Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN TUGAS KHUSUS

PT. PERTAMINA (PERSERO) RU VI BALONGAN


PERIODE 1 JUNI 2016 30 JUNI 2016

MENGHITUNG EFISIENSI FURNACE 11-F-101 PADA CRUDE


DISTILLATION UNIT (CDU)

DISUSUN OLEH :
Risky Andi
Aking Abdul Fattah

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2016
i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala puji dan rahmat-
Nya, sehingga penulis dapat melaksanakan kerja praktek di PT PERTAMINA (Persero)
RU VI Balongan dan dapat menyusun laporan kerja praktek yang berlangsung selama satu
bulan, terhitung mulai dari tanggal 1 juni 30 juni 2016.

Laporan Kerja Praktek ini disusun berdasarkan orientasi-orientasi di berbagai unit


khususnya CDU dengan ditunjang oleh data-data dari literatur dan petunjuk serta
penjelasan dari operator dan pembimbing. Kerja Praktek ini merupakan salah satu syarat
yang wajib ditempuh untuk menyelesaikan program Strata-1 di Jurusan Teknik Kimia,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Penulis laporan kerja praktek ini dapat diselesaikan tidak lepas dari dukungan,
bimbingan dan bantuan dari banyak pihak yang sangat berarti bagi penulis. Oleh karena
itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Allas SWT karena atas segala kehendak-Nya penulis diberi kesabaran dan
kemampuan untuk dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini.
2. Ibu Fatimah Aradani selaku Senior Officer BP Refinery VI Balongan
3. Bapak Ris Agus Broto S ,selaku Energy Cont & Loss section Head Revinery VI
Balongan.
4. Bapak achmad suhairi selaku pembimbing Kerja Praktek lapangan di PT.
PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan atas penjelasan, bimbingan, bantuan dan
kesabarannya dalam pelaksanaan Kerja Praktek dan dalam penyusunan laporan.
5. Pak Yanto yang telah memudahkan dalam proses administrasi sebagai peserta
Praktek Kerja Lapangan serta memberikan referensi mengenai penulisan Laporan
Kerja Praktek.
6. Bapak Faisal R.M. Ir. Drs. M.T., Ph.D. selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia.

ii
7. Bapak Faisal R.M. Ir. Drs. M.T., Ph.D selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek
yang telah memberikan bimbingan, doa dan dukunganya.
8. Orang tua dan keluarga penulis atas kasih sayang, perhatian, doa dan dukungan
moril maupun material yang telah diberikan sejauh ini.
9. Serta semua pihak lainya yang tidak bisa dituliskan penulis satu per satu yang telah
membantu selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan PT. PERTAMINA
(Persero) RU VI Balongan.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
diharapkan penulis demi kemajuan di masa depan. Akhir kata, penyusun berharap semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya mahasiswa Teknik Kimia.

Wassalamualaikum Wr. Wb

.
Balongan, 21 juni 2016

Penulis

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL................................................................................................................vi

DAFTAR GAMBAR.........................................................................................................vii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah..........................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah.................................................................................................2
1.3 Tujuan Tugas Khusus..............................................................................................2
1.4 Manfaat....................................................................................................................2
1.5 Ruang Lingkup........................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 3


2.1 Dasar Teori.............................................................................................................. 3
1.2 Klasifikasi Furnace..................................................................................................5
2.3 Prinsip Kerja Furnace............................................................................................13
2.4 Komponen pada Furnace.......................................................................................14
2.5 Efisiensi Furnace...................................................................................................17

BAB III METODOLOGI..................................................................................................19


3.1 Pengumpulan Data................................................................................................ 19
3.1.1 Pengumpulan Data Primer............................................................................. 19
3.2 Pengolahan Data....................................................................................................19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................... 27


4.1 Hasil perhitungan.................................................................................................. 27
4.2 Pembahasan...........................................................................................................27

iv
BAB V PENUTUP............................................................................................................. 30
V.1 Kesimpulan............................................................................................................30
V.2 Saran......................................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................31

v
DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1 Combution work sheet 11-F-101........................................................................ 21
Tabel 3. 2 Data yang diketahui............................................................................................ 23
Tabel 3. 3 Stack Loss Work Sheet 11-F-101........................................................................25

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Gambar furnace tipe box.................................................................................. 7


Gambar 2. 2 Gambar furnace tipe silindris............................................................................9
Gambar 2. 3 Gambar furnace tipe cabin
.............................................................................................................................................
11
vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Banyak industri kimia yang membutuhkan kondisi operasi pada temperatur
tinggi, salah satunya pada pengolahan minyak bumi diperlukan peralatan untuk
memanaskan minyak mentah (crude oil) sebelum memasuki kolom fraksinasi.
Salah satunya adalah CDU (Crude Distillation Unit ) ini merupakan salah satu
bagian dari Unit DTU, dan fungsi alat ini untuk memisahkan crude berdasarkan
trayek didih dengan kapasitas 125.000 BPSD atau (745 m3/jam). Unit ini
merupakan proses untuk merubah sulfur organik, O2 dan N2 yang terdapat dalam
fraksi hidrokarbon.

