Anda di halaman 1dari 27

Nilai

Tanda tangan :

LAPORAN KASUS
APPENDISITIS AKUT

Nama : Samudra Andi Yusuf


NIM : 030.11.265
Pembimbing: dr. Agoes Tino, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA
UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
PERIODE 10 OKTOBER 2016 17 DESEMBER 2016

DAFTAR ISI

COVER.............................................................................................................................1
DAFTAR ISI.....................................................................................................................2
BAB I. LAPORAN KASUS.............................................................................................3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................13
BAB III. ANALISIS KASUS............................................................................................24
BAB IV. KESIMPULAN..................................................................................................28
BAB V. DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................29

FAKULTAS KEDOKTERAN USAKTI


(UNIVERSITAS TRISAKTI)
Jl. Kyai Tapa No.1, RT.6/RW.16, Grogol, Grogol petamburan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
11440

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN USAKTI
Hari/tanggal presentasi kasus :
RSAU dr. Esnawan Antariksa

Nama Mahasiswa

: Samudra Andi Yusuf

NIM

: 030.11.265

Dr. Pembimbing/penguji

: dr. Agoes Tino, Sp.B, FICS, FINACS

Tanda tangan

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. Steven Lelang Aya

Jenis kelamin : Laki-laki

Tanggal lahir/Umur

: 15 September 1997 / 20 tahun

Suku Bangsa : Irian

Status perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Katolik

Pekerjaan

: Pelajar/mahasiswa

Pendidikan

: Mahasiswa

Alamat

: Furia Indah Kotaraja

No RM

: 158305

Tanggal masuk RS

: 30 Oktober 2016, jam 19:30 WIB

B. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis dengan Bapak pasien pada tanggal 30 Oktober
2016 di bangsal Merak jam 20:00 WIB
Keluhan Utama
Nyeri perut di kanan bawah sejak 5 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
Keluhan Tambahan
Mual, muntah, demam, nafsu makan menurun
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli bedah RSAU dr. Esnawan Antariksa dengan keluhan nyeri perut
pada bagian kanan bawah sejak 5 hari SMRS. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk.
Munculnya nyeri dirasakan mendadak dan tidak menjalar ke tempat lain. Nyeri tersebut tidak
berkurang meskipun pasien sudah meminum obat anti nyeri. Nyeri dirasakan semakin lama
semakin tajam. Selain itu juga pasien merasa badannya meriang serta panas dingin. Nyeri
diperberat bila pasien tidur miring, menekuk kaki, berjalan, batuk dan bersin. Nyeri menjadi
lebih ringan pada saat pasien tidur tengkurap.
Awalnya pasien merasa mual dan muntah yang diikuti nyeri pada bagian perut yang
hilang timbul 5 hari lalu disertai demam yang tidak terlalu tinggi, sumeng-sumeng namun
pasien tidak mengukur berapa suhu tubuhnya. Muntah sebanyak tiga kali. Jumlah muntah
banyak dan berisi makanan dan minuman. Keluhan mual masih dirasakan oleh pasien namun
pasien sudah tidak muntah. Semenjak sakit pasien mengatakan nafsu makannya menurun.
Pasien tidak suka makan-makanan yang tinggi serat seperti sayur-sayuran. BAK pasien
keluar sedikit semenjak sakit. Namun, keluhan nyeri pada saat BAK disangkal. Keluhan
BAK berdarah juga disangkal. Keluhan mencret atau susah BAB dalam seminggu terakhir
disangkal. Pasien mengaku sulit BAB Karena cukup keras. Keluhan lainnya seperti perut
teraba tegang seperti papan disangkal. Keluhan teraba benjolan diperut kanan bawah juga
disangkal. Keluhan kembung disangkal.
Sebelumnya pasien datang berobat ke rumah sakit Royal Taruma 5 hari SMRS dan
diberikan obat anti nyeri dan anti muntah namun pasien tidak ingat nama obat yang
diberikan.
4

Pada saat diperiksa pasien mengatakan nyeri perutnya sudah berkurang dibandingkan
dengan hari-hari sebelumnya. Keluhan demam, mual dan muntah juga sudah tidak dialami
oleh pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami nyeri perut di kanan bawah sebelumnya.
Riwayat trauma disangkal. Riwayat operasi disangkal. Pasien pernah menderita demam tifoid
4 tahun yang lalu.
Riwayat Penyakit Keluarga
Orangtua pasien menyangkal di keluarga ada yang mengalami penyakit serupa.
Riwayat diabetes mellitus, penyakit jantung dan hipertensi juga disangkal oleh pasien.
C. STATUS GENERALIS
i.
Status Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 80x/menit
Pernafasan
: 18x/menit
Suhu
: 36,8oC
Tinggi Badan
: 172 cm
Berat Badan
: 60 kg
BMI
: 20,3 (gizi normal)
ii.

Pemeriksaan Fisik
Kepala
: normosefali
Rambut
: Rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata
: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor diameter
3 mm, reflex cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak
langsung +/+
Telinga: normotia, darah (-/-), pus (-/-)
Hidung
: deviasi septum (-), sekret -/Mulut
: sianosis (-), lidah tidak kotor, oral hygiene baik
Tenggorokan : T1/T1 tenang, faring tidak hiperemis.
Leher
:
- Tekanan Vena Jugularis (JVP) : tidak dilakukan
- Kelenjar tiroid
: tidak membesar
- Kelenjar getah bening
: tidak membesar
Thorax

Paru-paru depan belakang


Inspeksi
: simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis, tidak

Cor

ada bagian dada yang tertinggal, tidak tampak retraksi sela iga
Palpasi
: vocal fremitus kanan kiri teraba sama kuat, nyeri tekan
(-), benjolan (-)
Perkusi
: Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi
: suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis tak tampak


