Anda di halaman 1dari 32

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu imagining diagnostic (pencitraan


diagnostik) untuk pemeriksaan organ tubuh, dimana kita dapat mempelajari
bentuk, ukuran anatomis, gerakan, serta hubungan dengan jaringan sekitarnya 1.
The world health organization (WHO) mengakui bahwa ultrasonografi adalah
teknologi pencitraan diagnostik (imagining diagnostic) yang penting. Pedoman
untuk USG telah dipublikasikan oleh WHO sejak tahun 2001, dengan maksud
untuk memberi pedoman kesehatan internasional yang aman dan efektif untuk
menggunakan USG. Diantara teknologi pencitraan diagnostik, ultrasound adalah
yang teraman dan paling murah (tidak mahal), dan kemajuan teknologi yang
membuat lebih bersahabat dan mudah dibawa. USG memiliki banyak keguanaan,
baik untuk diagnostik maupun terapi. Yang dimaksud oleh buku pedoman,
diagnostik USG bisa jadi untuk pertimbangan dan untuk menganalisa2.

USG sering digunakan sebagai pemeriksaan penunjang untuk menegakkan


diagnosis pada organ tubuh dengan keadaan normal maupun dengan kelainan.
Misalnya, USG yang dilakukan pada kepala, tulang belakang, leher, kelenjar
tiroid, hepar, ginjal dan lain-lain. Dengan kata lain, USG merupakan alat praktis
dengan pemakaian klinis yang luas. USG dapat dilakukan dengan cara
membedakan apakah lesi di garis tengah daerah leher itu ekstra atau intra tiroid.
USG dengan lebih mudah apat menentukan apakah lesi di tiroid itu tunggal atau
lebih dari satu, hal ini cukup penting karena kecenderungan untuk keganasan
terdapat pada lesi-lesi tunggal1. USGjuga berguna pada kasus kasus tertentu
karena memungkinkan pembedaan nodul kistik (hampir selalu jinak) dari nodul
padat3. USG colli dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan kelainan tiroid
seperti hipertiroid, nodul tiroid soliter, adenoma folikular, karsinoma tiroid,

1
limfoma maligna, untuk memeriksa tumor jinak pada rongga mulut dan juga
penyakit ada kelenjar air liur.

Kelainan pada rongga mulut yang dapat dilihat dengan USG antara lain tumor
jinak rongga mulut, epulis, tiroid lidah, dan neoplasma jinak rongga mulut.
Banyak lesi yang ditemukan secara klinis pada rongga mulut sebagai suatu massa,
tetapi tidak semuanya neoplasma3. Tumor jinak atau neoplasma yang dapat di lihat
dengan pemeriksaan USG leher terdapat pula pada penyakit air liur, seperti
adenoma pleomorfik (tumor campuran), tumor warthin (adenolimfoma), dan
neoplasma ganas kelenjar air liur4.

National cancer cebter institute di amerika serikat, melaporkan, bahwa pada


tahun 1991 terdapat 6 juta penderita tumor ganas. Dari seluruh tumor ganas
tersebut, insidensi karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa adalah
600.000 penderita. Tercatat pula jumlah penderita tumor leher dan kepala
sebanyak 78.000 orang lebih dari 75% adalah karsinoma sel skuamosa. Dari
seluruh penderita tumor ganas yang tercatat pada tahun 1991 tersebut, 10%
penderita meinggal dunia dalam tahun pertama, diantaranya 3-4% adalah
penderita dengan keganasan pada leher- kepala. Pada januari 1997 dialporkan
bahwa kira-kira 33% penderita tumor ganas leher dan kepala telah meninggal
dunia. Secara keseluruhan, angka rata-rata bertahan hidup 5 tahun untuk tumor
ganas leher dan kepala berkisar sebanyak 50-60% untuk tumor primer saja dan
bertahan hidup 5 tahun sebanyak 30% pada penderita tumor primer yang
bermetastasis5.

Berdasarkan data riskesdas tahun 2007 dengan besar sampel Riskesdas 2007
adalah 986.532 orang. Dari sampel ini ditemukan 203 kasus (prevalensi 0,2)
dan diambil 812 orang kontrol (empat kali jumlah kasus) secara random dan di-
matching berdasarkan asal kabupaten kasus. Tumor ini tersebar di 28 provinsi
seperti terlihat pada grafik di bawah. Dari grafik ini terlihat bahwa prevalensi
tumor/kanker rongga mulut dan tenggorokan tertinggi terdapat di Provinsi Jawa
Tengah sebesar 14,3% , Provinsi Jawa Timur 9,4% dan Provinsi Nusa Tenggara

2
Timur 8,4%, namun ada beberapa provinsi yang tidak ditemukan kasus seperti
Provinsi Jambi, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua6.

Data rekam medis Divisi Ilmu Bedah RSU Dr. Soetomo tahun 2001-2005
struma nodusa toksik terjadi pada 495 orang diantaranya 60 orang laki-laki (12,12
%) dan 435 orang perempuan (87,8 %) dengan usia terbanyak yaitu 31-40 tahun
259 orang (52,3 2%), struma multinodusa toksik yang terjadi pada 1.912 orang
diantaranya17 orang laki-laki (8,9 %) dan 174 perempuan (91,1%) dengan usia
yang terbanyak pada usia 31-40 tahun berjumlah 65 orang (34,03 %)7.

