Anda di halaman 1dari 6

Ruptur Ligamentum Cruciatum Anterior

Anamnesis
Anamnesis bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai penyakit pasien dan membuat diagnosis banding.
Anamnesis yang baik akan sangat membantu dalam mengarahkan keluhan pasien ke diagnosis penyakit tertentu. 1
Pada kasus seperti ini dapat ditanyakan beberapa hal kepada pasien untuk memastikan apa yang dialami oleh pasien.
Pertanyaan yang dapat diajukan antara lain:

Sejak kapan rasa sakit dialami?


Apakah ada aktivitas yang mendahului rasa sakit tersebut?
Apakah ketika berdiri pasien terasa goyah?
Apakah terdengar suara pop saat terjadinya cedera?

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Pada kasus seperti ini dicurigai adanya robekan pada
ligamen cruciatum anterior. Untuk memastikan kecurigaan dapat dilakukan beberapa metode pemeriksaan untuk
mengetahui apakah benar ada robekan pada ligamen tersebut atau tidak. Metode pemeriksaan yang dilakukan antara
lain adalah anterior drawer test, pivot shift test, dan lachmans test. 2 Pemeriksaan yang memberikan hasil paling
akurat dalam menegakkan diagnosis ruptur ligamen cruciatum anterior adalah tes lachman dengan sensitivitas 87%98% pada kasus akut. Sedangkan tes yang paling sering dilakukan adalah anterior drawer test, akan tetapi anterior
drawer test hanya positif pada 50% kasus cedera ligamentum cruciatum anterior (anterior cruciate ligamen/ACL)
jika posterior horn dari meniscus medialis dan kapsul posterior masih menempel.
Lachmans test dilakukan dengan cara memposisikan pasien berbaring dengan keadaan femur sedikit eksorotasi dan
lutut dalam keadaan sedikit difleksikan untuk merelaksasikan otot otot hamstring. Pemeriksa memegang femur
dengan erat menggunakan satu tangan dan satu tangan lagi memegang tibia di bawah persendian. Lalu pemeriksa
menarik tibia ke anterior dengan menahan femur pada posisi dengan mendorongnya ke posterior. Jika terjadi ruptur
pada ACL maka akan terjadi pergeseran berlebihan dari tibia ke arah anterior jika dibandingkan dengan keadaan
normalnya.2
Anterior drawer test dilakukan dengan memposisikan pasien berbaring dengan lutut difleksikan. Pemeriksa
memegang tibia di atas caput medial dan lateral dari musculus gastrocnemius dengan kedua tangan dengan ibu jari
diletakkan pada sisi dari ligamen patella. Pemeriksa harus memastikan bahwa otot-otot hamstring dalam kondisi
relaksasi sebelum melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan dengan menarik tangan ke arah anterior sehingga
tibia tertarik ke arah anterior. Jika terjadi perpindahan abnormal dari tibia ke arah anterior maka tes dikatakan positif
yang menunjukkan bahwa ada cedera dari ACL.2,3
Pivot shift test dilakukan dengan mengangkan tungkai pasien dengan posisi fleksi dengan sendi lutut ekstensi.
Pemeriksa melakukan sedikit rotasi internal pada kaki lalu memfelksikan lutut pasien. Jika terjadi pergeseran tibia
ke arah lateral akibat rusaknya ligamen, tes dikatakan positif. 2,5

Gambar 1. Lachmans test

Gambar 2. Anterior drawer test

Gambar 3. Pivot shift test


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk memperkuat temuan yang didapat pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan pada kasus cedera ligamen adalah:2,5

Foto rontgen 4 posisi untuk peninjauan lebih lanjut dari cedera yang dialami
MRI untuk melihat kerusakan jaringan lunak

Pada dasarnya pemeriksaan penunjang tidak diperlukan untuk mendiagnosis cedera ACL karena diagnosis dapat
ditegakkan hanya dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan.

