Anda di halaman 1dari 16

(Vibiznews - Finance)- Di harian Antara Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Fadjrijah

mengatakan, pihaknya akan mewajibkan penerapan Standar Akuntansi Internasional (IAS)


39 dan 32 bagi lembaga keuangan termasuk perbankan pada 2010 untuk menciptakan
stabilitas sistem keuangan. Isu utama dalam penerapan IAS itu adalah penerapan fair
value, yang berbeda dari nilai pasar (`market value`) karena komponen penghitungan
yang berbeda.
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting
Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara
ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan
perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.
Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi
standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard
Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya
harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan
internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of
Securities Commissions)
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai
akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negaranegara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu
perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan
kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Standard akuntansi internasional (IAS)
adalah standard yang dapat digunakan perusahaan multinasional yang dapat menjembatani
perbedaan-perbedaan antar Negara, dalam perdagangan multinasional.
IASC didirikan pada tahun 1973 dan beranggotakan anggota organisasi profesi akuntan dari
sepuluh negara. Di tahun 1999, keanggotaan IASC terdiri dari 134 organisasi profesi
akuntan dari 104 negara, termasuk Indonesia. Tujuan IASC adalah (1) merumuskan dan
menerbitkan standar akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan dan
mempromosikannya untuk bisa diterima secara luas di seluruh dunia, serta (2) bekerja
untuk pengembangan dan harmonisasi standar dan prosedur akuntansi sehubungan dengan
pelaporan keuangan.
IASC memiliki kelompok konsultatif yang disebut IASC Consultative Group yang terdiri dari
pihak-pihak yang mewakili para pengguna laporan keuangan, pembuat laporan keuangan,
lembaga-lembaga pembuat standar, dan pengamat dari organisasi antar-pemerintah.
Kelompok ini bertemu secara teratur untuk membicarakan kebijakan, prinsip dan hal-hal
yang berkaitan dengan peranan IASC.
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat
arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya
transparansi informasi keuangan.
Tujuan IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk

periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung


informasi berkualitas tinggi yang :
1. transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode yang
disajikan
2. menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS
3. dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna
Manfaat dari adanya suatu standard global:
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa
hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara
konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal
2. investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
3. perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai
merger dan akuisisi
4. gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam
mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan
secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan Internasional (IFRS). Banyak
Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai
dasar standard nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor
institusional dan pengguna laporan keuangan lainnya.
Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan secara sukarela, saat standard
internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan ada masalah, yang
menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila
hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama).
Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu,
Standard internasional telah bergerak maju, dan menekan Negara-negara yang kontra.
Contoh : komisi pasar modal AS, SEC tidak menerima IFRS sebagai dasar pelaporan
keuangan yang diserahkan perusahaan-perusahaan yang mencatatkan saham pada bursa
efek AS, namun SEC berada dalam tekanan yang makin meningkat untuk membuat pasar
modal AS lebih dapat diakses oleh para pembuat laporan non-AS. SEC telah menyatakan
dukungan atas tujuan IASB untuk mengembangkan standard akuntansi yang digunakan
dalam laporan keuangan yang digunakan dalam penawaran lintas batas

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
International Accounting Standards yang lebih dikenal sebagaiInternational
Financial Reporting Standard (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi
yang

memberikan

tekanan

pada

penilaian (revaluation) profesional

dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi,
penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu. Standar ini muncul akibat tuntutan
globalisasi yang mengharuskan para pelaku bisnis di suatu negara ikut serta dalam
bisnis lintas negara. Untuk itu diperlukan suatu standar internasional yang berlaku
sama di semua negara untuk mempermudah proses rekonsiliasi bisnis. Perbedaan
utama standar internasional ini dengan standar yang berlaku di Indonesia terletak
pada penerapan revaluation model, yaitu kemungkinan penilaian aktiva menggunakan
nilai wajar, sehingga laporan keuangan di sajikan dengan basis true and fair.
IFRS merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan
kerangka akuntansi berbasiskan prinsip yang meliputi penilaian profesional yang kuat
dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi,
penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait transaksi
tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah
membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai belahan dunia.
1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana praktik akuntansi negara-negara dunia?
2. Bagaimana kompleksitas pengembangan praktik terkait regulasi dan kondisi suatu
negara?
3. Apakah tantangan dan solusi terhadap penerapan IFRS di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian
IFRS

merupakan

standar

akuntansi

internasional

yang

diterbitkan

oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar akuntansi ini disusun
oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional
(IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal
(IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC).
Natawidyana (2008) menyatakan bahwa sebagian besar standar yang menjadi
bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standard (IAS)
kemudian IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar
yang dilakukan.
Secara keseluruhan IFRS mencakup:

a.

International Financial Reporting Standard (IFRS).Standar yang diterbitkan setelah


tahun 2001.

b. International Accounting Standard (IAS). Standar yang diterbitkan sebelum tahun


2001.
c.

Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations


Committee (IFRIC) setelah tahun 2001.

d. Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) sebelum


tahun 2001.
2.2

Adopsi atau Harmonisasi?


Adopsi penuh dan harmonisasi terhadap IFRS memiliki arti yang berbeda.

Adopsi penuh adalah mengadopsi secara penuh tanpa adanya perubahan-perubahan


untuk diterapkan di suatu Negara. Berbeda dengan adopsi penuh, harmonisasi IFRS
memiliki sifat lebih fleksibel dan terbuka. Harmonisasi standar pertama kali
dikenalkan oleh European Commision (EC). Harmonisasi

berarti juga sebagai

sekelompok Negara yang menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun
mengharuskan adanya pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus di ungkapkan.
Sedangkan bagi Indonesia terhadap IFRS, IAI mendukung harmonisasi standar
akuntansi melalui adopsi dan adaptasi IAS. Meskipun dengan adanya IFRS tidak
semua Negara dapat menerima yang disebabkan dengan perbedaan-perbedaan ditiap
Negara. Namun tetap perlu adanya yang menjembatani agar Standar Akuntansi
Keuangan sejalan dengan IFRS yaitu dengan melakukan harmonisasi bahkan
konvergensi terhadap IFRS. Adanya harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS
maka diharapkan informasi akuntansi memiliki kualitas utama yaitu komparabilitas
dan relevansi.
2.3

Tujuan IFRS
Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan

keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksud dalam laporan


keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan (comparable) sepanjang
periode yang disajikan
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.
2.4

Manfaat adopsi IFRS

Harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan telah di anggap sebagai


suatu hal yang mendesak yang harus dilakukan oleh setiap negara termasuk Indonesia
sebagai negara berkembang. Menurut Marsini Purba dalm bukunya yang berjudul
International Financial Reporting Standards, manfaat utama yang diperoleh dari
harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan adalah adanya pemahaman
lebih baik atas laporan keuangan oleh pengguna laporan keuangan yang berasal dari
berbagai negara. Hal ini memudahkan perusahaan menjual sahamnya secara lintas
negara atau lintas pasar modal. Selain itu memberikan efisiensi dalam penyusunan
laporan keuangan yang menghabiskan banyak dana dan sumber dana setiap tahunnya
dan juga dapat menambah kepercayaan investor asing terhadap laporan keuangan
perusahaan-perusahaan nasional.
Membuat perubahan ke IFRS, artinya mengadopsi bahasa pelaporan global,
yang akan membuat perusahaan dimengerti oleh global market (pasar dunia). The Big-4
Accounting Firm mengatakan bahwa banyak dari perusahaan-perusahaan yang telah
mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yang signifikan dalam rangka memenuhi
maksud mereka memasuki pasar modal dunia. Dengan Indonesia mengadopsi penuh
IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan
rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Adopsi penuh
IFRS diharapkan memberi manfaat:
1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang
dikenal secara internasional.
2. Meningkatkan arus investasi global.
3. Menurunkan biaya modal melalui pasar modal global dan menciptakan efisiensi
penyusunan laporan keuangan.
Menurut ketua tim implementasi IFRS-Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dudi M
Kurniawan yang dimuat harian Kompas tanggal 6 Mei 2010 mengatakan bahwa
dengan mengadopsi IFRS Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus.
1. Meningkatkan kualitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
2. Mengurangi biaya SAK.
3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
5. Meningkatkan transparansi keuangan.
6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui
pasar modal.
7. Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

2.5

Perbandingan Standar Akuntansi Keuangan: Indonesia, Amerika Serikat, dan


Internasional.
Untuk melihat terjadinya perbedaan praktek akuntansi di berbagai negara
di dunia ini, berikut ini disampaikan contoh Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
yang berlaku di Indonesia, Amerika Serikat (Financial Accounting Standard
Board/FASB)

dan

Stadar

Akuntansi

Internasional (International

Accounting

Standard/IAS) atau International Financial Report Standard (IFRS).


1. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia
Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang tentu saja sangat
jauh berbeda bila dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat
maupun negara maju lainnya baik dalam praktek bisnis maupun standar dan
praktek akuntansinya. Praktek bisnis yang telah berkembang di negara maju dan
telah

dibuat standar

akuntansinya

namun

berkembang di Indonesia tentu saja belum


Sementara praktek

bisnis

yang

praktek

bisnis tersebut belum

memerlukan

berkembang

di

standar

akuntansi.

Indonesia namun

tidak

berkembang di negara lainnya termasuk di negara-negara maju, maka dibuat


standar akuntansinya seperti standar akuntansi untuk perbankan syariah.
2. Standar Akuntansi Keuangan Amerika Serikat
Amerika merupakan salah satu Negara maju di dunia yang mempunyai
pengaruh politik, ekonomi, sosial budaya termasuk akuntansi terhadap sesama
Negara maju maupun Negara berkembang sangat kuat. Dapat diibaratkan apa
yang terjadi di Amerika sekarang secara perlahan atau cepat akan ditiru di
Negara lain. Khusus mengenai praktek bisnis di Amerika berkembang begitu
pesat

yang

pada

berkembang pula

akhirnya
sesuai

memerlukan standard

dengan

perkembangan

praktek
bisnis

akuntansi

yang

yang terjadi.

Bila

dibandingkan dengan Standar Akuntansi Keungan Indonesia maupun Standar


Akuntansi Internasional maka standar akuntansi keuangan di Amerika jauh lebih
banyak akibat praktek bisnis yang memang lebih beragam.

3. Standar Akuntansi Internasional (IAS / IFRS)


International Accounting Standard/International Financial Reporting Standard
dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board atau Badan Standar
Akuntansi Internasional. Mengingat tujuan penyusunan standar akuntansi tersebut
untuk dapat dipergunakan sebanyak mungking negara di dunia maka dalam
penyusunan

standar

akuntansi

tertentu

saja Badan

Standar

Akuntansi

Internasional mempertimbangkan kondisi sebagian besar negara sehingga sesuai


dengan kebutuhan mereka. Bila kita bandingkan dengan standar akuntansi
Amerika maka dari segi jumlah standar yang dikeluarkan Badan Standar
Akuntansi Internasional jauh lebih sedikit karena memang mereka tidak mengacu
pada perkembangan bisnis dan kebutuhan akuntansi di Amerika saja melainkan
pada sebagian besar negara sehingga standar akuntansi yang mereka keluarkan
dapat diadopsi baik sebagian maupun sepenuhnya. Ketiga

standar

akuntansi

tersebut baik yang berlaku di Indonesia, Amerika Serikat, dan standar Internasional,
maka secara kuantitas jelas tampak perbedaan yang nyata. Bila melihat dari segi
jumlah standar maka standar akuntansi di Indonesia bila dibandingkan dengan
Amerika Serikat
dibandingkan

hanya

dengan

kurang

lebih

sepertiganya

saja sementara

standar akuntansi

internasional

standar

bila

akuntansi

di

Indonesia lebih banyak. Perbedaan jumlah standar akuntansi di Amerika yang


jauh lebih banyak dari Indonesia dapat dijelaskan bahwa tingkat perkembangan
ekonomi Amerika jauh lebih maju bila dibandingkan dengan Indonesia sehingga
di Amerika telah berkembang berbagai jenis instrumen yang dapat dikategorikan
ke dalam rekening harta, kewajiban, maupun ekuitas.
Sementara bila di Indonesia ada standar akuntansi yang sudah berlaku di
Amerika tetapi belum ada di Indonesia menunjukkan bahwa untuk Indonesia hal
tersebut masih dipandang belum mendesak atau penting mengingat frekuensi
terjadinya masih rendah atau bahkan belum timbul sama sekali. Sementara standar
akuntansi internasional yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan Amerika
bahkan Indonesia dapat dijelaskan bahwa standar akuntansi internasional berusaha
sebanyak mungkin dapat mengadopsi berbagai keragaman standar akuntansi di
berbagai negara di dunia. Standar akuntansi internasional tersebut diharapkan
banyak negara yang dapat mengadopsi atau menggunakan standar yang ada untuk
diberlakukan

di

negara

masing-masing.

Semakin

banyaknya

negara

yang

menggunakan standar akuntansi internasional berarti telah terjadi penyeragaman


standar akuntansi meskipun belum sepenuhnya, mengingat seperti di Amerika
berarti masih ada standar akuntansi lainnya yang belum tercakup dalam standar
akuntansi internasional.
2.6

Perkembangan Harmonisasi Akuntansi Internasional


Usaha untuk mengharmonisasikan akuntansi secara internasional sudah
dimulai

sejak

lama bahkan

sebelum

terbentuknya

International

Accounting

Standard Commitee (IASC) didirikan pada tahun 1973. Pada tahun 1959, Jacob
Krayenhof, mitra pendiri sebuah firma akuntan independen Eropa yang utama

mendorong agar usaha pembuatan standar akuntansi internasional dimulai. Pada


tahun

1976,

Organisasi

(Organization

for

untuk

Economic

Kerjasama

Cooperation

dan
and

Pembangunan
Development

Ekonomi
-

OECD)

mengeluarkan Deklarasi Investasi dalam Perusahaan Multinasional yang berisi


panduan untuk Pengungkapan Informasi.
Tahun 1978 Komisi Masyarakat Eropa mengeluarkan Dekrit Keempat
sebagai langkah pertama menuju harmonisasi akuntansi Eropa. Pada tahun 1981
IASC mendirikan kelompok konsultatif yang terdiri dari organisasi non anggota
untuk memperluas masukan-masukan dalam pembuatan standar internasional. Di
tahun 1984, Bursa Efek London menyatakan bahwa pihaknya berharap agar
perusahaan-perusahaan yang mencatatkan sahamnya tetapi tidak didirikan di
Inggris

dan

Irlandia

menyesuaikan

dengan akuntansi

internasional.

Tahun

2001 Badan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standard


BoardIASB) menggantikan IASC dan mengambil alih tanggungjawab per tanggal
1

April

2001.

Standar

IASB

disebut Standar

Pelaporan

Keuangan

Internasional (International Financial Report StandardIFRS) dan termasuk di


dalamnya

IAS

yang

dikeluarkan IASC.

Di

tahun

2002

Parlemen

Eropa

menyetujui proposal Komisi Eropa bahwa secara nyata seluruh perusahaan Uni
Eropa yang tercatat sahamnya harus mengikuti standar IASB dimulai selambatlambatnya tahun 2005 dalam laporan keuangan konsolidasi. Pada tahun yang
sama IASB dan FASB menandatangani Perjanjian Norwalk yang berisi
komitmen bersama terhadap konvergensi standar akuntansi internasional dan
Amerika Serikat.
Pada tahun 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada hari Selasa, 23
Desember 2008 dalam rangka Ulang tahunnya ke-51 mendeklarasikan rencana
Indonesia untuk convergence terhadap International Financial Reporting Standards
(IFRS) dalam pengaturan standar akuntansi keuangan. Pengaturan perlakuan
akuntansi yang konvergen dengan IFRS akan diterapkan untuk penyusunan
laporan keuangan entitas yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012. Hal
ini diputuskan setelah melalui pengkajian dan penelaahan yang mendalam dengan
mempertimbangkan seluruh risiko dan manfaat konvergensi terhadap IFRS.
International

Financial

Reporting

Standards (IFRS)

dijadikan

sebagai

referensi utama pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia karena


IFRS merupakan standar yang sangat kokoh. Penyusunannya didukung oleh para
ahli dan dewan konsultatif internasional dari seluruh penjuru dunia. Mereka
menyediakan waktu cukup dan didukung dengan masukan literatur dari ratusan
orang dari berbagai displin ilmu dan dari berbagai macam jurisdiksi di seluruh

dunia. Dengan telah dideklarasikannya program konvergensi terhadap IFRS ini,


maka pada tahun 2012 seluruh standar yang dikeluarkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan IAI akan mengacu kepada IFRS dan diterapkan oleh entitas.
2.7

Kendala adopsi IFRS di Indonesia


1. Kurang siapnya infrastruktur.
2. Kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron dengan IFRS.
3. Kurang siapnya sumber daya manusia dan dunia pendidikan di Indonesia. Dilihat dari
minimnya pengajaran dan pembahasan topik-topik akuntansi keuangan terkait IFRS,
karena IFRS belum dijadikan mata kuliah pokok program pendidikan akuntansi di
Indonesia.
4. Proses penerjemahan IFRS menjadi PSAK. Terkadang membutuhkan waktu yang
relatif lama dan terkadang juga memberikan makna yang berbeda dengan sumber
aslinya.
2.8

Kesiapan Indonesia mengadopsi IFRS secara penuh


Sejak tahun 1994, Indonesia sebenarnya telah mengadopsi sebagian besar IAS.

PSAK dan ISAK yang diberlakukan sejak tahun 1994 adalah saduran dari IAS dan
SIC yang diterbitkan sebelum tahun 1994. DSAK (Dewan Standar Akuntansi
Keuangan) yang berada dibawah IAI telah mencanangkan adopsi penuh IAS dan IFRS
yang telah rampung pada tahun 2010 dan mulai menerapkannya di tahun 2012.
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia
menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan
lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK
dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang
mendekati konvergensi penuh kepada IFRS. Indonesia sebenarnya masih memiliki
banyak regulasi yang tidak mendukung sehingga adopsi penuh IFRS sulit dilakukan.
Berdasarkan proposal konvergensi yang telah dikeluarkan IAI, proses adopsi
dibagi menjadi tiga tahap yaitu:
1. Tahap adopsi, yaitu dengan mengadopsi seluruh IFRS terakhir kedalam PSAK pada
tahun 2008-2010.
2. Tahap

persiapan,

yaitu

penyiapan

seluruh

infrastruktur

pendukung

untuk

implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS pada tahun 2011.
3. Tahap implementasi, yaitu penerapan PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS
bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik pada tahun 2012.

Jadi, beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka


dilaporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen
didalam perusahaan.
2.9

Faktor yang mempengaruhi praktik akuntansi di berbagai Negara


1. Lingkungan sosial
Horrison dan McKinnon (1986) mengembangkan suatu kerangka pikir untuk
menjelaskan bagaimana sistem pelaporan akuntansi berubah. Berdasarkan kerangka
tersebut, perubahan pada akuntansi merupakan produk dari interaksi kejadiankejadian dilapangan dan interaksi antara praktik akuntansi dan lingkungan sosial.
2. Ekonomi
1) Tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
Perubahan
menampilkan

struktur

sisi

lain

perekonomian
dari

system

dari

agraris

akuntansi,

ke

antara

manufaktur
lain

dengan

akan
mulai

memperhitungkan depresiasi mesin. Industri jasa juga memunculkan pertimbangan


atas pencatatan aktiva tak berwujud seperti merk, goodwill, dan sumber daya manusia.
2) Tingkat inflasi
Timbulnya hyperinflation di beberapa Negara dikawasan Amerika Selatan
membuat adanya pemikiran untuk menggunakan pendekatan lain sebagai alternatif
dari pendekatan hystorical cost.
3) Sumber pendanaan
Kebutuhan akan informasi dan pertanggungjawaban kepada public lebih besar
ditemui pada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari
pemegang saham eksternal dibandingkan dengan perusahaan dengan sumber
pendanaan dari perbankan atau dari dana keluarga.
4) Sistem perpajakan
Negara-negara seperti perancis dan Jerman menggunakan laporan keuangan
perusahaan sebagai dasar penentuan utang pajak penghasilan, sedangkan negara
seperti Amerika Serikat dan Inggris menggunakan laporan keuangan yang telah
disesuaikan dengan aturan perpajakan sebagai dasar penentuan utang pajak dan
disampaikan terpisah dengan laporan keuangan untuk pemegang saham.

3. Politik
Sistem politik yang dijalankan oleh suatu negara sangat berpengaruh pada system
akuntansi yang dibuat untuk menggambarkan filosofi dan tujuan politik dinegara
tersebut, seperti halnya pilihan atas perencanaan terpusat (Central Planning)atau
swastanisasi (Private Interprises).
4. Budaya
Violet (1983) menyatakan bahwa bahasa merupakan variabel budaya yang paling
penting. Bahasa merupakan pondasi untuk mempromosikan budaya. Memandang
akuntansi adalah bahasa bisnis. Dari sini dapat disimpulkan bahwa prinsip akuntansi
akan bervariasi tergantung dari variasi budaya yang dimiliki oleh negara yang
bersangkutan.
2.10

Implikasi Bagi Standar dan Praktek Akuntansi, serta Solusi terhadap Penerapan
IFRS di Indonesia.
Indonesia

merupakan

bagian

yang

tidak

terpisahkan

dari

bisnis

internasional atau global tentu saja juga akan menghadapi permasalahan dalam
standar maupun praktek akuntansinya yang mau tidak mau harus menyesuaikan
diri dengan perkembangan akuntansi yang berlaku secara internasional. Beberapa
negara

maju

antara

lain Perancis

telah

memberikan

kebebasan

kepada

perusahaan untuk menggunakan standar akuntansi Perancis maupun standar


akuntansi

internasional yaitu Ineternational

Financial

Report

Standard yang

dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board. Pemberian kebebasan


kepada perusahaan
kecenderungan

untuk

bagi negara

menggunakan
lainnya yang

IFRS
pada

tentu

saja dapat

akhirnya

akan

menjadi

mendorong

penggunaan IFRS secara meluas di berbagai negara termasuk Indonesia.


Namun demikian merujuk pada faktor-faktor yang mempengaruhi praktek
akuntansi, maka Indonesia tidak dengan serta merta mengadopsi IFRS secara
penuh atau mutlak mengingat perbedaan faktor pendukung sehingga harus
dilakukan kajian terlebih dahulu standar mana yang sudah dapat diadopsi dan
diterapkan di Indonesia dan standar mana yang belum dapat diadopsi untuk
diterapkan di Indonesia, dengan demikian penerapan IFRS dibatasi terlebih
dahulu hanya

pada

perusahaan-perusahaan

yang mempunyai

kemampuan

penyesuaian tinggi terhadap perubahan penggunaan standar yang berlaku di

Indonesia ke IFRS. Perusahaan penanaman modal asing (PMA) dan perusahaan


yang telah go publik mungkin merupakan perusahaan-perusahaan

yang telah

siap beralih dari penggunaan standar akuntansi Indonesia ke dalam standar


akuntansi internasional mengingat selama ini mereka telah berinteraksi dengan
investor, kreditor dan badan-badan internasional. Hal ini mengingat di Indonesia
terdapat heteroginitas perusahaan dari perusahaan skala mikro, kecil, menengah
hingga yang besar.
Perbedaan

karakteristik

perusahaan

ini

tentu

saja

menuntut

pemberlakukan standar akuntansi yang berbeda sehingga masing-masing kelompok


perusahaan

dapat

memilih

standar

akuntansi

sesuai

dengan

karakteristik

perusahaan. Khusus mengenai usaha mikro, kecil, dan menengah misalnya saat ini
sedang pada tahap penyerapan aspirasi dari berbagai pihak yang berkepentingan
guna penerapan standar akuntansi bagi usaha mikro, kecil dan menengah, maka
pada satu sisi Indonesia dapat menerima dan mengadopsi standar akuntansi yang
berlaku secara internasional sehingga akan meningkatkan daya banding laporan
keuangan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Sementara di sisi
yang lain Indonesia masih dapat memberikan ruang gerak bagi penerapan
standar yang bersifat nasional bagi perusahaan-perusahaan yang secara teknis
belum

dapat

menyesuaikan

dengan

standar akuntansi yang berlaku secara

internasional.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan secara
sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan Internasional (IFRS). Banyak
Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS
sebagai dasar standard nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan
investor institusional dan pengguna laporan keuangan lainnya. Banyak pro dan kontra
dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu, Standard internasional
telah bergerak maju, dan menekan Negara-negara yang kontra.
Indonesia

harus

mengadopsi

standar

akuntansi

internasional

untuk

memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau
sebaliknya. SAK Indonesia direncanakan akan mengadopsi penuh IFRS tahun 2012.
Hal ini diharapkan akan semakin membawa perusahaan-perusahaan di Indonesia
dapat bersaing dengan perusahaan internasional lainnya karena dengan melakukan

adopsi ini tentunya penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan juga
akan semakin akuntabel dan transparan

Pro dan Kontra Standar Akuntansi


Internasional
Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu,
Standard internasional telah bergerak maju, dan menekan Negara-negara yang kontra.
Contoh : komisi pasar modal AS, SEC tidak menerima IFRS sebagai dasar pelaporan
keuangan yang diserahkan perusahaan-perusahaan yang mencatatkan saham pada
bursa efek AS, namun SEC berada dalam tekanan yang makin meningkat untuk
membuat pasar modal AS lebih dapat diakses oleh para pembuat laporan non-AS. SEC
telah menyatakan dukungan atas tujuan IASB untuk mengembangkan standard
akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan yang digunakan dalam penawaran
lintas batas.
Banyak standar membentuk bagian dari IFRS yang dikenal lebih dahulu, yaitu
International Accounting Standards (IAS) yang diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001
oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Dan pada tanggal 1 April
2001 diambil alih tanggung jawabnya oleh IASB untuk menetapkan Standar Akuntansi
Internasional. Yang kemudian IASB terus mengembangkan standar menyebut standar
IFRS baru. IFRS dianggap sebagai "prinsip-prinsip berdasarkan" peraturan luas terdiri
dari:
1. Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) - standar yang dikeluarkan setelah
tahun 2001.
2. Standar Akuntansi Internasional (IAS) - standar yang diterbitkan sebelum 2001.
3. Interpretasi berasal dari interpretasi Pelaporan Keuangan Internasional Komite
(IFRIC) yang diterbitkan setelah tahun 2001.
4. Berdiri Interpretasi Committee (SIC) - yang diterbitkan sebelum 2001.
5. Kerangka Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan.
IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia,
Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki.
Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa,
saat ini membutuhkan atau mengizinkan pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85
negara-negara membutuhkan IFRS pelaporan untuk semua, perusahaan domestik yang
terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri baru akan diadopsi mulai tahun 2012
mendatang.
Dan dengan diadopsinya IFRS secara penuh, maka laporan keuangan yang dibuat
berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi yang signifikan dengan laporan
keuangan berdasarkan IFRS. Namun perubahan tersebut tentu akan memberikan efek
di berbagai bidang, terutama dari segi pendidikan dan bisnis. Salah satunya adalah,
banyak menggunakan fair value accounting dalam dunia pendidikan dan dalam dunia
bisnis akan menyebabkan smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunaan

balance sheet approach dan fair value. Oleh karena itu, maka kelompok kami akan
membahas tentang Pro Kontra Fair Value, Kebaikan dan Keburukan Fair Value Sebagai
Dasar Pengukuran Aset.
Pro dari adanya standar akuntansi internasional dengan fair value
a Relevance. Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah
banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi.
Hampir semua orang setuju bahwa peristiwa ekonomi---yaitu, kejadian yang mengubah
waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang akan datang harus tercermin
(terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali model historical
cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan
nilai riil lain yang dapat terjadi.
b. Reliability. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model
akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat
ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan
mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa
yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan dan dipercayainya informasi
keuangan.
Kontra dari adanya satandar akuntansi internasional dengan fair value
a. Fair value berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset
pada tingkat harga yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif
terhadap pasar.
b. Akuntansi fair value bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset
dicantumkan pada harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka.
Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus
pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan
penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk
memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat
manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.
c. Volatility. Lembaga keuangan mengatakan bahwa mereka takut akuntansi
berdasarkan pasar akan menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena semakin
mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva berfluktuasi). Walaupun sebenarnya
lembaga keuangan yang senantiasa mengelola bahaya yang mengancam asset dan
liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan
lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada
volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan
memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam membedakan risiko antar
perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan keputusan pemberian kredit
(jika menggunakan MVA)

Dewasa ini dunia bisnis dituntut untuk mempersiapkan diri dalam mengadopsi IFRS
yang akanditerapkan pada tahun 2012. IAS
dan
IFRS merupakan standar
akuntansi
dan pelaporan keuangan
yang merupakan produk IASC
dan
IASB. IFRS adalah produk IASB versi baru sedangkan IAS adalah produk IASC versi lama.
Manfaat dari penerapan IFRS secara umum diantaranya adalah :
Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan StandarAkuntansi
Keuangan yang dikenal secara internasional (enhance comparability).

Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi.

Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modalsecara
global.

Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.


Meningkatkan kualitas laporan keuangan,
dengan cara, mengurangi kesempatan untuk melakukan earning management.

Dampak penerapan IFRS di Indonesia dalam bisnis

Berbagai dampak dapat terjadi dengan adanya penerapan IFRS ini, sehingga IFRS jugamenimbulkan
dampak positif dan negatif terhadap dunia bisnis. Berikut ini adalah berbagaidampak dalam penerapa
n IFRS :
Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan
keuangan akanlebih mudah dikomunikasikan ke investor global.

Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilaiwajar.

Kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif.

Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet


approach dan fair value

Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan


keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional
judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management).

Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

Fleksibilitas dalam standar


IFRS
yang bersifat principlesbased akan berdampak pada tipe dan jumlah skill
professional
yang seharusnya dimiliki oleh akuntan dan
auditor. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan maupun auditor
untuk memiliki pemahaman mengenai kerangkakonseptual informasi keuangan
agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatankeputusan. Pengadopsian IFRS mensyar
atkan akuntan memiliki pengetahuan yang cukupmengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan eko
nomi perusahaan
secara
fundamental sebelum membuat judgment. Selain keahlian teknis, akuntan juga perlu memahami impli
kasi etisdan
legal dalam implementasi standar
(Carmona
& Trombetta,
2008). Pengadopsian IFRS jugamenciptakan pasar yang luas bagi jasa audit. Berbagai estimasi yang
dibuat oleh manajemenperlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga dituntut memiliki
kemampuanmenginterpretasi tujuan dari suatu standar. AAA
Financial
Accounting
Standard
Committee (2003) bahkan meyakini kemungkinan meningkatnya konflik antara auditor dan klien.
Dampak positive penerapan IFRS di Indonesia
Meskipun masih muncul pro
dan kontra, sesungguhnya penerapan IFRS ini akan berdampakpositif. Bagi para emiten di
Bursa Efek Jakarta
(BEI),
dengan menggunakan standar pelaporaninternasional itu, para stakeholder akan lebih mudah untuk
mengambil keputusan.

Pertama, laporan keuangan Perusahaan akan semakin mudah dipahami lantaranmengungka


pkan detail informasi secara jelas dan transparan.

Kedua,
dengan adanya transparansi tingkat akuntabilitas dan kepercayaan kepada manajemen akan mening
kat.

Ketiga, laporan keuangan yang disampaikan perusahaan mencerminkan nilai wajarnya.

Di tengah interaksi pelaku ekonomi global


yang nyaris tanpa batas, penerapan IFRS juga akanmemperbanyak peluang kepada para emiten unt
uk menarik investor
global.
Dengan
standar
akuntansi
yang sama,
investor asing tentunya akan lebih mudah untuk membandingkanperusahaan di Indonesia dengan
perusahaan sejenis di belahan dunia lain.
Dampak negatif penerapan IFRS di Indonesia
Seperti yang diketahui perekonomian Indonesia adalah berasaskan kekeluargaan. Akan
tetapi semakin ke depan perekonomian Indonesia akan mengarah pada Kapitalis. Tidak bisadipungkir
i lagi kebudayaan negara barat (negara capital) dapat mempengaruhi seluruh pola hidupdan pola pikir
masyarakat Indonesia dari kehidupan sehari-hari hingga permasalahan ekonomi.
Padahal dalam pasal 33 ayat 1
UUD
1945
yang berbunyi, Perekonomian disusun atas usahabersama berdasar atas asas kekeluargaan. Disini
secara jelas nampak bahwa
Indonesia
menjadikan asas kekeluargaan sebagai pondasi dasar perekonomiannya. Kemudian dalam pasal33 a
yat 2
yang berbunyi,
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
yang menguasaihajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara,
dan dilanjutkan pada pasal 33 ayat 3
yang berbunyi,
Bumi dan
air
dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negaradan di pergunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat,
Akan tetapi dengan kemunculan IFRS tersebut dapat menyebabkan publik menginginkanketerbukaan
yang amat sangat di dalam dunia investasi. Terutama keterbukaan investor asinguntuk berinvestasi di
Indonesia. Hal tersebut tentu berseberangan dengan
UUD
1945 pasal 33.Terlebih lagi dengan adanya Undang-Undang Penanaman modal
di tahun 2007 lalu maka semakinterlihat jelas bahwa ada indikasi untuk mengalihkan tanggung jawab
pemerintah ke penguasamodal (kapitalis).
Hubungannya dengan
IFRS adalah, keseragaman global
menjadikan masyarakat mudah berburuksangka bahwa pemegang kebijakan akuntansi
di
Indonesia adalah kapitalisme dan mengesampingkan asas perekonomian Indonesia
yang terlihat jelas di Undang-Undang Dasar.Sehingga pada akhirnya akan memunculkan indikasi miri
ng
bahwa
Indonesia semakin dekatdengan sistem kapitalisme dan memudahkan investor asing untuk mengeruk
kekayaan di Indonesia.
Dampak penerapan IFRS bagi perusahaan sangat beragam tergantung jenis industri, jenistransaksi,
elemen laporan
keuangan
yang dimiliki,
dan juga pilihan kebijakan akuntansi. Adanyaperubahan besar sampai harus melakukan perubahan si
stem operasi dan bisnis perusahaan, namun ada juga perubahan tersebut hanya terkait dengan
prosedur
akuntansi. Perusahaan perbankan, termasuk yang memiliki dampak perubahan cukup banyak. Tetapi
di balik semuaperubahan dan dampak yang mungkin terjadi,
tidak dapat dipungkiri dengan adanya IFRS makadapat memajukan perekonomian global
di
Indonesia sehingga mampu bersaing dengan dunia luar.
Serta
dengan adanya IFRS,
PSAK akan bersifat principle-based dan memerlukan professional
judgment dari auditor, sehingga auditor juga dituntut untuk senantiasa meningkatkan kompetensidan i
ntegritasnya