Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH RANGKAIAN LISTRIK II

SISTEM 3 FASA

Disusun oleh : 1. Sahron Ag Hasibuan


2. Zaid Muammar
3. Anggi Ridho Lubis
4. Wawan Suhendra

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Adapun isi dari makalah yang di susun ini adalah tentang Sistem 3 Fasa. Makalah ini
kami rencanakan sesuai dengan tugas yang diberikan oleh dosen kami dalam mata kuliah
Rangkaian Listrik II.
Penulis menyadari bahwa didalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
baik dari segi tata penulisan maupun dari segi isi. Untuk itu penulis mengharapkan adanya
saran-saran dan kritik dari semua pihak, guna membangun dan merevisi isi makalah sesuai
dengan yang diharapkan bersama, sehingga makalah ini dapat diwujudkan dengan baik. kami
penyusun makalah ini mohon maaf sebesar-besarnya atas koreksi-koreksi yang telah
dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu evaluasi dalam pembuatan makalah
ini. Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan makalah ini dapat memberikan manfaat
berupa Ilmu Pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................


DAFTAR ISI .......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar belakang .........................................................................................................
B. Rumusan masalah ...................................................................................................
C. Tujuan .....................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian sistem 3 fasa ..........................................................................................
B. Arus netral pada sistem 3 fasa .................................................................................
C. Rangkaian listrik 3 fasa ...........................................................................................
D. Hubungan bintang ...................................................................................................
E. Hubungan Segitiga ..................................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

i
ii
1
1
1
2
4
5
6
5
7

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya ada dua macam hubungan yang biasa digunakan pada sistem tiga fasa (terutama pada
beban yang seimbang). Hubungan tersebut adalah hubungan bintang (Y) dan hubungan delta (). Pada
sistem tenaga listrik 3 fase, idealnya dayalistrik yang dibangkitkan, disalurkan dan diserap oleh beban
semuanya seimbang, Ppembangkitan = P pemakain, dan juga pada tegangan yang seimbang. Pada
teganganyang seimbang terdiri dari tegangan 1 fase yang mempunyai magnitude dan frekuensiyang sama
tetapi antara 1 fase dengan yang lainnya mempunyai beda fase sebesar 120 derajat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu sistem 3 Fasa ?
2. Apa saja hubungan sistem 3 fasa?
C. Tujuan
Untuk mengetahui rangkaian sistem tiga fasa dan hubungan hubungan pada rangkaian
sistem tiga fasa.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem 3 Fasa


Pada istilah umum di Indonesia, sistem 3-phase ini lebih familiar dengan nama sistem
R-S-T. karena memang umumnya menggunakan simbol R, S , T untuk tiap penghantar
phasenya serta simbol N untuk penghantar netral.
Listrik 3-phase adalah listrik AC (alternating current) yang menggunakan 3
penghantar yang mempunyai tegangan sama tetapi berbeda dalam sudut phase sebesar 120
degree. Ada 2 macam hubungan dalam koneksi 3 penghantar tadi : hubungan bintang (Y
atau star) dan hubungan delta. Sesuai bentuknya, yang satu seperti huruf Y dan satu lagi
seperti simbol delta.
Hampir seluruh perusahaan penyedia tenaga listrik menggunakan sistem listrik 3phase ini. Sistem ini diperkenalkan dan dipatenkan oleh Nikola Tesla pada tahun 1887 dan
1888. Sistem ini secara umum lebih ekonomis dalam penghantaran daya listrik, dibanding
dengan sistem 2-phase atau 1-phase, dengan ukuran penghantar yang sama. Karena sistem 3phase dapat menghantarkan daya listrik yang lebih besar. Dan juga peralatan listrik yang
besar, seperti motor-motor listrik, lebih powerful dengan sistem ini.
PLN mengaplikasikan sistem 3-phase dalam keseluruhan sistem kelistrikannya, mulai
dari pembangkitan, transmisi daya hingga sistem distribusi. Agar lebih jelas, sistem
kelistrikan PLN secara umum dibagi dalam 3 bagian besar :
1. Sistem Pembangkitan Tenaga Listrik
Terdiri dari pembangkit-pembangkit listrik yang tersebar di berbagai tempat, dengan
jenis-jenisnya antara lain yang cukup banyak adalah PLTA (menggunakan sumber tenaga air),
PLTU (menggunakan sumber batubara), PLTG (menggunakan sumber dari gas alam) dan
PLTGU (menggunakan kombinasi antara gas alam dan uap). Pembangkit-pembangkit tersebut
mengubah sumber-sumber alam tadi menjadi energi listrik.

