Anda di halaman 1dari 9

Kasus Etika Profesi dalam Arsitektur

1. Pembangunan Dermaga dan Pelabuhan.Tersangka kasus korupsi dugaan suap


proyek pembangunan dermaga di kawasan Indonesia timur, Abdul Hadi Djamal
menyebut dua nama, Jhony Allen Marbun dan Anggito Abimanyu sebagai pihak
yang terkait dengan kasusnya. Abdul Hadi mengatakan Anggito Abimanyu
mewakili pemerintah ikut dalam pertemuan panitia anggaran pada 19 Februari
2009 yang menghasilkan keputusan menaikkan dana stimulus untuk
pembangunan infrastruktur dari Rp 10,2 triliun menjadi Rp 12,2 triliun. Namun,
Anggito membantah hal itu. "Saya tidak ikut membahas dana stimulus," kata
Anggito Abimanyu dalam pesan pendeknya kepada VIVAnews, Selasa 17 Maret
2009.

Sedangkan Wakil Ketua Panitia Anggaran Jhony Allen Marbun disebut Abdul Hadi
sebagai inisiator dalam pertemuan informal di Hotel Ritz Carlton. "Pertemuan itu
merupakan awal mula kasus ini terjadi," kata Abdul Hadi usai diperiksa di
Gedung KPK, Jakarta, Selasa 17 Maret 2009. Jhony bahkan memiliki peran
penting dalam kasus tersebut. "Pak Jhony Allen yang pimpinannya, inisiatifnya
dia," ujar Abdul Hadi. Semula, stimulus fiskal yang di usulkan pemerintah untuk
Departemen Perhubungan adalah Rp 1,3 triliun. Namun dalam rapat anggaran
disetujui bertambah menjadi Rp 2,1 triliun. Menurut Menteri Perhubungan,
Jusman Syafii Djamal penambahan proyek tersebut atas usulan dewan. Setelah
stimulus dinaikan, Abdul Hadi menjelaskan, banyak rekanan yang mendekati
pimpinan dan panitia anggaran. Lewat Departemen Perhubungan, Komisaris PT
Kurniadjaya Wirabakti Hontjo Kurniawan berusaha mendekati Abdul Hadi Djamal
dan Jhonny Allen. Pada Senin malam, 2 Maret 2009 kasus suap ini terkuak. Abdul
Hadi Djamal ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Dia ditangkap
bersama Komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bakti Hontjo Kurniawan dan pegawai
Departemen Perhubungan Darmawati Dareho. Ketiganya diduga terlibat dalam
aksi suap program lanjutan pembangunan fasilitas bandara dan pelabuhan di
kawasan timur Indonesia. Nilai proyek itu mencapai Rp 100 miliar.

