Anda di halaman 1dari 41

PENGEMBANGAN MATERI, METODE DAN MEDIA

PEMBELAJARAN ADMINISTRASI PERKANTORAN


MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan
Perencanaan Pembelajaran Manajemen Perkantoran.
Dosen Pengampu Dr. H. Suwatno, M.Si.
Disusun oleh:
Ani Yulianti

(1407226)

Anzela Puspita Dewi

(1400622)

Chindy Farah Sausan

(1401011)

Intan Nurlita

(1401342)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MANAJEMEN PERKANTORAN


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. Yang berkat petunjuk dan
hidayah-Nyalah laporan observasi ini dapat terselesaikan. Laporan observasi ini bertemakan
Pengembangan Materi, Media, dan Metode Pembelajaran Administrasi Perkantoran .
Adapun laporan makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Telaah Kurikulum dan Perencanaan Pembelajaran Manajemen Perkantoran.
Terima

kasih

juga kami

ucapkan

kepada

dosen

pengampu mata kuliah Telaah

Kurikulum dan Perencanaan Pembelajaran Manajemen Perkantoran karena telah memberikan


kami

tugas

sehingga

kebersamaan dan sinergi


mengucapkan

menambah pengetahuan dan pengalaman kami


dalam kelompok

terima kasih

kepada

kami

ini.

serta membentuk

Dan secara khusus kami

juga

kedua orang tua kami yang senantiasa memberikan

semangat dan dukungan serta doa yang selalu mengiringi kami.


Kami selaku penyusun sadar akan ketidaksempurnaan dan kekurangan yang terdapat dalam
laporan makalah ini. Oleh sebab itu, kami sangat berharap atas kritik dan saran yang membangun
guna mengembangkan pengetahuan kita bersama supaya lebih baik lagi untuk penyusunan
laporan makalah selanjutnya.

Bandung, 02 Agustus 2016

Tim Penyusun

Contents
KATA PENGANTAR...................................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang.............................................................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah........................................................................................................................1

1.3.

Tujuan..........................................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................................3
2.1.

Mata Pelajaran Administrasi Perkantoran....................................................................................3

2.1.1 Pengertian...................................................................................................................................3
2.1.2

Pengembangan Bahan Ajar..................................................................................................6

2.1.3

Jenis Bahan Ajar..................................................................................................................6

2.1.4

Prinsip-prinsip Memilih Bahan Ajar....................................................................................7

2.1.5 Langkah-langkah Memilih Bahan Ajar.......................................................................................8


2.1.5 Menentukan Cakupan dan Urutan Bahan Ajar..........................................................................11
2.1.6 Materi Prasyarat, Materi Perbaikan, Materi Pengayaan............................................................12
2.2.

Metode Pembelajaran................................................................................................................13

2.2.1 Pengertian.................................................................................................................................13
2.2.2 Macam macam Metode Pembelajaran...................................................................................15
2.2.3

Metode Pembelajaran Kurikulum 2013..............................................................................18

2.3.

Media Pembelajaran..................................................................................................................26

2.4.

Implementasi Metode dan Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran...............................30

2.4.1

Implementasi Metode Pembelajaran Administrasi Perkantoran.........................................30

2.4.2

Implementasi Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran...........................................33

BAB III PENUTUP...................................................................................................................................38


3.1.

Kesimpulan................................................................................................................................38

Daftar Pustaka...........................................................................................................................................39

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Program Keahlian Administrasi Perkantoran adalah Program keahlian yang siap
mendidik dan menciptakan calon tenaga kerja yang kompeten, kompetitif dan mandiri di
bidang kesekretarisan. Di Program Keahlian ini siswa akan di didik untuk bisa
menangani administrasi yang ada di perusahaan yaitu meliputi pekerjaan surat-menyurat,
mengelola dokumen (kearsipan), menangani rapat, mengoperasikan otomatisasi
perkantoran, dan mengoordinir tugas pimpinan dari membuat agenda kegiatan hingga
merancang perjalanan dinas serta tugas sekretaris lainnya. Selain itu, program keahlian
ini mengajarkan peserta didik bagaimana cara berkomunikasi dan berpenampilan yang
baik sebagai seorang sekretaris di perusahaan.
Kurikulum 2013 dirancang untuk menyiapkan lulusan program keahlian
administrasi perkantoran yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional,
dan kecerdasan spiritual secara seimbang sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja agar
dapat menjadi sekretaris professional yang kompeten dan berakhlak mulia. Maka dari itu
kita sebagai calon pendidik administrasi perkantoran harus mampu menguasai materi,
metode dan media pembelajaran yang digunakan dalam menciptakan proses
pembelajaran administrasi perkantoran yang efektif, menyenangkan, dan bermakna.

1.2.

Rumusan Masalah
1. Apa saja mata pelajaran program keahlian Administrasi Perkantoran?
2. Apa saja metode
yang dapat digunakan dalam pembelajaran Administrasi
Perkantoran?
3. Apa saja jenis media yang dapat

digunakan dalam pembelajaran Administrasi

Perkantoran?
4. Bagaimana contoh pengimplementasian metode, dan media pembelajaran yang
efektif dalam pembelajaran Administrasi Perkantoran?

1.3.

Tujuan
1. Mengetahui mata pelajaran normatif, adaptif, dan produktif SMK Administrasi
Perkantoran;
2. Memahami metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran
Adminstrasi Perkantoran
3. Mengetahui jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran Administrasi
Perkantoran.
4. Memahami implementasi metode dan media pembelajaran yang efektif dalam
pembelajaran Administrasi Perkantoran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Mata Pelajaran Administrasi Perkantoran


2.1.1 Pengertian
Menurut (Hamalik, 2008), materi/ isi kurikulum merupakan bahan kajian
dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang
bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan nasioanal. (Bab IX, Ps. 39).
Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kurikulum dikembangkan dan disusun
berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian
atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan
pembelajaran
2) Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan
pendidikan. Perbedaan tujuan satuam pendidikan tersebut;
3) Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam
hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak
dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.
Menurut (Majid, 2008) mengatakan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk
yang digunakan untuk membantu guru atau instructor dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tertulis. Dengan
bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi dasar secara
runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif dapat menguasai materi secara
utuh dan terpadu.
Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)

Petunjuk belajar
Kompetensi yang akan dicapai
Informasi pendukung
Latihan-latihan
Petunjuk kerja, dapat berupa Latihan Kerja (LK)
3

