Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS WACANA KRITIS

Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Penelitian Kualitatif Jurnalistik
pada semester V tahun akademik 2015/2016

Disusun oleh:

Asmi Nur Aisya

210110130163

Aufa Sabila

210110130210

Hengki Saepul Anwar 210110130021


Ni Putu Trisnanda

210110130110

Shafa Nurnafisa

210110130099

Jurnalistik A

PROGRAM STUDI ILMU JURNALISTIK


FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Analisis Wacana Kritis


A. Wacana (Discourse)
Kata wacana dalam bahasa Indonesia digunakan untuk mengacu pada bahan bacaan,
percakapan, dan tuturan. Wacana bukan hanya bacaan, tetapi merupakan unsur bahasa
paling besar dalam sebuah komunikasi yang bisa berbentuk verbal maupun non-verbal
yang makna suatu bahasanya berada dalam rangkaian konteks dan situasi.
Alex Sobur (2001) mengemukakan, wacana merupakan rangkaian ujar atau
rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara
teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental
maupun nonsegmental bahasa.
Meski memiliki satu kesatuan makna yang mengungkapkan sesuatu hal,
wacana tidak memiliki bentuk utuh. Bentuk utuh dari sebuah wacana dapat dilihat
dalam beragam buah karya dari seorang pembuat wacana. Buah karya tersebut, dalam
kajian analisis wacana, disebut teks.

B. Teks
Dalam teori bahasa, apa yang dinamakan teks tidak lebih dari himpunan huruf yang
membentuk kata dan kalimat yang dirangkai dengan sistem tanda yang disepakati
oleh masyarakat, sehingga sebuah teks ketika dibaca bisa mengungkapkan makna
yang dikandungnya.
Ricoeur mengajukan suatu definisi yang mengatakan bahwa teks adalah
wacana (berarti lisan) yang difiksasikan ke dalam bentuk tulisan. Teks juga bisa
diartikan sebagai seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim
kepada seorang penerima, melalui medium tertentu dan dengan kode-kode tertentu
(Budiman, 1999b:115-116). Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini,
bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan, film, drama,
secara pengertian umum adalah teks.
Dalam dunia jurnalistik, teks berarti sebuah karya jurnalistik. Teks dalam
jurnalistik pun tidak terbatas pada karya jurnalistik tertulis seperti berita ataupun
feature. Namun, teks dalam jurnalistik bisa juga berupa dokumenter, berita televisi,
bahkan sekadar sebuah karikatur. Dalam pengertian yang lebih ketat, teks dikatakan
teks hanya ketika sebuah gagasan secara sadar dan sengaja dituliskan (dibentuk) oleh
pengarangnya, bukan sekadar transkripsi dari sebuah wacana (Sobur, 2004:54).

C. Bahasa
Bahasa memegang peran penting dalam wacana, terlebih lagi sebuah teks. Bahasa
adalah perangkat paling ampuh untuk menyampaikan makna dalam sebuah wacana
maupun teks. Menurut Halliday, bahasa memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1) Fungsi ideasional: untuk membentuk, mempertahankan, dan memperjelas
hubungan di antara anggota masyarakat.
2) Fungsi interpersonal: untuk menyampaikan informasi di antara anggota
masyarakat.

3) Fungsi tekstual: untuk menyediakan kerangka, pengorganisasian wacana yang


relevan dengan suatu konteks.
Menurut Lorens Bagus (1990), dalam filsafat bahasa dikatakan bahwa orang
menciptakan realitas dan menatanya lewat bahasa. Bahasa mengangkat ke permukaan
hal yang tersembunyi sehingga menjadi kenyataan, tetapi bahasa yang sama dapat
dipakai untuk menghancurkan realitas orang lain.
Dalam analisis wacana, bahasa merupakan hal terpenting untuk dianalisis
karena bahasa sebagai penyampai makna memiliki konstruksi tersendiri dalam sebuah
teks. Teks terdiri dari bahasa-bahasa yang membentuk makna.
Dalam analisis wacana, bahasa dipandang melalui tiga pandangan berikut:
a) Pandangan positivisme empiris
Aliran ini memandang bahasa sebagai jembatan antara manusia dan objek di luar
dirinya, dalam konteks ini individu dan wacana. Hal yang menjadi konsentrasi
dalam pandangan ini adalah tata bahasa dan kebenaran sintaksis. Dalam
pandangan ini, analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata urutan
kalimat, bahasa, dan pengertian secara bersama.
b) Pandangan konstrutivisme
Pandangan ini menolak pandangan positivisme/empiris yang memisahkan subjek
dan objek bahasa, dalam konteks ini individu dan wacana. Bahasa tidak hanya
dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objek belaka, tetapi subjek sebagai
faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek
memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud tertentu dalam setiap
wacana. Artinya, ketika subjek tersebut menggunakan bahasa, maka bahasa
tersebut merepresentasikan tujuan tertentu.
c) Pandangan kritis
Pandangan ini mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitif pada
proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun
institusional. Pandangan ini menekankan pada konstalasi kekuatan yang terjadi
pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai
subjek yang netral, karena dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada di dalam
masyarakat. Pada intinya, dalam pandangan ini, wacana melihat bahasa selalu
terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam membentuk subjek. Dalam
dunia jurnalistik, pandangan kritis berarti merujuk pada penggunaan bahasa yang
dipengaruhi oleh kekuatan media maupun kekuasaan yang lebih besar.

