Anda di halaman 1dari 16

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

PEMBUATAN TETES MATA KLORAMFENIKOL

Disusun oleh :

1. Riandina Syafitri ( PO.71.39.0.15.022)


2. Riandini Syafitri ( PO.71.39.0.15.023)
3. Riska Reza Juliani ( PO.71.39.0.15.027)
4. Samirah Qatrunnada P ( PO.71.39.0.15.028)
5. Saquina Rahmadiniasela ( PO.71.39.0.15.029)

Kelas :
Reguler 2A

Dosen Pembimbing :
Drs. Sadakata Sinulingga, Apt, M. Kes

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG

JURUSAN FARMASI

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

NILAI PARAF

A. TUJUAN

Membuat Tetes Mata Kloramenicol 75 mg / 10 ml

B. TEORI
Obat mata adalah tetes mata, salap mata, pencuci mata dan beberapa bentuk pemakaian
yang khusus serta inserte sebagai bentuk depo, yang ditentukan untuk digunakan pada
mata utuh atau terluka. Obat mata digunakan untuk menghasilkan efek diagnostik dan
terapetik lokal, dan yang lain untuk merealisasikan kerja farmakologis, yang terjadi
setelah berlangsungnya penetrasi bahan obat dalam jaringan yang umumnya terdapat
disekitar mata.Pada umumnya bersifat isotonis dan isohidris
Obat mata ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga macam :
1. Obat cuci mata (collyria)
2. Obat tetes mata (guttae opthalmicae)
3. Salep mata
Pada dasranya sebagai obat mata biasanya dipakai :
1. Bahan-bahan yang bersifat antiseptika (dapat memusnahkan kuman-kuman pada
selaput lender mata), misalnya asam borat, protargol, kloramfenikol, basitrasina, dan
sebagainya.
2. Bahan-bahan yang bersifat mengecutkan selaput lender mata(adstringentia),
misalnya seng sulfat.
Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai kebersihannya, pH yang
stabil, dan mempunyai tekanan osmose yang sama dengan tekanan osmose darah. Pada
pembuatan obat cuci mata tak perlu disterilkan, sedangkan pada pembuatan obat tetes
mata harus disterilkan. (Anief, 2000)
Guttae Ophthalmicae
Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense yang digunakan dengan cara
meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata.
Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu :
1. Steril
2. Sedapat mungkin isohidris
3. Sedapat mungkin isotonis
Bila obatnya tidak tahan pemanasan, maka sterilitas dicapai dengan menggunakan pelarut
steril, dilarutkan obatnya secara aseptis, dan menggunakan penambahan zat pengawet dan
botol atau wadah yang steril. Isotonis dan pH yang dikehendaki diperoleh dengan
menggunakan pelarut yang cocok.
Pelarut yang sering digunakan adalah :
1. Larutan 2% Asam Borat (pH = 5)
2. Larutan Boraks Asam Borat (pH = 6,5)
3. Larutan basa lemah Boraks Asam Borat (pH = 8)
4. Aquadestillata
5. Larutan NaCl 0,9%
(Lachman, 1989)
Anatomi dan Fisiologi
Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk ke dalam mata untuk dapat member
wfwk. Larutan obat tetes mata segera campur dengan cairan lakrimal dan meluas di
permukaan kornea dan konjungtiva, dan obatnya harus masuk melalui kornea menembus
mata.
Mata terdiri dari kornea yang bening dan sclera yang tertutup oleh salut pelindung dan
berserabut, berwarna putih, rapat, dan tidak ada saluran darah. Permukaan luas dari salut
sclera terdapat membrane konjungtiva, membrane mukosa yang tipis ini
merupakan exterior coating yang kontinu pada bagian yang putih dari mata dan aspek
dalam dari penutup. Jaringan konjungtiva mengandung banyak glandula mukosa yang
uniseluler dan berguna untuk pemeliharaan mata umumnya.
Jaringan ini mengandung banyak saluran darah dan terutama kaya akan saluran limfe.
Saluran darah ini kolap, dan melebar bila ada iritasi oleh zat asing, infeksi mikrobial atau
lainnya.
Obat yang menembus ke dalam konjungtiva, sebagian dihilangkan oleh aliran cairan
melalui konjungtiva darah, sistem limfe.
Di bawah ini terletak sclera yang berserabut dan rapat. Bagian kornea merupakan jaringan
vaskuler, transparan, dan sangat tipis.
Sel-sel epitel pada permukaannya mengandung komponen lipoid. Pada kornea ini banyak
sekali urat syarat sensoris yang bebas dan berakhir antara sel-sel epitel dan permukaan.
Karena itu sangat peka terhadap stimuli dan penjamahan. (Anief, 2000)

