Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari
lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan.1
Salah satu kelainan kulit yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi
kulit adalah eritroderma. Eritroderma bukan merupakan kasus yang sering
ditemukan, namun insidensi eritroderma semakin meningkat didalam kehidupan
sehari-hari dan masalah yang ditimbulkannya cukup parah. Diagnosis yang
ditegakkan lebih awal, cepat dan akurat serta penatalaksanaan yang tepat sangat
memengaruhi prognosis penderita.
Prevalensi eritoderma kian meningkat selaras dengan peningkatan kejadian
psoriasis karena salah satu

kausa yang paling sering adalah psoriasis. Dari

beberapa pendapat para ahli, eritoderma dibagi menjadi dua sesuai penyebabnya
yaitu :

eritoderma akibat alergi obat secara sistemik dan eritoderma akibat

perluasan penyakit kulit.1


Pada eritoderma akibat alergi obat diperlukan anamnesis yang teliti untuk
mencari obat penyebabnya. Umumnya alergi timbul akut dalam waktu 10 hari dan
wujud kelainan kulitnya berupa eritema saja setelah fase penyembuhan barulah
timbul skuama. Pada eritoderma akibat perluasan penyakit kulit seringkali
disebabkan oleh psoriasis dan dermatitis seborik pada bayi. Faktor penyebab
psoriasis menjadi eritoderma ada 2 hal yaitu karena penyakitnya sendiri atau
karena pengobatan yang terlalu kuat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI
Eritroderma berasal dari bahasa Yunani, yaitu erythro (red = merah) dan

derma, dermatos (skin = kulit), merupakan kelainan kulit yang ditandai dengan
eritema mengenai 90% atau lebih pada permukaan kulit yang biasanya disertai
skuama. Pada beberapa kasus, skuama tidak selalu ditemukan, misalnya pada
eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, pada mulanya tidak
disertai skuama. Pada eritroderma yang kronik, eritema tidak begitu jelas karena
bercampur dengan hiperpigmentasi. Bila eritema mencangkup antara 50% - 90%
maka sering dinamai pre-eritroderma.
Kelainan kulit yang ditandai dengan adanya gambaran kemerahan yang
bersifat universal atau yang mencakup 90% permukaan tubuh diakibatkan oleh
pelebaran pembuluh darah pada kulit atau yang sering disebut eritema. Keadaan
tersebut berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. 1
Dermatitis eksfoliativa dianggap sinonim dengan eritroderma meskiupun
tidak begitu tepat karena pada gambaran klinik dapat menghasilkan gambaran
penyakit yang berbeda. Pada banyak kasus eritroderma umumnya terdapat
kelainan kulit yang ada sebelumnya misalnya psoriasis atau dermatitis atopik.

II.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit kulit yang sedang diderita memegang peranan lebih dari setengah

kasus dari eritroderma. Seperti yang telah disebutkan bahwa pasien dengan
eritroderma bukan pasien yang sering ditemukan namun disadari adanya
peningkat jumlah pasien hari demi hari. Dengan penyebab utama ialah psoriasis
yang meluas oleh sebab itu insidensi meningkat seiring dengan insidensi psoriasis.
Identifikasi psoriasis mendasari penyakit eritroderma lebih dari seperempat kasus
didapatkan laporan bahwa terdapat 87 dari 160 kasus adalah psoriasis berat.1,4
Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita, namun paling sering
pada pria dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40 tahun,
meskipun eritroderma dapat terjadi pada semua usia. Anak-anak bisa menderita
eritroderma lebih sering diakibatkan oleh alergi terhadap obat. Alergi terhadap
obat bisa karena pengobatan yang dilakukan sendiri ataupun penggunaan obat
secara tradisional.1, 2
III.

