Anda di halaman 1dari 8

6.

Subsistem Pemberdayaan Masyarakat


SKN akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan
kesehatan,

melainkan

juga

sebagai

subjek

atau

penyelenggara

dan

pelaku

pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat


penting, agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai
pelaku pembangunan kesehatan. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula
upaya peningkatan lingkungan sehat dari masyarakat sendiri. Pemberdayaan
masyarakat

dan

upaya

kesehatan

pada

hakekatnya

merupakan

fokus

dari

pembangunan kesehatan.
6. Pemberdayaan Masyarakat

Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat
meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36,3% pada tahun 2007, namun masih
jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009, yakni dengan target 60%.
Jumlah UKBM, seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat, tetapi
pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk
47.111 Desa Siaga dimana terdapat 47.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).
Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun
2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269.202 buah dan 967 Pos Kesehatan
Pesantren (Poskestren). Di samping itu, Pemerintah telah memberikan pula bantuan
stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Sampai dewasa ini dirasakan
bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek
pembangunan kesehatan.
Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga
tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah
karena: pelayanannya tidak lengkap (49,6%), lokasinya jauh (26%), dan tidak ada
Posyandu/Poskesdes (24%).
Pemecahan
Dalam pembangunan kesehatan di Daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan, seperti:
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D), (RPJM-D), Rencana Strategis
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), yang penyelenggaraannya disesuaikan
dengan kondisi, dinamika, dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. Pemerintah
Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah, memfasilitasi
pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan daerah, serta memfasilitasi
sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai
kebutuhan.
Masalah

Upaya Kesehatan
Meskipun telah banyak hasil-hasil pembangunan kesehatan yang telah dicapai; antara lain Puskesmas
sudah terdapat di semua kecamatan yang ditunjang oleh 3-4 Puskesmas Pembantu, Tenaga bidan di desa
juga sudah ada di desa yang tidak memiliki fasilitas kesehatan, Rumah Sakit Umum sudah dimiliki oleh
semua kabupaten/kota (kecuali kab. baru/pemekaran); namun masih dihadapi permasalahan pemerataan,
mutu, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sistem refferal juga belum
menggembirakan.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah merupakan tantangan sekaligus peluang dalam upaya
meningkatkan pemerataan, mutu, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat seperti Posyandu berjumlah lebih dari 200.000 buah,
disamping berkembangnya Polindes, Pos Obat Desa, dan sebagainya. Namun akhir-akhir ini dilaporkan
pendayagunaannya menurun, yang antara lain ditunjukkan dengan meningkatnya angka drop-out kader
dan menurunnya persentase kader Posyandu yang aktif.
Pembiayaan Kesehatan
Pembiayaan kesehatan di Indonesia masih rendah, baru 2,2% dari PDB; masih jauh dari standard atau
anjuran WHO sebesar 5% PDB. Pembiayaan kesehatan dari masyarakat cukup besar (70%), namun
pengelolaan pendayagunaannya tidak efisien (antara lain out of pocket), dan pembelanjaan belum
mengedepankan keluarga miskin.
Sementara itu pembiayaan kesehatan bersumber pemerintah yang terbatas, dialokasikan ke semua lini;
banyak dialokasikan kepada private goods, sehingga tidak efektif. Sejalan dengan perkembangan iptek,
biaya kesehatan juga meningkat. Sementara itu jumlah penduduk yang memiliki jaminan kesehatan
(Askes, Jamsostek, Asuransi Kesehatan Swasta, JPKM, dan lain-lain), masih terbatas. Dapat dijelaskan
secara singkat tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat, antara lain dengan adanya
penyebaran risiko, kendali biaya, dan kendali mutu pelayanan kesehatan.

Sumber Daya Manusia Kesehatan


Masalah SDM kesehatan sangat kompleks, antara lain dapat dikemukakan: Jumlah, jenis, dan mutu
tenaga kesehatan belum memenuhi kebutuhan untuk pelayanan kesehatan. Ratio tenaga terhadap
penduduk masih rendah, dibandingkan dengan negara-negara tetangga (Singapore, Malaysia, Thailand).
Yang menarik ratio tenaga kesehatan terhadap penduduk di KTI lebih baik dari KBI (att: luas wilayah,
jumlah penduduk lebih kecil, letak geografi, dan sebagainya). Namun bila dilihat ratio tenaga kesehatan
terhadap fasilitas kesehatan keadaan di KTI jauh lebih jelek dibandingkan dengan KBI. Dapat dikemukakan