D. Analisis Wacana
Stubbs (1983:1) menjelaskan, analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti
atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulisan
maupun lisan. Selain itu, Katromiharjo (1999) mengungkapkan, analisis wacana
merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit
bahasa yang lebih besar daripada kalimat.
Menurut Syamsuddin (1992) analisis wacana memiliki ciri dan sifat sebagai
berikut:

1. Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat.


2. Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks,
dan situasi.
3. Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui intrepretasi
semantik.
4. Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak bahasa.
5. Analisis wacana diarahkan kepada masalah memakai bahasa secara fungsional.

E. Analisis Wacana Kritis


Menurut Yoce Aliah Darma, Analisis Wacana Kritis (AWK) adalah sebuah upaya
atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realits sosial)
yang mau atau sedang dikaji seseorang atau kelompok dominan yang
kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang
diinginkannya.
Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat wacana
sebagai bentuk dan praktik sosial. Wacana sebagai praktik sosial menyebabkan
sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa wacana tertentu dan situasi, institusi,
dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan
ideologiia dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak
berimbang antara kelas sosial serta kelompok mayoritas dan minoritas.
Analisis wacana yang menggunakan pendekatan kritis memperlihatkan
keterpaduan antara: (a) analisis teks; (b) analisis proses, produksi, konsumsi, dan
distribusi teks; serta (c) analisis sosiokultural yang berkembang di sekitar wacana itu.
Menurut Van Djik, Fairclough, Wodak, dan Eriayanto (2005) karakteristik Analisis
Wacana Kritis dibagi menjadi lima, antara lain:
1. Tindakan
Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan membujuk, mengganggu,
bereaksi, dan sebagainya. Seseorang membaca atau menulis mempunyai maksud
tertentu, baik maksud besar atau kecil. Wacana dipahami sebagai sesuatu yang
diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kehendak atau
diekspresikan di luar kesadaran.
2. Konteks
Memasukan semua situasi dan hal yang ada di luar dan memengaruhi pemakaian
bahasa seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi,
fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya.
3. Historis
Dalam melakukan analisis, sebuah wacana hendaknya dikaji dengan cara historis.
Misalnya menganalisis sebuah isu tersebut maka kita harus menganalis sejarah isu
tersebut juga.
4. Kekuasaan

Elemen kekuasaan dalam Analisis Wacana Kritis, setiap wacana yang muncul
dalam bentuk teks, percakapan, atau apapun, tidak dipandang sebagai ilmu yang
alamiah, wajar, dan netral. Akan tetapi, merupakan bentuk pertarungan kekuasaan.
Kekuasan di sini adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dengan
masyarakat seperti kekuasaan laki-laki, kulit putih dan hitam, dan lain-lain.
5. Ideologi
Ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan
untuk
memproduksi legitimasi dominasi. Dengan membuat kesadaran kepada khalayak
bahwa legitimasi tersebut taken for granted, sehingga apa yang ditampilkan
kelompok yang dominan yang mempersuasi dan mengkonsumsikan pada khalayak
produksi kekuasaan dan dominan yang mereka miliki sehingga tampak absah dan
benar.

F. Fungsi Analisis Wacana Kritis


Tujuan Analisis Wacana Kritis adalah untuk mengkaji tentang upaya kekuatan sosial,
pelecehan, dominasi, dan ketimpangan yang diproduksi dan dipertahankan melalui
pembahasan yang dihubungkan dengan konteks sosial dan politik.
Teun van Dijk (1998) mengemukakan bahwa dalam Analisis Wacana Kritis
digunakan untuk menganalisis wacana-wacana kritis, diantaranya adalah politik, ras,
gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain.
Menurut Fairclough dan Wodak (1997: 271-280), fungsi Analisis Wacana
Kritis untuk membahas masalah-masalah sosial, mengungkap relasi-relasi kekuasaan
adalah diskursif, mengungkap budaya dan masyarakat, bersifat ideologi dan historis,
dan bersifat interprtatif dan ekplanatori.
Fairclough juga mengemukakan bahwa Analisis Wacana Kritis mencoba
memersatukan dan menentukan hubungan antara:
a. Teks aktual
b. Latihan diskursif (melibatkan penulis mencipta, menulis, ujaran, dan menyimak)
c. Konteks sosial yang berhubungan dengan teks dan latihan diskursif.
Habermas (1973) mengemukakan bahwa Analisis Wacana Kritis bertujuan
untuk menganalisis dan memahami masalah sosial dalam hubungannya antara
ideologi dan kekuasaan.
Bahan Analisis Wacana Kritis adalah unsur kosakata, gramatika, struktur
tekstual, bahasa-bahasa tubuh (nonverbal), ucapan, lambang, dan bentuk semiosis
lainnya.

