Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah keluarga, kehadiran seorang anak sangat diidamkan oleh semua
pasangan suami-istri. Keberadaan seorang anak akan menjadi pelengkap sebuah keluarga.
Para orang tua mengharapakan seroang anaknya kelak akan menjadi seseorang anak yang
berguna dan membahagiakannya. Beragam cara yang orang tua berikan dalam membina
karakter seorang anak. Ada yang memberikan perlakuan berupa paksaan, ada yang
memberikan kebebasan kepada anaknya dan yang lainnya. Perbedaan Perlakuan orang tua
dalam membina seorang anak akan berdampak pada perilaku sosial anak tersebut.
Dalam kehidupan sehari-harinya, banyak anak yang memiliki sikap yang mandiri,
mudah bergaul dengan lingkungannya, baik terhadap teman-temannya dan malah sebaliknya,
yaitu memiliki sikap yang mudah marah, sangat pendiam, sering mengganggu teman-
temannya dan yang lainnya. Semua sikap anak ini merupakan perbandingan lurus dari
kehidupan di sekitar lingkungannya, namun faktor yang paling mempengaruhi yaitu peran
dari keluarganya masing-masing.
Banyak para orang tua yang memberikan pola asuh otoriter atau paksaan kepada
anaknya. Pola asuh seperti ini akan menjadikan perasaan seorang anak mudah tertekan, stres
dan pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan seorang anak. Oleh karena itu dalam
makalah ini, saya akan mencoba membahas tentang pola asuh yang diberikan orang tua
dalam membina karakter seorang anak yaitu berupa pola asuh otoriter.

B. Rumusan Masalah
1. Bentuk pola asuh seperti apakah yang orang tua berikan kepada anaknya?
2. Apakah dampak dari pola asuh otoriter kepada karakter anak?
3. Bagaimana pengaruh terhadap seorang anak yang dipaksa memasuki jurusan yang
bukan keinginan peribadinya melainkan keinginan dari kedua orang tua?

C. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini
diantarnya yaitu untuk:
1. Mengetahui dan memahami pola asuh yang diberikan para orang tua kepada
anaknya.
2. Mengetahui dampak dari pola asuh otoriter terhadap karakter seorang anak.
3. Mengetahui perilaku dan sikap belajar seorang anak yang dipaksa memasuki jurusan
yang bukan keinginan pribadinya melinkan keinginan kedua orang tuanya.

D. Manfaat

|1
Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat berupa
pengetahuan lebih tentang pola asuh dalam membina karakter anak.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua adalah suatu cara yang digunakan oleh orang tua dalam
mencoba berbagai strategi untuk mendorong anak-anaknya mencapai tujuan yang
dinginkan. Dimana tujuan tersebut antara pengetahuan, nilai moral, dan standar perilaku
yang harus dimiliki anak bila dewasa nanti (Mussen, 1945:395).
Sedangkan Wahyuni menjelaskan bahwa pola asuh adalah model dan cara
pemberian perlakuan seseorang kepada orang lain dalam suatu lingkungan sosial, atau
dengan kata lain pola asuh adalah model dan cara dari orang tua memperlakukan anak
dalam suatu lingkungan keluarganya sehari-hari, baik perlakuan yang berupa fisik
maupun psikis (Gunarsa, 1976:144). Pola asuh menurut Wahyuni merupakan suatu
pemberian model pola asuh dalam lingkungan sehari-hari. Dimana pemberian model itu
juga terdapat perlakuan. Perlakuan fisik dan psikis.
Menurut Wahyuni, sikap orang tua dalam mengasuh dan mendidika anaka
dipengaruhi oleh adanya beberapa faktor diantaranya penglaman masa lalu yang

|2
berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orangtua mereka, nilai-nilai yang
dianut oleh orang tua, tipe kepribadian dari orang tua, kehidupan perkawinan orangtua
dan alasan orangtua mempunyai anak (Gunarsa, 1976:144)
Jadi, pola asuh orangtua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak
dan bersifat relatif konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat
dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif.

B. Macam-Macam Pola Asuh Orang Tua


Macam-macam pengelompokkan pola asuh orang tua dalam membina karakter
anak, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Di antaranya adalah
sebagai berikut :
Danny I. Yatim-Irwanto mengemukakan beberapa pola asuh orang tua,yaitu :
1. Pola asuh otoriter, pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang
tua. Kebebasan anak sangat dibatasi.
2. Pola asuh demokratik, pola ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua
dengan anaknya.
3. Pola asuh permisif, pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas
pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya.
4. Pola asuhan dengan ancaman, ancaman atau peringatan yang dengan keras diberikan
pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Ia akan
melanggarnya untuk menunjukkan bahwa ia mempunyai harga diri.
5. Pola asuhan dengan hadiah, yang dimaksud disini adalah jika orang tua
mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak
berprilaku seperti yang diinginkan.

