Anda di halaman 1dari 53

Pentingnya Teori Belajar

Konstruktivisme
Dalam Pembelajaran
DEC 4
Posted by bangfajars

Kali ini saya akan membahas bagaimana


pentingnya salah satu teori belajar untuk mendongkrak kemampuan matematik logik
siswa dalam pengaruhnya dipembelajaran. ya salahsatu teori belajar tersebut adalah
teori belajar Kontruktivisme. teori ini sendiri dikembangkan oleh vygotsky. Teori
konstruktivisme sendiri adalah salah satu dari banyak teori belajar yang telah didesain
dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk turut serta dalam pengembangan kurikulum
berkharakter yang kini menjadi tren di topik pendidikan Indonesia saat ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa teori belajar dibagi 3 yaitu Teori belajar Kognitif, Teori
belajar Behavioristik, Teori belajar Gestalt, Teori belajar Humanstik dan Teori belajar
Konstruktivistik
Pada dasarnya teori konstruktivisme sebetulnya mempunyai dua aliran yaitu:
1. Aliran pertama Kontruktivisme psikologi/radikal yang lebih bersifat personal,
individual dan subjektif , teori ini di bangun oleh Jean Piaget dan pengikutnya. menurut
Rosalind Charlesworth 1996 beliau mengatakan

Piaget placed an emphasis on childeren as intellectual explorers making their own


discoveries and contructing knowledge indenpendently
piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang,
melainkan melalui tindakan (hamzah;2001). bahkan piaget menambahkan bahwa manusia
mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata yang sering disebut dengan
struktur kognitif. dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan
mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui
proses asimilasi dan akomodasi (nik aziz, 1999; rusdy, 2001).
Lalu apakah Asimilasi, asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang dapat
mengintergarsikan informasi (perspsi, konsep dan sebagainya) atau pengalaman baru
kedala struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. contohnya seorang anak
yang sudah hafal perkalian ketika mendapatkan sebuah rumus volume balok yaitu V=p x l
x t tidak mendapat masalah dalam hal mengkalikan 3 angka sekaligus.
Sedangkan akomodasi yaitu proses mental dimana proses penstruktur skemata yang sudah
ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara
langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. (hamzah, 2001). Saya menyebutnya
kendala dalam belajar yang berbeda-beda dari siswa. faktor usia, genetis dan kekurangan
minat belajar ada dalam ranah ini.
2. Aliran kedua Kontruktivisme Sosial . Aliran ini bersifat sosial dan dipelopori oleh Lev
Vygotsky. beliau menekankan bahwa interaksi interpersonal membantu
memperkembangkan pengetahuan individu. teori inilah yang menjadi dasar pembelajaran
rekan sebaya atau setutor. Bagi vygotsky perkembangan kognitif ini bermakna
menyelesaikan masalah dengan kerjasama individu yang lain. (Rosalind Charlesworth,
1996).
Prinsip Asas Kontruktivisme
Dalam buku kontruktivisme pengajaran dan pembelajaran matematik dikatakan bahwa
teori belajar Kontruktivisme mempunyai dua prinsip asas yang mempengaruhi corak
pelaksanaan pendidikan matematik di sekolah-sekolah yaitu:
1. Pengetahuan bukannya diterima secara pasif tetapi dibina secara aktif oleh pihak yang
belajar

2. Fungsi kognisi adalah untuk menyesuaikan dan memberi khidmat mengorganisasi dunia
pengalaman, dan bukannya melakukan penemuan realiti ontologi (keberadaan sesuatu
yang kongkret).

Terlihat sangat dramatis memang, tetapi inilah yang memang diharuskan. Menurut Ng Kim
Choy, 1999 guru seharusnya melakukan strukturisasi pelajaran dengan mencabar pelajar
dan membantu pelajar menyadari kerelevan kurikulum pada kehidupan mereka. Mungkin
hal inilah yang menjadi pemicu kurikulum berkharakter dengan memposisikan pelajaran
sesuai dengan kaidahnya.
Dalam paradigma kontruktivisme, murid seharusnya menganggap peranan guru sebagai
salah satu sumber pengetahuan dan guru bukan orang yang tahu segala-galanya, tetapi
guru seharusnya menjadi fasilitator dan pembimbing bagi murid.
Ciri-ciri pembelajaran berdasarkan teori belajar kontruktivisme melalui empat tahap
(hamzah, 2001):
1. Tahap persepsi dimana guru harus mampu mengembangkan konsep awal dan
membangkitkan motivasi belajar siswa
2. Tahap eksplorasi. pelajar diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep
melalui pengumpulan , pengorganisasian dan pengintreprestasian data dalam suatu
aktifiti yang idenya berasal dari guru

3. Tahap perbincangan dan penjelasan konsep. disini pelajar memikirkan penjelasan dan
menyelesaikan yang didasarkan pada hasil pemerhatian dengan bimbingan guru sehingga
pelajar dapat membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari
4. Tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Disini guru membimbing pelajar membuat
rfeleksi dan perbandingan ide lama dan ide baru sehingga dapat membuat pelajar
mengaplikasikan pemahamam konseptual baik melalui kegiatan atau yang lainnya.

S
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan
merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan
himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang
mempunyaipengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai
beberapa konsep umum seperti:
1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan
mereka.

3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling
memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara
aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah
ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini
berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau
sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman
pelajar untuk menarik miknat pelajar.

Logo Facebook
Email atau Telepon

Kata Sandi

albinahutagao

Biarkan saya tetap masuk

Masuk

Lupa kata sandi Anda?

Mendaftar

ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DAN


IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN
22 Maret 2013 pukul 3:59

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keseluruhan hidup manusia.
Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan terdidik demi
mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta

proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan,
siapakah pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi
pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang
mendasar, yang esensial, yakni jawaban-jawaban filosofis.
Dalam proses pendidikan, aliran konstruktivisme menghendaki agar anak didik dapat
menggunakan kemampuannya secara konstruktif untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
perkembangan ilmu dan teknologi. Anak didik harus aktif mengembangkan pengetahuan,
bukan hanya menunggu arahan dan petunjuk dari guru atau sesama siswa. Kreativitas dan
keaktifan siswa membantu untuk berdiri sendiri dalam kehidupan, aliran ini mengutamakan
peran siswa dalam berinisiatif.
Sedangkan penerapan dalam proses belajar mengajar aliran konstruktivisme memberikan
keleluasaan pada siswa untuk aktif membangun kebermaknaan sesuai dengan
pemahaman yang telah mereka miliki, memerlukan serangkaian kesadaran akan makna
bahwa pengetahuan tidak bersifat obyektif atau stabil, tetapi bersifat temporer atau selalu
berkembang tergantung pada persepsi subyektif individu dan individu yang berpengetahuan
menginterpretasikan serta mengkonstruksi suatu realisasi berdasarkan pengalaman dan
interaksinya dengan lingkungan. Pengetahuan berguna jika mampu memecahkan
persoalan yang ada.
Berdasarkan uraian di atas, melalui makalah ini penulis merumuskan masalah mengenai
apa yang dimaksud dengan konstruktivisme dan bagaimana pembelajaran menurut
konstruktivisme. Hal tersebut sangat perlu dibahas karena bertujuan agar kita mengetahui
apa yang dimaksud dengan konstruktivisme dan bagaimana pembelajaran menurut
konstruktivisme. Dengan pemahaman yang cukup mengenai hal tersebut di atas, maka
setiap individu akan mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang perkembangan aliran filsafat konstruktivime dalam
pendidikan?

2. Bagaimana hakikat pendidikan, tujuan umum pendidikan, hakikat guru, hakikat siswa,
dan hakikat pembelajaran menurut aliran filsafat konstruktivisme?
3. Bagaimana implikasi aliran filsafat konstruktivisme dalam praksis pendidikan?

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami latar belakang perkembangan aliran filsafat konstruktivisme dalam
pendidikan.
2. Untuk memahami hakikat pendidikan, tujuan umum pendidikan, hakikat guru, hakikat
siswa, dan hakikat pembelajaran menurut aliran filsafat konstruktivisme.
3. Mengetahui implikasi aliran filsafat konstruktivisme dalam praksis pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Aliran Filsafat Konstruktivisme


1. Pengertian Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara
kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah
secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat
untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika.

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971).


Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya
menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah
yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun
fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
2. Pengertian Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat
membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia
berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von
Glaserfeld dalam Pannen dkk, 2001: 3). Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran
mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri
dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin dalam Yusuf, 2003). Tran Vui juga mengatakan
bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap
manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk
menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain.
Sedangkan menurut Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan
bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan
pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan
belajar baru. Konstruktivisme merupakan paradigma alternatif yang muncul sebagai
dampak dari revolusi ilmiah yang teradi dalam beberapa dasawarsa terakhir (Kuhn dalam
Pannen dkk. 2000: 1). Pendekatan konstruktivisme menjadi landasan terhadap berbagai
seruan dan kecenderungan yang muncul dalam dunia pembelajaran, seperti perlunya siswa
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, perlunya siswa mengembangkan
kemampuan belajar mandiri, perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan
pengetahuannya sendiri, serta perlunya pengajar berperan menjadi fasilitator, mediator dan
manajer dari proses pembelajaran.
Konstruktivisme adalah salah satu aliran filsafat pengetahuan yang berpendapat bahwa
pengetahuan itu merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar.
Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta-fakta tetapi merupakan konstruksi kognitif
seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah
sesuatu yang sudah ada di sana dan kita tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu
bentukan terus menerus dari orang yang belajar dengan setiap kali mengadakan
reorganisasi karena adanya pemahaman yang baru (Piaget, 1971).