2. Sistem Transmisi Daya


Energi listrik yang dihasilkan dari berbagai pembangkit tadi harus langsung
disalurkan. Karena energi listrik sebesar itu tidak bisa disimpan dalam baterai. Karena akan
butuh baterai kapasitas besar untuk menyimpan energi sebesar itu dan menjadi sangat tidak
ekonomis. Sebagai gambaran, accu 12Vdc dengan kapasitas 50Ah akan menyimpan energi
listrik maksimal kira-kira 600 Watt untuk pemakaian penuh selama 1 jam. Sedangkan total
pemakaian daya listrik untuk jawa-bali bisa melebihi 15,000 MW (15,000,000,000 Watt).
Jadi, Berapa besar baterai untuk penyimpanannya?
Untuk itulah suplai energi listrik bersifat harus sesuai dengan permintaan saat itu juga,
tidak ada penyimpanan. Karena itu sistem transmisi daya listrik dibangun untuk
menghubungkan pembangkit-pembangkit listrik yang tersebar tadi dan menyalurkan
listriknya langsung saat itu juga ke pelanggan-pelanggan listrik.
Saluran penghantarannya dikenal dengan nama SUTT (Saluran Udara Tegangan
Tinggi), SUTET (Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi) dll.
3. Sistem Distribusi Daya Listrik
Dari sistem transmisi daya tadi, listrik akan sampai ke pelanggan-pelanggannya
(terutama perumahan) dengan terlebih dahulu melalui Gardu Induk dan kemudian Gardu
Distribusi. Gardu Induk mengambil daya listrik dari sistem transmisi dan menyalurkan ke
Gardu-gardu distribusi yang tersebar ke berbagai daerah perumahan. Dan di dalam gardu
distribusi, terdapat trafo distribusi yang menyalurkan listrik langsung ke rumah-rumah dengan
melewati JTR (Jaringan Tegangan Rendah), yang biasanya ditopang oleh tiang listrik. Listrik
3-phase adalah listrik AC (alternating current) yang menggunakan 3 penghantar yang
mempunyai tegangan sama tetapi berbeda dalam sudut phase sebesar 120 degree. Ada 2
macam hubungan dalam koneksi 3 penghantar tadi : hubungan bintang (Y atau star) dan
hubungan delta. Sesuai bentuknya, yang satu seperti huruf Y dan satu lagi seperti simbol
delta.

Sistem 3-

Phase Hubungan

Bintang

dengan tegangan

380/220V
Gambar
adalah
phase

diatas

contoh sistem 3yang

dihubung bintang.

Titik pertemuan dari masing-masing phase disebut dengan titik netral. Titik netral ini
merupakan common dan tidak bertegangan.
Ada 2 macam tegangan listrik yang dikenal dalam sistem 3-phase ini : Tegangan antar
phase (Vpp : voltage phase to phase atau ada juga yang menggunakan istilah Voltage line to
line) dan tegangan phase ke netral (Vpn : Voltage phase to netral atau Voltage line to netral).
Sistem tegangan yang dipakai pada gambar dibawah adalah yang digunakan PLN pada trafo
distribusi JTR (380V/220V), dengan titik netral ditanahkan.

B. Arus Netral pada sistem 3-phase


Salah satu karakteristrik sistem 3-phase adalah bila sistem 3-phase tersebut
mempunyai beban yang seimbang, maka besaran arus phase di penghantar R-S-T akan sama
sehingga In (arus netral) = 0 Ampere. Contohnya pada gambar diatas : Misal ketiga rumah
tersebut mempunyai beban yang identik seimbang. Maka arus netral sebagai penjumlahan dari
ketiga arus phase tersebut akan menjadi :
Ir + Is + It = In > Bila beban seimbang maka Ir = Is = It dan In = 0 Ampere
Pada prakteknya, beban seimbang dari ketiga phase tadi hampir mustahil dicapai.
Karena beban listrik setiap rumah belum tentu identik. Bila terjadi ketidak seimbangan beban,
maka besar arus listrik setiap phase tidak sama. Akibatnya arus netral tidak lagi sebesar 0
Ampere. Semakin tidak seimbang bebannya, maka arus netral akan semakin besar.

