Anda di halaman 1dari 28

AKREDITASI LEMBAGA PENDIDIKAN

OLEH :
NUR FADILLAH ANGGRAENI
160331901328
S3 PENDIDIKAN KIMIA

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada era atau masa globalisasi ini tentu dibutuhkan adanya sumber
daya manusia yang berkualitas, berkompetensi dan berdaya saing tinggi.
Dunia pendidikan dituntut untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan dan
dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berprestasi
tinggi. Upaya peningkatan kualitas pendidikan secara nasional merupakan
salah satu agenda yang dilaksanakan oleh pemerintah secara berkelanjutan.
Upaya ini diarahkan agar setiap lembaga pendidikan selalu berupaya untuk
memberikan jaminan atas kualitas kepada pihak-pihak yang berkepentingan
atau kepada masyarakat berupa suatu jaminan bahwa penyelenggaraan
pendidikan di sekolah atau tingkat satuan pendidikan sudah sesuai dengan
standar kelayakan berskala nasional.
Apabila setiap lembaga penyelenggara pendidikan selalu berupaya
untuk memberikan jaminan kualitas dan upaya ini dilakukan secara terus
menerus, maka diharapkan mutu pendidikan secara nasional akan terus
meningkat. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah ditunjukan dengan
kesesuaian kondisi dan kebutuhan, daya tarik pendidikan yang besar,
efektivitas program, efisiensi dan produktivitas kegiatan serta pencapaian
prestasi belajar (tingkat kelulusan) yang tinggi.
Pendidikan di Indonesia sudah hampir terlaksana merata dari tahun ke
tahun. Banyak sekolah yang dibangun di daerah-daerah yang maju
pembangunannya maupun di daerah-daerah yang masih belum maju atau

minim

akan

standar

sarana

dan

prasarana

pembangunan

fasilitas

penyelenggaraan pendidikan. Pembangunan gedung sekolah tidak sematamata diharapkan berorientasi untuk mencari keuntungan namun diharapkan
pembangunan

gedung

sekolah

termasuk

struktur

kinerja

organisasi

didalamnya memiliki fungsi yang optimal sebagai tujuan meningkatkan mutu


pendidikan disekolah. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan disekolah adalah menyelenggarakan
proses atau program akreditasi sekolah. Dengan melakukan akreditasi, sekolah
atau penyelenggara pendidikan akan mendapat beragam manfaat dimana
mekanisme dalam proses serta hasil akreditasi dapat dijadikan refrensi sebagai
upaya pengembangan atau peningkatan standar mutu berskala nasional. Pada
makalah ini akan dibahas tentang akreditasi Sekolah/Madrasah (BAN-S/M),
Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan Pendidikan Non Formal (BANPNF). Adapun yang akan dibahas yaitu lingkup akreditasi, tujuan dan manfaat
akreditasi, serta mekanisme akreditasi sebagaimana yang telah ditetapkan
dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional atau pun Peraturan
Pemerintah yang telah diselenggarakan sebagai agenda di tingkat satuan
pendidikan sebagai salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, adapun rumusan masalah
dari makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud akreditasi Sekolah?Madrasah (BAN-S/M) dan apa saja
lingkupnya?
2. Apa yang dimaksud akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-P/T) dan apa saja
lingkupnya?
3. Apa yang dimaksud akreditasi Pendidikan Non Formal (BAN-PNF) dan apa
saja lingkupnya?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, adapun tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud akreditasi Sekolah?Madrasah
(BAN-S/M) dan apa saja lingkupnya?
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud akreditasi Perguruan Tinggi (BANP/T) dan apa saja lingkupnya?
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud akreditasi Pendidikan Non Formal
(BAN-PNF) dan apa saja lingkupnya?.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

I. AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH
A. Tentang Akreditasi Sekolah/Madrasah
Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian (asesment) sekolah secara
sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi
eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.
Berdasarkan Undang-Undang nomor 22 tahun 1961, di Indonesia, akreditasi
diberikan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hasilnya berupa tiga
tingkatan status, yaitu terdaftar, diakui, dan disamakan. Namun pada saat ini,
tingkatan status akreditasi setelah proses assesment diselenggarakan oleh
pihak-pihak terkait, tingkatan status tersebut dirumuskan sebagai berikut:

a. Sekolah terakreditasi A (Skor hasil assesment berkisar antara 86-100)


setara dengan terdaftar;
b. Sekolah terakreditasi B (Skor hasil assesment berkisar antara 70-86) setara
dengan diakui;
c. Sekolah terakreditasi C (Skor hasil assesment berkisar antara 56-70) setara
dengan disamakan;
d. Sekolah tidak terakreditasi atau TT (Skor hasil assesment berkisar < 56),
sekolah dinyatakan tidak terakreditasi jika hasil assesment dari delapan
standar nasional pendidikan salah satu diantaranya memperoleh skor 40.
Terdapat tiga jenis sekolah yang perlu diakreditasi, diantaranya ialah:
a. Sekolah yang belum pernah terakreditasi.
b. Sekolah yang sudah 5 tahun terakreditas atau disebut sebagai akreditasi
ulang.
c. Sekolah yang dianggap perlu untuk akreditasi karena prioritas tertentu,
misalnya untuk penentuan Sekolah Bertaraf Internasional/SBI.

