Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN

Dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, yang harus diperhatikan adalah retensi dan stabilisasi
gigi tiruan. Retensi didefenisikan sebagai kekuatan gigi tiruan terhadap pergerakan menjauhi jaringan pada
arah vertikal. Untuk menghasilkan retensi yang optimal pada pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan
basis gigi tiruan harus dibuat seluas mungkin hingga ke arah distal serta gigi tiruan beradaptasi dengan
baik terhadap jaringan pendukungnya dan di gunakan cangkolan konvensional yang terbuat dari kawat (Watt
and MacGregor, 1984).

Untuk menghasilkan retensi dan stabilitas gigi tiruan, cangkolan konvensional merupakan alat yang
sering dipakai karena proses pembuatannya mudah. Retensi cangkolan konvensional dihasilkan oleh
lengan retentif yang ditempatkan pada daerah gerong. Pada saat gaya pemindah bekerja, lengan ini akan
melawan dan pada saat itu pula timbul gesekan dengan permukaan gigi. Besarnya retensi yang dihasilkan
tergantung dari dalamnya daerah gerong yang ditempati lengan retentif, modulus elastisitas logam,
penampang , panjang dan arah datang serta letak lengan cangkolan terhadap garis fulkrum. Dengan adanya
retensi maka gigi tiruan akan mencegah gerakan yang ditimbulkan (Gunadi, 1995).

Cangkolan konvensional merupakan retainer mekanis yang lengannya terbuat dari kawat. Pada
saat ini cangkolan konvensional sudah jarang dipergunakan di negara maju disebabkan oleh
sandaran oklusal dan lengan pengimbang dari kawat tidak dapat berfungsi sebagaimana yang
diharapkan, juga lengan retentif mudah mengalami distorsi, mudah patah dan lengan yang lentur
kurang atau tidak mampu menahan gaya horizontal dan lateral. Dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat di bidang kedokteran gigi cangkolan konvensional
yang biasa dipakai sebagai retensi gigi tiruan dapat diganti dengan mempergunakan kaitan presisi
untuk menghasilkan retensi yang lebih baik, dengan pemakaian kaftan presisi ini akan memberikan
retensi gigi tiruan dan kenyamanan yang relatif tinggi bagi pasien. (Siburian, 2000)
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. KAITAN PRESISI

Kaitan presisi merupakan pemecahan masalah yang ditimbulkan pada pemakai gigi
tiruan, dimana dengan menggunakan kaitan presisi akan mencegah kerusakan pada jaringan yang
mendukung gigi tiruan dan merupakan perkembangan dari pemakaian oklusal rest pada gigi tiruan
sebagian lepasan yang konvensional. Penggunaan kaitan presisi telah berkembang dengan pesat
setelah Perang Dunia I. Dengan latar belakang ini, tidak ada pengertian yang pasti dari kaitan presisi.
Kaitan presisi merupakan alat retensi mekanis gigi tiruan sebagian lepasan terhadap gigi penyangga
yang masih ada yang biasa disebut dengan kaitan yang dibuat oleh pabrik, atau biasa juga disebut
dengan penjangkaran presisi. Suatu gigi tiruan yang dihubungkan dengan kaitan presisi akan
memberikan kenyamanan yang relatif tinggi bagi pasien (Anonim, 2001.,Siburian, 2000).

Kaitan presisi adalah kaitan yang dibuat secara terpisah dan dipasangkan pada gigi tiruan,
kaitan dibuat oleh mesin terdiri atas 2 bagian, yang terdiri dari bagian jantan dan bagian betina,
kaitan bagian betina bersatu dengan mahkota logam dan bagian jantan melekat ke kerangka
logam gigi tiruan sebagian lepasan yang telah didesain dengan sangat teliti untuk mendapatkan retensi
dan dukungan. Komponen kaitan presisi di program dalam paduan logam khusus dengan toleransi
yang tepat. Toleransi ini berada dalam 0.01mm. Karena kekerasan tertentu dari paduan
dikendalikan, kaitan presisi menawarkan keuntungan dari kerusakan yang sedikit pada abutment,
dan bagian dari kaitan yang memungkinkan masing-masing komponen di satukan, dan biasanya
lebih mudah untuk memperbaiki bila diperlukan. (Anonim, 2001).

