Anda di halaman 1dari 25

BAB VIII

ANALISA KIMIA AIR FORMASI

8.1. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui pengertian dari air formasi.


2. Untuk mengetahui sifat-sifat air formasi
3. Untuk mengetahui kegunaan dari air formasi
4. Untuk mengetahui kesulitan yang ditumbulkan air formasi
5. Untuk mengetahui factor-faktor yang berpengaruh dalam
penentuan tingkat pengendapan & pelarutan.

8.2. Dasar Teori


Air formasi atau disebut connate water mempunyai komposisi kimia
yang berbeda-beda antara reservoir yang satu dengan yang lainnya. Oleh
karena itu, analisa kimia pada air formasi perlu dilakukan untuk
mengetahui sifat-sifatnya. Dibandingkan dengan air laut, air formasi ini
rata-rata memiliki kadar garam yang lebih tinggi, sehingga studi mengenai
ion-ion air formasi dan sifat-sifat fisiknya ini menjadi penting artinya
karena kedua hal tersebut sangat berhubungan dengan terjadinya
penyumbatan pada formasi dan korosi pada peralatan di bawah dan di atas
permukaan.
Air formasi tersebut terdiri dari bahan-bahan mineral, misalnya
kombinasi metal-metal alkali dan alkali tanah, belerang, oksida besi dan
alumunium serta bahan-bahan organis seperti asam nafta dan asam gemuk.
Komposisi ion-ion penyusun air formasi terdiri dari anion-anion dan
kation-kation.
Kation-kation yang terkandung dalam air formasi dapat
dikelompokkan sebagai berikut :

66
67

1. Alkali : K+, Na+ dan Li+ yang membentuk basa kuat


68

2. Metal alkali tanah : Br++, Mg++, Ca++, Sr++, Ba++ membentuk basa
lemah
3. Ion Hidrogen : OH+
4. Metal berat : Fe++ dan Mn++

Sedangkan anion-anion yang terkandung dalam air formasi adalah


sebagai berikut :
1. Asam kuat : Cl-, SO4-, NO3-
2. Asam lemah : CO3-, HCO3-, S-
Ion-ion tersebut di atas akan bergabung berdasarkan empat sifat, yaitu :
1. Salinitas primer, yaitu bila alkali bereaksi dengan asam kuat, misalnya
NaCl dan Na2SO4
2. Salinitas sekunder, yaitu bila alkali tanah bereaksi dengan asam kuat,
misalnya CaCl2, MgCl2, CaSO4,MgSO4.
3. Alkalinitas primer, yaitu apabila alkali bereaksi dengan asam lemah,
seperti Na2CO3 dan Na(HCO3)2
4. Alkalinitas sekunder, yaitu apabila alkali tanah bereaksi dengan asam
lemah, seperti CaCO3, MgCO3, Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2

Air formasi merupakan faktor utama yang berkaitan dengan


pembentukan scale. Scale merupakan endapan kristal yang menempel
pada matrik batuan maupun pada dinding-dinding pipa dan peralatan di
permukaan, seperti halnya endapan yang sering kita jumpai pada panci
ataupun ketel untuk memasak air. Adanya endapan scale akan berpengaruh
terhadap penurunan laju produksi produksi. Bisa juga disederhanakan,
scale adalah hasil kristalisasi dan pengendapan mineral dari air formasi
yang terproduksi bersama minyak dan gas
Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat
dengan air formasi, dimana scale mulai terbentuk setelah air formasi ikut
terproduksi ke permukaan. Selain itu jenis scale yang terbentuk juga
tergantung dari komposisi komponen-komponen penyusun air formasi.
Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale berhubungan
dengan kelarutan masing-masing komponen dalam air formasi. Sedangkan
kecepatan pembentukan scale dipengaruhi oleh kondisi sistem formasi,
69