Sedangkan jenjang akreditasi sekolah meliputi:


a. Pogram ketunaan: SLB
b. Program sekolah: TK, SD, Madrasah, SMP, Sanawiyah, SMA, MA
c. Program keahlian: SMK

Pada awalnya akreditasi sekolah dilandasi atas Keputusan Dirjen


Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 020/Kep/1983, menyebutkan bahwa
akreditasi

hanya

untuk

sekolah

swasta.

Kemudian

sebagai

upaya

meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terencana, dan


terukur, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB XVI Bagian Kedua Pasal 60
tentang Akreditasi, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 86 & 87
dan Surat Keputusan Mendiknas No. 87/U/2002 tentang Akreditasi Sekolah.
Dalam amanat Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Keputusan tersebut
dengan tegas menunjuk seluruh sekolah agar diakreditasi, baik sekolah negeri
maupun sekolah swasta atas kesamaan tujuan dan mekanisme yang hampir
sama (sederhana). Pemerintah melakukan akreditasi untuk menilai kelayakan
program dan/atau satuan pendidikan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah telah menetapkan Badan
Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dengan Peraturan
Mendiknas Nomor 29 Tahun 2005. BAN-S/M adalah badan evaluasi mandiri
yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan jenjang
pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada standar
nasional pendidikan. Sebagai institusi yang bersifat mandiri dan bertanggung
jawab kepada Mendiknas, BAN-S/M bertugas merumuskan kebijakan
operasional, melakukan sosialisasi kebijakan dan melaksanakan akreditasi
sekolah/madrasah. Dalam melaksanakan akreditasi sekolah/ madrasah, BANS/M dibantu oleh Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M)
yang dibentuk oleh Gubernur, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya Pasal 87 ayat (2).

B. Lingkup Akreditasi Sekolah/Madrasah

Berdasarkan Peraturan Mendiknas Nomor 29 Tahun 2005 Pasal 1 ayat


(3) dan (4), lingkup satuan pendidikan formal yang diakreditasi meliputi:
1. Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Atfal (RA).
2. Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).
3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs).
4. Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA).
5. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
6. Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terdiri dari Taman Kanak-kanak Luar
Biasa (TKLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB), dan Sekolah Menengah Luar
Biasa (SMLB).

C. Tujuan Akreditasi Sekolah/Madrasah


1. Memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program
yang dilaksanakannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.
2. Memberikan pengakuan peringkat kelayakan dan rekomendasi tentang
penjaminan mutu pendidikan kepada program dan/atau satuan pendidikan
yang diakreditasi dan pihak terkait.
3. Memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada
program dan atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait.

D. Manfaat Akreditasi Sekolah/Madrasah

1. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya peningkatan mutu


Sekolah/Madrasah dan rencana pengembangan Sekolah/Madrasah.
2. Dapat dijadikan sebagai motivator agar Sekolah/Madrasah terus
meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif
baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan
internasional.
3. Dapat

dijadikan

pengembangan
menerapkan

umpan
kinerja

visi,

misi,

balik
warga
tujuan,

dalam

usaha

pemberdayaan

Sekolah/Madrasah
sasaran,

strategi

dalam
dan

dan

rangka
program

Sekolah/Madrasah.
4. Membantu mengidentifikasi Sekolah/Madrasah dan program dalam rangka
pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta dan donatur atau
bentuk bantuan lainnya.
5. Bahan informasi bagi Sekolah/Madrasah sebagai masyarakat belajar untuk
meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor
swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga dan dana.
6. Membantu Sekolah/Madrasah dalam menentukan dan mempermudah
kepindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran
guru dan kerjasama yang saling menguntungkan.

E. Fungsi Akreditasi Sekolah/Madrasah


1. Akuntabilitas,

yaitu

sebagai

bentuk

pertanggungjawaban

sekolah/madrasah kepada publik, apakah layanan yang dilakukan dan


diberikan oleh sekolah/madrasah telah memenuhi harapan atau keinginan
masyarakat.

2. Pengetahuan, yaitu sebagai informasi bagi semua pihak tentang kelayakan


sekolah/madrasah dilihat dari berbagai unsur terkait yang mengacu pada
standar minimal beserta indikator-indikatornya.
3. Pembinaan

dan

pengembangan,

yaitu

sebagai

dasar

bagi

sekolah/madrasah, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan


atau pengembangan mutu sekolah/madrasah.