ETIOLOGI
Dahulu eritroderma dibagi menjadi primer dan sekunder. Pendapat

sekarang semua eritroderma memiliki penyebab dasarnya, sehingga eritroderma


selalu sekunder. Eritroderma dapat disebabkan oleh 3 hal yang sudah diketahui
hingga saat ini yaitu:
1. Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik
Diperlukan anamnesis yang teliti untuk memastikan bahwa alergi
obat yang terjadi secara sistemik ialah proses masuknya obat kedalam

tubuh dengan cara apapun termasuk melalui mulut, hidung, suntikan/infus,


rectum maupun vagina.
Keadaan ini banyak ditemukan pada anak hingga dewasa muda.
Obat yang dapat menyebabkan eritroderma adalah obat yang mengandung
arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturate. Pada
beberapa masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan
sendiri dan pengobatan secara tradisional. Waktu mulainya obat ke dalam
tubuh hingga timbul penyakit bervariasi, dapat segera sampai 2 minggu.
Gambaran klinisnya adalah eritema universal. Bila ada obat yang masuk
lebih dari satu yang masuk ke dalam tubuh, diduga sebagai penyebabnya
ialah obat yang paling sering menyebabkan alergi.1, 4
2. Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit.
Eritroderma yang disebabkan oleh penyakit kulit lain, merupakan
penyebab eritroderma yang paling banyak ditemukan dan tersering
disebabkan oleh penyakit :
a) Psoriasis
Psoriasis dapat menjadi eritroderma disebabkan oleh 2 hal
yaitu oleh perkembangan penyakit psoriasis itu sendiri maupun
akibat pengobatan psoriasis yang terlalu kuat. Oleh sebab itu perlu
dianamnesis

dengan

jelas

riwayat

penyakit

psoriasis

dan

pengobatan yang sudah dilakukan.1


b) Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik yang dimaksud ialah dermatitis
seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang juga
dikenal sebagai penyakit Leiner atau eritroderma deskuamativum.
Etiologinya belum diketahui pasti namun diduga disebakan oleh
dermatitis seboroika yang meluas. Usia penderita berkisar 4-20
minggu. Selain itu yang dapat menyebabkan eritroderma adalah

ptiriasis rubra pilaris, pemfigus foliaseus, dermatitis atopic dan


liken planus.1,3,4
3. Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan
Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal
hingga keganasan dapat memberikan kelainan kulit berupa eritroderma.
Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk akibat alergi obat dan
akibat perluasan penyakit kulit lain harus dicari penyebabnya, yang berarti
perlu pemeriksaan menyeluruh termasuk pemeriksaan laboratorium dan
foto toraks, untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat dalam atau
infeksi

fokal

dan

mencari

kemungkinan

adanya

keganasan.

Adanyaleukositosis tanpa ditemukan penyebabnya, menunjukan adanya


infeksi bacterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu diobati.1
Termasuk didalamnya ialah sindrom sezary yaitu suatu limfoma
yang belum diketahui penyebabnya ada yang menduga bahwa ini
berhubungan dengan stadium dini mikosis fungoides. Diduga juga
berhubungan dengan infeksi virus HTLV-V dan dimasukan ke dalam
CTCL (Cutaneus T-Cell Lymphoma). Yang diserang ialah orang dewasa,
pria berkisar usia 64 tahun dan wanita berkisar 53 tahun. Sindrom ini
ditandai dengan eritema berwarna merah membara yang universal disertai
skuama dan rasa sangat gatal.
Pada sepertiga atau setengah dari pasien didapat splenomegaly,
limfadenopati

superfisial,

alopesia,

hiperpigmentasi,

hyperkeratosis

palmaris dan plantasis, serta kuku yang distrofik.


Pada pemeriksaan laboratorium terdapat sel yang khas berupa sel
limfosit atipik yang disebut sel sezary. Dapat disebut sindrom sezary jika
jumlah sel sezary yang beredar 1000/m3 atau lebih atau melebihi 10% sel

yang beredar. Jika jumlah sel dibawah 1000/mm 3 maka disebut sindrom
pre-sezary.

IV.

