Anda di halaman 1dari 100

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan didunia


terkait dengan banyaknya kejadian infeksi bakteri. Menurut WHO (2006),rumah sakit
selalu mengeluarkan lebih dari seperempat anggarannya untuk biayapenggunaan
antibiotik. Di negara yang sudah maju 13-37% dari seluruh penderitayang dirawat di
rumah sakit mendapatkan antibiotik baik secara tunggal maupunkombinasi, sedangkan
di negara berkembang 30-80% penderita yang dirawat di rumah sakit mendapat
antibiotik. Seringkali penggunaan antibiotik dapat menimbulkan masalah resistensi
dan efek obat yang tidak dikehendaki, oleh karena itu penggunaan antibiotik harus
mengikuti strategi peresepan antibiotik (Johns Hopkins Medicine et al., 2015).
Dalam kehidupan sehari-hari baik pada manusia maupun hewan istilah
antibiotik sudah tidak asing untuk didengerkan. Antiboitik ialah zat yang dihasilkan
oleh mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi
mikroba jenis lain. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintesis. Antimikroba diartikan
sebagai obat pembasmi mikroba khususnya yang merugikan manusia. Antibiotik
memiliki banyak golongan dan jenis yang beranekaragam. Obat antibiotik ini dapat
digunakan baik dalam tubuh hewan maupun dalam tubuh manusia. Dalam prosesnya
di dalam tubuh obat ini nantinya akan memberikan suatu efek ( farmakodinamik)
terhadap tubuh. Penggunaan Obat ini tidak selalu menguntukan tetapi juga bisa
merugikan, untuk itu sebelum menkonsumsi obat ini sebaiknya memperhatikan
instruksi dari obat tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu antibiotic?
2. Macam-macam antibiotik yang ada dan bagaimana mekanisme kerjanya?

1.3 Tujuan Makalah

1. dapat mengetahui apa itu antibiotik


2. Dapat mengetahui jenis-jenis antibiotik yang ada dan mekanisme kerjanya

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Antibiotika
Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu Anti (melawan) dan Biotikos
(cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk
menggambarkan semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian digeser
dengan ditemukannya obat antibiotik sintetis.
Penggunaan istilah antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba
dan termasuk didalamnya adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti
virus, dll. Antibiotik berbeda dengan istilah disinfectant karena desifektant membunuh
kuman dengan cara membuat lingkungan yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan
kerja dariantibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas Selektif dan dapat membunuh
kuman tanpa merugikan inang.
Prinsip Penggunaan Antibiotik:
a. Berdasarkan penyebab infeksi: Dari hasil pemeriksaan mikrobiologis, pemberian
antibiotika tanpa pemeriksaan mikrobiologis dapat didasarkan pada educate guess.
b. Berdasarkan faktor pasien: Fungsi ginjal dan hati, riwayat alergi, daya tahan
terhadap infeksi, daya tahan terhadap obat, usia, wanita hamil dan menyusui.
2.2 Turunan Makrolida

Antibiotika turunan makrolida pada umumnya dihasilkan oleh Streptomyces


sp., mempunyai 5 bagian struktur yang karakteristik, yaitu :

1) Cincin lakton yang besar, biasanya mengandung 12-17 atom,

2) Gugus keton

3) Satu atau dua gula amin seperti glikosida yang berhubngan dengan cincin lakton

4
4) Gula netral, yang berhubungan dengan gula amino atau pada cincin lakton

5) Gugus dimetilamino pada residu gula, yang menyebabkan sifat basis dari senyawa
dan memungkinkan untuk dibuat bentuk garamnya.

2.2.1 Mekanisme Kerja

Turunan makrolida, seperti eritromisin, adalah senyawa bakteriostatik dan


hanya efektif pada mikroorganisme yang aktif membelah. Turunan ini mengikat secara
tak terpulihkan subunit ribosom 50-S bakteri atau dekat tempat donor P sehingga
memblok ikatan tRNA dengan tempat tersebut dan mencegah translokasi peptide-
peptida dari tempat aseptor A ke tempat donor P. pengikatan ini hanya terjadi bila
subunit 50-S bebas dari molekul tRNA yg berhubungan dengan rantai peptide nasen
sehingga yang diblok hanyalah sintesis homopeptida polimer tinggi, sedang peptide-
peptida kecil teteap diproses secara normal.

Efek samping: relative rendah seperti gangguan saluran cerna yang ringan(sakit kepala,
mual, pusing dan diare) dan reaksi alergi.

2.2.2 Contoh Obat

1) Eritromisin stearate

Merk dagang :Ebaliln, Erythocir, Eryc, Pharothrocin, Kalthrocin, Kenthrocin,

Sumber :didapat dari Streptomyces erythreus, mengandung 90% eritromisin A, ± 10%


eritromisin B danpengotoraneritromisin C.

Strukturnya : terdiridariaglikoneritronolid A, gula amino desosamin dan gula netral


kladinosa. Gugusdimetilamino (3’) denganasamakanmembentukgaram, contoh: garam
stearate bersifat sukar larut dalam air dengan rasa yang sedikit pahit, gugus hidroksi
(2’) pada desosamin dapat membentuk ester, contoh: ester-ester etilsuksinat, estolat
dan propionate, yang tidak berasa. Bentuk ester ini bukan suatu pra-obat (bentuk laten)

5
karena senyawa tetap aktif secara biologis dan aktivitasanya tidak tergantung pada
proses hidrolisis. Eritromisin adalah senyawa bekteriostatik, efektif terhadap bakteri
Gram-positif yang telah tahan terhadap penisilin, seperti Staphylococcus sp.,
Steptococcus sp., Myoplasma, H influenza.

Penggunaan : Merupakan obat pilihan untuk pengobatan pneumonia yang disebabkan


oleh Legionella pneumophilia serta obat alternative untuk pengobatan sifilis dan
gonorhu. Eritromisn efektif pula terhadap difteri, aknevurgaris, pertussis daninfeksi
Chlamydia trachoma, digunakan terutama pada infeksi saluran napas, kulitdan jaringan
lunak. Bentuk garam dan esternya diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna.

Absopsi : Dalam cairan tubuh, 70-75% obat terikat oleh protein plasma, kadar plasma
tertinggi dicapai dalam± 2 jam, dengan waktu paru 2-3 jam.

Dosis :

Dosis oral :250-500 mg 4 dd.

Dosis ester etilsuksinat : 400 -800 mg 4 dd,

I.V : 15-20 mg/kgbb/hari.

2) Oleandomisin fosfat,

Sumber : didapat dari Streptomyces antibioticus.

6
Strukturnya terdiri dari aglikon oleandolida, gula amino desosamin dan gula netral L-
oleandrosa. Oleandomisin adalah senyawa bakterostatik, efektif terhadap bakteri
Gram-positif, seperti Streptococcus pyogenus dan S.pneumoniae, digunakan sebagai
obat pengganti eritromisin. Asetilasi 3 gugus hidroksi bebas dari oleandomisin
menghasilkan troleandomisin, yang mempunyai dua keuntungan disbanding
oleandomisin yaitu praktis tidak berasa dan kadar obat dlam darah lebih cepat dan lebih
tinggi.

Dosis oral :250-500 mg 4 dd.

3) Spiramisin (Osmycin, Rovamycin, Spiradan, Nilavam)

Sumber: didapatdari Streptomyces ambofaciens, mengandung 70% spiramisin I,


20% spiramisin II dan 10% spiramisin III.

Struktur: Strukturnya terdiri dari gula amin D-forosamin dan gula netral L-
mikrarosa dan D-mikaminosa. Spiramisin adalah senyawa bakteriostatik, efektif
terhadap Staphylococcus sp., Streptococcus sp., Clostridium sp., Bscillus sp.,
Klebsiella sp., Mycoplasma sp., B.fragilusdan H. influenza.

Fungsi: Merupakan obat pilihan untuk pengobatan pneumonia yang disebabkan


oleh L-egionella pneumophilia serta efektif pula terhadap difteri, akne vulgaris,
pertussis daninfeksi Chlamydia trachoma. Spiramisin digunakan terutama untuk
infeksi saluran napas, saluran genital, tulang kulit dan jaringan lunak. Obat
diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna, kadar plasma tertinggi dicapaid alam 2-
3 jam, dengan waktu paro biologis± 8 jam. Dosis oral : 500 mg 3 dd, selama 5 hari.

7
4) Roksitromisin (Abbotic, Rullid),
Adalah analog eritromisin mempunyai aktivitas lebih tinggi dan masa kerja yang
lebih panjang dibanding spiramisin. Efek antibakteri dan kegunaan serupa dengan
spiramisin. Obat diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna (72-85%), dengan
waktu paro biologis ± 10,5 jam.
Dosis oral : 150 mg 2 dd, lebih baik sebelum makan.
5) Azitromisin (Zithromax, Zibramax),
mempunyai stabilitas terhadap asam lambung yang lebih baik dibanding analog
eritromisin yang lain, dan masa kerja yang panjang sehingga hanya digunakan satu
kali sehari.
Dosis : 150 mg 1 dd, selama 5 hari.

2.3 Turunan Polipeptida

Berdasarka sifatnya antibiotik polipeptida dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Antibiotik yang bersifat asam, mengandung gugus karboksilat bebas dan


menunjukkan bagian struktur yang nonsiklik

8
2. Antibiotik yang bersifat basa, mengandung gugus amino bebas dan juga
menunjukkan bagian struktur yang nonsiklik
3. Antibiotik yang bersifat netral, tidak mempunyai gugus karboksilat dan amino
bebas, karena strukturnya dalam bentuk siklik, atau gugus reaktif di atas
dinetralkan melalui formilasi
2.3.1 Mekanisme Kerja

Beberapa antibiotika polipeptida seperti tirotrisin, polimiksin B dan kolistin,


merupakan molekul yang amfifil, mengandung gugus-gugus lipofil dan hidrofil yang
terpisah. Dapat menyebabkan ketidak teraturan struktur membran sitoplasma dan
kehilangan fungsinya sebagai rintangan permeabel, sehingga ion-ion yang secara
normal ada dalam sel akan menyebabkan bakteri menalami kematian.
Gramisidin, dapat membentuk saluran transmembran dimana ion-ion keluar masuk
secara difusi melalui “pori” yang berbeda sehingga membran kehilangan fungsinya
sebagai rintangan yang permeabel.
Basitrasin, adalah bakteriolitik hanya pada fasa pertumbuhan bakteri. Senyawa ini
dapat mengambat secara langsung enzimpeptidoglikan sintetase dan menyebabkan
hambatan pembentukan dinding sel bakteri sehingga bakteri mengalami kematian.
2.3.2 Contoh Obat
1. Tirotrisin diisolasi dari kultur bacilus brevis, mengandung dua campuran
antibiotika, yaitu gramisidin 10-2-% dan tirosidin. Obat tidak diabsorpsi dalam
saluran cerna sehingga aman untuk pengobatan infeksi kerongkongan. Dosis
setempat: 0,05%-0,30% dan hindari dari penggunaan obat pada luka terbuka.
2. Basitrasin, diisolasi dari bacilus subtilis dan B. Lichaniormis. Secara oral tidak
dapat diserap dalam saluran cerna dan kadang-kadang digunakang untuk
pengobatan infeksi amuba. Dosis stempat: 500 unit/g salep kulit atau mata,
dioleskan 2-3 kali sehari, dosis IM: 10.000-20.000 unit 3-4 dd.
3. Polimiksin B sulfat diisolasi dari bacillus polymyxa dan B. Aeropsporus Greer.
Secara oral tidak dapat diserap dalam saluran cerna dan kadang-kadang digunakan
untuk pengobatan infeksi usus seperti pseudomonas enteritis dan ineksi shigella.

9
Dosis setempat 20.000 unit/g salep kulit atau mata, diberikan 2-3 kali sehari, dosis
IM 50000-7.500 unit/kg bb 4 dd.
4. Kolistin sulfat, diisolasi dari Bacillus polymyxa var. Colistinus, suatu polipeptida
yang heterogen dengan komponen yang dominan adalah kolistin A. Secara oral
obat tidak diabsorpsi dalam saluran cerna dan untuk pengobatan infeksi usus seperti
disentri basiler, enterokolitis dan gastroenteritis yang disebabkan bakteri Gram-
negatif. Dosis oral: 3-15 mg/kbb/hari, dalam dosis terbagi 3 kali. Dosis IM: 1,25
mg/kgbb 2-4 dd.
2.4 Turunan Linkosamida
Turunan linkosamida adalah antibiotika yang mengandung sulfur, dikarakterisasi oleh
4-alkil asam pipekolat atau asam higrat yang terikat pada alkil 6-amino-α-
tiooktopiranosida melalui sambungan amida. Turunan ini mengandung gugus yang
bersifat basa, yairu N-pirolidin atau N-piperidin, dan dapat membentuk garam yang
mudah larut dalam air.
2.4.1 Mekanisme Kerja
Turunan linkosamida adalah senyawa bakteriostatik tetapi pada kadar Gram-positi dan
bakteri anaerob Gram-negatiyan patogen. Turunan linkosamida menimbulkan efek
samping “antibiotic-associated pseudomembranous colitis” (AAPMC), dengan gejala-
gejala diare, nyeri abdominal, deemam, tinja berlendir dan ada darah kadang-kadang
berakibat fatal.
2.4.2 Contoh Obat
1. Linkomisin HCL, diisolasi dari Bacillus linconensis, efektif terhadap bakteri
Gram-positif, seperti Staphylococcus aureus, Diplococcus pneumonia dan
Leptospira pomona. Dosis oral: 500 mg 3 dd IM atau IV: 600 mg 1 dd.
2. Klindamisin HCL, klindamisin efektif terhadap bakteri gram-positi, seperti
Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans, Diplococcus pneumoniae dan
Leptospira pomona, bakteri anaerob Gram- negatif dan bakteri anaerob positif.
Klindamisin dapat digunakan sebagai antimalaria yang disebabkan oleh P.
Alciparum dan P. vivax. Dosis oral: 150-300 mg dd, IM atau IV: 600-1200 mg/hari
dalam dosis terbagi 2- 4kali.

10
2.5 Turunan Polien
Antibiotik turunan polien dihasilkan oleh Streptomyces sp., dikarakterisasi oleh
adanya cincin besar yang mengandung lakton dan ikatan rangkap terkonjugasi.
Antibiotika polien tidak mempunyai aktivitas antibakteri atau antiriketsia, tetapi aktif
terhadap jamur dan yeast.
Contoh antibiotika polien yang banyak digunakan sebagai antijamur adalah amfoterisin
B, kandisidin, dan nistatin.

2.6 Turunan Ansamisin


Turunan ansamisin pada umumnya dihasilkan oleh Sterptomyces sp.,
dikarakterisasi oleh adanya struktur siklik yang mengandung gugus aromatik dan
jembatan makrosiklik alifatik panjang, yang dinamakan ansa, diantara posisi dua inti
aromatik yang tidak saling berdekatan. Pada umunya turunan ansamisin menimbulkan
toksisitas tinggi dan hanya satu yang digunakan dalam klinik yaitu Rifampisin.
Rifampisin diisolasi dari fermentasi kultur Nocardia mediterranea, mengandung 17
anggota rantai ansa, dan mempunyai spektrum antibakteri yang luas. Pada umumnya
rifampisin digunakan sebagai obat antituberkulosis
2.7 Turuna Antrasiklin
Turunan antrasiklin adalah antibiotika turunan antrasiklinon (tetrasiklin) dan
dihasilkan oleh Streptomyces sp. Mengandung gula pada konfigurasi L yang terikat
pada gugus 7-hidroksil antrasiklinon melalui ikatan glikosidik. Pada umumnya
digunakan untuk obat antikanker.
Contoh : daunorubisin HCl, doksorubisin HCl, epirubisin dan plikamisin (mitramisin)
2.8 Turunan Fosfomisin
Antibiotik yang diisolasi dari streptomyces fridiae atau streptomyces sp. Spektrum
aktivitasnya bersifas bakteridal, terutama digunakan untuk infeksi bakteri gram positif.
Mekanisme kerja : dengan cara mengikat secara ireversibel gugus SH enzim etol-
piruvil transferasa yang mengkatalisir reaksi antara UDP-asetilglukosemin dengan
fosfoenolfiruvat membentuk asam uridindifosfo-N-asetilmuramat

11
Fosfomisin tidak diberikan secara oral karena dapat mengiritasi lambung, sehingga
pemberian nya dilakukan secara intravena. Waktu paro plasma ± 2 jam setelah
pemberian IV. Toksisitas senyawa relatif rendah.

