Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu
kondisi krusial dalam rangka mencari penyelesaian/jalan keluar. Keperawatan kritis
merupakan salah satu spesialisasi di bidang keperawatan yang secara khusus menangani
respon manusia terhadap masalah yang mengancam hidup. Seorang perawat kritis adalah
perawat profesional yang bertanggung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut
beserta keluarganya mendapatkan pelayanan keperawatan yang optimal.
Tantangan dokumentasi di area keperawatan kritis berkaitan dengan intensitas
asuhan keperawatan, kinerja yang berulang sangat tinggi, tugas-tugas teknik dengan
interval waktu yang sangat dekat, dan masalah pasien yang kompleks. Dokumentasi yang
tepat waktu, komprehensif, dan bermakna merupakan tantangan, sekalipun bagi perawat
keperawatan kritis yang paling kompeten dan berpengalaman.
Oleh karena berfungsi sebagai alat komunikasi dan sumber untuk membantu dalam
menentukan keefektifan perawatan dan untuk membantu menyusun prioritas keperawatan
berkesinambungan, tahap-tahap proses keperawatan harus dilakukan dengan tepat oleh
seorang perawat kritis terutama dalam melakukan pengkajian sebagai pintu utama untuk
memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas.
Dalam upaya penegakan diagnosis, seorang klinisi harus menguasai bagaimana
melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sistematis dan benar. Banyak hal yang
dapat digali pada anamnesis sehingga dengan anamnesis yang baik seorang klinisi dapat
mengarahkan kemungkinan diaknostik pada seorang penderita, sehingga dalam
melakukannya secara cermat dan sistematis. Pemeriksaan fisik yang pertama kali
dilakukan adalah memeriksa keadaan umum dan tanda-tanda vital, kemudian dilakukan
pemeriksaan head to toe. Kepala merupakan organ tubuh yang penting dikaji karena di
kepala terdapat organ-organ yang sangat berperan dalam fungsi kehidupan. Dalam
makalah ini, penulis akan membahas secara khusus mengenai pemeriksaan fisik kepala
yang meliputi pemeriksaan fisik kepala, mata, telinga, hidung, dan mulut.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan fisik ?
2. Apa tujuan dan prinsip pemeriksaan fisik?
3. Bagaimana melakukan pemeriksaan fisik pada kepala?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pemeriksaan fisik.
2. Untuk mengetahui tujuan dan prinsip pemeriksaan fisik.
3. Untuk mengetahui prosedur melakukan pemeriksaan fisik kepala.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemeriksaan Fisik


Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-
kelainan dari suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba
(palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi) (Priharjo, 2006).
Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan
memakai indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi
masalah kesehatan klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi,
auskultasi, palpasi, dan perkusi (Potter, 1996).

B. Tujuan dan Prinsip Pemeriksaan Fisik


Tujuan pemeriksaan fisik meliputi:
1. Mengetahui riwayat kesehatan
2. Menegakkan diagnosis dan rencana asuhan keperawatan
3. Menangani masalah pasien
4. Evaluasi asuhan keperawanan

Prinsip dasar pemeriksaan fisik meliputi:


1. Selalu meminta kesediaan atau izin pada pasien untuk setiap pemeriksaan.
2. Jagalah privasi pasien.
3. Pemeriksaan harus seksama dan sistematis.
4. Menjelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan, kegunaan, cara
dan bagian yang akan diperiksa).
5. Berikan instruksi spesifik yang jelas.
6. Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan.
7. Perhatikan ekspresi/ bahasa non verbal dari pasien.

