Anda di halaman 1dari 8

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA DALAM MENGATASI KORUPSI

DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN INDONESIA


Dito Prakoso
Politeknik Negeri Bandung
Dito.prakoso.tme16@polban.ac.id

Pendahululan
Latar Belakang
Sebagaimana dipahami bahwa sila-sila Pancasila merupakan suatu sistem nilai, artinya
setiap sila memang mempunyai nilai akan tetapi sila saling berhubungan, saling
ketergantungan secara sistematik dan diantara nilai satu sila dengan sila lainnya memiliki
tingkatan. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan nilai-nilai etika yang terkandung dalam
pancasila merupakan sekumpulan nilai yang diangkat dari prinsip nilai yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut berupa nilai religious, nilai adat
istiadat, kebudayaan dan setelah disahkan menjadi dasar Negara terkandung di dalamnya
nilai kenegaraan.
Namun, ituasi negara Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Begitu banyak
masalah menimpa bangsa ini dalam bentk krisis yang multidimensional. Tragisnya, sumber
krisis justru berasal dari badan-badan yang ada di negara ini, baik eksekutif, legislatif
maupun yudikatif, yang notabenenya badan-badan inilah yang seharusnya mengemban
amanat rakyat. Salah satu masalah serius yang marak terjadi di Indonesia adalah masalah
kasus korupsi. Dari 30 detik korupsi, 28 pasal di antarnaya menyangkut perilaku. Sehingga
apabila nilai-nilai pancasila sudah dilupakan perilakunya menjadi korup. Persoalannya
sekarang bagaimana jika 60% dari 300-an kabupaten di Indonesia berurusan dengan KPK
karena problem perilaku menyimpang. Lalu apa solusi untuk mengatasi masalah korupsi di
Indonesia?
Oleh karena itu, penulis akan menjelaskan kedudukan dan implementasi Pancasila
sebagai sistem etika dalam mengatasi korupsi di lingkungan pemerintahan Indonesia.
Adapun rumusan masalah yang akan di paparkan dalam artikel ini, diantaranya:
1. Bagaimana kondisi pemerintahan Indonesia saat ini?
2. Apa factor penyebab maraknya korupsi dilingkungan pemerintahan?
3. Bagaimana Pancasila sebagai system etika dalam mengatasi kasus korupsi di pemerintahan
Indonesia?

Pembahasan
1. Kondisi pemerintahan Indonesia saat ini
Korupsi di Indonesia telah menjadi fenomena sistemik dan menjadi problem sosialpolitik yang mengakar. Korupsi sistemik telah melintasi kategori-kategori sosiologis
politik pedesaan dan perkotaan. Di dalam sistem seperti ini, korupsi bukan saja mampu
mempertahankan dirinya dari usaha-usaha pemberantasan korupsi yang sporadik dan tidak
sistematik. Sistem yang korup telah menjadi habitat yang sangat mendukung bagi proses
regenerasi koruptor.
Pada tahun 2014, berdasarkan rilis peringkat CPI yang dikeluarkan oleh TI, dari 175
negara, Indonesia menempati urutan 107 dengan skor 34. Peringkat dan skor tersebut
menunjukkan adanya peningkatan upaya pemberantasan korupsi di tanah air. Namun,
peringkat Indonesia masih berada di bawah rata-rata IPK negara-negara di kawasan
ASEAN, Asia Pasifik, dan Komunitas G 20. Di ASEAN, Indonesia masih kalah dibanding
Malaysia (52), Singapura (98), Thailand (38), dan Filipina (38).

Menurut Dadang Trisasongko, penyebab skor IPK Indonesia hanya naik 2 digit dari
32 menjadi 34 adalah korupsi politik di Indonesia yang masih dominan dan sulit
diberantas. Artinya, problem korupsi politik merupakan akar dari masalah korupsi yang
terjadi di Indonesia. Korupsi politik telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan akses
kesejahteraan bagi warga Indonesia.
Beberapa persoalan seperti sejauh mana korupsi terjadi di level pemimpin politik di
tingkat nasional, lokal, hingga PNS, politisi dan bea cukai menjadi acuan penelitian IPK.