3. Gagasan Pokok Aliran Konstruktivisme


Gagasan pokok aliran ini diawali oleh Gimbatissta Vico, epistemology dari Italia. Dialah cikal
bakal konstruktivisme. Pada tahun 1970, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia
mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, Tuhan adalah pencipta alam semesta dan
manusia adalah tuan dari ciptaan. Dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti
mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Bagi Vico pengetahuan lebih menekankan pada
struktur konsep yang dibentuk. Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan
bahwa pengetahuan itu harus menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak
pengamat, Vico tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008). Sekian lama gagasannya
tidak dikenal orang dan seakan hilang. Kemudian Jean Piagetlah yang mencoba
meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar. Gagasan
Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico.
Untuk menjawab bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan? Kaum konstruktivis
menyatakan bahwa kita dapat mengetahui sesuatu melalui indera kita. Dengan berinteraksi
terhadap obyek dan lingkungannya melalui proses melihat, mendengar, menjamah,
membau, merasakan dan lain-lainnya orang dapat mengetahui sesuatu. Misalnya, dengan
mengamati pasir, bermain dengan pasir, seorang anak membentuk pengetahuannya akan
pasir. Bagi kaum konstruktivis, pengetahuan itu bukanlah suatu yang sudah pasti, tetapi
merupakan suatu proses menjadi. Misalnya, pengetahuan kita akan anjing mulai dibentuk
sejak kita masih kecil bertemu dengan anjing. Pengetahuan itu makin lengkap, disaat kita
makin banyak berinteraksi dengan anjing yang bermacam-macam.

B. Konsep Dasar Aliran Filsafat Konstruktivisme Tentang Pendidikan


1. Hakikat Pendidikan Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk
melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan pengetahuan baru
berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola
sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa untuk mengorganisasi
pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.
Teori ini mencerminkan siswa memiliki kebebasan berpikir yang bersifat eklektik, artinya
siswa dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal tujuan belajar dapat tercapai.
2. Tujuan Umum Pendidikan Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme

Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu


mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi
pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Tujuan pendidikannya
menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan
hidupnya. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan
proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran
tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan.
Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa
implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai
tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan
filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi
masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan
tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu
dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta
pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep
atau miskonsepsi pada diri peserta didik.
3. Hakikat Guru Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Dalam pembelajaran konstruktivis menurut Suparno (1997:16) menyatakan bahwa peran
guru atau pendidik dalam aliran konstruktivisme ini adalah sebagai fasilitator dan mediator
yang tugasnya memotivasi dan membantu siswa untuk mau belajar sendiri dan
merumuskan pengetahuannya. Selain itu guru juga berkewajiban untuk mengevaluasi
gagasan-gagasan siswa itu, sesuaikah dengan gagasan para ahli atau tidak.
Menurut prinsip konstruktivis, seorang guru punya peran sebagai mediator dan fasilitator
yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Maka tekanan diletakkan
pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin ataupun guru yang mengajar. Fungsi
sebagai mediator dan fasilitator ini dapat dijabarkan dalam beberapa tugas antara lain
sebagai berikut:
a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa ikut bertanggung jawab
dalam membuat design, proses, dan penelitian. Maka jelas memberi pelajaran atau model
ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.
b. Guru menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa, membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan mereka dan
mengkomunikasikan ide ilmiahnya (Watt & Pope, 1989). Menyediakan sarana yang
merangsang berpikir siswa secara produktif dan mendukung pengalaman belajar siswa.

c. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa itu jalan atau tidak.
Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk
menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu dalam mengevaluasi hipotesa
dan kesimpulan siswa. Disini guru perlu mengerti mereka sudah pada taraf mana?
Guru perlu belajar mengerti cara berpikir siswa, sehingga dapat membantu
memodifikasikannya. Baik dilihat bagaimana jalan berpikir mereka itu terhadap persoalan
yang ada. Tanyakan kepada mereka bagaimana mereka mendapatkan jawaban itu. Ini cara
yang baik untuk menemukan pemikiran mereka dan membuka jalan untuk menjelaskan
mengapa suatu jawaban tidak jalan untuk keadaan tertentu (Von Glasersfeld, 1989).
d. Dalam sistem konstruktivis guru dituntut penguasaan bahan yang luas dan mendalam.
Guru perlu mempunyai pandangan yang sangat luas mengenai pengetahuan dari bahan
yang mau diajarkan. Pengetahuan yang luas dan mendalam akan memungkinkan seorang
guru menerima pandangan dan gagasan siswa yang berbeda dan juga memungkinkan
untuk menunjukkan apakah gagasan siswa itu jalan atau tidak. Penguasaan bahan
memungkinkan seorang guru mengerti macam-macam jalan dan model untuk sampai
kepada suatu pemecahan persoalan, dan tidak terpaku kepada satu model.
Tanggung jawab seorang guru adalah menyediakan dan memberikan kesempatan
sebanyak mungkin untuk belajar secara aktif dimana peran siswa bisa menciptakan,
membangun, mendiskusikan/ membandingkan, bekerjasama, dan melakukan eksplorasi
eksperimentasi (Setyosari, Herianto, Effendi, Sukadi,1996). Tugas guru hanyalah
mengamati atau mengobservasi, menilai, dan menunjukkan hal-hal yang perlu dilakukan
siswa.
4. Hakikat Murid Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Para siswa menciptakan atau membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui tingkatan
atau interaksi dengan dunia. Siswa tidak lagi diposisikan bagaikan bejana kosong yang siap
diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa
dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima pengetahuan dari gurunya. Siswa kini
diposisikan sebagai mitra belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang
paling tahu. Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan
sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, ratorium, televisi, koran dan internet.
Siswa diberikan kebebasan untuk mencari arti sendiri dari apa yang mereka pelajari. Ini
merupakan proses menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang
telah ada dalam pikiran mereka dan siswa bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka

membawa pengertian yang lama dalam situasi belajar yang baru. Mereka sendiri yang
membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna,
membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam
pengalaman yang baru.
5. Hakikat Pembelajaran Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksikan arti
sebuah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses
mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan
pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Proses
tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut:
a. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka
lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah
ia punyai.
b. Konstruksi arti adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan
fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun
lemah.
c. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan
pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan,
melainkan merupakan perkembangan itu sendiri (Fosnot, 1996), suatu perkembangan yang
menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
d. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan
yang merangsang pemikiran lebih lanjut situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah
situasi yang baik untuk memacu belajar.
e. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik dan lingkungan.
f. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui pelajar konsep-konsep,
tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari (Paul
Suparno 2001:61).

C. Aliran Filsafat Konstruktivisme Dalam Praksis Pendidikan

1. Implikasi konstruktivisme terhadap proses pembelajaran


Ada sejumlah implikasi yang relevan terhadap proses pembelajaran berdasarkan pemikiran
konstruktivisme personal dan sosial. Implikasi itu antara lain sebagai berikut:
a. Kaum konstruktivis personal berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui
konstruksi individual dengan melakukan pemaknaan terhadap realitas yang dihadapi dan
bukan lewat akumulasi informasi. Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah bahwa
pendidik tidak dapat secara langsung memberikan informasi, melainkan proses belajar
hanya akan terjadi bila peserta didik berhadapan langsung dengan realitas atau objek
tertentu. Pengetahuan diperoleh oleh peserta didik atas dasar proses transformasi struktur
kognitif tersebut. Dengan demikian tugas pendidik dalam proses pembelajaran adalah
menyediakan objek pengetahuan secara konkret, mengajukan pertanyaan-pertanyaan
sesuai dengan pengalaman peserta didik atau memberikan pengalaman-pengalaman hidup
konkret (nilai-nilai, tingkah laku, sikap) untuk dijadikan objek pemaknaan.
b. Kaum konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas
dasar struktur kognitif yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada proses belajar yang
menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses belajar dapat berjalan lancar
maka pendidik dituntut untuk mengenali secara cermat tingkat perkembangan kognitif
peserta didik. Atas dasar pemahamannya pendidik merancang pengalaman belajar yang
dapat merangsang struktur kognitif anak untuk berpikir, berinteraksi membentuk
pengetahuan yang baru. Pengalaman yang disajikan tidak boleh terlalu jauh dari
pengetahuan peserta didik tetapi juga jangan sama seperti yang telah dimilikinya.
Pengalaman sedapat mungkin berada di ambang batas antara pengetahuan yang sudah
diketahui dan pengetahuan yang belum diketahui sebagai zone of proximal development of
knowledge.
Bagi kaum konstruktivis, belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan. Proses
konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses aktif, sedangkan
mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu
kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti
partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari
kejelasan, dan bersikap kritis. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran akan membawa implikasi
sebagai berikut:
a. Isi Pembelajaran

Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, guru tidak dapat


menentukan secara spesifik isi atau bahan yang harus dipelajari oleh siswa, tetapi hanya
sebatas memberikan rambu-rambu bahan pembelajaran yang sifatnya umum. Proses
penyajian dimulai dari keseluruhan ke bagian-bagian, bukan sebaliknya. Mengingat aliran
konstruktivisme lebih mengutamakan pemahaman terhadap konsep-konsep besar, maka
konsep tersebut disajikan dalam konteksnya yang actual yang kadang-kadang kompleks.
Siswa perlu didorong agar ia tidak takut pada hal-hal yang komplek. Siswa perlu memahami
bahwa hal-hal yang kompleks akan memberikan tantangan untuk diketahui dan dipahami.
b. Tujuan Pembelajaran
Tugas guru dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah membantu
siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi,
pembentukan kembali, dan transformasi informasi yang telah diperolehnya menjadi
pengetahuan baru. Transformasi terjadi kalau ada pemahaman (understanding), sedangkan
pemahaman terjadi sebagai akibat terbentuknya struktur kognitif baru dalam pikiran siswa.
Pemahaman terjadi kalau terjadi proses akomodasi atau perubahan paradigma dalam
pikiran siswa. Berlandaskan teoritik, tujuan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan konstruktivisme adalah membangun pemahaman. Pemahaman dinilai penting,
karena pemahaman akan memberikan makna kepada apa yang dipelajari. Karena itu
tekanan belajar bukanlah untuk memperoleh atau menemukan lebih banyak, akan tetapi
yang lebih penting adalah memberikan interpretasi melalui skema atau struktur kognitif yang
berbeda.
c. Strategi Pembelajaran
Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai
dengan situasi konkrit, maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan
dengan kebutuhan dan situasi siswa. Guru tidak dapat memastikan strategi yang
digunakan, yang dapat hanya sebatas tawaran dan saran. Dalam hal ini teknik dan seni
yang dimiliki guru ditantang untuk mengoptimalkan pembelajaran.
Pendekatan konstruktivisme mementingkan pengembangan lingkungan belajar yang
meningkatkan pembentukan pengertian dari perspektif ganda, dan informasi yang efektif
atau kontrol eksternal yang teliti dari peristiwa-peristiwa siswa yang ketat, dihindari sama
sekali.
d. Penataan Lingkungan Belajar

Penataan lingkungan belajar berdasar pendekatan konstruktivistik diidentifikasikan dengan


alternatif sebagai berikut; (1) menyediakan pengalaman belajar melalui proses
pembentukan pengetahuan dimana siswa ikut menentukan topik/sub topik yang mereka
sikapi, metode pembelajaran berikut strategi pembelajaran yang dipergunakan, (2)
menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan alternatif seperti peninjauan masalah
dari berbagai segi, (3) mengintegrasikan proses belajar dengan konteks yang nyata dan
relevan dengan harapan siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam hidup
sehari-hari, (4) memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan arah belajar
mereka dengan menempatkan guru sebagai konsultan, (5) peningkatan interaksi antara
guru dengan siswa dan antar siswa sendiri, (6) meningkatkan penggunaan berbagai
sumber belajar disamping komunikasi tertulis dan lisan, (7) meningkatkan kesadaran siswa
dalam proses pembentukan pengetahuan mereka agar siswa mampu menjelaskan
mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan cara tertentu.
e. Hubungan Guru-Siswa
Dalam aliran kostruktivisme, guru bukanlah seseorang yang maha tahu dan siswa bukanlah
yang belum tahu, karena itu harus diberi tahu. Dalam proses belajar, siswa aktif mencari
tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar pencarian itu
berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama membangun pengetahuan.
Dalam hal ini hubungan guru dan siswa lebih sebagai mitra yang bersamasama
membangun pengetahuan.
2. Implikasi Konstruktivisme Terhadap Pendidik Dan Peserta Didik
a. Pendidik dalam proses pembelajaran harus mendorong terjadinya kegiatan kognitif
tingkat tinggi seperti mengklasifikasi, menganalisis, menginterpretasikan, memprediksi dan
menyimpulkan, dll.
b. Pendidik merancang tugas yang mendorong peserta didik untuk mencari pemecahan
masalah secara individual dan kolektif sehingga meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi
dalam mengembangkan pengetahuan dan rasa tanggungjawab pribadi.
c. Dalam proses pembelajaran, pendidik harus memberi peluang seluas-luasnya agar
terjadi proses dialogis antara sesama peserta didik, dan antara peserta didik dengan
pendidik, sehingga semua pihak merasa bertanggung jawab bahwa pembentukan
pengetahuan adalah tanggungjawab bersama. Caranya dengan memberi pertanyaanpertanyaan, tugas-tugas yang terkait dengan topik tertentu, yang harus dipecahkan,

didalami secara individual ataupun kolektif, kemudian diskusi kelompok, menulis, dialog dan
presentasi di depan teman yang lain.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filsafat konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia
melalui interaksi dengan objek, fenomena pengalaman dan lingkungan mereka.
Konstruktivisme bertitik tolak dari pembentukan pengetahuan, dan rekonstruksi
pengetahuan adalah mengubah pengetahuan yang dimiliki seseorang yang telah dibangun
atau dikonstruk sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat dari interaksi dengan
lingkungannya.
Kaum konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas
dasar struktur kognitif yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada proses belajar yang
menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses belajar dapat berjalan lancar
maka pendidik dituntut untuk mengenali secara cermat tingkat perkembangan kognitif
peserta didik. Atas dasar pemahamannya pendidik merancang pengalaman belajar yang
dapat merangsang struktur kognitif anak untuk berpikir, berinteraksi membentuk
pengetahuan yang baru. Pengalaman yang disajikan tidak boleh terlalu jauh dari
pengetahuan peserta didik tetapi juga jangan sama seperti yang telah dimilikinya.
Pengalaman sedapat mungkin berada di ambang batas antara pengetahuan yang sudah
diketahui dan pengetahuan yang belum diketahui sebagai zone of proximal development of
knowledge.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak
lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasiltator
yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.

Bagikan

6 Berbagi
Aldino Bayu, Tere Hutagaol, dan Iwan Ariepoedin menyukai ini.

Syahrur Romadlon
PMII KOMISARIAT LOKAJAYA KEDIRI

Catatan oleh Syahrur Romadlon

Semua Catatan

Dapatkan Catatan melalui RSS

Cari
Seluler

Tema
n

Lencan
a

Orang

Tentan

Buat

Buat

Pengemba

Iklan

Halama

ng

Halama

Temp

Aplika

Permaina

at

si

Karier

Privas

Kuki

Ketentua

Bantua

Musik

n
Facebook 2013 Bahasa Indonesia

Pendekatan Kognitivisme Dalam Pembelajaran

Otak yang selalu bekerja

I. PENDAHULUAN
Pendekatan pembelajaran di dalam psikologi pendidikan mengalami proses perkembangan yang cukup
panjang dan menarik untuk dikaji. Perkembangan tersebut menunjukkan tahap proses berfikir para pakar di dunia
psikolgi khususnya psikologi pendidikan dalam upaya pengembangan pendekatan baru baik yang disengaja ataupun
secara tidak disengaja.
Terdapat tiga pendekatan psikologi yang dikenal di dalam pembelajaran, yaitu pendekatan behavioristik,
pendekatan kognitivisme dan pendekatan konstruktifisme. Masing-masing pendekatan memiliki berbagai asumsi
dan teknik tersendiri. Ketiga-tiganya bermanfaat dalam setiap kegiatan pembelajaran antara guru dengan
siswa. Penggunaannya tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa
Pada makalah yang akan dibahas adalah pendekatan kognitifisme, dengan beberapa sub pokok bahasan,
yaitu:
1. Pendekatan kognotovisme dalam pembelajaran
2. Hakikat kognitifisme
3. Berbagai teori kognitivisme (Piaget, Burner, Ausuvel, Bloom, Gestal)
4. Proses pengolahan informasi
5. Aplikasi kognitifisme dalam pembelajaran
Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan pemahaman tentang pendekatan kognitifisme
dalam pembelajaran serta beberapa wawasan yang terkait dengan aliran kognitifisme

II. PEMBAHASAN

A. Hakikat Kognitifisme

Tidak seperti model belajar behavioristik yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan
stimulus-respon, pendekatan belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai
model perseptual. Model belajar kognitif menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan
persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
Teori kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh
konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponenkomponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisahpisah, akan kehilangan makna. Teori ini
berpandangan bahwa belajar merpakan suatu proses integral yang mencakupi ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan poses berfikir
yang sangat kompleks.
Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya
dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan
pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam
rumusan-rumusan seperti para pakar antara lain: teori tahap-tahap perkembangan (Piaget), pemahman konsep
(Burner), advance organixer (Ausubel), (Bloom), dan (Gestal).
Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah
berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan
pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan
yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses

B. Berbagai Teori Kognitivisme

Piaget

1. Piaget : Teori Perkembangan Kognitif


Menurut Santrock (2008), perkembangan adalah perubahan pola biologis, kognitif dan sosioemosional
yang dimulai dari masa konsepsi dan terus berlangsung sepanjang hidup. Perkembangan dinyatakan dalam istilah
periode/tahapan. Pola perkembangan anak begitu kompleks karena melibatkan proses-proses biologis, kognitif dan
sosioemosional tadi. Proses kognitif melibatkan perubahan dalam berpikir, intelegensi dan bahasa anak
Kognitif merupakan teori yang berdasarkan proses berpikir di belakang perilaku. Perubahan perilaku diamati
dan digunakan sebagai indikator terhadap apa yang terjadi dalam otak peserta didik. Gagasan utama teori kognitif
adalah perwakilan mental, semua gagasan dan citraan (image) seseorang diwakili dalam struktur mental yang

disebut skema. Skema akan menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima akan dipahami seseorang .
Jika informasi sesuai dengan skema yang ada, maka peserta didik akan menyerap informasi tersebut ke dalam
skema ini. Seandainya tidak sesuai dengan skema yang ada, informasi akan ditolak atau diubah, atau disesuaikan
dengan skema, atau skema yang akan diubah dan disesuaikan.
Penganut teori kognitif mengakui bahwa belajar melibatkan penggabungan-penggabungan yang dibangun
melalui keterkaitan atau penguatan. Mereka juga mengakui pentingnya penguatan (reinforcement) walaupun lebih
menekankan pada pemberian balikan (feedback) pada tanggapan yang benar dalam perannya sebagai pendorong
(motivator). Walaupun menerima sebagian konsep dari behavioris, para penganut teori kognitif memandang belajar
sebagai perbuatan penguasaan atau penataan kembali struktur kognitif di mana seseorang memproses dan
menyimpan informasi.
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual
dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap tahap
perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang
sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya
berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Jean Piaget
mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
Tahap sensory motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan
dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.

