TUGAS MAKALAH
MANAJEMEN MECHANICAL INTEGRITY PADA TANGKI PENYIMPANAN
(STORAGE TANK)
Oleh:
Pipid Ari Wibowo
NIM. 101614253015
PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyimpanan merupakan bagian dari industri proses produksi dalam industri kimia.
Tangki penyimpanan atau storage tank menjadi bagian yang penting dalam suatu proses industri kimia
karena tankipenyimpanan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan bagi produk dan bahan baku tetapi juga
menjaga kelancaran ketersediaan produk dan bahan baku serta dapat menjaga produk atau bahan
baku dari kontaminan ( kontaminantersebut dapat menurunkan kualitas dari produk atau bahan baku).
Penyimpanan bahan diperlukan agar proses produksi tidak tergantung pada pengumpanan dan
pengeluaran bahan.
Jumlah bahan yang perlu disimpan disesuaikan dengan konsumsi (keperluan perhari,
stok wajib) atau dengan kondisi pengiriman (tanggal dan harga). Cara penyimpanan juga
tergantung pada sifat bahan yang disimpan (misalnya kondisi agregat, daya terhadap udara
dan air, korosivitas, kemudahan terbakar dan beracun), pada jenis penggunaan dan lamanya
penyimpanan serta jumlahnya.
B. Tujuan
Tujuan pembahasan dalam makalah ini yaitu untuk mengetahui :
1. Pengertian tanki penyimpanan?
2. Jenis-jenis tanki penyimpanan?
3. Mechanical integrity dari tanki penyimpanan?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Tangki penyimpanan atau storage tank menjadi bagian yang penting dalam suatu
proses industri kimia karena tanki penyimpanan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan
bagi produk dan bahan baku tetapi juga menjaga kelancaran ketersediaan produk dan bahan
baku serta dapat menjaga produk atau bahan baku dari kontaminan ( kontaminan tersebut
dapat menurunkan kualitas dari produk atau bahan baku ).
Pada uumunya produk atau bahan baku yang terdapat pada industri kimia berupa
liquid atau gas, namun tidak tertutup kemungkinan juga dalam bentuk padatan (solid). Tangki
pada dasarnya dipakai sebagai tempat penyimpanan material baik berupa benda padat, cair,
maupun gas. Dalam mendesain tangki, konsultan perencana harus merencanakan tangki
dengan baik terutama untuk menahan gaya gempa yang mungkin terjadi. Jika tangki tidak
direncanakan dengan baik, maka kerusakan pada tangki dapat mengakibatkan kerugian jiwa
maupun materi yang cukup besar.
Desain dan keamanan tangki penyimpan telah menjadi kekhawatiran besar. Seperti
yang dilaporkan, kasus kebakaran dan ledakan tangki telah meningkat selama bertahun-tahun
dan kecelakaan ini mengakibatkan cedera bahkan kematian. Tumpahan dan kebakaran tangki
tidak hanya mengakibatkan polusi lingkungan, tetapi juga dapat mengakibatkan kerugian
finansial dan dampak signifikan terhadap bisnis di masa depan karena reputasi
industri.Beberapa contoh kerusakan tangki adalah keretakan pada bendungan
betonberkapasitas lima juta galon di Westminister, California, pada tanggal 21 September
1998 yang mengakibatkan kerugian yang hampir mencapai 27 juta dolar. Contoh yang lain
adalah banyaknya tangki baja las tempat penyimpanan minyak di Alaska yang mengalami
kebocoran dikarenakan oleh gempa tahun 1964. Hal yang sama juga terjadi di Padang yang
disebabkan oleh Gempa Padang tanggal 30 September 2009.Oleh karena itu, tangki harus
direncanakan secara baik dengan mengacukepada peraturan tangki yang sesuai guna
menghindari kerugian akibat kerusakantangki itu sendiri.
2.2. Jenis Jenis Tangki
Storage tank atau tangki dapat memiliki berbagai macam bentuk dan tipe.
