Anda di halaman 1dari 104

Penerbit:

Bank Indonesia
Agustus 2016

Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada:





Bank Indonesia
Departemen Kebijakan Makroprudensial
Jl. MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia
Email : BI-DKMP@bi.go.id

MENGUPAS KEBIJAKAN
MAKROPRUDENSIAL

DEPARTEMEN KEBIJAKAN MAKROPRUDENSIAL

Daftar Isi
Daftar Isi....................................................................................................... ii
Prakata Gubernur Bank Indonesia.............................................................. iv
Bab I.



Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial?........................ 1


I.1. Pendahuluan............................................................................ 1
I.2. Definisi dan Karakteristik Kebijakan Makroprudensial.......... 2
Boks 1.1. Mengapa Kebijakan Makroprudensial Tidak Hanya
Mengenai Perbankan?...................................................... 8

BAB II. Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?...................... 13



II.1. Karakteristik Sistem Keuangan............................................... 13

II.2. Kebijakan Makroprudensial Sebagai Komplemen


Kebijakan Lain.......................................................................... 15


II.2.1 Kebijakan Makroprudensial dan Mikroprudensial...... 15


II.2.2 Kebijakan Makroprudensial dan Moneter................... 16


II.2.3 Kebijakan Makroprudensial dan Fiskal......................... 17

Boks 2.1. Interaksi Kebijakan Makroprudensial dengan



Kebijakan Moneter dan Mikroprudensial.................... 19
Bab III. Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?.............. 23

III.1. Mandat dan Kewenangan....................................................... 23

III.2. Landasan Hukum..................................................................... 27

Boks 3.1. Koordinasi Antarotoritas dalam Menjaga Stabilitas



Sistem Keuangan.......................................................... 29
Bab IV. Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan

Kebijakan Makroprudensial?.......................................................... 33

IV.1. Identifikasi Sumber Risiko Sistemik........................................ 35

IV.2. Pengawasan Makroprudensial............................................... 37
IV.2.1. Monitoring dan Analisis Risiko Sistemik........................ 37


IV.2.2. Pemberian Sinyal Risiko................................................ 40


IV.2.3 Pemeriksaan Tematik..................................................... 42

IV.3.Desain dan Implementasi Instrumen Kebijakan..................... 43

ii


IV.3.1. Motivasi Pengembangan Instrumen


Makroprudensial........................................................... 43

IV.3.2. Waktu Perumusan dan Implementasi Instrumen


Makroprudensial........................................................... 45

IV.3.3. Instrumen Kebijakan Makroprudensial di Indonesia... 46
Boks 4.1. Memperluas Jangkauan Monitoring Risiko dengan
Regional Financial Surveillance...................................... 49
Boks 4.2. Stress Testing Perbankan: Menguji Ketahanan Bank


dalam Menghadapi Tekanan........................................ 52
Boks 4.3. Tidak Ada Lagi Too-Big-To-Fail................................... 55
Boks 4.4. Countercyclical Capital Buffer: Solusi Redam Rugi....... 60
Boks 4.5. Standar Internasional Pengaturan di Sektor


Keuangan: Basel III........................................................ 63

Bab V. Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis:



Protokol Manajemen Krisis............................................................ 67

V.1. Dasar Hukum PMK.................................................................... 68

V.2. Peran PMK Bank Indonesia dalam Memelihara Stabilitas


Sistem Keuangan..................................................................... 69

V.3. Koordinasi Antarlembaga dalam Pencegahan dan/atau
Penanganan Krisis.................................................................... 71

V.4. Opsi Kebijakan Bank Indonesia dalam Pencegahan dan

Penanganan Krisis..................................................................... 72

Boks 5.1. Pelajaran Berharga dari Krisis Keuangan Global 2008.... 75
Daftar Pustaka.............................................................................................. 79
Daftar Singkatan.......................................................................................... 82
Daftar Istilah................................................................................................. 84
Kontributor................................................................................................... 94

iii

Prakata Gubernur Bank Indonesia


Istilah makroprudensial mengemuka dan menjadi sangat populer di sektor
keuangan paska terjadinya krisis keuangan global. Krisis keuangan tersebut
ditengarai terjadi karena belum diterapkannya kebijakan makroprudensial
yang efektif di negara maju, yaitu kebijakan yang berkaitan dengan dinamika
di sektor keuangan yang bersumber dari interaksi antara makro ekonomi
dengan mikro ekonomi. Di Indonesia sendiri, pendekatan makroprudensial
sudah dijalankan sebagai bagian dari pemulihan ekonomi akibat krisis
keuangan Asia tahun 1997/1998.
Pengalaman krisis tersebut sesungguhnya telah memberikan pelajaran
yang berharga, sehingga pada saat krisis keuangan global 2007/2008
yang dipicu oleh kegagalan produk subprime mortgage di Amerika Serikat,
Bank Indonesia dengan kebijakan mikroprudensial dan makroprudensial
yang dimilikinya sudah lebih siap dengan berbagai langkah yang dapat
menahan pemburukan kondisi ekonomi dan sistem keuangan di dalam
negeri. Selanjutnya dengan berlandaskan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, fungsi mikroprudensial yang
terkait dengan kesehatan, kinerja, dan kelangsungan usaha individual
bank dialihkan kepada Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Desember 2013,
sementara Bank Indonesia diamanatkan untuk tetap menjalankan fungsi
makroprudensial.
Meskipun kebijakan makroprudensial sudah sejak lama menjadi bagian
integral dari kebijakan Bank Indonesia, perkembangan kebijakan
makroprudensial di tataran internasional relatif baru menjadi perhatian
dan banyak didiskusikan dalam beberapa waktu terakhir. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika masih banyak kalangan yang belum memahami
apa yang menjadi esensi kebijakan makroprudensial. Sebagaimana
dilakukan otoritas keuangan lainnya di seluruh dunia, Bank Indonesia terus
berupaya melakukan pengembangan kerangka kebijakan makroprudensial
yang sejalan dengan standar dan praktik-praktik terbaik di tataran
internasional. Namun demikian, pemahaman berbagai pihak terhadap

iv

kebijakan makroprudensial akan memegang peranan penting dalam


efektivitas penerapan kebijakan makroprudensial tersebut, sehingga
proses komunikasi mengenai kebijakan makroprudensial mulai dari hal
yang paling mendasar perlu dilakukan.
Untuk mendukung proses komunikasi kebijakan makroprudensial tersebut,
Bank Indonesia memandang perlu untuk menerbitkan buku yang mengupas
berbagai hal yang terkait dengan kebijakan makroprudensial. Pada buku
ini, bab I (pertama) hingga III (ketiga) menjelaskan mengenai apa dan
bagaimana kebijakan makroprudensial, mengapa kebijakan itu diperlukan,
dan siapa yang melaksanakan mandat kebijakan tersebut. Sedangkan, Bab
IV (keempat) dan V (kelima) memaparkan mengenai strategi kebijakan
makroprudensial di Bank Indonesia, serta bagaimana Bank Indonesia
mencegah dan menangani krisis. Dua bab terakhir ini ditujukan kepada
yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana Bank Indonesia
menjalankan mandat di bidang makroprudensial, terutama dalam rangka
mendorong terpeliharanya stabilitas sistem keuangan. Buku ini juga
dilengkapi dengan tulisan-tulisan pendek dalam boks untuk memberikan
pemahaman yang lebih spesifik bagi pihak-pihak yang ingin mendalami isu
atau aspek tertentu dalam kebijakan makroprudensial.
Akhir kata, kami berharap penerbitan buku ini dapat mendukung
tercapainya kesamaan pandangan dan pemahaman mengenai kebijakan
makroprudensial, sehingga dapat membantu peningkatan efektivitas
pengendalian risiko sistemik dan ketidakseimbangan keuangan untuk
mendorong terwujudnya stabilitas sistem keuangan. Saran, komentar
maupun kritik dari seluruh pihak sangat kami harapkan untuk lebih
menyempurnakan buku ini di masa mendatang.
Jakarta, Agustus 2016

(Agus D.W. Martowardojo)


v

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

Apa dan Bagaimana


Kebijakan Makroprudensial?
I.1. Pendahuluan
Meskipun istilah makroprudensial telah diperkenalkan sejak tahun
19791, namun kebijakan makroprudensial baru populer pascakrisis
keuangan global (global financial crisis, GFC) yang terjadi pada tahun
2008. Krisis yang dipicu permasalahan subprime mortgage di sektor
keuangan ini tak hanya mengakibatkan penurunan kinerja sektor
keuangan, namun juga berdampak negatif pada memburuknya
perekonomian dunia. Keterkaitan hubungan, atau hubungan sebab
akibat (feedback loop), antara sektor keuangan dengan sektor riil
mengakibatkan biaya krisis menjadi tinggi dengan waktu pemulihan
yang tidak singkat.
Kondisi-kondisi tersebut mendorong pemimpin negara-negara
G20 pada pertemuan di Seoul tahun 2010 untuk meminta Financial
Stability Board (FSB), International Monetary Fund (IMF), dan
Bank for International Settlement (BIS) agar mengembangkan
kerangka kebijakan makroprudensial guna mencegah risiko
sistemik pada sektor keuangan (FSB, IMF, BIS, 2011). Sebagai tindak
lanjut, bank sentral dan otoritas keuangan beberapa negara turut
mengembangkan pendekatan makroprudensial dalam menjaga
stabilitas sistem keuangan, antara lain melalui tren perubahan
penataan kelembagaan (institutional arrangement) otoritas
keuangan di beberapa negara.
Di Indonesia, istilah makroprudensial secara implisit telah digunakan
sejak awal tahun 2000 sebagai respons atas krisis keuangan tahun
1.

Istilah makroprudensial pertama kali diperkenalkan pada pertemuan The Cooke Committee (saat ini dikenal
dengan Basel Committee on Banking Supervision/BCBS) tahun 1979 terkait dengan pembahasan excessive
lending growth. Pada pembahasan tersebut diidentifikasi adanya integrasi antara permasalahan microeconomic dengan macro-economic yang disebut dengan istilah macro-prudential (Clement, 2010).

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

1997/1998, yang ditandai dengan penyusunan kerangka stabilitas


sistem keuangan Indonesia dan pembentukan Biro Stabilitas
Sistem Keuangan (BSSK) di Bank Indonesia. Berdasarkan kerangka
tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas sistem
keuangan Indonesia melalui dua pendekatan, yaitu mikroprudensial
dan makroprudensial (BI, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa sejak
awal tahun 2000, Bank Indonesia telah memerhatikan aspek
makroprudensial dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Peran
Bank Indonesia di bidang makroprudensial tertuang dalam UndangUndang (UU) Republik Indonesia No. 21 Tahun 2011 tanggal 22
November 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejalan
dengan beralihnya fungsi pengaturan dan pengawasan bank
(mikroprudensial) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sejak tahun 2003, Bank Indonesia telah aktif mengomunikasikan
hasil pemantauan (surveillance) atas stabilitas sistem keuangan
secara semesteran. Hasil tersebut dituangkan dalam laporan yang
dikenal dengan nama Kajian Stabilitas Keuangan (KSK). Dalam
perjalanannya, kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga
stabilitas sistem keuangan telah diakui secara internasional seperti
terlihat dari keberhasilan Bank Indonesia dalam memperoleh
penghargaan sebagai The Best Systemic and Prudential Regulator
pada acara The Asian Banker Annual Leadership Achievement Awards
yang diselenggarakan pada 25 April 2012, di Bangkok. Penghargaan
tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kemampuan Bank
Indonesia dalam mengarahkan industri perbankan Indonesia untuk
menerapkan aturan berstandar internasional, serta kemampuan
merespons gejolak perekonomian global pada saat krisis hingga
mampu menghindari terjadinya risiko sistemik.

I.2. Definisi dan Karakteristik Kebijakan


Makroprudensial
Dalam penelitian yang dilakukan di BIS, Swiss, kebijakan
makroprudensial didefinisikan sebagai kebijakan yang bertujuan
untuk membatasi risiko dan biaya dari krisis sistemik (Galati G.,
and Richhild M., 2011). Sementara European Systemic Risk Board
2

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

(ESRB), yaitu badan yang memiliki misi mengawasi sistem keuangan


Eropa, serta mencegah dan membatasi terjadinya risiko sistemik di
sistem keuangan Eropa, mendefinisikan kebijakan makroprudensial
sebagai kebijakan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem
keuangan secara keseluruhan, termasuk dengan memperkuat
ketahanan sistem keuangan dan mengurangi penumpukan risiko
sistemik, sehingga memastikan keberkelanjutan kontribusi sektor
keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi (ESRB, 2013). Penjelasan
serupa disampaikan oleh IMF, yang mendefinisikan makroprudensial
sebagai kebijakan yang memiliki tujuan untuk memelihara stabilitas
sistem keuangan secara keseluruhan melalui pembatasan risiko
sistemik (IMF, 2011).
Merujuk pada beberapa definisi di atas, setidaknya terdapat 3 (tiga)
kalimat kunci untuk menggambarkan kebijakan makroprudensial,
yakni diterapkan dengan tujuan menjaga stabilitas sistem keuangan,
diterapkan dengan berorientasi pada sistem keuangan secara
keseluruhan (system-wide perspectives), dan diterapkan melalui
upaya membatasi terbangunnya (build-up) risiko sistemik. Secara
sederhana kebijakan makroprudensial merupakan penerapan prinsip
kehati-hatian pada sistem keuangan guna menjaga keseimbangan
antara tujuan makroekonomi dan mikroekonomi.
Menjaga stabilitas sistem keuangan merupakan tujuan yang dilakukan
bersama antara beberapa otoritas. Dalam hal ini, terdapat lebih dari 1
(satu) otoritas yang memiliki kepentingan dalam mencapai stabilitas
sistem keuangan. Yang membedakan adalah kewenangan masingmasing otoritas dalam upaya mencapai tujuan tersebut, seperti
bank sentral melalui kewenangan moneter, makroprudensial, dan
sistem pembayaran; pemerintah melalui kewenangan fiskal; dan
otoritas pengawas industri jasa keuangan melalui kewenangan
mikroprudensial. Dengan demikian, implementasi kebijakan
makroprudensial sangat mungkin dilakukan melalui interaksi
dengan kebijakan lain, terutama dengan kebijakan yang memiliki
dampak pada sistem keuangan. Biasanya interaksi ini bersifat saling
melengkapi sehingga menjadikan elemen sistem keuangan menjadi
lebih berhati-hati (prudent). Melalui interaksi antarkebijakan ini,

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

diharapkan agar permasalahan yang terjadi pada sistem keuangan


tidak berdampak negatif pada kondisi makroekonomi dan sektor riil,
serta sebaliknya.
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 16/11/PBI/2014 tanggal 1 Juli 2014
tentang Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial memberikan
arahan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan suatu kondisi
yang memungkinkan sistem keuangan nasional berfungsi secara
efektif dan efisien, serta mampu bertahan terhadap kerentanan
internal dan eksternal sehingga alokasi sumber pendanaan atau
pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas
perekonomian nasional. Sementara, sistem keuangan didefinisikan
sebagai suatu sistem yang terdiri atas lembaga keuangan, pasar
keuangan, infrastruktur keuangan, serta perusahaan nonkeuangan
dan rumah tangga yang saling berinteraksi dalam pendanaan dan/
atau penyediaan pembiayaan perekonomian.
Bila kebijakan mikroprudensial difokuskan pada tingkat kesehatan
individu institusi keuangan (bank dan nonbank) dalam upaya menjaga
stabilitas sistem keuangan, maka kebijakan makroprudensial lebih
berorientasi pada sistem secara keseluruhan. Dengan demikian,
fokus kebijakan makroprudensial tak hanya mencakup institusi
keuangan, namun meliputi pula elemen sistem keuangan lainnya,
seperti pasar keuangan, korporasi, rumah tangga, dan infrastruktur
keuangan. Mengapa demikian? Karena kebijakan makroprudensial
merupakan kebijakan dengan tujuan akhir meminimalkan terjadinya
risiko sistemik. Dalam beberapa penelitian, risiko sistemik
didefinisikan sebagai risiko yang dapat mengakibatkan hilangnya
kepercayaan publik dan peningkatan ketidakpastian dalam sistem
keuangan sehingga sistem keuangan tidak dapat berfungsi dengan
baik dan mengganggu jalannya perekonomian. Risiko sistemik dapat
terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga, atau terjadi secara perlahanlahan tanpa disadari atau dideteksi oleh berbagai pihak sehingga
kebijakan yang tepat dapat terlambat diterapkan. Efek negatif risiko
sistemik pada perekonomian dapat dilihat dari peningkatan jumlah
gangguan pada sistem pembayaran, aliran kredit, dan penurunan
nilai aset (Group of Ten, 2001). Dalam definisi yang lain, risiko

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

sistemik dirumuskan sebagai kombinasi dari keadaan-keadaan yang


mengancam stabilitas atau kepercayaan publik terhadap sistem
keuangan; serta sebagai risiko instabilitas keuangan yang menyebar
sehingga dapat melumpuhkan fungsi sistem keuangan pada titik
yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menurunkan
kesejahteraan masyarakat (Billio et all, 2010 dan ECB, 2010).
Sementara pada PBI Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial,
risiko sistemik didefinisikan sebagai potensi instabilitas akibat
terjadinya gangguan yang menular (contagion) pada sebagian atau
seluruh sistem keuangan karena interaksi dari faktor ukuran (size),
kompleksitas usaha (complexity), keterkaitan antarinstitusi dan/
atau pasar keuangan (interconnectedness), serta kecenderungan
perilaku yang berlebihan dari pelaku atau institusi keuangan untuk
mengikuti siklus perekonomian (procyclicality).
Merujuk pada definisi risiko sistemik di atas, dapat disimpulkan 3
(tiga) hal berikut. Pertama, sumber risiko sistemik tidak harus berasal
dari institusi keuangan, namun dapat berasal dari elemen sistem
keuangan lainnya, seperti kegagalan korporasi atau permasalahan
di sistem pembayaran, atau bahkan berasal dari gangguan (shock)
di luar sistem keuangan. Kedua, keterkaitan (interconnectedness) di
antara elemen sistem keuangan memunculkan potensi menularnya
atau merambatnya risiko dari suatu elemen sistem keuangan kepada
seluruh elemen sistem keuangan (contagion effect). Ketiga, potensi
dampak yang ditimbulkan oleh risiko sistemik sangat luas, tidak
hanya terbatas pada sektor keuangan, namun dapat mengganggu
perekonomian. Dengan demikian, tujuan makroprudensial untuk
meminimalkan risiko sistemik sesungguhnya merupakan upaya
menjaga stabilitas sistem keuangan yang mencakup seluruh
elemen sistem keuangan dengan tetap memerhatikan kondisi
makroekonomi (Baca Boks 1.1. Mengapa Kebijakan Makroprudensial
Tidak Hanya Mengenai Perbankan?).
Tiga hal tersebut di atas menunjukkan bahwa kinerja dan tingkat
kesehatan institusi keuangan bukan merupakan satu-satunya syarat
untuk mengukur risiko sistemik dan menciptakan stabilitas sistem
keuangan. Secara lebih luas, kebijakan makroprudensial mengukur

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

risiko sistemik dari limpahan (spillover) dampak dan biaya yang


ditimbulkan, termasuk interaksinya dengan makroekonomi. Lebih
lanjut dalam penelitian di BIS dinyatakan bahwa dalam perspektif
makroprudensial, meskipun semua institusi keuangan memiliki
kinerja dan tingkat kesehatan yang baik, namun kondisi tersebut
belum cukup untuk menciptakan stabilitas sistem keuangan.
Potensi risiko sistemik tetap dapat muncul apabila institusi
keuangan menghadapi faktor risiko yang sama (common risk factor),
antara lain akibat pemusatan risiko pada portofolio yang sama
(concentration risk). Sementara itu, kinerja dan tingkat kesehatan
setiap institusi keuangan tidak lagi menjadi syarat perlu apabila
kegagalan atau risiko pada satu atau beberapa institusi keuangan
tidak menimbulkan dampak yang signifikan (sistemik) terhadap
sistem keuangan. Dengan penjelasan tersebut, kinerja dan tingkat
kesehatan institusi keuangan tidak lagi menjadi syarat cukup dan
perlu bagi makroprudensial dalam menciptakan stabilitas sistem
keuangan (Borio, 2009).
Berangkat dari konsep tersebut, guna meminimalkan risiko
sistemik dalam cakupan makroprudensial, terdapat 2 (dua) dimensi
yang menjadi menjadi acuan dalam proses identifikasi risiko dan
perumusan kebijakan, yakni dimensi antarsubjek (cross section)
yang berfokus pada perbedaan perilaku antarelemen dan agen
keuangan, serta dimensi runtun waktu (time series) yang berfokus
pada dinamika perilaku elemen/agen keuangan dari waktu ke waktu.
Hal ini berbeda dengan kebijakan mikroprudensial yang cenderung
hanya fokus pada dimensi antarsubjek (cross section), atau kebijakan
moneter yang cenderung hanya fokus pada dimensi runtun waktu
(time series). Secara lebih detail, dimensi antarsubjek (cross section)
menekankan bagaimana risiko terdistribusi dalam sistem keuangan
pada satu periode tertentu, yang disebabkan oleh terpusatnya
portofolio pada eksposur tertentu (concentration risk) atau
adanya kesamaan eksposur (common risk factor), sehingga potensi
menyebarnya risiko antarindividu/sektor (contagion risk) menjadi
tinggi. Akibatnya, permasalahan yang terjadi di satu institusi dapat
berakibat negatif pada institusi lainnya baik melalui saluran langsung
maupun tidak langsung. Sedangkan, dimensi runtun waktu (time
6

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

series) menekankan pada bagaimana risiko dalam sistem keuangan


berevolusi sepanjang waktu, termasuk evolusi dengan mengikuti
siklus ekonomi (procyclicality). Adanya fokus pada dimensi runtun
waktu ini yang mengakibatkan kebijakan makroprudensial umumnya
bersifat time-varying (bervariasi menurut waktu), artinya kalibrasi
kebijakan bersifat dinamis sesuai dengan evolusi terhadap siklus
ekonomi. Permasalahan atau risiko yang mencakup dimensi runtun
waktu selanjutnya akan direspon dengan kebijakan yang bersifat
berlawanan dengan siklus ekonomi (countercyclical).
Meskipun
semakin
banyak
otoritas
keuangan
yang
mengimplementasikan kebijakan makroprudensial, namun belum
ada teori ekonomi yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan
kebijakan makroprudensial. Berbeda dengan kebijakan moneter
yang menargetkan tingkat inflasi dengan variasi instrumen kebijakan
yang jelas, seperti suku bunga, nilai tukar, dan uang beredar, target
kebijakan makroprudensial untuk mencapai stabilitas sistem
keuangan dengan meminimalkan risiko sistemik tidak dapat diukur
hanya dengan menggunakan satu indikator. Hingga saat ini belum
ada metode kuantitatif (model) yang secara komprehensif dapat
mengukur risiko sistemik pada sistem keuangan, selain model dan
metodologi yang menilai satu atau beberapa aspek risiko sistemik
secara terpisah (BCBS, 2012a). Belum berkembangnya teori yang
menjadi pedoman pelaksanaan kebijakan makroprudensial ini
melatarbelakangi bank sentral dan otoritas keuangan negara-negara
untuk mulai mengembangkan kerangka kebijakan makroprudensial
sebagai pedoman untuk memastikan kebijakan makroprudensial,
yang setidak-tidaknya dirumuskan dengan prosedur yang tepat
berdasarkan informasi yang akurat dan dieksekusi dengan tepat
waktu pada target yang sesuai. Upaya pengembangan kerangka
kebijakan tersebut terus dilakukan sejalan dengan upaya mitigasi
risiko sistemik melalui pengembangan metode identifikasi,
monitoring, dan analisis risiko yang komprehensif.