12
BAB III

PEMBAHASAN

2. ANTIBIOTIK

2.1 Pengertian

Antibiotic berasal dari kata anti: lawan dan bios: mahluk hidup. Jadi antibiotik
adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup,
termasuk turunan dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik dan dalam
kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan suatu
spesies atau mikroorganisme.

2.2 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Spektrum Aktivitasnya

1. Antibiotik spektrum luas, yaitu antibiotik yang berefek pada bakteri gram
positif dan gram negatif, contoh: golongan amfenikol, tertrasiklin,
makrolida, aminoglikosida

2. Antibiotik Spektrum sempit, yaitu antibiotik yang hanya berefek pada gram
positif atau gram negatif, contoh : penisilin

2.3 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Daya Kerjanya

1. Bakteriosida

sifat antibiotik yang dapat membunuh bakteri, bersifat menetap


(irreversible), Contoh: sulfonamid, penisilin, golongan aminoglikosida, dll

2. Bakteriostatik

Adalah sifat antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan antibiotik,


bersifat sementara (reversibel), contoh: kloramfenikol,
eritomisin,trimetoprim, tetrasiklin, clindamisin, dll.

13
2.4 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Tempat Kerjanya
1. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel.
Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid,
trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat tersebut
menghasilkan efek bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat
sintesis enzim dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau
sulfon membentuk analog asam folat yang non fungsional.

2. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel

Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat


sintesis dinding sel yang paling dini, diikuti berturut-turut oleh basitrasin,
vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat
reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam rangkaian tersebut.

3. Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel.

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien,
dan antibiotik kemoterapetik. Polimiksin merusak membran sel setelah
bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba, polien
bereaksi dengan struktur sterol pada membran sel fagus sehingga
mempengaruhi permeabilitas selektif membran.

4. Antibiotik yang menghambat sintesis protein.

Beberapa dari antibiotik seperti itu, tetapi mekanismenya berbeda,


tetrasiklin mengganggu fungsi tRNA dan aminoglikosid mengganggu
fungsi mRNA; kloramfenikol menghambat peptydil transferase;
lincomysin bersama clindamisin mengganggu translokasi.

5. Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.

14
Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda dengan mekanismenya;
metronidazol dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan quinolon
menghambat DNA gyrase, rifampisin menghambat RNA polymerase,

sulfonamid dan trimetroprim menghambat sintesis asam folat.


2.5 Penggolongan Antibiotika
A. Antibiotika Beta Laktam
B. Turunan Amfenikol
C. Turunan Tetrasiklin
D. Turunan Aminoglikosida
E. Turunan Makrolida
F. Turunan Polipeptida
G. Turunan Linkosamida
H. Turunan Polien
I. Turunan Ansamisin
J. Turunan Antrasikli
K. Fosfomisin

15
A. Antibiotika Beta Laktam
1. Turunan Penisilin
2. Turunan Sefalosporin
a. Sefalosporin klasik
b. Pra- sefalosporin
c. Sefamisin
d. Oksasefem
3. Turunan Beta laktam Nonklasik
a. Turuna asam amidinopenisilat
b. Turunan asam penisilat
c. Karbapenem
d. Oksapenem
e. Turunan beta laktam monosiklik

Mekanisme kerja antibiotik golongan beta lactam

Yaitu merusak membran sel bakteri, dengan cara menghambat enzim


transpeptidase;

a. Kerja enzim transpeptidase yang mengktalis biosintesis primer


melintang dari dinding sel. Gugus ujung D-alanil-D-alanin mengikat

enzim transpeptidase sehingga mencegan pembentukan dinding sel.

b. Serangan nukleofi gugus hidroksil serin enzim transpptidase terhadap


karbonil cincin betalaktam. Cincin betalaktam bermuatan positif,

16
sehingga terjadi hambatan biosintesis pada peptidoglikan, dan
dinding sel menjadi pecah/ lisis sehingga bakteri mati.

1. Turunan Penisilin

• Penisilin pertama kali di kultur dari jamur Penicillium notatum dan


P. chrysogenum oleh dr. Alexander Fleming

• Hasil isolasi asam 6-aminopenisilanat dari P. chrysogenum


digunakan sebagai bahan dasar sintetik penisilin dengan cara asilasi
gugus 6-amin dengan asam karboksilat, asil klorida atau asam
anhidrat.

• Mekanismenya sebagai berikut: Ikatan karbonamid pada rantai


samping penisilin dapat dipecah oleh enzim amidase menghasilkan
6-aminopenisilanat (6-APA) yant tidak aktif

Hubungan Struktur Aktivitas Turunan Penisilin

17
• Penisilin yang tahan asam, karena ada gugus penarikan elektron , misal
gugus fenoksi yang mencegah penisilin menjadi asam penilat. Contoh:
Penisilin V, Fenetisilin, dan Propisilin K.

• Penisilin yang tahan terhadap beta laktamase, misalnya penambahan gugus


halogen atau metoksi yang dapat mempengaruhi enzim beta laktamase,
sehingga aktivitas enzimatik hilang. Contoh: Temosilin, Azidosilin, dan
Metisilin Na

• Penisilin dengan spektrum luas, yaitu karena gugus hidrofil, seperti NH2
pada rantai samping sehingga penembusan obat melalui membran terluar
bekteri menjadi lebih besar

• Penisilin yang aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif disebabkan
adanya gugus asidik pada rantai samping, seperti COOH, -NHCO-

• Penisilin sebagai pra obat

18
Hal hal yang mempengaruhi stabilitas penisilin

• Asam lambung, dapat menghidrolisis rantai samping amida dan membuka


cincin beta laktam sehingga penisilin tidak aktif.

• Enzim penisilinase, yang terdiri dari betalaktamase dan amidase. Beta


laktamase dapat membuka cincin beta laktam sehingga tidak aktif, sedangkan
amidase dapat merusak gugus asil menjadi 6-APA yang aktivitas antibakterinya
rendah.

Bentuk Kombinasi Turunan Penisilin

• Clavamox (Kombinasi amoksisilin dan asam klavunamat)

19
Indikasi: Pengobatan jangka pendek infeksi saluran pernafasan bagian atas
& bawah, infeksi saluran kemih, sinusitis, infeksi kulit, otitis media (radang
rongga gendang telinga).

Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap Penisilin. Mononukleosis


infeksiosa.
Perhatian: Gangguan ginjal & hati. Superinfeksi. /Interaksi obat / :
Probenesid,Allopurinol.

Efek Samping: Reaksi pada saluran pencernaan & reaksi hipersensitivitas.


Hepatitis & sakit kuning kolestatik yang bersifat sementara, Rasa tidak
enak pada perut, sakit kepala, pusing, vaginitis, kandidiasis.
Indeks Keamanan Pada wanita Hamil:

*B*: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada


janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba
tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan)
dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada
wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trisemester
selanjutnya).
Dosis:
Dewasa & anak berusia lebih dari 12 tahun atau dengan berat badan lebih
dari 40 kg : - infeksi ringan-sedang : 250 mg tiap 8 jam. - infeksi berat :
500 mg tiap 8 jam. Anak berusia kurang dari 12 tahun: 25-50 mg/kg berat
badan/hari tergantung pada beratnya infeksi. Infeksi berat : dosis bisa
ditingkatkan.

20
21
Contoh Obat Golongan Penisilin
• Benzil Penisilin (Penisilin G)
Indikasi: infeksi tenggorokan, otitis media, endokarditis, penyakit
meningokokus, pnemonia, selulitis, antraks, profilaksis amputasi pada lengan
atau kaki; lihat juga keterangan di atas.
Peringatan: riwayat alergi, hasil tes glukosa urin positif palsu, gangguan fungsi
ginjal.

22
Kontraindikasi: hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.
Efek Samping: reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
anafilaksis, serum sickness-like reaction; jarang, toksisitas sistem saraf pusat
termasuk konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal berat),
nefritis interstisial, anemia hemolitik, leukopenia, trombositopenia dan
gangguan pembekuan darah; juga dilaporkan diare (termasuk kolitis karena
antibiotik).
Dosis: injeksi intramuskular atau intravena lambat atau infus, 2,4-4,8 g sehari
dalam 4 dosis terbagi, pada infeksi yang lebih berat dapat ditingkatkan jika
perlu (dosis tunggal di atas 1,2 g injeksi intravena saja; lihat keterangan di
bawah. BAYI PREMATUR dan NEONATAL di bawah 1 minggu, 50 mg/kg
bb dalam 2 dosis terbagi; BAYI 1-4 minggu: 75 mg/kg bb/hari, dalam 3 dosis
terbagi; ANAK 1 bulan-12 tahun: 100 mg/kg bb/hari dalam 4 dosis terbagi

• Fenoksimetilpenisilin (Penisilin V)
Indikasi:infeksi pada mulut, tonsilitis, otitis media, erysipelas, selulitis, demam
rematik, profilaksis infeksi pneumokokus
Peringatan: riwayat alergi, hasil tes glukosa urin positif palsu, gangguan fungsi
ginjal.
Kontraindikasi: hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.
Efek Samping: reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
anafilaksis, serum sickness-like reaction; jarang, toksisitas sistem saraf pusat
termasuk konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal berat),
nefritis interstisial, anemia hemolitik, leukopenia, trombositopenia dan
gangguan pembekuan darah; juga dilaporkan diare (termasuk kolitis karena
antibiotik).
Dosis: 500 mg tiap 6 jam, dapat ditingkatkan hingga 1 g tiap 6 jam pada infeksi
berat. ANAK sampai 1 tahun 62,5 mg, tiap 6 jam dapat ditingkatkan hingga
12,5 mg/kg bb tiap 6 jam pada infeksi berat. ANAK 1-5 tahun: 125 mg, tiap 6
jam dapat ditingkatkan hingga 12,5 mg/kg bb tiap 6 jam pada infeksi berat.

23
ANAK 6-12 tahun: 250 mg tiap 6 jam dapat ditingkatkan hingga 12,5 mg/kg
bb tiap 6 jam pada infeksi berat.
• Flukoksasilin
Indikasi: infeksi karena stafilokokus penghasil penisilinase, termasuk otitis
eksterna; terapi tambahan pada pneumonia, impetigo, selulitis, endokarditis
Peringatan: gangguan hati; risiko kernikterus pada jaundice neonatal jika
diberikan dosis tinggi secara parenteral. Anjuran terkait dengan hepatic
disorders: Pemberian untuk waktu yang lebih dari 2 minggu dan peningkatan
usia merupakan faktor resiko. Perlu diingat hal-hal sebagai berikut:
Flukloksasilin tidak boleh digunakan pada pasien yang memiliki riwayat
disfungsi hati terkait dengan flukloksasilin. Flukloklasilin sebaiknya digunakan
dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati. Perhatian khusus sebaiknya
dibuat terhadap reaksi hipersensitivitas antibakteri beta-laktam.
Efek Samping: gangguan saluran cerna; sangat jarang, hepatitis dan kolestatik
jaundice.
Dosis: oral: 250-500 mg tiap 6 jam diberikan sekurang-kurangnya 30 menit
sebelum makan; ANAK di bawah 2 tahun, seperempat dosis dewasa; 2–10
tahun, setengah dosis dewasa; Injeksi intramuskular: 250 - 500 mg tiap 6 jam;
ANAK di bawah 2 tahun, ¼ dosis dewasa; 2–10 tahun, ½ dosis dewasa. Injeksi
intravena secara lambat atau infus: 0,25-2 g tiap 6 jam; ANAK di bawah 2
tahun, ¼ dosis dewasa; 2–10 tahun, ½ dosis dewasa; Endokarditis (dalam
kombinasi dengan antibakteri lain), berat badan kurang dari 85 kg, 8 g sehari
dalam 4 dosis terbagi; berat badan lebih dari 85 kg, 12 g sehari dalam 6 dosis
terbagi. Osteomielitis, hingga 8 g sehari dalam 3-4 dosis terbagi.
• Ampisilin
Indikasi: infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, infeksi pada mulut (lihat
keterangan di atas), bronkitis, uncomplicated community- acquired pneumonia,
infeksi Haemophillus influenza, salmonellosis invasif; listerial meningitis.
Peringatan: riwayat alergi, gangguan ginjal, ruam eritematous umumnya pada
glandular fever, infeksi sitomegalovirus, dan leukemia limfositik akut atau

24
kronik (lihat keterangan di atas). Pemakaian dosis tinggi atau jangka lama dapat
menimbulkan superinfeksi terutama pada saluran pencernaan. Jangan diberikan
pada bayi baru lahir dan ibu yang hipersensitif terhadap penisilin. Pada
penderita payah ginjal, takaran harus dikurangi. Keamanan pemakaian pada
wanita hamil belum diketahui dengan pasti. Hati-hati kemungkinan terjadi syok
anafilaktik.
Kontraindikasi: hipersensitivitas terhadap penisilin.
Efek Samping: mual, muntah, diare; ruam (hentikan penggunaan), jarang
terjadi kolitis karena antibiotik; Dosis: oral: 0,25-1 gram tiap 6 jam, diberikan
30 menit sebelum makan. ANAK di bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa. Infeksi
saluran kemih, 500 mg tiap 8 jam; ANAK di bawah 10 tahun, setengah dosis
dewasa. Injeksi intramuskular atau injeksi intravena atau infus, 500 mg setiap
4-6 jam; ANAK di bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa; Endokarditis (dalam
kombinasi dengan antibiotik lain jika diperlukan), infus intravena, 2 g setiap 6
jam, ditingkatkan hingga 2 g setiap 4 jam, dalam endokarditis enterokokus atau
jika ampisilin digunakan tunggal; Listerial meningitis (dalam kombinasi
dengan antibiotik lain), infus intravena, 2 g setiap 4 jam selama 10–14 hari;
NEONATAL 50 mg/kg bb setiap 6 jam; BAYI 1-3 bulan, 50-100 mg/kg bb
setiap 6 jam; ANAK 3 bulan – 12 tahun, 100 mg/kg bb setiap 6 jam (maksimal
12 g sehari).
• Amoksisilin
Indikasi: lihat ampisilin; juga untuk profilaksis endokarditis; terapi tambahan
pada listerial meningitis (lihat Tabel 5.1), eradikasi Helicobacter pylori
Peringatan: lihat ampisilin; mempertahankan hidrasi yang tepat pada
pemberian dosis tinggi (terutama selama terapi parenteral).
Efek Samping: lihat ampisilin.
Dosis: oral: 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat; ANAK
hingga 10 tahun: 125 - 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat.

25
2. Turunan Sefalosporin

• Sefalosporin didapatkan dari isolasi ekstrak jamur Cephalosporin acremonium,


banyak senyawa semisintetik turunan sefalosporin di dapatkan sebagai hasil
reaksi antara asam 7-aminosefasporinat (7-ACA).

Hubungan struktur dan aktivitas

• Pada umunya turunan sefalosporin berbeda pada gugus gugus yang terikat pada
posisi 7 atau 3 dari cincin sefem, modifikasi pada c-3 untuk mendapatkan sifat
kimia, c-7 untuk mengubah spektrum aktivitas.

