Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH KESELAMATAN KESEHATAN KERJA

BENGKEL MOBIL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6

ENA MEILIANA 04021181320026


RENNY NOVIYANTI 04021181320038
ADE PUTRI AYU 04021281320005
PUTRI SAHARA 04021281320018
NYIAYU EMMA INDAH P 04021281320019
SRI RAHMATIYAH 04021281320025

DOSEN PEMBIMBING : ANTARINI IDRIASARI S.Kep.,Ns.,M.kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan YME, yang senantiasa memberikan
rahmat dan hidayahNya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
Keselamatan Kesehatan Kerja Bengkel Mobil.

Dalam menyelesaikan makalah ini kami telah berusaha untuk mencapai hasil yang
maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan kemampuan
yang penyusun miliki, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihakpihak yang telah membantu


dalam menyelesaikan makalah ini. Apabila banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penulisan dan keterbatasan materi penulis mohon maaf sebesar- besarnya. Semoga makalah
ini bermanfaat dan berguna bagi yang membacanya.

Indralaya, Februari 2017

Kelompok 6
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I.........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN......................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang........................................................................4
1.2 Rumusan Masalah...................................................................6
1.3. Tujuan Masalah..........................................................................6

BAB II........................................................................................................................................6
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................6
2.1 ........................................................Pengertian Keselamatan Kerja 6
2.2....................................Potensi Hazard di Lingkungan Kerja Bengkel 7
2.3.....................Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja 9
2.4 Penggunaan APD.......................................................................9
2.5 Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegahan kecelakaan kerja
10
2. 6 Melakukan Pengangkatan Benda Kerja....................................11
2.7 Fasilitas kesehatan.................................................................13
2.8Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bengkel Otomotif 13
2.9 Melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan................19
BAB III.....................................................................................................................................22
HASIL OBSERVASI................................................................................................................22
3.1 Observasi Pegawai.....................................................................22
3.2 Observasi Lingkungan................................................................23
3.3 .......................................................................Observasi Kesehatan 23

BAB IV....................................................................................................................................24
HASIL ANALISIS...................................................................................................................24
4.1 ............................................................Analisi bahaya lingkunngan 24
4.2 ...................................................................Analisi Bahaya Perlatan 24
4.3 .................................................................Analisis Bahaya Pegawai 24
BAB V......................................................................................................................................25
PENUTUP................................................................................................................................25
5.1 ..................................................................................... Kesimpulan 25
5.2 Saran....................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................26

Lampiran..................................................................................................................................27
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak
terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia. Keselamatan
dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam meningkatkan jaminan sosial dan
kesejahteraan para pekerjanya akan tetapi jauh dari itu keselamatan dan kesehatan
kerja berdampak positif atas keberlanjutan produktivitas kerjanya. Oleh sebab itu isu
keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan sekedar kewajiban yang harus
diperhatikan oleh para pekerja, akan tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem
pekerjaan. Dengan kata lain pada saat ini keselamatan dan kesehatan kerja bukan
semata sebagai kewajiban, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi setiap para
pekerja dan bagi setiap bentuk kegiatan pekerjaan.
Setiap orang akan melakukan berbagai jenis pekerjaan yang ada untuk
pemenuhan kebutuhan ekonominya. Lahan pekerjaan sebagai sumber ekonomi
masyarakat dewasa ini, terutama di kota-kota besar dipenuhi sektor-sektor industri
baik formal maupun informal yang pertumbuhannya semakin pesat. Hal ini memicu
perkembangan teknologi yang juga semakin canggih. Walaupun perkembangan
teknologi semakin meningkat, tidak menutup kemungkinan menimbulkan dampak
negatif terhadap masyarakat dan resiko bahaya yang beragam bentuk dan jenisnya.
Oleh karenanya perlu diadakan upaya untuk mengendalikan berbagai dampak negatif
tersebut
Era globalisasi menuntut pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja di
setiap tempat kerja, termasuk sektor informal. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-
hari pekerja di berbagai sektor akan terpajan dengan resiko penyakit akibat kerja.
resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat,
tergantung jenis pekerjaannya.
Sektor informal saat ini mengalami proses pertumbuhan yang lebih pesat
dibandingkan dengan sektor formal, sehingga menjadi salah satu penopang
perekonomian di Indonesia. Keberadaan sektor informal telah membantu mengurangi
beban negara sehubungan dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Namun sektor
ini memiliki standar kesejahteraan pekerja yang masih jauh dari memuaskan.
Umumnya pekerja di sektor informal memiliki beban dan waktu kerja berlebih.
Sementara upah yang diterima pekerja jauh di bawah standar. Pengusaha sektor
informal pada umumnya kurang memperhatikan kaidah keamanan dan kesehatan
kerja.
Keselamatan pada suatu tempat kerja harus didukung oleh berbagai faktor
seperti tempat kerja yang baik, tingkat kebisingan yang rendah, suasana kerja
yang nyaman dan lain-lain. Selain itu perlengkapan keselamatan kerja pada sebuah
tempat kerja hendaknya dipergunakan secara optimal untuk menghindari resiko
kecelakaan. Untuk itu perlunya suatu program yang dapat meningkatkan kesehatan
dan keselamatan kerja khususnya bagi karyawan. Salah satu langkah tersebut adalah
dengan melakukan observasi dan wawancara kesebuah tempat khususnya di bidang
perbengkelan dan melihat secara langsung keadaan para pekerja dalam melakukan
aktifitas di bidangnya. Sehingga program yang akan dibuat dapat sasuai dan cocok
untuk industri tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di sektor informal
khususnya perbengkelan mobil ?

