Anda di halaman 1dari 9

Nama : Amri Ardiyanto

Kelas : KAS.13.2

Bab.9 Investasi Dalam Aktiva Tetap

A. Pengertian Investasi Dalam Aktiva Tetap


Investasi dalam aktiva tetap berkaitan dengan penganggaran modal untuk pengadaan
aktiva tetap dan perputaran dana yang telah diinvestasikan dalam aktiva tetap yang dimiliki
perusahaan. Penganggaran modal untuk pengadaan dan perputaran dana yang diinvestasikan
dalam aktiva tetap ini dilakukan dengan mempertimbangkan seberapa besar manfaat aktiva
tetap tersebut terhadap operasional perusahaan dan seberapa besar uang kas yang harus
dikeluarkan perusahaan.
Investasi dalam aktiva lancar dan investasi dalam aktiva tetap hampir sama. Secara
konsepsionil sebenarnya tidak ada perbedaan antara investasi dalam aktiva lancar dengan
investasi dalam aktiva tetap. Dalam investasi aktiva lancar bentuk dari investasi ini berupa
inentory, piutang dan aktiva lancar lainnya, sedangkan dalam investasi aktiva tetap bentuk
investasinya yaitu mesin, bangunan, kendaraan dll. Dari kedua konsep investasi ini perusahan
memiliki harapan bahwa dana yang telah diinvestasikan dalam aktiva lancar dan aktiva tetap
tersebut akan diperoleh kembali dalam jangka waktu tertentu.
Perbedaan dari investasi dalam aktiva lancar dan aktiva tetap terletak pada perputaran
dana dari investasi tersebut. Dalam investasi aktiva lancar, perusahaan mengharapkan akan
memperoleh dana yang ditanamkan dalam waktu dekat dan secara sekaligus dalam satu
periode yang telah ditentukan, misal dalam satuhari, satu minggu, satu bulan, ataupun paling
lama satu tahun. Sedangkan pada investasi aktiva tetap, perusahaan akan menerima kembali
seluruh dana yang telah ditanamkan dalam waktu beberapa tahun, secara berangsur-angsur
melalaui depresiasi.
Perputaran dana yang diinvestasikan dalam aktiva lancar :

Kas Aktiva Lancar Kas

Perputaran dana yang diinvestasikan dalam aktiva tetap :

Depresiasi
Depresiasi
Aktiva Tetap Depresiasi Kas
Depresiasi
Depresiasi

Jumlah dana yang diinvestasikan dalam aktiva tetap tidak sama jumlahnya selama
periode investasi (selama umur penggunaan aktiva tetap tersebut). Jumlah dana yang terikat
dalam aktiva tetap akan berangsur-angsur berkurang sesuai dengan metode depresiasi yang
digunakan. Jika digunakan metode presentase tetap dari harga beli aktiva tetap ( straight line
method ), perjalanan dana yang tertanan dalam aktiva tetap secara individuil dapat
digambarkan seperti pada grafik berikut :

Gambar 9.1. : Perputaran dana yang tertanan dalam aktiva tetap secara individuil

5
1
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

4
Dana
yang 3
tertanam 2
(dalam
Rp. 1

0 1 2 3 4 5
Tahun
Grafik diatas (Gambar 9.1.)Penggunaan
menggambarkan perputaran (perjalanan) dana yang
diinvestasikan dalam aktiva tetap dengan harg pembelian Rp. 50.0000 dengan umur
penggunaan selama 5 tahun tanpa nilai residu.