Selain itu, keterbukaan pendanaan parpol, serta akuntabilitas sistem keuangan juga harus
menjadi fokus perhatian.
Pada tahun 2014, secara global terdapat lima negara yang memiliki skor
tertinggi. Negara-negara tersebut yakni Denmark (92), Selandia Baru (91), Finlandia (89),
Swedia (87), dan Swiss (86). Sedangkan lima negara yang memiliki skor terendah yaitu
Somalia (8), Korea Utara (8), Sudan (11), Afganistan (12), dan Sudan Selatan (15).
Skor yang turun tajam dalam penilaian indeks persepsi korupsi 2014 ini dialami oleh
Cina (dengan skor 36 di peringkat ke-102), Turki (45) dan Angola (19). Ketiga negara ini
mengalami penurunan skor yang sangat tajam, sekitar 4-5 poin (dalam skala 100).
Padahal, Cina mengalami pertumbuhan ekonomi lebih dari 4 persen dalam kurun empat
tahun terakhir. Pada 2013, indeks persepsi korupsi Cina masuk peringkat ke-80 dengan
skor 40.
Menurut Jos Ugaz, Direktur Transparency International, CPI 2014 memperlihatkan
bahwa pertumbuhan ekonomi telah dirusak oleh korupsi dan upaya pemberantasan korupsi
melemah. Hal ini ditandai dengan adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin
dan pejabat tinggi yang menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dengan dana
publik. Para pejabat korup melarikan uang yang mereka curi ke luar negeri, dan
menikmati impunitas yang absolut. Korupsi membengkak ketika perusahaan-perusahaan
besar berusaha menyogok pejabat tinggi untuk mendapatkan tender. Negara-negara
dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang menolak transparansi dan menoleransi korupsi,
menciptakan kebudayaan impunitas yang pada gilirannya mendorong meluasnya korupsi.
Korupsi tidak hanya merampok hak asasi masyarakat miskin, melainkan juga menciptakan
masalah pemerintahan dan instabilitas.
Pada tahun 2014 ini, skor CPI Indonesia sebesar 34 dan menempati urutan 107 dari
175 negara yang diukur. Skor CPI Indonesia 2014 naik 2 poin, sementara peringkat naik 7
peringkat dari tahun sebelumnya. Kenaikan skor dan peringkat CPI 2014 ini patut
diapresiasi sebagai kerja bersama antara pemerintah, masyarakat sipil, dan pebisnis dalam
upayanya mencegah dan memberantas korupsi. Menurut Dadang Trisasongko, selama ini
kinerja pencegahan dan pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia
perlu mendapatkan apresiasi dengan hasil CPI tahun 2014 ini. Hal yang sama juga dengan
masyarakat sipil yang aktif dalam ikut serta memberikan pendidikan politik bagi warga
negara tentang pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Bagi Indonesia, tahun 2014 adalah tahun politik di mana gelaran pesta demokrasi
terbesar digelar. Pemilu 2014 merupakan momentum bagi para politisi dan warga untuk
berdemokrasi. Survei Persepsi Masyarakat terhadap Integritas Pemilu yang dilakukan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2013, menghasilkan 71% responden paham
bahwa praktik politik uang dalam pemilu merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia.
Bahkan, nyaris seluruh responden (92%) menyatakan bahwa pemimpin dan politisi yang

tersangkut kasus korupsi merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia. Informasi lain,
seperti Global Corruption Barrometer 2013, yang dikeluarkan oleh Transparency
International mengafirmasi dengan menyebutkan bahwa parpol dan parlemen, sebagai
salah satu institusi demokrasi sebagai lembaga yang sarat dengan korupsi, menurut
persepsi masyarakat.