• Adanya gugus pendorong elektron pada posisi 3 meningkatkan resonansi


enamin sehingga kereaktifan pada cincin beta laktam meningkat

• Aktivitas biologis bergantung pada rantai samping yang terikat pada posisi 7,
subsitusi gugus metoksi seperti sefamisin, meningkatkan ketahanan terhadap
aktivitas enzim betlaktam

• Pergantian isosterik dari atom S pada cincin dihidrotiazin dengan atom O


menghasilkan oksasefem dengan daya antibakteri dengan sperktrum luas

Penggolongan sefalosporin berdasarkan sistem generasi:

• Sefalosporin generasi pertama: diperkenalkan pada pengobatan pada tahun


1960-1970. Terutama aktif terhadap kuman Gram positif. Golongan ini efektif
terhadap sebagian besar Staphylococcus aureus dan streptokokus termasuk

26
Streptococcus pyogenes, Streptococcus viridans dan Streptococcus
pneumoniae. Bakteri gram positif yang juga sensitif adalah Streptococcus
anaerob, Clostridium perfringens, Listeria monocytogenes dan
Corynebacterium diphteria. Kuman yang resisten antara lain MRSA,
Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus faecalis. Sefaleksin, sefradin,
sefadroksil, aktif pada pemberian per oral. Obat ini diindikasikan untuk infeksi
saluran kemih yang tidak memberikan respons terhadap obat lain atau yang
terjadi selama hamil, infeksi saluran napas, sinusitis, infeksi kulit dan jaringan
lunak.

27
• Sefalosporin generasi kedua: Turunan ini diperkenalkan untuk penggunaan
klinik pada akhir tahun 1970. Spektrum antibakterinya hampir sama dengan
generasi pertama tetapi secara umum turunan ini tahan terhadap beta laktamase,
waktu eliminasinya relatif sama dengan generasi pertama tetapi kemampuan
menembus cairan serebrospinal lebih baik

• Sefalosporin generasi ke tiga: Turunan ini dipekernalkan untuk penggunaan


klinik pada tahun 1980, spektrum antibakterinya lebih luas dibanding generasi
sebelumnya. Secara umum turunan ini lebih aktif terhadan bakteri gram negatif
yang telah resisten, lebih tahan terhadap betalaktamase, tetapi kurang aktif
terhadan bakteri gram positif.

28
• Sefalosporin generasi ke empat: Turunan ini diperkenalkan pada pengunaan
klinik pada tahun 1995. Spektrum antibakterinya lebih luas dibanding dengan
generasi sebelumnya. Turunan ini aktif terhadan bakteri gram positif dan gram
negatif yang telah resisten, lebih tahan terhadap beta laktamase, dan aktif
terhadap Pseudomonas aeruginosa.

29
Sefalosporin berdasarkan struktur kimia

a. Sefalosporin klasik, yaitu gugus gugus penting yang terikat pada posisi c-
3 dan c-7.

b. Pra-sefalosporin, yaitu bahan baku dalam pembentukan sefalosporin

c. Sefamisin, mengandung gugus 7 alfa metoksi yang dapat meningkatkan


ketahanan senyawa terhadap enzim betakltamase

d. Oksasefem, mengandung atom O sebagai ganti atom S pada cincin


dihidrotiazin sehingga meningkatkan aktifitas antibakteri dengan cara
meningkatkan kelarutan senyawa dalam air sehingga lebih cepat
menembus membran bakteri.

Sifat umum

FARMAKOKINETIK

 Dari sifat farmakokinetiknya, dibedakan dalam 2 golongan :


- Sefaleksin, sefradin, sefaklor dan sefadroksil yang dapat
diberikan per oral karena diabsopsi melalui saluran cerna.
- Sefalosporiin lainnya hanya dapat diberikan parenteral.
Sefalotin dan sefapirin umumnya diberikan secara iv karena

30
menyebabkan. iritasi local dan nyeri pada pemberian im. Yang
lain secara im atau iv.
 Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh melalui
ginjal, dengan proses sekresi tubuli, kecuali sefoperazon yang
sebagian besar diekskresi melalui empedu.
 Probenesid mengurangi ekskresi sefalosporin, kecuali
moksalaktam dan beberapa lainnya. Sefalotin, sefapirin dan
sefotaksim mengalami deasetilasi: metabolit yang aktivitas
antimikrobanya lebih rendah dieksresi melalui ginjal.

31
Data farmakokinetik sefalosporin

Sefalosporin berdasarkan struktur kimia

a. Sefalosporin klasik, yaitu gugus gugus penting yang terikat pada posisi c-3 dan
c-7.

b. Pra-sefalosporin, yaitu bahan baku dalam pembentukan sefalosporin

c. Sefamisin, mengandung gugus 7 alfa metoksi yang dapat meningkatkan


ketahanan senyawa terhadap enzim betakltamase

d. Oksasefem, mengandung atom O sebagai ganti atom S pada cincin dihidrotiazin


sehingga meningkatkan aktifitas antibakteri dengan cara meningkatkan
kelarutan senyawa dalam air sehingga lebih cepat menembus membra bakteri.

32
EFEK SAMPING

 Reaksi mendadak yaitu anafilaksis dengan spasme bronkus dan urtikaria dapat
terjadi. Reaksi silang umumnya terjadi pada penderita dengan alergi penisilin
berat, sedangkan pada alergi penisilin ringan atau sedang kemungkinannya
kecil.
 Sefalosporin merupakan zat yang nefrotoksik, meskipun jauh jkurang toksik
dibandingkan dengan aminoglikosida dan polimiksin. Kombinasi sefalosporin
dengan gentamisin atau tobramisin mempermudah terjadinya nefrotoksisitas.
 Diare dapat timbul terutama pada pemberian sefoperazon, mungkin karena
ekskresinya terutama melalui empedu sehingga mengganggu flora normal usus.

3. Turunan Beta Laktam Nonklasik


Merupakan antibiotika yang mengandung cincin beta laktam, yang kadang
kadang bergabung dengan cincin lainnya yang terdiri dari 4-5 atom.
 Turunan Asam Amidinopenisilanat
Aktivitas rendah terhadap bakteri gram positif dan Pseudomonas sp. Rendah,
tetapi cukup efektif pada bakteri gram negatif, termasuk Enterobakteriaceae

33
1. Amdinosilin, senyawa yang tidak tahan terhadap asam dan tidak diabsorbsi di
saluran cerna, sehingga diberikan secara iv/ im. Dosis: 10mg/kg bb setiap 4 jam
untuk infeksi berat.
2. Bakmesilinam dan pivemesilinam adalah ester ganda amdinosilin, mudah
diabsorbsi saluran cerna. Dosis oral: 400mg 3 sampa 4 kali sehari
 Turunan Asam penisilinat
Berasal dari modifikasi 6-APA dan digunakan sebagai penghambat enzim
betalaktamase, biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi:
1. Sulbaktam, obat ini diberikan secara parenteral karena absorbsi pada
saluran cerna rendah.
2. Pivsulbaktam, dapat diberikan per oral.

 Karbapenem
Atom S pada cincin tiazolin diganti dengan ikatan gugus rangkap dua
dan gugus metilen sehingga menunjang pengikatan dengan enzim
sehingga aktivitas antibakteri meningkat.

34
Turunan Beta Laktam Monosiklik
• Azetreonam
Indikasi: infeksi Gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa,
Hemophilus influenzae dan Neisseria. meningitides.
Peringatan: alergi terhadap antibiotik beta-laktam, ganguan fungsi hati,
pada gangguan fungsi ginjal dosis perlu disesuaikan.
Kontraindikasi: alergi terhadap aztreonam, wanita hamil atau
menyusui.
Efek Samping: mual, muntah, diare, kram abdomen, gangguan
pengecapan, ulkus mulut, ikterus dan hepatitis, gangguan darah
(trombositopenia dan netropenia), urtikaria dan ruam.
Dosis: injeksi intramuskuler atau injeksi intravena selama 3-5 menit
atau infus intravena. 1 g tiap 8 jam atau 2 g tiap 12 jam untuk infeksi
berat. Dosis lebih dari 1g hanya diberikan secara intravena. BAYI di
atas 1 minggu: 30 mg/kg bb, intravena tiap 8 jam. ANAK di atas 2 tahun
atau infeksi berat, 50 mg/kg bb tiap 6-8 jam, maksimum 8 g per

35
hari.Infeksi saluran kemih, 0,5-1 g tiap 8-12 jam. Gonore dan sistitis, 1
g dosis tunggal.
• Doripenem
Indikasi: Infeksi pada dewasa: pneumonia nosokomial/termasuk
pneumonia dengan ventilator; infeksi intra abdominal dengan
komplikasi.
Peringatan: Hipersensitif terhadap antibakteri golongan beta laktam,
kehamilan, menyusui, perlu penyesuaian dosis untuk pasien gagal
ginjal.
Interaksi: Penggunaan bersama asam valproat harus disertai monitoring
konsentrasi asam valproat dalam serum. Tidak dianjurkan penggunaan
bersama Probenesid karena bisa terjadi penurunan klirens ginjal
Doripenem.
Kontraindikasi: hipersensitif.
Efek Samping: sakit kepala, diare, mual, pruritus, infeksi vulvomikosis,
kenaikan enzim hati, ruam, flebitis.
Dosis: Pneumonia nosokomial termasuk penumonia dengan ventilator:
500 mg tiap 8 jam diberikan dengan infus intravena selama 1 atau 4 jam.
Komplikasi infeksi intraabdominal, 500 mg tiap 8 jam diberikan dengan
infus intravena selama 1 jam. Lama pengobatan biasanya 5-14 hari
tergantung pada tempat dan beratnya infeksi serta respons klinis pasien.
Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 18 tahun karena data keamanan
dan efektivitas belum mencukupi. Tidak dianjurkan untuk pasien yang
sedang menjalani hemodialisa.
• Meropenem
Indikasi: infeksi gram positif dan Gram negatif, aerobik dan anaerobik.
Peringatan: hipersensitivitas terhadap penisilin, sefalosporin dan
antibiotik beta-laktam lainnya. Gangguan fungsi hati, fungsi ginjal,
wanita hamil atau menyusui.
Kontraindikasi: hipersensitif terhadap meropenem.

36
Efek Samping: mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan uji fungsi
hati, trombositopenia, uji Coombs positif, eosinofilia, netropenia, sakit
kepala, parestesia, reaksi lokal.
Dosis: injeksi intravena, 500 mg tiap 8 jam. Dapat ditingkatkan dua kali
lipat pada infeksi nosokomial (pneumonia, peritonitis, septikemia dan
infeksi pada pasien dengan netropenia). ANAK 3 bulan sampai 12
tahun, 10-20 mg/kg bb tiap 8 jam. Berat badan lebih dari 50 kg diberikan
dosis DEWASA.Meningitis, 2 g tiap 8 jam. ANAK 40 mg/kg bb tiap 8
jam.Infeksi saluran napas bawah kronik pada fibrosis kistik, 2 g tiap 8
jam. ANAK 4-12 tahun, 25-40 mg/kg bb tiap 8 jam

37
BAB VI
KESIMPULAN
1) Pada antibiotik golongan Makrolida dihasilkan oleh Streptomyces sp. Contoh
Obatnya adalah Erithromisin Stearate, Oleandomisin Fosfat, Spiramisin,
Roksitromisin, Azitromisin.
2) Dan golongan polipeptida berasal dari Bacillus sp. Dan Streptomyces sp. Contoh
Obatnya adalah Tirotrisin, Basitrasin, Polimiksin B Sulfat dan Kolistin.
3) Sedangkan pada golongan Linkosamida diisolasi dari Bacillus Lincozensis. Contoh
obatnya adalah Linkomisin HCl dan Klindamisin HCl.
4) Pada golongan Polien, Ansamisin, Antrasiklin dan Fosfomisin dihasilkan oleh
Streptomyces sp.

38
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat-obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine disebut


diuretic. Obat-obat ini merupakan penghambat transport ion yang menurunkan
reabsorpsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda. Akibatnya, Na+ dan ion lain
Cl- memasuki urine dalam jumlah banyak dibandingkan dengan keadaan normal
bersama-sama air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan
keseimbangan osmotic. Jadi, diuretik meningkatkan volume urine dan sering
mengubah pH-nya serta komposisi ion dan didala urine dan darah.
Pemakaian diuretik sebagai terapi edema telah dimulai sejak abad ke-16 HgCl2
diperkenalkan oleh Paracelcus sebagai diuretic. 1930 Swartz menemukan bahwa
sulfanilamide sebagai antimicrobial dapat juga digunakan untuk mengobati edema
pada pasien payah jantung, yaitu dengan meningkatkan ekskresi dari Na+. Diuretik
modern semakin berkembangsejak ditemukannya efek samping dari obat-obat anti
mikroba yang mengakibatkan perubahan komposisi dan output urine. Terkecuali
spironolakton, diuretic kebanyakan berkembang secara empiris tanpa mengetahui
mekanisme system transport spesifik di nephron. Diuretic adalah obat yang terbanyak
diresepkan di USA, cukup efektif, namun memiliki efek samping yang banyak pula.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian diuretika?
2. Bagaimana penggolongan diuretik?
3. Bagaimana mekanisme kerja macam-macam diuretik?
4. Apa saja contoh obat yang termasuk kedalam diuretik?

1.3 Tujuan
Agar mahasiswa mampu memahami tentang diuretika, penggolongan diuretika,
mekanisme kerja diuretika dan nama obat yang termasuk kedalam diuretika.

39
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Diuretika adalah senyawa yang dapat meningkatkan volume urine. Diuretika bekerja
terutama dengan meningktakan ekresi ion-ion Na+, Cl- atau HCO3- yang merupakan
elektrolit utama dalam cairan luar sel. Diuretika juga merupakan absorpsi kembali
elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan proses pengangkutan aktif. Diuretika
terutama digunakan untuk mengurangi sembab (edema) yang disebabkan oleh
meningkatnya jumlah cairan luar sel, pada keadaan yang berhubungan dengan
kegagalan jantung kongestif, kegagalan ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keracunan
kehamilan,glaukoma, hiperkalsemi, diabetes insipidus, dan sembab yang disebabkan
oleh penggunaan jangka panjang kortikosteroid atau estrogen. Diuretika juga
digunakan sebagai penunjang pada pengobatan hipertensi.
Berdasarkan efek yang dihasilkan diuretika dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Diuretika yang hanya meningkatkan ekskresi air dan tidak mempengaruhi kadar
elektrolit tubuh
2. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ (Natriuretik)
3. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl- (Saluretik)
Urin di ekresikan oleh ginjal. Unit fungsional dari ginjal adalah nefron, yang terdiri
dari glumerulus, tubulus proksimalis dan distalis, loop of hanle dan saluran pengumpul.
Proses pengangkutan elektrolit dalam nefron yang dipengaruhi oleh diuretika, diuretika
mempengaruhi proses fisiologis dalam pengangkutan elektrolit yaitu pada filtrasi
glomerulus, absorpsi kembali ditubulus atau loop of hanle dan sekresi di tubulus

40
2.2 Penggolongan Diuretika
Secara umum Diuretika dibagi menjadi 7 kelompok yaitu Diuretika Osmotik, Diuretika
Pembentuk Asam, Diuretika Merkuri Organik, Diuretika Penghambat Karbonik
Anhidrase, Diuretika Turunan Tiazida, Diuretika Hemat Kalium, Diuretika loop

1. Diuretika Osmotik

Diuretika osmotik adalah senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi urin dengan
mekanisme kerja berdasarkan perbedaan tekanan osmosa. Diuretika osmotik adalah
natriuretik, dapat meningkatkan ekskresi natrium dan air. Efek samping : gangguan
keseimbangan elektrolit, dehidrasi, mata kabur. Nyeri kepala dan takikardia.
contoh: Manitol, glukosa, sukrosa, dan urea.

