Anda di halaman 1dari 15

ANTIBIOTIK TOPIKAL

BAB I
PENDAHULUAN

Pada umumnya, antibiotik topikal memegang peranan penting pada


penatalaksanaan kasus-kasus dermatologi. Antibiotik topikal ini paling sering
diresepkan oleh para dermatologis untuk menangani Akne Vulgaris dengan derajat
penyakit ringan hingga sedang dan juga sebagai terapi adjuvan dengan obat-obatan
lain yang dengan cara peroral. Pada infeksi kulit superfisial seperti Impetigo,
penggunaan antibiotik topikal dapat menghilangkan kebutuhan terhadap antibiotik
peroral yang bersifat sistemik, sehingga tidak terdapat efek samping seperti gangguan
gastrointestinal dan juga tidak terdapat interaksi yang tidak diinginkan dengan obat
peroral lainnya.1
Antibiotik topikal juga sering diresepkan sebagai terapi profilaksis untuk
pasien setelah tindakan bedah minor dan juga tindakan kosmetika seperti halnya
chemical peel atau laser resurfacing untuk meminimalisir risiko infeksi pada luka
bekas operasi dan juga untuk mempercepat penyembuhan luka. 1
Keuntungan antibiotik topikal dibandingkan dengan antibiotik sistemik di
antaranya adalah mencegah terjadinya toksisitas yang bersifat sistemik dan juga
mencegah terjadinya efek samping, menurunkan angka prevalensi resistensi bakteri
terhadap antibiotik tersebut, dan juga memberikan konsentrasi antibacterial yang
tinggi pada lokasi infeksi tersebut.2
Penatalaksanaan pada luka terbuka tidaklah sesederhana seperti mengoleskan
antibiotik topikal saja, tetapi pertama kali yang harus dilakukan adalah luka harus
dibersihkan terlebih dahulu dengan antiseptik. Kemudian setelah itu, dioleskan
antibiotik topikal jika luka tersebut sudah dibersihkan dan sudah dijahit jika
diperlukan. Lalu luka tersebut harus ditutup dengan perban atau dibalut lalu dapat juga
disemprotkan spray proteksi luka.2

Nama: Roni A S Damanik

Page 1

ANTIBIOTIK TOPIKAL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti = lawan, bios =
hidup, adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama bakteri dan fungi yang
dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain, sedang
toksisitasnya terhadap manusia relatif kecil. Antibiotik pertama kali ditemukan oleh
sarjana Inggris dr.Alexander Fleming (Penisilin) pada tahun 1928. Tetapi penemuan
ini baru dikembangkan dan digunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr. Florey.
Kemudian banyak zat dengan khasiat antibiotik diisolir oleh peneliti lain diseluruh
dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat.

2,3

Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semisintetis. Aktivitas


antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat (mg) kecuali yang belum
sempurna permurniannya dan terdiri dari campuran beberapa macam zat, atau karena
belum diketahui struktur kimianya, aktivitasnya dinyatakan dalam satuan internasional
= Internasional Unit (IU).2

2.2 Mekanisme Kerja Antibiotik2,3,4


1. Menghambat sintesa dinding sel, akibatnya pembentukan dinding sel tidak
sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmotik dari plasma, akhirnya
sel akan pecah. Contoh : penisilin dan sefalosporin
2. Menghambat sintesa membran sel, molekul lipoprotein dari membran sel
diganggu sintesisnya, hingga bersifat lebih permeable akibatnya zat-zat
penting dari isi sel dapat keluar. Contoh : polipeptida
3. Menghambat sintesa protein sel, akibatnya sel tidak terbentuk sempurna.
Contoh : kloramfenikol, tetrasiklin
4. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA) akibatnya sel
tidak dapat berkembang. Contoh : rifampisin, metronidazole, kuinolon
5. Menghambat metabolisme sel mikroba. Mikroba membutuhkan asam folat
untuk kelangsungan hidupnya. Bakteri patogen harus mensintesis sendiri

Nama: Roni A S Damanik

Page 2

ANTIBIOTIK TOPIKAL

asam folat dari para amino benzoic acid (PABA) yang mekanismenya
digangggu oleh antibiotic. Contoh : sulfonamida, trimetoprim, paminosalisilat acid (PAS) dan sulfon.