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

Boks Mengapa Kebijakan Makroprudensial Tidak Hanya Mengenai


1.1. Perbankan?
Jika seseorang punya kepastian pendapatan dalam jangka
panjang, misalnya dalam bentuk pendapatan atau gaji bulanan,
maka kebutuhan yang terpikir olehnya terlebih dahulu selain
sandang dan pangan, umumnya adalah papan (atau properti).
Perumahan adalah kebutuhan dasar manusia. Namun pada
saat yang sama, properti juga adalah salah satu bentuk
investasi yang disukai masyarakat, karena kecenderungan
harganya selalu meningkat, terutama yang berlokasi di kota
besar. Jika perekonomian sedang baik, dan kepastian usaha
membaik, permintaan terhadap properti biasanya meningkat,
baik untuk perumahan maupun untuk keperluan komersial.
Apabila permintaan (demand) properti naik hingga menjadi
lebih tinggi dari ketersediaannya (supply), maka harga properti
meningkat. Kecenderungan peningkatan harga ini, menjadikan
properti investasi yang menarik bagi masyarakat karena sudah
pasti bertambah nilainya di masa depan sehingga memberikan
imbal hasil yang baik. Akibatnya harga properti akan semakin
terdorong untuk naik.
Masih ingat dengan krisis keuangan global 2008 yang diawali
dengan permasalahan sektor keuangan di Amerika Serikat? Krisis
tersebut didahului dengan fenomena yang sama, yakni tren
peningkatan harga properti. Pada saat kondisi perekonomian
baik, biasanya ditunjang dengan kondisi tingkat bunga yang relatif
rendah, sehingga dana untuk pinjaman pun menjadi lebih mudah
diperoleh. Ditambah lagi, kemudahan memperoleh pinjaman
dapat memfasilitasi spekulasi terhadap aset properti yang
dibiayai melalui kredit. Kondisi ini mendorong peningkatan harga
properti. Bagi bank sendiri, pemberian kredit pada sektor properti
yang sedang mengalami tren kenaikan harga, dinilai cukup
menguntungkan sehingga ekspansi kredit pada sektor properti
pun terjadi. Bila pemberian kredit ini tidak diimbangi dengan
aturan prudensial yang memadai, sangat mungkin ekspansi

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

kredit properti tersebut akan diikuti dengan peningkatan angka


non performing loan (NPL), yakni memburuknya kualitas kredit.
Kondisi-kondisi di atas dapat menyebabkan peningkatan harga
properti yang tidak wajar, atau yang kemudian disebut bubble
(penggelembungan harga). Bubble merupakan kondisi di mana
harga aset sudah tidak merepresentasikan harga fundamentalnya,
yaitu untuk properti biasanya mencakup harga tanah, ongkos
pembangunan, dan margin keuntungan pengembang. Apakah
risiko dari membiarkan bubble terjadi? Harga properti yang
tidak sesuai dengan fundamental menyebabkan nilai agunan
untuk kredit pemilikan properti menjadi jauh di bawah nilai
pinjaman. Sementara itu, pada saat perekonomian menurun dan
kepastian pendapatan hilang, kemampuan masyarakat untuk
pengembalian kredit menjadi tersendat sehingga kinerja kredit
pun memburuk. Nilai agunannya tidak dapat menutupi kerugian
dari kegagalan kreditnya. Terlebih jika NPL kredit properti
semakin meningkat, maka akan ada banyak aset properti
yang dijual untuk menutup kerugian sehingga harganya makin
menurun. Dengan kata lain, gelembung pun pecah (bubble
burst). Semakin tinggi tingkat konsentrasi kredit pada sektor
properti, akan semakin luas dampak yang ditimbulkan, termasuk
meningkatkan risiko sistemik. Penurunan harga propert tersebut
akan mengakibatkan bank mengalami kesulitan likuiditas,
sehingga sulit menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.
Akibatnya terjadi instabilitas di sistem keuangan.
Guna mengantisipasi terjadinya fenomena di atas, diperlukan
suatu kebijakan yang mampu meredam akumulasi risiko
yang timbul akibat tindakan spekulasi dan tingginya tingkat
konsentrasi kredit pada sektor properti. Dalam hal ini, kebijakan
yang bersifat mikroprudensial meningkatkan kehati-hatian bank
sendiri tidak cukup. Diperlukan kebijakan yang bersifat agregat
untuk mengendalikan perilaku ambil risiko agen ekonomi yang
berlebihan, yakni kebijakan loan-to-value (LTV). Kebijakan ini
dimaksudkan untuk mengurangi perilaku spekulatif dalam

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

investasi properti yang dibiayai oleh sektor perbankan, dengan


mensyaratkan besarnya uang muka kredit pemberian rumah
pada jumlah tertentu. Namun untuk tetap memenuhi kebutuhan
perumahan masyarakat, kebijakan ini hanya dibatasi untuk
rumah mewah serta kepemilikan rumah kedua dan seterusnya.
Hal ini untuk menjaga keberpihakan kepada pembeli rumah yang
memiliki motivasi untuk dijadikan tempat tinggal utama.
Fenomena di atas adalah salah satu contoh mengapa kebijakan
makroprudensial tidak hanya melulu tentang perbankan.
Walaupun yang dibatasi adalah bagaimana bank memberikan
kredit kepada nasabahnya, kebijakan LTV dihasilkan dari
pemantauan di sektor properti, termasuk perilaku perusahaan
properti dan konstruksi, pemantauan terhadap kondisi
makroekonomi sebagai lingkungan sistem keuangan, serta
pemantauan terhadap daya beli rumah tangga. Dengan demikian,
untuk kebijakan LTV saja, pemantauan perlu dilakukan kepada
korporasi sektor konstruksi sebagai penyedia properti, pasar
modal dan perbankan sebagai sumber pendanaan korporasi,
perbankan sebagai pemberi kredit pemilikan rumah (KPR), serta
rumah tangga dan korporasi sebagai pihak yang membutuhkan
properti untuk residensial maupun komersial. Selain itu, untuk
menjaga sinkronisasi kebijakan di sektor keuangan, institusi
keuangan nonbank yang juga menyalurkan kredit perumahan
pun perlu dipantau.
Dalam kebijakan makroprudensial, kondisi korporasi dan rumah
tangga, baik sebagai surplus maupun defisit unit dalam sistem
keuangan, ikut menentukan keberlangsungan institusi keuangan
sehingga perlu dipantau. Sebagai depositor dalam perbankan
serta investor di pasar keuangan, korporasi dan rumah tangga
merupakan sumber pendanaan dalam sistem keuangan.
Sedangkan sebagai debitur perbankan dan institusi keuangan
nonbank, kondisi keuangan korporasi dan rumah tangga juga ikut
menentukan kinerja dan tingkat kesehatan institusi keuangan. Di
samping itu, kondisi pasar keuangan sebagai sebagai tempat para

10

Apa dan Bagaimana Kebijakan Makroprudensial

investor bertemu dan melakukan perdagangan aset keuangan


juga menjadi penting untuk dipantau, karena informasi di pasar
keuangan mencerminkan perilaku dan kinerja sektor keuangan.
Elemen lainnya dari sistem keuangan, yakni infrastruktur sistem
keuangan atau lebih dikenal sebagai sistem pembayaran, pun
perlu dijaga stabilitasnya untuk menjaga agar seluruh transaksi
keuangan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Gambar di bawah menunjukkan cakupan dari kebijakan
makroprudensial, yaitu sistem keuangan. Setiap elemen menjadi
penting untuk dimonitor karena risiko dapat diidentifikasi dan
dinilai dari hasil pemantauan tersebut. Risiko di setiap elemen
sistem keuangan yang tidak segera dimitigasi memiliki potensi
untuk menjadi risiko sistemik yang akan menyebabkan instabilitas
pada sistem keuangan.
Gambar 1.1
Cakupan Sistem Keuangan dalam Kebijakan Makroprudensial

11

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

Mengapa Kebijakan
Makroprudensial Diperlukan?
II.1. Karakteristik Sistem Keuangan
Seperti diuraikan pada bab sebelumnya, upaya menjaga stabilitas
sistem keuangan tidaklah cukup bila hanya difokuskan pada tingkat
kesehatan dan kinerja individu bank atau institusi keuangan lainnya.
Hal ini karena dalam sistem keuangan, antara institusi yang satu
dengan lainnya saling terkait dalam berbagai transaksi keuangan
yang ada. Aset pada satu bank merupakan kewajiban (liability)
pada bank lain. Sebagai contoh, pada transaksi Pasar Uang Antar
Bank (PUAB), di mana antara bank satu dengan bank lainnya dapat
melakukan kegiatan pinjam meminjam dana. Adanya gagal bayar di
satu bank dapat berdampak pada bank lain atau bahkan beberapa
bank sekaligus yang memiliki transaksi keuangan dengan bank
tersebut. Sifat keterkaitan dan interdependensi antarindividu dalam
sistem keuangan ini dikenal dengan istilah interconnectedness.
Dengan adanya karakteristik interconnectedness dalam sistem
keuangan, permasalahan pada satu institusi dapat dengan cepat
menyebar pada institusi lainnya, sehingga menjadi permasalahan
agregat sistem keuangan yang berpotensi menimbulkan dampak
hingga ke sektor riil.
Merujuk pada penjelasan di atas, potensi penyebaran risiko
(spillover) dari satu institusi ke institusi lain menjadi lebih tinggi
apabila permasalahan terjadi pada institusi keuangan yang besar
atau dominan. Kegagalan bank besar dengan pangsa yang cukup
tinggi dalam sistem keuangan akan memberikan dampak yang lebih
signifikan dibandingkan dengan kegagalan bank dengan skala yang
lebih kecil. Hal ini dikenal dengan konsep too-big-to-fail. Selain karena
skala usahanya, bank besar cenderung memiliki interkonektivitas
dengan bank lain yang lebih banyak dengan kompleksitas usaha
13

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

yang tinggi, sehingga permasalahan pada bank tersebut dapat


mengakibatkan gangguan yang lebih luas dalam sistem keuangan,
bahkan hingga bersifat sistemik (Baca Boks 2.1. Tidak Ada Lagi TooBig-To-Fail).
Selain itu, potensi termaterialisasinya suatu risiko dapat muncul
apabila beberapa institusi keuangan yang sehat secara bersamasama memiliki eksposur risiko yang sama (common risk factor).
Hal ini dapat terjadi meskipun setiap institusi keuangan telah
mengelola profil risiko masing-masing dengan baik. Sebagai contoh,
ketika sektor properti sedang tumbuh pesat, mayoritas perbankan
akan memfokuskan penyaluran kreditnya pada sektor tersebut.
Akibatnya, tingkat konsentrasi perbankan pada sektor properti
menjadi tinggi. Apabila terjadi perlambatan atau shock pada sektor
properti, akan banyak bank yang terkena risiko yang sama. Kondisi
ini berpotensi menimbulkan instabilitas dalam sistem keuangan.
Dengan karakteristik sistem keuangan sebagaimana diuraikan di atas
(adanya interconnectedness, institusi yang bersifat too-big-to-fail,
dan common risk factor), dapat disimpulkan bahwa dalam rangka
menjaga stabilitas sistem keuangan, diperlukan suatu pendekatan
pengaturan dan pengawasan yang lebih bersifat agregat,
berorientasi pada sistem, dan memandang semua elemen dalam
sistem keuangan sebagai satu kesatuan yang saling terkait satu
dengan yang lain, serta mengerti dan waspada akan adanya potensi
risiko sistemik. Pendekatan ini dapat diakomodasi oleh kebijakan
makroprudensial. Kebijakan makroprudensial diperlukan untuk
mengatasi berbagai masalah yang bersumber dari karakteristik
sistem keuangan tersebut. Kebijakan makroprudensial yang terfokus
pada keseluruhan sistem keuangan diharapkan mampu menangkap
sumber-sumber risiko secara agregat. Dengan demikian, kestabilan
sistem keuangan akan dapat dicapai, karena fokus pengawasan
tidak hanya terbatas pada kesehatan individu institusi keuangan.
Bagaimana dengan kebijakan lain yang ada sebelumnya, apakah
dinilai tidak cukup?

14

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

II.2. Kebijakan Makroprudensial Sebagai Komplemen


Kebijakan Lain
Dalam implementasinya, kebijakan makroprudensial secara
efektif bisa menjadi komplemen atau pelengkap dari kebijakankebijakan lain yang sudah ada sebelumnya. Karakteristik kebijakan
makroprudensial yang berorientasi kepada sistem, mencakup
dimensi runtun waktu (time series) dan antarsubjek (cross section),
serta diimplementasikan dengan perangkat prudensial, diharapkan
dapat menutup kekurangan (gap) kebijakan mikroprudensial,
moneter, maupun fiskal dalam mewujudkan stabilitas sistem
keuangan.
II.2.1 Kebijakan Makroprudensial dan Mikroprudensial
Kebijakan mikroprudensial yang difokuskan pada tingkat kesehatan
individu institusi keuangan lebih ditekankan pada dimensi antarsubjek
(cross section), yakni bagaimana risiko teramplifikasi dalam 1 (satu)
periode tertentu. Padahal, perilaku institusi keuangan dari waktu ke
waktu juga perlu diperhatikan. Kesehatan institusi keuangan yang
dinilai pada satu waktu tertentu tidak mampu menggambarkan
evolusi risiko yang ada pada institusi tersebut. Karena pada
kenyataannya, pergerakan institusi keuangan cenderung sejalan
dengan naik turunnya perekonomian yang mewarnai perilaku
ambil risikonya (procyclicality). Saat kondisi ekonomi sedang baik,
insitusi keuangan akan melakukan ekspansi dan meningkatkan
perilaku ambil risiko. Sedangkan ketika kondisi ekonomi sedang
buruk, insitusi keuangan cenderung menahan ekspansi, mengurangi
risiko termasuk menahan penyaluran kredit. Karakteristik kebijakan
makroprudensial yang mencakup dimensi runtun waktu (time
series) dan antarsubjek (cross section) mampu melengkapi kebijakan
mikroprudensial dalam meredam amplifikasi risiko.
Sementara, kebijakan makroprudensial adalah kebijakan yang
berorientasi pada sistem, bertujuan melihat sistem keuangan secara
keseluruhan melalui pendekatan yang bersifat top-down. Dengan
pendekatan top-down (dari atas ke bawah), kebijakan yang akan

15

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

diambil didasarkan pada hasil analisis secara komprehensif terhadap


kondisi makroekonomi dan dampaknya pada seluruh risiko dalam
sistem keuangan, termasuk korelasi antara risiko sistemik, dinamika
pasar, dan pilihan kebijakan yang akan dilakukan. Karakteristik
kebijakan ini menjawab kebutuhan akan adanya suatu pendekatan
yang bersifat agregat dalam menciptakan stabilitas sistem
keuangan. Dengan demikian, kebijakan makroprudensial dengan
pendekatan top-down akan melengkapi kebijakan mikroprudensial
yang difokuskan pada pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas)
melalui analisis yang lebih mendalam atas risiko institusi keuangan
secara individual (idiosyncratic risk).
Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa baik
kebijakan makroprudensial maupun kebijakan mikroprudensial
sama-sama bertujuan mencegah instabilitas sistem keuangan, namun
dengan pendekatan yang berbeda. Kebijakan mikroprudensial
dengan fokus pada target kesehatan individual insitusi keuangan,
pada akhirnya akan berupaya mencegah instabilitas dengan cara
menekan kerugian yang ditanggung oleh institusi keuangan,
serta bermuara pada perlindungan konsumen. Sementara itu,
kebijakan makroprudensial yang fokus pada interaksi antara
lembaga keuangan, pasar, infrastruktur dan ekonomi yang lebih
luas, termasuk pengukuran potensi risiko ke depan; akan berupaya
mencegah instabilitas untuk menghindari biaya perekonomian yang
timbul dari kegagalan sektor keuangan (biaya penanggulangan
krisis). Dengan kata lain, kebijakan makroprudensial bertujuan untuk
membatasi kemungkinan kegagalan finansial yang berdampak
signifikan terhadap sistem keuangan atau mencegah terjadinya
risiko sistemik (Crockett, 2000).
II.2.2 Kebijakan Makroprudensial dan Moneter
Kebijakan makroprudensial juga melengkapi kebijakan moneter.
Kebijakan moneter yang difokuskan pada stabilitas harga dan
perekonomian secara makro tidak secara langsung bisa menjangkau
permasalahan di level mikro sistem keuangan. Pengalaman masa lalu
menunjukkan bahwa kondisi krisis dapat terjadi meskipun dengan

16

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

kondisi inflasi dan output gap yang rendah (IMF, 2013a). Sumbersumber risiko makroekonomi dapat berasal dari instabilitas sistem
keuangan. Oleh karena itu, adanya pengawasan agregat pada sistem
keuangan dari kebijakan makroprudensial dapat melengkapi fokus
kebijakan moneter. Kebijakan makroprudensial dapat digunakan
untuk melihat adanya potensi peningkatan risiko dari sistem
keuangan yang dapat mengganggu stabilitas perekonomian secara
keseluruhan.
Secara umum, kedua kebijakan ini beroperasi di bawah paradigma
yang sama, yakni paradigma countercyclical: kebijakan moneter fokus
pada stabilitas harga, sedangkan kebijakan makroprudensial fokus
pada stabilitas keuangan. Kedua kebijakan ini saling terkait satu sama
lain. Kondisi makroekonomi yang merupakan hasil dari implementasi
kebijakan moneter, akan secara langsung memengaruhi stabilitas
sistem keuangan. Perlambatan ekonomi atau volatilitas nilai tukar,
misalnya, dapat secara langsung berdampak pada kinerja penyaluran
dan kualitas kredit perbankan. Oleh karena itu, kedua kebijakan ini
harus dijalankan secara optimal dari sudut pandang masing-masing,
karena kekurangan dari sisi kebijakan moneter tidak akan dapat
secara efektif ditangani oleh kebijakan makroprudensial. Dampak
yang dapat ditimbulkan satu sama lain juga perlu untuk diperhatikan.
Ada kalanya, kebijakan moneter yang berdampak pada seluruh
pelaku ekonomi, dapat menimbulkan dampak yang kurang
menguntungkan di sistem keuangan. Kebijakan makroprudensial
dapat menutup gap di kebijakan moneter dengan kemampuannya
untuk mengatur target objek dari kebijakannya. Kebijakan
makroprudensial dan moneter dapat bersinergi untuk memberikan
dampak kebijakan yang paling sesuai bagi perekonomian (Baca Boks
2.1. Interaksi Kebijakan Makroprudensial dengan Kebijakan Moneter
dan Mikroprudensial).
II.2.3 Kebijakan Makroprudensial dan Fiskal
Kebijakan makroprudensial juga terkait erat dengan kebijakan fiskal.
Kebijakan fiskal yang tepat dan efektif akan mengurangi potensi

17

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

terjadinya shock makroekonomi, yang merupakan salah satu sumber


pembentukan (build up) risiko sistemik (IMF, 2013b). Sebagai contoh,
kenaikan (boom) pada konsumsi swasta dan rumah tangga dapat
teramplifikasi oleh masuknya modal asing (capital inflow) yang tinggi
secara persisten. Aliran modal asing yang masuk, antara lain melalui
pasar saham dan obligasi, dapat meningkatkan kemampuan ekspansi
usaha swasta sekaligus pendapatan masyarakat, yang pada akhirnya
mendorong konsumsi masyarakat. Apabila kenaikan konsumsi
tersebut terjadi pada barang-barang dengan import content
yang tinggi, dapat memicu terjadinya defisit transaksi berjalan
(current account deficit) yang persisten. Di sisi lain, pelaku pasar
akan cenderung semakin ambil risiko (risk-taking) memanfaatkan
kondisi ekonomi yang sedang mengalami boom. Pada kondisi ini,
kebijakan makroprudensial sendiri tidak dapat meredam boom yang
ada. Diperlukan koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk
memperbaiki kondisi defisit transaksi berjalan dengan melakukan
pemberian insentif pajak untuk mendorong produksi barangbarang yang memiliki nilai tambah (value added) sehingga barangbarang yang bersumber dari luar negeri dapat digantikan dengan
barang-barang produksi dalam negeri. Sementara itu, kebijakan
makroprudensial dapat ditargetkan untuk meredam perilaku ambil
risiko yang berlebihan dari pelaku pasar.
Implementasi suatu kebijakan ada kalanya memberikan unintended
consequences2 bagi kebijakan lain. Kebijakan fiskal berbentuk insentif
pajak misalnya, di mana sistem akuntansi perusahaan menyatakan
bahwa peningkatan utang akan memperkecil pajak yang harus
dibayarkan (tax shield). Pengurangan pajak merupakan salah satu
tujuan utama perusahaan, sehingga mengecilnya jumlah pajak dapat
menjadi insentif perusahaan untuk meningkatkan utang (leverage).
Sedangkan kebijakan makroprudensial menuntut adanya kehatihatian dalam berutang. Oleh karena itu, koordinasi antarotoritas
dalam perumusan kebijakan sangat diperlukan guna meminimalisir
unintended consequences dan meningkatkan efektifitas masingmasing kebijakan.
2.

18

Unintended consequences merupakan hasil yang tidak ditargetkan oleh kebijakan namun terjadi sebagai
akibat dari implementasi kebijakan.