41
2. Diuretika Pembentuk Asam
Diuretika pembentuk asam adalah senyawa anorganik yang dapat menyebabkan
urin bersifat asam dan mempunyai efek diuretik. Senyawa golongan ini efek
diuretiknya lemah dan menimbulkan asidosis hiperkloremik sistemik. Efek
samping yang ditimbulkan antara lain adalah iritasi lambung, penurunan nafsu
makan, mual,asidosis dan ketidak normalan fungsi ginjal.
Contoh: amonium klorida, amonium nitrat dan kalsium klorida.

Mekanisme kerja
Kelebihan ion Cl – dalam urin akan mengikat ion Na+ membentuk garam NaCl dan
kemudian diekresikan bersama-sama dengan sejumlah ekivalen air dan terjadi
diuresis.
Penggunaan amonium klorida dalam sediaan tunggal kurang efektif karena setelah
1-2 hari, tubuh ( ginjal ) mengadakan kompensasi dengan memproduksi amonia,
yang akan menetralkan kelebihan asam, membentuk NH4+, yang segera
berinteraksi dengan ion Cl- membentuk NH4Cl dan kemudian diekresikan,
sehingga efek diuretiknya akan menurun secara drastis. Oleh karena itu di klinik
biasanya digunakan bersama-sama dengan diuretika lain, seperti turunan merkuri
organik. Dosis oral untuk diuretika : 1-1,5 g 4 dd.
NH4Cl lebih sering digunakan sebagai ekspektoran dalam campuran obat batuk,
karena dapat meningkatkan sekresi cairan saluran nafas sehingga mudah
dikeluarkan.

3. Diuretika Merkuri Organik


Diuretika merkuri organik adalah saluretik karena dapat menghambat absorpsi
kembali ion-ion Na+, Cl- dan Air. Absorpsi pada saluran cerna rendah dan
menimbulkan iritasi lambung sehingga pada umumnya diberikan secara parenteral.
Keuntungan:
1. Tidak menimbulkan hipokalemi
2. Tidak mengubah keseimbangan elektrolit

42
3. Tidak mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan asam urat.
Efek iritasi setempat besar dan menimbulkan nekrosis jaringan. Diuretika merkuri
organik menimbulkan reaksi sistemik yg berat sehingga sekarang jarang digunakan
sebagai obat diuretika.
Mekanisme kerja
Diuretika merkuri organik mengandung ion merkuri, yang dapat berinteraksi
dengan gugus SH enzim ginjal (Na, K-dependent ATP-ase) yang berperan pada
produksi energi yang diperlukan untuk absorpsi kembali elektrolit dalam membran
tubulus, sehingga enzim menjadi tidak aktif. Akibatnya absorpsi kembali ion-ion
Na+ dan Cl- di tubulus menurun, kemudian dikeluarkan bersama-sama dengan
sejumlah ekivalen air sehingga terjadi efek diuresis.

4. Diuretika Penghambat Karbonik Anhidrase


Senyawa penghambat karbonik anhidrase adalah saluretik, digunakan secara luas
untuk pengobatan sembab yang ringan dan moderat, sebelum diketemukan
diuretika turunan tiazida.
Efek samping: gangguan saluran cerna, menurunnya nafsu makan, parestesia,
asidosis sistemik, alkalinisasi urin dan hipokalemi.

Mekanisme kerja
Karbonik anhidrase adalah metaloenzim yang berperan dalam pembentukan asam
karbonat, sebagai hasil reaksi antara air dan gas asa arang. Asam karbonat yg
terbentuk kemudian terdisosiasi menjadi H+ dan HCO3- .
Ion H+ inilah yang
digunakan sebagai pengganti ion-ion Na+ dan K+ yg diabsorpsi kembali dalam
tubulus renalis.

Hubungan Struktur Aktivitas


1. Yang berperan terhadap aktivitas diuretika penghambat karbonik anhidrase
adalah gugus sulfamil bebas.

43
2. Pemasukan gugus metil pada asetazolamid dapat meningkatkan aktivitas obat
dan memperpanjang masa kerja obat.
Contoh : asetazolamid(diamox,glaupak), metazolamid,
Etokzolamid dan diklorfenamid

5. Diuretika Turunan Tiazida


Diuretika turunan tiazida adalah saluretik, yang dapat menentukan absorpsi
kembali ion-ion Na+, Cl- dan air. Turunan ini juga dapat meningkatkan eksresi ion-
ion K+, Mg++ dan HCO3- dan menurunkan eksresi asam urat.
Diuretika turunan tiazida terutama digunakan untuk pengobatan sembab pada
keadaan dekompensasi jantung dan sebagai penunjang pada pengobatan hipertensi
karena dapat mengurangi volume darah dan secara langsung menyebabkan
relaksasi otot polos arteriola.

Turunan ini sering di kombinasi dengan obat-obat hipertensi, seperti reserpin dan
hidralazin, untuk pengobatan hipertensi karena menimbulkan efek potensiasi.
Efek samping : hipokalemi, gangguan keseimbangan elektrolit dan menimbulkan
penyakit pirai yang akut

Mekanisme kerja
Diuretika turunan tiazida mengandung gugus sulfamil sehingga dapat menghambat
enzim karbonik anhidrase. Juga diketahui bahwa efek saluretiknya terjadi karena
adanya pemblokan proses pengangkutan aktif ion klorida dan absorpsi kembali ion
yang menyertainya pada loop of henle, dengan mekanisme yang belum jelas,
kemungkinan karena peran dari prostaglandin. Turunan tiazid juga menghambat
enzim karbonik anhidrase ditubulus distalis tetapi efeknya relatif lemah.
Contoh : hidroklortiazid (HCT), bendroflumetiazid, xipamid, indapamid,
klopamid, klortalidon

44
6. Diuretika Hemat Kalium
Diuretika Hemat Kalium adalah senyawa yang mempunyai aktivitas natriuretik
ringan dan dapat menurunkan sekresi ion H+ dan K+. Senyawa tersebut bekerja
pada tubulus distalis dengan cara memblok penukaran ion Na+ dengan ion H+ dan
K+,menyebabkan retensi ion K+ dan meningkatkan sekresi ion Na+ dan air.
Aktivitas diuretiknya relatif lemah, biasanya diberikan bersama-sama dengan
diuretika turunan tiazida. Kombinasi ini mengutungkan karena dapat mengurangi
sekresi ion K+ sehingga menurunkan terjadinya hipokalemi dan menimbulkan efek
aditif.
Efek samping: hiperkalemi, dapat memperberat penyakit diabet dan pirai serta
menyebabkan gangguan pada saluran cerna.

Mekanisme kerja
Diuretika hemat kalium bekerja pada saluran pengumpul, dengan mengubah
kekuatan pasif yang mengontrol pergerakan ion-ion, memblok absorpsi kembali
ion Na+ dan ekrsresi ion K+ sehingga meningkatkan ekskresi ion Na+ dan Cl-
dalam urin.

Diuretika hemat kalium dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:


1. Diuretika dengan efek langsung
Contoh : amilorid dan triamteren
2. Antagonis Aldosteron
Contoh : spironolakton
Aldosteron adalah mineralokortikoid yang dikeluarkan oleh korteks adrenalis.

7. Diuretika loop
Diuretika loop merupakan senyawa saluretik yang sangat kuat, aktivitasnya jauh
lebih besar dibanding turunan tiazida dan senyawa saluretik lain. Turunan ini dapat
memblok pengangkutan aktif NaCl pada loop of henle sehingga menurunkan
absorpsi kembali NaCl dan meningkatkan ekskresi NaCl lebih dari 25%.

45
Mekanisme kerja
1. Penghambatan enzim Na+ -K+ ATP-ase
2. Penghambatan atau pemindahan siklik-AMP
3. Penghambatan glikolisis
Efek samping : hiperurisemi, hiperglikemi, hipotensi, hipokalemi, hipokloremik
alkalosis, kelainan hematologis dan dehidrasi.

Struktur kimia golongan ini bervariasi, dibagi menjadi 2 kelompok


1. Turunan Asam Fenoksiasetat

Asam etakrinat menimbulkan aktivitas diuretik karena dapat berinteraksi dengan


gugus sulfhidril enzim yang bertanggung jawab pada proses absorpsi kembali Na+
ditubulus renalis. Yang berperan pada interaksi tersebut adalah gugus a B-ikatan
rangkap tidak jenuh.
Contoh : asam etakrinat

2. Turunan Sulfamoil Benzoat

Turunan ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu

1. Turunan asam 5-sulfamil-2-aminobenzoat


contoh : furosemid dan azosemid
2. Turunan asam 5-sulfamoil-3-aminobenzoat
contoh : bumetanid dan piretanid

46
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Diuretika adalah senyawa yang dapat meningkatkan volume urine. Diuretika bekerja
terutama dengan meningktakan ekresi ion-ion Na+, Cl- atau HCO3- yang merupakan
elektrolit utama dalam cairan luar sel. Diuretika juga merupakan absorpsi kembali
elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan proses pengangkutan aktif. Diuretika
terutama digunakan untuk mengurangi sembab (edema) yang disebabkan oleh
meningkatnya jumlah cairan luar sel, pada keadaan yang berhubungan dengan
kegagalan jantung kongestif, kegagalan ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keracunan
kehamilan,glaukoma, hiperkalsemi, diabetes insipidus, dan sembab yang disebabkan
oleh penggunaan jangka panjang kortikosteroid atau estrogen.

Secara umum Diuretika dibagi menjadi 7 kelompok yaitu Diuretika Osmotik, Diuretika
Pembentuk Asam, Diuretika Merkuri Organik, Diuretika Penghambat Karbonik
Anhidrase, Diuretika Turunan Tiazida, Diuretika Hemat Kalium, Diuretika loop

47
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Mahluk hidup khususnya manusia memiliki bermacam-macam sistem jaringan


dan organ dalam tubuhnya. Sistem tersebut memiliki fungsi dan peranan serta manfaat
tertentu bagi mahluk hidup. Salah satu sistem yang ada pada mahluk hidup yaitu sistem
kardiovaskuler. Fungsi utama dari sistem kardiovaskuler adalah untuk memberi
oksigen ke setiap sel tubuh. Sistem kardivaskuler terdiri dari jantung sebagai pusat
peredaran darah, pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri. Jantung adalah
organ berongga, berotot, yang terletak di tengah toraks, dan jantung menempati rongga
antara paru-paru dan diafragma.
Sistem kardiovaskuler atau sistem sirkulasi adalah suatu sistem yang berfungsi
untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas dari cairan yang ada diseluruh tubuh.
Sistem kardiovaskuler terdiri dari dua sistem, yaitu sistem jantung dan vasa darah.
Sistem sirkulasi darah dimulai dari jantung yang berfungsi untuk mempompa darah
yang kemudian dialirkan melalui aorta dan diteruskan ke cabang – cabang pembuluh
darah. Sistem kardiovaskuler berhubungan erat dengan darah dimana masing – masing
darah memiliki tugas atau fungsi sendiri – sendiri dan saling berkaitan satu sama lain.

I.2Tujuan

 Agar mahasiswa memahami tentang pengetian, penggolongan dan mekanisme kerja


dari senyawa kardiovaskular
 Sebaai sayarat untuk dapat mengikuti Ujian Akhir Semeseter (UAS) Kimia Medisinal

I.3 Pembahasan masalah

a. Pengertian obat kardiovaskular


b. Penggolonan obat obat kardiovaskular
c. Mekanisme kerja obat obat kardiovaskular

48
BAB II

PEMBAHASAN

Obat kardiovaskular adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah atau


mengobati penyakit kardiovaskular. Obat kardiovaskular berdasarkan efek
farmakologis yaitu kardiotonik, obat antiaritmia, obat antihipertensi, obat antiangina,
vasodilator, obat antilipemik.

A. Kardiotonik
Obat yang dapat meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan menunjukkan
efek penting pada eksitabilitas, automatisitas, dan kecepatan konduksi jantung.
Ada 3 hipotesis tentang mekanisme kerja glikosida jantung
1. Mempengaruhi pergerakan ion NA dan K dalam melewati membrane
miokardial segingga sel kehilangan ion K
2. Bekerja secara langsung pada protein kontraktil, yaitu pada aktin dan myosin
dari miokardial
3. Meningkatkan kadarnion Ca dalam sel dengan melepaskan kation tersebut dari
tempat ikatannya dan meningkatkan emasukan ion melalui membrane sel.

49
Contoh obat golongan obat kardiotonik:

1. Turunan Kardenolida
a. Digitoksin , untuk pengobatan payah jantung kongestif dan takiaritmia
supraventricular. Absorpsi obat dalam sal cerna cukup baik, 90% terikat
oleh protein plasma.

Struktur senyawa digitoksin

b. Digoksin , absorpsi obat dalam sal cerna cukup baik, 20-30% terikat oleh
protein plasma dan 50-75% dieksresikan dalam bentuk tak berubah melalui
urin. Mula kerja obat cepat dengan masa kerja yang relative singkat.
c. Lanatosid C, absorpsi dalam sal cerna rendah. Digunakan untuk keadaan
darurat pada payah jantung kongestif akut.

50
hubungan struktur dan aktivitas obat
2. Perangsang β-Adrensreseptor
a. Oksifedrin, mekanisme kerja nya yaitu memperbaiki mikrosirkulasi
miokardial, fungsi ventricular kiri dan mengurangi konsumsi oksigen.

b. Amrinon laktat, vasodilator inotropic yang kuat. Pemberian jangka


panjang dapat menimbulkan efek yang sangat berat seperti gangguan sal
cerna, trombositopenia, dan lain-lain.

51
c. Sulmazol, mempunyai efek inotropic positif dan vasodilator. Efek
sampung lebih ringan.

B. Obat Aritmia

Mekanisme kerja obat aritmia yaitu dengan memodifikasi secara langsung


ataupun tidak langsung makromolekul yang mengintrol aliran ion trans membran
miokardial. Berdasarkan tipe kerja yaitu: obat berstruktur khas dan obat yang
berstruktur tidak khas. Sedangkan berdasarkan kegunaan yaitu untuk pengobatan
takiaritmia (Glikosida digitalis, disopiramid, prokainamid, lidokain, dll) dan untuk
pengobatan bradiaritmia (Atropin dan isoproterenol).

Berdasarkan tipe kerja:

1. Obat yang menstabilkan membrane, berkumpul pada daerah tertentu membrane


sel miokardial, menyebabkan peningkatkan tekanan permukaan dalam
membrane dan menghambat fungsi biologic komponen membrane normal.
a. Disopiramid fosfat : bekerja secara langsung menimbulkan depolarisasi,
membrane jantung, menekan automatisitas, menurunkan kecepatan
konduksi, dan memperpanjang periode refraktori.
b. Prokainamid HCl : bekerja secara langsung menimbulkan depolarisasi,
membrane jantung, efek anestetik.
c. Kuinidin sulfat

52
d. Lidokain HCl
2. Senyawa pemblok β adrenergic, memblok β- adrenoreseptor jantung sehingga
menghambat respons katekolamin pada miokardial.

a. Asebutolol
b. Alprenolol
c. Atenolol
d. Lopresor
e. Nadolol
3. Obat yang memperpanjang potensial kerja, menekan sinus atrial dan fungsi
atrioventrikular nodal dengan meningkatkan waktu konduksi sinoatrial dan
waktu rekoveri sinus nodal, meningkatkan periode refraktori atrial, dan
memperlambat konduksi atrioventrikular nodal.
a. Amiodaron HCl : sebagai antiangina karena dapat meningkatkan aliran
darah coroner, mengurangi konsumsi oksigen miokardial dan mengontrol
keluaran jantung.
b. Bretilium tosilat : sebagai antiaritmia karena dapat memperpanjang periode
refraktori efektif relative sehingga memperpanjang potensial kerja.

