Anda di halaman 1dari 20

Sasaran Belajar

LI. 1. Memahami dan mempelajari Eritropeisis

Memahami dan Menjelaskan Defenisi Eritropoesis


Eritropoesis pembuatan eritrosis, pada janin dan bayi baru lahir proses ini
berlangsung dilimpa dan sumsum tulang, tetapi pada individu yang lebih tua terbatas
di sumsum tulang.
1.2. Memahami dan Menjelaskan Proses Eritropoesis
Sel darah berasal dari sel stem hemopoetik pluripoten yang berada pada
sumsum tulang. Sel ini kemudian akan membentuk bermacam macam sel darah tepI.
Asal sel yang akan terbentuk selanjutnya adalah sel stem commited, Sel ini akan dapat
meghasilkan Unit pembentuk koloni eritrosit (CFU-E) dan Unit granulosit dan
monosit (CFU-GM).
Pada eritropoesis, CFU-E membentuk banyak sel Proeritroblas sesuai dengan
rangsangan. Proeritroblas akan membelah berkali-kali menghasilkan banyak sel darah
merah matur ya itu Basofil Eritroblas. Sel ini sedikit sekali mengumpulkan
hemoglobin. Selanjutnya sel ini akan berdifferensiasi menjadi Retikulosit dengan sel
yang sudah dipenuhi dengan hemoglobin. Retikulosit masih mengandung sedikit
bahan basofilik. Bahan basofilik ini akan menghilang dalam waktu 1-2 hari dan
menjadi eritrosit matur.
1.1.

a. Proeritoblast: sel besar dengan kromatin jarang, terdapat satu atau dua nucleolus, dan
sitoplasmanya basofilik
b. Eritroblas basofilik: terdapat cicin sitoplasma basofilik dan inti yang lebih padat tanpa
nucleolus yang jelas
c. Eritroblas polikromatofilik: Sel ini memperlihatkan berkurangnya ribosom basofilik
dan peningkatan kadar hemoglobin asidofilik didalam sitoplasmanya. Akibatnya, sel
ini memiliki beragam warna didalam sitoplasmanya.
d. Eritroblas ortokromatofilik (normoblas): ukuran sel semakin mengecil, pemadatan
material inti, dan sitoplasma eosinofilik yang lebih seragam. Pada tahap ini, eritrosit
yang belum matang mengeluarkan inti.
e. Retikulosit: Terdapat ribosom yang dapat diwarnai sitoplasmanya
f. Eritrosit: Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran
diameter 7-8 um dan tebal 1,5-2,5 um. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada
bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna kemerah-merahan
karena mengandung hemoglobin.
Selama perkembangan intrauterus, eritrosit mula-mula dibentuk oleh yolk sac
dan kemudian oleh hati dan limpa sampai sumsum tulang terbentuk dan mengambil
alih produksi eritrosit secara ekslusif.
Pada anak, sebagian tulang terisi oleh sumsum tulang merah yang mampu
memproduksi sel darah. Namun, seiring dengan pertambahan usia, sumsum tulanh
kuning yang tidak mampu melakukan eritropoiesis secara perlahan menggantikan
sumsum merah, yang tersisa hanya di beberapa tempat, misalnya sternum, iga dan
ujung-ujungg atas tulang oanjang ekstremitas.

Sumsum tulang tidak hanya memproduksi SDM tetapi juga merupakan


sumber leukosit dan trombosit.Di sumsum tulang terdapat sel punca pluripotent tak
berdiferensiasi yang secara terus menerus membelah diri dan berdiferensiasi untuk
menghasilkan semua jenis sel darah.

Ginjal mendeteksi penurunan/ kapasitas darah yang mengakngkut oksigen.Jika


O2 yang disalurkan ke ginjal berkurang, maka ginjal mengeluarkan hormone
eritropoietin dalam darah yang berfungsi merangsang eritropoiesis (produksi eritrosit)
dalam sumsum tulang.Tambahan eritrosit di sirkulasi meningkatkan kemampuan
darah mrngangkut O2.Peningkatan kemampuan darah mengangkut O2
menghilangkan rangsangan awal yang memicu sekresi eritropoietin.
1.3. Memahami dan Menjelaskan Morfologi, Fungsi, dan Jumlah Normal Eritrosit

http://www.medicalook.com/human_anatomy/organs/Blood.html

http://www.vetmed.vt.edu/education/curriculum/vm8054/Labs/Lab6/Lab6.htm
a. Sel berbentuk cakram bikonkaf, berwarna merah dg bgn tengahnya pucat

b. 7,6 m , tebal 1,9 m dlm apus darah


c. dewasa : tdk ada inti, mitokondria, RE, Golgi, ribosom
d. Tersebar di seluruh permukaan sajian

Retikulosit:
Ukuran 8 12 m, Inti tidak ada, Bergranula halus sisa RNA, Pewarnaan Vital
Staining (BCB), N = 0,5 1,5 per 1000 eritrosit
KATEGORI

JUMLAH ERITROSIT (juta/mL)