Pada unit ini membutuhkan pemanasan yang di gunakan untuk menjadi


sumber pemanas yang di gunakaan pada kolom distilasi ataupun untuk
meningkatkan suhu. Untuk pemanasan temeperatur cukup tinggi di gunakan
furnace dimana sumber panas berasal dari bahan bakar berupa fuel gas maupun
fuel oil.Proses perpindahan panas pada furnace terjadi antara fluida yang d panasi
dengan panas yang di hasilkan dari pembakaran bahan bakar.Furnace atau fired
heater (pemanas berapi) adalah alat yang berfungsi untuk memindahkan kalor
yang di hasilkan dari proses pembakaran (di langsungkan dalam suatu ruangan)
pada fluida yang mengalir d dalam tube atau buluh. Dilihat dari prinsip kerjanya,
maka alat ini dapat di golongkan pada golongan alat penukar panas (heat transfer
equipment). Panas hasil pembakaran berpindah pada fluida di dalam tube secara
konveksi maupun radiasi. Proses pembakaran yang terjadi merupakan reaksi
antara oksigendengan bahan bakar di sertai timbulnya panas. Untuk memastikan
terjadinya pembakaran,unsur yang di butuhkan anatra lain bahan bakar, api dan
udara yang di ambil dariudara bebas.

1
Furnace yang di gunakan pada unit ini ada 1 yaitu furnace berkode 11-
F101 digunakan untuk memanaskan aliran sebelum masuk main fractionator C-
101.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam penyelesaian tugas khusu ini , penulis membatasi perumusan


masalah pada perhitungan efisiensi furnace 11-F-101 di unit Crude distillation unit
(CDU).

1.3 Tujuan Tugas Khusus


Adaupun beberapa tujuan dari tugas khusus ini yakni mengetahui kinerja
furnace (11-F101) pada Crude distillation unit (CDU) di PERTAMINA RU VI
Balongan dengan cara menghitung efisiensi furnace aktual.

1.4 Manfaat
Manfaat dari tugas khusus perhitungan efisiensi furnace 11-F101 yaitu
unutk mengetahui kinerja furnace di Unit 11 dan sebagai pembelajaran mahasiswa
kerja praktek real ,dalam menyelesaikan masalah dilapangan dan di jadikan
pertimbangan dalam mengoprasikan dan atau menjaga pengoprasian furnace
secara efisien.

1.5 Ruang Lingkup


Ruang lingkup tugas khusus ini adalah furnace dengan kode 11-F101 pada
CDU di PERTAMINA RU VI Balongan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


Pada pengolahan minyak bumi (crude oil) suatu alat yang berfungsi untuk
memanaskan minyak mentah dalam unit pengolahan migas. Seperti yang telah
kita ketahui sebelumnya, proses dasar pengolahan minyak mentah dilakukan
dengan memisahkan fraksi-fraksinya menggunakan panas yang tinggi. Karena
prosesnya pemisahannya menggunakan panas, maka tentunya terdapat alat yang
digunakan untuk memanaskan minyak mentah tersebut, alat yang digunakan
disebut dengan furnace atau heater.

Furnace adalah alat yang digunakan yang digunakan untuk menaikkan


temperatur fluida dengan menggunakan panas dari hasil pembakaran dari bahan
bakar. Bahan bakar yang digunakan ialah bahan bakar cair dan bahan bakar gas
yang menyala di dalam burner. Proses pemanasan dilakukan dengan mengalirkan
fluida kedalam tube yang tersusun sedemikian rupa di dalam furnace, perpindahan
panas terjadi dengan tiga cara yaitu konveksi, konduksi dan radiasi.

Furnace terdiri dari struktur bangunan yang berdinding plat baja yang di
bagian dalamnya di lapisi oleh material tahan api. Panas yang di gunakan dalam
furnace berasal dari panas pembakaran secara langsung dan juga radiasi-radiasi
panas yang di pantulkan kembali ke tube-tube yang ada di dalam furnace,
sehingga akan mengurangi kehilangan panas.

Furnace di desain untuk dapat menggunakan fuel oil atau fuel gas maupun
off gas . Furnace umumnya terdiri dari dua bagian utama (section) yaitu bagian
yang menerima panas dengan cara konveksi yang di sebut convection section dan
bagian yang menerima panas langsung dengan cara radiasi yang di sebut
Radiation section atau sering juga di sebut Combustion Chamber. Fluida yang
akan di panaskan terlebih dahulu masuk melalui Convection section dengan

3
tujuan untuk mendapatkan panas secara bertahap agar terhindar dari proses
thermally shock, kemudian masuk ke dalam Radiation section hingga mencapai
temperature yang diinginkan.

