Anda di halaman 1dari 53

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keterampilan siswa berkomunikasi secara lisan yang dimaksudkan adalah
keterampilan berbicara. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang
dimaksud dengan keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk mengungkapkan
pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi
tentang suatu peristiwa, dan lain-lain, yang disampaikan dalam aspek kebahasaan,
baik berupa kata, kalimat, paragraf, dengan mempertimbangkan unsur-unsur prosodi
(intonasi, nada, irama, tekanan, dan tempo).
Standar kompetensi berbicara aspek keterampilan berbahasa yang dituntut
untuk dikuasai oleh siswa dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah
berbicara secara efektif dan efisien guna mengungkapkan perasaan, pendapat, pikiran,
kritikan, dan memuji, melaporkan berbagai peristiwa, berpidato, berceramah, dan
berkhotbah, menyampaikan pesan/informasi, dan berdiskusi (Depdiknas, 2006). Oleh
karena itu, keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang
perlu dimiliki oleh seorang siswa. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa dihadapkan
dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara, dialog dalam
lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga. Bahkan, kadang-kadang
terjadi adu argumentasi dalam suatu forum tertentu. Jadi, dalam semua situasi dituntut
keterampilan berbicara setiap individu yang ikut berpartisipasi.
1

Kenyataan menunjukkan bahwa keterampilan berbicara menyatakan maksud


dan perasaan secara lisan, sudah dimiliki siswa sebelum mereka memasuki bangku
sekolah. Namun, taraf keterampilan berbicara siswa masih bervariasi, mulai taraf
baik/lancar, sedang, gagap, atau kurang. Ada juga siswa yang lancar menyatakan
keinginan, rasa senang, sedih, sakit, atau letih. Bahkan, mungkin dapat menyatakan
pendapatnya mengenai sesuatu hal walau dalam tahap sederhana. Mungkin juga
beberapa siswa telah dapat menyatakan dirinya secara efisien. Tetapi, beberapa siswa
lainnya masih canggung berdiri di hadapan teman sekelasnya. Bahkan, tidak jarang
ada siswa yang berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa segalanya bila ia berhadapan
dengan sejumlah siswa lainnya.
Masalah keterampilan berbicara tersebut juga terjadi pada siswa kelas X SMK
Negeri 2 Parepare. Hal ini terefleksi berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara
penulis dengan siswa dan guru bahasa Inggris di sekolah tersebut. Faktor penyebab
kurang memadainya keterampilan berbicara siswa pada sekolah tersebut adalah: (1)
aktivitas diskusi debat multiarah belum tampak, siswa kurang memperhatikan aspek
kebahasaan dan nonkebahasaan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, (2)
kecendrungan mendominasi diskusi debat adalah siswa yang memiliki keterampilan
berbicara yang memadai baik aspek kebahasaan dan nonkebahasaan, sedangkan siswa
yang memiliki keterampilan berbicara baik aspek kebahasaan dan nonkebahasaan
kurang memadai semakin tetinggal.
Hal tersebut wajar terjadi karena keterampilan berbicara bukanlah
keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, walaupun pada dasarnya secara

alamiah manusia dapat berbicara. Keterampilan berbicara secara formal memerlukan


latihan dan arahan atau bimbingan yang intensif. Semua manusia dilahirkan secara
normal sudah memiliki potensi terampil berbicara. Potensi tersebut akan menjadi
kenyataan bila dipupuk, dibina, dan dikembangkan melalui latihan yang sistematis,
terarah, dan berkesinambungan.
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak
akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil mengingat
jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam
kehidupan jangka panjang.
Pemenuhan keterampilan berbicara tidak semudah yang dibayangkan orang.
Banyak ahli terampil menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, namun sering
mereka kurang terampil menyajikannya secara lisan. Kadang-kadang pokok
pembicaraan cukup menarik, hasilnya pun kurang memuaskan. Sebaliknya, walupun
topik kurang menarik, tetapi disajikan dengan cara dan gaya yang tepat, akhirnya
topik tersebut dapat menarik pendengarnya.
Inovasi pembelajaran keterampilan berbicara sangat penting dilaksanakan
untuk mengatasi masalah tersebut. Alternatif yang dapat dilaksanakan oleh guru
bahasa Inggris dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah dengan memilih
strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa berlatih semaksimal mungkin untuk
berbicara. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi

pembelajaran diskusi debat (discussion debate). Endah (2001) menyatakan bahwa


strategi diskusi debat sangat efektif digunakan untuk melatih keterampilan berbicara
siswa, menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan oleh suasana yang terus-menerus
sama dalam mata pelajaran lain, sehingga dapat menumbuhkan motivasi dan gairah
siswa dalam belajar.
Hal senada diungkapkan Sanjaya (2006) bahwa diskusi debat adalah segala
aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun
meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap,
maupun keterampilan, yang dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga
antarpeserta dapat saling membelajarkan baik bertukar pikiran, pengalaman, maupun
gagasan.
Penerapan strategi pembelajaran diskusi debat juga didasarkan rambu-rambu
pendekatan pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas,
2006) yakni, siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi,
bukan dituntut

lebih banyak untuk menguasai atau menghafalkan pengetahuan

tentang bahasa. Agar komunikasi terjalin dengan baik, diperlukan kerja sama antara
penyampai maksud dan penerima maksud.
Mengacu pada uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, peneliti terdorong
mengadakan penelitian mengenai Penggunaan Strategi Diskusi Debat dalam
Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Parepare.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah dalam
penelitian ini adalah Apakah penggunaan strategi diskusi debat dapat meningkatkan
keterampilan berbicara siswa SMK Negeri 2 Parepare?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan strategi diskusi debat
dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas X SMK Negeri 2 Parepare.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini, diharapkan memberi manfaat baik secara teoretis maupun
praktis terhadap pembelajaran penggunaan strategi diskusi debat dalam pembelajaran
keterampilan berbicara siswa SMK. Adapun manfaat penelitian ini, sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a. Memberikan sumbangan pemikiran berupa inovasi dalam pembelajaran,
yaitu inovasi pembelajaran katerampilan berbicara dengan penggunaan
strategi diskusi debat;
b. Bagi guru bahasa, penelitian ini dapat dijadikan acuan belajar dan
mengevaluasi diri terhadap kemampuan yang dimilikinya;
c. Memberikan masukan bagi penelitian selanjutnya, khususnya penelitian
tentang pembelajaran keterampilan berbicara.

2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:
a. Sebagai

masukan

bagi

guru

untuk

meningkatkan

pembelajaran

katerampilan berbicara dengan menggunakan strategi diskusi debat;


b. Sebagai

petunjuk bagi

siswa dalam

meningkatkan

keterampilan

berbicaranya;
c. Membina hubungan positif antarsiswa;
d. Melatih siswa untuk menyampaikan dan menerima informasi secara lisan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Inggris
1. Pembelajaran bahasa Inggris dalam Kurikulum 2006 (KTSP)
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau kurikulum operasional
yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan
memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan
sebutan Kurikulum 2006 karena, kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsurangsur pada Tahun Ajaran 2006-2007.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penyempurnaan dari
Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis
Kompetensi). KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk
menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan:(1) kondisi lingkungan
sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4)
kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat
terlibat secara aktif. Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang
kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan
komite sekolah (Muslim, 2007).
Dalam panduan penyusunan pelaksanaan KTSP pada setiap satuan pendidikan
tidak jauh berbeda dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang disusun sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan di tingkat


satuan pendidikan.
Lebih lanjut ditekankan bahwa7 pembelajaran bahasa Inggris terbagi dalam
tiga kelompok, yaitu kelompok kebahasaan, kelompok pemahaman, dan kelompok
penggunaan. Kelompok kebahasaan berkenaan dengan ejaan, kosakata, dan tata
bahasa. Kelompok pemahaman berkenaan dengan pengembangan kemampuan
berbahasa yang bersifat reseptif, yakni menyimak dan membaca. Kelompok
penggunaan berkenaan dengan pengembangan kemampuan berbahasa yang bersifat
produktif, yakni berbicara dan menulis (Parera, 1996).
Hal senada diungkapkan oleh Sumardi (2000) bahwa sepanjang sejarah
pengajaran bahasa, pembelajaran struktur atau tata bahasa tidak pernah hilang, tetapi
gradasi penekanannya berbeda-beda. Jadi, muatan kebahasaan dalam pembelajaran
bahasa Inggris mencakup sebaran tata bahasa yang sesuai dengan konteks
penggunaan dan keterampilan berbahasa siswa. Tata bahasa mencakup tata kata
sampai tata kalimat. Pengembangan kosakata dan kemampuan pengucapan juga
termasuk dalam muatan kebahasaan tersebut. Muatan pembelajaran unsur-unsur
kebahasaan selalu dikaitkan dengan penerapannya. Hal ini dimaksudkan sebagai
landasan pengembangan keterampilan berbahasa.
Kelompok pemahaman dan kelompok penggunaan merujuk pada empat
aspek keterampilan berbahasa. Cunningswort (1987) menyatakan bahwa secara
konvensional dikenal ada empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menyimak dan membaca disebut

