Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebijakan lingkungan sudah tidak dapat disangkal dan merupakan
keharusan yang perlu ditingkatkan oleh industri. Kepedulian industri
lingkungan haruslah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
keseluruhan kebijakan perusahaan. Dengan semakin mengglobalnya pasar
international (era pasar global), maka industri harus dapat mengantisipasi
globalisasi pasar international tersebut. Salah satu desakan dari pasar
global adalah produk yang masuk ke pasar mereka harus diproduksi
dengan proses produksi yang ramah lingkungan (green product). Hal ini
berarti mulai dari bahan baku, teknologi proses, produk yang dihasilkan
sampai dengan limbah yang dibuang haruslah ramah terhadap lingkungan ,
dengan menghasilkan zero waste.
Berbagai jenis limbah industri B3 yang tidak memenuhi baku mutu
yang dibuang langsung ke lingkungan merupakan sumber pencemaran dan
perusakan lingkungan. Utnuk menghindari kerusakan tersebut, perlu
dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan
hidup. Salah satu komponen penting agar program tersebut dapat berjalan
adalah

dengan

diberlakukannnya

peraturan

perundang-undangan

lingkungan hidup sebagai dasar dalam menjaga kualitas lingkungan.


Dengan diberlakukannya program tersebut maka hak, kewajiban dan
kewenangan dalam pengelolaan limbah oleh setiap orang, badan usaha
maupun organisasi kemasyarakatan dijaga dan dilindungi oleh hukum.
Arah pembangunan jangka panjang Indonesia
adalah
pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri.
Berkembangnya industri khususnya industri cat disamping menghasilkan
produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat juga akan membawa
dampak negatif terhadap lingkungan hidup disekitarnya. Salah satu
dampak tersebut adalah dihasilkan air buangan. Berbagai jenis limbah

buangn yang tidak memenuhi standar baku mutu limbah merupakan


sumber pencemaran dan perusakan lingkungan yang utama.
Lingkungan yang telah tercemar dan rusak akan menimbulkan dan
meningkatkan biaya eksternalitas yang harus ditanggung oleh masyarakat.
Kondisi demikian rawan sekali terhadap resiko timbulnya konflik sosial
yang pada akhirnya akan mengancam kelestarian dari industri itu sendiri.
Industri pembuatan cat di Indonesia terutama untuk memenuhi
kebutuhan pasar dalam negeri. Beberapa perusahaan mengekspor
produknya namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar, karena kebutuhan
pasar dalam negeri mengahsilkan cat dekoratif dan 20% untuk kebutuhan
dan penggunaan khusus. Kebutuhan terbesar dari pasar dalam negeri
sekitar 70% adalah cat latek (water-based cat) dan sekitar 30 % adalah cat
solvent-based.
Di Indonesia terdapat sekitar 65 pabrik cat berskala besar dan
menengah dan sekitar 100 pabrik berskala kecil. Tiga pabri terbesar
mendominasi sekitar 50% pasar negeri dan pabrik terbesar mendominasi
sekitar 25%-nya. Beberapa pabrik hanya memproduksi cat latek dan pabrik
yang berskala besar memproduksi kedua tipe cat yaitu cat latek (waterbased cat) dan cat solvent-based.
Salah satu perusahaan cat yang bergerak pada pengolahan cat yaitu
PT Sumatra Industri Cat. Perusahaan ini dibangun pada bulan Juni tahun
1956, di daerah Padang Bulan, Medan. Utnuk itu penulis akan membahas
mengenai industri cat di PT Sumatra Industri Cat dari pembuatan hingga
pengolahan air limbah yang dihasilkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan industri cat?
2. Bagaimana proses pembuatan cat di PT Sumatra Industri Cat?
3. Apa saja sumber dan jenis air limbah yang dihasilkan dari produksi cat
di PT Sumatra Industri Cat?
4. Bagaimana karakteristik air limbah pada proses pembuatan cat?
5. Berapa standar baku mutu air limbah industri cat?
6. Bagaimana penanganan air limbah industri cat di PT Sumatra Industri
Cat?
2