Menurut Elizabet B. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khasdalam mengasuh
anaknya, antara lain :
1. Melindungi secara berlebihan
Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian
anak yang berlebihan.
2. Permisivitas
Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati
dengan sedikit pengendalian.
3. Memanjakan
Permisivitas yang berlebih-memanjakan membuat anak egois, menuntut dan sering
tiranik.
4. Penolakan
Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan
menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka.
5. Penerimaan

|3
Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak,
orang tua yang menerima, memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan
memperhitungkan minat anak.
6. Dominasi
Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur, sopan dan
berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah dipengaruhi orang lain,
mengalah dan sangat sensitif.
7. Tunduk pada anak
Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan
rumah mereka.
8. Favoritisme
Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata,
kebanyakan orang tua mempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti
dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga.
9. Ambisi orang tua
Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat
tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua
yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status
sosial.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 amacam pola asuh orang tua, diantaranya
adalah :
1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu
mengendalikan mereka.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya
dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa,
memerintah dan menghukum.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan
pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya.
Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang
dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.
4. Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim
pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi
mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak
mereka. Termasuk tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu
yang depresi.

|4
C. Bentuk Pola Asuh yang diberikan Orang Tua pada Anaknya
Berbagai macam pola asuh yang ada saat ini, diantaranya pola asuh otoriter, demokratis,
permisif, penelantar dan yang lainnya. Sedemikian banyaknya pola asuh yang telah
disebutkan, para orang tua pun memiliki pola asuh tersendiri dalam mendidik atau membina
anaknya. Namun, tidak sedikit juga para orang tua yang tidak menyadari pola asuh seperti
apa yang sedang ia jalankan dalam mendidik atau membina anaknya. Banyak para orang tua
saat ini yang tidak memperhatikan pola asuh yang ia berikan terhadap anaknya, sehingga
banyak anak yang merasa kurang nyaman dalam kehidupan keluarganya. Para orang tua
merasa sangat benar dalam mendidik anak-anaknya. Di satu sisi, hal ini wajar-wajar saja
karena niat orang tua terhadap anaknya yaitu ingin memberikan yang terbaik, terbaik untuk
dirinya, masa depannya dan keluarganya, tapi di sisi lain hal ini akan menjadi masalah yang
serius untuk anaknya. Karena anak yang diberikan pola asuh seperti ini akan merasa tertekan,
minder, penakut dan tidak nyaman dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak anak yang
dipaksa untuk menuruti keinginan dari orang tuanya. Bentuk pola asuh seperti ini merupakan
bentuk pola asuh otoriter.

D. Dampak dari Pola Asuh Otoriter Terhadap Seorang Anak


Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pola asuh otoriter merupakan pola
asuh yang cenderung menetapkan standar mutlak yang harus dituruti oleh anak dan biasanya
dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, apabila seorang anak tidak ingin untuk tidur
siang, maka anak ini tidak akan diajak bicara. Orang tua seperti ini cenderung untuk
memaksa, memerintah dan bahkan bila anak tidak menuruti keinginan orang tuanya, orang
tua kerap memberikan hukuman bahkan siksaan.. Pola asuh otoriter akan meghasilkan
karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menantang, suka
melanggar norma, berkepribaian lemah, cemas dan menarik diri.

E. Pengaruh Terhadap Anak yang dipaksa Memasuki Jurusan yang Bukan Keinginan
Peribadinya Melainkan Keinginan dari Kedua Orang Tuanya.
Sebenernya setiap orang tua punya hak untuk mengarahkan anak-anaknya, apalagi jika
anaknya memang tidak punya bayangan akan melanjutkan kemana, maka orang tua bisa
memberi gambaran-gambaran jurusan. Tetapi jika seorang anak sudah memiliki gambaran
jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, dan orang tuanya tetap memaksakan
kehendak kepada anaknya.

|5
Hal ini akan menjadi masalah besar untuk anaknya, karena anak yang dipaksa akan
merasa tidak nyaman dengan kegiatan-kegiatannya, apabila hal ini terus terjadi maka anak
yang dipaksa akan menjalankan segala sesuatu yang berkaitan dengan pilihan orang tuanya ia
jalankan setengah hati. Misal, apabila ia sedang belajar fisika maka ia tidak memfokuskan
perhatiannya kepada materi yang sedang diajarkan, alhasil apabila ini terus berlanjut, nilai-
nilainya pun akan buruk, dan waktu yang ia gunakan untuk belajar di sekolah pun akan
terbuang sia-sia.
Terlebih, masa depan anak yang dipaksa seperti ini akan semakin tidak jelas. Dan apabila
anak yang diberikan perlakuan berupa paksaan seperti ini tidak memiliki dasar iman atau
moral yang cukup kuat atau cukup baik maka anak ini akan menggunakan sisa-sisa waktu
belajarnya kepada hal-hal negatif.