G. Metode Analisis Wacana Kritis


Bahan Analisis Wacana Kritis berfokus pada sifat alami kontekstualisasi ideologi.
Ideologi berpengaruh pada pemakaian bahasa yang digunakan dalam konstruksi
wacana, termasuk pengelompokan dan penafsiran situasi sosial. Misalnya
pembicaraan orang kulit putih tentang kulit hitam sangat mungkin dipengaruhi oleh
ideologi (benci atau tidak) yang dalam hal ini ideologi ras. Dalam proses analisis ini

hasilnya dipengaruhi oleh kemampuan peneliti. Van Diyk (2000) mengemukakan


bahwa Analisis Wacana Kritis tidak mempunyai kesatuan kerangka teoritis atau
metodologi tertentu, melainkan tergantung kepada pemusatan pikiran dan
keterampilan-keterampilan yang berguna untuk menganalisis teks yang didasari latar
belakang ilmu pengetahuan dan daya nalar peneliti.
Proses Analisis Wacana Kritis dilakukan dengan analisis data yang merupakan
usaha untuk mencari dan kemudian menata data secara sistematis untuk meningkatkan
pemahaman peneliti tentang kasus yang sedang diteliti dan menyajikannya sebagai
temuan bagi orang lain. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber yaitu
wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen
pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya (Noeng Muhadjir, 2000: 139).
Setelah semua data dibaca, dipelajari, dan ditelaah, maka langkah selanjutnya adalah
mereduksi data dan membuat abstraksi yang merupakan rangkuman inti dari semua
data yang dibutuhakan. Terakhir adalah menyusun dalam satuan-satuan dan
kategorisasi dan menafsirkan serta memberikan makna terhadap data.

H. Framing
G.J. Aditjondro memaparkan, framing sebagai metode penyajian realitas, dimana
kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan
secara halus dengan memberikan sorota terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan
menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dan dengan bantuan
foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.
Dalam framing, media melakukan pembedahan kontruksi pada berita dalam
dua hal yang ada, pertama dari adanya penyeleksian dan penonjolan.
Framing sebuah tulisan di media massa dikonstruksikan oleh berbagai realitas,
diantaranya adalah realitas politik. Terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan para
pekerja massa dalam mengkonstruksikan realitas politik tersebut, yang berujung pada
pembentukan makna atau citra mengenai kekuatan politik. Tindakan tersebut yaitu:
1. Memilih kata (simbol) politik. Setiap media akan memperlihatkan simbol
dalam pemberitaan yang dituliskan, seperti pemilihan diksi, gambar, suara,
ataupun video.
2. Melakukan pembingkaian (framing) peristiwa politik, seperti contohnya
pengambilan sudut pandang (angle).
3. Menyediakan ruang atau waktu untuk sebuah peristiwa politik, seperti
contohnya menempatkan posisi pemberitaan (seperti headline, kolom,
artikel, editorial, dan sebagainya)
Adapun fungsi Framing sebagai berikut:
a.

Mengidentifikasi Masalah

b.

Mendiagnosis penyebab masalah

c.

Melakukan penilaian / evaluasi moral

d.

Menyarankan perbaikan masalah

I. Ulasan Penelitian Terkait Analisis Wacana Kritis


A. Sikap Politik Pers dalam Konflik Israel-Palestina Pasca Serangan di Jalur Gaza
26 Desember 2008 (Analisis Framing Sikap Politik Pers Konflik Israel-Palestina
Pasca Serangan di Jalur Gaza 26 Desember 2008 Pada Tajuk Rencana Harian
Republika dan Kompas periode Desember 2008-Maret 2009)
Oleh: Maria Indah Purnani Sarjana, Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas
Atmajaya Yogyakarta
Skripsi menggunakan analisis framing atau pembingkaian yang dilakukan pada tajuk
rencana Harian Kompas dan Republika mengenai konflik Israel-Palestina pasca serangan di
jalur Gaza 26 Desember 2006. Analisis framing yang dilakukan peneliti tersebut dilihat dari
kecenderungan keberpihakan kedua media tersebut terkait berbagai kepentingan, termasuk
kepentingan koorporasinya, melalui model framing Willian Gamson dan Modigliam.
Peneliti memilih dua Koran tersebut karena adanya perbedaan ideologi diantara kedua
media massa tersebut. Berdasarkan temuan tekstual maupun kontekstual, peneliti mendapat
kesimpulan bahwa Kompas cenderung berpandangan konflik Israel-Palestina sebagai konflik
perebutan wilayah dan tidak bersinggungan dengan sensitifitas agama, sedangkan Republika
cenderung membingkai konflik tersebut dalam pandangan sensitifitasan agamis (Islam).
Kesimpulan kecenderungan tersebut dilandaskan pada ideologi masing-masing media.