Bayi

5,0 7,0

Usia 3 bulan

3,2 4,8

Usia 1 tahun

3,6 5,2

Usia 1012 tahun

4,0 5,4

Wanita

3,9 4,8

Pria

4,3 5,9

1.4 Memahami dan Menjelaskan Kelainan Morfologi Eritrosit

a. Mikrosit:
Biasanya pada Anemi Def Fe
Diameter < 7 mikron, biasa disertai dengan warna pucat (hipokromia). Pada
pemeriksaan sel darah lengkap didapatkan MCV yang rendah. Ditemukan pada:
Anemia defesiensi besi, Keracunan tembaga, Anemia sideroblasik, Hemosiderosis
pulmoner idiopatik, Anemia akibat penyakit kronik

b. Makrosit:
Biasanya pada Anemi Def Vit 12/ Def asam folat
Gambaran makrositik berarti volume eritrosit lebih besar dari normal. Dapat
ditemukan pada penyakit anemia megaloblastik karena kurang vit.B12 atau asam

folat, anemia setelah perdarahan akut, atau anemia karena penyakit hati kronik.
Dari data pemeriksaan darah ditemukan MCV > 94 fl
Anemia megaloblastik, Anemia aplastik/hipoplastik, Hipotiroidisme, Malnutrisi,
Anemia pernisiosa, Leukimia

Basofilik Stipling: eritrosit dengan granula biru-hitam, granula ini dari kondensasi
atau presipitasi RNA ribosom akibat dari defective hemoglobin synthesis

c. Hipokrom:
eritrosit pucat ditengah >1/3nya, Normal 10Kurangnya Hb, Pada anemia Def Fe

d. Eliptosit:
eritrosit berbentuk oval (ovalosyt) atau lonjong (pensil cell/sel cerutu), Osmotic
fragility meningkat, Distribusi kolesterol dalam membran akumulasi, Kolesterol
dipinggir

e. Lakrimasit (Tear Drop Cell):


eritrosit berbentuk tetesan air

f. Target Cell:

eritrosit yang gelap di tengah, Normal 2Akibat cytoplasmic aturation Defects dan
liver disease

g. Crenated Cell:
eritrosit dengan sitoplasma mengkerut, Terjadi karena hipertronik larutan pada
saat pengeringan apusan

h. Stomatocyt:
eritrosit pucat memanjang di tengah, Normal 5%, Akibat meningkatnya sodium
dalam sel dan menurunnya potassium

i. Sferosit:
eritrosit nampak pucat ditengah, Bentuk lebih kecil, tebal,Akibat developmental
defect

j. Sickle Cell:
eritrosit yang memanjang dan melengkung dengan 2 katup runcing
Nama lain: Drepanocyt
Eritrosit yang mengalami perubahan bizarre muncul pada keadaan
kurang oksigen di udara

k. Acantocyt: - eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang runcing


Tonjolan tidak teratur
Akibat defisiensilow-dencity betha Lipoprotein

l. Burr Cell: - eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang tumpul teratur


Akibat passage through fibrin network
LI. 2. Memahami dan mempelajari Hb

Hemoglobin adalah kompleks protein yang terdiri dari heme yang


mengandung besi dan globin dengan interaksi diantara heme dan globin menyebabkan
hemoglobin yang merupakan perangkat yang ireversibel untuk mengangkut oksigen.
Hemoglobin ditemukan hanya sel darah merah. Molekul hemoglobin memiliki
dua bagian : (1) bagian globin, suatu protein yang terbentuk dari empat rantai
polipeptida yang sangat berlipat-lipat; dan (2) empat gugus nonprotein yang
mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem, dengan masing-masing terikat ke
salah satu polipeptida. Masing-masing dari keempat atom besi dapat berikatan secara
reversible dengan satu molekul O2.
Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan berikut :
A. Karbon dioksida. Hemoglobin membantu mengangkut gas ini dari sel
jaringan kembali ke paru.
B. Bagian ion hydrogen asam dari asam karbonat terionisasi, yang dihasilkan
di tingkat jaringan dari CO2. Hemoglobin menyangga asam ini sehingga
asam ini tidak banyak menyebabkan perubahan pH darah.
C. Karbon monoksida. Gas ini dalam keadaan normal terdapat di dalam
darah, tetapi jika terhirup maka gas ini cenderung menempati bagian
hemoglobin yang berikatan dengan O2 sehingga terjadi keracunan CO
D. Nitrat oksida. Di paru, nitrat oksida yang bersifat vasodilator berikatan
dengan hemoglobin. NO ini dibebaskan di jaringan, tempat zat ini
melemaskan dan melebarkan arteriol local. Vasodilatasi ini membantu
menjamin bahwa darah kaya O 2 dapat mengalir dengan lancar dan juga
membantu menstabilkan tekanan darah.

Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan fe yang dinamakan


conjugated protein. Sebagai intinya fed an dengan rangka protoperphyrin dan globulin
(tetraphyrin) menyebabkan warna darah merah karena fe ini. Eryt hb berikatan dengan
Co2 menjadi karboxy hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung
O2 dan darah vena mengandung Co2. (DepKes RI)
Tabel Batas Kadar Hemoglobin
Kelompok umur
Anak 6 bulan 6 tahun
Anak 6 tahun 14 tahun
Pria dewasa
Ibu hamil
Wanita dewasa
Sumber : WHO dalam arisman 2002

Batas nilai hb ( gr/dl)


11,0
12,0
13,0
11,0
12,0

b. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Hemoglobin

Slide Prof.Abdul Salam M.Sofro ,BIOSYNTHESIS & CATABOLISM OF


HEMOGLOBIN
Hemoglobin berperan dalam memelihara fungsi transport oksigen dari paruparu ke jaringan-jaringan. Sel darah merah dalam darah arteri sistemik mengangkut
oksigen dari paru-paru ke jaringan dan kembali dalam darah vena dengan karbon
dioksida (CO2) ke paru-paru. Ketika molekul hemoglobin memuat dan melepas O2,
masing-masing rantai globin dalam molekul hemoglobin mendorong satu sama lain.
Ketika O2 dilepas, rantai-rantai tertarik-pisah, memudahkan masuknya metabolit 2,3difosfogliserat (2,3-DPG) yang mengakibatkan rendahnya afinitas molekul untuk O2.
Pergerakan ini bertanggung jawab terhadap bentuk sigmoid kurve disosiasi O2
hemoglobin. P 50 (tekanan parsial O2 pada hemoglobin setengah jenuh dengan O2)
darah normal adalah 26,6 mmHg. Dengan peningkatan afinitas untuk O2, kurve
bergeser ke kiri (P 50 turun) sementara dengan penurunan afinitas untuk O2, kurve
bergeser ke kanan (P 50 naik). Normal di dalam tubuh, pertukaran O2 bekerja
diantara kejenuhan 95% (darah arteri) dengan tekanan O2 arteri rata-rata 95 mmHg
dan kejenuhan 70% (darah vena) dengan tekanan O2 vena rata-rata 40 mmHg. Posisi
kurve normal tergantung pada konsentrasi 2,3-DPG, ion H+ dan CO2 dalam sel
darah merah dan pada struktur molekul hemoglobin. Konsentrasi tinggi 2,3-DPG,
H+ atau CO2, dan adanya hemoglobin tertentu, misalnya hemoglobin sabit (Hb S)
menggeser kurve ke kanan sedangkan hemoglobin janin (Hb F) yang tidak dapat
mengikat 2,3-DPG dan hemoglobin abnormal tertentu yang langka berhubungan
dengan polisitemia menggeser kurve ke kiri karena hemoglobin ini kurang mudah
melepas O2 daripada normal. Jadi oksigen binding/dissosiasi dipengaruhi oleh pO2,
pCO2, pH, suhu tubuh dan konsentrasi 2,3-DPG.
Hb A : terdiri dari 2 alpha-globulin chains dan 2 beta-globulin chains (dewasa)
Hb F : 2 rantai alfa dan 2 rantai gama (bayi)

Hb A2 : terdiri dari 2 alpha-globulin chains dan 2 beta-globulin chains (dewasa


minor)

c. Memahami dan Menjelaskan Biosintesis Hemoglobin


Sintesis heme sintesis heme terjadi di mitokondria melalui suatu rangkaian
reaksi biokimia yang bermula dengan kondensasi glisin dan suksinil koenzim A oleh
kerja enzim kunci yang bersifat membatasi kecepatan reaksi yaitu asam
aminolevulinat sintase membentuk asam aminolevulinat/ALA. Dalam reaksi ini glisin
mengalami dekarboksilasi. Piridoksal fosfat adalah koenzim untuk reaksi ini yang
dirangsang oleh eritropoietin. Dalam reaksi kedua pada pembentukan hem yang
dikatalisis oleh ALA dehidratase, 2 molekul ALA menyatu membentuk pirol
porfobilinogen. Empat dari cincin-cincin pirol ini berkondensasi membentuk sebuah
rantai linear dan mengandung gugus asetil (A) dan propionil (P). Gugus asetil
mengalami dekarboksilasi untuk membentuk gugus metil. Kemudian dua rantai
sisi propionil yang pertama mengalami dekarboksilasi dan teroksidasi ke gugus vinil,
membentuk protoporfirinogen Akhirnya, Jembatan metilen mengalami oksidasi untuk
membentuk protoporfirin IX. Protoporfirin bergabung dengan Fe2+ untuk membentuk
heme. Masing- masing molekul heme bergabung dengan satu rantai globin yang
dibuat pada poliribosom, lalu bergabunglah tetramer yang terdiri dari empat rantai
globin dan heme nya membentuk hemoglobin. Pada saat sel darah merah tua
dihancurkan, bagian globin dari hemoglobin akan dipisahkan, dan hemenya diubah
menjadi biliverdin. Lalu sebagian besar biliverdin diubah menjadi bilirubin dan
diekskresikan ke dalam empedu. Sedangkan besi dari heme digunakan kembali untuk
sintesis hemoglobin. Pada langkah terakhir jalur ini, besi (sebagai Fe 2+)
digabungkan ke dalam protoporfirin IX dalam reaksi yang dikatalisis oleh
ferokelatase (dikenal sebagai heme sintase).

http://themedicalbiochemistrypage.org/heme-porphyrin.html
LI. 3. Memahami dan mempelajari Anemia

3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Anemia


Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit
sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawaoksigen dalam jumlah yang cukup
ke jaringan perifer.