6) Evaluasi
Menurut

National

Centre

for

Competency

Based

Training

(2007), pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan
yang dimaksudkan dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Pandangan
dari ahli lainnya mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta suatu
lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa belajar. Menurut Panen (2001)
mengungkapkan bahwa bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi pelajaran
yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam
proses pembelajaran (Andi,2011:16).
Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa materi adalah segala
sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan suatu ilmu dan pengetahuan
administrasi perkantoran untuk megubah pola pikir dan meningkatkan keterampilan
peserta didik. Materi pembelajaran mencakup mata pelajaran baik normative
(kelompok A), adaptif (kelompok B), maupun produktif (kelompok C).
Berikut adalah mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa/peserta didik
Administrasi Perkantoran:
KELAS
MATA PELAJARAN

XI

XII

Kelompok A
1

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Bahasa Indonesia

Matematika

Sejarah Indonesia

Bahasa Inggris

Kelompok B
7

Seni Budaya

Kewirausahaan

Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

KELAS
MATA PELAJARAN
Jumlah A dan B

XI

XII

22

22

21

21

16

16

Kelompok C (Peminatan)
C1. Dasar Bidang Keahlian
10

Simulasi Digital

11

Ekonomi Bisnis

12

Administrasi

C2. Dasar Program Keahlian


13

Otomatisasi Perkantoran

14

Korespondensi

15

Kearsipan

C3. Paket Keahlian


16

Administrasi Kepegawaian

17

Administrasi Keuangan

18

Administrasi Sarana dan Prasarana

19

Administrasi Humas dan Keprotokolan

20

Pengembangan Produk Kreatif

Jumlah C1,C2 dan C3

26

26

27

27

32

32

TOTAL

48

48

48

48

48

48

2.1.2

Pengembangan Bahan Ajar


Pengembangan suatu bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan
siswa. Terdapat sejumlah alasan mengapa perlu dilakukan pengembangan bahan
ajar, seperti yang disebutkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas
(2008: 8-9) sebagai berikut.
1. Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang
dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum
2. Karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuaikan
dengan karakteristik siswa sebagai sasaran, karakteristik tersebut meliputi
lingkungan sosial, budaya, geografis maupun tahapan perkembangan siswa\
5

3. Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah


atau kesulitan dalam belajar.
Dengan

demikian,

pengembangan

bahan

ajar

di

sekolah

perlu

memperhatikan karakteristik siswa dan kebutuhan siswa sesuai kurikulum, yaitu


menuntut adanya partisipasi dan aktivasi siswa lebih banyak dalam pembelajaran.
Pengembangan lembar kegiatan siswa menjadi salah satu alternatif bahan ajar yang
akan bermanfaat bagi siswa menguasai kompetensi tertentu, karena lembar kegiatan
siswa dapat membantu siswa menambah informasi tentang materi yang dipelajari
melalui kegiatan belajar secara sistematis.
2.1.3

Jenis Bahan Ajar


Jenis bahan ajar dibedakan atas beberapa kriteria pengelompokan. Menurut
Koesnandar (2008), jenis bahan ajar berdasarkan subjeknya terdiri dari dua jenis
antara lain: (a) bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar, seperti buku,
handouts, LKS dan modul; (b) bahan ajar yang tidak dirancang namun dapat
dimanfaatkan untuk belajar, misalnya kliping, koran, film, iklan atau berita.
Koesnandar juga menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya, maka bahan ajar
yang dirancang terdiri atas tiga kelompok yaitu bahan presentasi, bahan referensi,
dan bahan belajar mandiri.
Berdasarkan teknologi yang digunakan, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Atas (2008: 11) mengelompokkan bahan ajar menjadi empat kategori,
yaitu bahan ajar cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kegiatan
siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, dan model/maket. Bahan ajar dengar
(audio) antara lain kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar
pandang dengar ( audio visual) seperti video compact disk, dan film. Bahan ajar
multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer
Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif dan
bahan ajar berbasis web (web based learning material).

2.1.4

Prinsip-prinsip Memilih Bahan Ajar


Prinsip-prinsip dalam pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran
meliputi:
a. relevansi,
b. konsistensi,
c. kecukupan.
Prinsip relevansi artinya materi pembelajaran hendaknya relevan memiliki
keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip
konsistensi artinya adanya keajegan antara bahan ajar dengan kompetensi dasar
yang harus dikuasai siswa. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa
empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat
macam. Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit
akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang
tidak perlu untuk mempelajarinya.

2.1.5 Langkah-langkah Memilih Bahan Ajar


Materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus
dipelajari siswa hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar
menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis
besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi :
1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar;
2. Mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar;
3. Memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi dan;
4. Memilih sumber bahan ajar.

Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan


sebagai berikut:
Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu
diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus
dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek
standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbedabeda dalam kegiatan pembelajaran.
Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran. Sejalan dengan berbagai jenis
aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis
materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek
kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep,
prinsip dan prosedur. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek,
nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen
suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa pengertian, definisi,
hakekat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium,
paradigma, teorema. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan
sesuatu secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur
asin atau cara-cara pembuatan bel listrik. Materi pembelajaran aspek afektif
meliputi: pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin, dan rutin.
Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Materi yang akan diajarkan `perlu diidentifikasi apakah termasuk
jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu
jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka
guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis
materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi
tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus
dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan
8

mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi


pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbedabeda. Misalnya, metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan
menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics), sedangkan
metode untuk mengajarkan prosedur adalah demonstrasi.
Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan
sumber bahan ajar. Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat
diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk
mencarinya, sesuai dengan prinsip pembelajaran siswa aktif. Berbagai sumber
dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud dapat disebutkan di
bawah ini:
1. Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit . Gunakan sebanyak mungkin
buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas,
2. Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para
peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau
mutakhir,
3. Jurnal penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah. Jurnal-jurnal tersebut
berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya
masing-masing yang telah dikaji kebenarannya,
4. Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar yang
dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang
lingkup, kedalaman, urutan, dan lain sebagainya,
5. Profesional yaitu orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu.
6. Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena
berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi
bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum
hanya berisikan pokok-pokok materi.
7. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulananyang banyak berisikan
informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu mata pelajaran,

8. Internet yang yang banyak ditemui segala macam sumber bahan ajar. Bahkan
satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui
internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi,
9. Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis
mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di
hutan belantara melalui siaran televisi, dan lingkungan ( alam, sosial,
senibudaya, teknik, industri, ekonomi).
Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis kompetensi,
buku-buku atau terbitan tersebut hanya merupakan bahan rujukan. Artinya, tidaklah
tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber
bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap
pergantian semester atau pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku teks
yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber yang relevan
dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar bukanlah
menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi. Karena itu,
hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru, sumber utama
untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku penunjang
yang lain.
2.1.5 Menentukan Cakupan dan Urutan Bahan Ajar
a. Menentuan cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus
diperhatikan apakah jenis materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip,
prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik. Selain itu, perlu diperhatikan
pula prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi
pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan
cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak materi-materi yang
dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi
menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus
dipelajari/dikuasai oleh siswa. Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan
10