Karena sifat arus listrik adalah loop tertutup agar bisa mengalir, maka arus netral tadi
akan mengalir ke instalasi listrik milik pelanggan dan melewati grounding sistem untuk
masuk ke tanah, yang akhirnya mengalir balik ke titik grounding trafo kemudian kembali
masuk ke instalasi listrik rumah, demikian seterusnya. Walaupun pelanggan listrik tersebut
mematikan daya listrik yang masuk ke rumah, dengan MCB di kWh-meter pada posisi
OFF, arus netral tetap akan mengalir.
C. Rangkaian Listrik 3 Fasa

Rangkaian listrik 3 fasa merupakan rangkaian listrik yang memiliki tiga buah keluaran
simetris dan memiliki perbedaan sudut untuk setiap fasanya sebesar 1200. Berikut gambar
dari gelombang 3 fasa:

Gambar Gelombang Tiga Fasa

Dari gambar diatas terlihat bahwa setiap fasa memiliki perbedaan sudut dan
didapatkan hubungan tegangan untuk masing-masing fasa sebagai berikut :
Va = Vm00
Vb = Vm -1200
Vc =Vm - 2400

Berikut diagram fasor dari tegangan 3 fasa :

Gambar Diagram Fasor Tegangan


Arus yang mengalir pada setiap beban dinyatakan sebagai :
I=

V
R

Pada rangkaian 3 fasa terdapat dua jenis hubungan yakni hubung bintang dan hubung
delta. Rangkaian 3 fasa hubung delta menggunakan 3 kawat yakni kawat 3 fasa sedangkan
pada rangkaian 3 fasa hubung bintang menggunakan 4 kawat, 3 kawat untuk fasa dan 1 kawat
untuk netral. Arus netral pada rangkaian hubung bintang merupakan titik hubung antar ketiga
fasanya. Arus netral (In) merupakan penjumlahan arus ketiga fasanya karena jalur netral
tersebut dilalui oleh ketiga fasa yang ada.

D. Hubungan Bintang (Y,wye)


Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase dihubungkan menjadi satu dan
menjadi titik netral atau titik bintang. Tegangan antara dua terminal dari tiga terminal a-b-c
mempunyai besar magnitude dan beda fasa yang berbeda dengan tegangan tiap terminal
terhadapa titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut tegangan fase atau Vf.

Gambar 2.Hubungan Bintang (Y,wye).


Dengan adanya saluran titik netral maka besaran tegangan fase dihitung terhadap
saluran

titik netralnya, juga membentuk sistem tegangan 3 fase yang seimbang dengan

magnitudenya (akar 3 dikali magnitude dari tegangan fase).


Vline = akar 3 Vfase = 1,73Vfase
Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fase mempunyai nilai yang sama, ILine = If
atau Ia = Ib = Ic.
6

E. Hubungan Segitiga
Pada hubungan segitiga (delta, , D) ketiga fase saling dihubungkan sehingga
membentuk hubungan segitiga 3 fase.

Gambar 3. Hubungan Segitiga (delta, , D).

Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran dihitung antar fase,
karena

tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar magnitude yang sama, maka:

Vline = Vfase Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua arus
tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan hukum kirchoff, sehingga: Iline = akar 3 Ifase
= 1,73Ifase.

1. Daya sistem 3 fase Pada Beban yang Seimbang


Jumlah daya yang diberikan oleh suatu generator 3 fase atau daya yang diserap oleh
beban 3 fase, diperoleh dengan menjumlahkan daya dari tiap-tiap fase. Pada sistem yang
seimbang, daya total tersebut sama dengan tiga kali daya fase, karena daya pada tiap-tiap
fasenya sama.

Gambar 4. Hubungan Bintang dan Segitiga yang seimbang.