3.1 Pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah keatas dan menengah
kebawah terhadap pembentukan kepribadian anak

Pengasuhan anak dilakukan oleh orang tua dengan menggunakan pola asuh tertentu.
Penggunaan pola asuh ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap
bentuk-bentuk perilaku social pada anak. Pola asuh yang diberikan orang tua pada anak
berbeda-beda hal ini sangat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu factor internal dan eksternal.
Yang termasuk factor internal, misalnya latar belakang keluarga orang tuanya, usia orang tua
dan anak, pendidikan dan wawasan orang tua, jenis kelamin orng tua dana anak, karakter
anak dan konsep peranan orang tua dalam keluarga. Sedangkan yang termasuk factor
eksternal, misalnya adalah tradisi yang berlaku dalam lingkungannya, sosial ekonomi dalam
lingkungannya, dan semua hal yang berasal dari luar lingkungan keluarga yang dapat
mempengaruhi pola asuh keuarganya.

Permasalahan ekonomi di Indonesia memang sangat memprihatinkan, begitu pula dengan


permasalahan ekonomi dalam keluarga yang merupakan masalah yang paling sering dihadapi.
Tanpa disadari permasalahan ekonomi dalam keluarga sangat mempengaruhi atau akan
berdampak pada pola asuh orang tua yang diberikan pada anak. Orang tua terkadang
melampiaskan kekesalan yang dihadapi pada anaknya, padahal untuk anak yang usia

|6
prasekolah atau masih usia balita masih belum mengerti tentang masalah perekonomian
dalam keluarga yang hanya akan memperburuk keadaan psikologi anak dan anak hanya
menjadi korban dari orang taunya.

Pola asuh orang tua yang perekonomiannya menengah ke atas dengan orang tua yang tingkat
perekonomiannya menengah ke bawahakan akan berbeda dalam perwujudannya, orang tua
yang tingkat ekonominya menengah ke atas dalam pengasuhannya biasanya orang tua akan
memanjakan anaknya apapun yang diingkan olehnya akan dipenuhi oleh orang tuanya.
Dengan tingkat perekonomian menengah ke atas segala kebutuhan dan keinginan anaknya
selalu terpenuhi dan orang tua selalu memberikan fasilitas yang berlebih pada anaknya yang
terkadang tidak melihat dari dasar perkembangan anaknya. Pola asuh ynag diberikan oleh
orang tua terhadap anaknya hanya sebatas dengan materi yang dimiliki orang tua, perhatian
dan kasih sayang dari orang tua terkadang terlupakan akibat orang tua hanya sibuk dengan
urusan materinya dan dalam perwujudan pola asuhnya hanya diwujudkan dalam materi atau
pemenuhan kebutuhan anaknya.

Anak yang terbiasa dari kecil dididik oleh orang tuanya dengan pola asuh yang demikian,
akan berdampak buruk pada pembentukan kepribadian anak. Kepribadian anak akan menjadi
manja, serba menilai sesuatu dengan materi, dan tidak menutup kemungkinan anak akan
menjadi sombong dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya serta kurang
menghormati dan menghargai orang yang ekonominya lebih rendah darinya.

Sedangkan pola asuh orang tua yang tingkat ekonominya menengah kebawah, dalam
pengasuhannya memang sangat terbatas dengan tingkat ekonomi yang kurang. Biasaya dalam
pola pengasuhannya tidak memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi tetapi lebih
menekankan pada kasih sayang dan perhatian serta bimbingan untuk membentuk kepribadian
yang baik bagi anaknya.

Pemenuhan kebutuhan pun hanya bersifat yang sangat penting bagi anaknya yang akan
dipenuhinya, oleh karena itu anak yang hidup dalam perekonomian menengah ke bawah akan
terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami dalam keluarganya sehingga akan
terbentuk kepribadian yang mandiri, tidak manja, mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya, dan akan lebih menghormati dan menghargai orang lain.

|7
Tetapi dalam kenyataannya terdapat juga anak yang tingkat ekonomi keluarganya menengah
ke atas berprilaku baik dan menghargai serta menghormati orang lain juga suka membantu
teman-temannya yang tingkat ekonomi orang tuanya menengah ke bawah. Dan terdapat pula
anak yang tingkat ekonominya menengah ke bawah terkadang minder atau malu dengan
keadaan ekonomi orang tuanya, sehingga menyebabkan kepribadian anak yang kurang
menghormati orang tuanya dan suka berprilaku kurang sopan pada orang tuanya.

Oleh karena itu peran orang tua dalam penerapan pola asuh pada anaknya sangat penting dan
harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak sedari dini mungkin supaya
membentuk kepribadian anak yang yang baik dan membanggakan orang tuanya serta selalu
mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang pencipta.