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

Boks Interaksi Kebijakan Makroprudensial dengan Kebijakan Moneter


2.1. dan Mikroprudensial
Sebagai kebijakan yang paling terakhir masuk menjadi
bagian tugas dari bank sentral, adalah wajar jika kebijakan
makroprudensial harus beradaptasi dan menghormati kebijakan
lainnya yang sudah menjadi tugas utama bank sentral, terutama
kebijakan moneter. Namun perlu dicatat juga, bahwa kebijakan
makroprudensial yang bertujuan membatasi risiko sistemik
untuk menjaga stabilitas keuangan memang justru lahir karena
stabilitas moneter tidak akan tercapai tanpa adanya stabilitas
keuangan. Demikian pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena
transmisi kebijakan moneter berlangsung melalu sistem
keuangan, serta perilaku institusi/agen keuangan sangat
dipengaruhi oleh kebijakan moneter.
Keunikan dari kebijakan makroprudensial adalah kemampuannya
dalam memberikan dampak kepada target agen keuangan
tertentu. Misalnya, kebijakan makroprudensial bisa saja hanya
ditujukan kepada agen keuangan yang berperilaku spekulatif
dalam investasi di bidang properti, seperti melalui kebijakan
loan-to-value (LTV) yang dirancang untuk menahan perilaku
spekulatif dengan cara mempersyaratkan uang muka yang lebih
besar untuk kredit pembelian rumah kedua dan seterusnya.
Kelebihan ini tidak dimiliki oleh kebijakan moneter, di mana pada
saat ditetapkan, akan berlaku rata bagi semua agen keuangan.
Namun, kebijakan makroprudensial juga bukanlah senjata
pamungkas yang dapat menyelesaikan semua permasalahan
di perekonomian. Kebijakan ini dirancang untuk melengkapi
kebijakan makroekonomi termasuk moneter dan fiskal, serta
kebijakan mikroprudensial. Perlu diperhatikan bahwa target
dari kebijakan makroprudensial adalah keseluruhan atau bagian
dari sistem keuangan demi mengurangi potensi terjadinya
risiko sistemik, yang jika tidak dimitigasi dapat menyebabkan
terjadinya krisis keuangan yang dapat mengganggu stabilitas
perekonomian. Kekuatan dari kebijakan makroprudensial adalah

19

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

kemampuannya menjaga keseimbangan antara pendekatan


makroekonomi yang cenderung hanya melihat kondisi
perekonomian secara agregat dan pendekatan mikroprudensial
yang cenderung hanya memastikan individu institusi keuangan
sehat.
Interaksi antara kebijakan makroprudensial dengan kebijakan
mikroprudensial lebih mudah diobservasi, karena pada dasarnya
kebijakan makroprudensial diimplementasikan dengan
menggunakan instrumen mikroprudensial, namun diberlakukan
dengan tujuan yang berbeda dari tujuan mikroprudensial. Dalam
kebijakan makroprudensial, terkadang kesehatan beberapa
institusi keuangan terpaksa dikorbankan jika hal tersebut
dapat menyelamatkan sistem keuangan secara keseluruhan.
Misalnya, pada saat penyaluran kredit sudah berlebihan,
kebijakan makroprudensial akan memformulasikan tambahan
persyaratan minimum permodalan bank sehingga mendorong
bank mengurangi perilaku ambil untung (Countercyclical Capital
Buffer/CCB). Modal penyangga ini dimaksudkan untuk dapat
dipergunakan oleh bank untuk menyerap kerugian pada saat
kondisi perekonomian menurun di mana kinerja kredit cenderung
menurun. Bagi bank, hal ini akan meningkatkan biaya dananya
sehingga mengurangi keuntungannya. Beberapa bank bisa
saja mengalami kesulitan untuk memenuhi peningkatan modal
minimum ini sehingga tingkat kesehatannya menurun, namun
hal ini akan melindungi keseluruhan sistem perbankan yang perlu
berjaga-jaga terhadap membaliknya kondisi perekonomian.
Oleh karena itu, wajar juga jika kebijakan makroprudensial
cenderung fokus pada institusi keuangan yang memiliki dampak
sistemik (misalnya bank sistemik atau systemically important
bank), dengan mengimplementasikan aturan-aturan yang ketat
untuk menjaga keberlangsungan institusi keuangan tersebut,
sehingga tidak menimbulkan risiko sistemik.
Jika disinkronisasikan, kebijakan makroprudensial dan kebijakan
moneter memiliki kemampuan untuk saling menguatkan.

20

Mengapa Kebijakan Makroprudensial Diperlukan?

Pada saat perekonomian melaju terlalu cepat misalnya, kedua


kebijakan ini bisa mencoba mengerem pertumbuhan kredit
perbankan. Kebijakan moneter dengan cara meningkatkan
suku bunga acuan, dan kebijakan makroprudensial dengan
cara meningkatkan persyaratan permodalan bank pada saat
ekonomi sedang meningkat (CCB). Kedua kebijakan ini akan
menyebabkan biaya dana meningkat sehingga menurunkan
ketersediaan dana untuk kredit, serta jika biaya dana dibebankan
kepada debitur dalam bentuk kenaikan suku bunga kredit akan
menambah biaya pelunasan kredit (repayment), sehingga akan
mengurangi permintaan kredit. Namun ada kalanya, kebijakan
moneter dan kebijakan makroprudensial dapat berlawanan
dampaknya. Misalnya, dalam kondisi suku bunga yang rendah
di mana kebijakan moneter dilonggarkan karena kebutuhan
untuk mendorong perekonomian secara agregat, dapat memicu
terjadinya penggelembungan harga properti (kenaikan harga
yang berlebihan karena permintaan yang lebih tinggi daripada
persediaan) atau biasa disebut bubble. Kondisi ini harus
ditangani dengan kontraksi kebijakan makroprudensial, berupa
LTV yang lebih ketat, di mana uang muka harus lebih tinggi
untuk pembelian properti agar dapat menurunkan permintaan
pembelian rumah. Kondisi yang dapat menimbulkan konflik
kebijakan lainnya yaitu kebijakan moneter yang terlalu ketat
untuk menurunkan tekanan pada nilai tukar Rupiah, yang
berpotensi memberikan tekanan likuiditas pada perbankan.
Adanya contoh-contoh di atas semakin menunjukkan perlunya
sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial,
serta sinergi antara kebijakan makroprudensial dan kebijakan
mikroprudensial. Koordinasi antara kebijakan moneter dan
makroprudensial telah berlangsung di bawah satu atap Bank
Indonesia. Sementara, koordinasi kebijakan makroprudensial
dan kebijakan mikroprudensial berlangsung antara Bank
Indonesia dan OJK dalam mekanisme yang disebut Forum
Koordinasi Makro dan Mikro.

21

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Siapa yang Melaksanakan


Kebijakan Makroprudensial?
III.1. Mandat dan Kewenangan
Salah satu pelajaran dari krisis keuangan global adalah semakin
pentingnya kebijakan makroprudensial yang didukung oleh
penataan kelembagaan (institutional arrangement) otoritas
keuangan, yang dapat menjamin efektivitas pelaksanaan tugas dari
otoritas makroprudensial. Hal tersebut telah mendorong sejumlah
negara memperbaiki penataan kelembagaan otoritas keuangan
yang sebelumnya terbilang terfragmentasi, atau cenderung tidak
memfasilitasi koordinasi antarlembaga. Krisis global menunjukkan
bahwa struktur yang terfragmentasi mengurangi efektivitas upaya
mitigasi risiko sehingga meningkatkan potensi pembentukan risiko
sistemik. Penataan juga dilakukan guna menetapkan otoritas yang
paling tepat diberikan mandat kewenangan makroprudensial.
Penataan kelembagaan institusi makroprudensial dipengaruhi
oleh kondisi spesifik di suatu yurisdiksi seperti ketersediaan dan
kemampuan sumber daya, histori dari penataan kelembagaan yang
ada saat ini, serta rezim moneter. Selain itu, ukuran dan kompleksitas
struktur sistem keuangan, kerangka hukum yang berlaku, aspek
ekonomi politis (political economy), dan kerangka kerja sama
antarotoritas juga turut memengaruhi penataan kelembagaan
tersebut. Di Indonesia sendiri, peran dari otoritas perekonomian
dan sistem keuangan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan
menjadi bagian yang sangat penting dalam menentukan penataan
kelembagaan institusi makroprudensial. (Baca Boks 3.1. Koordinasi
Antarotoritas dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan).
Tidak ada sebuah model yang sama yang dapat diberlakukan di
semua negara dalam menentukan penataan kelembagaan otoritas

23

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

keuangan yang tepat di suatu yurisdiksi. Penataan kelembagaan


yang dipilih akan mengacu pada karakteristik masing-masing negara.
Terkait dengan kewenangan makroprudensial, beberapa opsi
penataan kelembagaan yang dapat dipilih adalah: (a) diserahkan
pada otoritas tunggal, (b) kewenangan dari berbagai otoritas,
atau (c) kewenangan dari komite khusus. Opsi penataan yang
dipilih suatu negara diharapkan dapat memastikan implementasi
kebijakan makroprudensial secara tepat waktu dan efektif untuk
memitigasi risiko di sistem keuangan. Penataan kelembagaan perlu
memberikan kejelasan mandat pada otoritas makroprudensial
untuk mengatur tujuan dan kewenangan otoritas makroprudensial.
Selain itu, perlu ditetapkan kerangka akuntabilitas dan transparansi
guna mendorong legitimasi dan komitmen tindakan oleh otoritas
makroprudensial, serta bagaimana kebijakan lainnya berinteraksi
dengan kebijakan makroprudensial.
Observasi dari sejumlah praktik serta pelajaran dari krisis global
menunjukkan bahwa bank sentral perlu memainkan peran
penting dalam kebijakan makroprudensial, mengingat fungsinya
sebagai otoritas moneter dan sistem pembayaran. Peranan
ini memungkinkan bank sentral untuk memonitor keterkaitan
makrofinansial (atau bagaimana elemen sistem keuangan
berinteraksi dalam tataran makroekonomi), mengidentifikasi risiko
sistemik, ataupun mengomunikasikan potensi risiko yang ada. Hal
tersebut mendorong mayoritas yurisdiksi menunjuk bank sentral
sebagai otoritas makroprudensial.
Pemilihan bank sentral sebagai otoritas makroprudensial didasari
oleh sejumlah faktor fundamental, terkait dengan posisi dan
kapasitas spesifik yang dimiliki oleh bank sentral yang tidak dimiliki
oleh institusi lain. Hal-hal tersebut adalah:
1. Bank sentral sebagai Lender of the Last Resort (LoLR)3
Fungsi bank sentral sebagai otoritas makroprudensial erat
kaitannya dengan fungsi klasik bank sentral sebagai LoLR. Tugas
3.

24

Secara sederhana, bank sentral memiliki fungsi Lender of the Last Resort yang berarti bank sentral adalah
lembaga terakhir yang bersedia memberikan pinjaman dalam kondisi lembaga lain tidak mau atau tidak
sanggup lagi memberikan pinjaman. Fungsi ini dikaitkan juga dengan fungsi bank sentral sebagai pencipta
uang.

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

otoritas makroprudensial untuk mendeteksi dan mencegah


terjadinya risiko sistemik harus didukung dengan kemampuan
menyediakan instrumen likuiditas dalam rangka menghindari
terjadinya risiko sistemik. Dalam hal ini, bank sentral merupakan
satu-satunya lembaga yang memiliki kemampuan menciptakan
likuiditas.
2. Bank sentral sebagai otoritas moneter
Kebijakan makroprudensial akan memitigasi dan meminimalkan
perilaku pengambilan risiko yang berlebihan yang dapat
mengganggu kestabilan harga. Sementara kestabilan harga
itu sendiri merupakan tujuan pencapaian kebijakan moneter.
Di negara yang perekonomiannya didominasi perbankan, bank
sentral sebagai otoritas moneter dan makroprudensial harus
mewujudkan perbankan yang sehat dan stabil karena transmisi
kebijakan bank sentral dilakukan melalui jalur perbankan.
3. Bank sentral sebagai otoritas sistem pembayaran
Pelaksanaan tugas makroprudensial untuk mencegah risiko
sistemik, mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan
berkualitas, serta meningkatkan efisiensi sistem keuangan dan
akses keuangan, berkaitan erat dengan tugas bank sentral untuk
menciptakan sistem pembayaran yang aman, efisien, lancar, dan
andal mengingat adanya gangguan pada infrastruktur sistem
keuangan, termasuk sistem pembayaran, berpotensi menjadi
sumber risiko sistemik.
4. Bank sentral sebagai otoritas makroprudensial memiliki
kapasitas dalam bentuk pengetahuan dan keahlian secara
institusional (institutional knowledge and expertise) dalam
melakukan asesmen risiko sistem keuangan secara menyeluruh
Bank sentral memiliki kapasitas mengidentifikasi, memantau, dan
menilai potensi risiko dan kerentanan yang dapat mengganggu
stabilitas sistem keuangan baik dari kondisi makroekonomi
global dan domestik, dan tidak terbatas hanya pada perbankan.
Makroprudensial memberikan asesmen secara menyeluruh
dengan mempertimbangkan keterkaitan antarsektor sehingga
dapat memberikan gambaran potensi ketidakseimbangan di
25

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

sistem keuangan dan bagaimana transmisi dampak yang terjadi


terhadap sistem keuangan.
5. Bank sentral merupakan institusi yang memiliki kapasitas untuk
merumuskan bauran kebijakan secara komprehensif
Dalam menghadapi permasalahan multidimensi, negara
berkembang memerlukan alternatif pendekatan yang
menggabungkan perspektif dari sejumlah kebijakan (kombinasi
moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran) agar
kebijakan menjadi lebih efektif. Bauran kebijakan yang efektif
untuk menjawab permasalahan risiko sistem keuangan akan
sulit untuk dirumuskan bila kewenangan makroprudensial tidak
menjadi kewenangan bank sentral.
6. Bank sentral memiliki jaringan (network) dengan bank sentral
lain dan lembaga internasional untuk menjaga stabilitas sistem
keuangan kawasan
Bank sentral mampu menjadi organisasi yang belajar (learning
organization) untuk menjaga standar dan kualitas asesmen
sistem keuangan dan perumusan kebijakan makroprudensial.
Penataan antara bank sentral (bilateral maupun multilateral)
memungkinkan bank sentral melakukan kerja sama keuangan
dengan bank sentral/lembaga internasional lain guna memitigasi/
mencegah potensi risiko sistemik di sistem keuangan domestik,
regional, maupun internasional.
Untuk dapat menjalankan kewenangan di bidang makroprudensial
dengan efektif, baik dalam melakukan asesmen maupun
merumuskan kebijakan guna membatasi risiko sistemik, sejumlah
kewenangan perlu dimiliki oleh otoritas makroprudensial yaitu: i)
kewenangan untuk melakukan pengaturan; ii) kewenangan untuk
melakukan pengawasan (off-site); iii) kewenangan untuk melakukan
pemeriksaan untuk mendeteksi pola perilaku agen keuangan,
termasuk dalam rangka memastikan kepatuhan terhadap ketentuan
yang ditetapkan; iv) kewenangan untuk meminta informasi baik
secara rutin maupun nonrutin; serta v) perizinan untuk kegiatan
tertentu yang merupakan cakupan otoritas tersebut.

26

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

III.2.Landasan Hukum
Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK khususnya
penjelasan pasal 7, Bank Indonesia memiliki kewenangan di
bidang makroprudensial. Kewenangan Bank Indonesia di bidang
makroprudensial juga dinyatakan dalam pasal 40 dan penjelasannya
mengenai kewenangan Bank Indonesia untuk melakukan
pemeriksaan khusus kepada bank tertentu, serta penjelasan pasal 69
yang menyebutkan Bank Indonesia tetap memiliki tugas pengaturan
makroprudensial.
UU OJK mendefinisikan lingkup pengaturan dan pengawasan
makroprudensial sebagai pengaturan dan pengawasan selain aspek
kelembagaan, kesehatan, aspek kehati-hatian, dan pemeriksaan
bank yang merupakan lingkup pengaturan dan pengawasan
mikroprudensial yang menjadi tugas dan wewenang OJK. Sementara
itu, UU No. 9 Tahun 2016 tanggal 15 April 2016 tentang Pencegahan
dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK), khususnya
penjelasan pasal 3 ayat 2c, menyebutkan makroprudensial mencakup
pengaturan dan pengawasan lembaga jasa keuangan yang bersifat
makro dan berfokus pada risiko sistemik dalam rangka mendorong
stabilitas sistem keuangan.
Untuk melaksanakan kegiatan pengaturan dan pengawasan
makroprudensial, Bank Indonesia menetapkan kerangka kebijakan
pengaturan dan pengawasan makroprudensial dalam Peraturan
Bank Indonesia (PBI) No. 16/11/PBI/2014 tanggal 1 Juli 2014 tentang
Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial. PBI diterbitkan
sebagai pedoman dalam implementasi kewenangan Bank Indonesia
di bidang makroprudensial, serta untuk meningkatkan pemahaman
pelaku pasar terhadap peran Bank Indonesia sebagai regulator
dan pengawas makroprudensial. Selanjutnya, mempertimbangkan
perlunya terdapat kerangka kebijakan yang tepat, jelas, transparan,
dan dapat dipertanggungjawabkan, disusunlah Peraturan Dewan
Gubernur (PDG) No. 17/17/PDG/2015 tanggal 31 Desember 2015
tentang Kerangka Kebijakan Makroprudensial yang berfungsi
sebagai aturan dan pedoman internal mengenai bagaimana Bank
Indonesia menjalankan kerangka kebijakan makroprudensial. Dengan
27

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

kerangka kebijakan tersebut, diharapkan terdapat kejelasan dalam


proses pengawasan, perumusan dan pengaturan kebijakan, serta
komunikasi kebijakan; termasuk koordinasi dalam rangka menjaga
stabilitas sistem keuangan baik dalam kondisi normal dan krisis, serta
penanganan permasalahan bank sistemik (sistemically important
bank).
Berdasarkan ketentuan tersebut, wewenang Bank Indonesia
mencakup: i) Pengaturan Makroprudensial dan ii) Pengawasan
Makroprudensial. Pelaksanaan pengaturan dan pengawasan
makroprudensial dimaksudkan agar fungsi dan operasional bank
dan/atau lembaga keuangan dapat mendukung kegiatan ekonomi
makro secara berkelanjutan, stabil secara industri dan/atau
sistem, serta seimbang secara sektor ekonomi dan/atau kelompok
masyarakat. Pelaksanaan kewenangan pengaturan dan pengawasan
makroprudensial tidak ditujukan untuk menilai tingkat kesehatan
bank secara individual.
Berbagai ketentuan tersebut menegaskan posisi Bank Indonesia
sebagai otoritas yang berwenang terhadap pelaksanaan dan
pengawasan makroprudensial di Indonesia. Koordinasi antara
berbagai otoritas terkait sangat diperlukan demi terlaksananya
tugas dengan baik dan efektif.

28

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Koordinasi Antarotoritas dalam Menjaga Stabilitas Sistem


3.1. Keuangan
Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia, diperlukan
kerja sama antara berbagai otoritas yang berwenang. UU No. 9
Tahun 2016 tentang PPKSK menjelaskan peranan antara otoritas
yang bekerja sama dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan
(KSSK). Peran KSSK adalah untuk: (i) koordinasi pemantauan
dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan, (ii) penanganan
krisis sistem keuangan, dan (iii) penanganan permasalahan bank
sistemik, baik ketika sistem keuangan berada dalam kondisi
normal maupun krisis. Otoritas yang berwenang dalam menjaga
sistem keuangan tersebut adalah Kementerian Keuangan
(Kemenkeu), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK),
serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Gambar 3.1
Peran Otoritas Keuangan

Hubungan kerja antarotoritas keuangan dan juga Pemerintah


secara keseluruhan tidak terbatas pada penanganan krisis
saja. Dalam mengelola perekonomian negara sehari-hari,
hubungan kerja ini dapat dilihat pada bagan di atas. Peran Bank
Indonesia dalam stabilitas sistem keuangan dikaitkan dengan
peran Bank Indonesia sebagai otoritas kebijakan moneter,
makroprudensial, dan sistem pembayaran (infrastruktur sistem
keuangan). Dengan kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia

29

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

berupaya melakukan langkah-langkah untuk membatasi risiko


sistemik melalui pemantauan keseluruhan sistem keuangan
dan pengaturan perbankan di bidang makroprudensial. Bank
Indonesia juga mengupayakan agar fungsi intermediasi sistem
keuangan berjalan secara seimbang dan berkualitas dalam
kaitannya dengan kondisi makroekonomi global dan domestik.
Kebijakan moneter Bank Indonesia ditransmisikan melalui sistem
keuangan, sehingga dapat langsung memengaruhi stabilitas
sistem keuangan. Sementara, menjaga sistem pembayaran
yang dapat diandalkan untuk pelaksanaan transaksi keuangan
adalah salah satu prasyarat bagi terpeliharanya stabilitas sistem
keuangan.
Bagaimana dengan peran Pemerintah, OJK, dan LPS?
Bersama-sama dengan Bank Indonesia, Pemerintah mengelola
kebijakan makroekonomi melalui kementerian-kementerian
terkait. Kementerian Keuangan sebagai otoritas kebijakan
fiskal memiliki tugas utama untuk mengelola keuangan negara
terutama untuk membiayai pembangunan, termasuk di dalamnya
kebijakan perpajakan dan utang pemerintah. Kementerian di
bidang ekonomi lainnya melaksanakan kebijakan makroekonomi
yang menyentuh sendi-sendi perekonomian di bidang
infrastruktur (antara lain perhubungan, pekerjaan umum) dan
sektor riil (antara lain pertanian, perdagangan, perindustrian,
pariwisata, kelautan). Kebijakan pada level sektor ekonomi ini
secara langsung memengaruhi iklim bisnis di Indonesia, yang
pada akhirnya memengaruhi kinerja sektor riil. Namun, Kemenkeu
sendiri memiliki peran unik di sektor riil melalui kebijakan
perpajakan, yang langsung menyentuh korporasi dan rumah
tangga. Jika kita lihat pada bagan, korporasi dan rumah tangga
selain merupakan bagian dari sektor riil, juga merupakan bagian
dari sistem keuangan, yang berada di bawah pantauan Bank
Indonesia. Sementara dalam pengelolaan keuangan negara,
cara Kemenkeu mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara termasuk utang Pemerintah akan memengaruhi likuiditas

30

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

perekonomian, termasuk transmisinya pada likuiditas perbankan


dan institusi keuangan lainnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa kebijakan fiskal dari Kemenkeu secara tidak langsung
dapat memengaruhi kondisi stabilitas sistem keuangan, sehingga
Kemenkeu memiliki kontribusi dalam menjaga stabilitas sistem
keuangan.
Sementara, peran OJK terutama berujung pada perlindungan
konsumen sistem keuangan. OJK bertugas menerapkan aturanaturan prudensial yang bertujuan untuk menjaga kesehatan
individual institusi keuangan, serta memastikan kode etik pelaku
pasar mendukung iklim investasi yang sehat. Untuk tujuan itu,
OJK melakukan pengawasan mikroprudensial terhadap semua
institusi keuangan untuk memastikan institusi dapat menjaga
kelangsungan usahanya dengan mengelola risikonya. Kesehatan
institusi keuangan merupakan salah satu faktor penentu stabilitas
sistem keuangan.
LPS berperan memberikan jaminan atas simpanan nasabah
dalam bank. Untuk itu, LPS mengumpulkan iuran premi dari bank
dan mengelola dana tersebut agar dapat dipergunakan untuk
membayar simpanan nasabah bank yang mengalami kegagalan
berdasarkan aturan penjaminan simpanan yang berlaku. Dalam
penanganan bank bermasalah, LPS juga memiliki peranan penting.
Secara khusus, LPS adalah otoritas resolusi bank, yang bertugas
melaksanakan penanganan masalah solvabilitas Bank Sistemik
serta bank lainnya, termasuk jika bank tertentu mengalami
kegagalan. Peran LPS membantu meningkatkan kepercayaan
masyarakat pada perbankan nasional, karena adanya garansi
pengembalian simpanan jika terjadi kegagalan bank. Kondisi
ini mendukung proses pendanaan perbankan sehingga fungsi
intermediasi dapat berlangsung dengan baik dalam mendukung
stabilitas sistem keuangan.
Dalam praktiknya, KSSK melakukan tukar menukar informasi
mengenai kondisi stabilitas sistem keuangan dalam rapat-rapat
rutin. Setiap otoritas keuangan sesuai dengan kewenangannya

31

Siapa yang Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

masing-masing diharapkan menyampaikan hal-hal yang perlu


diperhatikan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan
serta berkoordinasi untuk dapat menghasilkan solusi
bersama. Terutama antara otoritas makroprudensial (BI) dan
mikroprudensial (OJK) yang terdapat banyak singgungan antara
tugas dan wewenangnya. Oleh karena itu, Bank Indonesia dan
OJK memerlukan mekanisme kerja sama dan koordinasi lebih
lanjut yang mengatur tugas dan wewenang masing-masing
institusi. Pedoman kerja sama dan koordinasi antara Bank
Indonesia dan OJK dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama
(SKB) BI-OJK No.
tanggal 18 Oktober 2013 tentang
Kerja Sama dan Koordinasi Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas
Bank Indonesia dan OJK.