1.3. Tujuan Masalah


Makalah ini bertujuan untuk menilai penerapan kesehatan dan keselamatan
kerja di sektor informal khususnya perbengkelan mobil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Keselamatan Kerja


Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering
disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan
upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah
tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan
karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/ kedokteran beserta
prakteknya yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat
kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif
atau kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor
pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.
Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada Pasal 1
menyatakan bahwa tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja, atau yang sering dimasuki tenaga
kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya.
Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya
yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran ergonomi, karena
ergonomi berkaitan dengan orang yang bekerja, selain dalam rangka efektivitas dan
efisiensi kerja (Sedarmayanti, 1996). Ergonomi yaitu sebagai salah satu ilmu yang
berusaha untuk menyerasikan antara faktor manusia, faktor pekerjaan dan faktor
lingkungan. Dengan bekerja secara ergonomis maka diperoleh rasa nyaman dalam
bekerja, dihindari kelelahan, dihindari gerakan dan upaya yang tidak perlu serta upaya
melaksanakan pekerjaan menjadi sekecil-kecilnya dengan hasil yang sebesar-
besarnya. (Soedirman,1989).

2.2 Potensi Hazard di Lingkungan Kerja Bengkel


Perbengkelan merupakan suatu tempat bekerja yang bergerak di bidang sector
informal yang berlangsung tiap hari yang memiliki pekerja(ada yang tetap dan ada
yang tidak) tergantung pada pemilik bengkel dalam mempekerjakan pekerjanya.
Setiap harinya, para pekerja bengkel kebanyakan menggunakan sikap atau posisi
jongkok yang terkadang membungkukkan bagian belakang badan yang memiliki
dengan waktu yang terkadang lama sesuai pekerjaan mobil yang ada karena setiap
perbaikan atau perawatan mobilbergantung pada kerusakan mobil tersebut. Hampir
seluruh pekerja bengkel juga tidak menggunakan atau memperhatikan alat pelindung
diri selama bekerja. Hal ini dapat menimbulkan salah satu keecelakaan kerja apabila
tidak memperhatikan hal-hal tersebut.
Pada dasarnya, terdapat ruang lingkup dalam penentuan bahaya atau hazard di
tempat kerja. Yakni mencakup pengenalan, evaluasi dan pengendalian. Pada kondisi
lingkungan kerja bengkel tersebut dapat dikenali potensi hazard yang ada, yaitu:
1. Potensi hazard lingkungan fisik
Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan
gangguan-gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya:
terpapar kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas
penerangan kurang memadai, getaran, radiasi. Potensi hazard lingkungan fisik ini
meliputi kebisingan. Nilai ambang batas untuk kebisingan adalah 85 dB untuk 8
jam pemajanan, 90 dB untuk 4 jam pemajanan, 95 dB untuk 2 jam pemajanan,
dan seterusnya.
Sumber kebisingan yang ada terletak pada saaat pekerja menyalakan mesin
motor yang mengakibatkan ruangan tersebut menjadi bising. Jenis kebisingan ini
termasuk intermittent noise atau kebisingan yang terputus-putus dan besarnya
dapat berubah-ubah.Potensi bahaya juga timbul pada asap knalpot yang
bertebaran sehingga berisiko mengenai mata atau terhirup melalui saluran
pernafasan.
2. Potensi hazard lingkungan fisiologis
Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang
disebabkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan
norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan serta peralatan
kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang
tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan pekerja ataupun
ketidakserasian antara manusia dan mesin.
Potensi hazard lingkungan fisiologis meliputi ergonomis. Pada saat melakukan
service pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut pada posisi berdiri tanpa kursi
terlebih di tambah dengan suara bising dari kendaraan. Posisi duduk dapat
mengakibatkan sakit punggung karena terlihat pada posisi duduk pekerja tersebut
membungkuk tanpa kursi.
3. Potensi hazard lingkungan Kimia
Potensi bahaya kimia, yaitu potesni bahaya yang berasal dari bahan-bahan
kimia yang digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki
atau mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation (melalui
pernafasan),ingestion (melalui mulut ke saluran pencernaan), skin
contact (melalui kulit). Terjadinya pengaruh potensi kimia terhadap tubuh tenaga
kerja sangat tergantung dari jenis bahan kimia atau kontaminan, bentuk potensi
bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun bahan (toksisitas); cara masuk ke dalam
tubuh.
Potensi bahaya yang timbul pada saat melakukan penggantian oli dan tidak
menggunakan sarung tangan kemudian terjadi ingestion (melalui mulut ke saluran
pencernaan) dan terjadi kontaminasi pada jenis kimia tersebut (oli).