keterampilan reseptif, keterampilan menerima dan memahami wacana yang


disampaikan orang lain. Keterampilan berbicara dan menulis disebut keterampilan
produktif, keterampilan menggunakan bahasa atau menghasilkan wacana untuk orang
lain.
Pembelajaran empat aspek keterampilan berbahasa tersebut dapat berimbang
atau menekankan pada aspek tertentu dengan tujuan dan situasi pembelajaran. Yang
jelas bahwa pembelajaran empat aspek keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat
selalu berimbang bobotnya pada semua situasi. Tujuan pembelajaran berbahasa erat
kaitannya dengan kebutuhan kebahasaan siswa. Hal yang perlu diperhatikan adalah
adanya keseimbangan kemajuan pembelajaran empat aspek keterampilan berbahasa
tersebut dengan kemajuan pembelajaran kebahasaan (ejaan, kosakata, dan tata
bahasa) yang menjadi landasan pengembangan keempat aspek keterampilan
berbahasa tersebut.
KTSP pada dasarnya adalah proses belajar mengajar yang berlangsung dalam
rangka pengonstruksian dan penyusunan pengetahuan oleh peserta didik dengan
memberi makna dan merespons ilmu pengetahuan berlangsung dan dilakukan
dari/oleh peserta didik dalam suasana fun, demokratis, dan terbuka (Hamzah, 2007).
Pembelajaran bahasa Inggris mencakup kemampuan linguistik (ejaan,
kosakata, dan tata bahasa) dan kemampuan komunikatif (menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis). Mempelajari sistem atau struktur bahasa merupakan hal
yang penting, namun kemampuan linguistik tidak hanya berhenti sampai di sana. Ia

10

harus dilanjutkan dengan latihan kemampuan, agar kelak siswa dapat menggunakan
bahasa dalam berbagai keperluan dan komunikasi (Jufri, 2002)
Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada dasarnya
dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sesuai dengan dinamika kehidupan di
Inggris sekarang ini. Pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan
masyarakat, seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala
sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP harus pula memberikan
perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang
memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana, juga partisipasi dan
kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif,
KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi
yang diharapkan.
2. Hakikat Berbicara
Berbicara

merupakan

suatu

keterampilan

berbahasa

produktif.

Perkembangannya dilakukan berkenaan dengan aktivitas setelah keterampilan reseptif


dalam menyimak dan memahami bacaan. Jadi, berbicara dan menulis selalu berada di
belakang kecakapan reseptif. Berbicara sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
tindakan yang menyatakan sesuatu kepada seseorang dalam bentuk ujaran (bahasa
lisan) (Tarigan, 1997). Hal tersebut berkaitan dengan perbedaan antara kompetensi
(competence) dan performansi (performance) yang dikemukakan oleh Chomsky
(dalam Stern, 1983). Selanjutnya, Widdowson (1985) menggambarkan usage sebagai

11

satu aspek performansi pengguna bahasa menunjukkan pengetahuannya mengenai


aturan linguistik. Use adalah performa lain tempat pengguna bahasa menunjukkan
kemampuannya untuk menggunakan pengetahuannya mengenai aturan linguistik bagi
komunikasi yang efektif. Berkenaan dengan usage, berbicara sebagai suatu
keterampilan produktif tertinggal di belakang kecakapan reseptif, bergantung pada
siswa dan kompleksitas bahan linguistiknya.
Tarigan (1990) menyatakan bahwa berbicara adalah suatu alat untuk
mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan pendengar dan penyimak. Tujuan utama berbicara adalah untuk
berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka pembicara
seharusnya memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan; dia harus
mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengarnya; dan dia harus
mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan.
Pengertian lain mengenai berbicara terdapat dalam Depdiknas (2003). Di sana
dinyatakan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan
gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain secara lisan, ketepatan
penggunaan gagasan, pendapat, dan perasaan sebaiknya didukung oleh penggunaan
bahasa secara tepat, dalam arti sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Untuk memperdalam mengenai kemampuan berbicara, diuraikan konsep dasar
berbicara menurut Tarigan, dkk. (1997), yaitu: (1) berbicara dan menyimak adalah
dua kegiatan resiprokal, (2) berbicara adalah dua proses individu berkomunikasi, (3)
berbicara adalah ekspresi yang kreatif, (4) berbicara adalah tingkah laku, (5)

12

berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari, (6) berbicara distimulasi oleh
pengalaman, (7) berbicara alat untuk memperluas cakrawala, (8) kemampuan
linguistik dan lingkungan, dan (9) berbicara adalah pancaran kepribadian.
Sejalan dengan hal tersebut, Said (1984) mengemukakan bahwa pemakaian
bahasa Inggris yang baik dan benar didasarkan pandangan prinsip pemakaian bahasa
ke dalam pengajaran bahasa. Pendekatan ini menyatakan bahwa bahasa sebagai suatu
sistem formal dan sekaligus bahasa sebagai fenomena sosial. Dengan pernyataan ini,
maka pembelajaran bahasa tidak sekedar belajar kaidah gramatikal, menguasai
kosakata, tetapi lebih dari itu dia harus berusaha memeroleh kemampuan bahasa yang
dipelajarinya sebagai sarana komunikasi dalam pemakaian bahasa yang sesuai dengan
situasi dan konteks komunikasi.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam proses belajar-mengajar,
seorang guru harus mampu memahami dan memerhatikan kesembilan konsep dasar
berbicara tersebut. Sebagai pihak yang berkompeten, efektif, dan berperan, gurulah
yang paling mengetahui, memahami, dan menghayati betapa pentingnya keterampilan
berbicara bagi seorang siswa.
Selanjutnya, manusia sebagai makhluk individu, manusia sekaligus juga
berperan sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia mau tidak mau harus
bergaul dan berhubungan dengan manusia lain. Sebagai makhluk sosial manusia
seringkali memerlukan orang lain memahami apa yang sedang ia pikirkan, apa yang
ia inginkan, dan apa yang ia rasakan. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
kehendak bila tidak terpenuhi ia akan mengalami ketidakseimbangan jiwa. Kegiatan

13

mengungkapkan isi hati kepada orang lain, kita kenal dengan sebutan komunikasi
baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi secara lisan merupakan aktivitas
berbicara dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa.
3. Aspek-aspek yang Menunjang Keterampilan Berbicara
Untuk menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara harus memberikan
kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan dan memerlihatkan
keberaniannya. Selain itu, pembicara juga harus berbicara dengan jelas dan tepat.
Agar kegiatan berbicara menjadi efektif, seorang pembicara harus memerhatikan
aspek-aspek berbicara yaitu aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan
a. Aspek kebahasaan
Aspek kebahasaan yang menunjang keterampilan berbicara dapat diuraikan
berikut ini.
1) Lafal
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa
secara tepat. pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan
perhatian pendengar. Pola ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama.
Setiap pembicara mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubahubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Tetapi, kalau
perbedaan atau perubahan itu tidak terlalu mencolok, sehingga menjadi suatu
penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu. Misalnya, pembicara
menambahkan bunyi-bunyi tertentu di belakang suku kata atau di belakang kata,
seperti kata hujan diucapkan hujang, kata minum diucapkan minung.