Gambar 1 : Lima Mekanisme Mayor Kerja Antibiotik

2.3 Antibiotik Berdasarkan Daya Kerja2.3.4


Berdasarkan daya kerjanya terhadap mikroba, antibiotik dapat
digolongkan sebagai :
1. Zat bakterisid, yaitu antibiotik yang memiliki kemampuan untuk
membunuh bakteri
2. Zat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang memiliki kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri

Nama: Roni A S Damanik

Page 3

ANTIBIOTIK TOPIKAL

2.4 Antibiotik Berdasarkan Luas Aktivitas Kerja2,3.4


Berdasarkan luas aktivitas kerjanya antibiotik dapat digolongkan atas :
1. Zat-zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum)
Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis bakteri saja
(bakteri gram positif atau bakteri gram negatif saja). Contohnya
eritromisin, kanamisin, klindamisin (hanya terhadap bakteri gram
positif), streptomisin, gentamisin (hanya terhadap bakteri gram negatif
saja)
2. Zat-zat dengan aktivitas luas (broad spectrum)
Zat yang berkhasiat terhadap semua jenis bakteri baik jenis bakteri
gram positif maupun gram negatif. Contohnya ampisilin, sefalosporin,
dan kloramfenicol

2.5 Penggolongan Antibiotik Lama dan Baru


Antibiotik digolongkan menjadi dua kelompok yaitu antibiotik lama
dan baru. Antibiotik golongan lama sudah mulai di tinggalkan penggunaannya
karena sudah banyak ditemukan resistensi terhadap pemakaian obat-obatan
antibiotic lama tersebut. Untuk penggunaan antibiotik golongan baru mulai
digunakan karena belum ada laporan mengenai resistensi terhadap antibiotik
yang baru tersebut.4

Nama: Roni A S Damanik

Page 4

ANTIBIOTIK TOPIKAL

2.6 Pemakaian Antibiotik Topikal


Antibiotik topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus
di bidang kulit. Efek samping pemakaian antibiotik topikal diantaranya adalah
menyebabkan terjadinya dermatitis kontak alergi / iritan, penetrasinya rendah
pada jaringan yang terinfeksi, lebih cepat terjadi resistensi mikroba, efek toksik
(absorbsi sistemik), dan mengganggu flora normal tubuh.5
2.6.1

Terapi Topikal Untuk Akne dan Rosasea


Akne Vulgaris adalah kelainan pada kelenjar sebasea dan salurannya

yang bersifat self-limited dan biasanya muncul pada pasien usia awal dewasa. 6
Antibiotik topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam folikel yang
berperan yang berperan dalam folikel yang berperan dalam etiopatogenesis
Akne Vulgaris, misalnya Oksitetrasiklin 1%, Eritromisin 1% dan Klindamisin
Sulfat 1%.7
Efikasi antibiotik topikal pada pengobatan akne vulgaris dan rosasea
berhubungan langsung dengan efek antibiotik, dan diduga beberapa antibiotik
topikal memiliki efek anti-inflamasi dengan menekan neutrophil chemotactic
factor atau melalui mekanisme lain. Banyak hal yang harus dipertimbangkan

Nama: Roni A S Damanik

Page 5

ANTIBIOTIK TOPIKAL

dalam memilih antibiotik topikal untuk akne vulgaris karena meningkatnya


resistensi terhadap antibiotik yang sering digunakan. Ini menyebabkan para
ahli mencari kemungkinan terapi kombinasi untuk akne vulgaris yang dapat
mengurangi terjadinya resistensi.1
1. Eritromisin
Eritromisin termasuk antibiotik golongan makrolid dan efektif baik
untuk kuman gram positif maupun gram negatif. Antibiotik ini dihasilkan oleh
Streptomyces erythreus dan digunakan untuk pengobatan akne. Eritromisin
berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi translokasi molekul
peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor, bersamaan dengan pembentukan
rantai polipepetida dan menghambat sintesis protein. Eritromisin juga memiliki
efek anti-inflamasi yang membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam
pengobatan akne.1
Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel, pledgets dan salep 1,5
%- 2% sebagai bahan tunggal. Juga tersedia dalam sediaan kombinasi dengan
benzoil peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotik terhadap
eritromisin. Kombinasi zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4% lebih efektif
daripada dengan Clindamisin.1
2. Clindamisin
Clindamisin adalah antibiotik linkosamid semisintetik yang diturunkan
dari linkomisin. Mekanisme kerja antibiotik ini serupa dengan eritromisin,
dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein bakteri.
Clindamisin digunakan secara topikal dalam sediaan gel, solusio, dan suspensi
(lotio) 1% serta terutama untuk pengobatan akne. Juga tersedia dalam
kombinasi dengan benzoil peroksida yang dapat menghambat resistensi
antibiotik terhadap clindamisin. Efek samping berupa kolitis pseudomembran
jarang dilaporkan pada pemakaian clindamisin secara topikal. 1

