Anda di halaman 1dari 12

Pervaporasi Membran Untuk Proses Pemisahan Campuran Organik-Organik

Meti Fatmawati
Teknik Kimia, ITB, Jl Ganesha No. 10, Bandung, Indonesia
metifatmawati@students.itb.ac.id

Abstrak

Pemisahan campuran organik-organik dengan teknik pervaporasi memiliki peranan penting dalam industri kimia, industri
farmasi maupun industri petrokimia. Pervaporasi menjadi salah satu teknik pemisahan alternatif yang bernilai ekonomis
karena secara umum memerlukan energi yang lebih rendah khususnya dalam pemisahan campuran azeotrop dan
campuran larutan dengan perbedaan titik didih yang kecil, sehingga pemisahan dengan teknik pervaporasi dapat
menggantikan proses konvensional seperti distilasi dan pemisahan kriogenik. Prinsip pervaporasi dapat digunakan untuk
dehidrasi larutan organik, penghilangan senyawa organik yang mudah menguap dari campuran larutan, dan pemisahan
campuran organik/organik. Aplikasi membran dapat digunakan dalam proses pemisahan campuran polar/ nonpolar,
campuran aromatik/ alisiklik, campuran aromatik/ alifatik, dan campuran isomer. Faktor penting dalam teknik
pervaporasi membran adalah kemampuan selektivitas dan fluks yang dimiliki membran. Untuk itu pemilihan karakter
membran sangat berpengaruh terhadap teknik pervaporasi yang dilakukan. Berbagai aplikasi dibahas secara garis besar
dalam tulisan ini. Tujuan dari penulisan paper ini adalah memberikan pandangan mengenai teknologi membran untuk
pemisahan campuran organik-organik dan memberikan informasi mengenai prospek dari teknik pervaporasi membran
dengan alternatif material membran yang lebih efektif. Untuk perkembangan membran yang lebih maju diperlukan adanya
usaha yang lebih yang harus didukung oleh penelitian-penelitian dalam bidang pervaporasi khususnya untuk pemisahan
campuran organik-organik sehingga lebih memahami bagaimana proses pervaporasi membran tersebut.
Kata kunci: pervaporasi, pemisahan, campuran organik/organik, membran

organik-organik. Aplikasi-aplikasi dari pervaporasi


dapat diklasifikasikan menjadi: (i) dehidrasi dari
larutan organik, (ii) penghilangan senyawa organik
yang mudah menguap dari aliran larutan, (iii)
pemisahan campuran organik-organik [4].

1. Pendahuluan
Dalam dunia industri kimia, farmasi, dan
beberapa industri lainnya, proses pemisahan adalah
hal yang penting untuk memisahkan dan pemurnian
produk dari bahan mentah [1,2]. Proses pemisahan
juga digunakan untuk mendaur ulang bahan-bahan
yang bernilai ekonomis dari limbah [3].
Keberadaan metode-metode pemisahan
telah dipelajari dalam hal efisisensi energi, dan juga
telah dilakukan penelitian untuk menemukan
metode pemisahan yang memerlukan energi yang
lebih rendah. Proses membran menawarkan
prospek yang baik dalam hal ini karena penggunaan
energi yang secara umum lebih rendah dari proses
pemisahan konvensional [3]. Perkembangan
membran di masa depan dalam proses pemisahan
cair-cair bergantung kepada potensi teknologi
tersebut untuk menggantikan cara konvensional
seperti distilasi dan pemisahan kriogenik.
Pervaporasi, yang merupakan teknik umum yang
digunakan dalam membran reverse osmosis dan
pemisahan gas adalah salah satu teknik proses
pemisahan membran cair-cair yang dapat
diaplikasikan untuk pemisahan campuran larutan

Membran yang digunakan dalam proses


pervaporasi
diklasifikasikan
berdasarkan
pemisahan yang diinginkan. Membran hidrofilik
digunakan untuk menghilangkan air dari larutan
organik. Membran dengan tipe ini dibuat dari
polimer dengan temperatur transisi diatas
temperatur ruang [5]. Contohnya adalah polyvinyl
alcohol. Membran organofilik digunakan untuk
memperoleh kembali senyawa organik dari larutan.
Tipe membran ini menggunakan temperatur transisi
dibawah temperatur ruang [5]. Salah satu contoh dari
membran organofilik adalah PEBA. PEBA tidak hanya
membran organofilik yang baik namun juga
memiliki stabilitas mekanik yang baik. Terlebih
lagi, permselektivitas dari PEBA dapat ditingkatkan
dengan mengatur komposisi polieter dan poliamida
dari PEBA [6].