3.2 Dampak yang ditimbulkan dari pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi
menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak

Dampak yang ditimbulkan dari pola asuh orang tua yang salah akan membentuk kepribadian
anak yang salah pula, begitu pula sebaliknya apabila pola asuh orang tua benar maka
pembentukan kepribadian abakpun akan benar.Menurut psikolog anak dari Universitas
Indonesia, Prasetyawati (Tempo,2009) mengatakan tangguh tidaknya kepribadian seorang
anak bergantung pada pola asuh yang diterapkan oleh orang tuanya.

Sebagaimana pola asuh yang diterapkan oleh keluarga yang tingkat ekonominya menengah
ke atas, biasanya dikenal dengan pola asuh permisif yaitu orang tua cenderung
menggantungkan diri pada penalaran dan manipulasi, tidak menggunakan kekeuasaan
terbuka, sehingga anak lebih bebas melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Orang tua
dianggap berkuasa dan tidak membimbing anak untuk patuh pada semua perintah orang
tuanya. Kebebasan yang berlebihan seperti ini tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak
yang dapat menyebabkan anak menjadi imfulsif dan agresif.

Sedangkan pada pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah
menerapkan pola asuh yang dikenal sebagai model demokratis, ditandai dengan dukungan

|8
emosional yang tinggi, komunikasi yang terbuka, standar yang tinggi, dan jaminan
kemandirian sehubungan dengan kompetensi anak. Anak yang diasuh dengan menggunakan
model pola asuh demokratis dapat memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya, dan dapat
mengembangkan keterampilannya.

Bermacam-macam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua ini sangat mempengaruhi
bagaimana anak melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya sosialnya, seperti
pengaruh-pengaruh dari pola asuh seperti ini :
Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat
mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi
stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang
lain.
Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam,
tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian
lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive,
agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri,
dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody,
impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem
(harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Agar dampak yang ditimbulkan dari pola asuh orang tua yang salah tidak terjadi, maka
sebaiknya orang tua menerapkan pola asuhnya disertai dengan beberapa hal sebagai berikut :
Usahakan untuk selalu menanamkan ajaran agama pada anak-anak sejak dini. Pola
asuh keluarga berbasis agama yang dinilai sebagai pendidikan paling baik saat ini.
Anak akan meniru orang tua, jadi sebaiknya orang tua pun harus menjadi teladan yang
baik. Jika ingin memiliki anak yang berperilaku positif, orang tua pun harus menjauhi
segala hal yang negatif.
Menjalin komunikasi antara orang tua dan anak adalah hal yang sangat penting, hal
ini agar terjadi saling pengertian dan tidak menimbulkan salah paham.
Orang tua wajib memberikan aturan-aturan tertentu agar anak tidak terlalu
dibebaskan, namun aturan-aturan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan atau
kebutuhana anak, sehingga anak pun tidak merasa berat dan terbebani.

|9
Hukuman memang boleh diberikan, bahkan dianjurkan agar si anak menjadi jera. Tapi
hukuman yang dimaksud bukanlah kemarahan yang menjadi-jadi atau kekerasan fisik
yang membuat anak kesakitan. Anak yang masih labil, bisa salah paham dan
berpikiran buruk pada orang tua yang suka memberikan hukuman fisik. Hukuman
orang tua pada anak adalah bentuk kasih sayang, jadi sebagai orang tua harus pintar-
pintar memberikan hukuman yang cocok bagi anak.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pola asuh atau suatu cara yang digunakan oleh orang tua dalam mencoba berbagai
strategi untuk mendorong anak-anaknya mencapai tujuan yang dinginkan, memiliki macam-
macam bentuknya, seperti pola asuh otoriter, demokratis, penelantar, permisif dan lain-lain.
Beragam pola asuh yang ada, namun orang tua cenderung hanya menggunakan salah satunya,
diantaranya yaitu pola asuh otoriter. Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang
mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini
cenderung memaksa, memerintah dan menghukum. Pemaksaan penjurusan dari orang tua
terhadap anaknya merupakan bagian dari pola asuh otoriter, karena orang tua yang
melakukannya cenderung untuk memaksa anaknya. Anak yang diperlakukan seperti ini tidak
sedikit mengalami masalah-masalah ditengah jalan, diantarnya yaitu nilai-nilainya menjadi
buruk, waktunya jadi terbuang sia-sia dan bahkan bisa terjerumus pada hal-hal negatif.

B. Saran
Orang tua yang memberikan pola asuh seperti ini, sebaiknya harus lebih cermat lagi
dalam memahami minat dan bakat atau potensi anaknya. Pola asuh otoriter tidak selamanya
buruk, banyak hal-hal positifnya juga. Orang tua juga harus memperhatikan hak-hak anaknya,
jangan sampai hak anaknya terenggut hanya karena ambisiusme orang tuanya saja. Seorang
anak juga harus lebih memahami keadaan orang tuanya, jangan sampai anak tersebut menjadi

| 10
egois. Seorang anak harus paham, keinginan orang tuanya bukan untuk mempersulit
kehidupannya, melainkan untuk kebaikan masa depannya.

Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net/rismawijayanti/pengaruh-pola-asuh-orang-tua-terhadap-
pembentukan-kepribadian-anak-6661813
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/02/macam-macam-pola-asuh-orang-tua.html
http://majalahqalam.com/features/feature-pendidikan/akibat-pendidikan-otoriter/
http://organisasi.org/jenis-macam-tipe-pola-asuh-orangtua-pada-anak-cara-mendidik-
mengasuh-anak-yang-baik
http://ligamaghrib.blogspot.com/2010/11/peran-anak-dalam-keluarga.html
http://www.anneahira.com/pengertian-pola-asuh-orang-tua.htm
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2113854-pengertian-pola-asuh-orang-tua/
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2113854-pengertian-pola-asuh-orang-
tua/#ixzz1u58GkzUx

1. Pengertian Pola Asuh


Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini
dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada
anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara
orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak. Dengan demikian
yang disebut dengan pola asuh orang tua adalah bagaimana cara mendidik orang tua terhadap
anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.[1]
Sedangkan cara mendidik secara langsung artinya bentuk-bentuk asuhan orang tua
yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan dan keterampilan yang
dilakukan dengan sengaja baik berupa perintah, larangan, hukuman, penciptaan situasi
maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan. Dalam situasi seperti ini yang diharapkan
muncul dari anak adalah efek-instruksional yakni respon-respon anak terhadap aktivitas
pendidikan itu.

| 11
Pendidikan secara tidak langsung adalah berupa contoh kehidupan sehari-hari baik
tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup, hubungan antara orang tua dengan
keluarga, masyarakat, hubungan suami istri. Semua ini secara tidak sengaja telah membentuk
situasi di mana anak selalu bercermin terhadap kehidupan sehari-hari dari orang tuanya.[2]

2. Macam-macam Pola Asuh


Untuk mewujudkan kepribadian anak, menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap
positif terhadap agama, sehingga perkembangan keagamaannya baik, kepribadian kuat dan
mandiri, berperilaku ihsan, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang
secara optimal, maka ada berbagai cara dalam pola asuh yang dilakukan oleh orang tua
menurut Hurluck sebagaimana dikutip Chabib Thoha, yaitu:[3]
a. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh ototriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-
anaknya dengan aturan-aturan ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti
dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang
diajak berkomunikasi dan diajak ngobrol, bercerita-cerita, bertukar pikiran dengan orang tua,
orang tua malah menganggap bahwa semua sikapnya yang dilakukan itu dianggap sudah
benar sehingga tidak perlu anak dimintai pertimbangan atas semua keputusan yang
menyangkut permasalahan anak-anaknya. Pola asuh yang bersifat otoriter ini juga ditandai
dengan hukuman-hukuman tersebut sifatnya hukuman badan dan anak juga diatur yang
membatasi perilakunya. Perbedaan seperti sangat ketat dan bahkan masih tetap diberlakukan
sampai anak tersebut menginjak dewasa.
Kewajiban orang tua adalah menolong anak dalam memenuhi kebutuhan hidup anak-
anaknya, akan tetapi tidak boleh berlebih-lebihan dalam menolong sehingga anak tidak
kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri di masa yang akan datang.[4] Orang tua yang
suka mencampuri urusan anak sampai masalah-masalah kecil misalnya jam istirahat atau jam
tidur, macam atau jenis bahkan jurusan sekolah yang harus dimasuki, dengan demikian
sampai menginjak dewasa kemungkinan besar nanti mempunyai sifat-sifat yang ragu-ragu
dan lemah kepribadian serta tidak mampu mengambil keputusan tentang apa pun yang
dihadapi dalam kehidupannya, sehingga akan menggantungkan orang lain.
b. Pola Asuh Demokratis
Demokrasi merupakan proses dan mekanisme sosial yang dinilai akan lebih
mendatangkan kebaikan bersama bagi orang banyak.[5] Sedangkan bila dikaitkan dengan
istilah pemimpin, maka pemimpin demokratis adalah pemimpin yang memberikan

