Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar secara universal sangat berpengaruh
terhadap aspek pemahaman atau strukture kognisi. Dalam pengembangan teori
belajar kognitif adalah konstruktivistik. Selama kegiatan berlangsung peran
dari teori-teori pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil output suatu
pembelajaran. Berdasarkan teori-teori belajar inilah yang sangat mendominasi
dalam kegiatan belajar mengajar.
Semua teori dalam kegiatan pembelajaran merupakan hasil studi atau
penelitian serta pengamatan dalam kegiatan pendidikan. Semuanya memilik
pandangan yang spesifik tentang konsep belajar. Misal, Behavioristik secara
spesifik menyingkapi perilaku yang terjadi dalam kegiatan belajara mengajar.
Apakah perilaku tersebut merupakan gaya belajar atau merupakan respon yang
timbul karena adanya suatu rangsang (stimulus).
Konstruktivistik merupakan bagian dari teori belajar hasil
pengembangan dari teori kognitif. Dalam hal ini dapat di katakan bahwa
pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing merupakan kebutuhan saat ini.
Dalam kegiatan tersebut peran konstruktivisrik sangat penting. Dalam
mempelajari bahasa kedua, pembelajar bahasa menciptakan suatu sistem
bahasa baru yang digunakan untuk dirinya sendiri yang oleh para linguis
dinamakan sebagai interlanguage. Interlanguage tersebut menghasilkan suatu
variabilitas yang disebut interlanguage variability. Dalam makalah ini akan
dibahas lebih jauh tentang interlanguage dan variasinya dalam bahasa
pembelajar.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Batasan Antar Bahasa