2. Faktor penyebab maraknya korupsi di lingkungan pemerintahan


Menurut Ermansjah Djaja dalam buku Memberantas korupsi Bersama KPK
menyebutkan terdapat berbagai faktor seseorang melakukan korupsi. Berikut adalah
beberapa penyebab korupsi dan cara mengatasinya :

Sistem Penyelenggaraan Negara yang Keliru


Sebagai negara yang berkembang seharusnya pemerintah memperioritaskan
pembangunan di bidang pendidikan. Tetapi selama puluhan tahun mulai dari Orde
Lama,Orde Baru sampai dengan era Reformasi, pembangunan difokuskan di
bidang ekonomi. Padahal setiap negara berkembang memiliki keterbatasan jumlah
SDM, uang, manajemen dan tekhnologi. konsekuensinya, semua diimpor dari luar
negeri.
Kompensasi PNS yang Rendah
Karena gaji yang rendah, banyak anggota PNS yang melakukan tindakan korupsi.
Rendahnya gaji tindak diimbangi dengan pola hidup yang sederhana, karena
sebagian besar pegawai memiliki gaya hidup yang konsumtif.
Pejabat yang Serakah
karena memiliki pola hidup yang konsumtif, timbul keinginan dalam diri pejabat
untuk memperkaya diri secara instan. Kemudian lahirlah sikap serakah dimana
pejabat menyalahgunakan wewenang dan jabatannya dan menjadi penyebab
terciptaanya masyarakat majemuk dan multikultural.
Law Enforcement Tidak Berjalan
Penegakkan hukum di Indonesia sangatlah bobrok. penegakkan hukum tidak
berjalan hampir di seluruh lini kehidupan, baik di instasi pemerintahan maupun di
lembaga kemasyarakatan karena segala sesuatu diukur dengan uang.
Hukuman yang RinganTerhadap Koruptor
Karena para koruptor mendapat hukuman yang ringan, maka tidak menimbulkan
efek jera bagi mereka yang melakukan korupsi. Bahkan tidak menimbulkan rasa
takut dalam masyarakat, sehingga para pejabat tetap melakukan KKN.
Tidak Ada Keteladanan Pemimpin
Minimnya pemimpin yang dapat dijadikan teladan, menyebabkan Indonesia sulit
untuk terbebas dari jerat korupsi. Hal ini menyebabkan kehidupan berbangsa dan
bernegara mendekati jurang kehancurannya.
Pengawasan yang Tidak Efektif

Budaya Masyarakat yang Kondusif KKN


Dalam Negara agraris seperti Indonesia, masyarakatnya cenderung peternalistik.
Dengan demikian, mereka turut melakukan KKN dalam urusan sehari-hari. Misal
mengurus KTP, SIM, PBB dan masih banyak lagi. Hal tersebut mereka lakukan
karena meniru apa yang dilakukan oleh pejabat, elit politik, tokoh masyarakat,
pemuka agama, yang oleh masyarakat diyakini sebagai tindakan yang wajar.

3. Pancasila sebagai system etika dalam mengatasi kasus korupsi di pemerintahan


Indonesia
Pentingnya pengetahuan Pancasila dan filsafat pancasila bagi seluruh
rakyatIndonesia sebagai cara untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang berkeadilan sosial
bagiseluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai Pancasila
dapatterwujud didahului dengan pengetahuan mendasar mengenai Pancasila. Banyak
darirakyat Indonesia yang hanya menghapal Pancasila, tetapi tidak mengerti maksud
dasardari Pancasila itu sendiri. Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila mutlak diperoleh
olehsetiap rakyat Indonesia. Sistem etika pancasila akan dipertahankan melalui prosesproses pendidikan, pemasyarakatan, pembudayaan, penataran, dan sebagainya.
Pentingnya Nasionalisme selalu berkaitan dengan upaya internalisasi nilainilaiPancasila. Sikap bangga dan cinta terhadap negara Indonesia memang sangat
pentinguntuk mempersatukan bangsa Indonesia. Nasionalisme yang rendah,
memungkinkansuatu bangsa akan mengalami perpecahan, terlebih Indonesia sebagai
negara
yang beraneka
ragam
suku
bangsa dan
kebudayaan. Dengan
semangat Nasionalisme, bangsadapat mempertahankan goncangan dari dalam dan dari
luar.
Selain internalisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, agama,
kesenian,adat-istiadat memainkan peranan yang sangat penting. Jika dilihat dari segi
anggotamasyarakat, internalisasi (pembatinan) nilai-nilai budaya itu merupakan sarana
untukmengakhiri dan menyelesaikan ketegangan-ketegangan atau persoalan yang
selalutimbul dalam setiap sistem sosial. Agama merupakan pondasi mutlak yang krusial
bagi

