Anda di halaman 1dari 19

1

LAPORAN
BENGKEL ELEKTRONIKA
LIGHT SWITCH

Disusun Oleh :

Disusun Oleh:

Choiril Luthfi
EK 1C / 03
3.32.15.2.03

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015-2016

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi sekarang ini .semakin pesatnya perkembangan iptek di
dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi ini bermanfaat dan dikembangkan oleh
manusia untuk dapat membantu pekerjaan mereka sehingga dapat menyelesaikan
pekerjaan dengan lebih mudah dan efisien. Oleh karena itu setiap manusia terutama
mahasiswa dituntut agar ,mampu beradaptasi dengan perkembangan iptek.salah
satunya seperti adanya pembelajaran mengenai rangkaian elektronikadiberbagai
instansi pendidikan. Praktikum membuat laporan AUTOMATIC LIGH SWITCH ini
menggunakan LDR sebagai sensornya.LDR bekerja saat keadaan gelap dan berhenti
dalam keadaan terang .penggunaan berbagai macam sensor bias kita atur sesuai
dengan keperluan .LDR pada rangkaian ini akan mengeluarkan output lampu dan
menggunakan power suuply CT .

B. Tujuan
Dalam praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat :
1. Mengetahui karakter, fungsi, dan cara kerja setiap komponen dalam
2.
3.
4.
5.
6.

rangkaian Light Switch .


Membaca dan mengerti gambar skema rangkaian.
Mengatur tata letak setiap komponen sehingga tertata dengan rapi.
Membuat alur ( pengawatan antar komponen ) pada PCB dengan benar.
Mengetahui cara kerja rangkaian Light Switch.
Mengetahui titik kesalahan rangkaian bila alat tidak bekerja normal dan

menemukan solusinya.
7. Menganalisa data setiap komponen saat sistem bekerja.
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

8. Menyimpulkan data dari analisa cara kerja rangkaian dan data hasil analisa
komponen saat bekerja.

BAB II
GAMBAR RANGKAIAN

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

A.

Layout Papan Circuit Board (PCB)

B. Daftar komponen

NAMA KOMPONEN

KODE KOMPONEN

JUMLAH

Transistor

Bd 139

1 buah

Resistor

10K

4 buah

Resistor

4K7

1 buah

Ic

Ca 3140

1 buah

BAB III
LANDASAN TEORI
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

A. RESISTOR
Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk menahan arus listrik
dengan memproduksi penurunan tegangan diantara kedua salurannya sesuai dengan arus yang
mengalirinya, berdasarkan hukum Ohm:
I = Arus listrik ( Ampere/A )
V = Tegangan Permukaan ( Volt/V )
R = Hambatan / Resistor (ohm/ )
Resistor digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik dan sirkuit elektronik, dan
merupakan salah satu komponen yang paling sering digunakan. Resistor dapat dibuat dari
bermacam-macam kompon dan film, bahkan kawat resistansi (kawat yang dibuat dari paduan
resistivitas tinggi seperti nikel-kromium). Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan
daya listrik yang dapat diboroskan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, desah listrik, dan
induktansi. Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan papan sirkuit cetak, bahkan
sirkuit terpadu. Ukuran dan letak kaki bergantung pada desain sirkuit, resistor harus cukup besar
secara fisik agar tidak menjadi terlalu panas saat memboroskan daya.

Di dalam rangkaian elektronika, resistor dilambangkan dengan huruf "R".