PATOFISIOLOGI
Mekanisme terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas. Dapat

diketahui bahwa akibat suatu agen dalam tubuh baik itu obat-obatan, perluasan
penyakit kulit dan penyakit sistemik menyebabkan tubuh bereaksi berupa
pelebaran pembuluh darah kapiler yang menyebabkan eritema yang universal.
Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah
ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya pasien
merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung.
Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan cairan
yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat,
kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas
menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan peningkatan laju metabolisme
basal. Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju metabolisme
basal.1
Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih
sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein (hipoproteinemia) dengan
berkurangnya

albumin

dengan

peningkatan

relatif

globulin

terutama

gammaglobulin merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi,


kemungkinan disebabkan oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskuler.1

Eritroderma akut dan kronis dapat mengganggu mitosis rambut dan kuku
berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada eritroderma yang
telah berlangsung berbulan-bulan, dapat terjadi perburukan keadaan umum yang
progresif.1
Pathogenesis eritroderma mungkin berkaitan dengan pathogenesis
penyakit yang mendasarinya, dermatosis yang sudah ada sebelumnya berkembang
menjadi eritroderma, atau perkembangan eritroderma idiopatik de novo tidaklah
sepenuhnya

dimengerti.

Penelitian

terbaru

dicurigai

adanya

hubungan

imunopatogenesis infeksi disebabkan oleh kolonisasi Staphylococcus aureus dan


toksin yang dihasilkan.4
V.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang dimunculkan pada ertirodermal dapat berbeda-beda

berdasarkan etiologi yang mendasari terjadinya eritroderma. Namun secara garis


besar memiliki gejala umum berupa pasien sering mengeluh kedinginan.
Kedinginan terjadi karena vasodilatasi pembuluh darah kulit sehinggan
kehilangan panas tubuh dan rusaknya pengendalian regulasi suhu tubuh yang
menghilang, sehingga sebagai kompensasi, sekujur tubuh pasien menggigil untuk
dapat menimbulkan panas metabolik.
Kelainan kulit yang tampak secara umumnya timbul bercak eritema yang
dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu 12-48 jam. Deskuamasi yang difus
dimulai dari daerah lipatan, hingga menyeluruh.Bila kulit kepala sudah terkena,
dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat terlepas. Dapat terjadi
limfadenopati dan hepatomegali. Skuama timbul setelah 2-6 hari, sering mulai di

daerah lipatan. Skuamanya besar pada keadaan akut, dan kecil pada keadaan
kronis. Warnanya bervariasi dari putih sampai kuning. Kulit merah terang, panas,
kering dan kalau diraba tebal.
Pada eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat kelainan kulit dapat
juga mengenai membrane mukosa. Umumnya alergi timbul akut dalam waktu 10
hari. Pada mulanya kulit hanya eritema universal terutama pada saat akut, setelah
mencapai fase penyembuhan barulah timbul skuama.1, 3

Gambar 1. Eritroderma Akibat Obat


Eritroderma yang terjadi akibat perluasan penyakit kulit lainnya
diantaranya psoriasis maka tanda khasnya akan menghilang. Akan menimbulkan
gejala awalnya didapati eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi
terjadinya psoriasis ditemukan kelainan kulit lebih eritematosa dan agak meninggi
dari pada sekitarnya dan skuama ditempat itu lebih tebal.1, 3

Gambar 2. Eritroderma psoriasis

Eritroderma yang disebabkan dermatitis seboroik pada bayi (penyakit


Leiner) memberikan gejala klinisyang keadaan umumnya baik tanpa keluhan dan
gambaran kelainan kulit berupa eritema dapat pada seluruh tubuh disertai skuama
yang kasar.1, 3

Gambar 3.Eritroderma akibat Dermatitis seboroik

Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan seperti yang


sudah dijelaskan pada etiologi termasuk dalam golongan ini adalah sindrom
Sezary. Sindrom ini ditandai dengan eritema berwarna merah membara yang
universal disertai skuama dan rasa sangat gatal. Selain itu terdapat infiltrat pada
kulit dan edema. Pada sepertiga hingga setengah pada pasien didapati
splenomegali, limfadenopati superfisial, alopesia, hiperpigmentasi, hiperkeratosis
palmaris et plantaris, serta kuku yang distrofik.1

10

Gambar 4. Sindrom Sezary

Gambar 5. Mikosis Fungoides

11

VI.