32

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Bagaimana Strategi Bank Indonesia


dalam Melaksanakan Kebijakan
Makroprudensial?
Dalam melaksanakan kewenangan di bidang makroprudensial,
Bank Indonesia perlu memiliki kerangka kebijakan yang tepat, jelas,
transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kerangka tersebut
mencakup serangkaian pedoman bagi Bank Indonesia dalam
menjalankan kewenangan guna merumuskan dan menghasilkan arah
kebijakan yang tepat dan jelas. Di samping itu, kerangka dilengkapi
pula dengan tujuan jangka panjang dari perumusan kebijakan.
Kerangka kebijakan makroprudensial di Bank Indonesia disusun
dengan difokuskan pada upaya untuk mendorong terpeliharanya
stabilitas sistem keuangan yang diwujudkan melalui 4 (empat) hal,
yaitu: (i) risiko sistemik yang teridentifikasi sejak dini dan termitigasi;
(ii) financial imbalances4 yang minimal sehingga mendukung
fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas; (iii) sistem
keuangan yang efisien; dan (iv) akses keuangan dan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM) yang meningkat. Dalam konteks
makroprudensial, pengembangan akses keuangan5 dan UMKM6
4.

Financial imbalances atau ketidakseimbangan dalam sistem keuangan merupakan suatu kondisi dengan
indikasi peningkatan potensi risiko sistemik akibat perilaku ambil risiko yang berlebihan dari pelaku sistem
keuangan.

5.

Di Bank Indonesia, pengembangan akses keuangan dilakukan antara lain melalui program Keuangan Inklusif
(financial inclusion). Hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi paskakrisis 2008, yaitu dampak krisis
kepada kelompok in the bottom of the pyramid (pendapatan rendah dan tidak teratur, tinggal di daerah
terpencil, orang cacat, buruh yang tidak mempunyai dokumen identitas legal, dan masyarakat pinggiran)
yang umumnya unbanked. Sebagai tindak lanjut, pada G20 Pittsburgh Summit 2009 dan dipertegas pada
Toronto Summit 2010, disepakati perlunya peningkatan akses keuangan bagi kelompok tersebut, yang
selanjutnya dikenal dengan program Financial Inclusion (FI). FI di Bank Indonesia dilaksanakan dalam
Strategi Nasional Keuangan Inklusif, yang terdiri atas 6 (enam) pilar sebagai berikut: (i) edukasi keuangan;
(ii) fasilitas keuangan publik; (iii) pemetaan informasi keuangan; (iv) kebijakan/peraturan yang mendukung;
(v) intermediasi dan saluran distribusi; serta (vi) perlindungan konsumen.

6.

Pengembangan UMKM dilakukan mengingat UMKM merupakan salah satu pemain penting bagi
perekonomian Indonesia, namun masih terkendala dalam hal pembiayaan oleh perbankan karena faktor
berikut. Karakteristik UMKM yang sebagian besar masih unbanked dan tidak memiliki laporan keuangan
yang memadai, menjadi keterbatasan bagi bank dalam menganalisa kelayakan usaha. Sebaliknya bagi
UMKM, informasi mengenai produk dan jasa bank masih terbatas. Pengembangan UMKM di Bank Indonesia
dilakukan melalui penyediaan media informasi bagi intermediasi bank dan UMKM, serta berbagai koordinasi
dan kerja sama dalam hal pengembangan UMKM.

33

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

dilakukan dalam kaitannya dengan upaya mitigasi risiko sistemik


akibat sistem keuangan Indonesia yang masih terkonsentrasi, antara
lain pada sektor korporasi dan pada kalangan masyarakat tertentu.
Peningkatan akses keuangan dan UMKM diperlukan mengingat
sebagai negara berkembang, Indonesia masih terus melakukan
pengembangan pasar keuangan baik dalam bentuk perluasan akses
keuangan (financial broadening) maupun pendalaman pasar dengan
pengembangan produk-produk keuangan (financial deepening).
Kerangka kebijakan akan berhasil mencapai sasaran apabila
diimplementasikan melalui strategi operasional yang baik. Dengan
strategi operasional yang baik, diharapkan proses identifikasi
risiko dapat dilakukan dengan lebih tepat, termasuk mengetahui
bagaimana risiko tersebut menyebar dan melalui saluran apa
penyebarannya. Pengukuran potensi dampak yang ditimbulkan
diharapkan dapat dilakukan dengan lebih baik pula, sehingga bisa
ditentukan dengan lebih akurat kapan saat yang tepat bagi otoritas
untuk mengeluarkan instrumen kebijakan yang mampu mencegah
penyebaran dampak risiko tersebut bagi sistem keuangan,
makroekonomi, maupun sektor riil. Untuk itu, disusunlah strategi
operasional yang merupakan rangkaian (alur) dalam melaksanakan
kewenangan Bank Indonesia di bidang makroprudensial sebagaimana
diilustrasikan di Gambar 4.1. Terdapat 4 (empat) elemen utama
dalam strategi operasional tersebut, yakni: (i) identifikasi sumber
risiko sistemik; (ii) pengawasan makroprudensial melalui monitoring
dan analisis terhadap risiko yang telah teridentifikasi sebelumnya
serta pemberian sinyal risiko; (iii) respons kebijakan melalui desain
dan implementasi instrumen kebijakan makroprudensial; dan (iv)
protokol manajemen krisis (PMK). Ketiga elemen yang pertama,
yaitu (i), (ii), dan (iii) akan diuraikan dalam bab ini, sementara elemen
(iv) akan diuraikan secara khusus di bab berikutnya.

34

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Gambar 4.1.
Strategi Operasional untuk Kerangka Kebijakan Makroprudensial

IV.1. Identifikasi Sumber Risiko Sistemik


Identifikasi sumber risiko sistemik merupakan identifikasi terhadap
kejadian dan/atau perilaku yang memengaruhi stabilitas sistem
keuangan dan berpotensi memiliki dampak sistemik. Menurut
Bernanke (2013), risiko akan termaterialisasi ketika peristiwa
gangguan (shock) berinteraksi dengan kerentanan (vulnerability)
dalam sistem keuangan. Interaksi ini diibaratkan pemilik rumah
yang biasanya mengunci pintunya di malam hari untuk menjaga
keamanan. Pada suatu malam dia lupa mengunci pintunya, sehingga
menimbulkan kerentanan. Jika tidak ada kejadian gangguan berupa
pencuri yang datang dengan maksud mengambil barang di dalam
rumah, maka tidak akan terjadi risiko pencurian. Risiko pencurian
terjadi pada saat kejadian pencuri datang ke rumah tersebut dan
menemukan pintu rumah yang tidak terkunci. Selanjutnya, risiko
akan menjadi risiko sistemik apabila tidak diimbangi dengan tingkat
ketahanan (resilience) yang memadai. Dalam contoh risiko pencurian
di atas, ketahanan bisa digambarkan dalam bentuk disimpannya
barang-barang berharga di dalam kotak yang dilengkapi pengaman.
Dengan demikian, jika ketika terjadi pencurian tidak ada barang

35

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

berharga yang hilang, kerugian menjadi tidak signifikan. Oleh karena


itu, identifikasi sumber risiko sistemik dilakukan melalui 2 (dua)
kegiatan utama, yakni: identifikasi terhadap shocks dan identifikasi
terhadap vulnerability7.
Saat ini, Bank Indonesia sedang mengembangkan metode identifikasi
sumber risiko yang disebut dengan Balanced Approach (pendekatan
seimbang). Pendekatan ini bertujuan untuk menetapkan prioritas
risiko sistemik yang dilakukan melalui analisis memasangkan
(pairing) antara potensi shock dan vulnerability. Metode Balanced
Approach dinilai cukup efisien dalam mendukung upaya mitigasi
risiko sistemik, karena menjaga keseimbangan antara pengawasan
yang terfokus dengan pengawasan yang komprehensif terhadap
seluruh kondisi sistem keuangan mengingat alokasi sumber daya
nantinya akan berbeda pada setiap sumber risiko berdasarkan
tingkat sistemiknya. Guna mendapatkan hasil yang komprehensif
dalam melakukan penetapan prioritas risiko, Bank Indonesia juga
melaksanakan Survei Risiko Sistemik guna mendapatkan persepsi
eksternal sebagai pelengkap dalam melakukan analisis pairing.
Survei yang dilakukan secara semesteran ini bertujuan untuk
menggali informasi dari pihak eksternal atas sumber risiko dalam
sistem keuangan Indonesia. Survei ini fokus pada responden yang
dinilai kompeten terhadap isu-isu terkini dalam sistem keuangan,
seperti: institusi keuangan, korporasi yang memiliki eksposur besar
pada sistem keuangan, pakar ekonomi, akademisi yang kompeten di
bidang perekonomian, lembaga riset yang kompeten dengan topiktopik ekonomi, dan media yang fokus pada isu ekonomi.
Proses penetapan prioritas risiko dilengkapi dengan penyusunan
peta transmisi dan penentuan indikator monitoring untuk setiap
sumber risiko. Peta transmisi mencerminkan jalur penyebaran
sumber gangguan hingga menjadi risiko sistemik, sehingga dapat
menjadi acuan awal dan kerangka berpikir dalam melakukan
asesmen risiko. Dalam bidang makroprudensial, semua risiko yang
terjadi di perekonomian dan sistem keuangan berpotensi menjadi
7.

36

Shock merupakan peristiwa tertentu yang memicu (membarengi) terjadinya krisis (the proximate causes).
Vulnerability diasosiasikan dengan kondisi (preexisting features) sistem keuangan yang dapat memperkuat
(amplify) dan mempercepat penyebaran shock.

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

risiko sistemik. Namun sebagaimana krisis keuangan yang terjadi di


masa lampau, terkadang otoritas keuangan tidak menyadari peta
transmisinya sehingga terlambat mengantisipasi dan memitigasi
risiko. Oleh sebab itu, peta transmisi risiko sistemik ini menjadi
pedoman yang penting dalam proses pengawasan makroprudensial.
Selain itu, dilakukan juga identifikasi terhadap indikator-indikator
yang merepresentasikan setiap tahapan pada jalur transmisi
tersebut. Penyusunan peta transmisi dan indikator monitoring
diharapkan dapat membantu proses monitoring dan analisis risiko
sistemik hingga menjadi lebih efisien dan terarah.

IV.2. Pengawasan Makroprudensial


Berdasarkan kewenangannya, Bank Indonesia dapat melakukan
pengawasan makroprudensial dengan cara off-site (tidak langsung)
maupun on-site (langsung) dengan melakukan pemeriksaan tematik.
Hasil pengawasan makroprudensial ini akan dikomunikasikan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam bentuk pemberian
sinyal risiko hasil monitoring dan analisis risiko sistemik. Pengawasan
makroprudensial akan ditindaklanjuti dengan pengembangan
instrumen kebijakan apabila pemberian sinyal risiko mengindikasikan
adanya pembentukan (build-up) risiko sistemik. Dalam hal ini, buildup ditandai dengan perkembangan indikator monitoring dan hasil
uji ketahanan yang mengarah pada ambang instabilitas sistem
keuangan. Apabila sinyal risiko mengindikasikan kondisi yang
mengarah pada keadaan krisis, maka akan ditindaklanjuti dengan
aktivasi Protokol Manajemen Krisis (PMK). Sementara dalam kondisi
normal, pengawasan makroprudensial akan dilanjutkan secara
berkala seperti biasa.
IV.2.1. Monitoring dan Analisis Risiko Sistemik
Monitoring dan analisis risiko sistemik merupakan rangkaian kegiatan
pengawasan makroprudensial yang dilakukan dalam bentuk off-site
dan terdiri dari 3 (tiga) kegiatan utama, yakni: monitoring, identifikasi
tekanan dalam sistem keuangan (stress identification), dan penilaian
risiko (risk assessment).
37

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

A. Monitoring
Monitoring sistem keuangan dilakukan dengan memantau
pergerakan indikator yang merepresentasikan kinerja elemen
sistem keuangan dan indikator makroekonomi yang dapat
memengaruhi kinerja sistem keuangan. Selain difokuskan pada
prioritas risiko yang telah ditetapkan dalam metode Balanced
Approach sebelumnya, secara umum objek monitoring dapat
mencakup seluruh elemen dalam sistem keuangan, yaitu: lembaga
keuangan bank dan nonbank, khususnya yang memiliki potensi
risiko sistemik, termasuk perusahaan induk, perusahaan afiliasi, dan
perusahaan anak dari bank yang berpotensi menimbulkan risiko
sistemik. Selain itu, objek monitoring juga mencakup pasar dan
infrastruktur keuangan, serta sektor rumah tangga dan korporasi.
Monitoring terhadap korporasi dan rumah tangga penting dilakukan
mengingat kedua sektor tersebut memiliki hubungan langsung
dengan institusi keuangan, sehingga adanya permasalahan yang
terjadi pada kedua sektor tersebut berpotensi menimbulkan
dampak pada institusi keuangan. Luasnya cakupan monitoring
dimaksudkan untuk menangkap adanya unknown risk yang belum
teridentifikasi sebelumnya. Untuk keperluan ini jugalah, Bank
Indonesia telah memperluas cakupan monitoring terhadap risiko di
sistem keuangan dengan menambahkan peran Kantor Perwakilan
Dalam Negeri dalam mendukung tugas kantor pusat. (Baca juga
Boks 4.1. Memperluas Jangkauan Monitoring Risiko dengan Regional
Financial Surveillance).
B. Stress Identification
Stress identification dilakukan dalam rangka mengidentifikasi
dan mengukur kapan kinerja indikator-indikator yang dimonitor
memberikan sinyal yang membahayakan bagi sistem keuangan.
Hal ini dilihat berdasarkan pembandingan indikator pada ambang
(threshold) yang telah ditentukan dari hasil penelitian serta
pendeteksian indikator ketidakseimbangan yang terjadi di sistem
keuangan (imbalances indicators). Beberapa sarana (tools) yang saat
ini digunakan oleh Bank Indonesia dalam fase stress identification

38

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

antara lain adalah siklus keuangan8 sebagai sinyal imbalances, Indeks


Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) sebagai indeks komposit yang
mencerminkan kinerja institusi keuangan dan pasar keuangan, dan
Indeks Risiko Sistemik Perbankan (IRSP) sebagai indeks komposit
yang mengidentifikasi kontribusi perbankan pada risiko sistemik
dengan memperhitungkan indikator-indikator yang menentukan
dampak sistemik (degree of systemicity) dari masing-masing individu
bank.
C. Risk Assessment
Penilaian risiko (risk assessment) dilakukan dengan tujuan untuk
mengukur sejauh mana potensi dampak yang ditimbulkan dari risiko
yang telah teridentifikasi pada tahap sebelumnya terhadap sistem
keuangan maupun sektor riil. Salah satu metode yang digunakan
oleh Bank Indonesia dalam melakukan penilaian risiko adalah stress
test perbankan. Stress test merupakan metode untuk menilai tingkat
ketahanan atas skenario tekanan (shock) tertentu yang diberikan.
Saat ini, pelaksanaan stress test masih difokuskan pada perbankan,
mengingat bank masih mendominasi sistem keuangan di Indonesia.
Ke depan akan dikembangkan metode stress test untuk mengukur
ketahanan korporasi.
Di Bank Indonesia saat ini terdapat 2 (dua) jenis stress test.
Pertama, stresst test dengan cakupan industri (industry-wide),
yang bersifat dari atas ke bawah (top-down) dan dilakukan dengan
pendekatan yang sama untuk semua bank, baik dari sisi pemodelan
maupun pendekatan dalam simulasi neraca bank. Metode ini telah
diimplementasikan secara berkala dalam proses pengawasan
makroprudensial (Baca juga Boks 4.2. Stress Testing Perbankan:
Menguji Ketahanan Bank dalam Menghadapi Tekanan). Kedua,
metode perhitungan individual stress test (khusus bagi bank sistemik,
atau bank lainnya jika diperlukan), yaitu dengan menggunakan
pendekatan yang berbeda bagi setiap bank serta menggunakan data
8.

Siklus keuangan didefinisikan sebagai interaksi antara persepsi dari harga (value) dan risiko, perilaku
terhadap risiko dan kendala pembiayaan (financial constraint), yang diterjemahkan sebagai boom yang
diikuti oleh bust (Borio, 2012).

39

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

yang lebih rinci (granular) dari tiap bank. Saat ini, metode individual
stress test sedang dalam tahap pengembangan. Pada jenis individual
stress test ini, metode granular akan diimplementasikan. Sebagai
informasi, pelaksanaan individual stress test akan dilakukan melalui
koordinasi dengan OJK dan komunikasi dengan bank dalam bentuk
pemeriksaan (apabila diperlukan) untuk memperoleh informasi dan
data secara langsung dari bank.
IV.2.2. Pemberian Sinyal Risiko
Pemberian sinyal risiko merupakan tahap terakhir dari rangkaian
kegiatan pengawasan makroprudensial. Tahap ini dinilai penting
mengingat kegiatan pengawasan makroprudensial mulai dari
monitoring, stress identification, dan risk assessment menjadi
kurang optimal jika hasilnya tidak disampaikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan dalam waktu cepat dan tepat. Pemberian
sinyal risiko yang tepat akan menentukan keberhasilan respons
kebijakan yang diambil. Selain kepada siapa sinyal itu diberikan
dan waktu penyampaiannya, faktor lain yang juga menentukan
efektivitas pemberian sinyal risiko adalah strategi bagaimana sinyal
tersebut dikomunikasikan. Secara umum, sinyal risiko sebagai hasil
pengawasan makroprudensial diberikan kepada:
a. Pihak Internal
Pihak internal meliputi seluruh otoritas keuangan yang turut
menjaga stabilitas sistem keuangan. Pemberian sinyal kepada
pihak internal bertujuan untuk menyampaikan kondisi sistem
keuangan terkini serta peringatan (alert) bagi otoritas keuangan
mengenai kondisi sistem keuangan yang sudah memerlukan
perhatian yang lebih intensif. Pemberian sinyal berupa laporan
hasil monitoring, identifikasi, hingga pengukuran risiko sistemik
disampaikan kepada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank
Indonesia, serta kepada otoritas keuangan lainnya, yaitu
Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS. Guna memastikan sinyal
dapat dikomunikasikan dengan efektif, maka digunakan ambang
(threshold) normal dan krisis yang dimengerti dan disepakati
oleh semua pihak sehingga akan mempercepat pengambilan

40

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

keputusan untuk mengatasi permasalahan jika diperlukan.


Dalam kondisi normal, frekuensi pelaporan hasil pengawasan
makroprudensial dapat mengikuti jadwal RDG dan rapat KSSK
(Komite Stabilitas Sistem Keuangan)9. Sementara dalam kondisi
krisis, frekuensi dan cakupan pelaporan perlu ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhan.
b. Pelaku Pasar, Institusi Keuangan, dan Publik (Stakeholders)
Pemberian sinyal kepada pelaku pasar dan publik merupakan
bentuk komunikasi Bank Indonesia dan otoritas keuangan lainnya
dalam memberikan informasi mengenai kondisi sistem keuangan
terkini. Sedangkan pemberian sinyal kepada stakeholders
ditujukan untuk meningkatkan perhatian stakeholders terhadap
upaya-upaya pengelolaan portofolio sistem keuangan yang
lebih berhati-hati (prudent) serta mulai meningkatkan kesadaran
untuk mengurangi eksposur terhadap portofolio yang risikonya
meningkat. Stakeholders dalam hal ini adalah semua pihak yang
mengambil manfaat dari sistem keuangan. Secara lebih detail,
pemberian sinyal kepada eksternal dilakukan dengan tujuan
berikut:
i. Memberikan penjelasan mengenai kebijakan di sektor
keuangan untuk dapat memberikan kepastian bisnis di sistem
keuangan;
ii. Memberikan edukasi keuangan kepada publik untuk
mengurangi ketidaksimetrisan (asymmetric) informasi yang
biasa terjadi dalam bisnis keuangan;
iii. Memastikan pelaku pasar dan publik mengikuti perkembangan
sistem keuangan serta berkontribusi dalam menerapkan
disiplin pasar10 untuk mengurangi perilaku ambil untung (risk
taking behavior) yang berlebihan; serta
iv. Dalam kondisi krisis, memberikan pedoman kepada pelaku
pasar dan publik untuk berkontribusi dalam mengurangi
propagasi atau penjalaran krisis serta mencegah krisis menjadi
lebih parah.
9.

Sebelum UU No. 9 Tahun 2016 tentang PPKSK disahkan, fungsi KSSK dijalankan oleh FKSSK (Forum
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan).

10.

Disiplin pasar adalah kontribusi dari pengguna/pelaku pasar keuangan untuk menjauhi atau menghukum
pelaku pasar yang tidak menerapkan prinsip kehati-hatian.

41

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Agar penyampaian sinyal risiko, khususnya kepada pihak eksternal,


berjalan efektif, diperlukan strategi komunikasi yang tepat
mengingat akan adanya reaksi dan perubahan perilaku pelaku pasar
dan publik atas informasi yang diperolehnya. Reaksi dan perubahan
perilaku yang diharapkan terjadi adalah yang menuju ke arah positif
serta membantu memperbaiki kinerja sistem keuangan.
IV.2.3. Pemeriksaan Tematik
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sebagai bagian dari
pengawasan makroprudensial, Bank Indonesia dapat melakukan
pemeriksaan khusus atau tematik. Pemeriksaan yang bersifat tematik
sesuai dengan jenis risiko yang melekat dan tidak ditujukan untuk
menilai tingkat kesehatan individual bank. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan kepada bank sistemik dan/atau bank lain berdasarkan
kewenangan Bank Indonesia di bidang makroprudensial; serta
kepada lembaga lainnya yang memiliki keterkaitan dengan bank
jika diperlukan, termasuk perusahaan induk, perusahaan afiliasi,
dan perusahaan anak yang dinilai memberikan eksposur risiko
yang signifikan terhadap bank atau berpotensi menimbulkan risiko
sistemik.
Secara umum, pemeriksaan makroprudensial dilakukan apabila hasil
pengawasan off-site mengindikasikan adanya risiko yang berpotensi
menimbulkan dampak sistemik, dengan tujuan untuk meyakini
sumber risiko sistemik memang berasal dari kegiatan usaha bank
tersebut. Selain tujuan tersebut, pemeriksaan juga dilakukan dalam
rangka implementasi kebijakan dan ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia, serta dalam rangka meyakini kewajaran data yang
disampaikan bank kepada Bank Indonesia sesuai dengan kewenangan
Bank Indonesia di bidang makroprudensial. Hasil pemeriksaan akan
menjadi rekomendasi atau masukan bagi Bank Indonesia dalam
perumusan atau evaluasi instrumen kebijakan makroprudensial. Dalam
melakukan pemeriksaan, Bank Indonesia wajib memberitahukan
secara tertulis kepada OJK sebagai otoritas mikroprudensial. Adapun
laporan hasil pemeriksaan disampaikan kepada OJK paling lama 1
(satu) bulan sejak diterbitkannya laporan tersebut.

42

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Pemeriksaan tematik ini sangat membantu Bank Indonesia untuk


lebih mengerti mengenai perilaku bank dalam menghadapi kondisi
sistem keuangan. Informasi ini agak sulit diperoleh jika hanya
mengandalkan pengawasan off-site. Selain itu, dalam kesempatan
pemeriksaan tematik ini biasanya Bank Indonesia juga menerima
masukan-masukan secara langsung dari bank mengenai dampak
dari kebijakan makroprudensial serta kebijakan di sektor keuangan
lainnya yang berguna menjadi bahan rujukan untuk preskripsi
kebijakan makroprudensial.