Pada anemia terjadi penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau hitung eritrosit.
Anemia dapat disebabkan oleh penurunan kecepatan eritropoiesis, kehilangan eritrosit
berlebihan, atau defisiensi kandungan hemoglobin dalam eritrosit.
Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah
dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau
Hb < 12 g/dl dan Ht <37 % pada wanita. (Arif Mansjoer,dkk. 2001)
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1mm 3
darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100
ml darah. (Ngastiyah, 1997)

3.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Anemia


Secara morfologi, pengklasifikasian anemia terdiri atas:
a. Anemia normositik normokrom
Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah ataudestruksi darah yang berlebih
sehingga menyebabkan Sumsum tulangharus bekerja lebih keras lagi dalam eritropoiesis.
Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran darah tepi.
Padakelas ini, ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal sertamengandung hemoglobin
dalam jumlah yang normal tetapi individumenderita anemia. Anemia ini dapat terjadi karena
hemolitik, pasca pendarahan akut, anemia aplastik, sindrom mielodisplasia, alkoholism,dan
anemia pada penyakit hati kronik.
b. Anemia makrositik normokrom
Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normaltetapi normokrom
karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal inidiakibatkan oleh gangguan atau
terhentinya sintesis asam nukleat DNAseperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau
asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab terjadi gangguan pada
metabolisme sel
c. Anemia mikrositik hipokrom
Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobindalam jumlah yang
kurang dari normal. Hal ini umumnyamenggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi), seperti
pada anemiadefisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik, ataugangguan
sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit hemoglobinabnormal kongenital)
Klasifikasi anemia menurut etiopatogenesisnya

1. Karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang


a. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
1. Anemia defisiensi besi
2. Anemia defisiensi asam folat
3. Anemia defisiensi vitamin B12
b. Gangguan penggunaan (utilisasi) besi
1. Anemia akibat penyakit kronik
2. Anemia sideroblastik
c. Kerusakan sumsum tulang
1. Anemia aplastic
2. Anemia mieloplastic
3. Anemia pada keganasan hematologi
4. Anemia diseritropoietik
5. Anemia pada sindrom mielodisplastik
6. Anemia akibat kekurangan eritropoietin : Anemia pada gagal ginjal kronik.
2. Anemia akibat Hemoragia.
A. Anemia pasca perdarahan akut
B. Anemia akibat perdarahan kronik
3.Anemia Hemolitik
A. Intrakorpuskular
a) Gangguan membrane eritrosit (membranopati)
b) Gangguan enzim eritrosit (enzimopati) : akibat defisiensi G6PDiii.
c) Gangguan Hemoglobin (Hemoglobinopati)
Thalasemia
Hemoglobinopati structural : HbS, HbE, dll.
B. Ekstrakorpuskular
a) Anemia hemolitik autoimuni
b) Anemia hemolitik mikroangiopatik,dll
4.Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan pathogenesis yang kompleks.
5.Anemia berdasarkan derajatnya:
1.
2.
3.
4.

Ringan sekali : Hb 10 g/dL


Ringan : Hb 8-9,9 g/dL
Sedang : Hb 6-7,9 g/dL
Berat : Hb <6 g/dL

Memahami dan Menjelaskan Gejala Klinis Anemia


Gejala anemia sangat bervariasi, tetapi pada umumnya dapat dibagi menjadi 3
golongan besar, yaitu:
1. Gejala umum anemia
Disebut juga sebagai sindrom anemia, atau anemic syndrome. Gejala
umum anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis anemia pada kadar
hemoglobin yang sudah menurun di bawah titik tertentu. Gejala ini timbul
karena anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap
penurunan hemoglobin.

a)
b)
c)
d)
2.
1
2
3
4

Gejala-gejala tersebut jika diklasifikasikan menurut organ yang terkena


adalah sebagai berikut:
System kardiovaskular : lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak nafas,
angina pectoris dan gagaljantung
System saraf : sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata berkunangkunang, kelemahan otot, iritabel.
Sistem urogenital : gangguan hadidan libido menurun
Epitel : pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun, rambut
tipis dan halus
Gejala khas masing-masing anemia
Anemia defisiensi besi : disfagia, atropi papil lidah, stomatitis angularis
Anemia defisiensi asam folat : lidah merah (buffy tongue)
Anemia hemolitik : icterus dan hepatosplenomegali
Amemia aplastik : pendarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi

3. Gejala akibat penyakit dasar


Disebabkan karena penyakit yang mendasari anemia misalnya, anemia
defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang.
Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Anemia
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan Fisik
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium Hematologik
1.

Tes penyaring
Dikerjakan pada tahap awal pada tiap kasus anemia. Dalam pemeriksaan ini
dapat dipastikanadanya anemia dan bentuk morfologinya.
Pemeriksaannya meliputi :
5 Kadar Hb
6 Indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) . Dapat mengetahui Hb, WBC,
RBC, RDW
7 Apusan darah tepi
2. Pemeriksaan rutin
Untuk mengetahui kelainan pada sistem leukosit dan trombosit.
Yang diperiksa adalah :
8
Laju endap darah
9
Hitung deferensial
10
Hitung leukosit
3. Pemeriksaan sumsum tulang
Jika dalam kasusnya terdiagnosis definitif. Masih dianggap sebagai standar
emas untuk penilaian cadangan besi, walaupun mempunyai beberapa
keterbatasan. Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk
menilai jumlah hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Tanda karakteristik
dari kekurangan zat besi adalah tidak ada besi retikuler.
Keterbatasan metode ini seperti sifat subjektifnya sehingga tergantung
keahlian pemeriksa, jumlah struma sumsum yang memadai dan teknik yang

dipergunakan. Pengujian sumsum tulang adalah suatu teknik invasif,


sehingga sedikit dipakai untuk mengevaluasi cadangan besi dalam populasi
umum.
4. Periksaan atas indikasi khusus
Dikerjakan jika sudah mendapat diagnosis awal dan untuk mengkonfirmasi
kebeneran dari diagnosis.
Pemeriksaannya tergantung dari penyakitnya
11
Anemia defisiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin dan
feritin serum
12
Anemia megaloblastik : asam folat darah, vit B12
13
Anemia hemolitik: hitung retikulosit, tes Coombs, elektroforesis Hb
A.