Proses
dehidrasi
larutan
organik
menggunakan membran hidrofilik merupakan salah
satu aplikasi yang utama dalam dunia industri.
Disebabkan karena karakter dari hidrofilik tersebut,
membran ini memungkinkan proses ektraksi dari air
dengan fluks dan selektivitas bergantung pada
struktur kimia dari sisi aktif dan mode yang
digunakan adalah crosslinking [7].
Pervaporasi merupakan salah satu proses
pemisahan membran yang menlibatkan proses
penguapan sebagian dari campuran cairan melalui
suatu membran dengan kerapatan tinggi dimana
pada aliran bagian bawah dijaga dalam kondisi
vakum [8]. Transportasi cairan dalam teknik
pervaporasi ini digambarkan dengan berbagai
model
pelarutan-difusi.
Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut: penyerapan permeat pada
lapisan antarmuka antara larutan umpan dan
membran, proses difusi melewati membran seirirng
dengan perubahan konsentrasi, dan terakhir
desorpsi kedalam bentuk uap pada sisi permeat [5].
Saat ini, teknik pemisahan dengan
pervaporasi telah menjadi suatu alternatif yang
bernilai ekonomis dalam banyak pemisahan
campuran organik-organik khususnya dalam
pemisahan azeotropic dan pemisahan larutan
dengan titik didih yang berdekatan [9].
Keuntungan pervaporasi antara lain:
Tanpa tambahan entrainer dan tanpa
kontaminasi,
Konsumsi energi rendah,
Selektivitas tinggi,
Ramah lingkungan,
Mudah dioperasikan,
Hemat tempat dan pemasangan
Mudah
[6]

Tujuan dari penulisan ini adalah


menjelaskan bagaimana proses pemisahan
campuran organik-organik yang merupakan
tantangan yang cukup besar dalam dunia industri
dengan menggunakan teknik pervaporasi membran.
2. Kajian Pustaka Pervaporasi Campuran
Organik-Organik
2.1. Teori
Pemisahan campuran organik-organik
merupakan bidang yang sangat berpotensi dalam
pervaporasi di dunia industri proses. [3].
Kemungkinan aplikasi yang dapat dilakukan sangat
luas, seperti tertera pada gambar 1.
Prinsip pemisahan dengan pervaporasi
adalah campuran cairan biner atau multikomponen
yang dipisahkan dengan penguapan sebagian
melalui suatu membran non-pori yang rapat [10].
Campuran umpan cair bersentuhan dengan salah
satu sisi membran; permeat diambil sebagai uap
dari sisi lainnya. Perpindahan melalui membran
diinduksi oleh perbedaan tekanan uap antara larutan
umpan dan uap permeat. Perbedaan tekanan uap ini
dapat dijaga dalam beberapa cara. Pada skala
laboratorium, pompa vakum biasanya digunakan
untuk menciptakan kondisi vakum di sisi permeat
sistem. Pada skala industri, vakum permeat paling
ekonomis dicapai dengan mendinginkan uap
permeat hingga terkondensasi; kondensasi secara
spontan menciptakan vakum parsial [11].
Proses pervaporasi sederhana ditunjukkan
dengan gambar 3. Kemampuan membran untuk
memisahkan biasanya dikarakterisasi dnegan suatu
faktor pemisahan yang didefinisikan dengan
persamaan berikut:

x p ,i / x p , j
x f ,i / x f , j

(1)

Kategori Campuran
Organik

Polar/Non-polar

Contoh:
Metanol/Toluena
Etanol/Benzena
i-Propanol/Toluena
Metanol/MTBE
Etanol/ETBE

Aromatik/Alifatik

Aromatik/Alisiklik

Contoh:
Benzena/i-oktana
Benzena/n-Heptana
Toluena/n-Oktana
Toluena/n-Heptana

Contoh:
Benzena/Sikloheksana
Toluena/Sikloheksana

Isomer

Contoh:
Isomerik Xylena
n/i Heptana
n-Propanol/iPropanol
C4-C8 Isomer

Gambar 1. Klasifikasi Pemisahan Organik-Organik dengan Pervaporasi [7]


RETENTATE(L)

FEED (L)
LIQUID
VAPORS

MEMBRAN
E

VACUUM

COOLER

PERMEATE
Gambar 2. Skema Teknik Pervaporasi [10]
Dimana x p ,i dan x p , j adalah fraksi mol

Dimana J i dan J j merupakan fluks dari

komponen i dan j pada permeat, sedangkan x f ,i dan

komponen i dan j. Untuk nilai fluks pada permeat


pada umumnya diperoleh dengan persamaan yang
berkaitan dengan modela tahanan perpindahan
massa [7]. Misal J k merupakan fluks total pada
permeat (dimana k=i atau k=j), maka J k dapat
difenisikan sebagai

xf , j

adalah fraksi mol pada umpan. Faktor

pemisahan ini dapat bernilai variatif dari terhingga


sampai tak terhingga, dimana semakin besar nilai
menunjukkan semakin tinggi selektivitas. Faktor
pemisahan dapat juga direpresentasikan dalam
bentuk fluks permeat sebagai berikut:

Ji x f , j
J j x f ,i

Jk

(2)

C f ,k H k C p ,k
Rov , k

(3)

Dimana

C f ,k

dan

C p ,k

Fluks total meningkat seiring dengan


peningkatan temperatur [13]. Peningkatan
temperatur juga berpengaruh pada peningkatan
permeabilitas dan penurunan selektivitas [9].

merupakan

konsentrasi komponen k pada umpan dan permeat.


