Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

RUMAH ADAT BALI


Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyehatan Permukiman
dan Real Estate
Semester IV

Disusun Oleh :
1. Argareza Sandya Fagusta (PO 7133110043)
2. Dewi Ermawati (PO 7133110048)
3. Diah Nur Isnaeni (PO 7133110050)
4. Emma Suryani (PO 7133110056)
5. Muh.Okta Vauzan (PO 7133110075)
6. Siska Septiana (PO 7133110090)
7. Sri Karyati (PO 7133110091)
8. Yelli Atiefsa N. (PO 7133110095)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat
penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah yang sehat dan layak huni tidak
harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat
juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni. Rumah sehat adalah kondisi
fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan
penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Rumah adat merupakan salah satu jenis rumah yang ditinjau dari
budaya daerah masing masing. Rumah adat inipun juga harus
memperhatikan aspek aspek agar menjadi rumah sehat.
Rumah adat bali memiliki ciri khas arsitektur yang timbul dari suatu
tradisi, kepercayaan dan aktifitas spiritual masyarakat Bali yang diwujudkan
dalam berbagai bentuk fisik. Seperti rumah adat, tempat suci (tempat
pemujaan yang disebut pura), balai pertemuan, dan lain-lain. Lahirnya
berbagai perwujudan fisik juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
keadaan geografi, budaya, adat-istiadat, dan sosial ekonomi masyarakat.
Dilihat dari sudut pandang geografi arsitektur bali menyesuaikan
dengan iklim tropis Indonesia dan keadaan dataran tinggi ataupun rendah,
untuk daerah dataran tinggi pada umunya bangunannya kecil-kecil dan
tertutup untuk menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin.
Tinggi dinding di buat pendek, untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu
sering. Luas dan bentuk pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan
disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya. Sedangkan untuk daerah
dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa
menampung beberapa massa dengan pola komunikatif, umumnya berdinding
terbuka, yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri. Seperti bale daja
untuk ruang tidur dan menerima tamu penting, bale dauh untuk ruang tidur
dan menerima tamu dari kalangan biasa, bale dangin untuk upacara, dapur
untuk memasak, jineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk
pemujaan. Untuk keluarga raja dan brahmana pekarangnnya dibagi menjadi
tiga bagian yaitu jaba sisi (pekarangan depan), jaba tengah (pekarangan
tengah) dan jero (pekarangan untuk tempat tinggal). Dari aspek budaya dan
adat istiadat arsitektur bali lebih cenderung membuat bangunan yang bisa
digunakan untuk berbagai aktifitas mulai aktifitas sehari-hari seperti tidur,
memasak dan untuk hari-hari tertentu juga digunakan untuk upacara..
Dari aspek ekonomi terlihat dari bahan bangungan yang
mencerminkan status sosial pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan
popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan,
sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata-bata.
Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik
suatu kumpulan kekerabatan menggunakan bahan sesuai kemampuan
ekonomi masing-masing keluarga. Seperti untuk bahan atap menggunakan
ijuk bagi yang ekonominya mampu sedangkan bagi yang ekonominya kurang
mampu bisa menggunakan alang-alang atau genteng.
Dapat dilihat arsitektur tradisional bali sudah memikirkan bentuk
bangunan yang sesuai dengan keadaan geografi, aspek ekonomi, dan adat
istiadat. Sehingga bangunan ini sudah cukup nyaman bagi penghuni
khususnya warga bali yang tinggal di daerah dataran tinggi bali.
Oleh karena itu kami akan membahas tentang rumah adat Bali
berdasarkan kriteria rumah sehat yang telah tertuang dalam Undang
Undang.

B. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui karakteristik rumah adat Bali
2. Untuk membandingkan rumah adat Bali dengan syarat rumah sehat

BAB II
ISI

A. PENGERTIAN RUMAH
Menurut Undang Undang No 4 Tahun 1992 tentang Perumahan
dan Pemukiman, rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat
tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Rumah yang sehat
sebagai tempat untuk berlindung, beristirahat, dan sarana pembinaan
keluarga. Sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik,
rohani, maupun sosial.

B. RUMAH ADAT
Di Indonesia mempunyai berbagai macam rumah adat karena
Indonesia mempunyai berbagai suku dan budaya untuk setiap daerahnya.

C. KARAKTERISTIK RUMAH ADAT BALI


1. Bangunan Hunian
Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita
Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman
seperti tersebut di atas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci,
digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga).
Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam
tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.
Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan
aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke
arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai
penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat
bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut
terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen
dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale
sekenam) merupakan bangunan terbuka.
Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang
merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala
keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai
empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan
keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang
penting & berharga).
Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai
pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang
tersebut di atas.