4. Antagonis kalsium selektif, memblok pengangkutan atau aliran ion kalsium


melalui membrane sel miokardial sehingga kadar kalsium dalam sel otot polos
vaskular coroner dan perifer berkurang

a. Diltiazem HCl

b. Felodipin

c. Nifedipin

d. Amlodipin

53
54
C. Obat Antihipertensi

Senyawa yang digunakan untuk pengobatan hipertensi, suatu kondisi dimana


tekanan sistol lebih besar dari 160 mm Hg atau tekanan diastol lebih besar dari 95 mm
Hg. Hipertensi terdiri dari hipertensi esensial yaitu gangguan pada etiologi saraf,
hormon, elektrolit, dinding pembuluh darah dan faktor genetik. Sedangkan hipertensi
sekunder terdiri dari hipertensi renal, hipertensi neurogenik, hipertensi endokrin dan
hipertensi kardiovaskular.

1. Senyawa penekan simpatetik


a. Senyawa dengan efek sentral, contoh klonidin HCL, uanfasin HCl, dan α-
metildopa.
b. Senyawa dengan efek sentral dan perifer, contoh serbuk rauwolfin
serpentina, reserpin dan reskinamin.
c. Senyawa pemblok transmisi saraf efektor, contoh Bretilium tosilat,
debrisokuin sulfat, dan guanetidin monosulfat.
d. Senyawa pemblok β-adrenergik, contoh Asebutolol, atenolol, metuprolol
tartrat, nadolol, oksprenolol dan pindolol.

55
e. Senyawa pemblok α-adrenergik, contoh doksazosin mesilat, prazosin HCl,
terazosin dan bunazosin HCl.
f. Senyawa penghambat monoamin oksidase, contoh pargilin HCl.
2. Senyawa penekan simpatetik
a. Vasodilator arteri, contoh Hidralazin dan dihidralazin sulfat`
b. Hidralazin dan dihidralazin sulfat, contoh Hidralazin dan dihidralazin
sulfat`
3. Antagonis angiotensin (penghambat angiotensin-converting enzyme,
penghambat ACE), contoh Kaptopril, enapril maleat, lisinopril dihidrat,
perindropril, kuinapril, benazepril dan delapril.
4. Antagonis kalsium selektif, contoh diltiazem, felodipin, nikardipin, mifedipin,
nimodipin dan verapami.
5. Diuretika, contoh hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, politiazid, klortalidon,
indapamid dan xypamid.

Beberapa mekanisme kerja obat antihipertensi yaitu bekerja pada saraf, pada
vaskular dan pada humoral.

1. Mekanisme kerja antihipertensi pada saraf


a. Senyawa dengan efek sentral yaitu merangsang pusat adrenoseptor pada
pusat vasomotor medula dan menyebabkan hambatan tonus simpatetik,
contoh klonidin HCl, guanfasin, dan α-metildopa

56
b. Senyawa dengan efek sentral dan perifer yaitu Mengosongkan katekolamin,
norepinefrin dan serotonin dari tempat penyimpanan pada saraf perifer dan
pusat simpatetik, contoh reserpin

c. Senyawa yang memblok tranmisi saraf efektor yaitu Mengosongkan


norepinefrin dari tempat penyimpanan perifer, terjadi pemblokan aktivitas
adrenergik pada adrenoreseptor buluh darah, contoh guanetidin Sulfat dan
debrisokuin sulfat.

d. Senyawa penghambat monoamin oksidase yaitu Menghambat enzim


monoamin oksidase sehingga menurunkan metabolisme katekolamin dalam
saraf dan hati, terjadi penimbunan oktopamin, suatu transmiter dengan efek
presor yang lebih rendah dibanding norepinefrin, contoh pargilin HCl.

57
2. Mekanisme kerja antihipertensi pada vaskular
a. Senyawa pemblok β-adrenergik yaitu dengan cara memblok efek ransangan
β-reseptor sehingga mengurangi daya tahan vaskular perifer, contoh
asebutolol, atenolol, metoprolol, nadolol, oksprenolol, dan pindolol.
b. Senyawa pemblok α-adrenergik yaitu dengan cara memblok efek ransangan
α-reseptor sehingga mengurangi daya tahan vaskular perifer, contoh
doksazosin mesilat, prazosin, terazosin dan bunazosin.

c. Vasodilator arteri yaitu merelaksasi otot polos arteriola sehingga terjadi


vasodilatasi buluh arteri perifer, contoh hidralazin dan minoksidil.

58
d. Vasodilator vena dan arteriola yaitu merelaksasi otot polos vena dan
arteriola sehingga terjadi vasodilatasi buluh vena dan arteri perifer, contoh
natrium nitroprusid.

e. Antagonis kalsium selektif yaitu menurunkan tonus otot polos arteriola


sehingga terjadi vasodilatasi buluh arteri perifer, contoh diltiazem,
Felodipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin dan verapamil.

3. Mekanisme kerja antihipertensi pada humoral


a. Senyawa penghambat ACE yaitu Menghambat pemecahan bradikinin
menjadi fragmen tidak aktif sehingga kadar bradikinin dalam darah
meningkat dan menyebabkan vasodilatasi, contoh kaptopril, enalapril
maleat, lisinopril dihidrat, perindopril t-butilamin, ramipril, kuinapril,
delapril HCL,benazepril, imidapril, fosinopril dan silazapril.

59
b. Senyawa antagonis reseptor AT1 angiotensin II yaitu Obat tidak bekerja
sebagai penghambat ACE dan tidak mempengaruhi kecepatan kontraksi
jantung. Obat ini bekerja sebagai antagonis reseptor AT1 angiotensin II,
memblok jalur sintesis angiotensin II, menurunkan kadar rennin,
angiotensin II dan aldosteron dalam plasma sehingga terjadi penurunan
tekanan darah, contoh losartan, ibesartan, kandesartan, dan valsartan.

D. Obat Antiangina

Senyawa yang digunakan untuk pencegahan dan pengobatan gejala angina


pektoris, suatu keadaan dengan rasa nyeri hebat di dada, yang disebabkan
ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan oksigen pada miokardial. Tipe
angina yaitu klasik yan terjadi pada waktu olahraga/emosi, ditimbulkan oleh iskemia
miokardial sementara dan varian yaitu terjadi pada waktu istirahat, disebabkan oleh
pengurangan episodik pemasokan oksigen miokardial.

1. Turunan nitrat & nitrit


Turunan nitrat dan nitrit : digunakan terutama untuk mencegah dan
meringankan serangan angina. Sebagai vasodilator umum turunan ini dapat
menurunkan kebutuhan oksigen miokardial dan menunjukkan efek pada
peredaran sistemik.
Mekanisme kerja : bekerja terutama pada buluh vena kapasitansi. Mula-mula
turunan ini membentuk radikal bebas nitrit oksida reaktif, kemudian
berinteraksi dan mereduksi gugus SH enzim guanilat siklase sehingga enzim
menjadi aktif.
2. Senyawa pemblok β – adrenergik
• Yang berhubungan dengan aktivitas terhadap jantung adalah reseptor β1
yang dapat menurunkan kecepatan jantung,kontraksi miokardial, dan
tekanan darah sehingga kebutuhan oksigen biokardial berkurang dan nyeri
iskemik dapat dihilangkan.

60
• β-bloker efektif untuk meringankan angina klasik, terhadap angina varian
efeknya tidak teratur. Pada pengobatan jangka panjang β-bloker dapa
menurunkan kematian akibat serangan jantung akut.
• Berdasarkan keselektifan terhadap jantung β – blocker dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu :
1. Selektif memblok reseptor β1 (contoh : asebutolol, atenolol, dan
metoprolol tartrat)
2. Bekerja memblok reseptor β1 dan β2 (contoh : alprenolol, karteolol,
propanolol, nadolol dan pindolol)
3. Antagonis kalsium membran
Antagonis kalsium membran menghambat secara selektif pemasukan
ion kalsium luar sel ke dalam membran sel miokardial, melalui saluran
membran. Golongan ini efektif untuk pengobatan angina pektoris karena stres
dan angina varian. Beberapa diantaranya juga digunakan untuk pengobatan
aritmia jantung tertentu dan hipertensi. Efek samping : takikardia, sakit kepala,
lesu, lelah, mual, pusing, hipotensi dan gangguan lambung.
Mekanisme kerja : dapat menimbulkan efek oleh interaksinya dengan
reseptor khas. Kerja utamanya adalah menghambat pemasokan ion kalsium luar
sel, melalui saluran membran kalsium, ke dalam sel. Karena ion kalsium
mempunyai peran penting dalam memelihara fungsi jantung dan jaringan otot
polos vaskular. Mekanisme kerja yang lain adalah menghalangi secara selektif
penyebab vasokonstriksi dengan menghalang postsinaptik reseptor β2 dalam
buluh vaskular.
E. Vasodilator

Senyawa yang dapat meyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Mekanisme


vasodilator bekerja dengan menurunkan tonus otot polos vaskular sehingga terjadi
dilatasi arteri dan vena. Obat Vasodilator di bagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

1. Vasodialtor koroner  Pengobatan jantung kongestif kronik yang sulit


disembuhkan.

61
Berdasarkan pengobatan vasodilator koroner dibagi 2:

a. Untuk pengobatan jangka pendek, contoh salbutamol, eritritil, tetranitrat,


gliseril trinitrat dan natrium nitroprusid.

b. Untuk pengobatan jangka panjang, contoh kaptopril, diltiazem, dipiridamol,


enalapril, hidralazin HCl.

2. Vasodilator sistemik  senyawa yang menimbulkan efek vasodilatasi pada


semua sistem peredaran darah, contoh isoksuprin HCl, naftidrofuril oksalat,
pentoksifilin,
3. Vasolidator perifer dan serebral  gol. obat dapat menimbulkan dilatasi buluh
darah kulit dan otak. Vasodilator perifer digunakan untuk pengobatan penyakit
vaskular perifer, seperti kelainan vasopastik dan penyakit vasku;ar perifer
kronik seperti aterosklerosis obliterans. Vasodilator selebral digunakan untuk
pengobatan gangguan serebral kardiovaskular. c ontoh bensiklan hidrogen
fumarat (Fludilat), buflomedil HCl, kaptopril, sinarizin, nimodipin, reserpine.
Struktur senyawa vasodilator perifer dan serebral,contoh:
a. Nisegolin  untuk pengobatan gangguan metabolik vaskuloperifer dan
serebral akut dan klronik.
b. Sinarizin  dapat meningkatkan aliran darah arteri dan secara cepat
meringankan berbagai gejala gangguan perifer dan serebral.
c. Flunarizin  dapat mencegah serangan migrain, meringankan gejala
gangguan perifer dan serebral serta gangguan keseimbangan.
d. Buflomedil HCl  digunakan untuk meringankan gangguan peredaran
perifer dan serebral.
e. Sinepazid maleat  dapat meningkatkan aliran darah arteri , digunakan
untuk meringankan berbagai gejala gangguan peredaraan darah perifer
dan serebral.
f. Piritinol HCl  vasodilator untuk pengobatan gangguan peredaran dan
metabolik serebral.

62
g. Meso- inositol heksanikotinat  vasodilator untuk pengobatan gangguan
buluh perifer ringan.
h. Nikotinil alkohol  vasodilator digunakan untuk pengobatan gangguan
peredaran pada buluh perifer dans elebral.
F. Obat Antilipemik

Digunakan untuk pengobatan aterosklerosis, yaitu suatu penyakit yg


disebabkan oleh endapan plasma lipid, terutama ester kolesterol, yang terlokalisasi
pada dinding arteri membentuk plaque ateromateus atau ateroma, suatu karakteristik
luka pada aterosklerosis. Faktor yang dapat meningkatkan aterosklerosis antara lain :
Hipertensi, Merokok, kurang gerak badan, DM, kegemukan, alkohol, keturunan dan
hiperlipidemia. Kelebihan Chylomicrons, VLDL, IDL dan LDL dapat menimbulkan
Hiperlipoproteinemia , sebagai dasar timbulnya aterosklerosis. Mekanisme kerja:

1. Menghambat biosintesis kholesterol atau prekursornya


2. Menurunkan kadar trigliserida dan menhambat mobilisasi lemak
3. Menurunkan tingkat β– lipoprotein dan pra-β-lipoprotein
4. Menghilangkan plaque
5. Mempercepat ekskresi lipid dan menghambat absorpsi kolesterol
Berdasarkan struktur kimia dibagi menjadi lima kelompok yaitu :
1. Turunan Asam Klofibrat
Mekanisme kerja :
Menghambat sintesis trigliserida hepatik sehingga menurunkan produksi
trigliserida atau meningkatkan aktifitas enzim lipoprotein lipase sehingga
meningkatkan kecepatan pengeluaran lipoprotein serum yang kaya trigliserida.
Contoh : Klofibrat, bezafibrat, fenofibrat, simfibrat, gemibrozil.

63
Struktur turunan asam klofibrat

2. Asam Nikotinat dan Turunannya


Mekanisme kerja : menghambat lipolisis jaringan adiposa sehingga
menurunkan aliran asam lemak bebas ke hati, kecepatan biosintesis trigliserida
dan menurunkan sintesis serta sekresi VLDL.
Contoh : Niasin, Asipimoks dan DL-α -Tokoferil nikotinat

Struktur turunan asam nikotinat :

3. Kopolimer
Mekanisme kerja : mengikat asam empedu dalam usus kecil dan mencegah
absorbsi kembali asam tersebut dari peredaran enterohepatik, akibatnya

64
kecepatan biosintesis hepatik asam empedu dan kolesterol meningkat sehingga
kadar lemak sterol (kolesterol) menjadi turun.
Contoh : Resin Kolestiramin dan Kolestipol

Struktur kimia :

4. Serat
Serat adalah senyawa dgn berat molekul tinggi, digunakan sebagai
antihioerlipidemia karena mempunyai sifat melarutkan asam empedu dan sterol
netral pada saluran usus.
5. Penghambat HMG-CoA Reduktase
Lovastatin, Simastatin dan Mevastatin adalah pra-obat, dalam tubuh segera
terhidrolisis menghasilkan senyawa aktif yang dapat menghambat secara
bersaing.

65
Struktur lovastatin

66
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
 Obat kardiovaskular adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah atau
mengobati penyakit kardiovaskular.
 Obat kardiovaskular berdasarkan efek farmakologis,;
1. kardiotonik,
2. obat antiaritmia
3. obat antihipertensi
4. obat antiangina,
5. vasodilator
6. obat antilipemik.

67
BAB I

PENDAHULUAN

Seiring perkembangan zaman, dengan semakin berkembangnya ilmu

pengetahuan, lambat laun tradisi konvensional ini mulai ditinggalkan. Cara-cara

sederhana seperti penggunaan bahan bahan alami tanaman dan hewan yang direbus

atau digiling tetap masih dipakai. Salah satu orang yang mulai meneliti kandungan zat

obat dari tanaman adalah Paracelsus (1541-1493 SM) yang telah mencoba membuat

obat-obatan dari bahan hasil penelitiannya. Semakin banyak ilmuan-ilmuan terdahulu

yang bekerja keras dalam hal pengobatan ini, seperti Hippocrates (459-370 SM) yang

dikenal sebagai bapak kedokteran pada praktek pengobatannya telah menggunakan

lebih dari 200 jenis tumbuhan. Selain itu, Ibnu Sina (980-1037) juga telah menulis buku

tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan

sediaan obat. Masih banyak ilmuan ilmuan lain seperti Johann Jakob Wepfer (1620-

1695), Oswald Schiedeberg (1838- 1921) yang terus berupaya mengembangkan dan

menemukan obat obat baru. Pada tahun 1804, F.W.Sertuerner (1783- 1841)

mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan

sintesis secara kimia. Sejak saat itu mulai berkembang obat sintetik untuk berbagai

jenis penyakit. Saat sekarang bisa kita lihat hasil kerja keras para ilmuan obat obatan

ini dengan banyaknya jenis jenis dan bentuk obat untuk pengobatan berbagai macam

penyakit.