H k adalah koefisien kesetimbangan tak berdimensi
dan Rov ,k adalah total tahanan perpindahan massa.
Dalam kasus pervaporasi dimana tekanan total pada
permeat jauh lebih kecil dari tekanan uap
komponen, maka dapat diasumsukan bahwa
C p ,k 0 sehingga faktor pemisahan dapat

d. Polarisasi Konsentrasi
Ketika campuran biner dilewatkan melalui
membran semipermeabel dengan kecepatan
komponen yang berbeda-beda, peningkatan
dari komponen yang kurang permeabel pada
lapisan yang dekat dengan membran akan
terjadi [7]. Perbedaan konsentrasi antara
larutan yang lebih pekat dengan larutan kurang
pekat disebut dengan polarisasi konsentrasi
Dalam teknik pervaporasi peran dari polarisasi
konsentrasi ini tidak signifikan [14]. Namun
peran dari polarisasi konsentrasi dalam
pemisahan campuran organik-organik masih
perlu untuk dieksplorasi. Salah satu upaya
mengurangi
pembentukan
polarisasi
konnsentrasi adalah dengan mengatur
hidrodinamikan di dalam modul membran.
Penggunaan spacer berbentuk jejaring dapat
digunakan untuk menghasilkan aliran turbulen
sehingga
polarisasi konsentrasi dapat
dikurangi [15]

direpresentasikan
dalam
bentuk
tahanan
perpindahan massa dari masing-masing komponen
[12], dengan mengkombinasikan persamaan (2) dan
(3) sehingga diperoleh

Rov , j
Rov ,i

(4)

Total tahanan komponen Rov ,k merupakan


jumlah dari tahanan pada sisi umpan, membran, dan
sisi permeat:
Rov ,k R f ,k Rm,k Rp ,k

(5)

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Performa


Membran
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
performansi dari proses pemisahan dengan
pervaporasi, diantaranya adalah sebagai berikut:

3. Penelitian di Bidang Pemisahan OrganikOrganik


Sejak komersialisasi pervaporasi untuk
dehidrasi etanol oleh GFT pada tahun 1980an yang
berdasar crosslinking PVA/PAN membran, baik
aplikasi maupun tipe pervaporasi telah berkembang
luas [16].
3.1. Pemisahan Campuran Pelarut Polar/Nonpolar
Interaksi antara membran polimer dan
penentran berperan penting dalm pemisahan cairan.
Perbedaan sifat kimia yang besar antar komponen
campuran akan menghasilkan proses pemisahan
yang lebih baik dengan menggunakan polimer yang
hanya dapat berinteraksi dengan salah satu
komponen saja [3]. Hal inilah yang menjadi dasar
pemisahan campuran pelarut polar/nonpolar. Salah
satu aplikasi yang akan dibahas adalah pemisahan
campuran ethanol/toluena. Berdsarkan literatur,
pada percobaan pervaporasi polimer yang polar
bersifat selektif permeabel terhadap ethanol.
Sebagai contoh poly(vinyl alcohol) dengan derajat
hidrolisis sebesar 88% bersifat selektif terhadap
etanol dengan sangat baik. Namun beberapa
polimer yang lain seperti poly(acrylic acid) dan
poly(N-vinyl pyrrolidone) tidak layak sebagai
membran pada pemisahan ethanol/toluena ini

a. Komposisi dan Konsentrasi Umpan


Kemampuan permeasi atau perembesan
molekul-molekul melalui membran tidak berpori
secara umum dideskripsikan dengan mekanisme
pelarutan-difusi dalam 3 langkah: penyerapan,
difusi, dan penguapan. Berdasarkan prinsip ini
permselektitivitas dari suatu membran pervaporasi
ditentukan oleh solubilitas dan diffusivitas dari
komponen permeat dalam membran. Karena
mayoritas penyerapan dan difusi bergantung pada
komposisi dari campuran cairan, maka karakter
perembesan membran juga sangan dipengaruhi oleh
komposisi umpan.
b. Umpan dan Tekanan Permeat
Gaya dorong yang utama pada pervaporasi
adalah perbedaan aktivitas dari komponenkomponen di dalam membran. Perbedaan atau
gradien aktivitas maksimum dicapai pada saat
tekanan permeat sama dengan nol, sehingga
pada tekanan permeat yang lebih tinggi lagi,
tekanann umpan mempengaruhi karakteristik
dari pervaporasi [7]
c. Temperatur
4