Pemeriksaan laboratorium non-hematologik


a. Faal ginjal
b. Faal endokrin
c. Asam urat
d. Faal hati
e. Biakan kuman

B.

Pemeriksaan penunjang lain


a.
Biopsi kelenjar dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi
b.
Radiologi : torak, bone survey, USG, skening, limfangiografi
c.
Pemeriksaan sitogenik
d.
Pemeriksaan biologi molekular (PCR dan FISH)

LI. 4. Memahami dan mempelajari Anemia Defisiensi

LO. 4.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Anemia Defisiensi Besi


Anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi
untuk eritopoiesis kurang, yang akhirnya terjadi penurunan Hb. Kelainan ini ditandai oleh
anemia hipokromik mikrositer, serum besi menurun, peningkatan TIBC, saturasi transferi dan
feritin serum menurun, pengecatan sumsung tulang menunjukan negative, dan adanya respon
terhadap pengobatan dengan preparat besi.
Absorbsi besi :
Terdapat 3 fase absorbs besi , yaitu :
a. Fase luminal
Besi dalam makanan diolah di lambung kemudian siap diserap di duodenum.
Besi dalam makanan terdapat dalam 2 bentuk :
Besi heme : terdapat dalam daging dan ikan, tingkat absorbs tinggi, tidak
dihambat oleh bahan penghambat sehingga bioavailabilitasnya tinggi.
Besi non heme : bersal dari sumber tumbuh-tumbuhan, tingkat absorbs rendah,
dipengaruhi bahan pemacu dan penghambat sehingga bioavailibilitasnya rendah.
Bahan pemacu meat factor dan vitamin C
Bahan penghambat tanat, phytat dan serat
b. Fase mucosal
Proses penyerapan dalam mukosa usus yang merupakan suatu proses aktif.
Penyerapan besi terutama melalui mukosa duodenum dan jejunum proksimal.
c. Fase corporeal

Meliputi proses transportasi besi dalam sirkulasi, utilisasi besi oleh sel-sel yang
memerlukan dan penyimpanan besi oleh tubuh.
LO. 4.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi Anemia Defisiensi Besi
Terjadinya ADB sangat ditentukan oleh kemampuan absorpsi besi, diit yang
mengandung besi, kebutuhan besi yang meningkat dan jumlah yang hilang.
Kekurangan besi dapat disebabkan:
A.
Kebutuhan yang meningkat secara fisiologis
a.
Pertumbuhan
Pada periode pertumbuhan cepat yaitu pada umur 1 tahun pertama dan masa
remaja kebutuhan besi akan meningkat, sehingga pada periode ini insiden
ADB meningkat. Pada bayi umur 1 tahun, berat badannya meningkat 3 kali
dan massa hemoglobin dalam sirkulasi mencapai 2 kali lipat dibanding saat
lahir. Bayi premature dengan pertumbuhan sangat cepat, pada umur 1 tahun
berat badannya dapat mencapai 6 kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi
mencapai 3 kali dibanding saat lahir.
b.
Menstruasi
Penyebab kurang besi yang sering terjadi pada perempuan adalah kehilangan
darah lewat menstruasi.
B.
a.
b.

Kurangnya besi yang diserap


Masukan besi dari makanan yang tidak adekuat
Malabsorpsi besi
Keadaan ini sering dijumpai pada anak kurang gizi yang mukosa ususnya
mengalami perubahan secara histology dan fungsional. Pada orang yang telah
mengalami gastrektomi parsial atau total sering disertai ADB walaupun
penderita mendapat makanan yang cukup besi. Hal ini disebabkan
berkurangnya jumlah asam lambung dan makanan lebih cepat melalui bagian
atas usus halus, tempat utama penyerapan besi heme dan non heme.

C.

Perdarahan
Merupakan penyebab penting terjadinya ADB. Kehilangan darah akan
mempengaruhi keseimbangan status besi. Kehilangan darah 1 ml akan
mengakibatkan kehilangan besi 0,5 mg, sehingga kehilangan darah 3-4 ml/ hari
(1,5-2 mg besi) dapat mengakibatkan keseimbangan negative besi.
Perdarahan dapat berupa perdarahan saluran cerna, milk induced enteropathy,
ulkus peptikum, karena obat-obatan (asam asetil salisilat, kortikosteroid,
indometasin, obat anti inflamasi non steroid) dan infestasi cacing (Ancylostoma
duodenale dan Necaor americanus) yang menyerang usus halus bagian proksimal
dan menghisap darah dari pembuluh darah submukosa usus.

D.