Agar dapat memberikan panas sebanyak-banyaknya kepada fluida yang


mengalir dalam tube, maka perlu diusahakan agar pembakaran yang terjadi bisa
berlangsung sempurna dan mereduksi atau menekan panas yang hilang melalui
stack dan dinding furnace seminimal mungkin. Kunci drai operasi furnace yang
efisiean terletak pada pembakaran bahan bakar yang sempurna dengan udara
berlebih yang seminim mungkin.

Suatu furnace dapat berfungsi dengan baik apabila :

1. Reaksi pembakaran sempurna


2. Pemanasan dalam periode waktu yang lama
3. Panas hasil pembakaran di dalam furnace merata
4. Tidak terdapat scale pada permukaan tube
5. Kebocoran atau kehilangan panas minimal

Secara umum furnace digunakan untuk memanaskan fluida proses dengan


tujuan sebagai berikut :

1. Menaikkan temperature minyak sampai temperature tertentu,


selanjutnya dipisahkan di dalam distillation coloumn atau
fractionator coloumn. Sebagai contoh adalah furnace yang ada di
unit CDU Kilang RU-VI Balongan.
2. Menaikkan temperature minyak hingga mencapai temperature
tertentu untuk mencapai thermal reaction. Sebagai contoh furnace
yang ada di unit CDU Kilang RU-VI Balongan.
3. Menaikkan temperatur minyak sampai temperatur tertentu yang
diperlukan untuk catalytic reaction . Sebagai contoh furnace yang
ada di Unit Platforming PLBB kilang RU-VI Balongan.

4
4. Furnace sebagi dapur reaksi, dimana di dalam tube-tube di aliri
fluida dari atas menuju keluaran kebawah yang di panaskan pada
temperature reaksi yang diinginkan untuk mengurangi beban main
Fractionator C-101 RU-VI Balongan.
5. Furnace sebagai pemanas minyak yang di jadikan media pembawa
kalor (Hot Oil), di mana fluida pembawa panas di panaskan di
dalam furnace, kemudian di alirkan melalui pipa dan dipakai
sebagai media pemanas.

1.2 Klasifikasi Furnace

a. Berdasarkan Kontruksi dan Susunan Tube Oil

Di dalam kilang pengolahan minyak bumi terdapat berbagai tipe


furnace yang digunakan dan dapat di klasifikasikan baik menurut bentuk
kontruksinya maupun susunan tube di dalam furnace serta fungsinya. Adapun
faktor utama yang sangat berpengaruh dalam menentukan ukuran dan bentuk
furnace adalah kapasitas pembakaran (firing rate). Terdapat berbagai tipe
furnace yang di gunakan dalam industri minyak bumi berdasarkan bentuk
konstruksi dan susunan tube oil sebagai berikut .

1. Furnace Tipe Box

Furnace tipe box mempunyai bagian radia (radiant section) bagian


konveksi (convection section) yang di pisahkan oleh dinding batu tahap api
yang di sebut brigde wall. Di mana burner di pasang pada ujung furnace dan
api diarahkan tegak lurus dengan pipa pembuluh (tube coil) ataupun dinding
samping furnace. Aplikasi furnace tipe box :


Digunakan pada instalasi-instalasi lama dan juga di pakai pada
instalasi baru

Beban kalor berkisar antara 15-20 MMKcal/jam bahkan bisa lebih,
tergantung kebutuhan.
5

Di pakai untuk proses dengan kapasitas besar.

Umumnya menggunakan bahan bakar fuel oil dan gas

Keuntungan menggunakan furnace tipe box adalah :



Dapat di kembangkan sehingga bersel tiga atau empat

Distribusi panas (fluks kalor) merata di sekeliling pipa

Ekonomis untuk digunakan pada beban kalor di atas 20 MMKcal/jam

Kerugian menggunakan furnace tipe box adalah:


Apabila salah satu aliran fluida dihentikan, maka selurh operasi
furnace harus dihentikan juga, hal ini dilakukan untuk mencegah
pecahnya pipa.

Tidak dapat digunakan untuk memanaskan fluida pada suhu relative
tinggi dan aliran fluida singkat.

Harga relative mahal tersusun mendatar

Membuthhkan area relative lebih luas

Pemeliharaan lebih sulit karena tube tersusun mendatar
6
Gambar 2. 1 Gambar furnace tipe box

7
2. Furnace Tipe Silindris Tegak (Vertical cylindrical)

Furnace tipe silindris tegak mempunyai bentuk kontruksi silindris


dengan bentuk lantai (alas) bulat, tube coil dipasang vertikal. Burner di pasang
pada lantai sehingga arah pancaran apinya vertikal, sedangkan dapur tipe ini
dirancang tanpa ruang konveksi (convection section). Bagian bawah (bottom)
di buat jarak kurang lebih 7ft dari dasar lantai atau di sesuakian untuk
memberikan keleluasaan bagi operator pada saat pengoperasian furnace.