Tiap tipe memiliki kelebihan dan kekurangan serta kegunaannya sendiri.
2.2.1. Berdasarkan Letaknya
1. Aboveground Tank, yaitu tangki penimbun yang terletak di atas permukaan tanah.
Tangki penimbun ini bisa berada dalam posisi horizontal dan dalam keadaan tegak
(vertical tank). Dapat dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan cara perletakan di atas tanah,
yaitu tangki di permukaan tanah dan tangki menara. Ciri-ciri yang membedakan jenis
tangki menara dengan tangki di permukaan tanah adalah bentuk bagian bawah tangki.
Seperti yang telah tercatat dalam peraturan, bentuk bagian bawah tangki menara
adalah bentuk revolusi sebuah bentuk cangkang yang tidak sempurna, ataupun
kombinasi dari bentuk cangkang tersebut. Desain tangki dengan bagian bawah rata
untuk tangki menara tidak akan memberikan hasil yang baik, dengan melihat bahwa
bentuk dasar yang demikian akan menyebabkan dibutuhkannya balok penopang yang
besar untuk menahan tekuk.
2. Underground Tank
yaitu tangki penimbun yang terletak di bawah permukaan tanah.
2.2.2. Berdasarkan Bentuk Atapnya
1. Fixed Roof Tank, dapat digunakan untuk menyimpan semua jenis produk, seperti
crude oil, gasoline , benzene, fuel dan lain lain termasuk produk atau bahan baku
yang bersifat korosif , mudah terbakar, ekonomis bila digunakan hingga volume 2000
m3, diameter dapat mencapai 300 ft (91,4 m) dan tinggi 64 ft (19,5 m). Dibagi
menjadi dua jenis bentuk atap.
2. Cone Roof, jenis tangki penimbun ini mempunyai kelemahan, yaitu terdapat vapor
space antara ketinggian cairan dengan atap. Jika vapor space berada pada keadaan
mudah terbakar, maka akan terjadi ledakan. Oleh karena itu fixed cone roof tank
dilengkapi dengan vent untuk mengatur tekanan dalam tangki sehingga mendekati
tekanan atmosfer. Jenis tangki ini biasanya digunakan untuk menyimpan kerosene, air,
dan solar. Terdapat dua jenis tipe cone roof berdasarkan penyanggga atapnya yaitu:
a. Supported Cone Roof adalah suatu atap yang berbentuk menyerupai konus
dan ditumpu pada bagian utamanya dengan rusuk di atas balok penopang
ataupun kolom, atau oleh rusuk di atas rangka dengan atau tanpa kolom. Pelat
atap didukung oleh rafter pada girder dan kolom atau oleh rangka batang
dengan atau tanpa kolom.
b. Self-supporting Cone Roof adalah atap yang berbentuk menyerupai konus dan
hanya ditopang pada keliling konus. Atap langsung ditahan
oleh dinding tangki (shell plate).
3. Dome Roof adalah atap yang dibentuk menyerupai permukaan bulatan
dan hanya ditopang pada keliling kubah.yang biasanya digunakan untuk
menyimpan cairan kimia. Bentuk dari tangki tipe dome roof dapat dilihat
pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 - Tangki Fixed Dome Roof
(Sumber : http://images.google.com/imgres?imgurl)
2.2.2.1 Floating Roof Tank, yang biasanya digunakan untuk menyimpan minyak
mentah dan premium. Keuntungannya yaitu tidak terdapat vapour space dan
mengurangi kehilangan akibat penguapan. Floating roof tank terbagi menjadi dua
yaitu external floating roof dan internal floating roof. Bentuk dan tangki tipe floating
roof dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini.
Gambar 2.2 - Tangki Floating Roof Tank
(Sumber : http://www.fall-arrest.com/images/Floating-Roof-Tank-01.jpg)
2.2.3. Berdasarkan Tekanannya (Internal Pressure)
2.2.3.1. Tangki Atmosferik (Atmospheric Tank)
Terdapat beberapa jenis dari tangki timbun tekanan rendah ini, yaitu :
2.2.3.1.1. Fixed Cone Roof Tank digunakan untuk menimbun atau menyimpan berbagai jenis
fluida dengan tekanan uap rendah atau amat rendah (mendekati atmosferik) atau dengan kata
lain fluida yang tidak mudah menguap.