Dari uraian di atas, maka penting untuk mengetahui gambaran pemeriksaan


USG colli (leher) dalam keadaan-keadaan patologis tersebut, agar dapat dideteksi
lebih dini dan ditangani lebih cepat agar tidak terjadi keadaan yang lebih buruk.
Penting juga untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura dilakukan, sebagai pemeriksaan penunjang pada kasus
kasus tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi radiologi RSUD


jayapura?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi radiologi


RSUD jayapura.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura berdasarkan usia.
b. Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura berdasarkan jenis kelamin.

3
c. Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura berdasarkan diagnosis klinis.
d. Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura berdasarkan hasil pemeriksaan.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Untuk Dinas Kesehatan

Sebagai bahan pertimbangan untuk dinas kesehatan agar dapat


merencanakan program sosialisasi terhadap masyarakat tentang radiologi
pemeriksaan USG colli, yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan
diagnosa pada keadaan fisiologis maupun patologis dari organ leher.

1.4.2 Untuk Instalasi Radiologi

Sebagai bahan masukan bahwa teknologi didunia kedokteran sudah


berkembang dan dapat membantu tugas dokter untuk lebih cepat menegakkan
diagnosis kelainan ataupun penyakit pasien.

1.4.3 Untuk Masyarakat

Untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa pemeriksaan USG colli,


dapat membantu menegakkan diagnosa pada keadaan fisiologis maupun patologis
dari organ leher.

1.4.4 Untuk Institusi Pendidikan

Sebagai bahan edukasi bagi mahasiswa kedokteran tentang pemeriksaan


USG colli, dan sebagai informasi untuk penelitian selanjutnya.

1.4.5 Untuk Peneliti

Untuk menambah kompetensi dan pengetahuan peneliti dalam membuat


penelitian lebih lanjut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

4
2.1 Definisi Ultrasonografi

Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu imagining diagnostic


(pencitraan diagnostik) untuk pemeriksaan alat-alat tubuh, dimana kita dapat
mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan, serta hubungan dengan
jaringan sekitarnya 1.

2.2 Prinsip Ultrasonografi

Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih tinggi daripada


kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak bisa
mendengarnya sama sekali. Suara yang dapat di dengar manusia mempunyai
frekuensi 20 20.000 Cpd (circles per detik = Hz). Pemeriksaan USG ini
menggunakan gelombang suara yang frekuensinya 1 10 MHz (1 10 juta
Hz). Gelombang suara frekuensi tinggi tersebut dihasilkan dari kristal kristal
yang terdapat dalam suatu alat yang disebut transduser. Peubahan bentuk
akibat gaya mekanis pada kristal, akan menimbulkan tegangan listrik.
Fenomena ini di sebut efek piezo-electric, yang merupakan dasar
perkembangan USG selanjutnya1. Pada pemeriksaan USG colli digunakan
gelombang suara yang frekuensinya 7,5 10 MHz.

Gambar 2.2 Transduser yang digunakan pada pemeriksaan USG leher.

5
2.3 Cara Kerja Alat Ultrasonografi

Ultrasonografi menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi, yang di


hasilkan oleh kristal piezo-elektrik pada transuder. Gelombang tersebut
berjalan melewati tubuh, dan dipantulkan kembali secara berfariasi,
tergantung pada jenis jaingan yang terkena gelombang 4. Gel ultrasound
menghubungkan transduser ultrasound dengan tubuh pasien secara akustik ;
gelombang ultrasound kemudian menyebar 8. Dengan transuder yag sama,
selain mengirimkan suara, juga menerima suara yang dipantulkan dan
mengubah sinyal menjadi arus listrik; kemudian diproses menjadi gambar
skala abu-abu.Citra yang bergerak didapatkan saat transuder digerakkan pada
tubuh (ultrasonografi waktu-sebenarnya [real time]). Potongan-potongan dapat
diperoleh pada setiap bidang dan kemudian ditampilkan pada monitor. Tulang
dan udara merupakan konduktor suara yang buruk, sehingga tidak dapat
divisualisasi dengan baik, sedangkan cairan memiliki kemampuan
menghantarkan suara dengan sangat baik4.

2.4 Anatomi Fisiologi Leher

Didalam leher terdapat pembuluh, saraf dan struktur lain yang


menghubungkan kepala, batang tubuh, dan ekstremitas. Didalam leher juga
terdapat kelenjar endokrin penting, seperti glandula thyroidea. Kerangka leher
dibentuk oleh vertebra cervicales dan kedua clavicula9.

2.4.1 Fascia Leher

Fascia sevicalis superficialis (L. Cervix, leher) biasanya berupa


selapis jaringan ikat subkutan yang tipis antara dermis kulit dan fascia

6
cervicalis profunda. Dalam lapis ini terdapat platysma, saraf-saraf kulit,
pembuluh darah dan limfe, dan sejumlah jaringan lemak yang banyaknya
berbeda-beda.

Fascia cervicalis profunda terdiri dari tiga lapis fasial: lapis


penyelubung, lapis pratrakeal, dan lapis pravertebral. Lapis-lapis fasial
(selubung-selubung ) ini membentuk garis-garis belah (bidang-bidang)
alami yang memungkinkan jaringan-jaringan dipisahkan secara tumpul
pada pembedahan, dan membatasi perluasan abses (timbunan nanah)
sebagai akibat infeksi. Fascia servicalis juga memberi kelicinan yang
memungkinkan bagian dalam leher bergerak dan saling menyilang tanpa
kesukaran, seperti sewaktu menelan dan memutar leher.