14

Tambahan bunyi seperti itu dapat mengalihkan perhatian pendengar, sehingga


mengurangi keefektifan berbicara. Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap
suku kata. Tidak jarang kita mendengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak
jelas suku katanya.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat akan menimbulkan
kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga terlalu menarik
perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakaiannya dianggap aneh.
2) Diksi (Pilihan Kata)
Pada waktu kita berbicara dengan orang lain, berpidato, mengajar, menulis
surat, atau menulis karangan ilmiah, pilihan kata yang tepat sangat diperlukan. Jika
hal itu tidak kita lakukan, orang lain akan menganggap kita tidak sopan, karangan
atau pembicaraan kurang berbobot, ataupun kurang bernilai.
Berbicara dapat dianggap kurang bermutu jika pilihan katanya kurang cermat
walaupun organisasi penyajiannya baik, cermat, susunan kata dalam kalimat teratur,
dan gaya bahasanya baik. Depdiknas (2003:75) menyatakan, Kekurangtepatan
dalam pemilihan kata dapat berakibat pada penilaian oleh pendengar atau pembaca
bahwa pembicara atau penulis kurang mampu menggunakan kosakata bahasanya.
Kekurangmampuan itu kemungkinan besar disebabkan oleh kurang luasnya
penguasaan kosakata dan makna kata penutur atau penulis. Semakin sedikit
penguasaan kosakata seseorang akan semakin sempit ruang lingkup pilihan katanya.
Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana seseorang mampu menggunakan
kata-kata secara cermat dan tepat sesuai dengan tujuan dan keperluannya.

15

Pilihan kata adalah mutu dan kelengkapan kata yang dikuasai seseorang
sehingga ia mampu menggunakan secara tepat dan cermat berbagai perbedaan dan
persamaan makna kata sesuai dengan tujuan dan gagasan yang akan disampaikan,
serta kemampuan untuk memeroleh bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa
yang dimiliki pembaca dan pendengar.
Kridalaksana (2001) menyatakan bahwa diksi adalah pilihan kata dan
kejelasan lafal untuk memeroleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau
karang-mengarang. Lebih lanjut, Keraf (2004) menyatakan bahwa diksi adalah: (1)
kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, cara membentuk
pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang
tepat, dan gaya yang paling baik digunakan dalam suatu situasi, (2) kemampuan
membedakan secara tepat nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan
kemampuan untuk menemukan bentuk yang serasi (cocok) dengan situasi dan nilai
rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar, dan (3) pilihan kata yang tepat
dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau
perbendaharaan kata bahasa itu.
Pendengar lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicara
dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya. Selain itu, pilihan kata juga harus
disesuaikan dengan pokok pembicaraan.
Terkait dengan uraian tersebut, Sugono (dalam Bagus, 2007) menegaskan
bahwa seorang pembicara atau penulis akan memilih kata yang terbaik untuk
mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya. Dengan demikian, kalimat yang

16

dibentuknya menjadi efektif. Pilihan kata yang terbaik adalah kata-kata yang
memenuhi syarat: (1) tepat (mengungkapkan gagasan secara cermat), (2) benar
(sesuai dengan kaidah kebahasaan), dan (3) lazim pemakaiannya. Oleh karena itu,
dalam berbicara pilihan kata harus jelas maksudnya dan mudah dimengerti oleh
pendengar, serta disesuaikan dengan pokok pembicaraan.
3) Keefektifan Kalimat
Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar
menangkap isi pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat efektif sangat besar
pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Arsyad dan Mukti (1988)
mengemukakan bahwa kalimat yang efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, perpautan,
pemusatan perhatian, dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata
betul-betul merupakan bagian yang padu dari sebuah kalimat. Perpautan, bertalian
dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dan kata, frase
dan frase dalam sebuah kalimat. Hubungan itu harus jelas dan logis. Pemusatan
perhatian pada bagian yang

terpenting dalam kalimat dapat dicapai dengan

menempatkan bagian tersebut pada awal atau pada akhir kalimat, sehingga bagian ini
mendapat tekanan waktu berbicara. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam
pemakaian kata, sehingga tidak ada kata-kata yang mubazir artinya tidak berfungsi
sehingga harus dibuang.
Sebuah kalimat yang efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan
gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Syarat
kalimat efektif: (1) kejelasan gagasan kalimat, (2) kepaduan unsur kalimat, (3)
kecermatan pembentukannya, dan (4) kevariasian penyusunannya (Endah, 2001).

17

Syarat kejelasan gagasan kalimat berkaitan dengan kegramatikalan kalimat.


Syarat kepaduan unsur kalimat menyangkut penataan unsur kalimat. Syarat
kecermatan berhubungan dengan pilihan kata, pembentukan kata atau frase, dan
penalaran yang logis. Syarat kevariasian berurusan dengan upaya menghasilkan daya
informasi yang baik dan tidak membosankan. Ketiga syarat pertama menyangkut
pembentukan kalimat secara mandiri, sedangkan syarat yang keempat telah
menyangkut pembentukan kalimat dalam hubungannya dengan kalimat lain.
Kalimat dikatakan efektif jika mampu membuat proses penyampaian dan
penerimaan berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud
yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran pendengar persis seperti sesuatu
yang dimaksud oleh pembicara. Di samping itu, seorang pembicara harus mengetahui
pendengarnya dan menyesuaikan gaya kalimatnya dengan pendengarnya, dengan
memperhatikan ciri kalimat efektif yaitu: (1) kesatuan (unity), (2) kehematan
(economy), (3) penekanan (emphasis), dan (4) kevariasian (variety).

b. Aspek Nonkebahasaan
Selain aspek kebahasaan, keterampilan berbicara juga didukung oleh aspek
nonkebahasaan. Bahkan dalam pembicaraan formal, aspek non- kebahasaan sangat
memengaruhi keterampilan berbicara. Dalam proses belajar mengajar berbicara,
aspek nonkebahasaan juga perlu diperhatikan. Aspek nonkebahasaan yang dimaksud
adalah fluensi (kefasihan/kelancaran, keterbukaan, relevansi, keberanian, dan
ketenangan) dalam berbicara.

18

Demikian halnya, Arsyad dan Mukti (1988) mengungkapkan bahwa


pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi
pembicaraannya. Seringkali ada pembicara yang berbicara terputus-putus, bahkan
antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat
mengganggu pendengar, misalnya bunyi ee, oo, dan sebagainya. Sebaliknya,
pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap
pokok pembicaraan.
Aspek keterampilan berbicara yang menjadi fokus dalam penelitian ini ada
dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan
menyangkut lafal, pilihan kata, kalimat efektif. Sedangkan, aspek nonkebahasaan
adalah kefasihan/kelancaran, keterbukaan, relevansi,keberanian, dan ketenangan.
Dalam pembelajaran keterampilan berbicara, kedua aspek inilah yang harus mendapat
perhatian oleh guru, agar siswa dapat memiliki keterampilan berbicara yang memadai
sesuai dengan tuntutan standar kompetensi dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Berbicara dalam situasi formal seperti diskusi debat, tidaklah semudah yang
dibayangkan orang. Walaupun secara alamiah setiap orang mampu berbicara, namun
bebicara secara formal atau dalam situasi resmi sering menimbulkan kegugupan
sehingga gagasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur dan akhirnya bahasanya
pun tidak teratur. Bahkan lebih parah lagi, ada yang tidak berani berbicara sama
sekali. Berbicara dalam situasi formal seperti diskusi debat memerlukan persiapan
dan menuntut keterampilan serta bimbingan dan latihan yang intensif.

19

4. Penilaian Keterampilan Berbicara


Nurgiyantoro (2001) menyatakan bahwa berbicara adalah aktivitas berbahasa
kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa. Untuk dapat berbicara
dalam suatu bahasa secara baik, pembicara harus menguasai lafal, pilihan kata,
struktur kalimat yang bersangkutan. Hal senada diungkapkan oleh Madsen (1983)
bahwa tes berbicara dianggap sebagai tes yang paling menantang untuk
mempersiapkan, mengatur, dan memberi skor. Dengan alasan ini, banyak orang yang
tidak mau berusaha mengukur keterampilan berbicara.
Salah satu alasan sehingga tes berbicara dianggap menantang menurut
Madsen (1983) adalah karena hakikat keterampilan berbicara itu sendiri biasanya
tidak

didefinisikan

dengan

baik.

Selanjutnya,

dapat

dipahami

adanya

ketidaksepakatan tentang kriteria yang hendak dipilh dalam mengevaluasi


komunikasi lisan. Pelafalan, pilihan kata, keefektifan kalimat seringkali disebut
sebagai

ramuan

dalam

berbicara.

Namun,

masalah

kefasihan/kelancaraan,

keterbukaan, relevansi, keberanian, ketenangan biasanya dianggap penting juga.


Faktor lain yang hendak didefinisikan dalam komunikasi lisan meliputi komprehensi
pendengaran, nada yang benar (misalnya, sedih, takut, dan sebagainya). Kemampuan
bernalar, serta kreativitas berpikir untuk melontarkan pertanyaan yang kreatif dan
menantang, sehingga siswa lebih bergairah dan tidak cepat bosan.
Nurgiyantoro (2001) menyatakan bahwa hal yang mempengaruhi keadaan
pembicaraan adalah masalah apa yang menjadi topik pembicaraan dan lawan bicara.