2. Persekongkolan Secara Horizontal Dan Vertical. Indikasi kecurangan dalam


tender desain dasar Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta harus ditanggapi serius.
Proses setelah tender harus dihentikan.JAKARTA - Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (KPPU) sudah mengirimkan surat saran dan pertimbangan tentang tender
desain dasar Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Surat itu berisi indikasi-indikasi
persekongkolan secara horizontal dan vertikal.Menurut Direktur Komunikasi KPPU
Achmad Junaidi, dalam persekongkolan horizontal, ditemukan adanya peserta
tender yang menjadi anggota ganda di dua konsorsium. Sementara itu,
persekongkolan vertikal terjadi antara pelaku usaha dan panitia tender.Saya
tidak bisa menyebut siapa, tetapi dalam aturan bidder tidak diperbolehkan
karena tidak mungkin menjadi dua penawar sekaligus," jelas Junaidi di Jakarta,
Jumat (18/12).Poin kedua dalam surat itu, sambungnya, KPPU mengharapkan
Departemen Perhubungan (Dephub) mengadakan proses pengadaan barang dan
jasa secara baik dan fair. KPPU tidak meminta proses pengerjaan desain
dihentikan sementara. Langkah apa yang akan diambil, semuanya bergantung
pada Dephub.KPPU tidak menyebut bukti-bukti apa yang dijadikan indikasi
persekongkolan dan siapa pelapor dengan alasan tidak diperbolehkan undang-
undang. Namun, dari bukti-bukti yang diperoleh, KPPU menemukan terjadinya
pengondisian salah satu pihak sebagai pemenang.Junaidi menambahkan proses
selanjutnya ditangani biro penegakan hukum KPPU. KPPU masih dalam tahap
klarifikasi. Bila dalam proses klarifikasi, laporan lengkap akan dinaikkan ke
proses pemberkasan. Setelah itu, awal tahun depan, masuk gelar laporan di
hadapan sidang majelis komisi.Komisioner KPPU Ahmad Ramadhan menjelaskan
bila ada bukti kuat yang dibawa pelapor, sidang segera digelar dengan
memanggil para pihak. Ada tiga jenis alat bukti, yaitu dokumen, saksi, dan
keterangan pelaku usaha.KPPU mengirimkan surat pertimbangan dan saran
bernomor 874/K/XI/2009 tertanggal 6 November 2009 dan surat LKPP nomor S-
35/Div/IX/2009 tertanggal 16 September 2009. Kedua surat tersebut intinya
berisi terjadi pelanggaran Keppres No 80 Tahun 2003 tentang pengadaan barang
dan jasa.Proses Harus DihentikanDirektur Investigasi Indonesia Procurement
Watch Hayie Muhammad mengatakan sudah dua lembaga negara yang
menyatakan tender desain dasar MRT bermasalah, yaitu KPPU dan LKPP. Dengan
demikian, Dephub sebaiknya menghentikan proses selanjutnya.Hayie
mengatakan awal Desember bertemu dengan Menhub Freddy Numberi. Ia
berjanji mempertemukan dua peserta tender, yaitu Katahira Engineering dan
Nippon Koei.Bila Menhub tidak segera menindaklanjuti surat kedua lembaga
negara ini dan tetap memutuskan meneruskan proses pengerjaan MRT, IPW
mengancam akan melaporkan Menhub ke Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK).LKPP pada 16 September mengeluarkan surat yang ditujukan kepada
Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Surat itu dibuat berdasarkan pengaduan
Katahira Engineering International bahwa pesaingnya dalam desain dasar MRT
Jakarta, yaitu Nippon Koei, telah mengirim surat untuk memengaruhi panitia
lelang. Surat itu tertanggal 14 Oktober 2008 dan ditujukan kepada Ditjen
Perkertaapian dan ditujukan kepada Menhub pada 24 Oktober 2008.Dalam surat
LKPP itu dinyatakan Nippon tidak memenuhi etika pengadaan, yaitu tidak saling
memengaruhi yang diatur dalam Pasal 5 Huruf c Keppres 80 Tahun 2003 tentang
PengadaanBarang dan Jasa.Seperti diwartakan Koran Jakarta (17/12), Dephub
tutup mata terhadap temuan kecurangan KPPU dan LKPP dalam tender desain
dasar MRT.KPPU dan LKPP menemukan indikasi kecurangan dalam tender yang
dimenangi oleh PT Nippon Koei tersebut. Menurut kedua lembaga tersebut,
Nippon Koei mengirim surat kepada Menhub yang memengaruhi hasil
tender.Namun, Direktur Jenderal Perkeretaapian Dephub Tun-jung Inderawan
mengatakan Dephub tetap memutuskan Nippon Koei sebagai pemenang tender
desain dasar MRT."Kita tidak usah set back lagi. Sekarang berjalan proses
selanjutnya," tegas Tunjung.Saat ditanya apakah pihaknya mengabaikan
keputusan KPPU dan LKPP yang menyatakan ada pelanggaran dalam proses
tender karena ada surat dari JICA kepada Menhub, Tunjung menolak
berkomentar. "Kita sudah sesuai ketentuan. Sekarang kita harus melangkah ke
depan. Kalau masih mempermasalahkan itu lagi, proyek MRT tidak akan jalan,"
tambahnya