3
C. Pemeriksaan Fisik Kepala
1. Pemeriksaan Kepala
a. Tujuan
Mengetahui bentuk dan fungsi kepala.
Mengetahui kelainan yang terdapat di kepala.
b. Persiapan Alat
Lampu.
Sarung tangan (jika diduga terdapat lesi/luka).
c. Prosedur pelaksanaan.
1) Inspeksi
Atur posisi klien duduk atau berdiri.
Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata, dll.
Lakukan inspeksi mengamati bentuk kepala, kesimetrisan dan
keadaan kulit kepala.
Inspeksi penyebaran, ketebalan, kebesihan dan tekstur, warna
rambut.
Ukuran, bentuk dan posisi kepala terhadap tubuh. Normal kepala
tegak lurus dan digaris tengah tubuh. Tulang kepala umumnya bulat
dengan tonjolan frontal dibagian anterior dan oksipital dibagian
posterior.
2) Palpasi
Atur posisi duduk atau berdiri.
Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata.
Pakai sarung tangan (terutama jika terdapat luka/lesi dikepala).
Lakukan palpasi dengan gerakan memutar yang lembut
menggunakan ujung jari, lakukan mulai dari depan turun ke bawah
melalui garis tengah kemudian palpasi setiap sudut garis kepala.
Kulit kepala di atas dasar tengkorak umumnya halus dan elastis.
Rasakan apakah terdapat benjolan / massa, tanda bekas luka
dikepala, pembengkakan, nyeri tekan. Jika hal itu ditemukan
perhatikan berapa besarnya / luasnya, bagaimana konsistensinya,
dan dimana kedudukannya, apakah didalam kulit, pada tulang atau
dibawah kulit terlepas dari tulang.

Teknik pemeriksaan Kemungkinan yang ditemukan


Rambut, termasuk kuantitas, Kasar dan getas pada miksedema ,
penyebaran dan tekstur. halus pada hipertiroidisme.

4
Kulit kepala, termasuk benjolan Kista pilar, psoriasis.
atau lesi.
Tulang tengkorak, termasuk ukuran Hidrosefalus, lekukan pada kulit kepala
dan kontur. karena trauma.
Wajah, termasuk simetri dan Paralisis wajah, emosi
ekspresi wajah.
Kulit, termasuk warna, tekstur, Pucat, halus, tumbuh rambut yang
penyebaran rambut dan lesi. berlebihan
Jerawat, kanker kulit.

2. Pemeriksaan mata
a. Tujuan :
Mengetahui bentuk dan fungsi mata.
Mengetahui adanya kelainan pada mata.
b. Persiapan alat.
Senter kecil
Surat kabar / majalah
Kartu snellen
Penutup mata
Sarung tangan (jika perlu)
c. Prosedur pelaksanaan
1) Inspeksi Kelopak mata
Anjurkan klien melihat lurus ke depan
Bandingkan mata kiri dan kanan, inspeksi posisi dan warna
kelopak mata
Anjurkan klien untuk memejamkan mata
Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata, serta pada
pinggir kelopak mata dan catat setiap kelainan yang ada
Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata dan posisi bulu
mata
Untuk inspeksi kelopak mata bawah, minta klien untuk
membuka mata. Perhatikan frekuensi refleks berkedip mata.
2) Konjungtiva dan sclera
Anjurkan klien untuk melihat lurus kedepan
Tarik kelopak mata bagian bawah ke bawah dengan
menggunakan ibu jari
Gunakan sarung tangan jika ada secret di tepi kelopak mata