B. Cash Flow
Setiap usulan pengeluaran modal (capital expenditure) selalu mengandung 2 cash flow, yaitu :
- Aliran kas keluar netto (net outflow of cash), yaitu aliran kas yang dibutuhkan untuk
investasi baru.
- Aliran kas masuk netto tahunan (net annual inflow of cash/ net cash proceeds/
proceeds), yaitu sebagai hasil dari investasi baru tersebut.
Contoh soal 9.1. :
Suatu perusahaan mempunyai rencana untuk mengganti sebuah mesin lama yang
dianggap tidak efisien lagi. Harga mesin baru tersebut dan biaya pemasangannya sebesar Rp.
60.000.000 dengan taksiran umur penggunaan 3 tahun. Mesin lama yang masih mempunyai
umur penggunaan 3 tahun lagi, jika dijual pada saat ini harga mesin lama sesuai dengan harga
bukunya yaitu Rp. 15.000.000 . Jika mesin lama dijual dan diganti dengan mesin baru, maka
jumlah investasi tambahan atau arus kas keluar netto (net outflow of cash) untuk proyek
tersebut sebesar Rp. 45.000.000 yaitu dari harga beli dan biaya pemasangan mesin baru
dikurangi dengan dengan hasil penjualan mesin lama.
Penggantian mesin lama dengan mesin baru tersebut diharapkan dapat menghemat biaya-
biaya tenaga kerja, material dan biaya depresiasi (cash saving) setiap tahunnya sebesar Rp.
27.500.000 sebelum pajak. Pajak penghasilan yang ditetapkan sebesar 40%. Berdasarkan data
tersebut kita dapat menyusun dua macam perhitungan yaitu atas dasar accounting atau
accural basic dan yang lain atas dasar cash flow, seperti pada tabel (Tabel 9.2) berikut
ini.

Tabel 9.2. : Perhitungan keuntungan menurut buku dan perhitungan cash flow
Uraian Dasar Accounting Dasar Cash Flow
Penghematan biaya untuk tenaga kerja, Rp. 27.500.000 Rp. 27.500.000
material dan biaya resparasi
Depresiasi mesin baru Rp. 20.000.000
Dikurangi :

2
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

Depresiasi mesin lama Rp. 5.000.000 -


Tambahan Depresiasi Rp. 15.000.000
Kenaikan Taxable income (keuntungan yang
dikenakan pajak) Rp. 12.500.000
Kenaikan pajak penghasilan (40%) Rp. 5.000.000 - Rp. 5.000.000 -
Kanaikan keuntungan netto sesudah pajak Rp. 7.500.000
Kenaikan Cash flow atau Proceeds Rp. 22.500.000

Tambahan net cash inflow setiap tahun sebesar Rp. 22.500.000 , adalah sama besarnya
dengan keuntungan netto sesudah pajak ditambah dengan tambahan depresiasi. Tambahan
cash flow selama 3 tahun, yaitu selama umur penggunaan mesin baru adalah 3 x Rp.
22.500.000 = Rp. 67.500.000.
Jika digambarkan maka pola cash flow dari proyek investasi penggantian mesin tersebut
adalah sebagai berikut :
Tahun ke :
0 1 2 3
Investasi tambahan
(cash outlay) Rp. 45.000.000 - - -
Aliran kas masuk netto
(net cash inflow) - Rp. 22.500.000 Rp. 22.500.000 Rp. 22.500.000

C. Penggolongan Investasi Dalam Aktiva Tetap


Penggolongan atau pembagian investasi dalam aktiva tetap bisa digolongkan menjadi
seperti berikut ini :
1. Investasi Penggantian
Pada umumnya, keputusan mengenai investasi penggantian adalah yang paling
sederhana. Dalam hal ini aktiva yang sudah aus (wear-out) atau usang (obsolete) harus
diganti dengan aktiva baru bila produksi akan tetap dilanjutkan.
2. Investasi Penambahan Kapasitas
Misalnya usulan penambahan jumlah mesin atau pembukaan pabrik baru. Investasi ini
sering juga bersifat investasi penggantian, contohnya mesih yang sudah tua dan tidak
efisien akan diganti dengan mesin baru yang lebih besar kapasitasnya dan lebih efisien.
3. Investasi Penambahan Produk Baru
Investasi ini dilakukan untuk menghasilkan produk baru disamping tetap menghasilkan
produk yang telah diproduksi pada waktu ini.
4. Investasi Lain-lain
Investasi yang termasuk golongan ini adalah usulan investasi yang tidak termasuk dalam
ketiga golongan di atas, misal investasi untuk pemasangan alat pemanas, alat pendingin
dan lain-lain.
D. Metode-metode Yang Digunakan Dalam Menyeleksi Investasi Dalam Aktiva Tetap
Ada beberapa metode yang biasa digunakan untuk menilai proyek investasi atau metode
untuk menyusun rangkiing usulan-usulan investasi. Metode-metedo ini antara lain sebagai
berikut :
1. Metode Payback Period / PP
Payback peiod merupakan suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup
kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds / aliran kas netto (net cash
flow). Payback period menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana

3
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

yang tertanan dalam suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Apabila
proceeds setiap tahunnya sama jumahnya, maka payback period dari suatu investasi
dapat dihitung dengan cara membagi jumlah investasi dengan proceeds tahunan.
Kelemahan dari Payback Period, yaitu sebagai berikut :
- Mengabaikan nilai waktu dari uang.
- Mengabaikan proceeds yang didapat setelah payback period tercapai. Karena itu
metode ini bukan alat pengukur profitability, tetapi adalah alat pengukur rapidility
(kecepatan kembalinya dana).
Keuntungan dari Payback Period, yaitu sebagai berikut :
- Mudah dalam menghitungnya.
- Mudah dimengerti.
Rumus Payback Period :

PP = (Capital Outlay / Proceeds) x 1 Tahun


Contoh soal 9.2.
Jumlah investasi : Rp. 50.000.000
Jumlah proceeds tahunan : Rp. 25.000.000
Berapakah payback period yang dimiki ?
Jawaban : PP = Jumlah investasi x 1 Tahun = 50.000.000 x 1 Tahun
Proceeds tahunan 25.000.000
= 2 Tahun

Cotoh soal 9.3.


Sebuah proyek A membutuhkan investasi dana sebesar Rp. 120.000.000 , yang
diperkirakan mempunyai proceeds selama usia seperti berikut ini :
Tahun ke-1 : Rp. 60.000.000 Tahun ke-4 : Rp. 30.000.000
Tahun ke-2 : Rp. 50.000.000 Tahun ke-5 : Rp. 20.000.000
Tahun ke-3 : Rp. 40.000.000 Tahun ke-6 : Rp. 10.000.000
Berapakah payback period dari proyek A ?
Jawaban :
Jumlah investasi Rp. 120.000.000
Proceeds tahun ke-1 Rp. 60.000.000 (-)
Rp. 60.000.000
Proceeds tahun ke-2 Rp. 50.000.000 (-)
Investasi yang belum tertutup sesudah
akhir tahun ke-2 Rp. 10.000.000
Karena ada dana sebesar Rp. 10.000.000 yanb belum tertutup pada tahun ke-2, maka
pada tahun ke-3 diperlukan perhitungan lagi berapa lama dana tersebut akan tertutup
pada tahun ke-3 dengan proceeds sebesar Rp. 40.000.000. Perhitungan ini dapat dihitung
sebagai berikut :
PP tahun ke-3 = Rp. 10.000.000 x 1 Tahun = Tahun atau 3 Bulan
Rp. 40.000.000
Kesimpulan : Maka diperoleh lama payback period untuk investasi proyek A = 2 tahun
ditambah tahun yaitu selama 2 tahun atau 2 tahun 3 bulan.

2. Metode Net Present Value / NPV


Metode net present value ini memperhatukan time value of money (nilai waktu dari
uang) maka proceeds yang digunakan dalam menghitung net present value (NPV) adalah

4
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

proceeds/ cash flows yang didiskontokan atas dasar biaya modal (cost of capital) atau
rate of return yang diinginkan.
Rumus Net Present Value / NPV :
Keterangan :
n At : Cash flow pada waktu t
NPV = At R
n
: Discout rate yang digunakan
: Periode terakhir dimana cash flow diharapkan
t=0 ( 1 + r ) t t : Periode waktu

Kriteria untuk penilaian NPV :


NPV 0 atau NPV (+) , berarti PV (Present Value) dari arus kas masuk sama dengan
atau lebih besar PV arus kas keluar. Maka usulan investasi bisa diterima.
NPV () , berarti PV (Present Value) dari arus kas masuk lebih kecil PV arus kas
keluar. Maka usulan investasi harus ditolak.
Jika ada 2 (dua) usulan investasi yang bersifat mutually exclusive (hanya 1 yang
boleh dipilih), maka NPV (+) yang terbesar yang harus dipilih.

