Anda di halaman 1dari 9

HAKIKAT PERLINDUNGAN HUKUM HAK MASYARAKAT ADAT DALAM

SISTEM HUKUM AGRARIA NASIONAL


Maisa1,2, Syamsuddin Pasamai1
1
Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
2
Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia
email: maisa.unismuh1@gmail.com

ABSTRAK
Kondisi realitas peraturan hukum di Indonesia yang berlaku sekarang masih ada yang masih bertumpu pada
politik hukum agraria kolonial yang berkonsekuensi pada konflik horizontal dalam masyarakat. Beberapa kasus
sengketa tanah, terutama tanah adat yang telah beralih fungsi baik mengenai pemilikan dan penguasaannya
(subjek dan objeknya). Itulah sebabnya sehingga penelitian ini sangat mendasar dilakukan verifikasi sosiologis
tentang realistis penguasaan dan pemilikan tanah-tanah adat di Indonesia agar dapat diketahui dan dilakukan
perubahan terhadap beberapa peraturan yang masih dijiwai politik hukum agraria kolonial guna membangun
hukum agraria nasional yang benar-benar bertumpu pada politik hukum agraria nasional berbasis pada hukum
adat sebagaimana amanat dan penjelasan Pasal 5 UUPA. Perubahan akan adanya hukum agraria nasional pada
saat ini sudah mendesak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hukum pembebasan tanah adat Masyarakat Kaili
di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah, sehingga diperoleh faktor-faktor yang mendukung upaya perlindungan
hak-hak masyarakat adat dalam sistem hukum agraria nasional yang dapat menjamin perlindungan terhadap
tanah-tanah adat Masyarakat Kaili sebagai model perlindungan hukum yang dapat menjamin hak-hak tanah Adat
masyarakat Kaili di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Kata Kunci:

I. Latar Belakang tahan. Tentu saja politik hukum agraria


Dalam pembangunan hukum agraria nasional kolonial tujuannya adalah untuk keuntungan,
ke depan menurut Notonagoro harus kesejahteraan, dan kemakmuran Pemerintah
memperhatikan beberapa faktor yaitu, Hindia Belanda, orang-orang dari golongan
pertama, faktor formal. Faktor ini merupakan Timur Asing, golongan Eropa, sedangkan
faktor dimana arah kebijakan agraria masih hukum agraria nasional politik hukum
menggunakan peraturan-peraturan peralihan agrarianya bertujuan untuk mewujudkan
pemerintah jajahan Belanda sebelum kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang
berlakunya UUPA sehingga unsur-unsur sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat
kebijakan politik colonial masih menjiwai Indonesia. Tujuan ini harus dicapai melalui
peraturan-peraturan agraria nasional. Kedua, perubahan dan pemantapan politik hukum
faktor Materil hukum agraria nasional. Faktor agraria pemerintah Indonesia secara
ini adalah faktor normatif peraturan agraria berkesinambungan agar selalu sesuai dengan
nasional yang masih mengandung norma sumber hukumnya yaitu hukum adat.
hukum dualism terhadap subjek dan objeknya Keempat, faktor agraria modern. Faktor ini
dalam pengaturan hukum agraria nasional.Di adalah pembidangan dimensi keagrariaan yang
satu sisi menganut hukum agraria Barat harus menjadi tujuan politik hukum agraria
sebagaimana diatur dalam KUH Perdata nasional.
maupun yang bersumber dari agrarische wet
dan di pihak lain berlaku hukum agraria adat.
dari sisi subjeknya, Hukum Agraria barat II. Tinjauan Pustaka
berlaku bagi golongan yang tunduk pada Politik agraria dalam pandangan Soedikno
hukum barat, di pihak lain berlaku hukum Mertokusumomerupakan arah bagi
agraria bagi mereka tunduk pada hukum adat pembangunan agraria sebagai acuan.