Tahap pre operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini
diidentikkan dengan mulai digunakannya simbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan
berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.

Tahap concrete operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai
menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual
pasif.

Tahap formal operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap
yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir kemungkinan.

Proses Kognitif

Piaget juga mengemukakan teori mengenai proses kognitif, terkait adaptasi seseorang dengan lingkungannya
yang berlangsung simultan yang dikenal dengan proses kognitif. Menurut Piaget, proses kognitif ketika anak
mengkontruksi pengetahuannya melibatkan skema, asimilasi dan akomodasi, organisasi dan ekuilibrium.
Menurut Piaget, skema adalah kegiatan atau representasi mental dalam menyusun pengetahuan; skema atau
skemata dalam bentuk jamak adalah struktur pengetahuan yang disimpan dalam ingatan. dijelaskan bahwa skema
adalah sistem tindakan atau pikiran yang terorganisasi yang memungkinkan kita untuk mepresentasikan secara
mental atau memikirkan tentang berbagai objek dan kejadian di dunia.
Skema bisa sangat kecil dan spesifik misalnya skema mengenali setangkai mawar atau skema yang lebih
besar dan umum misalnya skema mengkategorikan tanaman.
Asimilasi adalah proses kognitif yang mencocokkan informasi yang diterima dengan informasi yang telah ada
dalam struktur pengetahuan (skema). Sedangkan akomodasi adalah proses yang terjadi dalam menggunakan
informasi yang telah ada untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Jika pada suatu hal apabila informasi yang ada
tidak dapat digunakan untuk memecahkan masalah, lalu individu akan mencari cara lain untuk memecahkan
masalah. Proses yang terakhir dikenal dengan nama ekuilibrium, agar seseorang dapat terus mengembangkan dan
menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah
keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan
struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui
asimilasi dan akomodasi.Teori Piaget juga menjelaskan mengenaipengorganisasian, yaitu mengelompokkan
perilaku dan berpikir melalui tingkat berpikir yang lebih tinggi. Pengorganisasian secara kognitif ini diperlukan
seseorang untuk bisa memahami dunia sekitar.

Penilaian Terhadap Teori Piaget


-

perkembangan anak itu berlangsung gradual tidak terjadi tiba-tiba. Selain itu kadang ada anak yang kemampuannya
melebihi batasan usia itu ada yang memang lebih cepat dalam aspek-aspek tertentu.

Ada juga yang berpendapat bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan kognisi pada anak-anak kecil.

Piaget juga dikritik bahwa anak-anak dan orang dewasa juga seringkali berpikir dengan cara-cara yang tidak
konsisten dengan gagasan tahap-tahap yang tidak bervariasi.

Piaget dianggap tidak melihat faktor-faktor kultural dalam perkembangan anak.

Jerome Bruner

2. Bruner : Teori Belajar Penemuan

Bruner menegaskan teori pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu
kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Menurut Bruner belajar bermakna
hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan
lama, dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan
berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.
Dalam teori belajarnya Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa
dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu.
Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya
belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk
memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan
konsep dan prinsip itu sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan, antara lain:
1. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat.
2. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.
3. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.

Belajar sebagai Proses Kognitif


Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga
proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan.
Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau
informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki
seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas
baru. Jadi, transformasi menyangkut cara memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau
dengan mengubah bentuk lain.
Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tiga sistem keterampilan untuk menyatakan
kemampuannya secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian. Ketiga
cara itu ialah: cara enaktif, caraikonik dan cara simbolik.
Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahui
suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadiankejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana
mengendarai sepeda.

Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambargambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Misalnya sebuah segitiga
menyatakan konsep kesegitigaan.
Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan
seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek, memberikan struktur hirarkis pada
konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial.
Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini, tentang pelajaran penggunaan timbangan. Anak kecil hanya
dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkatjungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. Anak yang lebih tua
dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. Bayangan timbangan itu
dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan
menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan
menggunakan Hukum Newton tentang momen.

Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain
Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang belajar dengan menemukan
konsep sendiri. Disamping itu, karena teori Bruner banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka desain yang
berulang-ulang itu disebut kurikulum spiral kurikulum. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk
memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang
sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih
kompleks. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang
dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan
perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan
menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan.

David Ausebel

C. Ausebel: Teori Belajar Bermakna

Psikologi pendidikan yang diterapkan oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari hukum belajar yang
bermakna. Pengertian belajar bermakna Menurut Ausubel ada dua jenis belajar : Belajar bermakna (meaningful
learning) dan belajar menghafal (rote learning).
Belajar bermakna adalah suatu proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur
pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal adalah siswa
berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Sebagai ahli
psikologi pendidikan Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa di sekolah, dengan memperhatikan/memberikan
tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar melalui bahasa (meaningful verbal learning).
Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dari informasi verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau
bersama-sama. Oleh karena itu belajar dengan prestasi hafalan saja tidak dianggap sebagai belajar bermakna.
Maka, menurut Ausubel supaya proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa
menemukan sendiri semuanya. Dalam hal ini guru bertanggung jawab untuk mengorganisasikan dan
mempresentasikan apa yang perlu dipelajari oleh siswa, sedangkan peran siswa di sini adalah menguasai yang
disampaikan gurunya.
Belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful learning) yang dikemukakan oleh Ausubel adalah bila
informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu
sehingga peserta didik itu mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Belajar
seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan
dengan pengetahuan yang telah dipunyai sebelumnya. Untuk itu diperlukan dua persyaratan :
-

Materi yang secara potensial bermakna dan dipilih oleh guru dan harus sesuai dengan tingkat perkembangan dan
pengetahuan masa lalu peserta didik.

Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna, faktor motivasi memegang peranan penting dalam hal ini, sebab
peserta didik tidak akan mengasimilasikan materi baru tersebut apabila mereka tidak mempunyai keinginan dan
pengetahuan bagaimana melakukannya. Sehingga hal ini perlu diatur oleh guru, agar materi tidak dipelajari secara
hafalan.
Dengan demikian kunci keberhasilan belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang diterima atau
yang dipelajari oleh siswa. Ausubel tidak setuju dengan pendapat bahwa kegiatan belajar penemuan (discovery
learning) lebih bermakna dari pada kegiatan belajar penerimaan (reception learning). Sehingga dengan ceramah
pun, asalkan informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi penyajiannya sistematis, akan dihasilkan belajar
yang baik.

Benjamin S Bloom

d. Bloom: Teori Taksonomi


Benjamin S. Bloom menjelaskan tujuan pendidikan merujuk pada taksonomi. Tujuan pendidikan dibagi
menjadi beberapa tiga domain dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci
berdasarkan hirarkinya. Domain dimaksud adalah:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual,
seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2 Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi,
seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik
seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Taxonomi Bloom

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan
secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks.
Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti
misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai pemahaman yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan
pengetahuan yang ada pada tingkatan pertama.
Bloom mengklasifikasi lebih lanjut ranah kognitif menjadi 6 tingkatan hirarkhis, dan tiap-tiap klasifikasi
dikembangkan lagi menjadi bagian-bagian klasifikasi yang lebih khusus. Semua klasifikasi diurut secara hirarkhis
dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Keenam klasifikasi ranah kognitif Bloom adalah sebagai
berikut: 1. pengetahuan, 2. pemahaman, 3. penerapan, 4. analisis, 5. sintesis, 6. penilaian. Domain ini terdiri dari dua
bagian: bagian pertama berupa adalah pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa kemampuan dan
keterampilan intelektual (kategori 2-6)
Pengetahuan: Klasifikasi yang menekankan pada mengingat, apakah dengan mengungkapkan atau
mengenal kembali sesuatu yang telah pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Pemahaman: Klasifikasi ini
menekankan pada pengubahan informasi ke bentuk yang lebih mudah dipahami. Penerapan: Menggunakan
abstraksi pada situasi tertentu dan konkrit. Tekanannya adalah untuk memecahkan suatu
masalah. Analisis: Memilah informasi ke dalam satuan-satuan bagian yang lebih rinci sehingga dapat dikenali
fungsinya, kaitannya dengan bagian yang lebih besar, serta organisasi keseluruhan bagian. Sintesis: Penyatuan
bagian-bagian untuk membentuk suatu kesatuan yang baru dan unik. Penilaian: Pertimbangan-pertimbangan
tentang nilai dari sesuatu untuk tujuan tertentu.