Gambar 2.3 Sketsa Fixed Cone Roof Tank
(Sumber : http://www.astanks.com/EN/Fixed_roof_EN.html)
Gambar 2.4 - Fixed Cone Roof with Internal Floating Roof
(Sumber : http://www.astanks.com/EN/Fixed_roof_EN.html)
2.2.3.1.2. Tangki Umbrella memiliki kegunaan yang sama dengan fixed cone roof. Bedanya
adalah bentuk tutupnya yang melengkung dengan titik pusat meridian di puncak tangki.
2.2.3.1.3. Tangki Tutup Cembung Tetap (Fixed Dome Roof) memiliki bentuk tutup yang
cembung dan ekonomis bila digunakan dengan volume > 2000 m3. Bahkan cukup ekonomis
hingga volume 7000 m3 (dengan D < 65 m). Kegunaannya sama dengan fixed cone roof tank.
Gambar 2.5 - Self Supporting Dome Roof
(Sumber : http://www.astanks.com/EN/Fixed_roof_EN.html)
2.2.3.1.4. Tangki Horizontal dapat menyimpan bahan kimia yang memiliki tingkat
penguapan rendah (low volatility), seperti air minum dengan tekanan uap tidak melebihi 5psi,
diameter dari tangki dapat mencapai 12 feet (3,6 m) dengan panjang mencapai 60 feet (18,3
m).
Gambar 2.6 Tangki Horizontal
(Sumber : http://chemresponsetool.noaa.gov/containers_guide/storage_tank.htm#cylind)
2.2.3.1.5. Tangki Tipe Plain Hemispheroid digunakan untuk menimbun fluida
(minyak) dengan tekanan uap (RVP) sedikit dibawah 5 psi.
Gambar 2.7 Tangki Tipe Plain Hemispheroid
(Sumber : http://chemresponsetool.noaa.gov/containers_guide/storage_tank.htm#cylind)
2.2.3.1.6. Tangki Tipe Noded Hemispheroid digunakan untuk menyimpan fluida (light
naptha pentane) dengan tekanan uap tidak lebih dari 5 psi.
2.2.3.1.7. Tangki Plain Spheroid merupakan tangki bertekanan rendah dengan kapasitas
20.000 barrel.
2.2.3.1.8. Tangki Floating Roof ditujukan untuk penyimpanan bahan-bahan yang mudah
terbakar atau mudah menguap. Kelebihan penggunaan internal floating roof ini antara lain:
- Level atau tingkat penguapan dari produk bisa dikurangi
- Dapat mengurangi resiko kebakaran
2.2.3.2. Tangki Bertekanan (Pressure Tank)
Pressure tank atau tangki bertekanan dapat menyimpan fluida dengan tekanan uap lebih
dari 11,1 psi dan umumnya fluida yang disimpan adalah produk-produk minyak bumi. Terdiri
dari beberapa jenis, yaitu :
2.2.3.2.1. Tangki Peluru (Bullet Tank) lebih dikenal sebagai pressure vessel berbentuk
horizontal dengan volume maksimum 2000 barrel. Biasanya digunakan untuk menyimpan
LPG, Propane butane, H2, ammonia dengan tekanan di atas 15 psig.
Gambar 2.8 Tangki Peluru
(Sumber : http://chemresponsetool.noaa.gov/containers_guide/storage_tank.htm#cylind)
2.2.3.2.2. Tangki Bola (Spherical Tank) merupakan pressure vessel yang digunakan untuk
menyimpan gas-gas yang dicairkan seperti LPG, LNG, O2, N2 dan lain-lain. Tangki ini dapat
menyimpan gas cair tersebut hingga tekanan 75 psi. volume tangki dapat mencapai 50.000
barrel. Untuk penyimpanan LNG dengan suhu -190 (cryogenic) tangki dibuat berdinding
ganda dimana di antara kedua dinding tersebut diisi dengan isolasi seperti polyurethane foam.