demikian pula pada objeknya (tanah). Ketiga Menurutnya, bahwa politik agraria adalah :
Faktor ideal yaitu faktor tujuan negara Diartikan sebagai garis besar kebijaksanaan
mengatur pemilikan dan penguasaan terhadap yang dianut oleh negaradalam usaha
memelihara, mengawetkan, memperuntukan, Aturan Peralihan UUD 1945 yang semua
mengusahakan, mengambil manfaat, memuat jiwa politik agraria kolonial yang
mengurus, dan membagi tanah dan sumber tidak sesuai lagi dengan jiwa dan semangat
alam lainnya termasuk hasilnya untuk keagrariaan masyarakat Idonesia. Kedua,
kepentingan dan ksejahteraan rakyat dan faktor Materil hukum agraria nasional. Faktor
negara, yang bagi negara Indonesia ini adalah faktor normatif peraturan agraria
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang nasional yang masih mengandung norma
(UUD) 1945. hukum dualism terhadap subjek dan objeknya
Berdasarkan beberapa uraian tersebut tampak dalam pengaturan hukum agraria nasional. Di
bahwa politik hukum agraria sangat erat satu sisi menganut hukum agraria Barat
kaitannya dengan pembangunan hukum sebagaimana diatur dalam KUH Perdata
agraria karena merupakan patokan umum atau maupun yang bersumber dari agrarische wet
garis-garis besar arah pembangunan hukum dan di pihak lain berlaku hukum agraria adat.
agraria. Diperlukannya pembangunan hukum dari sisi subjeknya, Hukum Agraria barat
agraria nasional sebagaimana disebutkan berlaku bagi golongan yang tunduk pada
dalam konsideran UUPA, khususnya huruf b, hukum barat, di pihak lain berlaku hukum
c, dan d yaitu: (a) hukum agraria yang masih agraria bagi mereka tunduk pada hukum adat
berlaku sekarang ini sebagian tersusun demikian pula pada objeknya (tanah). Dalam
berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari catatan sejarah setelah berlakunya UUPA,
pemerintahan jajahan dan sebagian maka seharusnya seluruh peraturan yang
dipengaruhi olehnya, sehingga bertentangan bertumpu pada politik hukum agraria kolonial
dengan kepentingan rakyat dan negara di menjadi hapus dan seharusnya diatur diatur
dalam menyelesaiakan revolusi nasional dalam satu unifikasi hukum agraria nasional.
sekarang ini dan pembangunan semesta (b) Ketiga Faktor ideal yaitu faktor tujuan negara
hukum agraria tersebut menpunyai sifat mengatur pemilikan dan penguasaan terhadap
dualisme, dengan berlakunya hukum adat, di tahan. Tentu saja politik hukum agraria
samping hukum agraria yang didasarkan atas kolonial tujuannya adalah untuk keuntungan,
hukum barat (c) Bagi rakyat asli Hukum kesejahteraan, dan kemakmuran Pemerintah
Agraria penjajahan itu tidak menjamin Hindia Belanda, orang-orang dari golongan
kepastian hukum. Dalam kaitan itu, isi Timur Asing, golongan Eropa, sedangkan
konsideran mendorong untuk dilakukan hukum agraria nasional politik hukum
perubahan hukum agraria nasional guna agrarianya bertujuan untuk mewujudkan
menggantikan politik hukum agraria kolonial kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang
yang tidak membawa pada kesejahteraan sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat
rakyat dalam bidang pemilikan dan Indonesia. Tujuan ini harus dicapai melalui
penguasaan tanah, dalam praktiknya perubahan dan pemantapan politik hukum
menimbulkan konflik horizotal dan vertikal. agraria pemerintah Indonesia secara
Selain itu, reformasi agraria juga akan berkesinambungan agar selalui sesuai dengan
menghapus dualisme hukum tanah di sumber hukumnya yaitu hukum adat.