Farmakologi Kloramfenikol

1. Cara Kerja Obat:


Kloramfenikol adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan
pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat
sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah
penting dalam pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri
aerob gram-positif, termasuk Streptococcus pneumoniae, dan beberapa bakteri aerob
gram-negatif, termasuk Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Salmonella,
Proteus mirabilis, Pseudomonas mallei, Ps. cepacia, Vibrio cholerae, Francisella
tularensis, Yersinia pestis, Brucella dan Shigella.

2. Indikasi
Untuk mengobati blepharitis, catarrhae, konjungtivitis bernanah, traumatic keratitis,
trakoma, keratitis ulserativ, uveitis, konjungtivitis, keratitis, dakriosistitis, dan infeksi
lain oleh bakteri pathogen

3. Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif atau mengalami reaksi toksik dengan kloramfenikol.


Jangan digunakan untuk mengobati influenza, batuk-pilek, infeksi tenggorokan,
atau untuk mencegah infeksi ringan.

4. Efek samping
Diskrasia darah terutama aplastik anemia yang dapat menjadi serius dan fatal,
reaksi hipersensitif lainnya seperti anafilaktik dan urtikaria, syndroma gray pada bayi
prematur atau bayi yang baru lahir dan gangguan gastrointestinal seperti misalnya
mual, muntah dan diare.

Dosis :1-sehari 4-6 sekali


2-3 tetes
C. PREFORMULASI

1. Kloramfenikol (Farmakope Indonesia Edisi III Hal 143)

Rumus molekul : C11H12Cl2N2O5. ,Berat Molekul : 323,13.


Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang, putih hingga
putih kelabu atau putih kekuningan Kelarutan: Sukar larut dalam air, mudah larut
dalam etenol, dalam propilena glikol. Titik Lebur : Antara 1490 dan 1530 C. pH:
Antara 4,5 dan 7,5.
OTT : Endapan segera terbentuk bila Kloramfenikol 500 mg dan Eritromisin 250
mg atau Tetrasiklin HCl 500 mg dan dicampurkan dalam 1 liter larutan Dekstrosa 5%.
Stabilitas: Salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam
segala pemakaian. Stabilitas baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2-7, suhu 25oC dan
pH mempunyai waktu paruh hampir 3 tahun. Sangat tidak stabil dalam suasana basa.
Kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrofilik pada lingkungan amida.
Stabil dalam basis minyak dalam air, basis adeps lanae. (Martindale edisi 30 hal 142).
Dosis: Dalam salep 1 % (DI 2010 hal 223-227). Khasiat: Antibiotik, antibakteri
(gram positif, gram negatif, riketsia, klamidin), infeksi meningitis (Martindale edisi
30 hal 141).Indikasi: Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap
kloramfenikol.Efek Samping: Kemerahan kulit angioudem, urtikaria dan
anafilaksis.Penyimpanan: Wadah tertutup rapat.