2.3 Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja


1. Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja,
2. menutup mengisolasi bahan berbahaya: menggunakan otomatisasi pekerjaan
menggunakan cara kerja basah dan ventilasi pergantian udara.
3. Pengendalian administrasi: mengatur waktu kerja, menyusun peraturan
keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda-tanda
peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan
sistem penangganan darurat.
4. Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan.

2.4 Penggunaan APD


Para pekerja yang beraktivitas dan melakukan pekerjaannya, tidak menggunakan APD
(alat pelindung diri) dalam bentuk apapun. Alat pelindung diri diklasifikasikan
berdasarkan target organ tubuh yang berpotensi terkena resiko dari bahaya. Pada
bidang bengkel ini, APD yang seharusnya digunakan yaitu :
1. Sarung tangan
Dengan menggunakan sarung tangan, pekerja bengkel dapat melindungi bagian
tangan dari temperatur ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat,, bahan
kimia, infeksi kulit.
2. Masker
Dengan pemakaian masker di mulut dan hidung akan terlindung dari debu, uap,
gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
3. Pakaian lengan panjang
Menggunakan pakean lengan panjang saat bekerja di bengkel sangat penting
pada perlindungan diri yaitu dapat terlindung dari temperatur ekstrim, cuaca
buruk, cipratan bahan kimia atau logam cair, penetrasi benda tajam (alat-alat
bengkel).
4. Alat pelindung kaki
Pada alat pelindung kaki biasa yang digunakan ada pemakaian sepatu yang
nyaman agar terhindar dari lantai licin, lantai basah, benda tajam, benda jatuh,
cipratan bahan kimia (misalnya oli).
APD di atas dapat melindungi bagia-bagian tubuh pekerja untuk menimalisir
kecelakaan kerja selama bekerja. Dan sebaiknya harus diterapkan pada pekerja yang
bekerja di bengkel.

2.5 Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegahan kecelakaan kerja


a. Konstruksi Gedung
Gedung bengkel harus mempunyai pencahayaan yang baik, ventilasi udara serta
instalasi gas buang, dan menggunakan lantai dengan material yang tidak licin.
b. Lay-out bengkel
Penataan peralatan dan ruang kerja harus disesuaikan dengan fungsi alat dan
mesin yang ada serta melakukan isolasi ruang atau mesin yang dapat
menimbulkan potensi bahaya, dapat dilakukan dengan garis pembatas atau
dengan pagar isolasi pembatas.