Indonesia. Keempat, faktor agraria modern. Faktor ini
Dalam pembangunan hukum agraria nasional adalah pembidangan dimensi keagrariaan yang
ke depan menurut Notonagoro harus harus menjadi tujuan politik hukum agraia
memperhatikan beberapa faktor yaitu, nasional. Bidang-bidang yang merupakan
pertama, faktor formal. Faktor ini merupakan sasaran pengaturan dan tujuan politik hukum
faktor dimana arah kebijakan agraria masih keagrariaan Pemerintah Indonesia adalah
menggunakan peraturan-peraturan peralihan penekanan pada bidang sosial, bidang
pemerintah jajahan Belanda sebelum ekonomi, bidang etika dan bidang idiil
berlakunya UUPA sehingga unsur-unsur fundamental dan kelima, faktor ideologi
kebijakan politik kolonial masih menjiwai politik Pemerintah Indonesia yang
peraturan-peraturan agraria nasional. Masih menempatkan Indonesia yang terkait
ada beberapa peraturan agraria yang hubungan-hubungannya dengan negara-negara
menggunakan peraturan peralihan yang lain. Dalam pengaturan hukum agraria
terdapat dalam Pasal 142 UUDS 1950, Pasal nasional yang bertumpu pada hukum adat,
192 UUD sementara, dan terutama Pasal 2 dapat mengambil norma-norma hukum negara
lain asal tidak bertentangan dengan Pancasila penelitian. Sifat penelitian deskriptif
dan UUD NRI 1945 yang dijadikan dasar menggambarkan sejumlah fakta empiris
dalam pembangunan Hukum Agraria Nasional. tentang adanya beberapa hak-hak
Berdasarkan beberapa uraian tersebut dapat masyarakat adat yang dialihkan menjadi
dipahami bahwa kondisi realitas peraturan hak lain (HGU, Hak Milik) berdasarkan
hukum di Indonesia yang berlaku sekarang penetapan peraturan pemerintah daerah.
masih ada yang masih bertumpupada politik Oleh karena penelitian ini melihat
hukumagraria kolonial yang berkonsekuensi kesesuaian antara teori dengan praktek
pada konflik horizontal dalam masyarakat. (studi kasus) maka peneliti menetapkan
Beberapa kasus sengketa tanah, terutama tanah sifat kedua yaitu bersifat eksplanatori
adat yang telah beralih fungsi baik mengenai (explanatory case study) untuk menjawab
pemilikan dan penguasaannya (subjek dan rumusan masalah. Sifat penelitian
objeknya). Itulah sebabnya sehingga penelitian digunakan mengingat pembebasan tanah
ini sangat mendasar dilakukan verifikasi adat di beberapa kota dan kabupaten di
sosiologis tentang realistis penguasaan dan Indonesia pada umumnya menggunakan
pemilikan tanah-tanah adat di Indonesia agar beberapa surat keputusan baik dalam
dapat diketahui dan dilakukan perubahan bentuk keputusan pemerintah dan
terhadap beberapa peraturan yang masih kebutusan gubernur yang tidak bersifat
dijiwai politik hukum agraria kolonial guna umum serta hanya berlaku bagi pihak-
membangun hukum agraria nasional yang pihak yang terkena ketentuan tersebut
benar-benar bertumpu pada politik hukum (pemegang hak tanah adat, pihak penerima
agraria nasional berbasis pada hukum adat pengalihan hak tanah adat dan pemerintah
sebagaimana amanat dan penjelasan Pasal 5 provinsi).
UUPA. Perubahan akan adanya hukum agraria
nasional pada saat ini sudah mendesak sesuai C. Pendekatan Penelitian
dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat Penelitian ini menggunakan beberapa
Indonesia. pendekatan untuk menganalisis isu hukum
hakikat perlindungan hak-hak masyarakat
III.Metode Penelitian adat dalam sistem hukum agraria nasional.