karena tingginya gembungan atau pembengkakan


pada saat diuji coba pada campuran ethanol/toluena.
Tabel 1 menampilkan contoh dari proses pemisahan
ini beserta karakterisasinya.
3.2. Pemisahan Campuran Aromatik/ Alisiklik
Dalam bidang pemisahan senyawa
aromatik dari senyawa alisiklik dan aromatik
lainnya, penelitian telah dimulai sejak awal tahun
1960an [7]. Proses pemisahanan benzena (Bz) dan
sikloheksana (Chx) merupakan hal yang sangan
penting dan sangat sulit dalam bidang industri
petrokimia [9]. Contoh dan karakterisasi dari proses
pemisahan ini ditunjukkan oleh tabel 2.
3.3. Pemisahan Hidrokarbon Aromatik/ Alifatik/
Aromatik
Pemisahan
campuran
hidrokarbon
aromatik/alifatik pertama dilakukan 25 tahun lalu.
Pada
tahun
1983
pemisahan
campuran
menggunakan elastomer seperti poly(butadieneacrylonitrile rubber) (NBR) dan poly(butadienestyrene rubber) (SBR) dilakukan oleh Brun dan
Larchet dan memberikan hasil bahwa selektivitas
yang terhadap senyawa aromatik [17]. Tabel 3
menunjukkan proses-proses pemisahan campuran
ini beserta dengan performanya [7].
3.4. Pemisahan Isomer-Isomer
Campuran jenis ini merupakan salah satu
campuran yang tersulit untuk dipisahkan. Industri
pemisahan dari C8-aromatik (o-xylene, m-xylene,
p-xylene, dan etil benzena) saat ini menggunakan
metode super fraksinasi, krisratalisasi fraksional,
adsoprsi, atau gabungan dari metode-metode
tersebut. Proses-proses ini sangat kompleks dan
secara umum memerlukan energi yang besar.
Proses pemisahan yang sangat sulit dilakukan
disebabkan karena ukuran yang sama, bentuk, dan
struktur kimia dari isomer-isomer tersebut.
pengujian dengan membran menunjukkan hasil
tingkatan permeasi atau perembesan dari senyawa
C8-aromatik ini adalah sebagai berikut p-xylene>mxylene>etil benzena>o-xylene dan fluk dari
komponen-komponennya sangat bergantung pada
aliran tekanan dibagian bawah [3]. Tabel 4
menunjukkan aplikasi-aplikasi dari proses
pemisahan ini beserta dengan performanya [7].

Pemisahan campuran yang dalam


kesetimbangan uap-cair menunjukkan
kandungan uap yang sangat rendah.
[7]

5. Pemilihan Material Membran


Pemilihan membran untuk memberikan
performa yang sesuai dengan keinginan ditentukan
oleh beberapa faktor, diantaranya kestabilan
membran, produktivitas membran, dan selektivitas
membran.
5.1. Pemilihan Material Polimer sebagai Bahan
Membran
Pemilihan
material
polimer
untuk
pemisahan didasarkan pada 3 hal penting, yaitu
tahanan kimia yang tinggi, kapasitas penyerapan,
dan kekuatan mekanik dari film polimer yang baik
dalam larutan.
5.2. Struktur Membran
Beberapa struktur membran seperti pori,
densitas, dan bentuk asimetrik diperlukan dalam hal
ini.
5.3. Modifikasi Polimer untuk Pemisahan Lebih
Lanjut
Crosslinking
Dalam teknologi membran, ada dua alasan
untuk melakukan crosslink polimer. Alasan yang
pertama adalah untuk membuat polimer tidak larut
dalam umpan dan alasan kedua adalah menurunkan
derajat pengembangan dari polimer dengan tujuan
untuk menghasilkan selektivitas yang baik [7].
Grafting
Grafting nerupakan teknik modifikasi
polimer dimana rantai oligomerik berperan sebagai
rantai cabang yang tidak teratur terhadap rantai
cabang polimer utama.
Blending
Suatu campuran yang terdiri dari dua
polimer yang tidak berikatan kovalen disebut
paduan polimer. Pada prinsipnya, blending
merupakan teknik yang ideal untuk menghasilkan
kemampuan hidrofilik yang optimum dalam
membran hidrofobik [7].
Copolymerization
Copolymerization dapat diaplikasikan
untuk alasan yang sama dengan blending, namun
perbedaannya
pada
copolymerization
menggunakan polimer yang memiliki ikatan
kovalen yang dapat meningkatkan kestabilan
mekanik membran.

4. Isu
Terkini
Mengenai
Pervaporasi
Campuran Organik-Organik
Perkembangan terbaru dalam bidang ini
membuktikan bahwa membran berperan penting
khususnya dalam dunia industri petrokimia, seperti:
Pemisahan
campuran
azeotrop.
Contohnya pemurnian alkileter ETBE.