20

Kedua hal tersebut merupakan hal yang esensial sehingga harus diperhitungkan
dalam tes kemampuan berbicara siswa dalam suatu bahasa.
Selanjutnya, Depdiknas (2003) menyatakan bahwa kegiatan pengujian
keterampilan berbicara sebaiknya mempertimbangkan komponen gagasan, pendapat,
dan perasaan yang diungkapkan dan komponen kebahasaan yang digunakan. Rohim
(2005) juga mengemukakan bahwa untuk mengukur kemampuan berbicara, cara yang
paling valid adalah dengan menyuruh siswa berbicara. Oleh karena itu, untuk
mengukur kemampuan berbicara, perlu diusahakan agar siswa benar-benar
melakukan kegiatan lisan. Dengan berbicara, guru dapat mengetahui tingkat
kemampuan siswa dalam menerapkan semua unsur keterampilan berbicara (seperti,
kemampuan mengutarakan makna yang dimaksud dengan menggunakan kosakata,
lafal, dan keefektifan kalimat secara benar dan lancar).
Pelaksanaan

penilaian

berbicara

juga

sebaiknya

dilakukan

dengan

mempertimbangkan keadaan siswa, baik dari segi keterampilan berbahasa maupun


berpikirnya. Jika keterampilan berbahasa siswa masih sederhana, tugas berbicara
yang diberikan masih bersifat membimbing misalnya berbagai dialog sederhana.
Berbicara dapat dilaksanakan dengan rangsang gambar, tunjuk dan ceritakan,
dongeng, buku-buku bacaan sederhana, dan boneka dari tongkat atau kaos kaki, dan
sebagainya. Sebaliknya, jika keterampilan berbahasa siswa sudah lebih tinggi, tugas
berbicara yang diberikan dapat lebih bebas, seperti tugas diskusi, debat, berpidato,
bermain peran, wawancara, berbicara dengan rangsang buku yang lebih kompleks,
dan sebagainya.

21

Penilaian berbicara dapat dikembangkan dengan penilaian kinerja. Penilaian


dalam diskusi debat dapat ditekankan pada hal-hal berikut: aspek kebahasaan dan
aspek nonkebahasaan yakni ketepatan pelafalan, ketepatan pilihann kata, keefektifan
kalimat, serta kefasihan/kelancaran, keterbukaan, relevansi, keberanian, dan
ketenangan dalam berbicara.
B. Strategi Diskusi Debat
1. Hakikat Diskusi Debat
Diskusi

debat

termasuk

aktivitas

komunikasi

yang

paling

mudah

diselenggarakan. Diskusi debat tidak dibatasi oleh topik-topik tertentu. Semua topik
yang bermanfaat untuk dipikirkan dan dijadikan dasar bagi perbincangan dan dapat
dijadikan bahan aktivitas komunikasi. Diskusi debat dapat diselenggarakan pada
tahap mana pun dan bisa berlangsung terus sampai kita merasa cukup. Hampir setiap
hari muncul berbagai peristiwa di surat-surat kabar, radio, televisi, yang bisa diambil
untuk menjadi bahan diskusi debat. Kejadian-kejadian yang masih hangat ke dalam
pembelajaran, kita dapat menciptakan suasana mental pembelajar yang kita
kehendaki. Dengan suasana mental seperti itu, kita berharap siswa akan lupa bahwa
mereka tengah berbicara dalam bahasa sasaran. Fokus mereka sudah tidak lagi pada
bentuk bahasa, tetapi sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus
pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan

22

utama dalam belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah pendekatan yang lebih
memberdayakan siswa. Sebuah pendekatan yang tidak mengharuskan siswa
menghapal fakta-fakta, tetapi pendekatan yang mendorong siswa mengonstruksikan
pengetahuan dibenak mereka sendiri.
Menurut Nurhadi (2004) pembelajaran CTL (Contextual Teaching and
Learning) adalah konsep mengajar dan belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa
mengaitkan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari di lingkungan keluarga, dan masyarakat.
Pembelajaran yang dilaksanakan dengan strategi CTL memiliki karakteristik:
a. Pembelajaran dilaksanakan

dalam konteks

yang otentik,

artinya

pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam


memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan
dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (Learning in real life
setting);
b. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan
tugas-tugas yang bermakna (Meaningful learning).
c. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna
kepada siswa (Learning by doing);
d. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling
mengoreksi (Learning in group);

23

e. kebersamaan, kerja sama dan saling memahami satu dengan yang lain
secara

mendalam

merupakan

aspek

penting

untuk

menciptakan

pembelajaran yang menyenagkan (Learning to know each other deeply);


f. Pembelajaran

dilaksanakan

secara

aktif,

kreatif,

produktif,

dan

mementingkan kerja sama (Learning to ask, to inquiry, to work together);


g. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (Learning as
an enjoy).
Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu dari yang lain. Karena
sifatnya individual, maka manusia yang satu membutuhkan manusia yang lainnya.
Sehingga, sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial.
Manusia yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling
membutuhkan, maka harus ada interaksi yang saling asih (saling menyayangi).
Pembelajaran diskusi debat merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja
menciptakan interaksi yang saling mengasihi antarsesama siswa.
Perbedaan antarmanusia yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan
kesalahpahaman antarsesamanya. Agar manusia terhindar dari kesalahpahaman, maka
diperlukan interaksi yang saling tenggang rasa. Pembelajaran diskusi debat adalah
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan saling tenggang rasa
guna menghindari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan.
Menurut Nurgiyantoro (2001) diskusi debat adalah suatu aktivitas untuk
mengungkapkan gagasan-gagasan, dan menanggapi gagasan lawan bicara secara
kritis, dan memertahankan gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat

24

dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, Dillon (dalam Endah, 2001) menyatakan


diskusi debat adalah sebuah cara yang efektif untuk membantu siswa belajar
mengekspresikan diri dalam sebuah kelompok kecil atau dalam setting kelas secara
keseluruhan.
Diskusi debat lebih berguna jika dibandingkan

percakapan, dan guru

menjalankan peranan penting dengan cara mengajukan pertanyaan tentang level


memori yang sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya, dan itu bertujuan hanya
mengukur pemahaman siswa, serta menjadi moderator diskusi debat. Sehingga, guru
bisa membandingkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka buat untuk diskusi debat di
kelas dengan menilai level operasi mental yang mereka harapkan dari siswa.
Hal senada diungkapkan pula Azies dan Alwasilah (2000) bahwa ada bentuk
diskusi debat yang dapat diterapkan di kelas menengah. Kedua bentuk diskusi debat
tersebut diuraikan berikut ini.
a. Diskusi Debat tentang Literatur
Diskusi tentang literatur, guru membacakan cerita secara nyaring pada siswa
atau menyuruh siswa untuk membaca dalam hati. Ada banyak buku yang dapat
merangsang diskusi debat dan aktivitas pembicaraan untuk anak-anak, sebagai
contoh, buku Harry Potter yang dapat mendorong siswa berpikir dan berbicara
tentang kemungkinan yang tidak masuk akal atau masuk akal. Siswa sekolah
menengah ditantang untuk menciptakan cerita berdasarkan buku Harry Potter
tersebut.
Untuk menciptakan pembicaraan yang baik guru harus berpartisipasi dalam
diskusi debat untuk belajar dan bukan untuk menilai. Dalam diskusi debat tidak ada