: ictus cordis teraba pada ICS V, linea midclavicularis

kiri
Perkusi
Batas kanan
Batas atas
Batas kiri

: ICS IV linea sternalis dextra


: ICS II linea sternalis sinistra
: ICS V 1/3 lateral dari

linea

midclavicularis sinistra
Batas bawah
: ICS VI linea midclavicularis sinistra
Auskultasi
: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

matang, pelebaran pembuluh darah (-)


Auskultasi : bising usus (+) normal 3x per menit
Palpasi
: supel, defens muskular (-), nyeri tekan (+) di kuadran

: Bentuk perut datar, tidak membuncit, warna kulit sawo

kanan bawah, nyeri tekan McBurney (+), Rovsings sign (+), nyeri
lepas Blumberg (+), massa (-), undulasi (-), Psoas sign (+),

Lengan

Obturator sign (-), nyeri ketok CVA dextra (-)


Perkusi : timpani pada seluruh lapang abdomen, ascites (-)
Kanan

Kiri

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Tidak teraba massa

Tidak teraba massa

Sendi

Normal, tidak ada nyeri

Normal, tidak ada nyeri

Gerakan

Aktif

Aktif

Otot

Kekuatan

Normal (5555)

Normal (5555)

Oedem

Tidak ada

Tidak ada

Tungkai & Kaki

Kanan

Kiri

Luka

Tidak ada

Tidak ada

Varises

Tidak ada

Tidak ada

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Tidak teraba massa

Tidak teraba massa

Sendi

Normal, tidak ada nyeri

Normal, tidak ada nyeri

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

Normal (5555)

Normal (5555)

Oedem

Tidak ada

Tidak ada

Refleks

Kanan

Kiri

Refleks tendon

+2

+2

Biseps

+2

+2

Triseps

+2

+2

Patella

+2

+2

Refleks kulit

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Refleks patologis

Negatif

Negatif

Otot

Genitalia Eksterna
Pemeriksaan rectal toucher

Inspeksi

kulit sekitar anus tidak tampak merah


Palpasi
: Tonus spinchter ani (+), nyeri perut kanan bawah di arah jam

: tidak tampak ada benjolan ataupun fissure pada anus, warna

9, mukosa rectum licin, tidak teraba adanya massa, batas tegas, simetris,
permukaan rata, batas atas dapat dicapai. Tidak tampak darah dan lendir, pada
sarung tangan sedikit cairan feses (+) tidak ada lendir dan darah.
D. STATUS LOKALIS
Abdomen

Inspeksi

matang, pelebaran pembuluh darah (-), benjolan (-)


Auskultasi
: bising usus (+) normal 3x per menit
Palpasi
: supel, defens muskular (-), nyeri tekan (+) di kuadran kanan

: Bentuk perut datar, tidak membuncit, warna kulit sawo

bawah, nyeri tekan McBurney (+), Rovsings sign (+), nyeri lepas Blumberg
(+), massa (-), undulasi (-), Psoas sign (+), Obturator sign (-), nyeri ketok CVA

dextra (-)
Perkusi

: timpani pada seluruh lapang abdomen, ascites (-)

E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal pemeriksaan 25/10/2016
PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI RUJUKAN

g/dl

14.0-18.0

HEMATOLOGI
Hemoglobin

15,8

LED
Leukosit

mm/jam

2-30

15,0

103/uL

5.0-10.0

HITUNG JENIS
Basofil

0-1

Eosinofil

1-3

Segmen

84

50-70

Limfosit

10

21-40

Monosit

2-8

MCV

84

u3

82-92

MCH

28

Pg

26-32

MCHC

33

g/dl

31-36

MCV,MCH,MCHC

Hematokrit

47,3

42.0-52.0

Eritrosit

5,65

106/uL

4.50-5.50

Trombosit

424

103/uL

150-450

SATUAN

NILAI RUJUKAN

Tanggal 27/10/2016
PEMERIKSAAN

HASIL

HEMATOLOGI
Waktu Perdarahan

Menit

1-3 menit

Wakti Pembekuan

Menit

1.7 menit

F. RESUME
Pasien bernama Tn. Steven Lelang, berusia 20 tahun datang ke poli bedah RSAU
dengan keluhan nyeri perut dibagian kanan bawah sejak 5 hari yang lalu SMRS. Nyeri
dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan timbul secara mendadak. Nyeri diperberat apabila pasien
berjalan, bersin dan batuk. Awalnya pasien merasa mual dan muntah yang diikuti nyeri pada
bagian perut yang hilang timbul 5 hari lalu disertai demam yang tidak terlalu tinggi, sumeng9

sumeng namun pasien tidak mengukur berapa suhu tubuhnya. Muntah sebanyak tiga kali.
Jumlah muntah banyak dan berisi makanan dan minuman. Keluhan mual masih dirasakan
oleh pasien namun pasien sudah tidak muntah. Semenjak sakit pasien mengatakan nafsu
makannya menurun. Pasien tidak suka makan-makanan yang tinggi serat seperti sayursayuran. Keluhan lainnya seperti perut teraba tegang seperti papan disangkal. Keluhan teraba
benjolan diperut kanan bawah juga disangkal. Keluhan kembung disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,


kesadaran compos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan
18x/menit, suhu 36,8oC. Pada pemeriksaan status generalis didapatkan dari kepala,
mata, hidung dan tenggorokan tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan leher
tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening. Pada pemeriksaan thorax
didapatkan pada paru dan jantung dalam batas normal. Pada pemeriksaan status
lokalis regio abdomen didapatkan :

Inspeksi

matang, pelebaran pembuluh darah (-), benjolan (-)


Auskultasi
: bising usus (+) normal 3x per menit
Palpasi
: supel, defens muskular (-), nyeri tekan (+) di kuadran kanan

: Bentuk perut datar, tidak membuncit, warna kulit sawo

bawah, nyeri tekan McBurney (+), Rovsings sign (+), nyeri lepas Blumberg (+),

massa (-), undulasi (-), Psoas sign (+), Obturator sign (-), nyeri ketok CVA dextra
(-)
Perkusi
: timpani pada seluruh lapang abdomen, ascites (-)
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan jumlah leukosit 15.000/uL,

hematokrit 47,3% dan jumlah trombosit 424.000/uL.