IV.3. Desain dan Implementasi Instrumen Kebijakan


IV.3.1. Motivasi Pengembangan Instrumen Makroprudensial
Setelah melalui serangkaian proses pengawasan makroprudensial,
tahapan dilanjutkan dengan desain dan implementasi kebijakan
apabila pemberian sinyal risiko mengindikasikan adanya
pembentukan (build-up) risiko sistemik. Dengan kata lain, kebijakan
makroprudensial disusun sebagai respons atas hasil penilaian
terhadap sumber-sumber risiko yang ada dalam sistem keuangan.
Sebagai contoh, instrumen Loan-to-Value (LTV) yang dikeluarkan
dalam rangka pembatasan pertumbuhan kredit properti.
Instrumen ini dikeluarkan sebagai respons atas hasil asesmen
yang menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit properti serta
Indeks Harga Properti tumbuh jauh di atas tren jangka panjangnya
atau mengindikasikan adanya boom harga properti. Selain dalam
bentuk instrumen pengaturan seperti disebutkan di atas, kebijakan
makroprudensial dapat dirumuskan dalam bentuk himbauan (moral
suasion) khususnya bagi institusi keuangan.
Pada dasarnya, instrumen kebijakan makroprudensial disusun
dengan menyesuaikan kondisi masing-masing negara. Akan tetapi,
beberapa instrumen makroprudensial diimplementasikan sebagai
respons atas mandat standar internasional. Dalam hal ini, panduan
secara lengkap terkait dengan perumusan desain dan implementasi
instrumen kebijakan tersebut diberikan oleh Basel Committee for
Banking Supervision (BCBS), lembaga internasional yang menerbitkan
rekomendasi dan standar pengaturan kehati-hatian secara
43

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

internasional bagi sektor perbankan. Salah satu contoh, instrumen


kebijakan makroprudensial Countercycical Capital Buffer (CCB) yang
dihasilkan dari mandat standar internasional dalam Basel III yang
dikeluarkan oleh BCBS sebagai respons atas pengalaman krisis
dan disusun untuk menanggulangi sifat prosiklikalitas perbankan
terhadap siklus ekonomi (Baca juga Boks 4.3. Standar Internasional
Pengaturan di Sektor Keuangan: Basel III).
Lembaga internasional seperti BCBS seringkali memberi
rekomendasi bagi negara-negara di dunia untuk menyusun kebijakan
dalam rangka membentuk sistem keuangan yang semakin berhatihati (prudent). Rekomendasi tersebut selanjutnya direspons oleh
otoritas keuangan berbagai negara dengan merumuskan rancangan
implementasi instrumen kebijakan. Untuk instrumen kebijakan yang
dikembangkan sebagai respons atas mandat standar internasional,
biasanya otoritas keuangan negara-negara tidak memiliki ruang untuk
menerapkan pengaturan yang lebih longgar, namun diperbolehkan
jika lebih prudent dan pada beberapa aspek terkadang diberikan
diskresi bagi otoritas keuangan untuk disesuaikan dengan kondisi
masing-masing negaranya.
Sementara itu, untuk instrumen kebijakan yang dikembangkan
sebagai respons atas hasil penilaian risiko sistemik di masing-masing
negara dan tidak ada standar internasionalnya, setiap negara
memiliki keleluasaan yang lebih besar dalam merumuskan desain
dan implementasi instrumen kebijakan tersebut. Sebagai contoh,
untuk instrumen LTV, Bank Indonesia memiliki keleluasaan untuk
menetapkan batasan maksimum nilai LTV untuk kredit properti yang
dinilai memadai untuk memperlambat akumulasi risiko sistemik
yang timbul dari pertumbuhan kredit di sektor tersebut.
Dalam rangka merumuskan formula kebijakan makroprudensial
yang tepat, penting untuk memahami permasalahan dan tujuan
dengan melakukan eksplorasi atas semua kemungkinan solusi
yang bisa dilakukan, termasuk memahami bagaimana mekanisme
transmisi kebijakan dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, guna
menghasilkan instrumen kebijakan yang optimal dan efektif,
perumusan kebijakan makroprudensial dilakukan berdasarkan
44

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

prinsip berikut: (i) berdasarkan riset; (ii) berorientasi ke depan;


(iii) memerhatikan tata kelola yang baik (good governance); (iv)
mempertimbangkan kebijakan lain dalam sistem keuangan dan
kebijakan perekonomian umumnya; (v) memerhatikan standar dan
praktik internasional; serta (vi) memerhatikan peraturan perundangundangan yang berlaku apabila kebijakan tersebut dirumuskan
dalam bentuk instrumen pengaturan.
IV.3.2.Waktu Perumusan dan Implementasi Instrumen Makroprudensial
Kebijakan makroprudensial adalah kebijakan yang bertujuan untuk
menghindari terjadinya risiko sistemik. Oleh karena itu, waktu
(timing) perumusan dan implementasi kebijakan menjadi sangat
penting, termasuk menentukan waktu yang tepat untuk aktivasi/
deaktivasi suatu instrumen kebijakan. Implementasi instrumen
kebijakan yang terlalu cepat atau lambat berpotensi mengurangi
efektivitas kebijakan, atau bahkan dapat menimbulkan biaya
regulasi atau unnecessary regulatory cost (CGFS, 2012). Hal ini terkait
dengan karakteristik kebijakan makroprudensial yang mencakup
dimensi runtun waktu (time series), sehingga menjadikan kebijakan
makroprudensial sebagai kebijakan yang bersifat time varying
atau fleksibel, yaitu dapat disesuaikan dengan siklus yang terjadi.
Sebagai contoh, aktivasi LTV bagi kredit properti merupakan
contoh instrumen time varying, artinya dapat disesuaikan dengan
siklus pertumbuhan kredit sektor properti. Aktivasi LTV pada saat
pertumbuhan kredit properti belum menunjukkan kondisi boom,
justru berpotensi menghambat intermediasi sektor properti
atau kesempatan masyarakat untuk memiliki properti. Sebagai
pembanding, instrumen mikroprudensial rasio kecukupan modal
(CAR) minimum bank sebesar 8% merupakan ketentuan yang tidak
bersifat time-varying. Artinya, dalam kondisi siklus perekonomian
apapun, bank tetap harus menjaga rasio kecukupan modalnya sesuai
ketentuan yang disyaratkan.
Faktor yang paling penting dalam penentuan waktu (timing) untuk
formulasi dan implementasi kebijakan makroprudensial adalah
keberhasilan proses pengawasan makroprudensial, yakni bagaimana

45

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

pengawasan tersebut dapat menghasilkan sinyal risiko yang tepat.


Hal ini didasarkan pada kemampuan untuk mengidentifikasi dan
mengukur sumber risiko sistemik dengan baik, antara lain melalui
penggunaan indikator yang mengkonfirmasi dan mendukung
(confirming dan supporting indicators), merujuk pada siklus keuangan
dan hasil asesmen, termasuk stress test.
IV.3.3.Instrumen Kebijakan Makroprudensial di Indonesia
Berikut ini beberapa contoh instrumen kebijakan makroprudensial
yang telah diimplementasikan di Indonesia yang pengaturannya
dilakukan oleh Bank Indonesia:
A. Loan-to-Value Ratio (LTV) atas Kredit Kepemilikan Rumah
(KPR) dan Penentuan Down Payment (DP) atas Kredit Kendaraan
Bermotor (KKB)
Perumusan kebijakan LTV atas KPR dan DP atas KKB dilatarbelakangi
oleh pertumbuhan kredit sektor properti dan kendaraan bermotor
yang cukup tinggi saat itu, sehingga berpotensi menimbulkan
terjadinya pembentukan risiko sistemik akibat perilaku ambil
risiko yang berlebihan (excessive risk taking behaviour). Kebijakan
batasan minimum atas LTV untuk KPR dan DP untuk KKB pertama
kali diimplementasikan pada tahun 2012. Hingga saat ini, kebijakan
tersebut telah disesuaikan 2 (dua) kali pada tahun 2013 dan 2015, yakni
dengan melakukan perubahan atas besaran nilai minimum LTV dan
DP yang disesuaikan dengan siklus perekonomian dan pertumbuhan
kredit. Perubahan terakhir yang dilakukan bersifat pelonggaran
(ekspansi) dengan tujuan untuk menjaga momentum pertumbuhan
perekonomian melalui peningkatan fungsi intermediasi, agar bank
dapat mengucurkan lebih banyak kredit. Adapun besaran nilai
minimum LTV dan DP yang saat ini berlaku diatur dalam Peraturan
Bank Indonesia No. 17/10/PBI/2015 tanggal 18 Juni 2015 tentang
Rasio Loan-to-Value atau Rasio Financiang-to-Value untuk Kredit atau
Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan
Kendaraan Bermotor.

46

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

B. Giro Wajib Minimum (GWM) berdasarkan Loan-to-Funding Ratio


(LFR)
GWM LFR adalah simpanan minimum dalam Rupiah yang wajib
dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada Bank
Indonesia, sebesar persentase tertentu dari dana pihak ketiga
(DPK) yang dihitung berdasarkan selisih antara LFR11 yang dimiliki
oleh bank dengan LFR target12. Kebijakan tersebut dikembangkan
dengan tujuan untuk mengurangi build-up risiko sistemik melalui
pengendalian fungsi intermediasi perbankan sesuai dengan
kapasitas dan target pertumbuhan perekonomian, serta menjaga
likuiditas perbankan. Dengan demikian, kebijakan ini diharapkan
mampu mendorong terciptanya fungsi intermediasi yang seimbang
dan berkualitas, dengan tetap menjaga kondisi likuiditas bank.
Kebijakan mengenai GWM LFR dituangkan dalam Peraturan Bank
Indonesia No. 17/11/PBI/2015 tanggal 26 Juni 2015 tentang Perubahan
atas PBI No. 15/15/PBI/2015 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum
dalam Rupiah dan Valuta Asing bagi Bank Umum Konvensional.
C. Countercyclical Capital Buffer (CCB)
CCB merupakan tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga
(buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan
kredit dan/atau pembiayaan perbankan yang berlebihan sehingga
berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan. Sebagaimana
disampaikan sebelumnya, kebijakan ini merupakan salah satu
kebijakan yang dirumuskan dalam mandat internasional, dengan
melihat fenomena adanya kecenderungan pertumbuhan kredit yang
bersifat prosiklikal, yaitu pertumbuhan pesat pada saat ekonomi
sedang bertumbuh dengan cepat (boom) dan pertumbuhan
menurun bahkan negatif pada saat ekonomi menurun (bust),
11.

Rasio LFR merupakan rasio yang mencerminkan besarnya jumlah pembiayaan (kredit) yang telah diberikan
oleh bank terhadap jumlah pendanaan yang diperoleh bank. Dalam hal ini, pendanaan terdiri dari dana
pihak ketiga (DPK) yang diterima oleh bank ditambah dengan sumber pendanaan yang berasal dari surat
berharga yang diterbitkan oleh bank.

12.

Besarnya LFR target saat ini adalah 78% - 92%. Terdapat insentif pelonggaran batas atas menjadi 94% apabila
bank telah menyalurkan kredit UMKM sebagaimana yang disyaratkan dalam PBI No. 17/12/PBI/2015 tentang
Perubahan atas PBI No. 14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan
Bantuan Teknis dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dengan kualitas kredit
yang tetap terjaga.

47

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

sehingga berpotensi menyebabkan peningkatan risiko sistemik


dalam kondisi ekonomi boom. Implementasi kebijakan CCB di
Indonesia diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 17/22/PBI/2015
tanggal 23 Desember 2015 tentang Kewajiban Pembentukan
Countercyclical Buffer. (Baca juga Boks 4.4. Countercyclical Capital
Buffer: Solusi Redam Rugi)
Sebagai tambahan, kebijakan lain yang dikeluarkan terkait dengan
mitigasi risiko sistemik adalah kebijakan mengenai Domestic
Systemically Important Banks (DSIBs). Berdasarkan UU OJK,
ketentuan terkait SIBs, seperti penentuan bank yang masuk dalam
kategori SIBs, dikeluarkan oleh OJK melalui koordinasi dengan Bank
Indonesia (Baca juga Boks 4.5. Tidak Ada Lagi Too Big To Fail).

48

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Memperluas Jangkauan Monitoring Risiko dengan Regional


4.1. Financial Surveillance
Seiring dengan semakin terkoneksinya pelaku sistem keuangan,
gangguan di suatu sektor dapat dengan mudah ditransmisikan
ke sektor lainnya baik di level nasional maupun daerah. Hal ini
menyebabkan risiko yang dihadapi daerah semakin kompleks,
sehingga peran daerah dalam mewujudkan stabilitas sistem
keuangan menjadi penting. Menyadari hal tersebut, Bank
Indonesia memperkuat fungsi Kantor Perwakilan Dalam Negeri
(KPwDN) untuk turut melakukan pemantauan atas kondisi
stabilitas sistem keuangan di daerah melalui kegiatan Surveilans
Keuangan Regional atau Regional Financial Surveillance (RFS).
Mengapa RFS menjadi sangat berguna bagi upaya menjaga
stabilitas sistem keuangan? Indonesia memiliki wilayah yang
cukup luas dari Sabang sampai Merauke. Indonesia bahkan adalah
negara kepulauan terbesar di dunia. Mengelola perekonomian
dan sistem keuangan di Indonesia dengan karakteristik
geografis seperti itu menjadi tantangan tersendiri, terutama
karena setiap daerah memiliki keunikan dari sisi kekuatan
perekonomian. Selain itu, dalam memantau sistem keuangan,
ketidakseimbangan yang terjadi dalam sistem keuangan di
daerah juga sama pentingnya dengan ketidakseimbangan
secara nasional, karena memburuknya kinerja sistem keuangan
di daerah dapat ditransmisikan ke daerah lainnya akibat adanya
keterkaitan dalam sistem keuangan, dan pada gilirannya
berpotensi menimbulkan risiko sistemik. RFS dalam hal ini
membantu mempercepat deteksi terhadap ketidakseimbangan
tersebut karena posisi KPwDN yang dekat dapat lebih sensitif
mendeteksi permasalahan di daerahnya.
Kondisi ketidakseimbangan apa yang dapat dideteksi di daerah?
Tantangan utama dari pemantauan sistem keuangan adalah
masih adanya sumber-sumber data yang tidak memadai untuk
mendukung penilaian risiko secara dini dan akurat. Kondisi
yang secara internasional populer disebut sebagai data gap ini

49

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

harus ditutupi dengan upaya-upaya perolehan informasi dengan


berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan melakukan
pendekatan secara langsung kepada pelaku ekonomi atau pelaku
pasar. Di daerah-daerah terdapat elemen sistem keuangan yang
cukup signifikan memberikan pengaruh pada kinerja sistem
keuangan, yaitu korporasi-korporasi besar yang mengelola
sumber daya di daerah, misalnya perkebunan kelapa sawit,
perkebunan karet, industri tekstil, produksi beras, industri alat
berat, pabrik semen, industri pariwisata, pabrik rokok, dan masih
banyak jenis usaha yang berkonsentrasi di daerahnya masingmasing. Ditambah lagi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
yang selama ini juga telah berkontribusi pada perekonomian
nasional rata-rata masih memerlukan perhatian karena aksesnya
yang terbatas pada jasa keuangan serta membutuhkan bantuan
teknis untuk pengembangan bisnisnya. KPwDN Bank Indonesia
memiliki potensi menjalin hubungan baik dengan entitas-entitas
di daerah ini. Misi ini menjadi lebih penting lagi terutama karena
entitas-entitas ini merupakan penyedia lapangan kerja utama di
daerahnya masing-masing.
Secara makroprudensial, kinerja perusahaan-perusahaan dan
UMKM ini menjadi penting karena menjadi motor perekonomian
di daerahnya serta mampu memberikan lapangan kerja kepada
penduduk setempat. Mereka menjadi penyedia likuiditas
perekonomian di daerah, sekaligus menjadi andalan bagi
pendapatan rumah tangga setempat. Dengan kata lain, kinerja
yang memburuk dari perusahaan-perusahaan dan UMKM ini
akan berakibat pada berkurangnya likuiditas di sistem keuangan
daerah serta mengurangi pendapatan rumah tangga, yang akan
mengakibatkan memburuknya kinerja kredit yang diperoleh
perusahaan/UMKM tersebut serta kinerja kredit rumah tangga
setempat. Kondisi ini akan memperburuk kondisi institusi
keuangan yang berada di daerah itu.
Semakin cepat risiko dideteksi secara dini, maka semakin
cepat mitigasi risiko yang dapat dilakukan. Peran KPwDN

50

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Bank Indonesia dalam hal ini menjadi sangat penting dalam


mendukung deteksi risiko-risiko sistem keuangan di daerah
secara dini. Hubungan baik yang sudah dijalin oleh KPwDN Bank
Indonesia dengan Pimpinan Pemerintahan Daerah, Kantor OJK,
dan Kantor Wilayah Kemenkeu serta perbankan di daerah juga
akan memudahkan upaya koordinasi dan kerja sama dalam
mengatasi risiko yang dideteksi di daerah. Oleh karena itu, peran
KPwDN yang selama ini lebih ditekankan pada pemantauan
perkembangan ekonomi serta pemberian layanan di bidang
sistem pembayaran dan pengedaran uang di daerahnya masingmasing akan ditambahkan dengan melakukan RFS.

51

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Stress Testing Perbankan: Menguji Ketahanan Bank dalam


4.2. Menghadapi Tekanan
Stress testing merupakan suatu metode pengujian ketahanan
suatu objek dalam menghadapi kondisi buruk yang mungkin
dihadapinya. Dalam dunia kedokteran, misalnya, stress testing
diterapkan untuk menguji ketahanan jantung pasien dengan
menggunakan treadmill yang disambungkan ke alat perekam
jantung sebagai alat pengujinya. Pasien akan menjalani berbagai
skenario kecepatan melalui alat tersebut untuk mengukur
seberapa besar daya tahan jantungnya. Pengukuran dengan
metode ini berhasil mendeteksi banyak pasien yang memiliki
gangguan kesehatan jantung, sehingga dapat dilakukan tindakan
dini untuk penyehatan.
Stress testing juga lazim dilakukan di dunia otomotif dalam bentuk
crash test, yaitu suatu metode untuk menguji standar keamanan
mobil. Suatu varian mobil baru biasanya akan menjalani pengujian
ini untuk menilai tingkat keamanan mobil bagi penumpangnya.
Suatu mobil dinyatakan memiliki keamanan yang baik apabila
benturan destruktif yang dialaminya tidak mengakibatkan cidera
fatal atau kematian penumpangnya. Dampak skenario benturan
yang buruk tersebut tidak membahayakan penumpang karena
mobil dilengkapi dengan ketersediaan airbag yang cukup, sidebars yang kuat, serta komponen-komponen keamanan lainnya.
Di sektor keuangan sendiri, kesadaran akan pentingnya
memahami dan menggali metode pengukuran kerentanan
sektor keuangan semakin meningkat pada tahun 1990-an.
Dalam konteks sektor keuangan, stress testing didefinisikan
sebagai suatu metode untuk menguji stabilitas sistem keuangan
pada kondisi yang tidak diinginkan (adverse conditions)13. Pada
literatur lain, stress test didefinisikan sebagai suatu metode
untuk menghitung risiko dalam kondisi abnormal yang diciptakan
oleh peneliti/pengambil kebijakan14. Perlu diingat bahwa kondisi
13.
14.

52

Borio, Drehman, dan Tsatsaronis (2012)


Kalirai and Scheicher (2002)

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

abnormal ini tidak mencerminkan proyeksi perekonomian ke


depan.
Dengan mempertimbangkan sistem keuangan yang didominasi
oleh perbankan, maka pengukuran ketahanan sistem keuangan
yang dihitung melalui stress test perbankan sangat menentukan.
Dalam hal ini, kecukupan modal menjadi indikator utama kondisi
ketahanan perbankan. Modal menjadi bantalan bagi institusi
keuangan untuk menyerap kerugian yang muncul akibat
berbagai risiko yang dihadapi, seperti risiko kredit, likuiditas,
pasar, maupun operasional. Pada risiko kredit misalnya, kerugian
muncul karena adanya penurunan kemampuan membayar
dari debitur akibat berbagai hal, antara lain karena penurunan
pendapatan debitur akibat adanya guncangan perekonomian
sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan rasio kredit tidak
lancar atau non-performing loan (NPL). Dalam menghadapi
pemburukann NPL, bank harus menyisihkan cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN). Pembentukan CKPN ini menyebabkan
laba bank berkurang sehingga kemampuan bank dalam
menyisihkan laba untuk pembentukan modal menurun. Hal ini
akan menurunkan tingkat ketahanan bank yang tercermin dari
penurunan rasio kecukupan modal bank.
Secara umum, terdapat 2 (dua) pendekatan dalam melakukan
stress testing, yaitu top-down stress test (industry-wide) yang
dilakukan oleh bank sentral/lembaga pengawasan bank di
mana diterapkan parameter yang sama untuk semua bank dan
bottom-up stress test yang dilakukan oleh individu bank dengan
model yang disesuaikan dengan pengelolaan risiko oleh bank.
Bank Indonesia mengembangkan metodologi top-down stress
testing untuk menilai ketahanan industri perbankan terhadap
potensi risiko yang terjadi. Metodologi ini terdiri dari 7 (tujuh)
elemen utama yang diperlukan untuk perhitungan stress testing
perbankan, yaitu:
1. Skenario stress test; meliputi skenario makroekonomi dan
skenario lainnya. Dalam praktik stress test di berbagai negara,

53

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

2.

3.

4.

5.

6.

7.

54

paling tidak terdapat 2 (dua) skenario makroekonomi, yakni


skenario baseline dan skenario stress. Biasanya, skenario
baseline merupakan hasil proyeksi variabel makroekonomi.
Sementara itu, skenario stress dapat terdiri dari berbagai
tingkatan, mulai dari yang ringan (mild), sedang (moderate),
buruk (adverse), hingga sangat buruk (severely adverse).
Macro stress testing: secara garis besar digunakan untuk
melihat dampak dari berbagai faktor makroekonomi
terhadap risiko kredit bank. Perubahan berbagai faktor
makroekonomi, seperti pertumbuhan PDB, depresiasi nilai
tukar, kenaikan inflasi, kenaikan policy rate, akan berdampak
terhadap kualitas kredit perbankan yang dicerminkan dari
peningkatan NPL.
Credit risk stress testing: untuk mengukur dampak
memburuknya kualitas kredit terhadap modal bank yang
dicerminkan melalui tingkat kecukupan modal perbankan
(Capital Adequacy Ratio/CAR).
Market risk stress testing: untuk mengukur kerugian bank
sebagai akibat perubahan suku bunga, perubahan harga surat
utang negara (SUN), dan pelemahan nilai tukar (depresiasi),
yang kemudian harus ditutupi dengan modal bank sehingga
mengurangi rasio CAR-nya.
Liquidity stress testing: untuk mengukur kemampuan alat
likuid bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek
(harian) bank.
Integrated stress testing (gabungan dari credit risk dan market
risk): untuk mengukur dampak dari credit risk dan market risk
terhadap modal bank secara bersamaan.
Interbank stress testing: untuk mengukur dampak kegagalan
bank dalam memenuhi kewajiban antarbanknya terhadap
bank lain (contagion effect). Interbank stress testing ini dapat
mengetahui apakah suatu bank berdampak sistemik terhadap
bank lain.