Gambar 4. MRI ACL normal

Gambar 5. MRI ACL yang ruptur

Working Diagnosis
Diagnosis dari kasus ini adalah ruptur dari ligamentum cruciatum anterior pada genu dextra. Dimana ruptur dari
ligamen ini umumnya disebabkan karena gerakan berputar yang mendadak.
Differential Diagnosis
Diagnosis banding untuk kasus ini adalah ruptur dari ligamentum colateral medial dan ruptur dari ligamentum
cruciatum posterior.
Ruptur dari ligamentum colateral medial biasa terjadi jika terjadi trauma kontak dengan objek dari arah lateral.
Trauma dari arah lateral yang kuat juga dapat mengakibatkan robekan ACL yang disertai dengan robekan MCL dan
meniscus medialis yang dikenal dengan terrible triad ODonaughue.
Ruptur dari ligamentum cruciatum posterior (PCL) dapat terjadi jika terjadi dorongan yang kuat dari depan tibia ke
arah posterior. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis dari ruptur PCL adalah posterior
drawer test yang merupakan kebalikan dari anterior drawer test.2
Etiologi dan Patofisiologi
Articulatio genu diperkuat oleh beberapa ligamen untuk mencegah pergeseran posisi dari tulang-tulang pada
persendian tersebut. Ligamentum Cruciatum Anterior merupakan ligamen yang berfungsi untuk mempertahankan
kedudukan tibia agar tidak bergeser ke depan pada articulatio genu. Ligamentum cruciatum posterior
mempertahankan kedudukan tibia agar tidak bergeser ke belakang. Ligamentum collateral medial mempertahankan
posisi tibia agar tidak bergeser ke arah medial dan ligamentum collateral lateral mempertahankan fibula agar tidak
bergeser.4
Cedera pada ligamentum cruciatum anterior (anterior cruciate ligament / ACL) dapat terjadi pada rotasi yang
berlawanan arah dari femur dan tibia akibat dari gerakan berputar atau mendarat dari sebuah lompatan. Robekan
pada ligamen ini mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada sendi lutut. Robekan yang terjadi akan
menimbulkan perdarahan dan oedem. Ruptur ligamen cruciatum anterior ini dapat disertai kerusakan pada meniscus
medialis dan pada beberapa kasus yang parah dapat disertai dengan ruptur dari ligamentum colateral medial. 5

Gambar 6. Cedera ACL


Sekitar 70 persen dari kejadian cedera ACL terjadi melalui mekanisme non-kontak dan 30 persen merupakan
mekanisme karena kontak dengan objek lain. Mekanisme yang tersering pada kejadian cedera ACL adalah gerakan
memutar yang disertai dengan perlambatan. 2,6

Gejala Klinis
Pasien pada umumnya akan mendengar suara pop saat cedera terjadi dan diikuti dengan ketidakstabilan lutut
(goyah) secara mendadak.5
Pembengkakan lutut pada beberapa jam pertama dapat merupakan tanda adanya perdarahan dalam sendi. Gerakan
sendi akan terbatas karena bengkak dan rasa nyeri.
Cedera pada ligamen dapat digolongkan menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan derajat keparahan dari cedera
yang dialami. Penggolongan tingkat keparahan cedera dapat digolongkan sebagai: 2,3,5

Tingkat I
Pada tingkat ini terdapat sedikit hematom dan hanya beberapa serabut dari ligamen yang putus yang
disertai dengan nyari yang ringan dan bengkak.
Tingkat II
Pada tingkatan ini lebih banyak serabut ligamen yang putus dan ligamen tertarik dan diperpanjang disertai
dengan rasa sakit yang lebih dan memar. Ligamen biasanya akan pulih tanpa perlu operasi dengan
penurunan kekuatan dengan sedikit ketidakstabilan.
Tingkat III
Ligamen tertarik hingga sobek menjadi dua seringkali disertai dengan rasa nyeri yang tidak begitu hebat
akan tetapi sendi menjadi sangat tidak stabil.

Penatalaksanaan
Pada kasus cedera ACL penatalaksanaan dapat dilakukan dengan tindakan bedah maupun tidak tergantung dari
seberapa parah cedera yang dialami. Pada kasus ruptur total dari ACL diperlukan tindakan pembedahan untung
mengganti ACL yang sobek agar kestabilan sendi lutut dapat kembali dipertahankan seperti keadaan semula. 5
Untuk penanganan cedera ACL tepat setelah terjadinya cedera yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan bengkak.
Selain itu penanganan yang tepat setelah mengalami cedera dapat mengurangi komplikasi yang timbul setelah
operasi dilakukan. Tindakan yang dapat dilakukan setelah cedera adalah:7

Rest
Lutut diistirahatkan dan tidak digunakan sampai bengkak hilang
Ice
Lutut dikompres dengan es atau air dingin yang bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri
Compression
Lutut dibalut dengan compression bandage untuk mengurangi bengkak
Elevation
Pasien berbaring dengan posisi tungkai lebih tinggi dari jantung yang bertujuan untuk mengurangi
pembengkakan

Untuk tindakan pembedahan, kebanyakan sobekan pada ACL tidak boleh dijahit dan disambung ke keadaan semula.
Untuk melakukan tindakan rekonstruksi ACL yang bertujuan untuk mengembalikan kestabilan lutut diperlukan
sebuah graft atau transplan. Transplan yang digunakan untuk rekonstruksi ACL biasanya berupa autograft atau
transplan yang diambil dari organ tubuh sendiri. Transplan untuk rekonstruksi ACL yang paling sering digunakan
adalah graft dari ligamentum patella atau dari tendon hamstring.

Gambar 7. Struktur persendian lutut

Pada penggunaan transplan dari ligamentum patella langkah-langkah yang dilakukan adalah:2
1.
2.
3.