DIAGNOSIS
Diagnosis eritroderma ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran

klinis, dan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan histopatologi dapat membantu


menentukan penyakit yang mendasarinya. Diagnosis yang akurat dari penyakit ini
merupakan suatu proses yang sistematis di mana dibutuhkan pengamatan yang
seksama, evaluasi serta pengetahuan tentang terminology, dermatologi, morfologi
serta diagnosis banding. Pengobatannya disesuaikan dengan diagnosis penyakit
yang mendasarinya, dengan tetap memperhatikan keadaan umum seperti
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuhm memperbaiki hipoalbumin dan
anemia, serta pengendalian infeksi sekunder.
Diagnosis ditegakkan ditegakan berdasarkan adanya eritema yang
universal dapat disertai dan tidak oleh skuama halus, karena harus melihat dari
tanda dan gejala yang sudah ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan
dan perubahan kuku pada psoriasis; hiperkeratotik skala besar kulit kepala,
biasanya tanpa rambut rontok di psoriasis dan dengan rambut rontok di CTCL.
likenifikasi, erosi dan ekskoriasi di dermatitis atopik dan eksema; menyebar,
relatif hiperkeratosis tanpa skuama, dan hiperkeratotik skala besar kulit kepala,
biasanya tanpa rambut rontok di psoriasis dan dengan rambut rontok di CTCL dan
pitiriasis rubra, ektropion mungkin terjadi. Dengan beberapa biopsi biasanya
dapat menegakkan diagnosis.

12

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium digunakan karena penyakit eritroderma pada
dasarnya dapat disebabkan oleh penyakit sistemik dan dapat mengakibatkan
komplikasi sistemik. Pada eritroderma terjadilah eritema yang berarti pelebaran
pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan penguapan yang dapat
mengakibatkan dehidrasi. Kehilangan skuama yang dapat mencapai 9 gram/m2
pada permukaan kulit mengakibatkan kehilangan protein. Sehingga pada
pemeriksaan darah didapatkan albumin serum yang rendah dan peningkatan
relative gammaglobulin, ketidakseimbangan elektrolit, protein fase akut
meningkat dan leukositosis.1,4
2. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi pada kebanyakan pasien dengan eritroderma
dapat membantu mengidentifikasi penyebab eritroderma sampai dengan 50%
kasus, biopsi kulit dapat menunjukkan gambaran yang bervariasi, tergantung berat
dan durasi proses inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis
menonjol, sehingga terjadi edema. Pada stadium kronis, akantosis dan
perpanjangan rete ridge lebih dominan.
Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi semakin
pleomorfik, dan mungkin akhirnya memperoleh fitur diagnostik spesifik, seperti
bandlike limfoid infiltrate di dermis-epidermis, dengan sel cerebriform
mononuclear atipikal dan Pautriers microabscesses. Pada pasien dengan Sindrom
Sezary ditemukan limfosit atipik yang disebut sel Sezary. Biopsi pada kulit juga
memberi kelainan yang agak khas, yakni terdapat infiltrat pada dermis bagian atas
dan terdapatnya sel Sezary. Disebut sindrom Sezary, jika jumlah sel Sezary yang

13

beredar 1000/mm3 atau lebih atau melebihi 10% sel-sel yang beredar. Bila jumlah
sel tersebut di bawah 1000/mm3 dinamai sindrom pre-Sezary.1
Pemeriksaan immunofenotipe infiltrate limfoid juga mungkin sulit
menyelesaikan permasalahan karena pemeriksaan ini umumnya memperlihatkan
gambaran sel T matang pada eritroderma jinak maupun ganas. Pada psoriasis
papilomatosis dan gambaran clubbing lapisan papiler dapat terlihat, dan pada
pemfigus foliaseus, akantosis superfisial juga ditemukan. Pada eritroderma
ikhtisioform dan ptiriasis rubra pilaris, biopsi diulang dari tempat-tempat yang
dipilih dengan cermat dapat memperlihatkan gambaran khasnya.