| 12
penghargaan dan kritik secara objek dan positif. Dengan tindakan-tindakan demikian,
pemimpin demokratis itu berpartisipasi ikut serta dengan kegiatan-kegiatan kelompok. Ia
bertindak sebagai seorang kawan yang lebih berpengalaman dan turut serta dalam interaksi
kelompok dengan peranan sebagai kawan.[6] Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, demokrasi diartikan sebagai gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan
persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.
[7] Dengan demikian pola asuh demokratis paling tidak mencerminkan pola asuh yang
mencerminkan nilai-nilai demokrasi, antara lain kebebasan, maksudnya memberikan
kebebasan kepada anak dalam hal yang bersifat positif.
Sementara itu bentuk pola asuh demokratik berdasarkan teori convergence yaitu
bahwa perkembangan manusia itu bergantung pada faktor dari dalam dan luar, maksudnya
bahwa pendidikan dalam hal ini mengasuh itu bersifat maha kuasa dan mengasuh juga tidak
dapat bersifat tidak berkuasa.[8] Oleh sebab itu mengasuh anak harus seimbang, yaitu tidak
boleh membiarkan dan memberi kebebasan sebebas-bebasnya dan juga jangan terlalu
menguasai anak, tetapi mengasuh harus bersikap membimbing ke arah perkembangan anak.
Oleh karena itu yang dimaksud dengan pola asuh demokratis adalah pola asuh orang
tua yang ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak
diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Orang tua sedikit memberi
kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan
pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan
anak itu sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya
sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggungjawab kepada diri sendiri. Anak
dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya.[9]
Oleh karena itu dalam keluarga orang tua dalam hal ini pengasuh harus
merealisasikan peranan atau tanggung jawab dalam mendidik sekaligus mengasuh anak
didik/anak asuhnya.
Pola asuh demokratis ini merupaka kajian penulis dalam rangka mencari hubungan
antara pola asuh demokratis dengan perkembangan keberagamaan anak.
Adapun indikator-indikator pola asuh demokratis diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Kedisiplinan
Dalam kehidupan sehari-hari, disiplin sering dikaitkan dengan hukuman, dalam arti
displin diperlukan untuk menghindari terjadinya hukuman karena adanya pelanggaran
terhadap suatu peraturan tertentu. Dalam pengertian yang lebih luas, disiplin mengandung

| 13
arti sebagai suatu sikap menghormati, menghargai, dan mentaati segala peraturan dan
ketentuan yang berlaku.[10]
Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,
keteraturan dan ketertiban.[11] Disiplin akan membuat seseorang tahu dan dapat
membedakan hal-hal apa yang seharusnya dilakukan, yang wajib dilakukan, yang boleh
dilakukan, yang tak sepatutnya dilakukan (karena merupakan hal-hal yang dilarang).
Kata disiplin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan latihan batin dan watak
dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu mentaati tata tertib (di sekolah atau
kemiliteran), dan dapat pula berarti ketaatan pada aturan dan tata tertib.[12] Dalam praktik
sehari-hari dispilin biasanya dijumpai pada anggota militer, para siswa sekolah, para
karyawan Instansi Pemerintah dan Swasta dan lain sebagainya. Hati merasa senang dan
gembira melihat segala sesuatu yang dilakukan secara disiplin dan tertib. Keinginan untuk
menegakkan disiplin adalah sejalan dengan fitrah manusia.[13]
Sedangkan pengertian disipilin menurut J.B. Syke dalam buku The
Concise Oxford Dictionary of Current English, mendefinisikan sebagai berikut:
Branch of instruction or learning, mental and moral training adversity as effecting this
system of rules for conduct, behaviour according to astablished.[14]

Bagian dari pengajaran atau pembelajaran, latihan mental dan moral sebagai akibat sistem
pranata untuk mengarahkan perilaku sesuai dengan yang ditetapkan.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah upaya mengarahkan
dan mengendalikan diri, yang berarti suatu usaha untuk mengarahkan dan mengendalikan diri
kepada kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan yang ada.
Disiplin sangat perlu ditanamkan pada anak, sebab disiplin adalah pendidikan untuk
mengajarkan pengendalian diri, dengan peraturan, contoh dan teladan yang baik.
Dalam proses penanaman kedisiplinan orang tua juga harus membina hubungan baik
dengan anak-anak, agar kedisiplinan yang diajarkan oleh orang tua benar-benar diterima dan
dilaksanakan oleh anak. Mengingat anak itu butuh dihargai, diakui keberadaannya dan
sebagainya.
Untuk menjadikan kedisiplinan itu efektif, harus memenuhi tiga kriteria, yaitu:
a. Menghasilkan atau menimbulkan suatu keinginan perubahan atau pertumbuhan pada anak
b. Memelihara harga diri anak