Aplikasi furnace tipe slinder tegak :


Dipergunakan untuk pemanasan fluida yang mempunyai perbedaan
suhu antara sisi masuk (inlet) dan sisi keluar (outlet) tidak terlalu besar
(90C)

Beban kalor antara 2,5 s/dn20 MMKcal/jam

Keuntungan menggunakan furnace silinder tegak adalah :



Konstruksi sederhana sehingga harga relative lebih murah

Area yang digunakan lebih kecil


Luas permukaan pipa tersusun lebih besar sehingga effisiensi
thermalnya lebih tinggi

Ekonomis untuk beban pemanasan antara 15-20 MMKcal/jam

Kerugian menggunakan furnace silinder :



Kapasitas feed relatif kecil

Plot area minimaldan perlu pengoprasian lebih hati-hati

Pada kasus dimana kapasitas furnace kecil, kurang effisien.
8
Gambar 2. 2 Gambar furnace tipe silindris

3. Furnace Tipe Cabin

Furnace tipe cabin mempunyai bagian radiasi (radiant section) pada


section pada sisi-sisi samping dan sisi kerucut furnace, sedangkan bagian
konveksi (convection section) ada dibagian atas furnace, pipa konveksi pada
baris pertama dan kedua disebut shield section (pelindung). Burner dipasang
pada lantai furnace dan menghadap ke atas, sehingga arah pancaran api
9
maupun flue gas tegak lurus dengan susunan pipa, namun burner dapat juga
dipasang horizontal.

Keuntungan menggunakan furnace tipe cabin :



Bentuk kontruksi kompak dan mempunyai effisiensi thermal tinggi.

Beban panas antara 5-75MMKcal/jam.

Pada furnace tipe cabin multicel, memungkinkan pengendalian operasi


trpisah (fleksibel).

10
Gambar 2. 3 Gambar furnace tipe cabin

11
B. Berdasarkan Pasokan Udara Pembakaran (Draft)

Klasifikasi furnace dapat dibagi menurut cara pemasokan udara dan


pembuangan gas hasil pembakaran (flue gas), sebagai berikut :

1. Furnace Dengan Draft Alami (Natural Draft)

Perbedaan tekanan inlet dan outlet air register yang disebabkan oleh
perbedaan berat antar bagian flue gas yang panas di dalam stack dan udara di
luar stack. Natural draft ini akan menghisap udara pembakaran masuk ke
ruang dan membawa gas hasil pembakaran keluar. Kebocoran pada stack akan
mengurangi draft tersebut. Natural draft biasanya di pakai pada furnace yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mempunyai resisntance yang kecil terhadap aliran flue gas.

Tanpa air preheater.

Mempunyai stack yang cukup tinggi.

a. Furnace Dengan Draft Induksi (Induction Draft)

Gas hasil pembakaran keluar melalui stack dengan tarikan blower.


Tarikan blower ini menyebabkan tekanan di dalam dapur lebih rendah dari
tekanan atmosfer sehingga udara luar masuk ke dalam dapur.

b. Furnace Dengan Draft Paksa

Tekana inlet pada suplai udara melalui air register diperbesar dengan
bantuan blower sehingga draft menjadi lebih besar. Forced draft biasanya di
pakai untuk furnace yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

- Resistance nya kecil terhadap aliran flue gas


- Mempunyai stack rendah

12
c. Furnace Dengan Draft Berimbang (Balance Draft System)

Merupakan kombinasi dari forced draft dan induce draft. Balance draft
ini memperbesar tekanan dengan air register dan mengurangi tekanan outlet.
Penambahan dan pengurangan tekanan tersebut masing-masing dilakukan
dengan bantuan sebuah blower. Balance draft ini di pakai heater yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

- Resistance terhadap aliran flue gas besar


- Memakai air preheater
- Mempunyai stack yang rendah

2.3 Prinsip Kerja Furnace


Pada dasarnya proses perpindahan panas yang terjadi lebih banyak
menggunakan panas radiasi menuju feed yang mengalir di dalam tube dan
perpindahan panas secara konveksi . Ruang utama yang terbuka didalam heater
adalah radiant fire box (ruang bakar), dimana di adalam ruangan ini terjadi
pembakaran fuel. Bahan bakar cair atau gas atau kombinasi anatara keduanya di
masukkan ke dalam furnace setelah di campur dengan udara pembakaran di dalam
burner kemudian dinyalakan.

Feed yang dipanaskan dialirkan melalui bagaian dalam tube yang tersusun
pada bentangan horizontal atau vertikal di sepanjang lantai, di dinding samping,
atau di atas dari ruang pembakaran, tergantung pada kofigurasi perencanaan letak
yang memungkinkan perencanaan secara langsung panas radiasi dan nyala api
pembakaran serta pemantulan kembali panas dari permukaan dinding ke
permukaan tube.

