Anda di halaman 1dari 12

PENILAIAN POSTUR KERJA MENGGUNAKAN METODE REBA

(Rapid Entire Body Assessment) PADA PEKERJA CUCI MOTOR SURABAYA


Tugas ini Dibuat Untuk Memenuhi Mata Kuliah Ergonomi

Oleh :
DEWANGGA LAZUARDI
NIM.101524253001

PROGRAM MAGISTER KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

A. Pendahuluan
Aktivitas kerja yang menggunakan tenaga manusia telah dilakukan sejak zaman
dahulu hingga sekarang bahkan berkembang dengan menggunakan bantuan mesin atau
kombinasi dari keduanya. Pada pelaksanaannya masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penanganan aktivitas kerja yang menggunakan mesin cenderung lebih
lebih cepat, konstan, dan tidak mengeluarkan tenaga manusia secara berlebihan, berbeda
dengan aktivitas kerja yang menggunakan tenaga manusia, meskipun lebih fleksibel,
biaya yang murah, namun kalah cepat dan cenderung mengekibatkan kelelahan.
Aktivitas kerja dengan menggunakan tenaga manusia yang dilakukan dengan berulangulang dan dalam jangka waktu yang lama akan dapat menimbulkan kelelahan, risiko
penyakit akibat kerja, dan kerentanan terjadinya kecelakaan akibat kerja.
Hal-hal yang dapat mengakibatkan kelelahan dan kecelakaan kerja jika
lingkungan kerja yang kurang memadai, alat yang kurang mendukung dan sikap kerja
yang salah. Kondisi berbahaya yang diakibatkan oleh sikap kerja yang tidak tepat
tentunya harus dicegah dan ditangani. Aktivitas kerja yang menggunakan tenaga kerja
manusia dan memiliki posisi kerja yang kurang tepat banyak ditemukan pada pekerja
informal. Beberapa penelitan dengan objek penelitian pekerja informal menemukan
bahwa posisi kerja yang tidak tepat banyak ditemukan pada pekerja informal.
Sutajaya,

dalam

penelitiannya

menyebutkan

bahwa

terjadi

gangguan

musculoskeletal akibat sikap yang tidak alami dalam bekerja yaitu sebanyak 64% dari
total pekerja batako di Gianyar Bali (Sutajaya, 2007). MSDs merupakan gangguan
fungsi normal otot, tendon, saraf, pembuluh darah, tulang dan ligamen, akibat
perubahan struktur atau sistem musculoskeletal di dalam waktu pendek ataupun lama.
Nur ulfah menyatakan hal serupa terhadap proses kerja pada pekerjaan laundry yang
meliputi proses penimbangan, pencucian, pengeringan, penyetrikaan dan pengemasan
dengan posisi kerja yang tidak ergonomis. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti
menemukan sikap kerja yang berhubungan dengan risiko kelainan otot rangka adalah
pada bagian pencucian dan berisiko menimbulkan MSDs (Musculosceletal Disordders)
(Nur Ulfah, 2014).

Pekerja informal salah satunya adalah pekerja cuci motor. Pada tugas ini akan
membahas mengenai posisi kerja salah satu pekerja di tempat cuci motor yang berlokasi
di Jalan Raya Menur Kota Surabaya. Posisi kerja ketika pekerja cuci motor tersebut
sendang beraktifitas mencuci sepeda motor akan diamati dan didokumentasikan serta
dianalisis menggunakan metode analisa postur kerja Rapid Entire Body Assassement
(REBA) dengan software REBA. Beberapa sikap kerja yang digunakan untuk
menganalisa postur kerja dengan REBA adalah sikap leher, punggung, lengan,
pergelangan tangan dan kaki, selain itu juga dipengaruhi oleh faktor coupling atau
pegangan tangan.
B. Metode
Metode dalam paper ini dilakukan melalui pengamatan dan analisis data.
Pengamatan dilakukan langsung oleh penulis pada hari Minggu tanggal 26 Juni 2016,
pukul 12.30 WIB. Objek pengamatan adalah pekerja cuci motor yang berlokasi di Jalan
Raya Menur Kota Surabaya. Penilaian postur kerja menggunakan metode Rapid Entire
Body Assassement REBA melalui software REBA.
Pengamatan dan analisa dalam tugas ini melalui beberapa tahapan. Tahapantahapan dalam tugas ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan wawancara terhadap salah satu pekerja cuci motor yang berlokasi di
Jalan Raya Menur Kota Surabaya sebagai objek pengamatan.
2. Melakukan pengamatan pada setiap aktivitas kerja yang dilakukan oleh pekerja cuci
motor tersebut
3. Pengambilan data berupa video mengenai postur kerja yang dilakukan.
4. Pengolahan data berupa penilaian postur kerja dengan menggunakan metode analisis
postur kerja yaitu REBA.
5. Hasil analisis kemudian dituangkan dalam paper ini.