Liquid retentate
Liquid feed
Membran
Vacuum
system

Water outlet

Condensor
Valve to adjust
presure

Water inlet

Liquid
temperature

Vacuum
pump
Membran

Mercury
manometer

Permeat
Gambar 3. Skema Proses Pervaporasi Sederhana [5]

Dalam bidang pervaporasi, perancangan


modul plate & frame telah digunakan sangat luas
karena dua alasan, yaitu modul ini menggunakan
material gasketing yang resistan terhadap pelarut
organik dan mampu beroperasi pada suhu tinggi
[18].
Spiral Wound
Modul spiral wound terdiri dari lembaranlembaran yang disusun secara parallel untuk
membentuk celah sempit sebagai tempat fluida
mengalir. Namun modul spiral wound untuk
pervaporasi cukup sulit untuk dikembangkan
karena faktor adhesi [7]. Modul spiral wound
ditunjuukan oleh gambar 5
Cassette

6. Pembentukan Membran
6.1. Morfologi Membran
Komposisi
dan
morfologi
membran
merupakan kunci untuk menghasilkan
keefektifan teknologi membran. Ketika
material dengan selektivitas yang tinggi
dipilih, performa membran dapat dioptimissasi
lebih dengan mereduksi ketebalan efektiv
membran. Penggunaan film yang tipis
merupakan pilihan yang baik untuk
mendiskriminasi
pengurangan
lapisan
berporos. Hal ini berarti bahwa baik asimetrik
atau komposit membran bisa dikembangkan
sehingga memiliki lapisan atas yang rapat da
bagian bawah dengan pori terbuka.

Rancangan
modul
cassete
ini
mengkombinasikan teknologi membran terkini
dengan optimisasi geometri modul [19].

Gambar 4 menunjukkan morfologi dari


komposit membran yang terdiri dari tiga lapisan
membran, yaitu lapisan dengan pori besar, lapisan
intermediet, dan bagian atas dengan kerapatan
tinggi.

b. Modul Tubular
Modul membran tubular terdiri dari tiga
jenis yaitu hollow fiber, kapiler, dan tubular.
Modul Hollow Fiber

Selective layer
0,1-2 m

Yang menjadi perhatian utama dari modul


jenis ini adalah terdapat bagian vesel tekanan yang
terdiri dari kumpulan serat-serat dalam bentuk
bundelan. Kelemahan modul hollow fiber adalah
dalam
hal
penurunan
temperatur
dan
ketidakefektifan dalam penggunaan aliran
terhadap luas permukaan [7].

UF porous support
10-100 m
nonwoven
100 m

Gambar 4. Morfologi
Pervaporasi [10]

Komposit

Membran

6.2. Modul Membran


Modul membran merupakan unit terkecil
membran yang memiliki luas tertentu. Beberapa hal
penting yang harus diperhatikan dalam perancangan
modul adalah packing density (luas membran
persatuan volume), kemampuan menampung
suspended solid, kemudahan penggantian, biaya
investasi, manajemen fluida, kemudahan untuk
dibersihkan, energi, dan variabel biaya. Modul
membran dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe
yaitu:
a. Modul Flat/Datar
Terdiri dari tiga jenis modul yaitu plate &
frame, spiral wound, dan casette. Ketiga jenis
tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
Plate & Frame

Modul Kapiler

Modul kapiler terdiri dari sebuah tabung berisi


serat-serat yang tersusun parallel satu sama lain dan
bagian ujungnya merupakan suatu pelat.
Ditunjukkan oleh gambar 10. Modul jenis ini secara
umum jarang digunakan dalam teknik pervaporasi
walaupun membutuhkan biaya yang rendah dan
memiliki tahanan terhadap fouling atau pengerakan.

Modul Tubular

Membran zeolit untuk aplikasi pervaporasi


telah banyak dilakukan fabrikasi dalam bentuk
modul tubular. Walaupun biaya manufaktur dalam
proses pembuatan modul ini tinggi, modul tubular
ini memiliki tahanan yang sangat baik tehadap
pengerakan (fouling) dengan penurunan tekanan
yang rendah namun tidak dapat beroperasi pada
tekanan yang tinggi.

Gambar 5. Modul Spiral Wound (digambar ulang dari sumber [30]

Tabel 1. Pemisahan Campuran Pelarut Polar/Nonpolar [7]


Sistem
(campuran biner)

Material Membran

31% Methanol/benzene
Methanol (5-90%) /benzene

Methanol (5-90%)/toluene

Ethanol (10%)/toluene
Methanol
(12,1%)/cyclohexane
Etahol(12,8%)/cyclohexane
IPA(13,2%)/cyclohexane
Methanol (1-5%)/MTBE

Methanol (21%)/MTBE
Methanol (9%)/MTBE
Methanol
(azeotrop)
35%)/MTBE

(5-

PFSA composite membrane on


Teflon
Cellulose
PVA
CA
CTA
CTA blends with acrylic acid
PDMS
LLDPE
Cellulose
PVA
CA
CTA
CTA blends with acrylic acid
PDMS
LLDPE
polyelectrolyte
complex