Fluida yang di panaskan umumnya dialirkan terlebih dahulu melalui seksi


konveksi yang terletak di ruang bakar dan cerobong, agar dapat memanfaatkan
panas yang terdapat di dalam gas hasil pembakaran selanjutnya melalui pipa cross
over, fluida dialirkan ke dalam radiant fire box.

13
Berdasarkan ukuran, kapasitas dan temperature yang di perlukan terdapat
berbagai variasi desain furnace dan jenis material kontruksi yang digunakan.
Namun pada dasarnya, furnace dioperasikan berdasarkan prinsip-prinsip yang
sama.

Besarnya beban panas yang harus diberikan oleh furnace kepada fluida
yang dipanaskan tergantung pada jumlah umpan dan perbedaan suhu inlet dan
outlet umpan yang ingin dicapai. Semakin besar perbedaan suhu dan semakin
banyak jumlah umpan,maka beban furnace akan semakin tinggi.

Pengoperasian Furnace

Pengoperasian furnace salah satunya adalah pengaturan udara excess. Alat


di gunakan untuk mengetahui O2 excess adalah Oxygen Analyzer yang terpasang
pada furnace. Oxygen Analyzer dapat mengetahui kandungan O2 di flue gas dan
dijadikan sebagai parameter udara excess pada proses pembakaran.

2.4 Komponen pada Furnace


Furnace terdiri dari beberapa komponen utama dan accesoris yang
meliputi :

1. Burner
Burner adalah peralatan untuk memasukkan bahan bakar (fuel) dan
udara pembakaran (air combustion) ke dalam ruang pembakaran dengan
kecepatan (velocity), pengadukan (turbulance) serta pengaturan ratio
bahan bakar/udara yang sesuai untuk menjaga stabilitas pembakaran.
2. Dinding Dapur

Pada umumnya dinding dapur terdiri dari beberapa lapisan


tergantung keperluannya. Lapisan sebelah luar, berupa dinding baja yang
berfungsi sebagai penahan struktur dapur. Lapisan sebelah dalam, terdiri
dari satu atau dua lapisan. Lapisan yang langsung terkena api adalah fire
14
brick atau batu tahan api, sedangkan lapisan yang tidak langsung terkena
api di pasang insulation brick atau batu insolasi untuk menahaan adanya
kehilangan panas melalui dinding tersebut. Lapisan sebelah dalam dapur
modern, umumnya terdiri dari satu lapis yang berfungsi sekaligus sebagai
fire brick dan insulation brick.

3. Pipa-pipa Pembuluh (Tube Coil)

Coil merupakan bagian terpenting dari furnace. Tube-tube tersebut


terpasang secara pararel(pass) di convection maupun di radiation section.
Fluida yang dipanaskan dialirkan di dalam tube-tube di mana mula-mula
masuk di convection section, kemudian ke radiarion section dengan tujuan
agar di peroleh proses perpindahan panas secara bertahap.

4. Combustion Air Preheater (APH)

Peralatan ini berfungsi untuk memanfaatkan sisa panas dari flue


gas setelah melewati pipa-pipa di dalam convection section, kemudian di
manfaatkan untuk memanasi udara pembakaran yang akan masuk ke
masing-maasing burner dan selanjutnya ke ruang pembakaran. Dengan
demikian panas yang seharusnya dibuang lewat stack atau cerobong dapur
dapat dipindahkan ke udara pembakar sehingga efisiensi dapur menjadi
lebih baik.

5. Soot Blower

Hasil pembakaran di flue gas akan menempel pada dinding luar


tube di daerah convection section, sehingga proses perpindahan panas
daerah tersebut akan terganggu dan menyebabkan penurunan efisiensi.
Untuk membersihkan pengotor tersebeut digunakan soot blower, yaitu
peralatan yang digunakan untuk membersihkan endapan kotoran di daerah
konveksi agar tidak menghalangi transfer panas. Alat ini dilengkapi
1
5
dengan nozzle untuk spary dari steam/air yang ditembakkan ke pipa
konveksi.

6. Cerobong (Stack)

Stack adalah cerobong vertical yang berfungsi untuk melepas gas


hasil pembakaran (flue gas) ke udara.

7. Stack Damper
stack damper adalah plat logam untuk mengatur tekanan di excess
udara.
8. Lubang Pengintip (Peep Hole)

Merupakan lubang kecil yang terbuat dari kaca untuk mengamati


keaadan di dalam ruang pembakaran seperti nyala api, warna api dan batu
tahan api.

9. Batu Tahan Api (Refractory)

Refractory di pasang pada bagian dalam dinding furnace dan


bolier. Fungsi dari alat aini adalah untuk menahan panas agar tidak keluar
dari furnace sehingga heat loss dapat diminimaze, selain itu juga berfungsi
sebagai pelindung material penahan bagaian luar (plat logam dinding
furnace atau boiler).