C. Profil Usaha
1. Jenis Usaha

: Cuci Sepeda Motor

2.
3.
4.
5.

Pemilik Usaha
Kategori
Jumlah Pekerja
Lokasi Usaha

: Govera Motor
: Informal
: 4 orang
: Jalan Raya Menur, Manyar Sabrangan No. 23, Surabaya
6. Aktivitas
:
Menyemprot/menyiram sepeda motor
dengan menggunakan mesin pompa, mencuci seluruh bagian
motor, memoles badan motor hingga bersih, dan mengeringkan
badan motor.

D. Hasil dan Pembahasan


1. Skoring Bagian Tubuh
a. Skoring Group A (Trunk, Neck and Legs)

(Trunk)

(Titled to the side)

(Neck)

(Legs)

Berdasarkan hasil pengukuran sudut badan pada pekerja cuci motor


menggunakan busur penggaris, didapatkan hasil sebesar 900 . Selanjutnya, terdapat
posisi tubuh miring kesamping saat melakukan pekerjaan mencuci motor. Sehingga
posisi pekerja cuci motor disesuaikan dengan table skoring REBA adalah hasil skor 4
untuk posisi badan (trunk).
Sementara bagian leher, setelah dilakukan pengukuran busur penggaris
didapatkan nilai 200 dan ditemukannya posisi leher miring atau memutar. Sesuai dengan
skoring REBA maka skor untuk leher adalah 2.
Hasil pengukuruan untuk kaki menunjukkan bahwa posisi salah satu kaki
responden tertopang di lantai dengan baik dalam keadaan berdiri maupun berjalan
sehingga responden mendapatkan skor 1. Skor ditambahkan 1 karena responden
melakukan pekerjaan dengan salah satu atau kedua kaki ditekuk secara fleksi pada sudut
>600 . sehingga, hasil skor REBA untuk kaki adalah 2.

b. Skoring Group B Upper Arms (Shoulders)

(Sudut lengan atas kanan 90o)

(Sudut lengan atas kiri 45o)

Berdasarkan hasil pengukuran sudut lengan atas bagian kanan pada pekerja cuci
motor menggunakan busur penggaris, didapatkan sudut sebesar 90 0 untuk lengan atas
kanan dan 45o untuk lengan atas bagian kiri. Posisi tersebut disesuaikan dengan table
skoring REBA dan hasil skor posisi tersebut adalah 3 untuk masing-masing lengan atas.

c. Skoring Group B Lower Arms

(Sudut lengan bawah kanan > 90o)

(Sudut lengan bawah kiri 900)

Berdasarkan hasil pengukuran sudut lengan bawah bagian kanan pada pekerja
cuci motor menggunakan busur penggaris, didapatkan sudut > 900 untuk lengan kanan
dan 90o untuk lengan kiri. Posisi tersebut disesuaikan dengan table skoring REBA dan
hasil skor posisi tersebut adalah 1 untuk masing-masing lengan.

d. Skoring Group B Wirsts

(Pergelangan tangan)

Berdasarkan hasil pengukuran sudut pergelangan tangan sisi kiri pada pekerja
cuci motor menggunakan busur penggaris, didapatkan sudut sebesar <10 0. Posisi
tersebut disesuaikan dengan table skoring REBA dan hasil skor posisi tersebut adalah 1.
Begitu pula pada pengukuran sudut pergelangan tangan kanan, sehingga hasil skor
posisi tersebut adalah 1.

e. Skoring Load Force, Coupling, and Activity

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa :


a. Pembebanan terjadi pada kegiatan menyemprot/menyiram, mencuci, memoles, dan
mengeringkan yang dilakukan tangan (dengan berat bahan - bahan tersebut < 5 Kg)
mendapatkan hasil skoring = 0
b. Hasil skoring coupling pada kegiatan menyemprot/menyiram, mencuci, memoles,
dan mengeringkan yang dilakukan tangan setelah dibandingkan dengan REBA
memiliki skor = 0
c. Hasil skoring aktivitas

otot

diperoleh,

aktivitas

otot

dari

pekerjaan

menyemprot/menyiram, mencuci, memoles, dan mengeringkan yang dilakukan


tangan dilakukan secara berulang ulang yang dilakukan lebih dari 4 kali permenit,
setelah dibandingkan dengan REBA memiliki skor = 2

