Anda di halaman 1dari 8

SIFAT BIOLOGI DAN FISIOLOGI

TANAMAN JAGUNG

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengetahuan Bahan Hasil Pertanian
Dosen Mata Kuliah :
Darti Nurani, Ir.

DISUSUN OLEH :

SOLIDA SEPASTIKA (1321625017)


WALINTINA TIRESKOWA (1321520019)

Jalan Raya Puspiptek


Kota Tangerang Selatan
Banten 15314
PENDAHULUAN

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman serelia yang tumbuh hampir di
seluruh dunia dan tergolong spesies dengan variabelitas genetik yang besar dan dapat
menghasilkan genotip baru yang dapat beradaptasi terhadap berbagai karakteristik lingkungan.
Jagung merupakan sumber karbohidrat selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat
utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan . Selain
sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun
tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah
tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya).
Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung
yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Oleh
karena sifatnya yang unik serta dapat tumbuh hampir diseluruh negara maka kami memilih
jagung sebagai judul makalah kami agar lebih memahami baik sifat secara fisik, kimia dan
biologis dari jagung.

DASAR TEORI

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal
jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di
daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador)
sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun
yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan
keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya,
yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari
subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk
menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses
domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat
hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun
kultivar.(wikipedia,2010).
Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga merupakan sumber proteinyang penting
dalam menu masyarakat Indonesia. Kandungan gizi utama jagung adalah pati (72-73%), dengan
nisbah amilosa dan amilopektin 25-30% : 70-75%, namun pada jagung pulut (waxy maize) 0-7%
: 93-100%. Kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berkisar antara 1-3%.
Protein jagung (8-11%) terdiri atas lima fraksi, yaitu: albumin, globulin, prolamin, glutelin, dan
nitrogen nonprotein. Perbedaan quality protein maize (QPM) dengan jagung biasa terletak pada
proporsi fraksi proteinnya. Fraksi globulin (merupakan zein II) pada jagung biasa (31%) jauh
lebih tinggi dibanding QPM (6%). Zein miskin akan lisin dan triptofan, yang merupakan asam
amino pembatas pada jagung. (Mertz 1972).
Oleh karena itu, mutu protein QPM (82%) jauh lebih tinggi dibanding dengan jagung
biasa (32%), bahkan lebih tinggi dari mutu protein beras (79%) dan gandum (39%). Varietas
Srikandi Putih dan Srikandi Kuning adalah jagung QPM unggul, baik untuk pangan maupun
pakan. Asam lemak pada jagung meliputi asam lemak jenuh (palmitat dan stearat) serta asam
lemak tidak jenuh, yaitu oleat (omega 9) dan linoleat (omega-6). Pada QPM terkandung linolenat
(omega-3). Linoleat dan linolenat merupakan asam lemak esensial. Lemak jagung terkonsentrasi
pada lembaga, sehingga dari sudut pandang gizi dan sifat fungsionalnya, jagung utuh lebih baik
daripada jagung yang lembaganya telah dihilangkan. Vitamin A atau karotenoid dan vitamin E
terdapat dalam komoditas ini, terutama pada jagung kuning. Selain fungsinya sebagai zat gizi

mikro, vitamin tersebut berperan sebagai antioksidan alami yang dapat meningkatkan imunitas
tubuh dan menghambat kerusakan degeneratif sel. Jagung juga mengandung berbagai mineral
esensial, seperti K, Na, P, Ca, dan Fe. Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap komposisi
kimia dan sifat fungsional. Data karakteristik terinci gizi varietas jagung Indonesia masih sangat
terbatas. Hal ini perlu diperhatikan oleh para peneliti jagung, praktisi industri pangan, dan
pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mengangkat jagung tidak hanya dari segi produksi
tetapi juga mutu gizi dan pemanfaatannya. (Inglett 1987).