NPV sebesar 0 menunjukkan bahwa rus kas proyek tepat cukup untuk :
- Membayar kembali modal yang diinvestasikan.
- Menyediakan tingkat keuntungan yang disyaratkan pada modal (biaya modal
proyek).
Jika perusahaan mengambil proyekdengan NPV 0 , maka perusahaan akan bertambah
besar tetapi harga saham tidak berubah.
Jika NPV adalah positif (+), ini menunjukkan arus kas proyek menghasilkan suatu
sisa keuntungan (excess return) yang dinikmatioleh pemegang saham. Jadi, jika
perusahaan mengambil proyek dengan NPV (+) nilai perusahaan (harga saham) akan
naik, yang berarti kesejahteraan pemegang saham (wealth of stockholders) juga akan
naik.
Metode NPV dipandang sebagai alat pengukur profitabilitas dari suatu proyek yang
terbaik, karena metode ini memfokuskan kontrisbusi proyek kepada pemegang saham.

Contoh soal 9.4. :


Sebuah proyek B membutuhkan investasi dana sebesar Rp. 120.000.000, dengan
discount rate sebesar 10%. Aliran kas masuk (proceeds) selama 6 tahun adalah sebagai
berikut :
Tahun ke-1 : Rp. 60.000.000 Tahun ke-4 : Rp. 30.000.000
Tahun ke-2 : Rp. 50.000.000 Tahun ke-5 : Rp. 20.000.000
Tahun ke-3 : Rp. 40.000.000 Tahun ke-6 : Rp. 10.000.000
Berapakah NPV dari proyek A ?
Jawaban :
Tabel 9.3. : Perhitungan NPV atas dasar discount rate 10%
Tahun DF 10% Proceeds PV dari Proceeds
1 0,909 Rp. 60.000.000 Rp. 54.540.000
2 0,826 Rp. 50.000.000 Rp. 41.300.000
3 0,751 Rp. 40.000.000 Rp. 30.040.000
4 0,683 Rp. 30.000.000 Rp. 20.490.000

5
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

5 0,621 Rp. 20.000.000 Rp. 12.420.000


6 0,564 Rp. 10.000.000 Rp. 5.640.000 (+)
PV dari Proceeds Rp. 164.430.000
PV dari Outlays Rp. 120.000.000 ( )
NPV Rp. + 44.430.000
Jika menggunakan rumus :
NPV = - 120juta + 60juta + 50juta + 40juta + 30juta + 20juta + 10juta
(1,10)1 (1,10)2 (1,10)3 (1,10)4 (1,10)5 (1,10)6
= Rp. + 44.430.000
Kesimpulan : Karena diperoleh NPV (+) maka investasi pada proyek B sebaiknya
diterima, karena menghasilkan PV dari proceeds lebih besar daripada PV dari outlays.

3. Metode Profitability Index / PI


Profitability Index/ PI merupakan rasio antara present value masukan (PV
Proceeds) dan present value keluaran (PV Outlays).
Rumus Profitability Index/ PI :
PI = PV Proceeds / PV Outlays
Kriteria penilaian PI :
Suatu proyek investasi dapat diterima jika PI > 1, sedangkan jika PI < 1 maka proyek
investasi harus ditolak.
Contoh soal 9.5. :
Jika diketahui soal sama dengan di contoh soal 9.4., maka berapakan PI yang diperoleh ?
Jawaban :
Profitability Index / PI = PV Proceeds = Rp. 164.430.000 = 1, 37
PV Outlay Rp. 120.000.000
Kesimpulan : Karena diperoleh PI 1,37 maka sebaiknya proyek investasi diterima.

4. Metode Internal Rate of Return / IRR (Yield Method)


Internal Rate of Return / IRR merupakan metode penilaian investasi untuk mencari
tingkat bunga (discount rate) yang akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds
yang diharapkan akan diterima (PV of Future Proceeds) sama dengan jumlah nilai
sekarang dari pengeluaran modal (PV of Capital Outlays). Pada dasarnya IRR harus
dicari dengan cara Trial and Error dengan serba coba-coba.
Pada saat IRR tercapai maka besarnya NPV sama dengan 0 (nol). Oleh karena itu,
untuk menghitung IRR diperlukan adanya data NPV (+) dan NPV () , kemudian
dilakukan interpolasi (pencarian nilai selisih) sehingga diperoleh NPV sama dengan 0
(nol).
Rumus Internal Rate of Return / IRR :
Keterangan :
r : IRR yang dicari (yang membuat NPV = 0)
P1 P2
P1 : Tingkat Bunga ke-1
r = P1 C1
P2 : Tingkat Bunga ke-2
C2 C1 C1 : NPV ke-1
C2 : NPV ke-2