68
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat

Obat adalah suatu bahan kimia yang dapat mempengaruhi organisme hidup dan

dipergunakan untuk keperluan diagnosis, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.

Obat adalah suatu bahan kimia tetapi tidak semua bahan kimia adalah obat. Dengan

cara ekstraksi dari beberapa jenis tanaman, biakan mikroorganisme tertentu atau

melalui proses sintentik, banyak bahan kimia yang telah dapat dipakai sebagai obat.

Senyawa-senyawa kimia yang digunakan untuk obat ada yang berkhasiat sebagai

antihipertensi (menurunkan tekanan darah), antihipotensi (menaikkan tekanan darah

yang rendah), analgetik (menekan atau mengurangi rasa sakit tanpa menghilangkan

kesadaran penderita), antipiretik (menurunkan suhu tubuh yang tinggi kembali ke

normal), hipnotik (obat tidur yang dalam dosis pengobatan dapat mempermudah atau

menyebabkan tidur), laksansia (mempercepat atau melancarkan buang air besar),

sedatif (menenangkan pikiran gelisah atau rasa takut), antiinflamasi (melawan atau

mencegah peradangan pada tubuh), diuretika (memperbanyak pengeluaran air seni),

antitusif (meredakan atau menghilangkan batuk), spasmolitik (meredakan kejang-

kejang), antimikotik (menghilangkan atau membunuh jamur yang hidup dipermukaan

kulit) dan lain-lainnya.

69
2.1.1 Sejarah Obat

Kebanyakan obat yang digunakan dimasa lalu adalah obat yang berasal dari

tanaman dengan cara coba-mencoba secara empiris, orang purba mendapatkan

pengalaman dengan berbagai macam daun atau akar tumbuhan untuk mengobati

penyakit. Pengetahuan ini disimpan dan dikembangkan secara turun-temurun sehingga

muncul pengobatan rakyat seperti pengobatan tradisional jamu di Indonesia.

Tidak semua obat dimulai sebagai anti penyakit, adapula yang awalnya

digunakan sebagai kosmetik atau racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine

dan kurare mulanya digunakan sebagai racun panah pada penduduk pribumi Afrika dan

Amerika Selatan. Obat kanker nitrogen-mustard juga semula digunakan sebagai gas-

racun pada perang dunia pertama.

Obat alami yang digunakan dari hasil rebusan atau ekstrak dengan aktivitas dan

efek yang sering kali berbeda-beda tergantung dari asal tanaman dan cara

pembuatannya. Kondisi ini dianggap kurang memuaskan sehingga para ahli mulai

mencoba mengisolasi zat-zat aktif yang tergantung didalamnya. Sehingga

menghasilkan serangkaian zat kimia yang terkenal diantaranya yaitu efedrin dari

tanaman Ma Huang, kini dari kulit pohon kina dan masih banyak penemuan-penemuan

zat kimia lainnya.

Seiring perkembangan zaman, dengan semakin berkembangnya ilmu

pengetahuan, lambat laun tradisi konvensional ini mulai ditinggalkan. Cara-cara

sederhana seperti penggunaan bahan bahan alami tanaman dan hewan yang direbus

70
atau digiling tetap masih dipakai. Salah satu orang yang mulai meneliti kandungan zat

obat dari tanaman adalah Paracelsus (1541-1493 SM) yang telah mencoba membuat

obat-obatan dari bahan hasil penelitiannya. Semakin banyak ilmuan-ilmuan terdahulu

yang bekerja keras dalam hal pengobatan ini, seperti Hippocrates (459-370 SM) yang

dikenal sebagai bapak kedokteran pada praktek pengobatannya telah menggunakan

lebih dari 200 jenis tumbuhan. Selain itu, Ibnu Sina (980-1037) juga telah menulis buku

tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan

sediaan obat. Masih banyak ilmuan ilmuan lain seperti Johann Jakob Wepfer (1620-

1695), Oswald Schiedeberg (1838- 1921) yang terus berupaya mengembangkan dan

menemukan obat obat baru. Pada tahun 1804, F.W.Sertuerner (1783- 1841)

mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan

sintesis secara kimia. Sejak saat itu mulai berkembang obat sintetik untuk berbagai

jenis penyakit. Saat sekarang bisa kita lihat hasil kerja keras para ilmuan obat obatan

ini dengan banyaknya jenis jenis dan bentuk obat untuk pengobatan berbagai macam

penyakit.

2.1.2 Penggolongan Obat

Penggolongan obatsecara luas dibedakan berdasarkan beberapa hal yaitu :

1. Penggolongan obat berdasarkan jenisnya

2. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat

3. Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian

4. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian

5. Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan

71
6. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi

7. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya

2.2 Diabetes

Diabetes Melitus (Berasal dari kata Yunani , diabaínein, "tembus" atau

"pancuran air", dan mellitus, "rasa manis"). Diabetes mellitus umum dikenal

sebagai kencing manis: Adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia

(peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah

makan. Diabetes mellitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis dan

terjadi karena defisiensi insulin atau resistensi insulin. DM adalah keadaan dimana

tubuh tidak menghasilkan atau memakai insulin sebagaimana mestinya. Manusia perlu

makan. Makanan itu dapat terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Glukosa adalah

unit satuan karbohidrat yang terkecil. Dalam tubuh manusia, glukosa dipergunakan

untuk membentuk energi. Jika kadar glukosa berlebih maka tugas insulin untuk

menyimpan kelebihan gula dalam darah ke bentuk cadangan di hati, otot dan organ

lainnya.

Insulin adalah hormon yang membawa glukosa darah ke dalam sel-sel, dan

menyimpannya sebagai glikogen. Jika proses diatas berlangsung seimbang, maka

kelebihan glukosa dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit. Tapi jika

kadar insulin rendah, atau insulin tidak diproduksi maka ini dapat menyebabkan kadar

glukosa menumpuk dalam darah atau yang lebih dikenal dengan Sakit gula.

Kadar glukosa darah yang tinggi mengganggu sirkulasi dan dapat merusak saraf.

72
Berakibat: nyeri pada tungkai, kebutaan, gagal ginjal dan kematian.

Diabetes mellitus adalah suatu kondisi yang menyebabkan gula darah naik ke

tingkat berbahaya dimana glukosa darah puasa nilainya lebih dari 126 miligram per

desiliter (mg/dL). Sebagian besar makanan yang dimakan akan dicerna tubuh dan

dirubah menjadi glukosa, atau gula yang kemudian akan digunakan tubuh anda untuk

energi. Pankreas, organ didekat lambung, menghasilkan hormon yang disebut insulin.

Hormon ini diperlukan jaringan tubuh untuk dapat menggunakan gula atau glukosa

sebagai bahan bakar dasar. Peran Insulin adalah untuk mengambil gula dari darah dan

memasukkannya ke dalam sel. Ketika tubuh tidak memproduksi insulin yang cukup

dan/atau tidak efisien menggunakan insulin yang dihasilkan, kadar gula akan terus

meningkat didalam darah. Ketika hal ini terjadi, muncul dua masalah yaitu:

1. Dalam waktu cepat sel-sel tubuh akan kekurangan energi dan kelaparan karena gula

darah yang dibutuhkan tidak bisa masuk kedalam sel.

2. Seiring waktu, kadar glukosa darah tinggi dapat merusak beragam organ seperti

mata, ginjal, saraf atau jantung.

2.2.1 Jenis Diabetes

Ada dua jenis utama diabetes: diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Kedua jenis

diabetes ini dapat diwariskan dalam gen, sehingga riwayat keluarga dengan diabetes

dapat secara signifikan meningkatkan risiko seseorang mengembangkan kondisi

tersebut.

Diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 1, produksi insulin oleh pankreas sedikit atau

tidak ada sama sekali. Tanpa insulin, tubuh tidak mampu untuk mengambil glukosa

73
dalam darah darah dan memasukkannya kedalam sel untuk bahan bakar tubuh. Orang

dengan diabetes tipe 1 akan terus membutuhkan suntikan insulin seumur hidupnya.

Oleh karena itu, diabetes tipe ini juga disebut sebagai diabetes tergantung (insulin-

dependent diabetes). Diabetes tipe 1 sebelumnya dikenal sebagai juvenile

diabetes karena penyakit ini biasanya terdiagnosa pada anak-anak dan dewasa. Namun,

penyakit ini bisa menyerang pada usia berapa pun dan mereka yang memiliki sejarah

keluarga itu sangat beresiko.

Diabetes Tipe 2. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dari diabetes.

Secara historis, diabetes tipe 2 biasanya terdiagnosis pada orang dewasa setengah baya.

Walau demikian dengan pergeseran pola hidup, secara mengkhawatirkan semakin

banyak remaja dan dewasa berpeluang terkena diabetes tipe 2. Hal ini berhubungan

dengan meningkatnya angka kejadian obesitas dan kurangnya aktivitas fisik yang

merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 dapat terjadi ketika tubuh sering mengalami kadar gula darah

yang tinggi, misalnya akibat konsumsi makanan berlebih dan kurang berolahraga.

Sebagai respon, pankreas kemudian memproduksi insulin dalam jumlah banyak diluar

kemampuan normalnya untuk menurunkan kadar gula darah. Jika hal tersebut

berlangsung lama, sel-sel tubuh akan mengembangkan resistensi insulin dimana

efektivitas penggunaan insulin menurun dan sel-sel pankreas pun secara bertahap

mengalami kerusakan dan kehilangan kemampuannya untuk memproduksi insulin.

2.2.2 Tanda dan Gejala Diabetes

74
Berikut gejala diabetes yang khas. Namun, beberapa orang dengan diabetes tipe

2 memiliki gejala sangat ringan sehingga mereka tidak diketahui.

 Sering kencing (Toilet)

 Sering merasa haus (Thirsty)

 Merasa kelapar meskipun anda telah makan

 Seringkali merasa kelelahan walau cukup istirahat

 Pandangan kabur (jika telah timbul komplikasi ke mata)

 Berat badan menurun meskipun Anda makan lebih (terjadi karena atrofi otot karena

glukosa yang tidak bisa masuk kedalam otot, umumnya pada tipe 1)

 Kesemutan, nyeri, atau mati rasa di tangan / kaki (umumnya pada tipe 2)

2.3 Jenis Obat Antidiabetes

2.3.1 Insulin

Insulin adalah pengobatan yang dilakukan pada penderita untuk pertama kali.

Insulin berperan mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein . Insulin

merupakan hormon polipeptida dengan struktur kompleks. Ada perbedaan susunan

asam amino pada insulin hewan, insulin manusia, dan analog insulin manusia. Insulin

dapat diekstraksi dari pankreas babi atau pankreas sapi dan dimurnikan dengan

kristalisasi, tetapi insulin dari pankreas sapi sekarang jarang digunakan. Insulin untuk

manusia dibuat secara biosintetis dengan teknologi rekombinan DNA menggunakan

bakteri atau ragi atau semisintetik dengan modifikasi enzimatik insulin babi.

Semua sediaan insulin umumnya imunogenik pada manusia tetapi resistensi

imunologis terhadap kerja insulin tidak lazim terjadi. Secara teori sediaan insulin yang

75
sesuai dengan insulin manusia kurang imunogenik, tetapi hal ini tidak terbukti dalam

uji klinik. Insulin dirusak oleh enzim dalam saluran cerna oleh karena itu harus

diberikan melalui injeksi atau inhalasi; rute subkutan memberi hasil yang baik pada

semua kondisi. Insulin biasanya disuntikkan pada lengan atas, paha, glutea atau perut.

Umumnya injeksi subkutan insulin menyebabkan sedikit masalah, bisa terjadi

hipertrofi lemak yang dapat dikurangi dengan menyuntikkan di daerah yang berbeda.

Alergi lokal jarang terjadi. Insulin diperlukan oleh semua pasien dengan ketoasidosis

dan biasanya diperlukan oleh pasien dengan:

 Gejala-gejala yang muncul cepat

 Kehilangan banyak berat badan

 Kondisi lemah

 Ketonuria

 Riwayat keluarga dekat (ayah-ibu) adalah penderita Diabetes Mellitus tipe 1

Jika keadaan memburuk, dapat terjadi muntah dan pasien dapat dengan cepat

mengalami ketoasidosis. Insulin dibutuhkan oleh hampir semua pasien anak penderita

diabetes. Juga dibutuhkan oleh pasien diabetes tipe 2 jika cara lain gagal

mengendalikan DM dan digunakan sementara oleh pasien yang sakit atau akan

menjalani operasi. Wanita hamil dengan diabetes tipe 2 sebaiknya diobati dengan

insulin jika upaya diet ternyata gagal.

Penanganan diabetes dengan insulin. Tujuan pengobatan diabetes adalah

untuk mengatur kadar gula darah tetap baik sehingga membuat pasien nyaman dan

menghindari hipoglikemia, diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter

dalam menurunkan resiko komplikasi diabetes. Kombinasi sediaan insulin mungkin

76
dibutuhkan dan kombinasi yang tepat harus ditentukan untuk tiap pasien. Untuk pasien

dengan diabetes akut, pengobatan sebaiknya dimulai dengan memberikan

insulin soluble 3 kali sehari dan insulin kerja sedang pada malam hari. Untuk pasien

yang tidak terlalu parah, pengobatan biasanya dimulai dengan campuran insulin kerja

singkat dan sedang (biasanya 30% insulin soluble dan 70% insulin isophane) diberikan

2 kali sehari; 8 unit dua kali sehari untuk pasien rawat jalan. Proporsi sediaan insulin

kerja singkat dapat ditingkatkan pada pasien dengan hiperglikemia postprandial yang

berat.

Dosis insulin disesuaikan untuk setiap individu, dengan cara meningkatkan dosis

secara bertahap tetapi dengan tetap menghindarkan terjadinya hipoglikemia. Ada 3

macam sediaan insulin:

1. Insulin kerja singkat (short-acting): mula kerja relatif cepat, yaitu insulin soluble,

insulin lispro dan insulin aspart;

2. Insulin kerja sedang (intermediate-acting): misalnya insulin isophane dan suspensi

insulin seng;

3. Insulin kerja panjang dengan mula kerja lebih lambat: misalnya suspensi insulin

seng.

Lama kerja untuk tiap tipe insulin bervariasi pada tiap individu sehingga perlu dinilai

secara individual.

Contoh dosis insulin yang dianjurkan

 Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: dua kali sehari

(sebelum makan);

77
 Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: sebelum makan pagi

Insulin kerja singkat: sebelum makan malam Insulin kerja sedang: malam sebelum

tidur;

 Insulin kerja singkat: 3 kali sehari (sebelum makan pagi, makan siang dan makan

malam) dikombinasi dengan insulin kerja sedang: pada waktu sebelum tidur malam;

 Insulin kerja sedang dengan atau tanpa insulin kerja singkat: cukup sekali sehari

sebelum makan pagi atau sebelum tidur malam untuk beberapa pasien dengan

diabetes tipe 2 yang memerlukan insulin, kadang-kadang dikombinasi dengan obat

hipoglikemik oral.