Dilihat dari bahannya, ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain :
Resistor Carbon, Wirewound, dan Metalfilm. Ada juga Resistor yang dapat diubahubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer, Rheostat dan Trimmer (Trimpot).
Selain itu ada juga Resistor yang nilai
resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR (Light Dependent Resistor)
dan resistor yang nilai resistansinya akan bertambah besar bila terkena suhu panas
yang namanya PTC (Positive Thermal Coefficient) serta resistor yang nilai
resistansinya akan bertambah kecil bila terkena suhu panas yang namanya NTC
(Negative Thermal Coefficient).
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

Fungsi resistor dalam rangkaian elektronika :


1. Menahan arus listrik agar sesuai dengan kebutuhan suatu rangkaian
elektronika.
2. Menurunkan tegangan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh rangkaian
elektronika.
3. Membagi tegangan, dll
B. TRANSISTOR
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit
pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang
sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya

Transistor through-hole (dibandingkan dengan pita ukur sentimeter)

Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor
(C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur
arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran
tegangan dan arus output Kolektor.
Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern.
Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian
analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal
radio.

Dalam

rangkaian-rangkaian digital,

transistor

digunakan

sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian
rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian
lainnya.

Cara kerja semikonduktor

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

Pada dasarnya, transistor dan tabung vakum memiliki fungsi yang serupa; keduanya mengatur
jumlah aliran arus listrik.
Untuk mengerti cara kerja semikonduktor, misalkan sebuah gelas berisi air murni. Jika
sepasang konduktor dimasukan kedalamnya, dan diberikan tegangan DC tepat dibawah
tegangan elektrolisis (sebelum air berubah menjadi Hidrogen dan Oksigen), tidak akan ada
arus mengalir karena air tidak memiliki pembawa muatan (charge carriers). Sehingga, air
murni dianggap sebagai isolator. Jika sedikit garam dapur dimasukan ke dalamnya, konduksi
arus akan mulai mengalir, karena sejumlah pembawa muatan bebas (mobile carriers, ion)
terbentuk. Menaikan konsentrasi garam akan meningkatkan konduksi, namun tidak banyak.
Garam dapur sendiri adalah non-konduktor (isolator), karena pembawa muatanya tidak bebas.
Silikon murni sendiri adalah sebuah isolator, namun jika sedikit pencemar ditambahkan,
seperti Arsenik, dengan sebuah proses yang dinamakan doping, dalam jumlah yang cukup
kecil

sehingga

tidak

mengacaukan

tata

letak

kristal

silikon,

Arsenik

akan

memberikan elektron bebas dan hasilnya memungkinkan terjadinya konduksi arus listrik. Ini
karena Arsenik memiliki 5 atom di orbit terluarnya, sedangkan Silikon hanya 4. Konduksi
terjadi karena pembawa muatan bebas telah ditambahkan (oleh kelebihan elektron dari
Arsenik). Dalam kasus ini, sebuah Silikon tipe-n (n untuk negatif, karena pembawa
muatannya adalah elektron yang bermuatan negatif) telah terbentuk.
Selain dari itu, silikon dapat dicampur dengan Boron untuk membuat semikonduktor tipe-p.
Karena Boron hanya memiliki 3 elektron di orbit paling luarnya, pembawa muatan yang baru,
dinamakan "lubang" (hole, pembawa muatan positif), akan terbentuk di dalam tata letak
kristal silikon.
Dalam tabung hampa, pembawa muatan (elektron) akan dipancarkan oleh emisi
thermionic dari sebuah katode yang dipanaskan oleh kawat filamen. Karena itu, tabung
hampa tidak bisa membuat pembawa muatan positif (hole).
Dapat dilihat bahwa pembawa muatan yang bermuatan sama akan saling tolak menolak,
sehingga tanpa adanya gaya yang lain, pembawa-pembawa muatan ini akan terdistribusi
secara merata di dalam materi semikonduktor. Namun di dalam sebuah transistor bipolar (atau
diode junction) dimana sebuah semikonduktor tipe-p dan sebuah semikonduktor tipe-n dibuat
dalam satu keping silikon, pembawa-pembawa muatan ini cenderung berpindah ke arah
sambungan P-N tersebut (perbatasan antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n), karena tertarik
oleh muatan yang berlawanan dari seberangnya.
Kenaikan dari jumlah pencemar (doping level) akan meningkatkan konduktivitas dari materi
semikonduktor, asalkan tata-letak kristal silikon tetap dipertahankan. Dalam sebuah transistor
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

