
61
84
145
22,34
30,77
53,11
Jumlah
133
140
273
48,72
51,28
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 46,89 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 53,11 % ).

Tabel 5.7.2. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Anda


apakan saluran got anda yang tersumbat karena kotoran yang menyumpal ?
Jawaban
Membersihkan

RS
70

TS
64

Jumlah
134

% RS
25,64

% TS
23,44

%
49,08

Membiarkan
57
82
139
20,88
30,04
50,92
Jumlah
127
146
273
46,52
53,48
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab membersihkan ( 49,08
% ) lebih sedikit daripada yang menjawab membiarkan ( 50,92 % ).
Tabel 5.7.3. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Jika
melihat tikus atau kecoa dalam rumah apa yang anda lakukan ?
Jawaban
Membunuhnya

RS
76

TS
53

Jumlah
129

% RS
27,84

% TS
19,41

%
47,25

Membiarkannya

64

80

144

23,45

29,30

52,75

40

Jumlah
140
133
273
51,29
48,71
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab membunuhnya ( 47,25
% ) lebih sedikit daripada yang menjawab membiarkannya ( 52,75 % ).
Tabel 5.7.4. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Anda
apakan pakaian-pakaian yang bergelantungan dibelakang pintu/tembok ?
Jawaban
Menyimpan/cuci

RS
88

TS
39

Jumlah
127

% RS
32,23

% TS
14,29

%
46,52

Membiarkan
52
94
146
19,05
34,43
53,48
Jumlah
140
133
273
51,28
48,72
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab menyimpan/mencuci
( 46,52 % ) lebih sedikit daripada yang menjawab membiarkannya ( 53,48 % ).
Tabel 5.7.5. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
anda membersihkan pekarangan rumah anda setiap hari ?
Jawaban
Ya

RS
76

TS
27

Jumlah
103

% RS
27,84

% TS
9,89

%
37,73

Tidak
49
121
170
17,95
44,32
62,27
Jumlah
125
148
273
45,79
54,21
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 37,73 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 62,27 % ).
Tabel 5.7.6. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
rumah anda disapu dan dirapikan setiap hari ?
Jawaban
Ya

RS
70

TS
47

Jumlah
117

% RS
25,64

% TS
17,22

%
42,86

Tidak
79
77
156
28,94
28,20
57,14
Jumlah
149
124
273
54,58
45,42
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 42,86 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 57,14 % ).

41

Tabel 5.7.7. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apa yang
anda lakukan terhadap sampah-sampah yang ada dipekarangan anda ?
Jawaban
Menimbun/bakar

RS
62

TS
63

Jumlah
125

% RS
22,71

% TS
23,08

%
45,79

Menumpuk
32
116
148
11,72
42,49
54,21
Jumlah
94
179
273
34,43
65,57
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab menimbun dengan
tanah/membakar ( 45,79 % ) lebih sedikit daripada yang menjawab membiarkan
menumpuk ( 54,21 % ).
Tabel 5.7.8. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
anda menutup tempat penyimpanan air anda ?
Jawaban
Ya

RS
74

TS
45

Jumlah
119

% RS
27,11

% TS
16,48

%
43,59

Tidak
56
98
154
20,51
35,90
56,41
Jumlah
130
143
273
47,62
52,38
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 43,59 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 56,41 % ).
Tabel 5.7.9. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
anda menggunakan jamban untuk buang air besar ?
Jawaban
Ya

RS
64

TS
51

Jumlah
115

% RS
23,44

% TS
18,68

%
42,12

Tidak
50
108
158
18,32
39,56
57,88
Jumlah
114
159
273
41,76
58,24
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 42,12 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 57,88 % ).
Tabel 5.7.10. Distribusi jawaban perilaku responden terhadap pertanyaan Apakah
anda merebus air minum anda sampai mendidih ?
Jawaban

RS

TS

Jumlah

42

% RS

% TS

Ya

88

45

133

32,23

16,48

48,71

Tidak
50
90
140
18,32
32,97
51,29
Jumlah
138
135
273
50,55
49,45
100
Dari tabel didapatkan hasil bahwa responden yang menjawab Ya ( 48,71 % ) lebih
sedikit daripada yang menjawab tidak ( 51,29 % ).

5.2.2. Analisis Bivariat


Tabel 5.8. Analisis bivariat Hubungan Pengetahuan, Sikap, Perilaku masyarakat
terhadap rendahnya keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir
Variabel
Pengetahuan

Sikap
Perilaku

Kategori RS
Baik
76
Kurang 52

% RS
27,84
19,05

TS
78
67

% TS
28,57
24,54

Baik
Kurang

102
27

37,36
9,89

82
62

30,04
22,71

Baik
Kurang

74
55

27,10
20,15

49
95

17,95
34,80

P
0,10-

df

0,87

0,50

0,05

15,16 <0,001 0,05

14,98 <0,001 0,05

Dari 154 responden dengan pengetahuan yang dikategorikan baik ternyata 76


responden mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 27,84% ). 78 responden sisanya
dengan rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 28,57 % ).
Dari 119 responden dengan pengetahuan yang dikategorikan kurang ternyata 52
responden mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 19,05 % ). 67 responden sisanya
dengan rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 24,54 % ).
Hasil uji statistik pada 0,05 menunjukkan bahwa pengetahuan responden
tidak berhubungan dengan rendahnya keberadaan rumah sehat di Desa Cirama
Hilir, hal ini dibuktikan dengan hasil uji chi-square didapatkan P 0,10-0,50,
sehingga Ho gagal tolak.

