Anda di halaman 1dari 5

1.

Kelompok I (Mba Desi Arisanti)

Pertanyaan :

Mengapa Phantom Stock tidak mempunyai biaya transaksi ?

Jawab :

Karena Phantom stok memberikan saham sebagai


penghargaan kepada manajer untuk tujuan pembukuan atau
secara akuntansi saja, jadi tidak mempunyai biaya transaksi.

2. Kelompok II ( Mba Ami)

Pertanyaan :

Sebutkan pengertian dan kelemahan dari Balance Scorecard !

Jawab :

Balance Score Card adalah salah satu model pengukuran kinerja


gabungan antara ukuran kinerja keuangan dan kinerja non
keuangan

Kelemahan Balance Score Card yaitu :

a) Kadang terdapat korelasi yaitu yang buruk antara ukuran


keuangan dengan non keuangan karena tidak ada jaminan
bahwa profitabilitas masa depan mengikutipencapaian target
non keuangan. Oleh sebab itu perlu dikembangkan ukuran-
ukuran yang mewakili kinerja masa depan.
b) Terpaku pada hasil keuangan yaitu bukan hanya manajer senior
yang terlatih dan terbiasa dengan keuangan tetapi mereka juga
mendapatkan tekanan tentang kinerja keuangan perusahaan.
Akibat tekanan ini akan mengurangi perhatian terhadap ukuran
non keuangan jangka waktu panjang, atas kinerja keuangan ini
diberikan insentif, sehingga manajer lebih perduli terhadap
ukuran keuangan keuangan dari pada yang lain.
c) Ukuran-ukuran tidak diperbarui yaitu banyaknya perusahaan
tidak punya mekanisme formal untuk memperbarui ukuran-
ukuran tersebut agar selaras dengan perubahan strategi yang
lalu tetap digunakan sehingga menimbulkan kemalasan.
d) Terlalu banyak pengukuran yaitu berapa banyak ukuran yang
dapat diikuti seorang manajer dalam waktu yang sama? Jika
terlalu banyak ukuran maka resikonya adalah manajer
kehilangan fokus karena pada waktu yang sama banyak hal yang
dilakukan
e) Kesulitan menerapkan trade off yaitu beberapa perusahaan
menggabungkan ukuran keuangan dan non keuangan kemudian
diberikan bobot. Jika tidak demikian akan sulit untu melakukan
trade off.

3. Kelompok III ( Mas Epoy)

Pertanyaan :

Seperti apa Implementasi Strategi yang BERHASIL ?

Jawab :

Implementasi strategi yang berhasil adalah proses di mana


manajemen mewujudkan strateginya dalam bentuk program,
prosedur dan anggaran. Implementasi strategi yang berhasil
juga dapat diartikan sebagai pengembangan strategi dalam
bentuk tindakan.

4. Kelompok IV (Mba Ria)

Pertanyaan :

Bagaimana cara mengatasi kesulitan dan kelemahan Balance


Scorecard

Jawab :

Caranya sebagai berikut :

Mendefinisikan tujuan strategi jangka panjang dari masing-


masing perspektif (outcomes) dan mekanisme untuk
mencapai tujuan tersebut (performance driver) .
Setiap ukuran kinerja harus merupakan elemen dalam suatu
hubungan sebab akibat (cause and effect relationship).
Setiap ukuran kinerja harus merupakan elemen dalam suatu
hubungan sebab akibat (cause and effect relationship).

5. Kelompok V (Mas Adrian)

Pertanyaan :

Faktor apa saja yang mempengaruhi tinggi rendahnya


kompensasi ?

Jawab :
Berbagai faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi
yang diberikan perusahaan kepada karyawannya.
Dikemukakan oleh Hasibuan (2009:127-129) sebagai berikut :
1. Penawaran dan Permintaan
2. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
3. Serikat buruh / organisasi karyawan
4. Produktivitas Kerja Karyawan
5. Pemerintah dan Undang-undang dan keppres
6. Biaya Hidup
7. Posisi Jabatan Karyawan
8. Pendidikan dan pengalaman kerja

6. Kelompok VII (Mba Estaaa)

Pertanyaan :

Apa yang dimaksud dengn diskontinuitas saham phantom dan


saham kerja ?

Jawab :

Diskontinuitas adalah proses perkembangan saham phantom


dan saham kerja yang melibatkan proses proses berbeda
secara kualitatif.