bipolar, daerah terminal emiter memiliki jumlah doping yang lebih besar dibandingkan
dengan terminal basis. Rasio perbandingan antara doping emiter dan basis adalah satu dari
banyak faktor yang menentukan sifat penguatan arus (current gain) dari transistor tersebut.
Jumlah doping yang diperlukan sebuah semikonduktor adalah sangat kecil, dalam ukuran satu
berbanding seratus juta, dan ini menjadi kunci dalam keberhasilan semikonduktor. Dalam
sebuah metal, populasi pembawa muatan adalah sangat tinggi; satu pembawa muatan untuk
setiap atom. Dalam metal, untuk mengubah metal menjadi isolator, pembawa muatan harus
disapu dengan memasang suatu beda tegangan. Dalam metal, tegangan ini sangat tinggi, jauh
lebih tinggi dari yang mampu menghancurkannya. Namun, dalam sebuah semikonduktor
hanya ada satu pembawa muatan dalam beberapa juta atom. Jumlah tegangan yang diperlukan
untuk menyapu pembawa muatan dalam sejumlah besar semikonduktor dapat dicapai dengan
mudah. Dengan kata lain, listrik di dalam metal adalah inkompresible (tidak bisa
dimampatkan), seperti fluida. Sedangkan dalam semikonduktor, listrik bersifat seperti gas
yang bisa dimampatkan. Semikonduktor dengan doping dapat diubah menjadi isolator,
sedangkan metal tidak.
Gambaran di atas menjelaskan konduksi disebabkan oleh pembawa muatan, yaitu elektron
atau lubang, namun dasarnya transistor bipolar adalah aksi kegiatan dari pembawa muatan
tersebut untuk menyebrangi daerah depletion zone. Depletion zone ini terbentuk karena
transistor tersebut diberikan tegangan bias terbalik, oleh tegangan yang diberikan di antara
basis dan emiter. Walau transistor terlihat seperti dibentuk oleh dua diode yang
disambungkan, sebuah transistor sendiri tidak bisa dibuat dengan menyambungkan dua diode.
Untuk membuat transistor, bagian-bagiannya harus dibuat dari sepotong kristal silikon,
dengan sebuah daerah basis yang sangat tipis.
Cara kerja transistor
Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar
junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masingmasing bekerja secara berbeda.
Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua
polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT,
arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone,
dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur
aliran arus utama tersebut.
FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan
(elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan
transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari
daerah perbatasan ini dapat diubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk
mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk
penjelasan yang lebih lanjut.
Jenis-jenis transistor

PNP

P-channel

NPN

N-channel

BJT

JFET

Simbol Transistor dari Berbagai Tipe

Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak kategori:

Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide

Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface Mount, IC, dan
lain-lain

Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET, VMOSFET, MES
FET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC (Integrated Circuit) dan
lain-lain.

Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel

Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power

Maximum frekuensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF transistor,


Microwave, dan lain-lain

Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

10

BJT
BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor. Cara kerja BJT
dapat dibayangkan sebagai dua diode yang terminal positif atau negatifnya berdempet,
sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis
(B).
Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis dapat menghasilkan perubahan
arus listrik dalam jumlah besar pada terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari
penggunaan transistor sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada koletor dengan arus
pada basis biasanya dilambangkan dengan atau

. biasanya berkisar sekitar 100 untuk

transistor-transisor BJT

C. IC
Integrated Circuit (IC)

Integrated Circuit adalah suatu komponen elektronik yang


dibuat dari bahan semi konduktor dan merupakan pengembangan dari transistor. Dalam
sebuah IC terdapat beberapa jenis komponen pasif maupun komponen aktif yang tersusun
dalam kemasan (pckages).
Jenis -jenis kemasan pada IC yang umum digunakan antara lain: Single In-Line (SIP), Dual
In-Line Packege (DIP), Q!uad In-Line Package (QIP), dan flat Pack.