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Ada beberapa diagnosis banding pada eritroderma:
1. Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis yang terjadi di
lapisan epidermis dan dermis, sering berhubungan dengan riwayat atopik
pada keluarga asma bronkial, rhinitis alergi, konjungtivitis. Atopik terjadi
di antara 15-25% populasi, berkembang dari satu menjadi banyak kelainan
dan memproduksi sirkulasi antibodi IgE yang tinggi, lebih banyak karena
alergi inhalasi.5 Dermatitis atopik adalah penyakit kulit yang mungkin
terjadi pada usia berapa pun, tetapi biasanya timbul sebelum usia 5 tahun.
Biasanya ada tiga tahap: balita, anak-anak, dan dewasa.
Dermatitis atopik merupakan salah satu penyebab eritroderma pada
orang dewasa di mana didapatkan gambaran klinisnya terdapat lesi praexisting, pruritus yang parah, likenifikasi dan prurigo nodularis,

14

sendangkan pada gambaran histologi terdapat akantosis ringan, spongiosis


variabel, derma eosinofil dan parakeratosis.3

Gambar 6. Dermatitis atopik


2. Psoriasis
Eritroderma psoriasis dapat disebabkan oleh karena pengobatan
topikal yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas.
Ketika psoriasis menjadi eritroderma biasanya lesi yang khas untuk
psoriasi tidak tampak lagi karena dapat menghilang, plak-plak psoriasis
menyatu, eritema dan skuama tebal universal.1,2 Psoriasis mungkin
menjadi eritroderma dalam proses yang berlangsung lambat dan tidak
dapat dihambat atau sangat cepat. Faktor genetic berperan. Bila
orangtuanya tidak menderita psoriasi, resiko mendapat psoriasi 12%,
sedangkan jika salah seorang orang tuanya menderita psoriasis, resikonya
mencapai 34-39%.1
Psoriasis ditandai dengan adanya bercak-bercak, eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai
fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Koebner.1

15

Gambar 7. Psoriasis
3. Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang kronis ditandai
dengan plak eritema yang sering terdapat pada daerah tubuh yang banyak
mengandung kelenjar sebasea seperti kulit kepala, alis, lipatan nasolabial,
belakang telinga, cuping hidung, ketiak, dada, antara skapula. Dermatitis
seboroik dapat terjadi pada semua umur, dan meningkat pada usia 40
tahun.5 Biasanya lebih berat apabila terjadi pada laki-laki dari pada wanita
dan lebih sering pada orang-orang yang banyak memakan lemak dan
minum alkohol.1
Biasanya kulit penderita tampak berminyak, dengan kuman
pityrosporum ovale yang hidup komensal di kulit berkembang lebih subur.
Pada kepala tampak eritema dan skuama halus sampai kasar (ketombe).

16

Kulit tampak berminyak dan menghasilkan skuama putih yang berminyak


pula. Penderita akan mengeluh rasa gatal yang hebat.1
Dermatitis seboroik dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis
yang meningkat seperti pada psoriasi. Hal ini dapat menerangkan mengapa
terapi dengan sitostisk dapat memperbaikinya. Pada orang yang telah
mempunyai faktor predisposisi, timbulnya dermatitis seboroik dapat
disebabkan oleh faktor kelelahan, stress emosional, infeksi, atau defisiensi
imun.

Gambar 8. Dermatitis seboroik

IX.