F. Prinsip Akreditasi Sekolah/Madrasah


Adapun prinsip akreditasi yang diselenggarakan di tingkat satuan
pendidikan dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Objektif
Akreditasi sekolah/madrasah pada hakikatnya merupakan kegiatan
penilaian

tentang

kelayakan

penyelenggaraan

pendidikan

yang

ditunjukkan oleh suatu sekolah/madrasah. Dalam pelaksanaan penilaian ini


berbagai aspek yang terkait dengan kelayakan itu diperiksa dengan jelas
dan benar untuk memperoleh informasi tentang keberadaannya. Agar hasil
penilaian itu dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya untuk
dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan maka dalam prosesnya
digunakan indikator-indikator terkait dengan kriteria-kriteria yang
ditetapkan.
2. Komprehensif
Dalam pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah, fokus penilaian tidak
hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu saja tetapi juga meliputi berbagai
komponen pendidikan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian hasil
yang diperoleh dapat menggambarkan secara utuh kondisi kelayakan
sekolah/madrasah tersebut.

3. Adil
Dalam

melaksanakan

akreditasi,

semua

sekolah/madrasah

harus

diperlakukan sama dengan tidak membedakan sekolah/madrasah atas dasar


kultur, keyakinan,

sosial

budaya,

dan

tidak

memandang

status

sekolah/madrasah baik negeri ataupun swasta. Sekolah/Madrasah harus


dilayani sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja secara adil dan/atau
tidak diskriminatif.
4. Transparan
Data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan akreditasi
sekolah/madrasah seperti kriteria, mekanisme kerja, jadwal serta sistem
penilaian akreditasi dan lainnya harus disampaikan secara terbuka dan
dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukannya.
5. Akuntabel
Pelaksanaan

akreditasi

sekolah/madrasah

harus

dapat

dipertanggungjawabkan baik dari sisi penilaian maupun keputusannya


sesuai aturan dan prosedur yang telah ditetapkan.

G. Struktur Organisasi Pemberi Layanan Akreditasi Sekolah/Madrasah


Akreditasi

sekolah/madrasah

dilaksanakan

oleh

suatu

badan

nonstruktural yang dibentuk pemerintah, bersifat nirlaba dan mandiri serta


bertanggung jawab kepada Menteri Pendidikan Nasional. Kelembagaan
akreditasi terdiri dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BANS/M) dan Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M). Apabila
diperlukan

BAP-SM

dapat

membentuk

Unit

Pelaksana

Akreditasi

Sekolah/Madrasah (UPA-S/M) Kabupaten/Kota. BAN-S/M berkedudukan di


ibukota negara, BAP-S/M berkedudukan di ibukota provinsi, UPA-S/M
dibentuk oleh BAP-S/M sesuai keperluan dan kondisi pada masing-masing
provinsi. Struktur organisasi lembaga akreditasi sekolah/madrasah seperti
ditunjukkan pada diagram gambar berikut.

Gambar 2.1 Struktur Organisasi BAN S/M

Diagram Gambar di atas memperlihatkan bahwa pada prinsipnya


struktur organisasi lembaga akreditasi sekolah/madrasah terdiri atas tiga
tingkat yaitu tingkat nasional, disebut BAN-S/M, tingkat provinsi disebut
BAP-S/M dan tingkat kabupaten/kota disebut UPA-S/M. Sehingga tingkat dan
kewenangan
Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut:

1. Badan Akreditasi Nasional-Sekolah/Madrasah (BAN-S/M); merumuskan


kebijakan operasional, melakukan sosialisasi kebijakan dan melaksanakan
akreditasi S/M.
2. Badan Akreditasi Propinsi-Sekolah/Madrasah (BAP-S/M); melaksanakan
akreditasi untuk TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK dan
SLB.
3. Unit Pelaksana Akreditasi (UPA)-Kabupaten/Kota; membantu BAP-S/M
melaksanakan akreditasi.
Badan Akreditasi Nasional-Sekolah/Madrasah (BAN S/M) berfungsi:
1. Merumuskan kebijakan dan menetapkan akreditasi Sekolah/Madrasah.
2. Merumuskan kriteria dan perangkat akreditasi Sekolah/Madrasah untuk
diusulkan kepada Menteri.
3. Melaksanakan sosialisasi kebijakan, kriteria dan perangkat akreditasi
Sekolah/Madrasah.
4. Melaksanakan

dan

mengevaluasi

pelaksanaan

akreditasi

Sekolah/

Madrasah.
5. Memberikan rekomendasi tindak lanjut hasil akreditasi.
6. Mengumumkan hasil akreditasi Sekolah/Madrasah secara nasional.
7. Melaporkan hasil akreditasi Sekolah/Madrasah kepada Menteri.
8. Melaksanakan ketatausahaan BAN-S/M.
Badan Akreditasi Propinsi-Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) bertugas:
1. Melakukan sosialisasi kebijakan dan pencitraan BAN-S/M dan BAP-S/M
kepada Pemprov, Kanwil Kemenag, KanKemenag, Sekolah/Madrasah, dan
masyarakat pendidikan pada umumnya.
2. Merencanakan program akreditasi Sekolah/Madrasah yang menjadi
sasaran akreditasi.
3. Mengadakan pelatihan asesor sesuai dengan pedoman yang ditetapkan
oleh BAN-S/M.
4. Menetapkan hasil peringkat akreditasi melalui Rapat Pleno Anggota BAPS/M.