3. Ketua Pemuda Lira Sumut Marulam Silalahi SE minta kapoldasu dan kejatisu
segera mengusut kecurangan tender renovasi bangunan dan pekerjaan
pembuatan dan pengadaan design interior ruang informasi kantor balai besar
Taman Nasional Gunung Leuser. Hal itu dikatakan Marulan Silalahi kepada
wartawan di kantor Pemuda Lira Sumut jalan Bukit Barisan Medan. Lebih Lanjut
dikatakan Marulam bahwa kecurangan yang terjadi karena pihak panitia lelang
telah memenangkan peserta tender yang tidak memenui persyaratan
Administrasi. Padahal di berita acara jelas pekerjaan aanwinjzing No : BA . 11
93 /BBTNGL 1 /DIPA BA .029 /2009 . tanggal 25 Mei 2009 tertulis penelitian
adminstrasi dan kualifiakasi menyatakan, apabila salah satu Administrasi tidak
lengkap maka dinyatakan gugur . Namun Ketua Panitia Ahmad Taufik Siregar S,
Hut T telah memenangkan peserta tender yang terbukti memiliki sertifikat badan
usaha yang sudah kadaluarsa masa berlakunya dan tidak di perpanjang serta
sertifikat kealiahan (ska) tidak lengkap dan formulir isian kualifikasi tidak
lengkap, ini jelas telah terbukti kecurangan panitia tender tersebut tidak
mengunakan isi dari fakta interigeritas ujar Marulam Silalahi. Dengan bukti
bukti kecurangan ini Marulam SM Silalahi meminta supaya kapolda-su dan
kejatisu memeriksa semua panitia tender tersebut yang telah melakukan
pelanggaran fakta integritas yang di tandatagani oleh seluruh panitia tender
tersebut ujar Marulam. Dirinya sebagai ketua Pemuda Lira Sumut akan segera
melaporkan kecurangan yang di lakukan oleh panitia tender tersebut ke pihak
yang berwajib. Marulam juga mengatakan dirinya telah menerima laporan dari
salah satu pimpinan peserta tender renovasi bangunan dan pekerjaan
pembuatan, pengadaan design interior dan ruang informasi kantor balai besar
Taman Nasional Gunung Leuser. Di tempat yang terpisah Manda, Ketua Aliansi
Mahasiswa Penyelamat Uang Negara (AMPUN ) telah menerima laporan dari
salah satu peserta tender yang ikut serta dalam tender tersebut. Menurut Manda
bahwa panitia tender telah melakukan kecurangan dan dapat mengakibatkan
kerugian negara ujar Manda. Dalam waktu dekat AMPUN akan menyapaikan
kecurangan tersebut dalam bentuk aksi demontrasi damai di Kejatisu dan
Kapoldasu.