1. Indikasi dan kontra-indikasi Kaitan Presisi

Pemasangan kaitan presisi berdasarkan basil diagnosa merupakan hal yang penting untuk
memeriksa panjang kaitan yang akan digunakan dan pemasangan secara detail untuk menghindarkan
kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin terjadi. Dokter gigi harus menyeleksi keadaan pasien seperti
ukuran gigi-geligi, posisi gigi-geligi dan bentuk linggir alveolaris, dimana dibutuhkan jumlah yang
minimal dari kaitan presisi untuk menghasilkan perawatan yang optimal dan memperhatikan
kemampuannya dalam pemasangan (Siburian, 2000).
a. Indikasi pemakaian kaitan presisi (Clark JW, 1985 cit Siburian, 2000):
Ukuran Gigi Besar
Pulpa Kecil
Estetis
Daerah Edentulous Pendek
Oral Higiene Baik
b. Kontra indikasi pemakaian kaitan presisi (Clark JW, 1985 cit Siburian, 2000):
Mahkota klinis pendek

Ukuran gigi kecil

Posisi gigi abnormal


Pulpa besar
Oral higiene buruk

2. Keuntungan dan Kerugian Kaitan Presisi

Kaitan presisi terdiri dari dua bagian yaitu bagian betina dan jantan, bagian betina
dilekatkan pada gigi penyangga sedangkan yang lain ditekatkan pads sadel gigi tiruan. Bila kedua
bagian dipasang bersamaan maka akan diperoleh retensi secara langsung dari titik tengah gabungan
gesekan dan aksi pegas dari kaitan. Dalam pemakaian kaitan presisi sebagai slat retensi
mekanis, kaitan ini mempunyai keuntungan, tetapi juga mempunyai kerugian yang harus
diperhatikan jika dibandingkan dengan pemakaian cangkolan konvensional pada pembuatan
gigi tiruan (Siburian, 2000).

a. Keuntungan kaitan presisi (Preiskel HW, 1981):


Estetis.

Karena tidak adanya lengan cangkolan sebelah lingual maupun bukal, maka estetis yang
dihasilkan gigi tiruan lebih baik.

Kecembungan.

Sebuah kaitan di dalam mahkota terletak di dalam bentuk mahkota gigi geligi, namun
bertindak juga sebagai sandaran oklusal, lengan cangkolan dan lengan pemeluk, sehingga
kecembungan gigi tiruannya dapat dikurangi.
Gambar 1: a. Kaitan Intrakoronal,

b. Kaitan Ekstrakoronal,

c. Cangkolan Konvensional

Stabilitas.

Kaitan di dalam mahkota mampu bertahan terhadap gaya pemindah horizontal maupun
gaya pemindah rotasi dengan baik, untuk menambah stabilisasi gigi tiruan dapat ditambahkan
dengan sebuah lengan pemeluk sebelah lingual/palatal yang ditempatkan secara tepat pada
sebuah gigi, sebagai bandingan lengan pemeluk kaku sebuah gigi tiruan harus dibuat cembung.

Mencegah penimbunan sisa makanan.

Desain cangkolan yang rumit pada gigi tiruan sebagian lepasan konvensional
terutama yang digunakan pada daerah gigi posterior dapat menyebabkan tertimbunnya
sisa-sisa makanan, sehingga lama-kelamaan menyebabkan terangsangnya gingiva dan dapat
menyebabkan karies pada gigi penyangga, dalam keadaan demikian maka pemakaian kaitan dapat
menghasilkan keuntungan jika digunakan. Tetapi bila mahkota klinis dibuat terlalu besar
karena penempatan kaitan sehingga bagian betina menonjol keluar serta pinggiran gusi menonjol
dan bentuk anatomis jelek sehingga nenyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal.