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian industri cat.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan cat di PT Sumatra Industri Cat.
3. Untuk mengetahui sumber dan jenis air limbah yang dihasilkan dari
produksi cat di PT Sumtra Industri Cat.
4. Untuk mengetahui karakteristik air limbah pada proses pembuatan cat.
5. Untuk mengetahui standar baku mutu air limbah industri cat.
6. Untuk mengetahui cara penanganan air limbah industri cat di PT
Sumatra Industri Cat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Industri Cat
Industri cat adalah salah satu industri tertua di dunia yang
merupakan suatu usaha pengolahan material maerial atau bahan baku
sehingga menghasilkan produk cat yang dapat digunakan utnuk
melindungi dan memberikan warna pada suatu objek atau permukaan
dengan melapisinya dengan lapisan berpigmen.
Sekitar 20.000 tahun lalu, manusia yang hidup di gua-gua
menggunakan cat untuk kegiatan komunikasi, dekorasi dan proteksi.
Mereka menggunakan metrial-material yang tersedia di alam seperti arang
(karbon), darah, susu, dan sadapan dari tanaman-tanaman yang memiliki
warna yang menarik. Yang mengejutkan, cat-cat ini mempunyai keawetan
yang baik, seperti yang ditunjukkan pada lukisan gua di Altamira Spanyol,
Lascaux Spanyol, cat batu orang Aborigin di Arnhem Land Australia, dan
lukisan-lukisan prasejarah lainnya yang ditemukan.
Orang-orang Mesir kuno mengembangkan cat menjadi lebih kaya
warna, mereka menemukan cat warna biru, merah, dan hitam dengan
mengambilnya dari akar tanaman tertentu. Kemudian orang-orang Mesir
itu menemukan kasein sebagai perekatnya. Seiring dengan waktu, manusia
mulai menemukan minyak tanaman dan resin dari fosil untuk mengganti
darah dan susu sebagai perekat cat. Saat ini walaupun telah ditemukan
perekat/resin yang semakin baik dengan berkembangnya teknologi kimia,
resin-resin natural hingga kini masih banyak dipakai.
Cat adalah suatu cairan yang dipakai untuk melapisi permukaan
suatu bahan dengan tujuan memperindah (decorative), memperkuat
(reinforcing) atau melindungi (protective) bahan tersebut. Setelah
dikenakan pada permukaan dan mengering, cat akan membentuk lapisan
tipis yang melekat kuat dan padat pada permukaan tersebut. Pelekatan cat
ke permukaan dapat dilakukan dengan banyak cara: diusapkan (wiping),
dilumurkan, dikuas, disemprotkan (spray), dicelupkan (dipping) atau
4

dengan cara yang lain. Cat dapat digunakan pada hampir semua jenis
objek, antara lain untuk menghasilkan karya seni (oleh pelukis untuk
membuat lukisan), salutan industri (industrial coating), bantuan pengemudi
(marka jalan), atau pengawet (untuk mencegah korosi atau kerusakan oleh
air).
Jenis-jenis dan tipe cat adalah sangat banyak dan beragam, untuk
mengklasifikasikannya bisa dari bermacam-macam mulai dari bahan
penyusunnya sampai kegunaannya. Jika

cat

diklasifikasikan

dari

pembawa/pelarutnya, cat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu cat


basis air (water-based) dan cat basis solvent (solvent-based). Untuk
pengklasifikasian dari jenis binder/film formernya misalnya jika cat
tersebut memakai resin epoksi maka cat tersebut digolongkan dinamakan
cat epoksi, jika memakai binder alkyd dinamakan cat alkyd, jika memakai
binder melamine dinamakan cat melamine, begitu seterusnya (Anonim,
2007). Dari penggunaan cat juga dapat diklasifikasi seperti cat mobil, cat
tembok, cat genteng, cat kapal, cat kolam, cat primer, cat kayu, cat lantai /
flooring, dan sebagainya.
B. Proses Pembuatan Cat di PT Sumtra Industri Cat
Bahan baku utama yang digunakan dalam proses pembuatan cat
adalah resin, pelarut, pigmen dan ekstender.
a. Resin : alkid, aklirik, vinil, dll
b. Pelarut : aromatik, alifatik, ketone, alkohol, dll
c. Pigmen : TiO2
- Organik
- Anorganik
d. Ekstender : kalsium karbonat, kapur, tanah liat, dll
e. Bahan pembantu : minyak goreng, plasticizer, dll
Proses produksi cat melalui beberapa proses, yaitu pre-mixing,
grinding, let- down, filtering, color matching, dan packaging. Pre-mixing
yaitu proses pencampuran awal dimana bagian padat dari cat seperti
pigmen dan extender/filler didispersikan ke pelarutnya dengan tambahan
aditif yang sesuai seperti dispersing agent dan wetting agent.