Tekanan penyimpanan di atas 15 psig.
Gambar 2.9 Tangki Bola
(Sumber : http://chemresponsetool.noaa.gov/containers_guide/storage_tank.htm#cylind)
2.2.3.2.3. Dome Roof Tank digunakan untuk menyimpan bahan-bahan yang mudah
terbakar, meledak, dan mudah menguap seperti gasoline. Bahan disimpan dengan tekanan
rendah 0,5 psi sampai 15 psig.
Gambar 2.10 Dome Roof Tank
(Sumber : http://chemresponsetool.noaa.gov/containers_guide/storage_tank.htm#bullet)\
2.2.4. Berdasarkan Bentuk Tangki
2.2.4.1. Tangki Lingkaran (Circular Tank)
Tangki yang umum digunakan sebagai tempat penyimpanan adalah tangki yang
berbentuk silinder. Tangki ini memiliki nilai ekonomis dalam perencanaan. Selain itu, dalam
perhitungan teknisnya, momen yang terjadi tidak besar.
2.2.4.2. Tangki Persegi / Persegi Panjang (Rectangular Tank)
Bentuk silinder secara structural paling cocok untuk kostruksi tangki, tapi tangki
persegi panjang sering disukai untuk tujuan tertentu, antara lain kemudahan dalam proses
konstruksi. Desain tangki persegi panjang mirip dengan konsep desain tangki lingkaran.
Perbedaan utama dalam konsep desain tangki persegi panjang dengan tangki lingkaran adalah
momen yang terjadi, gaya geser dan tekanan pada dinding tangki. Sebagai contoh : Sludge
Oil Reclaimed Tank pada Pabrik Minyak Kelapa Sawit.
Gambar Rectangular Tank
2.3. Kriteria Perencanaan Tangki Persegi Panjang
Berikut ini adalah peraturan standar yang digunakan dalam perancangan tangki penimbun
meliputi struktur dan beban-beban yang bekerja :
1. Perhitungan bottom plate, shell plate dan top edge stiffener berdasarkan ASME Paper
A-71 Stress and Deflection of Rectangular Plates.
2. Perencanaan pendukung atap seperti rafter, girder, dan kolom disyaratkan sesuai
dengan SNI 03-1729-2002 : Tata cara perencanaan struktur baja untuk
bangunan gedung.
3. Perhitungan efek gempa dan tekanan hidrodinamis tangki yang berisi cairan
berdasarkan Bureau of Indian Standards IS 1893 (2002) Part 1 & 2: Liquid Retaining
Tanks, ACI 350.3 (2001) and NZS 3106 (1986)
4. Perhitungan faktor respon spektrum tangki berdasarkan IBC 2000, International
Building Code International Code Council.
5. Perhitungan untuk mengetahui waktu getar tangki terdapat pada Eurocode 8
(1998).
2.4. Pembebanan
Beban-beban yang mungkin terjadi pada tangki adalah sebagai berikut :
1) Beban Mati (DL): berat sendiri tangki ataupun komponen-komponen tangki termasuk
juga korosi yang diijinkan.
2) Tekanan luar rencana (Pe): tidak boleh lebih kecil dari 0,25 kPa dan melebihi dari 6,9
kPa.
3) Tekanan dalam rencana (Pi): besarnya tidak boleh melebihi 18 kPa.
4) Tes hidrostatik (Ht): beban yang terjadi ketika tangki diisi air sampai ke batas
ketinggian yang direncanakan.
5) Beban hidup atap minimum (Lr): sebesar 1 kPa pada daerah proyeksi horizontal atap.
Beban hidup atap minimum dapat ditentukan dengan ASCE 7, tetapi tidak kurang dari
0,72 kPa.