Saham phantom atau saham penghargaan adalah Jenis hibah


insentif di mana penerima tidak menerbitkan saham aktual
saham pada tanggal pemberian tapi menerima account
dikreditkan dengan sejumlah tertentu saham hipotetis. Nilai
rekening meningkat dari waktu ke waktu berdasarkan
apresiasi harga saham dan dividen mengkredit hantu. Payout
dapat diselesaikan secara tunai atau saham.

Saham kerja adalah saham yang memiliki karakteristik


gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa
menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi),
tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil, seperti yang
dikehendaki investor.

7. Kelompok VIII (Mba Kori)

Pertanyaan :
Bagaimana jika dalam pengukuran kompensasi diukur oleh
seorang atasan yang memiliki konflik pribadi dengan
bawahannya ?

Jawab :

Jika hal seperti ini terjadi menurut kami hal tersebut sangatlah
tidak kondusif untuk kegiatan perusahan.
Sebab pengukuran kinerja menjadi tidak objektif dan solusinya
menurut kami adalah dengan memperbaiki hubungan antar
atasan dan bawahan dengan komunikasi yang baik.
Karena setiap pimpinan dan karyawan dituntut
profesionalitasnya saat berada di suatu perusahaan tanpa ada
embel-embel urusan pribadi.

8. Kelompok IX ( Mba Hotni)

Pertanyaan :

Mengapa dalam mengukur kinerja keuangan kinerja non


keuangan juga terlibat?

Jawab :

Organisasi telah mengembangkan sistem yang sangat


canggih untuk mengukur kinerja keuangan. Sayangnya,
seperti banyak yang ditemukan oleh perusahaan AS, selama
tahun 1980-an banyak industri yang dipicu oleh perubahan
dalam bidang nonkeuangan, seperti kualitas dan kepuasan
pelanggan, yang pada akhirnya memengaruhi kinerja
keuangan perusahaan.

Meskipun mereka mengakui pentingnya ukuran nonkeuangan,


banyak organisasi yang gagal untuk memasukkannya dalam
tinjauan kinerja tingkat eksekutif karena ukuran ukuran ini
cenderung kurang canggih dibandingkan dengan ukuran
keuangan dan manajer senior kurang terampil dalam
menggunakannya.

9. Kelompok X ( Mas Irfan)

Pertanyaan :

Jika dalam suatu perusahaaan mengalami kerugian, baik di


akibatkan oleh karyawan itu sendiri atau di akibatkan oleh
perusahaaan itu sendiri. Bagaimana bentuk kompensasi yang
diberikan ?

Jawab :

Yang kita ketahui bersama formula bonus yang paling


sederhana, dengan % tase tertentu terhadap laba bersih :
Dana bonus = X % x laba bersih.
Menurut informasi yang kami baca dari Dessler (1997:417)
Bahwa bonus hanya diberikan apabila karyawan mempunyai
profitabilitas atau keuntungan dari seluruh penjualan tahun
lalu.
Sehingga kami simpulkan saat purusahaan merugi akibat
pemasukan perusahaan itu sendiri maka karyawan tidak
berhak menerima bonus tetapi tetap berhak menerima
kompensasi dalam bentuk gaji saja.

teetapi jika di akibatkan oleh karyawan itu sendiri, maka


profitabilitasnya karyawan tersebut tidak akan mendapatkan
bonus. Bahkan karyawan tersebut harus mengganti rugi atas
kerugian yang diakibatkan ke perusahaan.

10. Kelompok III (Mas Arief)

Pertanyaan :

Jelaskan hubungan sebab akibat antar ukuran prespektif dan


berapa prespektif antar ukurannya?

Jawab :

Terdapat hubungan sebab akibat antara perspektif


pembelajaran dan pertumbuhan dengan perspektif usaha
internal dan proses produksi. Contoh : Karyawan yang
melakukan pekerjaan merupakan sumber ide baru yang
terbaik untuk proses usaha yang lebih baik.Hubungan
pemasok adalah kritikal untuk keberhasilan, khususnya dalam
usaha eceran dan perakitan manufacturing. Perusahaan
tergantung pemasok mengirimkan barang dan jasa tepat pada
waktunya, dengan harga yang rendah dan dengan mutu yang
tinggi. Perusahaan dapat berhenti berproduksi apabila terjadi
problema dengan pemasok.