(adequacy). Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu


diperhatikan dalam pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi
pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar
yang telah ditentukan. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk
mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu
sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin
dicapai.
b. Menentukan urutan bahan ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk menentukan
urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara
beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat
(prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya materi
operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan
mengalami kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum
dipelajari. Dan siswa akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan
belum dipelajari.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta
kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu: pendekatan
prosedural, dan hierarkis. Pendekatan prosedural yaitu urutan materi pembelajaran
secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan
langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah menelpon,
langkah-langkah mengoperasikan peralatan kamera video. Sedangkan pendekatan
hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau
dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat
untuk mempelajari materi berikutnya.
2.1.6 Materi Prasyarat, Materi Perbaikan, Materi Pengayaan
Dalam mempelajari materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar
terdapat beberapa kemungkinan pada diri siswa, yaitu siswa belum siap bekal
11

pengetahuannya, siswa mengalami kesulitan, atau siswa dengan cepat menguasai


materi pembelajaran. Kemungkinan pertama siswa belum memiliki pengetahuan
psyarat. Pengetahuan prasyarat adalah bekal pengetahuan yang diperlukan untuk
mempelajari suatu bahan ajar baru. Misalnya, untuk mempelajari perkalian siswa
harus sudah mempelajari penjumlahan. Untuk mengetahui apakah siswa telah
memiliki pengetahuan prasyarat, guru harus mengadakan tes prasyarat (prequisite
test). Jika berdasar tes tersebut siswa belum memiliki pengetahuan prasyarat, maka
siswa tersebut harus diberi materi atau bahan pembekalan. Bahan pembekalan
(matrikulasi) dapat diambil dari materi atau modul di bawahnya.
Dalam menghadapi kemungkinan kedua, yaitu siswa mengalami kesulitan
atau hambatan dalam menguasai materi pembelajaran, guru harus menyediakan
materi perbaikan (remedial). Materi pembelajaran remedial disusun lebih
sederhana, lebih rinci, diberi banyak penjelasan dan contoh agar mudah ditangkap
oleh siswa. Untuk keperluan remedial perlu disediakan modul remidial. Dalam
menghadapi kemungkinan ketiga, yaitu siswa dapat dengan cepat dan mudah
menguasai materi pembelajaran, guru harus menyediakan bahan pengayaan
(enrichment). Materi pengayaan berbentuk pendalaman dan perluasan. Materi
pengayaan baik untuk pendalaman maupun perluasan wawasan dapat diambilkan
dari buku rujukan lain yang relevan atau disediakan modul pengayaan. Selain
pengayaan, perlu dipertimbangkan adanya akselerasi alami di mana siswa
dimungkinkan untuk mengambil pelajaran berikutnya. Untuk keperluan ini perlu
disediakan bahan atau modul akselerasi.
2.2.

Metode Pembelajaran
2.2.1 Pengertian
Sebelum memahami Metode Pembelajaran secara menyeluruh, ada baiknya
kita terlebih dahulu memahami pengertian dari masing-masing kata tersebut secara
persial. Pertama mengenai pengertian metode dari beberapa sumber buku, yaitu
sebagai berikut. Secara sederhana yang dimaksud dengan metode adalah suatu cara
yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam kegiatan
12

belajar mengajar metode dinperlukan oleh guru dengan penggunaan yang bervariasi
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang baik belum tentu
memberikan hasil yang baiktanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai
dengan tujuan dan materi pelajaran.
Menurut (Hamalik, 2008, p. 26) metode adalah cara yang digunakan untuk
menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Suatu
metode mengandung pengertian terlaksananya kegiatan guru dan kegiatan siswa
dalam proses pembelajaran. Metode dilaksanakan melalui prosedur tertentu.
Menurut (Majid, 2008) metode adalah proses belajar mengajar yang
dilakukan dengan cara interaksi antara guru dengan peserta didik dalam suatu
pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang
digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran untuk peserta didik,
sehingga dapat tercapainya suatu tujuan kurikulum yang diharapkan. Metode
pembelajaran harus dikuasai oleh seorang guru sehingga materi dapat tersampaikan
kepada peserta didik dengan baik, metode pembelajaran ini juga disesuiakan
dengan materi-materi yang akan disampaikan. Selain itu, ada pula beberapa
pengertian mengenai pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Menurut

(Hamalik, 2008) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang

tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan


prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut (Majid, 2008) pembelajaran merupakan suatu proses yang
dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta
didik untuk memiliki pengalaman belajar.
Dari pengertian pembelajaran menurut beberapa sumber yang telah
dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses
13

dimana terjadinya interaksi antara komponen-komponen atau unsur-unsur sistem


pembelajaran agar dalam pelaksanaannya dapat tercapai hasil yang diharapkan.
Setelah memahmi berbagai pengertian dari metode dan pembelajaran, maka
dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu proses atau cara
yang dilakukan oleh seorang guru atau pendidik dengan segala kemampuan yang
dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola piker anak didiknya dari yang
tidak tahu menjadi tahu serta mampu mendewasakan anak didiknya, salah satunya
dengan mengajar di kelas atau performance seorang guru untuk dapat menguasai
keadaan kelas sehingga dapat terciptanya suasana belajar yang menyenangkan
dengan

menerapkan metode pembelajaran yang sesuai karakteristik peserta

didiknya.
Metode Pembelajaran adalah strategi pembelajaran atau cara yang
digunakan oleh guru sebagai media untuk menyampaikan materi pembelajaran
sehingga dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.2.2 Macam macam Metode Pembelajaran
Pada dasarnya di dalam sebuah metode pembelajaran tentu banyak macammacam dan jenisnya, setiap jenis metode pembelajaran mempunyai kelemahan dan
kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam metode saja,
mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini masih
banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Menurut (Sudjana, 1989) dan
(Simamora R. H., 2009), terdapat macam-macam metode pembelajaran antara lain
sebagai berikut:
a. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan
pembelajaran

kepada

sekelompok

pendengar

untuk

mencapai

tujuan

pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh
Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan
metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk
14

digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk


penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut
sukar didapatkan.
b. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta
atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling
mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan
kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi
merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode
ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep
dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan,
penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah.
Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas
pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
c. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang
sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan

seperti:

Bagaimana

cara

mengaturnya?