Lapis penyelubung fascia cervicalis meliputi struktur dalam leher.


Lapis ini terdapat antara fascia supervicialis dan otot-otot. Ke arah
superior lapis penyelubung ini melekat pada linea nuchalis siperior ossis
occipitalis, processus spinosi vertebrarum cervicalorum, processus
mastoideus kedua os temporale, arcus zygomaticus, tepi inferior
mandibula, Os hyoideum. Ke arah inferior, lapis penyelubung melekat
pada manubrium, kedua clavicula, acromion dan spina scapulae9.

7
Gambar 2.4.1 Fascia leher: potongan median melalui leher dan kepala dan
potongan melintang pada leher melalui glandula thyroidea.

2.4.2 Trigonum Cervicale

Musculus sternocleidomastoideus, patokan muskular terpenting,


membagi leher secara diagonal menjadi sebuah trigonum cervicale
anterius dan sebuah trigonum cervicale posterius.

Trigonum cervicale posterius mempunyai batas anterior yang


dibentuk oleh musculus trapezius, batas inferior yang dibentuk oleh bagian
sepertiga tengah clavicula, puncak yan terdapat pada pertemuan musculus
sternocleidomastoideus dan musculus trapezius pada linea nuchalis
superior ossis occipitalis, bagian atas dibentuk disebelah dalam oleh
lapisan penyelubung fascia cervicalis profunda, dan bagian bawah yang
dibentuk oleh otot-otot yang tertutup oleh fascia prevertebralis fasciae
cervicalis profundae.Trigonum cervicale posterior masih dapat dibedakan

8
menjadi sebuah trigonum supraclaviculare dan sebuah trigonum occipitsle
yang disahkan satu dari yang lain oleh venter inferior musculi omohyoidei.

Trigonum cervicale anteriormempunyai batas anterior yang


dibentuk oleh garis median leher, batas posterior yang dibentuk oleh
musculus sternocleidomastoideus, batas superior yang dibentuk oleh tepi
inferior mandibula, puncaknya terletak pada incisura jugularis di
mediastinum, dasarnya dibentuk oleh pharynx dan larynx, dan glandula
thyroidea. Pada trigonum cervicale anterius dapat dibedakan sebuah
trigonum submentale yang tunggal dan tiga pasang trigonum lain
(trigonum submandibulare, trigonum caroticum, dan trigonum musculare
[omotracheale]) yang dibatasi satu terhada yang lain oleh musculus
digastricus dan musculus omohyoideus9.

2.4.3 Struktur Leher Dalam

Struktur-struktur dalam yang terdapat dileher adalah vertebra, otot,


pembuluh darah, dan saraf. Otot-otot pravertebral dalam ke arah anterior
tertutu oleh lapisan pravertebral fascia cervicalis provunda. Otot-otot ini
mengfleksikan leher dan kepala terhadap leher9.

2.4.4 Pangkal Leher

Pangkal leher adalah daerah peralihan antara thorax dan leher.


Daerah ini beralih ke apertura thoracis superior yang dilalui oleh struktur
yang melintas dari kepala ke cavitas thoacis atau sebaliknya. Pangal leher
dibatasi ke lateral oleh sepasang costa I serta cartilago costalisnya, ke
anterior oleh manubrium, dan ke posterioroleh corpus vertebrae thoracicae
I 9.

9
2.5 Sistem Aliran Limfa Leher

Sistem aliran limfa leher penting untuk dipelajari, karena hampir semua
bentuk radang atau keganasan kepala dan leher akan terlihat dan
bermanifestasi ke kelenjar imfa leher. Sekitar 75 buah kelenjar limfa terdapat
pada setiap sisi leher, kebanyakan berada pada rangkainan jugularis interna
dan spinalis asesorius. Kelenjar limfa yang selalu terlibat dalam metastasis
tumor adalah kelenjar limfa pada rangkaian jugularis interna, yang terbentang
antara klavikulasampai dasar tengkorak. Rangkaian jugularis interna ini dibagi
dalam kelompok superior, media, dan inferior. Kelompok kelenjar limfa yang
lain adalah submental, submandibula, servikalis superfisial, retrofaring,
paratrakeal, spinalis asesorius, skalenus anterior dan supraklavikula5.

Gambar 2.5 Kelenjar limfa leher

Kelenjar limfa jugularis interna superior menerima aliran limfa yang


berasal dari daerah palatum mole, tonsil, bagian posterior lidah, dasar lidah,
sinus piriformis dan supraglotik laring. Juga menerima aliran limfa yang
berasal dari kelenjar limfa retrofaring, spinalis asesorius, parotis,
servikalissuperfisial dan kelenjar limfa submandibula.

10
Kelenjar limfa jugularis interna mendia menerima aliran limfa yang
berasal langsung dari subglotik laring, sinus piriformis bagian inferior dan
daerah krikoid posterior. Juga menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar
limfa retrofaring bagian bawah.

Kelenjar limfa jugularis interna inferior menerima aliran limfa yang


berasal langsung dari glandula tiroid, trakea, esofagus, bagian servikal. Juga
menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa jugularis interna
superior dan media, dan kelenjar limfa paratrakea.