4. Ulah pengusaha Surabaya, Hontjo Kurniawan mengantarkan anggota DPR ke


tahanan. Komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bhakti (KJWB), Surabaya itu mengaku
telah menyuap anggota Komisi V DPR Abdul Hadi Djamal sebesar Rp 2 miliar
dalam dua tahap untuk mendapatkan proyek dermaga dan bandara di wilayah
Indonesia Timur.Keterangan tersebut didapat setelah petugas KPK menangkap
basah Abdul Hadi Djamal bersama Darmawati, pegawai Tata Usaha (TU) Ditjen
Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, Senin (2/3) sekitar pukul 22.15
WIB, atas dugaan transaksi suap.Dalam penangkapan di Jl Jenderal Soedirman
atau sekitar kawasan Karet, Jakarta Selatan itu petugas KPK menemukan uang
90.000 dolar AS (setara dengan Rp 1 miliar lebih) dan Rp 54,5 juta. Dari hasil
pemeriksaan, Abdul Hadi mengakui uang tersebut berasal dari Hontjo
Kurniawan, kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M Jasin,
Selasa (3/3).Sedangkan Ketua KPK Antasari Azhar menjelaskan, Abdul Hadi dan
Darmawati ditangkap di perempatan Jl Sudirman-Jl Casablanka. Sumber di KPK
menceritakan, KPK menguntit Abdul Hadi sejak 27-28 Februari 2009 pukul 03.00
WIB. Namun, saat itu tidak terjadi transaksi sehingga tak jadi ditangkap. Lalu
pada Senin (2/3) pagi, serombongan petugas KPK membuntuti pergerakan
target. Petugas membuntuti mulai dari Hotel Sultan. Mereka kemudian bergerak
ke rumah makan Jimbaran dan Sari Kuring, katanya.Setelah transaksi terjadi,
uang dibawa oleh Darmawati. Selepas rumah makan Sari Kuring, petugas KPK
lalu berpencar. Mereka menggunakan tiga mobil, yaitu Toyota Altis, Honda Jazz,
dan Nissan. Kemudian kita buntuti terus dan kita sergap Abdul Hadi dan
Darmawati di daerah Karet. Dalam mobil itu ditemukan uang tersebut,
katanya.Lalu, untuk meyakini ada uang yang dibawa target, petugas KPK
memanggil tukang ojek untuk melihat uang tersebut. Dari penangkapan Abdul
Hadi dan Darmawati, penyidik KPK kemudian langsung bergerak untuk
menangkap Hontjo Kurniawan di salah satu apartemen di Jakarta Barat.Setelah
digelandang dan diperiksa di Gedung KPK, Hontjo membenarkan pengakuan
Abdul Hadi. Bahkan pengusaha yang merupakan rekanan Departemen
Perhubungan (Dephub) ini mengaku telah memberikan uang Rp 2 miliar kepada
Abdul Hadi.Hontjo Kurniawan mengakui telah memberikan uang senilai Rp 2
miliar dalam bentuk dolar kepada Abdul Hadi, kata M Jasin.Menurut Jasin, uang
Rp 2 miliar itu diberikan melalui Darmawati dalam dua tahap. Dengan maksud
untuk mendapatkan proyek dermaga dan bandara di wilayah Indonesia Timur,
jelas Jasin. Selain itu, Hontjo juga memberikan Rp 600 juta kepada
Darmawati.Ketika dicek silang dalam pemeriksaan terpisah, Abdul Hadi mengaku
dirinya sebelumnya telah menerima uang Rp 1 miliar pada 27 Februari 2009 dari
Hontjo. Kemudian uang itu diserahkan kepada Jhony Allen, kata Jasin.Nama
Jhony Allen tercantum sebagai anggota DPR. Nama lengkapnya Jhony Allen
Marbun dari Partai Demokrat. Wakil Ketua KPK M Jasin juga membenarkan nama
Jhony Allen yang dicokot oleh Abdul Hadi dan Hontjo itu adalah anggota Komisi V
DPR. Betul, kata Jasin. Komisi tersebut bermitra antara lain dengan BUMN,
Departemen Perindustrian, dan Departemen Perdagangan. Jhony Allen juga
tercatat sebagai Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR.Bagaimana tanggapan Jhony
Allen? Ia mengaku memang mengenal Abdul Hadi Djamal, karena sama-sama
sebagai anggota DPR. Namun dengan Hontjo Kurniawan, dia mengaku sama
sekali tidak kenal. Enggak kenal saya (dengan Hontjo Kurniawan), urusan apa?
kata Johny saat dikonfirmasi, Selasa (3/3).Berdasarkan penelusuran Surya,
Hontjo Kurniawan adalah seorang kontraktor asal Surabaya. Komisaris PT Kurnia
Jaya Wira Bhakti ini telah dikenal luas sebagai spesialis jasa konstruksi
pembangunan dermaga di Surabaya dan kawasan timur Indonesia. Beliau sudah