Bagaimana

proses

bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode


pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang
luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh
kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara
membuat kue, dan sebagainya.
d. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang
menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang diinasikan
dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
1. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
2. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
3. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
e. Metode Resitasi
Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan
mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan Metode Resitasi adalah :

15

1.

Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri

2.

akan dapat diingat lebih lama.


Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian,
inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :

3.

Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik


hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah

mengerjakan sendiri.
4.
Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
5.
Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
f. Metode Eksperimental
Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan
pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami
dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa
diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan
mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan
menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
g. Metode Study tour\
Metode Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan
mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan
dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta
membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
h. Metode latihan keterampilan
Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar
dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik,
dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses
tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute).
Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang
otomatis pada peserta didik.
i. Metode pembelajaran beregu
Metode pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana
pendidiknya

lebih

dari

satu

orang

yang

masing-masing

mempunyai

tugas.Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara


pengujiannya,setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan
16

maka setiapsiswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik
tersebut
j. Metode Peer Theaching
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu
suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
k. Metode problem solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya
sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir,
sebabdalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang
dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir
danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan
olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk
mencobamengeluarkan pendapatnya.
l. Project Method
Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode mengajar
dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai
obyek kajian.
m. Teileren Method
Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan
sebagian-sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat
lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya
n. Metode Global
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh
membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka
serap atau ambil intisaridari materi tersebut.

2.2.3

Metode Pembelajaran Kurikulum 2013


a. Pendekatan Saintifik
Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan
pendekatan saintifik, yaitu:
1. Mengamati

17

Mengamati dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan mencari informasi,


melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
2. Menanya
Menanya untuk membangun pengetahuan peserta didik secara faktual,
konseptual, dan prosedural, hingga berpikir metakognitif, dapat dilakukan
melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas.
3. Mencoba
Mengeksplor/mengumpulkan informasi, atau mencoba untuk meningkatkan
keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dapat dilakukan
melalui membaca, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu,
memperoleh informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya dalam bentuk
tulisan, lisan, atau gambar.
4. Mengasosiasi
Mengasosiasi dapat dilakukan

melalui

kegiatan

menganalisis

data,

mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/


mengestimasi.
5. Mengkomunikasikan
Mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik, dapat
dilakukan melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk kerja.
b. Model Pembelajaran
Pengertian model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model
pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran. Ada banyak model pembelajaran dan beberapa yang
disarankan di dalam kurikulum 2013 diantaranya adalah:
a) Inquiry Based Learning
IBL adalah suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan
(informasi), atau mempelajari suatu gejala. Berikut adalah langkah-langkah
pembelajaran inquiry learning:

1. Observasi/Mengamati;
18

2. Mengajukan pertanyaan;
3. Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban/ mengasosiasi atau
melakukan penalaran;
4. Mengumpulkan data yang terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang
diajukan/memprediksi dugaan;
5. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah
atau dianalisis, mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.
b) Discovery Based Learning
Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran
yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk
finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Berikut adalah langkahlangkah pembelajaran discovery learning:
1. Stimulation (memberi stimulus); bacaan, atau gambar, atau situasi, sesuai
dengan materi pembelajaran/topik/tema.
2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah); menemukan permasalahan
menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.
3. Data Collecting (mengumpulkan data); mencari dan mengumpulkan
data/informasi, melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran, mencari atau
merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah
4. Data Processing (mengolah data); mencoba dan
pengetahuan konseptualnya,

mengeksplorasi

melatih keterampilan berfikir logis dan

aplikatif.
5. Verification (memferifikasi); mengecek kebenaran atau keabsahan hasil
pengolahan data, mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media,
mengasosiasikannya menjadi suatu kesimpulan.
6. Generalization (menyimpulkan); melatih pengetahuan metakognisi peserta
didik.
c) Project Based Learning
Pembelajaran berbasis proyek telah dikaitkan dengan situated
learning dari perspektif James G. Greeno (2006) dan pada teori konstruktivis
Jean Piaget. Sebuah deskripsi yang lebih tepat dari proses PjBL yang
diberikan oleh Blumenfeld et al. mengatakan bahwa, Pelajaran berbasis
proyek adalah perspektif yang komprehensif berfokus pada pengajaran dengan
melibatkan siswa dalam penyelidikan.

19

PjBL (project-based learning) adalah model pembelajaran yang


mengorganisir pembelajaran disekitar proyek. Proyek adalah tugas yang
kompleks, berdasarkan pertanyaan menantang atau masalah, yang melibatkan
siswa dalam desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau
kegiatan investigasi; memberikan siswa kesempatan untuk bekerja relatif
otonom selama jangka waktu yang diperpanjang; dan berujung pada produk
yang realistis atau presentasi.
Di dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa menjadi terdorong lebih
aktif di dalam belajar mereka. Produk yang dibuat siswa selama proyek
memberikan hasil yang secara otentik dapat diukur oleh guru atau instruktur di
dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, di dalam Pembelajaran Berbasis
Proyek, guru atau instruktur menjadi pendamping, fasilitator, dan dituntut
untuk memahami pikiran siswa.
Ketika siswa bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan
merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang
isu-isu tugas yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap
tugas,

dan

bagaimana

informasi

akan

dikumpulkan

dan

disajikan.

Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini merupakan


keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya, dan sebagai
tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja.
Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan
keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. Di dalam kerja kelompok
suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja
tim sebagai suatu keseluruhan.
Tahapan Project Based Learning
1. Menentukan pertanyaan dasar (Essential question); Model pembelajaran berbasis
proyek selalu dimulai dengan menemukan apa sebenarnya pertanyaan mendasar,
yang nantinya akan menjadi dasar untuk memberikan tugas proyek bagi siswa
(melakukan aktivitas). Tentu saja topik yang dipakai harus pula berhubungan
dengan dunia nyata.
2. Membuat desain proyek (Designing Project Plan); Selanjutnya dengan dibantu
guru, kelompok-kelompok siswa akan merancang aktivitas yang akan dilakukan
20