Mengurangi tekanan pada gigi penyangga.

Jika cangkolan konvensional digunakan dapat menimbulkan beban lateral pada gigi
penyangga, walaupun didesain dengan balk dan cangkolan dapat menyebabkan gigi
penyangga berputar, sedangkan jika digunakan kaitan presisi bila ada beban mengenai gigi
tiruan maka kaftan akan menggeser ke tempat semula tanpa menimbulkan beban lateral dan
tekanan lebih mudah dikenakan secara langsung pada gigi penyangga, makin tepat arab
pemasangan sebuah gigi tiruan maka semakin balk retensinya terhadap daya pemindah yang
akan melepaskan gigi tiruan dari tempatnya, keuntungan hanya dapat diperoleh bila
struktur pendukung dari gigi penyangga baik.

b. Kerugian pemakaian kaitan presisi (Preiskel HW, 1981):


a. Preparasi luas pada gigi penyangga.

Kaitan yang ditempatkan di dalam mahkota memerlukan preparasi yang luas dari gigi
penyangga, keadaan ini merupakan kerugian yang terbesar. Umumnya gigi tiruan yang
menggunakan cangkolan hanya membutuhkan perubahan bentuk dari permukaan oklusal
atau pembentukan kembali permukaan-permukaan interproksimal. .

b. Harga dan waktu.

Pembuatan gigi tiruan dengan kaitan di dalam mahkota gigi penyangga


membutuhkan waktu yang lama di praktek dan lebih lama di laboratorium. Waktu dan
bahan yang terpakai dengan sendirinya mempengaruhi harga dari kaitan yang digunakan

c. Panjang mahkota dan besarnya pulpa.

Jika panjang mahkota Minis gigi penyangganya pendek dan pulpanya besar
terutama pada gigi pasien yang berusia muda, kemungkinan tidak akan ada tem~at yang tersedia
untuk penempatan sebuah kaitan. Kadang-kadang kaitan hanya dapat diletakkan pada gigi
tetangga dari gigi penyangga dan Umumnya untuk keadaan seperti ini dibuatkan beberapa jenis
penahan lainnya.

d. Kesulitan pemasangan.

Sebuah gigi tiruan dengan penahan sebuah kaitan memerlukan keterampilan yang
khusus bagi dokter gigi pada pembuatan gigi tiruan lepasan. Kaitan presisi memiliki arah
pemasangan yang teliti sehingga retensi pada mahkota gigi penyangga dan preparasi gigi
penyangga harus direncanakan dengan teliti untuk mencegah kecenderungan timbulnya
kegagalan setelah pemasangan gigi tiruan.
3. Kaitan Ekstrakorona
Kaitan ekstrakorona adalah kaitan yang bagian male dan female-nya hampir seluruhnya
berada diluar kontur mahkota klinis, sehingga harus ada ruang yang cukup dalam gigi tiruan untuk
kaitan ekstrakorona, baik ruang vertical, bukal, lingual, mesial, distal, sirkumferensial, ataupun
inerproksimal (Grant dan Johnson 1983, Panno 1985).
Kaitan ekstrakoronal ditempatkan sepenuhnya di luar kontur mahkota. Keuntungan dari
kaitan ekstrakoronal adalah bahwa kontur gigi normal dapat dipertahankan, pengurangan gigi
minimal yang diperlukan dan kemungkinan devitalisasi gigi berkurang. Arah insersi lebih mudah
untuk pasien dengan masalah ketangkasan. Kebanyakan kaitan ekstrakoronal memiliki beberapa
jenis ketahanan (stress redirectors). Meskipun kaitan rigid, sebaiknya di buat abutment ganda bila
memungkinkan. Meskipun demikian, lebih sulit untuk menjaga kebersihan dengan kaitan
ekstrakoronal dan pasien harus diinstruksikan pada penggunaan benang gigi dan aksesoris
kebersihan (Anonim, 2001).