G. DIAGNOSIS KERJA
Appendisitis akut
H. DIAGNOSIS BANDING
Mukokel appendiks
I. PEMERIKSAAN ANJURAN
USG abdomen
Urinalisis
10

J. PENGOBATAN
Rawat inap + pemberian analgetik
Edukasi kepada pasien mengenai kemungkinan tindakan operasi yang harus dilakukan
Rujuk ke spesialis bedah umum agar segera dilakukan tindakan sesuai kondisi pasien
K. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
11

2.1 Anatomi
Apendiks adalah organ berbentuk tabung dengan panjang berkisar antara 3-15 cm dan
berpangkal di sekum. Pada dewasa bentuk apendiks melebar didistal dan menyempit di
proksimal. Sementara pada anak, berbentuk kerucut dimana menyempit didistal dan melebar
di proksimal. Anatomi apendiks memungkinkan organ ini untuk bergerak bebas, tergantung
dari panjang mesoapendiks penggantungnya. Apendiks merupakan organ imunologik karena
termasuk komponen GALT (Gut Asscociated Lymphoid Tissue) yang mensekresi IgA, namun
tidak memiliki efek negatif bila dilakukan apendektomi. Posisi apendiks terbanyak berada di
retrosekal (53,57%), pelvik (30,35%), post ilieum (12,55) dan subcaecal (3,5%).4

Gambar 1. Posisi Anatomi Apendiks

12

Gambar 2. Perdarahan apendiks


Vaskularisasi apendiks yaitu arteri apendikularis berasal dari percabangan arteri
ileosekal yang berasal dari arteri mesenterika superior. Perdarahan apendiks tidak memiliki
koleteral. Hal ini memudahkan terjadinya sumbatan, yang apabila tidak di cegah dapat
menyebabkan thrombosis infeksi dan apendiks akan alami gangren. Persarafan parasimpatis
berasal dari percabangan nervus vagus yang diikuti oleh arteri mesenterika superior dan arteri
apendikularis. Saraf simpatis berasal dari nervus thorakalis X, yang menghasilkan nyeri
visceral di sekitar umbilikus.4
2.2 Definisi
Peradangan pada organ appendiks atau umbai cacing karena infeksi akibat sumbatan
lumen. Apendisitis sendiri dibagi menjadi akut dan kronik. Akut didefinisikan sebagai Proses
peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi.5
Sementara kronik ditegakkan bila memenuhi semua syarat ; (1) riwayat nyeri perut
kanan bawah yang lebih dari 2 minggu, (2) terbukti terjadi peradangan kronik apendiks
secara mikroskopik maupun makroskopik. Mikroskopik adanya fibrosis menyeluruh pada
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, jaringan parut dan ulkus lama
dimukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.5
2.3 Epidemiologi
Apendisitis adalah salah satu dari emergensi bedah dan penyebab paling umum dari
nyeri abdomen. Pada negara Asia dan Afrka, insidens dari apendisitis akut lebih rendah
karena kebiasaan dari area geografis sendiri yaitu tingginya konsumsi serat pada pangan.
Serat diduga menurunkan viskositas feses, menurunkan waktu transit pasase usus dan
mencegah formasi fekalit. Perbandingan 3:2 antara remaja dan dewasa muda dan pada laki13

laki insidens apendektoi 1,4 kali lebih besar. Anak-anak memiliki resiko lebih besar untuk
mengalami perforasi 50-85%.6
2.4 Etiologi dan Faktor Resiko
Apendisitis akut dikaitkan erat dengan infeksi bakteri, kombinasi antara bakteri aerob
dan anaerob. Infeksi bakteri disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks hal ini dicetuskan
oleh beberapa faktor; Hiperplasia jaringan limfe, fekalit/apendikolit, tumor apendiks, cacing
askariasis dan makanan rendah serat.7 Fekalit dapat berupa komposisi material feses, kalsium
fosfat, campuran bakteri dengan debris epitel ataupun benda asing. Obstruksi lain dapat
disebabkan oleh tumor (carcinoma caecum) yang biasanya terdapat pada usia lanjut. Parasit
sebagian besar menyebabkan sumbatan yang disebabkan oleh cacing kremi (Oxyuris
vermicularis). Selain sumbatan erosi mukosa akibat infeksi parasit E. histolytica diduga
menyebabkan apendisitis.
Beberapa faktor resiko dapat mendukung terjadinya apendisitis : 7
1. Balita
Apendisitis jarang terdiagnosis pada balita karena, keterbatasannya pada anamnesis.
Hal ini menyebabkan delayed diagnosis dan mempebesar tingginnya insidensi
perforasi (<36 bulan). Peritonitis diffusa juga mudah terjadi akibat fungsi omentum
yang belum sempurna, ini menyebabkan fungsi pertahanan dalam menghadapi infeksi
tidak maksimal.
2. Anak
Pada anak hampir selalu terdapat keluhan muntah dan kesulitan makan, hal ini
menyebabkan anak sulit tidur pada tahap awal dari apendisitis.
3. Lansia
Perforasi dan gangren terjadi lebih mudah pada lansia. Insidens terjadinya perforasi
dan lamanya terapi meningkat seiring dengan meningkatnya faktor komorbid seperti;
CAD, asma, diabetes melitus, HIV/AIDS, peningkatan serum creatinine. 8 Secara
umum faktor komorbid ini mempengaruhi system vaskular yang dapat mempercepat
iskemia dan timbulnya perforasi.8