terutama tekanan dan temperatur. Perubahan kondisi sistem juga akan


berpengaruh terhadap kelarutan komponen.
Air formasi biasanya disebut dengan oil field water atau connate
water intertial water adalah air yang diproduksikan ikut bersama-sama
dengan minyak dan gas. Air ini biasanya mengandung bermacam-macam
garam dan asam, terutama NaCl sehingga merupakan air yang asam
bahkan asam sekali.
Air formasi hampir selalu ditemukan di dalam reservoir hidrokarbon
karena memang didalam suatu akumulasi minyak, air selalu menempati
sebagian dari suatu reservoir, minimal 10% dan maksimal 100% dari
keseluruhan pori.
Untuk menganalisa air formasi secara tepat, dipakai klasifikasi air
formasi yang digambarkan, secara grafis hal ini dimaksudkan untuk
mengidentifikasi sifat air formasi dengan cara yang paling sederhana tetapi
dapat dipertanggungjawabkan, hanya kelemahannya tergantung pada
spesifikasinya.
Pengambilan sample air formasi dilakukan di kepala sumur dan atau di
separator dengan menggunakan penampung bertutup terbuat dari kaca atau
plastic agar tidak terjadi kontaminasi dan hilangnya ion Hidrogen karena
akan mempengaruhi kebasahan sample.
Percobaan yang dilakukan adalah dengan menentukan pH, Alkalinitas,
penentuan kandungan kalsium, Magnesium, Barium, Sulfat, Ferro,
Klorida, Sodium dan perhitungan indeks stabilitas kalsium karbonat
( CaCO3).
1. Penentuan Kalsium dan Magnesium
Untuk kandungan Ca dan Mg perlu terlebih dahulu ditentukan
kesadahan totalnya.

2. Penentuan Alkalinitas
Alakalinitas dari suatu cairan biasa dilaporkan sebagai CO 3-, HCO3-
dan OH-, yaitu dengan menitrasi air sample dengan larutan asam yang
70

lemah dan larutan indicator. larutan penunjuk (indicator) yang


digunakan dalam penentuan kebasahan CO3- dan OH- adalah
Phenolphtelein (PP), sedangkan Methyl Orange (MO) digunakan
sebagai indicator dalam penentuan HCO3-.
3. Penentuan Klorida
Unsur ion baku ditentukan dalam air formasi ialah Cl, yang
konsentrasinya lemah sampai pekat. Metode mohr selalu digunakan
dalam penentuan kadar klorit, tanpa perbaikan nilai pH. Cara
pengujian dapat ditentukan untuk fluida yang bernilai pH antara 6
sampai 8.5 dan hanya ion SO yang sering mengganggu. gangguan
dapat diketahui dari warna etelah titrasi dengan larutan AgNO 3 warna
abu-abu sampai hitam. Bila hal ini dapat diketahui sebelumnya, ion ini
dapat dihilangkan dengan cara mengasamkan contoh air yang akan
diperiksa dengan larutan asam senyawa (HNO) dan dimasak selama 10
menit. setelah didinginkan, naikan pH samapi 6 hingga 8.5 dengan
NHOH., larutan buffer kesadahan total atau larutan buffer Calver, dan
tidak sekali-sekali mengurangi pH dengan HCL.
4. Penentuan Sodium
Sodium tidak ditentukan dilapangan, karena nilai sodium tidak
dapat dianggap nilai yang nyata atau absolut. Perhitungannya ialah
dengan pengurangan jumlah anion dengan jumlah kation dengan me/L
kesadahan total tidak dimasukkan dalam jumlah perhitungan ini.Air
formasi selain berasal dari lapisan lain yang masuk kedalam lapisan
produktivitasnya yang disebabkan oleh :
1. Penyemenan yang kurang baik
2. Kebocoran casing yang disebabkan oleh:

1. Korosi pada casing.


2. Sambungan kuran dapat.
3. Pengaruh gaya tektonik (patahan).
Pengambilan contoh air formasi sebaiknya dari kepala sumur dan
atau separator dengan pipa plastic lentur jangan dari bahan tembaga
71