Transfuse feto-maternal
Kebocoran darah yang kronis ke dalam sirkulasi ibu akan menyebabkan ADB
pada akhir masa fetus dan pada awal masa neonates.
E. Hemoglobinuria
Dijumpai pada anak yang memakai katup jantung buatan. Pada Paroxismal
Nocturnal Hemoglobinuria (PNH) kehilangan besi melalui urin rata-rata 1,8-7,8
mg/hari.

F. Iatrogenic blood loss


Pada saat pengambilan darah vena (yang banyak) untuk pemeriksaan
laboratorium.
G. Idiopathic pulmonary hemosiderosis
Jarang terjadi. Ditandai dengan perdarahan paru yang hebat dan berulang serta
adanya infiltrate pada paru yang hilang timbul. Keadaan ini dapat menyebabkan
kadar Hb menurun drastic hingga 1,5-3g/dl dalam 24 jam.
H. Latihan yang berlebihan
Pada atlit yang berolahraga berat, sekitar 40% remaja perempuan dan 17% remaja
laki-laki kadar feritin serumnya < 10ug/dl. Perdarahan saluran cerna yang tidak
tampak sebagai akibat iskemia yang hilang timbul pada usus selama latihan berat
terjadi pada 50% pelari.
I.
a.
b.
c.
d.

Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun, yang berasal dari :


Saluran cerna: kanker lambung, kanker colon, infeksi cacing tambang
Saluran genital: menorhagia / metiorhagia
Saluran kemih: hematuria
Saluran nafas: hemoptoe

J. Faktor nutrisi: kurangnya jumlah besi di makanan / kualitas besi


K. Kebutuhan besi meningkat: anak pada pertumbuhan, kehamilan, dan prematuritas
L. Gangguan absorbsi besi: gastroektomi, tropical sprue / kolitis kronis
1)

LO. 4.3. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Anemia Defisiensi Besi


Tahap pertama
Disebut iron depletion atau storage iron deficiency, ditandai dengan berkurangnya
cadangan besi atau tidak adanya cadangan besi. Hemoglobin dan fungsi protein
besi lainnya masih normal. Pada keadaan ini terjadi peningkatan absorpsi besi
non heme. Feritin serum menurun sedangkan pemeriksaan lain untuk mengetahui
adanya kekurangan besi masih normal.

2)

Tahap kedua
Dikenal dengan istilah iron deficient erythropoietin atau iron limited
erythropoiesis didapatkan suplai besi yang tidak cukup untuk menunjang
eritropoiesis. Dari hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh nilai besi serum
menurun dan saturasi transferin menurun sedangkan total iron binding capacity
(TBIC) meningkat dan free erythrocyte porphyrin (FEP) meningkat.

3)

Tahap ketiga
Disebut sebagai iron deficiency anemia. Keadaan ini terjadi bila besi yang
menuju eritroid sumsum tulang tidak cukup sehingga menyebabkan penurunan
kadar Hb. Dari gambaran darah tepi didapatkan mikrositosis dan hipokromik
yang progresif. Pada tahap ini telah terjadi perubahan epitel terutama pada ADB
yang lebih lanjut.

LO. 4.4. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinik Anemia Defisiensi Besi
Gejala Umum anemia
Gejala umum anemia disebut sebagai sindrom anemia yang dijumpai pada anemia
defisiensi besin apabila kadar Hb turun dibawah 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah,
lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging.
Gejala Khas Defisiensi Besi
Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak dijumpai pada anemia
jenis lain adalah :
a. Koilonychias : kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical
dan menjadi cekung.
b. Atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah
menghilang.
c. Stomatitis angularis (cheilosis) : adanya keradangan pada sudut mulut sehingga
tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
d. Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring
e. Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia
f. Pica : keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti tanah liat, es, lem dll
Sindrom Plummer Vinson atau disebut juga sindrom Paterson Kelly adalah kumpulan
gejala yang terdiri dari anemia hipokromik mikrositer, atrofi papil lidah dan disfagia.
Gejala penyakit Dasar
Pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai gejala-gejala penyakit yang menjadi
penyebab anemia defisiensi besi tersebut. Misalnya pada anemia akibat penyakit cacing
tambang dijumpai dyspepsia, parotis membengkak dan kulit telapak tangan berwarna kuning
seperti jerami.
LO. 4.5.Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Anemia
Defisiensi Besi
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematik dan menyeluruh. Perhatian
khusus diberikan pada berikut :
a. Warna kulit : pucat,plethora,sianosis, icterus, kulit telapak tangan
kuning seperti jerami.
b. Purpura : petechie dan ecchymosis
c. Kuku : koilonychia (kuku sendok)
d. Mata : icterus, konyungtiva pucat, perubahan profundus
e. Mulut : ulserasi, hipertrofi gusi, perdarahan gusi, atrofi papil lidah,
glossitis, dan stomatitis angulus
f. Limfadenopati
g. Hepatomegaly
h. Splenomgali
i. Nyeri tulang atau nyeri sternum
j. Hemarthrosis atau ankilosis sendi
k. Pembengkakan testis
l. Pembengkakan parotis
m. Kelaianan sistem sara
Pemeriksaan Laboratorium

a) Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit: didapatkan anemia hipokromik mikrositer