1. Proses Pembuatan Cat Solvent-Based


Bahan baku resin, pigmen kering dan ekstender digiling dan
diaduk dengan kecepatan
pencampur.

Selama

tinggi

proses

pada

tangki

pengaduk

atau

ini berlangsung, bahan pelarut dan

plasticizer dimasukkan ke dalam tangki pencampur. Proses ini


disebut tahap pra-pencampuran. Kemudian hasil dari proses prapencampuran dimasukkan ke tangki penggiling dan pengadukan
lanjut untuk tahap proses pendispersian bahan yang telah dicampur.
Selanjutnya dilakukan tahap stabilisasi dalam tangki pengaduk
dengan penambahan zat pewarna dan tinner (cairan yang mudah
menguap). Proses selanjutnya adalah tahap stabilisasi dengan
penambahan bahan resin untuk menghasilkan kualitas cat yang di
inginkan,

kemudian

hasilnya

dimasukkan

dalam

proses

penyaringan. Produk dari hasil proses penyaringan kemudian


memasuki proses pengalengan cat, penyegelan dan pengemasan
produk akhir (Hernadewita, ).
2. Proses Pembuatan Cat Water Based
6

Bahan baku air, ammonia, dispersan, pigmen dan ekstender


digiling

dan diaduk dalam tangki pengaduk/pencampur. Selama

proses ini berlangsung, bahan pigmen kering dan ekstender pigmen


dimasukkan ke dalam tangki pencampur. Proses ini disebut tahap
pra-pencampuran. Kemudian hasil dari proses pra-pencampuran
dimasukkan ke tangki penggiling dan pengadukan lanjut untuk tahap
proses dispersi bahan yang telah dicampur dengan penambahan
bahan

penolong

seperti

resin,

plasticizer,

bahan

pengawet,

antifoaming (gelembung), bahan pengemulsi polivinil asetat (PVA)


dan air sebagai tinner.
Proses selanjutnya

adalah tahap

stabilisasi dalam tangki

pencampur untuk menghasilkan kualitas cat yang diinginkan,


kemudian
Hasil

hasilnya

proses

dimasukkan

penyaringan

dalam proses
kemudian

penyaringan.

memasuki

proses

pengalengan cat, penyegelan dan pengemasan (Hernadewita, ).


C. Sumber Dan Jenis Air Limbah Yang Dihasilkan Dari Produksi Cat
Limbah yang dihasilkan dari produksi cat adalah :
1. Limbah padat: Limbah padat yang dihasilkan meliputi:
a. Kemasan bekas
Limbah ini dihasilkan dari bekas kemasan bahan
baku/penolong berupa kantong/sak atau karung dari kertas dan
plastik. Penanganan limbah ini dilakukan dengan pengumpulan
setiap

hari kerja

dan

ditempatkan di TPS

pabrik

lalu

diangkut/dibeli oleh perusahaan daur ulang kemasan.


b. Lumpur / Sludge
Limbah ini dihasilkan dari proses pengolahan air
limbah di IPAL pabrik. Limbah ini bersifat B3 (bahan beracun
dan berbahaya) sehingga penanggulangannya sangat
mulai

dari

pengumpulan,

pengeringan

hati-hati

sampai

pada

pembuatannya menjadi flintkote sebagai produk sampingan


(dengan catatan perusahaan telah memiliki izin pemanfaatan
limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup). Flinkote ini
7

biasanya digunakan sebagai pelapis anti karat pada logam seperti


c.

pada bangunan maupun pada mobil.