5. Menyampaikan laporan pelaksanaan program dan pelaksanaan akreditasi


serta rekomendasi tindak lanjut kepada BAN-S/M dengan tembusan
kepada Gubernur.
6. Menyampaikan laporan hasil akreditasi dan rekomendasi tindak lanjut
kepada Dinas Pendidikan Provinsi, Kanwil Kemenag dan LPMP.
7. Menyampaikan laporan hasil akreditasi dan rekomendasi tindak lanjut
kepada Pemerintah Kab/Kota yang bersangkutan dan satuan pendidikan
dalam rangka penjaminan mutu sesuai lingkup kewenangan masingmasing.
8. Mengumumkan hasil akreditasi kepada masyarakat, baik melalui
pengumuman maupun media massa.
9. Mengelola sistem basis data akreditasi.
10. Melakukan monitoring dan evaluasi secara terjadwal terhadap kegiatan
akreditasi.
11. Melaksanakan kesekretariatan BAP-S/M.
12. Membuat tugas pokok dan fungsi sesuai dengan kerangka tugas pokok
BAP-S/M.
13. Melaksanakan tugas lain sesuai kebijakan BAN-S/M.
Tugas Unit Pelaksana Akreditasi (UPA) Kabupaten/Kota adalah:
1. Sebagai penghubung antara BAP-S/M dengan Dinas Pendidikan dan
Kankemenag.
2. Mengusulkan jumlah Sekolah/Madrasah yang akan diakreditasi kepada
BAP-S/M.
3. Mengusulkan jumlah asesor yang dibutuhkan untuk kab/kota yang
bersangkutan.
4. Menyusun data Sekolah/Madrasah yang telah dan akan diakreditasi
ditingkat kabupaten/kota.
5. Mengkoordinasikan sasaran penugasan asesor.
6. Mengkoordinasikan jadwal pemberangkatan asesor.
7. Menyiapkan perangkat akreditasi dan administrasi bagi asesor.
8. Melaporkan pelaksanaan kegiatan.

9. Membantu administrasi BAP-S/M.


10. Melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh BAP-S/M
H. Komponen Akreditasi
Setelah mengetahui tujuan, manfaat dan fungsi Akreditasi Sekolah,
maka langkah awal bagi sekolah adalah mempersiapkan diri dalam
menghadapi akreditasi sekolah. Komponen-komponen akreditasi dapat
dijabarkan sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.

Standar Isi, [Permen 22/2006]


Standar Proses, [Permen 41/2007]
Standar Kompetensi Lulusan, [Permen 23/2006]
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, [Permen 13/2007 Tentang
Kasek, Permen 16/2007 Tentang Guru, Permen 24/2008 Tentang Tenaga

5.
6.
7.
8.

Adm]
Standar Sarana Dan Prasarana [Permen 24/2007]
Standar Pengelolaan, [Permen 19/2007]
Standar Pembiayaan, [PP. 48/2008]
Standar Penilaian Pendidikan. [Permen 20/2007]

I. Persyaratan Akreditasi Sekolah/Madrasah


Sekolah/Madrasah yang akan diakreditasi harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

memiliki Surat Keputusan Pendirian/Operasional Sekolah/Madrasah;


memiliki peserta didik pada semua tingkatan kelas;
memiliki sarana dan prasarana pendidikan;
memiliki pendidik dan tenaga kependidikan;
melaksanakan kurikulum yang berlaku; dan
telah menamatkan (meluluskan) peserta didik.

J. Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Sistem Akreditasi Sekolah/Madrasah


Pihak-pihak

yang

terlibat

dalam

pelaksanaan

akreditasi

sekolah/madrasah antara lain meliputi:


1. Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M)
2. Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M)
Pelaksanaan akreditasi pada dasarnya dilakukan pada

tingkat

sekolah/madrasah oleh BAN-S/M. Dalam pelaksanan akreditasi tersebut

BAN-S/M dibantu oleh BAP-S/M, sesuai Permendiknas Nomor 29 Tahun


2005. Untuk keperluan tersebut, maka dibentuk BAP-S/M pada setiap
provinsi.
3. Unit Pelaksana Akreditasi Sekolah/Madrasah (UPA-S/M), UPA-S/M
bertugas untuk membatu BAP-S/M.
4. Asesor
Asesor adalah tenaga profesional yang telah memenuhi persyaratan untuk
diangkat dan ditugasi oleh BAN-S/M sebagai lembaga akreditasi untuk
melakukan penilaian dan visitasi di sekolah/madrasah sebagai bagian dari
proses akreditasi.
5. Sekolah/Madrasah
K. Prosedur Akreditasi Sekolah
1. Mekanisme Akreditasi Sekolah meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:
Penyusunan Rencana Jumlah dan Alokasi Sekolah/Madrasah
BAP-S/M menyusun perencanaan jumlah dan alokasi Sekolah/Madrasah
yang akan diakreditasi dengan koordinasi Disdik Provinsi dan Kanwil
Kemenag untuk tiap provinsi pada setiap tahunnya dan jabatan alokasi
untuk setiap kabupaten/kota.
2. Pengumuman Secara Terbuka kepada Sekolah/Madrasah BAP-S/M
mengumumkan

secara

terbuka

kepada

Sekolah/Madrasah

pada

provinsinya masing-masing untuk menyampaikan usul akreditasi melalui


Disdik Kabupaten/Kota, KanKemenag, UPA dan media lainnya.
3. Pengusulan Daftar Sekolah/Madrasah
Disdik Provinsi dan Kabupaten/Kota, Kanwil Kemenag dan Kankemenag
mengusulkan daftar nama dan alamat Sekolah/Madrasah yang akan
diakreditasi mengacu pada alokasi yang telah ditetapkan pada butir 1.
4. Pengiriman Perangkat Akreditasi ke Sekolah/Madrasah
BAP-S/M mengirimkan Perangkat Akreditasi ke Sekolah/Madrasah yang
akan diakreditasi.
5. Pengisian Instrumen Akreditasi dan Instrumen Pendukung
Sebelum mengajukan permohonan akreditasi, Sekolah/Madrasah harus
melakukan evaluasi diri terlebih dahulu. Evaluasi diri ini dilakukan
melalui pengisian Instrumen Akreditasi dan Instrumen Pendukung yang
telah dikirimkan oleh BAP-S/M.

6. Pengiriman Instrumen Akreditasi dan Instrumen Pendukung


Sekolah/Madrasah mengirimkan Instrumen Akreditasi dan Instrumen
Pendukung dan mengajukan permohonan untuk diakreditasi kepada BAPS/M melalui UPA-S/M, dengan tembusan ke Dinas Pendidikan Kab/Kota
dan Kankemenag. Pengajuan akreditasi oleh Sekolah/Madrasah tentang
Keabsahan Data dalam Instrumen Akreditasi dan Instrumen Pendukung.
7. Penentuan Kelayakan Visitasi
BAP-S/M menentukan kelayakan visitasi berdasarkan hasil evaluasi diri.
Apabila pemeriksaan hasil evaluasi diri dinyatakan layak untuk divisitasi,
maka BAP-S/M menugaskan asesor untuk melaksanakan visitasi ke
Sekolah/ Madrasah. Namun apabila hasil pemeriksaan tersebut dinyatakan
tidak layak, maka BAP-S/M membuat surat kepada Sekolah/Madrasah
yang berisi tentang penjelasan agar Sekolah/Madrasah yang bersangkutan
melakukan perbaikan.
8. Penugasan Tim Asesor
BAP-S/M menetapkan dan menugaskan tim asesor untuk melaksanakan
visitasi ke Sekolah/Madrasah.
9. Pelaksanaan Visitasi
Asesor melaksanakan visitasi dengan jalan melakukan klarifikasi,
verifikasi dan validasi data evaluasi diri Sekolah/Madrasah sesuai dengan
kondisi yang ada. Setelah itu tim asesor melaporkan hasil visitasi tersebut
kepada BAP-S/M.
10. Verifikasi Hasil Visitasi Asesor
BAP-S/M melakukan verifikasi terhadap hasil visitasi asesor terutama
untuk butir-butir esensial.
11. Penetapan Hasil Akreditasi Sekolah/Madrasah
BAP-S/M menetapkan hasil akreditasi Sekolah/Madrasah melalui rapat
pleno. Rapat pleno penetapan hasil akhir akreditasi harus dihadiri oleh
sekurang-kurangnya lebih dari 50% jumlah anggota BAP-S/M. Keputusan
penetapan hasil akreditasi ditetapkan melalui musyawarah untuk mufakat.
Hasil rapat pleno BAP-S/M tentang penetapan hasil akreditasi dituangkan
dalam bentuk Surat Keputusan BAP-S/M.
12. Penerbitan Sertifikat