2.5 Patogenesis dan Patofisiologi


Peradangan apendiks atau apendisitis akut biasanya disebabkan oleh adanya sumbatan
lumen apendiks yang diakibatkan oleh fekalit/apendikolit, hyperplasia limfoid, benda asing
parasite, neoplasma ataupun striktur yang disebabkan oleh fibrosis peradangan sebelumnya.
14

Beberapa tahap daripada apendisitis diuraikan sebagai berikut ;9


1. Apendisitis akut fokal
Obstruksi lumen bersamaan dengan perkembangan bakteri memicu sekresi mucus
sehingga menyebabkan distensi lumen apendiks. Peningkatan tekanan dinding lumen
akan menghambat aliran limfe sehingga menimbulkan edema, diapedesis bakteri dan
ulserasi mukosa. Hal ini secara klinis ditandai dengan adanya nyeri periumbilikal.
2. Apendisitis supuratif akut
Kombinasi antara peningkatan tekanan intralumen apendiks dan sekresi mukus yang
terus berlanjut menyebabkan obstruksi vena, peningkatan edema dan pertumbuhan
bakteri. Peradangan yang meluas akan mengenai peritoneum dan timbul nyeri
kuadran kanan bawah (titik Mcburney)
3. Apendisitis ganggrenosa
Jika aliran arteri terganggu, akan menyebabkan infark dinding dan gangrene
4. Apendisitis perforasi
Apendisitis gangrenosa yang rapuh dan pecah seringkali terjadi 48 jam setelah awitan
gejala
Tubuh melakukan upaya pertahanan dengan membentuk massa periapendikuler atau
infiltrate apendiks. Yang berupa proteksi untuk membatasi radang dengan penutupan
apendiks oleh omentum, usus halus atau adneksa (pendindingan). Hal ini mencegah pecahnya
Sumbatan Lumen Apendiks

Flora Kuman Kolon

abses (perforasi) yang terbentuk akibat proses infeksi. Bila pertahanan tubuh baik, abses
intralumen
akan diserap, namun apendiks yang Tekanan
pernah meradang
akan membentuk jaringan parut dan

perpotensi terjadi perlengketan. Perlengketan dapat menimbulkan keluhan berulang yang


disebut eksaserbasi akut.
Edema

Hambat aliran limfe


Diapedesis Bakteri

Ulserasi Mukosa

Nyeri periumbilikal

Apendisitis Akut Fokal


Peradangan Berlanjut
Iritasi Peritoneum Setempat

Tabel
1. Patofisiologi
Apendisitis
Apendisitis
Supuratif
Akut

Nyeri di titik McBurney

Aliran arteri terganggu


Nekrosis/Gangren/Perforasi
Mekanisme massa periapendikuler
15

Abses
Terserap Fibrosis

Pecah Peritonitis

2.6 Diagnosis
Diagnosis ditentukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
2.6.1

Manifestasi Klinis
Apendisitis ditandai dengan gejalanya yang khas, yang didasari oleh

peradangan pada apendiks dengan atau tanpa rangsang peritoneum lokal.


Gejala klasik ditandai dengan adanya nyeri visceral yaitu nyeri samar-samar
atau tumpul pada daerah epigastrium sekitar umbilikus. Keluhan ini disertai
dengan mual, terkadang muntah dan umumnya terdapat penurunan napsu
makan. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik McBurney (kuadran
kanan bawah). Nyeri ini adalah nyeri somatik yang lebih tajam dan jelas.
Dari segi klinis pemakaian Alvarado Score digunakan untuk membantu
diagnosis apendisitis.10 Skoring ini memiliki penilaian terhadap 6 tanda klinis
dan 2 tanda laboratorium dengan total poin 10. Poin terpenting adalah adanya
nyeri pada kuadran kanan bawah dan leukositosis, yang bernilai 2 poin.
Dengan tanda klinis lainnya memiliki masing-masing 1 poin. Skor 5-6 dapat
disebut compatible acute appendicitis atau cocok dengan dugaan apendisitis
16

akut. Sementara skor 7-8 mengindikasikan kemungkinan apendisitis. Skor 910 mengindikasikan sangat mungkin apendisitis akut..11 Skor dibawah 5
berguna untuk mengeliminasi apendisitis dari diagnosis banding. Digunakan
istilah MANTRELS sebagai mnemonic untuk mempermudah skoring. Apabila
di fasilitas kesehatan tidak dapat dilakukan hitung jenis maka dapat digunakan
skoring Alvarado yang sudah di modifikasi dengan total poin 9, yang tidak
seakurat skoring asli. Skoring ini non invasif, aman, simpel, reliable,
repeatable dan memiliki diagnostic value yang terbukti.
Tabel 2. Skoring Alvarado
Skoring Alvarado
Migration to right iliac fossa

Interpretasi
Skor
Migrasi nyeri dari umbilikus ke 2
kuadran kanan bawah (fossa

Anorexia

iliaka)
Anoreksia / penurunan nafsu 1

Nausea/vomiting
Tenderness in the right iliac fossa
Rebound pain
Elevated temperature
Leucocytosis
Shift neutrophils to the left

makan
Mual/muntah
Nyeri pada kuadran kanan bawah
Nyeri lepas
Demam (37,3 C)
Peningkatan leukosit ( 10.000)
Hitung jenis shift to the left

2.6.2

1
2
1
1
1
1

Pemeriksaan Fisik
Tanda vital dapat di dapatkan peningkatan suhu antara 37,5-38,5. Bila suhu

lebih tinggi, mengarahkan kecurigaan perforasi. Pada inspeksi abdomen tidak


didapatkan tanda spesifik. Bila terdapat perforasi, dapat terlihat penonjolan
kuadran kanan bawah (abses periapendikular). Palpasi menunjukkan nyeri yang
terbatas pada region iliaka kanan.
Nyeri kuadran kanan bawah adalah kunci diagnosis. Terdapat nyeri tekan
dan nyeri lepas. Defans muskuler yang terlokalisir merupakan tanda rangsang
periotenum lokal. Didapat juga nyeri rangsang periotenum yang tidak langsung
berupa nyeri kanan bawah dengan tekanan di kiri (tanda Rovsing), nyeri kanan
bawah pada pelepasan tekanan disebelah kiri (tanda Blumberg) dan nyeri kanan
bawah bila bergerak, napas dalam, berjalan batuk atau mengejan. Diperlukan