6
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

Contoh soal 9.6. :


Jika diketahui soal sama dengan di contoh soal 9.4., dengan tingkat bunga (DF) 20%
maka diperoleh NPV (+) Rp. 13.690.000 dan jika tingkat bunga (DF) 30% maka
diperoleh NPV () Rp. 8.030.000. Ditanyakan, berapakan IRR (r) yang diperoleh untuk
mendapatkan NPV = 0 atau mendekati 0 ?
Jawaban :
Diket : P1 = 20% , P2 = 30% , C1 = + 13.690.000 , C2 = 8030.000
Dit : r ...?
Jawab : r = 20 13.690.000 30 20 = 20 13.690.000 (10)
8.030.000 13.690.000 21.720.000

= 20 + 136.900.000 = 20 + 6,3 = 26,3 %


21.720.000
Kesimpulan :
Dengan demikian taksiran IRR-nya adalah berkisar 26%.
Angka ini masih harus dikaji ulang apakah dengan tingkat bunga 26%, NPV dari
investasi tersebut adalah nol ( 0 ). Apabila kita hitung NPV atas dasar tingkat bunga 26%
maka hasilnya adalah Rp. 150,00 yang berarti sudah hampir mendekati nol. Dengan
demikian kita dapat menyimpulkan bahwa IRR yang sebenarnya dari usul investasi
tersebut adalah 26%.

5. Metode Accounting Rate of Return / ARR


Metode accounting rate of return / ARR atau sering juga disebut average rate of
return menunjukan persentase keuntungan neto sesudah pajak dihitung dari average
investment atau initial investment. Metode ARR ini mendasar pada keuntungan yang
dilaporkan dalam buku (report accounting income).

Kelebihan dari metode ARR :


- Sederhana dalam perhitungannya.
- Mudah dimengerti.
Kelemahan dari metode ARR :
- Tidak memperhatikan time value of money.
- Menitikberatkan pada masalah accounting, dan kurang memperhatikan data cash
flows dari investasi yang bersangkutan.
- Merupakan pendekatan jangka pendek dengan menggunakan angka rata-rata yang
menyesatkan.
- Kurang memperhatikan panjangnya jangka waktu investasi.
Kriteria penilaian ARR :
Jika ARR ini lebih besar daripada minimum ARR, maka usulan investasi tersebut dapat
diterima. Sebaliknya jika ARR lebih kecil dari minimum ARR, maka sebaiknya usulan
investasi tersebut ditolak.
Rumus Accounting Rate of Return / ARR :
ARR atas dasar Initial Investment atau ARR atas dasar Average Investment
ARR = EA x 100% ARR = EAT x 100%
(Initial Investment ) (Initial Investment : PP)

Keterangan :

7
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

ARR : ARR yang akan dihitung.


EAT : Keuntungan setelah pajak (Earning After Taxs).
Initial Investment : Investasi tambahan / Net Cash Outlay.
PP : Payback Period.
Contoh soal 9.7. :
Dari contoh soal 9.1. diperoleh EAT sebesar Rp. 7.500.000 dan Initial Investment
sebesar Rp. 45.000.000. Berapakah besarnya accounting rate of return ?
Jawaban :
a) ARR atas dasar Initial Investment :
ARR = 7.500.000 x 100% = 16,67%
45.000.000
b) ARR atas dasar Average Investment :
ARR = 7.500.000 x 100% = 33,34%
(45.000.000 : 2)

E. Hubungan Antara NPV- PI IRR


Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa NPV, PI, dan IRR merupakan satu kelompok
discounted cash flow yang memperhatikan nilai waktu uang dan proceeds selama keseluruhan
umur proyek. Oleh karena dasar dari ketiganya sama, maka dalam menilai suatu usul
investasi tertentu akan memberikan jawaban yang sama antara ketiga metode tersebut. Ini
berarti bahwa jika suatu usulan investasi tertentu dinilai menurut metode PI dan jawabanya
diterima, maka kalau dinilai dengan metode NPV ataupun dengan metode IRR maka
jawabannya juga pasti diterima dan tidak mungkin memberikan jawaban yang berbeda.
Misalkan PI dari suatu usulan investasi adalah 1,0 maka NPV dari usulan tersebut adalah
0, dan IRR dari usulan investasi tersebut pasti sama besarnya dengandengan tingkat diskonto
yang ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kalausuatu usul ivestasi mempunyai PI > 1,0
yang berarti usulan investasi diterima, maka NPV dari usulan investasi tersebut adalah > 0
yang berarti bahwa usul usulan investasi tersebut juga diterima. Selanjutnya IRR dari usulan
investasi itu pasti lebih besar daripada tingkat diskontonya sehingga usulan investasi tersebut
pasti diterima.