PVP and PVAc grafted

Modified PPO
Ceramic silica
Blends of PVA/PPA
Blends of PVA/SSA

Methanol/MTBE(5-50%)

surfactant

CA

Selektivitas
( )

Flux

(kg m / m 2 h)

Temperatur

(o C )

Referensi

9,6

100,28

45

[19]

0-100
5-90
4-38
3-20
4-21
3-10,5
2,2-3,8
1200-25
100-0
39-4
20-4
20-4
12-3
4-2
126
2415

2-52
0-17
25-77
18-68
17-57
13-107
0-13
15-67
0-13
25-74
18-69
17-68
13-117
0-22
2,8
10,8

[20,21]

[20]

50

[22]

106,7
5,7
0-26 (PVP)
0100(PVAc)
5,4-7,8
19
4000
1500-6800
1200-1300
Low
-

8,7
10,4
2,5-31
0-7,5

50
25

[23]

3-4,8
0,41
1,0
1,0-2
1,6-2
very low

40
50
30
50
30
25

[24]
[24]
[25]

[26]

Tabel 2. Pemisahan Campuran Aromatik/Alisiklik [7]


Sistem
(campuran biner)
Benzene(Bz)(50%)/
cyclohexene(Cx)
Bz(53%)/Cx
Bz(55%)/Cx
Bz(50%)/Cx
Toulene(75%)/Cx
Toluene(20%)/Cx

Flux

Material Membran

Selektivitas
( )

(kg m / m 2 h)

Temperatur ( C )

Referensi

CA modified with PPN

2,7

100

80

[27]

Modified CE
PP(oriented)
PP(double oriented)
LDPE
composite with PS and PAM
Polyurethane

5,2
1,3
2,4
1,6
7,9
6

50,3
54,4
64,6
10,8
1,4x103
0,9

80
55

[28]
[29]

25
30
30

[30]
[31]
[32]

Tabel 3. Pemisahan Hidrokarbon Aromatik/Alifatik [7]


Sistem
(campuran biner)
Toluene (10-70%)/n-hexane
Toluene/n-heptane
Toluene(50%)/n-octane
Tolune(50%)/i-otane

Benzene (20-100%)/n-hexane

Styrene(2080%)/ethylbenzene

Material Membran
Polyurethane
Faujasite-type zeolite
membrane
composite based on
polyesterimide
ionically crosslinked
copolymersof methyl, ethyl,
n-butyl acrylate with AA
PVA

Asymetric

Homogenous
Polyurethane
Crosslinked poly(hexamethyl
sebacate)

Flux

Selektivitas
( )

(kg m / m 2 h)

Temperatur

(o C )

Referensi

2,8-5,8

1,1-3,5

25

[33]

45

60

[34]

70

10

[35]

2,5-13

20-1000

40

[36,37]

2,2-28,35
2,45-~

1,1-5,7
1,15-1,47

0,3-1,2
0,04-25

60
-

[38]
[39]

Tabel 4. Pemisahan Isomer-Isomer [7]


Sistem
(campuran biner)
p-Xylene(10%)/m-xylene
p-Xylene(10%)/m-xylene
n-hexane (50%)/2,2dimethylbutane
n-hexane (50%),3methylpentane
n-hexane (50%/cyclohexane
2,2-dimethylbutane (50%)/3methylpentane
n-propanol (10-50%)/ipropanol

Material Membran
PVA filled with cyclodextrin
Polycrystalline ZSM-5
membrane
silicalite zeolite membrane

CD-PVA

Flux

Selektivitas
( )

(kg m / m 2 h)

2,96

0,95

25

[40]

0 (high)

Very low

26-75

[41]

1,1-22,5

90-165

[42]

1,1-24

90-160

1,2-55

96-160

1,0

90-160

2,6-15,2

35

Temperatur

(o C )

Referensi

[43]

[6] Wenten, I.G. Perkembangan Terkini di bidang


Teknologi Membran, Teknik Kimia Institut
Teknologi Bandung. 2014.

7. Aplikasi dalam Industri


Pada proses pervaporasi, perpindahan melalui
membran dapat dijelaskan oleh dua proses utama
yaitu transfer massa komponen melalui membran
polimer tak berpori dikombinasikan dengan
perubahan fasa liquid menjadi uap [44]. Salah satu
aplikasi pervaporasi dalam pemisahan organik
adalah pervaporasi untuk dehidrasi etanol dengan
penggunaan desikan padat untuk menyerap air yang
merupakan akternatif pemurnian etanol [45].
Pervaporasi dapat digunakan untuk penghilangan
air dari etanol denga moda kontinyu dan harga lebih
murah.