Jenis-jenis Integrated Circuit (IC)


1. IC Analog ( Linier)
IC analog adalah IC yang tersusun oleh beberapa rangkaian (linier) dan beroperasi dengan
menggunakan sinyal sinusoidal.

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

11

MACAM- MACAM IC ANALOG (LINIER)

a. IC Op-Amp

Disebut amplifier operasional atau op-amp merupakan salah satu jenis IC analog yang
berfungsi sebagai rangkaian penguat.
IC Op- Amp, s dibedakan menjadi dua macam/jenis yaitu:
i. Op- Am Inverting

Op-amp

inverting

merupakan

rangkaian penguat yang tegangan keluarabbya berbanding terbalik dengan tegangan


masuknya. Sinyal masuk ke op-amp inverting melalui input inverting dan menghasilkan
keluaran dengan sudut fase yang berkebalikan dengan sudut fase tegangan masukan.
Besarnya penguatan tergantung pada faktor penguatan (gain) yang dirumuskan sebagai
berikut:
Vout = -(R2/R1)Vin
dengan:
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

12

Vout : tegangan keluaran penguatan operasional (output)


Vin

: tegangan masukan (input)

R1

: hambatan ke-1 (ohm)

R2

: hambatan ke-2 (ohm)

ii. Op-Amp Non-Inverting

Penguat operasional non inverting termasuk dalam sistem analog linier, yaitu sitem yang
menghasilkan tegangan keluaran sebanding dengan tegangan masukan yang diberikan.
Penguat operasional non inverting adalah penguat yang sinyal masukannya diberikan pada
input non-inverting dan menghasilkan output dengan sudut fase sama dengan sudut fase
tegangan input.
Besarnya penguatan pada faktor penguatan (gain) yang dirumuskan sebagai berikut:
Vout = ((Ri+R2)/R1)Vin
dengan
Vout : tegangan keluaran penguatan operasional (output)
Vin

: tegangan masukan (input)

R1

: hambatan ke-1 (ohm)

R2

: hambatan ke-2 (ohm)

b. IC timer 555
IC timer 555 merupakan IC linier yang berfungsi sebagai rangkaian pewaktu monostable
dan osilator estable. IC 555 merupakan jenis IC yang terkenal didalam dunia elektronika
analog/linier.
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

13

Pada penggunaannya , IC 555 dapat dikategorikan dalam beberapa fungsi rangkaian, antara
lain sebagai berikut:
i. Rangkaian Monostable

Pada rangkaian monostable , IC 555 berfungsi sebagai penghasil pulsa diskrit. Pulsa akan
dihasilkan pada saat IC 555 menerima siyal pemicu.
Lebar pulsa yang dihasilkan dipengaruhi oleh hubungan RC (resistor dan kapasitor). Pulsa
akan berhenti setelah kapasitor menerima 2/3 tegangan catu daya.
Lebar pulsa dapat dimodifikasi dengan mengubah nilai resistor (R) dan kapasitor (C) sesuai
dengan rumus berikut:
t=1,1(RxC)
dengan:
t: tegangan pulsa (detik)
R : nilai resistor (ohm)
C : nilai kapasitor (farad)
ii. Rangkaian Astable

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

14

Pada rangkaian astable, IC 555 berfungsi sebagai penghasil sinyal kotak (pulsa) dengan
frekuensi tertentu secara terus menerus. R1 menghubungan Vcc dan pin7 (pin discharge), R2
menghubungkan pin 7(pin discharge), pin 6 (threshold), dan pin 2 (trigger).
Kapasitor melakukan pengisian pada R1 dan R2, serta hanya melakukan pengosongan pada
R2.
POada rangkaian estable, frekuensi pulsa hanya dipengaruhi oleh nilai R1, R2, dan C.
Rumusan
frekuensi
pada
rangkaian
estable
sebagai
berikut:
f = 1/(In(2)xC(R1+R2))
Lebar pulsa high dirumuskan sebagai berikut
high = In(2)x(R1+2R2)C
Lebar pulsa low dirumuskan sebagai berikut :
low = In(2)xCxR2
dengan:
R : nilai resistor (ohm)
C : nilai kapasitor (C)

c. IC Power

IC Power merupakan jenis IC yang beroperasi pada catu daya . Umumnya , IC power
digunakan
pada
rangkaian
regulator,
adaptor
dan
power
supply.