cukup lama berkecimpung dalam konstruksi pembangunan dermaga. Saya sering
mendengar dia banyak menangani proyek di perhubungan laut (Departemen
Perhubungan ) maupun dari Departemen Kelautan dan Perikanan, ujar
Suhariono, salah satu kontraktor di Surabaya, ketika dihubungi Surya, Selasa
(3/3).Suhariono yang juga Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional
Indonesia (Gapensi) Cabang Surabaya ini mengungkapkan Hontjo adalah
pengusaha jasa konstruksi yang cukup berpengalaman. Saya sendiri belum
pernah bertemu dengan dia, katanya.Hontjo Kurniawan saat ini terdaftar
sebagai anggota Gabungan Pengusaha Kontraktor Nasional (Gapeknas) Jatim.
Muhammad Alyas, Sekretaris Umum Gapeknas Jatim, ketika dikonfirmasi Surya
membenarkan keanggotaan Hontjo Kurniawan dalam organisasi yang
dipimpinnya. Namun Alyas mengaku belum mendengar informasi mengenai
penangkapan Hontjo oleh KPK. Pak Hontjo memang anggota kami, ujar Alyas
via telepon kepada Surya, Selasa (3/3).Alyas yang cukup terkejut dengan
penangkapan salah satu anggota Gapeknas itu mengakui Hontjo adalah
kontraktor berpengalaman dalam bisnis jasa konstruksi di
Surabaya.DitahanKetua KPK Antasari Azhar mengatakan bahwa KPK telah resmi
menetapkan Abdul Hadi Djamal, Hontjo Kurniawan, dan Darmawati sebagai
tersangka kasus suap. Karena sudah menjadi tersangka, seperti biasa setelah
selesai pemeriksaan mereka akan ditahan, jelas Antasari.Ia mengatakan, KPK
belum memastikan lokasi penahanan apakah di LP Cipinang, Rutan Salemba,
atau Rutan Polri. Jika di Cipinang dan Salemba tidak memungkinan, maka saya
dengan terpaka akan merepotkan Pak Kapolri lagi dengan menitipkan tahanan
lalgi, ujarnya.Antasari menjelaskan, kasus suap ini terkait proyek pembangunan
lanjutan fasilitas pelabuhan laut dan bandara di wilayah Indonesia bagian timur.
Nama proyeknya pembangunan lanjutan fasilitas pelabuhan laut dan bandara.
Anggarannya 100 miliar, kata Antasari.Penangkapan Abdul Hadi mengejutkan
induk partainya, PAN. Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) mengaku tak
percaya ada anggota FPAN ditangkap KPK. Ditanya apa langkah partai, SB
menjawab, Bagaimana mau menentukan langkah, ini saja saya baru tahu.Dia
termasuk kader terbaik di PAN, kata Wakil Sekretaris Fraksi PAN Arbab Paproeka
secara terpisah, usai mengunjungi Abdul Hadi yang saat itu masih diperiksa di
Gedung KPK. Arbab menceritakan kondisi Abdul Hadi dalam keadaan baik selama
pemeriksaan.Abdul Hadi menjadi anggota DPR dari PAN dari daerah pemilihan
Sulawesi Selatan (Sulsel) periode 2004-2009. Sebelum menjadi anggota Dewan,
dia dikenal sebagai orang Bukaka, perusahaan besar grup Jusuf Kalla (JK). Dalam
berbagai kesempatan, Abdul Hadi bahkan sering membanggakan kedekatannya
dengan JK. Beberapa anggota DPR pun sering berseloroh bahwa dia adalah orang
Golkar yang dititipkan ke PAN.Abdul Hadi Djamal menjadi pengurus DPP PAN
sejak 2000 saat partai ini masih dipimpin Amien Rais. Namun, dia baru bisa
masuk DPR pada periode 2004-2009. Saat ini Abdul Hadi menjadi pengurus
harian DPP PAN dan maju kembali sebagai caleg dari Sulsel. Secara terpisah,
Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mengaku sudah dilapori
ada pegawainya ditangkap KPK. Pak Menteri sangat menyesalkan terjadinya
ini, ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Dephub Bambang S Ervan, Selasa
(3/3).Bambang menambahkan, Dephub akan memberikan sanksi kepada
Darmawati. Sanksi pertama yakni penonaktifan. Setelah ada keputusan tetap,
Darmawati jika terbukti bersalah akan dipecat.Sebelumnya, KPK juga menangkap
beberapa anggota DPR dari Komisi yang berbeda terkait kasus suap. Dengan
demikian, hingga kini sudah tujuh anggota DPR yang ditangkap, yakni Yusuf Emir
Faisal (PKB), Bulyan Royan (PBR), Saleh Jasit (Golkar), Al Amien Nasution (PPP),
Hamka Yandhu (Golkar), dan Sarjan Taher (PD). cw6/yat/ytz