B. Proses Antar Bahasa

C. Masalah Antar Bahasa

D. Varibilitas dalam Antar Bahasa

Walaupun menurut perspektif interlanguage melihat bahasa pembelajar


sebagai bahasa tersendiri, namun bahasa ini secara sistematis jauh berbeda dan
beragam dari bahasa yang digunakan native speaker. Seorang pembelajar akan
mengucapkan kalimat seperti I dont dalam satu konteks dan mengucapkan
kalimat me no dalam konteks lain. Fenomena ini disebut oleh Chomskyan
sebagai performance errors dan sama sekali tidak ada hubungannya secara
sistematis. Di sisi lain, pihak yang memandang fenomena ini dari segi
sosiolinguistik atau psikolinguistik melihat variabilitas ini sebagai ciri-ciri
istimewa dari bahasa pembelajar.
Teori tentang variasi dalam interlanguage memerankan peran penting
dalam penelitian pemerolehan bahasa kedua atau Second Language
Acquisition (SLA). Banyak peneliti berusaha untuk menjelaskan bagaimana
dan mengapa muncul beberapa variasi yang diperlihatkan para pembelajar
dalam perkembangan antar bahasa mereka. Variasi tersebut terkadang terlihat
dalam parameter norma-norma yang bisa diterima, dan terkadang tidak.
Gatbonton (1983) mengemukakan bahwa suatu variasi dalam bahasa
pembelajar bisa dijelaskan dengan penyebaran bertahap bentuk-bentuk
bahasa yang tidak tepat dalam tahap perkembangan muncul dan sistematis.
Bentuk-bentuk tidak tepat itu hidup berdampingan dengan bentuk-bentuk yang
tepat, lalu bentuk-bentuk tidak tepat itu dibuang.
Penelitian tentang variabilitas dalam bahasa pembelajar membedakan
antara variasi bebas (free variation) atau variasi non-sistematis, yang secara
sistematis tidak berhubungan dengan segi linguistik atau sosial, dan variasi
sistematis (systematic variation). Variasi bebas dalam penggunaan suatu
bahasa biasanya digunakan sebagai tanda bahwa bahasa tersebut belum
diperoleh sepenuhnya. Pembelajar masih berusaha untuk memahami aturan-
aturan dalam bahasa yang dipelajarinya. Tipe variabilitas seperti ini masih
banyak ditemukan di antara pembelajar pemula, dan tidak ditemukan di
kalangan mahir. Contoh dari variabilitas ini yaitu ketika native speaker dari
Indonesia, yang berada dalam pembicaraan berbahasa Inggris, mengucapkan
kata he dan she yang saling bertukar, padahal ia menunjuk pada perempuan.
Variasi sistematis muncul karena adanya pengaruh dari perubahan
dalam linguistik, psikologis, dan konteks sosial. Faktor linguistik terjadi
secara lokal. Misalnya, pengucapan suatu fonem yang sulit tergantung pada
apakah fonem tersebut ditemukan pada awal atau akhir silab.
Secara umum, variasi interlanguage dapat dijelaskan dengan mengacu
kepada faktor individual pembelajar, variasi performa dan faktor
kontekstual. Faktor individutermasuk umur, bakat, model kognitif, motivasi,
dan kepribadian. Dan untuk faktor kontekstual yaitu konteks situasional
dan konteks linguistik. Ellis (1985) mengemukakan perbedaan yang jelas
dari kedua konteks ini. Variasi bahasa pembelajar menurut konteks situasional
terjadi ketika pembelajar menggunakan pengetahuan mereka tentang bahasa
kedua (L2) secara berbeda dalam situasi yang berbeda. Contoh, ketika
pembelajar ditekan untuk berkomunikasi secara instan, ia tidak mempunyai
cukup waktu untuk memaksimalkan pengetahun mereka untuk berkomunikasi
sehingga kesalahan akan banyak muncul, namun kesalahan akan muncul
sedikit ketika ia berada dalam situasi yang memiliki cukup waktu untuk
menciptakan output secara hati-hati. Dan dalam konteks linguistik, variasi
terjadi ketika pembelajar membuat kesalahan dalam satu tipe kalimat tetapi
tidak dengan kalimat yang lain. Contoh, kesalahan dalam penggunaan orang
ketiga tunggal dalam bentuk simple present tense bahasa Inggris mungkin
tidak akan terjadi dalam kalimat tunggal, namun mungkin terjadi kesalahan
dalam kalimat kompleks atau majemuk.
Model variabilitas yang dikemukakan oleh Rod Ellis (1994, 1986)
yaitu model kompetensi variabel. Bertumpu pada karya Bialystok (1978), ia
membuat hipotesis tentang gudang kaidah-kaidah antarbahasa yang berubah-
ubah (h.269) tergantung pada seberapa otomatis kaidah-kaidah itu dan
bagaimana mereka dianalisis. Dia menarik garis pembeda tajam antara wacana
terencana dan wacana tak terencana untuk mengkaji variasi. Yang disebut
pertama menyiratkan kurangnya otomatisitas, dan karena itu mengharuskan
pembelajar mengandalkan kaidah-kaidah bahasanya sendiri. Yang belakangan
lebih otomatis, karena itu mendorong pembelajar untuk mempelajari
seperangkat kaidah lain.
Sedangkan Elaine Tarone memberikan model variabilitas yang ia sebut
sebagai paradigma kontinum kapabilitas. Ia memfokuskan perhatiannya
pada varibilitaskontekstual yang ia bagi ke dalam empat kategori:
1. Konteks linguistik (linguistic context)
2. Faktor-faktor pemrosesan psikologis (psychological processing factors)
3. Konteks sosial (social context)
4. Fungsi bahasa (language function)
Ia berusaha untuk menyelidiki bagaimana konteks linguistik dan
situasional dapat membantu dalam menggambarkan beberapa hal yang tidak
terjelaskan dalam variasi interlanguage. Crookes (1989) tertarik dengan
penelitian tentang variasi ini memberikan pendapatnya tentang pentingnya
hubungan variasi kontekstual dengan proses kognitif L2 pembelajar yang
mampu untuk memanipulasi atau berubah. Teori ini mungkin akan dapat
diaplikasikan langsung dalam situasi pembelajaran dan pengajaran.

E. Implikasi Pedagodis antar Bahasa


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Interlanguage merupakan sistem linguistik yang digunakan oleh
pembelajar bahasa kedua atau bahasa asing yang sedang dipelajari. Tiga faktor
utama yang mempengaruhi pembentukan interlanguage dalam diri pembelajar
yaitu transfer bahasa (language transfer), overgeneralisation, dan
penyederhanaan (simplification).
Variabilitas dalam bahasa pembelajar meliputi variabilitas
sistematis (variability systematic) dan variabilitas non-sistematis (non-
systematic variability). Yang termasuk dalam variabilitas sistematis yaitu
variabilitas induvidual (individual variability) dan variabilitas kontekstual
(contextual variability), variabilitas kontekstual itu sendiri terdiri dari konteks
lingistik (linguistic context) dan konteks situasional (situational context).
Sedangkan variabilitas non-sistematis terdiri dari variabilitas bebas (free
variability) dan variabilitas performa (performance variability).

DAFTAR PUSTAKA
Brown, Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran
Bahasa Edisi Kelima. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika
Serikat.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: UNY


Press.