A. Tipe Penelitian Beberapa pendekatan yang akan digunakan
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian dalam penelitian ini yaitu :
normatif-empiris. Penggunaan tipe 1. Pendekatan Perundang-Undangan
penelitian didasarkan pada rumusan (statute approache) pendekatan ini
masalah yang diajukan sebagai digunakan karena akan menganalisis
konsekuensi logis dari isu hukum semua peraturan perundang-undangan
penelitian dalam latar belakang masalah. agraria nasional yang dapat menjamin
Tipe penelitiani ini digunakan disesuaikan hakikat perlindungan hukum
dengan rumusan masalah yang diajukan. masyarakat adat, dalam sistem hukum
Berdasarkan rumusan masalah, maka tipe agraria nasional.
yang akan digunakan dalam proposal ini 2, Pendekatan sosiologis (sosiolgical
adalah tipe penelitian hukum normatif dan spproache) yaitu suatu pendekatan
tipe penelitian hukum empiris. Tipe yang melihat keterlibatan pemerintah
penelitian hukum normatif digunakan dan masyarakat yang terkait dengan
untuk menjawab rumusan masalah pertama perlindungan hak-hak masyarakat adat
dan kedua sedangkan tipe penelitian menurut peraturan perundang-
hukum empiris digunakan untuk menjawab undangan agraia nasional yang berlaku.
rumusan masalah ketiga. 3. Pendekatan Historis (historical
apptroache) yaitu pendekatan yang
B. Sifat Penelitian melihat sejarah pembentukan peraturan
Dalam penelitian ini menggunakan sifat perundang-undangan agraria yang
penelitian deskriptif dan eksplanatori. menjadi dasar hukum penguasaan,
Penggunaan kedua sifat penelitian tersebut pemilikan dan peralihan hak-hak atas
akan diterapkan pada pengalihan hak-hak tanah masyarakat adat.
masyarakat adat yang menjadi objek
Ketiga pendekatan ini menjadi dasar dan bersumber dari dokumentasi dari
cara menemukan hakikat perlindungan beberapa instansi terkait dan
hukum hak-hak atas masyarakat adat, merupakan hasil
tanah masyarakat adat melalui argumentasi dokumentasi dari beberapa instansi dan
hukum guna menjawab isu hukum atau masyarakat yang memberikan
permasalahan hukum yang diajukan dan gambaran tentang pelepasan tanah adat
merumuskan makna baru konsep hukum sesuai dengan keputusan Gubernur
adat sesuai perkembangan global (HAM) Sulawesi Tengah. Instansi terkait yang
lalu merumuskan norma hukum adat baru menjadi sumber data yaitu Kantor
yang dapat menjamin kepastian hukum BPN, Pemprop dan masyarakat
hak-hak masyarakat adat dalam sistem pemegang adat.
hukum agraria nasional. Data tersebut digunakan untuk
melengkapi data primer dalam analisis
D. Lokasi Penelitian terhadap temuan-temuan penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Kota Palu yang berkaitan langsung dengan
Provinsi Sulawesi Tengah dan beberapa perlindungan hak-hak masyaraat adat
kota dan kabupaten, terutama pada lokasi berdasarak hukum agraria nasional.
tanah adat yang masih eksis dan terjadi
konflik penguasaan tanah adat oleh F. Populasi dan Sampel
pemerintah dan masyarakat yang Populasi dalam penelitian ini adalah semua
melakukan pengalihan menjadi hak lain. masyarakat adat di Kota Palu Adapun
sampel penelitian adalah untuk masyarakat
E. Jenis dan Sumber Data yang memegang hak adat sebagai 30
Jenis dan sumber data yang orang, pemegang peralihan hak adat 3
digunakan dalam penelitian ini orang dan pemerintah provinsi 6 orang
1. Data Primer (Unsur Pemprov dan Badan Pertanahan di
Data primer adalah data yang masing-masing Kota/Kabupaten. Teknik
diperoleh dari lokasi penelitian dengan penarikan sampel baik untuk masyarakat
menggunakan beberapa instrumen pemegang hak adat , pemegang peralihan
penelitian yang berhubungan dengan hak adat dan pemerintah menggunakan
isu penelitian yang dirumuskan dalam purposive sampling (sampel bertujuan).