pula tentang tidak sinkronnya antara perencanaan kebutuhan, pengadaan (pendidikan & latihan), dan
pendayagunaan tenaga kesehatan.
Obat dan Perbekalan Kesehatan
Industri farmasi, PBF dan jaringan distribusi obat telah berkembang, CPOB telah diterapkan dan kebijakan
obat generik telah dilaksanakan. Banyak kemajuan yang telah dicapai, namun ketersediaan, pemerataan,
dan keterjangkauan obat masih merupakan masalah besar. Harga obat yang mahal disebabkan karena
sebagian besar (95%) bahan baku masih diimport; sementara itu bea masuk juga tinggi.
Pemberdayaan Masyarakat
Berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat telah dikenal seperti UKBM (Posyandu, Pos Obat Desa,
Polindes, Pos UKK), SDBM (Dana sehat, Dana Sosial Kemasyarakatan), Yayasan peduli dan penyandang
dana kesehatan (kanker, jantung, thalasemia, ginjal), Percepatan pencapaian IS-2010 dan kesertaan serta
kemitraan berbagai LSM/NGO dalam berbagai program kesehatan (Koalisi IS, Gebrak malaria, Gerdunas
TB, Gerakan Sayang Ibu, Gerakan Pita Putih, Gerakan Pita Merah) tetapi masih terbatas pada mobilisasi
masyarakat. Peranan to serve (memberikan pelayanan), to advocate (advokasi) dan to watch (melakukan
pengawasan) belum dikembangkan secara optimal, sementara public-private mix masih dalam perintisan.
SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PENGERTIAN
Subsistem pemberdayaan masyarakat terdiri dari tiga unsur utama, yakni pemberdayaan perorangan,
pemberdayaan kelompok, dan pemberdayaan masy. umum.
Pemberdayaan perorangan adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan perorangan dalam
membuat keputusan untuk memelihara kesehatan. Target minimal yang diharapkan adalah untuk diri
sendiri yakni mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diteladani oleh keluarga dan
masyarakat sekitar. Sedangkan target maksimal adalah berperan aktif sebagai kader kesehatan dalam
menggerakkan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih & sehat.
Pemberdayaan kelompok adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan kelompok-kelompok
di masyarakat, termasuk swasta sehingga di satu pihak dapat mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapi kelompok dan di pihak lain dapat berperan aktif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa program pengabdian (to serve), memperjuangkan
kepentingan masyarakat di bidang kesehatan (to advocate), atau melakukan pengawasan sosial terhadap
pembangunan kes. (to watch).
Pemberdayaan masyarakat umum adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan
masyarakat, termasuk swasta sedemikian rupa sehingga di satu pihak dapat mengatasi masalah

kesehatan yang ada di masyarakat dan di pihak lain dapat meningkatkan derajat kesehatan masy. secara
keseluruhan. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa program pengabdian, memperjuangkan kepentingan
masyarakat di bidang kesehatan, atau melakukan pengawasan sosial terhadap pembangunan kesehatan.
Oleh karenanya pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah tatanan yang menghimpun
berbagai upaya perorangan, kelompok, dan masy. umum di bidang kesehatan secara terpadu dan saling
mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
TUJUAN
Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah terselenggaranya upaya pelayanan, advokasi dan
pengawasan sosial oleh perorangan, kelompok dan masyarakat di bidang kesehatan secara berhasil-guna
dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
UNSUR-UNSUR UTAMA
1.

Pemberdayaan Perorangan
Adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan perorangan dalam membuat keputusan untuk
memelihara kesehatan. Target minimal yang diharapkan adalah untuk diri sendiri yakni mempraktikkan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diteladani oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Sedangkan
target maksimal adalah berperan aktif sebagai kader kesehatan dalam menggerakkan masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih & sehat.

2.

Pemberdayaan Kelompok
Adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan kelompok-kelompok di masyarakat, termasuk
swasta sehingga di satu pihak dapat mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi kelompok dan di pihak
lain dapat berperan aktif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan yang
dilakukan dapat berupa program pengabdian (to serve), memperjuangkan kepentingan masyarakat di
bidang kesehatan (to advocate), atau melakukan pengawasan sosial terhadap pembangunan kes. (to
watch).

3.

Pemberdayaan Masyarakat Umum


Adalah upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan masyarakat, termasuk swasta sedemikian
rupa sehingga di satu pihak dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat dan di pihak lain
dapat meningkatkan derajat kesehatan masy. secara keseluruhan. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa
program pengabdian, memperjuangkan kepentingan masyarakat di bidang kesehatan, atau melakukan
pengawasan sosial terhadap pembangunan kesehatan.

PRINSIP
1.

Pemberdayaan masyarakat berbasis pada tata nilai perorangan, keluarga, dan masyarakat, sesuai
dengan sosial budaya, kebutuhan, dan potensi setempat.