25

jawaban yang benar atau salah dalam mengajukan pertanyaan baik yang dilakukan
oleh guru maupun siswa, tetapi dalam diskusi debat siswa menggunakan pengalaman
secara kritis dan kreatif. Siswa mengajukan pertanyaan yang dapat mendukung
komentar mereka, sehingga menciptakan sebuah komunitas pebelajar. Mereka dapat
mengungkapkan respons terhadap literatur yang mereka baca. Ketika siswa
mengembangkan pertanyaan-pertanyaan dari literatur tersebut, mereka mampu
menemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan ya
atau tidak dan pertanyaan tersebut mengharuskan siswa lainnya untuk memberikan
opini pribadi.
Berbicara tentang pemahaman mereka terhadap cerita tersebut, mereka dapat
mengubah opini mereka setelah mendengarkan pandangan alternatif dari siswa
lainnya. Mereka dapat menggunakan cara yang kondusif sehingga memacu siswa
yang lain untuk ambil bagian di dalam diskusi debat itu.
b. Diskusi Debat Bidang
Diskusi bidang adalah diskusi debat yang berkembang di luar dari subjek
yang dibicarakan. Isu-isu seprti polusi, senjata nuklir, dan perbedaan warna kulit
adalah isu yang menarik, dan menantang untuk diskusi debat. Siswa dapat
mengumpulkan informasi untuk diskusi debat dengan cara membaca buku teks, buku
informasi, dan koran, serta televisi dan film. Inti diskusi ini adalah menawarkan
informasi, serta mempertimbangkan sudut pandang orang lain, mencari informasi
tambahan

untuk

mendukung

opini

mereka,

dan

menghargai

memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

perbedaan,

26

Ada beberapa konsep atau definisi tentang diskusi debat. Azies dan Alwasilah
(2000) mengemukakan bahwa diskusi debat adalah pembahasan dan pertukaran
pendapat mengenai sesuatu hal dengan saling memberi alasan untuk memertahankan
pendapat masing-masing. Menurut Azies dan Alwasilah (2000) diskusi debat akan
sangat berguna ketika seluruh kelas merasa sangat tertarik akan sebuah isu dan
sebagian besar atau semua siswa bersikap mendukung atau menentang isu,
mengklarifikasi isu tersebut.
Sebuah diskusi debat yang sifatnya lebih formal adalah tepat bagi siswa kelas
menengah. Diskusi debat tersebut adalah berbentuk sebuah argumen antara sisi
penentang dan pendukung. Sebuah subjek diskusi debat yang bisa didiskusidebatkan
adalah dari sudut pandang yang berlawanan, sehingga tiap kelompok membuat
pertanyaan balikan untuk tim lawan. Guru dapat menciptakan berbagai variasi agar
sesuai dengan kelas dan tujuan yang akan mereka capai.
2. Keunggulan Strategi Diskusi Debat
Strategi diskusi debat yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik dan
benar, sangat efektif digunakan untuk melatih kemampuan berbicara siswa,
khususnya untuk melatih kemampuan bertanya dan mengemukakan pendapat (Endah,
2001).
Strategi diskusi debat sangat cocok digunakan untuk melatih kemampuan
wicara dalam sebuah kelas yang jumlah siswanya cukup banyak. Selain itu, diskusi
debat juga dapat menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan oleh suasana yang terus
menerus sama dalam mata pelajaran lain, sehingga dapat menumbuhkan motivasi dan

27

gairah siswa dalam belajar. Diskusi debat dapat juga digunakan untuk memancing
kreativitas berpikir dan bernalar siswa. Siswa yang berperan sebagai pemakalah
dalam diskusi debat, melaksanakan aktivitas yang berbeda, menghadapi persoalan,
pertanyaan yang selalu menantang dan berbeda, yang menuntut mereka untuk
berpikir keras dan kreatif menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan oleh peserta diskusi debat. Demikian juga para peserta diskusi debat akan
selalu berusaha dan berpikir keras untuk melontarkan pertanyaan yang kreatif dan
menantang. Aktivitas yang berbeda dan menantang ini mengakibatkan siswa lebih
bergairah dan tidak cepat bosan. Melalui diskusi debat siswa dapat menganalisis dan
mengaplikasikan materi yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Inggris maupun
mata pelajaran yang lain.
Dalam diskusi debat, siswa berperan sebagai pro dan kontra. Masing-masing
pihak harus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pendapatnya masingmasing dengan bukti-bukti dan penalaran yang kuat. Dalam debat, pihak pro dan
kontra akan menyampaikan pendapat dan sisi yang berbeda, menyampaikan analisis
dari dua sudut pandang yang berbeda. Diskusi debat inilah yang akan membangkitkan
daya tarik, perhatian, dan kegairahan siswa dalam belajar
Keunggulan-keunggulan strategi diskusi debat ini hanya akan diperoleh jika
strategi ini benar-benar dirancang dan dilaksanakan dengan baik. Perancangan
strategi diskusi ini mencakup: (1) pemilihan topik yang benar-benar relevan dengan
kebutuhan dan minat siswa, yang menarik perhatian siswa, yang memberikan
wawasan dan pengetahuan baru, menantang kreativitas berpikir, (2) pemilihan

28

prosedur atau tata laksana diskusi debat yang benar-benar efektif, efisien, dan kreatif,
(3) tata letak tempat duduk yang dapat menimbulkan suasana aman, nyaman,
sehingga siswa tidak merasa terhalangi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat,
dan (4) panduan-panduan diskusi yang dapat menciptakan atmosfir psikologis yang
mendukung agar siswa tidak takut bertanya atau mengeluarkan pendapat.
Strategi diskusi debat yang dilaksanakan dalam pembelajaran keterampilan
berbicara, ternyata siswa mampu mengembangkan kemampuan bertanya dan
mengemukakan pendapat, serta dapat berpikir dan bernalar. Strategi diskusi debat
telah berhasil meningkatkan gairah dan kesungguhan siswa, mengurangi kejenuhan,
dan kebosanan. Hal ini, tampak dari keterlibatan seluruh siswa dalam kegiatan diskusi
debat pada pembelajaran keterampilan berbicara.
C. Kerangka Pikir
Pembelajaran bahasa Inggris pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
ditekankan pada dua hal, yaitu: (1) hal pemahaman meliputi keterampilan menyimak
dan membaca yang disebut keterampilan reseptif, dan (2) hal penggunaan meliputi
keterampilan berbicara dan menulis yang disebut keterampilan produktif.
Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang produktif. Hal ini
berarti bahwa dalam berbicara seseorang memproduksi bunyi-bunyi bahasa dan
bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan tersebut harus bermakna. Untuk menghasilkan
bunyi bahasa yang bermakna, maka ada dua hal penting yang harus diperhatikan,
yaitu memahami isi pembicaraan yang diungkapkan melalui aspek kebahasaan, yakni

29

ketepatan lafal, pilihan kata, dan keefektifan kalimat dan aspek nonkebahasaan, yakni
memiliki kefasihan/kelancaran, keterbukaan, relevansi, keberanian, dan ketenangan
dalam berbicara.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka siswa dituntut menguasai aspek
kebahasaan dan aspek nonkebahasaan agar memiliki keterampilan berbicara yang
memadai. Untuk memiliki keterampilan berbicara yang memadai, diperlukan latihan
yang sistematis dan terarah. Dalam proses belajar mengajar, salah satu strategi yang
dapat digunakan untuk melatih dan membina kemampuan siswa agar memiliki
keterampilan berbicara yang memadai adalah melalui strategi diskusi debat.
Penggunaan strategi diskusi debat berarti siswa dilatih untuk berani
mengemukakan gagasan, pendapat, kritikan, dan perasaannya dengan menggunakan
kaidah-kaidah bahasa baku. Selain itu, siswa juga dilatih untuk mau menerima dan
menghargai pendapat orang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi secara
demokratis dan bertanggung jawab.
Pembelajaran diskusi debat dilaksanakan dengan mengikuti beberapa langkah,
yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa, menyajikan
informasi, mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok diskusi/debat,
mengetes kemampuan siswa dalam berargumen secara logis, dan memberikan
penghargaan kepada siswa yang kemampuan berbicaranya memenuhi standar.
Kerangka pikir yang digunakan di atas, dirangkum dalam bentuk bagan berikut.

30
Pembelajaran bahasa Inggris

Kurikulum KTSP

Penggunaan (Produktif)

Berbicara

perencanaan

Pemahaman (Reseptif)

Menulis

Menyimak

pelaksanaan

Membaca

penilaian

Aspek kebahasaan
Aspek nonkebahasaan
-(ketepatan lafal, pilihan (kefasihan/kelancaran,keterbukaan,relevansi
kata, keefektifan kalimat)
keberanian, dan ketenangan)

Strategi diskusi debat

Menyampaikan tujuan dan memotivasi


Mengorgani-sasikan
Menyajikan
siswa
informasi
Mengetes
siswakemampuan
dalam kelompok
siswa diskusi
dalam
Membe-rikan
berargumen
debat
penghar-gaan
secara logis

Analisis

Temuan

Gambar 1. Kerangka pikir

31

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Pemilihan jenis penelitian
ini didasarkan pendapat Pargito (2003) yang menyatakan bahwa penelitian
pengembangan merupakan suatu penelitian yang berorientasi pada pengembangan
atau penyempurnaan suatu ilmu dalam mengatasi suatu permasalahan secara langsung
melalui suatu tindakan dan refleksi diri yang didasarkan hasil kajian, yang bertujuan
memperbaiki atau meningkatkan layanan kependidikan yang harus diselenggarakan
dalam konteks pembelajaran di kelas.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Fokus
penelitian tindakan ini dilaksanakan di kelas. Desain penelitian tindakan kelas dipilih
karena masalah yang akan dipecahkan berasal dari praktik pembelajaran di kelas
sebagai upaya memperbaiki pembelajaran dengan menggunakan strategi diskusi
debat dalam pembelajaran berbicara. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Rofiuddin (2002) bahwa penelitian tindakan kelas memiliki ciri-ciri, yaitu bersifat
kolaboratif, berfokus pada problem praktis, penekanan pada pengembangan
profesional, memerlukan adanya struktur proyek yang memungkinkan partisipan
untuk dapat berkomunikasi.