Gambar 4.1 Isolasi Ruang


c. Instruksi kerja dan Aturan
Setiap peralatan harus mempunyai instruksi kerja yang jelas, termasuk mesin
pengankat, mesin press, mesin bor, mesin gerinda, dll. Serta pula aturan-aturan
yang harus dijalankan peda saat bekerja di bengkel mobil.
d. Peralatan pelindung keselamatan
Tersedianya peralatan pelindung keselamatan baik untuk melindungi pekerja
maupun benda kerja seperti, helm atau topi kerja, sarung tangan, kacamata kerja,
masker, pelindung telinga, vender cover dll
e. Peralatan pemadam kebakaran
Harus tersedia alat pemadam kebakaran baik yang berupa hidrant, tabung
pemadam kebakaran maupun media pasir dsb, mengingat pada bengkel mobil kita
bekerja dengan bahan bakar
f. Sumber daya manusia
Pada dasarnya semua itu sangat tergantung dari manusianya, banyak kecelakaan
kerja terjadi karena faktor manusia. Oleh karena itu setiap pekarja harus dibekali
pelatihan tindakan kesehatan dan keselamatan kerja. Termasuk berperan dan
bekerja seuai dengan porsi dan bidang pekerjaannya.
g. Papan petunjuk dan peringatan
Pada tempat tempat tertantu harus diberi papan petunjuk maupun papan
peringatan, seperti petunjuk tempat alat tabung pemadam kebakaran, peringatan
bahaya kebakaran, peringatan dilarang merokok dll.

Contoh-contoh:
Gambar 4.2 Papan Petunjuk Gambar 4.3 Tanda Larangan

Gambar 4.4 Tanda Peringatan


2. 6 Melakukan Pengangkatan Benda Kerja
Di dalam bengkel mobil pengangkatan benda kerja dilakukan dengan beberapa
cara yaitu ada yang menggunakan alat, ada yang tanpa alat.

2.6.1 Mengangkat Kendaraan dengan Dongkrak


Hal yang harus diperhatikan adalah posisi tumpuan dongkrak terhadap kendaraan
harus pada bidang datar penguat dari rangka kendaraan agar tidak terjadi kerusakan
pada kendaraan, posisi kendaraan yang di dongkrak hendaknya ada pada bidang datar
agar tidak menggelinding saat dilakukan pendongkrakan, bila perlu diberi ganjal pada
roda yang tidak di dongkrak, hindari bekerja pada bagian bawah kendaraan yang
sedang di dongkrak. Setelah selesai mendongkrak pasanglah jack-stand sebagai
penyangga kendaraan, jangan pengandalkan dongkrak.

Mengangkat kendaraan dengan dongkrak Menyangga kendaraan dengan jack-stand


2.6.2 Mengangkat kendaraan dengan Car-lift
Perhatikan saat memasang sepatu lengan lift harus pada posisi penguat rangka
kendaraan, dan perlu diperhatikan pembagian berat depan dan belakang harus
seimbang, gunakan lift sesuai dengan kemampuan daya angkatnya, jangan berada
dibawah kendaraan saat dinaikan dengan lift, pasang pengaman lift saat bekerja pada
kendaraan yang terangkat dengan lift.

Mengangkat kendaraan dengan car-lift Mengangkat kendaraan dengan car-lift

2.6.3 Mengangkat benda kerja secara manual


Yang perlu diperhatikan adalah posisi tubuh saat mengangkat benda kerja, agar tidak
terjadi kesalahan pada tulang belakang, posisi yang baik lihat gambar 4.22 berikut.
Jangan mengangkat beban yang terlalu berat.

Posisi mengangkat yang benar punggung harus posisi lurus

2.7 Fasilitas kesehatan


Jika terjadi kecelakaan, maka pekerja tersebut mengobati dirinya sendiri
dengan membeli obat di apotik dan biaya pengobatan di tanggung oleh pemilik
bengkel. Para pekerja biasanya mengalami kecelakaan kerja seperti, tidak segaja
memukul tangannya pada saat melakukan service mobil.Sebaiknya perlu ada fasilitas
kesehatan meski usaha ini hanya bergerak di bidang sector informal. Penyediaan
kotak P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) saat terjadi kecelakaan kerja saat
bekerja harusnya lebih diperhatikan oleh suatu pengusaha.

2.8 Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bengkel Otomotif


Dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel otomotif, ada
beberapa hal yang menjadi perhatian, yaitu:
1. Kondisi lingkungan bengkel otomotif (tempat kerja)
Dalam penerapan konsep keselamatan kerja, satu hal yang harus diperhatikan
adalah bagaimana lingkungan kerjanya. Kita harus memahami lingkungan kerja
sebelum menerapkan keselamatan kerja, bengkel otomotif merupakan lingkungan
kerja dengan spesifikasi kondisi yang khusus. Setiap kondisi dan alat serta bahan
yang pergunakan pada saat bekerja harus kita sesuaikan dengan kebutuhannya,
misalnya bahan yang mudah terbakar, bahan yang licin, tajam, dan sebagainya.
Hal ini harus perhitungkan sebagai aspek keselamatan kerja yang akan kita
terapkan. Jika kita mampu menganalisa kondisi lingkungan kerja, maka dapat
memberikan antisipasi penanganan yang tepat. Antisipasi penanganan yang tepat
ini dimaksudkan untuk menyediakan sarana keselamatan kerja yang sesuai
dengan kebutuhannya. Hal ini hanya dapat dilakukan jika benar-benar mengenali
segala aspek yang ada di lingkungan kerja. Setiap aspek yang dapat menyebabkan
kecelakaan kerja harus kita sediakan sarana keselamatan yang tepat.
Kondisi fisik dari lingkungan kerja perlu diperhatikan, sebab hal tersebut
merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjamin agar tenaga
kerja dapat melaksanakan tugas tanpa mengalami gangguan. Kondisi fisik dari
lingkungan kerja misalnya temperatur, kelembaban udara, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, yang berpengaruh terhadap hasil
kerja.