6) Beban gempa (E): beban yang mengakibatkan terjadinya gaya impulsive dan gaya
konvektif dari cairan di dalam tangki.
7) Salju (Beban akibat salju tidak akan diikutsertakan dalam tugas akhir ini sebab tidak
pernah terjadi salju di Indonesia).
8) Cairan yang disimpan (F): beban yang terjadi ketika tangki diisi cairan dengan berat
jenis yang telah direncanakan dan cairan tersebut diisi sampai batas ketinggian yang
telah direncanakan.
9) Tekanan Percobaan (Pt):
a. Untuk tekanan desain dan tes maksimum
Ketika tangki telah dibangun seluruhnya, tangki tersebut harus diisi dengan air sampai
sudut tertinggi tangki atau sampai ketinggian air rencana, dan tekanan udara internal rencana
harus diaplikasikan pada ruang tertutup diatas tinggi air dan dibiarkan selama 15 menit.
Tekanan udara tersebut kemudian dikurangi menjadi sebesar satu setengah dari tekanan
rencana, dan semua sambungan las diatas tinggi air harus diperiksa untuk mengecek adanya
kebocoran. Lubang angin tangki harus diuji selama tes berlangsung atau setelah tes selesai
dilaksanakan.
b. Untuk tangki berpondasi dengan tekanan desain sampai 18 kPa
Setelah tangki diisi dengan air, badan tangki dan pondasi harus diperiksa keketatan
sambungannya. Tekanan udara sebesar 1,25 kali tekanan rencana harus diaplikasikan pada
tangki yang dipenuhi air sampai pada ketinggian air rencana. Tekanan udara kemudian
dikurangi menjadi sebesar tekanan rencana, dan tangki lalu diperiksa kembali keketatan
sambungannya. Sebagai tambahan, semua sambungan di atas batas air harus diperiksa dengan
menggunakan soap film dan material lain yang sesuai untuk mendeteksi kebocoran. Setelah
pemeriksaan, air harus dikosongkan dari tangki (dan tangki sedang dalam tekanan atmosfir),
pondasi harus diperiksa keketatan sambungannya. Tekanan udara desain kemudian harus
diaplikasikan pada tangki untuk pemeriksaan akhir pondasi.
10) Angin (W): Kecepatan angin rencana (V) adalah sebesar 190 km/jam (120 mph)
dengan tekanan angin rencana pada arah horizontal sumbu tangki sebesar 1,44 kPa dan pada
arah vertikal sumbu tangki sebesar 0,86 kPa.
2.5. Persyaratan untuk Elemen-Elemen Tangki
2.5.1. Material
Pelat dan profil baja yang digunakan dalam perencanaan didasarkan atas ketersediaan
material di pasaran dan dalam ukuran panjang yang ditentukan oleh kemudahan
pengangkutan (delivery). Ukuran pelat baja yang sering digunakan padatangki penimbun
adalah 20 feet x 6 feet. Sedangkan profil baja yang digunakan pada tangki penimbun adalah
profil baja siku untuk top angle, profil baja WF (Wide Flange) untuk rafter dan girder, serta
profil pipa untuk kolom. Material yang dipakai dalam desain tangki ini adalah material yang
direkomendasikan oleh API Std 650 yang secara kekuatan, dan komposisi kimia memenuhi
persyaratan yang ditentukan oleh standar. American Society for Testing and Materials
(ASTM) membagi baja dalam empat grades (A, B, C dan D) berdasarkan tegangan leleh
dengan kisaran rendah dan menengah untuk carbon steel plates. Yang digunakan adalah baja
dengan tekanan leleh (fy) adalah 390 MPa.
2.5.2. Pelat Atap
Merupakan pelat yang menyusun cone roof dengan ketebalan minimum pelat
atap adalah 5 mm. Menurut API Std 650, slope atap untuk supported cone roof tidak lebih
dari :12 inch atau lebih jika permintaan owner. Susunan dari pelat atap dapat dilihat pada
Gambar 2.12
Gambar 2.13 - Arrangement of Roof Plate
2.5.3. Rafter dan Girder
Rafter dan girder terbuat dari profil baja yang merupakan rangka atap tangki. Rafter
harus diatur sedemikian hingga pada outer ring jarak rafter tidak lebih dari 2 meter,
sedangkan jarak rafter pada inner ring tidak lebih dari 1,65 meter.