5
Amati keadaan konjungtiva dan kantung konjungtiva bagian
bawah, catat jika terdapat infeksi, pus atau warnanya tidak
normal / anemis
Jika diperlukan, amati konjungtiva bagian atas, yaitu dengan
membuka atau membalik kelopak mata atas dengan posisi
pemeriksa berdiri dibelakang klien
Amati warna sclera ketika memeriksa konjungtiva
3) Kornea
Berdiri di sisi klien, lalu dengan cahaya tidak langsung, inspeksi
kejernihan dan tekstur kornea
Lakukan uji sensitivitas kornea, dengan menyentuhkan
gulungan kapas seteril untuk melihat reaksi berkedip
4) Pupil dan iris
Atur pencahayaan kamar menjadi sedikit redup
Pegang kepala dan dagu klien agar tidak bergerak-gerak
Inspeksi ukuran, bentuk, keselarasan pupil, dan reaksi terhadap
cahaya
Uji refleks pupil terhadap cahaya:
Sinari pupil klien dengan senter dari samping
Amati mengecilnya pupil yang sedang disinari
Lakukan pada pupil yang lain
Periksa refleks akomodasi
Anjurkan klien untuk menatap suatu objek yang jauh
(dinding yang jauh).
Anjurkan klien untuk menatap objek, pemeriksa (jari /
pensil) yang dipegang 10 cm dari batang hidung klien.
Amati perubahan pupil dan akomodasi melalui
konstriksi saat melihat objek yang dekat.
Reaksi pupil dan reflex
Periksa posisi, ukuran, bentuk, dan respons pupil. Fotofobia dapat
dikaitkan dengan peningkatan tekanan intrakranial atau iritasi
meningeal. Respons pupil langsung tidak terjadi pada mata yang
buta; akan tetapi, respon konsensual dapat terjadi pada mata yang
buta ketika cahaya diarahkan ke mata yang normal. Pupil pinpoint
dapat terjadi akibat obat-obatan miotik, obat-obatan opiat, atau
hemoragi pontin. Dilatasi pupil dapat terjadi karena penggunaan

6
obat-obatan cycloplegic (atropin) atau tekanan pada saraf kranial III
(misal akibat tumor atau bekuan darah). Pupil yang terfiksasi terjadi
karena koma barbiturat atau hipotermia. Bentuk pupil yang tidak
teratur dapat terjadi karena operasi katarak.
Posisi: pupil harus berada di tengah.
Ukuran: catat ukuran dalam milimeter.
Bentuk: pupil normalnya bulat.
Refleks cahaya langsung: pupil yang diperiksa harus konstriksi
secara cepat.
Refleks cahaya konsensual: pupil yang tidak diperiksa
konstriksi saat cahaya diarahkan ke mata yang lain.
Akomodasi: pupil konstriksi dan pandangan mata bertemu saat
pasien terfokus pada benda yang digerakkan mendekati hidung.
Refleks kornea: tidak ada refleks (tidak ada kedipan atau
penutupan kelopak mata) menandakan kerusakan saraf
trigeminus atau saraf fasialis, yang memerlukan perlindungan
mata dengan air mata buatan dan pelindung mata.

Gambar 1 Ukuran Pupil dalam Milimeter

5) Pergerakan bola mata


Anjurkan klien untuk melihat lurus ke depan.
Amati kedua bola mata apakah diam atau nistagmus
(pergerakan secara spontan).
Amati bentuk, frekuensi (cepat atau lambat), amplitude (luas
atau sempit) bola mata, jika ditemukan nistagmus.
Amati apakah kedua mata memandang lurus ke depan atau salah
satu deviasi.
Luruskan jari telunjuk dan dekatkan pada klien dengan jarak 15
30 cm.
Instruksikan klien agar mengikuti gerakan jari pemeriksa ke-8
arah tatapan utama, yaitu atas dan bawah, kanan dan kiri,

7
diagonal ke atas dank e bawah kiri, diagonal ke atas dank e
bawah kanan.
6) Medan penglihatan
Pemeriksa berdiri di depan klien kira kira 60 cm.
Tutup mata yang tidak di periksa (pemeriksa ataupun klien).
Instruksikan klien untuk melihat lurus ke depan dan
memfokuskan pada satu titik pandang.
Gerakkan jari pada jarak yang sebanding dengan panjang lengan
di luar lapang penglihatan.
Minta klien untuk memberitahu pemeriksa jika ia melihat jari
pemeriksa.
Perlahan tarik jari pemeriksa mendekat. Jaga jari agar selalu
tetap di tengah antara pemeriksa dank lien.
Kaji mata sebelahnya.
7) Penglihatan warna
Siapkan kartu Ichihara.
Pastikan ruangan cukup terang.
Instruksikan klien untuk menyebutkan gambar atau angka yang
ada pada kartu tersebut.
8) Palpasi mata
Anjurkan klien untuk memejamkan mata.
Palpasi kedua mata dengan jari telunjuk di atas kelopak mata
sisi kiri dan sisi kanan.
Dengan menekan nekan bola mata, periksa nilai
konsistensinya dan (adanya) nyeri tekan.