2. Mengontrol Kontaminasi
Pada bengkel mobil seringkali terjadi kontaminasi dari beberapa gas beracun
yang ada seperti halnya:
1. Gas H2SO4 dari proses elektrolisa yang dihasilkan oleh Akki mobil pada
saat di Charge atau Discharge. Hal ini dapat diketaui dari bau yang
menyengat dari asam sulfat tersebut. Oleh karena itu ruang pengisian Akki
harus disendirikan dan mempunyai ventilasi yang baik, dan yang sangat
harus diperhatikan adalah bahwa uap H2SO4 terdiri dari oksigen dan
hirogen yang terpisah yang dapat menjadi gas peledak manakala dipicu
dengan bunga api oleh karena itu juga harus dihindarkan dari sumber api.
2. Gas buang hasil pembakaran dari kendaraan bermotor, mengingat dibengkel
kita bekerja dengan kendaraan bermotor maka tidak lepas dari gas buang
dari kendaraan bermotor tersebut. Oleh karena itu bengkel harus
mempunyai instalasi gas buang yang baik, karena ada beberapa unsur gas
yang berbahaya, contohnya CO (katrbonmonoksida). Gas ini tidak
berwarna dan tidak berbau, akan tetapi dapat meracuni manusia yang
menyebabkan mati lemas.
3. Yang tidak kalah penting lagi adalah kontaminasi dari uap bensin atau
cairan cairan pembersih yang lain, jika terhisap ke paru-paru dapat
menyebabkan keracunan. Oleh karena itu perlu diperhatikan tentang
ventilasi udara pada ruangan, terutama ruang cuci atau pembersihan mesin
dan penggunaan masker dalam hal ini sangat diperlukan.
Limbah-limbah cair yang terdapat pada bengkel mobil banyak terdiri dari limbah-
limbah cair yang mengandung racun yang tidak boleh dibuang bebas
sembarangan karena dapat mengkontaminasi dan mencemari tanah serta sumber-
sumber air dalam tanah. Limbah tersebut terdiri dari: cairan-cairan pembersih,
sisa-sisa bahan bakar, oli bekas, bekas minyak rem dll. Limbah limbah tersebut
harus ditampung tersendiri yang nantinya akan dikirim ketempat pengolahan
limbah sebagai bahan daur ulang. Sedangkan air buangan dari bengkel harus
dibuatkan tempat pemisah oli, karena sering kali air buangan dari bengkel banyak
mengandung sisa sisa oli.

3. Beberapa Alat Keselamatan Kerja di Bengkel Otomotif


a. Tabung Pemadam Kebakaran
Beberapa bahan d bengkel otomotif merupakan bahan yang mudah terbakar
maka kita memerlukan alat ini untuk memadamkan kebakaran yang mungkin
terjadi.
Gambar 4.6 Alat Pemadam Kebakaran

Penanganan kebakaran harus dibedakan dari sumber kebakaran itu sendiri,


maka dari itu kita harus mengenal kelas kelas kebakaran sehingga dengan tepat
menggunakan alat pemadam kebakaran yang sesuai.

Kelas-kelas kebakaran tersebut antara lain yaitu:


Kelas A

Gambar 4.7 Simbol Kelas A


Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda padat, misal: kertas, kayu,
plastik, karet, busa dan lain lain. Media sebagai alat pemadam pada kelas ini
adalah berupa: air, pasir, karung goni yang dibasahi, dan alat pemadam
kebakaran (APAR) atau racun api tepung kimia kering.