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

15

2. IC Digital

Berbeda dengan IC analog (linier) , IC digital beroperasi pada tegangan 0 volt (low) dan 5
volt (high). IC digital tersusun dari beberapa rangkaian logika AND, OR, NOT, NAND,
NOR,dan XOR).
IC digital sering digunakan sebagai aplikasi sakelar cepat. Pada perkembangannya, IC
digital merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam segala bidang elektronika,
karena ukurannya kecil dan memiliki fungsi yang sangat lengkap.

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

16

BAB IV
CARA KERJA RANGKAIAN

Saat keadaan terang :


LDR memiliki hambatan sebesar 652 ohm ,sehingga membuat pin-2(Vin -)
mendapat tegangan mendekati tegangan sumber (+Vcc)yaitu 11,5V.
Sedangkan pada pin-3 (Vin+) hanya mendapat tegangan sebesar 4 V,lebih kecil dari
Vin-,sehingga pin-6 (Vout) sebesar 0V, Tegangan ini belum mampu memenuhi syarat
tegangan basis transistor BD139.jadi kolektor dan emitor transistor tidak terhubung.
Tegangan di titik D adalah 0V.sehingga lampu tetap mati.
Saat keadaan gelap:
LDR memilikihambatan yang nilai tak terbatas karena input LDR gelap atau
tidak ada cahaya, sehingga membuat pin -2(Vin-) mendapat tegangan mendekati
1,1V
Sedangkan pada pin-3 (Vin +) mendapat tegangan sebesar 7,5V, lebih besar dari
Vin-.sehinga pin -6(Vout) sebesar 10,3V.tegangan inisudah mampu memenuhi syarat
tegangan basia transistor BD139 jadi kolektor dan emitor transistor terhubung
Tegangan di titik D adalah 12,3 V.sehingga lampu hidup
A. Data pengukuran
V(mV/V)

R(ohm)

Keterangan

Keterangan

A-B

1K

TERANG

GELAP

V(-2)

10,2

TERANG

7mv

GELAP

V(-3)

4V

TERANG

7,2 V

GELAP

V0

20mV

TERANG

10 V

GELAP

Vcd

102mV

TERANG

11,97V

GELAP

BAB V
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

17

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil praktik diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Rangkaian di atas akan bekerja apabila Kabel A dan Kabel B atau push
botton ditekan / dihubungkan.
2. Rangkaian diatas akan mati jika power supplay tau tegangan untuk
mensupplay rangkaian diputus atau tidak lagi dibri tegangan.
B. Saran
1.Dalam pembuatan layout PCB hendaknya diteliti terlebih dahulu
sebelum dilarutkan agar tidak terjadi kesalahan.
2.Dalam pemasangan komponen ketika akan disolder harap diteliti
terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan memasang komponen
3.Dalam penyolderan komponen, hendaknya dimulai dari komponen yang
ketinggiannya terhadap dasar PCB rendah kemudian baru yang tinggi.

BAB VI
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

18

DAFTAR PUSTAKA

http://dc159.4shared.com/doc/oy71B_wZ/preview.html
http://www.datasheetcatalog.com/
dosen.narotama.ac.id/wp.../Modul-2-Silicon-Controlled-Rectifier-.doc
https://backbonedyas.wordpress.com/2009/04/11/sensor-cahayaldr/pendahuluanlaporandetectorcahaya

LAMPIRAN
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

19

1. DATA SHEET IC CA 1340

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03