ACL yang rusak dibuang lalu dibuat lubang sedikit pada femur bagian distal.
Insisi dilakukan pada lutut dari patella sampai ke tibia
Melakukan pengeboran pada bagian femur distal dan tibia. Pengeboran ini bertujuan untuk melakukan
penanaman transplan yang akan dijadikan pengganti ACL yang rusak.
4. Graft diambil dari ligamentum patella.
5. Graft yang sudah diambil dimasukkan ke dalam lubang yang sudah di bor di femur dan tibia lalu difiksasi.

Gambar 8. Proses rekonstruksi ACL

Pada tindakan rehabilitasi pasca operasi, tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mengembalikan Range of Motion
(ROM) dari sendi yang dilakukan rekonstruksi ACL. Tindakan pertama yang dilakukan setelah operasi adalah
melakukan pergerakan dari sendi lutut di ruang operasi. Biasanya dilakukan anestesi lokal pada lutut agar pasien
tidak merasakan nyeri ketika memfleksikan lutut. Proses ini bertujuan untuk melihat apakah graft yang ditanam
berada pada kondisi yang baik, tidak terlalu kencang maupun tidak terlalu kendur.2
Proses berikutnya adalah dengan memicu pertumbuhan transplan dengan memberikan tahanan beban dengan
memfleksikan tungkai kontralateral. Hal ini bertujuan agar transplan dapat cepat tumbuh sehingga keadaan lutut
dapat digunakan seperti pada kondisi normal.

Proses rehabilitasi ini merupakan suatu tindakan wajib dilakukan agar hasil operasi yang dilakukan dapat optimal
tanpa mengurangi fungsi dan pergerakan dari sendi tersebut.
Edukasi
Cedera ACL merupakan cedera yang sering dialami oleh atlet-atlet maupun orang-orang yang menekuni bidang
olahraga tertentu seperti sepak bola. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya cedera
pada ACL antara lain adalah:2

Melakukan pemanasan sebelum melakukan olahraga. Hal ini bertujuan agar otot-otot sudah siap digunakan
saat berolahraga sehingga tidak terjadi kaget pada otot sehingga meningkatkan resiko cedera
Hindari melakukan gerakan yang tiba-tiba.
Gerakan yang dilakukan secara mendadak cenderung akan memberikan gaya yang timbul secara mendadak
pada bagian tubuh. Gerakan memutar tiba-tiba misalnya, mengakibatkan pergerakan abnormal dimana tibia
masih berada pada posisi awal sedangkan femur sudah melakukan rotasi. Hal ini akan menimbulkan gaya
yang besar pada ACL sehingga ACL dapat mengalami ruptur.
Usahakan untuk melakukan pergerakan memutar menggunakan kaki, bukan menggunakan lutut
Melatih otot-otot dan persendian dengan latihan yang teratur
Otot-otot dan persendian yang terlatih akan meningkatkan kekuatan dari komponen-komponennya dimana
hal tersebut akan mengurangi resiko cedera.

Komplikasi
Komplikasi dari cedera ACL dapat berupa osteoarthritis sekunder, infeksi dan hemarthrosis pasca operasi. 2
Osteoarthritis sekunder dapat timbul karena adanya trauma pada persendian tersebut sehingga tulang mengalami
inflamasi dan mengalami degenerasi.
Infeksi dapat timbul pasca operasi yang dapat disebebkan karena luka pasca operasi yang tidak disterilisasi dengan
baik sehingga mengakibatkan berkembangnya kuman patogen pada luka.

Prognosis
Prognosis untuk kasus ACL umumnya baik. Penanganan yang tepat dalam kasus cedera ligamen dapat
mengembalikan ligamen yang rusak kembali ke kondisi yang optimal dengan tindakan pembedahan sehingga
tercapainya tujuan stabilisasi lutut dan pengembalian fungsi normal. Umumnya penggunaan optimal kembali
ligamen yang cedera untuk berolahraga dapat dilakukan enam bulan setelah tindakan bedah dilakukan. 2
Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Supartondo, Setiyohadi B. Anamnesis. Dalam: Setiadi S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibarata M, Setiyohadi
B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing; 2014. h.125-7
Johnson DH, Pedowitz RA. Practical orthopaedic: sports medicine & arthroscopy. Philadelphia: Lippincott
Williams &Wilkins; 2007. h.808-27
Szendroi M, Skaliczki G, Bartha M. Knee. Dalam: Szendroi M, Sim FH. Color atlas of clinical orthopedics.
Springer; 2009. h.425-7
Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Gramedia: Jakarta: Gramedia; 2009. h. 97
McRae R. Clinical orthopaedic examination. Elsevier; 2005. h.206-9
Boden BP, Sheehan FT, Torg JS, Hewett TE. Non-contact acl injuries: mechanisms and risk factors.
Diunduh dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3625971/
http://www.rumahsakitmitrakemayoran.com/rekonstruksi-kerusakan-anterior-cruciate-ligament-acl-denganarthroskopi/