Anda di halaman 1dari 23

BAB II

PEMBAHASAN

Proses perkembangan matematika dimulai sejak adanya peradaban


manusia. Karena hanya manusia dengan kemampuan komunikasi dan
intelegensinya yang mampu menciptakan peradaban, jika dibandingkan dengan
makhluk yang lain. Sehingga manusia mampu menciptakan beradaban yang
didasarkan atas kontak sosial yang berkembang.

Dilihat dari catatan sejarah, munculnya peradaban manusia berawal dari


perkembangan budaya manusia yang sangat ditentukan oleh kondisi geografis
yang mendukung. Air dikenal manusia sebagai benda yang banyak memberikan
pengaruh bagi kehidupannya. Begitu pula dengan pusat peradaban pertama
manusia, yang rata-rata berasal dari daerah yang dilalui aliran sungai. Diantaranya
adalah Mesopotamia, Mesir,India dan Cina. Peradaban kota Mesopotamia
mempengaruhi peradaban sungai Nil di Mesir, sungai Kuning di Cina dan Lembah
Indus di India.

Peradaban di negara-negara tersebut menjadi dasar munculnya


penciptaan karya matematika. Pada zaman peradaban helenistik, matematika
Babilonia berpadu dengan matematika Mesir untuk membangkitkan matematika
Yunani. Hasil interaksi masyarakat dengan peradaban-peradaban lain
mempengaruhi perkembangan matematika selanjutnya. Negara-negara tersebut
telah banyak memberikan sumbangan terhadap perkembangan matematika saat
ini. Berbagai bukti menunjukkan bahwa struktur matematika yang paling
sederhanaberupa bilangan telah digunakan dari masa kemasa mulai dari bangsa
Babilonia, Mesir, Yunani, Cina, dan India yang kemudian disempurnakan oleh
ilmuwan Persia Al Khawarizmi. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan
matematika dari peradaban-peradaban terdahulu mempengaruhi perkembangan
matematika pada peradaban-peradaban dimasa berikutnya.
A. Sistem Numerasi Mesir Kuno

Bangsa Mesir kuno telah mengenal tulisan dan sistem


bilangan.Biasanya tulisan ini ditemukan pada sebuah batu ini dan dikenal
dengan sistem hieroglif. Sistem hieroglif merupakan sistem bilangan yang
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan hieroglif berbentuk
gambar gambar kecil yang menyatakan sebuah kata.Sistem hieroglif telah
digunakan oleh bangsa Mesir kuno sejak sekitar tahun 2850 SM.

Simbol bilangan atau notasi matematika Mesir Kuno bersifat desimal


(berbasis 10) dan didasarkan pada simbol-simbol hieroglif untuk tiap nilai
perpangkatan 10 (1, 10, 100, 1000, 10000, 100000, 1000000) sampai dengan
sejuta. Tiap-tiap simbol ini dapat ditulis sebanyak apapun sesuai dengan
bilangan yang diinginkan, sehingga untuk menuliskan bilangan delapan puluh
atau delapan ratus, simbol 10 atau 100 ditulis sebanyak delapan kali.Dengan
ini berarti bahwa mereka memiliki simbol terpisah untuk satuan, puluhan,
ratusan, ribuan, puluh ribuan, ratus ribuan, dan jutaan..Berikut ini tabel
berisikan simbol-simbol yang digunakan bangsa Mesir kuno disertai dengan
terjemahan lambang yang sudah kita gunakan sekarang.