Kelas B
Gambar 4.8 Simbol Kelas B
Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda mudah terbakar berupa cairan
misal: bensin, solar, minyak tanah, spirtus, alkohol dan lain-lain. Media
sebagai alat pemadam pada kelas ini adalah berupa: pasir dan alat pemadam
kebakaran (APAR) atau racun api tepung kimia kering. Dilarang menggunakan
air pada kebakaran jenis ini, karena berat jenis bahan diatas lebih ringan
daripada air sehingga dapat menyebabkan kebakaran melebar kemana mana.

Kelas C

Gambar 4.9 Simbol Kelas C


Kebakaran yang disebabkan oleh listrik. Media sebagai pemadam kebakaran
pada kelas ini adalah berupa: Alat pemadam kebakaran (APAR) atau tepung
kimia kering. Yang perlu diperhatikan adalah mematikan dulu sumber
listriknya.
Gambar 4.10 Penyemprotan APAR
Jika ada korban akibat kebakaran harus segera dilarikan kerumah sakit
terdekat untuk mendapatkan perawatan secara intensif.
b. Pasir
Pasir digunakan sebagai penutup lantai yang tergenang air atu minyak pelumas
yang tumpah. Dengan pasir ini, maka tumpahan minyak tutupi sehingga tidak
menyebabkan kecelakaan saat ada orang yang menginjaknya.
c. Kain Majun
Kain digunakan untuk mengelap kotoran yang ada di tangan atau alat-alat
kerja kita. Dengan kain majun ini, maka kebersihan alat dapat kita pertahankan
d. Serbuk Kayu Gergaji
Serbuk digunakan untuk menutup genangan air atau terutama minyak pelumas
di lantai bengkel. Prinsipnya sama dengan pasir, tetapi dengan menggunakan
serbuk kayu ini, lebih bersih dan mudah dibersihkan.

4. Pakaian kerja (Wearpack)


Penggunaan pakaian yang benar-benar cocok sehingga tidak mengganggu
pekerjaan.Menjaga kebersihan pakaian waktu bekerja sebab oli atau kotoran pada
pakaian akan mengotori kendaraan.Sepatu kerja yang mempunyai sol yang tidak
licin dan berkulit keras.Saat mengangkat benda-benda berat atau mempunyai
permukaan yang tajam menggunakan sarung tangan.Tidak menggunakan sarung
tangan saat mengebor dan menggerinda.

5. Bekerja dengan Aman dan Rapi


Bekerja dengan aman danrapi antara lain dengan menjaga agar tempat kerja
selalu bersih dan saat pekerjaan selesai kembalikan segala sesuatunya dengan
teratur, suku cadang bekas harus dikumpulkan dalam kantong plastik untuk
selanjutnya dibuang atau dikembalikan ke pelanggan (customer), memarkir
kendaraan yang akan diperbaiki di dalam garis stall, jangan sampai keluar karena
akan mengganggu kendaraan lain, tidak menempatkan sesuatu di tengah jalan
atau pintu masuk walaupun untuk sementara, karena akan mengganggu mobil
keluar atau masuk, tidak meninggalkan kunci atau suku cadang di lantai, dimana
dapat menyebabkan anda atau orang lain tersandung atau terpeleset, biasakan
menempatkan mereka pada pada caddy atau meja kerja, membersihkan dengan
segera setiap bahan bakar, oli atau gemuk yang tertumpah, membersihkan alat-
alat atau SST yang telah dipakai.

6. Cara penanganan Kendaraan pelanggan


Selama bekerja, pakailah selalu fender cover, seat cover, dan floor cover agar
tidak merusak atau mengotori kendaraan.Jagalah selalu kebersihan fender cover
dan seat cover.Oli atau gemuk yang ada pada tangan atau alat-alat anda dapat
mengotori kendaraan. Karena itu tangan dan alat-alat harus dijaga agar tetap
bersih.Jangan sekali-kali memasukkan benda yang tajam seperti obeng ke dalam
kantong baju karena dapat merusak kendaraan dan melukai anda sendiri misalnya
anda terjatuh.
Bersihkan selalu minyak dan oli yang tertumpah sehingga kendaraan tidak dalam
keadaan kotor. Jika oli yang tertumpah dibiarkan begitu saja, langganan akan
mengira terdapat kebocoran pada kendaraannya, lalu membawanya kembali ke
bengkel.Apabila kendaraan tertumpah minyak rem, jangan mengelap tumpahan
karena dapat merusak cat. Cara menanganinya adalah dengan memberi air pada
tempat yang tertumpah minyak rem.