Kelenjar limfa submental, terletak pada segitiga submental diantara


platisma dan m.omohioid di dalam jaringan lunak. Pembuluh aferen menerima
aliran limfa yang berasal dari dagu, bibir bawah bagian tengah, pipi, gusi,
dasar mulut bgian depan dan 1/3 bagian bawah lidah. Pembuluh eferen
mengalirkan limfa ke kelenjar submandibula sisi homolateral atau kontra
lateral, kadang-kadang dapat langsung ke rangkaian kelenjar limfa jugularis
interna.

Kelenjar limfa submandibula, terletak di sekitar kelenjar liur


submandibula, dan di dalam kelenjar liurnya sendiri. Pembuluh aferen
menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar liur submandibula, bibir atas,
bagian lateral bibir bawah, rongga hidung, bagian anterior rongga mulut,
bagian medial kelopak mata, bagian palatum mole dan 2/3 depan lidah.
Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelejar jugularis interna superior.

Kelenjar limfa servikal superfisial, terletak di sepanjang vena jugularis


eksterna, menerima aliran limfa yang berasal dari kulit dan muka, sekitar
kelenjar parotis, daerah retroaurikula, kelenjar parotis dan kelenjar limfa
oksipital. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjarlimfa jugularis
interna superior.

Kelenjar limfa retrofaring, terletak di antaa faring dan fasia prevertebrata,


mulai dari dasar tengkorak sampai ke perbatasan leher dan thoraks. Pembuluh
aferen menerima aliran limfa dari nasofaring, hipofaring, telinga tengah dan

11
tuba eustachius. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa
jugularis interna dan kelenjar limfa spinal asesoris bagian superior.

Kelenjar limfa paratrakea, menerima aliran limfa yang berasal dari laring
bagian bawah, hipofaring, esofagus bagian servikal, trakea bagian atas dan
tiroid. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna
inferior atau kelenjar limfa mediastinum superior.

Kelenjar limfa spinal asesoris, terletak di sepanjang saraf spinal asesoris,


menerima aliran limfa yang berasal dari kulit kepala bagian parietal dan
bagian belakang leher. Kelenjar limfa parafaring menerima aliran limfa dari
nasofaring, orofaring dan sinus paranasal. Pembuluh eferen mengalirkan limfa
ke kelenjar subklavikula.

Rangkaian kelenjar limfa jugularis interna mengalirkan limfa ke trunkus


jugularis dan selanjutnya masuk ke duktur torasikus utuk sisi sebelah kiri,
dengan untuk sisi yang sebelah kanan masuk ke duktus limfatikus kanan atau
langsung ke sistem vena pada pertemuan vena jugularis interna dan vena
subklavia. Juga duktus torasikus dan duktus limfatikus kanan menerima aliran
limfa dan duktus limfatikus kanan menerima aliran limfa dari kelenjar limfa
supraklavikula5.

2.6 Anatomi Tiroid

Kelenjar tiroid memiliki dua buah lobus yang satu dengan lainya
dihubungkan oleh isthmus yang tipis dibawah kartilago krikoidea di leher.
Secara embriologis kelenjar tiroid berasal dari evaginasi epitel faring yang
membawa pula sel-sel dari kantung faring lateral. Evaginasi ini berjalan ke
bawah dari pangkal lidah menuju leher hingga mencapai letak anatomiknya
yang terakhir. Sepanjang perjalanan ke bawah ini sebagian jaringan tiroid
dapat tertinggal, membentuk kista tiroglosus, nodula atau lobus piramidalis

12
tiroid. Dalam keadaan normal kelenjar tiroid pada orang dewasa, beratnya
antara 10-20 gram10.
Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan
bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini
memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan
hormon tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap
molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3. Hormon tersebut
dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating
hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium
adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari
makanan dan minuman yang mengandung yodium7.

Gambar 2.6 Letak kelenjar tiroid

2.7 Rongga Mulut dan Kelenjar Air Liur

Struktur dan fungsi rongga mulut, rongga mulut dibatasi mukosa yang
berasal dari epitel skuamosa berlapis tidaka berkeratin yang bersambung
dengan kulit pada bibir dan dengan mukosa faring pada bagian belakang.
Struktur struktur dalam rongga mulut, antara lain:

13
a. Papil pengecap, yang merupakan ujung serabut aferen saraf otak ke IX
(lidah belakang) dan VII (lidah depan).
b. Gigi, yang tertanam pada maksila dan mandibula. Bagian mukosa yang
menghubungkan gigi dengan tulang disebut ginggiva (gusi).
c. Tiga pasang kelenjar liur mayor dan banyak kelenjar liur minor.
Kelenjar parotis hampir seluruhnya dibentuk oleh sel serosa, dan
terletak di bagian depan dan bawah telinga. Kelenjar ini mensekresi air
liur melalui duktus stensen yang bermuara pada mukosa pipi
bersebelahan dengan gigi molar. Kelenjar submandibula mengandung
sel seromukus, terletak di bawah mandibula dan bermuara melalui
duktus warthin pada dasar mulut. Kelenjar sublingual yang juga tipe
seromukus terletak di dasar mulut dan disalurkan melalui 10-20 duktus
kecil.
d. Jaringan limfoid, yang menjaga jalan masuk faring (cincin waldeyer).
Tonsil yang berada diantara dinding orofaring dan adenoid pada
nasofaring, merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terbesar.
Fungsi rongga mulut adalah menerima makanan dan memulai proses
pencernaan. Pengunyahan, yang dibantu oleh aksi lubrikasi air liur,
megubah makanan menjadi bolus, yang lalu dipindahkan ke belakang
oleh otot otot lidah menuju faring untuk kemudian ditelan. Air liur
mengandung amilase yang dapat memulai pencernaan karbohidrat,
lisozim yang memiliki sifat anti bakterial, dan sekresi IgA. Epitel
kelenjar air liur membentuk potongan bahan sekretor yang
membentuk kompleks dengan IgA yang diproduksi oleh sel plasma di
dalam stroma kelenjar air liur3.