(Cu) karena mudah larut. Peralatan harus bersih dari bekas noda dan di
cuci alirkan dengan air formasi yang akan diambil.
Alkalinitas CO3, HCO3, dan OH harus ditentukan ditempat
pengambilan contoh, karena ion-ion ini tidak stabil seiring dengan
waktu dan suhu. Untuk itu pH perlu diturunkan sampai 1 dengan asam
garam. Penentuan kadar barium harus dilkukan segera setelah contoh
diterima, karena unsur BaSO4 terbatas kelarutannya, karena barium
bereaksi dengan cepat terhadap SO4 sehingga akan mengurangi
konsentrasi barium dan akan menimbulkan kesalahan dalam penelitian.
Selain dengan barium,SO4 juga cepat bereaksi dengan kalsium menjadi
CaSO4 pada saat suhu turun.
Untuk mengetahui air formasi secara cepat dan praktis digunakan
sisem klasifikasi dari air formasi, hal ini dapat memudahkan
pengerjaan pengidentifikasian sifat-sifat air formasi. Dimana kita dapat
memplot hasil analisa air formasi tersebut, hal ini memudahkan kita
dalam korelasi terhadap lapisan lapisan batuan dari sumur secara
tepat.

Beberapa kegunaan yang paling penting dari analisa air formasi ini
adalah:
1. Untuk korelasi lapisan batuan
2. Menentukan kebocoran casing
3. Menentukan kualitas sumber air untuk proses water flooding

Identifikasi kecenderungan pembentukan scale juga dapat


dilakukan secara matematik dengan menghitung besarnya harga
kecenderungan pembentukan scale (scale tendency). Metode yang
digunakan berbeda-beda untuk tiap jenis scale. Untuk memperkirakan
kecenderungan pembentukan scale kalsium karbonat dapat dilakukan
dengan menggunakan metode Langelier, Ryznar, Stiff-Davis, serta
metode Oddo-Tompson. Sedangkan perkiraan kecenderungan
72

terbentuknya scale kalsium sulfat dilakukan dengan menggunakan


metode Case dan metode Skillman-McDonald-Stiff. Metode-metode
tersebut diatas mempunyai keterbatasan-keterbatasan dan keakuratan
hasilnya tergantung pada data analisa air yang representatif untuk tiap
kondisi yang dianalisa.
Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan
penggunaan metode perhitungan kelarutan antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Metode Langelier hanya diperuntukkan untuk air tawar dan tidak
dapat digunakan pada analisa air formasi, sehingga membutuhkan
perhitungan konversi untuk digunakan pada air formasi.
2. Metode Stiff and Davis merupakan modifikasi dari metode
Langelier, dan dapat digunakan untuk menganalisa air formasi,
tetapi hanya pada kondisi tertentu, sehingga untuk menganalisa
pada kondisi reservoir diperlukan perhitungan ekstrapolasi.
3. Perhitungan kecenderungan pembentukan scale kalsium sulfat
dengan menggunakan metode Skillman-McDonald-Stiff, hanya
dapat digunakan pada air formasi dengan kandungan total padatan
(total dissolved solids, TDS) kurang dari 150.000 mg/lt, sehingga
untuk air formasi dengan TDS lebih besar dari batas tersebut harus
ditentukan dengan ekstrapolasi.