5. Kecurangan pembangunan fasilitas pemerintahan Kabupaten Konawe Utara


(Konut) makin terkuak. Ternyata, bukan hanya gambar desain kantor DPRD Konut
yang diduga hasil jiplakan gedung DPRD lain, tapi juga desain kantor bupati dan
masjid raya yang tidak ditenderkan ke konsultan. "Ada tiga paket yaitu kantor
DPRD, kantor bupati dan masjid raya yang tidak ditenderkan desain gambarnya.
Padahal ketiga proyek tersebut, anggarannya milyaran rupiah. Sebaiknya BPKP,
Bawasda dan kejaksaan menelusuri proses tendernya," kata Ir Ilham, Ketua
Umum Persatuan Konsultan Indonesia (Perkindo) Sultra.

Ilham membeberkan masalah pembangunan fasilitas pemerintahan dan sarana


ibadah di Konut menindaklanjuti statemen Ketua Komisi B DPRD Konut, Satria
Baikole. Dimana Satria mengungkapkan bahwa diduga gambar gedung DPRD
Konut dijiplak dari salah satu kantor DPRD daerah lain. Padahal biaya desainnya
sudah dianggarkan.

Menurutnya, biaya desain gedung DPRD Konut sekitar Rp 200 juta, sedangkan
kantor bupati berkisar Rp 400 juta. "Kalau memang benar dugaan DPRD bahwa
desain gambar hasil jiplakan, tidak hanya anggaran desain yang harus
dikembalikan. Tapi harus diproses secara hukum karena jelas terjadi pelanggaran
Keppres nomor 80 tahun 2003," ujarnya.
Khusus untuk proses tender kantor bupati Konut, Ilham mensinyalir telah terjadi
pelanggaran Keppres. Ini didasarkan pada saat pengambilan dokumen tender.
"Memang ada gambar tapi tidak ada Bill Off Quantity (BOQ) atau volume
pekerjaan. Waktu anuweijzing, para kontraktor minta BOQ dan panitia saat itu
menyetujui. Tapi hingga pemasukan dokumen penawaran, BOQ tidak dikeluarkan
panitia lelang tanpa alasan yang jelas. Jadi para rekanan tidak bisa menghitung
volume pekerjaan secara tepat. Tapi anehnya, ada perusahaan rekanan yang
kami duga mendapat BOQ," bebernya. Pernyataan Ilham dipertegas lagi Fadli S
Tanawali, Ketua BPP Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia (Askumindo) Sultra.
Panitia proyek melalui Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Konsel, tidak
memperlihatkan review desain. Sehingga seenaknya saja melakukan perubahan,
termasuk rincian biaya.

Kecurangan proses tender proyek kantor DPRD dan bupati, sudah diketahui
Aswad Sulaiman pelaksana jabatan bupati Konut. Namun tidak ditindak lanjuti.
"Anehnya lagi, proyek milyaran tidak dikerjakan instansi teknis tapi biro ekonomi
dan pembangunan. Ada kesan dipaksakan dikerjakan," kata Fadli.

6. Salatiga (Espos) Pengusutan kasus dugaan korupsi dalam proyek


pembangunan jalan lingkar selatan (JLS) Salatiga oleh Kejaksaan Negeri
setempat direspons positif LSM Gerakan Masyarakat Anti (Gema) KKN Salatiga.
Meski demikian, kejaksaan diminta untuk tidak berhenti pada pengusutan satu
kasus saja yang saat ini sudah masuk dalam tahapan persidangan dengan
terdakwa Nugroho Budi Santoso, pengelola CV Kencana. Melainkan juga
mengusut dugaan korupsi lain dalam proyek yang sama. Gema KKN Salatiga
menyinyalir ada setidaknya lima rekanan lain yang menggarap proyek JLS yang
terindikasi melakukan korupsi. Koordinator Gema KKN Salatiga, YB Maryoto,
kepada wartawan mengungkapkan meski sempat terhenti beberapa tahun,
pengusutan kembali kasus dugaan korupsi pada proyek JLS ini memberikan angin
segar kepada masyarakat yang menginginkan Salatiga bersih dari KKN. Semua
pihak, sambungnya, memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.
Berdasarkan hasil audit BPK, ditemukan adanya kerugian negara dalam
pengerjaan sejumlah paket proyek pembangunan JLS yang dikerjakan oleh lima
rekanan lain selain CV Kencana. Hasil auditMenurutnya, hasil audit tersebut
mengindikasikan adanya penyimpangan dalam pengerjaan paket proyek
tersebut. Keadilan harus ditegakkan, kalau satu dijerat lainnya pun harus
sama, paparnya, baru-baru ini. Ia tak menyebutkan siapa lima rekanan lain
tersebut. Kembali mengacu hasil audit BPK, besarnyakerugian keuangan negara
yang ditimbulkan dari pelaksanaan proyek tersebut kisaran Rp 60 juta sampai
lebih dari Rp 200 juta. Ia berharap agar aparat kejaksaan tetap konsisten dalam
mengusut kasus-kasus korupsi khususnya dalam proyek-proyek yang menelan
dana pemerintah dalam jumlah yang cukup besar. Sebagaimana diketahui,
kejaksaan menahan dua tersangka yang kini telah menjadi terdakwa dalam
kasus dugaan korupsi proyek pembangunan JLS. Selain Nugroho, kejaksaan juga
menahan mantan Kepala DPU yang kini menjabat Staf Ahli Walikota Bidang
Pembangunan, Saryono.

http://adriantohidayat.blogspot.co.id/2011/09/etika-profesi-arsitekturcases.html