2.9 Melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan


Jika terjadi seorang korban kecelakaan langkah yang paling baik adalah segera
dibawah ke dokter atau rumah sakit terdekat, namun ada beberapa hal yang dapat
dilakukan sebagai langkah pertolongan pertama.
1. Pernafasan Buatan
Langkah ini diberikan pada korban yang mengalami kecelakaan jika terjadi
pernafasan terhenti, maka dapat diatasi dengan memberikan pernafasan buatan, antara
lain dari mulut ka mulut seperti terlihat pada gambar 4.11a, 4.11b, 4.11c, 4.11d
berikut.
Gambar 1a Mengeluarkan benda dari mulut

Gambar 1b Mengangkat tengkuk agar lidah tidak menyumbat jalur pernafasan

Gambar 1c Memberikan pernafasan bantuan dari mulut ke mulut

Gambar 1d Pernafasan bantuan dan pemompaan pada dada.


Juga berlaku untuk korban kecelakaan lemas dan tenggelam dengan cara
seperti terlihat pada gambar berikut
Membantu korban lemas atau tenggelam

2. Menghentikan Pendarahan
1) Tindakan ini dilakukan pada korban yang mengalami pendarahan yang banyak
dan tidak berhenti-berhenti
2) Baringkan korban dengan kepala bersandar
3) Angkat bagian yang luka hingga rata dengan badan
4) Tekan pada lukanya, jika ada pada bagian bawah berilah bantalan seperti
gambar 4.7 dan 4.8 berikut
5) Segera hubungi dokter

Menghentikan pendarahan di bagian lengan

Menghentikan pendarahan di dada dan paha

3. Merawat Luka
Luka sering kali harus dibersihkan, gunakan air masak atau larutan pembersih
luka dan jangan tersentuh oleh tangan. Untuk luka kering justru jangan sering dicuci.
Jika menggunakan pembalut, hati hati saat membuka pembalut karena biasanya lengket
terhadap lukanya.

4. Membalut Luka
Membalut luka mempunyai beberapa fungsi sbb:
1) Meletakan obat pada luka
2) Membalut bidai pada anggota badan yang patah
3) Menekan pembuluh darah yang memar
4) Membalut bagian yang lentur

Balutan pilin Balutan angka 8 Balutan siku

BAB III
HASIL OBSERVASI

Bengkel mobil yang diobservasi adalah bengkel mobil Karya sejati yang terletak
di Komplek Griya Damai Indah Kenten Laut Banyuasin Sumatera Selatan. Bengkel mobil ini
menerima segala macam keluhan dan perawatan mobi baik itu dari segi Air Conditioner
(AC), sistem kelistrikan, maupun bagian pemesinan. Ada pun data-data yang diperoleh
selama observasi adalah sebagai berikut :
3.1 Observasi Pegawai
1. Sejarah Pekerja
Umumnya pekerja yang bekerja dibengkel Karya Sejati memiliki ikatan kekerabatan
keluaraga.
2. Lama Bekerja
Pegawai bengkel Karya Sejati berkerja kurang lebih sudah 7 tahun bekerja di
bengkel tersebut.
3. Jumlah Pegawai
Jumlah pegawai bengkel Karya sejati bejumlah 5 orang
1. Chandra (34th)
2. Alex (24th)
3. Maidi (28th)
4. Endro (37th)
5. Wahyu (45th)
4. Jam Kerja
Dalam sehari pegawai bengkel Karya Sejati bekerja selam 8 jam mulai dari pukul
08.00 16.00 WIB
5. Rekrutment Pegawai
Pegawai bengkel Karya Sejati direkrut berdasarkan keahlian atau kemampuan setiap
pegawai.
6. Pelatihan Pegawai
Pegawai bengkel Karya Sejati yang baru akan di dampingi oleh pagawai yang sudah
berpengalaman selama 3 bulan
7. Kesejahteraan Pegawai
Pegawai bengkel Karya Sejati mendapatkan gaji rata-rata 500.000 - 1.000.000 per
bulan, tergantung kondisi pendapatan bengkel. Pegawai mendapatkan makan siang
dan kofe break.

3.2 Observasi Lingkungan


1. Tata Letak
Tata letak bengkel karya sejati berada di penggir jalan utama sebuah perumahan
dan di dekat pemukiman warga lebih tepatnya di teras rumah pemilik bengkel.
Lokasi pengerjaan atau tempat kerja di dalam jalan kecil pemukiman sehingga
tidak menggangu aktivitas lalu lintas kendaraan di perumahan tersebut.
2. Jumlah Ruangan
Jumlah ruangan bengkel karya sejati hanya ada 1 ruangan terbuka. Bengkel
karya sejati tidak memiliki ruangan lain utnuk gudang penyimpanan barang dan
alat alat bengkel lainnya.
3. Ventilasi
Bengkel karya sejati tidak memiliki ventilasi, dikarenakan berada di ruang
terbuka ( teras rumah).
4. Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar tampak kotor karena banyaknya tumpahan oli bekas dan
kolam air yang tidak terawat.
5. Kerapihan
Lingkungan sekitar bengkel karya sejati tampak berantakan. Peralatan bengkel
yang digunakan tidak tersusun dengan rapi.

