Anda di halaman 1dari 4

Nama

NPM
Kelas
Kelompok

: Inggia Putra Pamungkas


: 230110150141
:B
:8

Pengaruh Suhu Panas dan Dingin Terhadap Membuka dan Menutupnya


Operkulum Ikan Mas
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas,
mudah diukur dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai peranan yang
penting dalam mengatur aktivitas biologis organisme, baik hewan maupun
tumbuhan. Ini terutama disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan reaksi
kimiawi dalam tubuh dan sekaligus menentukan kegiatan metaboli, misalnya
dalam hal respirasi. Sebagaimana halnya dengan faktor lingkungan lainnya, suhu
mempunyai rentang yang dapat ditolerir oleh setiap jenis organisme. Masalah ini
dijelaskan dalam kajian ekologi yaitu, Hukum Toleransi Shelford. Dengan alat
yang relatif sederhana, percobaan tentang pengaruh suhu terhadap aktivitas
respirasi organisme tidak sulit dilakukan, misalnya dengan menggunakan
respirometer sederhana.
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem
respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem
saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999). Insang dimiliki oleh jenis
ikan (pisces). Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda
dan selalu lembap. Bagian terluar dare insang berhubungan dengan air, sedangkan
bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran
insang terdiri dare sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan
tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak
kapiler sehingga memungkinkan OZ berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut
operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh

operkulum. Ikan mas dapat di klasifikasikan secara taksonomi (Susanto, 2007)


sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species: Cyprinus carpio

Gambar 1. Ikan mas (Ciprinus carpio)

Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada
kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang
tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup
insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000).
Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang
berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak
yang bebas. Disamping alat-alat yang terdapat dalam, rongga peritoneum dan
pericardium, gelembung renang, ginjal, dan alat reproduksi pada sistem
pernapasan ikan umumnya berupa insang (Bactiar,2002). Ikan mas menyukai
tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan
alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas
dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150600 meter di atas permukaan
air laut (dpl) dan pada suhu 25-30 C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan
mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang
bersalinitas (kadar garam) 25-30%. Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi
pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m diatas permukaan laut,
dengan suhu 20 oC-25 oC pH air antara 7-8 (Herlina,2002).
Ikan ini merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik
ataupun tumbuh-tumbuhan (omnivore). Kolam yang di bangun dari tanah banyak

mengandung

pakan

alami,ikan

ini

mengaduk

Lumpur,memangsa

larva

insekta,cacing-cacing mollusca (Djarijah,2001).


Cahyono (2000) menyatakan, jenis makan dan tambahan yang biasa di
berikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah
pemotongan hewan, sampah rumah tangga dan lain-lain, sedangkan untuk
makanan buatan biasanya di berikan berupa crumble dan pellet.
Frekuensi membuka serta menutupnya operculum pada ikan mas terjadi
lebih sering pada setiap kenaikan suhu, serta penurunan suhu dari suhu kamar
hingga suhu dibawah kamar (250C 230C) semakin sering ikan itu membuka serta
menutup mulutnya hal ini dapat kita simpulkan bahwa bila suhu meningkat, maka
laju metabolisme ikan akan meningkat sehingga gerkan membuka dan
menutupnya operculum ikan akan lebih cepat daripada suhu awal kamar, serta
sebaliknya pula jika suhu menurun maka semakin jarang pula ikan itu membuka
serta menutup mulutnya. Pada peristiwa temperature dibawah suhu kamar maka
tingkat frekuensi membuka dan menutupnya operculum akan semakin lambat dari
pada suhu kamar. Dengan adanya penurunan temperature, maka terjadi penurunan
metabolisme pada ikan yang mengakibatkan kebutuhan O menurun, sehingga
gerakannya melambat. Penurun O juga dapat menyebabkan kelarutan O di
lingkungannya meningkat. Dalam tubuh ikan suhunya bisa berkisar 1
dibandingkan temperature linkungannya (Nikolsky, 1927). Maka dari itu,
perubahan yang mendadak dari temperature lingkungan akan sangat berpengaruh
pada ikan itu sendiri.

Gambar 2. Respirasi ikan

Sumber :
Surtika, Diana F.(2014). Pengaruh Suhu Panas dan Dingin
Terhadap Membuka dan Menutupnya Operkulum Ikan Mas.
[Online].

Tersedia

http://dianafitrianisurtika.blogspot.co.id/2014/12/pengaruh-suhupanas-dan-dingin-terhadap.html. [16 Oktober 2016].