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Tidak Ada Lagi Too-Big-To-Fail


4.3.
Dalam dunia keuangan, istilah too-big-to-fail ditempelkan
pada institusi keuangan yang mengelola aset yang cukup besar,
memiliki keterkaitan yang besar dengan institusi keuangan
lainnya, serta menyediakan jasa keuangan yang cukup signifikan;
sehingga jika institusi keuangan ini gagal maka dampak negatif
yang akan timbul akan sangat besar, serta besar kemungkinannya
akan berakibat pada kegagalan institusi keuangan lainnya (atau
disebut berdampak sistemik). Pengalaman krisis keuangan
global di tahun 2008 memberikan pelajaran bahwa kegagalan
institusi keuangan yang memiliki dampak sistemik secara global
perlu ditangani secara terstruktur. Penanganan pada institusi
too-big-to-fail ini diharapkan dapat meminimalisir gangguan
terhadap sistem keuangan, serta tidak menimbulkan kerugian
negara (dan masyarakat pembayar pajak) melalui pemberian
bantuan pemerintah (bail-out).
Kondisi ini memunculkan inisiatif reformasi keuangan global
ending too-big-to-fail (menghentikan too-big-to-fail) di
2010 melalui publikasi Reducing the Moral Hazard posed by
Systematically Important Financial Institutions (SIFI framework)
atau Mengurangi Moral Hazard Sebagai Akibat Institusi
Keuangan Sistemik oleh Financial Stability Board (FSB).
Penyusunan SIFI framework ini bertujuan untuk mengatasi risiko
sistemik dari kegagalan suatu SIFI dan mengatasi permasalahan
moral hazard SIFI, di mana dana publik atau dukungan Pemerintah
digunakan dalam mengatasi kegagalan institusi keuangan
dimaksud (bail-out).
SIFI framework mencakup berbagai rekomendasi untuk
mengurangi kemungkinan dan dampak kegagalan dari SIFI,
yang terdiri dari penetapan institusi keuangan yang berdampak
sistemik, persyaratan tambahan modal, peningkatan pengawasan
yang lebih intensif, mekanisme resolusi (penyelesaian) yang
lebih efektif, serta penguatan infrastruktur pasar keuangan.

55

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Rekomendasi internasional tersebut diharapkan dapat diadopsi


dalam rezim resolusi domestik, melengkapi resolution tools
yang dimiliki oleh otoritas domestik, serta memfasilitasi kerja
sama antarotoritas resolusi dalam menghadapi cross-border
resolution.
Penerapan di Indonesia
Secara umum, perkembangan implementasi inisiatif global
reform di area resolusi dari perspektif Indonesia tidak sepesat
negara maju, mengingat Indonesia tidak memiliki serta bukan
area operasi utama dari Global Systematically Important Banks
(G-SIBs)15. Namun, agenda reformasi global yang sesuai dengan
konteks domestik dapat semakin menyempurnakan kerangka
hukum yang dimiliki oleh Indonesia.
Sebagai otoritas yang memiliki kewenangan di bidang
makroprudensial, Bank Indonesia sangat berkepentingan
untuk memperkuat upaya pencegahan pengambilan risiko
yang berlebihan dari bank sistemik. Bank Indonesia juga
berupaya meminimalisir risiko yang timbul dari kegagalan bank
sistemik guna menjaga stabilitas sistem keuangan, nilai tukar,
dan sentimen negatif terhadap arus modal. Untuk itu, Bank
Indonesia memiliki kepentingan untuk melakukan pengawasan
dan penanganan terhadap bank yang berdampak sistemik di
sistem keuangan Indonesia.
Saat ini Indonesia telah mengadopsi beberapa rekomendasi
internasional terkait resolusi perbankan, di antaranya meliputi
penetapan bank domestik yang memiliki dampak sistemik, dan
persyaratan tambahan modal untuk institusi dimaksud serta alat
resolusi (resolution tool) seperti bail-in.
1. Penetapan Bank Domestik yang Berdampak Sistemik untuk
cakupan domestik (Domestic-Systemically Important Banks/
D-SIBs)
15.

56

G-SIB adalah bank yang berdampak sistemik dalam cakupan global. Dalam hal ini bank yang
bersangkutan beroperasi lintasnegara sehingga memiliki pengaruh pada sistem keuangan global.

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) telah


menetapkan metodologi untuk menentukan G-SIBs
berdasarkan sejumlah indikator, meliputi ukuran (size),
keterkaitan (interconnectedness) yang dapat digantikan
(substitutability), dan kompleksitas (complexity). Pada tahun
2012, BCBS menetapkan framework penetapan DomesticSystematically Important Banks (D-SIBs), yang selanjutnya
diadopsi oleh yurisdiksi untuk melakukan asesmen terhadap
bank yang memiliki dampak sistemik terhadap sistem
keuangan dan perekonomian domestik.

Kerangka D-SIB ini diimplementasikan dalam UU No. 21 Tahun


2011 tentang OJK dan POJK No. 46/POJK.03/2015 tanggal 23
Desember 2015 tentang Penetapan Systemically Important
Bank (SIB) dan Capital Surcharges, serta dalam UU No. 9
Tahun 2016 tentang PPKSK pasal 17 ayat (1), di mana diatur
bahwa penetapan D-SIBs dilakukan oleh OJK berkoordinasi
dengan Bank Indonesia, dan pemutakhiran daftar bank DSIBs
dilakukan berkala setiap 6 (enam) bulan. Dalam hal ini, D-SIBs
adalah bank-bank yang ditengarai memiliki dampak yang
signifikan terhadap stabilitas sistem keuangan domestik
dan berfungsinya perekonomian dengan baik. Penetapan
bank sistemik dimaksud sangat penting untuk mendukung
pelaksanaan tugas Bank Indonesia, yang memiliki
kewenangan untuk melakukan asesmen makroprudensial
dan macro-surveillance .

2. Effective Resolution (Resolusi yang Efektif)


16.

Pada November 201116, FSB menerbitkan Key Attributes (KAs)


sebagai tindak lanjut rekomendasi penyusunan standar rezim
resolusi lintas batas (cross-border) yang dapat diterapkan
terhadap seluruh institusi keuangan termasuk infrastruktur
pasar keuangan. Hal ini bertujuan agar permasalahan
pada suatu institusi keuangan dapat diselesaikan secara

Versi revisi dokumen diterbitkan pada tahun 2014.

57

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

terstruktur tanpa menimbulkan gangguan sistemik terhadap


keseluruhan sistem keuangan dan tanpa mengganggu
keuangan pemerintah dengan tetap melindungi fungsifungsi ekonomi yang vital.
Secara garis besar, KAs merupakan elemen utama yang
diperlukan untuk mendukung rezim resolusi (penyelesaian
masalah) yang efektif. Elemen-elemen yang dimaksud
terdiri dari cakupan, otoritas resolusi, mandat resolusi,
serta berbagai aturan resolusi institusi keuangan termasuk
dalam kaitannya dengan otoritas keuangan di negara lain.
Implementasi KAs yang dimaksud dipersyaratkan kepada
negara anggota FSB, terutama untuk negara yang memiliki
G-SIBs.
Dalam pelaksanaan resolusi terhadap institusi keuangan
domestik, saat ini Indonesia telah memiliki sejumlah regulasi
guna mendukung tersedianya kewenangan dari otoritas
resolusi. UU No. 9 Tahun 2016 tentang PPKSK, menjadi
landasan hukum untuk protokol penanggulangan krisis yang
melibatkan beberapa otoritas terkait, yaitu Bank Indonesia,
OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan, serta menjadi payung
hukum dari rezim resolusi domestik. Selain itu, Undangundang No. 24 Tahun 2014 tanggal 22 September 2004
tentang LPS telah mengatur kewenangan otoritas resolusi
untuk melakukan kontrol dan operasional terhadap suatu
bank, penggantian manajemen, dan pengalihan kewenangan.
3. Mekanisme Bail-in

58

Bail-in merupakan salah satu elemen KAs yang


dipersyaratkan sebagai kewenangan dari otoritas resolusi.
Bail-in merupakan kewenangan otoritas resolusi untuk
melakukan restrukturisasi hutang dari institusi keuangan
dengan melakukan write-down terhadap unsecured debt
dan melakukan konversi menjadi ekuitas untuk menyerap
kerugiannya. Prinsipnya adalah untuk mengeliminasi risiko

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

insolvent, dengan menyelamatkan institusi keuangan yang


mengalami stres dengan merestrukturisasi kewajibannya
tanpa harus melakukan injeksi dana pemerintah/
publik. Hal ini termasuk mengembalikan modal hingga
memenuhi persyaratan batas minimum untuk memastikan
keberlangsungan institusi. Langkah yang dilakukan dapat
dengan mengonversi kewajiban menjadi ekuitas, melakukan
suntikan modal dari pemegang saham baru, ataupun
kombinasi keduanya. Tujuan utama dari prinsip ini adalah
untuk mendapatkan solusi pendanaan dari sektor swasta
sebagai alternatif dari penggunaan dana pemerintah/publik.

Bail-in telah diakomodir dalam UU PPKSK di mana bank


sistemik diwajibkan memiliki atau menerbitkan convertible
bond yang sewaktu-waktu bisa diubah menjadi ekuitas saham
dalam kondisi krisis.

59

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Countercyclical Capital Buffer: Solusi Redam Rugi


4.4.
Pada akhir tahun 2015, Bank Indonesia meluncurkan instrumen
Countercyclical Capital Buffer atau CCB. CCB dirancang untuk
mewajibkan bank mencadangkan lebih banyak modal ketika
kondisi ekonomi sedang meningkat atau boom, yang biasanya
disertai dengan pertumbuhan kredit yang berlebihan (perilaku
risk taking yang berlebihan). Harapannya, cadangan modal
ini dapat digunakan oleh bank untuk meredam kerugian yang
mungkin ditimbulkan di kemudian hari, saat perekonomian
sedang bust atau melambat. Selain itu, cadangan modal ini juga
diharapkan dapat digunakan bank untuk tetap menyalurkan
kredit di tengah perlambatan ekonomi yang ada. Karena pada
saat ini, perilaku bank cenderung menunjukkan prosiklikalitas:
membanjiri pasar dengan kredit saat kondisi boom dan menahan
kredit saat kondisi bust.
Instrumen ini pertama kali direkomendasikan oleh BCBS tahun
2010 dalam dokumen Basel III: A Global Regulatory Framework for
More Resilient Banks and Banking Systems. Penyusunan instrumen
ini dilatarbelakangi oleh krisis 2008. Perilaku berutang berlebihan
(over leverage) yang tidak diimbangi dengan permodalan dan
likuditas yang kuat menyebabkan bank tidak mampu menyerap
kerugian dan gangguan (shock) yang timbul. Hal ini diamplifikasi
oleh adanya interconnectedness atau keterkaitan serta perilaku
prosiklikalitas institusi keuangan. Kondisi-kondisi tersebut
menunjukkan bahwa bank cenderung tidak proporsional dalam
menilai risiko dan tidak memperhitungkan kondisi makrofinansial
dalam kegiatan bisnisnya.
Oleh karena itu, CCB dirancang sebagai instrumen untuk
meredam risiko-risiko tersebut. CCB akan diaktifkan ketika pihak
otoritas nasional menangkap sinyal risiko dari pertumbuhan
kredit perbankan. Sebaliknya, CCB akan dinonaktifkan ketika
pihak otoritas melihat perlambatan penyaluran kredit, atau
indikasi bahwa bank memerlukan ruang gerak untuk menyerap

60

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

risiko menggunakan bantalan permodalannya. Karena aktivasi


CCB didasarkan pada siklus keuangan yang bergerak secara
lebih lambat daripada siklus bisnis, maka CCB tergolong sebagai
instrumen yang relatif jarang diubah (infrequent).
Untuk mengidentifikasi timing yang tepat dalam mengaktifkan
instrumen ini, BCBS menggunakan selisih atau gap rasio kredit
terhadap PDB (credit-to-GDP ratio) dari tren jangka panjangnya.
Siklus keuangan dibangun antara lain dari pergerakan rasio ini
dan diinterpretasikan sebagai persepsi agen keuangan terhadap
iklim investasi dan kondisi perekonomian. Namun demikian,
disadari juga adanya perbedaan karakteristik antarnegara
sehingga indikator pengukuran siklus keuangan tersebut dapat
disesuaikan oleh masing-masing negara. Hong Kong misalnya,
mengkombinasikan indikator credit-to-GDP gap dengan indikator
lain seperti harga beli dan sewa properti lokal, selisih suku bunga
penawaran dan permintaan di pasar uang antarbank, dan ratarata kualitas kredit. Norwegia juga menggunakan beberapa
indikator sekaligus seperti credit-to-GDP gap, rasio harga rumah
terhadap pendapatan, harga riil properti, dan rasio pendanaan
wholesale. Sedangkan Inggris hanya menggunakan satu rasio
utama yang disarankan BCBS, yakni credit-to-GDP.
Bagi bank, mengubah level permodalan bukan suatu hal yang
mudah atau fleksibel. Oleh karena itu, untuk memberikan waktu
bagi bank untuk beradaptasi dengan ketentuan CCB tersebut,
BCBS memberikan waktu sampai dengan 12 bulan sebelumnya.
Di Indonesia, kewajiban pemenuhan CCB ditetapkan paling cepat
6 bulan dan paling lambat 12 bulan setelah ketentuan disahkan.
Sedangkan di Hong Kong, ketetapan peningkatan CCB menjadi
1,25% di Januari 2017 telah disampaikan pada Januari 2016, atau
1 tahun sebelumnya. Hal serupa juga dilakukan di India, dengan
himbauan bagi bank agar dapat memenuhi ketentuan CCB lebih
cepat dari 12 bulan. Sementara itu, Swiss menetapkan waktu
implementasi yang lebih rendah, yakni 3 sampai dengan 12
bulan.

61

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Besaran CCB juga disesuaikan berdasarkan siklus keuangan yang


ada. Kisaran tambahan modal (buffer) ditetapkan BCBS sebesar
0% (nol) sampai dengan 2,5% dari Aset Tertimbang Menurut Risiko
(ATMR) di atas kewajiban modal minimum yang ditetapkan oleh
standard Basel III. BCBS juga menentukan bahwa hanya Common
Equity Tier 1 (CET Tier 1) yang dapat digunakan untuk memenuhi
buffer tersebut. Hal ini dilakukan agar cadangan modal tersebut
benar-benar dapat digunakan saat terjadi tekanan di sistem
keuangan (stress). Implementasi CCB sendiri akan dilakukan
secara bertahap sejak 1 Januari 2016 dan akan diterapkan penuh
pada 1 Januari 2019.
Pada tahun 2016, hampir seluruh negara menerapkan CCB pada
level 0% (nol), sesuai dengan fase yang diterapkan oleh BCBS.
Negara-negara tersebut antara lain adalah: Argentina, Australia,
Belgia, Brazil, Tiongkok, Jerman, India, Indonesia, Jepang,
Korea, Inggris, dan Amerika Serikat. Namun demikian, terdapat
satu negara yakni Hong Kong yang telah memasuki fase kedua
penerapan CCB dengan nominal 0,625% dan Swedia sebesar 1%.

62

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

Boks Standar Internasional Pengaturan di Sektor Keuangan: Basel III


4.5.
Sejak krisis keuangan tahun 2008, G20 telah membentuk landasan
baru kerangka pengaturan keuangan global untuk menciptakan
sektor keuangan yang lebih tangguh dan lebih melayani
kebutuhan ekonomi riil. Financial Stability Board (FSB) dan Basel
Commitee for Banking Supervision (BCBS) kemudian menjabarkan
penguatan sektor keuangan tersebut ke dalam kerangka regulasi
dan menyusun tenggat waktu implementasi yang bertujuan
untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap sektor
keuangan global. Bersama dengan otoritas lainnya, termasuk
otoritas keuangan di luar negeri, Bank Indonesia sebagai anggota
FSB terus mengupayakan implementasi kebijakan reformasi
global tersebut. Secara garis besar, penguatan sektor keuangan
mencakup 5 (lima) agenda utama, yaitu:
1. Memperkuat ketahanan sektor perbankan
Basel III pada dasarnya merupakan suatu kerangka pengaturan
untuk memperkuat standar permodalan dan pengaturan
standar likuiditas bank. Tujuan dari Basel III adalah untuk
meningkatkan ketahanan sektor perbankan terhadap krisis.
Kerangka pengaturan permodalan secara garis besar
mengintegrasikan kebijakan kehati-hatian makro dan mikro
yang mencakup: kualitas dan tingkat permodalan yang lebih
tinggi; standar modal untuk meredam siklus ekspansi dan
kontraksi kredit yang berlebihan; dan standar modal untuk
mengurangi risiko sistemik.
Selain peningkatan standar permodalan, Basel III juga
memperkenalkan 2 (dua) standar minimum likuiditas yaitu:
LCR (Liquidity Coverage Ratio) dan NSFR (Net Stable Funding
Ratio). LCR dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan
bank terhadap potensi tekanan likuiditas dalam jangka
pendek, sementara NSFR bertujuan untuk meredam siklus
ekspansi dan kontraksi likuiditas yang berlebihan di sektor
keuangan.

63

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

2. Mengurangi moral hazard lembaga keuangan yang too-bigto-fail


Salah satu tujuan reformasi sektor keuangan adalah untuk
mengurangi risiko moral hazard yang terkait dengan persepsi
too-big-to-fail atas lembaga keuangan sistemik atau
systemically important financial institutions (SIFI). (Baca juga
Boks 4.3. Tidak Ada Lagi Too-Big-to-Fail)
3. Memperluas parameter pengawasan dan pengaturan
lembaga keuangan
Belajar dari krisis, pengawasan dan pengaturan shadow
banking juga perlu diperkuat. Lemahnya pengawasan
shadow banking menyebabkan terjadinya pengambilan risiko
berlebihan di luar sistem perbankan, yang pada akhirnya
meningkatkan risiko di sistem keuangan secara luas.

Pendekatan pemantauan yang diusulkan adalah pendekatan


perspektif makro, yaitu mengidentifikasi aktivitas/entitas
shadow banking yang meningkat secara signifikan dari waktu
ke waktu. Pendekatan lainnya adalah pendekatan perspektif
mikro, yaitu mengidentifikasi aktivitas shadow banking yang
dapat menimbulkan risiko sistemik pada sistem keuangan.
Adapun pengaturan secara garis besar bertujuan untuk
membatasi eksposur bank ke entitas shadow banking dan
mengurangi risiko pada aktivitas shadow banking.

Di samping pengaturan dan pengawasan shadow banking,


FSB menerbitkan berbagai rekomendasi pengaturan dan
pengawasan secured financing transactions, yang mencakup
antara lain repo dan peminjaman efek. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya perilaku berutang yang berlebihan (over
leverage) dan mencegah deleveraging yang tajam ketika sistem
keuangan mengalami tekanan. Dengan demikian, perilaku
prosiklikalitas dapat dibatasi dan ketersediaan sumber dana
yang berasal dari pasar securities financing dapat menjadi
lebih stabil.

64

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

4. Reformasi pasar Over the Counter (OTC) derivatif


Tujuan reformasi pasar OTC derivatif adalah meningkatkan
transparansi dan memastikan pengelolaan risiko kredit di
pasar derivatif, serta membatasi dampak contagion risk
yang berasal dari pasar tersebut. Pimpinan G20 menyepakati
area reformasi pasar OTC derivatives yang mencakup antara
lain: kliring kontrak derivatif melalui lembaga kliring dan
pelaporan kontrak derivatif kepada repositori perdagangan.
Lembaga kliring berperan sebagai pemotong keterkaitan
(circuit breaker) untuk mengurangi contagion risk. Risiko
kredit di pasar derivatif dapat terjadi antara lain karena
kelemahan pengelolaan risiko salah satu pihak yang terlibat di
dalam transaksi. Sementara itu, pelaporan kontrak derivatif
kepada repositori perdagangan bertujuan antara lain untuk
meningkatkan transparansi pasar sehingga risiko sistemik
dapat diidentifikasi secara dini.
5. Mengembangkan kerangka dan perangkat makroprudensial

Sampai saat ini belum terdapat definisi makroprudensial


yang baku. Namun demikian, berbagai institusi menjabarkan
makroprudensial sebagai perangkat untuk membatasi
risiko sistemik. Kerangka dan perangkat makroprudensial
ini dimaksudkan untuk menutupi kelemahan pengawasan
terhadap sistem keuangan yang telah mengakibatkan
terjadinya krisis keuangan global.

Reformasi keuangan global masih terus bergulir dan penguatan


regulasi terus dilakukan. Meskipun terdapat tantangan
kesenjangan antara perkembangan sektor keuangan di negara
maju dan negara berkembang, Indonesia perlu memastikan
bahwa pengaturan dan pengawasan yang dilakukan selama
ini telah sejalan dengan best practices yang ada. Peningkatan
kapasitas pengaturan dan pengawasan diperlukan untuk
mengantisipasi perkembangan sektor keuangan yang sangat
dinamis. Dengan demikian, pemenuhan Indonesia terhadap
standar internasional diharapkan dapat mendukung upaya

65

Bagaimana Strategi Bank Indonesia dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial?

menjaga stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang


berkelanjutan.

66

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Bagaimana Bank Indonesia


Mencegah dan Menangani Krisis:
Protokol Manajemen Krisis
Protokol Manajemen Krisis (PMK) merupakan protokol yang
dipergunakan untuk mengelola dan mengatasi kondisi krisis. Kata
protokol sendiri didefinisikan sebagai sebuah sistem aturan yang
menjelaskan praktik-praktik (conduct) dan prosedur yang benar
(atau dianggap benar) yang harus dijalankan dalam suatu situasi yang
formal. PMK dalam sistem keuangan menjadi penting dalam upaya
penyelesaian krisis (crisis resolution) karena PMK akan membantu
para otoritas keuangan bereaksi dan mengambil langkah-langkah
yang tepat dan terkoordinasi untuk mengatasi krisis dalam waktu
cepat. Ketepatan dan kecepatan menjadi sangat penting karena
krisis keuangan biasanya dapat berubah menjadi lebih buruk dalam
waktu cepat. Hal ini terutama disebabkan oleh teknologi tinggi yang
diimplementasikan pada sistem keuangan yang mengakibatkan
transaksi keuangan berlangsung dengan cepat, informasi kondisi
keuangan tersebar dengan cepat, serta adanya ketidaksimetrisan
informasi antara institusi keuangan dan pengguna jasa keuangan
yang mendorong pengguna jasa keuangan percaya kepada
berita-berita yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Di Indonesia, ketentuan tentang PMK Nasional tercantum dalam
UU No 9 Tahun 2016 tentang PPKSK. Berdasarkan UU tersebut,
4 (empat) lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan
(KSSK), yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan
LPS, mendapatkan amanat untuk memperkuat peran, fungsi, dan
koordinasi dalam rangka pemantauan dan pemeliharaan stabilitas
sistem keuangan, penanganan kondisi krisis sistem keuangan, serta
penanganan permasalahan Bank Sistemik, baik dalam kondisi sistem

67

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

keuangan normal maupun kondisi krisis sistem keuangan. PMK


Nasional yang tertuang dalam UU PPKSK selanjutnya dijabarkan
dalam PMK di masing-masing lembaga anggota KSSK. Dengan
demikian, PMK Bank Indonesia merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari PMK Nasional yang tertuang dalam UU PPKSK.