2.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan meningkatkan akses untuk memperoleh informasi dan
kesempatan untuk mengemukakan pendapat, serta keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan kesehatan.

3.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pendekatan edukatif untuk meningkatkan kesadaran,


kemauan, dan kemampuan serta kepedulian dan peran aktif dalam berbagai upaya kesehatan.

4.

Pemberdayaan masyarakat dilakuakan dengan menerapkan prinsip kemitraan yang didasari semangat
kebersamaan dan gotong-royong serta terorganisasikan dalam berbagai kelompok atau kelembagaan
masyarakat.

5.

Pemerintah bersikap terbuka, bertanggung-jawab, dan bertanggung gugat dan tanggap terhadap aspirasi
masyarakat, serta berperan sebagi pendorong, pendamping, fasilitator, dan pemberi bantuan (asistensi)
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang berbasis masyarakat.
BENTUK POKOK
Pemberdayaan Perorangan

1.

Pemberdayaan perorangan dilakukan atas prakarsa perorangan atau kelompok-kelompok yang ada di
masyarakat termasuk swasta dan pemerintah.

2.

Pemberdayaan perorangan terutama ditujukan kepada tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh
politik, tokoh swasta dan tokoh populer (Sasaran utama pemberdayaan perorangan adalah tokoh
masyarakat)

3.

Pemberdayaan perorangan dilakukan melalui pembentukan pribadi-pribadi dengan perilaku hidup bersih
dan sehat serta pembentukan kader-kader kesehatan (Target minimal adalah untuk diri sendiri dan
keluarga dlm menerapkan PHBS dan Target maksimal dapat sebagai teladan dan aktif sebagai kader di
masyarakat).
Pemberdayaan Kelompok

1.

Pemberdayaan kelompok dilakukan atas prakarsa perorangan atau kelompok-kelompok yang ada di
masyarakat termasuk swasta.

2.

Pemberdayaan kelompok terutama ditujukan kepada kelompok atau kelembagaan yang ada di
masyarakat seperti: RT/RW, kelurahan/ banjar/ nagari, kelompok pengajian, kelompok budaya, kelompok
adat, organisasi swasta, organisasi wanita, organisasi pemuda dan organisasi profesi (Sasaran utama
adalah kelompok/ kelembagaan masyarakat seperti: RT/RW, kelurahan/ banjar/ nagari, organisasi
keagamaan, dan sebagainya).

3.

Pemberdayaan kelompok dilakukan melalui pembentukan kelompok peduli kesehatan dan atau
peningkatan kepedulian kelompok/lembaga masyarakat terhadap kesehatan (Target minimal adalah

terbentuknya kelompok (LSM)/kelembagaan masyarakat yang peduli kesehatan dan Target maksimal,
kelompok kemasyarakatan aktif dalam To Serve, To Advocate, dan To Watch).
Pemberdayaan Masyarakat Umum
1.

Pemberdayaan masyarakat umum dilakukan atas prakarsa perorangan atau kelompok-kelompok yang
ada di masyarakat termasuk swasta.

2.

Pemberdayaan masyarakat umum ditujukan kepada seluruh masyarakat dalam suatu wilayah ( Sasaran
pemberdayaan masy umum adalah seluruh masyarakat dalam suatu wilayah).

3.

Pemberdayaan masyarakat umum dilakukan melalui pembentukan wadah perwakilan masyarakat yang
peduli kesehatan. Wadah perwakilan yang dimaksud antara lain adalah Badan Penyantun Puskesmas (di
kecamatan), Konsil/Komite Kesehatan Kabupaten/Kota (di kabupaten/kota), atau Koalisi/Jaringan/Forum
Peduli Kesehatan (di provinsi dan nasional) dengan Target minimal adalah terbetuknya wadah perwakilan
masyarakat dan Target maksimal adalah ikut aktif dalam mengatsi masalah di masy, meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat serta aktif dalam to Serve, to Advocate, dan to Watch.
Dalam gambar ini dapat dijelaskan kembali secara ringkas: Unsur-unsur utama pemberdayaan masyarakat
adalah pemberdayaan perorangan, pemberdayaan kelompok, dan pemberdayaan masyarakat umum.
Sasaran pemberdayaan perorangan adalah individu dan tokoh masyarakat dengan target maksimal yang
bersangkutan dapat menjadi kader masyarakat yang ber-PHBS. Sasaran pemberdayaan kelompok adalah
kelompok atau lembaga kemasyarakatan dengan target maksimal terwujudnya kelompok peduli kesehatan.
Sasaran pemberdayaan masyarakat umum adalah seluruh masyarakat dalam satu wilayah dengan target
maksimal terwujudnya perwakilan masyarakat yang peduli kesehatan.
Pada akhirnya diharapkan masyarakat dapat berperan dalam memberikan pelayanan (to serve), advokasi,
dan melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pembangunan/upaya kesehatan.