PENATALAKSANAAN

17

Pada eritroderma yang diakibatkan oleh alergi obat atau golongan I, obat
tersangka sebagai kausanya segera dihentikan. Umumnya pengobatan eritroderma
dengan kortikosteroid. Pada golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara
sistemik, dosis prednisone 4 x 10 mg. penyembuhan terjadi cepat, umumnya
dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
Pada golongan akibat perluasan penyakit kulit atau golongan II juga
diberikan kortikosteroid. Dosis mula prednisone 4 x 10 mg sampai 15 mg sehari.
Jika setelah beberapa hari tidak tampak perbaikan, dosis dapat dinaikkan. Setelah
tampak perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat
pengobatan dengan ter pada psoriasis, makan obat tersebut harus dihentikan.
Eritroderma karena psoriasis dapat pula diobati dengan etretinat salah satunya
adalah asetretin. Lama penyembuhan golongan II ini bervariasi beberapa minggu
hingga beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti golongan I.
Pada pengobatan dengan kortikosteroid jangka lama (long term), yakni
jika melebihi 1 bulan lebih baik digunakan metilprednisolon darpiada prednison
dengan dosis ekuivalen karena efeknya lebih sedikit.
Pengobatan penyakit Leiner dengan kortikosteroid memberi hasil yang
baik. Dosis prednisone 3 x 1-2 mg sehari. Pada sindrom Sezary pengobatan terdiri
atas kortikosteroid (prednisone 30 mg sehari) atau metilprednisolon ekuivalen
dengan sitostatik, biasanya digunakan klorambusil dengan dosis 2-6 mg sehari.
Pada eritroderma kronis diberikan pula diet tinggi protein, karena
terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein. Kelainan kulit juga perlu

18

diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema


misalnya dengan salep lanolin 10% atau krim urea 10%.
X.

KOMPLIKASI
Komplikasi pada eritroderma bisa berupa komplikasi yang ringan hingga

berat. Komplikasi dapat terjadi pada banyak sistem organ selain epidermis dan
dermis. Limpadenopati terjadi pada 60% dari sebagian besar kasus, Hepatomegali
ditemukan pada 20% kasus, spenomegali ditemukan pada 3% kasus dan semua
berkaitan dengan eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit sistemik
terutama oleh limfoma pada sindrom sezary. Komplikasi terjadi belum diketahui
secara pasti mekanismenya dan dapat terjadi pada stadium awal dan pada hampir
20% stadium akhir.1,4
Rusaknya barier kulit pada eritroderma menyebabkan peningkatan
extrarenal water lostkarena penguapan air berlebihan melalui barrier kulit yang
rusak. Peningkatan extrarenal water lost ini menyebabkan kehilangan panas tubuh
yang menyebabkan hipotermia dan kehilangan cairan yang menyebabkan
dehidrasi.1,2,4 Respon tubuh terhadap dehidrasi dengan meningkatkan cardiac
output, yang bila terus berlanjut akan menyebabkan gagal jantung, dengan
manifestasi klinis seperti takikardia, sesak, dan edema.Oleh karena itu evaluasi
terhadap balans cairan sangatlah penting pada pasien eritroderma.1,4
Pasien dengan eritroderma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda dari
ketidakseimbangan elektrolit, edema, hipoalbuminemia, dan hilangnya masa otot.
Pada

eritroderma

kronik

dapat

mengakibatkan

alopesia,

palmoplantar

19

keratoderma, kelainan pada kuku ektropion, hingga perburukan keadaan umum


yang progresif.1,2
Komplikasi yang harus lebih diperhatikann ialah komplikasi sistemik
akibat eritroderma seperti hipotermia, edema perifer, dan kehilangan cairan dan
albumin, dengan takikardia dan kelainan jantung harus mendapatkan perawatan
yang serius.
XI.