Identifikasi terhadap mekanisme dan kondisi pembentukan, lokasi


terbentuknya scale serta komposisi endapan yang terbentuk merupakan
langkah awal dalam perencanaan program penanganan, baik
pencegahan maupun penanggulangan yang effektif.
Hasil Perhitungan SI digunakan untuk identifikasi terbentuknya
Scale dengan kriteria :
1. Jika SI negatif berarti air tidak di jenuhi CaCO 3 atau kelarutan
yang dihasilkan lebih besar dari padatan yang dilarutkan,pada
konsentrasi ini cenderung terbentuk scale dan air tersebut bersifat
korosif.
73

2. Jika SI positip berarti air di jenuhi CaCO3 sehingga cenderung


terbentuk scale.
3. Jika harga SI = O , berarti air berada dalam kondisi jenuh

Pencegahan dan Penanggulangan Scale :


1. Pencegahan terbentuknya scale adalah usaha yang preventif yang
dilakukan sebelum terbentuk endapan scale
2. Apabila endapan scale telah terbentuk maka harus ditanggulangi
untuk menghilangkan scale yang telah terbentuk tersebut.
Penanggulangan endapan scale ini dapat dilakukan secara
mekanik, kimiawi ataupun secara kombinasi antara mekanik dan
kimia.

Mengatasi Endapan Scale :


1. Menghilangkan Scale di Pipa-Pipa
Dengan kombinasi penggunaan zat kimia dan line Scrapper atau
line pigging
2. Menghilangkan Scale Di dalam Sumur dan Formasi
1. Pembersihan scale pada tubing dan perforasi
2. Pembersihan scale dari ruang pori dan rekahan (Well
Stimulation) dengan cara menginjeksikan asam kedalam
formasi produktif.
Ada 3 metode pengasaman meliputi :
1. Matrix Acidizing.
2. Acid Fracturing.
3. Acid Washing.

8.3. Peralatan dan Bahan


8.3.1. Peralatan
1. Statis dan Buret titrasi
2. Labu ukur
3. pH paper strip
4. Alat ukur elektrolit
5. Pipet
8.3.2. Bahan
74

1. Sampel air formasi


2. Larutan buffer
3. Larutan indicator
4. Larutan H2SO4
5. Larutan AgNO3

Gambar 8.1. Statis dan Buret Titrasi

Gambar 8.2. Labu Ukur

Gambar 8.3. pH paper strip


75

Gambar 8.4. Pipet tetes

Gambar 8.5. Pipet Ukur

8.4. Prosedur Percobaan


8.4.1. Penentuan pH (Elektrolit)
1. Dengan menggunakan pH paper strip dapat langsung menentukan
harga pH dari sample setelah mencocokkan warna pada standar pH
paper strip, maka diperlukan kejelian dalam memilih dan
mencocokkan warna dari paper strip.
2. Dengan alat ukur elektrolit, kalibrasi alat sebelum digunakan dengan
cara : isi botol dengan larutan Buffer yang telah diketahui harga pH-
nya, masukkan elektroda pada botol yang berisi larutan buffer. Putar
tombol kalibrasi sampai digit menunjukkan harga pH larutan buffer.
3. Cuci botol dan elektrodanya sebelum digunakan untuk menguji sample
dengan air destilasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

8.4.2. Penentuan Alkalinitas


1. Ambil contoh air pada gelas titrasi sebanyak 1 cc dan tambahkan
larutan PP (Phenolptalein) sebanyak 2 tetes.
76

2. Titrasi dengan larutan H2SO4 0,02 M sambil digoyang. Warna akan


berubah dari pink menjadi jernih. Catat jumlah larutan asam tersebut
sebagai Vp.
3. Tetesi lagi dengan 2 tetes MO (Metyl Orange), warna akan berubah
menjadi orange.
4. Titrasi lagi dengan H2SO4 0,02 M sampai warna menjadi merah/merah
muda. Catat banyaknya larutan asam total yaitu : jumlah asam (2) +
asam (4) sebagai Vm.