dengan penurunan kadar hemoglobin mulai dari ringan sampai berat. MCV, MCHC
dan MCH menurun. MCV < 70fl hanya didapatkan pada anemia defisiensi besi dan
thalassemia mayor. RDW (red cell distribution width) meningkat yang menandakan
adanya anisositosis. Indeks eritrosit sudah dapat mengalami perubahan sebelum
kadar hemoglobin menurun. Kadar hemoglobin sering turun sangat rendah, tanpa
menimbulkan gejala anemia yang mencolok karena anemia timbul perlahan-lahan.
i. Apusan darah menunjukkan anemia hipokromik mirkositer, anisositosis,
poikilositosis, anulosit, sel pensil, kadang-kadang sel target. Derajat hipokromia
dan mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia, berbeda dengan
thalassemia.
ii. Leukosit dan trombosit normal. Retikulosit rendah dibandingkan dengan derajat
anemia. Pada kasus ankilostomiasis sering dijumpai eosinofilia
b) Kadar besi serum menurun <50 mg/dl, total iron binding capacity (TIBC)
meningkat > 350 mg/dl, dan saturasi transferin < 15%.
c) Kadar serum feritin < 20 g /dl (ada yang memakai < 15 g /dl, ada juga <
12 g /dl). Jika terdapat inflamasi maka feritin serum sampai dengan 60 g
d)
e)
f)
g)
h)

/dl masih dapat menunjukkan adanya defisiensi besi.


Protoporfirin eritrosit meningkat (> 100 g /dl)
Sumsum tulang: menunjukkan hyperplasia normoblastik dengan normoblast kecilkecil (micronormoblast) dominan.
Pada lab yang maju dapat diperiksa reseptor transferin: kadar reseptor transferin
meningkat pada defisiensi besi, normal pada anemia akibat penyakit kronik dan
thalassemia.
Pengecatan besi sumsum tulang dengan biru prusia (Perls stain) menunjukkan
cadangan besi yang negative (butir hemosiderin negatif)
Perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab anemia defisiensi besi:
antara lain pemeriksaan feses untuk cacing tambang, sebaiknya dilakukan
pemeriksaan semikuantitatif (Kato-Katz), pemeriksaan darah samar dalam feses,
endoskopi, barium intake atau barium inloop, dan lain-lain, tergantung dari dugaan
penyebab defisiensi besi tersebut.

LO. 4.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Anemia Defisiensi Besi


Untuk menegakkan anemia defisiensi besi harusa dilakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang teliti disertai pemerikasaan laboratorium. Terdapat 3 tahap diagnosis
ADB :
1. Menentukan adanya anemia dengan mengukur kadar Hb atau hematokrit
2. Memastikan adanya defisiensi besi
3. Menentukan penyebab dari defisiensi besi
Secara laboratorik untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dipakai
kriteria diagnosis anemia defisiensi besi :
Anemia hipokromik mikrositer pada apusan darah tepi atau MCV < 80 fl dan MCHC < 31%.
1. dua dari tiga parameter di bawah ini :
a. Besi serum <50 mg/dl
b. TIBC >350 mg/dl
c. Saturasi transferrin <15%
2. Feritin serum <20 mg/dl

3. Pengecetan sumsum tulang dengan biru prusia yang menunjukkan cadangan besi
(butir-butir hemosiderin) negative
Dengan pemberian sulfas ferosus 3 x 200 mg/hari selama 4 minggu disertai
kenaikan kadar Hb lebih dari 2g/dl.

LO. 4.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Banding Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan hipokromik lainnya seperti :
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Thalassemia
c. Anemia sideroblastik
LO. 4.8. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Anemia Defisiensi Besi
1. Terapi kausal : mengatasi penyebab defisiensi besi agar anemia tidak kambuh
kembali
2. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi
a. Besi per oral: Lini pertama karena murah, efektif dan aman. Diberikan saat lambung
kosong namun efek samping lebih banayk dibandingkan pemberian setelah makan.
Efek samping berupa mual, muntah dan konstipasi. Pengobatan diberikan sampai 6
bulan setelah Hb normal. Preparat yang tersedia yaitu:
1. Ferrous sulphat 3x200 mg
Preparat pilihan pertama, karena paling murah tetapi efektif. Dosis:3x200 mg.
200mg sulfas ferosus= 66mg besi elemental. Pemberiansulfas ferosus 3x200 g
mengakibatkan absorbs besi 50mg/hari yangdapat mengakibatkan eritropoesis 2-3
kali normal.
2. Ferrous gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate (lebih
mahal)
3. Enteric coated
Efek samping lebih rendah tetapi dapat mengurangi absorbs besi
Farmakokinetik : sebaiknya diberikan saat lambung kosong, tetapiefek samping
lebih sering dibandingkan dengan pemberian setelahmakan. Pada pasien yang
mengalami intoleransi, sulfas ferosus dapatdiberikan saat makan atau setelah
makan
Efek samping : gangguan gastrointestinal yang dijumpai pada 15-20%yang sangat
mempengaruhi kepatuhan pasien. Keluhan ini dapat berupa mual, muntah, serta
konstipasi.untuk mengurangi ES besidiberikan saat makan atau dosis dikurangkan
menjadi 3 x 100 mg
b. Besi parenteral: Diberikan bila intoleransi oral berat, kurang patuh berobat, kolitis
ulserativa, perlu peningkatan Hb secara cepat. Lini kedua karena efek samping lebih
berbahaya dan harga lebih mahal. Preparat yang tersedia:
Iron dextran complex, iron sorbitol citric acid complex
Dosis : kebutuhan besi (mg) = (15-Hb sekarang) x BB x 3