Pada pemeriksaan ultrasonografi leher, dilakukan untuk memperlihatkan


melewati kulit leher atau intra oral dengan transduser berfrekuensi tinggi11.

Pemeriksaan ultrasonografi leher juga dilakukan untuk melihat adanya


keadaan patologis seperti :

a. Limfadenopati
b. Hipertiroid

14
c. Struma
d. Neoplasma tiroid
e. Kista tiroid
f. Skrofuloderma
g. Tumor pada rongga mulut
h. Kanker pada lidah
i. Penyakit kelenjar air liur

2.8 Limfadenopati

Limfadenopati atau yang disebut juga pembesaran kelenjar getah bening,


adalah salah satu kelainan yang sering di lihat pada pemeriksaan USG colli.
Pembesaran kelenjar getah bening dapat disebabkan oleh limfoma, penyakit
metastatik, atau inflamasi reaktif, sebagai contoh pada tuberkulosis.
Pemeriksaan ultrasonografi disertai pengangkatan inti jaringan melalui biopsi
jarum membantu menegakkan diagnosis jaringan. Bila diagnosisnya adalah
limfoma, penentuan stadium paling baik dilakukan menggunakan CT scan8.

Gambar 2.8 Ultrasound memperlihatkan sebuah kelenjar getah bening


yang sangat membesar (anak panah) didekat vena jugularis. Sinyal dopler
membantu membedakan antara pembuluh di dalam nodus dan jaringan
sekitarnya.

15
2.9 Hipertiroid

Hipertiroidisme dikenal juga sebagai tiroktosikosis, hipertiroidisme dapat


didefinisikan sebagai respons jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh
metabolik hormon tiroid yang berlebihan10. Hipertiroid juga termasuk dalam
keadaan patologis yang sering disarankan oleh dokter untuk melakukan
pemeriksaan tambahan, yaitu USG colli.

Gambar 2.9(a) Gambaran USG doppler (diambil dengan Nemio-XG color


doppler scaner), yang ditandai memperlihatkan kenaikan vaskularisasi
diseluruh kelenjar tiroid. Beberapa suhu terlihat tidak homogen juga terlihat.
Pasien adalah seorang wanita muda dengan tyrotoxikosis. Gambaran USG
memperlihatkan diagnosa dari hipertiroidisme.

Hipertiroid dapat timbul spontan atau akibat asupan hormon tiroid secara
berlebihan. Terdapat dua tipe hipertiroidisme spontan yang paling sering
dijumpai, yaitu penyakit graves dan goiter nodular toksik. Penyakit graves
biasanya tejadi pada usia sekita tiga puluh dan empat puluh dan lebih sering
ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Terdapat predisposisi familial
terhadap penyakit ini dan sering berkaitan dengan bentuk-bentuk
endokrinopati autoimun lainya.

16
Gambar 2.9(b) Gambar potongan kelenjar tyroid lobus dextra pada
penyakit grave.

Pada penyakit graves terdapat dua kelompok gambaran utama, yaitu


tiroidal dan ektratiroidal, dan keduanya mungkin tidak tampak. Ciri-ciri
tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid, dan hipertiroidisme
akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Sedangkan goiter nodular toksik
paling sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagian komplikasi goiter
nodular kronik. Pada pasien-pasien ini, hipertiroidisme timbul secara lambat
dan manifestasi klinisnya lebih ringan daripada penyakit graves10.

Kelenjar Hormon TSH Autoantibodi


tiroid tiroid

Hipertiroidism
e primer
Pembesaran Meningkat Menurun Ig perangsangan
Penyakit Graves difus nyata tiroid ; faktor
penyebab
eksoftalmus

17
Struma nodular Struma Meningkat Menurun Tidak ada
toksik multinodula
r

Adenoma toksik Nodul Meningkat Menurun Tidak ada


soliter

Tiroiditis Pembesaran Meningkat Normal Tidak ada


subakut lunak

Sekunder

Adenoma Pembesaran Meningkat Meningka Tidak ada


tirotropik difus t
hipofisis

Tabel 2.9 Gambaran yang berbeda pada penyakit tiroid

2.10 Struma

Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid dengan sebab apapun9. Struma


disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena
pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa
gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Dampak
struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior
medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah
ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga
terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap
gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Bila
pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.

18
Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat
pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula
penghambatan dalam pembentukan TSH oleh hipofisis anterior. Hal tersebut
memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan.
TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam
jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama
makin bertambah besar. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi
peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan
kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram.

Selain itu struma dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang


menghambat sintesa hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon oleh zat
kimia (goitrogenic agent), proses peradangan atau gangguan autoimun seperti
penyakit Graves. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma
dan penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obat-obatan misalnya
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium, gangguan metabolik misalnya struma
kolid dan struma non toksik (struma endemik)7.