10. Kelengkapan Furnace


a. Platform adalah tempat laluan operator sekeliling dapur dalam
pemeriksaan kondisi dapur.
b. Acces door (man way), berukuran cukup besar, digunakan pada saat
pemeriksaan atau perbaikan dapur.
c. Exploition door, di pada bagian atas radiant section sebagai
pengaman terhadap kemungkinan ekses tekanan di dalam ruang
pembakaran.

16
d. Wind box, terpasang pada dudukan burner assay, selain untuk
mengatur udara pembakaran, juga untuk mengurangi kebisingan
operasi furnace.
e. Snuffing steam conection, terpasang pada daerah convection dan
radiant, untuk injeksi steam guna mengatur gas liar pada start up
maupun shut down.

2.5 Efisiensi Furnace


Parameter yang di jadikan patokan dalam kinerja suatu furnace adalah
thermal eficiency nya. Thermal efisensi merupakan suatu gambaran pemanfaatan
panas yang di hasilkan dari pembakaran bahan bakar (fuel) untuk memanaskan
fluida proses. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
efisensi furnace.

1. Udara Excess

Untuk mencegah terjadinya pmbakaran yang tidak sempurna dalam proses


pembakaran pada furnace, diinjeksikan udara berlebih dari kebutuhan udara
teoritis. Udara excessyang rendah akan mengakibatkan pembakaran yang tidak
sempurna (menghasilkan CO) sehingga menurunkan efisiensi.

Namun excess udara yang berlebihan juga tidak efisien karena akan
menghasilkan volume flue gas yang besar, serta pembakaran akan diserap untuk
menaikkan temperatue udara.

2. Panas hilang

Panas yang hilang akan menyebabkan nilai efisiensi turun. Berikut ini
merupakan hal-hal yang dapat menyebabkan panas yang hilang:

- Panas hilang melalui casing furnace.


- Pembakaran tidak sempurna dari fuel gas yang mengakibatkan komponen
yang tidak terbakar atau terbakar tidak sempurna terbawa flue gas.
1
7
- Temperature flue gas yang tinggi sehingga menyebabkan panas yang
terbuang melalui flue gas.
3. Peralatan furnace

Efisiensi pada furnace juga dipengaruhi oleh pengoperasian alat-alat bantu


pada furnace.

Selain ketiga faktor diatas, performa furnace juga dipengaruhi oleh kondisi
operasional di lapangan. Beberapa permasalahan yang sering timbul dalam
opersional di lapangan anatar lain:

- Burner mati
- Gas buang (flue gas) berasap
- Temperature stack tinggi
- Nyala api flash back (membalik)
- Nyala api pendek
- Panas tidak tercapai
- Suhu permukaan tube naik
- Nyala api miring
- Nyala api bergelombang
- Lidah api menyentuh tube

Beberapa permasalahan di atas dapat di ketahui secara visual maupun


dengan alat ukur (indicator) yang tersedia dan harus selalu di lakukan pengecekan
dan memperhatikan kondisi operasional di lapangan sehingga apabila ditemukan
adanya ketidaksesuaian akan cepat diketahui dan segera di tangani.[5]

18
BAB III
METODOLOGI

3.1 Pengumpulan Data


Langkah awal dalam mencapai tujuan perhitungan efisiensi furnace 11-F-
101 di Unit CDU pada RU-VI Balongan adalah pengumpulan data primer maupun
sekunder.

3.1.1. Pengumpulan Data Primer


Pengumpulan data primer digunakan untuk dijadikan bahan perhitungan
efisiensi furnace (11-F-101). Data diperoleh dari data aktual pada bulan Juni.

3.1.2 Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder diperoleh dari data sheet furnace 11-F-101


pada Pertamina RU VI Balongan, literatur API 560 serta analisa laboratorium
untuk komposisi fuel gas di unit CDU.

3.2 Pengolahan Data


Data-data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan, diolah datanya
untuk mengetahui performance furnace dari nilai efisiensinya. Nilai efisiensi dapat
dilihat secara teoritis maupun secara aktual. Nilai efisiensi design diolah dengan
menggunakan metode API Standart 560 dimana kalor yang dihasilkan dilihat
dari heating value fuel gas maupun oil berdasarkan komposisi fuel gas pada data
sheet dari perusahaan, sedangkan untuk aktual data diperoleh dari lapangan.