Sampah Domestik
Limbah dan sampah lainnya dihasilkan dari kegiatan
kantor dan pabrik. Limbah ini berupa kertas, dedaunan dan
lainnya dihasilkan dari kegiatan kantor dan pabrik. Pengumpulan
dilakukan setiap hari kerja di TPS pabrik dan diangkut oleh

Dinas Kebersihan Daerah ke TPA.


2. Limbah Cair
Sumber utama limbah cair

berasal

dari

pencucian,

pembilasan dan pembersihan tangki serta peralatan proses produksi


cat, yaitu :
Air pencucian
Ceceran dari proses produksi
Laboratorium dan bak-bak pencucian
Air pendingin dan boiler (blow down)
Pencucian alat-alat transportasi bahan-bahan

baku

dan

penolong pembuatan cat


Peralatan pengendalian pencemaran udara yang menggunakan
air seperti wet- scrubber dan alat lainnya.
Limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan dari

pencucian peralatan pemroses serta pencucian dan pembersihan


lantai. Pada beberapa pabrik cat, pencucian tangki dan peralatan
menggunakan larutan kostik panas. Limbah cair dari pencucian
ini kemudian ditampung dalam tangki atau drum penampung untuk
pembuatan cat solvent based, sedangkan untuk pembuatan cat
water-based,

limbah cair dari pencucian tangki menuju ke unit

pengolahan limbah cair.


Limbah cair dari pencucian peralatan pemroses cat solvent-based
dapat dimanfaatkan lagi dengan menggunakan unit perolehan
kembali pelarut supaya pelarut yang digunakan dapat diperoleh
kembali. Faktor penjagaan kebersihan di pabrik atau proses
produksi dapat mencerminkan pengelolaan limbah cair yang

dilaksanakan, karena faktor ini dapat meminimumkan jumlah


dan karakter limbah cair yang dihasilkan oleh kegiatan produksi.
3. Sumber limbah lainnya adalah pencemaran udara dan pembuatan resin
yang menggunakan air dalam proses pembuatannya pada beberapa
pabrik berskala besar.
D. Karakteristik Air Limbah Pada Proses Pembuatan Cat
Karakteristik limbah cair dari pembuatan cat adalah BOD, COD,
TSS, pH, TOC, NH3-N, klorida, sulfat, sulfida, nitrogen sebagai N, fosfor,
minyak dan lemak, logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb),
cadmium (Cd), kromium, seng (Zn), dan titanium (Ti) serta parameter
lainnya, bergantung pada jenis bahan baku penolong yang digunakan.
Limbah industri cat dapat dikategorikan menjadi :
a. Sisa kantong bahan baku (container)
b. Debu pigmen
c. Off-specification paint
d. Filter catridges
e. Limbah cair dari pencucian peralatan
f. Emisi udara (VOC)

E. Standar Baku Mutu Air Limbah Industri Cat


Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar
yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau
dilepas kedalam media air dari suatu usaha dan atau kegiatan.
Kunci masalah lingkungan yang berhubungan dengan industri cat
adalah penanganan terhadap limbah yang dihasilkan akibat proses
produksi cat. Penanganan limbah tersebut mengacu pada Baku Mutu
Limbah yang diperbolehkan dalam industri tersebut.
Baku mutu air limbah industri cat menurut Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Republik Indonesia nomor 5 Tahun 2014 tentang
Baku Mutu Air Limbah adalah sebagai berikut :

Catatan :
1.

Cat berbahan dasar solven harus tidak boleh dibuang ke perairan


umum. Semua limbah cair yang dihasilkan harus ditampung atau

2.

diolah kembali dan tidak boleh dibuang di perairan umum.


Kadar paling tinggi untuk setiap parameter pada tabel diatas

3.

dinyatakan dalam miligram parameter per liter air limbah.


Beban pencemaran paling tinggi untuk seiap parameter pada tabel
diatas dinyatakan dalam gram parameter per m3 produk cat.

F. Penanganan Air Limbah Industri Cat di PT Sumtra Industri Cat


Pengolahan limbah cair industri cat dapat menggunakan
teknologi pengolahan limbah secara fisik, kimia dan biologi untuk
mengurangi

kadar

parameter

utama limbah cair yang dihasilkan.