2. Acidum Boricum (Farmakope indonesia edisi III Hal 49) Sinonim :


Asam Borat ,Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih atau
sisik mengkilap,tidak berwarna; kasar; tidak berbau; rasa agak asam dan pahit
kemudian manis
Kelarutan,Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16
bagian etanol ( 95 % ) P dan dalam 5 bagian gliserol P. Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup baik.Khasiat dan Penggunaan : Antiseptikum ekstern

3. Natrii Tetra Boras (Farmakope indonesia Edisi III Hal 427)


Natrium tetra borat mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari
105,0%,Pemerian : Hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih,tidak
berbau ,rasa asin dan basa.Dalam udara kering merapuh.Kelarutan : larut dalam 20
bagian air dalam 0,6 bagian air mendidih dan dalam lebih kurang 1 bagian
gliserol,praktis tidak larut dalam etanol.Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
baik.Khasiat Penggunaan : Antiseptikum Ekstern

4. Phenylhydrargyri Nitras (Farmakope indonesia Edisi IV Hal 668 )


Fenil raksa (I) nitrat adalah campuran fenil raksa (II) nitrat dan fenil raksa
(II)hidroksida.mengandung tidak kurang dari 87,0% dan tidak lebih dari 87,9 %,ion
fenil raksa (II)dan tidak kurang dari 62,75%.Pemerian : Serbuk hablur putih
dipengaruhi oleh cahaya.Larutan jenuh memberikan reaksi asam terhadap
lakmus.Kelarutan: sangat sukar larut dalam air,sukar larut dalam etanol dan dalam
gliserin,lebih mudah larut dengan adanya asam nitrat atau alkali hidroksida.Wadah
dan penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat ,tidak tembus cahaya
5. Aqua Destilata ( FI Ed. III Hal. 96 )

Nama Resmi : Aqua Destilata ,Sinonim : Air Suling Rumus Molekul :


H2O ,Pemerian : Cairan jernih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak mempunyai
rasa Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

III. FORMULASI

Formula Acuan
Tetes Mata Klorampenicol (Formularium Nasional Hal 65 )

Komposisi Formula :

Tiap 10 ml mengandung :
Chlorampenicolum 50 mg
Acidum Boricum 150 mg
Natrii Tetraboras 30 mg
Phenylhdrargyri Nitras 200 g
Aqua Destilata Hingga 10 ml

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat,ditempat sejuk


Catatan . 1. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi B atau C

Formula Usulan

Klorampenicol = 75 mg

Acidum Boricum = 150 mg

Natrii Tetra Boras = 30 mg

Phenylhdragyri Nitras = 200 g

Aquadest ad 60 ml

IV. PERHITUNGAN BAHAN

TONISITAS

0,075
C klorampenicol : 10 x 100 % = 0,75 %
0,15
C Acidum Boricum : 10 x 100 % = 1,5 %
0,03
C Natrii Tetra boras : 10 x 100 % = 0,3 %

E kloramfenicol = 0,9 0,8 = 0,1


E Acidum Boricum = 0,50
E Natrii Tetra Boras = 0,9 0,485 = 0,415

W = 0,9 - C . E
= 0,9 (0,75 x 0,1 + 0,3 x 0,415 + 1,5 x 0,5 )
= 0,9 (0,075 + 0,1245 + 0,75 )
= -0,0495 (Hipertonis ) jadi tidak perlu penambahan NaCl

PERHITUNGAN BAHAN

Volume
Volume yang dibuat 5 botol = 5x10 ml = 50 ml
20
Dilebihkan 20 % = 100 x 50 ml = 10 ml
Total Volume yang dibuat = 50 +10 = 60 ml

60
1. Kloramfenicol = 10 x 75 mg = 450 mg
60
2. Acidum Boricum = 10 x 150 mg = 900 mg
60
3. Natrii Tetra boras = 10 x 30 mg = 180 mg