2. Hasil Skoring REBA


9

Hasil skoring bagian tubuh yang telah diperoleh, kemudian di analisis


menggunakan software REBA dan hasil akhir menggunakan metode REBA sebagai
berikut:

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa :

Hasil skoring pada group A (badan + leher + kaki) sebesar 6 dan dengan adanya
pembebanan dengan skor 0, maka skoring pada group A sebesar 6

Hasil skoring B (lengan atas + lengan bawah + pergelangan tangan) tidak ada
perbedaan hasil skor antara bagian kanan dan kiri sehingga skornya adalah 3
untuk masing-masing sisi. Kemudian di tambah dengan skor coupling yang
diasumsikan memiliki skor 0, maka hasil skoring group B tetap atau tidak ada
perubahan.

Hasil skoring group A dan B kemudian dilakukan asumsi penambahan menjadi


skor C. Sehingga berdasarkan diagram diatas, jumlah skoring keduanya adalah 6
pada masing-masing sisi (kanan dan kiri).

Hasil skoring group C ditambah 1 karena ada aktivitas otot adalah 7 untuk sisi
kanan dan 7 untuk sisi kiri.

10

(Risk Level: Medium)


Tabel 1. Kategori Tingkat Risiko

Action Level
0
1
2
3
4

Skor REBA
1
2-3
4-7
8-10
11-15

Level Risiko
Bisa diabaikan
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

Tindakan Perbaikan
Tidak perlu
Mungkin perlu
Perlu
Perlu segera
Perlu saat ini juga

Selanjutnya berdasarkan skor final metode REBA pada pekerja cuci motor yang
berlokasi di Jalan Raya Menur Kota Surabaya bahwa tingkat risiko untuk tangan bagian
kanan dan kiri adalah medium (sedang), sehingga dibutuhkan penyelidikan serta perlu
tindakan perbaikan terhadap postur kerja pekerja cuci motor.
E. Rekomendasi
Hasil analisa software REBA menyatakan bahwa tingkat risiko posisi kerja
pekerja cuci motor yang berlokasi di Jalan Raya Menur Kota Surabaya berada pada
tingkat menengah, sehingga disarankan agar dilakukan perubahan posisi kerja agar
didapatkan skoring total seminimal mungkin. Beberapa alternatif untuk mengurangi
resiko pada aktivitas tersebut adalah merubah posisi kerja menjadi lebih nyaman,
terutama posisi badan serta tangan. Sehingga didapatkan hasil redesain sikap kerja
sebagai berikut:

11

Setelah melakukan redesain sikap kerja terhadap leher, kaki, dan lengan atas
maupun bawah, terdapat perubahan skor total yang signifikan. Berdasarkan redesain
sikap kerja yang baru, maka rekomendasi yang dapat diberikan kepada pekerja cuci
motor yang berlokasi di Jalan Raya Menur Kota Surabaya selaku responden antara lain:
1. Posisi Badan agar tetap tegak, dengan salah satu kaki tidak ditekuk fleksi dengan
sudut >600, biasanya keadaan dimana salah satu kaki ditekuk adalah ketika pekerja
harus melakukan pencucian di bagian motor bagian bawah, sehingga disarankan
untuk istirahat duduk di sela waktu melakukan aktifitas kerja.
2. Posisi leher diupayakan agar tidak terlalu menunduk melebihi sudu 100.
3. Posisi lengan diupayakan tidak melebihi sudut 90 0. Serta disarankan untuk tidak
melakukan gerakan memutarkan badan atau posisi miring ekstrim sehingga untuk
menunjang perubahan pada poin ini dibutuhkan penataan ulang stasiun kerja dengan
konsep 5 S.
Selain melakukan perubahan sikap kerja, hal lain yang dapat dilakukan adalah
perbaikan pada tempat kerjanya, misalnya dengan menambahkan alat cuci motor
hidrolik atau gundukan bertingkat. Sehingga ketinggian tempat untuk mencuci motor
dapat diatur tingginya dan pekerja tidak perlu terlalu menunduk atau berjongkok saat
bekerja serta mengurangi beban kerja pada bagian badan, leher, tangan dan kaki.

12