V.1. Dasar Hukum PMK


Sebelum rancangan UU PPKSK disahkan oleh Dewan Perwakilan
Rakyat menjadi undang-undang pada tanggal 17 Maret 2016,
keempat lembaga anggota KSSK menjalankan peran, fungsi, dan
koordinasi dalam pemantauan dan pemeliharaaan stabilitas sistem
keuangan dengan berlandaskan pada Nota Kesepahaman tanggal 3
Desember 2012 tentang Koordinasi dalam rangka Menjaga Stabilitas
Sistem Keuangan. Nota Kesepahaman tersebut mengatur tugas dan
wewenang Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS
dalam beberapa hal sebagai berikut:
a. Pertukaran data dan informasi;
b. Evaluasi stabilitas sistem keuangan;
c. Rapat koordinasi;
d. Rekomendasi untuk melakukan tindakan dan/atau menetapkan
kebijakan dalam rangka menjaga memelihara stabilitas sistem
keuangan;
e. Penetapan kebijakan dalam rangka pencegahan dan penanganan
krisis sistem keuangan sesuai dengan kewenangan masingmasing lembaga; serta
f. Komunikasi kepada publik dan stakeholders lainnya, melalui
Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK).
Nota Kesepahaman tersebut menegaskan ruang lingkup PMK
di masing-masing lembaga anggota KSSK yang selanjutnya
diintegrasikan menjadi PMK Nasional.
Secara umum, PMK Nasional mencakup tugas dan wewenang
masing-masing lembaga anggota KSSK, termasuk koordinasi
pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan yang
mencakup fiskal, moneter, makroprudensial dan mikroprudensial
jasa keuangan, pasar keuangan, infrastruktur keuangan (termasuk
68

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

sistem pembayaran dan penjaminan simpanan), dan resolusi


bank. PMK Nasional tersebut menegaskan pula mengenai proses
pengambilan keputusan dalam rapat koordinasi hasil evaluasi, dan
penyusunan rekomendasi serta langkah-langkah pencegahan dan
penanganan kondisi sesuai wewenang masing-masing anggota
KSSK. Sementara itu, PMK di tingkat lembaga merupakan pedoman
dalam melaksanakan langkah-langkah pencegahan dan penanganan
krisis sistem keuangan sesuai tugas dan wewenang lembaga. PMK
lembaga sekaligus berfungsi sebagai landasan hukum dalam proses
pengambilan keputusan terkait pencegahan dan penanganan krisis.
Di Bank Indonesia, pedoman mengenai langkah-langkah pencegahan
dan penanganan krisis yang sesuai dengan kewenangan Bank
Indonesia diatur dalam Peraturan Dewan Gubernur (PDG) Bank
Indonesia tentang PMK, yang kini tengah berada dalam proses
penyesuaian terhadap UU PPKSK. Petunjuk pelaksanaannya diatur
dalam Surat Edaran (SE) Intern Bank Indonesia tentang Pedoman
Pelaksanaan PMK. SE Intern tersebut mengatur secara spesifik
mekanisme, pelaksanaan dan produk pemantauan, indikator dan
tingkat tekanan/kondisi, dan mekanisme pengambilan keputusan.

V.2. Peran PMK Bank Indonesia dalam Memelihara


Stabilitas Sistem Keuangan
Kehadiran PMK Bank Indonesia menegaskan tugas dan kewenangan
Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas moneter, mendorong
stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial, dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran. Oleh karena itu, kerangka
surveillance dalam PMK Bank Indonesia mencakup beberapa hal
sebagai berikut:
a. Identifikasi risiko domestik dan global yang dapat memicu
peningkatan tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan,
b. Pengumpulan dan monitoring data dan informasi,
c. Analisis kerentanan dengan menggunakan indikator kuantitatif
dan kualitatif, dan
d. Perumusan indikasi tingkat tekanan (Gambar 5.1).
Penetapan indikator kuantitatif dan kualitatif dilakukan melalui
69

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

proses rekalibrasi secara rutin mengingat sumber gangguan/shocks


dan kerentanan bersifat dinamis. Sementara, surveillance atau
pemantauan terhadap indikator tersebut menjadi bagian tidak
terpisahkan dari proses bisnis rutin pada seluruh satuan kerja terkait.
Hasil surveillance selanjutnya menjadi dasar pengambilan keputusan
terhadap langkah-langkah pencegahan dan penanganan kondisi
krisis sistem keuangan.
Gambar 5.1
Kerangka Surveillance dalam PMK

Peran PMK tersebut di atas semakin terlihat jelas pada saat tekanan
terhadap sistem keuangan meningkat. Dalam kondisi tersebut
PMK dapat memberikan pedoman yang jelas, terintegrasi, dan
berkelanjutan bagi Bank Indonesia untuk melaksanakan langkahlangkah pencegahan dan penanganan. PMK sekaligus berfungsi
sebagai landasan hukum bagi Bank Indonesia dalam proses
pengambilan keputusan dan pelaksanaan tindakan secara cepat,
termasuk dalam rangka koordinasi dengan Pemerintah, KSSK, dan/
atau institusi terkait.
Untuk memastikan PMK dapat diimplementasikan secara cepat di
level strategis dan teknis dengan tetap menjaga tata kelola yang
baik, digunakan Crisis Binder17 sebagai pedoman (manual) yang
bersifat singkat namun komprehensif dan praktis. Crisis Binder Bank
17.

70

Istilah Crisis Binder biasanya digunakan untuk dokumentasi kumpulan langkah-langkah atau aksi yang dapat
dilakukan dalam rangka penanganan krisis. Dokumen ini ditujukan untuk memastikan langkah-langkah atau
aksi penanganan krisis dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Indonesia merupakan bagian dari Crisis Binder Nasional. Crisis Binder


ini menegaskan pihak yang berwenang, waktu, dan mekanisme
pengambilan keputusan dan pelaksanaan tindakan di setiap satuan
kerja yang terlibat. Crisis Binder berisi pula indikator kuantitatif dan
kualitatif yang dimonitor oleh tiap satuan kerja surveillance, action
plan ketika hasil surveillance menunjukkan kondisi ditengarai krisis,
serta bentuk komunikasi kepada Pemerintah, anggota KSSK, institusi
terkait, dan/atau publik. Selain itu, juga dimuat opsi kebijakan bagi
Bank Indonesia dalam mencegah dan menangani krisis. Mengingat
Crisis Binder merupakan produk perencanaan kontinjensi yang
disusun saat kondisi sistem keuangan sedang normal, desain opsi
kebijakan yang dapat ditempuh Bank Indonesia dalam mencegah
dan menangani krisis bersifat pre-determined (ditentukan terlebih
dahulu) atau merupakan produk dari proses bisnis normal, sehingga
akuntabilitas dan kredibilitas kebijakan terjaga.

V.3. Koordinasi Antarlembaga dalam Pencegahan dan/


atau Penanganan Krisis
Koordinasi antarlembaga anggota KSSK menjadi bagian penting
dalam pencegahan dan penanganan krisis mengingat sumber krisis
berevolusi sepanjang waktu dan sering kali bersifat multidimensi.
Secara historis, krisis nilai tukar, perbankan, dan utang di negara
berkembang cenderung terjadi secara simultan. Kegagalan
pembayaran utang pemerintah, atau krisis utang, seringkali didahului
oleh peningkatan utang sektor publik, nilai tukar mata uang yang
terlalu tinggi, serta risiko keuangan dan politik negara bersangkutan.
Sementara, krisis nilai tukar meningkatkan probabilitas terjadinya
krisis utang ketika nilai tukar riil suatu negara terapresiasi.
Probabilitas terjadinya krisis utang secara tidak langsung dipengaruhi
pula oleh kondisi likuiditas dan pasar utang internasional (Lauven
and Valencia, 2013; Eijffinger and Karatas, 2013). Dengan demikian,
pencegahan krisis memerlukan koordinasi dan pertukaran informasi
hasil surveillance yang bersifat lintas sektoral dan lembaga.
Koordinasi antarlembaga juga berperan penting dalam
meminimalisir dampak negatif kebijakan (policy trade-off) yang
71

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

seringkali timbul ketika krisis hanya menyentuh satu atau dua


sektor, namun memiliki dampak jangka panjang pada sektor
lainnya. Sebagai contoh, dalam rangka mencegah dampak krisis
keuangan global di 2007-2008 terhadap sektor riil, kebijakan fiskal
dan moneter Eropa dan Amerika Serikat ditekankan pada menahan
kenaikan tajam suku bunga pasar dan depresiasi nilai tukar. Kedua
kondisi tersebut dinilai dapat memperburuk solvabilitas debitur dan
kerugian perbankan. Bauran kebijakan yang akomodatif tersebut
dengan cepat mampu memulihkan kepercayaan pelaku ekonomi
dan menekan restrukturisasi utang. Namun demikian, dampak
jangka panjang kebijakan tidak dapat dihindari. Utang pemerintah
meningkat tajam dan pemulihan ekonomi berlangsung lebih lambat
dibanding normanya (Claessens, 2011). Maka, langkah pencegahan
dan penanganan krisis yang terkoordinasi diharapkan dapat
meminimalisir langkah atau kebijakan yang bersifat kontra produktif
dari satu atau beberapa lembaga anggota.

V.4. Opsi Kebijakan Bank Indonesia dalam Pencegahan


dan Penanganan Krisis
Dalam pencegahan dan penanganan krisis, Bank Indonesia memiliki
opsi kebijakan yang mengacu pada peran dan wewenang dalam
menjaga stabilitas moneter, mendorong stabilitas sistem keuangan,
dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Beberapa opsi
kebijakan cenderung ditempuh hanya pada saat tekanan terindikasi
tinggi, sehingga dinilai sebagai kebijakan yang di luar konvensi atau
tidak biasa (unconventional). Selain karena kompleksitas desain
dan implementasi kebijakan, faktor biaya dan potensi moral hazard
para pelaku ekonomi menjadi pertimbangan dalam membatasi
penggunaan kebijakan unconventional.
Secara spesifik, opsi kebijakan Bank Indonesia dalam rangka
pencegahan dan penanganan krisis berkaitan erat dengan peran
bank sentral: 1) sebagai Lender of the Last Resort (LOLR) yang
merupakan fungsi inheren bank sentral dalam menjaga stabilitas
sistem keuangan; dan 2) dalam memelihara stabilitas nilai tukar dan
sektor eksternal. Berkaitan dengan fungsi LOLR, Bank Indonesia
72

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

dapat memberikan opsi penyediaan likuiditas yang bersifat intervensi


pasar atau Liquidity Providing (Market Intervention) Options dalam
mekanisme Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan Standing Facility,
atau memberikan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). Opsi
kebijakan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa posisi
Bank Indonesia di pasar uang memungkinkannya untuk melakukan
deteksi dini tekanan likuiditas di pasar keuangan serta pentingnya
menjaga fungsi pasar uang selama periode terjadi kepanikan di pasar
keuangan (financial panic). Prinsip dasar LOLR adalah memastikan
tersedianya likuiditas yang memadai di perekonomian khususnya
melalui sektor perbankan, mengingat bank sentral berfungsi sebagai
penyedia dan pengendali likuiditas melalui OPT (Thornton, 1939;
Bagehot, 1873).
Dalam kondisi financial panic yang menyebabkan terganggunya
likuiditas di pasar uang, Bank Indonesia dapat melakukan intervensi
pasar melalui OPT dengan menambah likuiditas Rupiah maupun
valuta asing ke pasar uang. OPT tersebut ditujukan untuk mengatasi
keketatan likuiditas atau terganggunya distribusi likuiditas
antarbank. OPT dalam rangka intervensi pasar pernah dilakukan oleh
Bank Indonesia di November 2008, dengan membuka reverse repo
berjangka waktu satu hari sampai dengan satu tahun. Intervensi pasar
tersebut mensyaratkan agunan berupa aset likuid yang berkualitas
tinggi (high quality liquid assets), untuk memastikan pelaku pasar
menitikberatkan pada mekanisme pasar dalam pemenuhan likuiditas
sehingga fungsi bank sentral sebagai last resort terjaga (Baca juga
Boks 5.1. Pelajaran Berharga dari Krisis Keuangan Global 2008).
Bilamana kebutuhan likuiditas terjadi pada individual bank sehingga
Bank Indonesia tidak membuka OPT, Bank Indonesia dapat
memberikan Standing Facility yang disebut Lending Facility (fasilitas
pinjaman), dengan tenor (jangka waktu) overnight (satu malam)
dan persyaratan agunan yang sama dengan mekanisme intervensi
pasar. Apabila bank memiliki kebutuhan likuiditas dalam tenor lebih
panjang dari overnight dan/atau alat likud lainnya untuk digunakan
sebagai agunan, Bank Indonesia dapat memberikan FPJP. FPJP hanya
dapat diberikan kepada bank pemohon dan agunan yang memenuhi
kriteria eligibilitas. Kriteria eligibilitas menyiratkan bahwa FPJP,

73

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

sebagaimana layaknya instrumen LoLR bank sentral lainnya, memiliki


constructive ambiguity (ambiguitas yang bersifat konstruktif)18
untuk meminimalisir moral hazard di kalangan perbankan.
Terkait dengan peran Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas
nilai tukar dan sektor eksternal, Bank Indonesia dan/atau
Kementerian Keuangan dapat mengaktivasi jaringan pengaman
keuangan internasional atau yang disebut International Financial
Safety Net (IFSN) apabila tekanan likuiditas bersifat eksternal dan/
atau berkaitan dengan neraca pembayaran. IFSN merupakan kerja
sama Bank Indonesia dan/atau Pemerintah Republik Indonesia
dalam mencegah dan menangani krisis secara bilateral, regional,
maupun multilateral dengan bank sentral, otoritas moneter, dan/
atau otoritas lainnya, organisasi atau lembaga internasional, dan
forum internasional dalam rangka pemenuhan kecukupan cadangan
devisa dan/atau kesulitan likuiditas jangka pendek. IFSN dapat
bersifat pencegahan krisis maupun penyelesaian krisis.

18.

74

Ambiguitas yang konstruktif dalam hal ini diimplementasikan dengan tetap memelihara diskresi dari BI
dalam proses pengambilan keputusan dalam pemberian FPJP agar bank tidak berperilaku sedemikian rupa
untuk menjamin keputusan pemberian FPJP. Perilaku ini yang dianggap sebagai moral hazard.

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Boks Pelajaran Berharga dari Krisis Keuangan Global 2008


5.1.
Beberapa hari setelah terjadinya kebangkrutan Lehman Brothers
tanggal 15 September 2008, pasar keuangan global mengalami
guncangan yang cukup kuat. Pelaku pasar yang sudah mengalami
keresahan sejak pertengahan 2007 karena subprime mortgage
crisis, tiba-tiba memperoleh konfirmasi bahwa permasalahan di
pasar keuangan global sudah sangat parah. Lehman Brothers
yang pada saat itu adalah bank investasi terbesar keempat di
Amerika Serikat terpaksa mendeklarasikan bangkrut karena
sudah tidak dapat lagi memenuhi kewajiban keuangannya.
Peristiwa ini berdampak pada penurunan kepercayaan pada
pasar keuangan global yang dampaknya tidak hanya terisolasi di
Amerika Serikat, tetapi juga ke seluruh negara yang memiliki pasar
keuangan yang aktif secara global, termasuk Indonesia. Investor
asing terpaksa menarik likuiditasnya dari berbagai negara untuk
menjaga posisi likuiditasnya sendiri. Karena penarikan dana
investor asing di Indonesia serta penurunan tingkat kepercayaan,
pasar keuangan Indonesia pun mengalami penjualan aset-aset
pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan turun dari 2.166
pada 29 Agustus 2008, menjadi 1.256 pada 31 Oktober 2008
(-42%). Indeks harga obligasi pemerintah IDMA turun dari 86,18
menjadi 72,28 pada periode yang sama (-16%). Nilai tukar Rupiah
terdepresiasi sebesar 20,7% sepanjang September dan Oktober
2008. Sementara dalam periode tersebut, cadangan devisa
Indonesia turun sebesar USD 7,78 miliar.
Tabel 5.1.
Puncak Krisis Keuangan Tahun 2008 di Indonesia

75

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Walaupun pasar keuangan mengalami gangguan yang cukup


signifikan, perbankan Indonesia mampu menyerap risiko
tersebut dengan menjaga indikator bulanan pada kisaran NPL
3,9%, CAR 16,5%, LDR 80%, pertumbuhan kredit 34,6% (y-o-y)
pada September 2008. Namun demikian, perbankan merasakan
tipisnya likuiditas pasar, sehingga pasar uang mengalami
volatilitas yang cukup tinggi. Likuiditas Rupiah di perbankan juga
mengalami penurunan karena menurunnya pertumbuhan dana
pihak ketiga (DPK). Sementara likuiditas valas juga menurun
karena permintaan yang cukup tinggi dari pasar global.
Dalam kondisi terjadinya ancaman pada stabilitas keuangan,
sangat penting untuk mengutamakan langkah-langkah yang
dapat mengurangi dampak negatif terhadap stabilitas sistem
keuangan dan menjaga kesinambungan perekonomian nasional.
Dalam kondisi yang tidak normal seperti ini, otoritas perlu
dipersenjatai dengan keleluasaan dan instrumen untuk dapat
mengatasi kondisi krisis atau mendekati krisis. Namun, dasar
hukum untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan krisis
pada saat itu masih belum ada. Pemerintah memutuskan untuk
menerbitkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undangundang atau Perppu, yaitu Perppu No. 4 Tahun 2008 tentang
Jaring Pengaman Sistem Keuangan (Perppu JPSK). Istilah ini
adalah terjemahan dari financial safety net yang secara luas
dimengerti oleh dunia keuangan internasional. Secara umum
Perppu JPSK ini ditujukan untuk menciptakan dan memelihara
stabilitas sistem keuangan melalui pengaturan dan pengawasan
lembaga keuangan dan sistem pembayaran, penyediaan fasilitas
pembiayaan jangka pendek, program penjaminan simpanan,
serta pencegahan dan penanganan krisis (Depkeu RI, 2008).
Untuk mengatasi kondisi instabilitas di sistem keuangan,
selain dari Perppu JPSK tersebut, pada saat yang bersamaan
Pemerintah juga menerbitkan 2 (dua) Perppu, yaitu Perppu No. 2
Tahun 2008 tentang Perubahan UU tentang Bank Indonesia dan
Perppu No. 3 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU tentang
Lembaga Penjamin Simpanan.

76

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter secara independen


dapat melakukan berbagai langkah untuk mengurangi tekanan
pada industri perbankan, antara lain menurunkan suku bunga
yang harus dibayar bank untuk mengakses fasilitas likuiditas dari
Bank Indonesia seperti overnight Repo rate dan menurunkan
giro wajib minimum bank. Namun dengan adanya Perppu JPSK,
seluruh otoritas keuangan dan pelaku pasar sama-sama mengerti
bahwa stabilitas sistem keuangan sedang terganggu dan bahwa
otoritas keuangan telah siap melakukan langkah-langkah untuk
menanggulangi kondisi tersebut. Bank Indonesia bekerja sama
dengan Pemerintah kemudian mengupayakan beberapa cara
termasuk: (i) dihentikannya valuasi aset yang mengikuti harga
pasar (marking to market) sehingga neraca institusi keuangan
tidak terganggu oleh risiko pasar akibat turunnya harga-harga
aset keuangan, (ii) mempermudah dipindahkannya aset yang
masuk dalam portofolio perdagangan (tradable) dan siap
diperdagangkan (available for sale) menjadi portofolio yang
disimpan sampai dengan jatuh tempo (hold to maturity),
dan (iii) meningkatkan batasan saldo dana pihak ketiga yang
dijamin oleh LPS dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar. Selain itu,
adanya Perppu JPSK ini kemudian memungkinkan Pemerintah
untuk menerbitkan peraturan pemerintah mengenai Protokol
Manajemen Krisis (PMK).
PMK berguna untuk mempercepat kesamaan pandang dan
pemahaman mengenai situasi yang berkaitan dengan kondisi
krisis. Mengapa hal ini menjadi penting, tidak lain dikarenakan
dalam kondisi krisis, langkah-langkah penanggulangan harus
dilakukan secara tepat dan cepat. Permasalahan di dunia
keuangan tidak hanya merambat dari pelaksanaan transaksi
keuangan (yang dapat berlangsung dengan cepat karena
ditunjang oleh teknologi informasi yang canggih), tetapi juga
merambat melalui tukar menukar informasi antarpelaku pasar
atau melalui pemberitaan di pasar keuangan. Perambatan
permasalahan ini akan memperparah kondisi krisis secara cepat
jika tidak ada upaya penanganan yang tepat dan cepat.

77

Bagaimana Bank Indonesia Mencegah dan Menangani Krisis: Protokol Manajemen Krisis

Indonesia sudah mendapatkan pelajaran berharga dari


pengalaman krisis pada 2008. Jangan sampai terlena dan
membiarkan krisis datang tanpa kesiapan kita. Setelah dicabutnya
Perppu JPSK oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 7 Juli
2015, Pemerintah, BI, OJK, dan LPS telah bekerja keras untuk
menyusun Undang-Undang yang baru untuk memberikan
kepastian hukum dalam kondisi krisis keuangan. Oleh karena
itu, diberlakukannya UU No. 9 Tahun 2016 tentang PPKSK
merupakan angin yang segar bagi sistem keuangan Indonesia,
karena kepastian hukum ini dapat meningkatkan kepercayaan
pelaku pasar serta memberikan kenyamanan pada semua pihak
yang menggunakan jasa keuangan di Indonesia.

78

Daftar Pustaka
Bagehot, W. (1873). Lombard Street: A Description of the Money Market.
Bank Indonesia. (2007). Stabilitas Sistem Keuangan, Apa, Mengapa dan
Bagaimana? Booklet Stabilitas Sistem Keuangan. Mei.
___________. (2015). Guidelines Pelaksanaan Stress Test Perbankan di Bank
Indonesia. Laporan Program Strategi No. 2B. Departemen Kebijakan
Makroprudensial dan Departemen Surveillance Sistem Keuangan. Bank
Indonesia.
Basel Committee on Banking Supervision. (2010). Basel III: A Global
Regulatory Framework for More Resilient Banks and Banking Systems
_______________. (2012a). Model and Tools for Macroprudential Analysis.
BIS Working Paper No.12. Bank for International Settlements.
_______________. (2012b). A Framework for Dealing With Domestic
Systemically Important Banks.
_______________. (2013). Global Systemically Important Banks:
Updated Assessment Methodology and The Higher Loss Absorbency
Requirement.
_______________. (2013). Basel III: The Liquidity Coverage Ratio and
Liquidity Risk Monitoring Tools.
_______________. (2014). Basel III: The Net Stable Funding Ratio.
Bernanke, B. (2013). Monitoring the Financial System. Speech At the 49th
Annual Conference on Bank Structure and Competition sponsored by
the Federal Reserve Bank of Chicago, Chicago, Illinois.
Billio, M; Mila, G; Andrew W.L dan Loriana P. (2010). Measuring Systemic
Risk in the Finance and Insurance Sectors. MIT Sloan School Working
Paper 4774-10.
Borio C., M. Drehman, dan K. Tsatsaronis. (2012). Stress-Testing Macro
Stress Testing: Does It Live Up To Expectations?. BIS Working Papers
No 369.
Borio, C. (2009). Implementing The Macroprudential Approach to Financial
Regulation and Supervision. Banque de France Financial Stability
Review, 13.
79

Borio. C. (2012). The Financial Cycle and Macroeconomics: What Have We


Learnt?. BIS Working Papers No 395.
Claessens, S. C. Pazarbasioglu, L. Laeven, M. Dobler, F. Valencia, O. Nedelescu,
dan K. Seal. (2011). Crisis management and Resolution: Early Lessons from
the Financial Crisis. IMF Staff Discussion Notes No.11/05
Clement, Piet. (2010). The Term Macroprudential: Origins and Evolution,
BIS Quarterly Review, March.
Committee on The Global Financial System (CGFS). (2012). Operationalising
The Selection and Application of Macroprudential Instruments. CGFS
Papers No.48. Bank for International Settlements. December.
Crockett, A. (2000). Marrying The Micro- And Macro-Prudential Dimensions
Of Financial Stability. BIS Review 76/2000.
Eijffinger, S. C.W dan Karatas, B. (2013). Three Sisters : The Interlinkage
Between Sovereign Debt, Currency and Banking Crises. Centre for Policy
Research Discussion Paper Series 9369.
European Central Bank (ECB), 2010, Financial Networks and Financial
Stability, Financial Stability Reviews, pp. 138-146, June.
European Systemic Risk Board, 2013, Recommendation of The ESRB on
Intermediate Objectives and Instruments of Macro-prudential Policy,
Official Journal of The European Union, C 170/1, April.
Financial Stability Board, International Monetary Fund, and Bank for
International Settlements, 2011, Macroprudential Tools and Frameworks,
Update to G20 Finance Ministers and Central Bank Governors, February.
Financial Stability Board. (2010). Implementing OTC Derivatives Market
Reforms.
______________. (2010). Reducing The Moral Hazard Posed by Systemically
Important Financial Institutions. FSB Recommendations and Time Lines.
______________. (2011a). Key Attributes of Effective Resolution Regimes for
Financial Institutions
______________. (2011b) Shadow Banking: Strengthening Oversight and
Regulation.
______________. (2013). Policy Framework for Addressing Shadow Banking
Risks in Securities Lending and Repos.