32

32

Penelitian tindakan kelas ini juga dipilih karena juga sesuai dengan
karekteristik penelitian yang dilakukan yaitu: (1) masalah penelitian berasal dari
persoalan yang terjadi dalam praktik pembelajaran di kelas, yaitu pembelajaran
keterampilan berbicara yang kurang maksimal, (2) adanya tindakan guna
memperbaiki permasalahan pembelajaran, yaitu penggunaan strategi diskusi debat
yang diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran keterampilan berbicara, (3)
adanya kolaborasi antara peneliti dengan guru dalam kegiatan perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi, dan (4) adanya kegiatan melakukan evaluasi dan refleksi
yang dilakukan peneliti dan guru untuk setiap siklus tindakan dalam penelitian.
Kolaborasi dalam proses pelaksanaan penelitian dilakukan melalui kerja sama antara
peneliti dan guru. Dalam hal ini, peneliti terlibat langsung dalam merencanakan
tindakan, melakukan tindakan, observasi, dan refleksi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan yang dikemukakan oleh Rofiuddin (2002) bahwa kolaborasi merupakan
bentuk kerja sama yang memungkinkan lahirnya kesamaan pemahaman terhadap
suatu permasalahan yang bersifat demokratis, dan akhirnya melahirkan suatu
tindakan. Demikian juga halnya dalam kegiatan pengumpulan data, analisis, dan
refleksi. Peneliti dan guru diasumsikan memiliki tanggung jawab yang sama.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan berdasarkan model penelitian tindakan
kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1992) yang diawali dengan
perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refeksi. Desain penelitian ini dapat dilihat
pada Gambar 2.

33

Analisis dan Temuan


Studi
Pendahuluan
multiarah belum tampak, siswa kurang memperhatikan aspek kebahasaan dan nonkebahasaan dalam pembelajaran keter
melakukan
pengamatan
minasi diskusi debat adalah siswa
yang memiliki
keterampilan berbicara yang memadai baik aspek kebahasaan dan nonkeb
pelaksanaan pembelajaran
berbicara dan wawancara
dengan guru bahasa Inggris

Rencana Tindakan
Berkolaborasi dengan guru dalam melakukan kegiatan:
Menyusun rencana pembelajaran dalam satu siklus
Membuat pedoman pelaksanaan.
Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Persiapan
Penyampaian tujuan pembelajaran
Pemberian motivasi
Penyampaian informasi dan tugas-tugas
Pengorganisasian kelas
Tindakan
Pelaksanaan
tindakan
sesuai
rencana
pembelajaran yang telah disusun
Pengamatan
Penyelesaian
tugas-tugas
yang diberikan
Mengamati aktivitas proses pembelajaran berbicara.
Setiap anggota kelompok menyajikan hasil pekerjaannya secara lisan
Saling memperbaiki kesalahan yang dilakukan saat berbicara (diskusi debat)
Penyajian laporan kelompok
Evaluasi
Pemberian evaluasi pembelajaran berbicara(diskusi debat) sesuai dengan pedoman pelaksan
Refleksi
Pemberian penghargaan/penguatan
tuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat hasil tindakan dalam siklus .

Simpulan sementara

Belum berhasil
Rencana tindakan siklus ke-2 dan ke-n

Gambar 2. Alur penelitian tindakan kelas

34

C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini yaitu peneliti sebagai instrumen utama. Moleong
(2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif berlatar alamiah, dengan maksud agar
hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena dalam suatu konteks khusus.
Pada penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Instrumen penunjang
yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, tes berbicara, dan
alat perekam.
1. Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan untuk mengamati latar kelas dan suasana
berlangsungnya proses pembelajaran. Pengamatan dilakukan terhadap semua
aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran keterampilan
berbicara dengan menggunakan strategi diskusi debat.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk memperoleh informasi mengenai halhal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara dengan
strategi diskusi debat. Wawancara dilakukan terhadap siswa dan guru. Hasil
wawancara yang dilakukan menjadi bahan refleksi untuk melakukan perbaikan pada
tindakan siklus berikutnya.
3. Tes Berbicara
Tes berbicara digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
berbicara sebelum diberikan tindakan. Setelah diberikan tindakan, siswa kembali
dites pada akhir setiap siklus untuk mengetahui kemampuan berbicaranya. Jenis tes

35

yang diberikan berupa tes wawancara yang terstruktur dan tidak terstruktur yang
diadakan selama 5 sampai 10 menit per siswa. Pemilihan jenis tes ini didasarkan
pendapat bahwa tes wawancara terstruktur dan tidak terstruktur merupakan tes
berbicara tingkat lanjut yang diberikan kepada siswa yang dianggap telah menguasai
bahasa yang dipelajarinya.
4. Alat Perekam
Alat perekam digunakan untuk merekam aktivitas siswa terutama pada
kegiatan observasi berlangsung

untuk mengantisipasi agar tidak ada data yang

terlewatkan.
D. Data dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian adalah data verbal dan nonverbal. Data verbal
terdiri atas tuturan guru dan siswa, sedangkan data nonverbal terdiri atas tindakan
yang berupa respons tingkah laku guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran di
kelas.
Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas X SMK Negeri
2 Parepare Tahun Pelajaran 2010-2011. Guru dan siswa dipilih sebagai subjek
penelitian karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang dimaksud adalah: (1) aktivitas
diskusi

debat multiarah belum tampak, siswa kurang memperhatikan aspek

kebahasaan, dan aspek nonkebahasaan dalam pembelajaran keterampilan berbicara


(2) kecendrungan mendominasi diskusi debat adalah siswa yang memiliki
keterampilan berbicara yang memadai, baik aspek kebahasaan dan nonkebahasaan

36

sedangkan siswa yang memiliki keterampilan berbicara baik aspek kebahasaan dan
nonkebahasaan kurang memadai semakin tertinggal.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dilakukan melalui kegiatan observasi , wawancara, tes, dan
perekaman. Observasi dilakukan untuk mengamati latar kelas tempat berlangsungnya
tindakan pembelajaran keterampilan berbicara melalui strategi diskusi debat. Peneliti
mengamati proses pembelajaran keterampilan berbicara berdasarkan program
observasi. Aspek-aspek yang diamati berupa butir-butir sasaran observasi diberikan
tanda cek sesuai dengan kenyataan yang ada dan pencatatatn deskripsi proses
pembelajaran serta refleksi peneliti tentang pelaksanaan tindakan pembelajaran.
Wawancara dilakukan guna memperkuat data yang diperoleh melalui
pengamatan kegiatan-kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara dengan strategi
diskusi debat yang terjadi di kelas. Wawancara yang dilakukan berupa dialog antara
peneliti dengan guru maupun dengan siswa. Bentuk-bentuk pertanyaan wawancara
yang diajukan

berkaitan dengan pengetahuan, pengalaman, atau perilaku, dan

pendapat guru dan siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui strategi
diskusi debat.
Tes berbicara dalam penelitian ini dilakukan sebelum dilaksanakan tindakan
kelas dan pada akhir setiap siklus. Tes pada awal penelitian bertujuan mengungkap
kemampuan awal siswa dalam berbicara sebelum dilaksanakan tindakan sehingga
dapat diketahui siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Tes dilakukan
setelah tindakan berlangsung guna mengungkap keberhasilan pelaksanaan tindakan

37

setiap siklus. Penilaian terhadap tes berbicara siswa dilakukan oleh tiga orang penilai
agar tidak terjadi penilaian yang bersifat subjektif. Penilai terdiri atas peneliti dan dua
orang guru bahasa Inggris pada sekolah yang diteliti. Sebelum diadakan tes
wawancara, peneliti terlebih dahulu berdiskusi dengan penilai yang lain mengenai
kriteria yang dijadikan pedoman penilaian dalam tes berbicara, meliputi ketepatan
pelafalan, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, dan kefasihan/ kelancaran,
keterbukaan, relevansi, keberanian, dan ketenangan berbicara.
Perekaman digunakan untuk mengantisipasi terlewatnya data yang dibutuhkan
saat berlangsungnya pengamatan. Perekaman ini dilakukan dengan merekam aktivitas
siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui strategi diskusi debat.
F. Teknik Analisis Data
Agar penganalisisan data mudah dilaksanakan, maka peneliti menyusun
rambu-rambu analisis proses dan hasil pembelajaran keterampilan berbicara melalui
strategi diskusi debat. Setelah dilakukan analisis data proses, selanjutnya dilakukan
analisis data tes setelah tindakan berlangsung pada akhir tiap siklus. Analisis data tes
ini bertujuan menentukan kualifikasi tingkat keberhasilan pelaksanan tindakan pada
tiap siklus.