Perhitungan
Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air
Kebasahan M = Vm / banyaknya cc contoh air
Konsentrasi untuk setiap ion dalam mili ekivalen ( me/L ) dapat
ditentukan dari tabel berikut :

Tabel 8.1 Harga kebasahan setiap ion

HCO3 CO3 OH

P = 0 M 20 0 0
P = M 0 0 20 P
2P = M 0 40 P 0
2P < M 20 ( M 2P ) 40 P 0
2P > M 0 40 ( M P ) 20 ( 2P M )

8.4.3. Penentuan Kalsium


1. Ambil 20 ml air suling, tambah 2 tetes larutan buffer calver dan 1
tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi cerah. Bila
warnanya kemerahan, titrasi dengan larutan kesadahan total sampai
warna kemerahan hilang.
77

2. Tambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca, warna larutan berubah
menjadi kemerahan.
3. Titer dengan larutan titrasi kesadahan total ( 1 ml = 20 epm ) sambil
digoyang sehingga warna berubah menjadi biru cerah (jernih). Catat
volume titrasi.
Perhitungan
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
ml titer * 2
ml contoh air
Kalsium, me/L =
Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm
ml titer * 20
ml contoh air
Kalsium, me/L =
Konversi kadar Ca dalam mg/L = Ca, mg/L * 20

8.4.4. Penentuan Magnesium


Magnesium ditentukan dengan dua cara sebagai berikut :
Magnesium, me/L = ( kesadahan total, me/L ) ( kalsium, me.L )
Magnesium, me/L = Magnesium, me/L * 12,2

8.4.5. Penentuan Klorida


1. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes KCrO, warna akan
menjadi bening.
2. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g Cl sampai warna
coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi.
3. Jika menggunakan AgNO3 0,001 N :

ml titer * 1000
ml contoh air
Kadar Cl, mg/L =
Jika menggunakan AgNO3 0,01 N :
78

ml titer * 10000
ml contoh air
Kadar Cl, mg/L =

8.4.6. Penentuan Sodium


1. Mengkonversikan mg/L anion dengan me/L dan menjumlahkan
harganya.


Cl , mg / L SO4 , mg / L CO3 , mg / L HCO3 , mg / L
35.5 48 30 61
+ + + +

OH , mg / L
17

2. Mengkonversikan mg/L kation menjadi me/L dan menjumlahkan


harganya.

Ca , mg / L Mg , mg / L Fe , mg / L Ba , mg / L

20 12.2 18.6 68.7

3. Kadar sodium ( Na ), mg/L = ( anion kation ) 23

8.4.7. Grafik Hasil Analisa Air


Hasil analisa air sering dinyatakan dengan bentuk grafik. Kita dapat
menandai perbedaan dari contoh air dengan membandingkan dua macam
contoh air (atau lebih) dari grafik tersebut. Metode yang umum digunakan
adalah metode stiff. Metode ini dapat diplot secara logaritma atau normal
antara konsentrasi kation pada sisi kiri titik pusat dan konsentrasi anion
diplot pada sisi kanan pusat.
Contoh :

Tabel 8.2. Harga Konsentrasi Komponen

KONSENTRASI
KOMPONEN
Mg/L meL
79

Natrium 1794 78.04


Kalsium 39 1.95
Magnesium 19 1.65
Barium 0 0
Klorrida 1248 39.19
Sulfat 645 13.43
Karbonat 280 9.33
Bikarbonat 1440 23.80
Iron 13 0.23

8.4.8. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3


Air yang mengandung CO3 dalam bentuk apapun akan membentuk
kerak atau korosi , tergantung pH dan suhu . Hal ini dapat diketahui
dengan perhitungan indeks stabilitas air. CO3 yang terdapat didalam air
tersebut mungkin akan tersebut sebagai asam arang (H2CO3), bikarbonat
(HCO3), atau karbonat (CO3). Asam arang terdapat bila air tersebut terlalu
jenuh dengan CO3, bikarbonat terdapat bila nilai pH air pada range 4 - 8.3,
karbonat terdapat bila nilai pH air pada range 8.3 11. Rumus untuk
menghitung indeksstabilitas CaCO3 adalah:

SI = pH K pCa
Bila indeks berharga 0, berarti air tersebut secara kimiawi seimbang.
Bila indeks berharga positif, air tersebut mempunyai gejala membentuk
endapan. Bila indeks berharga negative, air tersebut bersifat korosif.
Nilai pH dan Konsentrasi ion Ca++, Mg++, Na++, CO-, SO4-, HCO3-
Dimana : pH = Nilai pH pada pengukuran contoh air
K = Tenaga ion (ditandai m) dan suhu
Tenaga ion ini terdapat pada grafik I. Jumlah tenaga ion didapat
dengan mengalikan factor tiap - tiap ion dengan konsentrasi dalam air
80

(dalam me/L atau mg/L) kemudian dijumlahkan dan K ditentukan dari


grafik II.
pCa = konversi ion Ca++ dalam mg/L, lihat grafik II
pAlk = konversi ion HCO3- dalam mg/L, lihat grafik II
Setelah selesai perhitungan dapat digambarkan suatu kurva indeks
stabilitas terhadap suhu agar diperhatikan gejala relative pada air dari segi
segi sistemnya.

Contoh permasalahan :
Hitung indeks stabilitas air pada suhu 50, 77, 177, dan 158 oF dengan air
pH = 6.9

Tabel 8.3. Indeks Stabilitas

ION me/L mg/L

Ca++ 12.0 240 Dengan


Mg++ 20.4 249 menggunakan
factor- Na++ 295.5 6769 factor yang
terdapat Cl- 253.5 9000 pada grafik I,
jumlah SO4- 41.7 2000 tenaga ion
dapat HCO3- 13.8 841 dihitung
sebagai berikut:
Tabel 8.4. Perhitungan Tenaga Ion

ION ( me/L ) *factor = ...me/L


Ca++ 12.0 * 5 x 10-5 = 0.1476
Mg++ 20.4 * 1 x 10-3 = 0.012
Na++ 295.5 * 1 x 10-3 = 0.0204
Cl- 253.5 * 5 x 10-5 = 0.1268
SO4- 41.7 * 1 x 10-5 = 0.0417
HCO3- 13.8 * 5 x 10-5 = 0.0069
Jumlah tenaga ion = 0.3554
81

Setelah menggunakan ion dari air dapat dihitung, tentukan nilai L dari
grafik I dimulai dari bawah grafik jumlah tenaga ion (), ikuti garis tegak
lurus hingga bertemu dengan kurva suhu, kemudian baca nilai K ke sisi
kiri.

Tabel 8.5. Harga Faktor K dan Suhu

Suhu Factor K
50 oF 2.9
77 oF 2.65
122 oF 2.15
156 oF 1.5

Grafik II digunakan untuk menentukan nilai pCa dan pAlk. Tentukan


titik konsentrasi Ca++ pada nilai sebelah kiri grafik, tarik garis lurus hingga
bertemu pada kurva kiri. Ikuti garis kebawah untuk menentukan nilai pCa.
Cara yang sama untuk konsentrasi HCO3- dengan kurva kekanan dan ke
bawah untuk pAlk. Setelah didapat harga pCa dan pAlk, maka hitung
indeks stabilitas dengan rumus pAlk

Indeks Stabilitas = pH K pCa pAlk

SI/50 oF = 6.9 2.90 -2.2 -1.85 = -0.05


SI/77 oF = 6.9 2.65 -2.2 -1.85 = 0.20
SI/50 oF = 6.9 2.15 -2.2 -1.85 = -0.70
SI/50 oF = 6.9 1.50 -2.2 -1.85 = 1.35

Kesimpulan :
1. Air tersebut bergejala scalling pada suhu 54 oF ke atas
2. Air tersebut bergejala corrosive pada suhu 54 oF ke bawah
82