| 14
c. Memelihara hubungan yang rapat (erat) antara orang tua dengan anak.[15]
Dalam proses penanaman kedisiplinan ini orang tua juga harus bersikap dan bertindak
dengan tegas dengan maksud agar ajaran yang diberikan dapat diterima dan difahami oleh
anak, sehingga tujuan disiplin tercapai.
Adapun tujuan disiplin menurut Ellen G. White yang dikutip oleh Ny. Kholilah
Marhijanto mengatakan bahwa tujuan disiplin adalah mendidik anak untuk mengatur sendiri.
[16] Dalam hal ini anak harus diajar percaya pada diri sendiri, mengendalikan diri dan tidak
tergantung pada orang lain.
Di samping itu, disiplin juga bertujuan untuk menolong anak memperoleh
keseimbangan antar kebutuhan untuk berdikari dan penghargaan terhadap hak-hak orang lain.
[17]
Dengan ditanamkannya disiplin mungkin, diharapkan menambah kematangan dalam
bertindak dan bertingkah laku, sehingga tidak akan terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh
adanya perebutan hak dan kekuasaan. Hal ini penting yang juga harus diingat dalam
menerapkan kedisiplinan adalah adanya ketegasan dan ketetapan. Artinya kedisiplinan itu
diberlakukan secara kontinu, bukannya hari ini disiplin besok sudah lain lagi.
Tujuan jangka panjang dari disiplin adalah perkembangan dari pengendalian diri sendiri
dan pengarahan diri sendiri, (self-controle and self-direction), yaitu dalam hal mana anak-
anak dapat mengarahkan diri sendiri tanpa pengaruh atau pengendalian dari luar.
Pengendalian diri berarti menguasai tingkah laku diri sendiri dengan berpedoman norma-
norma yang jelas, standar-standar dan aturan-aturan yang sudah menjadi milik diri sendiri.
Oleh karena itu orang tua haruslah secara kontinu atau terus menerus berusaha untuk makin
memainkan peranan yang makin kecil dari pekerjaan pendisiplinan itu, dengan secara
bertahap mengembangkan pengendalian diri sendiri dan pengarahan diri sendiri itu pada
anak.[18]
Sedangkan cara terbaik untuk membantu anak belajar disiplin diri adalah dengan
membiarkan dia bertanggungjawab di setiap bidang dalam hidupnya, bahkan ketika dia
memilih untuk tidak melakukannya.[19]
Jadi, disiplin yang kita tuntut dari anak-anak tidak boleh hanya dilihat sebagai sarana
pemaksaan yang diperlukan, bila sudah tidak ada jalan lain untuk mencegah perbuatan yang
salah. Disiplin pada dirinya sendiri merupakan faktor pendidikan sui generis.[20]
Adapun peran kedisiplinan sedini mungkin penting, mengingat tanpa kedisiplinan
tujuan pendidikan atau tujuan dari segala aktivitas yang dilakukan oleh orang tua sulit
terwujud.

| 15
Dalam hal ini sebagai orang tua harus menanamkan sikap disiplin sedini mungkin
terhadap anaknya.
2) Kebersamaan
Kebersamaan di sini maksudnya adalah kerjasama. Kerjasama merupakan kebutuhan
yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak akan ada
individu, keluarga, organisasi atau masyarakat. Tanpa kerjasama dan tanpa rasa kebersamaan
keseimbangan hidup akan terancam punah.
Dengan memiliki keahlian bekerjasama kita akan mudah mengungkapkan apa yang kita
inginkan tanpa menyinggung orang lain.
3) Kegotong-royongan
Islam mengajarkan kita untuk hidup dalam kegotong-royongan. Apabila sejak dini anak
sudah ditanamkan sikap yang demikian itu, maka kelak akan terlatih dan bersikap hidup
dalam penuh kegotong-royongan.
Beban yang berat bisa terasa ringan jika dilakukan dengan gotong-royong, dan pada
akhirnya kita tidak merasa berat dalam menjalani hidup ini. Demikianlah yang menjadi salah
satu tugas orang tua, agar menanamkan sikap ini sebaik-baiknya kepada anak.

c. Pola Asuh Laisses Fire


Pola asuh ini adalah pola asuh dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, anak
dianggap orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya apa saja yang
dikehendaki.[21] Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan
bimbingan pada anaknya. Semua apa yang dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu
mendapat teguran. Arahan atau bimbingan.[22]
Hal itu ternyata dapat diterapkan kepada orang dewasa yang sudah matang
pemikirannya sehingga cara mendidik seperti itu tidak sesuai dengan jika diberikan kepada
anak-anak. Apalagi bila diterapkan untuk pendidikan agama banyak hal yang harus
disampaikan secara bijaksana. Oleh karena itu dalam keluarga orang tua dalam hal ini
pengasuh harus merealisasikan peranan atau tanggung jawab dalam mendidik sekaligus
mengasuh anak didik/anak asuhnya.