Gambar 2.10 (a)Struma nodosa lobus dextra kelenjar tiroid

19
Gambar 2.10 (b) Struma nodosa lobus dextra.

Berdasarkan klinisnya, struma terbagi menjadi dua jenis, yaitu :

a. Struma toksik

Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik
dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah
kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan
menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis
sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik
teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). Struma
diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena
jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam
darah. Penyebab tersering adalah penyakit grave (gondok
eksoftalmik/exophtalmic goiter) bentuk tiroktosikosis yang paling
banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainya.

20
b. Struma non toksik

Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi
menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik.
Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik.
Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter
koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang
sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa
hormon oleh zat kimia.Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid
teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa.
Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan
hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid
sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi
multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak
mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau
hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik
atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh
adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau
trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila
timbul perdarahan di dalam nodul7.

2.11 Neoplasma Tiroid


Kelenjar tiroid dapat membentuk beragam neoplasma, dari
adenoma berbatas tegas yang jinak hingga karsinoma aplastik yang sangat
agresif. Dari segi klinis, kemungkinan adanya penyakit neoplastik yang
sangat agresif. Dari segi klinis, kemungkinan adanya penyakit neoplastik
pada pasien dengan nodul di tiroid perlu diperhatikan. Untungnya,
sebagian besar nodul soliter pada tiroid terbukti merupakan lesi jinak, baik
berupa adenoma folikular atau penyakit lokal non neoplastik (misalnya
hiperplasia nodularis, kista biasa, atau fokus tiroiditis12.

21
Gambar 2.11 Pemeriksaan USG tiroid mendapatkan gambaran
nodul multipel di tiroid kiri.

Beberapa kriteria kriteria klinis dapat menjadi petunjuk mengenai


sifat suatu nodul di tiroid :
a. Nodul soliter, secara umum lebih besar kemungkinannya
merupakan neoplasma daripada nodul multipel.
b. Nodul solid, secara umum lebih besar kemungkinanya bersifat
neoplastik dibandingkan dengan nodul kistik.
c. Nodul pada pasien berusia muda, lebih besar kemungkinanya
bersifat neoplastik dibandingkan dengan yang timbul pada usia
lebih tua.
d. Nodul pada pasien laki-laki, lebih besar kemungkinannya
bersifat neoplastik dibandingkan pada perempuan.
e. Nodul yang tidak menyerap yodium radioaktif dalam
pemeriksaan pencitraan (nodul dingin) lebih besar
kemungkinanya bersifat neoplastik ; nodul panas hampir
selalu jinak12.

2.12 Kista Tiroid


Kista tiroid adalah kelainan yang relatif sering ditemukan pada tiroid.
Patogenesis yang pasti belum diketahui. Diagnosis dibuat berdasarkan

22
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, Biopsi Aspirasi
Jarum Halus (BAJAH), dan ultrasonografi (USG) serta skintigrafi. Terapi
bedah dilakukan bila ukuran kista lebih dari tiga sentimeter. Risiko operasi
tiroid adalah trauma pada nervus laringeus superior dan nervus laringeus
rekuren, dengan komplikasi yang paling ditakutkan adalah kelumpuhan
pita suara sampai obstruksi jalan nafas atas. Dilaporkan satu kasus kista
tiroid yang ditatalaksana dengan ekstirpasi tanpa komplikasi.
Pada pemeriksaan fisik regio colli sinistra dengan palpasi teraba massa
fluktuatif, berbatas tegas, permukaan rata, tidak nyeri tekan, dan benjolan
ini bergerak waktu pasien menelan, dengan ukuran 5x3x1cm.
Pembesaran kelenjar limfe tidak ditemukan. Pasien didiagnosis dengan
nodul tiroid suspect kista tiroid. (Gambar 4). Untuk differensial
diagnosisnya adalah tirotoksikosis, kista duktus tiroglosus, nodul tiroid
suspect keganasan14.

Gambar 2.12 Kista tiroid lobus sinistra.

2.13 Skrofuloderma
Skrofuloderma merupakan bentuk tertua tb kutis yang disebutkan
dalam literaturkedokteran dan dikenal sebagai the kings evil.
Skrofuloderma adalah bentuk tb kutis tersering di negara berkembang dan
sebagian eropa. Penyakit ini menyerang semua usia mulai dari anakanak,
dewasa muda hingga orang tua. Skrofuloderma merupakan hasil
penjalaran secara perkontinuitatum dari organ di bawah kulit yang menjadi
fokus tuberkulosis. Biasanya berupa kelenjar limfe, tulang atau sendi,

23
kelenjar lakrimalis dan duktus yang terinfeksi tb sebelumnya. Pada sebuah
laporan kasus yang melibatkan dua puluh tiga pasien dengan
skrofuloderma, didapatkan hasil skrofuloderma yang terjadi berasal dari
nodus limfe servikal, lalu diikuti oleh aksila, inguinal, epitroklear,
retroaurikular, tibia dan fibula. Wajah, leher dan dinding dada adalah
tempat predileksi utama lesi dari skrofuloderma.
Penegakan diagnosis skrofuloderma dibangun berdasarkan gejala
klinis, pemeriksaan fisikdan pemeriksaan penunjang. Gambaran klinis
skrofuloderma awalnya ditandai denganlimfadenitis tuberkulosis, lalu
timbul nodul subkutan, likuifaksi hingga terbentuknya jaringan parut.
Pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) menjadi pilihan utama
terapiskrofuloderma disamping terapi pembedahan15.