[7] B. Smitha, D. Suhanya, S. Sridhar, M.


Ramakrishna. Separation of OrganicOrganic
Mixtures by PervaporationA Review.
Journal of Membrane Science 241 (2004) 1
21.
[8] J. Neel, in: R.Y.M Huang (ed), Pervaporation
Membrane Separation Process, 1991, Chapter
1
[9] J.P. Garcia Villaluenga, A. Tabe-Mohammadi.
A Review on The Separation of
Benzene/Cyclohexane
Mixtures
by
Pervaporation
Processes.
Journal
of
Membrane Science 169 (2000) 159174.

8. Kesimpulan
Teknik pervaporasi untuk pemisahan
campuran organik-organik memiliki potensi yang
sangat besar dalam menggantikan proses
konvensional. Namun bagaimanapun, teknik
pervaporasi ini memiliki tantangan yang cukup
besar karena sebagian industri tetap bertahan
dengan proses konvensional. Membran yang cocok
sangat mempengaruhi dalam rancangan sistem
pervaporasi ini. Secara keseluruhan proses
pengembangan terpadu antara pemisahan dengan
pervaporasi dan teknik konvensional perlu
diberikan. Untuk mencapai kesuksesan dalam
proses perkembangan membran, diperlukan usaha
yang harus didukung oleh penelitian-penelitian agar
lebih memahami proses yang rumit dari
pervaporasi.

[10] W. Kujawski. Application of Pervaporation


and Vapor Permeation in Environmental
Protection. Polish Journal of Environmental
Studies Vol. 9, No. 1 (2000), 13-26.
[11] Wenten, I.G., Khoiruddin, P.T.P. Aryanti, A.N.
Hakim, Pengantar Teknologi Membran,
Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung.
2010.
[12] M. Mulder, Basic Principle of Membranes
Technology, Kluwer Academic Publishers,
Dordrecht, 1991
[13] S. Ray, S.K. Ray. Separation of organic
mixtures by pervaporation using crosslinked
and filled rubber membranes. Journal of
Membrane Science 285 (2006) 108119

Daftar Pustaka
[1] C. Judson King, Separation Processes, 2nd ed.,
McGraw Hill, New York (1980)

[14] E. Bengtsson, G. Traardh, B. Hallstrom,


Concentration polarization during the
enrichment of aroma compounds from a water
solution by pervaporation, J. Food Eng. 19
(1993) 399.

[2] R.W. Rousseau (ed.), Handbook of Separation


Process Technology, John Wiley & Sons, New
Yor (1987).
[3] Chae Park, Hyun. Separation of Alcohols from
Organic
Liquid
Mixtures
by
Pervaporation.Thesis Enschede. Universiteit
Twente. Netherlands. 1993.
[4]

Mahajani, S.M. 2000. Pervaporation:


Membrane Separations. Academic Press:
Australia

[5]

Kumar S,
Overview.

Mahesh.

Pervaporation:

[15] Wenten, I.G., Khoiruddin, P.T.P. Aryanti, A.N.


Hakim, Polarisai Konsentrasi dan Fouling
pada Membran, Teknik Kimia Institut
Teknologi Bandung. 2013.
[16] P. Shao, R.Y.M. Huang. Polymeric membrane
pervaporation. Journal of Membrane Science
287 (2007) 162179.

An

[17] J.P. Brun, G. Bulvestre, A. Kergreis, M.


Guillou, Hydrocarbons separation with
polymer membranes. I. Butadieneisobutene
10

separation with nitrile rubber membranes,


Journal of Application Polymer Science. 18
(1974) 16631683

through polyethylene, J. Appl. Polym. Sci. 12


(1968) 2615.
[31] J.S. Park, E. Ruckenstein, Selective
permeation through hydrophobichydrophilic
membranes, J. Appl. Polym. Sci. 38 (1989)
453461.
[32] H. Ohst, K. Hidenbrand, R. Dhein, Proceedings
of the Fifth International Conference on
Pervaporation Process in the Chemical
Industry, Heidelberg, Germany, Bakish
Materials Corp., Englewood, 1991, pp. 721.
[32] R. Rautenbach, R. Albrecht, Separation of
organic binary mixtures by pervaporation,
Journal of Membrane Science. 7 (1980) 203
223. polyurethane films to fractionate toluene
n-heptane mixtures by pervaporation, Sep.
Purif. Technol. 2223 (2001) 4552.
[34] V. Nikolakis, X. George, A. Ayome, D. Mark,
T. Michael, V. Dionisios, Growth of faujasitetype zeolite membranes and its application in
the separation of saturated/unsaturated
hydrocarbon mixtures, Journal of Membrane
Science. 184 (2001) 209219.