1) Sistem Penulisan Angka Hieroglif

Untuk satuan adalah sebuah garis lurus, lengkungan ke atas untuk


puluhan, lengkungan setengah lingkaran menyamping (seperti obat
nyamuk) untuk ratusan, dan untuk jutaan dilambangkan dengan
simbol seorang laki-laki yang menaikkan tangan.Penulisan hieroglif dapat
dimulai dari kanan ke kiri, kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah dan dari
bawah ke atas, tetapi biasanya dimulai dari kanan ke kiri (seperti dalam
penulisan Arab, walaupun dalam penulisan formal zaman sekarang ini
menggunakan kiri ke kanan).
Misalnya untuk membuat bilangan 276, ada lima belas simbol yang
diperlukan:dua simbol ratusan, tujuh simbol puluhan, dan enam
simbol satuan. Contoh tulisan bilangan 276 dalam hieroglif terlihat
pada batu ukiran dari Karnak, berasal dari sekitar 1500 SM, dan sekarang
berada dipamerkan di Louvre, Paris.

a. Penulisan Angka Desimal

Dalam menuliskan bilangan, susunan desimal terbesar ditulis


lebih dahulu. Bilangan ditulis dari kanan ke kiri. Berikut contoh
penulisan angka 46,206 Untuk penulisan tanda koma, lihat simbol
hiroglif yang tandanya berbalik arah. Misalnya pada penulisan
angka 46,206 simbol yang berbalik arah adalah 40000 dan 6000.
Sedangkan penulisan simbol 200 dan 6 tidak berbalik arah.
Penulisan tanda koma ditulis setelah angka yang berbalik arah
yakni pada angka 46.000. Pecahan untuk orang Mesir kuno
terbatas pada pecahan tunggal (dengan pengecualian dari yang
sering kali digunakan 2/3 dan kurang sering digunakan 3/4).
Sebuah pecahan tunggal adalah bentuk 1/n dimana n adalah
bilangan bulat dan ini diwakili dalam angka hieroglif dengan
menempatkan simbol yang mewakili sebuah mulut, yang berarti
bagian, di atas nomor tersebut.

Berikut adalah beberapa contoh:

Perhatikan bahwa ketika bilangan yang mengandung terlalu


banyak simbol bagian, ditempatkan di atas bilangan bulat, seperti
dalam 1/249 , maka simbol bagian ditempatkan di atas bagian
pertama bilangan. Symbol diletakkan di atas bagian pertama
karena bilangan ini dibaca dari kanan ke kiri.

b. Penjumlahan

Penjumlahan sistem bilangan mesir hampir serupa dengan


penjumlahan dengan masa kini yang berbeda hanyalah simbolnya.

456 + 265 = 721 = 721

c. Perkalian

Matematika papyrus Rhind adalah salinan dari sebuah rata


rata krja sebelumnya, Matematika papyrus rhind disalin dari
seseorang penulis yang bernama Ahmose ditahun 1650 SM.
Dimana pada waktu itu, Joseph menjadi gurbenur di mesir.
Alexander Henry Rhind memperolehnya di luxor, Mesir ditahun
1858 dan kemudian membelinya dimuseum inggris pada tahun
1865.Matematika Rhind papyrus diperkenalkan dengan
menjanjikan pembaca melalui kalimat berikut, Dengan
mempelajari semua hal yang baik, semua wawasan akan tetap ada
dan pengetahuan dari rahasia yang tersembunyi, akan terungkap.
Pada faktanya, hal ini merupakan deretan pemecahan masalah
matematika dasar, sebuah garis besar houm untuk penulis yang
bercita cita tinggi, Penulis tersebut harus dapat menghitung dengan
pasti berapa banyak batu bata yang dibutuhkan untuk membangun
jalan dengan kemiringan tertentu dan berapa banyak papan roti
yang dibutuhkan untuk memberi makan budak pekerja dan
sebagainya.
Jauh sebelum kalkulator atau bahkan matematika modern,
orang Mesir telah menemukan cara jitu menentukan jumlah
bilangan besar dengan cepat. Berikut cara perkalian numerasi
Mesir:

Perkalian Dengan Cara Doubling

Perkalian dalam sistem doubling dikerjakan dari pengulangan


pelipat gandaan bilangan dengan unsur pengalinya kemudian
menjumlahkannya. Contohnya 13 x 12 = ? Buatlah garis untuk
memisahkan dua kolom. Isi kolom ke bawah di sebelah kiri,
dimulai dengan nomor 1. Gandakan dan tulis 2 dibawahnya, lalu
gandakan 2 itu sehingga mendapatkan angka 4, terus digandakan
sampai angkanya tidak melebihi yang dikalikan. Isilah kolom
kanan, tuliskan nomor yang ingin anda kalikan (dalam hal ini,
adalah 12). Dibawah 12, gandakan dan tulis 24. Gandakan lagi 24
dan tulis 48, Terus sampai sebanyak kolom kiri