F. Pencantuman Modal (Capital Rationing)


Pencatuan modal atau capital rationing merupakan pembatasan dana yang diinvestasikan
untuk suatu oeriode tertentu. Pencatuan modal terjadi setiap waktu jika ada kendala mengenai
jumlah dana yang dapat diinvestasikan selama suatu periode tertentu, misalnya satu tahun.
Kendala seperti ini lazim terjadi pada sejumlah perusahaan yang dalam mendanai investasi
lebih menekankan pada sumber intern dan kurang berminat untuk mendanai investasi dari
sumber ekstern.
Dalam praktik pelaksanaan anggaran dimungkinkan adanya fleksibilitas dan bersifat
tidak kaku. Selain itu biaya dana dari suatu usulan investasi juga dimungkinkan untuk disebar
selama berapa tahun. Oleh karena itu kita harus mempertimbangkan lebih dari hanya kendala
satu waktu saja, sehingga kita tidak hanya mengadakan analisis waktu tunggal saja, tetapi kita
juga perlu mengadakan analisis waktu ganda (multy period analysis).
Dengan analisis waktu ganda, penundaan dari usulan investasi dapat dimungkinkan. Jika
terdapat cukup banyak usulan investasi dalam tahun ini, sedangkan ada batasan anggaran,

8
Nama : Amri Ardiyanto
Kelas : KAS.13.2

maka usulan-usulan investasi yang mempunyai profitabilitas yang lebih kecil dapat ditunda
sampai periode berikutnya jika anggaran memungkinkan/mencukupi.

G. Perluasn Penggunaan Konsep Nilai Sekarang (Present Value)


Keputusan investasi merupakan salah satu bentuk dari keputusan pengambilan alternatif.
Pimpinan perusahaan dalam melakukan keputusan pemilihan alternatif dibantu oleh konsep
nilai sekarang dari arus kas. Konsep tersebut antara lain seperti berikut ini :
a) Apakah perusahaan akan tetap menggunakan mesin yang sekarang digunakan atau akan
menggantinya dengan mesin baru yang lebih efisien ?
b) Apakah perusahaan akan menerima usulan untuk mengadakan ekspansi atau tetap
mempertimbangkan tingkat kapasitas yang ada sekarang ?
c) Dalam rangka usaha komputerisasi, apakah sebaiknya perusahaan membeli seperangkat
komputer, atau mengadakan kontrak leasing (buy or lease proposals) ?
d) Dalam hal perusahaan mendapatkan tawaran beberapa model peralatan, model manakah
yang akan dipilih ?

Pada proses pengambilan keputusan pengambilan alternatif ini harus didasarkan pada
konsep benefit cost. Pembandingan alternatif dilakukan jika kita mempertahankan keadaan
yang lama, yaitu keadaan statusquo, dengan alternatif lainnya. Alternatif pertama sering
disebut sebagai kasus dasar (base case) dan alternatif lainnya disebut sebagai kasus 2.

Dalam membandingan dua kasus tersebut kita perlu mencari tambahan manfaat
(incremental benefit) yang ditimbulkan oleh kasus 2 dibandingkan dengan kasus dasar.
Selain itu kita juga perlu meneliti tambahan biaya atau korban (incremental cost) dari kasus 2
dibandingkan dengan kasus dasar. Kemudian kedua tambahan tersebut dibandingkan. Jika
ternyata tamabahan manfaat lebih besar daripada tambahan biaya sehingga menghasilkan
pengaruh netto yang positif bagi kasus 2 maka kita akan memilih kasus 2. Tetapi sebaliknya
jika ternyata tambahhan manfaat lebih kecil daripada tambahan biaya sehingga pengaruh
nettonya menjadi negatif bagi kasus 2, maka kita akan mempertahankan kasus dasar dan
menolah kasus 2.