Banyak logam berat yang terkandung dalam limbah cair produksi cat,
seperti : merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium (Cd), kromium (Cr

6+

),

seng (Zn), besi (Fe) dan titanium (Ti) serta parameter lainnya,
tergantung pada jenis bahan baku

dan

bahan tambahan

yang

digunakan. Pengolahan limbah cair yang dihasilkan dalam proses


pembuatan cat dengan pemanfaatan IPAL yang meliputi :
1. Ekualisasi debit limbah dengan tangki pengumpul

10

Tangki yang satu ini bukanlah tangki untuk mengolah air


limbah,

namun berperan penting bagi proses pengolahan limbah.

Tangki ekualisasi yaitu tangki yang digunakan untuk meredam variasi


debit air limbah. Melihat tujuannya sebagai peredam variasi debit, tangki
ekualisasi ditempatkan di awal rangkaian pengolahan air limbah.
Tujuan utama dari instalasi tangki ekualisasi di dalam suatu
instalasi pengolahan air limbah adalah untuk mencapai debit air limbah
yang konstan atau mendekati konstan. Tercapainya debit yang konstan
akan bermanfaat bagi unit-unit pengolahan selanjutnya, antara lain:
o

Meningkatkan performa proses biologi akibat tidak adanya shock

loading
Meningkatkan

kualitas

efluen

serta

performa

thickening

(pengentalan lumpur) dalam tangki sedimentasi kedua karena


o
o

solids loading yang konsisten


Mengurangi luas area permukaan filter
Meningkatkan kontrol penambahan

bahan

kimia

dan

keterandalan proses pengolahan kimia


Penempatan tangki ekualisasi dapat dilakukan secara in-line
maupun off-line (disebut juga side-line). Penempatan secara in-line pada
gambar maksudnya adalah mengalirkan seluruh air limbah ke dalam
tangki ekualisasi untuk kemudian dipompakan ke unit-unit pengolahan.
Pada sistem off-line (Gambar 6 B), tangki ekualisasi hanya menampung
kelebihan

debit

penambahan debit

air

limbah

untuk

kemudian

apabila diperlukan (Goel et

dialirkan
al, 2005

sebagai
dalam

Anonim,2009)

11

in- line (A) dan off- line (B)


Volume tangki ekualisasi dapat dihitung menggunakan dua
pendekatan, yaitu berdasarkan pola debit harian (flow balance) serta
berdasarkan pola beban massa untuk polutan tertentu (composition
balance). Flow balance digunakan saat komposisi

air

limbah

yang

masuk relatif konstan namun debit air limbah berfluktuasi seiring


dengan waktu. Sementara itu pada composition balance berlaku
sebaliknya. Metode flow balance adalah yang paling sering digunakan.
Perhitungannya dilakukan menggunakan diagram Rippl dimana volume
kumulatif di plot terhadap waktu.

Diagram Rippl

12

Berdasarkan diagram di atas, volume tangki yang diperlukan adalah


hasil penjumlahan antara AB dan CD. Hal penting dalam penentuan
volume

tangki ekualisasi adalah penambahan safety factor yang

biasanya sebesar 10-20% dari volume tangki (Metcalf & Eddy, 2004
dalam Anonim, 2009).
2. Pengaturan pH
pH adalah faktor yang penting dalam proses penyisihan logam.
Hal ini disebabkan

karena

untuk

setiap

logam

memiliki

kondisi dimana dia bisa mengendap. Seperti contoh adalah dalam


penyisihan logam kromium (Cr

6+

) yang bersifat oksidator kuat

dimana sebelum diendapkan kromium (Cr


kromium (Cr

3+

6+

) diubah dahulu menjadi

) yang lebih tidak berbahaya. Proses ini hanya dapat

terjadi apabila keadaan pH nya asam sehingga perlu dikondisikan


dahulu. Setelah menjadi kromium (Cr

3+

) baru dapat diendapkan tetapi

setelah pH dinaikkan kembali.