Nama: Roni A S Damanik

Page 6

ANTIBIOTIK TOPIKAL

3. Metronidazol
Metronidazol, suatu topikal nitroimidazol, saat ini tersedia dalam
bentuk gel, lotio, dan krim 0,75%, serta sebagai krim 1% untuk pengobatan
topikal pada rosasea. Pada konsentrasi ringan, obat dipakai 2 kali sehari,
sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi obat dipakai sekali sehari.
Metronidazol oral memiliki aktifitas broad-spectrum untuk berbagai organisme
protozoa dan organisme anaerob. Mekanisme kerja metronidazol topikal di
kulit belum diketahui; diduga efek antirosasea berhubungan dengan
kemampuan obat sebagai antibiotik, antioksidan dan anti-inflamasi.1
4. Asam Azelaic
Asam Azelaic adalah suatu asam dikarboksilik yang ditemukan pada
makanan (sereal whole-grain dan hasil hewan). Secara normal terdapat pada
plasma manusia (20-80 ng/mL), dan pemakaian topikal tidak mempengaruhi
angka ini secara bermakna. Mekanisme kerja obat ini adalah menormalisasi
proses keratinisasi (menurunkan ketebalan stratum korneum, menurunkan
jumlah dan ukuran granul keratohialin, dan menurunkan jumlah filagrin.1
Dilaporkan bahwa secara in vitro, terdapat aktifitas terhadap
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, yang mungkin
berhubungan dengan inhibisi sintesis protein bakteri (tempat yang pasti sampai
saat ini belum diketahui). Pada organisme aerobik terdapat inhibisi enzim
oksidoreduktif. Pada bakteri anaerobik terdapat inhibisi pada enzim
oksidoreduksi (seperti tyrosinase, mitochondrial enzymes of the respiratory
chain, 5-alpha reductase, dan DNA polymerase). Pada bakteri anaerob, terdapat
gangguan proses glikolisis. Asam Azelaic digunakan terutama untuk
pengobatan akne vulgaris, dan ada yang menyarankan digunakan untuk
hiperpigmentasi (misalnya melasma), meskipun FDA tidak menyetujui indikasi
ini. Asam Azelaic tersedia dalam sediaan krim 20%.1

Nama: Roni A S Damanik

Page 7

ANTIBIOTIK TOPIKAL

5. Sulfonamid (Sulfasetamid)
Sulfasetamid merupakan Sulfonamid topikal yang digunakan untuk
pengobatan Akne Vulgaris dan Rosasea. Pada umumnya, Sulfonamid bekerja
sebagai antibakteri dengan cara menjadi kompetitor bagi PABA (Paraaminobenzoid acid) dalam pembentukan asam folat pada bakteri tersebut. Akan
tetapi mekanisme kerja Sulfasetamid pada pengobatan Rosasea masih belum
dapat diketahui hingga saat ini. Sulfasetamid tersedia dalam bentuk lotion
berkonsentrasi 10%, sedangkan Sulfasetamid 5% tersedia dalam bentuk jel,
krim, suspense, dan masker wajah.1

2.6.2

Terapi Topikal Pada Infeksi Bakterial Superfisial dan Luka Bakar


Impetigo yang luas, infeksi pada kulit di ekstremitas inferior, atau

pasien yang disertai dengan keadaan immunocompromised, maka terapi yang


tepat digunakan adalah antibiotik topikal untuk menurunkan risiko terjadinya
komplikasi yang lebih serius. Antibiotik topikal juga sering digunakan pada
prosedur bedah minor. Adapun antibiotik topikal yang sering digunakan pada
infeksi bacterial superficial dan juga luka bakar adalah sebagai berikut: 1
1. Mupirosin
Mupirosin dikenal dengan nama Pseudomonic Acid A, merupakan
derivat dari Pseudomonas fluorescens. Cara kerjanya adalah berikatan dengan
iso-leucyl t-RNA dan mencegah sintesis protein bakteri. Aktivitas Mupirosin
hanya terbatas pada Gram positif, terutama Staphylococci dan juga
Streptococcui pada umumnya. Mupirosin dapat aktif bekerja pada keadaan
dengan pH sekitar 5,5.1
Karena Mupirosin sangat sensitive pada perubahan temperature, maka
antibiotik ini akan rusak jika pada keadaan suhu yang sangat tinggi. Salep
Mupirosine 2% dioleskan 3x/hari dan terutama diindikasikan untuk pengobatan