Teknik pemeriksaan Kemungkinan yang di temukan


Uji ketajaman pandang kiri masing- Ketajaman menghilang
masing mata.
Kaji lapang pandang, jika ada indikasi. Hemianopsia, kelainan quadrantik
Inspeksi
Posisi dan kesejajaran mata Eksoftalmus, strabismus
Alis mata Dermatitis seborea
Kelopak mata Bintil, kalazion, ekstropion, ptosis,
xantelasma
Apparatus lakrimalis Pembengkakan sakus lakrimalis
Sklera dan konjungtiva Mata merah, ikterik
Kornea, iris, dan lensa Opaksitas corneal, katarak

8
Periksa pupil terhadap
Ukuran, bentuk, dan simetri Miosis, midriasis, anisokor
Reaksi terhadap cahaya, dan jika hal Kerusakan pada saraf ketiga paralisis
ini abnormal
Reaksi dekat Berguna pada pupil tonik, pupil Argyll
Robertson
Kaji otot otot ekstraokuler dengan
mengamati
Refleksi corneal dari cahaya garis Ketidakseimbangan muscular
tengah
Ke enam arah cardinal kilas Strabismus paralitik atau nonparalitik,
pandang nistagmus, kelambanan kelopak mata
Konvergen Buruk pada hipertiroidisme
Inspeksi fundi dengan sebuah
optalmoskop, termasuk
Refleks merah Katarak, mata artificial
Diskus optikus Papiledema, glukomatosa cupping,
atrofi optikus
Arteri, vena dan persimpangan A-V Perubahan hipertensif
Perbatasan retina. Perhatikan Hemoragi, eksudat, bercak katun
adanya lesi wol, mikroanurisme, pigmentasi
Area macular Degenerasi macular
Struktur anterior Floater vitreosa, katarak

9) Pemeriksaan Visus
Pemeriksaan visus atau tajam penglihatan diukur menggunakan optotip

snellen. Seseorang yang masih memiliki visus yang normal bisa melihat

pada jarak 6 meter tanpa alat bantuan. Berarti kondisi visus pasien

tersebut adalah 6/6 (orang normal bisa melihat optotip snellen pada

jarak 6 meter, pasien juga bisa melihat optotip snellen pada jarak 6

meter) atau emetrop (istilah medis).


Seseorang yang mengalami penurunan tajam penglihatan bisa dicurigai

karena kelainan refraksi seperti miopi (rabun jauh), hipermetropi (rabun

dekat) atau kelainan pada organ mata (kelainan media refraksi) seperti

9
katarak dsb. Untuk mengetahui apakah penderita mengalami kelainan

pada refraksinya atau media refraksinya bisa dilakukan tes pinhole.

Cara dan interpretasinya bisa dilihat pada ceklist.


10) Pemeriksaan buta warna
Uji Ishiara merupakan uji untuk mengetahui adanya efek
pengelihatan warna, didasarka pada menentukan angka atau pola yang
ada pada kartu dengan berbagai ragam warna (Ilyas, 2008)
Pada orang normal di dalam lingkaran akan tampak angka atau garis
tertentu. Tetapi pada orang buta warna yang tampak pada lingkaran
akan berbeda seperti yang dilihat oleh orang normal. Tes ishihara
biasanya dilengkapi oleh kunci jawaban untuk setiap lembarnya. hasil
tes seseorang akan dibandingkan dengan kunci jawaban tersebut. dari
sini dapat ditentukan apakah seseorang normal atau buta warna.