e. Teori Belajar Gestal


Gestal berasal dari bahasa Jerman yang berarti konfigurasi. Aliran ini berpendapat bahwa kita mengalami
dunia secara menyeluruh dan bermakna. Kita tidak melihat stimuli yang terpisah-pisah namun stimuli itu
dikelompokkan bersama (diorganisasikan) ke dalam satu konfigurasi yang bermakna. Pandangan Gestaltis adalah
keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian-bagian atau membagi-bagi berarti mendistorsi.

a.1. Max Wertheimer: phi phhenomena


Max Wertheimer dikenal sebagai Bapak Gestal pertama. Teorinya yang terkenal mengani Phi Phenomena, yaitu
pengalaman fenomenologis yaitu perbedaan dari bagian-bagian yang menysun pengalaman tersebut. Menurut Max
jika mata malihat stimuli dengan cara tertentu, penglihatan itu akan memberi ilusi gerakan, seperti lampu kedap
kedip akan memberi ilusi seperti berjalan.

a.2. Kurt Lewin: Teori Medan


Psikologi Gestal berusaha mengaplikasikan filed theory (teori medan) dari fisika ke problem psikologi. Secara umum
medan dapat dideskripsikan sebagai sistem yang saling terkait secara dinamis, di mana setiaop bagiannya saling
mempengaruhi satu sama lain. Psikologi Gestal percaya bahwa apapun yang terjadi pada diri seseorang akan
mempengaruhi segala sesuatu yang lain dalam diri orang itu. Misalnya, dunia akan tampak berbeda bagi seseorang
yang jempolnya kejepit pintu atau sakit mencret, penekanannya tetap pada keseluruhan bagian, bukan bagianbagian.

a.3. Wolfgan Kohler: The Mentality of Apes

Menurut Kohler belajar adalah fenomena kognitif. Organisme mulai melihat solusi setelah memikirkan problem.
Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama
(secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan.Untuk menguji
gagasan tentang belajar ini, Kohler menggunakan sejumlah eksperimen kreatif. Satu percobaan adalah problem
memecahkan jalan memutar di mana hewan dapat melihat tujuannya dengan jelas tetapi tidak bisa mencapainya
langsung. Hewan itu harus memutar dan mengambil jalur lain untuk mendapatkan obyek yang
diinginkannya. Kohler menemukan bahwa ayam amat berkesulitan mendapatkan solusi, tetapi monyet bisa
memecahkannya dengan reatif murah.
Percobaan kedua, Kohler mengharuskan organisme menggunakan alat untuk menjangkau obyek yang
diinginkannya. Misalnya sebuah pisang diletakkan di luar jangakaun monyet sehinngga monyet harus mengguakan
tongkat untuk menggapainya atau menggunakan dua tingkat agar cukup panjang untuk menjangkaunya. Dalam
masing-masing kasus ternya hewan tsb memiliki semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.
Step-1
Simpanse dimasukkan sangkar dan di luar sangkar diletakkan pisang yang tidak akan mungkin dapat diraih jika
hanya dengan tangan kosong. Dalam sangkar tersebut diletakkan tongkat, sehingga lama kelamaan simpanse dapat
meraih pisang tersebut dengan bantuan tongkat.
Step-2
Sama dengan step-1, namun kali ini pisang diletakkan lebih jauh. Selain tongkat tadi diberikan tongkat tambahan
yang dapat disambung. Denganinsight yang dimiliki, maka simpanse dapat meraih pisang tadi dengan bantuan
tongkat yang disambung dengan tongkat kedua.
Step-3
Pisang diletakkan di atas sangkar dengan asumsi simpanse tidak akan dapat meraih dengan tinggi loncatnya. Lalu di
sudut ruangan disediakan kotak, sehingga dengan kotak itu simpanse dapat meraih pisang.
Step-4
Sama dengan step-3, hanya jaraknya diperjauh dan disediakan kotak tambahan, sehingga simpanse dapat meraih
pisang dengan bantuan kotak tambahan tersebut.

a.4. Kurt Koffka: Memory Trace: Teori Jejak Memori

Koffka berusaha menghubungkan masa lalu dan masa sekarang dengan jejak memori. Menurutnya,
pengalaman saat ini akan membangkitkan apa yang sesebut sebagi memory proses, ketika proses berhenti, jejak
dari efeknya akan tertinggal di otak. Jejak ini, pada gilirannya, akan mempengaruhi semua proses serupa yang
terjadi si masa depan. Jika seseorang mendefenisikan belajar sebagai modifikasi potensi perilaku yang berasal dari
pegalaman, maka setiap pemunculan proses ini dapat dilihat sebagai pengalaman belajar

3. Proses Pengolahan Informasi


Telah dikemukaan sebelumnya bahwa penganut teori belajar kognitif berpendapat bahwa perilaku yang
tidak dapat diamati pun dapat dipelajari secara ilmiah. Sebagian besar dari mereka ini terutama teratrik pada teori
yang disebut teori pemrosesan informasi.

Teori pemroses informasi


Model pemrosesan informasi dapat digambarkan sebagai kumpulan kotak yang dihubungkan dengan garisgaris. Kotak-kotak itu menggambarkan fungsi-fungsi atau keadaan sistem, dan garis-garis menggambarkan
transformasi yang terjadi dari stau keadaan ke keadaan lainnya. Suatu model pemrosesan informasi diperlihatkan
dalam gambar

Dalam model ini, informasi dalam bentuk energi fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk ucapan,
tekanan untuk sentuhan,dan lain-lain) diterima oleh reseptor yang peka terhadap eenergi dalam bentuk-bentuk
tertentu itu. Reseptor-reseptor itu mengirimkan tanda-tanda dalam bentuk impuls-impuls elektrokimia ke otak. Jadi
tranformasi pertama yang dialami informasi ialah dari berbagai bentuk energi ke satu bentuk yang sama.
Impuls-ilmpluls saraf dari reseptor masuk ke suatu registor pengindraan yang terdapat dalam sistem saraf
pusat. Informasi penginderaan disimpan dalam sistem saraf pusat selama waktu yang sangat singkat; menurut
Serling (1960), hanya selama seperempat detik. Dari seluruh informasi yang masuk ini, sebagian kecil yang
disimpan untuk selanjutnya diteruskan ke memori jangka pendek, sedangkan selebihnya hilang dari sistem. Proses
reduksi ini disebut persepsi selektif.
Memori jangka pendek secara kasar dapat disamakan dengan kesadaran. Artinya, apa yang kita sadari
pada suatu waktu, dikatakan terdapat pada memori jangka pendek kita. Memori ini disebut jangka pendek sebab
informasi keluar dari memori jangak pendek ini kira-kira 10 detik, kecuali kalau informasi itu diulang-ulang. Bila kita
mencari nomor telepon manual misalnya, nomor-nomor tersebut akan lupa waktu kita berjalan dari buku telepon ke
pesawat telepon

Bukan hanya memori jangka pendek yang pendek, tetapi kapasitasnya pun terbatas. Oleh karena itu,
memori jangka pendek kerap kali disebut bottleneck sistem pemrosesan informasi manusia. kapasitas memori
jangka pendek yang kecil ini implikasinya penting sekali bagi pengajaran atau instruksi pada umumnya.
Makin lama makin banyak digunakan istilah memori kerja untuk memori jangka pendek. Kedua istilah ini
memberi penekanan pada apek-aspek yang berbeda dengan konsep: jangka pandek menekankan lama
bertahannya imformasi, sedangkan kerja menekanan fungsinya. Memori kerja merupakan tempat dilakukannya
kegiatan mental secara sadar. Sebagi contoh misalnya, jika kita memecahkan soal,sebenanrnya sudah ada
beberapa alyernatif jawaban sementara di otak.

Informasi

Memori kerja dapat dikode, kemudian disimpan dalam memori jangka panjang. Pengodean merupakan
suatu proses transformasi, dimana informasi baru diintegrasikan pada informasi lama dengan berbagai
cara. Memori jangka panjangmenyimpan infromasi yang akan digunakan di kemudian hari. Berlawanan dengan
memori kerja, memori jangka panjang bertahanlam a sekali
Informasi yang telah disimpan di memori jangka panjang bila akan digunakan lagi, harus
dipanggil. Informasi yang telah dipanggil merupakan dasar generator respons. Dalam pikiran sadar infromasi
mengalir dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek, kemudian ke generator respon. Akan tetapi, untuk
respons otomatis, informasi mengalir langsung dari memori jangka panjang ke generator respons selama
pemanggilan.
Generator respons mengatur urutan respons dan membimbing efektor-efektor. Efektor-efektor meliputi
semua otot dan kelenjer kita, tetapi untuk tugas sekolah, efektor-efektor yang utama ialah tangan untuk menulis dan
alat suara untuk berbicara.
Aliran informasi dalam sistem manusia ternyata bertujuan dan diatur oleh kotak-kotak yang disebut harapan
dan kontrol eksekutif Khususnya harapan-harapan tentang hasil kegiatan mental mempengaruhi pemrosesan
informasi, seperti prosedur pengontrolan dan strategi-strategi mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan

4. Aplikasi Kognitifinse Dalam Pendidikan Dalam pembelajaran

Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran , tidak lagi
mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara
aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan
pembelajarannya kognitif mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. siswa bukan sebagai orang dewasa muda dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif
melalui tahap-tahap tertentu.
2. anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan bendabenda kongkrit.
3. keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran amat dipentingkan karena hanya dengan mengaktifkan siswa
maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik
4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengalaman atau informasi baru dengan
struktur kognitif yang telah dimimiki oleh siswa
5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika
tertentu, dari sederhana ke kompleks
6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus
disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimilikisiswa. Tugas guru adalah menunjukkan
hubungan antara apa yag sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
7. adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berfikir, pengetahuan awal, dan
sebagainya.
8. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat
hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses
pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru
hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami
tujuannya.
9. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.
Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan
kehidupan peserta didik.
10. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.
Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu
konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan
yang tepat.