2.5.4. Top Angle
Top Angle terbuat dari profil siku yang menempel pada sisi sebelah atas course shell
plate teratas. Kegunaan top angle adalah untuk memperkaku shell plates. Untuk tangki
dengan atap tertutup, ukuran top angle tidak berdasarkan beban angin tetapi berdasarkan jenis
atap yang direncanakan. Dimana atap diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu supported
dan self supported. Menurut API Std 650 Para 3.1.5.9-c, ukuran top angle tidak kurang dari
mengikuti ukuran berikut: untuk tangki diameter kurang dari 10,5 m ukuran top angle 50 x 50
x 5 mm; tangki diameter 10,5-18 m ukuran top angle 50 x 50 x 6 mm; diameter tangki lebih
dari 18 m ukuran top angle 75 x 75 x 10 mm. Letak top angle dapat dilihat pada Gambar
2.13.
Gambar 2.14 - Top Angle
Sumber : API Std 650
2.5.5. Intermediate Wind Girder
Wind Girder diperlukan untuk menjaga bentuk dari tangki penimbun terutama
pada saat menahan beban angin. Wind girder sangat diperlukan untuk jenis tangki penimbun
dengan atap terbuka atau open top. Untuk menentukan apakah wind girder diperlukan atau
tidak untuk jenis atap selain open top tank maka harus dilakukan pemeriksaan dengan cara
mengubah lebar aktual dari setiap shell course menjadi lebar transposed. Hasil penjumlahan
dari lebar transposed dari setiap lapisan akan memberikan hasil dari tinggi transformed shell,
dimana apabila tinggi transformed shell lebih besar dari tinggi maksimum maka wajib
memasang wind girder dan sebaliknya apabila tinggi transformed shell lebih kecil maka tidak
dibutuhkan wind girder.
Gambar 2.15 - Intermediate Wind Girder
Sumber : API Std 650
2.5.6. Shell Plate (Pelat Dinding)
Ketebalan pelat dinding yang digunakan sebaiknya lebih besar dari ketebalan pelat
dinding rencana, termasuk penambahan korosi atau ketebalan berdasarkan test hidrostatis.
Tetapi ketebalan dinding tidak boleh kurang dari yang disyaratkan pada Tabel di bawah ini.
Panjang nominal tangki Tabel nominal pelat
(m) (mm)
<15 5
15-36 6
36-60 8
>60 10
Tabel 2.1. Ketebalan Shell plates
Sumber : API Std 650
2.5.7. Pelat Dasar Tangki
Ada dua jenis pelat dasar tangki yaitu annular plate dan bottom plate.
a. Annular Plate
Annular plate memiliki lebar radial minimal 24 inch (61 centimeter) dan proyeksi di bagian
luar dinding minimal 2 inch (5 centimeter).
b. Bottom Plate
Sesuai dengan API Std 650, semua bottom plate memiliki ketebalan minimum yaitu inch
(6,35mm) dengan lebar minimum 72 inch (183centimeter). Contoh gambar denah pelat dasar
tangki dapat dilihat pada Gambar 2.16 di bawah ini
Gambar 2.16 - Denah Pelat Dasar Tangki
2.6. Tekanan Air pada Tangki
2.6.1. Tekanan Hidrostatik
Tekanan Hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan ini terjadi karena
adanya berat air yang membuat cairan tersebut mengeluarkan tekanan. Tekanan sebuah cairan
bergantung pada kedalaman cairan di dalam sebuah ruang dan gravitasi juga menentukan
tekanan air tersebut.