43

Pengetahuan masyarakat Cirama Hilir tentang rumah sehat didapat dari penyuluhanpenyuluhan yang diberikan oleh petugas kesehatan dari puskesmas maupun aparat
desa. Penyuluhan diberikan secara massal dengan cara mengumpulkan masyarakat di
balai desa.
Dari 184 responden dengan sikap yang dikategorikan baik ternyata 102 responden
mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 37,36 % ). 82 responden sisanya dengan
rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 30,04 % ).
Dari 89 responden dengan sikap yang dikategorikan kurang ternyata 27 responden
mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 9,89 % ). 62 responden sisanya dengan
rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 22,71 % ).
Hasil uji statistik pada 0,05 menunjukkan bahwa sikap responden
berhubungan dengan rendahnya keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir,
hal ini dibuktikan dengan hasil uji chi-square didapatkan P < 0,001, sehingga Ho
ditolak.
Dalam masyarakat, khususnya Cirama Hilir masih banyak yang beranggapan bahwa
untuk membuat rumah sehat diperlukan banyak biaya. Dalam hal menjaga lingkungan
sekitarnya, antara warga yang satu dengan yang lain sering pula timbul sikap saling
menyalahkan. Contohnya seperti membuang sampah di selokan bersama yang ada di
depan rumah, antara tetangga yang satu dengan tetangga lain saling menyalahkan
penyebab tersumbatnya selokan mereka adalah karena tetangganya suka membuang
sampah diselokan dan mereka saling membalas ( secara tidak langsung, dengan
membuang sampah ke selokan juga ) satu sama lain.
Dari 123 responden dengan perilaku yang dikategorikan baik ternyata 74 responden
mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 27,10 % ). 49 responden sisanya dengan
rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 17,95 % ).

44

Dari 150 responden dengan perilaku yang dikategorikan kurang ternyata 55


responden mempunyai rumah dikategorikan sehat ( 20,15 % ). 95 responden sisanya
dengan rumah yang dikategorikan tidak sehat ( 34,80 % ).
Hasil uji statistik pada 0,05 menunjukkan bahwa perilaku responden
berhubungan dengan rendahnya keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir,
hal ini dibuktikan dengan hasil uji chi-square didapatkan P < 0,001, sehingga Ho
ditolak.
Kurangnya kesadaran masyarakat bahwa penyakit dapat timbul dari perilaku hidup
sehari-hari yang tidak baik. Beberapa bahkan menganggap bahwa penyakit, misalnya
diare pada bayi-bayi mereka terjadi karena bayi mau bertambah kepintaran, bukan
akibat perilaku kurang baik dari penghuni yang menjadikan lingkungan rumah tidak
sehat.

45

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan, didapatkan kesimpulan bahwa:
Terdapat pengaruh faktor sikap dan perilaku masyarakat terhadap rendahnya
keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir.
Tidak terdapat pengaruh faktor pengetahuan masyarakat terhadap rendahnya
keberadaan rumah sehat di Desa Cirama Hilir.

6.2. Saran
1. Mengajarkan pada masyarakat untuk memanfaatkan hal-hal yang sudah tersedia
untuk membuat rumah sehat, misalnya pemanfaatan halaman rumahnya untuk
ditanami apotek hidup maupun tanaman berguna lain.
2. Mengajarkan pada masyarakat untuk merawat hal-hal yang sudah tersedia untuk
membuat rumahnya sehat. Misalnya dengan merapikan perabotan di rumah setiap
hari, merawat halaman rumah supaya bersih, membersihkan kandang ternak,
membersihkan saluran air yang tersumbat tanpa memandang siapa yang menjadi
penyebab karena itu demi kebaikan keluarganya juga.
3. Untuk pembuatan beberapa hal yang memang diperlukan sebagai syarat rumah
sehat ( misalnya memplester rumah ), dapat diajarkan teknik menabung dengan

46

mengurangi dana dari beberapa hal, seperti uang rokok dan pemotongan dana
rekening listrik dengan mematikan lampu atau televisi jika tidak digunakan.
4. Mengadakan program bersih lingkungan bersama. Misalnya dengan menentukan
hari minggu sebagai hari kerja bakti bersama. Sesudahnya dapat dilakukan pemberian
hadiah bagi rumah sehat yang diadu antar rukun tetangga.

DAFTAR PUSTAKA
1. Peranan Wanita dalam Memelihara Air Bersih dan Lingkungan Rumah Tangga.
Departemen Kesehatan RI. 1987. Bakti Husada.. Halaman 6-8.
2. Panduan Konseling bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Jakarta.. Bakti Husada. Halaman 1- 12.
3. 4 tahun menuju Purwakarta Sehat 2007. Serial Penyajian Data dan Penyebarluasan
Informasi Kesehatan. Seksi Data & Informasi Kesehatan. Pemerintah Kabupaten
Purwakarta. Dinas Kesehatan. 2003. Halaman 1-4, 34-35, 38, 52, 61-62.
4. Petunjuk teknis penyuluhan program penyehatan lingkungan pemukiman bagi
petugas puskesmas ( buku 1 ), cetakan ke-1, Departemen Kesehatan RI. Direktorat
Jendral PPM & PLP. Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 1998. Bhakti
Husada. Halaman 26-34.
5. Rumah Sehat. Buku petunjuk bagi kader kesehatan lingkungan. Kerja sama antara
Direktorat Jenderal PPM & PLP Departemen Kesehatan RI dengan Pemerintah
Kerajaan Belanda ( OTA 33/II ). 1987. Bakti Husada. Halaman 1-27.
6. Pesan Utama Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( P2HB ). Proyek
Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2001. Bhakti Husada. Halaman 13-14,
16-18.

47