Sekarang cari angka di kolom kiri yang kalau ditambahkan


akan menghasilkan angka pertama yang ingin dikalikan (dalam soal
ini, 13). Angka 1 + 4 + 8= 13, lalu garis bawahi nomor dikolom
kanan diseberang nomor tersebut. Maka yang digaris bawahi di
kolom kanan adalah (12 + 48 + 96) dan kamu jumlahkan akan
mendapatkan 156, yang adalah jawaban tepat dari 13 x 12 = 156

Perkalian dengan Cara Halving


Perkalian dalam sistem halving berbeda dengan doubling
untuk mempermudah langsung saja pada contoh. Contohnya 13
x 12 = ? Buatlah garis untuk memisahkan dua kolom. Isi kolom
di sebelah kiri, dimulai dengan membagi angka yang dikali
(dalam hal ini 13) dibagi dengan 2 maka hasilnya 6 (untuk 0,5
tidak di tulis). Isilah kolom kanan, tulislah nomor yang ingin
anda kalikan (dalam hal ini adalah 12). Dibawah 12, gandakan
dan tulis 24. Gandakan lagi 24 dan tulis 48. Terus sampai
sebanyak kolom kiri

13 12
6 24
3 48
1 96

Sekarang cari angka di kolom kiri yang ganjil, yaitu angka 13, 3,
dan 1. Lalu garis bawahi nomor di kolom kanan diseberang
nomor tersebut. Maka yang digaris bawahi di kolom kanan
adalah (12 + 48 + 96) dan kamu jumlahkan akan mendapatkan
156, yang adalah jawaban tepat dari 13 x 12 = 156.

d. Pembagian

Pembagian dalam sistem bilangna mesir dikerjakan dari


pengulangan pelipat gandaan bilangan dengan unsur pembaginya
kemudian menjumlahkannya. Contohnya 98 : 7 = ? Buatlah garis
untuk memisahkan dua kolom. Isi kolom ke bawah di sebelah kiri,
dimulai dengan nomor 1. Gandakan dan tulis 2 dibawahnya, lalu
gandakan 2 itu sehingga mendapatkan angka 4, terus digandakan
sampai angkanya tidak melebihi yang dibagi. Isilah kolom kanan,
tulislah nomor pembaginya (dalam hal ini, adalah 7). Di bawah 7,
gandakan dan tulis 14. Gandakan lagi 28 dan tulis 56, dan
seterusnya.

1 7
2 14
4 28
8 56

Sekarang cari angka dikolom kanan yang kalau ditambahkan


akan menghasilkan angka yang dibagi (dalam soal ini, adalah 98).
Maka angkanya 14 + 28 + 56 = 98, lalu garis bawahi nomor di
kolom kiri diseberang nomor ini. Maka yang di garis bawahi di
kolom kiri adalah (2 + 4 + 8) dan kamu dapat mendapatkan 14,
yang adalah jawaban tepat dari 98 : 7 = 14

2) Sistem Penulisan Angka Hieratik

Selama Kerajaan Baru masalah matematis disebutkan pada Papyrus


Anastasi 1, dan Wilbour Papyrus dari waktu Ramesses III mencatat
pengukuran lahan. Angka hieroglif agak berbeda dalam periode yang
berbeda, namun secara umum mempunyai style serupa. Sistem bilangan
lain yang digunakan orang Mesir setelah penemuan tulisan di papirus,
terdiri dari angka hieratic.