III. Kesimpulan

Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu
berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar
akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki sesorang.
Di antara pakar kognitif paling tidak adal ima yang terkenal yaitu Piaget, Bruner, Ausubel, Bloom dan
Gestal. Menurut Piaget, kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur
seseorang, serta melalui prosesasi asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Sedangkan Brumer mengatakan bahwa
belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan atau informasi, dan bukan ditentukan oleh
umur. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Sementara itu Ausebel
mengatakan bahwa proses belajar mengajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang
dimilikinya dengan pengetahuan baru. Bloom menyatakan proses kognitif mengikuti tahap perkembangan,
sedangkan gestal menyatakan bahwa kognitif bukanlah bersifat parsial, tetapi bersifat keseluruhan.
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran , tidak lagi
mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara
aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.

Daftar Pustaka

John W Santrock. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008

Ratna Wilis, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Eirlngga. 2006

B.R Hergenhahn, Mattew H.Olson, Theories Of Learning (Teori Belajar). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010

Asri Budiningrum, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta. 2005

http://tip.psychology.org/wertheim.html

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/

http://www.learningandteaching.info/learning/gestalt.htm

http://belajarpsikologi.com/teori-belajar-gestalt/#ixzz1kGZlpRPM

http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/tipe-isi-matakuliah-ranah-kognitif

Dipresentasikan dalam Mata Kuliah Orientasi Baru Psikologi Pendidikan Prodi PAUD PPs UNJ Februari 2012

Diposkan oleh Syahrul Ismet di 15.34

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
IstilahCognitive berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian,
mengerti.Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan,
danpenggunaan

pengetahuan.

Dalam

pekembangan

selanjutnya,

kemudian

istilahkognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia
/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi
setiapperilaku

mental

yang

berhubungan

dengan

masalah

pemahaman,

memperhatikan,memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi,


pemecahan masalah,pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan
keyakinan. Termasukkejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan
konasi (kehendak)dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para
ahli jiwa alirankognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada
kognisi,yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku
ituterjadi.
B. Rumusan Masalah
A. Apakah yang dimaksud dengan Teori Kognitivisme?
B. Bagaimanakah Pandangan Teori Kognitivisme terhadapBelajar Mengajar dan Pembelajaran?
C. Bagaimanakah Impilkasi Teori Kognitivisme dalam Pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Kognitivisme
a. Pengertian Teori Kognitivisme
Teorikognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar.
Kognisiadalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati,
melihat,menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain,
kognisimenunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan
bahwa prosesbelajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek
kognisiseseorang.

Teori

belajar

kognitiv

lebih

mementingkan

proses

belajar

daripadahasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan


antarastimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir
yangsangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.
Perubahanpersepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku
yang bisadiamati.Dari beberapa teori belajar kognitif diatas (khusunya tiga
dipenjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bahwa masing
masingteori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia
pendidikanjuga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan
yangsama-sama

dalam

ranah

psikologi

kognitif,

maka

disisi

lain

juga

memilikiperbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan. Sebagai misal,


Teoribermakna ausubel dan discovery Learningnya bruner memiliki sisi pembeda.
Darisudut pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa justeru ada
bahayajika siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan
dengan teoribelajar discoveri, karena siswa cenderung diberi kebebasan untuk
mengkonstruksisendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya
menurut teori belajarBermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas membantu
mengkoordinasikanpengalaman-pengalaman yang hendak diterima oleh siswa
namun tetap dengankoridor pembelajaran yang bermakna. Dari poin diatas dapat
pemakalah ambilgaris tengah bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas,
meskipun sama-samamengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat

diaplikasikan

padakonteks

pembelajaran

secara

menyeluruh.

Terlebih

untuk

menyesuaikan teoribelajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem


pembelajaransekarang maka harus benar-benar diperhatikan antara karakter
masing-masingteori

dan

kemudian

disesuakan

dengan

tingkatan

pendidikan

maupun karakteristikpeserta didiknya.


b. Ciri-ciriAliran Kognitivisme
Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
Mementingkn peranan kognitif
Mementingkan kondisi waktu sekarang
Mementingkan pembentukan struktur kognitif
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalambelajar memperoleh dan mempergunakan
bentuk-bentuk reppresentatif yang mewakiliobyek-obyek itu di representasikan atau di
hadirkan dalam diri seseorangmelalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya
merupakan sesuatu yangbersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya
selamamengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali kenegerinya sendiri.Tampattempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapatdiabawa pulang, orangnya
sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Padawaktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya
tanggapan-tanggapan, gagasan dantanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang
disampaikan kepada orang yangmendengarkan ceritanya.

c. Tokoh Tokoh Teori Kognitivisme


JeanPiaget, teorinya disebut Cognitive Developmental

Dalamteorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas


gradual danfungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Dalam teorinya,
Piagetmemandang
fungsiintelektual

bahwa
dari

proses

konkret

berpikir
menuju

sebagai

aktivitas

gradual

dari

abstrak.

Piaget

adalah

ahli

psikologdevelopmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan


pribadiserta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
MenurutPiaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan
mental

yangsebelumnya

tidak

ada.

Pertumbuhan

intelektuan

adalah

tidak

kuantitatif,melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan


mental anakyang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.Menurut Suhaidi
JeanPiaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
Tahapsensory motor,yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia
0-2 tahun, Tahap inidiidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih
sederhana.
Tahappre operational,yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada
usia 2-7 tahun. Tahap inidiidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau
bahasa tanda, dan telahdapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan
yang agak abstrak.
Tahapconcrete operational,yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini
dicirikan dengan anak sudah mulaimenggunakan aturan-aturan yang jelas dan
logis. Anak sudah tidak memusatkandiri pada karakteristik perseptual pasif. 4.
Tahap formal operational, yakniperkembangan ranah kognitif yang terjadi pada
usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahapyang terahir ini adalah anak sudah mampu
berpikir abstrak dan logis denganmenggunakan pola pikir kemungkinan. Dalam
pandangan Piaget, proses adaptasiseseorang dengan lingkungannya terjadi secara
simultan melalui dua bentukproses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika
pengetahuan baru yangditerima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang
telah dimiliki seseorangtersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif

yang telahdimiliki seseorang harus direkonstruksi/di kode ulang disesuaikan


denganinformasi yang baru diterima.Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget
jugamenekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat
terusmengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas
mentalnya. Equilibrasiini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara
asimilasi dan akomodasisehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar
dengan struktur dalamya.Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari
disequilibrium menujuequilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.


Berbeda dengan Piaget, Burner melihatperkembangan kognitif manusia berkaitan dengan
kebudayaan. Bagi Bruner,perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
kebudayaan,terutama bahasa yang biasanya digunakan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidakusah ditunggu sampai anak mancapai
tahap perkembangan tertentu. Yang pentingbahan pelajaran harus ditata dengan baik maka
dapat diberikan padanya. Denganlain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat
ditingkatkan dengan jalanmengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai
dengan tingkatperkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia
pendidikanadalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan
mulaidari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkapperkembangan
kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner iniadalah dengan memahami
konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitifkemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan.
(discovery learning).
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel
Yang memandang bahwa Proses belajar terjadijika siswa mampu mengasimilasikan
pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuanbaru yang dimana Proses belajar terjadi
melaui tahap-tahap:

1). Memperhatikan stimulus yang diberikan


2). Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakaninformasi yang sudah dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar denganbaik jika isi pelajarannya didefinisikan dan
kemudian dipresentasikan denganbaik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan
demikian akanmempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer
adalahkonsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akandipelajari
oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu :Menyediakan suatu kerangka
konseptual

untuk

materi

yang

akan

dipelajari.Berfungsi

sebagai

jembatan

yang

menghubungkan antara yang sedang dipelajari danyang akan dipelajari. Dapat membantu siswa
untuk memahami bahan belajar secaralebih mudah.
B. Pandangan Teori Kognitivisme terhadap BelajarMengajar dan Pembelajaran
Teori kognitif adalah teori yangumumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi
adalah kemampuan psikis ataumental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka,
memperhatikan,menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep
tentangpengenalan. Teori kognitif menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena adavariabel
penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang. Teori belajar kognitivlebih mementingkan
proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajartidak sekedar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respon, lebih dari itubelajar melibatkan proses berpikir yang sangat
kompleks. Belajar adalahperubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan
pemahaman tidak selaluberbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.Dari beberapa
teori belajarkognitif diatas (khusunya tiga di penjelasan awal) dapat pemakalah ambil
sebuahsintesis bahwa masing masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jikaditerapkan
dalam dunia pendidikan juga pembelajaran. Jika keseluruhan teoridiatas memiliki kesamaan
yang sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, makadisisi lain juga memiliki perbedaan jika
diaplikasikan dalam proses pendidikan.Sebagai misal,
Teori bermakna ausubel dan discoveryLearningnya bruner memiliki sisi pembeda. Dari
sudut pandang Teori belajarBermakna Ausubel memandang bahwa justru ada bahaya jika siswa