2. Kajian Ruang Luar dan Ruang Dalam


Mengamati hunian tradisional Bali, sangat berbeda dengan hunian
pada umumnya. Hunian tunggal tradisional Bali terdiri dari beberapa
masa yang mengelilingi sebuah ruang terbuka. Dinding pagar inilah yang
membatasi alam yang tak terhingga menjadi suatu ruang yang oleh
Yoshinobu Ashihara disebut sebagai ruang luar. Jadi halaman di dalam
hunian masyarakat Bali adalah sebuah ruang luar. Konsep pagar keliling
dengan masa-masa di dalamnya memperlihatkan adanya kemiripan antara
konsep Bali dengan dengan konsep ruang luar di Jepang. Konsep pagar
keliling yang tidak terlalu tinggi ini juga sering digunakan dalam usaha
untuk meminjam unsur alam ke dalam bangunan.
Masa-masa seperti Uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat, bale
sekenam, lumbung dan paon adalah masa bangunan yang karena beratap,
mempunyai ruang dalam. Masa-masa tersebut mempunyai 3 unsur kuat
pembentuk ruang yaitu elemen lantai, dinding dan atap (pada bale tiang
sanga, bale sikepat maupun bale sekenam dinding hanya 2 sisi saja,
sedang yang memiliki empat dinding penuh hanyalah uma meten).
Keberadaan tatanan umah meten, bale tiang sanga, bale sikepat dan
bale sekenam membentuk suatu ruang pengikat yang kuat sekali yang
disebut natah. Ruang pengikat ini dengan sendirinya merupakan ruang
luar. Sebagai ruang luar pengikat yang sangat kuat, daerah ini sesuai
dengan sifat yang diembannya, sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi.
Pada saat tertentu natah digunakan sebagai ruang tamu sementara,
pada saat diadakan upacara adat, dan fungsi natah sebagai ruang luar
berubah, karena pada saat itu daerah ini ditutup atap sementara/darurat.
Sifat Natah berubah dari ruang luar menjadi ruang dalam karena
hadirnya elemen ketiga (atap) ini. Elemen pembentuk ruang lainnya
adalah lantai tentu, dan dinding yang dibentuk oleh ke-empat masa yang
mengelilinginya. Secara harafiah elemen dinding yang ada adalah elemen
dinding dari bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam yang terjauh
jaraknya dari pusat natah. Apabila keadaan ini terjadi, maka adalah sangat
menarik, karena keempat masa yang mengelilinginya ditambah dengan
natah (yang menjadi ruang tamu) akan menjadi sebuah hunian besar dan
lengkap seperti hunian yang dijumpai sekarang. Keempatnya ditambah
natah akan menjadi suatu ruang dalam yang satu, dengan paon dan
lumbung adalah fungsi service dan pamerajan tetap sebagai daerah yang
ditinggikan. Daerah pamerajan juga merupakan suatu ruang luar yang
kuat, karena hadirnya elemen dinding yang membatasinya.

3. Kajian Ruang Positif dan Ruang Negatif


Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian, angkul-angkul
berfungsi sebagai gerbang penerima. Kemudian orang akan dihadapkan
pada dinding yang menghalangi pandangan dan dibelokan ke arah
sembilan-puluh derajat. Keberadaan dinding ini (aling-aling), dilihat dari
posisinya merupakan sebuah penghalang visual, dimana ke-privaci-an
terjaga. Hadirnya aling-aling ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh
adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari dalam hunian, tidak ada
perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan aling-aling ini
memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding
keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam
penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas
dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positip.
Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang negatip.
Dilihat dari kedudukannya dalam nawa-sanga, natah berlokasi di
daerah madya-ning-madya, suatu daerah yang sangat manusia. Apalagi
kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi,
maka natah adalah ruang positip. Pada natah inilah semua aktifitas
manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu
centripetal order.
Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh penyengker
(keliling), sehingga daerah ini telah diberi frame untuk menjadi sebuah
ruang dengan batas-batas lantai dan dinding serta menjadi ruang-luar
dengan ketidak-hadiran elemen atap di sana.Nilai sebagai ruang positip,
adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana.
Pamerajan atau sanggah, adalah bangunan paling awal dibangun,
sedang daerah public dan bangunan service (paon, lumbung dan aling-
aling) dibangun paling akhir.
Proses ini menunjukan suatu pembentukan berulang suatu ruang-
positip; dimana ruang positip pertama kali dibuat (Pamerajan atau
sanggah), ruang diluarnya adalah ruang-negatip. Kemudian ruang-negatip
tersebut diberi frame untuk menjadi sebuah ruang-positip baru. Pada
ruang positip baru inilah hadir masa-masa uma meten, bale tiang sanga,
pengijeng, bale sikepat, bale sekenam, lumbung, paon dan lain-lain.
Kegiatan serta aktifitas manusia terjadi pada ruang positip baru ini.