Hubungan ini dirumuskan sebagai berikut:
sebagai berikut:
P = .g.h= . h
P adalah tekanan hidrostatik (dalam Pascal);
adalah kerapatan fluida (dalam kilogram per meter kubik);
g adalah percepatan gravitasi (dalam meter per detik kuadrat);
h adalah tinggi kolom fluida (dalam meter);
= .g
Gambar 2.17 Diagram Tekanan Hidrostatis
2.6.2. Tekanan Hidrodinamis
Tekanan hidrodinamis merupakan tekanan air yang timbul saat terjadinya getaran atau
guncangan (dalam hal ini gempa) sehingga menimbulkan dua gaya yang disebut gaya
impulsif dan gaya konvektif.
1. Gaya impulsif
Gaya impulsif adalah gaya yang disebakan oleh massa cairan dalam tangki yang
bergerak bersamaan dengan gerakan tangki akibat gaya gempa. Gaya Impulsif dihasilkan
oleh massa cairan yang dekat ke dasar tangki.
2. Gaya Konvektif
Gaya Konvektif adalah gaya yang disebakan oleh massa cairan dalam tangki
yang meyebabkan guncangan air di dalam tangki akibat gaya gempa. Gaya konvektif
dihasilkan oleh massa cairan yang dekat dengan permukaan tangki.
3. Mechanical Integrity
Integritas mekanis mengacu pada pengelolaan semua peralatan pemrosesan bisnis
untuk memastikan bahwa suara itu masuk dan beroperasi dalam wilayah keamanan. Ini
melibatkan pemeriksaan pemeliharaan rutin untuk memastikan bahwa setiap elemen sesuai
untuk layanan. Prosedur harus ditulis dan diimplementasikan untuk menjaga integritas proses
ini.
Integritas mekanis sangat penting di industri yang mengandalkan operasi mekanis
dan/atau kimia yang kompleks. Dalam industri pertambangan dan kimia, telah terjadi
sejumlah bencana profil tinggi dalam beberapa tahun terakhir yang disebabkan oleh
kurangnya integritas mekanis. Integritas mekanis melibatkan memastikan bahwa sepotong
peralatan pemrosesan dibuat dari bahan yang sesuai, dipasang dengan benar dan bagian-
bagiannya diganti secara teratur. Ini mencakup keseluruhan siklus hidup dari peralatan
pengolahan.
Dalam industri migas, pemeliharaan peralatan sangat diperlukan agar proses
pengolahan yang terjadi tidak mengalami hambatan, salah satunya yaitu tangki yang
digunakan sebagai tempat penampungan produk. Untuk menjaga dan menjamin keandalan
operasi tangki harus dilakukan pemeliharaan dan pemeriksaan berdasarkan kaidah teknis
yang berlaku dan mempertimbangkan aspek keekonomiannya.
3.1 Pemeriksaan dan Pemeliharaan Tanki
Pemeriksaan dan pemeliharaan secara umum terdiri dari kegiatan terjadwal dan tidak
terjadwal, berikut penjelasannya masing-masing:
3.1.1 Pemeliharaan terjadwal
Pemeliharaan dan pemeriksaan terjadwal bisa didasarkan dari salah satu prinsip
pemeriksaan, yaitu berdasarkan waktu (time based inspection) atau pemeriksaan berdasarkan
resiko (risk based inspection). Periksaan terjadwal harus dibuat berdasarkan standar yang
berlaku dan sekurang-kurangnya meliputi:
1. Tipe pemeriksaan dan perawatan.
2. Bagian tangki yang harus diperiksa dan diperbaiki.
3. Metode dan cakupan pemeriksaan,
4. Periode pemeriksaan dan perawatan
Kegiatan pemeriksaan setidaknya meliputi:
1. Fisik tangki secara keseluruhan.
2. Fasilitas kelengkapan tangki.
3. Fasilitas dan perlengkapan keselamatan.
4. Sistem penangkal petir.
5. Sistem perlindungan korosi.
6. Kebocoran.
Pemeriksaan dan pemeliharaan terjadwal dapat dilakukan saat tangki berada pada
keadaan kosong (off-line) maupun saat saat berisi minyak bumi (on-line) dengan melakukan
persiapan sebagai berikut:
1. Organisasi kerja dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas dan terkoordinasi.
2. Analisis resiko.
3. Penyediaan fasilitas dan perlengkapan kerja yang menunjang keselamatan.
4. Pendeteksian adanya gas yang membahayakan.
5. Isolasi tangki dari sistem produksi jika diperlukan.
Persiapan lebih lanjut apabila tangki dalam konsisi kosong yaitu sebagai berikut:
1. Penghentian operasi saat pengosongan tangki.
2. Pembersihan bagian dalam tangki dan penanganan sludge.
3. Penerapan sistem kerja ruang tertutup (confined space entry).
3.1.2 Pemeriksaan dan Pemeliharaan tidak terjadwal
Proses pemeriksaan ini biasanya dilakukan sebagai reaksi dari suatu kejadian yang
menimbulkan gangguan pada operasi tangki minyak bumi. Cakupan metode pemeriksaan dan
pemeliharaanya disesuaikan dengan tingkat dan jenis kerusakan yang terjadi. Bila diperlukan,
untuk dapat mengetahui dan menghindari kejadian atau gangguan sejenis, harus dilakukan
analisis yang lebih mendalam untuk mengetahui dan mengatasi faktor penyebab kejadian
tersebut.
3.2 Pelaksanaan dan Hasil Evaluasi Pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan harus dilakukan dengan memperhatikan segi kualitas dan validitas
sehingga hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan. Evaluiasi pemeriksaan harus
dilakukan untuk:
1. Mengetahui kondisi dari peralatan yang diperiksa.
2. Menentukan kebutuhan perbaikan dan modifikasi.
3. Dasar penentuan metode, cakupan dan jadwal pemeriksaan kedepannya.
Seluruh hasil pemeriksaan dan evaluasi harus terdokumentasi dengan baik.
3.3 Perbaikan Tangki
Dalam melakukan proses perbaikan tangki, terdapat berbagai hal yang harus diperhatikan,
yaitu sebagai berikut:
1. Standar yang digunakan.
2. Data yang aktual dan terkini bila perubahan rencana akan dilakukan.
3. Tersedianya prosedur isolasi dan pengosongan.
4. Tersedianya prosedur perbaikan dan pengembalian mutu.
5. Tersedianya prosedur commisioning.
6. Dokumentasi dan pelaporan.
3.4 Kontrol Korosi Tangki
Korosi internal dan external tangki penyimpanan harus dikendalikan untuk mencegah
pengurangan ketebalan dinding, lantai dan atap tangki yang akan menyebabkan kegagalan
operasi, berkurangnya umur tangki serta berkurangnya kemampuan penyimpanan. Proses
pengendalian korosi meliputi:
1. Identifikasi sumber-sumber korosi.
2. Indentifikasi keperluan dan metode pencegahan korosi.
3. Penentuan keperluan pemantauan dan pemeriksaan korosi.
4. Evaluasi hasil pemantauan dan pemeriksaan.
5. Modifikasi berkala dari pengendalian korosi sesuai pengalaman dan perubahan
kondisi desain dan lingkungan tangki penyimpanan.
6. Kegiatan kontrol korosi tersebut harus terdokumentasi dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
www.hse.gov.uk/comah/ca-guides.
(Ageing plant delivery guide contains eight links to relevant info).
HSE Doc SPC/Tech/Gen/35. Integrity of storage tanks
HSE RR 760. Mechanical Integrity of Storage tanks
HSE RR 509. Ageing Plant
HSE RR 823. Plant Ageing Study
HSE RR616. Fitness for Service Review
EEMUA Guide 159. Maintenance and Inspection of Storage Tanks
www.chemical.org.uk/non_metallic_storage_tanks.
HSE PM 75 & PM 86. Non-metallic storage tanks
Corrosion of above ground storage tanks containing fuels (NACE; Materials Performance,
March 2012).