Contoh Tes Ishihara :

Penyimpangan dari Normal pada Pemeriksaan Mata


Posisi dan keselarasan:
Mata yang melotot (eksoptalmus) biasanya menandakan adanya hipertiroid.
Strabismus (mata menyilang atau menatap ke arah yang berlainan)
disebabkan oleh cedera neuromuskuler atau cacat turunan.
Alis mata
Asimetris
Kekasaran rambut dan gagalnya ekstensi di atas tonjolan temporal dapat
mengindikasikan hipotiroid.

10
Alis mata yang lebih tipis dari biasanya mungkin menandakan pencabutan
atau pencukuran alis.
Ketidakmampuan untuk menggerakkan alis mata menandakan adanya
kelumpuhan saraf wajah.
Kelopak mata
Penurunan mata abnormal menutupi pupil (ptosis) dapat disebabkan oleh
edema dan kerusakan saraf kranial ketiga.
Penyimpangan garis posisi kelopak mata termasuk ektropion (pembalikan
ke luar tepi kelopak mata) dan entropion (pembalikan ke dalam tepi
kelopak mata).
Kemerahan pada kelopak mata menandakan adanya inflamasi atau infeksi.
Pembengkakan kelopak mata, disebabkan oleh gagal jantung, gagal ginjal,
dan terapi, atau gangguan kemampuan kelopak untuk menutup penuh.
Lesi kekuningan datar, agak tebal, bentuk tidak teratur pada jaringan
periorbital mungkin berhubungan dengan penyimpangan lipid. Xantelasma
terdiri dari peningkatan kerak kolesterol, disimpan terbanyak di daerah
nasal bagian kelopak mata atas dan bawah.
Kegagalan kelopak mata untuk menutup penuh umum terdapat pada klien
tidak sadar atau mereka dengan kelumpuhan saraf wajah.
Aparatus lakrimal
Area kelenjar yang bengkak , edema, atau kemerahan mungkin
menandakan adanya tumor, infeksi atau abses.
Penyumbatan duktus lakrimal mungkin akibat edema dan pengeluaran air
mata berlebihan.
Konjungtiva dan sklera
Konjungtiva yang pucat disebabkan oleh anemia.
Konjungtiva yang merah sekali merupakan akibat dari inflamasi
(konjungtivitis)
Cairan dari mata; bila kekuningan, biasanya hasil kerja dari bakteri. Suatu
alergi dapat menimbulkan cairan keputihan.
Pupil dan iris
Pupil yang dilatasi atau kontriksi bisa timbul akibat gangguan neurologis
atau pengobatan.
Miosis atau kontriksi pupil sampai di bawah 2 mm, biasanya disebabkan
oleh obat-obatan seperti morfin dan obat-obatan untuk mengontrol
glaukoma. Pupil miotik biasanya gagal berdilatasi dalam gelap.

11
Midriasis, atau dilatasi pupil sampai di atas 6 mm, biasanya terdapat pada
kondisi koma, apakah akibat diabetes, alkohol, uremia, atau epilepsi. Pupil
gagal untuk kontriksi terhadap cahaya.
Keterlambatan atau ketiadaan refleks cahaya atau refleks akomodasi
mungkin mengindikasikan perubahan dalam tekanan intrakranial, lesi saraf,
pengobatan optalmik atau trauma langsung pada mata.
3. Pemeriksaan telinga.
a. Tujuan :
Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga, dan fungsi
pendengaran.
b. Persiapan alat.
o Arloji berjarum detik
o Garpu tala
o Speculum telinga
o Lampu kepala
c. Prosedur Pelaksanaan.
1) Inspeksi dan palpasi telinga luar.
o Bantu klien dalam posisi duduk, jika memungkinkan
o Posisi pemeriksa menghadap kesisi telinga yang dikaji
o Atur pencahayaan dengan menggunakan auroskop, lampu kepala, atau
sumber cahaya lain sehingga tangan pemeriksa bebas bekerja
o Inspeksi telinga luar terhadap posisi, warna, ukuran, bentuk, hygiene,
(adanya) lensi/massa, dan kesimetrisan. Bandingkan dengan hasil
normal
o Lakukan palpasi dengan memegang telinga dengan menggunakan jari
telunjuk dan jempol.
o Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis, yaitu dari jaringan lunak
kejaringan keras dan catat jika ada nyeri
o Lakukan penekanan pada areatragus ke dalam dan tulang telinga
dibawah daun telinga
o Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan
o Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut
Pada orang dewasa, pegang daun telinga/heliks dan perlahan-
lahan tarik daun telinga keatas dan kebawah sehingga lurus dan
menjadi mudah diamati
Pada anak-anak, tarik daun telinga kebawah
o Periksa adanya peradangan, pendarahan, atau kotoran/serumen pada
lubang telinga.