2.14 Tumor pada Rongga Mulut


2.14.1 Tumor Jinak pada Rongga Mulut
a. Mukokel (reaksi pengeluaran mukus)
Mukokel timbul sebagai reaksi peradangan setempat terhadap
keluarnya mukus dari robekan saluran atau kelenjar liur minor,
biasanya berupa kista putih kecil. Kadang-kadang mukokel membesar
dan meregangkan mukosa di atasnya. Mukokel besar pada dasar mulut
yang timbul karena kerusakan saluran kelenjar liur submandibula atau
sublingual disebut ranula.
b. Granuloma piogenik
Granuloma piogenik sering ditemukan pada rongga mulut, akibat
proliferasi peradangan reaktif pada suatu jaringan granulasi. Lesi
berbentuk nodus merah cerah kecil dengan ulserasi pada mukosa di
atasnya. Granuloma piogenik sering didapatkan pada saat kehamilan
(pregnancy tumor).
c. Epulis
Epulis adalah reaksi peradangan setempat pada gusi yang membentuk
massa tumor.
d. Tiroid lidah
Jaringan tiroid pada dasar lidah jarang terjadi, timbul karena desensus
tidak sempurna jaringan tiroid sewaktu embrio.
e. Neoplasma jinak rongga mulut

24
Neoplasma dapat berasal dari epitel skuamosa (papiloma skuamosa),
dari sel mesenkim (fibroma, lipoma, neurofibroma), atau kelenjar liur
minor (adenoma). Neoplasma jinak yang sering ditemukan pada lidah
adalah tumor sel granular, mungkin varian dari schwannoma dengan
sel-sel mengandung banyak sitoplasma granular3.

2.14.2 Tumor Ganas pada Rongga Mulut

Tumor ganas rongga mulut ialah tumor ganas yang tedapat di


daerah yang terletak mulai dari perbatasan kulit-selaput lendir bibir atas
dan bawah sampai ke perbatasan palatum durum palatum mole di bagian
atas dan garis sirkumvallate di bagian bawah.morgan tubuh yang
dimaksud di atas meliputi bibir atas dan bawah, selaput lendir mulut,
mandibula dan bagian atas trigonum retromolar, lidah bagian dua pertiga
depan, dasar mulut dan palatum durum.

Umumnya pasien tumor ganas ini mempunyai keluhan keluhan


seperti rasa nyeri di telinga, rasa nyeri waktu menelan (disfagia). Kadang
kadang pasien tidak bisa membuka mulut (trismus). Terdapatnya bercak
keputihan (leukoplakia) dan bercak kemerahan (eritropakia) yang tidak
bisa hilang dengan pengobatan biasa, harus dicurigai kemungkinan adanya
keganasan. Terdapatnya suatu massa dengan permukaan yang tidak rata
(ulkus) dan memberikan rasa nyei, karena adanya rangsangan pada organ
organ rongga mulut yang dipersarafi oleh cabang N.Trigeminus dan
cabang N.Fasialis, dapat menjadi pertanda adanya suatu keganasan. Guna
menentukan batas serta ukuran pada tumor yang besar menentukan batas
serta ukuran pada tumor yang besar dan luas, dapat dilakukan pemeriksaan
radiologis seperti CT scan atau MRI.

Stadium tumor menurut american joint committe on cancer tahun


1992, tumor primer dibagi dalam TX (karsinoma in situ), T1 jika diameter
2 cm atau kurang dari 2 cm, T2 jika diameter antara 2-4 cm, T3 jika
diameter lebih dari 4 cm. Pada T4, tumor sudah menyerang organ organ

25
lain seperti bagian korteks dari tulang, otot otot lidah yang yang lebih
dalam, sinus maksila dan kulit. Kelenjar limfa egional dibagi dalam NX
kalau tidak terdeteksi sel tumor pada kelenjar, N1 jika diammeter 3 cm
atau kuran dari 3 cm, pada sisi yang sama, N2 jika diameter antara 3 6
cm tetapi terdapat pada beberapa kelenjar pada sisi yang sama, pada kedua
sisi atau sisi lain. N2 ini dibagi lagi atas N2a : 3-6 cm hanya satu (single)
pada satu sisi, N2b kurang dari 6 cm, terdiri dari beberapa (multipel)
kelenjar dan hanya pada satu sisi, N2c kurang dari 6 cm bisa pada 2 sisi
atau sisi kontra lateral, N3 jika ukurannya lebih dari 6 cm. Tentang
metastasi. MX disebut jika tidak diketahui dimana adanya metastasis, M0
tidak ada metastasi jauh, M1 terdapat metastasis jauh5.

2.15 Kanker Lidah


Lesi pada lidah mungkin kecil, digambarkan dengan perbesaran
aptosis pustula atau dengan pembesaran memasuki dan melebar ke daerah
lidah. Hal tersebut dapat terdeteksi atau terdiagnosa dengan cara inspeksi
langsng atau dengan biopsi. Perluasan dapat terlihat dengan baik bila
menggunakan MRI.
Lesi kecil, mudah untuk terablasi. Dan lesi besar akan memerlukan
glossectomy atau hemiglossectomi total. Jika terlambat maka akan lebih
sedikit adanya intervensi bedah yang mengganggu oprasi. Lidah akan
berfungsi baik dari mulai gerakan otot pada satu tempat yang berlawanan,
bila ditangani dengan cara penggantian penutup myokutaneus13.