4. Aqua Pro injeksi ad 60 ml

V. PENIIMBANGAN BAHAN

1. Kloramfenicol = 450 mg
2. Acidum Boricum = 900 mg
3. Natrii Tetra Boras = 180 mg
4. Aqua Pro Injeksi = 60 ml
VI. STERILISASI

Waktu Sterilisasi
Alat yang Cara
No Paraf Paraf
Dipakai Sterilisasi Awal Akhir
Pengawas Pengawas
Autoclave
1 Gelas ukur
30 menit
Autoclave
2 Corong gelas
30 menit

Oven 60
3 Tube
menit

Autoclave
4 Kapas
30 menit

Flambeer
5 Pinset
20 detik

Flambeer
6 Gelas arloji
20 detik

Autoclave
7 Perkamen
30 menit
Flambeer
8 Cawan
20 detik
Oven 30
9 Erlenmeyer
menit
Oven 30
10 Beaker glass
menit
Mortir dan Flamber 1
11
Stamper menit
Skema Alur Kerja

Farmakokinetik

Absorbsi

Diabsorbsi secara cepat di GIT, bioavailability 75% sampai 90%.


Kloramfenikol oral : bentuk aktif dan inaktif prodrug,

Mudah berpenetrasi melewati membran luar sel bakteri.

Pada sel eukariotik menghambat sintesa protein mitokondria sehingga


menghambat perkembangan sel hewan & manusia.

Sediaan kloramfenikol untuk penggunaan parenteral (IV) adalah water-soluble.

Distribusi

Kloramfenikol berdifusi secara cepat dan dapat menembus plasenta.

Konsentrasi tertinggi : hati dan ginjal

Konsentrasi terendah : otak dan CSF (Cerebrospinal fluid).

Dapat juga ditemukan di pleura dan cairan ascites, saliva, air susu, dan aqueousdan vitreous
humors.

Metabolisme

Metabolisme : hati dan ginjal

Half-life kloramfenikol berhubungan dengan konsentrasi bilirubin.

Kloramfenikol terikat dengan plasma protein 50%; pasien sirosis dan pada bayi.

Eliminasi

Rute utama dari eliminasi kloramfenikol adalah pada metabolisme hepar ke inaktif
glukuronida.

Farmakodinamik

Mekanisme:menghambat sintesis protein kuman.

Masuk ke sel bakteri melalui diffusi terfasilitasi.

Mekanisme resistensi : inaktivasi obat oleh asetil trensferase yang diperantaraioleh factor
R. Resistensi terhadap P. aeruginosa,
Proteus dan Klebsielaterjadikarena perubahan permeabilitas membran yang mengurangi ma
suknya obat kedalam sel bakter

VII. PEMBUATAN
1. Sterilkan alat dan bahan terlebih dahulu
2. Larutkan Acidum Boricum dan Natrii Tetra boras dalam aquadest dierlenmayer (M I)
3. Larutkan Pengawet dalam Aquadest dan dimasukkan ke dalam M I
4. Larutkan Kloramfenicol ke dalam campuran diatas
5. Cek pH sediaan 7-7,5
6. Tambahkan sisa aquadest kedalam campuran tadi
7. Saring larutan tersebut dengan corong gelas yang dilapisi dengan kertas saring dengan
dibasahi aquadest
8. Masukkan Larutan kedalam spuite injeksi 10 ml kedalam botol tetes mata
9. Lakukan sterilisasi B
10. Tutup wadah dan kemas

VIII. EVALUASI

1. Kejernihan
Kejernihan sediaan ditandai dengan tidak adanya kotoran atau Zahra pada
sediaan,larutan jernih jika berwarna maka sesuai dengan warna zat yang terdapat
pada sediaan. Prosedur kejernihan adalah melihat ampul pada latar yang gelap
lalu dilihat adakah kotoran yang mengapung pada sediaan.