12
Gambar 2. Gendang Telinga

13
2) Pemeriksaan pendengaran
a) Menggunakan bisikan
Atur posisi klien berdiri membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.
Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak
diperiksa
Bisikan suatu bilangan, missal tujuh enam
Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar
Periksa telinga yang lainya dengan cara yang sama
Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien
b) Menggunakan arloji
Ciptakan suasana ruangan yang tenang
Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien
Minta klien untuk member tahu pemeriksa jika ia mendengar detak
arloji
Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan meminta
klien untuk member tahu pemeriksa jika ia tidak mendengar detak
arloji. Normalnya, klien masih mendengar sampai jarak 30 cm dari
telinga.
c) Menggunakan garpu tala
Pemeriksaan Rinne
Pegang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau
buku buku jari tangan yang berlawanan.
Letakan tangkai garpu tala pada prosesus mastoideus klien
Anjurkan klien untuk member tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan
getaran lagi
Angkat garpu tala dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga
klien 1-2 cm dengan posisi garpu tala paralel terhadap lubang telinga
klien.
Instruksikan klien untuk member tahu apakah ia masih mendengar suara
atau tidak.
Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut.
Pemeriksaan weber
Pegang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau
buku jari tangan yang berlawanan.
Letakan tangkai garpu tala di tengah puncak kepala klien.
Tanyakan pada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua
telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga.

14
Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut.

Gambar 3. Uji Rinne dan Webber

Teknik Pemeriksaan Kemungkinan yang Ditemukan


Daun telinga
Lakukan Inspeksi Keloid, kista epidermoid
Jika Anda menduga adanya otitis
Gerakan daun telinga keatas dan Menyebabkan nyeri pada otitis
kebawah, dan tekan pada tragus. eksterna.
Tekan dengan kuat di belakang Mungkin akan nyeri tekan pada
daun telinga. otitis media dan mastoiditis.
Lubang telinga dan gendang telinga.
Tarik daun telinga keatas, kebelakang
dan sedikit keluar.
Inspeksi, melalui speculum otoskop,
Lubang telinga Serumen, otitis eksterna
Gendang telinga Otitis media akut, otitis media
serosa, timpono-sklerosis,
perforasi.
Pendengaran
Kaji ketajaman pendengaran terhadap
bisikan atau suara pembicaraan.
Jika pendengaran menghilang, gunakan Uji ini membantu membedakan
garpu tala 512-Hz untuk antara ketulian konduksi dengan
kehilangan pendengaran secara
sensorineural.

15
Uji lateralisasi (uji Weber)
Bandingkan konduksi udara dan
konduksi tulang (uji Rinne)

4. Pemeriksaan hidung.
a. Tujuan :
Mengetahui bentuk dan fungsi hidung.
Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya inflamasi atau infeksi.
b. Persiapan alat.
Speculum hidung.
Senter kecil.
Lampu penerangan.
Sarung tangan (jika diperlukan).
c. Prosedur pelaksanaan
1) Inspeksi dan palpasi hidung bagian luar.
Pemeriksa duduk berhadapan dengan klien.
Atur penerangan.
Amati bentuk dan tulang hidung bagian luar dari sisi depan,samping,
dan atas.
Amati keadaan kulit hidung terhadap warna dan adanya pembengkakan.
Amati kesimetrisan lubang hidung.
Observasi pengeluaran dan pelebaran nares (lubang hidung). Jika
terdapat pengeluaran (secret, darah, dll), jelasakan karakter, jumlah dan
warnanya.
Lakukan palpasi lembut pada batang dan jaringan lunak hidung
terhadap nyeri, massa.
Letakkan satu jari pada masing-masing sisi arkus nasal dan
memapalsinya dengan lembut,lalu gerakan jari dari batang ke ujung
hidung.
Kaji mobilitas septum hidung.