80

______________. (2014). Key Attributes of Effective Resolution Regimes for


Financial Institutions.
______________. (2014). Strengthening Oversight and Regulation of Shadow
Banking: Regulatory framework for haircuts on non-centrally cleared
securities financing transactions.
______________. (2015). Transforming Shadow Banking into Resilient
Market-based Finance: Regulatory framework for haircuts on noncentrally cleared securities financing transactions.
Galati, G., and Richhild M., 2011, Macroprudential Policy a Literature
Review, BIS Working Paper No. 337, Bank for International Settlements.
Group of Ten, 2001, Report on Consolidation in the Financial Sector,
International Monetary Fund, January.
Harun, C.A. dan Sagita, R. (2013). Kerangka Kebijakan Makroprudensial
Indonesia. Laporan Hasil Penelitian. Departemen Kebijakan
Makroprudensial. Bank Indonesia..
______________. (2015). Revisit Kerangka Kebijakan Makroprudensial
di Bank Indonesia. Laporan Hasil Penelitian. Departemen Kebijakan
Makroprudensial. Bank Indonesia.
International Monetary Fund.(2011). Macroprudential Policy: An Organizing
Framework.
______________. (2013a). The Interaction of Monetary and Macroprudential
Policies.
______________. (2013b). Key Aspects Of Macroprudential Policy.
Kalirai, H. Scheicher, M. (2002), Macroeconomic Stress Testing: Preliminary
Evidence for Austria, Financial Stability Report, (3) Austrian National Bank.
Laeven, L. dan Valencia, F. (2013). Systemic Banking Crises Database: An
Update. IMF Economic Review 61 (2).
Pramono, B., Januar, H., Justina, A., M.H.Muhajir dan M.S. Alim. (2015).
Indikator Utama, Reciprocity dan Pengaturan Countercyclical Capital
Buffer di Indonesia. Laporan Hasil Penelitian. Departemen Kebijakan
Makroprudensial. Bank Indonesia.
Thornton, H. (1939). An Enquiry in the Nature and Effects of the Paper Credit
of Great Britain. Esq. M.P. London

81

Daftar Singkatan
ATMR
BCBS
BI
BIS
BSSK
CAR
CCB
CET1
CKPN
D-SIBs
ESRB
FKSSK
FPJP(S)
FSB
GFC
G-SIBs
GWM
IDMA
IFSN
IHSG
IMF
IRSP
ISSK
JPSK
KPwDN
KSK
KSSK
LCR
LDR
LFR
LOLR
LPS
82

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko


Basel Committee on Banking Supervision
Bank Indonesia
Bank for International Settlement
Biro Stabilitas Sistem Keuangan
Capital Adequacy Ratio
Countercylical Capital Buffer
Common Equity Tier 1
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
Domestic Systemically Important Banks
European Systemic Risk Board
Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan
Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (Syariah)
Financial Stability Board
Global Financial Crisis
Global Systemically Important Banks
Giro Wajib Minimum
Indeks Inter Dealer Market Association
International Financial Safety Net
Indeks Harga Saham Gabungan
International Monetary Fund
Indeks Risiko Sistemik Perbankan
Indeks Stabilitas Sistem Keuangan
Jaring Pengaman Sektor Keuangan
Kantor Perwakilan Dalam Negeri
Kajian Stabilitas Keuangan
Komite Stabilitas Sistem Keuangan
Liquidity Coverage Ratio
Loan-to-Deposit Ratio
Loan-to-Funding Ratio
Lender of the Last Resort
Lembaga Penjamin Simpanan

LTV Ratio
NPL
NSFR
OJK
OPT
OTC
PLJP
PMK
PPKSK
PUAB
RDG
RFS
SIBs
SIFIs
SSK
UMKM

Loan-to-Value Ratio
Non Performing Loan
Net Stable Funding Ratio
Otoritas Jasa Keuangan
Operasi Pasar Terbuka
Over The Counter
Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek
Protokol Manajemen Krisis
Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan
Pasar Uang Antar Bank
Rapat Dewan Gubernur
Regional Financial Surveillance
Systemically Important Banks
Systemically Important Financial Institutions
Stabilitas Sistem Keuangan
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

83

Daftar Istilah
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
Nilai eksposur risiko yang dimiliki oleh bank dimana perhitungannya
mencakup eksposur risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional.
Semakin tinggi risiko aktiva, semakin tinggi bobot risikonya. Bank wajib
memiliki dan menjaga tingkat modal minimum sebesar persentase
tertentu dari ATMR.
Bail-in
Langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan keuangan
(likuiditas dan solvabilitas) institusi keuangan dengan melakukan
restrukturisasi hutang institusi keuangan, antara lain melalui konversi
kewajiban menjadi ekuitas untuk menyerap kerugian.
Bail-out
Langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan keuangan
(likuiditas dan solvabilitas) institusi keuangan dengan menggunakan
dana Pemerintah (APBN).
Bank for International Settlement (BIS)
Organisasi keuangan internasional beranggotakan 60 bank sentral yang
mendorong kerjasama moneter dan keuangan secara internasional dan
melakukan tugas sebagai bank bagi bank sentral.
Bank Indonesia
Bank sentral Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Basel Committee on Banking Supervision (BCBS)
Komite/grup yang beranggotakan otoritas perbankan negara-negara,
bertujuan untuk menerbitkan rekomendasi dan standar pengaturan
kehati-hatian secara internasional bagi sektor perbankan.
Biro Stabilitas Sistem Keuangan (BSSK)
Biro yang berada pada Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan
(DPNP) Bank Indonesia yang bertugas melaksanakan peran Bank
Indonesia dalam mendorong terciptanya stabilitas sistem keuangan.
84

BSSK didirikan pada tahun 2003 dan pada tahun 2013 perannya
digantikan oleh Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP)
sejalan dengan reorganisasi di Bank Indonesia.
Bottom-up Stress Test
Stress test perbankan yang dilakukan oleh individual bank dengan
model yang disesuaikan dengan pengelolaan risiko oleh bank.
Build-up Phase
Merupakan fase awal pembentukan risiko yang ditandai dengan
munculnya gejala overheating pada sistem keuangan atau perkembangan
indikator monitoring dan hasil uji ketahanan yang mengarah pada
ambang instabilitas sistem keuangan, antara lain seperti pertumbuhan
kredit yang tinggi, kenaikan harga aset yang tinggi (boom), dan
perkembangan financial innovation yang cepat.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Cadangan yang wajib dibentuk bank jika terdapat bukti objektif
mengenai penurunan nilai aset keuangan atau kelompok aset keuangan
sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah
pengakuan awal aset tersebut.
Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rasio kecukupan modal bank yang diukur berdasarkan perbandingan
antara jumlah modal dengan asset tertimbang menurut risiko (ATMR).
Common Equity Tier 1
Modal inti utama merupakan komponen modal bank yang terdiri atas
modal disetor dan cadangan tambahan modal (disclosed reserve).
Common Risk Factor
Kondisi dimana beberapa institusi keuangan memiliki eksposur dan
menghadapi risiko yang sama.
Concentration Risk
Risiko yang muncul akibat pemusatan eksposur pada portofolio tertentu

85

baik dalam 1 (satu) maupun beberapa institusi keuangan.


Contagion Effect
Risiko atau gangguan yang menular dari satu institusi atau elemen
sistem keuangan ke institusi atau elemen lainnya dalam sistem keuangan
karena adanya keterkaitan eksposur atau faktor informasi.
Countercyclical
Kecenderungan variabel atau indikator keuangan untuk bergerak
berlawanan arah dengan pergerakan siklus perekonomian.
Countercylical Capital Buffer (CCB)
Tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk
mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit perbankan
yang berlebihan sehingga berpotensi menganggu stabilitas sistem
keuangan.
Crisis Binder
Dokumentasi mengenai kumpulan langkah-langkah atau aksi yang
dapat dilakukan dalam rangka penanganan krisis. Dokumen ini ditujukan
untuk memastikan langkah-langkah atau aksi penanganan krisis dapat
dilakukan dengan cepat dan tepat.
Dimensi Cross Section
Dimensi antar subjek yang mencerminkan bagaimana risiko terdistribusi
dalam sistem keuangan pada satu periode tertentu yang disebabkan
oleh secara individual atau sektoral terdapat risiko konsentrasi
(concentration risk) dan kesamaan eksposur (common risk factor)
dan/atau risiko tertularnya gangguan antar individu/sektor karena
keterkaitan dalam sistem keuangan (contagion risk).
Dimensi Time Series
Dimensi runtun waktu yang menekankan pada bagaimana risiko dalam
sistem keuangan berevolusi sepanjang waktu, termasuk evolusi dengan
mengikuti siklus perekonomian (procyclicality).
Domestic- Systemically Important Banks (D-SIBs)
Bank-bank yang ditengarai memiliki dampak yang signifikan terhadap
stabilitas sistem keuangan domestik dan berfungsinya perekonomian
dengan baik.

86

European Systemic Risk Board (ESRB)


Badan independen yang memiliki kewenangan makroprudensial,
bertugas mengawasi, mencegah dan membatasi terjadinya risiko
sistemik dalam sistem keuangan Uni Eropa. Anggota ESRB terdiri dari
perwakilan European Centar Bank (ECB), bank sentral dan otoritas
pengawas institusi keuangan negara-negara anggota Uni Eropa.
Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek/Syariah (FPJP/S)
Fasilitas pendanaan dari Bank Indonesia kepada bank umum/syariah
untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek yang dialami
oleh bank umum/syariah. Selanjutnya, berdasarkan UU PPKSK No. 9
Tahun 2016, disebut dengan pinjaman likuiditas jangka pendek/syariah
(PLJP/S).
Feedback Loop
Adanya hubungan sebab akibat, dimana hasil (output) dari sebuah
peristiwa akan menjadi masukan (input) lain dari dari situasi lainnya.
Dalam sistem keuangan, feedback loop terjadi antara sistem keuangan
dengan sektor riil. Permasalahan yang bersumber dari sektor keuangan
dapat berdampak hingga ke sektor riil, dan sebaliknya.
Financial Imbalances
Ketidakseimbangan dalam sistem keuangan yang ditandai dengan
adanya peningkatan potensi risiko sistemik akibat dari perilaku yang
berlebihan dari pelaku sistem keuangan.
Financial Inclusion
Pemberian layanan keuangan dengan biaya yang terjangkau kepada
pihak-pihak yang berasal dari segmen masyarakat yang berpenghasilan
rendah. Kegiatan keuangan inklusi juga merupakan bagian dari
upaya mitigasi risiko sistemik akibat sistem keuangan yang masih
terkonsentrasi pada kalangan masyarakat berpenghasilan menengah
ke atas.
Financial Stability Board (FSB)
Lembaga internasional yang beranggotakan pimpinan pemerintahan
dan bank sentral dari negara anggota G-20 dengan tujuan untuk
mengawasi dan memberikan rekomendasi terkait sistem keuangan
global.

87

Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK)


Forum koordinasi yang dibentuk untuk menjaga stabilitas sistem
keuangan yang anggotanya terdiri dari Menteri Keuangan selaku
koordinator merangkap anggota, Gubernur Bank Indonesia selaku
anggota, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan selaku
anggota, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan selaku
anggota. Selanjutnya, berdasarkan UU PPKSK No. 9 Tahun 2016, disebut
dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Giro Wajib Minimum (GWM)
Jumlah dana minimum yang wajib dipelihara oleh bank yang besarnya
ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari dana
pihak ketiga (DPK).
Global-Systemically Important Banks (G-SIBs)
Bank-bank yang ditengarai memiliki dampak yang signifikan terhadap
stabilitas sistem keuangan global dan berfungsinya perekonomian
dunia dengan baik.
Granular Stress Test
Stress test yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan data
yang lebih bersifat spesifik untuk setiap individual bank.
Idiosyncratic Risk
Risiko idiosyncratic adalah risiko yang spesifik pada setiap institusi,
sehingga pergerakannya bersifat independen terhadap pergerakan
pasar.
Indeks Inter Dealer Market Association (IDMA)
Indeks yang digunakan sebagai acuan harga obligasi pemerintah.
Indeks Risiko Sistemik Perbankan (IRSP)
Indeks komposit yang mencerminkan kontribusi perbankan pada
risiko sistemik dengan memperhitungkan indikator-indikator yang
menentukan dampak sistemik (degree of systemicity) dari masingmasing individu bank.
Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK)
Indeks komposit yang mencerminkan kinerja institusi keuangan dan
pasar keuangan Indonesia.

88

Interconnectedness
Keterkaitan antar institusi dan/atau pasar keuangan.
International Financial Safety Net (IFSN)
Jaring Pengaman Keuangan Internasional (JPKI) adalah kerjasama yang
dilakukan oleh Bank Indonesia dan/atau Negara Republik Indonesia
dalam rangka pencegahan dan/atau penanganan krisis untuk memenuhi
kecukupan cadangan devisa dan/atau memenuhi kesulitan likuiditas
jangka pendek, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral
dengan bank sentral atau otoritas moneter dan/atau otoritas lainnya,
organisasi atau lembaga internasional, dan forum internasional.
International Monetary Fund (IMF)
Lembaga internasional yang bertugas mendorong kerjasama
moneter dan stabilitas sistem keuangan, memfasilitasi perdagangan
internasional dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan
mengurangi kemiskinan antar negara di dunia.
Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK)
Suatu mekanisme pengamanan sistem keuangan dari krisis yang
mencakup pencegahan dan penanganan krisis.
Kajian Stabilitas Keuangan (KSK)
Publikasi rutin enam bulanan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
yang memuat hasil asesmen dan penelitan Bank Indonesia terhadap
kondisi sistem keuangan termasuk sumber-sumber kerentanan dan
ketidakseimbangan yang berpotensi memicu terjadinya ketidakstabilan
sistem keuangan.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan
Komite yang beranggotakan Menteri Keuangan sebagai koordinator,
Gubernur Bank Indonesia sebagai anggota, Ketua Dewan Komisioner
OJK sebagai anggota, dan Ketua Dewan Komisioner LPS sebagai
anggota tanpa hak suara, yang bertugas melakukan koordinasi dalam
rangka pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan,
melakukan penanganan krisis sistem keuangan, dan penanganan
permasalahan bank sistemik baik dalam kondisi normal maupun krisis
sistem keuangan.

89

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)


Lembaga yang independen yang berfungsi untuk menjamin simpanan
nasabah.
Lender of the Last Resort (LOLR)
Bank sentral sebagai lembaga yang terakhir bersedia memberikan
pinjaman atau pembiayaan berbasis syariah kepada bank yang
mengalami kesulitan likuiditas jangka pendek yang disebabkan oleh
terjadinya mismatch dalam pengelolaan dana.
Liquidity Coverage Ratio (LCR)
Merupakan perhitungan perbandingan antara High Quality Liquidity
Asset (HQLA) atau aktiva lancar berkualitas tinggi dengan total arus kas
keluar bersih (net cash outflow) selama 30 hari kedepan dalam skenario
stress. LCR dimaksudkan untuk mengukur ketanan bank terhadap
potensi tekanan likuiditas jangka pendek.
Loan-to-Deposit Ratio (LDR)
Rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga dalam Rupiah dan
valuta asing, tidak termasuk kredit kepada bank lain, terhadap dana
pihak ketiga yang mencakup giro, tabungan, dan deposito dalam Rupiah
dan valuta asing, tidak termasuk dana antar bank.
Loan-to-Funding Ratio (LFR)
Rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga dalam Rupiah dan valuta
asing, tidak termasuk kredit kepada bank lain, terhadap dana pihak
ketiga yang mencakup giro, tabungan, dan deposito dalam Rupiah dan
valuta asing, tidak termasuk dana antar bank; dan surat-surat berharga
dalam Rupiah dan valuta asing yang memenuhi persyaratan tertentu
yang diterbitkan oleh bank untuk memperoleh sumber pendanaan.
Loan-to-Value Ratio (LTV Ratio)
Angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap
nilai agunan berupa properti pada saat pemberian kredit berdasarkan
harga penilaian terakhir.
Non Performing Loan (NPL)
Kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi Kurang
Lancar, Diragukan, dan Macet.

90

Net Stable Funding Ratio (NFSR)


Merupakan perhitungan perbandingan antara sumber dana stabil yang
tersedia (available stable funding) dengan sumber dana stabil yang
diperlukan (required stable funding) selama 1 (satu) tahun ke depan.
NSFR dimaksudkan untuk meredam siklus ekspansi dan kontraksi
likuiditas yang berlebihan di sektor keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak
lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan,
pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikkan sebagaimana dimaksud
dalam UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK.
Operasi Pasar Terbuka (OPT)
Kegiatan transaksi di pasar uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia
dengan bank dan pihak lain dalam rangka pengendalian moneter.
Over The Counter (OTC)
Kesepakatan antara peminjam dan pemilik dana yang dilakukan tidak
melalui bursa.
Pasar Uang Antar Bank (PUAB)
Kegiatan pinjam meminjam dana jangka pendek antar bank yang
dilakukan melalui jaringan komunikasi elektronis.
Procyclicality
Perilaku yang berlebihan dari pelaku atau institusi keuangan untuk
mengikuti siklus perekonomian.
Protokol Manajemen Krisis (PMK)
Pedoman dan tata cara dalam melaksanakan langkah-langkah
pencegahan dan penanganan krisis.
Rapat Dewan Gubernur (RDG)
Forum pengambilan keputusan tertinggi dalam menetapkan atau
melakukan evaluasi kebijkan-kebijakan Bank Indonesia yang bersifat
prinsipil dan strategis dan/atau menerima laporan atas kebijakan yang
wajib diketahui oleh Dewan Gubernur sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

91

Regional Financial Surveillance


Serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemantauan atas
kondisi sistem keuangan di daerah dalam rangka menjaga stabilitas
sistem keuangan dan mendukung pembangunan ekonomi daerah yang
inklusif dan berkesinambungan.
Risiko Sistemik
Potensi instabilitas sebagai akibat terjadinya gangguan yang menular
(contagion) pada sebagian atau seluruh sistem keuangan karena interaksi
dari faktor ukuran (size), kompleksitas usaha (complexity), keterkaitan
antar institusi dan/atau pasar keuangan (interconnectedness), serta
kecenderungan perilaku yang berlebihan dari pelaku atau institusi
keuangan untuk mengikuti siklus perekonomian (procyclicality).
Shadow Banking
Intermediasi kredit yang melibatkan entitas dan aktifitas dengan pihak
diluar dari sistem perbankan regular.
Shock
Peristiwa tertentu yang memicu atau membarengi terjadinya krisis (the
proximate causes).
Siklus Keuangan
Interaksi antara persepsi dari harga (value) dan risiko, perilaku terhadap
risiko dan kendala pembiayaan (financial constraint), yang diterjemahkan
sebagai boom yang diikuti oleh bust.
Sistem Keuangan
Suatu sistem yang terdiri atas lembaga keuangan, pasar keuangan,
infrastruktur keuangan, serta perusahaan non keuangan dan rumah
tangga, yang saling berinteraksi dalam pendanaan dan/atau penyediaan
pembiayaan perekonomian.
Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)
Suatu kondisi yang memungkinkan sistem keuangan nasional berfungsi
secara efektif dan efisien serta mampu bertahan terhadap kerentanan
internal dan eksternal sehingga alokasi sumber pendanaan atau
pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas
perekonomian nasional.

92

Stress Test Perbankan


Metode yang digunakan untuk menguji ketahanan perbankan pada
kondisi yang tidak diinginkan (stress scenario).
Surveillance
Kegiatan monitoring dan analisis terhadap risiko yang mungkin
timbul pada sistem keuangan dan kondisi makroekonomi yang dapat
mempengaruhi sistem keuangan.
Systemically Important Bank (SIB)
Bank yang karena ukuran aset, modal, dan kewajiban, luas jaringan atau
kompleksitas transaksi atas jasa perbankan serta keterkaitan dengan
sektor keuangan lain dapat mengakibatkan gagalnya sebagian atau
keseluruhan bank-bank lain atau sektor jasa keuangan, baik secara
operasional maupun finansial, apabila bank mengalami gangguan atau
gagal.
Systemically Important Financial Institution (SIFI)
Institusi keuangan yang mengelola asset cukup besar, memiliki
keterkaitan yang besar dengan institusi keuangan lainnya, serta
menyediakan jasa keuangan yang cukup signifikan, sehingga jika
institusi keuangan ini gagal ditengarai memiliki dampak sistemik
terhadap stabilitas sistem keuangan.
Too-Big-to-Fail
Kondisi dimana korporasi atau institusi keuangan begitu besar dan
terkoneksi yang apabila institusi tersebut gagal maka akan berpengaruh
besar/signifikan pada keseluruhan sistem keuangan.
Top Down Stress Test
Industry-wide stress test yang dilakukan oleh bank sentral/lembaga
pengawasan bank dimana diterapkan parameter yang sama untuk
semua bank.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Usaha ekonomi produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
yang memenuhi kriteria usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagaimana
diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM.
Vulnerability
Kondisi (preexisting features) sistem keuangan yang dapat memperkuat
(amplify) dan mempercepat penyebaran shock.
93

Kontributor
Pengarah
Filianingsih Hendarta, Yati Kurniati, Dwityapoetra S. Besar

Editor
Cicilia A. Harun, Sagita Rachmanira, Rani Wijayanti

Penulis
Cicilia A. Harun, Retno Ponco Windarti, Indra Gunawan, Ndari Surjaningsih,
Arlyana Abubakar, Ita Rulina, Clarita Ligaya, Sussy Wandayani, Kurniawan
Agung, Yanti Setiawan, Sagita Rachmanira, Rani Wijayanti, Leanita Indah
Parameswari, Danny Hermawan, Minar Iwan Setiawan, Januar Hafidz,
Riza Putera, Reska Prasetya, M. Firdaus Muttaqin, Shantie Noviantie,
Astrid Fiona Harningtyas, Apsari Anindita Nugroho Putri, Nanda Rizki
Fauziah, Amalia Insan Kamil, Aninditha Kemala Dinianyadarani, Khairani
Syafitri , Frimayudha Ardyaputra , Sri Noerhidajati

Pendukung Teknis
Aditya A. Taruna, R. Renanda Nattan, Nadia Refaniadewi

Komunikasi dan Layout


Retno Ponco Windarti, Rozidyanti, Syaista Nur

Konsultan Bahasa
Aditya Suharmoko
94