2. pH
Alat : kertas pH dan pH meter
Prosedur :
a. pH meter dikalibrasi dengan larutan dapar standar yang pH sama dengan pH
yang akan diukur.
b. Batang electrode pH meter dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan.
c. Batang electrode dicelupkan dalam sediaan injeksi yang akan diukur pH nya.
d. Menekan auto read lalu enter.
e. Tunggu angka sampai berhenti lalu catat pH.

3. Uji Keseragaman Volume


Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat keseragaman volume
secara visual.

IX. PEMBAHASAN

Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami dan mampu


membuat sediaan tetes mata Kloramfenikol dan Intraocular Irrigating Solution. Tetes
mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense yang digunakan dengan cara
meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata
(Widjajanti, 1989). Tetes mata disebut juga Guttae Opthalmitae. Tetes mata berair
umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat
pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat, benzalkonium klorida 0,01% b/v yang
pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang
terkandung di dalamnya selama waktu tetes mata itu dimungkinkan untuk digunakan.
(FI III, 1979)
Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk ke dalam mata untuk
dapat memberi efek. Larutan obat tetes mata segera campur dengan cairan lakrimal
dan meluas di permukaan kornea dan konjungtiva, dan obatnya harus masuk melalui
kornea menembus mata. (Anief, 2000)
Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai kebersihannya,
pH yang stabil, dan mempunyai tekanan osmose yang sama dengan tekanan osmose
darah. Pada pembuatan obat cuci mata tak perlu disterilkan, sedangkan pada
pembuatan obat tetes mata harus disterilkan. (Anief, 1999)
Sediaan ini diteteskan ke dalam mata sebagai antibacterial, anestetik,
diagnose, midratik, miotik, dan antiinflamasi. Obat tetes mata sering digunakan pada
mata yang luka karena habis dioperasi atau karena kecelakaan. Syarat-syarat untuk
tetes mata dikehendaki syarat-syaratnya yaitu obatnya harus stabil secara kimia, harus
mempunyai aktivitas terpeutik yang optimal, harus tidak mengiritasi dan tidak
menimbulkan rasa sakit pada mata, harus teliti dan tepat secara jernih, harus bebas
dari mikroorganismeyg hidup dan tetap tinggal demikian selama penyimpanan yang
diperlukan. Jadi pada prinsipnya obat tetes mata harus steril, jernih, dan bebas partikel
asing. (Anief, 2000)
Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek local pada pengobatan
bagian permukaan, mata, atau bagian dalamnya. Yang sering dipakai adalah larutan
dalam air, akan tetapi juga biasa dipakai suspense cairan bukan air dan salep mata,
karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimoan cairan dan salep terbatas. Pada
umumnya obat mata dibiarkan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering
diberikan dalam bentuk sediaan tetes mata dan salep mata dengan mengoleskan salep
yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cairan yang lebih besar dapat
digunakan untuk menyegarkan dan mencuci mata. (Ansel, 1989)
Dalam percobaan ini bahan obat yang digunakan sebagai zat aktif adalah
Kloramfenikol yang mempunyai daya sebagai antimikroba yang kuat melawan infeksi
mata dan merupakan antibiotika spectrum luas bersifat bakteriostatik. Kloramfenikol
juga mengandung tidak lebih 103,0% dan tidak kurang dari 97,0% C 11H12Cl2N2O5,
dihitung dari zat yang telah dikeringkan. Selain kloramfenikol digunakan asam borat
sebagai buffer, Na tetra borat sebagai antiseptic eksternal, Nipagin sebagai
preservative, dan aquadest sebagai pelarut. Digunakan Nipagin sebagai karena zat