17

palpasi dalam untuk menentukan rasa nyeri yang bergantung pada posisi
apendiks.
Pada auskultasi seringkali bising usus normal, namun didapati menghilang
pada ileus paralitik yang terjadi akibat peritonitis generalisata akibat perforasi.
Pemeriksaan pelvis dengan colok dubur diperlukan untuk membedakan nyeri
pada apendisitis pelvika. Yaitu terbatasnya nyeri pada saat dilakukan colok
dubur. Ditambah dengan uji psoas dan uji obturator yang positif. 12 Uji psoas
dilakukan dengan hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi
panggul kanan. Hal ini menunjukkan peradangan apendiks yang menempel di
otot psoas mayor. Fleksi dan endorotasi sendi pada uji obturator menunjukkan
peradangan apendiks yang menempel pada otot obturator internus (dinding
panggul kecil). Posisi ini menimbulkan nyeri pada apensidisitis pelvika.
Tabel 2. Letak Apendiks dan Hubungannya dengan Letak Nyeri
Letak Apendiks
Kaudal (Pelvika)

Retrperitoneal
sekum

Target Perlekatan / letak keluhan


Tuba atau ovarium kanan
Nyeri endorortasi sendi (spasme musculus

psoas atau obturator internus)


Frequzency of micturition (bila apendiks

yang meradang mengenai vesical urinaria)


Rangsang peritoneum setempat.
Silent appendix (nyeri muncul saat dilakukan
penekanan dalam kuadran kanan bawah /

(retrosekal)

deep pressure tenderness)


2.6.3 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Jumlah leukosit yang meningkat membantu dalam menegakkan
diagnosis

apendisitis

akut.

Pada

kebanyakan

kasus

terdapat

leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi.


Radiologi
Foto polos abdomen kurang spesifik karena menunjukkan hasil yang
normal pada 50% pasien apendisitis. Hanya 10% menunjukkan apendikolit
yang terkalsifikasi. Sementara barium enema menunjukkan visualisasi nonfilling appendix namun memiliki sensitivitas rendah.11 Pada pemeriksaan USG
abdomen dapat ditemukan pembesaran diameter apendiks (>6 mm),

18

peningkatan periapendiceal echogenicity, jika ditemuka apendikolit terdapat


gambaran echogenic dengan distal shadowing, peningkatan vaskularisasi pada
Doppler dan didapati kantong abses dengan penebalan dinding serta berisi
cairan.
2.7 Diagnosis Banding
1. Gastroenteritis
Mual, muntah dan diare mendahului rasa nyeri. Nyeri perut sifatnya lebih ringan
dan tidak tegas. Demam dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan
apendisitis.
2. Demam Dengue
Pada demam dengue dapat dimulai dengan nyeri perut mirip dengan peritonitis,
namun terdapat hasil positive tes Rumple Leede, trombositopenia dan tingginya
kadar hematokrit
4. Limfadenitis Mesenterika
Ditandai dengan nyeri perut yang samar terutama sebelah kanan dan mual, namun
biasanya didahului oleh gastroenteritis
5. Kelainan Ovulasi
Pecahnya folikel ovarium dapat menyebabkan nyeri kuadran kanan bawah
ditengah siklus menstruasi. Namun nyeri ini pernah timbul sebelumnya. Tidak
terdapat tanda radang dan nyeri hilang dalam waktu 24 jam-2 hari.
6. Infeksi Panggul
Salpingitis kanan memiliki ciri suhu yang lebih tinggi, nyeri perut kanan lebih
difus, disertai keputihan maupun infeksi urin. Pada pemeriksaan vaginal toucher
didapatkan nyeri panggul jika uterus diayunkan
7. Kehamilan Ektopik
Terdapat riwayat terlambat haid yang selalu ada. Nyeri mendadak yang difus di
daerah pelvis disertai dengan tanda hipovolemik adalah tanda dari rupture tuba
atau abortus ektopik. Vaginal toucher didapatkan penonjolan kavum Douglas
8. Urolitiasis kanan
Riwayat kolik dari pinggang ke perut dan menjalar ke inguinal merupakan tanda
khas. Pielonefritis disertai demam tinggi menggigil, nyeri CVA di kanan dan
pyuria. BNO-IVP dapat menunjukkan gambaran yang jelas
2.8 Tatalaksana
Tatalaksana dapat dibagi menjadi 3, yaitu ;
a. Preoperatif
19