Efek samping : reaksi anafilaksis, flebitis, sakit kepala, flushing, mual, muntah, nyeri
perut dan sinkop.
3. Pengobatan lain
c. Diet : makanan yang kaya akan protein hewani
d. Vitamin C : meningkatkan absorbsi besi, dosis 3x100 mg/hari
e. Transfusi darah : jarang diperlukan. Indikasi pada penyakit jantung anermik dengan
ancaman payah jantung, anemia yang sangat mencolok gejalanya dan pasien yang
butuh peningkatan hb secara cepat. Jenis darah yang diberikan PRC (packed red cell)
agar tidak overload.
Penatalaksanaan yang juga dapat dilakukan :
a) Mengatasi penyebab pendarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan
antelmintik yang sesuai.
b) Bedah : untuk penyebab yang memerlakukan intervensi bedah seperti pendarahan
karena diverticulum meckel.
c) Suportif : makanan gizi seimbang terutama yang mengandung kadar besi tinggi yang
bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan).
LO. 4.9. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Anemia Defisiensi Besi
Komplikasi yang mungkin timbul seperti pada anemia yang lain. Apabila anemianya
berat, maka akan timbul komplikasi pada system kardiovaskuler berupa dekompensatio
cordis. Komplikasi yang lain yangmungkin timbul adalah komplikasi dari tractus
gastrointestinal berupakeluhan epigastric distress atau stomatitis.
LO. 4.10. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi
1. Pendidikan kesehatan :
a. Kesehatan lingkungan, misalnya tentang pemakaian jamban, perbaikan
lingkungan kerja, misalnya pemakaian alas kaki sehingga dapat mencegah
penyakit cacing tambang
b. Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu absorpsi
besi
2. Pemberantasan infeksi cacing tambang sebagai sumber perdarahan kronik yang paling
sering dijumpai di daerah tropic. Pengendalian infeksi cacing tambang dapat
dilakukan dengan pengobatan masal dengan anthelmentik dan perbaikan sanitasi.
3. Suplementasi besi yaitu pemberian besi profilaksis pada segmen penduduk yang
rentan, seperti ibu hamil dan anak balita. Di Indonesia diberikan pada perempuan
hamil dan anak balita memakai pil besi dan folat.
4. Fortifikasi bahan makanan dengan besi, yaitu mencampurkan besi pada bahan makan.
Di Negara barat dilakukan dengan mencampur tepung untuk roti atau bubuk susu
dengan besi.

LO. 4.11. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Anemia Defisiensi Besi


Prognosis untuk mengobati dan menyembuhkan anemia defisiensi besi sangat baik,
terutama ketika mereka yang mengonsumsi suplemen zat besi seperti yang disarankan dan
mampu untuk mengasimilasi besi. Sejumlah penilitian telah menunjukkan bahwa kekurangan

besi anemia pada bayi dapat mengakibatkan kecerdasan berkurang, ketika kecerdasan diukur
pada usia dini.
Prognosis baik apabila penyebab anemianya diketahui hanya karena kekurangan besi
saja serta kemudian dilakukan penanganan yang adekuat. Gejala anemia dan menifestasi
klinis lannya akan membaik dengan pemberian preparat besi (Supandiman, 2006).Jika terjadi
kegagalan dalam pengobatan, perlu dipertimbangkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:
1.Diagnosis salah
2.Dosis obat tidak adekuat
3.Preparat Fe yang tidak tepat dan kadaluarsa
4.Perdarahan yang tidak teratasi atau perdarahan yang tidak tampak berlangsung
menetap.
5.Disertai penyakit yang mempengaruhi absorpsi dan pemakaiam besi(seperti:
infeksi, keganasan, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakittiroid, penyakit karena
defisiensi vitamin B12, asam folat)
6.Gangguan absorpsi saluran cerna (seperti pemberian antasid yang berlebihan
pada ulkus peptikum dapat menyebabkan pengikatan terhadap besi).Pada kasus
ADB karena perdarahan, apabila sumber perdarahan dapat diatasi, maka
prognosis anemia defisiensi besi adalah baik terutama apabila diberikan terapi Fe
yang adekuat. Tentunya penyakit dasar sebagai sumber perdarahan kronisnya pun
menentukan prognosis dari pasien(Supandiman, 2006).

SUMBER :

Alwi, Idrus, et al. 2009.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid:2.Jakarta: InternaPublishing.
Bakta, I Made Prof, Dr. 2006.Hematologi Klinis Ringkas.Jakarta: EGC.
Murray, et al. 2009.Biokimia Harper.Ed. 27. Jakarta: EGC
Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Hoffbrand, A.V., Pettit J.E., Moss, P.A.H.,2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta: EGC.
Dorland, W. A. Newman. (2002). Kamus Kedokteran Dorland. EGC 29.
FKUI. 2012. FARMAKOLOGI DAN TERAPI. FKUI, Jakarta.
Guyton. Arthur. C (1994). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta: EGC.