PROGNOSIS
Prognosis

eritroderma

tergantung

pada

proses

penyakit

yang

mendasarinya. Kasus karena penyebab obat dapat membaik setelah penggunaan


obat dihentikan dan diberi terapi yang sesuai. Penyembuhan golongan ini ialah
yang tercepat dibandingkan dengan golongan yang lain.1
Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan dengan
kortikosteroid

hanya

mengurangi

gejalanya,

pasien

akan

mengalami

ketergantungan kortikosteroid (corticosteroid dependence).1


Eritroderma disebabkan oleh dermatosa dapat diatasi dengan pengobatan,
tetapi mungkin akan timbul kekambuhan. Kasus idiopatik adalah kasus yang tidak
terduga, dapat bertahan dalam waktu yang lama, seringkali disertai dengan
kondisi yang lemah.5
Sindrom Sezary prognosisnya buruk, pasien pria umumnya akan
meninggal setelah 5 tahun, sedangkan pasien wanita setelah 10 tahun. Kematian
disebabkan oleh infeksi atau penyakit berkembang menjadi mikosis fungoides.1

20

BAB III
ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny.N
Umur
: 57 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan
: IRT
Alamat
: Batu Langkar Besar
Status Pernikahan : Sudah Menikah

Pendidikan
Agama
Suku
No.RM
Tanggal

: SD
: Islam
: Melayu
:
: 17/9/2015

ANAMNESIS
Keluhan Utama:

21

Kulit terasa menebal, panas, gatal dan bersisik di seluruh tubuh sejak 2 minggu
yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang :
Kulit terasa menebal, panas, gatal dan bersisik di seluruh tubuh sejak 2 minggu
yang lalu. Awalnya terasa gatal-gatal di pergelangan dan punggung kaki kiri lebih
kurang 1 bulan yang lalu, kemudian berobat ke dokter umum diberi obat minum
penghilang rasa gatal, di minum 3 kali sehari dan berukuran kecil , tetapi lupa
nama obatnya dan juga diberi salep yang dioleskan setelan mandi, juga lupa nama
salepnya. Setelah diberikan obat tersebut keluhan gatal-gatal di kaki berkurang,
tetapi setelah obatnya habis keluhan kambuh lagi, semakin parah dan mengenai
hampir seluruh tubuh. Kulit di seluruh tubuh terasa menebal, panas, gatal terus
menerus dan bersisik.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Tidak pernah seperti ini sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga mengalami hal yang sama.

Riwayat Pengobatan :
-

Pernah berobat dokter umum diberi obat minum penghilang rasa gatal, di
minum 3 kali sehari dan berukuran kecil , tetapi pasien lupa nama obatnya
dan juga diberi salep yang dioleskan setelan mandi, pasien juga lupa nama

salepnya.
Pasien juga pernah berobat ke dukun kampung dan disuruh mandi
menggunakan air limau.

PEMERISAAN FISIK
STATUS GENERALISATA
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda-tanda vital

: Tampak sakit sedang


: Composmentis cooperatif
:
TD
: tidak diperiksa
Nadi
: 88x/menit
Pernafasan
: 22x/menit
22

: 36,40C

Suhu
Keadaan gizi
Pemeriksaan thorak
Pemeriksaan abdomen

: baik
: dalam batas normal
: dalam batas normal

STATUS DERMATOLOGI
Lokasi
Distribusi
Bentuk
Susunan
Batas

: seluruh tubuh
: universal
: tidak beraturan
: tidak teratur
: difus

Ukuran

: plakat

Efloresensi :
Primer
Sekunder

: plak, hiperpigmentasi, eritema


: berskuama kasar

Kelainan Selaput/Mukosa
Kelainan Mukosa
Kelainan Mata
Kelainan Kuku
Kelainan Rambut
Kelainan Kelenjar Getah Bening

: Tidak Ada Kelainan


: Tidak Ada Kelainan
: Tidak Ada Kelainan
: Tidak Ada Kelainan
: Tidak Ada Kelainan
: Tidak Ada Kelainan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Pemeriksaan laboratorium
o Darah rutin hemoglobin, hematokrit, leukosit
o Eritrosit, limposit, eusinofil
o Imunoglobulin (IgE)
Histopatologi: biopsi kulit