3. Jenis-jenis Metode Pengasuhan Anak


Adapun kerangka metodologis pengasuhan pasca kelahiran anak sebagaimana tertuang
dalam ajaran Islam adalah sebagai berikut:
a. Pola asuh anak dengan keteladanan orang tua

| 16
Dalam psikologi perkembangan anak diungkapkan bahwa metode teladan akan efektif
untuk dipraktikkan dalam pengasuhan anak. Oleh karena itu pada saat tertentu orang tua
harus menerapkan metode ini yang memberi teladan yang baik. Cara ini akan mudah diserap
dan direkam oleh jiwa anak dan tentu akan dicontohnya kelak di kemudian hari.
b. Pola asuh anak dengan pembiasaan
Sebagaimana kita ketahui bahwa anak lahir memiliki potensi dasar (fitrah). Potensi
dasar itu tentunya harus dikelola. Selanjutnya, fitrah tersebut akan berkembang baik di dalam
lingkungan keluarga, manakala dilakukan usaha teratur dan terarah. Oleh karena itu
pengasuhan anak melalui metode teladan harus dibarengi dengan metode pembiasaan. Sebab,
dengan hanya memberi teladan yang baik saja tanpa diikuti oleh pembiasaan bejumlah cukup
untuk menunjang keberhasilan upaya mengasuh anak. Keteladanan orang tua, dan dengan
hanya meniru oleh anak, tanpa latihan, pembiasaan dan koreksi, biasanya tidak mencapai
target tetap, tepat dan benar.
Orang tua, karena ia dipandang sebagai teladan, maka ia harus selalu membiasakan
berkata benar dalam setiap perkataannya baik terhadap anggota keluarganya atau siapapun
dari anggota masyarakat lainnya. Dengan demikian Menurut Khairiyah sebagaimana dikutip
oleh Ahmad Tafsir, orang tua harus menjadi gambaran hidup yang mencerminkan hakikat
perilaku yang diserukannya dan membiasakan anaknya agar berpegang teguh pada akhlak-
akhlak mulia.[23]

[1] Chabib Thoha, Kapita Seleksi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset, 1996), hlm. 110.
[2] Ibid.
[3]Ibid., hlm. 110.
[4] Chabib Thoha, op. cit., hlm. 111.
[5] Said Aqiel Siradj, et. al., Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan
Transformasi Pesantren, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), hlm. 166.
[6] Geurngan W.A., Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco, 1996), hlm. 132-133.
[7] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 31.
[8] Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1982), hlm. 2.
[9] Chabib Thoha, op.cit., hlm. 111.

| 17
[10] Mohamd Surya, Bina Keluarga, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003), hlm. 131.
[11] D. Soemarno, Pedoman Pelaksanaan Disiplin Nasional dan Teta Tertib Sekolah
1998, (Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi, 1998), hlm. 20.
[12] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1986), cet. 12, hal. 254.
[13] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawy), (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 248.
[14] JB. Syke, The Consise Oxford Dictionary of Current, (Oxford: Oxford University
Press, tt.), hlm. 293.
[15] Charles Schaefar, Bagaimana Mendidik Anak Dan Mendisplinkan Anak, (Medan:
IKIP Medan, 1979), hlm. 10.
[16] Khalilah Marhijanto, Menciptakan Keluarga Sakinah, (Gresik: Bintang Pelajar,
tt.), hlm. 144.
[17] Kartini Kartono, Bimbingan dan Dasar-dasar Pelaksanaannya, (Jakarta: Rajawali
Pers, 1985), hlm. 205.
[18] Charles Schaefar, op. cit., hlm. 9.
[19] Karin Ireland, 150 Ways to Help Your Child Succeed (terj.) Grace Styadi, 150
Cara Untuk Membantu Anak Meraih Sukses, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 164.
[20]Emile Durkheim, Pendidikan Moral: Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi
Pendidikan, (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 31.
[21] Mansur, Pendidikan Usia Dini dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),
hlm. 356.
[22] Secara etimologi (asal kata) kata bimbingan merupakan terjemahan dari
kata guidence yang berasal dari kata to guide yang mempunyai arti menunjukkan,
membimbing dan menuntun atau membantu. Lihat dalam A. Hallen, Bimbingan dan
Konseling, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 3. Secara istilah pengertian bimbingan adalah
sebagaimana pendapat Mohammad Surya yakni, suatu proses bantuan yang terus menerus
dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam
pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai
tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Mohammad
Surya, Dasar-dasar Konseling Pendidikan: Konsep dan Teori, (Yogyakarta: Kota Kembang,
1988), hlm. 12. Sedangkan menurut Charles dalam bukunya Essential of Educational
Psychology, mengatakan: The guidance ponit of view in eduction today is characterized by
its aim to assist each individual to make choices and decisions that are congruent with his

| 18
abilities, interest and opportunities and consistent with accepted social values. Bimbingan
adalah proses bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa
orang, baik anak-anak, remaja maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan
kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma
yang berlaku. Lihat Charles E. Skinner, Essentials of Educational Psychology, (Tokyo:
Maruzen Company LTD., tt, ), hlm. 469.
[23] A. Tafsir, dkk., Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Mimbar
Pustaka, 2004), hlm. 152.

| 19