8.5. Hasil Analisa dan Perhitungan


8.5.1 Hasil Analisa
Tabel 8.6. Tabulasi Konsentrasi Ion Anion dan Kation

Konsentrasi Anion Konsentrasi Kation


Anion BM Mg/L Me/ L(*) Kation BM Mg/L Me/L

Cl 35.5 24600 692,958 Ca++ 40 42 2,1

SO42 96 360 7,5 Mg++ 24 0 0

CO32 60 360 12 Fe++ 56 1300 46,429

HCO3 61 0 0 Ba++ 137 Negatif Negatif


OH 17 53 3,118 Na+ 23 Negatif Negatif
Anion 715,576 Kation 48,529

Konversi mg/L ke me/L = ((mg/L)* valensi/BM)


Kadar Sodium ( Na+ ) = Anion Kation
= ( 715,576 48,529 ) Me/l
= 667,047 Me/l

Grafik 8.1. Diagram Stiff Davis

Tabel 8.7. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3

Ion Konsentras Faktor Koreksi Ion strength


i Me/L x Koreksi
83

Me/L Me/L

Cl 692,958 6 104 0,416
SO42- 7,5 1 103 0,0075
CO32- 12 1,5 103 0,018
HCO3- 0 5 103 0
Ca2+ 2,1 2 103 0,0042
Mg2+ 0 1 103 0
Fe3+ 46,429 1,5 103 0,0696
Ba2+ Negative Negatif Negatif
Na+ 667,047 2 104 0,133
molar Ionic Strength 0,648
84

Grafik 8.2. Penentuan harga k pada CaCO3


85

Grafik 8.3. Penentuan harga pCa dan pAlk


86

Dari grafik diperoleh:


Tenaga ion keseluruhan ( k, dari grafik 8.1. ) pada suhu:
Pada temperatur 0 C = 3,64
Pada temperatur 20 C = 3,38
Pada temperatur 40 C = 2,875
Pada temperatur 60 C = 2,38
Pada temperatur 80 C = 1,68
Pada temperatur 100 C = 0,875

Harga pCa = 3,0 ( dari grafik 8.3.) pAlk = 3,2 ( dari grafik
8.3 )
Harga indeks stabilitas CaCO3 (SI) = pH K pCa palk

8.5.2 Perhitungan
Konversi Satuan
1. Cl -elektron valensi = 1
24600 x 1
35.5
Konversi mg/L ke me/L = = 692,958 me/L
2. SO4 2-elektron valensi = 2
360x 2
96
Konversi mg/L ke me/L = = 7,5 me/L
3. CO3 2- elektron valensi = 2
360 x 2
60
Konversi mg/L ke me/L = = 12 me/L
4. HCO3 -elektron valensi = 1
0 x1
61
Konversi mg/L ke me/L = = 0 me/L
5. OH -elektron valensi = 1
87

53 x 1
17
Konversi mg/L ke me/L = = 3,118 me/L
6. Ca 2+ elektron valensi = 2
42 x 2
40
Konversi mg/L ke me/L = = 2,1 me/L
7. Mg 2+ elektron valensi = 2
0x2
24
Konversi mg/L ke me/L = = 0 me/L
8. Fe 2+ elektron valensi = 2
1300 x 2
56
Konversi mg/L ke me/L = = 35,714 me/L

Ion Strength
1. Cl- = 692,958 x 6 x 10-4 = 0,416
2. SO42- = 7,5 x 1 x 10-3 = 0,0075
3. CO32- = 12 x 1,5 x 10-3 = 0,018
4. HCO3- = 0 x 5 x 10-3 = 0
5. Ca2+ = 2,1 x 2 x 10-3 = 0,0042
6. Mg2+ = 0 x 1 x 10-3 = 0
7. Fe2+ = 46,429 x 1,5 x 10-3 = 0,0696
8. Ba2+ = negatif
9. Na+ = 667,047 x 2 x 10-4 = 0,133

Nilai SI
1. SI0 oC = 8 3,64 3,0 3,2 = -1,84
2. SI 20 oC = 8 3,38 3,0 3,2 = -1,58
3. SI 40 oC = 8 2,875 3,0 3,2 = -1,075
4. SI 60 oC = 8 2,38 3,0 3,2 = -0,58
5. SI 80 oC = 8 1,68 3,0 3,2 = 0,12
6. SI 100 oC = 8 0,875 3,0 3,2 = 0,925
88