1. Pengendapan dengan penambahan bahan kimia alum, kapur, PAC
dan garam besi di dalam unit koagulasi
Beberapa proses penghilangan kandungan
dapat dilakukan melalui
seperti

dengan
dilakukan

dan
yaitu

proses koagulasi-flokulasi
Koagulasi flokulasi
pengolahan limbah
karena

dengan

pengolahan

secara

berat
kimia

presipitasi (pengendapan), adsorpsi (penyerapan),

filtrasi (penyaringan)
biasa

proses

logam

koagulasi. Pengolahan kimia


melalui proses
dengan

industri yang

metode

ini

pengendapan dengan

koagulan

merupakan metode

yang

yang

mengandung

yang beragam.
efektif

untuk

logam berat,

akan terjadi pemisahan antara air

dan lumpur/endapan.

13

Ilustrasi proses koagulasi- flokulasi


Pemisahan

ini

terjadi

karena adanya gaya tarik inti flok

yang berasal dari endapan yang terbentuk, dapat menghilangkan


beberapa

jenis

organisme dalam air,

dan

efektif

untuk

menghilangkan kekeruhan. Metode pengendapan dengan koagulasi


ini dipilih karena dalam limbah cat terdapat konstituen kimia
seperti kation-kation

yang

dapat

diubah menjadi

senyawa tak larut dengan menambahkan


ini biasanya digunakan suatu
umumnya dipakai adalah kapur,

bentuk

koagulan. Pada metode

koagulan sintetik. Koagulan yang


garam-garam aluminium seperti

aluminium sulfat , garam-garam besi seperti ferri sulfat dan PAC


(polyaluminium chloride).
2. Pengentalan atau pengeringan lumpur
Pengentalan lumpur dan pengeringan merupakan hal yang umum
untuk sistem pengolahan yang lengkap, Sistem ini menggunakan
pengental dan penjernih yang dilanjutkan dengan belt press atau
gulungan pengeringan sedangkan air yang dihasilkan oleh perlakuan
ini dikembalikan ke unit awal pengolahan limbah.
Belt Filter Press (BFP) merupakan salah satu unit yang
digunakan di dalam proses sludge dewatering. Pada prinsipnya, proses
yang berlangsung di dalam BFP adalah memeras cake (lumpur dengan
konsentrasi padatan yang tinggi) di atas belt (sabuk berjalan) sehingga
air yang masih terkandung di dalam cake dapat keluar dan lumpur
menjadi kering. Tahapan proses pada sludge dewatering dengan BFP
yaitu (sumber: www.gruptefsa.co m dalam Anonim, 2009):
Flokulasi

14

Kebanyakan lumpur memerlukan penambahan polimer sebagai


flokulan untuk mempermudah proses separasi air dari dalam
lumpur.
Feeding
Lumpur yang telah bercampur dengan flokulan disebar secara
merata ke atas permukaan belt.
Penirisan
Proses awal pemisahan air
dengan

dari

lumpur

dilakukan

cara meniriskan lumpur pada suatu zona penirisan

yang memanfaatkan gaya gravitasi.


Penyaringan
Penyaringan dilakukan dengan memberikan tekanan secara
bertahap pada suatu zona tepat sebelum melewati silinder
penggiling. Pada proses penyaringan ini volume dikurangi
hingga 50%.
Kompaksi dan Pengeringan
Kompaksi akhir dari cake dicapai pada saat tekanan dan
gaya geser mencapai nilai tertingginya.
Pembuangan
Cake yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan baku
flinkote (dengan catatan perusahaan telah memiliki izin
pemanfaatan limbah B3 dari KLH). Selain dimanfaatkan kembali
dapat

juga

diserahkan

kepada

pihak

ketiga

untuk

pengelolaannya. Dengan penggunaan BFP maka semakin sedikit


limbah yang dibuang jadi semakin kecil juga cost yang
dikeluarkan apabila dibandingkan tidak dilakukan pengeringan
dengan BFP.
Pembersihan Belt
Pembersihan belt

secara harus dilakukan agar tidak ada

limbah yang menempel. Hal ini dilakukan agar belt lebih tahan
lama karena sangat dimungkinkan limbah B3 dapat merusak belt
apalagi kalau limbah tersebut oksidator kuat.