Angka ini memungkinkan bilangan ditulis dalam bentuk yang jauh


lebih rapi dari sebelumnya saat menggunakan sistem yang membutuhkan
lebih banyak simbol yang harus dihafal. Ada simbol terpisah untuk:

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,

10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90,

100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900,

1000, 2000, 3000, 4000, 5000, 6000, 7000, 8000, 9000


Sistem bilangan ini dapat dibentuk dari beberapa simbol. Angka 9999
hanya memiliki 4 simbol hieratic sebagai pengganti 36 hieroglif. Salah
satu perbedaan utama antara angka keramat dan system bilangan kita
adalah angka keramat tidak membentuk system posisi sehingga angka
tertentu dapat ditulis dalam urutan apapun. Berikut ini adalah salah satu
cara orang Mesir menulis 2765 dalam angka hieratic

B. Sistem Numerasi Babilonia (Mesopotamia)

Sistem bilangan bangsa Sumeria menggunakan sistem basis 60 atau


sistem sexadesimal8. Penggunaan sistem sexadesimal masih kita rasakan
hingga sekarang dalam kehidupan sehari-hari, misalnya 1 jam terdiri dari 60
menit, 1 menit terdiri dari 60 detik, dan besar satu putaran lingkaran adalah
360 (60 x 6) derajat. Sistem sexadesimal juga digunakan dalam pecahan.
Misalnya 1/2 dan 1/3 dinyatakan dengan 30 dan 20. Tentunya kita harus
mengingat bahwa setiap bilangan berpenyebut 60. Penemuan sistem bilangan
ini juga banyak membantu para astronom pada waktu itu untuk melakukan
perhitungan berkaitan dengan ilmu-ilmu perbintangan.

Peradaban bangsa Babilonia di Mesopotamia menggantikan peradaban


bangsa Sumeria dan Akkadia. Dalam bentuk bilangan yang digunakan,
bangsa Babilonia mewarisi ide dari bangsa Sumeria, yaitu menggunakan
sistem numerasi sexadesimal yang dicampur dengan basis 10 dan sudah
mengenal nilai tempat. Basis 10 digunakan karena bilangan 1 sampai 59
dibentuk dari simbol satuan dan simbol puluhan yang ditempatkan
menjadi satu kesatuan. Sistem bilangan ini mulai digunakan sekitar tahun
2000 SM. Namun kelemahan sistem bilangan Babilonia belum mengenal
lambang nol. .Baru beberapa abad kemudian, kira-kira pada tahun 200 SM,
bangsa Babilonia telah melambangkan nol yang ditandai dengan spasi.
Berikut ini adalah 59 simbol bilangan bangsa Babilonia
Sistem posisi bilangan Babylonia menggunakan basis 60. hal ini bukan
berarti mereka memiliki 60 simbol, akan tetapi mereka menggunakan basis 10
dulu terus ketika sampai 60 mereka mengulang lagi simbolnya. Dalam
Babylonia, untuk menuliskan bilangan 1-59 mengunakan sistem
pengelompokan sederhana (berbasis 10) dan untuk bilangan >60 mengunakan
sistem posisi.

Sistem Posisi Bilangan Babylonia


Posisi Digit Nilai Posisi Digit Keterangan
1 600 1 Posisi satuan s.d. puluhan
2 601 60 Posisi puluhan s.d. ribuan
3 602 3600 Posisi ribuan s.d. puluh-ribuan
4 603 216000 Posisi puluh-ribuan s.d. ratus-ribuan