[18] W. Hilgendorff, A. Wenzlaff, K.W. Boddeker,


G. Kahn, G. Luhrs, Enrichtung zur Trennung
von Losungen durch Pervaporation, DEE
3304956, February 12, 1983.
[19] B.K. Dutta, S.K. Sikdar, Separation of
azeotropicorganic
liquid
mixtures
by
pervaporation, AIChE J. 37 (1991) 581.
[20] S. Mandal, V.G. Pangarkar, Separation of
methanolbenzene and methanoltoluene
mixtures by pervaporation: effects of
thermodynamics and structural phenomenon,
Journal of Membrane Science 201 (2002)
175190.
[21] S. Mandal, V.G. Pangarkar, Development of
co-polymer membrane for pervaporative
separation of methanol from methanol
benzene mixture: a solubility parameter
approach, Sep. Purif. Tech. 30 (2003) 147
168.
[22] H.H. Schwarz, R. Apostel, D. Paul,
Membranes
based
on
polyelectrolyte
complexes for methanol separation, J Journal
of Membrane Science 194 (2001) 91102.
[23] Y. Wayne, C. Yoram, Ceramic-supported
polymer membranes for pervaporation of
binary organic/organic mixtures, Journal of
Membrane Science. 213 (2003) 145157.
[24] F. Dogihere, A. Nardella, G.C. Sarti, C.
Valentini, Pervaporation of methanol/MTBE
through modified PPO membranes, Journal of
Membrane Science 91 (1994) 283291.
[25] J.W. Rhim, Y.K. Kim, PV separation of MTBE
(methyl tert-butyl ether) and methanol using
crosslinked PVA membranes, J. Appl. Polym.
Sci. 75 (2000) 16991707.
[26] Z. Lin, H.L. Chen, Z.J. Zhou, Y. Lu, C.J. Gao,
Pervaporation of methanol/MTBE/C5 ternary
mixtures through the CA membrane,
Desalination 149 (2002) 7380.
[27] E.C. Martin, L.T. Kelly, US Patent 2,981,730
(1961).
[28]E.C. Martin, R.C. Binning, L.M. Adams, R.J.
Lee, US Patent 3,150,456 (1964).
[29] M. Kucharski, J. Stelmaszek, Separation of
liquid mixtures by permeation, Int. Chem. Eng.
7 (1967) 618622
[30] R.Y.M. Huang, V.J.C. Lin, Separation of
mixtures by using polymer membranes. I.
Permeation of binary organic liquid mixtures

[35] W.S. Ho, G. Satori, W.A. Thaler et al., US


Patent 4,944,880 (1990). properties of
sulfonyl-containing polyimide membranes to
aromatic/ aliphatic hydrocarbon mixtures,
Journal of Membrane Science. 132 (1997) 97
108.
[36] S. Matsui, D.R. Paul, Pervaporation separation
of aromatic aliphatic hydrocarbons by
crosslinked poly(methyl acrylate-co-acrylic
acid) membranes, Journal of Membrane
Science. 195 (2002) 229245.
[37] S. Matsui, D.R. Paul, Pervaporation separation
of aromatic/aliphatic hydrocarbons by a series
of ionically crosslinked poly(n-alkyl acrylate)
membranes, Journal of Membrane Science.
213 (2003) 6783.
[38] B. Cao, M.A. Henson, Modeling of spiral
wound
pervaporation
modules
with
application
to
the
separation
of
styrene/ethylbenzene mixtures, Journal of
Membrane Science. 19 (2002) 117146.
[39] C. Bing, H. Hirofumi, K. Toshio, Permeation
and separation of styrene/ethylbenzene
mixtures
through
cross-linked
poly(hexamethylene sebacate) membranes,
Journal of Membrane Science. 156 (1999) 43
47.
[40] H.L. Chen, L.G. Wu, J. Tan, C.L. Zhu, PVA
membrane filled-cyclodextrin for separation of
isomeric xylenes by pervaporation, Chem.
Eng. J. 78 (2000) 159164.
11

[41] K. Wegner, J. Dong, Y.S. Lin, Polycrystalline


MFI zeolite membranes: xylene pervaporation
and
its
implication
on
membrane
microstructure, Journal of Membrane Science.
158 (1999) 1727. Polym. 49 (2001) 205213.
[42] H.H. Funke, A.M. Argo, J.L. Falconer, R.D.
Noble, Separation of cyclic, branched and
linear hydrocarbon mixtures through silicate
membranes, Ind. Eng. Chem. Res. 36 (1997)
137143.

[43]

T. Miyata, I. Tooru, T. Uragami,


Characteristics of permeation and separation of
propanol isomers through PVA membranes
containing cyclodextrin, J. Appl. Polym. Sci.
51 (1994) 20072014.
[44] Wenten, I.G., Khoiruddin, P.T.P. Aryanti, A.N.
Hakim, Teori Perpindahan dalam Membran,
Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung.
2012.
[45] Wenten, I.G. Teknologi Membran dan
Aplikasinya di Indonesia, Teknik Kimia
Institut Teknologi Bandung. 2010.

12