pendidikan
dan
keluhuran sipil,
dan kesatuan
serta ketertiban
negara. Alasannya karenaagama memberikan kewenangan kepada negara sehingga
memungkinkannyamemerintahkan loyalitas dan kepatuhan warga negara. Negara
menjadi
sakral
dan pembangkangan sipil apapun atau tindakan melawan negara merupakan masalah pel
anggaran hal-hal sakral. Selain itu, fungsi esensial agama adalah mendorong
perilakuluhur, yang pada saatnya menghasilkan suatu lingkungan kepercayaan dan kerja
samasaling menguntungkan. Melalui agama, sebuah masyarakat yang damai dan tertib
dapatditeguhkan, memiliki moral, kegigihan, dan kekuatan yang diperlukan untuk
penjagaandiri dalam dunia yang penuh tantangan (Joseph Losco, 2005).
Internalisasi atau penjiwaan nilai-nilai Pancasila memunculkan kesadaran
diriakan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam segala aspek kehidupan, tanpa

kecuali.Selama kesadaran diri tertanam dalam setiap lapisan masyarakat dari warga
negara biasa hingga petinggi negara senantiasa memelihara standar-standar pribadi yang
tinggiserta menjauhi perilaku immoral dan melawan hukum maka dimungkinkan
persoalankorupsi dapat diatasi.
Selain itu, pemberantasan korupsi yang menjadi penyakit kronis bangsa ini
harusdilandasi dengan Pancasila. Kita sepakat korupsi merupakan musuh bersama yang
harusdilawan sampai kapanpun tanpa pandang bulu dan putus asa. Siapapun yang
terlibatharus diproses secara hukum. Terlebih lagi penyebaran penyakit ini telah
menularkemana-kemana hingga ke tingkat pemerintahan desa. Tentunya masalah ini tak
bisadibiarkan terus mengalir begitu saja. Apalagi setiap harinya, pemberitaan korupsi
dimedia massa terus menghiasinya seolah rutinitas para pekerja pers yang tak bisa
absendari liputannya. Namun seiring itupula tindak pidana korupsi semakin menjadijadi.Pemberantasan korupsi bagi bangsa ini mutlak menjadi agenda penting yang
bersifat emergency. Disinilah diperlukan penegak hukum yang berani dan tidak takut
padasiapapun kecuali kepada Tuhan. Hanya ketakutan pada Tuhanlah lah yang
harusmenjadi modal utama para penegak hukum dalam memproses kasus pidana
korupsikhususnya. Dalam kaitan ini kita sangat berharap pada institusi KPK terus
menunjukantaringnya tanpa takut pada pihak manapun. Disinilah makna spirit sila
pertama pancasila, ketuhanan Yang Maha Esa.
Selanjutnya, unsur keadilan bagi semua pihak yang terlibat kasus korupsi
jugaharus menjadi landasan utama penengakan hukum. Sehingga tidak lagi melukai
rasakeadilan bagi masyarakat. Terlebih belakangan ini penanganan kasus-kasus
korupsimasih diskriminatif. Dalam hal inilah Pancasila sila ke dua jelas menegaskan
bahwakeadilan sosial hanya bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab hanya dengan
bersikapadillah yang akan memperkokoh dan memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa kitasebagai mana tercantum dalam sila ke tiga.
Sila ke empat yang mengisyaratkan pentingnya kedaulatan rakyat
sebagai perumusan kebijakan dalam mengawasi jalannya proses pemberantasan korupsi
bukanmalah terlibat di dalamnya. Kita sebagai rakyat sangat berharap pemberantasan
korupsidi negeri ini tidak surut. Namun begitu bukan berarti rakyat harus berdiam tetapi
terusmelakukan pengawasan dengan caranya sendiri. Pemberantasan korupsi akan
sulitdilakukan tanpa adanya kesadaran dari seluruh elemen bangsa akan bahaya
kejahatanini. Tentu hal ini bukan semata tanggung jawab penegak hukum semata. Tetapi
menjadikewajiban kita sama-sama sebagai warga negara. Untuk itulah partisipasi publik
dalamhal ini jelas sangat diperlukan dan bisa menjadi masukan penting dalam
prosesmemberantas tindakan korupsi. Meski ekspetasi ini berlebihan dan hanya isapan
jempoldi negeri ini, tetapi tidak berarti kita harus mundur atau bahkan putus asa.
Sila ke lima jelas memberikan spirit yang sangat konstruktif, artinya meski
kitamuak dengan para tersangka kasus korupsi bukan berarti kita harus bercaci maki
tanpamemperdulikan atika-etika kemanusiaan. Sebab bagai manapun yang terlibat
kasuskorupsi punya hak untuk diberikan keadilan dalam hukum. Namun begitu bukan
berarti para koruptor tidak semata-mata diberi keringanan dengan vonis hukum yang
tidak adil.Oleh karena korupsi merupakan kejahatan paling keji di negeri ini, sehingga
harusdiberikan vonis yang berat dengan harapan dapat memberikan efek jera. Selama