Untuk simbol bilangannya sendiri sama seperti pada sistem


pengelompokan sederhana bilangan Babylonia. Tapi, perlu diperhatikan
dalam sistem ini adalah peletakan dan posisi simbol terhadap simbol lainnya.
Posisi pada setiap lambang bilangan tidak boleh diubah sebab akan
mempengaruhi nilai dari bilangan itu. Tulisan Babylonia ini disebut juga
cunieform yang biasa ditulis pada tanah liat dengan menggunakan ujung
tongkat. Pada ujung tongkat itu ditulis lambang bilangan-lambang bilangan
yang diperlukan. Daerah tempat sistem ini dipergunakan ialah disekitar
sungai Eufrat dan Tigris (sekrang dikenal dengan nama Irak). Sistem
numerasi ini merupakan sistem bilangan aditif yang dipadukan dengan sistem
posisi (nilai tempat). Seperti terlihat pada contoh-contoh di atas, simbol
selain menunjukkan 1 juga dapat menunjukkan 60, 602, 603, ... 60n. Begitu
juga selain menujukkan 10, juga dapat menunjukkan 10.60, 10.60 2,
10.603, ... 10.60n
Oleh karena itu untuk menghidari kekeliruan dalam menafsirkan nilai
dari lambang-lambang tersebut biasanya digunakan tanda selang sebagai
penanda posisi puluhan dan ribuan. Dimana jika bilangan tanpa selang/spasi
berarti tanda satuan ( = 4 ( tanpa selang)). Jika berselang/spasi satu
berarti bernilai puluhan ( = 63 ( pakai selang satu )). Jika
berselang/spasi 2 berarti ribuan ( = 60 + 3 = 3603 ( pakai
selang dua )). Akan tetapi, bagi penulis hal ini akan menjadi ambigu jika
untuk membedakan mana angka yang bernilai 60 dan 1 mengingat mereka
belum menemukan angka 0 dalam sistem bilangannya. Berikut ini contoh
penulisannya:

C. Sistem Numerasi Hindu-Arab

1. Karakteristik Matematika Hindu


Sistem angka Hindu ialah sistem angka kedudukan persepuluh yang
dibangun pada kurun ke-9 oleh ahli matematika India, diadaptasi ahli
matematik Parsi (Al-Khawarizmi dalam buku tentang pengiraan dengan
angka Hindu yang ditulis sekitar 825M) dan ahli matematik Arab (Al-Kindi
menerusi bukunya tentang penggunaan angka India keluaran 830M), dan
kemudian tersebar ke dunia barat pada Zaman Pertengahan. Sejarawan
melacak angka modern di kebanyakan bahasa dengan angka Brahmi yang
digunakan sekitar pertengahan abad ke-3 SM. Angka Brahmi telah ditemukan
dalam prasasti di gua-gua dan di koin di daerah dekat Pune, Mumbai, dan
Uttar Pradesh. Ini angka (dengan sedikit variasi) yang digunakan selama
waktu yang cukup lama hingga abad ke-4.

Berikut ini beberapa perbedaan angka Hindu dengan angka-angka lainnya.

Perhitungan

Pada mulanya bangsa India menjumlahkan bilangan dari kiri ke kanan, tetapi
kemudian berubah dari kanan ke kiri. misalnya penjumlahan bilangan 276
dan 265 dengan cara sebagai berikut

2 + 2 = 4 selanjutnya

7 + 6 = 13, sehingga 4 berubah jadi 5 dengan sisa 3

6 + 5 = 11, sehingga 3 berubah jadi 4 dengan sisa 1

Akhirnya didapatkan jumlah 541 cara praktisnya dari contoh soal tadi,
Atau dengan proses sebagai berikut :

Jumlah bilangan satuan :6+5= 11

Jumlah bilangan puluhan : 7 + 6 = 13

Jumlah bilangan ratusan : 2 + 2 = 4 maka hasilnya 541

Demikian pula perkalian dua buah bilangan, misalnya 125 dengan 6,


prosesnya sebagai berikut :

6 x 1 = 6 ditulis diatas bilangan 125, selanjutnya

6 x 2 = 12 dengan menambahkan bilangan 6 dengan 1

6 x 5 = 30 dengan menambahkan bilangan 2 dengan 3

Jadi hasilnya adalah 750. Cara lain dapat dilakukan sebagai berikut, misalnya
125 x 6 dengan carapertama 125 x 2 = 250, selanjutnya 250 x 3 = 750, yang
nampaknya cara inimenggunakan sifat asosiatif atau cara lain yakni 125 x 2 =
250 dan dijumlahkan dengan 125 x 4 = 500 sehingga hasilnya 750,
nampaknya cara ini menggunakansifat distributif. Prosesnya sebagai berikut :