permasalahan penelitian yang telah Teknik ini digunakan karena pihak-pihak
ditetapkan sebelumnya . instrumen (responden dan informan) yang menjadi
hukum yang dimaksud adalah panduan sampel dalam penelitian ini tidak
dokumentasi bahan hukum yang semuanya mengetahui tentang pembebasan
digunakan untuk menjaring semua atau peralihan tanah adat dan hak-hak yang
bahan hukum yang diperlukan dalam terkait dengannya kepada pihak lain
menjawab issu hukum yang terdapat berdasarkan surat keputusan gubernur tidak
dalam rumusan masalah pertama dan semuanya diketahui oleh orang banyak.
kedua, selain itu instrumen hukum
untuk menjawab issu hukum empiris G. Teknik Pengumpulan Data
atau sosiologis menggunakan daftar Dalam pengumpulan bahan hukum dan
kousioner penelitian panduan data penelitian disesuaikan dengan tipe dan
wawancara. sifat penelitian yang digunakan. Tipe
Data primer ini merupakan data penelitian hukum normatif menggunakan
empiris. Bagaimana pelaksanaan teknik pengumpulan bahan hukum dengan
peraturan perundang-undangan yang menggunakan panduan dokumentasi.
terkait dengan perlindungan masyarakat Panduan dokumentasi ini digunakan untuk
adat dalam sistem hukum agraria mengumpulkan bahan hukum primer
nasional ,bahan hukum sekunder dan bahan hukum
2. Data Sekunder tersier. Adapun teknik pengumpulan data
Data sekunder merupakan data yang tipe penelitian hukum normatif-empiris
diperoleh dari lapangan dan adalah menggunakan panduan wawancara
menggunakan dokumentasi. Data ini
(indept interviuw) dan kuesioner (tertutup
dan terbuka) dan panduan dokumentasi. Darji Darmodihajo, 2008, Pokok-Pokok
Filsafat Hukum, PT. Gramedia Pustaka Utama,
H. Teknik Analisis Jakarta
Teknik analisis yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu analisis deduktif- Fiedman, Laurence, M. 2001. American Law
induktif (kualitatif) melalui penalaran dan And Introduction, Secon Edition: Hukum
argumentasi hukum. Langkah langkah Amerika : Suatu Pengantar, Terjemahan
analisis hukum yaitu, pertama melakukan Wishnu Basuki, PT. Tatanusa, Jakarta-
inventarisasi bahan hukum dan data sesuai Indonesia.
dengan tujuan penelitian. Kedua,
melakukan identifikasi bahan hukum dan FrancescoCecchi,MequanintBisetMelesse,
data sesuai dengan rumusan masalah yang 2016,Formallawandcustomarychange:A
diajukan. Ketiga, kategorisasi bahan labinfieldexperimentinEthiopia,
hukum dan data dalam bentuk tabel atau Netherlands
diagram dan bagan agar mudah dianalisis
sesuai dengan permasalahan yang Chomzah, Ali Achmad, 2003. Hukum Agraria
diajukan. Keempat melakukan analisis (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Prestasi
bahan hukum dan data dengan Pustaka Publisher,Cet. Pertama, Jakarta.
menggunakan uji falsifikasi (uji kebenaran
konseptual) terhadap bahan-bahan hukum Djamanat Samosir, 2003, Hukum Adat
dengan kerangka teoretis yang digunakan Indonesia, Eksistensi dalam Dinamika
dan mengadakan uji verifikasi (uji Perkembangan Hukum di Indonesia, CV.
korespondensi) terhadap data yang Nuansa Aulia, Bandung.
diperoleh tentang kesesuaian dengan fakta
di lapangan. Kedua analisis tersebut (uji Harsono, Budi, 2006. Hukum Agraria
falsifikasi dan uji verifikasi) menggunakan Nasional: Himpunan Peraturan-Peraturan
penalaran dan argumentasi hukum. Hukum Tanah, Edisi 2006,Cetakan
Ketujuhbelas,V. Taruna Gravica.
Daftar Pustaka
Hart, H.L.A. 2009. Konsep Hukum : The
Adrian Sutedi, 2012, Sertifikat Hak Atas Concept of Law, cet. I, Penerjemah
Tanah, Sinar Grafika, Jakarta. M.Khozim, Penerbit Nusa Media, Bandung.

Aminuddin Salle, 2007. Hukum Pengadaan Jawahir Thontowi, 2002. Hukum Internasional
Tanah untuk Kepentingna Umum, Cetakan di Indonesia (Dinamika dan Implementasinya
Pertama, Kreasi Total Media, Yogyakarta. dalam Beberapa Kasus Kemanusiaan).
Madyan Press, Yogyakarta.
Budi Harsono, 2007. Hukum Agraria
Indonesia, Sejarah Pembentukan UUPA, Isi Jhonny Ibrahim, 2005. Teori dan Metode
dan Pelaksanaannya, Jilid I, Hukum Tanah Penelitian Hukum Normatif, Cetakan Pertama,
Nasional, Djambatan, Jakarta. Bayumedia Publishing, Surabaya.

Buadiarjo, dkk. 2000. Reformasi Hukum di Mansyhur Effendi, H.A dan Taufani,
Indonesia: Terjemahan Diagnostik S.Evandri, HAM Dalam Dinamika /Dimensi
Assessment of Legal Development in Hukum, Politik, Elonomi, dan Sosial. Penerbit,
Indonesia, Word Bank Project (IDF Grand Ghalia Indonesia, Edisi Keempat, Jakarta,
No.28557), Cetakan Keempat, PT. Siber 2010.
Konsultan, Jakarta.
Mertokusumo, Sudikno, 2011. Teori Hukum,
Darwan Prinst., 2001. Sosialisasi dan Cetakan 0504030201, Unniversitas Atma Jaya
Diseminasi Penegakan Hak Asasi Manusia. Yogyakarta.
P.T. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati,
2005. Argumentasi Hukum, Gajah Mada Soerjono Soekanto dan Taneko Solemen,
University Press, Jogyakarta. 2008. Hukum Adat Indonesia, PT.
Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Rawls, John, 2011. A Teory of Justice: Teori
Keadilan: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Syahruddin Nawi, 2014, Penelitia Hukum
mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Normatif Versus Penelitian Hukum Empiris,
Negara, Pustaka Pelajar, Cet. Kedua, PT. Umitoha Ukhuwah Grafika, Makassar.
Yogyakarta.
Syamsuddin Pasamai, 2014. Sosisologi dan
Salman, S. Otje, H.R. 2009. Teori Hukum: Sosiologi Hukum : Suatu Pengantar : Suatu
Mengingat, Mengumpulkan, dan Membuka Pengetahun Praktis dan Terapan, Arus Timur,
Kembali, Cetakan Ketujuh, Refika Aditama, Makassar.
Bandung.
SamuelB.Biitir,BaslydB.Nara,2016,The
Samosir, Jamanat, 2013. Hukum Adat roleofCustomaryLandSecretariatsin
Indonesia : Eksistensi dalam Dinamika promotinggoodlocallandgovernancein
Perkembangan Hukum di Indonesia, Cetakan Ghana,Ghana
Pertama, C.V. Nuansa Aulia, Bandung.
Tolib Setiady, 2008. Intisari Hukum Adat
Supranto, J. 2003, Metode Penelitian Hukum Indonesia : Dalam Kajian Kepustakaan,
dan Statistik, Rineka Cipta, Jakarta. Alfabeta, Bandung.

Supriadi, 2007. Hukum Agraria, Cetakan Urip Santoso , 2005. Hukum Agraria dan
Pertama, Sinar Grafika, Bandung. Hak-Hak Atas Tanah, Kencana, Jakarta.
i