RESUME
Pasien wanita usia 57 tahun datang kepoliklinik Kulit dan Kelamin RSUD
Bangkinang dengan keluhan Kulit terasa menebal, panas, gatal dan bersisik di
seluruh tubuh sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya terasa gatal-gatal di pergelangan
dan punggung kaki kiri lebih kurang 1 bulan yang lalu, kemudian berobat ke
dokter umum diberi obat minum penghilang rasa gatal, di minum 3 kali sehari dan
berukuran kecil , tetapi lupa nama obatnya dan juga diberi salep yang dioleskan
setelan mandi, juga lupa nama salepnya. Setelah diberikan obat tersebut keluhan

23

gatal-gatal di kaki berkurang, tetapi setelah obatnya habis keluhan kambuh lagi,
semakin parah dan mengenai hampir seluruh tubuh. Kulit di seluruh tubuh terasa
menebal, panas, gatal terus menerus dan bersisik.
Pasien pernah berobat dokter umum diberi obat minum penghilang rasa
gatal, di minum 3 kali sehari dan berukuran kecil, tetapi pasien lupa nama obatnya
dan juga diberi salep yang dioleskan setelan mandi, pasien juga lupa nama
salepnya. Pasien juga pernah berobat ke dukun kampung dan disuruh mandi
menggunakan air limau.
Dari status dermatologis ditemukan lokasi: seluruh tubuh, distribusi:
universal, bentuk: tidak beraturan, susunan: tidak teratur, batas: difus, ukuran:
plakat, efloresensi: primer plak, hiperpigmentasi, eritema dan sekunder
berskuama kasar.
DIAGNOSIS :
Eritroderma et causa suspec Erupsi Alergi Obat
DIAGNOSIS BANDING :
1. Psoriasis
2. Fixed Drug Eruption
TERAPI :
a. Umum :
- Hentikan penggunaan obat tersebut
- Makan makanan yang mengandung tinggi protein: seperti telur, ikan,
daging dan lain-lain.
- Kontrol ulang jika obat habis dan timbulnya keluhan lain.
b. Khusus :
- Sistemik
Kortikosteroid prednison 4x10 mg jika dalam beberapa minggu
tidak ada perbaikan dosisnya ditingkatkan menjadi 4x15 mg. Jika ada
perbaikan dosisnya diturukan perlahan.
-

Topikal: Salap lanolin 10%

PROGNOSIS

24

Quo ad sanam
Quo ad vitam
Quo ad fungsionam
Quo ad kosmetikum

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

BAB IV
KESIMPULAN
Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan eritema di seluruh/
hampir seluruh tubuh dan biasanya disertai skuama. Kelainan ini lebih banyak
didapatkan pada pria, terutama pada usia rata-rata 40-60 tahun. Penyebab
tersering eritroderma adalah akibat perluasan penyakit kulit sebelumnya, reaksi
obat, alergi obat, dan akibat penyakit sistemik termasuk keganasan.
Gambaran klinik eritroderma berupa eritema dan skuama yang bersifat
generalisata.

Penatalaksanaan

eritroderma

yaitu

dengan

pemberian

kortikosteroid dan pengobatan topikal dengan pemberian emolien serta


pemberian cairan dan perawatan di ruangan yang hangat.
Prognosis eritroderma yang disebabkan obat-obatan relatif lebih baik,
sedangkan eritroderma yang disebabkan oleh penyakit idiopatik, dermatitis
dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan cenderung
untuk kambuh.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi kelima. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010.
2. Umar, H Sanusi. Erythroderma (generalized exfoliative dermatitis), diunduh
dari: www.emedicine.com,pada 28 Januari 2012.
3. Siregar, RS. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC, 2004.
4. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7 th eds. New York: McGrawHill, 2001.
5. Bandyopadhyay debabrata, Associate Professor and Head Department of
Dermatology, diunduh dari: www.tripodindonesia.com, pada tanggal 28
Januari 2012

26