Observasi, tirah baring dan puasa. Foto abdomen dan thoraks dapat dilakukan
untuk mencari penyulit lain. Pemberian cairan intravena diberikan untuk mencapai
urine output yang adekuat. Pemberian antibiotik preoperatif ditujukan untuk
menurunkan insidens infeksi luka. Namun pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya
tidak diberikan antibiotik, kecuali dengan perforasi atau gangren Jika terdapat suspek
kearah peritonitis antibiotik intravena yang dapat mencakup bakteri gram negative
serta bakteri anaerob harus diberikan.12 Penundaan tindak bedah sambil memberikan
antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Karena dilakukan dibawah
anesthesia umum, maka dilakukan pemasangan NGT (Naso Gastric Tube) dan kateter.
b. Operatif
Urgent appendectomy ditujukan untuk mencegah tingginya morbiditas dan
mortalitas yang terjadi akibat peritonitis. Operasi dapat dilakukan dengan dua cara ;
i.
Apendektomi terbuka, dilakukan dengan insisi transversal pada kuadran kanan
bawah atau insisi oblik pada diagnosis yang belum jelas
ii.
Laparoskopi, teknik operasi dengan luka dan resiko infeksi lebih kecil
c. Pascaoperatif
Dilakukan observasi tanda vital untuk antisipasi adanya perdarahan dalam, syok,
hipertermia maupun gangguan pernapasan. Pasien dibaringkan dengan posisi fowler
dan dipuasakan selama 12 jam atau sampai fungsi usus kembali normal pada pasien
dengan peritonitis. Secara bertahap pasien diberikan minum, makanan saring,
makanan lunak lalu makanan biasa. Komplikasi pascaoperatif dibagi menjadi
beberapa macam;
1) Infeksi luka
Infeksi luka adalah masalah paling umum pascaoperasi.biasanya ditandai
dengan adanya nyeri dan kemerahan pada luka dihari ke 4 atau 5 pascaoperasi.
Hal ini dapat ditangani dengan drainase luka, dan pemberian antibiotik yang
mencakup bakteri gram negative dan anaerob
2) Abses intraabdominal
Demam tinggi, malaise dan anoreksia 5-7 hari pascaroperasi menunjukkan
timbulnya abses intraabdominal. USG abdomen atau CT Scan dapat
mempermudah diagnosis dan memfasilitasi drainase perkutaneus.
3) Ileus
Ileus umumnya terjadi pada apendisitis dengan gangrene, yang menghasilkan
gas dan dapat menetap sampai beberapa hari setelah apendektomi. Ileus dapat
menetap 4-5 hari bersamaan dengan demam. Hal ini dapat mengindikasikan
adanya sepsis intraabdominal.
4) Obstruksi akibat perlengketan usus
Komplikasi ini merupakan komplikasi paling umum lanjut pada apendektomi.
20

5) Portal pyaemia (Pyephlebitis)


Pyephlebitis merubakan komplikasi yang jarang dari apendisitis dengan
gangrene. Demam tinggi dan jaundice akibat septikeia ada sistem vena porta
dan menyebabkan terbentuknya abses. Hal ini diatasi dengan pemberian
antibiotik dan drainase perkutaneus dari abses hepar tersebut.
2.9 Komplikasi
Komplikasi yang paling membahayakan adalah perforasi, baik bebas maupun pada
apendiks yang telah mengalami pendindingan.
2.8.1 Massa Periapendikuler
Massa periapendikular terjadi pada apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi
sebagai kompensasi atau usaha omentum mencegah penyebaran pus atau pecahnya
abses. Bila mekanisme pendindingan ini belum sempurna (massa periapendikuler
bebas/mobile) maka dapat meningkatkan resiko penyebaran pus dan timbulnya
peritonitis generalisata. Apabila terjadi perforasi, maka akan terbentuk abses apendiks
yang ditandai dengan peningkatan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri dan
teraba pembengkakan massa serta tingginya leukosit. Kondisi ini membutuhkan
urgent appendectomy atau operasi segera. Drainase dapat dilakukan sekaligus
bersamaan dengan apendektomi jika mudah diangkat.13
Sedangkan jika pendindingan terjadi sempurna, maka pasien dirawat terlebih
dahulu dan diberikan antibiotik sambal dilakukan pemantauan suhu, ukuran massa
dan luasnya peritonitis. Jika pemantauan dalam batas baik, maka operasi dapat
dilakukan elektif 2-3 bulan kemudian akibat perdarahan dari perlengketan dapat
dicegah. Apendektomi dilakukan pada infiltrate apendikuler tanpa pus yang telah
ditenangkan. Sebelumnya diberikan antibiotik kombinasi aktif terhadap bakteri aerob
dan anaerob. Anjuran operasi secepatnya jika konservatif tidak membaik dan
memiliki faktor resiko.
2.8.2 Apendisitis Perforasi
Perforasi apendiks dipicu oleh faktor-faktor tersendiri, antara lain umur dan
adanya faktor komorbid yang menyebabkan gangguan vaskular. Perforasi apendiks
menyebabkan peritonitis purulenta, hal ini ditandai dengan; (1) demam tinggi, (2)
nyeri semakin hebat, (3) perut menjadi tegang (defans muskular) disertai perut
21

kembung, (4) penurunan peristaltik usus akibat ileus paralitik terjadi karena rangsang
peritoneum.13 Perforasi juga dapat menyebabkan terbentuknya abses rongga
peritoneum yang umumnya terlokalisasi di rongga pelvis maupun subdiafragma.
Gambaran ini dapat dibedakan melalui USG abdomen ataupun Roentgen abdomen.
Perbaikan keadaan umum dengan persiapan preoperatif. Laparotomi dilakukan
dengan insisi yang lebih lebar untuk mempermudah lavage peritoneum dan
penggunaan drain untuk mengeluarkan sisa infeksi.

BAB III
ANALISA KASUS
Teori
Epidemiologi

Keadaan yang terjadi pada pasien


tertinggi Pasien laki-laki berusia 20 tahun. Hal ini

insidens

appendisitis akut terjadi pada usia 20-30 sesuai dengan teori dimana appendisitis
tahun dan setelah itu menurun. Prevalensi lebih sering terjadi pada pria dan pada usia
appendisitis pada pria dan wanita 1:1 akan 20-30 tahun.
tetapi, pada usia 20-30 tahun insidens lelaki
lebih tinggi.
Etiologi & Faktor Risiko : Appendisitis Pada pasien berdasarkan hasil anamnesis,
akut

merupakan

infeksi

bakteri

yang didapatkan faktor risiko yang ada pada

disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks. pasien adalah kurangnya konsumsi makanan
Sumbatan lumen apendiks dicetuskan oleh yang mengandung tinggi serat. Kurangnya
beberapa faktor, diantaranya: hiperplasia konsumsi
jaringan limfe, fekalit/apendikolit,
apendiks,