2) Inspeksi hidung bagian dalam.


Pemeriksa duduk berhadapan dengan klien.
Pasang lampu kepala.
Atur lampu agar dapat secara adekuat menerangi lubang hidung.
Tekan hidung secara lembut untuk mengelevasikan ujung hidung dan
lakukan pengamatan bagian anterior lubang hidung.
Amati posisi septum hidung

16
Pasang ujung speculum hidung pada lubang hidung sehingga rongga
hidung dapat diamati.
Amati kartilago dan dinding-dinding rongga hidung serta selaput lender
pada rongga hidung (warna, sekresi, bengkak).
Lepas speculum secara perlahan-lahan.
Teknik Pemeriksaan Kemungkinan yang Ditemukan
Inspeksi hidung eksternal
Inspeksi, melalui speculum,
Mukosa hidung yang menutupi Pembengkakan dan warna merah pada
septum dan turbisani, perhatikan rintis oleh virus, bengkak dan pucat
warnanya dan setiap pembengkakan pada rintis alergik; polip; ulkus karena
penggunaan kokain.
Septum nasi terhadap posisi dan Penyimpangan, perforasi
integritas
Palpasi sinus terhadap nyeri tekan: Nyeri tekan pada sinusitis akut
Frontal
Maksilaris

5. Pemeriksaan Mulut.
a. Tujuan :
Mengetahui bentuk dan setiap kelainan mulut.
b. Persiapan alat
Senter kecil
Sudip lidah
Sarung tangan bersih
Kasa
c. Prosedur pelaksanaan
Inspeksi mulut
Atur duduk klien berhadapan dengan pemeriksa dan tingginya sejajar.
Amati bibir klien untuk mengetahui warna bibir, kesimetrisan, kelembaban,
dan apakah ada kelainan konginetal, bibir sumbing,pembengkakan, lesi,
atau ulkus.
Instruksikan klien untuk membuka mulut guna mengamati gigi klien.
Atur penerangan yang cukup, jika diperlukan gunakan sudip lidah untuk
menekan lidah sehingga gigi akan tampak lebih jelas.
Amati keadaan, jumlah, ukuran, warna, kebersihan, karies,dll.
Amati keadaan gusi, (adanya) lesi, tumor, pembengkakan.
Observasi kebersihan mulut dan (adanya) bau mulut/halitosis.

17
Amati lidah terhadap kesimetrisan dengan cara meminta kilen untuk
menjulurkan lidahya, lalu amati warna, kesejajaran, atau( adanya) kelainan.
Amati semua bagian mulut termasuk selaput lender mulut dengan me,eriksa
warna, sekresi, (adanya) peradangan, perdarahan, ataupun ulkus.
Tarik lembut bibir kebawah menjauhi gigi dengan jari yang terpasang
sarung tangan.inspeksi mukosa terhadap warna, tekstur, hidrasi, dan lesi.
Beri klien kesempatan untuk beristirahat dengan menutup mulutnya, jika ia
lelah.
Anjurkan klien untuk mengangkat kepala sedikit ke belakang dan membuka
mulut ketika menginspeksi faring.tekan lidah ke bawah ketika klien berkata
ah. Amati faring terhadap kesimetrisan ovula. Periksa tonsil apakah
meradang atu tidak.
Palpasi mulut
Pemeriksa duduk berhadapan dengan klien.
Anjurkan klien membuka mulut, pemeriksa memakai sarung tangan.
Pegang pipil di antara ibu jari dan tangan (jari telunjuk berada di dalam).
Lakukan palpasi secara sistematis dan kaji adanya tumor, pembengkakan
atau adanya nyeri.
Palpasi dasar mulut dengan menginstruksikan klien untuk mengatakan el,
lalu dengan jari telunjuk tangan kanan lakukan palpasi dasar mulut secara
sitematis, sedangkan ibu jari menekan bawah dagu untuk mempermudah
palpasi.
Palpasi lidah dengan menginstruksikan klien untuk menjulurkan lidah dan
lidah dipegang dengan kasa steril menggunakan tangan kiri. Lakukan
palpasi lidah, terutama bagian belakang dan batas-batas lidah dengan
menggunakan jari telunjuk kanan.