Cara asosiatif: 125 x 6 = (125 x 2) x 3

Cara distributif: 125 x 6 = 125 x ( 2 + 4)


2. Karakteristik Matematika Arab

Dalam sejarah matematika, matematika Islam abad pertengahan, biasa


disebut matematika Islam atau matematika Arab, mencakup kajian
matematika yang dilakukan selama perkembangan peradaban Islam kira-
kira antara tahun 622 dan 1600. Sains Islam dan matematika Islam
berkembang pesat di bawah khilafah Islam yang menguasai Timur Tengah,
mulai dari Semenanjung Iberia di barat sampai Lembah Indus di timur dan
Dinasti Almoravid dan Kekaisaran Mali di selatan.
Dalam buku A History of Mathematics, Victor Katz menulis bahwa
Sejarah matematika Islam abad pertengahan tidak dapat ditulis dengan
lengkap, karena banyak manuskrip Arab yang belum dipelajari. Tetap saja,
garis besarnya sudah diketahui. Matematikawan Islam mengembangkan
sistem numeralia letak-nilai desimal yang mencakup pecahan desimal,
menyusun studi aljabar dan mulai mempertimbangkan hubungan antara
aljabar dan geometri, mempelajari dan memajukan teori geometri Yunani
yang dicetuskan Euclides, Archimedes, dan Apollonius, dan membuat
kemajuan besar dalam geometri bidang dan bola. Konstribusi matematika
Islam ialah pengembangan aljabar. Dalam aljabar, matematekiawan
menggunakan symbol x, y, atau z sebagai pengganti angka. Berikut ini tabel
urutan & nilai gematrik huruf Arab dan latin.
Perhitungan Bilangan
Cara lain metode perkalian bilangan diketahui dari arab yang diduga
cara inididapat dari Hindu (India) sebagai berikut : 126 x 13 = 1638

D. Sistem Numerasi Yunani Kuno

Bangsa Yunani telah mengenal tulisan dan sistem bilangan. Mereka


mengadopsi metode bangsa Mesir dalam penulisan bilangan-bilangan, karena
metode bangsa Mesir sangat kompleks dalam perhitungan. Hasil adopsi
metode penulisan bilangan bangsa Mesir kemudian dirubah oleh bangsa
Yunani dengan menggunakan huruf-huruf abjad. Huruf-huruf yang digunakan
adalah huruf pertama dari nama masing-masing bilangan. Sehingga bangsa
Yunani mempunyai dua sistem bilangan, yaitu sistem attic dan sistem
alphabetic. Sistem attic muncul sekitar tahun 600 SM. Sistem attic juga
sering dikenal dengan sistem acrophonic. Acrophonic maksudnya bahwa
simbol bilangan tersebut berasal dari huruf pertama nama bilangan tersebut.
Sistem attic mempunyai enam simbol bilangan untuk angka 1, 5, 10, 100,
1000 dan 10000. Berikut ini simbol yang digunakan dalam penulisan bilangan
sistem attic atau sistem acrophonic

Untuk bilangan satu disimbolkan dengan tongkat I yang bukan merupakan


huruf awal nama bilangan. Selanjutnya, bilangan yang lain ditulis sebagai
kombinasi dengan simbol-simbol yang lain. Berikut ini simbol yang
digunakan untuk menulis angka 1 sampai 10 dalam sistem acrophonic.

Selanjutnya, bangsa Yunani mengembangkan bilangan 50, 500, 5000, dan


50000 yang diperoleh dari penggabungan simbol 5 dengan simbol-simbol
untuk puluhan, ratusan, ribuan dan puluhan ribu. Berikut ini hasil
penggabungan simbol-simbol tersebut.
Pada tahun 500 SM, sistem bilangan attic diganti dengan sistem alphabetic.
Terdapat 27 huruf dalam sistem alphabet Yunani klasik, akan tetapi terdapat 3
huruf yang hilang dari penulisan. Berikut ini huruf alphabetic Yunani beserta
huruf kapital dan huruf kecil.