Kebutuhan insulin meningkat dengan adanya infeksi, stres, kecelakaan atau

trauma bedah, pubertas dan selama kehamilan trimester 2 dan 3. Kebutuhan mungkin

menurun pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (lampiran 3) atau gangguan fungsi

hati dan pada beberapa pasien gangguan endokrin (misalnya Addison’s disease,

hipopituarism) atau celiac disease. Selama menyusui, dosis insulin perlu disesuaikan,

pada wanita hamil kebutuhan insulin sebaiknya sering dinilai ulang oleh dokter

spesialis endokrinologi yang berpengalaman.

2.3.1.1 Mekanisme Kerja Insulin

Insulin bekerja dengan memudahkan pemasukan glukosa, asam amino dan ion-

ion terutama Ca++ dengan mempengaruhi proses didalam sel. Mekanisme kerjanya

masih belum begitu jelas meskipun diketahui bahwa insulin pada tingkat molekul dapat

berinteraksi dengan reseptor khas pada permukaan membran sel, mengatur sintesis dan

78
aktivitas beberapa enzim dan merangsang sintesis protein dan ARN pada beberapa

jaringan.

2.3.1.2 Struktur Insulin

Struktur molekul insulin terdiri dari 2 rantai peptida dihubungkan dengan

jembatan/ikatan disulfida. Menghubungkan struktur helix terminal N-C dari rantai

asam amino yang satu (A) dengan struktur sentral helix rantai asam amino lainnya (B).

Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Total

terdapat 51 asam amino.

2.3.2 Anti Diabetes Oral

Obat antidiabetes (hipoglikemik) oral adalah senyawa kimia yang dapat

menurunkan kadar gula darah dan diberikan secara oral. Obat antidiabetes juga

merupakan obat yang digunakan untuk mengatur diabetes mellitus, suatu penyakit

dimana terdapat kerusakan sebagian atau keseluruhan dari sel beta pankreas untuk

menghasilkan insulin yang cukup, salah satu hormon yang diperlukan untuk mengatur

79
kadar glukosa. Dalam beberapa kasus, terdapat beberapa bukti bahwa penyakit ini

disebabkan karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi aktifitas insulin.

Dengan kekurangan insulin, jaringan tubuh tidak mampu menangkap dan

mencerna glukosa yang terdapat dalam sirkulasi darah. Oleh karena itu, glukosa yang

sebagian besar diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, dan secara normal dieliminasi

dan disimpan di jaringan, kadarnya meningkat dalam darah dan ginjal tidak mampu

memprosesnya.

Obat antidiabetik oral digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2

(non-insulin dependent diabetes melitus, NIDDM). Obat–obat ini hanya digunakan

jika pasien gagal memberikan respon terhadap setidaknya 3 bulan diet rendah

karbohidrat dan energi disertai aktivitas fisik yang dianjurkan. Obat tersebut sebaiknya

digunakan untuk meningkatkan efek diet dan aktivitas fisik yang cukup, bukan

menggantikannya.

Pada pasien yang tidak cukup terkontrol dengan diet dan obat hipoglikemik oral,

insulin dapat ditambahkan pada dosis pengobatan atau sebagai pengganti terapi oral.

Jika insulin ditambahkan pada terapi oral, insulin biasanya diberikan pada waktu akan

tidur sebagai insulin isophane; tetapi jika insulin menggantikan obat oral, biasanya

diberikan sebagai injeksi insulin bifasik dua kali sehari (atau insulin isophane dicampur

dengan insulin soluble). Peningkatan berat badan dan dapat menjadi komplikasi terapi

insulin, tetapi peningkatan berat badan mungkin dapat dikurangi jika insulin diberikan

dalam kombinasi dengan metformin.

Antidiabetik oral mungkin berguna untuk yang alergi insulin atau tidak mau

pemakaian suntik. Kemudian akhirnya ditemukan golongan obat OAD, yaitu

80
Sulfonilurea dan Biguanid. Pemakaian klinis OAD harus didahului dengan

pemeriksaan laboratorium dan penetapan diagnosis. Diabetes pada usia muda,

kehamilan dan diabetes berat disertai komplikasi mutlak memerlukan insulin dan tidak

dapat ditolong dengan OAD. Harus berhati-hati pula, bila penderita mempunyai fungsi

hati yang menurun, infark jantung dan gangguan hormonal lainnya.

2.3.1 Sulfonilurea

Kerja utama sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin sehingga efektif

hanya jika masih ada aktivitas sel beta pankreas; pada pemberian jangka lama

sulfonilurea juga memiliki kerja di luar pankreas. Semua golongan sulfonilurea dapat

menyebabkan hipoglikemia, tetapi hal ini tidak biasa terjadi dan biasanya menandakan

kelebihan dosis. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat menetap berjam-jam dan

pasien harus dirawat di rumah sakit.

Sulfonilurea digunakan untuk pasien yang tidak kelebihan berat badan, atau yang

tidak dapat menggunakan metformin. Pemilihan sulfonilurea diantara obat yang ada

ditentukan berdasarkan efek samping dan lama kerja, usia pasien serta fungsi ginjal.

Sulfonilurea kerja lama klorpropamid dan glibenklamid lebih sering menimbulkan

hipoglikemia; oleh karena itu untuk pasien lansia obat tersebut sebaiknya dihindari dan

sebagai alternatif digunakan sulfonilurea kerja singkat, seperti gliklazid atau

tolbutamid. Klorpropamid juga mempunyai efek samping lebih banyak daripada

sulfonilurea lain (lihat keterangan di bawah) sehingga penggunaannya tidak lagi

dianjurkan.

81
Sulfonilurea dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, yang mungkin

menyebabkan jaundice kolestatik, hepatitis dan kegagalan fungsi hati meski jarang.

Dapat terjadi reaksi hipersensitifitas, biasanya pada minggu ke 6-8 terapi, reaksi yang

terjadi berupa alergi kulit yang jarang berkembang menjadi eritema multiforme dan

dermatitis eksfoliatif, demam dan jaundice; jarang dilaporkan fotosensitivitas dengan

klorpropamid dan glipizid. Gangguan darah juga jarang yaitu leukopenia,

trombositopenia, agranulositosis, pansitopenia, anemia hemolitik, dan anemia aplastik.

Contoh beberapa golongan sulfonilurea:

1. Tolbutamid (Rastinon)

H3C SO2 NH C NH CH2CH2CH2CH3

Tolbutamide adalah obat yang digunakan dengan pola makan dan olahraga yang

sesuai untuk mengontrol gula darah tinggi pada orang dengan diabetes tipe 2. Obat ini

juga dapat digunakan bersama obat-obatan diabetes lain. Mengontrol gula darah yang

tinggi membantu mencegah kerusakan ginjal, kebutaan, masalah saraf, kehilangan

anggota gerak, dan masalah fungsi seksual. Kontrol diabetes yang sesuai dapat juga

mengurangi risiko Anda terkena serangan jantung atau stroke. Tolbutamide termasuk

dalam kelas obat-obatan yang dikenal sebagai sulfonylureas. Obat ini bekerja dengan

cara menyebabkan pelepasan insulin tubuh alami dan dapat membantu mengembalikan

respon tubuh yang sesuai terhadap insulin.

2. Klorpropamid (Diabenese)

82
Cl SO2 NH C NH CH2CH2CH3

Chlorpropamide adalah obat diabetes oral yang membantu mengontrol kadar

gula dalam darah. Obat ini membantu pankreas dalam memproduksi insulin. Obat

diabetes lainnya kadang digunakan dalam kombinasi dengan chlorpropamide jika

diperlukan. Tambahan obat ini terhadap diet yaitu untuk menurunkan gula darah pada

pasien yang menderita NIDDM (diabetes melitus yang tidak bergantung pada insulin)

yang hiperglikemianya tidak dapat dikontrol dengan diet saja.

3. Glikasid (Diamieron, Glikamel)

Gliclazide adalah obat anti diabetes mellitus tipe 2 yang termasuk ke dalam

golongan sulfonilurea. Obat ini juga bermanfaat untuk mencegah penumpukan lemak

di arteri. Gliclazide menurunkan kadar gula darah dengan cara mengikat secara selektif

reseptor sulfonilurea (SUR 1) pada permukaan sel beta pankreas. Mekanisme ini

membuat gliclazide mampu memblokir sebagian potassium chanels antara sel-sel beta

dari pulau langerhans pada organ pankreas. Dengan menghalangi potassium channels,

sel mengalami depolarisasi yang menyebabkan pembukaan voltage-gated calcium

channels. masuknya kalsium mendorong pelepasan insulin dari sel beta. Seperti

sulfonilurea lainnya, Gliclazide juga menyebabkan penurunan serum glukagon dan

mempotensiasi aksi insulin pada jaringan ekstra pankreatik. Kegunaan gliclazide

adalah untuk pengobatan diabetes mellitus tipe 2 pada orang dewasa jika diet, latihan

83
fisik dan penurunan berat badan saja tidak cukup mampu mengontrol kadar gula darah

seperti yang diinginkan.

4. Glibenklamid (gliburil, Daonil, Eugleuon, Renabetik)

Glibenklamid adalah turunan sulfonylurea yang mempunyai efek antidiabetes

cukup kuat. Glibenkamid adalah obat yang digunakan pada pasien diabetes tipe 2 untuk

mengendalikan kadar gula (glukosa) darah yang tinggi. Pada diabetes tipe 2, tubuh

tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menyimpan gula berlebih yang ada di aliran

darah. Glibenkamid menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh

untuk mengeluarkan lebih banyak insulin. Hormon inilah yang membantu

mengendalikan kadar gula di dalam darah agar tidak terlalu tinggi. Kondisi pada saat

tubuh tidak bisa cukup menghasilkan insulin atau tidak mampu menggunakan insulin

dengan baik disebut diabetes.

Kadar gula yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal, kebutaan,

gangguan saraf, amputasi, atau gangguan gairah seksual. Bahkan, risiko serangan

jantung dan stroke juga meningkat jika diabetes tidak ditangani dengan baik. Sebagian

orang yang memiliki kadar gula darah tinggi bisa mengendalikannya dengan cara

mengubah menu makanan mereka. Tapi pada sebagian orang lainnya, obat antidiabetes

seperti glibenkamid dibutuhkan untuk mengatur kadar gula darah.

5. Glipizid (Minidiab)

84
Glipizid merupakan turunan sulfonylurea dengan efek antidiabetes yang kuat

dicapai 30 menit setelah cepat dalam saluran cerna, kadar obat dalam darah

maksimum dicapai 30 menit setelah pemberian oral.

6. Glikuidon (Glurenorm)

Glikuidon merupakan turunan sulfonylurea dengan efek antidiabetes cukup kuat.

Aktivitasnya kurang lebih 3 kali lebih besar dibanding tolbutamid.

2.3.1.1 Struktur Molekul

Struktur utama sulfonilurea yaitu:

R SO2 NH C NH R'

2.3.1.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Mekanisme kerjanya yaitu untuk turunan sulfonilurea dapat merangsang

pengeluaran insulin dari sel 𝛽-islet pankreatik, menurunkan pemasukan insulin

endogen ke hati dan menekan secara langsung pengeluaran glukagon.

2.3.1.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

85
R SO2 NH C NH R'

R= gugus alifatik (asetil, amino, kloro, metil, metiltio dan triofluorometil) akan

berpengaruh terhadap massa kerja obat dan meningkatkan aktivitas hipoglikemik. Bila

R adalah gugus 𝛽-aril karboamidoetil (Ar-CONH-CH2-CH2-) seperti pada

glibenklamid dan glipizid, senyawa mempunyai aktivitas lebih besar dibandingkan

senyawa awal. Ini merupakan antidiabetes oral generasi kedua. Diduga hal ini

disebabkan oleh fungsi jarak khas antara atom N substituen dengan atom N

sulfonamide sehingga interaksi obat reseptor lebih serasi.

R’= gugus alifatik lain yang berpengaruh terhadap sikap lipofil senyawa.

R’= metil, senyawa relatif tidak aktif

R’= etil, senyawa aktivitasnya lemah dan bila senyawa mengandung 3-6 atom C,

aktivitasnya maksimal. Aktivitas senyawa hilang bila mengandung atom C = 12 atau

lebih.

R’ dapat pula berupa gugus alisiklik atau cincin heterosiklik yang terdiri dari 5-7

atom. Bila berupa gugus aril, senyawa menimbulkan toksisitas cukup besar. Beberapa

gugus atau atom pada struktur umum dapat diganti dengan gugus atau atom

isosteriknya.

2.3.2 Biguanid

Turunan biguanida dahulu banyak digunakan sebagai antidiabetes namun karena

menimbulkan efek samping yang cukup serius yaitu asidosis laktat maka sejak tahun

86
1977 ditarik dari peredaran. Metformin satu-satunya golongan biguanid yang tersedia,

mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dengan sulfonilurea, keduanya tidak dapat

dipertukarkan. Efek utamanya adalah menurunkan glukoneogenesis dan meningkatkan

penggunaan glukosa di jaringan. Karena kerjanya hanya bila ada insulin endogen, maka

hanya efektif bila masih ada fungsi sebagian sel islet pankreas. Metformin merupakan

obat pilihan pertama pasien dengan berat badan berlebih dimana diet ketat gagal untuk

mengendalikan diabetes, jika sesuai bisa juga digunakan sebagai pilihan pada pasien

dengan berat badan normal. Juga digunakan untuk diabetes yang tidak dapat

dikendalikan dengan terapi sulfonilurea.

2.3.2.1 Struktur Molekul

Struktur molekul dari biguanida yaitu:

NH NH
H
R CH2 N C N C NH2

R'

2.3.2.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Mekanisme kerja obat golongan biguanid ini ialah menurunkan produksi glukosa

di hati dan memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer. Obat ini juga dapat

membantu menurunkan berat badan, memperbaiki profil lemak (lipid), serta

menstabilkan kadar gluksoa saat puasa.

2.3.2.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

87
Metformin memiliki subsituen 2 metil memberikan lipofilitas lebih rendah

daripada rantai sisi feniletil di phenformin, sehingga metformin memiliki sifat yang

kurang non polar dibanding phenformin. Pada phenformin memiliki 10 atom karbon

yang mengikat fenil dan etil. Buformin memiliki 6 atom carbon dan mengikat metil

dan etil. Metformin memiliki 4 atom karbon dan mengikat 2 metil. Bila diurutkan mulai

dari senyawa polar hingga non polar, yaitu metformin, buformin dan phenformin.

2.3.3 Inhibitor-Glukosidase

Arcabose merupakan salah satu obat yang dapat menghambat alfa-glukosidase,

yaitu memperlambat penyerapan gula di usus. Meskipun memperlambat penyerapan

gula di usus namun obat ini tidak mempengaruhi ambilan glukosa maupun sekresi

insulin. Biasanya obat ini diberikan setelah makan. Efek samping yang timbul akibat

penggunaan obat ini adalah mengakibatkan diare, tinja yang dikeluarkan lembek, perut

kembung dan kentut.

2.3.3.1 Struktur Molekul

Salah satu struktur molekul dari golongan inhibitor α-Glukosidase yaitu:

88
2.3.3.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Senyawa-senyawa inhibitor α Glukosidase berkerja menghambat enzim alfa

glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim α Glukosidase

(Maltase, Isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis

oligosakarida, pada dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat

pencernaan karbohidrat kompleks absorpsinya, sehingga dapat mengurangi

peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes.