Nama: Roni A S Damanik

Page 8

ANTIBIOTIK TOPIKAL

Impetigo dengan lesi terbatas, yang disebabkan oleh S.aureus dan S.pyogenes.
tetapi pada penderita immunocompromised terapi yang diberikan harus secara
sistemik untuk mencegah komplikasi serius. Pada tahun 1987 dilaporkan
resistesi Mupirosin karena pemakaian antibiotik topical untuk Methicillinresistant S.aureus (MRSA).1
Penelitian

terakhir

di

Tennessee

Veterans

Aggairs

Hospital

menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang salep Mupirosine untuk


mengontrol MRSA, khususnya pada penderita ulkus dekubitus,meningkatkan
resistensi yang bermakna. Lebih lanjut, peneliti Jepang menemukan bahwa
Mupirosin konsentrasi rendah dicapai setelah aplikasi intranasal dan
dipostulasikan bahwa mungkin ini menjelaskan resistensi terhadapt Mupirosin
pada strain S.aureus.1
Suatu studi percobaan menggunakan salep antibiotik kombinasi yang
mengandung Basitrasin, Polimiksin B, dan Gramisidin berhasil menghambat
kolonisasi pada 80% (9 dari 11) penderita yang setelah di-follow up selama 2
bulan tetap menunjukkan dekolonisasi. Semua kasus (6 dari 6) terhadap
Mupirosin-sensitive MRSA dieradikasi, sedangkan 3 dari 5 kasus terhadap
Mupirosin-sensitive MRSA dieliminasi. Formulasi baru yang menggunakan
asam kalsium (kalsium membantu dalam stabilisasi bahan kimia) tersedia
untuk penggunaan intranasal dalam bentuk salep 2% dan krim 2%.1
2. Basitrasin
Antibiotik polipeptida topikal yang berasal dari isolasi strain Tracy-I
Bacillus subtilis, yang dikultur dari penderita dengan fraktur compound yang
terkontaminasi tanah. Basil ini diturunkan dari Bacillus, dan trasin berasal dari
penderita yang mengalami fraktur compound (Tracy). Basitrasin merupakan
polipeptida siklik yang memiliki banyak komponen yaitu A, B dan C.
Basitrasin sering digunakan sebagai Zinc Salt.

Basitrasin menghambat

pembentukan dinding sel bakteri dengan cara berikatan dan menghambat

Nama: Roni A S Damanik

Page 9

ANTIBIOTIK TOPIKAL

defosforilasi pada lemak pirofosfat. Kebanyakan organisme Gram negatif dan


jamur resisten terhadap obat ini. Sediaan tersedia dalam bentuk salep Basitrasin
dan sebagai Basitrasin Zinc, mengandung 400-500 unit pergram.1
Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial
pada kulit seperti Impetigo, Furunkulosis, dan Pioderma. Obat ini juga sering
dikombinasikan dengan Polimiksin B dan Neomisin sebagai salep antibiotik
tripel yang dipakai beberapa kali sehari untuk pengobatan dermatitis atopi,
numularis, atau stasis yagn disertai dengan infeksi sekunder. Sayangnya,
aplikasi Basitrasin topical memiliki risiko untuk timbulnya sensitisasi kontak
alergi dan meski jarang dapat menimbulkan syok anafilaktik. 1
3. Polimiksin B
Adalah antibiotik topikal yang diturunkan dari B.polymyxa, yang
asalnya diisolasi dari contoh tanah di Jepang. Polimiksin B adalah campuran
dari polimiksin B1 dan B2, keduanya merupakan polipeptida siklik. Fungsinya
adalah sebagai detergen kationik yang berinteraksi secara kuat dengan
fosfolipid membran sel bakteri, sehingga menghambat integritas sel membran.1
Polimiksin B aktif melawan organism gram negatif secara luas
termasuk P.aeruginosa, Enterobacter, dan E.coli. Polimiksin B tersedia dalam
bentuk salep (5000-10.000 unit pergram) dalam kombinasi Basitrasin atau
Neomisin. Cara pemakaiannya dioleskan 1-3x/hari.1
4. Aminoglikosida Topikal (Neomisin dan Gentamisin)
Aminoglikosida adalah kelompok antibiotik yang penting digunakan
baik secara topikal ataupun sistemik untuk pengobatan infeksi yang disebabkan
bakteri Gram negatif. Aminoglikosida memberi efek membunuh bakteri
melalui pengikatan subunit ribosomal 30S dan mengganggu sintesis protein
pada bakteri tersebut.1