Masalah
Pemberdayaan Masyarakat : Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal
apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Ini penting, agar masyarakat
termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan
kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari
partisipasi aktif masyarakat. Dalam hal ini agar tercapainya Indonesia Sehat 2010
juga dibutuhkan. Sayangnya pemberdayaan masyarakat dalam arti
mengembangkan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat dalam
mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan tentang kesehatan masih
dilaksanakan secara terbatas. Kecuali itu lingkup pemberdayaan masyarakat masih
dalam bentuk mobilisasi masyarakat. Sedangkan pemberdayaan masyarakat dalam
bentuk pelayanan, advokasi kesehatan serta pengawasan sosial dalam program
pembangunan kesehatan belum banyak dilaksanakan

PENUTUP
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dalam makalah ini adalah pemberdayaan masyarakat


merupakan sasaran

utama

dalam promosi kesehatan yang

bertujuan

untuk

memandirikan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan status


kesehatannya menjadi lebih baik dengan menggunakan prinsip pemberdayaan dimana
petugas kesehatan berperan untuk memfasilitasi masyarakat dalam meningkatkan
pengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk memelihara dan meningkatkan
status kesehatannnya.
Dalam pemberdayaan masyarakat peran masyarakat sangat vital, karena
masyarakat yang menjadi pemeran utamanya, namun peran petugas kesehatan juga
tidak bisa dihilangkan. Dalam pemberdayaan masyarakat, petugas kesehatan memiliki
peran penting juga, yaitu memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun
program-program

pemberdayaan

masyarakat

meliputi

pertemuan

dan

pengorganisasian masyarakat, memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja


sama

dalam

melaksanakan

kegiatan

pemberdayaan

agar

masyarakat

mau

berkontribusi terhadap program tersebut, mengalihkan melakukan pelatihan-pelatihan


yang bersifat vokasional.
Jenis-jenis pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan adalah posyandu, pos
obat desa (POD), Pondok bersalin desa (polindes), dana sehat, lembaga swadaya
masyarakat, upaya kesehatan tradisional,pos gizi, pos KB desa,Pos kesehatan
pesantren, Saka Bhakti Husada, Pos Upaya kesehatan kerja, kelompok pemakai air
(pokmair), karang taruna husada, pelayanan puskesmas, dan puskesmas pembantu
(Pustu) dan lain sebagainya.
B. Saran
1.

Bagi masyarakat, diharapkan pada tenaga kesehatan agar dapat memfasilitasi


masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan
masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat, memberikan
motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan
pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut

2.

Bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam mendukung program-program


kesehatan dalam sistem pemberdayaan masyarakat

3.

Bagi pmbaca, diharapkan agar makalah ini dpat menambah wawasan tentang
pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.
Masalah

Dalam pelaksanaannya, pemberdayaan masyarakat masih merupakan permasalahan yang rumit


dan kompleks, karena berhubungan dengan perubahan perilaku masyarakat, di mana dalam
perubahan perilaku tersebut berhubungan dengan adat istiadat, sosial, ekonomi, dan faktor
lainnya yang ada di masyarakat. Faktor adat istiadat merupakan tantangan terberat dalam
pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, karena mempengarungi kepercayaan dan kebiasaan
sehari-hari masyarakat.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hendhers/pentinganya-pemberdayaan-masyarakatdi-bidang-kesehatan_55183a7c813311fd689de76a
ndikator Hasil Pemberdayaan Masyarakat
1. Input
Input meliputi SDM, dana, bahan-bahan, dan alat-alat yang mendukung kegiatan pemberdayaan
masyarakat.
2. Proses
Proses, meliputi jumlah penyuluhan yang dilaksanakan, frekuensi pelatihan yang dilaksanakan,
jumlah tokoh masyarakat yang terlibat, dna pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan.
3. Output
Output, meliputi jumlah dan jenis usaha kesehatan yang bersumber daya masyarakat, jumlah
masyarakat yang telah meningkatkan pengetahuan dari perilakunya tentang kesehatan, jumlah
anggota keluarga yang memiliki usaha meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya
fasilitas umum di masyarakat.

4. Outcome
Outcome dari pemberdayaan masyarakat mempunyai kontribusi dalam menurunkan angka
kesakitan, angka kematian, dan angka kelahiran serta meningkatkan status gizi kesehatan.