38

39

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Maidar G. dan Mukti U.S. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa
Inggris. Jakarta: Erlangga.
Azies, Furqanul. dan Alwasilah Ch. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan
Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Badudu, J.S. 1995. Pelik-Pelik Bahasa Inggris. Bandung: Pustaka Prima.
Bagus, Ida Putrayasa. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Bandung:
Refika Aditama.
Beyer, B.K.1988. Developing a Thingking Skill Program. Boston: Allyn & Bacon.
Cunningsworth, Alan. 1987. Evaluating and Selecting EFL, Teaching Materials.
London: Heinemann Educational Books.
Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan
MTs. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Endah, Priyatni Tri. 2001. Pembelajaran Keterampilan Menyimak. Disajikan pada
Pelatihan TOT Terintegrasi oleh Direktorat LPMP Malang. Malang. 13
April 2003.
Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamzah. 2007. Perencanaan Pembelajaran. (Edisi Kedua) Jakarta: Bumi Aksara.
Harris, David P. 1974. Testing English as a Second Language. Bombay. New Delhi:
Tata McGraw-Hill Publishing Company LTD.
Jufri. 2002. Prinsip-Prinsip Strategi Pembelajaran Bahasa. Makassar: Universitas
Negeri Makassar.
Kemmis, Stephen dan Mc Taggart, Robin. 1992. The Action Research Planner.
Victoria: Deakin University.

40

Keraf, Gorys. 1995. Terampil Berbahasa Inggris II. Petunjuk Guru Bahasa Inggris
SMP. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
____________. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. (Edisi Ketiga) Jakarta: Gramedia.
Madsen, Harold S. 1983. Techniques in Testing. New York: Oxford University Press.
Milles, B. Mathew. 1986. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods,
Beverly Hills: Sage Peblication.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Muslim,

Umar. 2007.Pembelajaran Bahasa Inggris dan


(http://johnherf.press.com). Diakses 13 Maret 2008.

KTSP.

Online.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Karakeristik, dan


Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Edisi
Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK.
Penerbit: Universitas Negeri Malang.
Parera, Jos Daniel. 1996. Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Inggris: Landas Pikir
dan Landas Teori. Jakarta: Garsindo
Pargito. 2003. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
Rofiuddin, A.H. 2002. Rancangan Penelitian Tindakan. Disajikan pada Lokakarya
Tingkat Lanjut Penelitian Kualitatif Angkatan V Tahun 1996/1997.
Tanggal 14 Oktober 13 Desember 1996 yang Diselenggarakan oleh
Lembaga Penelitian IKIP Malang. Malang: IKIP malang.
Rohim, Fatur. 2005. Teknik Evaluasi Pembelajaran Bahasa Inggris. Jakarta:
Departemen Agama.

41

Salam. 2003. Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Kooperatif bagi Penutur Asing.
Disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Inggris
bagi Penutur Asing (KIPBIPA) IV Denpasar, Bali 2 Oktober 2003.
Sanjaya, Wina. 2006. Srategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Sumardi. 2000. Panduan Penelitian, Pemilihan, Penggunaan, dan Penyusunan: Buku
Pelajaran Bahasa Inggris SD. Jakarta: Grasindo.
Stern, H. H. 1983. Fundamental Concept of Language Teaching. Oxford: Oxford
University Press.
Tarigan, Djago, dkk. 1997. Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta:
Departemen pendidikan dan Kebudayaan. Bagian Proyek Penataran
Guru SLTP Setara D III.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching Practice and Theory. Cambridge:
Cambridge University Press.
Widdowson, H. G. 1985. Teaching Language as Communication. Oxford: Oxford
University Press.

42

PROPOSAL PTK

PENGGUNAAN STRATEGI DISKUSI DEBAT DALAM MENINGKATKAN


KETERAMPILAN BERBICARA SISWA
SMK NEGERI 2 PAREPARE

OLEH :
Dra. NURAENI MAHMUD
NIP. 19641006 199901 2 002

DINAS PENDIIDKAN DAERAH


SMK NEGERI 2 PAREPARE
2012

43

LEMBAR KERJA PTK

1. Identifikasi permasalahan
a. Siswa ;
Hasil belajar siswa rendah, materi yang diberikan tidak dapat dipahami secara
maksimal, sikap dan minat terhadap mata pelajaran acuh-tak acuh dan mereka
kurang memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung
b. Pembelajaran :
Pembelajaran mengacu kepada kurikulum,. Pembelajaran berorientasi pada
target penguasaan materi terbukti berhasil mengingat jangka pendek, tetapi
gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi
pembelajaran diskusi debat (discussion debate
2. Dari jumlah permasalahan
Masalah yang dipilih adalah : Apakah penggunaan strategi diskusi
debat dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa
SMK Negeri 2 Parepare?
Analisis penyebab : Sedikit sekali siswa yang mampu berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Inggris, sehingga tidak mampu memecahkan
masalah yang ada

2. Eksplorasi alternative pemecahan


Alternatif 1, dan alasan:
Yaitu penggunaan model pendekatan pembelajaran
Alternatif 2,
Penggunaan metode / strategi pembelajaran

44

Alternatif 3
Penggunaan alat peraga
3. Pemilihan alternative ( Alternatif 2 dilingkari)
4. Penentuan problem dan alternative pemecahannya
Problem yang ingin dipecahkan

Alternatif pemecahannya

Ketidak mampuan siswa dalam

Dengan menggunakan strategi

keterampilan berbicara

diskusi debat

LEMBAR KERJA PLPG

1. Perumusan Judul Penelitian PTK


Penggunaan / Penerapan strategi diskusi debat
Untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMK
Pada siswa SMK Negeri 2 Parepare
Atau
Meningkatkan hasil belajar Keterampilan berbicara siswa
Melalui Penggunaan / Penerapan keterampilan berbicara siswa SMK
Pada siswa SMK Negeri 2 Parepare

45

5. Latar belakang Masalah


Data prestasi belajar / prilaku siswa
Dapat dilihat bahwa prestasi belajar siswa dalam hal keterampilan berbicara
di sekolah cukup rendah, salah satu penyebabnya adalah Faktor penyebab
kurang memadainya keterampilan berbicara siswa pada sekolah tersebut adalah:
(1) aktivitas diskusi debat multiarah belum tampak, siswa kurang memperhatikan
aspek dalam pembelajaran keterampilan berbicara, (2) kecendrungan
mendominasi diskusi debat adalah siswa yang memiliki keterampilan berbicara
yang memadai baik aspek kebahasaan dan nonkebahasaan demikian sebaliknya .

Deskripsi kelemahan dalam pembelajaran


Banyak ahli terampil menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, namun
sering mereka kurang terampil menyajikannya secara lisan. Kadang-kadang
pokok pembicaraan cukup menarik, hasilnya pun kurang memuaskan. Sebaliknya,
walupun topik kurang menarik, tetapi disajikan dengan cara dan gaya yang tepat,
akhirnya topik tersebut dapat menarik pendengarnya

Landasan konseptual
Alternatif yang dipilih dan alasan memilih alterntif pemecahan
Penerapan strategi pembelajaran diskusi debat juga didasarkan rambu-rambu
pendekatan pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(Depdiknas, 2006) yakni, siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai atau menghafalkan
pengetahuan tentang bahasa.