Teknik Pemeriksaan Kemungkinan yang Ditemukan


Inspeksi
Bibir Sionasis, pucat, seilosis
Mukosa oral Bercak kanker
Gusi Gingivitis, penyakit periodontal

18
Gigi Karies dentis, ompong.
Langit-langit mulut Torus palatines
Lidah, termasuk
Papilla Glositis
Simetris Paralisis saraf cranial ke-12
Lesi Kanker lidah
Dasar mulut Kanker
Faring, termasuk
Warna atau eksudat Faringitis

19
CHECKLIST

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan
memakai indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi
masalah kesehatan klien. Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi,
auskultasi, palpasi, dan perkusi.
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya
bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan
komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan
merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien.
Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien yang baru
masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk dirawat, secara rutin pada klien yang sedang
dirawat, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting
dan harus di lakukan pada kondisi tersebut, baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak
sadar. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik untuk
untuk menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat untuk proses
keperawatan, maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.
Pemeriksaan fisik kepala terdiri dari pemeriksaan fisik pada kulit kepala dan bentuk
kepala, pemeriksaan fisik mata, pemeriksaan fisik telinga, pemeriksaan fisik hidung, dan
pemeriksaan fisik mulut. Pemeriksaan fisik kepala menggunakan teknik inspeksi dan
palpasi dengan alat-alat pendukung seperti pen light, rinoskopi, spekulum telinga, spatel
lidah, dll.

B. Saran
Agar pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan baik, maka perawat harus memahami
ilmu pemeriksaan fisik dengan sempurna dan pemeriksaan fisik ini harus dilakukan secara
berurutan, sistematis, dan dilakukan dengan prosedur yang benar.

21
DAFTAR PUSTAKA

Akunjee, Nazmul dan Muhammad Akunjee. 2011. Panduan Menghadapi OSCE. Jakarta: EGC.

Kusyati, Eny. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta:
EGC.

Potter, Patricia A. 1996. Pengkajian Kesehatan. Jakarta: EGC.

Priharjo, Robert. 2006. Pemeriksaan Fisik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Stillwell, Susan B. 2011. Pedoman Keperawatan Kritis Edisi 3. Jakarta: EGC.

22
Lampiran

Tabel 1 SARAF KRANIAL


Saraf Evaluasi
Olfaktorius (I) Indra pencium
Optikus (II) Penglihatan: lapang pandang dan ketajaman
Okulomotorius (III), Reaksi pupil, gerakan ekstraokuler:
III-mengevaluasi gerakan mata ke atas dan ke luar, ke bawah dan
troklearis (IV), dan
keluar, ke atas dan ke dalam;
abdusens (VI)
IV-mengevaluasi gerakan mata ke bawah dan ke dalam;
VI-mengevaluasi gerakan mata ke luar
Sensasi pada kedua sisi wajah, membuka dan menutup rahang,
Trigeminus (V)
refleks kornea
Fasialis (VII) Gerakan otot wajah: alis, senyum, mengerutkan dahi, menutup
kelopak mata; sensasi pengecapan
Akustik (VIII)
Pendengaran
Glosofaringeus (IX),
Refleks muntah, menelan, elevasi palatum mole
vagus (X)
Aksesorius spinal (XI) Mengangkat bahu dan menggerakkan kepala
Hipoglosus (XII) Posisi, gerakan, dan kekuatan lidah

23