2.16 Penyakit Kelenjar Air Liur


a. Batu duktus kelenjar air liur (sialolitiasis)
Pembentukan batu terutama pada duktus kelenjar submandibula,
mungkin berhubungan dengan sekresi mukus yang lebih kental dari
kelenjar ini. Sumbatan duktus kelenjar akan menimbulkan radang akut
(sialadenitis akut), diikuti peradangan kronis, atrofi kelenjar, dan
fibrosis (sialadenitis kronis).
b. Neoplasma kelenjar air liur

26
Neoplasma air liur sering terjadi dan banyak jenisnya. Sekita 80%
terjadi pada parotis, 15% kelenjar submandibula, dan 5% kelenjar liur
minor. Semuanya timbu sebagai massa tumor yang menimbulkan
pembesaran kelenjar yang terkena. Tomografi komputer (CT scan )
banyak membantu menentukan lokasi dan luasnya neoplasma.
Diagnosis memerlukan pemeriksaan sitologi (aspirasi jarum halus)
atau histologis.
1. Neoplasma jinak
(a) Adenoma pleomorfik (tumor campuran)

Adenoma pleomorfik merupakan massa padat dan keras.


Secara histologis tampak gambaran yang sangat bervariasi. Sel-sel
epitel dan mioepitel yang sejenis tersebar di dalam lajur, sarang,
dan lembaran di dalam matriks bahan mukoid, yang sering
menyerupai tulang rawan (sebab itu timbul dugaan yang keliru,
bahwa tumor tersebut mengandung campuran komponen
mesenkimal dan epitelial).

Gambar 2.16 1 (a) Adenoma pleomorfik pada kelenjar


paratiroid dextra

(b) Tumor warthin (adenolimfoma)

27
Sebagian besar tumor warthin ditemukan pada kelenjar parotis.
Walaupun jarang, bisa multisentrik dan bilateral. Gambaran
histologisnya khas, dengan rongga-rongga kistik dibatasi dua lapis
epitel sejenis yang sering membentuk lipatan papilar. Sel epitel
neoplastik berukuran besar dengan banyak sitoplasma warna merah
muda dan dikelilingi oleh sebukan limfosit.

Gambar 2.16 1 (b) Tumor warthin besar

2. Neolpasma ganas kelenjar air liur

Neoplasma ganas kelenjar air liur mempunyai beberapa gambaran


patologi yang berbeda. Sebagian besar neoplasma ini tumbuh lambat.
Kecuali pada karsinoma tak berdeferensiasi dan karsinoma
mukoepidermoid derajar tinggi, yang jarang ditemukan. Karsinoma
epidermoid derajat rendah, merupakan neoplasma berbatas tegas
dengan bagian padat dan kistik yang bervariasi. Karsinoma kistik
adenoid merupakan neoplasma ganas yang sangat infiltratif dengan
kecenrungan menginvasi sepanjang serabut saraf. Karsinoma yang
timbul dari suatu tumor campur dan karsinoma sel asinik mempunyai
perjalanan klinis yang berbeda-beda3.

28
Gambar 2.16 2 Tumor maligna pada kelenjar air liur

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
retrospektif dengan menggunakan data-data dari rekam medik yang
tersedia.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi : Dilakukan di bagian radiologi RSUD Dok 2 Jayapura.
3.2.2 Penelitian dilakukan dalam kurun waktu bulan juni agustus

2014.

3.3 Populasi dan Sampel

29
Semua pasien yang melakukan pemeriksaan USG colli di instalasi
radiologi RSUD jayapura pada periode maret 2009 juli 2014.

3.4 Variabel
Variabel dalam penelitian mencakup gambaran pemeriksaan USG colli,
yaitu:
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Diagnosis klinis
4. Hasil pemeriksaan

3.5 Definisi Operasional Variabel


1. Usia

Usia yang digunakan dalam penelitian ini adalah 18- 70 tahun


dan pengelompokan berdasarkan umur (world health organization)
WHO menurut tingkat kedewasaan yaitu:

a. Dewasa muda ( young age ) : 18-45 tahun


b. Umur pertengahan ( middle age ) : 46-60 tahun
c. Lanjut usia ( elderly ) : diatas 60 tahun
2. Jenis kelamin

Jenis kelamin yang dimaksud adalah pasien dengan jenis


kelamin perempuan dan laki-laki.

3. Diagnosis klinis

Yang dimaksud diagnosa klinis adalah diagnosa pasien yang


diberikan oleh dokter yang meminta dilakukannya pemeriksaan
USG colli.

4. Hasil pemeriksaan

30
Yang dimaksud dengan hasil pemeriksaan adalah gambaran
yang diperoleh setelah dilakukannya pemeriksaan USG colli dan
diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Hipertiroid
b. Limfadenopati
c. Struma
d. Kista tiroid
e. Skrofuloderma
f. Tumor

3.6 Cara Pengambilan Data

Data yang digunakan bersumber dari rekam medik instalasi radiologi


RSUD jayapura.

3.7 Pengelolaan dan Analisis Data

Dalam laporan ini pengelolaan data dilakukan dengan menggunakan


sistem tabulasi, dianalisa berdasarkan hasil persentase dan disajikan dalam
bentuk tabel.

31
32