Bukti penelitian
Arsyad dan Mukti (1988) mengungkapkan bahwa pembicara yang lancar berbicara
akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya

46

Depdiknas (2003) menyatakan bahwa kegiatan pengujian keterampilan berbicara


sebaiknya mempertimbangkan komponen gagasan, pendapat, dan perasaan yang
diungkapkan dan komponen kebahasaan yang digunakan

LEMBAR KERJA PESERTA


1. Rumusan Masalah
Apakah penggunaan strategi diskusi debat dapat meningkatkan keterampilan
berbicara siswa SMK Negeri 2 Parepare?

2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan strategi diskusi debat
dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas X SMK Negeri 2
Parepare

3. Manfaat hasil Penelitian


Bagi siswa

Memberikan motivasi kepada siswa untuk dapat lebih giat dan


aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran dan dalam
menyelesaikan

Bagi guru

tugasnya

sehingga

akan

memungkinkan

peningkatan pada prestasi belajarnya


Sebagai pertimbangan untuk dapat menggunakan strategi
diskusi debat

Bagi sekolah

Memberikan bahan informasi untuk dapat membenahi dan


meningkatkan proses belajar mengajar pada siswa SMK

Negeri 2 Parepare
Bagi pengembangan Dapat menjadi referensi bagi peneliti-peneliti yang akan
Ilmu

melakukan penelitian mengenai penggunaan strategi diskusi


debat

47

LEMBAR KERJA PESERT PLPG


1. Kajian Pustaka
a. Pembelajaran keterampilan berbahasa Inggris
1. Pembelajaran bahasa Inggris dalam Kurikulum 2006
2. Hakikat Berbicara
3. Aspek-aspek yang Menunjang Keterampilan Berbicara
4. Penilaian Keterampilan Berbicara
b. Strategi Diskusi Debat
1. Hakikat Diskusi Debat
2. Keunggulan Strategi Diskusi Debat

2. Penelitian terdahulu
Rohim, Fatur. 2005. Teknik Evaluasi Pembelajaran Bahasa Inggris. Jakarta:
Departemen Agama
Rohim, Fatur. 2005. Teknik Evaluasi Pembelajaran Bahasa Inggris. Jakarta:
Departemen Agama
Tarigan, Djago, dkk. 1997. Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta:
Departemen pendidikan dan Kebudayaan. Bagian Proyek Penataran
Guru SLTP Setara D III

3. Hipotesis tindakan
Melalui penggunaan strategi diskusi debat , Prestasi belajar Bahasa
Inggris siswa SMK Negeri 2 Parepare dapat ditingkatkan

48

LEMBAR KERJA PESERT PLPG


1. Setting dan subjek Penelitian
a. Setting Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research) yang melibatkan refleksi yang berulang, yaitu:
perencanaan, tindakan, observasi, refleksi, dan perencanaan ulang
b. Subyek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMK Negeri 2 Parepare.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2010/2011
2. Faktor yang diselidiki
Faktor input

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran

Faktor Process

Melihat hubungan antara siswa dengan siswa lainnya pada


saat proses belajar mengajar berlangsung

Faktor Output

Melihat hasil yang diperoleh siswa setelah diberikan tes akhir


setiap siklus setelah pembelajaran dengan penggunaan strategi
diskusi debat.

49

3. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tahun ajaran
2010/2011 yang terbagi atas dua siklus. Siklus I dilaksanakan selama
tiga kali pertemuan dan Siklus II dilaksanakan selama empat kali
pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang
ingin dicapai, seperti yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki.
4. Siklus Tindakan
Tahapan
Kegiatan yang akan dilakukan
Persiapan 1) Menelaah kurikulum Sekolah Menengah mata pelajaran
Bahasa Inggris.
2) Membuat Rencana Pembelajaran (RPP).
3) Membuat instrumen yang akan diberikan pada tiap akhir
siklus.
4) Membuat alat bantu mengajar seperti Lembar Kerja Siswa (LKS)
yang diperlukan dalam rangka optimalisasi pembelajaran dengan
model pembelajaran penggunaan strategi diskusi debat
Persiapan 1) Peyajian materi pelajaran
2) Membagikan LKS kepada masing-masing kelompok.
3) Diskusi kelompok,
4) Evaluasi tentang hasil kerja kelompok,
5) Penghargaan kelompok,
Observasi
Selama proses pembelajaran, akan diadakan pengamatan tentang :
a. Kesungguhan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran
b. Kerjasama yang diperlihatkan siswa dalam kelompoknya,
2. Untuk mendapatkan informasi dari siswa tentang kegiatan
pembelajaran yang, telah dilakukan maka pada akhir Siklus II
siswa akan diminta tanggapannya.
3. Dari pelaksanaan tindakan akan dievaluasi dengan memberikan
tes di akhir tiap Siklus.
Analisis
Hasil yang diperoleh dari tahap observasi dan evaluasi kemudian
dan
dianalisis, untuk melihat data observasi apakah kegiatan yang telah
refleksi
dilakukan telah dapat menigkatkan prestasi belajar Bahasa Inggris
dengan menggunakan strategi diskusi debat.
5. Instrumen Penelitian
- Tes prestasi belajar

50

- Lembar Observasi siswa


6. Teknik Pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini
adalah:
- Data mengenai tingkat penguasaan materi yang diambil dari tes tiap
akhir siklus. Tes
- Data tentang proses belajar mengajar dalam hal kerajinan,
kesungguhan siswa mengikuti proses belajar mengajar, keterampilan
siswa dalam melakukan kerjasama dan rasa percaya diri yang
diperlihatkan siswa tiap pertemuan dengan menggunakan lembar
observasi .
- Data tentang tanggapan siswa terhadap pengajaran yang digunakan,
dikumpulkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menuliskan tanggapannya pada akhir pertemuan Siklus II.
7. Jadwal Kegiatan
Bulan Ke

Uraian
Kegiatan
Persiapan
Umum
Pelaksanaan
Siklus I
Pelaksanaan
Siklus II
Analisis Data
Penyusunan
laporan
Penggandaan
dan
Pengiriman

II

III

IV

X X
X X X
X X X
X X X
X X X X
X

51

RPP bawah RRP Sendiri dan itulah yang akan diisikan

LEMBAR KERJA GURU PENULISAN KARYA ILMIAH

52

1. Tentukan topik
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DALAM BAHASA
INGGRIS MELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO INTERAKTIF PADA
SISWA SMKN 2 PAREPARE

2. Sebutkan setidaknya empat unsur yang terdapat dalam latar belakang


a. Minat siswa
b. Prestasi belajar
c. Model pembelajaran guru
d. Lembar kegiatan siswa
3. Susunlah latar belakang
Media sebagai sarana yang efektif dalam menyampaikan pelajaran. Walaupun itu,
hanya sederhana tetapi sangat membantu komunikasi menjadi efektif. Media
visual yang sering digunakan dalam penyampaian materi pelajaran adalah audio
interaktif. Audio interaktif dapat memberi nilai yang sangat berarti, terutama
dalam membantu pengertian baru, dan untuk memperjelas pengertian tentang
sesuatu. Di samping itu, penggunaan media audio interaktif dapat menimbulkan
daya tarik bagi siswa, sehingga demikian siswa akan termotivasi untuk belajar dan
akhirnya akan memberikan hasil yang lebih baik.

4. Tujuan Penelitian/Penulisan
Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa berbicara dalam
bahasa Inggris melalui media audio interaktif terhadap SMK Negeri 2 Parepare

53

5. Manfaat Penulisan
1. Manfaat praktis
a. Bagi siswa, yakni meningkatkan hasil belajar siswa terhadap
pembelajaran Bahasa Inggris dengan melakukan penemuanpenemuan (discovery) untuk memperoleh informasi yang lebih luas
b. Bagi guru, yaitu memberi dorongan kepada guru bahasa Inggris di
SMKN 2 Parepare, dalam usaha mengintensifkan pengajaran bahasa
Inggris khususnya aspek bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan
menggunakan media audio interaktif.

2. Manfaat teoritis
a. Peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa
Inggrisdiharapkan dapat memberikan konstribusi kepada siswa
untuk lebih meningkatkan kemampuan intelektual secara meluas.
b. Bagi sekolah yaitu, menjadi acuan untuk menerapkan kebijakan
pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris melalui penggunaan media
audio interaktif

6. Metode Pengumpulan data


Data dikumpulkan dengan melalui tes hasil belajar siswa, lembar
observasi, wawancara siswa dan dokumentasi
7 Analisis Masalah dan Pembahasan
Teknik yang digunakan dalam menganalisis data yaitu
kualitatif dan kuantitatif adalah teknik persentase (%), dimana teknik
persentase ini memiliki bobot yang sangat sederhana serta gambaran secara
umum tentang objek yang diteliti