pada proyek mereka masing-masing. Semakin besar keterlibatan dan ide-ide siswa
(kelompok siswa) yang digunakan dalam proyek itu, akan semakin besar pula rasa
memiliki mereka terhadap proyek tersebut.
3. Menyusun penjadwalan (Creating Schedule); Selanjutnya, guru dan siswa
menentukan batasan waktu yang diberikan dalam penyelesaian tugas (aktivitas)
proyek mereka.
4. Memonitor kemajuan proyek (Monitor the progress); Dalam berjalannya waktu,
siswa melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari persiapan pelaksanaan proyek
mereka hingga melaporkannya sementara guru memonitor dan memantau
perkembangan proyek kelompok-kelompok siswa dan memberikan pembimbingan
yang dibutuhkan.
5. Penilaian hasil (Assess the outcome); Pada tahap berikutnya, setelah siswa
melaporkan hasil proyek yang mereka lakukan, guru menilai pencapaian yang
siswa peroleh baik dari segi pengetahuan (knowledge) terkait konsep yang relevan
dengan topik, hingga keterampilan dan sikap yang mengiringinya.
6. Evaluasi pengalaman (Evaluate the experiment). Terakhir, guru kemudian
memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksi semua kegiatan
(aktivitas) dalam pembelajaran berbasis proyek yang telah mereka lakukan agar di
lain kesempatan pembelajaran dan aktivitas penyelesaian proyek menjadi lebih
baik lagi.
Kriteria Project Based Learning:
1. Sentralitas (centrality), belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui
proyek. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada
pertanyaan atau masalah, yang mendorong siswa menjalani dengan kerja keras
konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat
halus dan agak susah diraba. Definisi proyek (bagi siswa) harus dibuat sedemikian
rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang
melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam.
2. Pertanyaan mengemudi (driving question), Biasanya dilakukan dengan pengajuan
pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem. Proyek dalam Pembelajaran
Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik, atau gabungan
(intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin, tetapi itu belum sepenuhnya
dapat dikatakan sebuah proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar siswa,
sepadan dengan aktivitas, produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka,
harus digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual.
21

3. Investigasi konstruktif (constructive investigations), Proyek melibatkan siswa


dalam investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain,
pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, discovery, atau
proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek yang
memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari proyek itu
harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian:
pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada pihak siswa. Jika pusat atau inti
kegiatan proyek tidak menyajikan tingkat kesulitan bagi anak, atau dapat
dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari,
proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan, dan bukan proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud.
4. Otonomi (autonomy); Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan,
waktu kerja yang tidak bersifat rigid, dan tanggung jawab siswa daripada proyek
tradisional dan pembelajaran tradisional.
5. Realism; Proyek adalah realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan
pada siswa. Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang
dimainkan siswa, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator yang
bekerja dengan siswa dalam proyek, produk yang dihasilkan, audien bagi produkproduk proyek, atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai.
Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata,
berfokus pada pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif), dan
pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
d) Problem Based Learning
PBL (Problem-based learning) merupakan model pembelajaran yang
berpusat pada siswa dimana siswa secara aktif belajar melalui pemecahan masalah.
Yang menjadi esensi dari PBL adalah siswa dituntut belajar mengenai strategi berfikir
sekaligus belajar materi pelajaran, melalui pemecahan masalah yang sesuai dengan
permasalah kehidupan nyata. Permasalahan dunia nyata (real world) inilah yang
membuat PBL menjadi menarik dan membuat tingginya tingkat minat siswa[15].
Sifat metode ini merangsang rasa ingin tahu dan mendorong keterlibatan. Namun,
Alasan utama PBL efektif adalah karena membuat siswa menggunakan kemampuan
berpikir tingkat tinggi. Tidak seperti hanya memecahkan teka-teki yang ditawarkan
oleh guru, menemukan jawaban untuk masalah di dunia nyata memiliki factor
tambahan yang memuaskan dalam arti bahwa siswa membuat kontribusi.

22

Barrow mendefiniskan model pembelajaran PBL sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning);


Pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil, idealnya 6-10 orang;
Guru bertindak sebagai fasilitator atau tutor yang membimbing siswa;
Permasalah merangsang pembelajaran berdasarkan fokus yang dibangun dan

ditentukan oleh kelompok;


5. Permasalahan adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan
masalah yang merangsang proses kognitif;
6. Pengetahuan baru diperoleh melalui diri pribadi siswa (self directed learning).
Tahapan Problem Based Learning
Tahap 1: Penyampaian Ide (Ideas)
Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). Siswa
merekam semua daftar masalah (gagasan, ide) yang akan dipecahkan. Mereka
kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang dikemukakan
atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan
dipecahkan (masalah aktual, atau masalah yang relevan dengan kurikulum), dan
menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah.
Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts)
Pada tahap ini, mereka diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai
dengan masalah yang telah diajukan. Tahap ini membantu mengklarifikasi kesulitan
yang diangkat dalam masalah. Tahap ini mungkin juga mencakup pengetahuan yang
telah dimiliki oleh mereka berkenaan dengan isu-isu khusus.
Tahap 3: Mempelajari Masalah (Learning Issues)
Siswa diajak menjawab pertanyaan tentang, Apa yang perlu kita ketahui
untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?. Setelah melakukan diskusi dan
konsultasi, mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan
informasi. Siswa melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih
dapat dipakai. Seringkali, pada saat para siswa menyampaikan masalah-masalah,
mereka menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah. Dengan demikian,
hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang

23

tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan
masalah.
Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)
Pada tahap ini, siswa diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang
didasarkan atas hasil temuan mereka. Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana)
apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saran-saran untuk
memecahkan masalah.
Tahap 5: Evaluasi
Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana siswa dan evaluator
menilai produk (hasil akhir)

proses, 2) bagaimana mereka menerapkan tahapan

proses belajar mengajar untuk bekerja melalui masalah, dan 3) bagaimana siswa akan
menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk
pertanggung jawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau responrespon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau
verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Evaluator
menilai penguasaan bahan-bahan kajian pada tahap tersebut melalui siswa.
Karakteristik Problem Based Learning

1. Autentik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari
pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu;

2. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan
masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya akan menyulitkan penyelesaian siswa
itu sendiri;

3. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami


siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan
siswa;
4. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan
dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh
materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang
tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan;

5. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah


bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat
24

masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan


kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi
belajar siswa.

2.3.

Media Pembelajaran
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar.
Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar.
Menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
Kemudian menurut National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media
pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar,
termasuk teknologi perangkat keras.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu
sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah
satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan
proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara
optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran
Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang melliputi pesan,
orang, dan peralatan. Menurut syaifulbahri djamarah dan aswan zain,media merupakan
wahana penyalur informasi belajar atau informasi pesan. Media yang digunakan dalam
pembelajaran beraneka ragam. Seseorang guru harus dapat memilih salah satu media
pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan atau
pemilihan media harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai.
Menurut (Mulyanta dan Marlon Leong, 2013, hal. 3) Kriteria media pembelajaran
yang baik idealnya meliputi 4 hal utama, yaitu:

25

1) Kesesuaian atau relevansi, artinya media pembelajaran harus sesuai dengan


kebutuhan belajar, rencana kegiatan belajar, progam kegiatan belajar, tujuan belajar
dan karakteristik peserta didik.
2) Kemudahan artinya semua isi pembelajaran melalui media harus mudah dimengerti,
dipelajari atau dipahami oleh peserta didik dan sangat oprasional dalam
penggunaannya.
3) Kemenarikan, artinya media pembelajaran harus mampu menarik maupun
merangsang perhatian peserta didik, baik tampilan, pilihan warna dan maupun isinya.
Uraian isi tidak membingungkan serta dapat menggunggah minat peserta didik untuk
menggunakan media tersebut.
4) Kemanfaatan, artinya isi dari media pembelajaran harus bernilai atau berguna,
mengandung manfaat bagi pemahaman materi pembelajaran serta tidak mubazir atau
sia-sia apalagi merusak peserta didik.
Menurut (Djamarah, 2002:140) menggolongkan media pembelajaran menjadi tiga yaitu:
1) Media auditif yaitu media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio,
kaset rekorder.
2) Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan karena
hanya menampilkan gambar diam seperti film bingkai, foto, gambar, atau lukisan.
3) Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik.
Selanjutnya (Sadiman, 2008:28) membagi media pembelajaran menjadi 3 golongan
kelompok besar :
1) Media Grafis termasuk media visual seperti gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart,
grafik, kartun, poster, peta, dan globe.

26

2) Media Audio berkaitan dengan indera pendengaran. Seperti radio, alat perekam piata
magnetik, piringan laboratorium bahasa.
3) Media Proyeksi Diam seperti film bingkai (slide), film rangkai (film strip), media
transparan, film, televisi, video.
Berdasarkan pendapat di atas, maka media pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1) Media Audio
Media Audio adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran.
Dilihat dari sifat pesan yang diterima, media audio dapat menyampaikan pesan verbal
(bahasa lisan atau kata-kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi). Media
audio berfungsi untuk menyalurkan audio dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang
disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif verbal, nonverbal, maupun
kombinasinya. Media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Jenis media yang
dapat digunakan dalam media audio antara lain radio, telepon, labaroratorium bahasa,
tape recorder, dan rekaman tulisan jauh.
2) Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual
menampilan materialnya dengan menggunakan alat proyeksi atau proyektor, karena
melalui media ini perangkat lunak (soft ware) yang melengkapi alat proyeksi ini akan
dihasilkan suatu bias cahaya atau gambar yang sesuai dengan materi yang diinginkan.
Media visual dibedakan menjadi dua yaitu media visual diam dan media visual gerak.
Jenis media yang dapat digolongkan atau diklasifikasikan ke dalam media visual diam
antara lain: foto, ilustrasi, grafik, bagan, poster, peta dan globe. Sedangkan media visual
gerak meliputi gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan sebagainya.
3) Media Audio-Visual
Media audio-visual disebaut juga sebagai media video. Video merupakan media yang
digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua
unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan
siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur
27

visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi. Jenis media
yang digunakan dalam media audio visual antara lain televisi (TV), film dan video.
a) TV
Televisi adalah media yang menyampaikan pesan melalui gambar gerak yang
dilengkapi dengan suara. Dalam perkembangnya ada beberapa alternatif jaringan
televisi yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar-mengajar. Jaringan
yang dimaksud antara lain: TVRI dan TV Pendidikan.
b) Film
Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame
demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada
layar terlihat gambar itu hidup. Kemampuan film melukiskan gambar hidup dan
suara memberinya daya tarik tersendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya
digunakan untuk tujuan-tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka
dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep
yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu,
dan mempengaruhi sikap.
c) Video
Video sebagai media audio visual yang menampilkan gerak, semakin lama
semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan dapat bersifat fakta
(kejadian/ peristiwa penting, berita), maupun fiktif (seperti misalnya cerita), bisa
bersifat informatif, edukatif maupun intruksional. Sebagian besar tugas film dapat
digantikan oleh video, namun tidak berarti bahwa video akan menggantikan
kedudukan film. Masing-masing memiliki keterbatasan dan kelebihan sendiri.
2.4.

Implementasi Metode dan Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran


Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan.
Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi
sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70)
mengemukakan

bahwa

implementasi

adalah

perluasan

aktivitas

yang

saling

menyesuaikan. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan


juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert
(dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa implementasi adalah sistem
rekayasa.

28

Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara


pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan
mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu
kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan
norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, implementasi tidak
berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh obyek berikutnya yaitu kurikulum.
Implementasi metode dan media pembelajaran yaitu aktivitas yang dilaksanak
oleh

guru

untuk

menyampaikan

materi-materi

yang

dalam

penyampaiannya

menggunakan beberapa metode-metode dan beberapa media untuk mendukung


keberlangsungan belajar mengajar di kelas. Sehingga tujuan yang telah ditetapkan akan
tercapai, dalam mengimplementasikan metode dan media pembelajaran harus
memperhatikan kondisi siswa, kelas, dan sarana da prasarana. Selain itu implementasi
metode dan media mempunyai rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya, guru harus
merencanakan metode dan media yang akan dijalankan di kelas. Sehingga kelas akan
menjadi kelas yang diharapkan, dimana siswa dapat aktif di kelas.
2.4.1

Implementasi Metode Pembelajaran Administrasi Perkantoran


Faktor-faktor

tujuan,

materi,

siswa,

fasilitas,

waktu

dan

guru

mempengaruhi metode pembelajaran. Karena faktor-faktor tersebut saling


mempengaruhi satu sama lain sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi efektif.
Semua guru perlu memperhatikan hal-hal tersebut, mana yang paling utama,
apabila fasilitas memang tidak terlalu terpenuhi secara ideal tapi guru harus
mampu mengatasi kurangnya fasilitas dengan metode yang sesuai dengan kondisi
kelas.
Metode pembelajaran yang sesuai harus dapat melihat tujuan pendidikan,
dalam tujuan pendidikan yaitu mencapai kompetensi siswa atau peserta didik,
sesuai dengan indikator yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Aspek
sikap (spritual sosial) spritual menanamkan peserta didik menjadi religius kepada
Tuhan. Sosial peserta didik atau siswa memiliki nilai-nilai etika dalam pergaulan
antara siswa dengan temannya, siswa dengan guru di lingkungan sekolah dan juga

29

di lingkungan sehari-hari siswa dapat berinteraksi dengan masyarakat.


Pengetahuan tujuannya untuk menambah ilmu wawasan.
Contoh metode pembelajaran pada jurusan Administrasi Perkantoran SMK
dari mata pelajaran administrasi humas dan keprotokolan. Yaitu :
1) Aspek pengetahuan, guru menjelaskan materi dengan metode presentasi dan
tanya jawab setelah itu siswa menjelaskan pemahaman tentang rapat melalui
tes tertulis.
2) Aspek keterampilan yaitu dengan metode diskusi kelompok dengan
mempraktekan rapat.
3) Aspek sikap dapat tercapai dari praktek rapat yaitu diharapkan dapat mencapi
KI 1 dan KI 2.
Metode pembelajan yang dilaksanakan di kelas harus sesuai dengan materi
pembelajaran itu sendiri karena pencapaian tujuan dari setiap materi yang
berbeda-beda, ada materi yang mengandalkan pengetahuan saja, keterampilan
saja. Tetapi untuk sikap setiap materi harus menanamkan sikap atau membentuk
karakter peserta didik menjadi lebih baik.
Dalam karakteristik setiap ilmu pasti berbeda, tentunya berbeda pula
metode dari yang digunakan. Ilmu atau mata pelajaran dibagi menjadi tiga yaitu,
mata pelajaran normatif, adaktif, dan produktif.
Dalam mata pelajaran produktif lebih ditekankan karena memiliki
karakteristik dari suatu jurusan tertentu seperti contohnya dalam jurusan
Administrasi Perkantoran pada mata pelajaran produktif otomatisasi perkantoran
yang dalam penyelenggaraannya 70% praktek dan 30% teori. Dalam prakteknya
yaitu di lab komputer.
Ilmu yang berbeda atau mata pelajaran yang berbeda memunculkan
metode pembelajaran yang berbeda, di kurikulum 2013 terkenal dengan metode
inquiry based learning, Discovery based learnig, project based learning dan
problem based learing.

30

Dalam jurusan administrasi perkantoran di sekolah kejuruan, terdapat


beberapak mata pelajaran termasuk mata pelajaran kearsipan. Dari suatu sumber
pernelitian dijelaskan bahwa metode pembelajaran yang digunakan pada mata
pelajaran kearsipan yaitu metode demontrasi. Karena dalam metode demontrasi,
guru memperagakan langsung suatu hal yang kemudian diikuti oleh siswa
sehingga ilmu atau keterampilan yang di demontrasikan lebih dapat bermakna
dalam ingatan masing-masing siswa.
Langkah-langkah demonstrasi dalam penelitian ini sebagai berikut:
a) Guru membuka pelajaran.
b) Selanjutnya guru menjelaskan terlebih dahulu materi apa yang akan
didemonstrasikan, agar dalam pelaksanaanya nanti siswa menjadi lebih paham
akan materi yang didemonstrasikan.
c) Guru mendemonstrasikan suatu materi dengan jelas sesuai dengan kegiatan
yang sebenarnya secara sistematis.
d) Kemudian siswa diminta memperagakan apa yang telah didemonstrasikan
oleh guru.
e) Siswa yang lain mengamati dan memberikan sanggahan apabila ada satu
langkah yang kurang sesuai dengan apa yang harusnya dilakukan.
f) Selanjutnya guru yang memberikan penengahan akan kesalahan siswa yang
memperagakan suatu kegiatan, agar siswa tahu kebenaran akan kegiatan
tersebut.
g) Evaluasi atau penilaian.
Metode pembelajaran eksperimental turut memberikan cara guru
memberikan materi dimana metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara
pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan
mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya.
Pembekalan sebelum terjun ke dunia kerja, di SMK dikenal dengan
Praktek Kerja Lapangan agar dapat mengimplementasikan yang dipelajari di
sekolah dengan dunia kerja. Magang selama 3 bulan di instansi pemerintahan atau
perusahaan, disana siswa ditempatkan sesuai keterampilan. Contoh jurusan
Administrasi Perkantoran ditempatkan di bagian administrasi atau bagian

31

kesarsipan. Apabila telah selesai, peserta didik membuat laporan lalu di


presentasikan di depan guru.
2.4.2

Implementasi Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran


Media pembelajaran memiliki peran penting pada proses belajar mengajar
di dalam kelas. Media pembelajaran membantu seorang guru dalam
menyampaikan materi. Selain itu penggunaan media pembelajaran yang tepat dan
inovatif dapat membantu siswa memahami materi yang disampaikan dengan
mudah.
Media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi, kondisi kelas, dan
fasilitas yang tersedia akan membuat kegiatan belajar mengajar bagi siswa lebih
mudah untuk pemahaman materi dan keterampilan siswa. Selain itu media
pembelajaran harus inovatif, guru harus lebih berinovasi dalam memanfaatkan
media yang tersedia. Walaupun dirasa media yang tersedia kurang. Memang benar
kondisi setiap sekolah berbeda-beda dalam hal sarana dan prasarana, idealnya
media yang digunakan oleh guru di dalam kelas harus mengikuti perkembangan
teknologi sehingga dampak bagi siswa akan positif. Dengan perkembangan
teknologi ini diharapkan dapat memberikan dampak juga bagi keberlangsungan
pendidikan.
Jenis-jenis media pembelajaran menurut (MKDP, 2011, hal. 162). Ada
beberapa jenis media pembelajaran. Jenis-jenis media pembelajaran tersebut dapat
dimanfaatkan oleh seorang guru di jurusan Administrasi Perkantoran SMK.
Yaitu :
a) Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan
indra penglihatan. Contohnya : media buku, modul, Lembar Kerja Siswa,
power point, papan tulis, E-learning.
b) Media audio-visual, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau
biasa disebut media pandang-dengar. Contohnya : penampilan video, televisi
pendidikan.
Media ini sangat membantu bagi guru apabila guru kurang sarana untuk
memprakteken suatu materi, guru dapat menggunakan video yang
memberikan informasi mengenai praktek yang sesuai dengan materi sehingga
32

guru tidak perlu mempraktekan hal tersebut. Dimana siswa sudah memperoleh
gambaran dari video yang ditampilkan oleh guru.
c) Media objek dan media interaktif
Media objek merupakan media tiga dimensi yang menyampaikan informasi
tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri fisiknya sendiri, seperti
ukuran, bentuk, berat susunan, warna, fungsi dan sebagainya.
Media interaktif, karakteristik terpenting kelompok mediap ini adalah bahwa
sistem tidak banya memerhatikan media atau objek saja, melainkan juga
dituntut untuk beriinteraksi selama mengikuti pembelajaran. Contoh :
menggunakan telepon, menggunakan komputer, menggunakan mesin fax dan
fotocopy, menggunakan mesin ketik.
Media pembelajaran dalam mata pelajaran pengantar administrasi
perkantoran menggunakan audio visual menggunakan autoplay media studio.
Saran pemanfaatan media pembelajaran audio visual berbasis Autoplay Media
Studio antara lain:
a) Sebelum menggunakan media pembelajaran, pastikan LCD proyektor sudah
diatur dengan baik agar media dapat ditampilkan dengan jelas.
b) Pada pembelajaran menggunakan media pembelajaran audio visual pastikan
sudah tersedia speaker agar siswa dapat mendengarkan sound pada media
pembelajaran dengan baik,
c) Pastikan software danhardware komputer

mendukung

untuk

membuka

komponen media pembelajaran audio visual secara keseluruhan.


d) Saat penggunaan media pembelajaran audio visual di dalam kelas, guru harus
mengawasi siswa agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Selain itu, Penggunaan pendekatan pembelajaran Scientific atau
pendekatan yang berdasarkan kurikulum 2013 yang didukung dengan
menggunakan media presentasi Prezi merupakan salah satu solusi untuk
mengatasi permasalahan dalam pembelajaran Administrasi Perkantoran.
Perlunya suatu media dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat
memahami dan mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Dalam
33

penelitian ini, peneliti menggunakan media Software Prezi merupakan salah satu
aplikasi

presentasi

yang

memiliki

Zoom

User

Interface

(ZUI)

yang

memungkinkan untuk mengeksplorasi gambaran garis besar dari suatu materi dan
aplikasi memiliki desain 3 dimensi yang membuat nantinya siswa akan dapat
mengingat kembali apa yang telah disampaikan gurunya.
Untuk pengembangan lebih lanjut media pembelajaran ini antara lain:
a) Peneliti selanjutnya diharapkan untuk memasukkan lebih banyak multimedia
yang bervariasi agar siswa lebih semangat dan termotivasi untuk belajar,
b) Peneliti selanjutnya dapat menambahkan komponen lain seperti animasi
pembuka yang lebih menarik serta video tutorial bagi siswa,
c) Peneliti selanjutnya dapat menambahkan setting untuk mengubah ukuran
tampilan media agar lebih fleksibel seperti maximize, minimize, dan full
screen guna mempermudah siswa dalam menggunakan media pembelajaran.
Fasilitas di dalam kelas memang harus sudah memadai karena di dalam
kurikulum 2013 perlu di dukung oleh teknologi, karena teknologi di jaman
sekarang merupakan suatu kebutuhan agar segala aktivitas lancar. Termasuk
dalam aktivitas pembelajaran di kelas, dan guru pun harus menguasai teknologi
agar dapat mengikuti perkembangan teknologi di dunia pendidikan. Dengan
fasilitas yang memadai diharpkan semua pihak dapat memanfaatkan hal tersebut
dengan bijak dan benar.

34

35

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Dalam mengembangkan Materi, Metode dan Media Pembelajaran Administrasi
Perkantoran tentu kita sebagai calon seorang pendidik harus dapat memahami
,mengetahui dan mampu bagaimana mengembangkan suatu materi, metode dan media
dalam pembelajaran Administrasi Perkantoran dengan berbagai inovasi yang berbeda
agar lebih berkembang.
Materi adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan suatu ilmu
dan pengetahuan administrasi perkantoran untuk megubah pola pikir dan meningkatkan
keterampilan peserta didik. Materi pembelajaran mencakup mata pelajaran baik
normative (kelompok A), adaptif (kelompok B), maupun produktif (kelompok C).
Metode adalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran
untuk peserta didik, sehingga dapat tercapainya suatu tujuan kurikulum yang diharapkan.
Media merupakan suatu wahana penyaluran informasi yang dapat disampaikan
melalui pesan atau sarana lain.
Kurikulum 2013 dirancang untuk menyiapkan lulusan program keahlian
administrasi perkantoran yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional,
dan kecerdasan spiritual secara seimbang sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja agar
dapat menjadi sekretaris professional yang kompeten dan berakhlak mulia. Maka dari itu
kita sebagai calon pendidik administrasi perkantoran harus mampu menguasai materi,
metode dan media pembelajaran yang digunakan dalam menciptakan proses
pembelajaran administrasi perkantoran yang efektif, menyenangkan, dan bermakna.

36

Daftar Pustaka
Basuki Wibawa dan Farida Mukti. (1992). MEDIA PENGAJARAN. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Drs.St. Mulyanta,M.Kom dan Marlon Leong,S.Kom.,M.Kom. (2009). MEDIA Pembelajaran.
Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Hamalik, D. O. (2008). KURIKULUM dan PEMBELAJARAN. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hariyanto.

(2011).

Macam-Macam

Metode

Pembelajaran.

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran/

[Online].
yang

Tersedia:
direkam

Desember 2011 (20 Mei 2016)


Ibnu Fajar. (2014). Model-model Pembelajaran yang Sesuai Dengan Kurikulum 2013.[Online].
Tersedia:

https://ibnufajar75.wordpress.com/2014/05/31/model-model-pembelajaran-

yang-sesuai-dengan-kurikulum-2013/ yang direkam 31 Mei 2014 (20 Mei 2016)


Majid,

A.

(2008).

PERENCANAAN

PEMBELAJARAN.

Bandung:

PT

REMAJA

ROSDAKARYA.
MKDP, T. P. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: PT RajaGrafindo Persada.
Mulyanta dan Marlon Leong. (2013). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Pembelajaran, T. P. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
Simamora, R. H. (2009). Buku Ajar Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.
Sudjana, N. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.
Wahyu, Arif Wirawan. (2015). Penerapan Media Pembelajaran Berbasis Prezi Untuk
Meningkatkan

Hasil

Belajar

Administrasi

Kepegawaian.

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/snpe/article/view/6991/4778

[Online].
yang

Tersedia
direkam

:
7

Novermber 2015 (2 Agustus 2016)


37

Matrik Pembagian Tugas


NO
.

1.

2.

3.

4.

NAMA

Ani Yulianti

Anzela Puspita
Dewi
Chindy

Farah

Sausan

Intan Nurlita

TUGAS

KETERANGA
N

a. Mencari Materi Pembelajaran


b. Menyusun Makalah
c. Membuat Pembahasan

a. Mencari Materi 2 Model Pembelajaran


b. Menyusun Makalah
c. Menyusun PPT
a. Mencari Materi Media Pembelajaran
b. Menyusun Makalah
c. Menyusun Pembahasan
a. Mencari Materi 2 Model Pembelajaran
b. Menyusun Makalah
c. Menyusun PPT

Wibawa dan Mukti. (1991). Media Pengajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan.

38