cacing

askariasis,

makanan

yang

mengandung

tumor tinggi serat akan membuat BAB menjadi

makanan keras dan memicu konstipasi. Konstipasi

rendah serat dan konstipasi. Obstruksi lain menyebabkan

peningkatan

tekanan
22

dapat disebabkan oleh tumor (carcinoma

intrasekal

yang

caecum) yang biasanya terdapat pada usia sumbatan

berakibat

fungsional

timbulnya

apendiks

dan

lanjut. Parasit sebagian besar menyebabkan meningkatnya pertumbuhan kuman flora


sumbatan yang disebabkan oleh cacing kolon biasa.
kremi (Oxyuris vermicularis)
Gambaran Klinis : Gejala klasik ditandai Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan
dengan adanya nyeri visceral yaitu nyeri keluhan utama pasien nyeri perut kanan
samar-samar atau tumpul pada daerah bawah sejak 5 hari SMRS. Keluhan nyeri
epigastrium sekitar umbilikus. Keluhan ini disertai dengan mual dan muntah sebanyak
disertai dengan mual, terkadang muntah dan 3x berisi makanan dan minuman. Keluhan
umumnya terdapat penurunan napsu makan. juga disertai dengan demam sumengDalam beberapa jam nyeri akan berpindah sumeng dan penurunan nafsu makan. Pada
ke titik McBurney (kuadran kanan bawah). pemeriksaan fisik didapatkan nyeri lepas
Nyeri ini adalah nyeri somatik yang lebih (blumber
tajam dan jelas.

sign

+).

Pada

pemeriksaan

laboratorium didapatkan leukosit meningkat

Dari segi klinis pemakaian Alvarado Score yaitu 15000 dan netrofil segmen yaitu 84%.
digunakan

untuk

membantu

diagnosis Berdasarkan hasil tersebut didapatkan hasil

apendisitis.10 Skoring ini memiliki penilaian skor

alvarado

terhadap 6 tanda klinis dan 2 tanda mengindikasikan

pasien

adalah

kemungkinan

yang
terjadi

laboratorium dengan total poin 10. Poin appendisitis.


terpenting

adalah

adanya

nyeri

pada

kuadran kanan bawah dan leukositosis, yang


bernilai 2 poin. Dengan tanda klinis lainnya
memiliki masing-masing 1 poin. Skor 5-6
dapat disebut compatible acute appendicitis
atau cocok dengan dugaan apendisitis akut.
Sementara

skor

kemungkinan

7-8

mengindikasikan

apendisitis.

mengindikasikan

Skor

sangat

9-10

mungkin

apendisitis akut..11 Skor dibawah 5 berguna


untuk

mengeliminasi

diagnosis

banding.

apendisitis
Digunakan

dari
istilah

MANTRELS sebagai mnemonic untuk


mempermudah skoring.
23

Pemeriksaan Fisik : Tanda vital dapat di Pada hasil pemeriksaan fisik didapatkan dari
dapatkan peningkatan suhu antara 37,5- tanda-tanda vital pasien dalam batas normal.
38,5. Bila suhu lebih tinggi, mengarahkan Suhu 36,80C, nadi 80x/menit, pernafasan
kecurigaan perforasi.

18x/menit, tekanan darah 120/80 dan BMI

Nyeri kuadran kanan bawah adalah kunci termasuk dalam klasifikasi gizi normal.
diagnosis. Terdapat nyeri tekan dan nyeri Suhu pasien masih dalam batas normal
lepas. Defans muskuler yang terlokalisir mungkin disebabkan karena pasien sudah
merupakan
lokal.

tanda

Didapat

periotenum

rangsang
juga

periotenum sempat diberikan obat penurun panas

nyeri

rangsang sebelum datang berobat ke poliklinik bedah

yang tidak langsung berupa RSAU dr.Esnawan Antariksa. Selain itu,

nyeri kanan bawah dengan tekanan di kiri nadi juga dalam batas normal karena pasien
(tanda Rovsing), nyeri kanan bawah pada juga sudah meminum obat anti nyeri
pelepasan tekanan disebelah kiri (tanda sebelum

datang

berobat

ke

RSAU

Blumberg) dan nyeri kanan bawah bila dr.Esnawan Antariksa.


bergerak, napas dalam, berjalan batuk atau Pada pemeriksaan status lokalis regio
mengejan. Diperlukan palpasi dalam untuk abdomen didapatkan bising usus dalam
menentukan rasa nyeri yang bergantung batas normal, nyeri perut kuadran kanan
pada posisi apendiks.

bawah (+), rovsing sign (+), blumberg sign

Pada auskultasi seringkali bising usus (+) dan psoas sign (+). Belum didapatkan
normal. Pemeriksaan pelvis dengan colok tanda-tanda sudah terjadi peritonitis seperti
dubur diperlukan untuk membedakan nyeri suhu tubuh >38oC, nyeri tekan diseluruh
pada apendisitis pelvika. Yaitu terbatasnya perut (+) dan defens muskular (+).
nyeri pada saat dilakukan colok dubur.
Ditambah dengan uji psoas dan uji obturator
yang positif.12 Uji psoas dilakukan dengan
hiperekstensi sendi panggul kanan atau
fleksi aktif sendi panggul kanan. Hal ini
menunjukkan peradangan apendiks yang
menempel di otot psoas mayor. Fleksi dan
endorotasi

sendi

pada

uji

obturator

menunjukkan peradangan apendiks yang


menempel pada otot obturator internus
(dinding

panggul

menimbulkan

nyeri

kecil).
pada

Posisi

ini

apensidisitis
24

pelvika.
Pemeriksaan Penunjang :

Laboratorium
appendisitis

pada

akut

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan


pasien

dengan kadar leukosit pasien 15000 U/L (kadar

didapatkan normal leukosit 5000 10000 U/L). Hal ini

biasanya

peningkatan kadar leukosit karena terjadi menunjukkan sedang terjadi proses infeksi
pada pasien.

proses infeksi bakteri.