Kaitan presisi ekstrakorona untuk gigi tiruan sebagian lepasan dianjurkan bila (Anonim,
2008):

a. Pengurangan gigi sedikit. Mempertahankan abutment kecil untuk menghindari overcontour

pada abutment kaitan intracoronal dan atau terjadinya paparan pulpa.

b. Kaitan presisi ekstrakorona secara tradisional mudah dipasang dan dilepas. Ini digunakan

untuk pasien dengan ketangkasan manual yang terbatas.

a. Pasien tidak selalu memakai removable prosthesis. Bagian betina kaitan intracoronal dalam
mempertahankan abutment akan menyebabkan penumpukan sisa makanan dan hadir masalah
ketika pasien mencoba untuk memasang kaitan intracorona.

Kaitan presisi ekstrakorona biasanya lentur untuk memungkinkan gerakan bebas dari
prostesis untuk mendistribusikan gaya yang berpotensi merusak atau membebani abutment ke
tulang dan jaringan pendukung. Tiga gerakan khas didefinisikan dalam fungsi: (1) Engsel, (2)
Vertikal, dan (3) rotasi.

Semakin sedikit abutment yang tersisa, dan lemah abutment, semakin besar kebutuhan
untuk ketahanan atau gerakan bebas untuk mengarahkan gaya menjauh dari abutment ke tulang
pendukung dan jaringan melalui dasar prostesis.
Beberapa contoh kaitan presisi ekstrakorona: preci clix, preci sagix, MK1, Ceka
Attachment, dll. Pemasangan kaitan ekstrakorona lebih mudah dibanding kaitan intrakorona,
kerugiannya adalah memakai lebih banyak ruang pada bagian luar mahkota gigi sehingga
diperlukan ruang yang lebih banyak dalam gigi tiruan (Prieskel, 1973).

Gambar2. Kaitan ekstrakorona

Gambar 3. Preci clix dan Preci sagix

Gambar 4. Ceka attachment (tipe revax)


4. Kaitan Ekstrakorona MK1
Kaitan MK1 telah digunakan dan diuji pada beberapa Rumah Sakit di Universitas
terkemuka di Amerika Serikat, dokter gigi dan laboratorium gigi. Hasilnya menunjukkan MK1
merupakan alat tambahan yang efektif dan sederhana yang dapat memberikan kenyamanan dan
estetis yang baik.

Kaitan MK1 adalah suatu jenis kaitan yang dapat dipakai pada pembuatan gigi tiruan kasus
ujung bebas satu sisi. Kaitan terdiri dari dua bagian, yaitu bagian female yang diletakkan secara
ekstrakorona pada bagian distal gigi penyangga, sedangkan bagian male diletakkan pada bagian
mesial dari gigi tiruan sebagian lepasan. Kaitan MK1 terbuat dari CoCr alloy Endocast SL dan
Titanium. Desain kaitan MK1 dibuat sederhana untuk memberikan efek kebersihan pada jaringan
periodontal, estetis, dan kualitas fungsional yang baik, sehingga pasien dapat membuka dan
memasang kembali protesa untuk kebersihannya.

Prinsip kerja kaitan MK1 adalah seperti suatu sliding attachment yang mempunyai
resiliensi, yaitu suatu mekanisme sliding, yang memungkinkan terjadinya pergerakan antara
bagian male dan female yang berfungsi sebagai stress breacker setelah protesa dipasang di dalam
mulut. Kaitan MK1 juga dilengkapi dengan suatu sumbu horizontal yang memungkinkan
pergerakan protesa. Sumbu horizontal dapat digerakkan sehingga dapat berfungsi sebagai pngunci.
Mekanisme sliding akan menuntun protesa saat gigi tiruan dipasang dalam mulut. Setelah
posisinya tepat, sumbu horizontal tersebut ditekan dan dikunci ke dalam lingkaran yang terdapat
pada male dan female. Hal ini akan menyebabkan pergerakkan protesa untuk mengimbangi
resiliensi jaringan mukosa (Jenkins, 1999).

B. GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

Gigi tiruan sebagian lepasan diindikasikan untuk kasus kehilangan satu atau lebih gigi dan
gigi yang masih tertinggal tersebut masih dalam keadaan baik serta memenuhi syarat sebagai gigi
penyangga, keadaan prosesus alveolar masih baik sehingga dapat meneruskan beban kunyah,
keadaan umum pasien dan pasien berkeinginan untuk dibuatkan gigi tiruan.

1. Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


a. Kehilangan gigi satu atau lebih
b. Gigi yang tertinggal dalam keadaan baik, dan memenuhi syarat di gunakan sebagai
pegangan
c. Keadaan processus alveolaris baik
d. Keadaan pasien baik
e. Oral higiene baik

2. Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Metode klasifikasi yang secara universal digunakan adalah klasifikasi Kennedy yang
diperkenalkan pada tahun 1923 oleh Dr. Edward Kennedy. Applegate (1959) menyatakan bahwa
klasifikasi menurut Kennedy adalah klasifikasi yang dapat diterima secara universal dan memiliki
tujuan yang jelas, ringkas logis dalam pembuatan desain serta memungkinkan dengan cepat
melihat bagian rahang yang tidak bergigi sehingga dengan mudah diaplikasikan pada berbagai
keadaan tidak bergigi. Klasifikasi dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengelompokkan
daerah tidak bergigi sehingga memungkinkan dokter gigi dapat berkomunikasi sejelas mungkin
mengenai keadaan tersebut. Kegunaan lain dari klasifikasi ini dapat memudahkan dalam
memahami prinsip-prinsip dasar pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan.

Klasifikasi Kennedy terbagi menjadi 4 kelas:

a. Kelas 1 : daerah tidak bergigi terletak di posterior dari gigi yang masih ada pada kedua
sisi rahang, dapat disebut juga dengan bilateral free end
b. Kelas II : daerah tidak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada dan
hanya pada satu sisi, atau unilateral free end
c. Kelas III : daerah tidak bergigi terletak pada satu sisi di antara gigi-gigi yang masih ada
di bagian posterior dan anterior , atau unilateral bounded saddle
d. Kelas IV : daerah tidak bergigi terletak di bagian anterior dan melewati garis tengah
rahang, atau saddle anterior to the standing teeth

Banyak klasifikasi yang telah dibuat dan digunakan, antara lain Kennedy, Cummer,
Miller, Applegate dan lain-lain. Namun klasifikasi ini sulit diterapkan untuk tiap keadaan, tanpa
syarat-syarat tertentu. Untuk memudahkan aplikasinya atau penerapannya Applegate
memandang perlu mengadakan perubahan-perubahan tertentu untuk lebih mendekatkan
prosedur klinis dengan pembuatan disain dan klasifikasi yang dipakai, maka dikenal klasifikasi
Applegate-Kennedy. Applegate-Kennedy membagi rahang yang sudah kehilangan giginya
menjadi 6 kelas dengan rincian sebagai berikut :

a. Kelas I : Daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada
a. dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral).
b. Kelas II : Daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada,
tetapi hanya berada pada salah satu sisi rahang saja (unilateral).
c. Kelas III :Daerah tak bergigi terletak diantara gigi-gigi yang masih ada di bagian
posterior maupun anteriornya (unilateral).
d. Kelas IV: Daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang
masih ada dan melewati garis tengah rahang (bilateral).
e. Kelas V : Daerah tak bergigi paradental yang panjang unilateral dan melibatkan
gigi kaninus, gigi anterior tdak dapat dipakai sebagai penahan.
f. Kelas VI :Daerah tak bergigi paradental yang pendek melibatkan satu atau dua
gigi dengan gigi asli tetangga dapat dipakai sebagai penahan.

3. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat desain GTSL

a. Faktor Retensi

Retensi merupakan kemampuan gigi tiruan melawan gaya-gaya pemindahan yang


cenderung memindahkan protesa ke arah oklusal. Contoh gaya pemindah adalah aktivitas
otot-otot pada saat bicara, mastikasi, tertawa, menelan, batuk, bersin, makanan lengket atau
gravitasi untuk geligi tiruan atas. Retensi ini biasanya diberikan lewat lengan retentif,
karena ujung lengan ini ditempatkan pada daerah gerong gigi pegangan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi retensi adalah panjang lengan, diameter, daerah penampang melintang,
bentuk dan sifat bahan terutama modulus elastisitasnya.

b. Faktor Stabilisasi

Stabilisasi merupakan gaya untuk melawan pergerakan geligi tiruan dalam arah
horizontal. Dalam hal ini semua bagian cengkeram berperan kecuali bagian terminal
(ujung) lengan retentif.

c. Faktor Estetika
Dalam merestorasi penampilan pasien dengan geligi tiruan sebagian lepasan, tujuan
restorasi adalah untuk menggantikan semua jaringan yang sudah rusak dengan protesa yang
sangat mirip baik bentuk, warna dan teksturnya dengan jaringan rongga mulut sehingga
tidak mudah terdeteksi. Gigi-gigi anterior pada geligi tiruan sebagian lepasan harus selalu
mempunyai ukuran yang sama dengan gigi-gigi asli tetangganya. Bentuk dan tekstur gigi-
gigi tiruan harus mirip dengan gigi-gigi asli yang tinggal, demikian juga warna gigi tiruan
harus mirip dengan gigi asli tetangganya. Sehingga gigi tiruan yang dibuat memberikan
estetis yang baik.

4. Dukungan GTSL

Pada saat membuat desain gigi tiruan dapat pula ditentukan macam-macam dukungan yang
digunakan oleh gigi tiruan. Ada 3 macam dukungan gigi tiruan :

a. GTSL dukungan gigi

Yaitu dukungan yang diperoleh dari gigi dengan pertimbangan gigi pendukungnya
masih kuat, sehat dan baik, sadel tidak panjang dan jumlah sadel tidak banyak. Sampai saat
ini gigi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi asli masih dianggap terbaik dengan alasan
gaya perpindahan kurang bekerja pada dukungan gigi karena terdapat penahan langsung
pada kedua ujung daerah tidak bergigi, tidak terjadi pergerakan protesa ke arah jaringan
lunak sehingga tidak menimbulkan trauma pada jaringan dibawah basis, fungsi utama gigi
asli memang untuk menahan beban pengunyahan dan gaya oklusal akan disalurkan ke tulang
alveolar melalui akar gigi, ligamentum periodontal berfungsi sebagai peredam kejut serta
reseptor refleks yang terdapat pada membran periodontal, otot dan sendi rahang berfungsi
mengatur pergerakan mandibula sehingga bila ada gaya oklusal yang melebihi gaya
fisiologik maka gigitan akan berhenti secara refleks.

b. GTSL dukungan jaringan


Yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan jaringan mukosa. Dukungan dari
mukosa dipilih dengan pertimbangan penyaluran gaya oklusal ke mukosa atau jaringan
pendukung, jaringan mukosa dibawah sadel sehat dan cukup tebal, tulang alveolar dibawah
sadel padat dan sehat, tidak ada penyakit sistemik pasien yang berkaitan dengan resorpsi
tulang yang progresif, serta untuk sadel yang berujung bebas sebanyak mungkin daerah sadel
tertutup untuk mengurangi beban
c. GTSL dukungan kombinasi
Yaitu gigi tiruan yang mendapat dukungan dari gigi asli dan jaringan mukosa. Cara-
cara yang dapat ditempuh untuk maksud tersebut antara lain pengurangan gaya oklusal,
penyaluran gaya oklusal pada gigi penyangga dan mukosa melalui cetakan fungsional,
penempatan sandaran menjauhi basis dan perluasan basis distal.
LAPORAN KASUS