tersebut dapat larut dalam air dan biasanya mudah diumbuhi mikroba. Asam borat
merupakan asam lemah dan Na tetraborat merupakan garam, yang keduanya
berfungsi sebagai pelarut yang isotonis dan larutan dapar. Larutan dapar ini
menetralkan pH dan tetes mata agar sesuai cairan mata sehingga mencegah dari
ketidaknyamanan, mengurangi rasa sakit, menjaga stabilnya obat dalam larutan, dan
juga sebagai kontrol aktivitas terapeutik. Larutan dapar merupakan larutan yang
digunakan untuk meniadakan perubahan pH dengan penambahan sedikit asam atau
basa.
Yang dilakukan pertama kali adalah melarutkan asam borat denga Na tetra
borat dalam aquadest, kemudian nipagin dilarutkan dalam sebagian aquadest dan
ditambahkan pada larutan asam borat dan Na tetraborat. Lalu kloramfenikol
dilarutkan dalam aquadestdan semua larutan dicampur. Asam borat dan Na tetraborat
digunakan sebagai pelarut yang isotonis dan pH6,5 sesuai dengan cairan mata,
nipagin digunakan untuk mempertahankan sterilitas karena dikhawatirkan masih ada
kontaminannya. Kemudian larutan dimasukkan ke dalam vial dan disterilkan menurut
cara B, yaitu dengan dididihkan dala suhu 980 1000C selama 30 menit. Jika
disterilisasi dengan autoklav akan merusak kloramfenikol dan nipagin. Wadah ditutup
rapat dan obat diberi label untuk pemakaian luar dan tidak boleh digunakan lebih dari
1 bulan setelah tutupnya dibuka. Digunakan suhu 980 1000C karena dengan suhu
tersebut dapat lebih efektif membunuh mikroorganisme.
Pada hasil percobaan didapatkan hasil pH 7-8 yaitu pH netral diukur
menggunakan stik pH. Untuk uji kebocoran didapat hasil tidak terjadi kebocoran dan
pada uji kejernihan hasilnya jernih dan. Maka dapat disimpulkan tetes mata
kloramfenikol ini layak pakai karena memenuhi syarat yang ada di buku yang
dikarang ansel.
Sedangkan untuk pembuatan Intraocular Irrigating Solution, yaitu mencampur
semua bahan yang telah ditimbang dengan pelarut aquadest pi. Setelah itu diatur
kemudian diatur pH 7,2-7,6. Hal ini dimaksudkan pH tersebut sesuai dengan pH air
normal. Pengaturan pH dengan menambahkan NaOH 0,1 N jika larutan kurang basa
dan menambahkan HCl 0,1 N. Lalu larutan tersebut dimasukkan ke dalam vial dan
ditutup, setelah itu disterilkan dengan menggunakan autoklav pada suhu 120 0C selama
20 menit agar larutan tetes mata bebas dari mikroorganisme. Terakhir kita letakkan
dalam wadah dan beri etiket untuk pemakaian luar (biru) dan kita lakukan evaluasi
yang meliputi pH, kebocoran, kejernihan, keseragaman, volume.
Dari hasil evaluasi diperoleh hasil yaitu pH 7-8 diukur menggunakan stik pH,
tidak terjadi kebocoran, dan larutan jernih. Maka, Intraocular Irrigating Solution layak
dipakai

X. KESIMPULAN
1. Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense yang digunakan dengan
cara meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata
2. Tetes mata kloramfenikol ini layak pakai karena memenuhi syarat karena memenuhi
syarat yaitu pH 7-8, tidak ada kebocoran, dan larutan jernih.
3. Intraocular Irrigating Solution layak dipakai karena memenuhi syarat karena
memenuhi syarat yaitu pH 7-8, tidak ada kebocoran, dan larutan jernih.
Kotak Tetes Mata Kloramfenikol
Etiket Tetes mata Kloramfenicol

Brosur Tetes Mata Klorampenikol


Daftar Pustaka
Ditjen POM.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Martindale. 1982. Direction of the Council of The Pharmaceutical Society of Great


Britain.The Extra Pharmacopoeia Twenty eight Edition. London : The Pharmaceutical
Press

Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.

Anief, Moh. 2005. Farmaseutika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Formularium Nasional Edisi Kedua (1978)