Radiologi Pada pemeriksaan USG Pada pasien belum dilakukan pemeriksan


abdomen

dapat

ditemukan

pembesaran radiologi seperti appendicogram maupun

diameter apendiks (>6 mm), peningkatan USG abdomen


periapendiceal echogenicity, jika ditemukan
apendikolit terdapat gambaran echogenic
dengan

distal

shadowing,

peningkatan

vaskularisasi pada Doppler dan didapati


kantong abses dengan penebalan dinding
serta berisi cairan.
Tatalaksana : Bila diagnosis klinis sudah Pada pasien diberikan analgetik sebagai
jelas, tindakan paling tepat dan merupakan terapi simptomatik untuk meredakan rasa
satu-satunya pilihan yang baik adalah nyeri yang terjadi. Selain itu, pasien juga
apendektomi.

Pada

apendisitis

tanpa diberikan edukasi dan dikonsulkan ke

komplikasi biasanya tidak perlu diberikan spesialis bedah untuk dilakukan operasi
antibiotik,

kecuali

gangrenosa

atau

Penundaan

pada
apendisitis

tindak

bedah

apendisitis sebagai terapi definitif untuk appendisitis


perforata. akut.
sambil

memberikan antibiotik dapat mengakibatkan


abses atau perforasi

BAB IV
KESIMPULAN
Appendisitis merupakan peradangan pada organ appendiks atau umbai cacing karena
infeksi akibat sumbatan lumen. Appendisitis dibagi menjadi akut dan kronik. Dikatakan akut
apabila proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan oleh obstruksi.

25

Sementara kronik ditegakkan bila memenuhi semua syarat : (1) riwayat nyeri perut kanan
bawah lebih dari 2 minggu, (2) terbukti terjadi peradangan kronik apendiks secara
mikroskopik maupun makroskopik. Tanda mikroskopik yang dapat ditemukan diantaranya
adalah adanya fibrosis menyeluruh pada dinding appendiks, sumbatan parsial atau total
lumen appendiks, jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
didapatkan diagnosis kerja pada pasien adalah appendisitis akut. Berdasarkan hasil anamnesis
didapatkan nyeri pada perut kanan bawah sejak 5 hari SMRS. Nyeri disertai dengan mual,
muntah dan penurunan nafsu makan. Keluhan tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada status lokalis nyeri tekan pada McBurneys point (+),
rovsing sign (+), blumberg sign (+) dan psoas sign (+). Pada pemeriksaan penunjang
didapatkan kadar leukosit pasien 15000 U/l. Berdasarkan hasil penghitungan skor alvarado
pasien yaitu 8 yang mengindikasikan kemungkinan appendisitis akut. Oleh karena itu,
tatalaksana yang diberikan kepada pasien ini adalah dianjurkan untuk dirawat inap dan
pemberian analgetik. Kemudian memberikan edukasi kepada pasien tentang tindakan operasi
yang harus dilakukan dan dikonsultasikan ke spesialis bedah umum untuk tindakan lebih
lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Burkitt DP (1971). "The aetiology of appendicitis". British Journal of Surgery. 58(9):
6959.

26

2. Alvarado A. A practical score for the early diagnosis of acute appendicitis. Ann Emerg
Med. 1986 May. 15(5):557-64
3. Fitz RH (1886). "Perforating inflammation of the vermiform appendix with special
reference to its early diagnosis and treatment". American Journal of Medical
Science(92): 32146.
4. Paterson-Brown, S. (2007). "15. The acute abdomen and intestinal obstruction". In
Parks, Rowan W.; Garden, O. James; Carter, David John; Bradbury, Andrew W.;
Forsythe, John L. R. Principles and practice of surgery (5th ed.). Edinburgh:
Churchill Livingstone.
5. Paulson, EK; Kalady, MF; Pappas, TN (16 January 2003). "Clinical practice.
Suspected appendicitis.". The New England Journal of Medicine. 348 (3): 23642.
6. Wangensteen OH, Bowers WF (1937). "Significance of the obstructive factor in the
genesis of acute appendicitis". Archives of Surgery. 34 (3): 496526.
7. Shogilev, DJ; Duus, N; Odom, SR; Shapiro, NI (November 2014). "Diagnosing
appendicitis: evidence-based review of the diagnostic approach in 2014.". The
Western Journal of Emergency Medicine (Review). 15 (7): 85971.
8. Drake FT, Mottey NE, Farrokhi ET, Florence MG, Jhonson MG, Mock C et all. Time
to Appendectomy and Risk of Perforation in Acute Appendicitis. Jama Surgical. 2014;
149(8):837-844.
9. Christanto, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita Selekta Kedokteran Essentials
of Medicine. Ed 4th Jilid I. Media Aesculapius. 2014. p.213-214.
10. Alvarado, A (May 1986). "A practical score for the early diagnosis of acute
appendicitis.". Annals of Emergency Medicine. 15 (5): 55764.
11. Douglas, CD (14 October 2000). "Randomised controlled trial of ultrasonography in
diagnosis of acute appendicitis, incorporating the Alvarado score". BMJ. 321 (7266):
919919.
12. Sjamjuhidajat, De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3th. EGC. p.759-761.
13. Lieberman G, Pani A. Radiologic Diagnosis of Appendicitis. Harvard Medial. 2005.
Jan.
p.9-12.
Available
from:
http://eradiology.bidmc.harvard.edu/LearningLab/gastro/Pani.pdf.
14. Varadhan KK, Neal KR, Lobo DN (2012). "Safety and efficacy of antibiotics
compared with appendicectomy for treatment of uncomplicated acute appendicitis:
meta-analysis of randomised controlled trials".
15. Howell JM, Eddy OL, Lukens TW, Thiessen ME, Weingart SD, Decker WW. Clinical
policy: Critical issues in the evaluation and management of emergency department
patients with suspected appendicitis. Ann Emerg Med. 2010 Jan. 55(1):71-111.

27