Huruf
Huruf Huruf Kapita Huruf
No Nama No Nama
Kapital Kecil Kecila
l
1 Alpha 15 Ksi
2 Beta 16 Omicron
3 Gamma 17 Pi
4 Delta 18 Koppa - -
5 Epsilon 19 Rho
6 Digamma - - 20 Sigma
7 Zeta 21 Tau T
8 Eta 22 Upsilon Y
9 Theta 23 Phi
10 Iota I 24 Chi X
11 Kappa K 25 Psi
12 Lambda 26 Omega
13 Mu M 27 Sampi - -
14 Nu N
Berdasarkan huruf-huruf alphabetic diatas, bangsa Yunani menurunkan
menjadi sistem bilangan baru yaitu sistem alphabetic. Meskipun simbol huruf
untuk digamma, koppa, dan sampi pada tabel diatas tidak ada, berikut ini
akan ditunjukkan simbol baru dalam sistem bilangan alphabetic.

Simbol bilangan satuan dalam sistem alphabetic

Simbol bilangan puluhan dalam sistem alphabetic

Simbol bilangan ratusan dalam sistem alphabetic

Ketika huruf-huruf tersebut digunakan untuk menyatakan bilangan, maka


huruf-huruf tersebut diberi garis diatasnya untuk membedakannya.
Berdasarkan beberapa simbol bilangan diatas, maka bilangan terbesar yang
dapat dibentuk adalah 999. Untuk menyajikan bilangan yang lebih dari 999
dilakukan modifikasi atau penggabungan simbol dengan menambahkan
subscript atau superscript pada simbol bilangan 1 sampai 962. Berikut ini
simbol bilangan 1000 sampai 9000.

Simbol bilangan ribuan dalam sistem alphabetic

Atau
Contoh penulisan lambang bilangan pecahan

Operasi bilangan atau berhitung Yunani Kuno

E. Sistem Numerasi Cina Kuno

Matematika Cina kuno menemukan sistem notasi posisional bilangan


desimal, yang disebut rod numeral atau bilangan batang. Ketika
matematikawan akan melakukan perhitungan, mereka menggunakan batang
bambu kecil yang disusun untuk mewakili angka satu sampai
sembilan.Sistem bilangan ini dinamakan bilangan Suzhou dalam istilah Cina.
Dalam sistem rod numeral, batang bambu kecil disusun untuk mewakili
angka dari 1 sampai 96

Tidak dapat diketahui dengan pasti berapa usia rod numeral, akan tetapi sistem
bilangan ini sudah digunakan beberapa ratus tahun yang lalu jauh sebelum notasi
posisional diadopsi oleh oleh India. Bahan yang digunakan dalam rod numeral
berasal dari batang bambu, batang gading atau besi yang digunakan sebagai
perangkat menghitung. Sistem bilangan ini belum memiliki simbol nol, apabila
mereka menggunakan batang, maka mereka akan memberikan ruang kosong yang
menunjukkan simbol nol. Selain rod numeral, bangsa Cina mengenal sistem
bilangan dengan menggunakan lambang Cina. Berikut ini lambang bilangan Cina
dan lambang bilangan yang digunakan sekarang.

Lambang bilangan Cina dan lambang bilangan sekarang


Contoh Penulisan Bilangan

Menghitung batang (Rod Numerals atau Bilangan Batang) mewakili digit


dengan jumlah batang, dan tegak lurus batang mewakili lima. Untuk menghindari
kebingungan, bentuk vertikal dan horisontal secara bergantian
digunakan. Umumnya, nomor batang vertikal digunakan untuk posisi untuk unit,
ratusan, sepuluh ribu, dan lain-lain, sedangkan nomor batang horizontal
digunakan untuk puluhan, ribuan, ratusan ribu dan lain-lain. Hal ini ditulis
dalam Sunzi Suanjing bahwa "satu vertikal, sepuluh horisontal ". Batang merah
mewakili bilangan positif dan batang hitam mewakili angka negatif . Cina Kuno
jelas dipahami angka negatif dan nol (meninggalkan ruang kosong untuk itu),
meskipun mereka tidak memiliki simbol untuk yang kedua. Sembilan Bab pada
Seni matematika , yang terutama terdiri pada abad pertama Masehi, menyatakan
"(bila menggunakan pengurangan) kurangi angka ditandatangani sama,
menambahkan nomor ditandatangani berbeda, kurangi angka positif dari nol
untuk membuat angka negatif, dan mengurangkan angka negatif dari nol untuk
membuat angka positif ".