Nama: Roni A S Damanik

Page 10

ANTIBIOTIK TOPIKAL

Neomisin sulfat, aminoglikosida yang sering digunakan secara topical


adalah hasil fermentasi Streptomyces fridae. Neomisin sulfat memiliki efek
mematikan bakteri gram negatif dan sering digunakan sebagai profilaksis
infeksi yang disebabkan oleh abrasi superfisial, luka terbuka atau luka bakar.
Tersedia dalam bentuk salep (3,5 mg/g) dan dikemas dalam bentuk kombinasi
dengan antibiotik lain seperti Basitrasin, Polimiksin, dan Gramisidin. Bahan
lain yang sering dikombinasikan dengan Neomisin adalah Lidokain,
Pramoksin, atau Hidrokortison.1
Neomisin tidak direkomendasikan oleh banyak ahli kulit karena dapat
menyebabkan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak karena pemakaian
Neomisin memiliki angka prevalensi yang tinggi, dan pada 6-8% penderita
yang dilakukan Patch Test memberi hasil positif. Neomisin sulfat 20% dalam
Petrolatum digunakan untuk menilai alergi kontak.1
Gentamisin sulfat diturunkan dari hasil fermentasi Micromonospora
purpurea. Tersedia dalam bentuk topikal berupa krim atau salep 0.1%.
antibiotik ini banyak digunakan oleh ahli bedah kulit ketika melakukan operasi
telinga, terutama pada penderita DM atau keadaan immunocompromised lain,
sebagai profilaksis terhadap Otitis Eksterna Maligna akibat P.aeruginosa.1
5. Sulfonamid (Sulfadiazin Perak dan Mafenid Asetat)
Sulfonamid dapat digunakan untuk pengobatan Akne Vulgaris,
Rosasea, dan luka bakar. Sulfadiazin Perak bekerja dengan cara menghambat
pembentukan dinding sel bakteri dan membrannya. Sedangkan mekanisme
kerja Mafenid Asetat berbeda halnya dengan Sulfadiazin. Jika Mafenid Asetat
ini digunakan pada area kulit dengan luka bakar yang luas, maka akan
memiliki risiko terjadinya Asidosis Metabolik. Sulfadiazin dan Mafenid Asetat
ini merupakan antibiotik broad-spectrum. Selain itu, superinfeksi yang
disebabkan oleh Candida pun dapat terjadi pada penggunaan Mafenid Asetat.1

Nama: Roni A S Damanik

Page 11

ANTIBIOTIK TOPIKAL

6. Nitrofurazon
Nitrofurazon atau Furacin adalah derivate dari Nitrofuran yang
digunakan dalam penatalaksanaan pasien luka bakar. Mekanisme kerja dari
Nitrofurazon adalah menghambat aktivitas enzim yang berperan dalam
degradasi glukosa dan piruvat baik secara aerob maupun anaerob. Nitrofurazon
tersedia dengan konsentrasi 0.2% dalam bentuk krim, solusio dan juga dalam
bentuk

pembalut

luka.