Efisiensi

Nilai efisiensi diolah datanya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

19
a. Menghitung total weight, heating value, air required, CO2 formed,
H2O formed dan N2 formed

Perhitungannya dapat dilakukan pada tabel 3.1 dengan rumusan dibawah


ini:

Massa total = berat molekul x fraksi volume


Heating value = NHV x total weight
Air required = air required per pound fuel x massa total
CO2 formed = CO2 formed per pound fuel x massa total
H2O formed = H2O formed per pound fuel x massa total
N2 formed = N2 formed per pound fuel x massa total

20
Tabel 3. 1 Combution work sheet 11-F-101

NO Komposisi

1 Hydrogen

2 N2

3 CH4

4 CO

5 CO2

6 Ethane

7 Ethylene

8 Propane

9 Propylene

10 i-butane

11 n-butane

12 1+I butene

13 trans-2-C4H8

14 cis-2-butene

15 i-pentane

16 n-pentane

17 Hexane

18 H2S

Total

Total/lb of fuel
21
lbmol/lb
[6]
34

17

2
16
14
15
14
6

2
7
7
15
6
182

22
Tabel 3. 2 Data yang diketahui
Relatif Humadity
Pvapor
%O2
Cp Udara
T ambient
T datum
Cp Fuel Gas
T Fuel
T flue Gas
1gr

A. Menghitung koreksi excess air dan relative humidity

Moisture in air
= Pvapor x Relatif Humadity x BM H2O

Pvapor (psia) pada temperature ambient


0,07 75 18
= 14,696 100 28,85

= 0,0022 pounds of moisture per pound of air

Pound of wet per pound of fuel required


=
1

=10,002214,52
= 14,5540

Pound of moisture per pound fuel


= Pound of wet air per pound of fuel required air required
= 14,5540 14,52
= 0,0324
23
Pound of H2O per pound of fuel
= H2O formed + pound of moisture per pound fuel
= 1,79 + 0,0324
= 1,8217

Pound excess air per pound of fuel


(28.85 (% 2))( 2 + 2 + 2 ) = 28 44 18
2 20.95% 2((1.6028 )+1)

(28,85 4,83) ( 11,15 2,45 1,79


+ + )

= 28 44 18)

(20,954,83) ((1,6028 1,8217


17,524)+1)

= 5,0896

Persen excess air

= 100%
100%
= 14,525,089
= 35,0845 %

Total pound of H2O per pound of fuel (corrected for excess air)
=[ ]+

100
2 per pound of fuel
= [35,0845100 0,0324] + 1,8217

= 1,8331
b. Menghitung Heat Loss
Heat Loss Stack (Qs)
Heat loss pada stack bisa dihitung dengan bantuan tabel 3.2

24
Tabel 3. 3 Stack Loss Work Sheet 11-F-101

NO Componen

Carbon
1 Dioxide

2 Water Vapor

3 Nitrogen

4 Air

Total

Keterangan : Nilai enthalpy didapatkan dengan bantuan grafik yang berada pada
lampiran.

Qs = Heat Loss Radiasi (Qr)


Qr = 0,02 x Heating value
Qr = 0,02 x 83090,2108
= 1661,804217

c. Menghitung koreksi panas sensible udara


Ha = Cp udara x (Tambient Tdatum) x (Pound of air per Pound of fuel)
Pound of air per punund of fuel = Pound of wet air + Pound of excess
air
Ha = 0,24 x (360-60) x (14,5540+5,089)
= 1414,3422

d. Menghitung koreksi panas sensible fuel


Hf = Cp fuel x (Tfuel Tdatum)

Hf = 0,525 x (111.88-60)
= 27,2

25
e. Menghitung efisiensi
Efficiency = 100
Efficiency = 100
= ( + + + )( + ) 100 ( + + )

LHV =
LHV = 1,3934,108383090,2108
= 20224,7643
[1]
= (20224,7643+1414,3422+27,2)(1661,864217+2179,47)x100
(20224,7643+1414,3422+27,2)

= 82,2708 %

Dari hasil perhitungan pada furnace 11-F-101 di Crude Distillation Unit


diperoleh efisiensi sebesar 82,2708 % sedangkan pada desain efisiensinya
sebesar(88,50 %).

26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil perhitungan


Dari hasil perhitungan pada furnace 11-F-101 di unit Crude Distillation
Unit diperoleh hasil efisiensi sebagai berikut:

Efficiency = 100%
= ( + + )( + ) 100 ( + + )
= (20224,7643+1414,3422+27,2)(1661,864217+2179,47)x100% (20224,7643+1414,3422+27,2)

= 82,2708 %

Dari hasil perhitungan pada furnace 11-F-101 di unit Naptha


Hydrotreating Unit diperoleh efisiensi sebesar82,2708 % sedangkan pada desain
efisiensinya sebesar (88,50 %).

4.2 Pembahasan
Furnace 11-F-101 merupakan furnace yang berada pada unit CDU, yang
berfungsi untuk memberikan panas pada fluida yang mengalir didalam pipa - pipa
furnace sehingga mencapai temperatur yang diinginkan. Fluida yang dipanaskan
adalah crude yang berasal dari keluaran desalter .Pemanasan ini bertujuan untuk
penyesuaian temperature pada main fractionator untuk proses pemisahan
berdasarkan trayek didih crude oil.