inivonis hukum bagi tersangka kasus korupsi tidak dapat memberikan efek yang
sistematiksehingga orang takut melakukan korupsi. Terlebih lagi suap menyuap
merupakan budaya yang tengah merajarela dalam sistem pemerintahan kita yang seolah
menjadi halyang lumrah dalam memuluskan suatu persoalan. Gelinya lagi, hukum di
Indonesiamasih berpihak pada yang memiliki uang.

Penutup
Demikian penulisan makalah tentang Pancasila Sebagai Sistem Etika. Harapan
penulis semoga penulisan makalah ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Selama melaksanakan perkuliahan dan
kegiatan ini, maka penulis atau penyusun dapat membuat kesimpulan yaitu sebagai
berikut:
Kesimpulan
Pancasila sebagai system etika merupakan solusi dalam mengatasi korupsi di
lingkungan pemerintahan Indonesia. Korupsi itu terjadi ketika ada niat dan kesempatan.
Kunci terwujudnya Indonesia sebagai negara hukum adalah menjadikan nilai-nilai
Pancasila dan norma-norma agama, serta peraturan perundang-undangan sebagai acuan
dasar untuk seluruh masyarakat Indonesia. Suatu pemerintah dengan pelayanan publik
yang baik merupakan pemerintahan yang bersih (termasukdari korupsi) dan berwibawa.
Korupsi adalah perbuatan pelanggaran hukum, sebuahtindak pidana. Hubungannya
dengan Pancasila adalah melanggar sila ke lima, keadilansosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Karena korupsi itu menggerogoti kekayaan Negarayang ujung-ujungnya
adalah memiskinkan Negara dan juga rakyat. Upaya untuk memberantas korupsi tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Korupsi bukan hanyamenghambat proses
pembangunan Negara ke arah yang lebih baik, yaitu peningkatankesejahteraan serta
penuntasan kemiskinan rakyat tapi juga korupsi merupakan akar darisegala masalah
yang menyebabkan nama baik negeri ini terus terpuruk di duniaInternasional.
Ketidakdayaan hukum dihadapan orang kuat, ditambah minimnya
komitmendari elit pemerintahan menjadi faktor penyebab mengapa Korupsi masih
tumbuh suburdi Indonesia. Semua itu karena hukum tidak sama dengan keadilan,
hukum datang dariotak manusia penguasa, sedangkan keadilan datang dari hati sanubari
rakyat. Tentunyakita sebagai rakyat Indonesia akan terus mendorong dan mendukung
upaya-upaya pemberantasan korupsi negeri ini. Namun begitu butuh proses yang
panjang dan mentalyang kuat dalam menjalaninya, kita berharap di masa yang akan
datang Indonesia bisaterbebas dari masalah kejahatan korupsi.

Daftar Pustaka
http://www.academia.edu/9830875/pancasila_sebagai_benteng_anti_korupsi
https://www.academia.edu/19515830/Situasi_Korupsi_Indonesia_Berdasarkan_Co
rruption_Perception_Index_CPI_

http://guruppkn.com/penyebab-korupsi-dan-cara-mengatasinya
https://bulanksatria.wordpress.com/2014/11/04/pancasila-sebagai-etika-dalamkehidupan-berbangsa-dan-bernegara/
http://korupsidalampandanganpancasila.blogspot.co.id
http://news.liputan6.com/read/2477341/kasus-korupsi-di-indonesia-menggila