B. Konstruktivis Media Online VivaNews.com dan MetroTVNews mengenai Joko


Widodo (Analisis Framing 100 Hari Kerja Joko Widodo Sebagai Gubernur Jakarta)
Oleh: Septiana Agung Efendi, Ilmu Komunikasi-Fakultas Komunikasi dan
Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Penelitian ini menggunakan analisis framing atau pembingkaian Media online Vivanews.com
dan Metronews.com yang berlomba-lomba mengemas pemberitaan mengenai 100 hari kerja
Joko Widodo menjadi gubernur DKI Jakarta. Mengingat Vivanews.com merupakan media
dibawah kepemilikan Abu Rizal Bakrie (Sebagai Pemimpin Golkar). Sedangkan
Metronews.com dibawah naungan Surya Paloh (Sebagai Pemimpin Partai Nasdem).
Persaingan ekonomi antara dua kubu tersebut kubu tersebut melahirkan sebuah kontruksi
pemberitaan mengenai Joko Widodo yang didukung oleh PDIP.
Dalam pemberitaan Vivanews.com lebih banyak mengangkat masalah terkait dari
adanya kinerja Joko Widodo yang gagal dalam menjalakna tugasnya sebagai gubernur
Jakarta. Karena memang media ini lebih memilih pasangan Fauzi Bowo yang diusung oleh
Golkar lawan politik dari Joko Widodo. Sedangkan kontruktivis pada Metronews.com
menilai kinerja Joko Widodo berhasil dan memberikan perubahan pada Jakarta, karena
Jokowi diusung oleh partai Nasdem. Dalam dua kontruksi inilah media terhadap Joko
Widodo terbentuk.

C. Wacana Keagamaan Syiah-Sunni dalam Majalah Tempo


Hidayatullah.
Oleh: Dadang S. Anshori, FBS Universitas Pendidikan Indonesia)

dan

Suara

Penelitian ini lebih bersifat deskriptif mengenai penggunaan bahasa sebagai representasi
sikap media massa terhadap masalah konflik Syiah-Sunni. Penelitian yang dilakukan Dadang
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Fowler. Sumber
data yang peneliti gunakan adalah pemberitaan konflik Syiah-Sunni di Sampang dalam
Majalah Tempo dan Suara Hidayatullah. Kasus Syiah-Sunni diberitakan oleh Majalah
Tempo dengan sudut pandang serangan laknat, sedangkat dalam Suara Hidayatullah
menyajikan pertentangan substansi pemahaman agama. Dalam penggunaan kosakata
pemberitaan, Majalah Tempo lebih sering menyebutkan memaksakan keyakinan,
pembersihan Syiah, serangan laknat, intoleransi, sedangkan Suara Hidayatullah lebih sering
menggunakan kosakata seperti sesat, menyesatkan, syirik, dan kafir. Kosakata yang dipakai
kedua media tersebut dalam memperlihatkan kecenderungan media memihak dalam
permberitaan, seperti Majalah Tempo yang lebih mendukung Syiah, dan Suara Hidayatullah
yang lebih mendukung Sunni.

Simpulan
Analisis Wacana Kritis adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi
penjelasan dari sebuah teks (realits sosial) yang mau atau sedang dikaji seseorang atau
kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh
apa yang diinginkannya. Ia sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di
antara peristiwa wacana tertentu dan situasi, institusi, serta struktur sosial yang
membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan ideologidapat memproduksi dan
mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak berimbang antara kelas sosial serta kelompok
mayoritas dan minoritas.
Metode Analisis Wacana Kritis berfokus pada sifat alami kontekstualisasi ideologi.
Ideologi berpengaruh pada pemakaian bahasa yang digunakan dalam konstruksi wacana,
termasuk pengelompokan dan penafsiran situasi sosial. Proses Analisis Wacana Kritis juga
dilakukan dengan analisis data.

Daftar Pustaka
Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana: Teori, Merode, dan Penerapannya pada Wacana Media.
Jakarta: Kencana Predana Media Group.
Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.
Rani, Abdul, dkk. 2004. Analisis Wacana sebuah kajian bahasa dalam pemakaian. Malang:
Bayumedia Publishing.
Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.