3.3 Observasi Kesehatan


Pegawai tidak memiliki asuransi dari pihak bengkel. Namun, pegawai
memiliki jaminan kesehatan pribadi (BPJS). Bengkel tidak memiliki perlengkapan
P3k.

BAB IV
HASIL ANALISIS

4.1 Analisi bahaya lingkunngan


Bengkel berisiko menggangu aktivitas warga sehari hari di sekitar bengkel
tersebut, terutama ketika anak kecil bermain di daerah sekitar bengkel tersebut.
Lingkungan terlihat tamapak kotor karena terdapat oli bekas tumpah di lantai,
sehingga pegawai berisiko jatuh. Lingkungan tercium aroma tidak sedap karena
terdapat beberapa kandang burung kolam ikan yang tidak terawat sehingga
menyebabkan pegawai tidak nyaman. Pegawai berisiko tertimpa benda berat karena
tata letak penyimpanan yang tidak efektif misalnya kerangaka besi las.

4.2 Analisi Bahaya Perlatan


Bengkel tampak berantakan karena perlatan bengkel yang tidak tersusun rapi,
sehingga berisiko membahayakan pekerja tersandung peralatan bengkel seperti
gergaji listrik. Bengkel memiliki peraltan APD ( alat pelindung diri) namun tidak
memadai dan tidak layak pakai. Bengkel tidak memiliki perlengkapan P3k untuk
menangani pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan kerja. Kabel generator listrik
terburi sehingga berisiko mengakibatkan pegawai tersengat arus listrik. Bengkel
tersebut tidak memiliki mtras pelindung untuk pegawai ketika bekerja di bawah
mobil, bengkel hanya menggunkan tikar. Sehingga pegawai berisiko mengalami nyeri
punggung.

4.3 Analisis Bahaya Pegawai


Pegawai bengkel tidak memiliki motivasi untuk memakai alat pelindung diri
seperti penutup wajah, sepatu, helm dan sarung tangan dikarenakan pegawai merasa
tidak nyaman menggunakannya karena membatasi ruang gerak. sehingga berisiko
terkena percikan api, jatuh akibat licin, dan luka pada tangan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada bengkel mobil Karya Sejati memiliki beberapa faktor resiko sehingga
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti resiko cedera. resiko tertimpa barang,
resiko terkena arus pendek listrik, dan kebisingan. Penerapan kesehatan dan
keselamatan kerja di Bengkel ini belum terlaksana dengan baik. Pencegahan atau
pengendalian kecelakaan kerja belum dilakukan dan hanya berdasar sikap hati-hati.
Kesadaran untuk menggunakan alat pelindung diri saat bekerja sangat kurang.

5.2 Saran
Diharapkan bagi pemilik untuk mengetahui dan memberikan pengetahuan
tentang kesehatan dan keselamatan kerja serta prosedurnya bagi pekerja. Perhatian
secara serius untuk mencegah posisi duduk yang tidak ergonomi yang nantinya akan
membawa dampak yang kurang baik bagi pekerja. Kesadaran menggunakan alat
pelindung diri perlu di tingkatkan serta penggunaannya sesuai prosedur.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/41762123/BAB-I-Bengkel

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/09/kondisi-kerja-definisi-dan-jenis.html

http://mia.staff.uns.ac.id/2011/07/11/tempat-kerja-potensi-bahaya/

Nuno, Eddy. 2011. K3 di Bengkel Otomotif, (Online), (http://otto-


smkotomotif.blogspot.com/2011/02/k3-di-bengkel-otomotif_27.html), diakses 01 Februari
2017.

Viklund, Andreas. 2009. Definisi dan Jenis Kondisi Kerja, (http://jurnal-


sdm.blogspot.com/2009/09/kondisi-kerja-definisi-dan-jenis.html), diakses 01 Februari 2017.
Lampiran
Perlengkapan K3 Bengkel Mobil Karya Sejati
Kondisi Lingkungan Bengkel Mobil Karya Sejati