ISI

A. SIFAT FISIK JAGUNG


Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam
80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua
untuk tahap pertumbuhan generative.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya
berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi
tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun
beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak
memiliki kemampuan ini. Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam
pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik. Akar jagung
tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada
pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku
batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak
seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman
berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku.
Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai
daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin
dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia
Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting
dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu
tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae,
yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma).
Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk
sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh
dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat
menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa
varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai

varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini
daripada bunga betinanya (protandri).
Keanekaragaman Jagung yang dibudidayakan memiliki sifat bulir/biji yang bermacammacam. Di dunia terdapat enam kelompok kultivar jagung yang dikenal hingga sekarang,
berdasarkan karakteristik endosperma yang membentuk bulirnya:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Indentata (Dent, "gigi-kuda")


Indurata (Flint, "mutiara")
Saccharata (Sweet, "manis")
Everta (Popcorn, "berondong")
Amylacea (Flour corn, "tepung")
Glutinosa (Sticky corn, "ketan")
Tunicata (Podcorn, merupakan kultivar yang paling primitif dan anggota subspesies yang
berbeda dari jagung budidaya lainnya)

Dipandang dari bagaimana suatu kultivar ("varietas") jagung dibuat dikenal berbagai tipe
kultivar:
1. galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur terpilih
2. komposit, dibuat dari campuran beberapa populasi jagung unggul yang diseleksi untuk
keseragaman dan sifat-sifat unggul
3. sintetik, dibuat dari gabungan beberapa galur jagung yang memiliki keunggulan umum
(daya gabung umum) dan seragam
4. hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan dua, tiga, atau empat galur
yang diketahui menghasilkan efek heterosis.
Warna bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan terluarnya (aleuron), mulai
dari putih, kuning, jingga, merah cerah, merah darah, ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol
jagung dapat memiliki bermacam-macam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap bulir
terbentuk dari penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda.

B. SIFAT BIOLOGI
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal
jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di
daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador)

sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun
yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan
keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya,
yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari
subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk
menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses
domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat
hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun
kultivar.
Selain itu jagung merupakan bahan hasil pertanian yang bersifat non klimaterik karena pada
jagung tidak mempunyai perubahan sifat seperti halnya buah klimaterik. Selain itu jagung than
lama dalam penyimpanan karena jagung mempunyai lapisan yang menghambat laju repirasinya
yaitu lapisan perikrap. Selain dilapisi jagung juga memiliki kadar air yang rendah sehingga
menambah keawetannya.
Pemanfaatan jagung
Jagung saat ini telah diolah dalam berbagai olahan baik dalam bentuk olahan dari tepung
jagung, pati jagung, lemak jagung, dan gula jagung. Berbagai produk olahan dari jagung dapat
ditemui di tempat penjualan bahan pangan, bahkan saat ini olahan jagung semakin bervariasi
sampai makanan ringan yang menggunakan bahan baku dari jagung.
Berikut hasil dari olahan jagung : Minyak jagung, Gula jagung, Tepung jagung, Pati jagung,
Makanan ringan, Susu jagung, Kue dari bahan dasar jagung dan masih banyak lagi bahan pangan
yang dapat dibuat dari bahan dasar jagung. karena manfaatnya yang baik bagi kesehatan maka
jagung menjadi bahan baku yang baik untuk dikonsumsi.

KESIMPULAN
1.

Jagung merupakan pangan fungsional.

2.

Jagung merupakan buah non klimaterik.

3.

Jagung memiliki kandungan/zat yang diperlukan tubuh.

4.

Jagung merupakan bahan yang baik sebagai olahan panganan.

DAFTAR PUSTAKA

Inglett, G. E. 1987. Kernel, Structure, Composition and Quality. Ed. Corn: Culture.
Processing and Products. Avi Publishing Company, Westport.

Merts. 1972. Recent improvement in corn protein. In: G.E. Inglett. (Ed.). Symposium Seed
Protein. The AVI Publ. Co. Inc. New York.

Wilson, C.M. 1981. Variations in soluble endosperm proteins of corn (Zea

mays L.) in breeds as detected by disc gel electrophoresis Cereal


Chem. 58(5):401-408.