Efisiensi panas pada suatu sistem furnace dapat didefinisikan sebagai


perbandingan antara energi yang berguna terhadap energi yang masuk. Ada dua
metode yang dapat digunakan untuk menghitung efisiensi panas di furnace.
Namun dalam perhitungan ini, kami menggunakan metode pertama yaitu metode
panas yang hilang (heat loss) dengan dasar menggunakan API 560 sebagai
acuan.
2
7
Efisien Desain dan Efisiensi Aktual

Dari data aktual efisiensi desain pada furnace 11-F-101 adalah 88,50 %
sedangkan efisiensi aktual pada furnace 11-F-101 adalah 82,2708%. Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa efisiensi furnace aktual berada dibawah
efisiensi desain, hal ini di perkirakan :

- adanya jelaga pada dinding tube furnace bagian luar , terutama pada are
convection section sehingga panas yang dihasilkan oleh fuel gas tidak bisa
diserap secara sempurna oleh crude oil yang mengalir dalam tube. Jelaga
terbentuk karena adanya senyawa logam teroksidasi yang menempel pada
permukaan pipa. Hal ini mengakibatkan panas yang hilang juga semakin
besar. Semakin besar panas yang hilang maka efisensi semakin kecil.
- Adanya terbentuknya cook pada insert sehingga mengurangi heat transfer.
- Pembakaran tidak efisien karena kemungkinan burner kotor.

Persen Penyimpangan Efisiensi Aktual Terhadap Efisiensi Design

Dari data yang diperoleh terlihat bahwa terjadi penyimpangan efisiensi


aktual terhadap efisiensi design.. Secara umum kondisi dari furnace 11-F-101
masih baik, sehingga tidak perlu dilakukan cleaning. Hanya saja untuk menjaga
efisiensi agar tetap tinggi perlu adanya perawatan seperti menghilangkan jelaga
yang menempel di permukaan pipa pemanas di ruang konveksi.

Kehilangan Panas dalam Furnace

Kehilangan panas pada Furnace disebabkan karena tidak seluruh panas


yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar diserap oleh fluida dalam tube.
Selain itu , panas pada Furnace juga hilang lewat dinding Furnace dan
cerobong asap.

28
Panas yang Hilang Lewat Dinding

Kontruksi Furnace dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menahan


panas yang ada. Namun demikian masih ada juga panas yang hilang lewat
dinding Furnace, hal ini dipengaruhi oleh:

a. Suhu keliling Furnace dan kecepatan angin pada permukaan terbuka.


b. Daya jantar panas dari batu tahan api atau dinding yang digunakan.
Panas yang Hilang Lewat Stack

Panas yang hilang lewat stack disebabkan oleh pengguanaan udara


pembakaran terlalu banyak (excess air)

29
BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Perhitungsn efisiensi furnace 11-F-101 di unit CDU dilakukan
menggunakan metode PI 560 dengan hasil sebagai berikut:

1. Bahwa nilai efisiensi aktual furnace 11-F-101 pada tanggal 13 Juni 2016
adalah sebesar 82,2708%.
2. Kinerja furnace 11-F-101 di unit CDU mendekati desain (88,50 %)
3. Untuk meningkatkan efisiensi sesuai dengan desain dilakukan upaya
upaya pada kesempatan stop unit :
- Cleaning insert tube .dengan metode Steam Air Decooking (SAD)
atau intelligent piging
- Cleaning convection section
- Cleaning Air Pre Heater (APH)
- Cleaning Burner

V.2 Saran
Agar efisiensi furnace 11-F-101 di unit CDU sesuai dengan design maka
sebaiknya perlu dilakukan tindakan-tindakan secara ketat sebagai berikut:

1. Mengatur nyala api


2. Menjaga O2 excess sesuai dengan operating windows / desaign.
3
0
DAFTAR PUSTAKA

[1] API Standart 560, 1995, Fired Heaters for General Refinery Services ,
AmericanPetroleum Institute, Washington DC.
[2] http://www.academia.edu/10109818/DIKTAT_FURNACE
[3] Kern, D.Q., 1965,Process Heat Transfer,International Edition , Mc. Graw
Hill Book Company, Singapore

[4] Perrys Chemical Engineers Handbook. Robert H. Perry and Don W. Green.
7th Edition

[5] Aulia A, D.H., 2012,Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA (Periode 1-


30 September 2012) Jurusan Teknik Kimia Industri STMI Kementrian
Perindustrian, Jakarta.

[6] Azrul Syamsu,Laporan Kerja Praktek PT.PERTAMINA (periode 1-30 juni


2014) jurusan Teknik Kimia AKADEMI MIGAS BALONGANIndramayu.

[7] PERTAMINA , Modul combustion (boiler dan furnace ) ,2008,Balongan.

[8] Anwar, Aan Sholehan dkk.2009.Laporan Kerja Praktek di PT.PERTAMINA


(persero) Unit Pengolahan VI Balongan .semarang: Universitas Dipenogoro.

31