3. Filtrasi dengan menggunakan pasir atau media lainnya


15

Filtrasi merupakan proses pengolahan air dimana air dipisahkan


dari koloid dan zat pengotor yang dikandungnya, jumlah bakteri
berkurang dan karakteristik kimia air tersebut berubah, dengan cara
melewatkannya melalui media berpori. Filtrasi merupakan proses
pengolahan

air limbah

dengan

cara

mengalirkan

air limbah

melewati suatu media filter (lapisan berpori) yang disusun dari


bahan- bahan butiran dengan diameter dan tebal tertentu. Lapisan
berpori ini dapat terdiri dari bermacam-macam bahan, seperti granular
(kerikil), pasir, batuan kecil, antrasit, pecahan kaca, abu (Huisman,
1975 dalam Makhmudah, ).
Salah satu penerapannya adah saringan pasir lambat. Pada
saringan pasir lambat, proses pemisahan kotoran dari air baku
terjadi

melalui kombinasi beberapa proses yang berbeda seperti

mechanical straining, adsorpsi, sedimentasi, dan

aktivitas biologis

serta bio-kimia. Mechanical straining adalah proses pemisahan


partikel tersuspensi yang mempunyai ukuran terlalu besar untuk dapat
melewati ruang
disebabkan
dengan

antar

butir

oleh tumbukan

butiran

pasir,

pasir.
antara

Adsorbsi

sederhana

partikel tersuspensi

lapisan schmutzdecke berbentuk gelatin

lekat (agar-agar) yang terbentuk pada butir pasir oleh bakteri dan
partikel koloid. Proses sedimentasi terjadi dimana partikulat
tersuspensi dengan ukuran yang lebih halus dari bukaan pori-pori
antara butir pasir dengan pengendapan pada bagian sisi butir pasir.
Bakteri yang terdapat pada lapisan schmutzdecke memanfaatkan
zat organik yang terkandung dalam air baku sebagai sumber
makanan.
4. Tangki penyimpanan akhir
Tangki
penyimpanan
penampung

air

akhir

ini

berguna

sebagai

hasil pengolahan IPAL. Air hasil olahan ini

digunakan kembali dalam proses produksi sehingga

mengurangi

16

jumlah penggunaan air bersih dan mengurangi jumlah air limbah


yang dibuang ke lingkungan.
Penanganan limbah cair untuk industri pembuatan cat terutama
dilakukan pada saat pencucian peralatan pada pembuatan cat solventbased yang tidak boleh tercecer dan masuk ke saluran drainase melalui
pemeliharaan lingkungan pabrik yang baik dan benar, sehingga
pembuatan cat solvent-based dalam pembuangan limbah diharapkan
mencapai zero waste.

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Industri cat adalah salah satu industri tertua di dunia yang
merupakan suatu usaha pengolahan material maerial atau bahan baku
sehingga menghasilkan produk cat yang dapat digunakan utnuk
melindungi dan memberikan warna pada suatu objek atau permukaan
dengan melapisinya dengan lapisan berpigmen.Bahan baku utama yang
digunakan dalam proses pembuatan cat adalah resin, pelarut, pigmen dan
ekstender.
Jenis limbah yang dihasilkan dari produksi air limbah adalah
limbah padat (Kemasan bekas, lumpur / sludge dan sampah domestic),
limbah cair (sumber

utama

limbah

cair

berasal

dari

pencucian,

pembilasan dan pembersihan tangki serta peralatan proses produksi cat),


dan Sumber limbah lainnya adalah pencemaran udara dan pembuatan resin
yang menggunakan air dalam proses pembuatannya pada beberapa pabrik
berskala besar.
B. Saran
Harus diadakan recycle air olahan IPAL pada pabrik industri cat agar dapat
difokuskan pada pemanfaatan kembali sehingga semakin sedikit limbah
yang dibuang ke TPA (limbah padat) dan badan air (limbah cair).

18

DAFTAR PUSTAKA

Hernadewita. Penanganan Limbah Industri Cat Ditinjau Dari Sisi Clean


Technology Dalam Manajemen Industri. [online]. Diakses
pada tanggal 6 Oktober 2016.
Wicahyo, Yuli. 2014. Pengelolaan Industri Cat. http://www.scribd.com. Diakses
pada tanggal 6 Oktober 2016
Setyariani, Aisyah. 2012. Industri Cat. http://www.aiido141.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 6 Oktober 2016.

19