yang kurang mahirdalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori belajar discoveri,
karenasiswa cenderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman
tentangsegala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar Bermakna guru tetap
berfungsisentral

sebatas

membantu

mengkoordinasikan

pengalaman-pengalaman

yang

hendakditerima oleh siswa namun tetap dengan koridor pembelajaran yang bermakna.
Daripoin diatas dapat pemakalah ambil garis tengah bahwa beberapa teori belajarkognitif
diatas, meskipun sama-sama mengedepankan proses berpikir, tidak sertamerta dapat
diaplikasikan pada konteks pembelajaran secara menyeluruh. Terlebihuntuk menyesuaikan
teori belajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dansistem pembelajaran sekarang maka
harus benar-benar diperhatikan antarakarakter masing-masing teori dan kemudian disesuakan
dengan tingkatanpendidikan maupun karakteristik peserta didiknya.
C. Implikasi Teori Kognitivistik dalam Dunia Pendidikan
Adapun Impilikasi Teori Kognitivisme dalamdunia pendidikan yang lebih dispesifikasikan
dalam Pembelajaran sesuai denganTeori yang telah dikemukan diatas sebagai berikut:
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalampembelajaran adalah :
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denganorang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yangsesuai dengan cara berfikir anak; Anak-anak akan
belajar lebih baik apabiladapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu
anak agar dapatberinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya; Bahan yang harus dipelajari
anakhendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing; Berikan peluang agar anak belajarsesuai
tahap perkembangannya. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberipeluang untuk saling
berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran :
Menghadapkan anak pada suatu situasi yangmembingungkan atau suatu masalah; anak
akan berusaha membandingkan realita diluar dirinya dengan model mental yang telah
dimilikinya;

dan

denganpengalamannya

anak

akan

mencoba

menyesuaikan

atau

mengorganisasikan

kembalistruktur-struktur

idenya

dalam

rangka

untuk

mencapai

keseimbangan di dadalambenaknya.

Impilkasi Teori Bermakna Ausubel


Implikasinyadalam pembelajaran adalah seorang pendidik,, mereka harus dapat
memahamibagaimana cara belajar siswa yang baik, sebab mereka para siswa tidak akandapat
memahami bahasa bila mereka tidak mampu mencerna dari apa yang merekadengar ataupun
mereka tangkap.
Dandari ketiga macam teori diatas jelas masing-masing mempunya implikasi yangberbeda,
namun secara umum teori kognitivisme lebih mengarah pada bagaimanamemahami struktur
kognitif siswa.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Teori kognitif adalah teori yangumumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi
adalah kemampuan psikis ataumental manusia yang berupa mengamati, melihat,
menyangka, memperhatikan,menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi
menunjuk pada konsep tentangpengenalan. Adapun teori yang tekenal antara lain:
JeanPiaget, teorinya disebut Cognitive Developmental yang Dalamteorinya, Piaget
memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual darifungsi intelektual
dari konkret menuju abstrak,
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner,yang dimana Burner memandang
perkembangan kognitif manusia berkaitan dengankebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan
kognitif seseorang sangat dipengaruhioleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang
biasanya digunakan.
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel,yang mengatakan bahwa siswa akan
belajar dengan baik jika isi pelajarannyadidefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan
baik dan tepat kepada siswa(advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi
pengaturan kemampuanbelajar siswa.

DAFTARPUSTAKA
http://fairuzelsaid.wordpress.com/2011/12/01/teori-kognitif/ (diakses

pada

hari

Kamis,

tanggal 16/2/2012)
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teori-belajar-kognitivisme/ (diakses

pada

hari

Kamis, tanggal 16/2/2012)


http://kreasimudaunisi.blogspot.com/2010/11/teori-kognitivisme.html (diakses

pada

hari

Kamis, tanggal 16/2/2012)

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME, KOGNITIVISME


DAN KONSTRUKTIVISME
Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme merupakan teori belajar yang telah cukup lama dianut
oleh para pendidik. Teori ini dicetuskan oleh Gage dan Berliner yang berisi tentang
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi
tidaknya perubahan tingkah laku. Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya
dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan
kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan
perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Dengan kata lain proses pembelajaran menurut teori Behaviorisme adalah bahwa
proses pembelajaran lebih menekankan pada proses pemberian stimulus
(rangsangan) dan rutinitas respon yang dilakukan oleh siswa. Inti pembelajaran
dalam pandangan behaviorisme terletak pada stimulus respon (S-R).

Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam
belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan
respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk
diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati
adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus)
dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas mimetic, yang menuntut
pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam
bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan
pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian
ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga
aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan
penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib
tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya
menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang
benar. Maksudnya bila siswa menjawab secara benar sesuai dengan keinginan
guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori
ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual (Degeng, 2006).
Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik
a) Obyek psikologi adalah tingkah laku.
b) Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek.
c) Mementingkan pembentukan kebiasaan.
d) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri.
e) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik harus dihindari.
Tokoh-Tokoh Aliran Behaviorisme
a) Edward LeeThorndike

Menurutnya belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon.


Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran,
perasaan, gerakan atau tindakan. teori ini sering disebut teori koneksionisme.
Connectionism ( S-R Bond) adalah hukum belajar yang dihasilkan oleh Thorndike
yang melakukan eksperimen yang terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya:
1) Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Sebaliknya,
semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula
hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
2) Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa
kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan satuan pengantar (conduction
unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
3) Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan
semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila
jarang atau tidak dilatih.
b) John Watson
Kajian tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti Fisika atau Biologi
yang berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat
diamati dan diukur. Belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon,
namun keduanya harus dapat diamati dan diukur.
c) Clark L. Hull
Semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme
tetap bertahan hidup. Dorongan belajar (stimulus) dianggap sebagai sebuah
kebutuhan biologis agar organisme mampu bertahan hidup.
d) Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulusstimulus yang disertai suatu gerakan. Hukuman (punishment) memegang peranan
penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan
mampu mengubah tingkah laku seseorang.
e) Burrhus Frederic Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan tentang belajar lebih mengungguli konsep para
tokoh sebelumnya. Respon yang diterima seseorang tidak sesederhana konsep yang

dikemukakan tokoh sebelumnya, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan


saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang
dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.
Operant Conditioningadalah hukum belajar yang dihasilkan oleh B.F. Skinner yang
melakukan eksperimen yang terhadap tikus menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya:
1) Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
2) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan operantadalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap
lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalamclassical conditioning.
Kelemahan Teori Behavioristik
a) Hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati
b) Kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi,
bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri
c) Pebelajar berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif
d) Pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang
jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat
e) Kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar
Kelebihan Teori Behavioristik
Sesuai untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan
yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflex.

Teori Kognitivisme

Teori belajar kognitif berasal dari pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang
Jerman yang kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat. Intisari dari teori belajar
konstruktivisme adalah bahwa belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan
transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu
yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan
informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian
merevisi prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru
diperoleh. Agar siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus
melibatkan diri secara aktif.
Teori kognitivisme ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses
informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan
kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan
pengetahuan yang telah ada. Teori ini menekankan pada bagaimana informasi
diproses.
Karakteristik :
a) Belajar adalah proses mental bukan behavioral
b) Siswa aktif sebagai penyadur
c) Siswa belajar secara individu dengan pola deduktif dan induktif
d) Instrinsik motivation, sehingga tidak perlu stimulus
e) Siswa sebagai pelaku untuk menuntun penemuan
f) Guru memfasilitasi terjadinya proses insight.
Beberapa tokoh dalam aliran kognitivisme
a) Teori Gestalt dari Wertheimer dkk
Menekankan pada kebermaknaan dan pengertian sehingga tidak menimbulkan
ambiguitas dalam proses pembelajaran.
b) Teori Schemata Piaget
Teori ini mengatakan bahwa pengalaman kependidikan harus dibangun di sekitar
struktur kognitif siswa. Struktur kognitif ini bisa dilihat dari usia serta budaya yang
dimilik oleh siswa.
c) Teori Belajar Sosial Bandura
Bandura mempercayai bahwa model akan mempunyai pengaruh yang
paling efektif apabila mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang
mempunyai kehormatan, kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan,

sehingga dalam banyak hal seorang guru bisa menjadi model yang paling
berpengaruh.
d) Pengolahan Informasi Norman
Norman melihat bahwa materi baru akan dipelajari dengan menghubungkannya
dengan sesuatu yang sudah diketahuinya, yang dalam teorinya di sebut learning by
analogy. Pengajaran yang efektif memerlukan guru yang mengetahui struktur
kognitif siswa.
Teori Konstruktivisme
Menurut cara pandang teori konstruksivisme belajar adalah proses untuk
membanguin pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya siswa
akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangu atas dasar realitas
yang ada di dalam masyarakat. Evaluasi pembelajaran. Dalam treori
kontruktivisme, evaluasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa
dalam memahami materi dari guru. Evaluasi menjadi saran untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran.
Konstruktivisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan
pendekatan paedagogi yang mempromosikan learning by doing. Teori ini
memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlakukan guna
mengembangkan dirinya sendiri.
Menurut asalnya, teori konstruktivime bukanlah teori pendidikan. Teori ini berasal
dari disiplin filsafat, khususnya filsafat ilmu. Pada tataran filsafat, teori ini
membahas mengenai bagaimana proses terbentuknya pengetahuan manusia.
Menurut teori ini pembentukan pengetahuan terjadi sebagai hasil konstruksi
manusia atas realitas yang dihadapinya. Dalam perkembangan kemudian, teori ini
mendapat pengaruh dari disiplin psikologi terutama psikologi kognitif Piaget yang
berhubungan dengan mekanisme psikologis yang mendorong terbentuknya
pengetahuan. Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif siswa
mengkostruksi pengetahuan. Proses tersebut dicirikan oleh beberapa hal sebagai
berikut:
1.
Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang
mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh
pengertian yang telah ia punyai.
2.
Konstruksi makna merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus
seumur hidup.
3.
Belajar bukan kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih berorientasi
pada pengembangan berpikir dan pemikiran dengan cara membentuk pengertian
yang baru. Belajar bukanlah hasil dari perkembangan melainkan perkembangan itu
sendiri. Suatu perkembangan yang menuntun penemuan dan pengaturan kembali
pemikiran seseorang.