Tabel 8.8. Harga Indeks Stabilitas

Temperatur ( oC ) pH K P Ca p Alk SI Sifat 8.6. Pem


0 8 3,64 3 3,2 -1,84 Asam bah

20 8 3,38 3 3,2 -1,58 Asam asan

40 8 2,875 3 3,2 -1,075 Asam


60 8 2,38 3 3,2 -0,58 Asam
80 8 1,68 3 3,2 0,12 Basa
100 8 0,875 3 3,2 0,925 Basa

Pengambilan sample air formasi dilakukan di kepala sumur dan / atau


di separator dengan menggunakan penampung bertutup terbuat dari kaca
atau plastik agar tidak terjadi kontaminasi dan hilangnya ion Hidrogen
karena akan mempengaruhi kebasahan sample. SI (Stabilitas Indeks)
didapatkan dari beberapa data yaitu: temperatur, pH, K (tenaga ion
keseluruhan), pAlk, dan pCa. Air formasi hampir selalu ditemukan
didalam reservoir hidrokarbon karena memang didalam suatu akumulasi
minyak, air selalu menempati sebagian dari suatu reservoir, minimal 10%
dan maksimal 100% dari keseluruhan pori. Pada data yang telah diberikan,
diketahui bahwa pH = 8, pCa = 3,0, pAlkali = 3,2. Untuk nilai k (tenaga
ion keseluruhan) didapat dengan membaca grafik Ionic Strength (terlampir
dalam bagian lampiran). Setelah pembacaan grafik kita lakukan, barulah
kita bisa menentukan harga SI (Stabilitas Indeks) pada temperatur tertentu
dimana kita mendapatkan pembacaan nilai k (tenaga ion keseluruhan).
Dari data tabel 8.8 di atas, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik
menjadi grafik seperti di bawah ini :

Grafik 8.4. Stabilitas Indeks CaCO3 terhadap Temperatur ( oC )


89

Grafik Hubungan Indeks Solubilitas Vs Temperatur


100 100

80 80

60 60
Temperatur
40 40

20 20

0 0
-2 -1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5

Indeks Solubilitas

Dapat dilihat bahwa pada suhu 00C, 200C, 400C dan 600C stabilitas
CaCO3 berada pada angka negative yang berarti dalam keadaan asam dan
pada 800C dan 1000C stabilitas CaCO3 berada dalam keadaan basa.

Grafik 8.5 Harga K terhadap temperatur

Grafik Ion Keseluruhan K Vs Temperatur


100

80 80

60 60
Temperatur
40 40

20 20

0 0
1 2 3 4 5

Ion Keselurahan

Dari grafik di atas kita dapat mengetahui bahwa semakin rendah suhu maka nilai
90

K semakin besar. Dan dapat dikatakan bahwa hubungan suhu terhadap nilai K
adalah berbanding terbalik.

8.7. Kesimpulan

1. Air formasi adalah air yang ikut terproduksi bersama-sama minyak dan
gas
2. Sifat-sifat dari air formasi ada 2 yaitu : sifat fisik, dan sifat kimia. Sifat
fisik yang meliputi kompressibilitas kelarutan gas dalam air ,
viskositas air dalam formasi, berat jenis konduktivitas dan sifat kimia
yaitu anion dan kation
3. Untuk mengetahui penyebab korosi pada peralatan produksi suatu
sumur, untuk mengetahui adanya scale formation , untuk dapat
menentukan sifat lapisan dan adanya kandungan yodium & barium
yang cukup besar.
4. Adanya korosi, adanya solid deposit, adanya scale formation,adanya
emulsi,adanya kerusakan formasi
5. Faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan tingkat
pengendapan dan pelarutan dalam air formasi adalah PH, temperature,
serta total tenaga ion keseluruhan dari air formasi tersebut