Jika sudut antara arus dan tegangan adalah sebesar , maka besarnya daya perfasa
adalah :
Pfase = Vfase.Ifase.cos
Sedangkan besarnya total daya adalah penjumlahan dari besarnya daya tiap fase, dan
dapat dituliskan dengan,
PT = 3.Vf.If.cos
Pada hubungan bintang, karena besarnya tegangan saluran adalah 1,73 Vfase maka
tegangan perfasanya menjadi Vline/1,73, dengan nilai arus saluran sama dengan arus fase, IL
= If, maka daya total (PTotal) pada rangkaian hubung bintang (Y) adalah:
PT = 3.VL/1,73.IL.cos = 1,73.VL.IL.cos
Dan pada hubung segitiga, dengan besaran tegangan line yang sama dengan tegangan
fasanya, VL = Vfasa, dan besaran arusnya Iline = 1,73Ifase, sehingga arus perfasanya menjadi
IL/1,73, maka daya total (Ptotal) pada rangkaian segitiga adalah:
PT = 3.IL/1,73.VL.cos = 1,73.VL.IL.cos

Dari persamaan total daya pada kedua jenis hubungan terlihat bahwa besarnya daya
pada kedua jenis hubungan adalah sama, yang membedakan hanya pada tegangan kerja dan
arus yang mengalirinya saja, dan berlaku pada kondisi beban yang seimbang.

2. Daya sistem 3 fase pada beban yang tidak seimbang


Sifat terpenting dari pembebanan yang seimbang adalah jumlah phasor dari ketiga
tegangan adalah sama dengan nol, begitupula dengan jumlah phasor dari arus pada ketiga fase
juga sama dengan nol. Jika impedansi beban dari ketiga fase tidak sama, maka jumlah phasor
dan arus netralnya (In) tidak sama dengan nol dan beban dikatakan tidak seimbang. Ketidak
seimbangan beban ini dapat saja terjadi karena hubung singkat atau hubung terbuka pada
beban.
Dalam sistem 3 fase ada 2 jenis ketidak seimbangan, yaitu:
1. Ketidak seimbangan pada beban.
2. ketidak seimbangan pada sumber listrik (sumber daya).
Kombinasi dari kedua ketidak seimbangan sangatlah rumit untuk mencari pemecahan
permasalahannya, oleh karena itu kami hanya akan membahas mengenai ketidak seimbangan
beban dengan sumber listrik yang seimbang.

Gambar 5. Ketidak seimbangan beban pada sistem 3 fase.

Pada saat terjadi gangguan, saluran netral pada hubungan bintang akan teraliri arus
listrik. Ketidak seimbangan beban pada sistem 3 fase dapat diketahui dengan indikasi naiknya
arus pada salahsatu fase dengan tidak wajar, arus pada tiap fase mempunyai perbedaan yang
cukup signifikan, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan.

10

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Listrik 3-phase adalah listrik AC (alternating current) yang menggunakan 3
penghantar yang mempunyai tegangan sama tetapi berbeda dalam sudut phase sebesar 120
degree.
Pada rangkaian 3 fasa terdapat dua jenis hubungan yakni hubung bintang dan hubung
delta. Rangkaian 3 fasa hubung delta menggunakan 3 kawat yakni kawat 3 fasa sedangkan
pada rangkaian 3 fasa hubung bintang menggunakan 4 kawat, 3 kawat untuk fasa dan 1 kawat
untuk netral. Arus netral pada rangkaian hubung bintang merupakan titik hubung antar ketiga
fasanya. Arus netral (In) merupakan penjumlahan arus ketiga fasanya karena jalur netral
tersebut dilalui oleh ketiga fasa yang ada.

Rangkaian listrik 3 fasa merupakan rangkaian listrik yang memiliki tiga buah keluaran
simetris dan memiliki perbedaan sudut untuk setiap fasanya sebesar 1200 .

11

DAFTAR PUSTAKA
http://alidwiw.blogspot.co.id/p/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2009/01/sistem-3-fasa.html
https://zulkarnain.wordpress.com/2014/08/02/sistem-listrik-3-phase-atau-3-fasa/
http://dokumen.tips/documents/sistem-3-fasa-55a4d305c1412.html

12