4.
Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam
keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi disekuilibrium
merupakan situasi yang baik untuk belajar
5.
Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan
lingkungan siswa.
6.
Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang sudah diketahuinya.
Bagi kaum konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan
sesuatu, bukan suatu proses mekanis untuk mengumpulkan fakta. Dalam konteks
yang demikian, belajar yang bermakna terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik
pengertian dan selalu terjadi pembaharuan terhadap pengertian yang tidak
lengkap.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut dapat ditarik sebuah inferensi bahwa menurut
teori konstruktivisme belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan
cara mengabstraksi pengalaman sebagai hasil interaksi antara siswa dengan
realitas baik realitas pribadi, alam, maupun realitas sosial. Proses konstruksi
pengetahuan berlangsung secara pribadi maupun sosial. Proses ini adalah proses
yang aktif dan dinamis. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan awal,
kemampuan kognitif dan lingkungan sangat berpengaruh dalam proses konstruksi
makna.Argumentasi para konstruktivis memperlihatkan bahwa sebenarnya teori
belajar konstrukvisme telah banyak mendapat pengaruh dari psikologi kognitif,
sehingga dalam batas tertentu aliran ini dapat disebut juga neokognitif.
Walaupun mendapat pengaruh psikologi kognitif, namun harus diakui bahwa
stressing point teori ini bukan terletak pada berberapa konsep psikologi kognitif
yang diadopsinya (pengalaman, asimilasi, dan internalisasi).melainkan pada
konstuksi pengetahuan. Konstruksi pengetahuan yang dimaksudkan dalam
pandangan konstruktivisme yaitu pemaknaan realitas yang dilakukan setiap orang
ketika berinteraksi dengan lingkungan. Dalam konteks demikian, konstruksi atau
pemaknaan terhadap realitas adalah berlajar itu sendiri. Dengan asumsi seperti ini,
sebetulnya substansi konstrukvisme terletak pada pengakuan akan hekekat
manusia sebagai homo creator yang dapat mengkonstruksi realitasnya sendiri.
IMPLIKASI TEORI BELAJAR TERHADAP EVALUASI PENDIDIKAN
Teori Behaviorisme
Implikasi teori ini dalam pembelajaran tergantung tujuan pembelajaran, sifat materi
pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia.Teori ini sangat sesuai untuk pengetahuan yang bersifat obyektif, pasti,
tetap, tidak berubah. Dalam hal ini pengetahuan telah terstruktur dengan rapi,
sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau
pebelajar

Menurut teori behaviorisme apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa saja
yang dihasilkan siswa (respons) semua harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh
hanya implisit (tersirat). Faktor lain yang juga penting adalah faktor penguat
(reinforcement). Penguat adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya
respons. Bila penguatan ditambah (positive reinforcement) maka respons akan
semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement)
responspun akan tetap dikuatkan.. Misalnya bila seorang anak bertambah giat
belajar apabila uang sakunya ditambah maka penambahan uang saku ini disebut
sebagai positive reinforcement. Sebaliknya jika uang saku anak itu dikurangi dan
pengurangan ini membuat ia makin giat belajar, maka pengurangan ini disebut
negative reinforcement.
Konsep evaluasi pendidikan sudah sangat jelas dalam teori ini yaitu melalui
pengukuran, pengamatan. Sebab seseorang dikatakan belajar bila telah mengalami
perubahan perilaku. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua hasil belajar
bisa diamati dan diukur, paling tidak dalam tempo seketika. Semua aspek materi
juga tidak bisa diukur dengan teori ini. Evaluasi dilakukan untuk menilai hasil akhir
dari penggunaan teori ini yaitu perubahan perilaku.
Teori Kognitivisme
Implikasi teori kognitivisme dalam kegiatan pembelajaran lebih memusatkan
perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada
hasilnya. Selain itu, peran siswa sangat diharapkan untuk berinisiatif dan terlibat
secara aktif dalam kegiatan belajar. Teori ini juga memaklumi akan adanya
perbedaan individual dalam hal kemajuan per- kembangan. Oleh karena itu guru
harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari
individu individu ke dalam bentuk kelompok kelompok kecil siswa daripada
aktivitas dalam bentuk klasikal.
Teori ini juga mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget,
pertukaran gagasan gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan
penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung,
perkembangannya dapat disimulasi.
Implikasi dalam konsep evaluasi bahwa evaluasi dilakukan selama proses belajar
bukan hanya semata dinilai dari hasil belajar. Jadi, teori ini menitikberatkan pada
proses daripada hasil yang dicapai oleh siswa.
Bagi para penganut aliran kognitifisme, pembelajaran dipandang sebagai upaya
memberikan bantuan kepada siswa untuk memperoleh informasi atau pengetahuan
baru melalui proses discovery dan internalisasi. Agar discovery dan internalisasi
dapat berlangsung secara benar maka perlu diperhatikan beberapa prinsip
pembelajaran yang perlu sebagai berikut:

Setiap siswa perlu dimotivasi oleh guru agar merasa bahwa belajar
merupakan suatu kebutuhan, dan bukan sebaliknya sebagai beban

Pembelajaran hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang


abstrak.
Setiap usaha mengkonseptualisasikan matari pembelajaran hendaknya diatur
sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa belajar.
Pembelajaran hendaknya dirancang sesuai dengan pengalaman belajar siswa
dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangannya.
Materi pelajaran hendaknya dirancang dengan memperhatikan sequencing
penyajian secara logis.
Teori Konstruktivisme
Teori konstruksivisme membawa implikasi dalam pembelajaran yang harus bersifat
kolektif atu kelompok. Proses sosial masing-masing siswa harus bisa diwujudkan. C.
Asri Budiningsih dalam buku Pembelajaran Moral menyatakan bahwa keberhasilan
belajar sangat ditentukan oleh peran social yang ada dalam diri siswa. Dalam
situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat tata hubungan, tata
tingkah laku dan sikap diantara sesame manusia. Konsekuensinya, siswa harus
memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri (adaptasi) secara cepat.
Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan
dari guru kepada siswa, melainkan suatu penciptaan suasana yang memungkinkan
siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi aktif guru
bersama-sama siswa dalam membangun pengetahuan, membuat makna, mencari
kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi mengajar adalah belajar
itu sendiri. Menurut prinsip konstruktivisme, guru berperan sebagai mediator dan
fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan sebagaimana
mestinya. Sebagai fasilitator dan mediator tugas guru dapat dijabarkan sebagai
berikut:
a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab
dalam merencanakan aktivitas belajar, proses belajar serta hasil belajar yang
diperolehnya. Dengan demikian menjadi jelas bahwa memberi kuliah atau ceramah
bukanlah tugas utama guru.
Memberikan sejumlah kegiatan yang dapat merangsang keingintahuan siswa dan
mendorong mereka untuk meng-ekspresikan gagasan-gagasannya serta
mengkomukasikan-nya secara ilmiah;
b. Menyediakan sarana belajar yang merangsang siswa berpikir secara produktif.
Guru hendaknya menciptakan rangsangan belajar melalui penyediaan situasi
problematik yang memungkinkan siswa belajar memecahkan masalah
c. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan tingkat perkembangan berpikir
siswa. Guru dapat menunjukkan dan mempertanyakan sejauh mana pengetahuan
siswa untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan dengan pengetahuan yang
dimilikinya. (Ditulis Oleh Drs.Agustinus Maniyeni, M.Pd Dalam buku Wawasan
Pembelajaran halaman 1-15)

Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan non objektif, bersifat temporer,


selalu berubah dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari
dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan refleksi dan interpretasi.
Seseorang yang belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap
pengetahuan tergantung pengalamannya dan persepektif yang didalam
menginterprestasikannya.
Teori ini lebih menekankan pada diri siswa dalam penyusun pengetahuan yang ingin
diperoleh oleh siswa tersebut. Teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk
belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain
yang diperlakukan guna menggembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
1.
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu
sendiri.
2.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
mencari sendiri pertanyaanya.
3.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep
secara lengkap.
4.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Konsep evaluasi pendidikan hampir sama dengan konsep pada teori kognitivisme
yaitu menitikberatkan pada proses. Proses yang dimaksud disini merupakan sebuah
pengalaman yang dialami sendiri oleh masing-masing siswa (penyusunan
pengetahuan oleh siswa itu sendiri).
Diposkan oleh Warman Tateuteu di 20.07
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Reaks
i:

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Bagaimana menurut anda dengan hasil posting di atas..???

Posting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (