Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PENATAGUNAAN TANAH

ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN TANAH DENGAN


RENCANA TATA RUANG WILAYAH

KELOMPOK III KELAS A

1. DEDY SETYO IRAWAN


2. DEWI FATMAWATI
3. DIAH RETNO WULAN

NIM : 15242878
NIM : 15242879
NIM : 15242880

PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN


SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
A. Pendahuluan

1. Latar Belakang
Tanah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah komponen utama
lingkungan hidup dan wadah berbagai aktifitas manusia, merupakan modal dasar
yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan. Kebutuhan tanah terus
meningkat

sejalan

dengan

pertumbuhan

penduduk

dan

perkembangan

kehidupannya serta kemajuan teknologi, sementara ketersediaannya relatif tetap,


baik luas maupun kualitasnya, sehingga menuntut upaya pemanfaatan secara
efisien dan optimal.

Dinamika kegiatan pembangunan yang cukup pesat

anggapan tanah sebagai alat produksi menyebabkan terjadinya perubahan fisik


dan penggunaan tanah, jika tidak diatur dan dikendalikan dengan baik dapat
berakibat terjadinya permasalahan keseimbangan dalam penggunaan tanah.
Di samping itu, tidak semua tanah yang terbatas ini cocok untuk jenis
kegiatan tertentu. Sementara itu, kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah
yang telah ada saat ini perlu dibina dan diarahkan sehingga serasi dengan
lingkungan dan berkelanjutan, serta sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
yang telah disepakati sebagai acuan pembangunan wilayah. Pengelolaan tanah
dalam bentuk pemilikan, penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah selain
menjamin

tercapainya

kesejahteraan

dan

kebahagiaan

bagi

yang

menguasai/memilikinya, juga bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Sehingga


dalam pemanfaatannya perlu diperhatikan fungsi sosial hak atas tanah, hak asasi
manusia dan hak-hak rakyat atas tanah. Kesemuanya ditujukan guna mencapai citacita tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pemerintah telah menyusun rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang
menjadi acuan pedoman untuk mengarahkan peruntukan pembangunan, arahan
peruntukan tersebut didasarkan pada fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW). Berdasarkan UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007, Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan rencana program pembangunan
Pemerintah Daerah jangka panjang (20 tahun) yang digambarkan dalam bentuk
uraian dan peta, yang membagi seluruh wilayah dalam fungsi-fungsi kawasan,
yang dapat direvisi setiap lima tahun sekali.

Dalam pelaksanaan RTRW, fungsi kawasan dalam RTRW tidak selalu dapat
memenuhi sasaran pembangunan sebagaimana diharapkan, karena adanya beberapa
kendala antara lain :
1. RTRW disusun diatas bidang-bidang tanah yang telah digunakan dan dikuasai
masyarakat.
2. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan RTRW tentang tujuan, sasaran,
manfaat dan pentingnya RTRW akibat kurangnya penyuluhan untuk dapat
meningkatkan kesadaran masyarakat.
3. Belum adanya tindakan pengendalian yang efektif terhadap pelaksanaan RTRW.
Untuk mengatasi kendala dalam pemanfaatan dan pengendalian RTRW
diperlukan instrument untuk pelaksanaannya, yang di dalam ketentuan :
UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,
mengamatkan bahwa tanah mempunyai fungsi sosial, sehingga dalam
penggunaan

dan

pemanfaatannya

perlu

memperhatikan

kepentingan

pembangunan dan masyarakat secara keseluruhan, serta diwajibkan untuk


memelihara tanah dan mencegah kerusakannya. Untuk itu pemerintah membuat
suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan pengunaan bumi, air
dan ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya untuk
berbagai kebutuhan, hal ini diterjemahkan lebih lanjut dalam.
UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana pemanfaatan ruang
mengacu pada fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang
dilaksanakan dengan mengembangkan penatagunaan tanah, penatagunaan air,
penatagunaan udara dan penatagunaan sumberdaya alam lainnya. Selanjutnya
dalam rangka pengembangan penatagunaan tanah diselenggarakan kegiatan
penyususunan dan penetapan neraca penatagunaan tanah
PP No 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah, penjabaran implementatif
dari kedua UU tersebut diatas, menegaskan bahwa penggunaan dan pemanfaatan
tanah di kawasan lindung atau budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penatagunaan Tanah bertujuan
untuk mengatur dan mewujudkan tertib penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah bagi berbagai kebutuhan kegiatan pembangunan sesuai

dengan RTRW, dengan tetap menjamin kepastian hukum bagi masyarakat yang
mempunyai hubungan hukum dengan tanah.
Dalam rangka mewujudkan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah yang sejalan dengan fungsi kawasan maka dilaksanakan Penyelengaraan
Penatagunaan Tanah

meliputi : inventarisasi, penetapan perimbangan antara

ketersediaan dan kebutuhan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah


menurut fungsi kawasan, yang disusun dalam bentuk Neraca Penatagunaan Tanah
(NPGT) dan penetapan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah dengan rencana tata ruang wilayah.
Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah merupakan bagian dari upaya
untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, khususnya dalam rangka pengaturan dan
penataan penggunaan tanah serta menciptakan efisiensi penggunaan tanah yang
lebih berkeadilan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Dalam Pasal 23 PP No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
ditegaskan bahwa penyelenggaraan penatagunaan tanah terdiri dari antara lain
penetapan

perimbangan

antara

ketersediaan

dan

kebutuhan

penguasaan,

penggunaan, dan pemanfaatan tanah menurut fungsi kawasan, yang meliputi:


(a)

penyajian neraca perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah,

(b)

penyajian neraca kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah pada


Rencana Tata Ruang Wilayah, dan

(c)

penyajian dan penetapan prioritas ketersediaan tanah.


Neraca Penatagunaan Tanah adalah perimbangan antara ketersediaan tanah

menurut kenyataan penguasaan (subyek tanah) dan penggunaannnya (obyek tanah) saat
sekarang dengan dengan rencana kebutuhan tanah di masa depan menurut fungsi

kawasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Neraca Penatagunaan Tanah

meliputi neraca perubahan penggunaan tanah, neraca kesesuaian penggunaan tanah


terhadap RTRW, dan prioritas ketersediaan tanah, antara lain kesesuaian tanah
untuk kegiatan tertentu. Penyusunan Neraca ini merupakan amanat Peraturan
Pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah Pasal 23 ayat (3) dan
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 33 ayat (2).

2. Tujuan dan Sasaran


Neraca Penatagunaan Tanah, dapat digunakan sebagai bahan masukan
dalam:
a. perencanaan kegiatan dan pengendalian pembangunan wilayah,
b. penyusunan dan revisi RTRW, perumusan kebijakan dan pelaksanaan
penyesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah dengan RTRW, serta
c. perumusan

kebijakan

pertanahan

dalam

menyelesaikan

permasalahan

pertanahan dan koordinasi lintas sektoral.


d. kegiatan penyelenggaraan pembangunan yang terkait dengan tanah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan penyusunan neraca diarahkan
untuk memenuhi sejumlah sasaran, yaitu :
a. Aspek pertanahan yang terdiri dari data dan informasi penggunaan tanah,
penguasaan tanah, administrasi, data sosial ekonomi, dan RTRW.
b. Neraca perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah selama dua periode, yang
menyajikan informasi perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah dalam
fungsi kawasan pada periode tertentu secara time series.
c. Neraca Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah yang menyajikan
informasi akumulasi tingkat kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah
dalam fungsi kawasan RTRW.
d. Neraca kesesuaian fungsi kawasan dalam RTRW terhadap penguasaan tanah.
e. Dapat digunakan sebagai bahan untuk mengevaluasi dan merevisi rencana tata
ruang (Kecamatan/Kota).
f. Sebagai bahan pengendalian penggunaan tanah agar sesuai dengan rencana tata
ruang yang ada.
B. Analisis Kesesuaian Penggunaan Tanah Dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah
Pengertian dalam arti luas dari Penggunaan lahan ialah suatu daerah
permukaan daratan bumi yang ciri-cirinya mencakup segala tanda pengenal, baik
yang bersifat cukup mantap maupun yang dapat diramalkan bersifat mendaur dari
biosfer, atmosfer, tanah, geologi, hidrologi, dan populasi tumbuhan dan hewan,

serta kegiatan manusia pada masa lampau dan masa kini, sejauh tanda-tanda
pengenal tersebut memberikan pengaruh murad atas penggunaan lahan oleh
manusia pada masa kini dan masa mendatang (Notohadiprawiro, 1999).
Sedangkan Chalupin F Stuart dan Edward J Keiser (1979) memberikan
pengertian lahan pada dua skala yang berbeda yaiu lahan pada wilayah skala luas
dan pada konteks skala urban. Dalam lingkup wilayah yang luas, lahan adalah
resource (sumber) diperolehnya bahan mentah yang dibutuhkan untuk menunjang
keberlangsungan kehidupan manusia dan kegiatannya. Dalam konteks resource use
lahan diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu pertambangan, pertanian,
pengembalaan dan perhutanan.
Arsyad (1989) membagi penggunaan lahan kedalam dua jenis penggunaan
utama

yaitu penggunaan lahan pertanian dan lahan non pertanian. Lahan

pertanian meliputi : tegalan, sawah, perkebunan, hutan produksi dan lindung,


padang rumput dan padang alangalang termasuk lahan untuk peternakan dan
perikanan.
Data penggunaan tanah dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang
pola penggunaan tanah suatu wilayah serta informasi tentang kesesuaiannya
dengan fungsi kawasan dalam RTRW. Informasi ini diperlukan untuk menilai
keberhasilan pembangunan yang didasarkan pada tingkat kesesuaian penggunaan
tanah dan arahan fungsi kawasan. Penggunaan dan pemanfaatan tanah pada
dasarnya harus sesuai dengan fungsi kawasan, namun pada kenyataannya kondisi
tersebut sulit dapat dicapai seluruhnya, karena RTRW disusun pada bidang-bidang
yang sudah digunakan atau yang belum digunakan atau sudah dikuasai atau belum
dikuasai oleh sesuatu hak, sehingga dalam pelaksanaannya untuk mewujudkan
fungsi kawasan secara utuh akan banyak menghadapi kendala.
Menurut
Penatagunaan

Peraturan
Tanah,

salah

Pemerintah
satu

Nomor

kegiatan

16

yang

Tahun

2004

diselenggarakan

tentang
dalam

penatagunaan tanah adalah penetapan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan


dan pemanfaatan tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. Penyesuaian adalah
kegiatan pemegang hak atas tanah atau kuasanya untuk melakukan penyesuaian,
baik secara swadaya, kerjasama dan atau penyerahan hak atas tanahnya pada pihak

lain, agar penggunaan dan pemanfaatan bidang tanahnya sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah. Adapun pola penyesuaian yang dimaksud berisikan arahan
kegiatan dan langkah-langkah yang perlu dilaksanakan bagi pemegang hak atas
tanah atau kuasanya untuk menggunakan dan memanfaatkan tanah sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah.
Penyesuaian tersebut dilaksanakan dengan mempertimbangkan:
a) Kebijakan penatagunaan tanah;
b) Hak-hak masyarakat pemilik tanah;
c) Investasi pembangunan prasarana dan sarana;
d) Evaluasi tanah.
Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan hasil analisis kesesuaian
penggunaan lahan. Kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang
Wilayah adalah perbandingan antara arahan kawasan menurut tata ruang dengan
kondisi eksisting penggunaan lahan saat ini (Andrianto, dkk; 2008). Beberapa
literatur menggunakan istilah penyimpangan penggunaan lahan sebagai padanan
ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan rencana penggunaan lahan. Restina
(2009)

dalam

tesisnya,

menemukan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

penyimpangan adalah : kepadatan penduduk, luas lahan pertanian, bangunan di


bantaran sungai dan jarak ke pusat kota. Faktor sosial ekonomi masyarakat seperti
pendidikan, pekerjaan pendapatan, kepemilikan lahan serta tingkat pengetahuan
masyarakat tentang rencana tata ruang yang rendah akibat kurangnya sosialisasi
tentang RTRW juga mempengaruhi penyimpangan yang terjadi.
Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap RTRW dilakukan untuk
mengetahui efektifitas pemanfaatan ruang / implementasi RTRW yang telah
dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah. Semakin besar penggunaan tanah
yang sesuai dengan RTRW maka semakin baik pula pelaksanaan RTRW dalam
Wilayah Kabupaten/Kota.
Untuk kegiatan analisis kesesuaian, teknik yang dilakukan adalah
superimpose antara Peta Penggunaan Tanah dengan Peta RTRW. Dari tahapan
analisis ini dihasilkan neraca kesesuaian yang memberikan gambaran mengenai
kesesuaian dari setiap jenis penggunaan tanah terhadap fungsi kawasan yang telah

ditetapkan dalam RTRW. Klasifikasi tingkat kesesuaian yang digunakan dalam


praktek ini adalah sesuai dan tidak sesuai
Analisa kesesuaian Penggunaan Tanah terhadap RTRW dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Arahan Fungsi Kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Analisa kesesuaian penggunaan tanah terhadap Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) merupakan hasil superimpose (overlay peta) antara Peta
RTRW dengan Peta Penggunaan Tanah. Untuk melakukan analisa
kesesuaian maka pada tahap awal diperlukan informasi mengenai kebijakan
pemerintah daerah setempat terkait pola pemanfaatan ruang di wilayah
tersebut.
2. Matriks Kesesuaian
a. Menyusun matriks kesesuaian penggunaan tanah terhadap arahan
fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),
b. Melaksanakan overlay (tumpang susun) Peta Penggunaan Tanah (baru)
terhadap Peta RTRW dengan menggunakan Matriks Kesesuaian
sebagai acuan
c. Mendiskripsikan luas, letak dan tingkat kesesuaian penggunaan tanah
terhadap RTRW.
Sebelum melakukan analisa superimpose peta penggunaan tanah
dengan peta RTRW perlu terlebih dahulu disusun matrik kesesuaian
sebagai alat bantu. Kesesuaian antara klasifikasi jenis penggunaan tanah
dari peta penggunaan tanah terhadap rencana fungsi kawasan dari peta
RTRW dibuat dalam dua tingkat kesesuaian, yakni S (sesuai) dan TS (tidak
sesuai). Matriks ini dimaksudkan untuk membantu di dalam memberkian
penilaian terhadap kesesuaian penggunaan tanah yang ditinjau berdasarkan
arahan fungsi kawasan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam RTRW:
- Sesuai; apabila penggunaan tanah yang ada telah sesuai dengan arahan
fungsi kawasan dalam dokumen dan Peta RTRW. Sebagai contoh,
penggunaan tanah sawah pada fungsi kawasan pertanian lahan basah.

- Tidak sesuai; apabila penggunaan tanah tidak sesuai dengan arahan


fungsi kawasan dalam dokumen dan Peta RTRW. Sebagai contoh,
industry pada fungsi kawasan pertanian lahan basah.
Penilaian/ kriteria tingkat kesesuaian antara jenis penggunaan tanah
dengan fungsi kawasan pada RTRW tersebut dilaksanakan dengan berbagai
pendekatan yakni sebagai berikut:

1. Hierarki Klasifikasi.
Pendekatan ini pada prinsipnya adalah melakukan klasifikasi jenis-jenis
penggunaan tanah dengan menggunakan metode "Hierarki" dimana jenis-jenis
suatu objek analisa yang relatif memiliki kesamaan dikelompokkan dalam satu
kelas yang lebih tinggi. Sebagai contoh apabila dalam peta penggunaan tanah
ditemui jenis penggunaan tanah tegalan, sayur mayur, sawah 1 kali panen, sawah
dua kali panen dapat dikelompokkan ke dalam satu kelas penggunaan tanah yang
hirarkinya lebih tinggi yakni pertanian lahan basah.
Atas dasar sistem klasifikasi ini, maka apabila ditemui perbedaan dari klasifikasi
jenis penggunaan tanah dan rencana fungsi kawasan, maka langkah yang dilakukan
adalah dengan mempertimbangkan hierarki klasifikasi yang lebih tinggi dari jenisjenis objek analisa kesesuaian tadi.

Apabila pada hierarki yang lebih tinggi

klasifikasinya adalah sama, maka keduanya dapat dikatakan sesuai.


2. Dominasi Fungsi Penggunaan Tanah.
Langkah ini dilakukan apabila dalam satu hamparan terdapat berbagai jenis
penggunaan, yang relatif kecil dan atau dapat dihilangkan berdasarkan kriteria
"minimum unit" pemetaan, maka dipilih jenis penggunaan yang paling dominan di
antara jenis-jenis penggunaan tanah tersebut kemudian dibandingkan dengan jenis
rencana fungsi kawasan pada hamparan yang sama, dan selanjutnya dinilai tingkat
kesesuaiannya.
3. Prioritas Kegiatan.

Langkah ini dilakukan sebagai alternatif lain yang dapat membantu


kesulitan dalam menentukan tingkat kesesuaian antara jenis penggunaan dengan
rencana fungsi kawasan.

Misalkan pada wilayah tertentu jenis penggunaan

tanahnya adalah alang-alang, sedangkan rencana fungsi kawasan adalah terbuka


hijau maka penilaian tingkat kesesuaiannya dapat dibantu dengan memperhatikan
prioritas pembangunan. Apabila prioritas pembangunan (berdasarkan pola dasar
atau ketentuan daerah lainnya) wilayah tersebut adalah konservasi air dan tanah,
maka jenis penggunaan tanah alang-alang dapat dikatakan tidak sesuai. Namun
apabila prioritas pembangunan berdasarkan pola dasar tadi adalah pengembangan
Industri, maka jenis penggunaan tanah alang-alang masih dapat dikatakan sesuai
dengan rencana fungsi kawasan.
Penentuan tingkat kesesuaian sebagaimana tersebut di atas, mengacu pada
peta RTRW maupun jenis kegiatan yang diperbolehkan untuk setiap fungsi
kawasan dalam dokumen RTRW.
Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan arahan fungsi kawasan pada
RTRW dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. kurang adanya pengendalian penggunaan tanah oleh Pemerintah Daerah. Seperti
adanya pemukiman di daerah Sepadan Sungai, adanya penggunaan lahan
pertanian atau pemukiman di kawasan Cagar Alam.
2. Selain itu, dikarenakan juga karena kurangnya sosialisasi, informasi dan
pengetahuan terkait penggunaan tanah kepada masyarakat
3. Faktor Alam seperti banir, erosi, longsor
Hal-hal tersebut dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor yaitu :
1. Kondisi Fisik Medan, dapat dilihat dari kemiringan, ketinggian, kemampuan
tanah serta struktur tanah. Tanah yang berada pada daerah datar lebih diminati
daripada lahan atau tanah pada daerah lereng atau terjal. Sehingga pada daerah
datar, laju perubahan penggunaan tanah sangat cepat terjadi.
2. Pertambahan penduduk, bertambhanya jumlah penduduk akan mempengaruhi
perubahan penggunaan tanah dikarenakan faktor ekonomi dimana tanah yang
tersedia terbatas. Sehingga untuk memenuhi kebutuan akan papan atau tempat

tinggal, seseorang akan cenderung melalukan perubahan penggunaan tanah


menjadi pemukiman.
3. Kemajuan teknologi dan industry, semakin meningkatnya teknologi yang
diketahui dan diperoleh oleh masyarakat akan berpengaruh terhadap
penggunaan tanah yang aada sebagai tempat untuk pengembangan sistem
jaringan, sehingga pengembangan jaringan teknologi dapat meluas ke seluruh
pelosok wilayah
4. Aksesibilitas (kelancaran), kemampuan memperlancar arus lalu lintas yang
diperuntukan bagi kegiatan jasa distribusi yang berupa jasa perdagangan dan
jasa angkutan sebagai sarana kebtuhan masyarakat setempat.
Faktor faktor penggunaan tanah ini lah yang menyebabkan adanya
perubahan penggunaan tanah sehingga penggunaan tanah ada yang tidak sesuai
dengan arahan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah.
Menurut Edward (1980) dalam Suharyono (2000), sebuah implementasi
setidaknya dipengaruhi oleh faktor sumberdaya, disposisi (komitmen penentu
kebijakan), komunikasi (kecepatan dan kejelasan informasi antar unit pelaksana)
dan struktur birokrasi.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi efektif atau tidaknya implementasi
peraturan penataan ruang adalah : kelembagaan, aparat pelaksana, pengawasan dan
pengendalian, pendanaan serta adat istiadat masyarakat yang kondusif. Dilang
(2008)

menyatakan

terdapat

tiga

hal

yang

mempengaruhi

keberhasilan

implementasi yaitu : kualitas rencana dan kemampuan kelembagaan yang baik.


C. Kesimpulan
Pemerintah telah menyusun rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang menjadi
acuan pedoman untuk mengarahkan peruntukan pembangunan, arahan peruntukan
tersebut didasarkan pada fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW). Berdasarkan UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007, Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) merupakan rencana program pembangunan Pemerintah
Daerah jangka panjang (20 tahun) yang digambarkan dalam bentuk uraian dan

peta, yang membagi seluruh wilayah dalam fungsi-fungsi kawasan, yang dapat
direvisi setiap lima tahun sekali.
Dalam rangka mewujudkan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah yang sejalan dengan fungsi kawasan maka dilaksanakan Penyelengaraan
Penatagunaan Tanah

meliputi : inventarisasi, penetapan perimbangan antara

ketersediaan dan kebutuhan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah


menurut fungsi kawasan, yang disusun dalam bentuk Neraca Penatagunaan Tanah
(NPGT) dan penetapan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah dengan rencana tata ruang wilayah.
Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah merupakan bagian dari upaya
untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, khususnya dalam rangka pengaturan dan
penataan penggunaan tanah serta menciptakan efisiensi penggunaan tanah yang
lebih berkeadilan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Neraca Penatagunaan Tanah adalah perimbangan antara ketersediaan tanah
menurut kenyataan penguasaan (subyek tanah) dan penggunaannnya (obyek tanah) saat
sekarang dengan dengan rencana kebutuhan tanah di masa depan menurut fungsi

kawasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).


D. Saran
Untuk penggunaan tanah yang telah sesuai peruntukannya berdasarkan
RTRW yang ada dan telah dilekati Hak atas tanah yang diakui dalam UUPA, agar
terus ditingkatkan pemanfaatannya sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat
dan pengembangan daerah dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Neraca Penatagunaan Tanah memiliki peran yang lebih besar dalam
penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah. Permasalahan tata ruang tidak hanya
semata menyangkut pola penggunaan dan pemanfaatan tanah namun juga terkait
erat dengan status penguasaan dan kepemilikan tanah dimana hal ini merupakan
domain BPN. Penataan Ruang Wilayah yang ideal selain mengatur pola
pemanfaatan ruang dan penggunaan tanah dengan baik, juga harus dapat
memberikan kepastian hukum terkait status penguasaan dan kepemilikan tanah itu
sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, dkk, 2008, Jurnal Pembangunan dan Wilayah & Kota, Planogi Undip,
Semarang.
Arsyad, Sitanala, 1989, Konservasi Tanah Dan Air, Institut Pertanian Bogor :
Bogor.
Chapin, F.Stuart Jr and Edward J. Kaiser, 1979, Urban Land Use Planning,
University of Illinois Press : London.
Dilang, Merisa, 2008, Implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW): Studi
Kasus Indikasi Program Pembangunan Kutai Barat Provinsi Kalimantan
Timur, Tesis tidak diterbitkan, Program Studi Magister Perencanaan Kota
dan Daerah, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono, 1999, Tanah Dan Lingkungan, Direktorat Jenderal
Pendidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
Restina, N. 2009, Evaluasi Penggunaan lahan Eksisting dan Arahan Penyusunan
Rencana Tata Ruang Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, Tesis tidak
diterbitkan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rustiadi, dkk, 2009. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Yayasan Obor
Indonesia : Jakarta.
Suharyono, 2000, Kesesuaian Penggunaan Lahan Terhadap Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan : Studi Kasus Kawasan Sekitar Ring Road Desa
Maguwoharjo Yogyakarta, Tesis tidak diterbitkan. Program Studi

Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada,


Yogyakarta.
Tata Cara Kerja Penyusunan Neraca Penagunaan Tanah (edisi revisi), Direktorat
Penatagunaan Tanah BPN RI, 2015.