Kemudian, pergi batu kadang-kadang digunakan untuk mewakili nol. Pergantian


ini bentuk angka vertikal dan horisontal batang sangat penting untuk memahami
transkripsi tertulis angka batang pada naskah dengan benar. Misalnya, di Licheng

suanjin, 81 ditranskripsikan sebagai , dan 108 ditranskripsikan sebagai


; jelas bahwa yang terakhir jelas memiliki kosong nol pada "menghitung papan"
(yaitu, lantai atau matras), meskipun pada transkripsi ditulis, tidak ada yang

kosong. Dalam naskah yang sama, 405 ditranskripsikan sebagai , dengan


ruang kosong di antara untuk alasan yang jelas, dan bisa sama sekali tidak

ditafsirkan sebagai "45" . Dengan kata lain, ditranskripsikan angka


batang mungkin tidak posisional, tetapi pada papan penghitungan, mereka
posisional.

adalah gambar yang tepat dari jumlah penghitungan batang 405 di atas
meja atau lantai.

Nilai Tempat

Nilai bilangan tergantung pada posisi fisik pada papan penghitungan. A 9 pada
posisi paling kanan di papan singkatan 9. Pindah batch batang mewakili 9 untuk
satu posisi kiri (yaitu, ke tempat puluhan) memberikan 9 [] atau 90. Pergeseran
kiri lagi ke posisi ketiga (ke ratusan tempat) memberikan 9 [] [] atau 900. Setiap
kali satu menggeser posisi nomor satu di sebelah kiri, itu dikalikan dengan 10.
Setiap kali satu menggeser posisi nomor satu ke kanan, itu dibagi dengan 10. ini
berlaku ke nomor satu digit atau angka beberapa digit. Dinasti Song
matematika Jia Xian digunakan perintah desimal Cina yang ditulis tangan
sebagai batang nilai tempat angka, seperti yang terlihat dari faksimili dari
sebuah halaman Yongle Encyclopedia . Ia mengatur
sebagai

Ia memperlakukan nomor rangka Cina sebagai penanda nilai tempat, dan


menjadi tempat sejumlah nilai desimal. Dia kemudian menulis angka
batang sesuai dengan nilai tempat mereka:
Di Jepang, matematikawan menempatkan menghitung batang pada papan
penghitungan, selembar kain dengan grid, dan digunakan hanya bentuk vertikal
mengandalkan grid. Sebuah buku matematika Jepang abad ke-18 memiliki
diagram papan checker menghitung, dengan urutan simbol besarnya "
" (ribu, seratus, sepuluh, unit, sepuluh, seratus, seribu)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2015).Sistem Numerasi Mesir Kuno. [online]


http://myevi21.blogspot.co.id/2015/07/sistem-numerasi-mesir-kuno_66.html
(diakses 11 Maret 2017)
Anonim. (2015)_______.http://digilib.uinsby.ac.id [online]
(diakses 11 Maret 2017)
Nazmudinnur, Herry. (2015). Sistem Penulisan Bilangan. Makalah
Anonim.(2013)._______. https://www.slideshare.net/tejowati/sejarah-matematika-
lambang-bilangan-yunani-kuno-dan-romawi?from_action=save. [online]
(diakses 11 Maret 2017)
https://en.wikipedia.org/wiki/Counting_rods. [online]
(diakses 11 Maret 2017)
Pananto, Nazar.____. Sejarah Matematika Hindu dan Arab.[online]
https://id.scribd.com/doc/87451584/Matematika-Hindu-Arab#
Makalah. (diakses 12 Maret 2017)