Berdasarkan hasil akreditasi yang ditetapkan melalui rapat pleno, BAPS/M sesuai dengan kewenangannya akan menerbitkan sertifikat akreditasi
S/M sesuai dengan format dan blanko yang dikeluarkan oleh BAN-S/M.
13. Pelaporan Hasil Akreditasi
Hasil akreditasi sekolah/madrasah tersebut akan dilaporkan ke berbagai
pihak sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, sebagai berikut.
a. BAN-S/M melaporkan kegiatan akreditasi Sekolah/Madrasah kepada
Mendiknas.
b. BAP-S/M melaporkan kegiatan akreditasi Sekolah/Madrasah kepada
Gubernur dengan tembusan kepada BAN-S/M, Dinas Pendidikan
Provinsi, Kanwil Kemenag, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota,
Kankemenag dan LPMP.
c. Laporan hasil akreditasi Sekolah/Madrasah juga dapat diakses oleh
berbagai pihak yang terkait dan berkepentingan dengan peningkatan
mutu pendidikan. Seluruh hasil akreditasi secara nasional diumumkan
melalui website BAN-S/M dengan alamat situs di http://www.bansm.or.id
Kemdiknas, Kementerian Agama, Dinas Pendidikan Provinsi, Kanwil
Kemenag, Dinas Pendidikan Kab/Kota, Kankemenag dan penyelenggara
melakukan

pembinaan

terhadap

Sekolah/Madrasah

berdasarkan

hasil

akreditasi sesuai dengan kewenangannya.


L. Masalah

yang

Sering

Terjadi

Saat

Mekanisme

Akreditasi

diselenggarakan
Berikut ini dijabarkan permasalahan yang sering ditemukan dalam
implementasi akreditasi. Diantaranya ialah:
1. Anggaran dana.
Jumlah alokasi sekolah yang akan diakreditasi setiap tahun tergantung dari
kuota dan dana APBN yang sudah ditetapkan.
2. Banyaknya sekolah yang tersebar diberbagai daerah di Indonesia
Proses

akreditasi

belum

sepenuhnya

sekolah/madrasah yang ada di Indonesia.

menjangkau

seluruh

3. Letak sekolah yang sulit terjangkau


Proses pengiriman form instrumen akreditasi dan data pendukung akan
menjadi lambat, terutama pada saat pengembalian form instrumen yang
sudah terisi.
4. Kurangnya persiapan pelaksanaan akreditasi
Terkadang form instrumen dan data pendukung langsung dibawa oleh
Asesor pada saat melakukan visitasi, sehingga sekolah tersebut tidak
memiliki persiapan yang baik.
5. Kurang objektif penilaian akreditasi
Asesor terkadang kurang objektif dalam melakukuan visitasi akreditasi,
sehingga BAN/SM harus melakukan akreditasi ulang dan mengakibatkan
pemborosan waktu, tenaga dan sumber daya.
II. Akreditasi Perguruan Tinggi
A. Tentang Akreditasi Perguruan Tinggi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1994 membentuk
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang bertugas
melakukan akreditasi perguruan tinggi. Pada awal pembentukannya BAN-PT
memutuskan untuk melakukan akreditasi program studi terlebih dahulu
dengan pertimbangan bahwa program studi lebih menentukan mutu hasil
pendidikan. Pada kenyataannya menunjukkan bahwa mutu program studi
dipengaruhi oleh keterkaitan antara program studi satu dengan yang lainnya
dalam satu institusi. Dalam model akreditasi program studi, lembaga Badan
Akreditasi melakukan penilaian terhadap program yang diselenggarakan oleh
lembaga diklat berdasarkan standar yang telah ditentukan oleh lembaga BAN
tersebut (Sukardi, 2014). Perkembangan era globalisasi dan adanya reformasi
dari berbagai bidang dalam pemerintahan untuk melakukan berbagai
perubahan yang melahirkan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Pasal 61 ayat (2) yang menyatakan bahwa ijazah
diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar

dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang


diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 86 ayat (1)
dinyatakan bahwa Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan
satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan
pendidikan dan dalam ayat (2) dinyatakan bahwa kewenangan akreditasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh Lembaga Mandiri
yang diberikan kewenangan oleh pemerintah untuk melakukan akreditasi,
pada Pasal 87 ayat (1) dinyatakan akreditasi oleh pemerintah sebagaimana
yang dimaksud dalam pasal 86 ayat (1) butir b dilaksanakan oleh Badan
Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi terhadap program dan/atau satuan
pendidikan jenjang pendidikan tinggi dan Pasal 94 ayat (b) ketentuan
peralihan dari Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standart
Nasional

Pendidikan

dinyatakan

bahwa

Satuan

Pendidikan

wajib

menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7


(tujuh) tahun sejak ditetapkannya Peraturan ini (ditetapkan tanggal 16 Mei
2005) dan Peraturan perundang-undangan lainnya serta kecenderungan
kebijakan tentang pendidikan tinggi yang menekankan pada mutu dan
akuntabilitas publik, institusi perguruan tinggi dan program studi membawa
konsekuensi terhadap kriteria maupun instrumen akreditasi. Selanjutnya
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 59 tahun 2012 tentang
BAN-PT dituntut untuk lebih memberikan layanan akreditasi yang transparan
dan akuntabel.
B. Landasan Hukum Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT)
Landasan

hukum

dan

perundang-undangan

yang

mendasari

pelaksanaan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sebagai


berikut:

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4301);
2. Undang-undang no 17 tahun 2000 beserta perubahannya tentang
Keuangan Negara;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Keuangan Negara atau Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 66 Tahun 2010 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5157);
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
7. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi
Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2010;
8. Keputusan Presiden Nomor 84/P tahun 2009 tentang Pembentukan
Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2011;
9. Keputusan Presiden Nomor 131/M tahun 2011 tentang Pengangkatan
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan
Nasional;
10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,
Nomor 59 Tahun 2012 tentang Badan Akreditasi Nasional;

11. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia


Nomor

126941/A.A3/KU/2011

Perbendaharaan/Pengelola

tentang

Keuangan

Pada

Pengangkatan
Badan

Pejabat

Penelitian

dan

Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran


2012
12. Daftar Isian Pagu Anggaran (DIPA) BAN-PT tahun anggaran 2014
C. Lingkup Akreditasi Perguruan Tinggi
Adapun lingkup akreditasi perguruan tinggi yang tercakup dalam
program kerja Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
meliputi:
1. Akreditasi Program Studi
2. Akreditasi Institusi
3. Akreditasi Profesi
4. Akreditasi PJJ
D. Akreditasi Program Studi
Akreditasi program studi adalah proses evaluasi dan penilaian secara
komprehensif atas komitmen program studi terhadap mutu dan kapasitas
penyelenggaraan program tridarma perguruan tinggi, untuk menentukan
kelayakan program akademiknya. Evaluasi dan penilaian dalam rangka
akreditasi program studi dilakukan oleh tim asesor yang terdiri atas pakar
sejawat dan/atau pakar yang memahami penyelenggaraan program akademik
program studi. Keputusan mengenai mutu didasarkan pada evaluasi dan
penilaian terhadap berbagai bukti yang terkait dengan standar yang ditetapkan
dan berdasarkan nalar dan pertimbangan para pakar sejawat. Bukti-bukti yang
diperlukan termasuk laporan tertulis yang disiapkan oleh program studi yang
diakreditasi, diverifikasi dan divalidasi melalui kunjungan atau asesmen
lapangan tim asesor ke lokasi program studi. Dengan demikian, tujuan dan
manfaat akreditasi program studi adalah sebagai berikut:

1. Memberikan jaminan bahwa program studi yang terakreditasi telah


memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT dengan merujuk
pada standar nasional pendidikan yang termaktub dalam Peraturan
Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari
penyelenggaraan program studi yang tidak memenuhi standar yang
ditetapkan itu.
2. Mendorong program studi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan
mempertahankan mutu yang tinggi.
3. Hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam
transfer kredit perguruan tinggi, pemberian bantuan dan alokasi dana, serta
pengakuan dari badan atau instansi yang lain.
Mutu program studi merupakan cerminan dari totalitas keadaan dan
karakteristik

masukan,

proses,

keluaran,

hasil,

dan

dampak,

atau

layanan/kinerja program studi yang diukur berdasarkan sejumlah standar yang


ditetapkan itu.
E. Mekanisme Akreditasi Program Studi
Proses akreditasi program studi dimulai dengan pelaksanaan evaluasi
diri di program studi yang bersangkutan. Evaluasi diri tersebut mengacu pada
pedoman evaluasi diri yang telah diterbitkan BAN-PT, namun, jika dianggap
perlu, pihak pengelola program studi dapat menambahkan unsur-unsur yang
akan dievaluasi sesuai dengan kepentingan program studi maupun institusi
perguruan inggi yang bersangkutan. Dari hasil pelaksanaan evaluasi diri
tersebut, dibuat sebuah rangkuman eksekutif (executive summary), yang
selanjutnya

rangkuman

eksekutif

tersebut

dilampirkan

dalam

surat

permohonan untuk diakreditasi yang dikirimkan ke sekretariat BAN-PT.


Sekertariat BAN-PT akan mengkaji ringkasan eksekutif dari program studi
tersebut, dan jika telah memenuhi semua komponen yang diminta dalam
pedoman evaluasi diri sekertariat BAN-PT akan mengirimkan instrumen
akreditasi yang sesuai dengan tingkat program studi setelah instrumen

akreditasi diisi, program studi mengirimkan seluruh berkas (instrumen


akreditasi yang telah diisi dan lampirannya, beserta copynya) ke sekertariat
BAN-PT. Jumlah copy yang harus disertakan untuk program studi tingkat
Diploma dan Sarjana sebanyak 3 copy, sedangkan untuk program studi tingkat
Magister dan Doktor sebanyak 4 copy. Penilaian dilakukan setelah seluruh
berkas diterima secara lengkap oleh sekertariat BAN-PT. Proses akreditasi
program studi dapat diilustrasikan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.2 Mekanisme Akreditasi Program Studi


F. Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Sistem Akreditasi Program Studi
Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan akreditasi program studi
antara lain meliputi:
1. Bidang Penyelenggaraan Akreditasi
2. Bidang Pengumpulan dan Pengolahan Data
3. Majelis BAN-PT

4. Asesor
5. Program Studi yang bersangkutan
III.Akreditasi Pendidikan Non Formal
Secara umum, Akreditasi PNF bertujuan untuk memberikan Penilaian
(assessment) secara obyektif, transparan, dan berkelanjutan terhadap
kelayakan suatu program dan satuan PNF berdasarkan atas kriteria-kriteria
yang telah ditetapkan. Pelaksanaan akreditasi terhadap program dan satuan
PNF akan memberi manfaat, antara lain:
1. Menyempurnakan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dari program dan
satuan PNF;
2. Meningkatkan mutu program dan satuan PNF;
3. memanfaatkan semua informasi hasil akreditasi sebagai umpan balik,
dalam upaya memberdayakan dan mengembangkan kinerja program dan
satuan PNF;
4. mendorong satuan PNF agar selalu berupaya meningkatkan mutu program
dan lembaganya secara bertahap, terencana, dan kompetitif di tingkat
kabupaten/kota, provinsi, regional, nasional, bahkan internasional;
5. memperoleh informasi yang handal dan akurat, dalam rangka masyarakat
pembelajar

PNF

memperoleh

dukungan

berupa

pembinaan

dari

pemerintah dan apresiasi dari masyarakat.


Adapun mekanisme akreditasi PNF, dapat ditunjukkan pada gambar
berikut.

Gambar 2.3 Mekanisme Akreditasi PNF


Setiap satuan pendidikan dan programnya yang telah memperoleh
status terakreditasi selanjutnya harus memperhatikan ketentuan sebagai
berikut:
1. Masa berlaku status akreditasi setiap Program/Satuan PNF adalah 5 (lima)
tahun dan setelah itu dapat mengajukan permohonan kembali untuk
diakreditasi, permohonan re-Akreditasi diajukan sekurang-kurangnya 6
(enam) bulan sebelum berakhirnya masa berlaku status akreditasi.
2. Program/Satuan PNF yang hingga 3 (tiga) bulan sejak berakhirnya masa
status akreditasi belum mengajukan permohonan untuk diakreditasi
kembali, maka status akreditasinya dinyatakan berakhir.
3. Program/Satuan PNF yang masa berlaku status akreditasinya sudah
berakhir dan telah mengajukan permohonan untuk diakreditasi, namun
belum dilakukan proses penilaian akreditasi oleh BAN-PNF, maka status
akreditasinya dinyatakan masih tetap berlaku.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Akreditasi Sekolah/Madrasah adalah kegiatan penilaian (asesment) sekolah
secara sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi
eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah. Lingkup
satuan pendidikan formal yang diakreditasi meliputi:
a. Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Atfal (RA).

b. Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).


c. Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs).
d. Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA).
e. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
f. Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terdiri dari Taman Kanak-kanak Luar
Biasa (TKLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB), dan Sekolah Menengah Luar
Biasa (SMLB).
2. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang bertugas
melakukan akreditasi perguruan tinggi. Adapun lingkup akreditasi perguruan
tinggi yang tercakup dalam program kerja Badan Akreditasi Nasional
Perguruan Tinggi (BAN-PT) meliputi:
a. Akreditasi Program Studi
b. Akreditasi Institusi
c. Akreditasi Profesi
d. Akreditasi PJJ
3. Akreditasi pendidikan non formal adalah suatu kegiatan penilaian kelayakan
suatu satuan pendidikan non formal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
dan dilakukan oleh BAN-PNF yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk
pengakuan peringkat kelayakan.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.dikti.go.id/files/atur/rbi/AkreditasiSekolahMadrasah.pdf

tentang

Akreditasi Sekolah/Madrasah. Diakses pada tanggal 12 November 2016.


http://www.dikti.go.id/files/atur/rbi/AkreditasiProdi.pdf

tentang

Program Studi. Diakses pada tanggal 12 November 2016.

Akreditasi

http://ban-pt.kemdiknas.go.id/ tentang Badan Akreditasi Nasional Perguruan


Tinggi (BAN-PT). Diakses pada tanggal 15 November 2016.
http://web.banpnf.or.id/ tentang Badan Akreditasi Pendidikan Non-formal (BANPNF). Diakses pada tanggal 16 November 2016.
http://www.ban-sm.or.id/ tentang Badan Akreditasi Nasional Sekolah atau
Madrasah (BAN-S/M). Diakses pada tanggal 16 November 2016.
Sukadri. 2014. Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan. Bumi Aksara:
Jakarta.