2.3.3.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

Secara struktural miglitol berbeda dengan acarbose miglitol 6 kali lebih kuat

dalam menghambatsucrase.Meskipun afinitas ikatan kedua senyawa tersebut berbeda,

sasaran dari baik acarbose maupun miglitol adalah α-glukosidase : sucrose, maltase,

glycoamylase, dextranase, dan isomaltase (hanya miglitol) dan memiliki sedikit efek

pada amylase-α (hanya acarbose) atau pada glukosidase –b (hanya miglitol), yang

memecah gula yang pada posisi beta seperti seperti laktosa. Miglitol lebih kuat dari

acarbose karena adanya p-nitrofenil α Dglukopiranosida menjadi paranitrofenol yang

berwarna kuning dari glukosa sehingga meningkatkan kerja miglitol sebagai

inhibitor α-glukosidasedan pada glukosidase –b pada berbagai enzim seperti yang

telah dijelaskan diatas. Sedangkan pada acarbose tidak terdapat paranitrofenol, namun

hanya terdapat banyak gugus –OH pada hampir tiap atom C sehingga acarbose lebih

hanya pada sasaran minimal terhadap enzim amylase-α..Berdasarkan kepolarannya

acarbose lebih polar dari miglitol sehinga acarbose memiliki masa kerja obat leih cepat.

89
2.4 Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan

darah melebihi normal (tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik

lebih besar dari 90 mmHg).

Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas

dan mortalitas akibat TD tinggi. Ini berarti TD harus diturunkan serendah mungkin

yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak, jantung, maupun kualitas hidup, sambil

dilakukan pengendalian faktor-faktor resiko kardio vascular lainnya.

2.5 Anti Hipertensi

Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan

darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal. Dikenal lima kelompok obat lini

pertama (first line drug) yang digunakan untuk pengobatan awal hipertensi yaitu :

diuretik, penyekat reseptor beta adrenergik (β-blocker), penghambat angiotensin

converting enzyme (ACE-inhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-

receptor blocker, ARB), dan antagonis kalsium.

2.5.1 DIURETIK

Mekanisme kerja : Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan

garam yang tersimpan di alam tubuh. Pengaruhnya ada dua tahap yaitu :

(1) Pengurangan dari volume darah total dan curah jantung; yang menyebabkan

meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer;

90
(2) Ketika curah jantung kembali ke ambang normal, resistensi pembuluh darah perifer

juga berkurang.

Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Bumetanide, Furosemide,

Hydrochlorothiazide, Triamterene, Amiloride, Chlorothiazide, Chlorthaldion.

Furosemide

Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix,

uresix.

Nama IUPAC : 4-chloro-2-[(furan-2-ylmethyl)amino]-5-

sulfamoylbenzoic acid

Rumus kimia Formula Molekul : C12H11ClN2O

Sediaan obat : Tablet, Kapsul, injeksi.

Mekanisme kerja : Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari

turunan asam antranilat. Obat Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk

menghambat penyerapan kembali zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan

meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi

tekanan darah normal. Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian

secara cepat dengan awal kerja obat terjadi dalam ½ sampai 1 jam, dengan lama kerja

yang pendek berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan

91
urin dan feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk

membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh

2.5.2 PENYEKAT RESEPTOR BETA ADRENERGIK (β-Blocker)

Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian β-blocker

dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor β1, antara lain :

(1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga

menurunkan curah jantung;

(2) hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan

Angiotensin II;

(3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan pada

sensitivitas baroresptor, perubahan neuron adrenergik perifer dan peningkatan

biosentesis prostasiklin. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Metoprolol,

Atenolol, Betaxolol, Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol, Labetalol.

Metoprolol

Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok

Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : bekerja dengan memengaruhi respons saraf-saraf organ tubuh,

terutama jantung. Proses tersebut akan membantu memperlambat frekuensi detak

jantung, mengurangi tekanan pada jantung, serta menurunkan tekanan darah.

Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pectoris

Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik,

gagal jantung tersembunyi

92
Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare

2.5.3 PENGHAMBAT ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME (ACE-

Inhibitor)

Mekanisme kerja : secara langsung menghambat pembentukan Angiotensin II

dan pada saat yang bersamaan meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa

vasokonstriksi yang berkurang, berkurangnya natrium dan retensi air, dan

meningkatkan vasodilatasi (melalui bradikinin). Contoh antihipertensi dari golongan

ini adalah Kaptopril, Enalapril, Benazepril, Fosinopril, Moexipril, Quianapril,

Lisinopril.

Lisinopril

Nama paten : Zestril

Rumus molekul C21H35N3O7

Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : Lisinopril adalah salah satu obat antihipertensi golongan

Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor yang berkerja dengan cara

menghambat perubahan angiotensin I menjadi Angiotensin II. Lisinopril mengatur

mekanisme fisiologik yang spesifik yaitu pada sistem renin angiotensin aldosteron.

Awal kerja Lisinopril di dapat setelah 2 jam setelah meminum obat tersebut/peroral,

dan efek maksimal dicapai setelah 7 jam. Dari penelitian diketahui penghentian

93
penggunaan lisinopril tidak serta merta akan membuat peningkatan tekanan darah.

Lisinopril dapat juga mengurangi kemungkinan timbulnya hipokalemia dan

hiperuresemia akibat penggunaan tiazid. Sediaan paling umum dari lisinopril adalah

tablet 5 mg dan 10 mg

2.5.4 PENGHAMBAT RESEPTOR ANGIOTENSIN

Mekanisme kerja : inhibitor kompetitif dari resptor Angiotensin II (tipe 1).

Pengaruhnya lebih spesifik pada Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali tidak

ada produksi ataupun metabolisme bradikinin. Contoh antihipertensi dari golongan ini

adalah Losartan, Valsartan, Candesartan, Irbesartan, Telmisartan, Eprosartan,

Zolosartan.

2.5.5 ANTAGONIS KALSIUM

Mekanisme kerja : antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot

polos pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama

menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan

resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardia dan vasokonstriksi, terutama bila

menggunakan golongan obat dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan Diltiazem dan

Veparamil tidak menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif langsung

pada jantung.19 Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Amlodipine, Diltiazem,

Verapamil, Nifedipine.18,19

94
BAB III

PEMBAHASAN

Obat adalah suatu bahan kimia yang dapat mempengaruhi organisme hidup dan

dipergunakan untuk keperluan diagnosis, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.

Diabetes mellitus umum dikenal sebagai kencing manis: Adalah penyakit yang

ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus

95
dan bervariasi, terutama setelah makan. Diabetes mellitus merupakan kelainan

metabolisme yang kronis dan terjadi karena defisiensi insulin atau resistensi insulin.

Dalam tubuh manusia, glukosa dipergunakan untuk membentuk energi. Jika kadar

glukosa berlebih maka tugas insulin untuk menyimpan kelebihan gula dalam darah ke

bentuk cadangan di hati, otot dan organ lainnya.

Insulin adalah hormon yang membawa glukosa darah ke dalam sel-sel, dan

menyimpannya sebagai glikogen. Jika proses diatas berlangsung seimbang, maka

kelebihan glukosa dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit. Tapi jika

kadar insulin rendah, atau insulin tidak diproduksi maka ini dapat menyebabkan kadar

glukosa menumpuk dalam darah atau yang lebih dikenal dengan Sakit gula. Kadar

glukosa darah yang tinggi mengganggu sirkulasi dan dapat merusak saraf. Berakibat:

nyeri pada tungkai, kebutaan, gagal ginjal dan kematian.

Hormon ini diperlukan jaringan tubuh untuk dapat menggunakan gula atau

glukosa sebagai bahan bakar dasar. Peran Insulin adalah untuk mengambil gula dari

darah dan memasukkannya ke dalam sel. Ketika tubuh tidak memproduksi insulin yang

cukup dan/atau tidak efisien menggunakan insulin yang dihasilkan, kadar gula akan

terus meningkat didalam darah.

Ada dua jenis utama diabetes: diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Diabetes tipe

1. Pada diabetes tipe 1, produksi insulin oleh pankreas sedikit atau tidak ada sama

sekali. Tanpa insulin, tubuh tidak mampu untuk mengambil glukosa dalam darah darah

dan memasukkannya kedalam sel untuk bahan bakar tubuh. Orang dengan diabetes tipe

1 akan terus membutuhkan suntikan insulin seumur hidupnya. Oleh karena itu, diabetes

tipe ini juga disebut sebagai diabetes tergantung (insulin-dependent diabetes). Diabetes

96
tipe 1 sebelumnya dikenal sebagai juvenile diabetes karena penyakit ini biasanya

terdiagnosa pada anak-anak dan dewasa. Namun, penyakit ini bisa menyerang pada

usia berapa pun dan mereka yang memiliki sejarah keluarga itu sangat beresiko.

Diabetes Tipe 2. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dari diabetes.

Secara historis, diabetes tipe 2 biasanya terdiagnosis pada orang dewasa setengah baya.

Walau demikian dengan pergeseran pola hidup, secara mengkhawatirkan semakin

banyak remaja dan dewasa berpeluang terkena diabetes tipe 2. Hal ini berhubungan

dengan meningkatnya angka kejadian obesitas dan kurangnya aktivitas fisik yang

merupakan faktor risiko diabetes tipe 2. Terdapat beberapa tanda dan gejala diabetes,

diantaranya :

 Sering kencing (Toilet)

 Sering merasa haus (Thirsty)

 Merasa kelapar meskipun anda telah makan

 Seringkali merasa kelelahan walau cukup istirahat

 Pandangan kabur (jika telah timbul komplikasi ke mata)

 Berat badan menurun meskipun Anda makan lebih (terjadi karena atrofi otot karena

glukosa yang tidak bisa masuk kedalam otot, umumnya pada tipe 1)

 Kesemutan, nyeri, atau mati rasa di tangan / kaki (umumnya pada tipe 2)

Jenis Obat Antidiabetes

 Insulin

Insulin adalah pengobatan yang dilakukan pada penderita untuk pertama kali.

Insulin berperan mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Insulin

merupakan hormon polipeptida dengan struktur kompleks. Semua sediaan insulin

97
umumnya imunogenik pada manusia tetapi resistensi imunologis terhadap kerja insulin

tidak lazim terjadi. Secara teori sediaan insulin yang sesuai dengan insulin manusia

kurang imunogenik, tetapi hal ini tidak terbukti dalam uji klinik. Insulin dirusak oleh

enzim dalam saluran cerna oleh karena itu harus diberikan melalui injeksi atau inhalasi;

rute subkutan memberi hasil yang baik pada semua kondisi.

Penanganan diabetes dengan insulin. Tujuan pengobatan diabetes adalah

untuk mengatur kadar gula darah tetap baik sehingga membuat pasien nyaman dan

menghindari hipoglikemia, diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter

dalam menurunkan resiko komplikasi diabetes.

Struktur molekul insulin terdiri dari 2 rantai peptida dihubungkan dengan

jembatan/ikatan disulfida. Menghubungkan struktur helix terminal N-C dari rantai

asam amino yang satu (A) dengan struktur sentral helix rantai asam amino lainnya (B).

Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Total

terdapat 51 asam amino.

 Anti Diabetes Oral

Obat antidiabetes (hipoglikemik) oral adalah senyawa kimia yang dapat

menurunkan kadar gula darah dan diberikan secara oral. Obat antidiabetes juga

merupakan obat yang digunakan untuk mengatur diabetes mellitus, suatu penyakit

dimana terdapat kerusakan sebagian atau keseluruhan dari sel beta pankreas untuk

menghasilkan insulin yang cukup, salah satu hormon yang diperlukan untuk mengatur

kadar glukosa. Obat antidiabetik oral digunakan untuk pengobatan diabetes melitus

tipe 2 (non-insulin dependent diabetes melitus, NIDDM).

98
Pada pasien yang tidak cukup terkontrol dengan diet dan obat hipoglikemik oral,

insulin dapat ditambahkan pada dosis pengobatan atau sebagai pengganti terapi oral.

Jika insulin ditambahkan pada terapi oral, insulin biasanya diberikan pada waktu akan

tidur sebagai insulin isophane; tetapi jika insulin menggantikan obat oral, biasanya

diberikan sebagai injeksi insulin bifasik dua kali sehari (atau insulin isophane

dicampur dengan insulin soluble).

Macam – macam obat oral antidiabet, antara lain :

a. Sulfonilurea

Kerja utama sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin sehingga efektif

hanya jika masih ada aktivitas sel beta pankreas; pada pemberian jangka lama

sulfonilurea juga memiliki kerja di luar pankreas. Sulfonilurea digunakan untuk

pasien yang tidak kelebihan berat badan, atau yang tidak dapat menggunakan

metformin. Sulfonilurea kerja lama klorpropamid dan glibenklamid lebih sering

menimbulkan hipoglikemia; oleh karena itu untuk pasien lansia obat tersebut

sebaiknya dihindari dan sebagai alternatif digunakan sulfonilurea kerja singkat,

seperti gliklazid atau tolbutamid. Klorpropamid juga mempunyai efek samping

lebih banyak daripada sulfonilurea lain (lihat keterangan di bawah) sehingga

penggunaannya tidak lagi dianjurkan. Contoh beberapa golongan sulfonilurea:

- Tolbutamide

Mengontrol gula darah yang tinggi membantu mencegah kerusakan ginjal,

kebutaan, masalah saraf, kehilangan anggota gerak, dan masalah fungsi seksual.

Kontrol diabetes yang sesuai dapat juga mengurangi risiko Anda terkena serangan

99
jantung atau stroke. Obat ini bekerja dengan cara menyebabkan pelepasan insulin tubuh

alami dan dapat membantu mengembalikan respon tubuh yang sesuai terhadap insulin.

- Klorpropamid

Obat ini membantu pankreas dalam memproduksi insulin. Tambahan obat ini

terhadap diet yaitu untuk menurunkan gula darah pada pasien yang menderita NIDDM

(diabetes melitus yang tidak bergantung pada insulin) yang hiperglikemianya tidak

dapat dikontrol dengan diet saja.

- Gliclazide

Obat ini juga bermanfaat untuk mencegah penumpukan lemak di arteri. Gliclazide

menurunkan kadar gula darah dengan cara mengikat secara selektif reseptor

sulfonilurea (SUR 1) pada permukaan sel beta pankreas. Mekanisme ini membuat

gliclazide mampu memblokir sebagian potassium chanels antara sel-sel beta dari pulau

langerhans pada organ pankreas. Dengan menghalangi potassium channels, sel

mengalami depolarisasi yang menyebabkan pembukaan voltage-gated calcium

channels. masuknya kalsium mendorong pelepasan insulin dari sel beta.

- Glibenklamid

Glibenkamid menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh untuk

mengeluarkan lebih banyak insulin. Hormon inilah yang membantu mengendalikan

kadar gula di dalam darah agar tidak terlalu tinggi.

- Glipizid

Glipizid merupakan turunan sulfonylurea dengan efek antidiabetes yang kuat

dicapai 30 menit setelah cepat dalam saluran cerna, kadar obat dalam darah

maksimum dicapai 30 menit setelah pemberian oral.

100
R= gugus alifatik (asetil, amino, kloro, metil, metiltio dan triofluorometil) akan

berpengaruh terhadap massa kerja obat dan meningkatkan aktivitas hipoglikemik. Bila

R adalah gugus 𝛽-aril karboamidoetil (Ar-CONH-CH2-CH2-) seperti pada

glibenklamid dan glipizid, senyawa mempunyai aktivitas lebih besar dibandingkan

senyawa awal. Ini merupakan antidiabetes oral generasi kedua. Diduga hal ini

disebabkan oleh fungsi jarak khas antara atom N substituen dengan atom N

sulfonamide sehingga interaksi obat reseptor lebih serasi.

R’= gugus alifatik lain yang berpengaruh terhadap sikap lipofil senyawa.

R’= metil, senyawa relatif tidak aktif

R’= etil, senyawa aktivitasnya lemah dan bila senyawa mengandung 3-6 atom C,

aktivitasnya maksimal. Aktivitas senyawa hilang bila mengandung atom C = 12 atau

lebih.

R’ dapat pula berupa gugus alisiklik atau cincin heterosiklik yang terdiri dari 5-7

atom. Bila berupa gugus aril, senyawa menimbulkan toksisitas cukup besar. Beberapa

gugus atau atom pada struktur umum dapat diganti dengan gugus atau atom

isosteriknya.

101
102