BAB III
PEMBAHASAN

Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi
kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah
setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai
tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang
sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah
yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni. Rumah
sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga
memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang
optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap
beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:

1. Sirkulasi udara yang baik.

2. Penerangan yang cukup.

3. Air bersih terpenuhi.

4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan


pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak
terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri


Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:

1. Bahan Bangunan

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat
membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :

1) Debu Total tidak lebih dari 150 g m3

2) Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

3) Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.
2. Komponen dan penataan ruang rumah

Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai


berikut:

a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

b. Dinding

1) Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi


untuk pengaturan sirkulasi udara

2) Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah
dibersihkan

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus


dilengkapi dengan penangkal petir

e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu,
ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan
ruang bermain anak.

f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi
seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :


a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C

b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

d. Pertukaran udara

e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari
luas lantai.

6. Binatang penular penyakit

Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air
minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah

a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak
menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak
menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur

Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua
orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :


829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah tinggal,
maka :
Bagian rumah adat Bali yang memenuhi syarat rumah sehat
adalah :
1. Atap terbuat dari genteng, memenuhi syarat rumah sehat.
2. Lantai terbuat dari keramik yang kedap air dan mudah
dibersihkan, memenuhi syarat rumah sehat.
3. Lantai dibuat lebih tinggi dari tanah, sekitar 0,5 meter atau lebih
untuk menghindari air hujan yang tertampung di permukaan tanah
agar tidak masuk ke dalam rumah.
4. Luas bangunan lebih dari 60% dari luas lahan terbukti dari luas
halaman rumah adat Bali yang lebar, memenuhi syarat rumah
sehat yang telah ditetapkan di Indonesia.
5. Saluran pembuangan terletak di bagian hilir (letaknya lebih
rendah dari bangunan kamar mandi-WC)
6. Ruangan pada bangunan rumah Bali terpisah-pisah.
7. Pagar rumah dibuat cukup tinggi sehingga mengurangi masuknya
zat pencemar ke sekitar rumah karena dilindungi oleh pagar
rumah.

Bagian rumah adat Bali yang tidak memenuhi syarat rumah sehat
adalah :
1. Jendela sedikit dan jarang dibuka, sehingga tidak memenuhi
syarat rumah sehat karena seharusnya luas jendela 10% dari luas
lantai, selain itu jendela seharusnya sering dibuka karena untuk
pertukaran udara. Jendela juga bukan jendela kaca jadi tidak ada
pencahayaan dari sinar matahari maupun dari luar rumah.
2. Pencahayaan dari atap kurang karena semua genteng terdiri dari
tanah liat tanpa adanya genteng kaca.
3. Tidak terdapat plavon (langit langit) di dalam ruangan.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal
atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Rumah yang sehat sebagai
tempat untuk berlindung, beristirahat, dan sarana pembinaan keluarga.
Termasuk halnya rumah adat Bali. Rumah adat ini tidak
keseluruhan memenuhi standar rumah sehat yang telah ditetapkan dalam
Undang Undang. Namun karena rumah adat ini merupakan kebudayaan, ciri
khas, serta kepercayaan masyarakat di Bali terutama pemeluk agama Hindu,
maka sulit untuk dilakukan perubahan agar sesuai dengan syarat rumah sehat.

B. SARAN
Agar lebih diperhatikan lagi mengenai pencahayaan dan
kelembapan di dalam ruangan karena dapat menimbulkan gangguan
kesehatan yang tidak diinginkan yaitu sick building syndrome. Yaitu
diutamakan pada jendela untuk pertukaran udara.
Lampiran

Rumah Adat Bali tampak dari samping

Rumah Adat Bali tampak dari atas

Teras depan rumah adat Bali

Daftar Pustaka
Indrasana, Praba. 2010. Rumah Adat Bali. http://arsitekturberkelanjutan.
wordpress.com/2010/05/06/163/, 15 Maret 2012
Prabu. 2009. Rumah Sehat. Rumah Sehat <<kesehatan lingkungan.htm.16 Maret
2012
Setiada, Nengah Keddy. 2003. Jurnal Permukiman Natah Vol. 1 No. 2.
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/artiekel-keddy-2.pdf, 15 Maret 2012
Wikipedia. 2011. Bali. http://id.wikipedia.org/wiki/Bali, 15 Maret 2012