Nitrofurazon

sangat

baik

aktivitasnya

pada

Staphylococci, Streptococci, E.coli, Clostridium perfringens dan Proteus sp.1

2.6.3 Antibiotik Topikal Lainnya.


1. Gramisidin
Merupakan derivate B. brevis, berupa peptide linier yang membentuk
stationery ion channel pada bakteri yang sesuai. Aktivitas antibiotik Gramisidin
terbatas pada bakteri Gram positif.1
2. Kloramfenikol
Di Amerika Serikat, penggunaannya terbatas untuk pengobatan infeksi
kulit yang ringan. Mekanisme kerjanya hampir mirip dengan Eritromisin dan
Klindamisin, yaitu menghambat ribosom 50S memblokade translokasi peptidil
tRNA dari akseptor ke penerima. Tersedia dalam krim 1%. Obat ini jarang
digunakan karena dapat menyebabkan Anemia Aplastik yang fatal atau depresi
sumsum tulang.1
3. Cliquinol/Iodochlorhydroxiquin
Clioquinol adalah antibakteri dan antijamur yang diindikasikan untuk
pengobatan kelainan kulit yang disertai peradangan dan tinea pedis serta
infeksi bakteri minor. Kerugiannya adalah mengotori pakaian, kulit, rambut
dan kuku serta potensial menyebabkan iritasi. Clioquinol mempengaruhi
penilaian fungsi tiroid (efek ini dapat berlangsung hingga 3 bulan setelah

Nama: Roni A S Damanik

Page 12

ANTIBIOTIK TOPIKAL

pemakaian). Tetapi Clioquinol tidak mempengaruhi hasil tes untuk


pemeriksaan T3 dan T4.1

Nama: Roni A S Damanik

Page 13

ANTIBIOTIK TOPIKAL

BAB III
KESIMPULAN
Antibiotika dapat didefinisikan sebagai suatu subgroup dari antiinfeksi
yang merupakan suatu derivate dari sumber bakteri dan digunakan untuk
mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri lainnya. Antibiotik bekerja
melalui 5 mekanisme mayor. Penggunaanya sendiri dapat disesuaikan
berdasarkan daya kerja, luas aktivitas maupun cara pemakaiannya.
Antibiotik topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus
di bidang kulit. Pemakaian antibiotik topikal dapat sebagai terapi pada infeksi
bakteri dan juga profilaksis contohnya pada tindakan bedah minor. Pengobatan
topikal untuk akne antara lain : Eritromisin, Clindamisin, Metronidazole, Asam
azelaic. Pengobatan Topikal pada infeksi bakteri superfisial adalah Mupirosin,
Basitrasin, Polimiksin B. Adapula Aminoglikosida Topikal, yaitu : Neomisin,
Gentamisin.

Antibiotik

Lainnya

yaitu

Gramisidin,

Kloramfenikol,

Sulfonamida, Clioquinol, Nitrofurazone (Furacin), Asam fusidat.


Kegunaan antibiotik topikal tentunya dapat mencegah terjadinya
toksisitas yang bersifat sistemik dan juga mencegah terjadinya efek samping
sistemik, menurunkan angka prevalensi resistensi bakteri terhadap antibiotik
tersebut, dan juga memberikan konsentrasi antibakterial yang tinggi pada
lokasi infeksi.

Nama: Roni A S Damanik

Page 14

ANTIBIOTIK TOPIKAL

DAFTAR PUSTAKA
1. W, Mark, Bonner. M, Paul, Benson. D, William, James. 2008. Topical
Antibiotics, FitzPatricks Dermatology in General Medicine 7 th ed. New
York : McGraw Hill. Editor : Wolff, Klaus. Glodsmith, Lowell A. Katz,
Stephen I. Glichrest, Barbara A. Paller, Amy S. Leffel, David J
2. Schwart R, Al Mutairi N. 2010. Topical Antibiotic in
Dermatology; an update. Review article. Volume 17, No.1.
The Gulf Journal of Dermatology and Venereology
3. Setiadi R, Vincent H.S. 2003. Pengantar Antimikroba.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya baru
4. Suhariyanto, Bambang. 2011. Antibiotik Topikal Untuk Penyakit Kulit
pada Wisatawan. Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas
Kedokteran Universitas Jember.
5. Gelmetti, carlo. 2008. Local Antibiotics In Dermatology. Journal
Dermatologic Therapy, Vol. 21. United States
6. Zaenglein, Andrea L. Graber, Emmy M. Thiboutot, Diane M. Strauss,
John S. 2008. Acne Vulgaris and Acneiformis Eruption, FitzPatricks
Dermatology In General Medicine. 7th ed. New York: McGraw Hill.
Editor : Wolff, Klaus. Glodsmith, Lowell A. Katz, Stephen I. Glichrest,
Barbara A. Paller, Amy S. Leffel, David J
7. Wasitaatmadja, Sjarif M. 2007. Akne, Erupsi Akneiformis, Rosasea dan
Rinofima. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Editor : Djuanda, Adi. Hamzah,
Mochtar. Aisah, Siti.

Nama: Roni A S Damanik

Page 15